radio muslim

5 Hal Yang Menyebabkan Mandi Wajib

Kategori: Fiqh dan Muamalah

62 Komentar // 30 April 2010

Segala puji bagi Allah, pujian yang terbaik untuk-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saat ini kami akan menjelaskan beberapa hal yang berkenaan dengan mandi (al ghuslu). Insya Allah, pembahasan ini akan dikaji secara lebih lengkap dalam tiga artikel. Pada kesempatan kali ini kita akan mengkaji beberapa hal yang mewajibkan seseorang untuk mandi (al ghuslu).

Yang dimaksud dengan al ghuslu secara bahasa adalah mengalirkan air pada sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan al ghuslu secara syari’at adalah menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara yang khusus. Ibnu Malik mengatakan bahwa al ghuslu (dengan ghoin-nya didhommah) bisa dimaksudkan untuk perbuatan mandi dan air yang digunakan untuk mandi. [1]

Beberapa hal yang mewajibkan untuk mandi (al ghuslu):

Pertama: Keluarnya mani dengan syahwat.

Sebagaimana dijelaskan oleh ulama Syafi’iyah, mani bisa dibedakan dari madzi dan wadi[2] dengan melihat ciri-ciri mani yaitu: [1] baunya khas seperti bau adonan roti ketika basah dan seperti bau telur ketika kering, [2] birnya memancar, [3] keluarnya terasa nikmat dan mengakibatkan futur (lemas). Jika salah satu syarat sudah terpenuhi, maka cairan tersebut disebut mani. Wanita sama halnya dengan laki-laki dalam hal ini. Namun untuk wanita tidak disyaratkan air mani tersebut memancar sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi dalam Syarh Muslim dan diikuti oleh Ibnu Sholah.[3]

Dalill bahwa keluarnya mani mewajibkan untuk mandi adalah firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

Dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al Maidah: 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An Nisa’: 43)

Dalil lainnya dapat kita temukan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air (mani).” (HR. Muslim no. 343)

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, yang menyebabkan seseorang mandi wajib adalah karena keluarnya mani dengan memancar dan terasa nikmat ketika mani itu keluar. Jadi, jika mani tersebut keluar tanpa syahwat seperti ketika sakit atau kedinginan, maka tidak ada kewajiban untuk mandi. Berbeda halnya dengan ulama Syafi’iyah yang menganggap bahwa jika mani tersebut keluar memancar dengan terasa nikmat atau pun tidak, maka tetap menyebabkan mandi wajib. Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.[4]

Lalu bagaimana dengan orang yang mimpi basah?

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Terdapat ijma’ (kesepakatan) ulama mengenai wajibnya mandi ketika ihtilam (mimpi), sedangkan yang menyelisihi hal ini hanyalah An Nakho’i. Akan tetapi yang menyebabkan mandi wajib di sini ialah  jika orang yang bermimpi mendapatkan sesuatu yang basah.”[5]

Dalil mengenai hal ini adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرَّجُلِ يَجِدُ الْبَلَلَ وَلاَ يَذْكُرُ احْتِلاَمًا قَالَ « يَغْتَسِلُ ». وَعَنِ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدِ احْتَلَمَ وَلاَ يَجِدُ الْبَلَلَ قَالَ « لاَ غُسْلَ عَلَيْهِ ». فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ الْمَرْأَةُ تَرَى ذَلِكَ أَعَلَيْهَا غُسْلٌ قَالَ « نَعَمْ إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ ».

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapatkan dirinya basah sementara dia tidak ingat telah mimpi, beliau menjawab, “Dia wajib mandi”. Dan beliau juga ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi tetapi tidak mendapatkan dirinya basah, beliau menjawab: “Dia tidak wajib mandi”.” (HR. Abu Daud no. 236, At Tirmidzi no. 113, Ahmad 6/256. Dalam hadits ini semua perowinya shahih kecuali Abdullah Al Umari yang mendapat kritikan[6]. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Juga terdapat dalil dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِى طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِى مِنَ الْحَقِّ ، هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِىَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ »

Ummu Sulaim (istri dari Abu Tholhah) datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah bagi wanita wajib mandi jika ia bermimpi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ya, jika dia melihat air.” (HR. Bukhari no. 282 dan Muslim no. 313)

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Hadits-hadits di atas adalah sanggahan bagi yang berpendapat bahwa mandi wajib itu baru ada jika seseorang yang mimpi tersebut merasakan mani tersebut keluar (dengan syahwat) dan yakin akan hal itu.”[7]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas berkata, “Pada saat itu diwajibkan mandi ketika melihat air (mani), dan tidak disyaratkan lebih dari itu.  Hal ini menunjukkan  bahwa mandi itu wajib jika seseorang bangun lalu mendapati air (mani), baik ia merasakannya ketika keluar atau ia tidak merasakannya sama sekali. Begitu pula ia tetap wajib mandi baik ia merasakan mimpi atau tidak karena orang yang tidur boleh jadi lupa (apa yang terjadi ketika ia tidur). Yang dimaksud dengan air di sini adalah mani.”[8]

Kedua: Bertemunya dua kemaluan walaupun tidak keluar mani.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا ، فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ

Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (maksudnya: menyetubuhi istrinya , pen), lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi.” (HR. Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)

Di dalam riwayat Muslim terdapat tambahan,

وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

“Walaupun tidak keluar mani.”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَهَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ ».

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya namun tidak sampai keluar air mani. Apakah keduanya wajib mandi? Sedangkan Aisyah ketika itu sedang duduk di samping, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita ini (yang dimaksud adalah Aisyah, pen) namun tidak keluar mani, kemudian kami pun mandi.” (HR. Muslim no. 350)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “junub” dalam bahasa Arab dimutlakkan secara hakikat pada jima’ (hubungan badan) walaupun tidak keluar mani. Jika kita katakan bahwa si suami junub karena berhubungan badan dengan istrinya, maka walaupun itu tidak keluar mani dianggap sebagai junub. Demikian nukilan dari Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari.[9]

Ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah di atas, An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna hadits tersebut adalah wajibnya mandi tidak hanya dibatasi dengan keluarnya mani. Akan tetapi, -maaf- jika ujung kemaluan si pria telah berada dalam kemaluan wanita, maka ketika itu keduanya sudah diwajibkan untuk mandi. Untuk saat ini, hal ini tidak terdapat perselisihan pendapat. Yang terjadi perselisihan pendapat ialah pada beberapa sahabat dan orang-orang setelahnya. Kemudian setelah itu terjadi ijma’ (kesepakatan) ulama (bahwa meskipun tidak keluar mani ketika hubungan badan tetap wajib mandi) sebagaimana yang pernah kami sebutkan.”[10]

Ketiga: Ketika berhentinya darah haidh dan nifas.

Dalil mengenai hal ini adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Fathimah binti Abi Hubaisy,

فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّى

Apabila kamu datang haidh hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila darah haidh berhenti, hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat.” (HR. Bukhari no. 320 dan Muslim no. 333).

Untuk nifas dihukumi sama dengan haidh berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Mengenai wajibnya mandi karena berhentinya darah haidh tidak ada perselisihan di antara para ulama. Yang menunjukkan hal ini adalah dalil Al Qur’an dan hadits mutawatir (melalui jalur yang amat banyak). Begitu pula terdapat ijma’ (kesepakatan) ulama mengenai wajibnya mandi ketika berhenti dari darah nifas.”[11]

Keempat: Ketika orang kafir masuk Islam.

Mengenai wajibnya hal ini terdapat dalam hadits dari Qois bin ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

Beliau masuk Islam, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).” (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Perintah yang berlaku untuk Qois di sini berlaku pula untuk yang lainnya. Dalam kaedah ushul, hukum asal perintah adalah wajib.[12] Ulama yang mewajibkan mandi ketika seseorang masuk Islam adalah Imam Ahmad bin Hambal dan pengikutnya dari ulama Hanabilah[13], Imam Malik, Ibnu Hazm, Ibnull Mundzir dan Al Khottobi[14].

Kelima: Karena kematian.

Yang dimaksudkan wajib mandi di sini ditujukan pada orang yang hidup, maksudnya orang yang hidup wajib memandikan orang yang mati. Jumhur (mayoritas) ulama menyatakan bahwa memandikan orang mati di sini hukumnya fardhu kifayah, artinya jika sebagian orang sudah melakukannya, maka yang lain gugur kewajibannya.[15] Penjelasan lebih lengkap mengenai memandikan mayit dijelaskan oleh para ulama secara panjang lebar dalam Kitabul Jana’iz, yang berkaitan dengan jenazah.

Dalill mengenai wajibnya memandikan si mayit di antaranya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu ‘Athiyah dan kepada para wanita yang melayat untuk memandikan anaknya,

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مَنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian).” (HR. Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939).

Berdasarkan kaedah ushul, hukum asal perintah adalah wajib. Sedangkan tentang masalah ini tidak ada dalil yang memalingkannya ke hukum sunnah (dianjurkan). Kaum muslimin pun telah mengamalkan hal ini dari zaman dulu sampai saat ini.

Yang wajib dimandikan di sini adalah setiap muslim yang mati, baik laki-laki atau perempuan, anak kecil atau dewasa, orang merdeka atau budak, kecuali jika orang yang mati tersebut adalah orang yang mati di medan perang ketika berperang dengan orang kafir.[16]

Lalu bagaimana dengan bayi karena keguguran, wajibkah dimandikan?

Jawabannya, dapat kita lihat dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata, “Jika bayi karena keguguran tersebut sudah memiliki ruh, maka ia dimandikan, dikafani dan disholati. Namun jika ia belum memiliki ruh, maka tidak dilakukan demikian. Waktu ditiupkannya ruh adalah jika kandungannya telah mencapai empat bulan, sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu….”[17]

Demikian pembahasan singkat ini. Insya Allah selanjutnya kita akan melanjutkan pada pembahasan tata cara mandi (al ghuslu). Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Selesai disusun di Pangukan-Sleman, Kamis, 15 Jumadal Awwal 1431 H (29/04/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 1/392, Mawqi’ Al Islam

[2] Wadi adalah sesuatu yang keluar sesudah kencing pada umumnya, berwarna putih, tebal mirip mani, namun berbeda kekeruhannya dengan mani. Wadi tidak memiliki bau yang khas.

Sedangkan madzi adalah cairan berwarna putih, tipis, lengket, keluar ketika bercumbu rayu atau ketika membayangkan jima’ (bersetubuh) atau ketika berkeinginan untuk jima’. Madzi tidak menyebabkan lemas dan terkadang keluar tanpa terasa yaitu keluar ketika muqoddimah syahwat. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa memiliki madzi. (Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 5/383, pertanyaan kedua dari fatwa no.4262, Mawqi’ Al Ifta’)

[3] Lihat Kifayatul Akhyar fii Halli Ghoyatil Ikhtishor, Taqiyuddin Abu Bakr Asy Syafi’i, hal. 64, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, tahun 1422 H.

[4] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 1/163, Al Maktabah At Taufiqiyah. Juga lihat penjelasan dalam kitab Fiqh Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, hal. 49, Darul ‘Aqidah, tahun 1428 H.

[5] Ad Daroril Mudhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyah, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 57, Darul ‘Aqidah, tahun 1425 H.

[6] Lihat Ad Daroril Mudhiyah, hal. 58.

[7] Ad Daroril Mudhiyah, hal. 58.

[8] Fiqh Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 50.

[9] Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani 1/398, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.

[10] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 4/40-41, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.

[11] Ad Daroril Mudhiyah, hal. 57.

[12] Faedah dari Shahih Fiqh Sunnah, 1/167.

[13] Lihat Ad Daroril Mudhiyah, hal. 59.

[14] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/166.

[15] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/617.

[16] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/618. Catatan: Adapun orang yang mati selain di medan pertempuran dan disebut syahid (seperti orang yang mati karena tenggelam dan sakit perut), maka mereka dimandikan dan disholatkan sebagaimana orang yang mati pada umumnya. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Shahih Fiqh Sunnah, 1/619)

[17] Fiqh Al Mar’ah  Al Muslimah, hal. 51.

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel
cara cepat mudah menghafal alquran

62 Komentar

  1. Fahrul
    30 Apr 2010 [#]

    Assalamu ‘alaikum
    Menurut pendapat pribadi ana (untuk kehati-hatian) lebih baik mandi wajib bagi keluarnya mani dg syahwat ataupun tidak,sebagaimana pendapat Mazhab Syafi’i dan tak ada ketegasan dalam dalil shahih yang membedakannya.

  2. M Hafiz
    02 Mei 2010 [#]

    assalamu’alaikum wr.wb
    Untuk bayi yang keguguran jika dikhawatirkan merusak jasad bayi bagaimana ya untuk kehati-hatian apa sebaiknya kita melihat kondisi si bayi tersebut & bagaimana jika tidak dimandikan.

  3. hotel malioboro
    02 Mei 2010 [#]

    kalo mandi hari jum’at ?

  4. Abduh Tuasikal
    03 Mei 2010 [#]

    @ Hotel
    Kalau mandi jumat akan kami bahas pada posting terakhi ttg mandi yang disunnahkan. Menurut pendapat terkuat mandi jumat itu sunnah, sebagaimana pula dianut oleh syafi’iyah.

  5. amri
    03 Mei 2010 [#]

    klo madzi & wadi apa juga masih wajib mandi.? klo onani g sampe keluar gmn?

  6. Abduh Tuasikal
    03 Mei 2010 [#]

    Kalau madzi dan wadi tidak mesti mandi wajib. Ketika keluar cukup pakaiannya diperciki, lalu kemaluannya dicuci dan berwudhu.
    Silakan lihat pembahasannya di sini:
    1. http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-macam-najis.html
    2. http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/cara-membersihkan-najis.html

    Kalau onani, ulama syafi’iyah punya pendapat: Mani jika keluar dalam keadaan sengaja atau tidak tetap mandi wajib. onani termasuk mani yg dikeluarkan dengan dipaksa.
    Semoga Allah beri kepahaman.

  7. Kholid Syamhudi
    14 Mei 2010 [#]

    #M Hafidz
    Kalau memang dimandikan akan merusaknya maka boleh tdk dimandikan langsung aja dikafani dan dishalatkan, dst.

  8. fathiya
    06 Jun 2010 [#]

    bismillaah, kalau dalam kondisi sakit atau tidak ada air bagaimana? diganti tayamumkah? dan tatacaranya seperti apa?

    jazakumulloh khaeran

  9. Abduh Tuasikal
    06 Jun 2010 [#]

    @ Fathiya.
    Ketika itu boleh diganti tayamum. Silakan simak ttg tayamum di sini:
    http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-tata-cara-tayammum.html

  10. aang
    07 Jul 2010 [#]

    ktanya klo gak di sengaja gak wajib mndi tadz.. tp pas di koment2an td.. ustadz bilang..”sengaja atau tidak tetap mndi wajib” ana jadi bngung tadz..

  11. Yulian Purnama
    08 Jul 2010 [#]

    #aang
    Silakan menyimak kembali tulisan dan komentar-komentar dengan lebih teliti.

  12. kadaryanto
    08 Jul 2010 [#]

    Kalau mau sholat setelah mandi junub apa perlu berwudlu lagi apa tidak??. kita jawabannya.

  13. Abduh Tuasikal
    09 Jul 2010 [#]

    @ Kadaryanto, tdk perlu berwudhu lagi jk wudhunya belum batal. Silakan lihat dalam pembahasan Tata Cara Mandi Wajib di sini:
    http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-mandi-wajib.html

  14. muhamad roijal
    31 Agu 2010 [#]

    ane sangat bahagia adanya artikel seperti ini
    syukron….

  15. Tri
    04 Sep 2010 [#]

    Assalamu’alaykum
    Ustadz, barokallohu fiik, adakah sebab lain yg menyebabkan seorang mandi wajib selain kelima hal ini? Ana pernah baca tentang mandi setelah bekam, apa ini sunnah atau bagaiman? Jazakumullohu khoir.

  16. Abduh Tuasikal
    04 Sep 2010 [#]

    @ Tri
    Wa’alaikumus salam.
    Setelah bekam, tdk disyariatkan untuk mandi wajib.

  17. fino
    01 Okt 2010 [#]

    Jazakumullah. Artikel yang sangat berguna, saya mohon izin untuk menshare di website saya. Jazakumullah.

  18. Mohamad Arif
    06 Okt 2010 [#]

    Alhamdulillah…
    Syukron

  19. fajar
    28 Des 2010 [#]

    Ustadz, kalo stelah mandi junub krna mengeluarkan sperma kemudian stlh pke celana ada sedikit cairan kental yg keluar namun tdak ada syahwat dan tidak terasa waktu keluarnya apakah wajib mandi lagi (khawatir jika itu sisa sperma)?

  20. Aris Munandar
    07 Jan 2011 [#]

    #fajar
    Sperma yang tidak memancar itu tidak mewajibkan mandi.

  21. pit
    27 Jan 2011 [#]

    Assalamualaiku wr wb…
    Pak Ustad saya mau nanya…setelah berhubungan dengan suami,mandi junub,wudhu tetapi setelah beberapa jam keluar lg sperma dr tubuh saya.Apakah saya harus mandi junub lagi dan tidak bisa sholat??mohon penjelasannya.
    terima kasih.

  22. syaiful
    15 Mar 2011 [#]

    ustadz batasan dalam bersenggama dengan istri bagaimana jika hanya berada diluar kemaluan wanita dan tidak sampai masuk apakah tetap mandi juga?afwan untuk pertannyaanya.sukron

  23. Yulian Purnama
    16 Mar 2011 [#]

    #syaiful
    Jika keluar mani maka mandi tetap juga.

  24. Firanda Andirja
    29 Mar 2011 [#]

    #pit
    Wa’alaikumussalam. Tidak perlu mandi junub lagi, hanya dibersihkan saja. karena yang menjadikan mandi junub adalah mani yang keluar dengan memancar yang menimbulkan kenikmatan, adapun mani yang keluar setelah mandi adalah sisa saja. Akan tetapi jika keluarnya disertai keledzatan dan pancaran maka harus mandi junub lagi

  25. adi
    21 Apr 2011 [#]

    Assalamu’alaikum
    Ustadz saya mau tanya …ketika bangun tidur ternyata celana dalam saya basah, apakah ini mani atau madzi? soalnya saya tidak bermimpi apa-apa. hanya memang kondisi saya ketika tidur sangat capek. terima kasih

  26. Yulian Purnama
    30 Jun 2011 [#]

    #adi
    Wa’alaikumussalam, silakan simak:
    http://konsultasisyariah.com/perbedaan-air-mani-madzi-dan-wadi

  27. Citra
    29 Sep 2011 [#]

    Makasih ya Pak Ustadz

  28. ana
    14 Nov 2011 [#]

    ustadz ketika haidh bercumbu dgn suami, saya merasakn syahwat dan terasa ada yg keluawr, tapi sy bingung itu drh haidh apa mani atau memang madzi yang menyertai, saat itu asalnya mmg kondisi badan saya lagi kecapekan (sakit), saya lalu tidur dan saat bangun tidur badan saya terasa semakin lemas, dan saya mendapati di pakaian dalam saya ada sedikit seperti bercak keputihan, (saya juga awal haidh memang mengalami keputihan) yang jadi pertanyaan apakah wajib bagi saya untuk mandi junub? padahal saya tidak mimpi dan jika wajib bolehkan saya mandi junub saat sedang haidh? Mohon jawabannya ustadz karena saya sering dihinggapi was-was, jika hanya sekedar bercumbu dg suami, saya takut telah mengeluarkan mani, karena kan katanya wanita itu tidak perlu memancar untuk di bilang telah keluar air maninya, afwan kalau terlalu vulgar bahasanya. Jazaakumullaahulkhoyr

  29. Muhammad Abduh Tuasikal
    19 Nov 2011 [#]

    @ Ana
    Bisa dilihat dari ciri2 mani tsb. Bedakan dengan madzi dan mani.

  30. nurul
    23 Nov 2011 [#]

    saya ingin bertanya mengenai mani itu.kalau mani itu tidah najis kenapa orang yang keluar mani itu harus mandi besar…?dan bagai mana hukumnya orang yg punya wuduk lalu menyentuh mani tersebut hukumnya bagaimana apa wuduk itu batal atau tidak….?

  31. zaki
    10 Des 2011 [#]

    artikelnya sangt bermamfaat

  32. Yulian Purnama
    14 Jan 2012 [#]

    #nurul
    - Mandi besar itu diperintahkan jika KELUAR mani bukan jika TERKENA mani. Demikian yang diperintahkan, sepatutnya kita sami’na wa atho’na.
    - Karena mani tidak najis maka tidak batal jika setelah wudhu terkena mani.

  33. addy
    26 Feb 2012 [#]

    jika seseorang itu melihat gambar yg menaikkan nafsu tetapi tidak keluar air mani atau air mazi.adakah diwajibkan mandi??

  34. Yulian Purnama
    03 Mar 2012 [#]

    #addy
    Tidak wajib

  35. apipudin
    10 Mar 2012 [#]

    assalamualaikum,,, pak usat apabila kluar air bening dari kmaluan bkan air mani apa di haruskan mandi wajib????????????wassalam

  36. Tiyo
    02 Apr 2012 [#]

    Assalamualaikum pak ustadz saya mau tanya kalo kemaluan kita sedang tegang apakah kita diwajibkan mandi??

  37. Muhammad Abduh Tuasikal
    10 Apr 2012 [#]

    @ Tiyo
    Wa’alaikumus salam. Semoga Allah senantiasa memberkahi umur antum.
    Seperti itu tdk perlu mandi kecuali jika keluar mani.

  38. Tiyo
    30 Apr 2012 [#]

    pak ustad jika alat kemaluan kita tegang apakah batal puasa??

  39. arshantika
    05 Mei 2012 [#]

    Assalamu alaykum Ustadz..

    Apakah sehabis berhubungan intim suami istri harus segera mandi ? apakah memang di sunnahkan mandi (biarpun malam hari) agar tidur kita tidak dalam keadaan junub, terutama kalau malam hari.
    Apakah mandi itu hanya karena kita akan sholat..? artinya boleh menunda mandi junub hingga tiba waktu sholat ?
    Apakah ada larangan mngerjakan sesuatu dalam keadaan berjunub baik laki2 maupun perempuan..?
    Syukron Ustadz atas sharingnya..

  40. Muhammad Abduh Tuasikal
    07 Mei 2012 [#]

    @ Tiyo
    Selama tdk keluar mani, tdk batal puasa.

  41. Muhammad Abduh Tuasikal
    08 Mei 2012 [#]

    @ Arshantika
    1. Disunnahkan untuk mandi sesegera mungkin. Namun jika menundanya sampai Shubuh tdklah masalah.
    2. Boleh menunda junub sampai tiba waktu shalat.
    3. Larangannya adl larangan bagi yg berhadats: shalat, menyentuh al quran dan thowaf.

  42. Tiyo
    10 Mei 2012 [#]

    jika sebelumnya kita tidak tahu kalo keluar air mani itu batal puasa apakah tetap batal puasanya?

  43. Yulian Purnama
    13 Jun 2012 [#]

    #apipudin
    wa’alaikumussalam, tidak wajib

  44. mila
    19 Jun 2012 [#]

    Assalamualaikum.. saya mau tanya.
    jika perempuan mimpi jorok, atau menghayal jorok apakah perlu mandi wajib?
    masalahnya, saya jg lupa, keluar mani atau enggak.
    terimakasih..

  45. Muhammad Abduh Tuasikal
    30 Jun 2012 [#]

    @ Mila
    Selama tdk keluar mani saat mimpi tsb, maka tdk wajib mandi. Wallahu a’lam.

  46. Muhammad Abduh Tuasikal
    30 Jun 2012 [#]

    @ Tiyo

    Keluar mani yang membatalkan puasa adalah jika keluar dg kesengajaan. Wallahu a’lam.

  47. nas
    07 Agu 2012 [#]

    p’ ustadz mau bertanya nih… kalau kita bercumbu dengan istri tetapi tidak berhubungan badan langsung “maaf” tidak saling menempelkan kemaluan tapi hanya memegang atau mengusapnya dan tidak sampai keluar mani apakah sang istri
    wajib hukumnya mandi junub? makasih p’ ustadz atas jawabannya

  48. wahab
    09 Agu 2012 [#]

    Ustadz apakah wajib mandi kalau terkena air mani yg ada di celana?

  49. Yulian Purnama
    26 Agu 2012 [#]

    #wahab
    Tidak

  50. Yulian Purnama
    09 Sep 2012 [#]

    #nas
    Tidak wajib

Tinggalkan Komentar

Biojanna

Kembali ke Atas