<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Tafsir</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/tafsir/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pria yang Tidak Lalai dari Mengingat Allah</title>
		<link>http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 04:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8203</guid>
		<description><![CDATA[Inilah sifat pria yang tidak lalai dari mengingat Allah. Kesibukan dunia mereka tidak membuat mereka berpaling dari ketaatan dan perintah Allah. Perdagangan dan jual beli pun tidak membuat mereka jauh dari Allah. Ketika ada panggilan<a class="more" href="http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Inilah sifat pria yang tidak lalai dari mengingat Allah. Kesibukan dunia mereka tidak membuat mereka berpaling dari ketaatan dan perintah Allah. Perdagangan dan jual beli pun tidak membuat mereka jauh dari Allah. Ketika ada panggilan shalat, mereka pun memenuhi panggilan tersebut. Dan lisan mereka tidaklah lepas dari <em>dzikrullah</em>.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ</p>
<p>“<em>Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.</em>” (QS. An Nur: 37)</p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di <em>rahimahullah </em>menerangkan,</p>
<p>Ia adalah pria yang dunianya tidak membuatnya jauh dari Rabbnya. Sama sekali kesibukan perniagaan dan mencari nafkah tidaklah mempengaruhinya. <em>Tijaroh</em> (perniagaan) di sini mencakup segala bentuk perdagangan untuk meraih upah. Sedangkan <em>bai’</em> (jual beli) adalah bentuk lebih khusus dari perniagaan. Karena dalam perniagaan lebih banyak ditemukan transaksi jual beli. Pujian pada pria di sini bagi mereka yang berdagang dan melakukan jual beli, dan asalnya perbuatan tersebut tidaklah terlarang. Meskipun tidak terlarang, akan tetapi hal-hal tadi tidaklah mempengaruhi mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Bahkan mereka menjadikan ibadah dan ketaatan pada Allah sebagian tujuan hidup mereka. Jadi perdagangan tadi tidaklah sama sekali menghalangi mereka menggapai ridho Allah.</p>
<p>Namun hati kebanyakan orang adalah sangat menaruh perhatian pada dunia. Mereka sangat mencintai penghidupan mereka. Dan sangat sulit mereka –pada umumnya- meninggalkan dunia mereka. Bahkan mereka pun bersusah payah hingga meninggalkan kewajiban pada Allah. Berbeda dengan yang disebutkan dalam ayat ini, <em>mereka begitu takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang</em>. Karena mengingat kegoncangan hari kiamat tersebut, akhirnya mereka pun semakin mudah beramal dan meninggalkan hal yang melalaikan mereka dari Allah. (Taisir Al Karimir Rahman, 569)</p>
<p>Yang dimaksud dengan dzikir pada Allah (<em>dzikrullah</em>) dalam ayat di atas, ada tiga pendapat:</p>
<ol start="1">
<li>Shalat lima waktu</li>
<li>Mengerjakan hak Allah</li>
<li>Dzikir pada Allah dengan lisan.</li>
</ol>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan menegakkan shalat adalah mengerjakan tepat waktu dan menyempurnakannya. (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi)</p>
<p>Sa’id bin Abul Hasan dan Adh Dhohak berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">لا تلهيهم التجارة والبيع أن يأتوا الصلاة في وقتها</p>
<p>“Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka perniagaan dan jual beli tidaklah membuat mereka lalai dari mendatangi shalat tepat pada waktunya.”</p>
<p>Mathor Al Warroq berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">كانوا يبيعون ويشترون، ولكن كان أحدهم إذا سمع النداء وميزانُه في يده خفضه، وأقبل إلى الصلاة.</p>
<p>“Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka biasa melakukan jual beli. Akan tetapi jika mereka mendengar adzan lalu timbangan dagangan mereka berada di tangan mereka, mereka pun meninggalkannya. Lalu mereka memenuhi panggilan shalat.”</p>
<p>As Suddi mengatakan mengenai ayat tersebut,</p>
<p dir="RTL" align="center">عن الصلاة في جماعة</p>
<p>“Mereka tidak lalai dari shalat jama’ah” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 252-253)</p>
<p>Dalam ayat disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ</p>
<p><em>“Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. </em>Yaitu hati mereka dalam keadaan khawatir apakah mereka akan selamat ataukah celaka. Dan penglihatan mereka pun kebingungan melihat kiri dan kanan. (Tafsir Al Jalalain)</p>
<p>Ayat di atas serupa dengan ayat,</p>
<p dir="RTL" align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.</em>” (QS. Al Munafiqun: 9)</p>
<p dir="RTL" align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui</em>.” (QS. Al Jum’ah: 9)</p>
<p>Apa balasan Allah pada laki-laki yang punya sifat demikian?</p>
<p dir="RTL" align="center">لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p>“<em>(Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.</em>” (QS. An Nur: 38). Jika disebut seseorang berinfak tanpa batas, maksudnya karena saking banyaknya sehingga infak yang diberikan tidak bisa dihitung (Lihat Tafsir Al Jalalain).</p>
<p align="center"><em>Ya Allah, jadikanlah kami seperti yang disebutkan dalam ayat ini. </em></p>
<p align="center"><em>Semoga perdagangan dan kesibukan kami mencari nafkah tidak membuat kami lalai dari mengingat Allah, shalat pada waktunya dan kewajiban lainnya. Semoga lisan ini pun dimudahkan untuk selalu sibuk dengan dzikir mengingat Allah di kala waktu senggang dan waktu sibuk.</em></p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Riyadh KSA, 4 Muharram 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8203"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fpria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fpria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fpria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Celakalah Al Maa&#8217;un, Orang yang Pelit</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/celakalah-al-maaun-orang-yang-pelit.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/celakalah-al-maaun-orang-yang-pelit.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 23:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[al maa'un]]></category>
		<category><![CDATA[pelit]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8148</guid>
		<description><![CDATA[Ulama fikih membahas dalam kitab al buyu&#8217; satu pembahasan yang disebut &#8216;aariyah. Yang dimaksud &#8216;aariyah adalah pemilik barang membolehkan barangnya dimanfaatkan oleh pihak lain tanpa ada upah. Istilah gampangnya, &#8216;aariyah artinya meminjamkan. Seperti misalnya meminjamkan<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/celakalah-al-maaun-orang-yang-pelit.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Ulama fikih membahas dalam kitab al buyu&#8217; satu pembahasan yang disebut &#8216;aariyah. Yang dimaksud &#8216;aariyah adalah pemilik barang membolehkan barangnya dimanfaatkan oleh pihak lain tanpa ada upah. Istilah gampangnya, &#8216;aariyah artinya meminjamkan. Seperti misalnya meminjamkan laptop pada teman dan teman tersebut tidak dikenakan biaya apa-apa. Nah, orang yang enggan memberikan pinjaman pada saudaranya yang lain, padahal ia sebenarnya tidak lagi membutuhkan barang tersebut, alias ia pelit pinjamkan barang, inilah yang disebut <em>al maa&#8217;uun</em>. Inilah istilah yang sering kita dengar dalam surat pendek yaitu surat Al Maa&#8217;un.</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)</p>
<p>&#8220;<em>Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya&#8217;  dan enggan (menolong dengan) barang berguna</em>.&#8221; (QS. Al Maa&#8217;uun: 1-7). Jika lihat dari terjemahan Al Qur&#8217;an, al maa&#8217;uun diterjemahkan dengan orang yang enggan menolong dengan barang berguna. Namun memang, para ulama tafsir berbeda pendapat dalam mendefinisikan al maa&#8217;uun. Sebagian berkata bahwa al maa&#8217;uun bermakna orang yang enggan bayar zakat. Yang lain lagi mengatakan bahwa maksud al maa&#8217;uun adalah orang yang enggan taat. Yang lainnya lagi berkata sebagaimana yang kami maksudkan yaitu &#8220;يمنعون العارية&#8221;, mereka yang enggan meminjamkan barang kepada orang lain (di saat saudaranya butuh). Tafsiran terakhir ini sebagaimana yang dikatakan oleh &#8216;Ali bin Abi Tholib, yaitu jika ada yang ingin meminjam timba, periuk atau kampaknya, maka ia enggan meminjamkannya. Perkataan yang lebih umum tentang al maa&#8217;uun adalah enggan menolong orang lain dengan harta atau sesuatu yang bermanfaat. (Lihat Tafsir Al Qur&#8217;an Al &#8216;Azhim, 14/473).</p>
<p>Dalam sunan Abu Daud disebutkan riwayat dari &#8216;Abdullah, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center"> كُنَّا نَعُدُّ الْمَاعُونَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَارِيَةَ الدَّلْوِ وَالْقِدْرِ.</p>
<p>&#8220;Kami menganggap al maa&#8217;uun di masa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah yang berkaitan dengan &#8216;<em>aariyah </em>(yaitu barang yang dipinjam) berupa timba atau periuk.&#8221; (HR. Abu Daud no. 1657, hasan kata Syaikh Al Albani)</p>
<p><strong>Harus Menjaga Amanat</strong></p>
<p>Jika kita dipinjami barang oleh orang lain, hendaklah kita memegang amanat tersebut dengan baik. Cara memegang amanat tersebut adalah menjaga barang pinjaman dengan baik. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p align="center">إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya</em>&#8221; (QS. An Nisa&#8217;: 58)</p>
<p>Para ulama jelaskan bahwa jika barang pinjaman tersebut rusak, maka bukan menjadi tanggung jawab si peminjam kecuali jika: (1) si peminjam ceroboh, atau (2) si pemilik barang memberi syarat jika barang pinjaman tersebut rusak, maka si peminjam harus menggantinya (Lihat Al Wajiz, Syaikh Abdul &#8216;Azhim Badawi, 451-452). Alasannya adalah dari hadits riwayat Abu Daud, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>katakan mengenai barang pinjaman bahwa barang pinjaman itu,</p>
<p align="center">بَلْ مُؤَدَّاةً</p>
<p>&#8220;<em>Barang pinjaman itu sifatnya muaddah</em>&#8221; (HR. Abu Daud no. 3566, shahih kata Syaikh Al Albani), yaitu jika barang pinjaman rusak maka si peminjam tidak bertanggung jawab menggantinya kecuali jika karena salah satu dari dua alasan di atas. Mengapa demikian? Karena akad &#8216;<em>aariyah </em>di sini sifatnya adalah memberikan amanat pada orang lain. Sebagaimana wadi&#8217;ah (menitipkan barang), aariyah juga semisal itu, jika rusak maka tidak menjadi tanggung jawab si peminjam kecuali jika karena kecerobohannya.</p>
<p>Demikian faedah singkat yang kami peroleh dari pelajaran kitab buyu&#8217; (jual beli) Al Wajiz. Moga kita tidak menjadi orang yang pelit meminjamkan kepunyaan kita pada orang lain apalagi di saat saudara kita perlu dan bisa menjaga amanat dengan baik.</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Warnet Dojo-Pogung Kidul, 19 Sya&#8217;ban 1432 H (21/07/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8148"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fcelakalah-al-maaun-orang-yang-pelit.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fcelakalah-al-maaun-orang-yang-pelit.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fcelakalah-al-maaun-orang-yang-pelit.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/celakalah-al-maaun-orang-yang-pelit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Paling Mulia, Yang Paling Bertakwa</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/yang-paling-mulia-yang-paling-bertakwa.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/yang-paling-mulia-yang-paling-bertakwa.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 03:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[bertakwa]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7187</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Mungkin ada yang menyangka bahwa yang paling mulia adalah yang kaya harta, dari golongan konglomerat, yang cantik rupawan,<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/yang-paling-mulia-yang-paling-bertakwa.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Mungkin ada yang menyangka bahwa yang paling mulia adalah yang kaya harta, dari golongan konglomerat, yang cantik rupawan, yang punya jabatan tinggi, berasal dari keturunan Arab atau bangsawan. Namun, Allah sendiri menegaskan yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.</p>
<p>Ayat yang patut jadi renungan saat ini adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center">يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
<p>“<em>Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. <span style="text-decoration: underline;">Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu</span>. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal</em>.” (QS. Al Hujurat: 13)</p>
<p>Ath Thobari <em>rahimahullah</em> berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thobari, 21:386)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata,  “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari keturunan kalian” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 169)</p>
<p>Sahabat Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">كرم الدنيا الغنى، وكرم الآخرة التقوى.</p>
<p>“<em>Mulianya seseorang di dunia adalah karena kaya. Namun muliany seseorang di akhirat karena takwanya</em>.” Demikian dinukil dalam tafsir Al Baghowi. (Ma’alimut Tanzil, 7: 348)</p>
<p>Kata Al Alusi, ayat ini berisi larangan untuk saling berbangga dengan keturunan. Al Alusi <em>rahimahulah </em>berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di antara kalian di sisi Allah di dunia maupun di akhirat adalah yang paling bertakwa. Jika kalian ingin saling berbangga, saling berbanggalah dengan takwa (kalian).” (Ruhul Ma’ani, 19: 290)</p>
<p>Dalam tafsir Al Bahr Al Muhith (10: 116) disebutkan, “Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagaimana yang disebutkan dalam ayat (yaitu ada yang berasal dari non Arab dan ada yang Arab). Hal ini bertujuan supaya kalian saling mengenal satu dan lainnya walau beda keturunan. Janganlah kalian mengklaim berasal dari keturunan yang lain. Jangan pula kalian berbangga dengan mulianya nasab bapak atau kakek kalian. Salinglah mengklaim siapa yang paling mulia dengan takwa.”</p>
<p>Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani <em>rahimahullah </em>berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Yang bertakwa itulah yang berhak menyandang kemuliaan, yaitu lebih mulia dari orang yang tidak memiliki sifat takwa. Dialah yang paling mulia dan tinggi kedudukannya (di sisi Allah). Jadi, klaim kalian dengan saling berbangga pada nasab kalian yang mulia, maka itu bukan menunjukkan kemuliaan. Hal itu tidak menunjukkan seseorang lebih mulia dan memiliki kedudukan utama (di sisi Allah).” (Fathul Qodir, 7: 20)</p>
<p>Dalam tafsir Al Jalalain (528) disebutkan, “Janganlah kalian saling berbangga dengan tingginya nasab kalian. Seharusnya kalian saling berbangga manakah di antara kalian yang paling bertakwa.”</p>
<p>Syaikh As Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, “Allah menjadikan kalian berbeda bangsa dan suku (ada yang Arab dan ada yang non Arab) supaya kalian saling mengenal dan mengetahui nasab satu dan lainnya. Namun kemuliaan diukur dari takwa. Itulah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, yang rajin melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Standar kemuliaan (di sisi Allah) bukan dilihat dari kekerabatan dan kaum, bukan pula dilihat dari sisi nasab yang mulia. Allah pun Maha Mengetahui dan Maha Mengenal. Allah benar-benar tahu siapa yang bertakwa  secara lahir dan batin, atau yang bertakwa secara lahiriyah saja, namun tidak secara batin. Allah pun akan membalasnya sesuai realita yang ada.” (Taisir Al Karimir Rahman, 802)</p>
<p>Banyak hadits pula yang menyebutkan hal di atas, yaitu semulia-mulia manusia adalah yang paling bertakwa.</p>
<p dir="RTL" align="center">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أَىُّ النَّاسِ أَكْرَمُ قَالَ « أَكْرَمُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَأَكْرَمُ النَّاسِ يُوسُفُ نَبِىُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونِى » . قَالُوا نَعَمْ . قَالَ « فَخِيَارُكُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوا »</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya, “<em>Siapakah orang yang paling mulia?</em>” “<em>Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka</em>”, jawab Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Orang tersebut berkata, “<em>Bukan itu yang kami tanyakan</em>”. “<em>Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya</em>”, jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi, “<em>Bukan itu yang kami tanyakan</em>”. “<em>Apa dari keturunan Arab?</em>”, tanya beliau. Mereka menjawab, “<em>Iya betul</em>”. Beliau bersabada, “<em>Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama)</em>.” (HR. Bukhari no. 4689)</p>
<p dir="RTL" align="center">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ».</p>
<p>Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian</em>.” (HR. Muslim no. 2564)</p>
<p align="center">عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَهُ « انْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلاَ أَسْوَدَ إِلاَّ أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى »</p>
<p>Dari Abu Dzar, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR. Ahmad, 5: 158. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em> dilihat dari sanad lain)</p>
<p>Bukan kulit putih membuat kita mulia, bukan pula karena kita keturunan darah biru, keturunan Arab, atau anak konglomerat. Yang membuat kita mulia adalah karena takwa. Semoga pelajaran tentang ayat yang mulia ini bermanfaat dan bisa kita renungkan serta realisasikan. <em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p align="center"><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Sabic Lab Riyadh KSA, 27 Dzulqo’dah 1432 H (25/10/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.</li>
<li>Ma’alimut Tanzil, Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi, terbitan Dar Thoyyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H</li>
<li>Ruhul Ma’ani fii Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim was Sab’il Matsanii, Mahmud bin ‘Abdullah Al Husaini Al Alusi, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.</li>
<li>Tafsir Al Bahr Al Muhith, Abu Hayan Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali bin Yusuf bin Hayyan, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.</li>
<li>Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi, terbitan Darus Salam, cetakan kedua, 1422 H.</li>
<li>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi, terbitan Muassasah Qurthubah.</li>
<li>Tafsir Ath Thobari Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Hijr.</li>
<li>Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Naashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.</li>
</ol>
<div class="shr-publisher-7187"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fyang-paling-mulia-yang-paling-bertakwa.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fyang-paling-mulia-yang-paling-bertakwa.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fyang-paling-mulia-yang-paling-bertakwa.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/yang-paling-mulia-yang-paling-bertakwa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tampakkanlah Nikmat Allah</title>
		<link>http://muslim.or.id/tafsir/tampakkanlah-nikmat-allah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tafsir/tampakkanlah-nikmat-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 05:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[adh dhuha]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7171</guid>
		<description><![CDATA[Bagian syukur dari nikmat adalah dengan menampakkan nikmat tersebut secara lahiriyah. Bukan malah kita menjadi orang pelit dan pura-pura “kere” (miskin). Kalau memang Allah beri kelapangan rizki, nampakkanlah nikmat tersebut pada makanan dan pakaian kita.<a class="more" href="http://muslim.or.id/tafsir/tampakkanlah-nikmat-allah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Bagian syukur dari nikmat adalah dengan menampakkan nikmat tersebut secara lahiriyah. Bukan malah kita menjadi orang pelit dan pura-pura “kere” (miskin). Kalau memang Allah beri kelapangan rizki, nampakkanlah nikmat tersebut pada makanan dan pakaian kita.</p>
<p align="center">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p align="center">وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ</p>
<p align="center">“<em>Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan</em>.” (QS. Adh Dhuha: 11).</p>
<p>Berikut beberapa pendapat ulama mengenai ayat di atas.</p>
<p>Dari Abu Nadhroh, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">كان المسلمون يرون أن من شكر النعم أن يحدّث بها.</p>
<p>“Dahulu kaum muslimin menganggap dinamakan mensyukuri nikmat adalah dengan seseorang menyiarkan (menampakkan) nikmat tersebut.” Diriwayatkan oleh Ath Thobari dalam kitab tafsirnya, Jaami’ Al Bayaan ‘an Ta’wili Ayyil Qur’an (24: 491).</p>
<p>Al Hasan bin ‘Ali berkata mengenai ayat di atas,</p>
<p align="center">ما عملت من خير فَحَدث إخوانك</p>
<p>“Kebaikan apa saja yang kalian perbuat, maka siarkanlah pada saudara kalian.” Disebutkan oleh Ibnu Katsir, dari Laits, dari seseorang, dari Al Hasan bin ‘Ali (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 387).</p>
<p>Tentu saja nikmat atau kebaikan disampaikan pada orang lain jika mengandung maslahat, bukan dalam rangka menyombongkan diri dan pamer atau ingin cari muka (cari pujian, alias “riya’ “). Lihat perkataan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam kitab tafsirnya, “Yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup nikmat din (akhirat) maupun nikmat dunia. Adapun “<em>fahaddits</em>” bermakna “pujilah Allah atas nikmat tersebut”. Bentuk syukur di sini adalah dengan lisan dan disebut khusus dalam ayat, dibolehkan <span style="text-decoration: underline;">jika memang mengandung maslahat</span>. Namun boleh juga penampakkan nikmat ini secara umum (tidak hanya dengan lisan). Karena menyebut-nyebut nikmat Allah adalah tanda seseorang bersyukur. Perbuatan semacam ini membuat hati seseorang semakin cinta pada pemberi nikmat (yaitu Allah <em>Ta’ala</em>). Itulah tabiat hati yang selalu mencintai orang yang berbuat baik padanya.” (Taisir Al Karimir Rahman, 928)</p>
<p>Ulama besar dari negeri ‘Unaizah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin dalam tafsir Juz ‘Amma menjelaskan, “<em>Tahadduts ni’mah</em> (menyebut-nyebut nikmat Allah) adalah dengan ditampakkan yaitu dilakukan dalam rangka syukur kepada pemberi nikmat (yaitu Allah <em>Ta’ala</em>), bukan dalam rangka menyombongkan diri pada yang lain. Karena jika hal itu dilakukan karena sombong, maka itu jadi tercela.”</p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <em>rahimahullah</em> memberikan penjelasan menarik tentang ayat di atas. Beliau <em>rahimahullah</em> berkata, “Allah memerintahkan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk menyebut-nyebut nikmat yang Allah berikan. Nikmat itu disyukuri dengan ucapan dan juga ditampakkan dengan amalan. <em>Tahadduts ni’mah</em> (menyiarkan nikmat) dalam ayat tersebut berarti seperti seorang muslim mengatakan, “Alhamdulillah, saya dalam keadaan baik. Saya memiliki kebaikan yang banyak. Allah memberi saya nikmat yang banyak. Aku bersyukur pada Allah atas nikmat tersebut.”</p>
<p>Tidak baik seseorang mengatakan dirinya itu miskin (fakir), tidak memiliki apa-apa. Seharusnya ia bersyukur pada Allah dan <em>tahadduts ni’mah</em> (siarkan nikmat tersebut). Hendaklah ia yakin bahwa kebaikan tersebut Allah-lah yang memberi. Jangan ia malah menyebut-nyebut dirinya itu tidak memiliki harta dan pakaian. Janganlah mengatakan seperti itu. Namun hendaklah ia menyiarkan nikmat yang ada, lalu ia bersyukur pada Allah <em>Ta’ala</em>. Jika Allah memberi pada seseorang nikmat, hendaklah ia menampakkan nikmat tersebut dalam pakaian, makanan dan minumnya. Itulah yang Allah suka. Jangan menampakkan diri seperti orang miskin (kere). Padahal Allah telah memberi dan melapangkan harta. Jangan pula ia berpakaian atau mengonsumsi makanan seperti orang kere (padahal keadaan  dirinya mampu, pen). Yang seharusnya dilakukan adalah menampakkan nikmat Allah dalam makanan, minuman dan pakaiannya. Namun hal ini jangan dipahami bahwa kita diperintahkan untuk berlebih-lebihan, melampaui batas dan boros.” [Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah, juz ke-4, <a href="http://www.ibnbaz.org.sa/mat/32">http://www.ibnbaz.org.sa/mat/32</a>]</p>
<p>Semoga kita diberi taufik untuk merealisasikan syukur kepada Allah.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh KSA</p>
<p>28 Dzulqo’dah 1432 H (26/10/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Tafsir Ath Thobari Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Hijr.</li>
<li>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi, terbitan Muassasah Qurthubah.</li>
<li>Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Naashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.</li>
<li>Tafsir Juz ‘Amma, Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, Asy Syamilah.</li>
<li>Mawqi’ Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, <a href="http://www.ibnbaz.org.sa/">www.ibnbaz.org.sa</a>.</li>
</ol>
<div class="shr-publisher-7171"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Ftampakkanlah-nikmat-allah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Ftampakkanlah-nikmat-allah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Ftampakkanlah-nikmat-allah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tafsir/tampakkanlah-nikmat-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waspadailah Penghapus Pahala Sedekah</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/waspadailah-penghapus-pahala-sedekah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/waspadailah-penghapus-pahala-sedekah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 22:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6729</guid>
		<description><![CDATA[Di antara amal kebaikan yang banyak dilakukan kaum muslimin di bulan Ramadhan adalah memberi sedekah. Tidak diragukan lagi bahwa bersedekah di bulan mulia ini memiliki nilai lebih tersendiri. Namun perlu diwaspadai, jangan sampai pahala sedekah<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/waspadailah-penghapus-pahala-sedekah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Di antara amal kebaikan yang banyak dilakukan kaum muslimin di bulan Ramadhan adalah memberi sedekah. Tidak diragukan lagi bahwa bersedekah di bulan mulia ini memiliki nilai lebih tersendiri. Namun perlu diwaspadai, jangan sampai pahala sedekah yang melimpah menjadi terhapus sia-sia. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Pembaca yang budiman, Allah </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>ta’ala</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> mengingatkan kita dalam firman-Nya :</span></span></p>
<p style="text-align: center;" align="RIGHT"><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: medium;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir </em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">. “ (Al Baqarah:264)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><strong>[Tiga Perbuatan Penghapus Pahala Sedekah]</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Dalam ayat di atas, Allah menjelasakan ada tiga perbuatan yang dapat menghapus pahala sedekah :</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertama. </strong></span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;">Menyebut-nyebut pemberian sedekah</span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">. </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><strong>( </strong></span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: small;"><strong>ِالْمَنِّ</strong></span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><strong>) </strong></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em><strong>al mann</strong></em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> : maksudnya adalah menyebut-nyebut pemberian sedekah di hadapan orang yang diberi sedekah untuk menunjukkan kelebihan dirinya dibanding orang yang diberi sedekah tersebut.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Seperti misalnya si A memberikan sedekah kepada si B. Dia selalu menyebt-nyebut sedekah pemberiannya tersebut di hadapan si B. Seperti ini adalah termasuk perbuatan ( </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: small;">ِالْمَنِّ</span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">) </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>al mann</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> yang tercela seperti tersebut dalam ayat di atas. Perbuatan ini mencakup seluruh bentuk sedekah, baik itu sedekah terhadap teman, tetangga, kerabat, maupun istri dan anak-anaknya. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Rasulullah </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> juga bersabda :</span></span></p>
<p style="text-align: center;" align="RIGHT"> <span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: medium;">ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ، ولا ينظر إليهم ، ولا يزكيهم ، ولهم عذاب أليم ، قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث مرار </span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: medium;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: medium;">قال أبو ذر </span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: medium;">: </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: medium;">خابوا وخسروا </span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: medium;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: medium;">من هم يا رسول الله ؟ قال </span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: medium;">: </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: medium;">المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب</span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: medium;"><br />
</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“ <span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>Ada tiga golongan, yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan Allah lihat, dan tidak akan Allah sucikan, serta baginya adzab yang pedih. Rasulullah mengulang sebanyak tiga kali. Abu Dzar bertanya : Siapa mereka wahai Rasulullah ? Sabda beliau : Al musbil (lelaki yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki, </em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em><strong>al mannaan (orang yang suka menyebut-nyebut sedekah pemberian)</strong></em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>, dan pedagang yang bersumpah dengan sumpah palsu</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">” (H.R. Muslim:106)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Kedua. </strong></span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;">Menyakiti orang yang diberi sedekah</span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">. </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><strong>(</strong></span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: small;"><strong>َالَّذِي </strong></span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><strong>) </strong></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em><strong>al adzaa</strong></em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">: secara bahasa maknanya adalah setiap perbuatan yang merugikan atau menyakiti orang lain, baik dalam hal agamanya, kehormatannya, badannya, maupun hartanya. Adapaun (</span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: small;">َالَّذِي </span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">) </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>al adzaa</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> yang menghapus pahala sedekah yaitu bersikap sombong terhadap orang yang diberi sedekah dan menyakitinya dengan kalimat yang menyakitkannya, atau dengan sesuatu yang mencela kehormatannya dan merendahkan kemuliaan dan kedudukan orang tersebut.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><strong>Ketiga. </strong></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Perbuatan riya’. </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><strong>( </strong></span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: small;"><strong>الرياء </strong></span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><strong>) ar riyaa’</strong></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> : yakni perbuatan seorang hamba menampakkan amalnya kepada manusia karena ingin mendapat pujian. Jika seseorang riya’ dalam amalan sedekahnya maka akan menghapus pahala sedekah tersebut. Bahkan perbutan riya’ tidah hanya dalam masalah sedekah saja. Riya’ dapat terjadi pada setiap amal dan menghapus pahala amal tersebut. [Lihat </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>Nidaa-atu ar Rahman li Ahlil iman</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> 21-22, Syaikh Abu Bakr Al Jazaairy] </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Imam Ibnu Katsir menjelasakan : &#8220;Dalam firman-Nya (</span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: small;">لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى </span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">) (</span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">) Allah menerangkan bahwa pahala sedekah itu dapat hilang disebabkan karena menyebut-nyebut sedekah dan juga dengan tindakan menyakiti orang yang diberi sedekah.. Dosa menyebut-nyebut dan menyakiti itu menyebabkan hilangnya pahala sedekah. Kemudian Allah berfirman (</span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: small;">كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ </span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">) (</span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">). Maksudnya, janganlah kalian membatalkan pahala sedekah kalian dengan menyebut-nyebut sedekah dan menyakiti orang yang diberi sedekah, sebagaimana tidak bernilainya sedekah orang yang riya’ karena manusia. Orang yang riya’ adalah yang menampakkan dihadapan orang lain bahwa dia ikhlas dalam beramal, padahal maksud sebenarnya adalah agar dia dipuji oleh orang lain. atau agar terkenal dengan sifat-sifat terpuji sehingga banyak orang yang mengaguminya, atau beramal agar disebut sebagai orang dermawan, atau maksud-maksud duniawi lainnya. Pelaku riya’ tidak memiliki perhatian untuk taat kepada Allah, mencari ridha-Nya dan mengharap pahala-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman (</span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span><span style="font-size: small;">وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ </span></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">) (</span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">). &#8221; [Lihat </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>Tafsir al Quran al ‘Adzhim</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> surat al Baqarah ayat 264, al Imam Ibnu Katsir]</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Waspadailah saudaraku, ketiga perbuatan tersebut dapat merusak pahala sedekah yang kita lakukan.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><strong>[Faedah Ayat]</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Firman Allah dalam surat al Baqarah 264 di atas mengandung beberapa faedah :</span></span></p>
<ol>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Amal keburukan akan menghapus amal kebaikan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Dalam ayat tersebut terkandung perintah untuk tetap menjaga amalan-amalan yang </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>sirr</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> (tersembunyi) agar tidak diketahui orang lain.</span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Menyebut-nyebut pemberian sedekah, menyakiti orang yang diberi sedekah, dan perbuatan riya’ dapat menghapus pahala sedekah</span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Terhapusnya pahala sedekah karena perbuatan menyebut-nyebut pemberian sedekah dan menyakiti orang yang diberi sedekah, sama seperti hapusnya pahala sedekah karena riya’</span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Ketiga sifat di atas termasuk tanda kekufuran.</span></span></p>
</li>
</ol>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">Semoga Allah </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>ta’ala</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> senantiasa memudahkan kita untuk ikhlas dalam setiap amal yang kita lakukan. </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"> <span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">* Faedah dari kajian kitab </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>Nidaa-atu ar Rahman li Ahlil iman</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"> bersama Ustadz Zaid Susanto,Lc </span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;"><em>hafizhahullah</em></span></span><span style="font-family: serif;"><span style="font-size: small;">, ba’da shubuh 14 Ramadhan 1432 H di Ma’had Jamilurrahman, Bantul, Yogyakarta.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">Penyusun: Adika Mianoki</p>
<p align="JUSTIFY">Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p align="JUSTIFY">
<div class="shr-publisher-6729"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fwaspadailah-penghapus-pahala-sedekah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fwaspadailah-penghapus-pahala-sedekah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fwaspadailah-penghapus-pahala-sedekah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/waspadailah-penghapus-pahala-sedekah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Allah Begitu Dekat pada Orang yang Berdoa</title>
		<link>http://muslim.or.id/tafsir/allah-begitu-dekat-pada-orang-yang-berdoa.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tafsir/allah-begitu-dekat-pada-orang-yang-berdoa.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 14:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6248</guid>
		<description><![CDATA[Sudah begitu lama, ingin agar harapan segera terwujud. Beberapa waktu terus menanti dan menanti, namun tak juga impian itu datang. Kadang jadi putus asa karena sudah seringkali memohon pada Allah. Sikap seorang muslim adalah tetap<a class="more" href="http://muslim.or.id/tafsir/allah-begitu-dekat-pada-orang-yang-berdoa.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sudah begitu lama, ingin agar harapan segera terwujud. Beberapa waktu terus menanti dan menanti, namun tak juga impian itu datang. Kadang jadi putus asa karena sudah seringkali memohon pada Allah. Sikap seorang muslim adalah tetap terus berdo’a karena Allah begitu dekat pada orang yang berdo’a. Boleh jadi terkabulnya do’a tersebut tertunda. Boleh jadi pula Allah mengganti permintaan tadi dengan yang lainnya dan pasti pilihan Allah adalah yang terbaik.</p>
<p>Ayat yang patut direnungkan adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ</p>
<p>“<em>Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran</em>.” (QS. Al Baqarah: 186)</p>
<p>Sebagian sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;">يَا رَسُولَ اللَّهِ رَبُّنَا قَرِيبٌ فَنُنَاجِيهِ ؟ أَوْ بَعِيدٌ فَنُنَادِيهِ ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ</p>
<p>“Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami cukup bersuara lirih ketika berdo’a ataukah Rabb kami itu jauh sehingga kami menyerunya dengan suara keras?” Lantas Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas. (<em>Majmu’ Al Fatawa</em>, 35/370)</p>
<p>Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Kedekatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kedekatan Allah pada orang yang berdo’a (kedekatan yang sifatnya khusus).” (<em>Majmu’ Al Fatawa</em>, 5/247)</p>
<p>Perlu diketahui bahwa kedekatan Allah itu ada dua macam:</p>
<ol>
<li>Kedekatan      Allah <span style="text-decoration: underline;">yang umum</span> dengan ilmu-Nya, ini berlaku pada setiap makhluk.</li>
<li>Kedekatan      Allah <span style="text-decoration: underline;">yang khusus</span> pada hamba-Nya dan seorang muslim yang berdo’a      pada-Nya, yaitu Allah akan mengijabahi (mengabulkan) do’anya, menolongnya      dan memberi taufik padanya. (<em>Taisir Al Karimir Rahman</em>, hal. 87)</li>
</ol>
<p>Kedekatan Allah pada orang yang berdo’a adalah kedekatan yang khusus –pada macam yang kedua- (bukan kedekatan yang sifatnya umum pada setiap orang). Allah begitu dekat pada orang yang berdo’a dan yang beribadah pada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits pula bahwa tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah adalah ketika ia sujud. (<em>Majmu’ Al Fatawa</em>, 15/17)</p>
<p>Siapa saja yang berdo’a pada Allah dengan menghadirkan hati ketika berdo’a, menggunakan do’a yang <em>ma’tsur </em>(dituntunkan), menjauhi hal-hal yang dapat menghalangi terkabulnya do’a (seperti memakan makanan yang haram), maka niscaya Allah akan mengijabahi do’anya. Terkhusus lagi jika ia melakukan sebab-sebab terkabulnya do’a dengan tunduk pada perintah dan larangan Allah dengan perkataan dan perbuatan, juga disertai dengan mengimaninya. (<em>Taisir Al Karimir Rahman</em>, hal. 87)</p>
<p>Dengan mengetahui hal ini seharusnya seseorang tidak meninggalkan berdo’a pada Rabbnya yang tidak mungkin menyia-nyiakan do’a hamba-Nya. Pahamilah bahwa Allah benar-benar begitu dekat dengan orang yang berdo’a, artinya akan mudah mengabulkan do’a setiap hamba. Sehingga tidak pantas seorang hamba putus asa dari janji Allah yang Maha Mengabulkan setiap do’a.</p>
<p>Ingatlah pula bahwa do’a adalah sebab utama agar seseorang bisa meraih impian dan harapannya. Sehingga janganlah merasa putus asa dalam berdo’a. Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata, “Do’a adalah sebab terkuat bagi seseorang agar bisa selamat dari hal yang tidak ia sukai dan sebab utama meraih hal yang diinginkan. Akan tetapi pengaruh do’a pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang do’anya berpengaruh begitu lemah karena sebab dirinya sendiri. Boleh jadi do’a itu adalah do’a yang tidak Allah sukai karena melampaui batas. Boleh jadi do’a tersebut berpengaruh lemah karena hati hamba tersebut yang lemah dan tidak menghadirkan hatinya kala berdo’a. &#8230; Boleh jadi pula karena adanya penghalang terkabulnya do’a dalam dirinya seperti makan makanan haram, noda dosa dalam hatinya, hati yang selalu lalai, nafsu syahwat yang menggejolak dan hati yang penuh kesia-siaan.” (<em>Al Jawaabul Kaafi</em>, hal. 21). Ingatlah hadits dari Abu Hurairah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ</p>
<p>“<em>Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a.</em>” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, Ahmad 2/362. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>). Jika memahami hal ini, maka gunakanlah do’a pada Allah sebagai senjata untuk meraih harapan.</p>
<p>Penuh yakinlah bahwa Allah akan kabulkan setiap do’a. Dari Abu Hurairah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ</p>
<p>“<em>Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.</em>” (HR. Tirmidzi no. 3479. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>)</p>
<p>Lalu pahamilah bahwa ada beberapa jalan Allah kabulkan do’a. Dari Abu Sa’id, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »</p>
<p>“<em>Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do&#8217;a-do&#8217;a kalian.</em>” (HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya <em>jayyid</em>). Boleh jadi Allah menunda mengabulkan do’a. Boleh jadi pula Allah mengganti keinginan kita dalam do’a dengan sesuatu yang Allah anggap lebih baik. Atau boleh jadi pula Allah akan mengganti dengan pahala di akhirat. Jadi do’a tidaklah sia-sia.</p>
<p>Ingatlah wejangan yang amat menyejukkan hati dari cucu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Al Hasan bin &#8216;Ali <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;">من اتكل على حسن اختيار الله له، لم يتمن شيئا. وهذا حد الوقوف على الرضى بما تصرف به القضاء</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah) berlakukan (bagi hamba-Nya)</em>&#8221; (Lihat Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262 dan Al Bidaayah wan Nihaayah 8/39). Pilihan Allah itulah yang terbaik.</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 7 Jumadats Tsaniyah 1432 H (10/05/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6248"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fallah-begitu-dekat-pada-orang-yang-berdoa.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fallah-begitu-dekat-pada-orang-yang-berdoa.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fallah-begitu-dekat-pada-orang-yang-berdoa.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tafsir/allah-begitu-dekat-pada-orang-yang-berdoa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Membaca Surat Al Mulk</title>
		<link>http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 May 2011 05:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[surat al mulk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6164</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}. وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة »<a class="more" href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}. وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة »</p>
<p>“<em>Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafa’at (dengan izin Allah Ta&#8217;ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dalam riwayat lain: “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga</em>”<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca surat ini secara kontinyu<a href="#_ftn2">[2]</a>, karena ini merupakan sebab untuk mendapatkan syafa’at dengan izin Allah <em>Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Hadits ini semakna dengan hadits lain dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Satu surat dalam al-Qur’an yang hanya (terdiri dari) tiga puluh ayat akan membela orang yang selalu membacanya (di hadapan Allah <em>Ta&#8217;ala) sehingga dia dimasukkan ke dalam surga, yaitu surat: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan</em>”<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p><strong>Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:</strong></p>
<p>- Keutamaan dalam hadits ini diperuntukkan bagi orang yang selalu membaca surat al-Mulk dengan secara kontinyu disertai dengan merenungkan kandungannya dan menghayati artinya<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>- Surat ini termasuk surat-surat al-Qur’an yang biasa dibaca oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebelum tidur di malam hari, karena agungnya kandungan maknanya<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>- Sebagian dari ulama ahli tafsir menamakan surat ini dengan penjaga/pelindung dan penyelamat (dari azab kubur)<a href="#_ftn6">[6]</a>, akan tetapi penamaan ini disebutkan dalam hadits yang lemah<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>- Al-Qur’an akan memberikan syafa’at (dengan izin Allah) bagi orang yang membacanya (dengan menghayati artinya) dan mengamalkan isinya<a href="#_ftn8">[8]</a>, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em> “<em>Bacalah al-Qur&#8217;an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur&#8217;an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa&#8217;at bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia)</em>”<a href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p style="text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 22 Jumadal ula 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Abu Dawud (no. 1400), at-Tirmidzi (no. 2891), Ibnu Majah (no. 3786), Ahmad (2/299) dan al-Hakim (no. 2075 dan 3838), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim dan disepakati oleh imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/453).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 3654) dan “al-Mu’jamush shagiir” (no. 490), dinyatakan shahih oleh al-Haitsami dan Ibnu hajar (dinukil dalam kitab “Faidhul Qadiir” 4/115) dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “Shahiihul jaami’ish shagiir” (no. 3644).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/115).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR at-Tirmidzi (no. 2892) dan Ahmad (3/340), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 585).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat kitab “Tafsir al-Qurthubi” (18/205).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat kitab “Dha’iifut targiibi wat tarhiib” (no. 887).</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (2/240).</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HSR Muslim (no. 804).</p>
<div class="shr-publisher-6164"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fkeutamaan-membaca-surat-al-mulk.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fkeutamaan-membaca-surat-al-mulk.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fkeutamaan-membaca-surat-al-mulk.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat Al Lahab</title>
		<link>http://muslim.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-lahab.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-lahab.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 07:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[al lahab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5978</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5) Dengan menyebut nama<a class="more" href="http://muslim.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-lahab.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p style="font-size: 18px; text-align: right;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)</p>
<p><em>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</em></p>
<p><em>[1] “Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan binasalah ia.”</em></p>
<p>Abu Lahab adalah salah satu paman nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang sangat memusuhi nabi dan suka menyakiti beliau. Oleh sebab itulah Allah mencelanya dengan celaan yang sangat keras yang akan berbuah kehinaan baginya hingga hari kiamat tiba (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1307]).</p>
<p><em>[2] “Tidak bisa mencukupinya harta maupun apa yang diusahakan olehnya.”</em></p>
<p>Artinya tidak akan bisa menolak azab Allah harta atau apa yang diusahakan olehnya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1307]).</p>
<p><em>[3] “Kelak dia akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.”</em></p>
<p>Artinya kelak dia akan dikepung oleh jilatan api neraka dari segala sisi (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1307]).</p>
<p><em>[4] “Demikian juga istrinya sang membawa kayu bakar.” </em></p>
<p>Istri Abu Lahab juga sangat memusuhi dan suka menyakiti Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bersama dengan suaminya, dia bahu-membahu melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menyakiti Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Oleh sebab itu dia &#8216;berhasil&#8217; menumpuk-numpuk dosa di atas punggungnya laksana orang yang memanggul kayu bakar (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1308]).</p>
<p>Ahli tafsir yang lain yaitu Mujahid menafsirkan bahwa ungkapan &#8216;sang pembawa kayu bakar&#8217; merupakan kiasan yang bermakna orang yang suka mengadu-domba. Dahulu, Ummu Jamil -istri Abu Lahab- suka menebar fitnah demi mengadu-domba antara nabi dan para sahabatnya dengan kaum musyrikin. Karena perbuatannya itulah yang menyebabkan dia dijuluki sebagai sang pembawa kayu bakar (lihat Umdat al-Qari&#8217; [20/12])</p>
<p><em>[5] “Yang di lehenya ada tali (kalung) dari sabut.”</em></p>
<p>Seperti layaknya orang yang memanggul kayu bakar di atas punggungnya yang mengikatkan tali di lehernya. Bisa juga dimaknakan, bahwa kelak di neraka dia lah yang akan membawa kayu bakar untuk membakar suaminya seraya mengalungi tali dari bahan sabut di lehernya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1308]).</p>
<p>Pelajaran yang bisa dipetik dari surat ini, antara lain:<br />
1. Salah satu mukjizat dari Allah dengan diturunkannya surat ini -yang berisi kabar bahwa <a href="http://muslim.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-lahab.html">Abu Lahab</a> dan istrinya akan masuk neraka- sedangkan mereka berdua masih dalam kondisi hidup<br />
2. Konsekuensi dari surat ini adalah bahwa mereka berdua tidak akan masuk Islam, dan hal itu benar-benar terjadi sebagaimana yang diberitakan oleh Allah (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1308]).<br />
3. Surat ini juga menunjukkan keabsahan pernikahan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik (lihat adh-Dhau&#8217; al-Munir &#8216;ala at-Tafsir [6/479])<br />
4. Sebuah sunnatullah di dalam dakwah, bahwa seorang da&#8217;i senantiasa dihadapkan dengan musuh-musuh yang menentang dan merongrong dakwahnya. Bahkan, terkadang yang memusuhi dakwah adalah orang yang dekat dengan dirinya secara nasab/garis keturunan. Walaupun begitu, seorang da&#8217;i harus membekali dirinya dengan kesabaran dan keyakinan agar dakwahnya tetap terus berjalan. Karena kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya itulah yang paling utama harus dibela dan dikedepankan. Dia tidak ridha apabila Allah dan rasul-Nya dilecehkan dan dihinakan.</p>
<p>Oleh sebab itu, siapa pun yang menentang Allah dan rasul-Nya -meskipun sanak saudaranya sendiri- akan dia musuhi dan dia lebih memilih sikap untuk berlepas diri. Allah ta&#8217;ala telah memberikan teladan dalam ayat-Nya (yang artinya), “<em>Sungguh telah ada pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya sebuah teladan yang bagus. Yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari perbuatan kalian, dan telah tampak jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian, sampai kalian beriman kepada Allah semata</em>.” (QS. al-Mumtahanah: 4).</p>
<p>Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang artinya), “<em>Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, akan berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, walaupun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau sanak kerabat mereka&#8230;</em>” (QS. al-Mujadalah: 22)</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5978"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Ftafsir-surat-al-lahab.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Ftafsir-surat-al-lahab.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Ftafsir-surat-al-lahab.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-lahab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Membaca Surat Al Ikhlas</title>
		<link>http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-ikhlas.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-ikhlas.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Mar 2011 05:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[fadhilah]]></category>
		<category><![CDATA[surat al ikhlas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5783</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu &#8216;anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّها لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ “Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlas sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an”[1]. Hadits<a class="more" href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-ikhlas.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Dari Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> dia berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّها لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ</p>
<p>“<em>Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlas sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an</em>”<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan tingginya kedudukan surah al-Ikhlas dan besarnya keutamaan orang yang membacanya, karena surah ini mengandung nama-nama Allah Y yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, sehingga orang yang membaca dan menghayatinya dengan seksama berarti dia telah mengagungkan dan memuliakan Allah U<a href="#_ftn2">[2]</a>. Oleh karena itu, dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah r ketika mendengar berita tentang seorang shahabat t yang senang membaca surah ini karena sifat-sifat Allah U yang dikandungnya, beliau r bersabda: “Sampaikanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya”<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Beberapa faidah penting yang dapat kita ambil dari hadits ini:</p>
<p>- Surah ini dinamakan surah al-Ikhlas karena mengandung tauhid (pengkhususan ibadah kepada Allah I semata-semata), sehingga orang yang membaca dan merenungkannya berarti telah mengikhlaskan agamanya untuk Allah I semata. Atau karena Allah U mengikhlaskan (mengkhususkan) surah ini bagi dari-Nya (hanya berisi nama-nama dan sifat-sifat-Nya) tanpa ada penjelasan lainnya<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>- Surah al-Ikhlas sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an  karena pembahasan/kandungan al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: tauhid, hukum-hukum syariat Islam dan berita tentang makhluk, sedangkan surah al-Ikhlas berisi pembahasan tauhid<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>- Makna sabda beliau r: “…sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an” adalah dalam hal ganjaran pahala, dan bukan berarti membacanya tiga kali cukup sebagai pengganti mambaca al-Qur’an<a href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>- Hadits ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan bahwa al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain dan satu surah dengan surah lainnya), jika ditinjau dari segi isi dan kandungannya<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-&#8217;Utsaimin berkata: “Pembahasan masalah ini harus diperinci dengan penjelasan berikut: jika ditinjau dari (segi) zat yang mengucapkan/berfirman (dengan al-Qur-an) maka al-Qur-an tidak berbeda-beda keutamaannya, karena zat yang mengucapkannya adalah satu, yaitu Allah U. Adapun jika ditinjau dari (segi) kandungan dan pembahasannya maka al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain). Surat al-Ikhlash yang berisi pujian bagi Allah U karena mengandung (penyebutan) nama-nama dan sifat-sifat Allah (tentu) tidak sama dari segi kandungannya dengan surat al-Masad (al-Lahab) yang berisi penjelasan (tentang) keadaan Abu Lahab.</p>
<p>Demikian pula al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain) dari segi pengaruhnya (terhadap hati manusia) dan kekuatan/ketinggian <em>uslub</em> (gaya bahasanya). Karena kita dapati di antara ayat-ayat al-Qur-an ada yang pendek tetapi berisi nasehat dan berpengaruh besar bagi hati manusia, sementara kita dapati ayat lain yang jauh lebih panjang, akan tetapi tidak berisi kandungan seperti ayat tadi”<a href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 29 Rabi’ul awal 1432 H</p>
<p>Abdullah bin Taslim al-Buthoni</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HSR al-Bukhari (no. 4726, 6267 dan 6939).</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat kitab “Fathul Baari” (13/357).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HSR al-Bukhari (no. 6940) dan Muslim (no. 813).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat kitab &#8221; Syarhul aqiidatil waasithiyyah&#8221; (1/157).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat kitab “Fathul Baari” (9/61) dan &#8221; Syarhul aqiidatil waasithiyyah&#8221; (1/158).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat kitab &#8221; Syarhul aqiidatil waasithiyyah&#8221; (1/157-158).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat keterangan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmu&#8217;ul fataawa” (17/211-212) dan imam Ibnul Qayyim dalam “Syifa-ul &#8216;aliil” (hal. 272).</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Kitab &#8221; Syarhul aqiidatil waasithiyyah&#8221; (1/164-165).</p>
<div class="shr-publisher-5783"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fkeutamaan-membaca-surat-al-ikhlas.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fkeutamaan-membaca-surat-al-ikhlas.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fkeutamaan-membaca-surat-al-ikhlas.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-ikhlas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diluaskan dan Disempitkan Rizki</title>
		<link>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/diluaskan-dan-disempitkan-rizki.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/diluaskan-dan-disempitkan-rizki.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2011 05:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[rizki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5752</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Risalah berikut akan sedikit berbicara tentang masalah rizki. Nasehat ini pun tidak perlu jauh-jauh ditujukan pada orang lain.<a class="more" href="http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/diluaskan-dan-disempitkan-rizki.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Risalah berikut akan sedikit berbicara tentang masalah rizki. Nasehat ini pun tidak perlu jauh-jauh ditujukan pada orang lain. Sebenarnya yang lebih pantas adalah nasehat ini ditujukan pada diri kami sendiri supaya selalu bisa ridho dengan takdir ilahi dalam hal rizki.</p>
<p>Ayat yang patut direnungkan adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)</p>
<p>“<em>Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: &#8220;Tuhanku telah memuliakanku&#8221;. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: &#8220;Tuhanku menghinakanku</em>&#8220;. (QS. Al Fajr: 15-16)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Penjelasan Para Ulama</strong></span></p>
<p>Ath Thobari <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Kemudian Ath Thobari <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rizki, yaitu rizkinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rizki berupa nikmat sehat pada jasadnya.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menafsirkan ayat di atas, “Dalam ayat tersebut, Allah <em>Ta’ala</em> mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rizki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rizki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ</p>
<p>“<em>Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar</em>.” (QS. Al Mu’minun: 55-56)</p>
<p>Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rizki, ia merasa bahwa Allah menghinangkannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi rizki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rizki pada pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.  Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rizki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Antara Mukmin dan Kafir</strong></span></p>
<p>Sifat yang disebutkan dalam surat ini (Al Fajr ayat 15-16) adalah sifat orang kafir. Maka sudah patut untuk dijauhi oleh seorang muslim.</p>
<p>Al Qurthubi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Sifat yang disebutkan dalam (Al Fajr ayat 15-16) adalah sifat orang kafir yang tidak beriman pada hari berbangkit. Sesungguhnya kemuliaan yang dianggap orang kafir adalah dilihat pada banyak atau sedikitnya harta. Sedangkan orang muslim, kemuliaan menurutnya adalah dilihat pada ketaatan pada Allah dan bagaimana ia menggunakan segala nikmat untuk tujuan akhirat. Jika Allah memberi rizki baginya di dunia, ia pun memuji Allah dan bersyukur pada-Nya.”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Syukuri dan Bersabar</strong></span></p>
<p>Pahamilah! Tidak perlu merasa iri hati dengan rizki orang lain. Kita dilapangkan rizki, itu adalah ujian. Kita disempitkan rizki, itu pula ujian. Dilapangkan rizki agar kita diuji apakah termasuk orang yang bersyukur atau tidak. Disempitkan rizki agar kita diuji termasuk orang yang bersabar ataukah tidak. Maka tergantung kita dalam menyikapi rizki yang Allah berikan. Tidak perlu bersedih jika memang kita tidak ditakdirkan mendapatkan rizki sebagaimana saudara kita. Allah tentu saja mengetahui manakah yang terbaik bagi hamba-Nya. Cobalah pula kita perhatikan bahwa rizki dan nikmat bukanlah pada harta saja. Kesehatan badan, nikmat waktu senggang, bahkan yang terbesar dari itu yaitu nikmat hidayah Islam dan Iman, itu pun termasuk nikmat yang patut disyukuri. Semoga bisa jadi renungan berharga.</p>
<p><em>Ya Allah, karuniakanlah pada kami sebagai orang yang pandai besyukur dan bersabar pada-Mu dalam segala keadaan, susah maupun senang.</em></p>
<p>Sungguh nikmat diberikan taufik untuk merenungkan Al Qur’an. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</p>
<p>Disusun di Sakan 27, kamar 202, KSU, Riyadh, Saudi Arabia saat ba’da Maghrib</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsir Ath Thobari, Ibnu Jarir Ath Thobari, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H, 24/412</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Idem.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 14/347</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an, Al Qurthubi, Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin Al Hasan At Turki, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1427 H, 22/.</p>
<div class="shr-publisher-5752"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fdiluaskan-dan-disempitkan-rizki.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fdiluaskan-dan-disempitkan-rizki.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftazkiyatun-nufus%2Fdiluaskan-dan-disempitkan-rizki.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/diluaskan-dan-disempitkan-rizki.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

