Apakah Mani Itu Najis?

Kategori: Fiqh dan Muamalah

17 Komentar // 19 Februari 2010

Ada beberapa hal yang sebagian orang menganggapnya najis. Namun sebenarnya jika kita merujuk pada dalil, maka hal ini perlu ditinjau ulang. Semoga pembahasan berikut bermanfaat bagi kita sekalian.

Kaedah Yang Mesti Dipahami

Untuk mengawali pembahasan ini ada dua kaedah yang mesti diperhatikan.

Pertama: Hukum asal segala sesuatu adalah suci. Sesuatu bisa dikatakan najis jika dikatakan oleh syari’at melalui dalil Al Qur’an dan As Sunnah.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Tidak diragukan lagi, menghukumik sesuatu itu najis ini berarti memberikan pembebanan (taklif) pada hamba. Hukum asalnya, lepas dari kewajiban. Lebih-lebih dalam perkara yang sudah diketahui secara pasti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kita petunjuk untuk diam (tidak mempersoalkan) perkara yang Allah diamkan dan ini berarti Allah memaafkannya.”[1]

Kedua: Sesuatu yang haram belum tentu najis.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh bagi seorang hamba untuk menghukumi sesuatu itu najis hanya berdasar pemikirannya semata yang jelas rusaknya atau kelirunya dalam berdalil sebagaimana yang diklaim oleh sebagian ulama bahwa sesuatu yang Allah haramkan pastilah najis. Ini sungguh klaim yang betul-betul rusak. Perlu diketahui bahwa diharamkannya sesuatu tidaklah menunjukkan bahwa ia itu najis baik itu ditunjukkan dengan dalil muthobaqoh (tekstual), tadhommun (pendalaman dalil) dan iltizam (konsekuensi dari dalil).”

Asy Syaukani lalu menjelaskan, “Seandainya sekedar Allah haramkan sesuatu menjadikan sesuatu tersebut najis, maka seharusnya mengenai firman Allah Ta’ala,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ

Diharamkan atas kamu ibu-ibumu …” (QS. An Nisa’: 23), wanita-wanita yang disebutkan dalam ayat ini harus dikatakan najis. Namun tentu kita tidak berani mengatakan seperti ini karena seorang muslim tidaklah najis baik ketika hidup maupun mati sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[2]

Berikut kita tinjau beberapa hal yang dianggap najis dan kita bandingkan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan hal tersebut.

Mani

Mani atau cairan semen adalah cairan yang keluar ketika mimpi basah atau berhubungan intim. Ciri-ciri mani adalah warnanya keruh, memiliki bau yang khas, keluar dengan syahwat, keluar dengan memancar dan membuat lemas. Bedanya madzi dan mani, madzi adalah cairan tipis dan putih, keluar tanpa syahwat, tanpa memancar, tidak membuat lemas dan keluar ketika muqoddimah hubungan intim. Madzi itu najis, sedangkan mengenai status mani apakah najis ataukah suci terdapat perselisihan di kalangan ulama.

Ada yang mengatakan bahwa mani itu najis seperti Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya.[3]

Dalil ulama yang menyatakan bahwa mani itu najis adalah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَغْسِلُ الْمَنِىَّ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الصَّلاَةِ فِى ذَلِكَ الثَّوْبِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى أَثَرِ الْغَسْلِ فِيهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencuci bekas mani (pada pakaiannya) kemudian beliau keluar untuk melaksanakan shalat dengan pakaian tersebut. Aku pun melihat pada pakaian beliau bekas dari mani yang dicuci tadi.”[4]

Sedangkan ulama lainnya menganggap bahwa mani itu suci. Ulama yang berpendapat seperti ini adalah para pakar hadits, Imam Asy Syafi’i, Daud Azh Zhohiri, dan salah satu pendapat Imam Ahmad.[5] Dalil yang mendukung pendapat kedua ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa ‘Aisyah pernah mengerik pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkena mani. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه

Aku pernah mengerik mani tersebut dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[6]

Dalam lafazh lainnya, dari ‘Alqomah dan Al Aswad, mereka mengatakan,

أَنَّ رَجُلاً نَزَلَ بِعَائِشَةَ فَأَصْبَحَ يَغْسِلُ ثَوْبَهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ إِنَّمَا كَانَ يُجْزِئُكَ إِنْ رَأَيْتَهُ أَنْ تَغْسِلَ مَكَانَهُ فَإِنْ لَمْ تَرَ نَضَحْتَ حَوْلَهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنِى أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرْكًا فَيُصَلِّى فِيهِ.

“Ada seorang pria menemui ‘Aisyah dan di pagi hari ia telah mencuci pakaiannya (yang terkena mani). Kemudian ‘Aisyah mengatakan, “Cukup bagimu jika engkau melihat ada mani, engkau cuci bagian yang terkena mani. Jika engkau tidak melihatnya, maka percikilah daerah di sekitar bagian tersebut. Sungguh aku sendiri pernah mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut.”[7]

Penulis Kifayatul Akhyar, Taqiyuddin Abu Bakr Ad Dimaysqi rahimahullah mengatakan, “Seandainya mani itu najis, maka tidak cukup hanya dikerik (dengan kuku) sebagaimana darah (haidh) dan lainnya. Sedangkan riwayat yang menyatakan bahwa mani tersebut dibersihkan dengan dicuci, maka ini hanya menunjukkan anjuran dan pilihan dalam mensucikan mani tersebut. Inilah cara mengkompromikan dua dalil di atas. Dan menurut ulama Syafi’iyah, hal ini berlaku untuk mani yang ada pada pria maupun wanita, tidak ada beda antara keduanya.”[8]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Sudah maklum bahwa para sahabat pasti pernah mengalami mimpi basah di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pasti pula mani tersebut mengenai badan dan pakaian salah seorang di antara mereka. Ini semua sudah diketahui secara pasti. Seandainya mani itu najis, maka tentu wajib bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk menghilangkan mani tersebut dari badan dan pakaian mereka sebagaimana halnya perintah beliau untuk beristinja’ (membersihkan diri selepas buang air), begitu pula sebagaimana beliau memerintahkan untuk mencuci darah haidh dari pakaian, bahkan terkena mani lebih sering terjadi daripada haidh. Sudah maklum pula bahwa tidak ada seorang pun yang menukil kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan salah seorang sahabat untuk mencuci mani yang mengenai badan atau pakaiannya. Dari sini, diketahui dengan yakin bahwa mencuci mani tersebut tidaklah wajib bagi para sahabat. Inilah penjelasan yang gamblang bagi yang ingin merenungkannya.”[9]

Yang dimaksud dengan mengerik di sini adalah menggosok dengan menggunakan kuku atau pengerik lainnya.[10] Seseorang bisa membersihkan badan atau pakaian yang terkena mani dengan cara mengerik jika mani tersebut dalam keadaan kering. Dan jika hanya dikerik masih banyak tersisa, maka lebih baik dengan dicuci.[11]

Ringkasnya, mani itu suci. Inilah pendapat yang lebih kuat.

Insya Allah, kita akan membahas beberapa hal lainnya yang disangka najis seperti khomr (arak) dan darah. Semoga Allah mudahkan.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 5 Rabi’ul Awwal 1431 H

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Lihat Ad Daroril Madhiyah Syarh Ad Durorul Bahiyah, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 28, Darul ‘Aqidah.

[2] Lihat Ad Daroril Madhiyah Syarh Ad Durorul Bahiyah, hal. 29.

[3] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Saalim, 1/74, Al Maktabah At Taufiqiyah; Kifayatul Akhyar fii Halli Ghoyatil Ikhtishor, Al Imam Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad Al Husaini Ad Dimasyqi,  1/ 69, Darul Fikr, cetakan pertama, tahun 1424 H; dan Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 21/604, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.

[4] HR. Muslim no. 289, dari Sulaiman bin Yasar.

[5] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/75, Kifayatul Akhyar, 1/69-70 dan Majmu’ Al Fatawa, 21/604.

[6] HR. Muslim no. 288.

[7] HR. Muslim no. 288.

[8] Kifayatul Akhyar, 1/70.

[9] Majmu’ Al Fatawa, 21/604-605.

[10] Lihat Fathu Dzil Jalaali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 1/208, Madarul Wathon, cetakan pertama, tahun 1425 H

[11] Lihat Fathu Dzil Jalaali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom, 1/211.

buku saku

17 Komentar

  1. Toko Kerajinan Tangan
    19 Feb 2010 [Permalink]

    alhamdulillah udah ngerti

  2. abu hanifah alim
    19 Feb 2010 [Permalink]

    syukran atas penjelasannya

  3. abu jasmine
    19 Feb 2010 [Permalink]

    barokallohu fik….syukron pejelasannya sangat gamblang!!
    ditunggu artikel yg laenny

  4. Habibie fathurrohman
    19 Feb 2010 [Permalink]

    Mnurut ana mani memang bukan najis, jika najis brarti kta jga najis dunk, ini hnya pndapat ana yg bodoh, ana gk ngerti kok, nah dgn artikel ini jdi tmbh yakin, thanks ya

  5. yudi oax
    20 Feb 2010 [Permalink]

    maaf,kox ak jd bingung y setelah baca artikel ini trs baca artikel di MACAM-MACAM NAJIS (di no 3.4 mengenai madzi dan wadi terus ada pnjlsannya jg mengenai mani).Mohon penjelasannya..!!Matur nuwun….

  6. Fahrul
    21 Feb 2010 [Permalink]

    Assalamu ‘alaikum
    Seandainya mani itu suci mengapa dari dalil yg dikemukakan pihak mani itu suci lebih condong ke najis ya mohon diperjelas lagi

  7. Muslim.Or.Id
    21 Feb 2010 [Permalink]

    @Fahrul
    Wa’alaikumussalam.
    Mas Fahrul coba perhatikan kembali tulisan di atas. Bagi ulama yg menyatakan mani itu suci membawakan dalil bahwa Aisyah cuma mengerik bekas mani. Yang namanya mengerik berarti masih ada sisa beda dengan mencuci. Dan ini juga menunjukkan adanya pilihan cara mencuci mani, boleh dengan mencuci (menggosok) atau cukup dikerik jika maninya itu kering. Jika mani itu hanya dikerik, maka menunjukkan ada kemungkinan ada yg tersisia dan pakaiannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memakainya dalam shalat, maka itulah alasan dikatakan mani itu suci.
    Semoga Allah beri kepahaman.

  8. Muslim.Or.Id
    21 Feb 2010 [Permalink]

    @ Mas Yudi
    Coba dibandingkan perbedaan ciri2 madzi, mani dan wadi dalam dua artikel tersebut.
    Madzi dan wadi itu najis.
    Mani itu suci menurut pendapat yang paling kuat.
    Madzi dan wadi cukup untuk berwudhu.
    Mani mengharuskan untuk mandi wajib (mandi besar).

    Semoga Allah beri kepahaman.

  9. Ferie
    22 Feb 2010 [Permalink]

    Setuju, masa kita berasal dari yang haram?,

  10. fatkhur rochman soleh
    25 Feb 2010 [Permalink]

    ya lebih paham sekarang.

    terimakasih

  11. Slamet sugiyarto
    26 Feb 2010 [Permalink]

    Baru ngerti….
    Terima kasih atas artikelnya…semoga bermanfaat bagi kita semua…

  12. untlock
    01 Mar 2010 [Permalink]

    “Ringkasnya, mani itu suci. Inilah pendapat yang lebih kuat.”

    jika mani itu suci bolehkah digunakan untuk bwersuci / wudhu

  13. Muslim.Or.Id
    01 Mar 2010 [Permalink]

    Mani itu bukan air muthlaq. Cuma air muthlaq saja yang boleh digunakan untuk bersuci. Mohon bisa baca artikel berikut >> http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/air-yang-digunakan-untuk-berwudhu.html

    Semoga Allah beri kepahaman.

  14. rina
    23 Jun 2011 [Permalink]

    kalaupun mani memang suci bukankah kita tetap hrus membersihkan kemaluan karena sbelum keluar mani pasti keluar madzi?

  15. Yulian Purnama
    08 Agu 2011 [Permalink]

    #rina
    kalau mani keluar, bukan hanya membersihkan kemaluan, bahkan diwajibkan mandi.

  16. Anwar
    11 Agu 2011 [Permalink]

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Saya Ingin bertanya jika madzi keluar wajib mandi junub ga? dan pakaian yang terkena madzi boleh ga di pakai shalat… terima kasih..

    Waalaikumsalam Wr. Wb.

  17. Yulian Purnama
    20 Agu 2011 [Permalink]

    #Anwar
    Jika keluar madzi tidak perlu mandi, cukup bersihkan saja. Madzi itu najis, maka pakaiannya harus dibersihkan atau cukup dipercikkan air.

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas