Cara Membersihkan Najis


Berikut beberapa penjelasan mengenai cara membersihkan najis sebagai kelanjutan dari pembahasan macam-macam najis dalam tulisan sebelumnya. Semoga bermanfaat.

1 – Menyucikan kulit bangkai[1] dengan disamak

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ

Kulit bangkai apa saja yang telah disamak, maka dia telah suci.[2]

Namun hadits di atas tidak berlaku umum. Perlu dibedakan antara:

[1] kulit bangkai yang sebenarnya jika hewannya mati dengan jalan disembelih menjadi halal, maka kulit bangkai tersebut bisa suci dengan disamak.

[2] kulit bangkai yang jika hewannya disembelih tidak membuat hewan tersebut halal (artinya: hewan tersebut haram dimakan), maka kulitnya tetap tidak bisa suci dengan disamak.[3] Inilah pendapat yang lebih kuat dari pendapat ulama yang ada.

Contoh pertama: Kulit kambing yang mati dalam keadaan bangkai, misalnya kambingnya mati ditabrak dan tidak sempat disembelih, maka bisa menjadi suci dengan disamak.

Contoh kedua: Serigala[4] mati, lalu kulitnya diambil, walaupun kulit tadi disamak, tetap kulit tersebut tidak suci (najis). Alasannya, jika serigala tersebut disembelih tidak bisa membuat hewan tersebut jadi halal, maka jika kulit hewan tersebut disamak lebih-lebih lagi tidak membuat jadi suci. Kulit serigala ini masih tetap najis berbeda dengan kulit kambing tadi. Namun kulit ini boleh digunakan untuk keadaan kering saja. Karena dalam keadaan kering, najisnya tidak menyebar luas. Demikian penjelasan dari Al Faqih Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dengan perubahan redaksi.[5]

2 – Menyucikan bejana yang dijilat anjing[6]

Dari Abu Hurairah, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

Cara menyucikan bejana di antara kalian apabila dijilat anjing adalah dicuci sebanyak tujuh kali dan awalnya dengan tanah.[7]

Sebagaiman diterangkan oleh An Nawawi rahimahullah, mengenai cara membersihkan jilatan anjing ada beberapa riwayat. Ada riwayat yang menyebut “سَبْع مَرَّات”, yaitu tujuh kali. Ada riwayat lain menyebut “سَبْع مَرَّات أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ”, yaitu tujuh kali dan awalnya dengan tanah. Ada lagi yang menyebut “أُخْرَاهُنَّ أَوْ أُولَاهُنَّ”, yaitu yang terakhir atau pertamanya.  Ada riwayat menyebut, “سَبْع مَرَّات السَّابِعَة بِالتُّرَابِ”, yaitu tujuh kali dan yang ketujuh dengan tanah.Ada yang menyebut, “سَبْع مَرَّات وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَة بِالتُّرَابِ”, yaitu tujuh kali dan yang kedelapan dilumuri dengan tanah.”

Selanjutnya An Nawawi mengatakan, “Al Baihaqi dan selainnya telah mengeluarkan seluruh riwayat ini. Ini menunjukkan bahwa penggunaan kata “yang pertama” dan penyebutan urutan lainnya bukanlah syarat, namun yang dimaksudkan adalah “salah satunya dengan tanah”. Adapun riwayat terakhir yang menyatakan “yang terakhir dilumuri tanah, maka menurut madzhab Syafi’iyah dan madzhab mayoritas ulama bahwa yang dimaksud adalah cucilah tujuh kali, salah satu dari yang tujuh itu dengan tanah bersama air. Maka seakan-akan tanah tadi mengganti cara mencuci sehingga disebut kedelapan. Wallahu a’lam.[8]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud “pertamanya dengan tanah” ada tiga pilihan: [1] Awalnya disiram air, lalu dilumuri tanah, [2] Dilumuri tanah terlebih dahulu, lalu disiram air, atau [3] Mencampuri tanah dan air, lalu dilumuri pada bejana yang dijilat anjing.[9]

3 – Menyucikan pakaian yang terkena darah haidh

Dari Asma’ binti Abi Bakr, beliau berkata, “Seorang wanita pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dia berkata,

إِحْدَانَا يُصِيبُ ثَوْبَهَا مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهِ

“Di antara kami ada yang bajunya terkena darah haidh. Apa yang harus kami perbuat?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّى فِيهِ

Singkirkan darah haidh dari pakaian tersebut kemudian keriklah kotoran yang masih tersisa dengan air, lalu cucilah[10]. Kemudian shalatlah dengannya.[11]

Kalau masih ada bekas darah haidh yang tersisa setelah dibersihkan tadi, maka hal ini tidaklah mengapa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Khaulah binti Yasar berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَيْسَ لِى إِلاَّ ثَوْبٌ وَاحِدٌ وَأَنَا أَحِيضُ فِيهِ. قَالَ « فَإِذَا طَهُرْتِ فَاغْسِلِى مَوْضِعَ الدَّمِ ثُمَّ صَلِّى فِيهِ ». قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ لَمْ يَخْرُجْ أَثَرُهُ قَالَ « يَكْفِيكِ الْمَاءُ وَلاَ يَضُرُّكِ أَثَرُهُ »

Wahai Rasulullah, aku hanya memiliki satu pakaian. Bagaimana ketika haidh saya memakai  pakaian itu juga?

Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau telah suci, cucilah bagian pakaianmu yang terkena darah lalu shalatlah dengannya.”

Lalu Khaulah berujar lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau masih ada bekas darah?

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Air tadi sudah menghilangkan najis tersebut, sehingga bekasnya tidaklah membahayakanmu.”[12]

Jika wanita ingin membersihkan darah haidh tersebut dengan menggunakan kayu sikat atau alat lainnya atau dengan menggunakan air plus sabun atau pembersih lainnya untuk menghilangkan darah haidh tadi, maka ini lebih baik[13]. Dalilnya adalah hadits Ummu Qois binti Mihshon, beliau mengatakan,

سَأَلْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ دَمِ الْحَيْضِ يَكُونُ فِى الثَّوْبِ قَالَ « حُكِّيهِ بِضِلْعٍ وَاغْسِلِيهِ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ ».

“Aku bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai darah haidh yang mengenai pakaian. Beliau menjawab, “Gosoklah dengan tulang hean dan cucilah dengan air dan sidr (sejenis tanaman)”.”[14]

4 – Menyucikan ujung pakaian wanita

Dari ibunya Ibrohim bin Abdur Rahman bin ‘Auf bahwasanya beliau bertanya pada Ummu Salamah –salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Beliau berkata,

إِنِّى امْرَأَةٌ أُطِيلُ ذَيْلِى وَأَمْشِى فِى الْمَكَانِ الْقَذِرِ.

Aku adalah wanita yang berpakaian panjang. Bagaimana kalau aku sering berjalan di tempat yang kotor?

Ummu Salamah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ

Tanah yang berikutnya akan menyucikan najis sebelumnya.[15]

Sebagian ulama menyatakan bahwa yang dimaksud najis dalam hadits di atas adalah najis yang sifatnya kering, seperti Imam Ahmad[16] dan Imam Malik. Menurut mereka, jika ujung pakaian wanita terkena najis yang sifatnya basah, maka tidak bisa disucikan dengan tanah berikutnya, namun harus dengan cara dicuci.

Al Baghowi rahimahullah mengatakan, “Ada yang memahami bahwa najis yang dimaksud dalam hadits ini adalah najis yang sifatnya kering saja. Ini pendapat yang sebenarnya perlu dikritisi. Karena najis yang mengenai pakaian wanita pada umumnya didapat ketika berjalan di tempat yang kotor dan di sana umumnya ditemukan kotoran yang sifatnya basah. Inilah yang biasa kita perhatikan dalam keseharian. Jadi, jika seseorang mengeluarkan maksud kotoran yang sifatnya basah ini dari maksud hadits tersebut –padahal ini umumnya atau seringnya kita temui-, maka ini adalah anggapan yang teramat jauh.”[17]

Al Imam Muhammad rahimahullah mengatakan, “Tidak mengapa jika ujung pakaian wanita terkena kotoran (najis) selama kotoran tersebut tidak seukuran dirham yang besar (artinya: kotorannya banyak, pen). Jika kotoran tersebut banyak, maka tidak boleh shalat dengan menggunakan pakaian tersebut sampai dibersihkan (dicuci).” Demikian pula pendapat dari Imam Abu Hanifah rahimahullah.[18]

5 – Membersihkan pakaian dari kencing bayi yang belum mengonsumsi makanan

Dari Abus Samhi –pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ

Membersihkan kencing bayi perempuan adalah dengan dicuci, sedangkan bayi laki-laki cukup dengan diperciki.[19]

Yang dimaksudkan di sini adalah bayi yang masih menyusui dan belum mengonsumsi makanan. Kencing bayi laki-laki dan perempuan sama-sama najis, namun cara menyucikannya saja yang berbeda.[20]

Dalil kenapa yang dimaksud di sini adalah bayi yang belum mengonsumsi makanan adalah hadits berikut.

عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ أُخْتِ عُكَّاشَةَ بْنِ مِحْصَنٍ قَالَتْ دَخَلْتُ بِابْنٍ لِى عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ فَبَالَ عَلَيْهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَرَشَّهُ.

Dari Ummu Qois binti Mihshon (saudara dari ‘Ukkasyah bin Mihshon), ia berkata, “Aku pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa puteraku –yang belum mengonsumsi makanan-. Kemudian anakku tadi mengencingi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun meminta air untuk diperciki (pada bekas kencing tadi, pen).[21]

Apa yang dimaksud dengan bayi yang belum mengonsumsi makanan? Al Faqih Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Bukanlah yang dimaksud bahwa bayi tersebut tidak mengonsumsi makanan sama sekali. Karena seandainya kita katakan  demikian, bayi ketika awal-awal lahir, ia pun sudah mencicipi sedikit makanan. Akan tetapi yang dimaksudkan tidak mengonsumsi makanan adalah makanan sudah menjadi pengganti dari ASI atau ia mengonsumsi makanan sudah lebih banyak dari ASI. Namun jika ASI masih jadi konsumsi utamanya, maka sudah jelas. Adapun jika makanan sudah menjadi mayoritas yang ia konsumsi, maka kita menangkan mayoritasnya (yaitu dianggap dia sudah mengonsumsi makanan, pen).”[22]

6 – Membersihkan pakaian yang terkena madzi

Dari Sahl bin Hunaif, beliau berkata,

كُنْتُ أَلْقَى مِنَ الْمَذْىِ شِدَّةً وَكُنْتُ أُكْثِرُ مِنْهُ الاِغْتِسَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ « إِنَّمَا يُجْزِيكَ مِنْ ذَلِكَ الْوُضُوءُ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ بِمَا يُصِيبُ ثَوْبِى مِنْهُ قَالَ « يَكْفِيكَ بِأَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَنْضَحَ بِهَا مِنْ ثَوْبِكَ حَيْثُ تُرَى أَنَّهُ أَصَابَهُ ».

“Dulu aku sering terkena madzi sehingga aku sering mandi. Lalu aku menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kejadian yang menimpaku ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Cukup bagimu berwudhu ketika mendapati seperti ini.’ Aku lantas berkata lagi, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika ada sebagian madzi yang mengenai pakaianku?’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Cukup bagimu mengambil air seukuran telapak tangan, lalu engkau perciki pada pakaianmu ketika engkau terkena madzi’.” [23]

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menjelaskan bahwa jika madzi cuma diperciki saja, maka itu sudah cukup untuk menghilangkan najisnya. … Ini menunjukkan bahwa memercikinya termasuk kewajiban. Madzi adalah najis yang ringan, sehingga diberi keringanan cara menyucikannya.”[24]

Ini adalah perilaku terhadap pakaian yang terkena madzi, yaitu cukup diperciki. Sedangkan kemaluannya cukup dibersihkan dan bersucinya adalah dengan berwudhu, tanpa perlu mandi besar.

7 – Menyucikan bagian bawah alas kaki (sandal)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama para sahabatnya. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas kedua sandalnya dan meletakkannya di sebelah kirinya, tatkala para sahabat melihat hal itu, mereka pun ikut mencopot sandal mereka. Ketika selesai shalat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Kenapa kalian melepas sandal kalian?”. Mereka menjawab, “Kami melihat engkau mencopot sandalmu, maka kami juga ikut mencopot sandal kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memberitahu mereka, “Sesungguhnya Jibril shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku dan memberitahu aku bahwa di sandalku itu terdapat kotoran.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

« إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِى نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا »

Apabila salah seorang di antara kalian pergi ke masjid, maka lihatlah, jika terdapat kotoran (najis) atau suatu gangguan di sandal kalian, maka usaplah sandal tersebut (ke tanah) dan shalatlah dengan keduanya.[25]

Ash Shon’ani rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan disyariatkannya shalat dengan menggunakan sendal[26]. Hadits ini menunjukkan pula bahwa mengusap sendal yang terkena najis (ke tanah), itu sudah menyucikannya. Kotoran (najis) yang dimaksud di sini mencakup yang basah atau pun yang kering. Sebab cerita hadits ini adalah bahwasanya Jibril mengabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa di sendal beliau terdapat kotoran ketika beliau shalat. (Lalu beliau pun mencopot sendalnya) dan terus melanjutkan shalat. Oleh karena itu, jika seseorang berada dalam shalat dan ia terkena najis tanpa ia ketahui atau lupa, kemudian ia mengetahuinya ketika di pertengahan shalat, maka ia wajib menghilangkan najis tersebut. Kemudian ia pun terus melanjutkan shalatnya.”[27]

8 – Menyucikan tanah

Dari Abu Hurairah, beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَامَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ »

“Seorang arab badui pernah kencing di masjid, lalu para sahabat ingin menghardiknya. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya, “Biarkan dia! (Setelah dia kencing), siramlah kencing tersebut dengan seember air. Kalian itu diutus untuk mendatangkan kemudahan dan bukan bukan untuk mempersulit”.” [28]

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh menyiram tanah yang terkena kencing tadi dengan air dengan maksud untuk mempercepat sucinya tanah dari najis. Seandainya tanah tersebut dibiarkan hingga kering, lalu hilang bekas najisnya, maka tanah tersebut juga sudah dinilai suci. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mengenai anjing yang keluar-masuk masjid dan kencing di sana, namun dibiarkan begitu saja tanpa disiram atau diperciki dengan air. Beliau berkata,

كَانَتِ الْكِلاَبُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِى الْمَسْجِدِ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

Beberapa ekor anjing sering kencing dan keluar-masuk masjid pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya) tidak memerciki kencing anjing tersebut.[29]

Apakah Menghilangkan Najis Harus dengan Menggunakan Air?

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Yang masyhur dalam madzhab Imam Malik, Imam Ahmad dan pendapat baru dari Imam Asy Syafi’i, juga Asy Syaukani bahwa untuk menghilangkan najis disyaratkan dengan menggunakan air, tidak boleh berpaling pada yang lainnya kecuali jika ada dalil.

Sedangkan menurut madzhab Imam Abu Hanifah, pendapat lain dari Imam Malik dan Imam Ahmad, pendapat yang lama dari Imam Asy Syafi’i[30], pendapat Ibnu Hazm[31], Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[32] dan pendapat Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin[33] bahwa diperbolehkan menghilangkan najis dengan cara apa pun dan tidak dipersyaratkan menggunakan air. Pendapat kedua inilah yang lebih tepat.

Alasan-alasan yang mendukung pendapat kedua ini:

Pertama: Jika air boleh digunakan untuk menyucikan yang lain, maka demikian pula setiap benda atau cairan yang bisa menyucikan dan menghilangkan najis benda lain juga berlaku demikian.

Kedua: Syari’at memerintahkan menghilangkan najis dengan air pada beberapa perkara tertentu, namun syariat tidak memaksudkan bahwa setiap najis harus dihilangkan dengan air.

Ketiga: Syari’at membolehkan menghilangkan najis dengan selain air. Seperti ketika istijmar yaitu membersihkan kotoran ketika buang air dengan menggunakan batu. Contoh lainnya adalah menyucikan sendal yang terkena najis dengan tanah. Begitu pula membersihkan ujung pakaian wanita yang panjang dengan tanah berikutnya. Sebagaimana dalil tentang hal ini telah kami sebutkan.

Keempat: Membersihkan najis bukanlah bagian perintah, namun menghindarkan diri dari sesuatu yang mesti dijauhi. Jika najis tersebut telah hilang dengan berbagai cara, maka berarti najis tersebut sudah dianggap hilang.

Terakhir, yang menguatkan hal ini lagi: khomr (menurut ulama yang menganggapnya najis) jika telah berubah menjadi cuka, maka ia dihukumi suci dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama.[34]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang terkuat dalam masalah ini bahwasanya najis kapan saja ia hilang dengan cara apa pun, maka hilang pula hukum najisnya. Karena hukum terhadap sesuatu jika  illah (sebab)-nya telah hilang, maka hilang pula hukumnya. Akan tetapi tidak boleh menggunakan makanan dan minuman untuk menghilangkan najis tanpa ada keperluan karena dalam hal ini menimbulkan mafsadat terhadap harta dan juga tidak boleh beristinja’ dengan menggunakan keduanya.”[35]

Demikian penjelasan kami mengenai cara membersihkan najis sebagai kelanjutan dari pembahasan macam-macam najis. Dalam tulisan selanjutnya kita akan mengupas beberapa hal yang dianggap najis padahal bukan. Semoga Allah memudahkan.

Diselesaikan di Panggang-Gunung Kidul, 27 Shofar 1431 H

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Bangkai adalah hewan yang mati begitu saja tanpa melalui penyembelihan yang syar’i.

[2] HR. An Nasa’i no. 4241, At Tirmidzi no. 1728, Ibnu Majah no. 3609, Ad Darimi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir wa Ziyadatuhu no. 4476 mengatakan bahwa hadits ini shohih.

[3] Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat ulama. Ada sebagian ulama yang menganggap bahwa hewan yang haram sekali pun jika kulitnya disamak tetap menjadikan kulitnya suci. Mereka berdalil dengan keumuman hadits tentang kulit yang disamak. Namun pendapat yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin itulah yang lebih tepat, sebagaimana alasan yang beliau sebutkan di atas.

[4] Serigala adalah hewan yang haram dimakan karena termasuk hewan buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ذِى نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

Setiap hewan buas yang bertaring haram untuk dimakan.” (HR. Muslim no. 1933, dari Abu Hurairah).

[5] Lihat Fathu Dzil Jalaali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 1/159, Madarul Wathon Lin Nasyr, cetakan pertama, tahun 1425 H.

[6] Adapun mengenai najis pada anjing terdapat tiga pendapat di kalangan para ulama :

Pertama, seluruh tubuhnya najis bahkan termasuk bulu (rambutnya). Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan salah satu dari dua riwayat (pendapat) Imam Ahmad.

Kedua, anjing itu suci termasuk pula air liurnya. Inilah pendapat yang masyhur dari Imam Malik.

Ketiga, air liurnya itu najis dan bulunya itu suci. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah dan pendapat lain dari Imam Ahmad.

Yang terkuat adalah pendapat ketiga sebagaimana pernah kami terangkan pada tulisan sebelumnya. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 21/616-620, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H)

[7] HR. Muslim no. 279

[8] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/185, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.

[9] Lihat Fathu Dzil Jalaali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom, 1/95.

[10] Makna cuci (al ghuslu) di sini sebagaimana diterangkan oleh Al Faqih Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah. Lihat Fathu Dzil Jalaali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom, 1/219.

[11] HR. Bukhari no. 227 dan Muslim no. 291

[12] HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[13] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/84, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[14] HR. Abu Daud no. 363, An Nasai no. 292, 395, dan Ahmad (6/355). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[15] HR. Abu Daud no. 383, Tirmidzi no. 143, dan Ibnu Majah no. 531. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini shohih.

[16] Al Atsrom pernah mendengar Ahmad bin Hambal ditanya mengenai hadits Ummu Salamah “tanah berikutnya akan menyucikan najis sebelumnya”. Beliau rahimahullah menjawab, “Menurutku wanita tersebut bukanlah terkena kencing, lalu disucikan dengan tanah selanjutnya. Akan tetapi, ia melewati tempat yang kotor (bukan najis yang basah, pen) kemudian ia melewati tempat yang lebih suci, lalu tempat tersebut menyucikan najis sebelumnya.” (Lihat Al Istidzkar, Ibnu ‘Abdil Barr, 1/171, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1421 H)

[17] Lihat Tuhfatul Ahwadzi, Muhammad Abdurrahman Al Mubarakfuri, 1/372, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.

[18] Idem.

[19] HR. Abu Daud no. 376 dan An Nasa’i no. 304. Syaikh Al Albani dalam  Al Jami Ash Shogir wa Ziyadatuhu mengatakan bahwa hadits ini shohih.

[20] Lihat Tawdhihul Ahkam, Syaikh Ali Basam, 1/176-177, Darul Atsar

[21] HR. Bukhari no. 5693 dan Muslim no. 287.

[22] Fathu Dzil Jalali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom, 1/214.

[23] HR. Abu Daud no. 210, Tirmidzi no. 115, dan Ibnu Majah no. 506. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[24] As Sailul Jaror, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy Syaukani, 1/35, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan pertama, tahun 1405 H.

[25] HR. Abu Daud no. 650. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud bahwa hadits ini shohih.

[26] Dengan catatan, shalat dengan sandal boleh dilakukan jika memungkinkan disesuaikan dengan kondisi tempat shalat. Jika zaman sekarang ini, masjid dilengkapi dengan lantai keramik, maka sudah seharusnya tidak menggunakan sendal di dalam masjid. Sunnah ini bisa dilakukan ketika di luar masjid seperti ketika bersafar.

[27] Subulus Salam, Muhammad bin Isma’il Ash Shon’ani, 1/137, Maktabah Musthofa, cetakan keempat, tahun 1379.

[28] HR. Bukhari no. 220

[29] HR. Bukhari no. 174

[30] Lihat penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/86.

[31] Lihat Al Muhalla, Ibnu Hazm, 1/92, Mawqi’ Ya’sub.

[32] Lihat Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 21/475, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.

[33] Lihat Fathu Dzil Jalali wal Ikrom, hal. 176.

[34] Lihat penjelasan dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/86-87.

[35] Majmu’ Al Fatawa, 21/475.

  • abu khansa

    Bagaimana bila suatu benda sudah sangat lama terkena najis contohnya karpet yg terkena air seni anak, tetapi kita belum sempat membersihkannya sampai hilang sendiri warna dan bau dari najis tersebut, apakah benda tersebut masih dianggap bernajis?

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Abu Khansa:

      Jika sudah hilang bau, warna atau rasa dari najis tersebut, maka berarti sudah suci dan boleh digunakan kembali.
      Demikian faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Fathu Dzil Jalaali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom, 1/176.
      Semoga Allah beri kepahaman.

  • Izwar Efendi

    assalamu’alaikum. . .
    produk-produk dari kulit hewan banyak kita jumpai dan kita pakai, contohnya tas dari kulit buaya, tali pinggang dari kulit ular, walaupun sudah disamak tapi masih tidak suci (najis). dalam hal seperti ini bagaimana cara kita menyikapinya, mohon penjelasannya.

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Izwar
      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh,

      Kami menukil perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam tulisan di atas:
      Serigala mati, lalu kulitnya diambil, walaupun kulit tadi disamak, tetap kulit tersebut tidak suci (najis). Alasannya, jika serigala tersebut disembelih tidak bisa membuat hewan tersebut jadi halal, maka jika kulit hewan tersebut disamak lebih-lebih lagi tidak membuat jadi suci. Kulit serigala ini masih tetap najis berbeda dengan kulit kambing tadi. Namun kulit ini boleh digunakan untuk keadaan kering saja. Karena dalam keadaan kering, najisnya tidak menyebar luas.

      Dari perkataan beliau yg terakhir ini ada isyarat ttg bolehnya digunakan untuk menampung sesuatu yg kering. Namun untuk hati-hatinya, gunakanlah tas atau produk yg lebih selamat dr najis. Wallahu a’lam.

  • Ahdan Ramdani

    Bismillah.
    Ana ijin copas ya ustadz,
    barokallahu fikum.

  • http://www.jogjawae.com Toko kerajinan tangan

    MasyaALlah.. trus dakwahkan ‘ilmu

  • agoest

    ijin copast

  • handza

    bagaimana dengan hal2 berikut :kotoran cicak, darah nyamuk, kotoran sapi (hewan lain), darah sapi?

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Handza
      Untuk kotoran sapi, itu suci karena setiap hewan yang halal dimakan, maka suci kotorannya.
      Darah nyamuk juga suci, nanti akan ada pembahasan dalam fiqih selanjutnya.
      Kotoran cicak adl termasuk kotoran yg sulit dihindari shg para ulama memberi keringanan untuk semacam ini.

      Mohon tunggu pembahasan selanjutnya masih ttg najis.

  • doy’s dogel

    Alhamdulillah,saya mohon doanya semoga iman saya semakin bertambah kuat,amin.

  • firzan

    doakan saya dan juga kaum muslimin ya ustadz sama seperti saudara doy’s dogel

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Firzan dan Doy’s dogel

      Semoga Allah selalu memberikan kalian hidayah dan petunjuk.

  • http://www.gmail.com Fahrul

    Assalamu ‘alaikum
    Bolehkah kaum muslimin yang memakai sepatu kulit buaya dan ular serta muslimah memakai tas kulit buaya dan ular

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @Fahrul: Wa’alaikumus salam.
      Tentang tas dan kulit buaya sbgmn penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin, najisnya tidak hilang meskipun disamak. Jadi sebaiknya dihindari. Semoga Allah memberikan kita ketakwaan.

  • http://www.gmail.com Fahrul

    Assalamu ‘alaikum
    Di tempat saya penggunaan listrik memakai biogas yang diolah dari kotoran manusia,bolehkah hal tersebut dan apa boleh memakai biogas diolah dari kotoran manusia untuk bahan bakar kompor memasak?

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Fahrul

      Wa’alaikumus salam,
      Untuk permasalahan biogas, kaedahnya sebagai berikut: Jika benda najis berubah menjadi benda lain yang sifatnya lebih baru, maka benda baru tersebut kembali ke hukum asal yaitu suci.
      Sebagai contoh, minyak bumi (contoh: bensin) asalnya adalah dari bangkai yang terpendam ribuan tahun, namun lambat laut bangkai tadi berubah jadi benda baru yaitu minyak bumi. Bagaimana status minyak bumi? Jawabannya, kembali ke hukum asal benda yaitu suci.
      Demikian halnya dengan biogas tadi. Wallahu a’lam.

  • rendra

    Bismillah .. bagaimana jika kita duduk diatas bekas air kencing (ngompolnya anak) yang sudah kering di sofa, kasur, kursi atau seprei ? apakah celana kita terkena najis dan celana kita harus disucikan lebih dahulu ? bagaimana kalo sebelumnya kita tidak tahu kalo di tempat duduk kita ada bekas ompol (air kencing anak) yang sudah kering tapi sebenarnya masih meninggalkan bau?

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Rendra

      Jika memang kencingnya sudah hilang bau dan warnanya, maka sofa dan lainnya tadi dinilai suci. Namun kalau belum hilang bau atau warna, maka tetap najis. Pakaiannya yang terkena harus disucikan,

  • de

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
    bagaimana kalau baju atau anggota tubuh yang terkena liur anjing? apakah bisa disucikan hanya dengan air dan sabun? atau tetap harus 7 kali dan salah satunya dengan tanah?
    kemudian adakah syarat tertentu mengenai tanah yang boleh digunakan untuk menyucikan dari najis? apakah tanah liat/lempung boleh digunakan?
    sebelumnya, terimakasih atas ilmu yang telah disampaikan,, semoga berkah..

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh
      @ de:
      1. Syaratnya harus 7 sebagaimana diterangkan di atas.
      2. Asalkan tanahnya itu suci, itu sudah cukup dan sah. Jadi boleh dari tanah mana saja.
      Wallahu a’lam.

  • totok

    ass.wr.wbr. anA SEDANG TUGAS bagaimana makan memakai piring yang dpakai kaum kufar sedangkan mereka makan daging babi,WLU makanan sudah dipisah tetapi piring tercampur.?

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Totok: Kalau sudah jelas masih ada sisa babinya, maka tidak boleh. Namun jika tidak ada sisa apa2, maka hukum asalnya boleh.

  • macked

    Ass. Wr. Wb
    Apakah boleh menyucikan pakaian yang terkena kotoran anjing dengan deterjen sampai hilang bau dan bentuknya tapi tidak dengan tanah, apakah pakaian itu suci?
    Ass. wr. Wb

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Macked
      Sebaiknya ikut aturan yg diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .

  • budi

    Assalamu’alaikum
    salah satu anggota keluarga kami membeli ang ciu mungkin dia tidak tahu kalau itu haram dan mencampurnya dalam masakan.makanannya jelas haram dan bagaimana cara membersihkan alat masaknya beserta perabotan lainnya yang terkena ang ciu?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #budi
      Wa’alaikumussalam. Cukup dicuci sampai cukup bersih dan tidak ada cara khusus.

  • Puzz

    Assalamu’alaykum, sy ingin bertnya. Adik sy kl hbs mandi suka menaruh handuk basah di kasur. Pdhl ksur itu dl bbrapa x trkena ompol ktika kmi msh kecil. Slain itu,juga sk naruh dimeja. Apa handuk i2 jd najis? Juga meja dan perabotn yg trkna handuk bsah i2 jg jd njis?

    Yg k2, kn bbrp waktu lalu sy bc dinternet kl byk kuas dr bulu babi yg bredar dpasaran. Apa tembok rumah dan pintu yg dicat dg kuas i2 bs najis jg? Krn kmungknn mggnkn kuas itu (kuas bulu babi brkualits lbh bgs dr sintetis). Apa yg hrs sy perbuat? Trmksh ustadz ats jwbnnya

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Puzz
      Wa’alaikumussalam. Ompol jika sudah mengering, apalagi sudah dicuci berulang kali, maka tidak lagi najis. Meja dan perabotan anda tidak menjadi najis. Perlu anda pegang baik-baik, yang menjadi najis adalah yang anda benar-benar yakini telah nyata-nyata terkena najis, jika masih ragu maka suci.

      Setahu kami, babi tidak memiliki bulu melainkan rambut. Jika kabar itu benar, kemungkinan kuas tersebut adalah campuran rambut babi dan bahan lainnya kemudian diproses sedemikian rupa sehingga berubah menjadi benda baru yaitu kuas. Dengan demikian dalam hal ini kita katakan telah terjadi istihlak dan istihalah, sehingga hukumnya boleh untuk digunakan dan tidak haram jika terkena makanan. Wallahu’alam.

  • include`

    assalamu’alaikum wr. wb.

    sy bertanya mslh najis kembali. begini, saat gerimis saya ke terminal. ketika di terminal, karena gerimis, aspal pun becek-becek. kebetulan sepatu saya agak berlubang sehingga klo nginjak yg becek, air merembes/meresap ke dalam sehingga kaos kaki saya basah.

    ketika berjalan sy melewati tempat yang berbau pesing (air kencing). saya langsung lewati saja. saya tidak tahu apakah aspal yg sy injak itu ada air kencing, atau air kencing itu bukan yg saya injak melainkan di sekitar lain. yang saya khawatirkan, apakah jalan yang sy injak/lewati ada air kencingnya,, takut kalau2 air kencing itu merembes ke dalam sepatu dan kaos kaki. apa yang harus sy lakukan terhadap sepatu dan kaos kaki sya? apakah harus dibersihkan karena ragu terkena air kencing? atau menghiraukannya saja?
    terima kasih atas jawabannya.

    wassalamu’alaikum wr. wb.

  • ibe

    assalamu ‘alaikum. pak, kebetln wc drmh sy ada didalam rumah.. slh 1anggta klwrg sy spertinya trlalu anggb rngn najis kncing, jarang cuci kki saat keluar wc. pdhl lntai yg dipke sjln dgn lntai ke ruang sholat, apakh lntai jd njis. bgmna membrshkanya, n cr menasehati klwrga sy it. trima ksh.. wassalamu ‘alaikum wr.wb

    • http://abukarimah.wordpress.com Didik Suyadi

      #ibe
      Wa’alaikumussalam,
      1. Hukum asal segala sesuatu itu suci sampai kita yakin bahwa hal tersebut memang benar-benar najis.
      Jika bapak yakin bahwa lantai kamar mandi bapak itu bersih dan sudah tidak ada bau kencinganya maka tidak mengapa bapak keluar dari kamar mandi bapak menuju ruang shalat tanpa harus mencuci lantainya, kecuali jika bapak benar-benar mendapati najis atau air kencing dilantai tersebut.

      Dan alhamdulillah, jika kita mengetahui masalah ini (bahwa hukum asala segala sesuatu itu suci) akan menenangkan hati kita dan tidak ada rasa was-was.

      2. Hendaknya seseorang memeperhatikan masalah kebersihan dan kesucian baju dan tempat shalatnya ketika dia melaksanakan shalat.

      Wallohua’lam

  • Bunga

    Assalamu’alaykum. Ustadz, tolong jawab pertanyaan saya, saya benar-benar bingung. Saya perempuan berusia 17 tahun. Jujur, saya terbangun dalam keadaan mengompol, mungkin karena sebelumnya saya banyak makan semangka jadinya mengompol. Sebenarnya bagaimana cara mencuci ompol itu ustadz, karena pakaian, sprei, dan kasur saya terkena ompol. Apakah dengan menyiramkan air saja (tidak dicuci dengan sabun) sudah tergolong suci untuk pakaian dan sprei? Disiram berapa kali? Sekali, 3 kali, atau 7 kali? Lalu bagaimana dengan kasurnya? Karena tidak memungkinkan untuk disiram air, apa boleh dijemur saja kasurnya?
    Syukron ustadz, karena kebanyakan hanya dibahas tentang cara menyucikan bekas kencing anak-anak, jadi saya bingung.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Bunga
      Wa’alaikumussalam. Dicuci dengan air, sampai hilang warna dan baunya, itulah yang sudah dianggap suci. Tidak ada ketentuan jumlah siraman dan tidak ada kewajiban memakai sabun, namun jika pakai lebih baik.

  • Fashbir

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ustadz, apakah air mutannajis itu dan bagaimana hukumnya?
    Jika seseorang kencing sambil berdiri dan ada air kencing yang terpercik di kaki/badannya, lalu dia menyiram kaki/bagian badan tsb, apakah air bekas mencuci/menyiram itu bernajis juga? Saya sering was-was dengan air bekas menyiram itu yang kembali memanntul ke kaki shg banyak menghabiskan air. Apakah nasehat ustadz atas bentuk2 was-was dalam berbagi hal? Jazakallah khairan wa barakallahu fiyk.

    • http://ikhwanmuslim.com Muhammad Nur Ichwan

      @fashbir
      wa’alaikumussalam.
      air mutanajjis adalah air yang tercampur dengan najis. jika air tersebut mengalami perubahan pada salah satu sifatnya (rasa, warna, dan bau) setelah tercampur dgn najis, maka hukum air tersebut adalah najis.
      mengenai tindakan anda ketika buang air kecil, maka kami saranan untuk menggunaan air secukupnya dan buang rasa was-was anda. wallahu a’lam.

  • Ummu Hafizoh

    Assalamu’alaykum warahmatullah wa barakaatuh.

    Kalo tas Kulit Ular atau biawak, boleh nggak ya ?

    • http://ikhwanmuslim.com Muhammad Nur Ichwan

      @ummu hafzhoh
      wa’alaikumussalam.
      coba anda baca disini

  • ummu mubarak

    ustadz bgmn klo kencing anak bayi dilantai semen, dilap aja tanpa air. lalu mengering, apakah lantai tsb jd suci?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #ummu mubarak
      Suci.

  • Beni

    Assalammualaikum…
    Gmna caranya membersihkan air dalam bak yang terkena mani?

    • http://ikhwanmuslim.com Muhammad Nur Ichwan

      @beni
      wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh
      yang patut bapak ketahui, mani bukanlah najis. sehingga apabila mani terjatuh ke dalam air, maka status air tersebut tidaklah berubah menjadi najis.
      jika merasa jijik, maka cukup dengan membuang mani tsb dari bak mandi dan tidak perlu menguras air dalam bak tsb.

  • suwarsilah

    kalo kaki ga sengaja nginjek pipis anjing gimna ya??cara ngebersihinnya gimna?

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Suwarsilah
      Pipis anjing sm dgn najis lainnya, dihilangkan dgn cara disiram atau lainnya sampai najisnya hilang, tdk dicuci sebanyak 7 kali. Karena pencucian 7 kali hnya pd najis anjing dr liurnya. Wallahu a’lam.

  • Tya

    Ass…
    Mgkn ini sdkit menyimpang dr topik d ats,tp ijinkn sy untk brtny mslh ini.
    Apkh bleh qt mndi junub dg air yg sdh d cmpr dg air rebus( biar gag trlalu dingin )
    Mhn jwbnx n trmksh
    Wss….

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Tya
      Selama airnya masih dlm kategori air, artinya masih disebut air sebagaimana ktk kita wudhu, mk boleh digunakan. Namun jk dsbut misalnya “air sabun”, maka ini bukanlah air yg boleh digunakan untuk wudhu misalnya. Wallahu a’lam

  • feri

    aslkum… subhanallah saya adalah penggemar situs ini. situs ini sebenar-benarnya salaf. didalamnya diutarakan berbagai pendapat dari para ulama. mohon ijin menyebarkan artikel ini ya..

    dan saya ingin bertanya soal najisnya anjing dan jilatannya.
    pertama. apakah tubuh anjing itu najis secara keseluruhan atau hanya air liurnya saja?

    kedua , saya pernah mendengar pengajian ustadz salaf bahwa beliau berpendapat anjing itu tidak najis begitu juga air liurnya. adapun hadist abu hurairah itu beliau memahaminya bahwa air liur anjing tidak najis namun memang pada jaman dulu jauh sebelum nabi saw lahir manusia telah mengetahui bahwa air liur anjing ini menyebabkan penyakit anjing gila, sehingga yang nabi maksudkan membersihkan jilatan ajing tersebut tidak menunjukan bahwa air liur anjing itu najis namun hanya kotor karena mengandung penyakit dan memang harus dibersihkan, bagaimana pendapat ini menurut anda ustad?
    tapi sepertinya saya lebih menyukai pendapat situs ini , pemahamannya lebih kuat

    jazakallah khairon katsir

    • http://ustadzaris.com Aris Munandar

      #feri
      1. Air liurnya saja menurut pendapat yang paling kuat.
      2. Menurut Imam Malik, anjing itu suci badan dan air liurnya. Namun pendapat ini kurang tepat karena bejana berisi air yang dijilat oleh anjing Nabi perintahkan agarnya air yang kena jilatan tersebut dibuang.

  • fathur rahman

    asalam’mualaikum wr.wb
    saya ingin bertanya, apabila saya sehabis buang air kecil saya sudah membersihkannya….
    tetapi saya ragu ada tetesan tau tidak, bagaimana saya mau mengerjakhn shallat,

    • http://ustadzaris.com Aris Munandar

      #fathur rahman
      Wa’alaikumussalam, jika hanya ragu maka anggap saja tidak ada.

  • lailatus.syarifah

    bagaimana cara menghilangkan penyakit was was..saya sudah lebih dari 14 th mengalami was was najis.
    trimakasih

    • http://www.muslim.or.id Muh. Abduh Tuasikal

      @ Lailatus Syarifah
      Kalau itu ragu2 maka tinggalkan, jangan biasakan menoleh yg ragu2 dan berpeganglah dg yg yakin.

  • abu_farras

    bismillah
    bagaimana cara membersihkan air liur anjing yang menempel di tubuh kita atau pakaian kita?apakah dicuci 7 kali juga?atau cukup dicuci sekali saja.kan di hadist itu yang diterangkan cuci 7 kali pada bejana saja,apa bisa dikiaskan pada tubuh atau pakaian kita.mohon penjelasannya beserta dalil ustad.barokallohu fiik

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Abu Farras
      Kalau jilatan anjing pada tubuh, maka cukup dicuci spt biasa, tdk ada syarat 7 kali karena cara cuci 7 kali hanya untuk jilatan anjing pada bejana. Wallahu a’lam.

  • viny anwar

    ass. wr. wb

    saya tinggal dengan kaka, kaka saya baru2 ini memelihara anjing dan dilepas didalam rumah.
    dia sempat membuang kotoran diatas kasur saya, otomatis itu mengenai seprei dan selimut saya. bagaimana cara mensucikan kain itu?

    mohon dibantu, terimakasih.

    wass ..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Viny
      1. Nasehatkan kakak saudara untuk tidak memelihara anjing karena dosanya bs jadi dosa besar.
      2. Cukup najisnya dibersihkan seperti biasa sampai najis tsb hilang dengan menggunakan air.

  • ummu khansa

    Assallamu’alaikum…benar atau salahkah pemahaman saya ini ustadz,
    1. bahwa kasur, karpet dll yang terkena pipis anak jk sdh kering dan kita duduk diatasny maka pakaian kita bisa untuk sholat??
    2.tidak perlu mensucikan kasur dll yg terkena pipis selama jika kita akan sholat kita mengganti baju??
    jazakallah

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #ummu khansa
      Wa’alaikumussalam,
      1. Jika memang sudah kering dan tidak berbau, maka bukan najis lagi, pakaian yang terkenanya juga tidak najis
      2. Benar, mengganti baju, namun tentunya tidak shalat di atas kasur/karpet yang terkena air kencing tersebut sebelum dicuci.

  • Amirul

    As,wr,wb.
    Sya mau nx klo kta mencuci pakaian yg trkena hadas,apa bisa menggunakan air saja tnpa menggunakan sabun.
    Trimakasih

    • http://ikhwanmuslim.com Muhammad Nur Ichwan

      @Amirul
      Wa’alaikumussalam.
      Sekedar saran, alangkah bagusnya jika Bapak Amirul tidak menyingkat salam.
      Selama warna, rasa dan bau hadats itu telah hilang maka itu sudah cukup meski tidak menggunakan sabun.

  • Ikbar M. Ghiffari

    Assalaamu’alaikum… Ustadz, saya mau bertanya mengenai najis air kencing pada pakaian. Apakah najisnya bisa menyebar pada saat direndam dgn pakaiann lain? Apakah najis tsb hilang dgn dicuci? Jazakallooh khairon katsir… Wassalaamu’alaikum.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Ikbar M.Ghiffari
      Wa’alaikumussalam, air rendaman pakaian itu tetap suci selama najis tidak mendominasi bau, warna dan rasanya. Membersihkan najis dengan cara-cara di atas itu sudah memenuhi tuntutan syari’at, adapun untuk membersihkannya dari kuman berbeda lagi.

  • farah

    apakah bekas kotoran tikus dilantai yang disapu tanpa disiram air kemudian menjadi kering termasuk najis jika kita menginjak lantainya?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Farah

      Kotoran tsb harus dihilangkan.

  • fajrizzio

    wah tad, klu panci atau teflon yg bekas dipake masak daging babi cara membersihkan nasjisnya bagaimana ?? cukupkah memebersihkannya dengan mencuci dengan air dan sabun?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #fajrizzio
      Sudah cukup

  • Anin

    Tadi saya nyuci kerudung, waktu saya tinggal, eh embernya dipakai untuk mandi dan kerudung saya diletakkan gitu aja di lantai kamar mandi. Pertanyaannya, kan saya ga tau lantai kamar mandi itu udah kena najis apa aja, waktu saya bilas kerudungnya di air keran yg ngalir saya juga nemuin bbrp kotoran, krn saya belum yakin akhirnya saya rendam lagi. Sebenarnya gimana harusnya tindakan saya ngilangin najis pada kain itu? Saya kan ga tau kena najis atau nggaknya..

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Anin
      Kaidah syar’i dalam hal ini:
      اليقين لا يزول بشك
      “Suatu yang yakin tidak bisa digugurkan dengan keraguan”

      Anda yakin kerudung anda awalnya suci, apalagi sudah dicuci, namun anda ragu terkena najis atau tidak. Maka kerudung anda suci.

  • L

    ass. wr. wb
    jika suatu benda terkena liur anjing dan dibiarkan hingga mengering hingga wujudnya serta baunya hilang apa benda tersebut telah suci?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #L
      Benar, suci.

  • fauzan

    bagaimana jika seseorang terkena keringat/air liur anjing tapi orang itu tidak tahu itu najis besar dan baru tahu sekitar 2 tahun kedepan ketika ia dewasa dan bila sholat apakah syah ,apakah perlu di bersihkan/tidak najis itu setelah 2 tahun.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #fauzan
      Kalau sudah hilang sama sekali bekasnya, dan ketika itu belum tahu cara membersihkannya, maka sudah suci dan tidak perlu was-was.

  • fauzan

    assalamu’alaikum wr.wb

    bagaiamana hukumnya terkena air liur anjing tapi ia ragu ia terkena atau tidak.apakah bila sholat syah/tidak

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #fauzan
      Wa’alaikumussalam, jika ragu maka tidak mengapa

  • hafidz

    Assalamu’alaikum.. Pak ustadz saya ,mau tanya, bagaimana hukumnya air bekas membasuh kencing itu?? Apakah masih najis? Saya masih berpikir itu najis. Kalau pas membasuh pasti ada cipratan,. Saya takutnya cipratan itu ada yang kelewat tidak saya basuh setelahnya. Jadinya saya selalu lama di kamar mandi mgkn 10 menit lebih hnya untuk membersihkan cipratan-cipratan air bekas istinja’ tadi.. Mohon bantuannya pak ustadz.. Terima kasih.. Wassalamu’alaikum..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Hafidz
      Wa’alaikumus salam. Jangan terlalu banyak ragu2. Pegang yang yakin dan buang sifat ragu2.

  • hafidz

    jadi apa yang harus saya lakukan, yang saya ingin tanyakan itu, bgaimana hukum air basuhan istinja’ yang pertama kali itu? Apakah masih najis? ataukah sudah suci?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Hafidz

      Kalau sdh dibasuh dan yakin sudah bersih, maka tdk perlu ragu2 lagi karna itu berarti sudah suci.

  • aninda

    Assalamu’alaikum pak ustadz. saya adalah seoran guru privat. dan murid saya itu ternyata memelihara anjing. ketika saya sedang mengajar, anjing itu pun mendekat dan kemudian saya agak menjauh, tetapi aning tsb mengendus2 pulpen saya yang jatuh yang kemudian diambil oleh murid saya untuk menulis. ketika saya pegang, saya merasa pulpen saya agak basah. saya ragu, apakah itu dari air liur anjing, atau tangan murid saya yang basah. dan saya tetap memegang pulpen saya ini, dan kemudian saya memegang barang2 saya yang lain. krn saya ragu, saya hanya mencuci tangan saya dan pulpen saya. keraguan saya adalah : bagaimana dengan barang2 lain yang sudah tersentuh oleh tangan saya ini? seperti tas, dan tempat Hp saya. dan saya baru mensucikannya 2jam setelah kejadian ini. saya dilema pak ustadz. mohon balasannya. jazakumullah khoiron katsiran

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #aninda
      Wa’alaikumussalam, syariat Islam tidak memberikan beban pada hal-hal yang masih ragu statusnya. Selama anda masih ragu kena atau tidak, status barang-barang anda suci.

  • rahmat

    Assalamu’alaikum wr wb

    Bila tangan memegang bola yang habis digigit oleh anjing dan tangan kita belum sempat di sucikan lalu sudah mengering,apakah bila kita memegang sesuatu misalnya baju/barang dan anggota tubuh lainya apakah akan ikut terkena najis juga juga

    Terima kasih

  • Nisa

    Assalamualikum wr wb ustad…
    Jadi bila kita msh meragukan brg2 trkena najis atau tidak,kita menganggapnya brg2 it suci?

  • agung

    assalamulaikum wr wb

    apakah kita perlu untuk niat saat akan menghilangkan najis mugholadoh

    terima kasih

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Agung

      Wa’alaikumussalam. Tdk mesti dg niat.

  • nita

    assalamualikum
    saya mau nanya nicvh..gmna cara menghilangkan najis kencing ank balita di lantai rumah?? apakah cukup dengan mengepelnya nya saja??
    mohon penjelasannya..terimah kasih

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #nita
      wa’alaikumussalam, di pel itu sudah sangat mencukupi.

  • Pingback: Pelajaran Dasar Agama Islam — Muslim.Or.Id

  • sunarso

    assalamualaikum wr wb

    saya mau bertanya bagaimanakah tata cara mandi wajib yg benar dan bagaimana niatnya

    terima kasih

  • farah

    Assalamu’alaikum …..saya masih bingung dengan rasa was-was jika menginjak kotoran hewan. Seringkali di jalan terdapat tinja kucing ataupun tikus yang masih basah beserakan dan kadang sudah terinjak orang-orang atau motor yang lewat. Lalu bagaimana hukumnya jika saya melewati jalan itu, apakah alas kaki saya menjadi suci jika menginjak tanah/batu paving jalanan berikutnya setelah ada kotoran tersebut (sesuai hadits tentang tanah/debu bisa mensucikan alas kaki). Terimakasih……

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #farah
      Wa’alaikumussalam, was-was itu tercela dalam Islam. Selama anda belum yakin terkena kotoran hewan atau najis yang lain, maka hukum asalanya suci dan tidak perlu melakukan apa-apa.

  • Wahid

    Assalamualaikum wr wb

    apa bacaan niat saat mandi wajib

    trima kasih

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Wahid

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Niat kata Imam Syafi’i berarti al ilmu, mengetahui. Jadinya jika kita sudah mengetahui bahwa besok kita mau puasa, maka itu sdh dinamakan niat. Oleh karenanya, niat asalnya di hati. Semoga Allah beri kepahaman.

  • hafif asni

    Assalamu’alaikum WR. WB.
    untuk admin, ternyata masih banyak yang bingung soal najis-najis, saya usul bagaimana kalo semua pertanyaan dan jawaban disatukan menjadi buku misal kumpulan pertanyaan dan jawaban seputar najis,, Karena yang sering di bahas di pengajian menyangkut hal-hal yang umum sementara untuk pertanyaan-pertanyaan di sini sering dijumpai dalam kehidupan keseharian. Terimakasih Wassalamu’alaikum WR. WB.

  • Pingback: Mengenal Mani, Wadi dan Madzi | Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

  • Pingback: Cara Membersihkan Najis | Radio RAY FM 95.1 MHz

  • Pingback: Cara Membersihkan Najis | Zikrie Blogs

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.