Masjid adalah tempat pembinaan umat yang sangat penting. Di tempat yang mulia ini ada adab-adab yang perlu diperhatikan ketika kita berhubungan dengan masjid, namun banyak kaum muslimin yang melalaikan adab-adab tersebut padahal mereka berada di rumah-rumah milik Alloh. Di sini insya Alloh akan sedikit dibahas beberapa kesalahan yang paling sering terjadi.
Memakai Pakaian yang Tidak Bagus Ketika Sholat
Kaum Muslimin yang semoga dirohmati Alloh Ta’ala, Alloh tidak hanya memerintahkan kita untuk sekedar memakai pakaian yang menutup aurot, akan tetapi memerintahkan kita pula untuk memperbagus pakaian apalagi ketika ke masjid. Alloh berfirman, “Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al A’raf: 31). Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa dari ayat ini dapat diambil pelajaran bahwa kita disunnahkan berhias ketika sholat, lebih-lebih ketika hari jumat dan hari raya. Dan termasuk perhiasan adalah siwak dan parfum.
Namun sekarang banyak kita jumpai kaum muslimin yang ketika pergi ke masjid hanya mengenakan pakaian seadanya padahal ia memiliki pakaian yang bagus. Bahkan tidak sedikit yang mengenakan pakaian yang penuh gambar atau berisi tulisan-tulisan jahil. Akibatnya, mau tidak mau orang yang ada dibelakangnya akan melihat dan membaca sehingga rusaklah konsentrasinya.
Tidak Meluruskan Shof dan Enggan di Shof Pertama
Di banyak masjid, kerapian, kelurusan dan kerapatannya shof sholat berjamaah seringkali diabaikan. Padahal shof yang tidak rapat akan mengganggu ketenangan sholat. Rosululloh bersabda, “Luruskanlah shofmu atau Alloh akan menaruh permusuhan dan kemarahan dalam hati kalian.” (HR. Muslim). Sahabat Nu’man bin basyir rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Kami melihat salah satu di antara kami menyentuhkan pundaknya dengan pundak temannya.” Bahkan Imam Bukhori dalam kitab shohihnya beliau membuat satu judul bab, “Bab hendaknya pundak menyentuh pundak dan kaki menyentuh kaki dalam pengaturan shof.”
Selain itu, kadang seseorang malas berada di shof pertama dan lebih suka berada di shof belakang. Bahkan ia malah mempersilakan orang lain mengisi shof pertama sementara ia sendiri ada di belakang. Rosululloh bersabda, “Andaikan manusia tahu betapa besar pahala orang yang menjawab adzan dan shof yang pertama, lalu ia tidak mendapatkannya kecuali dengan undian tentu ia akan mengikutinya.” (HR. Bukhori)
Berjalan Tergesa-Gesa dan Tidak Segera Sholat Bersama Imam Ketika Masbuq
Seorang yang khawatir ketinggalan sholat (masbuq) hendaklah tetap berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa apalagi sampai berlari untuk menuju ke masjid. Rosululloh bersabda, “Jika kalian mendengarkan iqomat, hendaklah berjalan untuk sholat. Wajib bagimu untuk mendatanginya dengan tenang dan janganlah lari terburu-buru. Apa yang kalian dapati bersama imam maka kerjakanlah dan yang kurang sempurnakanlah.” (HR. Bukhori)
Kadang ada makmum masbuq yang ketika mendapati imam yang sedang sujud tidak segera takbirotul ihrom dan sujud, tetapi justru menunggu sampai imam berdiri. Perbuatan ini bertentangan dengan sunnah, berdasarkan hadis di atas dan hadits: “Sesungguhnya imam itu dijadikan panutan, jika ia bertakbir maka bertakbirlah, jika ia sujud maka bersujudlah dan jika ia bangun maka bangunlah.” (HR. Muslim)
Jual Beli Dalam Masjid
Jual beli di dalam masjid hukumnya haram, berdasarkan hadits: “Apabila kalian melihat orang menjual atau membeli barang dalam masjid maka katakan kepadanya: ‘Semoga Alloh tidak memberi keuntungan dalam jual-belimu’.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini juga memerintahkan kita yang melihatnya untuk mengatakan: ‘Semoga Alloh tidak memberi keuntungan dalam jual-belimu’ sebagai teguran dalam bentuk doa, karena memang masjid dibangun bukan untuk jual beli. Wallohu a’lam bish showab.
***
Penulis: Abu Yusuf Johan
Artikel www.muslim.or.id
Alhamdulillah.
Syukron..
Saya selama ini selalu memakai pakaian biasa pd saat ke masjid.
Saya pikir takut nanti terlihat ekslusif atau jadi riya.
Setelah membaca artikel ini, saya jadi berubah pikiran
Kata para ulama hakikat ikhlas adalah melupakan pandangan orang dengan senantiasa memperhatikan bagaimanakah pandangan Allah kepada dirinya. Menyembunyikan sebagian amalan sunnah memang dianjurkan, seperti sedekah, menangis karena takut kepada Allah. Pernah dikisahkan bahwa ada seorang ulama salaf yang menangis selama 20 tahun, namun isterinya tidak mengetahuinya sama sekali (lihat kitab yang bagus karya Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili berjudul Tajridul ittiba’fi bayani tafadhulil a’maal, sebuah kitab yang sangat bagus untuk dibaca oleh para thullab). Namun, ada amalan yang memang harus ditampakkan seperti shalat jama’ah (amalan wajib bagi lelaki), mengenakan jilbab (amalan wajib bagi wanita), shalat ied (wajib menurut sebagian ulama), menuntut ilmu (fardhu dan yang sunnah). Wal hasil, sesungguhnya Allah menyukai tampaknya bekas nikmat-Nya pada diri hamba-hamba-Nya. Berpakaian yang bagus dan rapi, semisal menggunakan baju koko ketika shalat adalah kebaikan. Bukankah Allah memerintahkan, “Hai anak Adam kenakanlah perhiasan (pakaian) kalian ketika masuk masjid..” Dan jelas pakaian yang rapi dan menutup aurat termasuk perhiasan. Kalau menghadap orang yang terhormat saja kita berpakaian rapi, maka bagaimanakah lagi kalau kita menghadap Allah yang menguasai alam semesta ini? … Wallahu a’lam. Matur nuwun…
tulisan diatas tidak tergesa-gesa dan berlari-lari kalau yang sering naik sepeda montor gimana bila telah mendengar iqomat ?
kenapa ya para askar yang menjaga sekitar Ka’bah kalau sholat tetap memakai pakaian dinasnya ?
mau tanya, kalau makmum masbuk menemui imam jama’ah shalah dhuhur saat sedang sujud di raka’at ke-2, kita langsung sujud atau takbiratul ikhram dulu baru sujud? jazakumullah khairan katsirah.
apakah boleh mendengarkan irama-irama lagu atau music,seperti music pop,bend yg alat-alatnya lengkap jaza kumulloh khoiron katsiro
SAYA masih bingung soal kari ke masjid?..padhalkan orang yang terburu2 menuju masjid itu bagus di bandingkan orang yang terburu2 karena akan melakukan maksiat?….
@ akhi okto
Pertanyaan yang cukup menarik. Memang kadang kita sering tergesa-gesa. Namun sebenarnya sikap seperti ini tidaklah baik dalam suatu kondisi, bahkan bisa menimbulkan bahaya.
Coba akhi okto, baca kisah menarik dalam artikel berikut:
http://rumaysho.wordpress.com/2009/02/26/nasehat-berharga-janganlah-tergesa-gesa/
Kami juga mendapatkan pelajaran berharga dari Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim (murid Asy Syinqithy, penulis Adhwa’ul Bayan) dalam penjelasan beliau terhadap kitab Bulughul Marom, beliau mengatakan:
“Perintah untuk bersikap tenang dan tidak terburu-buru adalah sebagai dorongan kepada orang yang hendak ke masjid untuk pergi lebih awal.
Seharusnya seseorang yang mau pergi ke masjid, pergi lebih awal yaitu ketika terdengar suara adzan: HAYYA ‘ALASH SHOLAH, HAYYA ‘ALAL FALAH.
Jika seseorang datangnya ketika dikumandangkannya iqomah, pasti akan sering telat dan ketinggalan raka’at.” (Syarh Bulughul Marom, 90/7)
Jadi, intinya perintah agar bersikap tenang ketika datang ke masjid adalah agar orang2 dapat lebih awal datang ke masjid. Dan memang kebanyakan orang yang terburu2 (tergesa2) datang ke masjid, karena dia dalam kondisi terlambat dan datang baru ketika dikumandangkan iqomah sehingga jadinya terburu2.
Inilah hikmah dari hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk tenang dan tidak terburu2 ketika hendak ke masjid.
Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat.
[Muhammad Abduh Tuasikal]
sebagian besar umat islam di indonesia sejak kecil tidak di didik sesuai dengan ajaran agama islam. mereka hanya mewarisi agama islam dari orang tua, sedang ortunya sendiri tidak peduli dg keadaan tersebut. jadi sedikit sekali pengetahuan ajaran agama islam pada masing-masing orang tersebut. tugas kita sebagai generasi muda, wajib mengamalkan ajaran-ajaran islam baik ajaran yang berasal dari Al quran maupun al hadist kpd umat
Tentang kerapatan shof, bukankah sajadah yang bagus yang harganya mahal itu ukurannya lebih besar dari kebutuhan kita shalat. Bagai mana hukumnya itu pak ?
terimakasih