<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kemungkaran di Hari Raya</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html</link>
	<description>Muslim.or.id adalah pesantren online bagi siapa saja yang ingin mempelajari agama Islam berdasarkan pemahaman para salafus shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Mar 2010 09:59:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Habib Ulinnuha</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/comment-page-1#comment-40034</link>
		<dc:creator>Habib Ulinnuha</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 00:09:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=372#comment-40034</guid>
		<description>Asslm w w  Tp sepengetahuaku untk orang tua itu diperblhkan meski bkn mahrom bner gak? tlg jelaskan dalilnya dan sebutkan alasan2nya mhn bantuannya ! Wass w w.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Asslm w w  Tp sepengetahuaku untk orang tua itu diperblhkan meski bkn mahrom bner gak? tlg jelaskan dalilnya dan sebutkan alasan2nya mhn bantuannya ! Wass w w.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: phyton</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/comment-page-1#comment-38865</link>
		<dc:creator>phyton</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 02:38:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=372#comment-38865</guid>
		<description>Seperti dalam merayakan Hari raya. Mungkin kalau diikuti cara merayakan hari raya yang paling melelahkan adalah di daerah saya (Pontianak).
di jawa sama kok.
Di akhir-akhir bulan Ramadhan masyarakat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lebaran seperti membuat kue, mengganti gorden, meja tamu, karpet, kendaraan dan sebagainya. Semua berlomba untuk bisa tampil wah dihadapan tamu-tamunya. Hal ini sangat merugikan bagi ibadah Puasa Ramadhan, dan tentu saja keuangan (pemborosan). Bahkan bulan Ramadhan yang harusnya difokuskan untuk beribadah, malah digunakan untuk membangun/ mempercantik rumah.
orang seperti ini hanya merasakan kesenangan lahiriyah, mereka tidak merasakan kesenangan sebenarnya dari berbuka setelah satu bulan penuh.rumah, pakaian, kendaraan baru tapi keimanan tidak barubah malah semakin merosot.
di daerah semarang ada yang lebih aneh lagi, di hari akhir romadhon sampai satu bulan suyawal penuh menyalakan lampu seperti di pohon natal, padahal disitu wilayah pondok pesantren.
semua ini bisa berubah, mari mulai dari diri dan keluarga. kalaupun kita tidak mampu merubah kelakuan masyarakat Alloh melarang kita bersedih atas kefasikan umat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti dalam merayakan Hari raya. Mungkin kalau diikuti cara merayakan hari raya yang paling melelahkan adalah di daerah saya (Pontianak).<br />
di jawa sama kok.<br />
Di akhir-akhir bulan Ramadhan masyarakat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lebaran seperti membuat kue, mengganti gorden, meja tamu, karpet, kendaraan dan sebagainya. Semua berlomba untuk bisa tampil wah dihadapan tamu-tamunya. Hal ini sangat merugikan bagi ibadah Puasa Ramadhan, dan tentu saja keuangan (pemborosan). Bahkan bulan Ramadhan yang harusnya difokuskan untuk beribadah, malah digunakan untuk membangun/ mempercantik rumah.<br />
orang seperti ini hanya merasakan kesenangan lahiriyah, mereka tidak merasakan kesenangan sebenarnya dari berbuka setelah satu bulan penuh.rumah, pakaian, kendaraan baru tapi keimanan tidak barubah malah semakin merosot.<br />
di daerah semarang ada yang lebih aneh lagi, di hari akhir romadhon sampai satu bulan suyawal penuh menyalakan lampu seperti di pohon natal, padahal disitu wilayah pondok pesantren.<br />
semua ini bisa berubah, mari mulai dari diri dan keluarga. kalaupun kita tidak mampu merubah kelakuan masyarakat Alloh melarang kita bersedih atas kefasikan umat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Adin</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/comment-page-1#comment-36473</link>
		<dc:creator>Adin</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 08:28:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=372#comment-36473</guid>
		<description>That&#039;s rigth, many people in the world had losted the fundamental in the heart. so we are moslems must regard this situation and try to do something for solving this problems.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>That&#8217;s rigth, many people in the world had losted the fundamental in the heart. so we are moslems must regard this situation and try to do something for solving this problems.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: taufik</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/comment-page-1#comment-35904</link>
		<dc:creator>taufik</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 14:05:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=372#comment-35904</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum wr.wb.
Saya kurang jelas tentang hukum ruqyah, mhn dijelaskan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum wr.wb.<br />
Saya kurang jelas tentang hukum ruqyah, mhn dijelaskan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: al ayubi</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/comment-page-1#comment-35672</link>
		<dc:creator>al ayubi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 05:06:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=372#comment-35672</guid>
		<description>bagaimana engan perihal mendengarkan nasyid?
dan dimana nasyid yang diperdengarkan tidak dibawakan oleh wanita keci dg rebana, melainkan dg pria dewasa dan tanpa alat musik (acapella) ???
dan bagaimana hukumnya??
sy pernah mendengar hadist dimana ktika ada orang meniup seruling Rasulullah menutup kedua telinganya dan bertanya pada Abu Bakar apakah bunyi seruling masih ada... (bila salah mnt drevisi)
dari hadist ini beliau tidak melarang abu bakar mendengar seruling (alat musik)....
dan apakah mendengarkan nasyid ini hanya berlaku ketika Hari Raya???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bagaimana engan perihal mendengarkan nasyid?<br />
dan dimana nasyid yang diperdengarkan tidak dibawakan oleh wanita keci dg rebana, melainkan dg pria dewasa dan tanpa alat musik (acapella) ???<br />
dan bagaimana hukumnya??<br />
sy pernah mendengar hadist dimana ktika ada orang meniup seruling Rasulullah menutup kedua telinganya dan bertanya pada Abu Bakar apakah bunyi seruling masih ada&#8230; (bila salah mnt drevisi)<br />
dari hadist ini beliau tidak melarang abu bakar mendengar seruling (alat musik)&#8230;.<br />
dan apakah mendengarkan nasyid ini hanya berlaku ketika Hari Raya???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Akhtar</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/comment-page-1#comment-11082</link>
		<dc:creator>Akhtar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 13:53:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=372#comment-11082</guid>
		<description>Bersilaturahim dihari lebaran sangat baik dan tidak ada istilah menghamburkan, waktu. Sebab, Pada hari lebaran hampir 99% semua umat muslim hususnya di indonesia ada dirumahnya atau didaerahnya, jadi semua orang dpt kita kunjungi untuk saling memaafkan, karena dosa kepada Allah bisa kita bertobat kapanpun dan dimanapun dan Allah akan memberi ampunan atas dosa kita, tapi dosa ke sesama Allah tidak akan memaafkan sebelum kita saling memaafkan yaitu dengan jalan silaturahim. Dan masih banyak lagi barok</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bersilaturahim dihari lebaran sangat baik dan tidak ada istilah menghamburkan, waktu. Sebab, Pada hari lebaran hampir 99% semua umat muslim hususnya di indonesia ada dirumahnya atau didaerahnya, jadi semua orang dpt kita kunjungi untuk saling memaafkan, karena dosa kepada Allah bisa kita bertobat kapanpun dan dimanapun dan Allah akan memberi ampunan atas dosa kita, tapi dosa ke sesama Allah tidak akan memaafkan sebelum kita saling memaafkan yaitu dengan jalan silaturahim. Dan masih banyak lagi barok</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: wong dheso</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/comment-page-1#comment-10471</link>
		<dc:creator>wong dheso</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Oct 2008 20:26:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=372#comment-10471</guid>
		<description>di hari raya kalau masih suka menghasut  dan mengambil barang milik orang lain di masjid gimana ya ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>di hari raya kalau masih suka menghasut  dan mengambil barang milik orang lain di masjid gimana ya ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ro5e_s3y</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/comment-page-1#comment-10278</link>
		<dc:creator>ro5e_s3y</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 14:00:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=372#comment-10278</guid>
		<description>Benar apa ga sich kalau waktu hari raya idul fitri semua iblis menangis? Dan kenapa bisa terjadi hal seperti itu?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Benar apa ga sich kalau waktu hari raya idul fitri semua iblis menangis? Dan kenapa bisa terjadi hal seperti itu?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fatur</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kemungkaran-di-hari-raya.html/comment-page-1#comment-10244</link>
		<dc:creator>fatur</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 05:56:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=372#comment-10244</guid>
		<description>Umat Islam di Indonesia yang katanya mayoritas, sebagian besar masih enggan  mengamalkan syariat Islam dengan sepenuhnya. 

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. ( Al Baqarah : 208)
Mereka masih lebih mengutamakan adat, kebiasaan peninggalan nenek moyang, meskipun kadang bertentangan dengan agama. 

Dan apabila dikatakan kepada mereka: &quot;Ikutilah apa yang diturunkan Allah.&quot; Mereka menjawab: &quot;(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.&quot; Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? ( Luqman : 21 )

Apabila dikatakan kepada mereka: &quot;Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.&quot; Mereka menjawab: &quot;Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.&quot; Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. ( Al Maidah : 104 )

Seperti  dalam merayakan Hari raya. Mungkin kalau diikuti cara merayakan hari raya yang paling melelahkan adalah di daerah saya (Pontianak). Setelah sholat Ied masyarakat saling mengunjungi antara tetangga, kerabat, relasi, dll, tanpa memandang usia, jarak, kenal atau enggak. Yang penting semua harus dikunjungi. Apabila kita telah dikunjungi oleh saudara kita maka kita harus ganti mengunjunginya, kalau tidak seakan-akan kita masih punya hutang. Bisa dibayangkan kalau kita banyak saudara, kawan, relasi, dll. Berapa hari yang kita butuhkan untuk mengunjunginya, bisa-bisa sampi satu bulan. Dan yang lebih penting ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam diantaranya :
1.	Di akhir-akhir bulan Ramadhan masyarakat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lebaran seperti membuat kue, mengganti gorden, meja tamu, karpet, kendaraan dan sebagainya. Semua berlomba untuk bisa tampil wah dihadapan tamu-tamunya. Hal ini sangat merugikan bagi ibadah Puasa Ramadhan, dan tentu saja keuangan (pemborosan). Bahkan bulan Ramadhan yang harusnya difokuskan untuk beribadah, malah digunakan untuk membangun/ mempercantik rumah.
2.	Karena lamanya suasana lebaran waktu akan habis untuk saling mengunjungi, padahal masih ada yang bisa dikerjakan misalnya puasa syawal, bekerja, dll.
3.	Rawan berbuat dosa, seperti berjabat tangan antara laki perempuan yang bukan mahram, riya, berpura-pura.
Apakah seperti ini bisa dirubah ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Umat Islam di Indonesia yang katanya mayoritas, sebagian besar masih enggan  mengamalkan syariat Islam dengan sepenuhnya. </p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. ( Al Baqarah : 208)<br />
Mereka masih lebih mengutamakan adat, kebiasaan peninggalan nenek moyang, meskipun kadang bertentangan dengan agama. </p>
<p>Dan apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Ikutilah apa yang diturunkan Allah.&#8221; Mereka menjawab: &#8220;(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.&#8221; Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? ( Luqman : 21 )</p>
<p>Apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.&#8221; Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. ( Al Maidah : 104 )</p>
<p>Seperti  dalam merayakan Hari raya. Mungkin kalau diikuti cara merayakan hari raya yang paling melelahkan adalah di daerah saya (Pontianak). Setelah sholat Ied masyarakat saling mengunjungi antara tetangga, kerabat, relasi, dll, tanpa memandang usia, jarak, kenal atau enggak. Yang penting semua harus dikunjungi. Apabila kita telah dikunjungi oleh saudara kita maka kita harus ganti mengunjunginya, kalau tidak seakan-akan kita masih punya hutang. Bisa dibayangkan kalau kita banyak saudara, kawan, relasi, dll. Berapa hari yang kita butuhkan untuk mengunjunginya, bisa-bisa sampi satu bulan. Dan yang lebih penting ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam diantaranya :<br />
1.	Di akhir-akhir bulan Ramadhan masyarakat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lebaran seperti membuat kue, mengganti gorden, meja tamu, karpet, kendaraan dan sebagainya. Semua berlomba untuk bisa tampil wah dihadapan tamu-tamunya. Hal ini sangat merugikan bagi ibadah Puasa Ramadhan, dan tentu saja keuangan (pemborosan). Bahkan bulan Ramadhan yang harusnya difokuskan untuk beribadah, malah digunakan untuk membangun/ mempercantik rumah.<br />
2.	Karena lamanya suasana lebaran waktu akan habis untuk saling mengunjungi, padahal masih ada yang bisa dikerjakan misalnya puasa syawal, bekerja, dll.<br />
3.	Rawan berbuat dosa, seperti berjabat tangan antara laki perempuan yang bukan mahram, riya, berpura-pura.<br />
Apakah seperti ini bisa dirubah ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->