Amalan di Bulan Rajab


Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena pada saat ini kita telah memasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab. Apa saja yang ada di balik bulan Rajab dan apa saja amalan di dalamnya? Insya Allah dalam artikel yang singkat ini, kita akan membahasnya. Semoga Allah memberi taufik dan kemudahan untuk menyajikan pembahasan ini di tengah-tengah pembaca sekalian.

Rajab di Antara Bulan Haram

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (Qs. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal.

Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Di Balik Bulan Haram

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 214)

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. 203).

Hukum yang Berkaitan Dengan Bulan Rajab

Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab amatlah banyak, ada beberapa hukum yang sudah ada sejak masa Jahiliyah. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap berlaku ketika datang Islam ataukah tidak. Di antaranya adalah haramnya peperangan ketika bulan haram (termasuk bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap diharamkan ataukah sudah dimansukh (dihapus hukumnya). Mayoritas ulama menganggap bahwa hukum tersebut sudah dihapus. Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak diketahui dari satu orang sahabat pun bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram, padahal ada faktor pendorong ketika itu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepakat tentang dihapusnya hukum tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, 210)

Begitu juga dengan menyembelih (berkurban). Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab, dan dinamakan ‘atiiroh atau Rojabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ‘atiiroh sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘atiiroh sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ

“Tidak ada lagi faro’ dan  ‘atiiroh.” (HR. Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976). Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing, lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Tidak ada lagi ‘atiiroh dalam Islam. ‘Atiiroh hanya ada di zaman Jahiliyah. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ‘atiiroh pada bulan tersebut. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ‘ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis-manis atau semacamnya ketika itu.” Ibnu ‘Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ‘ied.

‘Atiiroh sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ‘ied (sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha), padahal ‘ied (perayaan) kaum muslimin hanyalah Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Dan kita dilarang membuat ‘ied selain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam. Ada sebuah riwayat,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْهَى عَن صِيَامِ رَجَبٍ كُلِّهِ ، لِاَنْ لاَ يَتَّخِذَ عِيْدًا.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai ‘ied.” (HR. ‘Abdur Rozaq, hanya sampai pada Ibnu ‘Abbas (mauquf). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dan Ath Thobroniy dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’, yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Intinya, tidaklah dibolehkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan suatu hari sebagai ‘ied selain apa yang telah dikatakan oleh syari’at Islam sebagai ‘ied yaitu Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Tiga hari ini adalah hari raya dalam setahun. Sedangkan ‘ied setiap pekannya adalah pada hari Jum’at. Selain hari-hari tadi, jika dijadikan sebagai ‘ied dan perayaan, maka itu berarti telah berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (alias bid’ah).” (Latho-if Al Ma’arif, 213)

Hukum lain yang berkaitan dengan bulan Rajab adalah shalat dan puasa.

Mengkhususkan Shalat Tertentu dan Shalat Roghoib di bulan Rajab

Tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab, juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut.

Shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama  bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali, surat Al Qadr 3 kali, surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

Ibnul Jauziy rahimahullah mengatakan, “Sungguh, orang  yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Roghoib dengan sebelumnya melakukan puasa, padahal siang hari pasti terasa begitu panas. Namun ketika berbuka mereka tidak mampu untuk makan banyak. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaib. Padahal dalam shalat Raghaib, bacaannya tasbih begitu lama, begitu pula dengan sujudnya. Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu. Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat tarawih, kok tidak bersemangat seperti melaksanakan shalat ini?! Namun shalat ini di kalangan awam begitu urgent. Sampai-sampai orang yang biasa tidak hadir shalat Jama’ah pun ikut melaksanakannya.” (Al Mawdhu’aat li Ibnil Jauziy, 2/125-126)

Shalat Roghoib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis, setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya. (Al Bida’ Al Hawliyah, 242)

Ath Thurthusi mengatakan, “Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ini. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, para tabi’in, dan salafush sholeh –semoga rahmat Allah pada mereka-.” (Al Hawadits wal Bida’, hal. 122. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 242)

Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ‘Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

“Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Imam Ahmad mengatakan, “Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.” Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.” Beliau berdalil dengan hadits ‘Aisyah yaitu ‘Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut:

  1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
  2. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).
  3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Lihat Al Hawadits wal Bida’, hal. 130-131. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 235-236)

Perayaan Isro’ Mi’roj

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan, “Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, “Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, “Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Catatan penting:

Banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin sebuah riwayat dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan, “Ketika tiba bulan Rajab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan,

“Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon [Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan]“.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Suniy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Namun perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) karena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Hadits ini dikatakan dho’if (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218), Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Imam Ahmad.

Demikian pembahasan kami mengenai amalan-amalan di bulan Rajab dan beberapa amalan yang keliru yang dilakukan di bulan tersebut. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah kepada kaum muslimin. Semoga Allah menunjuki kita ke jalan kebenaran.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallim.

Selesai disusun di Wisma MTI, 5 Rajab 1430 H

***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

donasi buku panduan ramadhan

  • azzamzami ad din

    Syukron..
    Allahumma Bariiklana fii Rajabin Wa Sya’bana Wa Balighna Ramadhana (Insya Allah..). Amin Ya Rabb. Amin Ya Allah. Amin Ya Rahman. Amin Ya Rahim..
    Wassalam.

    • http://www.muslim.or.id Muslim.or.id

      @azzamzami ad din: Haditsnya Dho’if, akhi. Silakan baca artikel di atas terlebih dahulu.

  • hestin arief Jusuf

    Alhamdulillahirobilalamiin……
    dengan artikel ini jadi tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan dibulan rejeb
    tapi yang belum jelas mengenai sunnah rosul di bulan rejeb….apa saja yang dilakukan beliau (hadist shoheh)
    kalo puasa : berapa hari…..( ada yang bilang 10 hari berturut-turut, ada yang bilang 3 hari di awal ditengah dan diakhir bulan rejeb)
    kalo amalan baik seperti apa saja contohnya
    agar kita terhindar dari bid’ah dan kesesatan…..Terima kasih

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz,
    Ana mau tanya bolehkah kita melaksanakan ibadah dgn niat yg disebabkan keberkahan bulan Rajab misalnya melaksankan umrah dnh niat yg disebabkan keberkahan bulan Rajab?
    Jazakallah

  • Hartati Muchlis

    AssalamuAlaikum Wr.Wb.Subhannallaah,Alhamdulillah wa syukurillah.Akhirnya sy menjadi tahu dan lebih memahami ttg bulan Rajab.Ygmn seblmx sy ragu ttg melaksanakan puasa 3hr diawal bln Rajab dan do’a memohon keberkahan dibln Rajab n Sya’ban.Bagaimn dgn puasa sunat setiap Senin dan Kamis yg sy jlnkan dibln Rajab?Demikian,smg dgn sy ketahuinya ulasan tsb diatas,sy dpt menjlnkan ibadah dgn benar yg sesuai tuntunan Rasul kita Nabi Muhammad Saw.Amin.Wassalamu Alaikum Wr.Wb.

  • Ali Sugiansah

    Alhamdulillah……maaf!!kok nggak ada CETAK ARTIKEL sich??? nggak seperti tampilan web yang dulu. padahal saya sering cetak artikel untuk saya print dan baca pada waktu saya santai dirumah….mohon ada perintah CETAK ARTIKEL dong!!!
    Logo Muslim.or.id juga nggak menandakan seseorang yang benar-benar muslim….nggak seperti loga pada web site yang lama berlogo huruf mim warna hijau…padahal itukan lebih bagus dan lebih mendominasi umat muslim…maaf!!!

  • Tommi

    Untuk tim muslim.or.id

    Tolong dong dibahas juga mengenai amalan2 nisfu sya’ban. Adakah tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam?

  • funny

    artikelnya bagus dan alhamdulillah saya sedikit mengerti tentang bulan rajab.dan saya juga ingin tau apa saja yang dilakukan rosul pd bln rejeb n beliau puasa brpa hri??????????????????terima kasih!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  • haryadi

    alhamdulillah sy jadi lebih mengerti..semoga yang disampaikan adalah kebenaran dari Allah SWT. teruslah berdakwah di jalan Allah..

  • Lila

    Banyak yang tdk aku ketahui dan skrng aku mnjadi tahu

  • Bp wiyono

    Ana mjd seksi dakwah di masjid, diantara kegiatannya pengajian peringatan isro’ mi’raj. maulid nabi, nuzul qur’an,yasinan, halal bi halal dll, stl tahu itu bid’ah ana bermaksud mengundurkan diri dari seksi dakwah krn sering berbenturan dengan pengurus lain dan tak jarang menimbulkan konflik yg justru memperkeruh hubungan sesama takmir,bahkan dibilang mau merusak aturan yg ada dimasyarakat, bagaimana menurut akhi? krn kalo ikut mengurusi hal tsb ada konflik dibatin antara mengadakan acra tsb/ mengundurkan diri. Jazakumullohu khoiron katsiro.

  • affan

    jazakallah……

    ana minta download artikel ini ya??….

  • Musa

    Sukron bgt sdh share ilmu…

  • http://kaffah4829.wordpress.com oyi kresnamurti

    walaupun hadits yg mengandung doa ‘Allahumma Bariiklana fii Rajabin Wa Sya’bana Wa Balighna Ramadhana’ itu dhaif, apakah kita masih diperbolehkan membaca/memohon kepada Allah SWT? bukankah artinya sangat baik? mohon infonya, jazakallah.

  • ifan

    Alhamdulillah, dan terimakasih…
    Ya Allah, berkatilah aku di bulan RajabMu dan Sya’banMu dan temukanlah aku di bulan RamadhanMu dan bulan-bulanMu yang lain… Amin Ya Robbal Alamiiiin…..

  • hendra

    jazakallah. ana copy filenya.

  • wenny

    Tks atas sharingnya skrg jd lebih tawu…

  • solikin

    niatan pusanya pripun,
    aku belum tahu,

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Solikin
      Niat cukup dalam hati. Perhatikan kembali penjlasan puasa dalam artikel di atas.

  • catlya java

    ass. allohu akbar…alloh maha besar
    disaat saya membutuhkan pencerahan, masukan, juga pengetahuan lebih banyak lagi ttg ilmu agama, ternyata alloh menuntun saya.
    pak abu hasan putra terima kasih infonya
    alangkah bahagianya jk bapak berkenan mengirimkan setiap artikel yg bapak buat
    wassalam

  • Pingback: Amalan di bulan Rajab ? « Ngunuiku's Diary

  • saprianto

    semoga apa yang kita amalkan mendapat ridho allah SWT, amin………

  • alyna

    alhamdulillah.. barakallahu..
    syukron atas informasi yang sangat bermanfaat ini. kalo boleh tanya adakah kajian salaf di daerah ciputat? barangkali ada yang tahu. jazakallahu

  • masaguz

    smoga allah swt slalu membimbing kita dijalan yg benar

  • Pingback: Amalan di bulan Rajab « muatanku

  • arif hidayat

    ass. akhi ana mint ijin untuk di share ke FB . wass

  • ummu rama

    @alyna: Assalaamu’alaikum,baarokallahu fiek,
    kajian salaf di sekitar ciputat yang rutin ana belum tau..tapi di masjid Assunah di jl. Nusa Jaya di belakang Plaza Bintaro (tidak jauh dari ciputat..kalo naik kendaraan umum D 18..hanya 1 kali)..setiap ahad pagi ada kajian untuk umum..setiap hari senin jam 10 kajian khusus akhwat.
    Semoga bermanfaat.

  • ita

    Assalamu’alaikum wr wb
    Sebagai wawasan keislaman, harap dibaca dan disosialisasikan ya..

    Wassalam

  • atik

    terima kasih atas segala penjelasannya…
    jazakalloh…

  • siti

    thank’s to ALLAH

  • zahradesya

    terima kasih banyak atas info nya , karna ini telah membuat wawasan kami bertambah .. :)

  • Pingback: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah » Adakah Anjuran Puasa di Bulan Rajab?

  • ummualfi

    Alhamdulillah.. jazakumulloh khoir ya ustad.. mau tanya apakah ada zikir2 khusus yg dibaca di bulan Rajab ??
    @alyna : kajian salaf d ciputat dan sekitarnya biasanya saya ikut di mesjid Al-azhar Avicena Pamulang tiap hari selasa, dan SEnin dan Kamis di Al Fath BSD

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Ummu Alfi

      Tdk ada dzikir2 tertentu di bulan Rajab yang diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

  • http://indo-jubail.blogspot.com abu shiddiq

    izin share…

  • nazar

    izin share, semoga bermanfaat

  • Muhammad Zaid al-Hadi

    ass..

    saya pernah mendengar hadist “rajab adalah bulan Allah,sya’ban adalah bulanku, dan ramadhan adalah bulan umatku”. tolong dijelaskan maksudnya

  • http://kolbuniah cengoo

    ass.wr.wb, terima kasih artikelnya untuk menambah pengetahuan dan mohon di tambah dgn berkaitan bulan lainya

  • fitri

    izin copas ustadh, sungguh pengetahuan yang sangat bermanfaat, sy pernah membaca buku yg isinya sangat menganjurkan puasa rajab juga puasa lain selain ramadhan,dan buku itu banyak beredar dikalangan ibu2x peserta pengajian disekitar tmp tinggal kami,yg sangat menyedihkan banyak diantara ibu2x yg percaya dg isi buku itu sehingga mengamalkannya,mgk dikarenakan pengetahuan kami yg sgt sedikit ttg hadist, dimana sy bisa belajar ttg hadist jg mengetahui suatu hadist itu maudhu atau dhoif ?

  • http://aqiqah-barokah.blogspot.com ummu hani

    ijin copas untuk saya muat di blog saya http://aqiqah-barokah.blogspot.com , Syukron

  • yeayan shasya

    asalam.. sebenarnya puasa di bulan rajab paling banyak brapa hari ustad ?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Yeayan
      Wa’alaikumus salam. Coba renungkan kembali tulisan di atas.

  • Pingback: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah » Perayaan Isra’ Mi’raj

  • Pingback: Perayaan Isra’ Mi’raj « Muslim.Or.Id Mobile

  • nurdin

    izin share

  • Pingback: Amalan di Bulan Rajab | Islam & Aliran Sesat

  • ninik maradulufah

    assalamu`alaikum warohmatullahi wa barokatuuh..
    salam santun ukhuwah dari saya pk.ustad..
    saya izin share bpk.ustad jazakumullah..
    zaman sekarang antara hadist hadist yg shohih dgn yg doif itu rabun/eggk jelas.dikalangan sahabat sahabat saya msh banyak yg menganut hadist hadist doif karena penyebarannnya begitu banyak bpk..dan eggk bisa mmbedakannya..

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #ninik maradulufah
      Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh, oleh karena itu mari kita mempelajari agama lebih mendalam.

  • nano abdul karim

    Ane suka banget dg artikel nich.

  • http://www.hikmah-story.blogspot.com faiz

    thank’s for the informations,,,

  • Pingback: Keistimewaan & Amalan di Bulan Rajab | IslamPos | Media Islam Generasi Baru | Berita Islam Terkini

  • Pingback: Keutamaan Bulan Rajab Diantara Bulan Haram « SEUNTAI NASEHAT

  • hadi

    ijin share tadz…

  • Pingback: Tentang Bulan Rajab « fuadassifa

  • gandda

    hatur nuhun ,, agan,,
    moga artikel ini bermanfaat bagi yg baca.. amin

  • http://bloggtutorial4u.blogspot.com amsaid

    Yang mas bro tulis “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon [Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan]“
    itu disitu dikatakan hadis dhoif ya bro… Tapi kalau ane liat artinya itu kan doa sebuah pengharapan yang indah kepada Allah SWT. kan? Emang ane orang awam seh dalam hal dunia Hadis, tapi ane juga setuju kalau berdoa seperti itu. Doa itu kan berharap kepada Allah, harapan mendapat berkah dan mempertemukan dengan bulan Ramadhan, subhanallah… sangat baik itu kan? kenapa berdoa begitu kok dilarang? Heran bener ane?

  • xaviyadi

    ijin download..

  • http://www.tausiyah.com/ pan

    trimakasih
    semoga menjadi kebaikan

  • Pingback: amalan bulan rajab | toko baju anak murah

  • Pingback: Amalan di Bulan Rajab « infoforkisma

  • Sukiyati

    alhamdulillah atas informasinya sangat bermanfaat, krn banyak yg berpuasa pada bulan rajab terutama awalnya sdg ia tidak terbiasa puasa sunnah

  • Pingback: Amalan di Bulan Rajab | Blog

  • Pingback: Puasa dan Amalan di Bulan Rajab | Warnet KITA

  • Pingback: Amalan pada Bulan Rajab | Wafimarzuqi's Blog

  • http://atbalif.blogspot.com @be

    assalamualaikum
    ijin share….

  • http://rusmanjay.wordpress.com rusmanjay

    jadi berpuasa di bulan rajab hukumnya sunnah dengan niat berpuasa di bulan-bulan haram, bukan berpuasa dengan niat puasa di bulan rajab, seperti itu?

    mohon ijin share

  • ike

    ijin share

  • Pingback: Keutamaan Bulan Rajab | Aunurrofik

  • Pingback: Amalan di BUlan Rajab Menurut Alqur’an dan Sunnah | monggoonlineshop

  • Pingback: Adakah Anjuran Puasa di Bulan Rajab? | Share Is Beautiful

  • http://musyaffa-gs.blogspot.com musyaffa gift shop

    berarti disunnahkan banyak berpuasa di bulan2 haram, termasuk di bulan rajab. tetapi sebaiknya tdk full sebulan. hendaknya berbuka sehari atau 2 hari. syukron atas penjelasannya

  • Pingback: Kisah Isra’ Mi’raj | LDK Foskomi STMI Jakarta

  • Pingback: Tj Berkurban Khusus Bulan Rajab - BBG-Al Ilmu

  • Pingback: Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW |

  • Pingback: Kisah Isra’ Mi’raj | Cahaya Ilmu Di Bias Embun

  • Pingback: Amalan Bulan Rajab | Daarul Arqom

  • Pingback: Hadist Dhaif Doa Menyambut Ramadhan | Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.