Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Non Mahram


Wanita selalu menggoda, namun kadang pula godaan juga karena si pria yang nakal. Islam selalu sendiri mengajarkan agar tidak terjadi kerusakan dalam hubungan antara pria dan wanita. Oleh karenanya, Islam memprotek atau melindungi dari perbuatan yang tidak diinginkan yaitu zina. Karenanya, Islam mengajarkan berbagai aturan ketika pria-wanita berinteraksi. Di antara adabnya adalah berjabat tangan dengan wanita non mahram.

Pendapat Ulama Madzhab Tentang Berjabat Tangan dengan Non Mahram

Mengenai hukum bersalaman atau berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, hal ini terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama. Ada di antara mereka yang membedakan antara berjabat tangan dengan wanita tua dan wanita lainnya.

Bersalaman dengan wanita tua yang laki-laki tidak memiliki syahwat lagi dengannya, begitu pula  laki-laki tua dengan wanita muda, atau sesama wanita tua dan laki-laki tua, itu dibolehkan oleh ulama Hanafiyah dan Hambali dengan syarat selama aman dari syahwat antara satu dan lainnya. Karena keharaman bersalaman yang mereka anggap adalah khawatir terjerumus dalam fitnah. Jika keduanya bersalaman tidak dengan syahwat, maka fitnah tidak akan muncul atau jarang.

Ulama Malikiyyah mengharamkan berjabat tangan dengan wanita non mahram meskipun sudah tua yang laki-laki tidak akan tertarik lagi padanya. Mereka berdalil dengan dalil keumuman dalil yang menyatakan haramnya.

Sedangkan ulama Syafi’iyyah berpendapat haramnya bersentuhan dengan wanita non mahram, termasuk pula yang sudah tua. Syafi’iyah tidak membedakan antara wanita tua dan gadis.

Sedangkan berjabat tangan antara laki-laki dengan gadis yang bukan mahramnya, dihukumi haram oleh ulama madzhab yaitu Hanafiyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hambali dalam pendapat yang terpilih, juga oleh Ibnu Taimiyah. Ulama Hanafiyah lebih mengkhususkan pada gadis yang membuat pria tertarik. Ulama Hambali berpendapat tetap haram berjabat tangan dengan gadis yang non mahram baik dengan pembatas (seperti kain) atau lebih-lebih lagi jika tidak ada kain. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 37: 358-360)

Dalil yang Jadi Pegangan

Pertama, hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

‘Urwah bin Az Zubair berkata bahwa ‘Aisyah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata,

عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَتِ الْمُؤْمِنَاتُ إِذَا هَاجَرْنَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُمْتَحَنَّ بِقَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لاَ يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلاَ يَسْرِقْنَ وَلاَ يَزْنِينَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ. قَالَتْ عَائِشَةُ فَمَنْ أَقَرَّ بِهَذَا مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ فَقَدْ أَقَرَّ بِالْمِحْنَةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَقْرَرْنَ بِذَلِكَ مِنْ قَوْلِهِنَّ قَالَ لَهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْطَلِقْنَ فَقَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». وَلاَ وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ. غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ – قَالَتْ عَائِشَةُ – وَاللَّهِ مَا أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى النِّسَاءِ قَطُّ إِلاَّ بِمَا أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَمَا مَسَّتْ كَفُّ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَفَّ امْرَأَةٍ قَطُّ وَكَانَ يَقُولُ لَهُنَّ إِذَا أَخَذَ عَلَيْهِنَّ « قَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». كَلاَمًا.

“Jika wanita mukminah berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka diuji dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina ….” (QS. Al Mumtahanah: 12). ‘Aisyah pun berkata, “Siapa saja wanita mukminah yang mengikrarkan hal ini, maka ia berarti telah diuji.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berkata ketika para wanita mukminah mengikrarkan yang demikian, “Kalian bisa pergi karena aku sudah membaiat kalian”. Namun -demi Allah- beliau sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun. Beliau hanya membaiat para wanita dengan ucapan beliau. ‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan. Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka.  Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian.” (HR. Muslim no. 1866).

Kedua, hadits Ma’qil bin Yasar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman perbuatan tersebut, walau hadits tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh ulama lainnya. Yang diancam dalam hadits di atas adalah menyentuh wanita. Sedangkan bersalaman atau berjabat tangan sudah termasuk dalam perbuatan menyentuh.

Ketiga,dalil qiyas (analogi).

Melihat wanita yang bukan mahram secara sengaja dan tidak ada sebab yang syar’i dihukumi haram berdasarkan kesepakatan para ulama. Karena banyak hadits yang shahih yang menerangkan hal ini. Jika melihat saja terlarang karena dapat menimbulkan godaan syahwat. Apalagi menyentuh dan bersamalan, tentu godaannya lebih dahsyat daripada pengaruh dari pandangan mata. Berbeda halnya jika ada sebab yang mendorong hal ini seperti ingin menikahi seorang wnaita, lalu ada tujuan untuk melihatnya, maka itu boleh. Kebolehan ini dalam keadaan darurat dan sekadarnya saja.

Imam Nawawi rahimahullah berkata,

كل من حرم النظر إليه حرم مسه وقد يحل النظر مع تحريم المس فانه يحل النظر إلى الاجنبية في البيع والشراء والاخذ والعطاء ونحوها ولا يجوز مسها في شئ من ذلك

“Setiap yang diharamkan untuk dipandang, maka haram untuk disentuh. Namun ada kondisi yang membolehkan seseorang memandang –tetapi tidak boleh menyentuh, yaitu ketika bertransaksi jual beli, ketika serah terima barang, dan semacam itu. Namun sekali lagi, tetap tidak boleh menyentuh dalam keadaan-keadaan tadi. ” (Al Majmu’: 4: 635)

Dalil yang menyatakan terlarangnya pandangan kepada wanita non mahram adalah dalil-dalil berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur: 30)

Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur: 31)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat pertama di atas mengatakan, ”Ayat ini merupakan perintah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang haram. Janganlah mereka melihat kecuali pada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada istri dan mahramnya). Hendaklah mereka juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram. Jika memang mereka tiba-tiba melihat sesuatu yang haram itu dengan tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 216)

Ketika menafsirkan ayat kedua di atas, Ibnu Katsir juga mengatakan,”Firman Allah (yang artinya) ‘katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka’ yaitu hendaklah mereka menundukkannya dari apa yang Allah haramkan dengan melihat kepada orang lain selain suaminya. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak boleh seorang wanita melihat laki-laki lain (selain suami atau mahramnya, pen) baik dengan syahwat dan tanpa syahwat. … Sebagian ulama lainnya berpendapat tentang bolehnya melihat laki-laki lain dengan tanpa syahwat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 216-217)

Dari Jarir bin ‘Abdillah, beliau mengatakan,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 2159)

Khatimah

Dalil-dalil di atas tidak mengecualikan apakah yang disentuh adalah gadis ataukah wanita tua. Jadi, pendapat yang lebih tepat adalah haramnya menyentuh wanita yang non mahram, termasuk pula wanita tua. Realitanya yang kita saksikan, wanita tua pun ada yang diperkosa. Sedangkan untuk gadis, no way, tetap dinyatakan haram untuk menyentuh dan berjabat tangan dengannya.

Hal di atas menunjukkan bahwa wanita benar-benar dimuliakan dalam Islam sehingga tidak ada yang bisa macam-macam dan berbuat nakal. Karena itulah wanita, benar-benar dimuliakan dalam ajaran Islam. Wanita dalam Islam adalah ibarat ratu. Adakah yang berani nyelonong-nyelonong dan menjabat tangan seorang ratu –seperti Ratu Elizabeth-? Tentu saja tidak berani. Demikianlah mulianya wanita di dalam Islam.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad, hanya Allah yang memberi taufik untuk menjauhi yang haram.

 

@ KSU, Riyadh, KSA, 23 Rabi’ul Awwal 1433 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

  • Bambang Mulyono

    Saya seorang guru SMP Negeri di Pasuruan. Pertanyaan saya bagaimana kalau saya berjabat tangan dengan murid saya perempuan apakah masih tetap diharamkan. saya mohon secepatnya dijawab karena disekolah kami sedang ada masalah seperti itu ? dan disekolah kami kalau wisuda kelulusan juga berjabat tangan dengan murid – murid yang sudah lulus.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Bambang Mulyono
      Umumnya siswi kelas 3 SMP sudah baligh, maka termasuk dalam larangan berjabat tangan dengan non-mahram sebagaimana dijelaskan dalam artikel.

  • SickSouls

    para murid itu kan menganggap para guru itu pembimbing mereka, bapak mereka di sekolah. iklim itu lebih bersifat kekeluargaan. karena hal itu penting untuk kemajuan proses KBM disekolah. bersalaman ya g jadi soal, karena itu termasuk nonverbal language yang mendorong dan memotivasi terciptanya legitimasi eksistensi perilaku murid dimata guru dan pengakuan atas achievement mereka dalam bidang akademiknya.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #SickSouls
      Mungkin menurut anda bagus, tapi menurut agama tidak bagus.

  • Pingback: Artikel Hari Ini: Hukum Jabat Tangan dengan Wanita Non Muhrim - Pesantren Multimedia

  • musa amri

    bagaimana menyikapi keluarga dari istri yg biasa berjabat tangan dengan sy
    kususnya para bibi2nya dn sekarang sy hindari utuk berjabat tangan dn bagai mana
    bila sy berbicara pasti melihat wajahnya tlng di beri petunjuk.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #musa amri
      Bibi adalah mahram

  • Budi H.

    Memang ada perbedaan pendapat dari sejumlah ulama tentang hal ini. Saya membaca fatwa kontemporer Yusuf Qardhawi di http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Jabat1.html, beliau membolehkan berjabat tangan dalam konteks yang proporsional sepanjang tidak ada syahwat di dalamnya. Pandangan ini cukup moderat mengingat bahwa jabat tangan sudah menjadi hal yang umum dalam banyak peristiwa dan menunjukkan keakraban/penghormatan ketika bertemu.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Budi H.
      Jika ulama berbeda pendapat, kembalilah pada dalil. Jika mengikuti pendapat yang membolehkan, apa sikap anda terhadap hadits:
      لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
      “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya”
      Diabaikan saja? Ditolak mentah-mentah? Padahal ini sabda Nabi.

  • http://sariwaty.tumblr.com sariwaty

    Suami saya tidak berjabattangan, tapi dya punya kebiasaan selalu bercanda dengan wanita ditempat kerja nya. Apakah bercnda dengan wanita yg bukan mahramnya juga termasuk haram?
    Mohon infonya karena selalu ada salah paham antara swmi dengan saya akan masalah ini.
    Thanks

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Sariwaty
      Itu dapat menimbulkan fitnah (godaan bagi si suami). Nasehati suami untuk meninggalkannya.

  • Hamba Allah

    Aslkm.
    Saya mau bertanya tentang hukum berjabat tangan dgn wanita tua. Saya siswa kelas 1 SMA sebenarnya saya masih ragu apakah dibolehkan apabila salim kepada wanita tua? Mungkin karena umur saya belum terlalu dewasa. Bagaimana dengan guru-guru saya, apakah boleh saya salim dengan beliau? Krn sy sdh menganggap beliau adlh ortu sy. Ane mohon tolong dijawab secepatnya. Syukron…..

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Hamba Allah
      Jika wanita tua yang anda maksud sudah uzuur atau menopause maka tidak mengapa. Namun jika jauh di bawah itu maka hukumnya tetap haram.

  • muhyuab

    akh.
    bibi
    yg menopouse dan uzuur kan tetap termasuk bukan mahram. itu berarti kembali kepada pendapat asal tidak menimbulkan syahwat.
    kita dibolehkan menyentuh jika dalam keadaan darurat saja,seperti kecelakaan ditengah hutan.. masak tidak ditolong..
    begini aja,yuk disambil niat menjaga wudhu.semoga menjadi seperti bilal r.a.
    yg mau saya tanyakan, bagaimana jika kita memakai kaus tangan,untuk menghindarkan orang yg tidak/kurang/malas mencari ilmu sehingga menggunjing atau menfitnah kita. karena dalam hal acara umum dimana kita sebagai orang pertamanya.(baik pemimpin wisuda atau ketika menjadi pengantin),sangat sulit sekali memberi tahu satu persatu.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #muhyuab
      Memakai sarung tangan pun tidak diperbolehkan

  • muhyuab

    afwan,td kurang ketikan.
    akh. bibi itu kan termasuk mahram,kecuali istri paman.

  • muhyuab

    ada juga yang berkata tidak apa2 menggendong anak2 yg belum baligh,karena mereka belum berdosa/bersyahwat (entah untuk anak2 zaman sekarang), juga mereka belum dpt melahirkan. sedangkan untuk orang tua uzur hanya dibolehkan jika mereka sudah seperti bayi lagi(kelakuan&pikirannya),sebagaimana dibolehkan terhadap orang bodoh/idiot/gila. namun lebih baik lagi jika yg menangani perempuan kepada perempuan,laki-laki kepada laki2.kecuali darurat.

  • http://ardi_47@yahoo.com muhammad ardiyansyah

    assalamu’alaikum saya seorang pelajar,, wktu itu saya masih ada wudhu dan tidak sengaja kesenggol kaki wanita non mahram tp masih kecil sekitar 7tahun, apakah itu membatalkan wudhu saya ??
    terus wktu di sekolah mengadakan tadarrus bersama saat bulan ramadhan, saya bersalaman sma guru saya dalam keadaan sudah wudhu, apakah wudhu saya batal ?? karna guru saya menunggu di pintu gerbang sekolah, ga mungkin saya g bersalaman sama beliau.
    Terima Kasih

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #muhammad ardiyansyah
      wa’aliakumussalam, anak yang belum baligh tidak terkena beban syari’at. orang yang belum tahu hukumnya, dimaafkan.

  • muhammad farid

    Yulian Purnama
    27 Mei 2012 [#]
    #musa amri
    Bibi adalah mahram

    ——————————————————————————-
    maaf, apakah bibi istri saya adalah mahrom bagi saya ustadz?

  • suhono

    Assalamualaikum wr.wb.
    Saya sangat senang bisa membaca penjelasan tentang hukum bersalaman dengan wanita. Hal ini amat membantu dan meyakinkan saya untuk selalu berusaha melaksanakan perintah Alloh SWT. Terima kasih. Wassalamualaikum wr.wb

  • Ta

    Bagaimana dengan kondisi darurat? Seperti ketika sakit dan harus ke dokter? Kemudian adakah ruqyah dengan membolehkan memegang non mahrom? Misal jari jempol, telapak kaki dll?

  • http://mpei-ferylestari.blogspot.com/ fery

    omm izin copas ya oommm…
    salam kenal om….

  • Saharuddin

    Alhamdulillah bisa menambah ilmu dan wawasan

  • Iva

    assalamualaikum, sya siswi SMA, apabila bersalaman dengan guru laki-laki apakah juga tidak ada keringanan??karena ditakutkan apabila guru trsbut mengira bahwa sya tidak mnghormati beliau…

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Iva
      Wa’alaikumussalam, Allah Ta’ala lebih patut kita muliakan daripada pak guru. Sehingga jangan melanggar perintah Allah demi menghormati pak guru. Masih banyak cara lain untuk menunjukkan rasa hormat.

  • eko haryanto

    assalamu’alaikum,
    maaf mas, saya hanya mau meminta penegasan..
    jadi, untuk bersalaman dengan wanita yang sudah menopause diperbolehkan?
    mohon bantuannya, jazakillah

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #eko haryanto
      Ya

  • hdwinanda

    Assalamu’alaikum ustadz…saya mau tanya, bagaimana klo bersentuhan dengan wanita yang bukan mahrom (atau sebaliknya) dalam keadaan tidak disengaja, seperti ketika sedang melakukan tawaf?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Hdwinanda

      Wa’alaikumussalam.
      Dalam keadaan tidak sengaja, maka dimaafkan.

  • hdwinanda

    Syukron ustadz….

    Saya mau tanya lagi, bagaimana jika kita menggendong bayi yang bukan mahrom (bayi tetangga), apakah juga berdosa? Lalu berapa batasan umur kita boleh menyentuh orang yang bukan mahrom kita?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #hdwinanda
      Batasannya yaitu usia baligh

  • andhika

    assalamu’alaykum…, minta ijin untuk copy artikel2nya.., syukron

  • Pingback: Walimatul 'ursy Card

  • Pingback: Jabat Tangan Dengan Wanita Non-Mahram - Flexmedia

  • mulyana

    klo saya pribadi..bersalaman dg wanita tua maupun muda, selama itu ga mnmbulkan sahwat mnrut sya sh itu ga msalah..Allah pasti maha tau segalanya…yg pnting niat sya salaman bukan buat zina..jadi kembali k niat saja..klo niatnya zina, itu pasti haram tapi klo niatnya tulus bukan zina…hemmm kembali k diri masing2 saja lah..Allah yang maha tahu segalanya…

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #mulyana
      Dalam Islam, niat saja tidak cukup, tapi praktek harus sesuai dalil mas. Ada dalil, tidak mau ditaati apa itu hamba Allah yang beriman?
      Jika sekedar niat, maka merampok untuk sedekah itu halal.

  • noor ihsanudin

    Bismillah, ana seorang guru walaupun ada tradisi bersalaman dengan anak didik atau sesama guru tapi ana tak melakukannya dengan yang bukan mahram, dengan mengasih pengertian dulu pada mereka yang belum/ tidak mau tahu karena hal ini mungkin dianggap sepele/ biasa/ adat yang baik. Boleh jadi seorang siswa yang punya ghiroh Islam dan peduli sunnah, mengcopy artikel ini kemudian diberikan pada guru yang bersangkutan. Syukron.

  • Asep

    Syukron, artikelnya bagus. izin copas mas.

  • NN

    as.wr.wb
    afwan akh, bagaiman hukumnya bersalaman dengan kakak ipar, bibinya kakak ipar, neneknya kakak ipar?
    syukron

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #NN
      Ipar bukanlah mahram, lebih lagi bibi atau neneknya.

  • saiful

    SAYA SERING MELIHAT ORANG BEJABATAN TANGAN YANG BUKAN MAHRAMNYA TETAPI TIDAK MENYENTUH HANYA MENGULURLKAN TANGGAN TAPI TIDAK MENYETUH APAKAH BOLEH?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama, S.Kom.

      #saiful
      Pada hakikatnya itu bukan jabat tangan

  • Edhie

    Alhamdulillah semakin jelas membaca kajian diatas, tapi saya jadi heran kenapa masih banyak guru2 Agama eh malah yg sdh dpt sebut Kyai malah salaman pada murid2, rekan2 selain jenis. Santriwati cium tangan pd kyainya. Mereka kan lebih tahu drpd orang2 awam seperti saya.

  • Mus

    Karena sifat orang tua yg berbeda2…. Saya dianggapny kurang hormat krn tdk bersalaman dgn bukde dan nenek saya. Melihat masalah ini apakah ada keringanan?? Apakah boleh dibedakan antara bukde dan nenek…?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama, S.Kom.

      #Mus
      Bude dan nenek itu mahram.

  • bagus

    kalau menyentuh wanita tidak membatalkan wudlu kan.

  • cecilia fauzy

    asalamualaikum ? ustad, apakah boleh bersentuhan tapi terhalangi oleh kain ?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #cecilia fauzy
      Tidak boleh walaupun memakai lapisan kain

  • Pingback: ini soal amalan | Areeavicenna | Ex libris

  • Ahmad Syukron

    bagaimana jika ikhwan bersalaman dengan anak kecil(wanita) yg masih di bawah umur (3tahun)..?
    Syukron..

    • http://kangaswad.wordpress.com/ Yulian Purnama

      Boleh

  • http://kangaswad.wordpress.com/ Yulian Purnama

    wa’alaikumussalam, lebih baik di cela dan dimarahi manusia daripada dimurkai Allah.

    namun teruslah berusaha menasehati dan mendakwahi mereka dengan sabar

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.