<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Tazkiyatun Nufus</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/tazkiyatun-nufus/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 09:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Bersyukur Dengan Yang Sedikit</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bersyukur-dengan-yang-sedikit.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bersyukur-dengan-yang-sedikit.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 04:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8173</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, puji syukur pada Allah pemberi berbagai macam nikmat. Shalawat dan salam senantiasa dipanjatkan pada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Setiap saat kita telah mendapatkan nikmat yang banyak dari Allah, namun kadang ini terus<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bersyukur-dengan-yang-sedikit.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillah, puji syukur pada Allah pemberi berbagai macam nikmat. Shalawat dan salam senantiasa dipanjatkan pada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Setiap saat kita telah mendapatkan nikmat yang banyak dari Allah, namun kadang ini terus merasa kurang, merasa sedikit nikmat yang Allah beri. Allah beri kesehatan yang jika dibayar amatlah mahal. Allah beri umur panjang, yang kalau dibeli dengan seluruh harta kita pun tak akan sanggup membayarnya. Namun demikianlah diri ini hanya menggap harta saja sebagai nikmat, harta saja yang dianggap sebagai rizki. Padahal kesehatan, umur panjang, lebih dari itu adalah keimanan, semua adalah nikmat dari Allah yang luar biasa.</p>
<p><strong>Syukuri yang Sedikit</strong></p>
<p>Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ</p>
<p>“<em>Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak</em>.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <strong><em>hasan</em></strong> sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).</p>
<p>Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rizki yang banyak, rizki yang sedikit dan tetap terus Allah beri sulit untuk disyukuri? Bagaimana mau disyukuri? Sadar akan nikmat tersebut saja mungkin tidak terbetik dalam hati.</p>
<p><strong>Kita Selalu Lalai dari 3 Nikmat</strong></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.</p>
<p>Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.</p>
<p>Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.</p>
<p>Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.</p>
<p>Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.” (<em>Al Fawa’id</em>, Ibnul Qayyim, terbitan, Darul ‘Aqidah, hal. 165-166).</p>
<p>Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, gaji yang wah, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.</p>
<p><strong>Kesehatan Juga Nikmat</strong></p>
<p>Bayangan kita barangkali, nikmat hanyalah uang, makanan dan harta mewah. Padahal kondisi sehat yang Allah beri dan waktu luang pun nikmat. Bahkan untuk sehat jika kita bayar butuh biaya yang teramat mahal. Namun demikianlah nikmat yang satu ini sering kita lalaikan.</p>
<p>Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p align="center">نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ</p>
<p>”<em>Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”.</em> (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)</p>
<p>Ibnu Baththol <em>rahimahullah </em>mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”  (Dinukil dari <em>Fathul Bari</em>, 11/230)</p>
<p><strong>Rizki Tidak Hanya Identik dengan Uang</strong></p>
<p>Andai kita dan seluruh manusia bersatu padu membuat daftar nikmat Allah, niscaya kita akan mendapati kesulitan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p align="center">وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ(  إبراهيم</p>
<p>“<em>Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).</em>” (QS. Ibrahim: 34).</p>
<p>Bila semua yang ada pada kita, baik yang kita sadari atau tidak, adalah rizki Allah tentu semuanya harus kita syukuri. Namun bagaimana mungkin kita dapat mensyukurinya bila ternyata mengakuinya sebagai nikmat atau rejeki saja tidak?</p>
<p>Saudaraku! kita pasti telah membaca dan memahami bahwa kunci utama langgengnya kenikmatan pada diri anda ialah sikap syukur nikmat. Dalam ayat suci Al Qur’an yang barangkali kita pernah mendengarnya disebutkan,</p>
<p align="center">وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ</p>
<p>&#8220;<em>Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: &#8220;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu</em>.” (QS. Ibrahim: 7). Alih-alih mensyukuri nikmat, menyadarinya saja tidak. Bahkan dalam banyak kesempatan bukan hanya  tidak menyadarinya, akan tetapi malah mengingkari dan mencelanya. Betapa sering kita mencela angin, panas matahari, hujan dan berbagai nikmat Allah lainnya?</p>
<p>Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Al Fudhail bin ‘Iyadh mengisahkan: “Pada suatu hari Nabi Dawud ‘alaihissalam berdoa kepada Allah: Ya Allah, bagaimana mungkin aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, bila ternyata sikap syukur itu juga merupakan kenikmatan dari-Mu? Allah menjawab doa Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan berfirman: “Sekarang engkau benar-benar telah mensyukuri nikmat-Mu, yaitu ketika engkau telah menyadari bahwa segala nikmat adalah milikku.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)</p>
<p>Imam As Syafii berkata, “Segala puji hanya milik Allah yang satu saja dari nikmat-Nya tidak dapat disyukuri kecuali dengan menggunakan nikmat baru dari-Nya. Dengan demikian nikmat baru tersebutpun harus disyukuri kembali, dan demikianlah seterusnya.”  (Ar Risalah oleh Imam As Syafii 2)</p>
<p>Wajar bila Allah Ta’ala menjuluki manusia dengan sebutan “sangat lalim dan banyak mengingkari nikmat, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas dan juga pada ayat berikut,</p>
<p align="center">وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ</p>
<p>“<em>Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sering mengingkari nikmat</em>.” (QS. Al Hajj: 66)</p>
<p>Artinya di sini, rizki Allah amatlah banyak dan tidak selamanya identik dengan uang. Hujan itu pun rizki, anak pun rizki dan kesehatan pun rizki dari Allah.</p>
<p><strong>Surga dan Neraka pun Rizki yang Kita Minta</strong></p>
<p>Sebagian kita menyangka bahwa rizki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rizki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Surga adalah nikmat dan rizki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rizki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala,</p>
<p align="center">لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ</p>
<p>“<em>Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia</em>.” (QS. Saba’: 4)</p>
<p align="center">وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللهُ لَهُ رِزْقًا</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya</em>.” (QS. Ath Tholaq: 11)</p>
<p>Teruslah bersyukur atas nikmat dan rizki yang Allah beri, apa pun itu meskipun sedikit. Yang namanya bersyukur adalah dengan meninggalkan saat dan selalu taat pada Allah. Abu Hazim mengatakan, “<em>Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah</em>.” Mukhollad bin Al Husain mengatakan, “<em>Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat</em>.” (<em>‘Iddatush Shobirin</em>, hal. 49, Mawqi’ Al Waroq)</p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>@ KSU, Riyadh KSA</p>
<p>After Zhuhur, 3<sup>rd</sup> Dzulqo’dah 1432 H (01/10/2011)</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8173"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fbersyukur-dengan-yang-sedikit.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fbersyukur-dengan-yang-sedikit.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fbersyukur-dengan-yang-sedikit.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bersyukur-dengan-yang-sedikit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda Hati yang Sakit</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/tanda-hati-yang-sakit.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/tanda-hati-yang-sakit.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 23:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[qolbu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8082</guid>
		<description><![CDATA[Di antara tanda hati yang sakit adalah hamba sulit untuk merealisasikan tujuan penciptaan dirinya, yaitu untuk mengenal Allah, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, kembali kepada-Nya dan memprioritaskan seluruh hal tersebut daripada seluruh syahwatnya. Akhirnya, hamba<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/tanda-hati-yang-sakit.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p style="text-align: left;" align="center">Di antara tanda hati yang sakit adalah <strong>hamba sulit untuk merealisasikan tujuan penciptaan dirinya</strong>, yaitu untuk mengenal Allah, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, kembali kepada-Nya dan memprioritaskan seluruh hal tersebut daripada seluruh syahwatnya. Akhirnya, hamba yang sakit hatinya lebih mendahulukan syahwat daripada menaati dan mencintai Allah sebagaimana yang difirmankan Allah ‘azza wa jalla,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً</p>
<p>Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. Al Furqan: 43).</p>
<p>Beberapa ulama salaf menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">هو الذي كلما هوى شيئا ركبه . فيحيا في هذه الحياة الدنيا حياة البهائم لا يعرف ربه عز وجل ولا يعبده بأمره ونهيه كما قال تعالى : ( يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوىً لَهُمْ)(محمد: من الآية12)</p>
<p>“Orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah dia yang senantiasa menunggangi hawa nafsunya, sehingga kehidupan yang dijalaninya di dunia ini layaknya kehidupan binatang ternak, tidak mengenal Rabb-nya ‘azza wa jalla, tidak beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, persis seperti firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘<em>Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka’</em> (QS. Muhammad: 12).”</p>
<p>Pada akhirnya, balasan sesuai dengan perbuatan, sebagaimana di dunia dia tidak menjalani kehidupan yang dicintai dan diridhai Allah ‘azza wa jalla, dia menikmati seluruhnya dan hidup menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya, maka demikian pula di akhirat kelak, dia akan menjalani kehidupan yang tiada kebahagiaan di dalamnya, dirinya tidak akan mati sehingga terbebas dari adzab yang menyakitkan. Dia tidak mati, tidakpula hidup,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">يَتَجَرَّعُهُ وَلا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ</p>
<p>“Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat” (QS. Ibrahim: 17).</p>
<p>Diantara tanda hati yang sakit adalah <strong>pemiliknya tidak merasa terluka akibat tindakan-tindakan kemaksiatan</strong> sebagaimana kata pepatah ‘وما لجرح بميت إيلام’, <em>tidaklah menyakiti, luka yang ada pada mayat</em>. Hati yang sehat akan merasa sakit dan terluka dengan kemaksiatan, sehingga hal ini melahirkan taubat dan inabah kepada Rabb-nya ‘azza wa jalla. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. Al A’raaf: 201).</p>
<p>Allah berfirman ketika menyebutkan karakter orang beriman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL"><a href="http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&amp;bk_no=51&amp;ID=241#docu">والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم ومن يغفر الذنوب إلا الله ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون</a></p>
<p>“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imran: 135).</p>
<p>Maksudnya adalah ketika mereka bermaksiat, mereka mengingat Allah ‘azza wa jalla, ancaman dan siksa yang disediakan oleh-Nya bagi pelaku kemaksiatan, sehingga hal ini mendorong mereka untuk beristighfar kepada-Nya.</p>
<p>Penyakit hati justru menyebabkan terjadinya kontinuitas keburukan seperti yang dikemukakan oleh al-Hasan ketika menafsirkan firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون</p>
<p>“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (QS. Al Muthaffifin: 14).</p>
<p>Beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">هو الذنب على الذنب حتى يعمى القلب أما سليم القلب فيتبع السيئة الحسنة والذنب التوبة</p>
<p>“Hal itu (rahn) adalah dosa di atas dosa yang membutakan hati. Adapun hati yang salim justru akan melahirkan perbuatan yang baik setelah dulunya berbuat buruk, melahirkan taubat setelah dulunya berbuat dosa.”</p>
<p>Di antara tanda penyakit hati adalah <strong>pemiliknya tidak merasa risih dengan kebodohannya terhadap kebenaran</strong>. Hati yang salim akan merasa resah jika muncul syubhat di hadapannya, merasa sakit dengan kebodohan terhadap kebenaran dan ketidaktahuan terhadap berbagai keyakinan yang menyimpang. Kebodohan merupakan musibah terbesar, sehingga seorang yang memiliki kehidupan di dalam hati akan merasa sakit jika kebodohan bersemayam di dalam hatinya. Sebagian ulama mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">ما عصى الله بذنب أقبح من الجهل ؟</p>
<p>“Adakah dosa kemaksiatan kepada Allah yang lebih buruk daripada kebodohan?”</p>
<p>Imam Sahl pernah ditanya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">يا أبا محمد أي شيء أقبح من الجهل؟ قال ” الجهل بالجهل ” ،قيل : صدق لأنه يسد باب العلم بالكلية</p>
<p>“Wahai Abu Muhammad, adakah sesuatu yang lebih buruk daripada kebodohan? Dia menjawab, “Bodoh terhadap kebodohan.” Kemudian ada yang berkata, “Dia benar, karena hal itu akan menutup pintu ilmu sama sekali.”</p>
<p>Ada penyair yang berkata,</p>
<p align="center">وفي الجهل قبل الموت موت لأهله             وأجسامهم قبل القبور قبور</p>
<p align="center">وأرواحهم في وحشةٍ من جسومهم           وليس لهم حتى النشور نشور</p>
<p align="center">Kebodohan adalah kematian sebelum pemiliknya mati,</p>
<p align="center">tubuh mereka layaknya kuburan sebelum dikuburkan</p>
<p align="center">Kepada tubuh yang semula, ruh mereka ingin kembali,</p>
<p align="center">padahal bagi mereka, tidak ada kebangkitan hingga hari kebangkitan</p>
<p>Di antara tanda penyakit hati adalah <strong>pemiliknya berpaling dari nutrisi hati yang bermanfaat dan justru beralih kepada racun yang mematikan</strong>, sebagaimana tindakan mayoritas manusia yang berpaling dari al-Quran yang dinyatakan Allah sebagai obat dan rahmat dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين</p>
<p>“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al Isra: 82).</p>
<p>Mereka justru berpaling mendengarkan lagu yang menumbuhkan kemunafikan dalam hati, menggerakkan syahwat dan mengandung kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada kondisi ini, hamba mendahulukan kemaksiatan karena kecintaannya kepada sesuatu yang dimurkai oleh Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian, mendahulukan kemaksiatan merupakan buah dari penyakit hati dan akan menambah akut penyakit tersebut. Sebaliknya, hati yang sehat justru akan mencintai apa yang dicintai Allah dan rasul-Nya sebagaimana firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْأِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ</p>
<p>“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS. Al Hujuraat: 7).</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا</p>
<p>“Orang yang ridhal Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai rasul, niscaya akan merasakan kelezatan iman.” [HR. Muslim].</p>
<p>Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ</p>
<p>“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga diriku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.” [HR. Bukhari dan Muslim].</p>
<p>Diantara tanda penyakit hati, <strong>pemiliknya condong kepada kehidupan dunia, merasa enjoy dan tenteram dengannya, tidak merasa bahwa sebenarnya dia adalah pengembara di kehidupan dunia, tidak mengharapkan kehidupan akhirat dan tidak berusaha mempersiapkan bekal untuk kehidupannya kelak disana</strong>.</p>
<p>Setiap kali hati sembuh dari penyakitnya, dia akan beranjak untuk condong kepada kehidupan akhirat, sehingga keadaannya persis seperti apa yang disabdakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p dir="RTL">كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل</p>
<p>“<em>Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang sekedar menumpang lewat</em>” [HR. Bukhari].</p>
<p>Wallahul muwaffiq.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Dikutip dari al-Bahr ar-Raiq karya Syaikh Ahmad Farid</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penyusun: <a href="http://ikhwanmuslim.com/fikih/penyakit-hati-kenali-tanda-tandanya">Muhammad Nur Ichwan Muslim<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8082"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Ftanda-hati-yang-sakit.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Ftanda-hati-yang-sakit.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Ftanda-hati-yang-sakit.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/tanda-hati-yang-sakit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingat Mati</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ingat-mati-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ingat-mati-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 23:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[hari kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[maut]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8076</guid>
		<description><![CDATA[Bagi yang masih hidup perbanyaklah mengingat mati ….. karena &#8230;&#8230; Pertama, Mengingat mati adalah ibadah yang sangat dianjurkan. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ingat-mati-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Bagi yang masih hidup perbanyaklah mengingat mati ….. karena &#8230;&#8230;</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama</strong></span>, Mengingat mati adalah ibadah yang sangat dianjurkan.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.</p>
<p>Artinya: “<em>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian</em>”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua</strong></span>, Maut kapan saja bisa menghampiri dan tidak akan pernah keliru dalam hitungannya, maka jauhilah perbuatan dosa dari kesyirikan, bid’ah dan maksiat lainnya.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ}</p>
<p>Artinya: “<em>Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya</em>.” (QS. Al A’raf: 34).</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">{وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا} [المنافقون : 11]</p>
<p>Artinya: “<em>Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila. datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan</em>” (QS. Al Munafiqun: 11).</p>
<p>Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,  “Renungkanlah wahai manusia, (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya, karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui, terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati), terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangun lagi (karena mati), terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya, akan tetapi dia malah dibawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena mati). Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan taubat kepada Allah <em>Azza wa Jalla</em>. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya bertaubat, kembali, menghadap kepada Allah, sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-baiknya keadaan yang diinginkan.” (Lihat <em>Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin</em>, 8/474).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga</strong></span>, Maut tidak ada yang mengetahui kapan datangnya melainkan Allah Ta’ala semata, tetapi dia pasti mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama hidup.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">( كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ) [آل عمران : 185]</p>
<p>“<em>Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan</em>.” (QS. Ali Imran: 185).</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">(إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) [لقمان: 34 ]</p>
<p>Artinya: “<em>Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal</em>.” (QS. Lukman: 34).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat</strong></span>, Siapa yang mati mulai saat itulah kiamatnya, tidak ada lagi waktu untuk beramal.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ كَانَ الأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ مَتَى السَّاعَةُ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ فَقَالَ «إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ»</p>
<p>Artinya: “<em>Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Orang-orang kampung Arab jika datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bertanya tentang hari kiamat, kapan datangnya, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kepada seorang yang paling muda dari mereka, kemudian beliau bersabda: “Jika hidup pemuda ini dan tidak mendapati kematian, maka mulai saat itulah kiamat kalian datang</em>.” (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: center;">المغيرة بن شعبة رضي الله عنه: أيها الناس إنكم تقولون: القيامة، القيامة؛ فإن من مات قامت قيامته.</p>
<p>Al Mughirah bin Syu’bah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian mengucapkan: “Kiamat, kiamat…maka ketahuilah, siapa yang mati mulai saat itulah dibangkitkan kiamat dia.” (Lihat kitab <em>Al Mustadrak ‘Ala majmu’ al Fatawa</em>, 1/88).</p>
<p>Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, “Yang demikian itu, karena seorang manusia jika mati, maka dia masuk ke dalam hari kiamat, oleh sebab itulah dikatakan: ‘Siapa yang mati mulailah kiamatnya, setiap apa yang ada sesudah kematian, maka sesungguhnya hal itu termasuk dari hari akhir. Jadi, alangkah dekatnya hari kiamat bagi kita, tidak ada jaraknya antara kita dengannya, melainkan ketika sesesorang mati, kemudian dia masuk ke kehidupan akhirat, tidak ada di dalamnya kecuali balasan atas amal perbuatan. Oleh sebab inilah, harus bagi kita untuk memperhatikan poin penting ini.” (Lihat <em>Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin</em>, 8/474).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kelima</strong></span>, Dengan mengingat mati melapangkan dada, menambah ketinggian frekuensi ibadah</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: &#8220;أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها&#8221;</p>
<p>Artinya: “Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: ‘Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.</em>” HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan di dalam kitab <em>Shahih Al Jami’</em>.</p>
<p>Ad Daqqaq <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">&#8220;من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة، ومن نسى الموت عوجل بثلاثة: تسويف التوبة، وترك الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة&#8221;  تذكرة القرطبي : ص 9</p>
<p>Artinya: “<em>Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah</em>” (Lihat kitab <em>At Tadzkirah fi Ahwal Al Mauta wa Umur Al Akhirah</em>, karya Al Qurthuby).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keenam</strong></span>, Dengan mengingat mati seseorang akan menjadi mukmin yang cerdas berakal, mari perhatikan riwayat berikut:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»</p>
<p>Artinya: “Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bercerita: “<em>Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal</em>”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab <em>Shahih Ibnu Majah</em>).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketujuh</strong></span>, Hari ini yang ada hanya beramal tidak hitungan, besok sebaliknya.</p>
<p>Ali bin Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ.</p>
<p>Artinya: “<em>Dunia sudah pergi meninggalkan, dan akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.</em>” (Lihat kitab Shahih Bukhari).</p>
<p>*) Ditulis oleh seorang yang mendambakan <em>husnul khatimah</em>: Ahmad Zainuddin, Selasa 4 Sya’ban 1432H, Dammam KSA.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://www.dakwahsunnah.com/2012/01/ingat-mati.html">Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc<br />
</a>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div class="shr-publisher-8076"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fingat-mati-2.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fingat-mati-2.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fingat-mati-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ingat-mati-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balasan Nan Indah</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/balasan-nan-indah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/balasan-nan-indah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 23:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[abu qilabah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7872</guid>
		<description><![CDATA[Abu Ibrahim bercerita, Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas. Kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/balasan-nan-indah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Abu Ibrahim bercerita,</p>
<p>Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas. Kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang.</p>
<p>Ternyata orang ini kedua tangannya buntung, matanya buta, dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat.</p>
<p>Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;" dir="RTL">الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً ..</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia…</em></p>
<p>Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh. Ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi. Kedua tangannya buntung, matanya buta, dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya.</p>
<p>Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang mengurusinya? Atau isteri yang menemaninya? Ternyata tak ada seorang pun.</p>
<p>Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku. Ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”</p>
<p>“<em>Assalaamu’alaikum</em>… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” tanyaku.</p>
<p>“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? lanjutku.</p>
<p>“Aku seorang yang sakit, semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal” jawabnya.</p>
<p>“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara?!?” ucapku.</p>
<p>“Aku akan menceritakannya kepadamu. Tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” tanyanya.</p>
<p>“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu” kataku.</p>
<p>“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia. Bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir?&#8221;</p>
<p>“Betul” jawabku. lalu katanya: “Berapa banyak orang yang gila?”</p>
<p>“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia” jawabnya.</p>
<p>“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.</p>
<p>“Iya benar”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” jawabnya.</p>
<p>“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar?” katanya.</p>
<p>“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut”, katanya.</p>
<p>“Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.</p>
<p>“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?” tanyanya.</p>
<p>“Wah, banyak itu” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.</p>
<p>“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya, mengharap pahala dari-Nya, dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.</p>
<p>“Iya benar” jawabku. lalu katanya: “Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat!!”</p>
<p>“Banyak sekali”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” katanya.</p>
<p>Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu. Dan aku semakin takjub dengan  kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah.</p>
<p>Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau. Mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya. Tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya. Mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar.</p>
<p>Aku pun menyelami pikiranku makin jauh, hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:</p>
<p>“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang, maukah kamu mengabulkannya?”</p>
<p>“Iya. apa permintaanmu?” kataku.</p>
<p>Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis. Ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun. Dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku. Sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja. Dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya”.</p>
<p>Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya. Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut. Aku tak tahu harus memulai dari arah mana.</p>
<p>Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua. Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang mengerumuni sesuatu. Maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.</p>
<p>Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang. Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong. Rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung.</p>
<p>Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah. Aku pun turun dari bukit, dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam. Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian. Ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?</p>
<p>Aku berjalan menujuk kemah pak Tua. Aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana? Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam. Maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya, ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”</p>
<p>Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”.</p>
<p>“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.</p>
<p>“Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.</p>
<p>“Tentu Ayyub…” jawabnya.</p>
<p>“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung. Ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya” jawabku.</p>
<p>Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “<em>Laa ilaaha illallaaah…</em>” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya. Namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya. Lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya.</p>
<p>Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku. Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya. Maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”</p>
<p>“Iya..” jawab mereka.</p>
<p>Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya. Namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”. Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh. Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah.</p>
<p>Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah. Ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna. Ia berjalan-jalan di tanah yang hijau. Maka aku bertanya kepadanya:</p>
<p>“Hai Abu Qilabah… apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”</p>
<p>Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;" dir="RTL">( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )</p>
<p><em>Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali</em></p>
<p>[Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “<em>Ats Tsiqaat</em>” dengan penyesuaian]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Diterjemahkan oleh <a href="http://basweidan.com/balasan-nan-indah/">Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary</a> dari kitab: ‘<em>Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat</em>, oleh Syaikh Muh. Al Arify.</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7872"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fbalasan-nan-indah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fbalasan-nan-indah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fbalasan-nan-indah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/balasan-nan-indah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasbunallah wa Ni&#8217;mal Wakiil</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/hasbunallah-wa-nimal-wakiil.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/hasbunallah-wa-nimal-wakiil.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 23:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[tawakkal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7790</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, wash sholaatu was salaamu &#8216;ala Rosulillah wa &#8216;ala aalihi wa shohbihi. Kalimat ini termasuk dzikir sederhana, namun mengandung makna yang luar biasa. Dzikir ini menandakan bahwa seorang hamba hanya pasrah pada Allah dan menjadikan-Nya<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/hasbunallah-wa-nimal-wakiil.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillah, wash sholaatu was salaamu &#8216;ala Rosulillah wa &#8216;ala aalihi wa shohbihi.</em></p>
<p>Kalimat ini termasuk dzikir sederhana, namun mengandung makna yang luar biasa. Dzikir ini menandakan bahwa seorang hamba hanya pasrah pada Allah dan menjadikan-Nya sebagai tempat bersandar.</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menceritakan mengenai Rasul dan sahabatnya dalam firman-Nya,</p>
<p align="center">الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ</p>
<p>&#8220;<em>(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, &#8220;Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka&#8221;, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, &#8220;Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung&#8221;</em>. &#8221; (QS. Ali &#8216;Imron: 173)</p>
<p>Kata sahabat Ibnu &#8216;Abbas, ia berkata bahwa &#8220;<em>hasbunallah wa ni&#8217;mal wakiil</em>&#8221; adalah perkataan Nabi &#8216;Ibrahim <em>&#8216;alaihis salaam</em> ketika beliau ingin dilempar di api. Sedangkan Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan kalimat tersebut dalam ayat,</p>
<p align="center">إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,&#8221; maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, &#8220;Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung&#8221;</em>. (HR. Bukhari no. 4563)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Renungkanlah Maknanya!</strong></p>
<p>Ibnul Jauzi dalam <em>Zaadul Masiir</em> berkata bahwa maksud &#8220;<em>hasbunallah</em>&#8221; ialah Allah-lah yang mencukupi segala urusan mereka. Sedangkan &#8220;<em>al wakiil</em>&#8220;, kata Al Faro&#8217; berarti orang yang mencukupi. Demikian pula kata Ibnul Qosim. Sedangkan Ibnu Qutaibah berkata bahwa makna &#8220;<em>al wakiil</em>&#8221; adalah yang bertanggung jawab (yang menjamin). Al Khottobi berkata bahwa &#8220;<em>al wakiil</em>&#8221; adalah yang bertanggung jawab memberi rizki dan berbagai maslahat bagi hamba.</p>
<p>Dalam tafsir <em>Al Jalalain</em> disebutkan makna dzikir di atas ialah Allah-lah yang mencukupi urusan mereka dan Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar dalam segala urusan.</p>
<p>Syaikh As Sa&#8217;di dalam kitab tafsirnya memaparkan, &#8220;Maksud <em>&#8216;hasbunallah</em>&#8216; adalah Allah-lah yang mencukupi urusan mereka dan <em>&#8216;ni&#8217;mal wakiil&#8217;</em> adalah Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar segala urusan hamba dan yang mendatangkan maslahat.&#8221;</p>
<p>Syaikh Al Imam Al &#8216;Arif <em>rahimahullah</em> berkata bahwa dalam hadits di atas adalah isyarat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pada para sahabatnya agar mereka rujuk (kembali) pada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, bersandar pada-Nya, sadar bahwa tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari-Nya. … Kalimat &#8220;<em>hasbunallah</em>&#8221; adalah tanda bahwa hamba benar-benar butuh pada Allah dan itu sudah amat pasti. Lalu tidak ada keselamatan kecuali dari dan dengan pertolongan Allah. Tidak ada tempat berlari kecuali pada Allah. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p align="center">فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ</p>
<p>&#8220;<em>Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.</em> &#8221; (QS. Adz Dzariyat: 50) (Bahrul Fawaid karya Al Kalabadzi)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Allah-lah Yang Mencukupi</strong></p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.</em>” (QS. Ath Tholaq: 3). Al Qurtubhi <em>rahimahullah</em> menjelaskan pula tentang surat Ath Tholaq ayat 3 dengan mengatakan, “Barangsiapa yang menyandarkan dirinya pada Allah, maka Allah akan beri kecukupan pada urusannya.”</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p align="center">مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa menyandarkan diri pada sesuatu, maka hatinya akan dipasrahkan padanya</em>&#8221; (HR. Tirmidzi no. 2072, hadits ini <em>hasan</em> kata Syaikh Al Albani). Artinya di sini, barangsiapa yang menjadikan makhluk sebagai sandaran hatinya, maka Allah akan membuat makhluk tersebut jadi sandarannya. Maksudnya, urusannya akan sulit dijalani. Hati seharusnya bergantung pada Allah, bukan pada makhluk. Jika Allah menjadi sandaran hati, tentu urusan akan semakin mudah.</p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><em>Ya Allah … Engkau-lah yang mencukupi segala urusan kami, tahu manakah yang maslahat dan yang mengatur segala rizki kami.</em></p>
<p align="center"><em>Hasbunallah wa ni&#8217;mal wakiil.</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammad wa &#8216;ala aalihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 21 Dzulqo&#8217;dah 1432 H (19/10/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7790"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fhasbunallah-wa-nimal-wakiil.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fhasbunallah-wa-nimal-wakiil.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fhasbunallah-wa-nimal-wakiil.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/hasbunallah-wa-nimal-wakiil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuka Pintu Rizki dengan Istighfar</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 23:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[istigfar]]></category>
		<category><![CDATA[istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>
		<category><![CDATA[rizki]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7702</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah. “AJIMAT ROJO BRONO: Suatu ritual khusus yang apabila Anda menjalankan dengan benar, insyaAllah dalam waktu 3 hari Anda akan segera mendapat rizqi, untuk menambah<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah.</p>
<p><em>“AJIMAT ROJO BRONO: Suatu ritual khusus yang apabila Anda menjalankan dengan benar, insyaAllah dalam waktu 3 hari Anda akan segera mendapat rizqi, untuk menambah modal atau melunasi hutang tanpa tumbal. Mahar kesepakatan”.</em></p>
<p><em>“GOMBAL GENDERUWO: Usaha seret, atau sering tertipu, banyak saingan, untuk apa bingung. Dengan ajimat Gombal Gendruwo bisnis akan kembali lancar, disegani dan dapat menetralkan kekuatan jahat yang ingin merusak. Mahar kesepakatan”.</em></p>
<p>Demikian tawaran pelancar rizki dalam sebuah iklan yang dipasang salah satu ‘Gus’ yang memimpin sebuah “Padepokan Ilmu Hikmah dan Seni Pernafasan Tenaga Dalam” di kota Malang.<a href="http://tunasilmu.com/membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html#footnote1">[1]</a></p>
<p><em>“Sarana spiritual kerezekian yang ada di majelis kami biasa dinamakan Bukhur Qomar. Untuk mendapatkan dayanya: tanamlah Bukhur Qomar di tempat usaha, lalu baca Sholawat Nariyah 11 x bakda subuh, untuk lafal Kamilatan dibaca 41 x. InsyaAllah dalam waktu tidak lama anda akan berhasil”.</em></p>
<p>Demikan jawaban seorang ‘Gus’ pemimpin sebuah “Majlis Taklim wa Dzikr” di Semarang, tatkala ditanya dalam sebuah rubrik “Konsultasi Gaib” tentang piranti pembuka rizki.<a href="http://tunasilmu.com/membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html#footnote2">[2]</a></p>
<p>Dua contoh di atas merupakan segelintir dari puluhan bahkan mungkin ratusan tawaran pembuka pintu rizki yang ada di media massa. Belum jika kita mau mencermati tawaran-tawaran pelancar lainnya yang ada di media elektronik dan dunia maya.</p>
<p><strong>Yang jadi pertanyaan:</strong></p>
<p>Bisakah para pelaku penawaran di atas mendatangkan dalil dari al-Qur’an dan hadits -yang merupakan pedoman hidup umat Islam- sebagai landasan dari amaliah atau ajian yang mereka obral? Ataukah Islam tidak menyentuh permasalahan rizki serta melewatkan hal penting tersebut dari sorotannya?</p>
<p>Seorang muslim yang cerdas, tentunya akan memilah dan memilih apa yang ia baca, melihat dan mendengar, serta memfilter hal-hal yang tidak memiliki landasan syar’i dari yang mempunyainya. Dia sadar betul bahwa hidupnya di dunia hanyalah sekali, sehingga tidak akan sembarangan tatkala menempuh suatu langkah atau mengambil suatu keputusan. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan nasibnya di akhirat kelak.</p>
<p>Dorongan mencari rizki kerap menyebabkan banyak orang terpental dari jalan yang lurus<em>.</em> Padahal Islam, sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh dimensi kehidupan seorang hamba, telah memberikan solusi yang begitu jelas dalam usaha memperlancar rizki.</p>
<p><strong>Di antara tuntunan yang ditawarkan</strong> untuk menggapai tujuan tersebut: memperbanyak istighfar. <strong>Dalil tuntunan tersebut</strong> firman Allah <em>ta’ala,</em></p>
<p>“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً”</p>
<p>Artinya: <em>“Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” (</em>QS. Nuh: 10-12)</p>
<p>Ayat di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa di antara buah istighfar: turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.</p>
<p>Karenanya, dikisahkan dalam <em>Tafsir al-Qurthubi</em>, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.</p>
<p>Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar?”.</p>
<p>Maka al-Hasan al-Bashri pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: <em>“Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.</em></p>
<p><strong>Adapun dalil dari Sunnah</strong> Rasul <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>yang menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci rizki, suatu hadits yang berbunyi:</p>
<p>“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”</p>
<p><em> “Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (</em>HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan <em>sanad</em>nya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).</p>
<p>Maka silahkan perbanyaklah istighfar, serta tunggulah buahnya… Jika buahnya belum terlihat juga, perbanyaklah terus istighfar dan jangan pernah berputus asa! Di dalam setiap kesempatan, kapan dan di manapun memungkinkan; di waktu-waktu kosong saat berada di kantor, ketika menunggu dagangan di toko, saat menunggu burung di sawah dan lain sebagainya..</p>
<p><strong>Catatan penting:</strong></p>
<p><strong>1. Pilihlah redaksi istighfar yang ada tuntunannya</strong> dalam al-Qur’an ataupun hadits Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam</em> dan hindarilah redaksi-redaksi yang tidak ada tuntunannya. Di antara redaksi istighfar yang ada haditsnya:</p>
<p><strong>أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>Astaghfirullâh.</em> HR. Muslim. <a href="http://tunasilmu.com/membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html#footnote3">[3]</a></p>
<p>أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه</p>
<p><em>Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih.</em></p>
<p>HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani.<a href="http://tunasilmu.com/membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html#footnote4">[4]</a></p>
<p>اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت</p>
<p><em> “Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”.</em> HR. Bukhari.<a href="http://tunasilmu.com/membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html#footnote5">[5]</a></p>
<p>Redaksi terakhir ini kata Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam</em> merupakan <em>sayyidul istighfar</em> atau redaksi istighfar yang paling istimewa. Menurut beliau, fadhilahnya: barangsiapa mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka ia akan dimasukkan ke surga. Begitu pula jika diucapkan di malam hari dengan meyakini maknanya, lalu ia meninggal di pagi harinya maka ia akan dimasukkan ke surga.</p>
<p><strong>2. Tidak ada hadits yang menentukan jumlah khusus </strong>tatkala mengucapkan istighfar, semisal sekian ratus, ribu atau puluh ribu.<strong> </strong>Yang ada: perbanyaklah istighfar di mana dan kapanpun kita berada, jika memungkinkan, tanpa dibatasi dengan jumlah sekian dan sekian, kecuali jika memang ada tuntunan jumlahnya dari sosok sang maksum <em>shallallahu’alaihiwasallam.</em></p>
<p><strong>3. Hendaklah tatkala beristighfar kita menghayati maknanya sambil berusaha memenuhi konsekwensinya </strong>berupa menghindarkan diri dari berbagai macam bentuk perbuatan maksiat. Hal itu pernah diisyaratkan oleh al-Hasan al-Bashri tatkala berkata, sebagaimana dinukil al-Qurthubi dalam <em>Tafsir</em>nya,</p>
<p>“استغفارنا يحتاج إلى استغفار”</p>
<p>“Istighfar kami membutuhkan untuk diistighfari kembali”.<strong> </strong></p>
<p>Semoga Allah senantiasa melancarkan rizki kita dan menjadikannya berbarokah serta bermanfaat dunia akherat, <em>amien.</em><strong> </strong></p>
<p><em>Wallahu ta’ala a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.</em></p>
<p><em>@</em><em> Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1431 H / 21 Maret 2010 M</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan Kaki</span></p>
<div>
<div id="ftn1">
<p><a name="footnote1"></a>[1] Lihat: <em>Tabloid Posmo</em> edisi 566, 24 Maret 2010 (hal. 04).</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p><a name="footnote2"></a>[2] Periksa: <em>Ibid</em> (hal. 14).</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p><a name="footnote3"></a>[3] Redaksi lengkap haditsnya:</p>
<p>عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”. قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.</p>
<p>Tsauban bercerita, “Jika Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca <em>“Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom”. </em>Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah (redaksi) istighfar beliau?”. “Astaghfirullah, astaghfirullah” jawab al-Auza’i.</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p><a name="footnote4"></a>[4] Redaksi lengkap haditsnya adalah:</p>
<p>“مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ”</p>
<p>“<em>Barangsiapa mengucapkan “Astaghfirullahal azhim alladzi la ilaha illah huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih” niscaya akan diampuni walaupun lari dari medan perang</em>”.</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p><a name="footnote5"></a>[5] Redaksi lengkap haditsnya sebagai berikut:</p>
<p>عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ: “اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ” إِذَا قَالَ حِينَ يُمْسِي فَمَاتَ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ, وَإِذَا قَالَ حِينَ يُصْبِحُ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ مِثْلَهُ”.</p>
<p>Dari Syaddad bin Aus, bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam</em> bersabda, “Istighfar yang paling istimewa adalah: <em>“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illâ anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya wa abû’u laka bidzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta, a’ûdzubika min syarri mâ shona’tu” </em>(Ya Allah, Engkaulah Rabbku itdak ada yang berhak disembang melainkan diriMu. Engkau telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu dan aku akan setia di atas perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku mengakui nikmat-Mu untukku dan aku mengkaui dosaku. Maka ampunilah diriku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa melainkan diri-Mu. Aku memohon perlindungan dari-Mu dari keburukan perbuatanku). Andaikan seorang hamba mengucapkannya di sore hari kemudian ia mati maka akan masuk surga atau akan termasuk penghuni surga. Dan jika ia mengucapkannya di pagi hari lalu meninggal maka ia akan mendapatkan ganjaran serupa”.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://tunasilmu.com/">Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA<br />
</a>Artikel <a href="http://tunasilmu.com/">www.tunasilmu.com</a>, dipublish ulang oleh <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7702"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fmembuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fmembuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fmembuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Syukur</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-syukur.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-syukur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 23:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[hakikat syukur]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7198</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah beliau sampai hari<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-syukur.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah beliau sampai hari kiamat.</p>
<p>Kaum muslimin yang kami muliakan, sesungguhnya segala kebaikan dan kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ (53)</p>
<p><em>“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah</em><em> </em><em>(datangnya)&#8230;”</em> (QS. An-Nahl: 53)</p>
<p>Betapa melimpahnya kenikmatan yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berikan kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan, kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya. Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا (18)</p>
<p><em>“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.”</em> (QS. An-Nahl: 18).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kebaikan Yang Hakiki Hanya Ada Pada Seorang Mukmin</strong></span></p>
<p>Kaum muslimin yang kami muliakan, seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan baginya, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat kesusahan maka dia bersabar, dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar. (<em>Qowa&#8217;idul Arba&#8217;</em>, hal. 01)</p>
<p>Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ</p>
<p><em>“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kelapangan Hidup Merupakan Bagian Dari Ujian</strong></span></p>
<p>Merupakan sunnatullah bahwasanya Allah <em>Ta&#8217;ala</em> telah menentukan ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Mereka akan diuji dengan berbagai macam ujian, baik dengan sesuatu yang disenangi oleh jiwa berupa kemudahan dalam hidup atau kelapangan rizki, dan juga akan diuji dengan perkara yang tidak mereka sukai, berupa kemiskinan, kesulitan, musibah atau yang lainnya.</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ (35)</p>
<p><em>“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”</em> (QS. Al-Anbiya: 35)</p>
<p>&#8216;Abdullah ibnu &#8216;Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em> mengatakan, “Maksudnya, Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, serta petunjuk dan kesesatan. (<em>Tafsiir ath-Thabari</em>, IX/26, no. 24588).</p>
<p>Inilah sunnatullah yang berlaku pada para hamba-Nya. Oleh karena itulah, kita melihat manusia ini berbeda kondisi kehidupannya. Ada yang hidup dengan harta yang melimpah, fasilitas dan kedudukan. Ada juga yang ditakdirkan hidup sederhana lagi pas-pasan. Bahkan ada juga yang hidup fakir miskin dan tidak punya apa-apa.</p>
<p>Segala nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah ujian bagi kita, apakah kita akan menjadi hamba-Nya yang bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Sungguh benar apa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman <em>&#8216;alaihis salam </em>tatkala mendapatkan nikmat, beliau mengatakan</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ (40)</p>
<p><em>“Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku</em><em> </em><em>bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”</em> (QS. An-Naml: 40).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Syukur Adalah Sifat Mulia Para Nabi</strong></span></p>
<p>Sesungguhnya para nabi dan rasul <em>‘alaihimush sholatu was salam </em>adalah manusia pilihan Rabb semesta alam, yang diutus ke dunia sebagai suri tauladan bagi umatnya. Mereka adalah manusia terdepan dalam setiap amal kebajikan. Salah satu sifat yang sangat menonjol pada mereka adalah senantiasa bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah limpahkan pada mereka. Allah <em>Ta’ala</em> banyak menceritakan keutamaan mereka dalam al-Qur’an sebagai teladan bagi kita. Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em> menyanjung Nabi Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> dengan firman-Nya:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا (3)</p>
<p><em>“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.”</em> (QS. Isra&#8217;: 3)</p>
<p>Al-Bukhari dan Muslim menceritakan di dalam kitab <em>Shahih</em>-nya, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bangun shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Lalu istri beliau, yaitu &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> bertanya, ”Mengapa Anda melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang dulu maupun yang akan datang?” Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا</p>
<p><em>”Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Hakikat Syukur</strong></span></p>
<p>Syukur adalah akhlaq yang mulia, yang muncul karena kecintaan dan keridho&#8217;an yang besar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Syukur tidak akan mungkin bisa terwujud jika tidak diawali dengan keridho&#8217;an. Seseorang yang diberikan nikmat oleh Allah walaupun sedikit, tidak mungkin akan bersyukur kalau tidak ada keridho&#8217;an. Orang yang mendapatkan penghasilan yang sedikit, hasil panen yang minim atau pendapatan yang pas-pasan, tidak akan bisa bersyukur jika tidak ada keridho&#8217;an. Demikian pula orang yang diberi kelancaran rizki dan harta yang melimpah, akan terus merasa kurang dan tidak akan bersyukur jika tidak diiringi keridho&#8217;an.</p>
<p>Kaum muslimin yang kami muliakan, syukur yang sebenarnya tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan <em>“alhamdulillah”</em>. Namun hendaknya seorang hamba bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah <em>rahimahullah</em>, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (<em>Minhajul Qosidin</em>, hal. 305)</p>
<p>Adapun tugasnya hati dalam bersyukur kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla </em>adalah</p>
<p><strong>Pertama</strong> : Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dan bukan dari selain-Nya. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman: <em>“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)&#8230;”</em> (QS. An-Nahl: 53). Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat. <strong>Kedua</strong> : Mencintai Allah <em>Ta’ala</em> yang telah memberikan semua nikmat itu kepada kita. <strong>Ketiga</strong> : Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah ridhai.</p>
<p>Adapun tugasnya lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Sementara tugasnya anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri (yaitu Allah <em>Ta&#8217;ala</em>) dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberikan pertolongan-Nya kepada kita untuk mensyukuri nikmat-Nya dan menjadikan kita hamba-Nya yang pandai bersyukur.</p>
<p>Penulis: dr. Muhaimin Ashuri</p>
<p>Muroja&#8217;ah: <a href="http://ustadzaris.com">Ustadz Aris Munandar, MA</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div class="shr-publisher-7198"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fmemahami-syukur.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fmemahami-syukur.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fmemahami-syukur.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-syukur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Faedah Dzikir</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-dzikir.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-dzikir.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 23:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[faedah dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[faidah dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7081</guid>
		<description><![CDATA[Mengingat Allah (baca: dzikir) merupakan pokok daripada syukur. Manfaat yang besar dapat diperoleh dengan mengerjakan amalan ini. Namun, sayang sekali kebanyakan orang melupakan dan melalaikannya. Padahal, faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah: [1]<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-dzikir.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Mengingat Allah (baca: dzikir) merupakan pokok daripada syukur. Manfaat yang besar dapat diperoleh dengan mengerjakan amalan ini. Namun, sayang sekali kebanyakan orang melupakan dan melalaikannya. Padahal, faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[1] Mendatangkan pertolongan Allah</strong></span></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan mengingat kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[2] Mendatangkan ampunan dan pahala yang besar</strong></span></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, lelaki maupun perempuan, maka Allah sediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 35</strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[3] Sebab hidupnya hati</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya (Allah) dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya, seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[4] Mendatangkan ketentraman jiwa</strong></span></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra’d: 28</strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[5] Jauh dari perangkap setan</strong></span></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman maka akan Kami jadikan setan sebagai pendamping yang selalu menemaninya.” </em>(<strong>QS. az-Zukhruf: 36</strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[6] Jalan menuju keikhlasan</strong></span></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berusaha mengelabui Allah, sedangkan Allah justru mengelabui mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat maka mereka berdiri dengan penuh kemalasan, mereka mencari-cari pujian manusia, dan mereka sama sekali tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 142</strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[7] Perlindungan Allah pada hari kiamat</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat… di antaranya adalah seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sepi, kemudian meneteslah air matanya.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p style="text-align: center;">Dan yang perlu diingat bahwasanya dzikir yang benar adalah yang dilandasi keikhlasan niat dan dikerjakan dengan mengikuti Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7081"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2F7-faedah-dzikir.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2F7-faedah-dzikir.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2F7-faedah-dzikir.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-dzikir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maksiat Menggelapkan Hati</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/maksiat-menggelapkan-hati.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/maksiat-menggelapkan-hati.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 13:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7066</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Setiap hari tidak bosan-bosannya kita melakukan maksiat. Aurat terus diumbar, tanpa pernah sadar untuk mengenakan jilbab dan menutup<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/maksiat-menggelapkan-hati.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Setiap hari tidak bosan-bosannya kita melakukan maksiat. Aurat terus diumbar, tanpa pernah sadar untuk mengenakan jilbab dan menutup aurat yang sempurna. Shalat 5 waktu yang sudah diketahui wajibnya seringkali ditinggalkan tanpa pernah ada rasa bersalah. Padahal meninggalkannya termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa zina. Saudara muslim jadi incaran untuk dijadikan bahan gunjingan (alias “ghibah”). Padahal sebagaimana daging saudaranya haram dimakan, begitu pula dengan kehormatannya, haram untuk dijelek-jelekkan di saat ia tidak mengetahuinya. Gambar porno jadi bahan tontonan setiap kali <em>browsing </em>di dunia maya. Tidak hanya itu, yang lebih parah, kita selalu jadi budak dunia, sehingga ramalan primbon tidak bisa dilepas, ngalap berkah di kubur-kubur wali atau habib jadi rutinitas, dan jimat pun sebagai penglaris dan pemikat untuk mudah dapatkan dunia. Hati ini pun tak pernah kunjung sadar. Tidak bosan-bosannya maksiat terus diterjang, detik demi detik, di saat pergantian malam dan siang. Padahal pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa memadamkan cahaya hati. Inilah yang patut direnungkan saat ini.</p>
<p>Ayat yang patut jadi renungan di malam ini adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</p>
<p>“<em>Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka</em>.” (QS. Al Muthoffifin: 14)</p>
<p>Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »</p>
<p>Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “<em>Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan &#8220;ar raan&#8221; yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’</em>.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Al Hasan Al Bashri <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya.<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Mujahid <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Penulis Al Jalalain <em>rahimahumallah </em>menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh “ar raan” seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Ibnu Qayyim Al Jauziyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Inilah di antara dampak bahaya maksiat bagi hati. Setiap maksiat membuat hati tertutup noda hitam dan lama kelamaan hati tersebut jadi tertutup. Jika hati itu tertutup, apakah mampu ia menerima seberkas cahaya kebenaran? Sungguh sangat tidak mungkin. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah </em>mengatakan, “<em>Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran</em>.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Perbanyaklah taubat dan istighfar, itulah yang akan menghilangkan gelapnya hati dan membuat hati semakin bercahaya sehingga mudah menerima petunjuk atau kebenaran.</p>
<p><em>Ya Allah, tunjukkanlah hati kami ini agar selalu taat pada-Mu dan berusaha menjauhi setiap maksiat yang benar-benar telah Engkau larang, apalagi dosa syirik dan kekufuran. Amin Yaa Mujibbas Saailin.</em></p>
<p style="text-align: center;">Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disusun di malam hari, 7 Syawal 1431 H (15/09/2010) di Panggang &#8211; Gunung Kidul</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftnref1">[1]</a> HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftnref2">[2]</a> Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Al Qurthubah, 14/268.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftnref3">[3]</a> Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7/442.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftnref4">[4]</a> Tafsir Al Jalalain, Al Mahalli dan As Suyuthi, Mawqi’ At Tafasir, 12/360</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftnref5">[5]</a> Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 15/283</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftnref6">[6]</a> Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, hal. 70.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3190-maksiat-menggelapkan-hati.html#_ftnref7">[7]</a> Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 107.</p>
<div class="shr-publisher-7066"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fmaksiat-menggelapkan-hati.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fmaksiat-menggelapkan-hati.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fmaksiat-menggelapkan-hati.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/maksiat-menggelapkan-hati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Faedah Qona&#8217;ah</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-qonaah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-qonaah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 23:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[kaya hati]]></category>
		<category><![CDATA[qonaah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6968</guid>
		<description><![CDATA[a. Hati akan dipenuhi dengan keimanan kepada Allah Seorang yang qana’ah akan yakin terhadap ketentuan yang ditetapkan Allah ta’ala sehingga diapun ridha terhadap rezeki yang telah ditakdirkan dan dibagikan kepadanya. Hal ini erat kaitannya dengan<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-qonaah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>a. </strong><strong>Hati akan dipenuhi dengan keimanan kepada Allah</strong></p>
<p>Seorang yang qana’ah akan yakin terhadap ketentuan yang ditetapkan Allah ta’ala sehingga diapun ridha terhadap rezeki yang telah ditakdirkan dan dibagikan kepadanya. Hal ini erat kaitannya dengan keimanan kepada takdir Allah. Seorang yang qana’ah beriman bahwa Allah ta’ala telah menjamin dan membagi seluruh rezeki para hamba-Nya, bahkan ketika sang hamba dalam kondisi tidak memiliki apapun. Sehingga, dia tidak akan berkeluh-kesah mengadukan Rabb-nya kepada makhluk yang hina seperti dirinya.</p>
<p>Ibnu Mas’ud radhilallahu ‘anhu pernah mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ أَرْجَى مَا أَكُونُ لِلرِّزْقِ إِذَا قَالُوا لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ</p>
<p>“Momen yang paling aku harapkan untuk memperoleh rezeki adalah ketika mereka mengatakan, “Tidak ada lagi tepung yang tersisa untuk membuat makanan di rumah” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam].</p>
<p style="text-align: center;"> إِنَّ أَحْسَنَ مَا أَكُونُ ظَنًّا حِينَ يَقُولُ الْخَادِمُ: لَيْسَ فِي الْبَيْتِ قَفِيزٌ مِنْ قَمْحٍ وَلَا دِرْهَمٌ</p>
<p> “Situasi dimana saya mempertebal husnuzhanku adalah ketika pembantu mengatakan, “Di rumah tidak ada lagi gandum maupun dirham.” [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (34871); Ad Dainuri dalam Al Majalisah (2744); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (2/97)].</p>
<p>Imam Ahmad mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"> أَسَرُّ أَيَّامِي إِلَيَّ يَوْمٌ أُصْبِحُ وَلَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ</p>
<p> “Hari yang paling bahagia menurutku adalah ketika saya memasuki waktu Subuh dan saya tidak memiliki apapun.” [Shifatush Shafwah 3/345].</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Memperoleh kehidupan yang baik</strong></p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” [An-Nahl: 97].</p>
<p>Kehidupan yang baik tidaklah identik dengan kekayaan yang melimpah ruah. Oleh karenanya, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik dalam ayat di atas adalah Allah memberikannya rezeki berupa rasa qana’ah di dunia ini, sebagian ahli tafsir yang lain menyatakan bahwa kehidupan yang baik adalah Allah menganugerahi rezeki yang halal dan baik kepada hamba [Tafsir ath-Thabari 17/290; Maktabah asy-Syamilah].</p>
<p>Dapat kita lihat di dunia ini, tidak jarang, terkadang diri kita mengorbankan agama hanya untuk memperoleh bagian yang teramat sedikit dari dunia. Tidak jarang bahkan kita menerjang sesuatu yang diharamkan hanya untuk memperoleh dunia. Ini menunjukkan betapa lemahnya rasa qana’ah yang ada pada diri kita dan betapa kuatnya rasa cinta kita kepada dunia.</p>
<p>Tafsir kehidupan yang baik dengan anugerah berupa rezeki yang halal dan baik semasa di dunia menunjukkan bahwa hal itu merupakan nikmat yang harus kita usahakan. Harta yang melimpah ruah sebenarnya bukanlah suatu nikmat jika diperoleh dengan cara yang tidak diridhai oleh Allah. <strong>Tapi sayangnya, sebagian besar manusia berkeyakinan harta yang sampai ketangannya meski diperoleh dengan cara yang haram itulah rezeki yang </strong><strong>halal.</strong> Ingat, kekayaan yang dimiliki akan dimintai pertanggungjawaban dari dua sisi, yaitu bagaimana cara memperolehnya dan bagaimana harta itu dihabiskan. Seorang yang dianugerahi kekayaan melimpah ruah tentu pertanggungjawaban yang akan dituntut dari dirinya di akhirat kelak lebih besar.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Mampu merealisasikan syukur kepada Allah</strong></p>
<p>Seorang yang qana’ah tentu akan  bersyukur kepada-Nya atas rezeki yang diperoleh. Sebaliknya barangsiapa yang memandang sedikit rezeki yang diperolehnya, justru akan sedikit rasa syukurnya, bahkan terkadang dirinya berkeluh-kesah. Nabi pun mewanti-wanti kepada Abu Hurairah,</p>
<p style="text-align: center;">يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ</p>
<p>“Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling taat. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling bersyukur” [HR. Ibnu Majah: 4217].</p>
<p>Seorang yang berkeluh-kesah atas rezeki yang diperolehnya, sesungguhnya tengah berkeluh-kesah atas pembagian yang telah ditetapkan Rabb-nya. Barangsiapa yang mengadukan minimnya rezeki kepada sesama makhluk, sesungguhnya dirinya tengah memprotes Allah kepada makhluk. Seseorang pernah mengadu kepada sekelompok orang perihal kesempitan rezeki yang dialaminya, maka salah seorang diantara mereka berkata, “Sesungguhnya engkau ini tengah mengadukan Zat yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu” [Uyun al-Akhbar karya Ibnu Qutaibah 3/206].</p>
<p><strong>d. </strong><strong>Memperoleh keberuntungan</strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa seorang yang qana’ah akan mendapatkan keberuntungan.</p>
<p>Fudhalah bin Ubaid radhiallalahu ‘anhu pernah mendengar nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الإِسْلَامِ، وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا وَقَنَعَ</p>
<p>“Keberuntungan bagi seorang yang diberi hidayah untuk memeluk Islam, kehidupannya cukup dan dia merasa qana’ah dengan apa yang ada” [HR. Ahmad 6/19; Tirmidzi 2249].</p>
<p>Abdullah bin Amr mengatakan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ</p>
<p>“Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, diberi rezki yang cukup dan Allah menganugerahi sifat qana’ah atas apa yang telah diberikan-Nya” [HR. Muslim: 1054; Tirmidzi: 2348].</p>
<p><strong>e. </strong><strong>Terjaga dari berbagai dosa</strong></p>
<p>Seorang yang qana’ah akan terhindar dari berbagai akhlak buruk yang dapat mengikis habis pahala kebaikannya seperti hasad, namimah, dusta dan akhlak buruk lainnya. Faktor terbesar yang mendorong manusia melakukan berbagai akhlak buruk tersebut adalah tidak merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, tamak akan dunia dan kecewa jika bagian dunia yang diperoleh hanya sedikit. Semua itu berpulang pada minimnya rasa qana’ah.</p>
<p>Jika seseorang memiliki sifat qana’ah, bagaimana bisa dia melakukan semua akhlak buruk di atas? Bagaimana bisa dalam hatinya timbul kedengkian, padahal dia telah ridha terhadap apa yang  telah ditakdirkan Allah?</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud radhiallalhu ‘anhu mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ، وَلَا تَحْسُدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ، وَلَا تَلُمْ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ، فَإِنَّ الرِّزْقَ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهَةُ كَارِهٍ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى – بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ وَحُكْمِهِ – جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسُّخْطِ</p>
<p> “Al Yaqin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, engkau tidak dengki kepada seorangpun atas rezeki yang ditetapkan Allah, dan tidak mencela seseorang atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki tidak akan diperoleh dengan ketamakan seseorang dan tidak akan tertolak karena kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah ta’ala –dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya- menjadikan ketenangan dan kelapangan ada di dalam rasa yakin dan ridha kepada-Nya sserta menjadikan kegelisahan dan kesedihan ada di dalam keragu-raguan (tidak yakin atas takdir Allah) dan kebencian (atas apa yang telah ditakdirkan Allah)” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (118) dan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (209)].</p>
<p>Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Saya menjumpai yang mengalami kesedihan berkepanjangan adalah mereka yang hasad sedangkan yang memperoleh ketenangan hidup adalah mereka yang qana’ah” [Al Qana’ah karya Ibnu as-Sunni hlm. 58].</p>
<p><strong>f. </strong><strong>Kekayaan sejati terletak pada sifat qana’ah</strong></p>
<p>Qana’ah adalah kekayaan sejati. Oleh karenanya, Allah menganugerahi sifat ini kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">وَوَجَدَكَ عَائِلًا فأغنى</p>
<p>“Dan Dia menjumpaimu dalam keadaan tidak memiliki sesuatu apapun, kemudian Dia member kekayaan (kecukupan) kepadamu” [Adh-Dhuha: 8].</p>
<p>Ada ulama yang mengartikan bahwa kekayaan dalam ayat tersebut adalah kekayaan hati, karena ayat ini termasuk ayat Makkiyah (diturunkan sebelum nabi hijrah ke Madinah). Dan pada saat itu, sudah dimaklumi bahwa nabi memiliki harta yang minim [Fath al-Baari 11/273].</p>
<p>Hal ini selaras dengan hadits-hadits nabi yang menjelaskan bahwa kekayaan sejati itu letaknya di hati, yaitu sikap qana’ah atas apa yang diberikan-Nya, bukan terletak pada kuantitas harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ</p>
<p>“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya kemewahan dunia, akan tetapi kekayaan hakiki adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)” [HR. Bukhari: 6446; Muslim: 1051].</p>
<p>Abu Dzar radhiallalhu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Wahai Abu Dzar apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itu adalah kekakayaan sebenarnya?” Saya menjawab, “Iya, wahai rasulullah.” Beliau kembali bertanya, “Dan apakah engkau beranggapan bahwa kefakiran itu adalah dengan sedikitnya harta?” Diriku menjawab, “Benar, wahai rasulullah.” Beliau pun menyatakan, “Sesungguhnya kekayaan itu adalah dengan kekayaan hati dan kefakiran itu adalah dengan kefakiran hati” [HR. An-Nasaai dalam al-Kubra: 11785; Ibnu Hibban: 685].</p>
<p>Apa yang dinyatakan di atas dapat kita temui dalam realita kehidupan sehari-hari. Betapa banyak mereka yang diberi kenikmatan duniawi yang melimpah ruah, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri dan keturunannya selama berpuluh-puluh tahun, namun tetap tidak merasa cukup sehingga ketamakan telah merasuk ke dalam urat nadi mereka. Dalam kondisi demikian, bagaimana lagi dia bisa perhatian terhadap kualitas keagamaan yang dimiliki, bukankah waktunya dicurahkan untuk memperoleh tambahan dunia?</p>
<p>Sebaliknya, betapa banyak mereka yang tidak memiliki apa-apa dianugerahi sifat qana’ah sehingga merasa seolah-olah dirinyalah orang terkaya di dunia, tidak merendahkan diri di hadapan sesama makhluk atau menempuh jalan-jalan yang haram demi memperbanyak kuantitas harta yang ada.</p>
<p>Rahasianya terletak di hati sebagaimana yang telah dijelaskan. Oleh karena pentingnya kekayaan hati ini, Umar radhilallahu ‘anhu pernah berpesan dalam salah satu khutbahnya,</p>
<p style="text-align: center;">تَعْلَمُونَ أَنَّ الطَّمَعَ فَقْرٌ، وَأَنَّ الْإِيَاسَ غِنًى، وَإِنَّهُ مَنْ أَيِسَ مِمَّا عِنْدَ النَّاسِ اسْتَغْنَى عَنْهُمْ</p>
<p>“Tahukah kalian sesungguhnya ketamakan itulah kefakiran dan sesungguhnya tidak berangan-angan panjang merupakan kekayaan. Barangsiapa yang tidak berangan-angan memiliki apa yang ada di tangan manusia, niscaya dirinya tidak butuh kepada mereka” [HR. Ibnu al-Mubarak dalam az-Zuhd: 631].</p>
<p>Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu pernah berwasiat kepada putranya, “Wahai putraku, jika dirimu hendak mencari kekayaan, carilah dia dengan qana’ah, karena qana’ah merupakan harta yang tidak akan lekang” [Uyun al-Akhbar : 3/207].</p>
<p>Abu Hazim az-Zahid pernah ditanya,</p>
<p>مَا مَالُكَ؟</p>
<p>“Apa hartamu”,</p>
<p>beliau menjawab,</p>
<p>لِي مَالَانِ لَا أَخْشَى مَعَهُمَا الْفَقْرَ: الثِّقَةُ بِاللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ</p>
<p>“Saya memiliki dua harta dan dengan keduanya saya tidak takut miskin. Keduanya adalah ats-tsiqqatu billah (yakin kepada Allah atas rezeki yang dibagikan) dan tidak mengharapkan harta yang dimiliki oleh orang lain [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (963); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah 3/231-232].</p>
<p>Sebagian ahli hikmah pernah ditanya, “Apakah kekayaan itu?” Dia menjawab, “Minimnya angan-anganmu dan engkau ridha terhadap rezeki yang mencukupimu” [Ihya ‘Ulum ad-Diin 3/212].</p>
<p><strong>g. </strong><strong>Memperoleh kemuliaan</strong></p>
<p>Kemuliaan terletak pada sifat qana’ah sedangkan kehinaan terletak pada ketamakan. Mengapa demikian, karena seorang yang dianugerahi sifat qana’ah tidak menggantungkan hidupnya pada manusia, sehingga dirinya pun dipandang mulia. Adapun orang yang tamak justru akan menghinakan dirinya di hadapan manusia demi dunia yang hendak diperolehnya. Jibril ‘alaihissalam pernah berkata,</p>
<p style="text-align: center;">يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ</p>
<p>“Wahai Muhammad, kehormatan seorang mukmin terletak pada shalat malam dan kemuliaannya terletak pada ketidakbergantungannya pada manusia” [HR. Hakim: 7921].</p>
<p>Al Hasan berkata,</p>
<p style="text-align: center;">لَا تَزَالُ كَرِيمًا عَلَى النَّاسِ – أَوْ لَا يَزَالُ النَّاسُ يُكْرِمُونَكَ مَا لَمْ تُعَاطِ مَا فِي أَيْدِيهِمْ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ اسْتَخَفُّوا بِكَ، وَكَرِهُوا حَدِيثَكَ وَأَبْغَضُوكَ</p>
<p>“Engkau akan senantiasa mulia di hadapan manusia dan manusia akan senantiasa memuliakanmu selama dirimu tidak tamak terhadap harta yang mereka miliki. Jika engkau melakukannya, niscaya mereka akan meremehkanmu, membenci perkataanmu dan memusuhimu” [Al-Hilyah: 3/20].</p>
<p>Al Hafizh Ibnu Rajab mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">وَقَدْ تَكَاثَرَتِ الْأَحَادِيثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْأَمْرِ بِالِاسْتِعْفَافِ عَنْ مَسْأَلَةِ النَّاسِ وَالِاسْتِغْنَاءِ عَنْهُمْ، فَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ مَا بِأَيْدِيهِمْ، كَرِهُوهُ وَأَبْغَضُوهُ؛ لِأَنَّ الْمَالَ مَحْبُوبٌ لِنُفُوسِ بَنِي آدَمَ، فَمَنْ طَلَبَ مِنْهُمْ مَا يُحِبُّونَهُ، كَرِهُوهُ لِذَلِكَ</p>
<p> “Begitu banyak hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk bersikap ‘iifah (menjaga kehormatan) untuk tidak meminta-minta dan tidak bergantung kepada manusia. Setiap orang yang meminta harta orang lain, niscaya mereka akan tidak suka dan membencinya, karena harta merupakan suatu hal yang amat dicintai oleh jiwa anak Adam. Oleh karenanya, seorang yang meminta orang lain untuk memberikan apa yang disukainya, niscaya mereka akan membencinya” [Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam 2/205].</p>
<p>Kepemimpinan dalam agama yang identik dengan kemuliaan pun dapat diperoleh jika seorang ‘alim tidak menggantungkan diri kepada manusia, sehingga mereka tidak direpotkan dengan berbagai kebutuhan hidup yang dituntutnya. Seyogyanya manusia membutuhkan sang ‘alim karena ilmu, fatwa dan nasehatnya. Mereka bukannya butuh ketamakan dari sang ‘alim. Seorang Arab badui pernah bertanya kepada penduduk Bashrah,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ سَيِّدُ أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ؟ قَالُوا: الْحَسَنُ، قَالَ: بِمَا سَادَهُمْ؟ قَالُوا: احْتَاجَ النَّاسُ إِلَى عِلْمِهِ، وَاسْتَغْنَى هُوَ عَنْ دُنْيَاهُمْ</p>
<p>“Siapa tokoh agama di kota ini?” Penduduk Bashrah menjawab, “Al Hasan.” Arab badui bertanya kembali, “Dengan apa dia memimpin mereka?” Mereka menjawab, “Manusia butuh kepada ilmunya, sedangkan dia tidak butuh dunia yang mereka miliki” [Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam 2/206].</p>
<p>Sumber: <em>Al Qana’ah, Mafhumuha, Manafi’uha, ath-Thariqu ilaiha karya Ibrahim bin Muhammad al-Haqil</em> disertai beberapa penambahan.</p>
<p>Penulis: <a href="http://ikhwanmuslim.com">Muhammad Nur Ichwan Muslim</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6968"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2F7-faedah-qonaah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2F7-faedah-qonaah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2F7-faedah-qonaah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/7-faedah-qonaah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

