29 September 2008 | 9 komentar

Kategori: Fiqh dan Muamalah / Ramadhan

Kemungkaran di Hari Raya

  1. Tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir dalam berpakaian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” (HR. Ahmad, sanadnya hasan)
  2. Mendengarkan musik/nyanyian/nasyid (kecuali rebana yang dimainkan oleh wanita yang masih kecil). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan (padahal hukumnya haram) perzinaan, pakaian sutra bagi laki-laki, khamr (sesuatu yang memabukkan), dan alat musik…” (HR. Bukhari secara mu’allaq dan An Nawawi berkata bahwa hadits ini shahih dan bersambung sanadnya sesuai syarat shahih)
  3. Wanita berdandan ketika keluar rumah. Padahal seperti ini diharamkan di dalam agama ini, berdasarkan firman Allah (yang artinya), “Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah…” (QS. Al Ahzab [33]: 33)
  4. Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah di tengah kaum muslimin apalagi di hari raya. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirahmati oleh Allah. Perbuatan ini adalah haram berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
  5. Jika kita melihat pada hadits di atas, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau bukan mahram- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaidah ushul, ‘Apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram‘.” (Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Judai)

  6. Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘ied. Padahal tidak terdapat satu dalil pun yang menunjukkan perintah Allah ataupun tuntunan Nabi untuk ziarah ke kubur pada saat tersebut.
  7. Kebanyakan manusia meninggalkan shalat lima waktu karena sibuk bersilaturahmi dan kaum pria juga meninggalkan shalat berjamaah di masjid tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu bencana yang amat besar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574)
  8. Begadang saat malam ‘Idul Fitri untuk takbiran hingga pagi sehingga kadang tidak mengerjakan shalat ‘ied di pagi harinya. Takbiran yang dilakukan juga sering mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat padahal hukum mengganggu sesama muslim adalah haram. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

Klik dan sebarkan:
  • Print
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Blogplay
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Kirim Komentar




Mohon memberikan komentar yang sesuai dengan topik artikel. Komentar Anda akan kami review dahulu sebelum ditampilkan.

9 Komentar

  • Umat Islam di Indonesia yang katanya mayoritas, sebagian besar masih enggan mengamalkan syariat Islam dengan sepenuhnya.

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. ( Al Baqarah : 208)
    Mereka masih lebih mengutamakan adat, kebiasaan peninggalan nenek moyang, meskipun kadang bertentangan dengan agama.

    Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? ( Luqman : 21 )

    Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. ( Al Maidah : 104 )

    Seperti dalam merayakan Hari raya. Mungkin kalau diikuti cara merayakan hari raya yang paling melelahkan adalah di daerah saya (Pontianak). Setelah sholat Ied masyarakat saling mengunjungi antara tetangga, kerabat, relasi, dll, tanpa memandang usia, jarak, kenal atau enggak. Yang penting semua harus dikunjungi. Apabila kita telah dikunjungi oleh saudara kita maka kita harus ganti mengunjunginya, kalau tidak seakan-akan kita masih punya hutang. Bisa dibayangkan kalau kita banyak saudara, kawan, relasi, dll. Berapa hari yang kita butuhkan untuk mengunjunginya, bisa-bisa sampi satu bulan. Dan yang lebih penting ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam diantaranya :
    1. Di akhir-akhir bulan Ramadhan masyarakat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lebaran seperti membuat kue, mengganti gorden, meja tamu, karpet, kendaraan dan sebagainya. Semua berlomba untuk bisa tampil wah dihadapan tamu-tamunya. Hal ini sangat merugikan bagi ibadah Puasa Ramadhan, dan tentu saja keuangan (pemborosan). Bahkan bulan Ramadhan yang harusnya difokuskan untuk beribadah, malah digunakan untuk membangun/ mempercantik rumah.
    2. Karena lamanya suasana lebaran waktu akan habis untuk saling mengunjungi, padahal masih ada yang bisa dikerjakan misalnya puasa syawal, bekerja, dll.
    3. Rawan berbuat dosa, seperti berjabat tangan antara laki perempuan yang bukan mahram, riya, berpura-pura.
    Apakah seperti ini bisa dirubah ?

  • Benar apa ga sich kalau waktu hari raya idul fitri semua iblis menangis? Dan kenapa bisa terjadi hal seperti itu?

  • di hari raya kalau masih suka menghasut dan mengambil barang milik orang lain di masjid gimana ya ?

  • Bersilaturahim dihari lebaran sangat baik dan tidak ada istilah menghamburkan, waktu. Sebab, Pada hari lebaran hampir 99% semua umat muslim hususnya di indonesia ada dirumahnya atau didaerahnya, jadi semua orang dpt kita kunjungi untuk saling memaafkan, karena dosa kepada Allah bisa kita bertobat kapanpun dan dimanapun dan Allah akan memberi ampunan atas dosa kita, tapi dosa ke sesama Allah tidak akan memaafkan sebelum kita saling memaafkan yaitu dengan jalan silaturahim. Dan masih banyak lagi barok

  • bagaimana engan perihal mendengarkan nasyid?
    dan dimana nasyid yang diperdengarkan tidak dibawakan oleh wanita keci dg rebana, melainkan dg pria dewasa dan tanpa alat musik (acapella) ???
    dan bagaimana hukumnya??
    sy pernah mendengar hadist dimana ktika ada orang meniup seruling Rasulullah menutup kedua telinganya dan bertanya pada Abu Bakar apakah bunyi seruling masih ada… (bila salah mnt drevisi)
    dari hadist ini beliau tidak melarang abu bakar mendengar seruling (alat musik)….
    dan apakah mendengarkan nasyid ini hanya berlaku ketika Hari Raya???

  • Assalamu’alaikum wr.wb.
    Saya kurang jelas tentang hukum ruqyah, mhn dijelaskan.

  • That’s rigth, many people in the world had losted the fundamental in the heart. so we are moslems must regard this situation and try to do something for solving this problems.

  • Seperti dalam merayakan Hari raya. Mungkin kalau diikuti cara merayakan hari raya yang paling melelahkan adalah di daerah saya (Pontianak).
    di jawa sama kok.
    Di akhir-akhir bulan Ramadhan masyarakat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan lebaran seperti membuat kue, mengganti gorden, meja tamu, karpet, kendaraan dan sebagainya. Semua berlomba untuk bisa tampil wah dihadapan tamu-tamunya. Hal ini sangat merugikan bagi ibadah Puasa Ramadhan, dan tentu saja keuangan (pemborosan). Bahkan bulan Ramadhan yang harusnya difokuskan untuk beribadah, malah digunakan untuk membangun/ mempercantik rumah.
    orang seperti ini hanya merasakan kesenangan lahiriyah, mereka tidak merasakan kesenangan sebenarnya dari berbuka setelah satu bulan penuh.rumah, pakaian, kendaraan baru tapi keimanan tidak barubah malah semakin merosot.
    di daerah semarang ada yang lebih aneh lagi, di hari akhir romadhon sampai satu bulan suyawal penuh menyalakan lampu seperti di pohon natal, padahal disitu wilayah pondok pesantren.
    semua ini bisa berubah, mari mulai dari diri dan keluarga. kalaupun kita tidak mampu merubah kelakuan masyarakat Alloh melarang kita bersedih atas kefasikan umat.

  • Asslm w w Tp sepengetahuaku untk orang tua itu diperblhkan meski bkn mahrom bner gak? tlg jelaskan dalilnya dan sebutkan alasan2nya mhn bantuannya ! Wass w w.

Silakan menyebarkan artikel yang ada di muslim.or.id dengan harus menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel. Muslim.or.id menerima bantuan penerjemahan artikel muslim.or.id ke dalam bahasa inggris. Silakan hubungi muslim.or.id@gmail.com. Info iklan silakan hubungi muslimadv@gmail.com

Kasyen theme originally design by cizkah powered by Wordpress