<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Sejarah Islam</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/sejarah-islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kemuliaan Abu Bakr Ash Shiddiq</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/kemuliaan-abu-bakr-ash-shiddiq.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/sejarah-islam/kemuliaan-abu-bakr-ash-shiddiq.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[abu bakr]]></category>
		<category><![CDATA[ash shiddiq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8182</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Fadha’il ash-Shahabah [Fath al-Bari Juz 7 hal. 15] dengan judul ‘Bab; Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” Di<a class="more" href="http://muslim.or.id/sejarah-islam/kemuliaan-abu-bakr-ash-shiddiq.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat bab di dalam <em>Kitab Fadha’il ash-Shahabah</em> [<em>Fath al-Bari</em> Juz 7 hal. 15] dengan judul <em>‘Bab; Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” </em>Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiyallahu’anhu</em>. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturan Imam Bukhari tersebut.</p>
<p>Imam Bukhari berkata:</p>
<p><strong>Abdullah bin Muhammad</strong> menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: <strong>Abu ‘Amir</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Fulaih</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Salim Abu Nazhar</strong> menuturkan kepadaku dari <strong>Busr bin Sa’id</strong> dari <strong>Abu Sa’id al-Khudri</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkhutbah kepada orang-orang (para sahabat). Beliau mengatakan, <em>“Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”</em></p>
<p>Beliau -Abu Sa’id- berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Memang, Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.”</em></p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di <em>Kitab</em> <em>Fadha’il ash-Shahabah</em> (lihat <em>Syarh Nawawi</em> Juz 8 hal. 7-8)</p>
<p>Berikut ini pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas. Kami sarikan dari keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi. Semoga bermanfaat.</p>
<ol>
<li>Hadits ini mengandung keistimewaan yang sangat jelas pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu’anhu </em>yang tidak ditandingi oleh siapapun -di antara para sahabat-. Hal itu disebabkan beliau berhak mendapat predikat <em>Khalil</em> -kekasih terdekat- bagi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kalaulah bukan karena faktor penghalang yang disebutkan oleh Nabi di atas (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/17 dan 19])</li>
<li>Abu Bakar <em>radhiyallahu’anhu</em> mengetahui bahwa seorang hamba yang diberikan tawaran tersebut adalah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Oleh sebab itu beliau pun menangis karena sedih akan berpisah dengannya, terputusnya wahyu, dan akibat lain yang akan muncul setelahnya (lihat <em>Syarh Nawawi</em> [8/7])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa semestinya masjid dijaga agar tidak menjadi seperti jalan tempat berlalu-lalangnya manusia kecuali dalam kondisi darurat yang sangat penting (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Para ulama itu memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat. Setiap orang yang lebih tinggi pemahamannya maka ia layak untuk disebut sebagai<em> a’lam</em> (orang yang lebih tahu) (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hadits ini mengandung motivasi untuk lebih memilih pahala akhirat daripada perkara-perkara dunia (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hendaknya seorang berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik kepadanya dan menyebutkan keutamaannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
</ol>
<p>Saudaraku… Kita bisa melihat bersama bagaimana zuhudnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap dunia. Kecintaan kepada akhirat dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah jauh lebih beliau utamakan daripada kesenangan dunia.</p>
<p>Kita juga bisa melihat bersama bagaimana kedalaman ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu’anhu</em> terhadap hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sehingga ilmu itupun terserap dengan cepat ke dalam hatinya dan membuat air matanya meleleh. Beliau sangat menyadari bahwa kehadiran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah para sahabat laksana lentera yang menerangi perjalanan hidup mereka. Nikmat hidayah yang dicurahkan kepada mereka melalui bimbingan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah di atas segala-galanya.</p>
<p>Kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa dakwah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berjalan dengan bantuan dan dukungan para sahabatnya. Beliau -dengan kedudukan beliau yang sangat agung- tidaklah berdakwah sendirian. Terbukti pengakuan beliau terhadap jasa-jasa Abu Bakar yang sangat besar kepadanya. Tentu saja yang beliau maksud bukan semata-mata bantuan Abu Bakar untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi demi kemaslahatan umat yang itu tak lain adalah dalam rangka dakwah dan berjihad di jalan Allah.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan Abu Bakar di mata Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang melebihi sahabat-sahabat yang lain. Sehingga sangat keliru pemahaman sekte Syi’ah yang menjelek-jelekkan bahkan sampai mengkafirkan beliau.</p>
<p>Hadits ini pun menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap para sahabatnya. Bagaimana beliau dengan tanpa malu-malu mengakui keutamaan Abu Bakar <em>radhiyallahu’anhu</em>. Padahal, kedudukan Abu Bakar tentu saja berada di bawah kedudukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Meskipun demikian, beliau menyebutkan jasanya dan menyanjungnya di hadapan para sahabat yang lain.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa memuji orang di hadapannya diperbolehkan selama orang tersebut tidak dikhawatirkan <em>ujub</em> karenanya. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar dari sisi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tetap memujinya di hadapannya dan di hadapan para sahabat yang lain. Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa Abu Bakar bukanlah termasuk kategori orang yang dikhawatirkan merasa ujub setelah mendengar pujian tersebut.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecintaan yang terpendam di dalam hati pasti akan membuahkan pengaruh pada gerak-gerik fisik manusia. Kecintaan yang sangat dalam pada diri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap Abu Bakar pun tampak dari ucapan dan perbuatan beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka konsekuensinya kita pun mencintai orang yang beliau cintai. Dan di antara orang yang beliau cintai, bahkan yang paling beliau cintai adalah Abu Bakar <em>radhiyallahu’anhu</em>. Kecintaan yang berlandaskan Islam dan persaudaraan seagama. Lantas ajaran apakah yang justru mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kalau bukan ajaran kesesatan?!</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/">Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8182"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsejarah-islam%2Fkemuliaan-abu-bakr-ash-shiddiq.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsejarah-islam%2Fkemuliaan-abu-bakr-ash-shiddiq.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsejarah-islam%2Fkemuliaan-abu-bakr-ash-shiddiq.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/sejarah-islam/kemuliaan-abu-bakr-ash-shiddiq.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fathu Makkah: Pelajaran dari Penaklukan Kota Mekkah</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 05:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318</guid>
		<description><![CDATA[Diawali dari perjanjian damai antara kaum muslimin Madinah dengan orang musyrikin Quraisy yang ditandatangani pada nota kesepakatan Shulh Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Episode berikutnya dalam sejarah kemenangan kaum muslimin di bawah bimbingan kenabian yang terjadi di bulan Ramadhan adalah Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah). Peristiwa ini terjadi pada tahun delapan Hijriyah. Dengan peristiwa ini, Allah menyelamatkan kota Makkah dari belenggu kesyirikan dan kedhaliman, menjadi kota bernafaskan Islam, dengan ruh tauhid dan sunnah. Dengan peristiwa ini, Allah mengubah kota Makkah yang dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan menjadi kota yang merupakan lambang keimanan dan kepasrahan kepada Allah ta&#8217;ala.</p>
<p><span id="more-1318"></span></p>
<p><strong>Sebab Terjadinya Fathu Makkah</strong></p>
<p>Diawali dari perjanjian damai antara kaum muslimin Madinah dengan orang musyrikin Quraisy yang ditandatangani pada nota kesepakatan Shulh Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Termasuk diantara nota perjanjian adalah siapa saja diizinkan untuk bergabung dengan salah satu kubu, baik kubu Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan kaum muslimin Madinah atau kubu orang kafir Quraisy Makkah. Maka, bergabunglah suku Khuza&#8217;ah di kubu Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan suku Bakr bergabung di kubu orang kafir Quraisy. Padahal, dulu di zaman Jahiliyah, terjadi pertumpahan darah antara dua suku ini dan saling bermusuhan. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan senjata. Namun, secara licik, Bani Bakr menggunakan kesempatan ini melakukan balas dendam kepada suku Khuza&#8217;ah. Bani Bakr melakukan serangan mendadak di malam hari pada Bani Khuza&#8217;ah ketika mereka sedang di mata air mereka. Secara diam-diam, orang kafir Quraisy mengirimkan bantuan personil dan senjata pada Bani Bakr. Akhirnya, datanglah beberapa orang diantara suku Khuza&#8217;ah menghadap Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy dan Bani Bakr.</p>
<p>Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar perjanjian, orang kafir Quraisy pun mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>, namun beliau tidak menanggapinya dan tidak memperdulikannya. Akhirnya Abu Sufyan menemui Abu Bakar dan Umar radliallahu &#8216;anhuma agar mereka memberikan bantuan untuk membujuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>. Namun usahanya ini gagal. Terakhir kalinya, dia menemui Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> agar memberikan pertolongan kepadanya di hadapan Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>. Untuk kesekian kalinya, Ali pun menolak permintaan Abu Sufyan. Dunia terasa sempit bagi Abu Sufyan, dia pun terus memelas agar diberi solusi. Kemudian, Ali memberikan saran, &#8220;Demi Allah, aku tidak mengetahui sedikit pun solusi yang bermanfaat bagimu. Akan tetapi, bukankah Engkau seorang pemimpin Bani Kinanah? Maka, bangkitlah dan mintalah sendiri perlindungan kepada orang-orang. Kemudian, kembalilah ke daerahmu.&#8221;</p>
<p>Abu Sufyan berkata,<br />
&#8220;Apakah menurutmu ini akan bermanfaat bagiku?&#8221;</p>
<p>Ali menjawab,<br />
&#8220;Demi Allah, aku sendiri tidak yakin, tetapi aku tidak memiliki solusi lain bagimu.&#8221;</p>
<p>Abu Sufyan kemudian berdiri di masjid dan berkata,<br />
&#8220;Wahai manusia, aku telah diberi perlindungan oleh orang-orang!&#8221;<br />
Lalu dia naik ontanya dan beranjak pergi.</p>
<p>Dengan adanya pengkhianatan ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> memerintahkan para shahabat untuk menyiapkan senjata dan perlengkapan perang. Beliau mengajak semua shahabat untuk menyerang Makkah. Beliau barsabda, <em>&#8220;Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.&#8221;</em></p>
<p>Dalam kisah ini ada pelajaran penting yang bisa dipetik, bahwa kaum muslimin dibolehkan untuk membatalkan perjanjian damai dengan orang kafir. Namun pembatalan perjanjian damai ini harus dilakukan seimbang. Artinya tidak boleh sepihak, tetapi masing-masing pihak tahu sama tahu. Allah berfirman,</p>
<p>وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ</p>
<p><em>&#8220;Jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan sama-sama tahu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.&#8221;</em> (Qs. Al Anfal: 58)</p>
<p><strong>Kisah Hatib bin Abi Balta&#8217;ah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em></strong></p>
<p>Untuk menjaga misi kerahasiaan ini, Rasulullah mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah pada awal bulan Ramadhan. Hal ini beliau lakukan agar ada anggapan bahwa beliau hendak menuju ke tempat tersebut. Sementara itu, ada seorang shahabat Muhajirin, Hatib bin Abi Balta&#8217;ah menulis surat untuk dikirimkan ke orang Quraisy. Isi suratnya mengabarkan akan keberangkatan Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Surat ini beliau titipkan kepada seorang wanita dengan upah tertentu dan langsung disimpan di gelungannya. Namun, Allah Dzat Yang Maha Melihat mewahyukan kepada NabiNya tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliau-pun mengutus Ali dan Al Miqdad untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut.</p>
<p>Setelah Ali berhasil menyusul wanita tersebut, beliau langsung meminta suratnya. Namun, wanita itu berbohong dan mengatakan bahwa dirinya tidak membawa surat apapun. Ali memeriksa hewan tunggangannya, namun tidak mendapatkan apa yang dicari. Ali <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata,</p>
<p>&#8220;Aku bersumpah demi Allah, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> tidak bohong. Demi Allah, engkau keluarkan surat itu atau kami akan menelanjangimu.&#8221;</p>
<p>Setelah tahu kesungguhan Ali <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, wanita itupun menyerahkan suratnya kepada Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Sesampainya di Madinah, Ali langsung menyerahkan surat tersebut kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>. Dalam surat tersebut tertulis nama Hatib bin Abi Balta&#8217;ah. Dengan bijak Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> menanyakan alasan Hatib. Hatib bin Abi Balta&#8217;ah pun menjawab:</p>
<p>&#8220;Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang bersama Anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana.&#8221;</p>
<p>Dengan serta merta Umar bin Al Khattab menawarkan diri,</p>
<p>&#8220;Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan RasulNya serta bersikap munafik.&#8221;</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dengan bijak menjawab,<br />
<em>&#8220;Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar&#8230; (Allah berfirman tentang pasukan Badar): Berbuatlah sesuka kalian, karena kalian telah Saya ampuni.&#8221;</em></p>
<p>Umar pun kemudian menangis, sambil mengatakan, &#8220;Allah dan rasulNya lebih mengetahui.&#8221;</p>
<p>Demikianlah maksud hati Hatib. Beliau berharap dengan membocorkan rahasia tersebut bisa menarik simpati orang Quraisy terhadap dirinya, sehingga mereka merasa berhutang budi terhadap Hatib. Dengan keadaan ini, beliau berharap orang Quraisy mau melindungi anak dan istrinya di Makkah. Meskipun demikian, perbuatan ini dianggap sebagai bentuk penghianatan dan dianggap sebagai bentuk loyal terhadap orang kafir karena dunia. Tentang kisah shahabat Hatib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ini diabadikan oleh Allah dalam firmanNya,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah&#8230;.&#8221;</em> (Qs. Al Mumtahanah: 1)</p>
<p>Satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah Hatib bin Abi Balta&#8217;ah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> adalah bahwa sesungguhnya orang yang memberikan loyalitas terhadap orang kafir sampai menyebabkan ancaman bahaya terhadap Islam, pelakunya tidaklah divonis kafir, selama loyalitas ini tidak menyebabkan kecintaan karena agamanya. Pada ayat di atas, Allah menyebut orang yang melakukan tindakan semacam ini dengan panggilan, <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman&#8230;&#8230;&#8221;</em> Ini menunjukkan bahwa status mereka belum kafir.</p>
<p><strong>Pasukan Islam Bergerak Menuju Makkah</strong></p>
<p>Kemudian, beliau keluar Madinah bersama sepuluh ribu shahabat yang siap perang. Beliau memberi Abdullah bin Umi Maktum tugas untuk menggantikan posisi beliau di Madinah. Di tengah jalan, beliau bertemu dengan Abbas, paman beliau bersama keluarganya, yang bertujuan untuk berhijrah dan masuk Islam. Kemudian, di suatu tempat yang disebut Abwa&#8217;, beliau berjumpa dengan sepupunya, Ibnul Harits dan Abdullah bin Abi Umayah. Ketika masih kafir, dua orang ini termasuk diantara orang yang permusuhannya sangat keras terhadap Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>. Dengan kelembutannya, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> menerima taubat mereka dan masuk Islam.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda tentang Ibnul Harits <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, &#8220;Saya berharap dia bisa menjadi pengganti Hamzah -<em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>-&#8221;.</p>
<p>Setelah beliau sampai di suatu tempat yang bernama Marra Dhahraan, dekat dengan Makkah, beliau memerintahkan pasukan untuk membuat obor sejumlah pasukan. Beliau juga mengangkat Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> sebagai penjaga.</p>
<p>Malam itu, Abbas berangkat menuju Makkah dengan menaiki bighal (peranakan kuda dan keledai) milik Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>. Beliau mencari penduduk Makkah agar mereka keluar menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan meminta jaminan keamanan, sehingga tidak terjadi peperangan di negeri Makkah. Tiba-tiba Abbas mendengar suara Abu Sufyan dan Budail bin Zarqa&#8217; yang sedang berbincang-bincang tentang api unggun yang besar tersebut.</p>
<p>&#8220;Ada apa dengan dirimu, wahai Abbas?&#8221; tanya Abu Sufyan</p>
<p>&#8220;Itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> di tengah-tengah orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy. Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung bighal ini, agar aku dapat membawamu ke hadapan Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>, lalu meminta jaminan keamanan kepada beliau!&#8221; jawab Abbas.</p>
<p>Maka, Abu Sufyan pun naik di belakangku. Kami pun menuju tempat Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>. Ketika melewati obornya Umar bin Khattab, dia pun melihat Abu Sufyan. Dia berkata,</p>
<p>&#8220;Wahai Abu Sufyan, musuh Allah, segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian-pun. Karena khawatir, Abbas mempercepat langkah bighalnya agar dapat mendahului Umar. Mereka pun langsung masuk ke tempat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>.</p>
<p>Setelah itu, barulah Umar masuk sambil berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.&#8221;</p>
<p>Abbas pun mengatakan, &#8220;Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya.&#8221;</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda, &#8220;Kembalilah ke kemahmu wahai Abbas! Besok pagi, datanglah ke sini!&#8221;</p>
<p>Esok harinya, Abbas bersama Abu Sufyan menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>. Beliau bersabda,&#8221;Celaka wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah?&#8221;</p>
<p>Abu Sufyan mengatakan,<br />
&#8220;Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan selain Allah, tentu aku tidak membutuhkan sesuatu apa pun setelah ini.&#8221;</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda,&#8221;Celaka kamu wahai Abu Sufyan, bukankah sudah saatnya kamu mengakui bahwa aku adalah utusan Allah?&#8221;</p>
<p>Abu Sufyan menjawab,&#8221;Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini.&#8221;</p>
<p>Abbas menyela, &#8220;Celaka kau! Masuklah Islam! Bersaksilah laa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah sebelum beliau memenggal lehermu!&#8221;</p>
<p>Akhirnya Abu Sufyan-pun masuk Islam dan memberikan kesaksian yang benar.</p>
<p>Tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> meninggalkan Marra Dzahran menuju Makkah. Sebelum berangkat, beliau memerintahkan Abbas untuk mengajak Abu Sufyan menuju jalan tembus melewati gunung, berdiam di sana hingga semua pasukan Allah lewat di sana. Dengan begitu, Abu Sufyan bisa melihat semua pasukan kaum muslimin. Maka Abbas dan Abu Sufyan melewati beberapa kabilah yang ikut gabung bersama pasukan kaum muslimin. Masing-masing kabilah membawa bendera. Setiap kali melewati satu kabilah, Abu Sufyan selalu bertanya kepada Abbas, &#8220;Kabilah apa ini?&#8221; dan setiap kali dijawab oleh Abbas, Abu Sufyan senantiasa berkomentar, &#8220;Aku tidak ada urusan dengan bani Fulan.&#8221;</p>
<p>Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, &#8220;Subhanallah, wahai Abbas, siapakah mereka ini?&#8221;</p>
<p>Abbas menjawab: &#8220;Itu adalah Rasulullah bersama muhajirin dan anshar.&#8221;</p>
<p>Abu Sufyan bergumam, &#8220;Tidak seorang-pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.&#8221;</p>
<p>Abbas berkata: &#8220;Wahai Abu Sufyan, itu adalah Nubuwah.&#8221;</p>
<p>Bendera Anshar dipegang oleh Sa&#8217;ad bin Ubadah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa&#8217;ad berkata,<br />
&#8220;Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.&#8221;</p>
<p>Ketika ketemu Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>, perkataan Sa&#8217;ad ini disampaikan kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>. Beliau pun menjawab,</p>
<p>&#8220;Sa&#8217;ad keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya <a title="fathu makkah" href="http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html">Ka&#8217;bah</a> dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.&#8221;</p>
<p>Kemudian, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> memerintahkan agar bendera di tangan Sa&#8217;d diambil dan diserahkan kepada anaknya, Qois. Akan tetapi, ternyata bendera itu tetap di tangan Sa&#8217;d. Ada yang mengatakan bendera tersebut diserahkan ke Zubair dan ditancapkan di daerah Hajun.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> melanjutkan perjalanan hingga memasuki Dzi Thuwa. Di sana Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu&#8217; beliau kepada Sang Pengatur alam semesta. Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan menunggu kedatangan Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan memasuki Makkah melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.</p>
<p>Kemudian, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> memasuki kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:</p>
<p>إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.&#8221;</em> (Qs. Al Fath: 1)</p>
<p>Beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah,<br />
&#8220;Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.&#8221;</p>
<p>Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka&#8217;bah yang beliau lewati. Saat itu, beliau membaca firman Allah:</p>
<p>جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا</p>
<p><em>&#8220;Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap&#8221;. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.&#8221;</em> (Qs. Al-Isra&#8217;: 81)</p>
<p>جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ</p>
<p><em>&#8220;Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.&#8221;</em> (Qs. Saba&#8217;: 49)</p>
<p>Kemudian, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> memasuki Ka&#8217;bah. Beliau melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah ramalan.</p>
<p>Beliau bersabda, &#8220;Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali-pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.&#8221;</p>
<p>Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua gambar yang ada di dalam Ka&#8217;bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau mengitari dinding bagian dalam Ka&#8217;bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok Ka&#8217;bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu keputusan beliau <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>.</p>
<p>Dengan memegangi pinggiran pintu Ka&#8217;bah, beliau bersabda:</p>
<p>&#8220;لا إِله إِلاَّ الله وحدَّه لا شريكَ له، لَهُ المُلْكُ وله الحمدُ وهو على كَلِّ شَيْءٍ قديرٌ، صَدَقَ وَعْدَه ونَصرَ عَبْدَه وهَزمَ الأحزابَ وحْدَه</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.&#8221;</em></p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?&#8221;</em></p>
<p>Merekapun menjawab, &#8220;Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.&#8221;</p>
<p>Beliau bersabda,<br />
&#8220;Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: &#8216;Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.&#8217; Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!&#8221;</p>
<p>Pada hari kedua, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> berkhutbah di hadapan manusia. Setelah membaca tahmid beliau bersabda,</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah. Maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah dan mematahkan batang pohon di sana. Jika ada orang yang beralasan dengan perang yang dilakukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>, maka jawablah: &#8220;Sesungguhnya  Allah mengizinkan RasulNya <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan tidak mengizinkan kalian. Allah hanya mengizinkan untukku beberapa saat di siang hari. Hari ini Keharaman Makkah telah kembali sebagaimana keharamannya sebelumnya. Maka hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.&#8221;</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> diizinkan Allah untuk berperang di Makkah hanya pada hari penaklukan kota Makkah dari sejak terbit matahari hingga ashar. Beliau tinggal di Makkah selama sembilan hari dengan selalu mengqashar shalat dan tidak berpuasa Ramadhan di sisa hari bulan Ramadhan.</p>
<p>Sejak saat itulah, Makkah menjadi negeri Islam, sehingga tidak ada lagi hijrah dari Makkah menuju Madinah.</p>
<p>Demikianlah kemenangan yang sangat nyata bagi kaum muslimin. Telah sempurna pertolongan Allah.  Suku-suku arab berbondong-bondong masuk Islam. Demikianlah karunia besar yang Allah berikan.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ammi Nur Baits<br />
Artikel <a title="fathu makkah" href="http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1318"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsejarah-islam%2Ffathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsejarah-islam%2Ffathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsejarah-islam%2Ffathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Perang Badar</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/pelajaran-dari-perang-badar.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/sejarah-islam/pelajaran-dari-perang-badar.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 07:05:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1311</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku sesama muslim&#8230; Marilah sejenak kita melakukan kilas balik terhadap berbagai peristiwa di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Kita berharap mudah-mudahan dengan mempelajari dan mengamati peristiwa ini, kita bisa mendapatkan banyak hikmah dan pelajaran<a class="more" href="http://muslim.or.id/sejarah-islam/pelajaran-dari-perang-badar.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Saudaraku sesama muslim&#8230;<br />
Marilah sejenak kita melakukan kilas balik terhadap berbagai peristiwa di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Kita berharap mudah-mudahan dengan mempelajari dan mengamati peristiwa ini, kita bisa mendapatkan banyak hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan kita sehari-hari. Dua tahun setelah Nabi kita tercinta Muhammad <em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></em> berhijrah ke madinah, bertepatan dengan bulan Ramadhan yang mulia ini, terjadilah satu peristiwa besar namun sering dilupakan kaum muslimin. Peristiwa tersebut adalah perang Badar.</p>
<p><span id="more-1311"></span></p>
<p>Disebut sebagai peristiwa besar, karena perang Badar merupakan awal perhelatan senjata dalam kapasitas besar yang dilakukan antara pembela Islam dan musuh Islam. Saking hebatnya peristiwa ini, Allah namakan hari teradinya peristiwa tersebut dengan <em>Yaum Al Furqan</em> (hari pembeda) karena pada waktu itu, Allah, Dzat yang menurunkan syariat Islam, hendak membedakan antara yang haq dengan yang batil. Di saat itulah Allah mengangkat derajat kebenaran dengan jumlah kekuatan yang terbatas dan merendahkan kebatilan meskipun jumlah kekuatannya 3 kali lipat. Allah menurunkan pertolongan yang besar bagi kaum muslimin dan memenangkan mereka di atas musuh-musuh Islam.</p>
<p>Sungguh sangat disayangkan, banyak di antara kaum muslimin di masa kita melalaikan kejadian bersejarah ini. Padahal, dengan membaca peristiwa ini, kita dapat mengingat sejarah para shahabat yang mati-matian memperjuangkan Islam, yang dengan itu, kita bisa merasakan indahnya agama ini.</p>
<p>Sebelum melanjutkan tulisan, kami mengingatkan bawa tujuan tulisan bukanlah mengajak anda untuk mengadakan peringatan hari perang badar, demikian pula tulisan tidak mengupas sisi sejarahnya, karena ini bisa didapatkan dengan merujuk buku-buku sejarah. Tulisan ini hanya mencoba mengajak pembaca untuk merenungi ibrah dan pelajaran berharga di balik serpihan-serpihan sejarah perang Badar.</p>
<p><strong>Latar Belakang Pertempuran</strong></p>
<p>Suatu ketika terdengarlah kabar di kalangan kaum muslimin Madinah bahwa Abu Sufyan beserta kafilah dagangnya, hendak berangkat pulang dari Syam menuju Mekkah. Jalan mudah dan terdekat untuk perjalanan Syam menuju Mekkah harus melewati Madinah. Kesempatan berharga ini dimanfaatkan oleh Nabi <em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></em> dan para shahabat untuk merampas barang dagangan mereka. Harta mereka menjadi halal bagi kaum muslimin. Mengapa demikian? Bukankah harta dan darah orang kafir yang tidak bersalah itu haram hukumnya?</p>
<p>Setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan harta Orang kafir Quraisy tersebut halal bagi para shahabat:</p>
<ol>
<li>Orang-orang kafir Quraisy statusnya adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang secara terang-terangan memerangi kaum muslimin, mengusir kaum muslimin dari tanah kelahiran mereka di Mekah, dan melarang kaum muslimin untuk memanfaatkan harta mereka sendiri.</li>
<li>Tidak ada perjanjian damai antara kaum muslimin dan orang kafir Quraisy yang memerangi kaum muslimin.</li>
</ol>
<p>Dengan alasan inilah, mereka berhak untuk menarik kembali harta yang telah mereka tinggal dan merampas harta orang musyrik.</p>
<p>Selanjutnya Nabi <em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></em> berangkat bersama tiga ratus sekian belas shahabat. Para ahli sejarah berbeda pendapat dalam menentukan jumlah pasukan kaum muslimin di perang badar. Ada yang mengatakan 313, 317, dan beberapa pendapat lainnya. Oleh karena itu, tidak selayaknya kita berlebih-lebihan dalam menyikapi angka ini, sehingga dijadikan sebagai angka idola atau angka keramat, semacam yang dilakukan oleh LDII yang menjadikan angka 313 sebagai angka keramat organisasi mereka dengan anggapan bahwa itu adalah jumlah pasukan Badar.</p>
<p>Di antara tiga ratus belasan pasukan itu, ada dua penunggang kuda dan 70 onta yang mereka tunggangi bergantian. 70 orang di kalangan Muhajirin dan sisanya dari Anshar.</p>
<p>Sementara di pihak lain, orang kafir Quraisy ketika mendengar kabar bahwa kafilah dagang Abu Sufyan meminta bantuan, dengan sekonyong-konyong mereka menyiapkan kekuatan mereka sebanyak 1000 personil, 600 baju besi, 100 kuda, dan 700 onta serta dengan persenjataan lengkap. Berangkat dengan penuh kesombongan dan pamer kekuatan di bawah pimpinan Abu Jahal.</p>
<p><strong>Allah Berkehendak Lain</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersama para shahabat keluar dari Madinah dengan harapan dapat menghadang kafilah dagang Abu Sufyan. Merampas harta mereka sebagai ganti rugi terhadap harta yang ditinggalkan kaum muhajirin di Makah. Meskipun demikian, mereka merasa cemas bisa jadi yang mereka temui justru pasukan perang. Oleh karena itu, persenjataan yang dibawa para shahabat tidaklah selengkap persenjataan ketika perang. Namun, Allah berkehendak lain. Allah mentakdirkan agar pasukan tauhid yang kecil ini bertemu dengan pasukan kesyirikan. Allah hendak menunjukkan kehebatan agamanya, merendahkan kesyirikan. Allah gambarkan kisah mereka dalam firmanNya:</p>
<p>وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjata-lah yang untukmu (kamu hadapi, pent. Yaitu kafilah dagang), dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.&#8221;</em> (Qs. Al Anfal: 7)</p>
<p>Demikianlah gambaran orang shaleh. Harapan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para shahabat tidak terwujud. Mereka menginginkan harta kafilah dagang, tetapi yang mereka dapatkan justru pasukan siap perang. Kenyataan ini memberikan pelajaran penting dalam masalah aqidah bahwa tidak semua yang dikehendaki orang shaleh selalu dikabulkan oleh Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang mampu mengendalikan keinginan Allah. Sehebat apapun keshalehan seseorang, setinggi apapun tingkat kiyai seseorang sama sekali tidak mampu mengubah apa yang Allah kehendaki.</p>
<p><a title="perang badar" href="http://muslim.or.id/sejarah-islam/pelajaran-dari-perang-badar.html" target="_blank"><strong>Keangkuhan Pasukan Iblis</strong></a></p>
<p>Ketika Abu Sufyan berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan kaum muslimin, dia langsung mengirimkan surat kepada pasukan Mekkah tentang kabar dirinya dan meminta agar pasukan Mekkah kembali pulang. Namun, dengan sombongnya, gembong komplotan pasukan kesyirikan enggan menerima tawaran ini. Dia justru mengatakan,</p>
<p>&#8220;Demi Allah, kita tidak akan kembali sampai kita tiba di Badar. Kita akan tinggal di sana tiga hari, menyembelih onta, pesta makan, minum khamr, mendengarkan dendang lagu biduwanita sampai masyarakat jazirah arab mengetahui kita dan senantiasa takut kepada kita&#8230;&#8221;</p>
<p>Keangkuhan mereka ini Allah gambarkan dalam FirmanNya,</p>
<p>وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya&#8217; kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan&#8230;&#8221;</em> (Qs. Al-Anfal: 47)</p>
<p>Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu di bawah pengaturan Allah, karena ditutupi dengan kesombongan mereka. Mereka tidak sadar bahwa Allah kuasa membalik keadaan mereka. Itulah gambaran pasukan setan, sangat jauh dari kerendahan hati dan tawakal kepada Yang Kuasa.</p>
<p><strong>Kesetiaan yang Tiada Tandingnya</strong></p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> merasa yakin bahwa yang nantinya akan ditemui adalah pasukan perang dan bukan kafilah dagang, beliau mulai cemas dan khawatir terhadap keteguhan dan semangat shahabat. Beliau sadar bahwa pasukan yang akan beliau hadapi kekuatannya jauh lebih besar dari pada kekuatan pasukan yanng beliau pimpin. Oleh karena itu, tidak heran jika ada sebagian shahabat yang merasa berat dengan keberangkatan pasukan menuju Badar. Allah gambarkan kondisi mereka dalam firmanNya,</p>
<p>كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ</p>
<p><em>&#8220;Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.&#8221;</em> (Qs. Al Anfal: 5)</p>
<p>Sementara itu, para komandan pasukan Muhajirin, seperti Abu Bakr dan Umar bin Al Khattab sama sekali tidak mengendor, dan lebih baik maju terus. Namun, ini belum dianggap cukup oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau masih menginginkan bukti konkret kesetiaan dari shahabat yang lain. Akhirnya, untuk menghilangkan kecemasan itu, beliau berunding dengan para shahabat, meminta kepastian sikap mereka untuk menentukan dua pilihan: (1) tetap melanjutkan perang apapun  kondisinya, ataukah (2) kembali ke madinah.</p>
<p>Majulah Al Miqdad bin &#8216;Amr seraya berkata, <em>&#8220;Wahai Rasulullah, majulah terus sesuai apa yang diperintahkan Allah kepada anda. Kami akan bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan sebagaimana perkataan Bani Israil kepada Musa: &#8216;Pergi saja kamu, wahai Musa bersama Rab-mu (Allah) berperanglah kalian berdua, kami biar duduk menanti di sini saja. [1]&#8216;&#8221;</em> Kemudian Al Miqdad melanjutkan: <em>&#8220;Tetapi pegilah anda bersama Rab anda (Allah), lalu berperanglah kalian berdua, dan kami akan ikut berperang bersama kalian berdua. Demi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran, andai anda pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, kamipun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa mencapai tempat itu.&#8221;</em></p>
<p>Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan komentar yang baik terhadap perkataan Al Miqdad dan mendo&#8217;akan kebaikan untuknya. Selanjutnya, majulah Sa&#8217;ad bin Muadz radhiyallahu &#8216;anhu, komandan pasukan kaum anshar.</p>
<p>Sa&#8217;ad mengatakan, &#8220;Kami telah beriman kepada Anda. Kami telah membenarkan Anda. Andaikan Anda bersama kami terhalang lautan lalu Anda terjun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama Anda&#8230;.&#8221; Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> juga mengatakan, &#8220;Boleh jadi Anda khawatir, jangan-jangan kaum Anshar tidak mau menolong Anda kecuali di perkampungan mereka (Madinah). Sesungguhnya aku berbicara dan memberi jawaban atas nama orang-orang anshar. Maka dari itu, majulah seperti yang Anda kehendaki&#8230;.&#8221;</p>
<p><strong>Di Sudut Malam yang Menyentuh Jiwa&#8230;</strong></p>
<p>Pada malam itu, malam jum&#8217;at 17 Ramadhan 2 H, Nabi Allah Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lebih banyak mendirikan shalat di dekat pepohonan. Sementara Allah menurunkan rasa kantuk kepada kaum muslimin sebagai penenang bagi mereka agar bisa beristirahat. Sedangkan kaum musyrikin di pihak lain dalam keadaan cemas. Allah menurunkan rasa takut kepada mereka. Adapun Beliau senantiasa memanjatkan do&#8217;a kepada Allah. Memohon pertolongan dan bantuan dari-Nya. Di antara do&#8217;a yang dibaca Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berulang-ulang adalah,</p>
<p><em>&#8220;&#8230;Ya Allah, jika Engkau berkehendak (orang kafir menang), Engkau tidak akan disembah. Ya Allah, jika pasukan yang kecil ini Engkau binasakan pada hari ini, Engkau tidak akan disembah&#8230;..&#8221;</em></p>
<p>Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengulang-ulang do&#8217;a ini sampai selendang beliau tarjatuh karena lamanya berdo&#8217;a, kemudian datanglah Abu Bakar As Shiddiq <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> memakaikan selendang beliau yang terjatuh sambil memeluk beliau&#8230; <em>&#8220;Cukup-cukup, wahai Rasulullah&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Tentang kisah ini, diabadikan Allah dalam FirmanNya,</p>
<p>إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آَمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ (12) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (13)</p>
<p><em>&#8220;Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: &#8220;Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman&#8221;. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.&#8221;</em> (Qs. Al Anfal: 12-13)</p>
<p>Bukti kemukjizatan Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></p>
<p>Seusai beliau menyiapkan barisan pasukan shahabatnya, kemudian beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berjalan di tempat pertempuran dua pasukan. Kemudian beliau berisyarat, &#8220;Ini tempat terbunuhnya fulan, itu tempat matinya fulan, sana tempat terbunuhnya fulan&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tidak satupun orang kafir yang beliau sebut namanya, kecuali meninggal tepat di tempat yang diisyaratkan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Bara Peperangan Mulai Menyala</strong></p>
<p>Yang pertama kali menyulut peperangan adalah Al Aswad Al Makhzumi, seorang yang berperangai kasar dan akhlaknya buruk. Dia keluar dari barisan orang kafir sambil menantang. Kedatangannya langsung disambut oleh Hamzah bin Abdul Muthallib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Setelah saling berhadapan, Hamzah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> langsung menyabet pedangnya hingga kaki Al Aswad Al Makhzumi putus. Setelah itu, Al Aswad merangkak ke kolam dan tercebur di dalamnya. Kemudian Hamzah menyabetkan sekali lagi ketika dia berada di dalam kolam. Inilah korban Badar pertama kali yang menyulut peperangan.</p>
<p>Selanjutnya, muncul tiga penunggang kuda handal dari kaum Musyrikin. Ketiganya berasal dari satu keluarga. Syaibah bin Rabi&#8217;ah, Utbah bin Rabi&#8217;ah,  dan anaknya Al Walid bin Utbah. Kedatangan mereka ditanggapi 3 pemuda Anshar, yaitu Auf bin Harits, Mu&#8217;awwidz bin Harits, dan Abdullah bin Rawahah. Namun, ketiga orang kafir tersebut menolak adu tanding dengan tiga orang Anshar dan mereka meminta orang terpandang di kalangan Muhajirin. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan Ali, Hamzah, dan Ubaidah bin Harits untuk maju. Ubaidah berhadapan dengan Al Walid, Ali berhadapan dengan Syaibah, dan Hamzah berhadapan dengan Utbah. Bagi Ali dan Hamzah, menghadapi musuhnya tidak ada kesulitan. Lain halnya dengan Ubaidah. Masing-masing saling melancarkan serangan, hingga masing-masing terluka. Kemudian lawan Ubaidah dibunuh oleh Ali <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Atas peritiwa ini, Allah abadikan dalam firmanNya,</p>
<p>هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ</p>
<p><em>&#8220;Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka (Allah)&#8230;&#8221;</em> (Qs. Al Hajj: 19)</p>
<p>Selanjutnya, bertemulah dua pasukan. Pertempuran-pun terjadi antara pembela Tauhid dan pembela syirik. Mereka berperang karena perbedaan prinsip beragama, bukan karena rebutan dunia. Sementara itu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berada di tenda beliau, memberikan komando terhadap pasukan. Abu Bakar dan Sa&#8217;ad bin Muadz radhiyallahu &#8216;anhuma bertugas menjaga beliau. Tidak pernah putus, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> senantiasa melantunkan do&#8217;a dan memohon bantuan dan pertolongan kepada Allah. Terkadang beliau keluar tenda dan mengatakan, <em>&#8220;Pasukan (Quraisy) akan dikalahkan dan ditekuk mundur&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Beliau juga senantiasa memberi motivasi kepada para shahabat untuk berjuang. Beliau bersabda, <em>&#8220;Demi Allah, tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, kemudian dia terbunuh dengan sabar dan mengharap pahala serta terus maju dan pantang mundur, pasti Allah akan memasukkannya ke dalam surga.&#8221;</em></p>
<p>Tiba-tiba berdirilah Umair bin Al Himam Al Anshari sambil membawa beberapa kurma untuk dimakan, beliau bertanya, <em>&#8220;Wahai Rasulullah, apakah surga lebarnya selebar langit dan bumi?&#8221;</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, <em>&#8220;Ya.&#8221;</em> Kemudian Umair mengatakan: <em>&#8220;Bakh&#8230;Bakh&#8230; (ungkapan kaget). Wahai Rasulullah, antara diriku dan aku masuk surga adalah ketika mereka membunuhku. Demi Allah, andaikan saya hidup harus makan kurma dulu, sungguh ini adalah usia yang terlalu panjang. Kemudian beliau melemparkan kurmanya, dan terjun ke medan perang sampai terbunuh.&#8221;</em></p>
<p>Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke barisan musuh. Sehingga tidak ada satu pun orang kafir kecuali matanya penuh dengan pasir. Mereka pun sibuk dengan matanya sendiri-sendiri, sebagai tanda kemukjizatan Beliau atas kehendak Dzat Penguasa alam semesta.</p>
<p><strong>Kuatnya Pengaruh Teman Dekat Dalam Hidup</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang untuk membunuh Abul Bakhtari. Karena ketika di Mekkah, dia sering melindungi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan yang memiliki inisiatif untuk menggugurkan boikot pada Bani Hasyim. Suatu ketika Al Mujadzar bin Ziyad bertemu dengannya di tengah pertempuran. Ketika, itu Abul Bakhtari bersama rekannya. Maka, Al Mujadzar mengatakan, <em>&#8220;Wahai Abul Bakhtari, sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang kami untuk membunuhmu.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Lalu bagaimana dengan temanku ini?&#8221;</em>, tanya Abul Bakhtari<br />
<em>&#8220;Demi Allah, kami tidak akan membiarkan temanmu.&#8221;</em> Jawab Al Mujadzar.</p>
<p>Akhirnya mereka berdua melancarkan serangan, sehingga dengan terpaksa Al Mujadzar membunuh Abul Bakhtari.</p>
<p><strong>Kemenangan Bagi Kaum Muslimin</strong></p>
<p>Singkat cerita, pasukan musyrikin terkalahkan dan terpukul mundur. Pasukan kaum muslimin berhasil membunuh dan menangkap beberapa orang di antara mereka. Ada tujuh puluh orang kafir terbunuh dan tujuh puluh yang dijadikan tawanan. Di antara 70 yang terbunuh ada 24 pemimpin kaum Musyrikin Quraisy yang diseret dan dimasukkan ke dalam lubang-lubang di Badar. Termasuk diantara 24 orang tersebut adalah Abu Jahal, Syaibah bin Rabi&#8217;ah, Utbah bin Rabi&#8217;ah dan anaknya, Al Walid bin Utbah.</p>
<p>Demikianlah perang badar, pasukan kecil mampu mengalahkan pasukan yang lebih besar dengan izin Allah. Allah berfirman,</p>
<p>كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;&#8230;Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.&#8221;</em> (Qs. Al Baqarah: 249)</p>
<p><em>Mereka&#8230;<br />
Mereka menang bukan karena kekuatan senjata<br />
Mereka menang bukan karena kekuatan jumlah personilnya<br />
Mereka MENANG karena berperang dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan membela agamaNya&#8230;<br />
Allahu Al Musta&#8217;an&#8230;</em></p>
<p><strong>Footnote:</strong><br />
[1] Perkataan Al Miqdad <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ini merupakan cuplikan dari firman Allah surat Al Maidah: 24</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ammi Nur Baits<br />
Artikel <a title="perang badar" href="http://muslim.or.id/sejarah-islam/pelajaran-dari-perang-badar.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1311"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsejarah-islam%2Fpelajaran-dari-perang-badar.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsejarah-islam%2Fpelajaran-dari-perang-badar.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsejarah-islam%2Fpelajaran-dari-perang-badar.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/sejarah-islam/pelajaran-dari-perang-badar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanggal Kelahiran Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 11:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan bahwa Nabi shallallahu'alaihi wa sallam lahir pada hari Senin tanggal 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh mayoritas ulama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Tanggal Kelahiran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> diperselisihkan secara tajam. Ada yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 2 Rabiul Awal, 8 Rabiul Awal, 10 Rabiul Awal, 12 Rabiul Awal, 17 Rabiul Awal (Lihat <em>al-Bidayah wa Nihayah</em> karya Ibnu Katsir: 2/260 dan <em>Latho&#8217;iful Ma&#8217;arif</em> karya Ibnu Rojab hlm. 184-185). Semua pendapat ini tidak berdasarkan hadits yang shahih. Adapun hadits Jabir dan Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> yang menerangkan bahwa tanggal kelahiran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah tanggal 12 Rabiul Awal <strong>tidak shahih</strong>. Kalaulah shahih, tentu akan menjadi hakim (pemutus perkara) dalam masalah ini. Akan tetapi, Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata tentang hadits tersebut, &#8220;Sanadnya terputus.&#8221; (<em>al-Bidayah wan Nihayah</em> karya Ibnu Rajab hlm. 184-185)</p>
<p><span id="more-570"></span><br />
Berhubung penentuan hari kelahiran beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak ada yang shahih, tidak mengapa kalau kita menukil pendapat ahli falak. Banyak ahli falak berpendapat bahwa hari kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Rabiul Awal, seperti al-Ustadz Mahmud Basya al-Falaki, al-Ustadz Muhammad Sulaiman al-Manshur Fauri (Sebagaimana dinukil oleh Shofiyurrohman al-Mubarokfuri dalam <em>ar-Rahiqul Makhtum</em> hlm. 62), dan al-Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin muhammad as-Sulaim, beliau mengatakan,</p>
<p>&#8220;Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan bahwa Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wa sallam</em> lahir pada hari Senin tanggal 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh mayoritas ulama. Telah tetap tanpa keraguan bahwa kelahiran beliau adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga bahwa beliau wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun qamariyyah akan ketemulah bahwa umur beliau 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah hari Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. (<em>Taqwimul Azman</em> hlm. 143, cet pertama 1404 H)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, &#8220;Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal <a title="Maulid Nabi: Tanggal Kelahiran Nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/tanggal-kelahiran-nabi.html">kelahiran Nabi</a> <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ternyata jatuh pada tanggal 9 Rabiul Awal, bukan 12 Rabiul Awal.&#8221; (<em>al-Qaulul Mufid &#8216;ala Kitab Tauhid</em>: 1/491. Dinukil dari <em>Ma Sya&#8217;a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah</em> hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan)</p>
<p>Dengan demikian, apa yang dirayakan oleh sebagian kaum muslimin pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya? (-ed muslim.or.id)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi<br />
Dikutip oleh <a title="Maulid Nabi: Tanggal Kelahiran Nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/tanggal-kelahiran-nabi.html">muslim.or.id</a> dari artikel <em>8 Faedah Seputar Tarikh</em> Majalah Al-Furqon Edisi 08 th. ke-8 1430 H/2009 M</p>
<div class="shr-publisher-570"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftanggal-kelahiran-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftanggal-kelahiran-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftanggal-kelahiran-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/yahudi-islam-dalam-sejarah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/yahudi-islam-dalam-sejarah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 01:42:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/yahudi-islam-dalam-sejarah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka. Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini.</p>
<p><span id="more-496"></span></p>
<p>Padahal pertarungan kita dengan <a title="Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/yahudi-islam-dalam-sejarah.html">Yahudi</a> adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em></p>
<p>Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta&#8217;ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:</p>
<p><em>Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik</em>. (Qs. 5:82)</p>
<p>Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;</p>
<p><strong>Marhalah pertama:<br />
Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.</strong></p>
<p>Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah:</p>
<ol>
<li> <strong>Pemboikotan (embargo) Ekonomi</strong>: Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa&#8217;- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya&#8217;. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:<em>Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui</em>. (Qs. 3:75)</li>
<li><strong>Membangkitkan fitnah dan kebencian: </strong>Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu&#8217;ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>. maka beliau <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:يَا مَعْشَر المُسْلِمِيْنَ اللهَ اللهَ أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلإِسْلاَمِ وَ أَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ بِهِ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ<em> &#8220;Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.&#8221; </em>Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya:<em> Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan</em>. (Qs. 3:99)</li>
<li><strong>Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin</strong>: Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: <em>Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran)</em>. (Qs. 3:72). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.</li>
<li><strong>Memata-matai kaum Muslimin: </strong>Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa&#8217;ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu&#8217;maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi&#8217; bin Huraimila&#8217;. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. </em>(Qs. 3:118-119)</li>
<li><strong>Usaha memfitnah Rasulullah </strong><em><strong>shallallahu ’alaihi wa sallam</strong>: </em>Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam,</em> diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka&#8217;ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah:<em> Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.</em> (Qs. 5:49)</li>
</ol>
<p>Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.</p>
<p><strong>Marhalah kedua:<br />
Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah </strong><em><strong>shallallahu ’alaihi wa salla</strong>m</em><strong>.</strong></p>
<p>Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Pengusiran Bani Qainuqa&#8217;</li>
<li>Pengusiran bani Al Nadhir</li>
<li>Perang Bani Quraidzoh</li>
<li> Penaklukan kota Khaibar</li>
</ol>
<p>Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.</p>
<p><strong>Marhalah ketiga:<br />
Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>.</strong></p>
<p>Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> masih hidup. Ketika Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:</p>
<ol type="a">
<li> Kaum muslimin kehilangan Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>.</li>
<li> Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.</li>
<li> Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.</li>
</ol>
<p>Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:</p>
<ol>
<li>Fitnah pembunuhan khalifah UtsmanIni adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda&#8217;. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.</li>
<li>Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba&#8217; membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba&#8217;isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H. Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.</li>
<li>Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa&#8217; Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya&#8217;qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk.</li>
</ol>
<p>Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:</p>
<ol>
<li><strong>Yahudi Al Dunamah</strong>. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.</li>
<li><strong>Salibis Eropa</strong> yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.</li>
<li><strong>Organisasi bawah tanah/rahasia</strong>, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.</li>
</ol>
<p>Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:</p>
<ol type="a">
<li>Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan</li>
<li>Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.</li>
<li>Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya&#8217;b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.</li>
<li>Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum&#8217;iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.</li>
<li>Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.</li>
</ol>
<p>Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.</p>
<p>Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.com</a> dikutip oleh <a title="Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/yahudi-islam-dalam-sejarah.html">www.muslim.or.id</a><a href="http://ustadzkholid.com/"><br />
</a></p>
<div class="shr-publisher-496"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fyahudi-islam-dalam-sejarah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fyahudi-islam-dalam-sejarah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fyahudi-islam-dalam-sejarah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/yahudi-islam-dalam-sejarah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>119</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

