<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Nasehat Ulama</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/nasehat-ulama/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 00:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Khutbah Shalat Gerhana Syaikh Sholeh Al Fauzan</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 12:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7729</guid>
		<description><![CDATA[Dalam halaman ini kami transkrip dan terjemahkan khutbah singkat Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah (anggota Al Lajnah Ad Daimah) saat terjadi gerhana bulan di kota Riyadh KSA, Sabtu kemarin, 15 Muharram 1433 H, 10/12/2011 setelah<a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dalam halaman ini kami transkrip dan terjemahkan khutbah singkat Syaikh Sholeh Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> (anggota Al Lajnah Ad Daimah) saat terjadi gerhana bulan di kota Riyadh KSA, Sabtu kemarin, 15 Muharram 1433 H, 10/12/2011 setelah shalat Maghrib. Semoga kita bisa mengambil nasehat beliau sebagai pelajaran berharga.</p>
<p><em>Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.</em></p>
<p>Dulu di zaman jahiliyah, orang-orang menyembah matahari dan bulan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">وَمِنْ آَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ</p>
<p>“<em>Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah</em>.” (QS. Fushilat: 41)</p>
<p>Di zaman jahiliyah dahulu juga terdapat anggapan ketika terjadi gerhana matahari atau bulan, itu terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Dan memang dahulu terjadi gerhana di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> karena kematian anaknya, Ibrahim. Jadi orang-orang mengira gerhana itu terjadi karena kematian anaknya. Itulah keyakinan jahiliyah yang masih ada dahulu. Lantas Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menerangkan,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ</p>
<p>“<em>Matahari dan bulan adalah di antara tanda yang membuktikan kebesaran Allah. Gerhana itu muncul bukan karena sebab kematian seseorang</em>”.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Ketika terjadi gerhana, Allah ingin menakuti hamba-hamba-Nya. Terjadinya gerhana bukanlah karena kematian seseorang. Allah hanya ingin menakuti hamba-Nya kala itu. Ketika gerhana itu terlihat, maka segeralah shalat dan berdo’alah sampai gerhana tersebut berakhir.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ</p>
<p>”<em>Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah</em>. <em>Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang.</em>” (HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di sini mengingkari aqidah jahiliyah yang keliru ketika terjadinya gerhana matahari dan bulan. Dan hendaklah ketika terjadinya gerhana tadi, setiap orang shalat dan perbanyak do’a kala itu sampai gerhana berakhir.</p>
<p>Gerhana di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hanyalah sekali terjadi di Madinah setelah hijrah. Ketika itu beliau keluar dengan <em>rida’</em> (selendang) dengan penuh khusyu’ dalam keadaan takut pada Allah <em>Ta’ala</em>. Keadaan beliau kala itu seakan-akan terjadi kiamat. Perlu diketahui bahwa tidak ada yang mengetahui hari kiamat selain Allah <em>Ta’ala</em>. Beliau kemudian shalat bersama para sahabatnya, yaitu shalat kusuf (shalat gerhana). Beliau memperpanjang bacaan, ruku’ dan sujudnya. Lama bacaan beliau seperti sedang membaca surat Al Baqarah. Setelah membaca surat, lalu beliau ruku’ dengan ruku’ yang panjang seperti berdiri. Setelah ruku’, (beliau tidak langsung sujud) namun melanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang yang lebih ringan dari yang pertama. Lalu setelah itu beliau ruku’ dengan ruku’ yang lebih ringan dari yang pertama. Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud. Kemudian beliau berdiri dan melanjutkan raka’at kedua sama dengan cara pada raka’at pertama namun dengan tata cara yang lebih ringan. Kemudian setelah selesai raka’at kedua (seperti shalat lainnya), beliau salam. Gerhana pun selesai, lantas beliau pun memberikan nasehat pada para sahabatnya. Beliau memberi nasehat sesuai kondisi saat itu.</p>
<p>Intinya di atas, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melakukan shalat sebanyak dua raka’at. Setiap raka’at terdapat 2 kali ruku’ dan 2 kali sujud. Jadi keseluruhan raka’at shalat gerhana terdapat 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. Demikianlah tata cara shalat gerhana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan inilah riwayat yang shahih yang lebih kuat dari riwayat lainnya. Namun memang ada berbagai riwayat yang menerangkan shalat kusuf (gerhana). Akan tetapi, yang tepat adalah shalat gerhana yang beliau lakukan cuma sekali. Sehingga tidak mungkin kita katakan kadang beliau melakukan cara yang ini dan waktu lain beliau melakukan cara yang lain lagi. Ingatlah bahwa beliau hanya shalat gerhana sekali saja, sehingga tata cara yang menerangkan shalat gerhana hanyalah satu. Tata cara yang lebih tepat adalah seperti yang diterangkan dalam hadits yang telah kami sebutkan. Siapa yang telah melakukan seperti itu, maka <em>alhamdulillah</em>, segala puji hanya bagi Allah.</p>
<p>Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang yang malah ketika terjadinya gerhana, mereka menanti-nanti datangnya gerhana di padang pasir dan meninggalkan shalat gerhana. Ini sungguh perbuatan orang bodoh dan tanda kurangnya iman mereka. Padahal mereka bisa saja shalat.</p>
<p>Perlu dipahami bahwa boleh saja gerhana ini tanda awal-awal datangnya musibah. Perlu dipahami, siapa yang mampu membuat sinar matahari akan terus bersinar, begitu pula dengan rembulan? Siapa pula yang bisa menjamin bahwa sinar matahari yang tertutup tadi bisa kembali, begitu pula rembulan? Bukankah jika sinar keduanya itu hilang menandakan hari kiamat? Bukankah bisa jadi peristiwa ini adalah awal-awal datangnya adzab? <em>Nas-alullaha al ‘afiyah</em> (kita meminta pada Allah keselamatan).</p>
<p>Seorang muslim tentu tidak bisa campur tangan dalam hal-hal tadi, namun ia hanya bisa tunduk dan pasrah serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Para pakar memang bisa memperkirakan kapan gerhana itu datang, dapat diketahui dengan perhitung-perhitungan ketika melihat pergerakan bulan dan matahari. Hal ini dapat dikenal dari ilmu falak. Namun hal ini tidaklah menghalangi manusia untuk shalat sebagaimana diperintahkan. Gerhana juga menandakan bahwa sesuatu bisa berubah dengan kehendak Allah, Dia-lah yang menjadikan gerhana tersebut ada.</p>
<p><em>Ringkasnya</em>, kita wajib yakin, patut, dan takut pada Allah saat keadaan seperti ini. Dan sekali lagi perlu dipahami bahwa gerhana adalah di antara tanda-tanda kiamat. Perlu diketahui bahwa setelah nabi berhijrah, gerhana hanya terjadi sekali, itu baru terjadi selama 10 tahun. Coba lihat sekarang, gerhana terjadi setiap tahun, yaitu terjadi gerhana matahari dan bulan silih berganti. Ini semua dengan kehendak Allah demi menakut-nakuti hamba-Nya. <em>Nas-alullaha as salaamah wal ‘afiyah</em> (kita meminta pada Allah keselamatan).</p>
<p>Namun ada sebagian orang yang menyangka terjadinya gerhana hanyalah peristiwa alamiah karena perputaran matahari dan bulan saja. Lalu mereka nyatakan bahwa yang meyakini gerhana itu terjadi karena Allah ingin menakut-nakuti hamba-Nya sehingga diperintahkan shalat (gerhana), itu hanyalah anggapan <em>khurafat</em>. Sungguh mereka yang menyatakan semacam ini, berarti mengutarakan sesuatu kekufuran, tidak lain dan tidak bukan itu adalah pernyataan kufur. <em>Masa’ mereka menyatakan ini khurofat? Dan ini berarti menyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebarkan khurofat?</em> Kita berlindung pada Allah dari pemahaman sesat semacam itu. Lihatlah bagaimana yang mengutarakan pernyataan sesat di atas benar-benar telah tertipu dan benar-benar bodoh.</p>
<p>Kita mohon pada Allah keselamatan dan moga kita dihilangkan dari berbagai kejelekan. Semoga Allah menganugerahkan pada kita taubat yang ikhlas, dan moga Allah beri kita taufik dalam perkataan dan perbuatan.</p>
<p><em>Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. </em></p>
<p>[Khutbah Syaikh Shalih di atas diambil dari rekaman di tangan penulis saat membahas kitab fikih “<em>Muntaqal Akhbar</em>”, Bab “Batasan Aurat Laki-Laki”, di Masjid Jaami’ Al Amir Faishol bin Fahd di <em>Hayy Malqo</em>, Riyadh KSA, di hari Sabtu, 15 Muharram 1433 H, 10 Desember 2011. Khutbah berlangsung pada menit 46:33 – 56:15. Durus sementara dihentikan untuk pelaksanaan shalat gerhana kurang lebih setengah jam, dilanjutkan dengan khutbah dari Syaikh Shalih Al Fauzan. Yang menjadi imam shalat gerhana adalah salah satu murid senior beliau dan di dalam shalat gerhana dibacakan tiga surat dalam dua raka’at: surat Al ‘Ankabut, surat Ar Ruum dan setengah surat Luqman. Rekaman khutbah gerhana Syaikh Shalih Al Fauzan dapat didengar secara langsung di web site pribadi beliau <strong><a href="http://alfawzan.ws/sites/default/files/Khusuf_15_01_1433.mp3">di sini</a></strong>]</p>
<p>@ Sabic Lab, Riyadh KSA, 16 Muharram 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal<br />
</a><a href="http://muslim.or.id">Artikel www.muslim.or.id</a></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Bukhari no. 1044</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7729"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fkhutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
<enclosure url="http://alfawzan.ws/sites/default/files/Khusuf_15_01_1433.mp3" length="4608662" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Adab Bertanya Kepada Ahli Ilmu</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/adab-bertanya-kepada-ahli-ilmu.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/adab-bertanya-kepada-ahli-ilmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 04:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6657</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Shalih bin Abdil &#8216;Aziz Alu Asy Syaikh Ada beberapa keadaan yang berkaitan dengan masalah bertanya kepada ahli ilmu. Tentu manusia butuh untuk bertanya, namun pertanyaan ini bisa bermacam-macam keadaan. Keadaan yang berkaitan dengan<a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/adab-bertanya-kepada-ahli-ilmu.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Oleh: Syaikh Shalih bin Abdil &#8216;Aziz Alu Asy Syaikh</p>
<p>Ada beberapa keadaan yang berkaitan dengan masalah bertanya kepada ahli ilmu. Tentu manusia butuh untuk bertanya, namun pertanyaan ini bisa bermacam-macam keadaan. Keadaan yang berkaitan dengan penanya, serta keadaan yang berkaitan dengan orang yang ditanya.</p>
<p>Adapun bagi penanya, hendaknya ia memperhatikan adab-adab sehingga orang yang ditanya dapat menjawab dengan jawaban yang pas dan benar -<em>Insya Allah</em>-. Oleh karena, wajib bagi penanya untuk memperhatikan beberapa adab-adab dalam bertanya, diantaranya:</p>
<p><strong>Persiapkan pertanyaan dengan baik<br />
</strong>Salah satu adab yang mesti diperhatikan oleh penanya adalah bertanya dengan pertanyaan yang jelas dan tidak samar, yaitu menjelaskan duduk permasalahan sebelum bertanya. Perlu digaris-bawahi bahwa sebagian kaum muslimin ketika mendapatkan masalah atau <em>musykilah</em> (keraguan), lantas ia mendatangi ahli ilmu dan langsung bertanya tanpa mempersiapkan rincian permasalahannya. Atau terkadang, ia langsung menyalakan telepon lalu bertanya tentang hal yang mengganggunya tanpa menjelaskan keadaan yang berhubungan dengan pertanyaan. Atau ketika ia hendak meminta penjelasan, ia mendatangi orang alim lalu bertanya dengan beberapa rincian saja, lalu berkata: &#8220;<em>Demi Allah, saya tidak tahu tentang hal ini wahai orang alim, nasehatilah saya</em>&#8220;. Demikian. Tentu orang alim tadi menjawab: &#8220;<em>Saya tidak tahu</em>&#8220;.</p>
<p>Maka penanya hendaknya mempersiapkan rincian pertanyaan sebelum bertanya. Karena pertanyaan yang anda tanyakan adalah tentang hukum Allah <em>Jalla Wa &#8216;Ala</em>, yang jika anda mendapatkan jawabannya anda akan terbebas dari kesusahan. Dan orang alim yang ditanya pun mendapatkan gambaran pertanyaan dengan jelas. Karena jika tidak jelas, bagaimana mungkin ia dapat menjawab hal yang belum jelas?</p>
<p><strong>Memperhatikan waktu ahli ilmu<br />
</strong>Dengan demikian, hendaknya yang pertama dilakukan oleh penanya adalah mempersiapkan pertanyaan dengan baik dan bahasa yang sesingkat mungkin. Jangan anda mengira bahwa orang yang biasa ditanya masalah agama, yaitu <em>mufti</em> atau para <em>thalibul ilmi</em> yang dapat menjawab pertanyaan, janganlah anda mengira mereka itu hanya ditanya satu atau dua pertanyaan saja. Di zaman ini, dengan telepon, pada ahli ilmu memungkinkan untuk dihubungi baik dari daerah sendiri atau dari luar daerah. Bahkan mereka ditanya puluhan ribu kali dalam setahun, atau 20-30 pertanyaan sehari. Oleh karena itu, salah satu adab yang mesti diperhatikan oleh penanya, hendaknya penanya menyadari sempitnya waktu sang mufti tersebut, dan sempitnya waktu yang ia miliki untuk melayani pertanyaan.</p>
<p>Hendaknya ia mempersiapkan pertanyaan dengan bahasa yang jelas dan tidak samar serta bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sang mufti yang terbatas itu, sehingga pertanyaan yang ia sampaikan jadi bermanfaat. Dengan kata lain, jangan anda berpikiran bahwa yang dibalas teleponnya atau dijawab pertanyaannya hanyalah anda satu-satunya. Bahkan hendaknya anda menyadari bahwa yang bertanya kepada sang mufti ada puluhan orang yang bertanya setiap waktu. Sehingga wajib baginya memperhatikan kondisi dan adab, terutama dalam menyingkat pertanyaan. Dan jawaban pun tergantung dari pertanyaan yang disampaikan. Jika pertanyaan jelas, jawaban pun akan jelas. Oleh karena itu, anda lihat bahwa pertanyaan Malaikat Jibril kepada Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> merupakan dalil anjuran untuk bertanya dengan jelas dan dalil bahwa jawaban yang jelas itu dibangun dari pertanyaan yang jelas. Jibril <em>&#8216;Alaihissalam</em> bertanya kepada Nabi: &#8220;<em>Kabarkan kepadaku tentang Islam</em>&#8220;, ini pertanyaan yang jelas dan ringkas. Lalu &#8220;<em>Kabarkan kepadaku tentang iman</em>&#8220;, &#8220;<em>Kabarkan kepadaku tentang ihsan</em>&#8220;, &#8220;<em>Apa tanda-tanda kiamat?</em>&#8220;, dan semisal itu. Ini semua pertanyaan yang jelas, bahasa ringkas, dan diawali dengan rincian serta pertanyaan yang jelas sebelum bertanya. Inilah adab yang mestinya diperhatikan.</p>
<p>Kebanyakan yang terjadi, ketika jawaban seorang mufti tidak jelas itu disebabkan oleh pertanyaan yang tidak jelas. Andai penanya bertanya dengan mempersiapkan pertanyaan dengan baik lalu baru bertanya, tentu jawaban akan jelas.</p>
<p><strong>Tidak bertanya yang sudah diketahui<br />
</strong>Adab lain yang perlu diperhatikan oleh penanya adalah tidak bertanya tentang sesuatu yang sudah ia ketahui jawabannya. Sebagian penuntut ilmu, atau orang yang sudah bisa menelaah masalah, terkadang sudah pernah menelaah sebuah masalah dan mengetahui pendapat-pendapat para ulama tentang hal tersebut, namun ia datang kepada mufti lalu bertanya. Jika sang mufti menjawab dengan jawaban yang sesuai dengan salah satu pendapat yang ada, namun terdapat pendapat ulama yang berlainan, si penanya berkata: &#8220;<em>Apa dalil jawaban anda?</em>&#8220;. Jika dalilnya dijelaskan, si penanya pun membantah dalil tersebut, atau ditentang dengan dalil lain, atau ia berkata &#8220;<em>Sebagian ulama berkata tidak demikian</em>&#8220;, atau semacamnya. Bedakanlah antara bertanya untuk mengambil manfaat atau untuk mengajari -padahal anda orang yang tidak tahu- atau untuk mengajak diskusi. Karena bukan itu (melayani debat, pent.) tugas seorang ulama.</p>
<p>Dan anda pun belum membuka diskusi misalnya dengan berkata: &#8216;<em>Saya ingin mengajak anda berdiskusi tentang masalah ini</em>&#8216;. Apa yang dimaksud mengajak diskusi? Maksudnya &#8216;<em>aku akan berdebat denganmu, agar engkau tahu apa pendapat dan dalilku dan aku tahu pendapat dan dalilmu, sampai kita bertemu titik kebenaran</em>&#8216;. Bukan ini yang diharapkan, terlebih lagi hal ini merupakan sikap tidak sopan terhadap ahli ilmu. Karena perbuatan tersebut termasuk melukai hak seorang ulama, kecuali jika anda memaparkan bahwa anda ingin meminta bantuan beliau untuk meneliti sebuah permasalahan. Jika demikian, anda memiliki sebuah penelitian, dari penelitian itu dikeluarkan pertanyaan untuk diminta fatwa dari sang mufti, anda bertanya, mufti menjawab dan menjelaskan.</p>
<p>Sikap gemar bertanya hal yang sudah diketahui jawabannya ini terkadang juga terjadi di kalangan para penuntut ilmu di majelis ilmu.Ia mengetahui jawabannya namun tetap bertanya agar orang lain tahu bahwa ia mengajukan pertanyaan yang bagus, atau semisal itu. Mulai dari sekarang, kurangilah bertanya hal yang sudah diketahui jawabannya, dan bertanyalah pada hal yang belum tahu saja. Demikianlah adabnya. Oleh karena itu Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;" align="RIGHT"><span style="font-family: Tahoma; font-size: 18px;">فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</span></p>
<p>“<em>Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu</em>”</p>
<p>Jika sudah tahu, jangan bertanya. Karena anda sudah punya ilmunya, dan waktu seorang mufti atau seorang penuntut ilmu itu dapat digunakan untuk kepentingan dan kewajiban lain yang sangat banyak. Sehingga ia dapat menghemat waktu untuk aktifitas yang lainnya.</p>
<p><strong>Cukup bertanya kepada satu orang ahli ilmu yang dipercaya<br />
</strong>Adab lain yang mesti diperhatikan adalah jangan menyebutkan pendapat mufti lain kepada mufti yang ditanya. Sebagian orang bertanya lewat telepon sekali, setelah itu bertanya lagi kepada yang lain, lalu bertanya lagi kepada yang lain, lalu bertanya lagi kepada yang lain. Akhirnya ia pun bingung. Karena bingung, akhirnya ia pun memilih jawaban yang paling enak dan ringan. Ini tidak patut. Hendaknya penanya jika memiliki pertanyaan ia datang kepada seorang alim yang ia percayai keilmuannya dan kebagusan agamanya. Sebagaimana perkataan para ulama:</p>
<p style="text-align: center;" align="RIGHT"><span style="font-family: Tahoma; font-size: 18px;">ينبغي للمستفتي أنْ يسأل من يثق بعلمه ودينه</span></p>
<p>&#8220;<em>Hendaknya penanya itu bertanya kepada orang yang ia percayai keilmuannya dan kebagusan agamanya</em>&#8221;</p>
<p>Jika anda percaya kepada Fulan maka tanyalah ia, lalu setelah itu jangan tanya lagi kepada yang lain. Karena jika anda bertanya kepada yang lain, kadang akan mendapatkan jawaban berbeda yang membuat anda bingung.</p>
<p>Terkadang anda boleh bertanya kepada lebih dari satu orang, jika jawaban pertama itu meragukan dari sisi dalil. Yaitu jika penanya memiliki sedikit ilmu tentang dalil lalu jawaban pertama agak meragukan dari sisi dalil, maka boleh bertanya kepada yang lain. Karena dalam hal ini, apakah jawaban yang membuat anda puas bukanlah yang cocok dengan kondisi anda, atau jawaban yang tidak sulit mengamalkannya, atau karena anda berniat mencari-cari jawaban yang paling enak dan ringan? Tidak, namun dari sisi adanya keraguan apakah jawaban tersebut memang benar-benar sesuai dengan apa yang diputuskan oleh Allah dan Rasul-Nya <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> atau tidak? Ini terjadi jika penanya tahu sebagian dalil yang bertentangan dengan jawaban pertama.</p>
<p>Oleh karena ini, merupakan adab dalam bertanya adalah tidak bertanya kepada lebih dari satu orang alim untuk satu pertanyaan, karena dapat berakibat:</p>
<ol>
<li>Membuang-buang waktu orang alim</li>
<li>Dapat menyebabkan penanya kebingungan. Kebanyakan mereka berkata: &#8220;<em>Saya sudah lelah bertanya namun masih bingung. Mufti A berkata demikian, Mufti B berkata demikian</em>&#8220;. Kita katakan: &#8220;Anda yang salah dari awal. Karena anda bertanya kepada lebih dari satu orang alim. Tanyalah kepada orang alim yang anda percayai keilmuannya dan kebagusan agamanya. Ambillah fatwanya dan anda pun tidak ada beban lagi di hadapan Allah. Karena yang Allah perintahkan kepada anda adalah bertanya kepada ahli dzikir, dan anda telah melaksanakannya. Janganlah menambah-nambah beban bagi diri anda&#8221;</li>
</ol>
<p><strong>Bertanya dengan lugas, tidak berputar-putar<br />
</strong>Adab lain yang juga mesti diperhatikan adalah tidak bertanya dengan pertanyaan yang berputar-putar. Misalnya seseorang bertanya: “<em>Ada orang yaitu si Fulan, ia mengalami ini dan itu&#8230;</em>”. Padahal penanya ini ingin menanyakan permasalahan yang terjadi padanya dengan memberikan pertanyaan yang kasusnya mirip. Penanya ini mengira, jika pertanyaan ini dijawab, maka jawaban itu berlaku juga untuk dirinya. Padahal pada kenyataannya masalah yang dimiliki si penanya berbeda dengan yang ditanyakan, namun si penanya mengira sama. Orang alim yang ditanya pun tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya dan ia tidak tahu bahwa yang butuh solusi adalah si penanya itu, akhirnya orang alim ini menjawab secara umum saja.</p>
<p>Bertanya kepada ahli ilmu bukanlah aib, bahkan itu perbuatan mulia. Karena menunjukkan bahwa si penanya bersemangat dalam kebaikan dan untuk terlepas dari bebannya, sehingga dapat meringankan kesulitan ia kelak ketika menghadap Allah <em>Ta’ala</em>. Ketika anda bertanya, janganlah bertanya dengan berputar-putar. Tanyalah secara jelas sesuai dengan kenyataan yang ada, janganlah segan. Sebagian shahabiyyah pernah bertanya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> tentang haid, tentang kehamilan bagaimana hukumnya, dll. Dalam pertanyaan bukanlah tempatnya untuk malu-malu. Malu itu memang terpuji, namun jika malu itu dapat menjauhkan anda dari ilmu tentang hukum Allah maka saat itu malu tidak terpuji, sebagaimana terdapat dalam hadits.</p>
<p>Jika demikian, termasuk adab yang mesti diperhatikan oleh penanya adalah bertanya sesuai dengan kebutuhannya. Jangan mengira bahwa jika anda memutar-mutar pertanyaan, anda akan mendapatkan jawaban yang sesuai dengan kebutuhan anda. Padahal sebaliknya, ternyata jika permasalahan atau kejadian itu dijelaskan dengan jelas justru akan didapatkan jawaban yang 100% berbeda. Oleh karena itu jangan berputar-putar ketika bertanya kepada ahli ilmu, baik dalam permasalahan fiqih, masalah pribadai atau yang berkaitan dengan kejadian-kejadian. Bertanyalah dengan jelas, dan ini termasuk menghormati ahli ilmu serta merupakan usaha untuk mendapatkan jawaban yang benar. Adapun jika kita ‘membodohi’ para ahli ilmu sehingga kita mendapatkan jawaban mereka, ini bukan sikap yang layak. Yang layak adalah memuliakan mereka. Perbuatan ini pun membuat anda belum terlepas dari beban untuk bertanya kepada ahli ilmu. Karena anda yang telah membuat orang alim tersebut menjawab, padahal jika anda menjelaskan pertanyaan sesuai keadaan sebenarnya terkadang jawabannya berbeda. Oleh karena itu, anda belum bebas dari beban</p>
<p>Dari hal ini, saya memandang bahwa permasalahan-permasalahan yang terjadi berupa dipertentangkannya fatwa-fatwa ulama, baik dalam masalah fiqih, masalah aktual, masalah sosial, atau yang lain, adalah karena orang yang bertanya menggunakan pertanyaan yang berputar-putar dan menyamarkan sang mufti. Yang dimaksud bukanlah yang ditanyakan. Sikap ini tidaklah layak. Karena Allah Ta’ala memerintahkan kita dengan perintah yang jelas, yaitu bertanya. Sedangkan perbuatan ini termasuk melampaui batas dari yang selayaknya, yaitu bertanya dengan adab yang baik.</p>
<p><strong>Bertanya untuk diri sendiri<br />
</strong>Adab lain yang semestinya diperhatikan ketika bertanya adalah hendaknya penanya bertanya untuk dirinya dan bukan untuk orang lain. Banyak penanya yang berkata: “<em>Temanku titip pesan, ia bertanya tentang ini dan itu&#8230;</em>”. Atau ia berkata: “<em>Jika Fulan -yaitu teman kerjanya- demikian, maka ia akan mengalami demikian dan demikian, ia titip pesan untuk menanyakannya kepada anda</em>”. Keadaannya bisa bermacam-macam. Padahal seorang mufti tentu akan meminta rincian, dan tentu ia akan bertanya tentang rincian itu, misalnya: “<em>Bagaimana kejadian sebenarnya?</em>”, atau “<em>Apakah kejadiannya seperti ini dan itu?</em>”. Jika penanya ini bukanlah orang yang memiliki pertanyaan, ia tentu tidak bisa menjawab pertanyaan tentang rincian tersebut, melainkan hanya tahu sebatas pertanyaan singkat yang diberikan.</p>
<p>Dan terkadang, hal yang dapat membuat penanya yang sebenarnya langsung bertanya kepada orang alim adalah adanya keseganan atau rasa malu. Sebagaimana yang terjadi pada Ali bin Abi Thalib <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, ia lelaki yang sering keluar banyak <em>madzi</em>. Namun ia malu bertanya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>karena Nabi adalah mertuanya. Ali pun segan dan malu untuk bertanya kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> tentang hal yang berhubungan dengan perihal suami-istri ini. Maka Ali pun mengutus Miqdad untuk menanyakan kepada Nabi tentang masalah ini. Lalu Nabi menjawab. Kemudian Miqdad <em>Radhiallahu’anhu </em>menukilkan jawaban tersebut kepada Ali <em>Radhiallahu’anhu</em>.</p>
<p>Jika demikian, pada asalnya seseorang hendaknya tidak bertanya kecuali yang khusus untuk dirinya. Karena jawaban pertanyaan bisa berbeda-beda tergantung penanya dan tergantung konteks pertanyaan. Selain itu, orang yang dipesankan pertanyaan tidak selalu pasti bisa menjelaskan jawaban sesuai dengan yang sebenarnya. Dan kebanyakan dari kondisi ini, jawaban dari fatwa bisa didapatkan jika pertanyaan ini tidak ada kesamaran dalam konteks pertanyaan.</p>
<p><strong>Jangan terburu-buru minta dijawab dengan segera<br />
</strong>Adab lain yang semestinya diperhatikan adalah jika anda bertanya kepada ahli ilmu lewat telepon atau bukan lewat telepon, janganlah meminta untuk dijawab dengan segera secara tertulis atau dijawab dalam rekaman, kecuali jika orang alim tersebut mengizinkan. Kejadian ini sering saya dapati berkali-kali, yaitu sebagian ikhwah mereka merekam jawaban dari ahli ilmu dengan cara yang tidak layak. Hal ini dikarenakan seorang alim hanya menjawab sesuai kadar pertanyaan dari si penanya. Yang bisa jadi, jika orang alim ini sebelumnya diberitahu bahwa jawaban beliau itu direkam dan akan diperdengarkan kepada orang banyak, jawabannya akan berbeda. Dan hal ini termasuk kurang hormat kepada ahli ilmu dan kurang memperhatikan adab terhadap mereka, yaitu merekam jawaban dari ahli ilmu dengan telepon atau tulisan, lalu disebarkan tanpa izin mereka. Karena ahli ilmu memiliki hak untuk memutuskan fatwanya boleh disebar secara penuh kepada orang banyak atau tidak. Dan penanya hendaknya bertanya khusus untuk dirinya. Jika anda memang ingin merekamnya, hendaknya diawal pertanyaan anda mengatakan: “<em>Semoga Allah memberikan kebaikan untuk anda. Saya bermaksud untuk merekam jawaban anda dalam rekaman, dan rekaman akan dimulai dari sekarang</em>”. Jika beliau memang mengizinkan, maka anda telah melakukan adab yang selayaknya.</p>
<p>Kemudian jangan berlaku kurang hormat serta membuat duduk perkaranya kurang jelas, yaitu seseorang memanfaatkan beberapa kesempatan, merekam jawaban dari ahli ilmu, yang sebenarnya tidak disukai oleh ahli ilmu yang memfatwakannya. Hal ini berkali-kali terjadi, ketika ahli ilmu tersebut dikonfirmasi mengenai rekaman fatwa tadi, ia berkata: “<em>Saya tidak pernah berkata demikian secara rinci, karena dalam masalah ini ada perincian</em>”. Nah coba perhatikan, jawaban di rekaman sudah jelas, namun mengapa ahli ilmu tersebut mengatakan dalam masalah tersebut masih ada perincian? Jawabannya, karena sekarang beliau sudah memiliki gambaran permasalahan sebenarnya, namun saat penanya bertanya lewat telepon beliau mengira pertanyaan ini bukanlah tentang diri si penanya tersebut.</p>
<p>Kita diperintahkan untuk menghormati ahli ilmu, sebagaimana terdapat dalam banyak atsar dari tabi’in yang menyatakan demikian. Dan termasuk dalam sikap hormat terhadap ahli ilmu adalah tidak bersikap lancang dengan menyebarkan rekaman perkataan mereka, atau menulisnya, kecuali ada penyataan dari mereka boleh untuk melakukannya. Demikian juga yang berupa rekaman syarah (penjelasan) tentang suatu masalah, seharusnya di serahkan dahulu kepada ahli ilmu tersebut, biar beliau yang memutuskan apakah akan disebarkan, akan di-edit, dihapus, atau boleh direkam semuanya. Seharusnya demikian. Karena terkadang, sebuah ilmu itu bermanfaat bagi sebagian kecil orang, namun tidak bermanfaat bagi sebagian besar orang. Karena kebanyakan orang, yaitu masyarakat, berbeda-beda tingkatan pemahamannya. Karena seorang alim, ketika akan berbicara, ia melihat keadaan audiens yang ada. Demikianlah. Jika seorang ulama sudah diberitahu bahwa jawabannya akan disebarkan kepada masyarakat yang berbeda-beda tingkat pemahamannya, ia akan menjawab dengan jawaban yang berbeda. Oleh karena itu, jika anda perhatikan anda akan menemukan seorang ulama memiliki jawaban berbeda antara menjawab pertanyaan lewat telepon dengan jawaban yang anda dengar dari acara <em>Nuurun &#8216;Ala Darb</em>. Bisa jadi pada jawaban tersebut memang terdapat <em>tafshil</em> (rincian), dalil (pendalilan lain), <em>ta’lil </em>(sisi alasan lain), atau semacamnya. Sehingga pada acara <em>Nuurun &#8216;Ala Darb</em> misalnya, beliau akan menjawab dengan lengkap. Sedangkan jawaban beliau terhadap anda lewat telepon cukup sekedar jawaban “<em>ini benar</em>”, atau “<em>ini tidak benar</em>”, atau “<em>boleh</em>”, atau “<em>ini tidak boleh</em>”, atau “<em>yang sunnah adalah begini</em>, (secara ringkas)”, karena waktunya sempit untuk menjawab dengan rinci kepada semua orang.</p>
<p>Demikianlah sebagian adab yang berkaitan dengan penanya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>[Dikutip dari transkrip ceramah beliau yang ada di web http://www.islamport.com/w/akh/Web/2312/5.htm ]</p>
<p>Penerjemah: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6657"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fadab-bertanya-kepada-ahli-ilmu.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/adab-bertanya-kepada-ahli-ilmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersemangatlah Menuntut Ilmu Agama</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bersemangatlah-menuntut-ilmu-agama.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bersemangatlah-menuntut-ilmu-agama.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 00:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu diin]]></category>
		<category><![CDATA[menuntut ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6338</guid>
		<description><![CDATA[Menuntut ilmu agama termasuk amal yang paling mulia, dan ia merupakan tanda dari kebaikan. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, akan dimudahkan untuk memahami ilmu agama” (HR. Bukhari-Muslim). Hal<a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bersemangatlah-menuntut-ilmu-agama.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Menuntut ilmu agama termasuk amal yang paling mulia, dan ia merupakan tanda dari kebaikan. Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, akan dimudahkan untuk memahami ilmu agama</em>” (HR. Bukhari-Muslim). Hal ini dikarenakan dengan menuntut ilmu agama seseorang akan mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat baginya untuk melakukan amal shalih.</p>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “<em>Dan Allahlah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan hudaa dan dinul haq</em>” [At Taubah: 33]. Dan hudaa di sini adalah ilmu yang bermanfaat, dan maksud dinul haq di sini adalah amal shalih. Selain itu, Allah Ta’ala pernah memerintahkan Nabi-Nya <em>Shalallahu’alaihi Wasallam</em> untuk meminta tambahan ilmu, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman yang artinya, “<em>Katakanlah (Wahai Muhammad), Ya Rabb, tambahkanlah ilmuku</em>” [Thaha: 114]. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Ayat ini adalah dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabinya <em>Shalallahu’alaihi Wasallam</em> untuk meminta tambahan terhadap sesuatu, kecuali ilmu” [<em>Fathul Baari</em>, 187/1]. Dan Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi Wasallam</em> memberi nama majlis ilmu agama dengan ‘<em>Riyadhul Jannah</em>’ (Taman Surga). Beliau juga memberi julukan kepada para ulama sebagai ‘<em>Warotsatul Anbiyaa</em>’ (Pewaris Para Nabi).</p>
<p>Dari sisi keilmuan dan pengamalan terhadap ilmu, manusia terbagi menjadi 3 jenis:</p>
<p><strong>Jenis yang pertama</strong> yaitu orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Mereka ini adalah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah untuk menempuh shiratal mustaqim, yaitu jalan yang lurus yang telah ditempuh oleh para nabi, orang-orang jujur, pada syuhada, dan orang-orang shalih. Dan merekalah teman yang terbaik.</p>
<p><strong>Jenis yang kedua</strong> yaitu orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya. Mereka ini adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah, semisal orang-orang Yahudi dan pengikut mereka.</p>
<p><strong>Jenis yang ketiga</strong> yaitu orang yang beramal tanpa ilmu. Mereka ini adalah orang-orang yang sesat, semisal orang-orang Nashrani dan para pengikut mereka.</p>
<p>Ketiga jenis manusia ini tercakup dalam surat Al Fatihah yang senantiasa kita baca setiap rakat dalam shalat kita,yang artinya: ”<em>Ya Rabb, tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang Engkau beri ni’mat, bukan jalannya orang yang Engkau murkai dan bukan jalannya orang-orang yang sesat</em>” [Al Fatihah: 6 - 7].</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Firman Allah <em>Ta’ala</em> (yang artinya) ‘<em>bukan jalannya orang yang Engkau murkai dan bukan jalannya orang-orang yang sesat</em>’, yang dimaksud orang yang dimurkai di sini adalah para ulama yang tidak mengamalkan ilmu mereka. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Apapun yang pertama, adalah sifat Yahudi. Dan yang kedua adalah sifat Nashrani. Namun kebanyakan orang jika melihat tafsir ayat ini mereka mengira bahwa sifat ini khusus bagi Yahudi dan Nashrani saja, padahal ia membaca bahwa Rabb-nya memerintahkan untuk membaca doa tersebut dan berlindung dari jalannya orang-orang yang bersifat demikian. Subhanallah! Bagaimana mungkin Allah mengabarkan sesuatu dan memilah sesuatu serta memerintahkan untuk selalu berdoa jika tidak ada maksud untuk memberi peringatan atau memberi gambaran keburukan mereka untuk dijauhi. Hal ini termasuk perbuatan berprasangka buruk terhadap Allah. (Karena mengira bahwa firman Allah tersebut tidak ada faedahnya -pent.)”. (Lihat <em>Tarikh Najdi</em>, Ibnu Ghonam)</p>
<p>Dan beliau juga menjelaskan tentang hikmah diwajibkannya membaca surat Al Fatihah dalam tiap rakaat shalat kita, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, yaitu sebuah rahasia yang agung. Secara ringkas rahasia dari doa tersebut adalah harapan agar Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk kepada jalannya orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, yang merupakan jalan keselamatan di dunia dan di akhirat. Juga harapan agar Allah Ta’ala menjaga kita dari jalannya orang-orang yang binasa, yaitu orang-orang yang berlebihan dalam amal shalih saja atau berlebihan dalam ilmu saja.</p>
<p>Kemudian, ketahuilah wahai pembaca yang budiman, ilmu yang bermanfaat itu di ambil dari Al Qur’an dan hadits, dengan bantuan para pengajar, juga dengan bantuan kitab-kitab tafsir Al Qur’an dan kitab <em>syarah</em> (penjelasan) hadits, kitab fiqih, kitab nahwu, dan kitab bahasa arab yang merupakan bahasa Al Qur’an. Semua kitab ini adalah gerbang untuk memahami Al Qur’an dan Sunnah.</p>
<p>Wahai saudaraku, agar amalmu termasuk amal shalih, wajib bagimu untuk mempelajari hal-hal pokok yang menegakkan agamamu. Seperti mempelajari tentang shalat, puasa, haji, zakat, juga mempelajari perkara muamalah yang engkau butuhkan. Agar engkau dapat mengambil yang boleh saja dan tidak terjerumus pada hal yang diharamkan oleh Allah <em>Ta’ala</em>. Agar penghasilanmu halal, makananmu halal sehingga doamu dapat dikabulkan oleh Allah <em>Ta’ala</em>. Semua ini adalah hal-hal yang mempelajarinya adalah kebutuhan bagimu. Semua ini akan mudah dijalani, dengan izin Allah, bila benar tekadmu dan bersih niatmu.</p>
<p>Maka bersemangatlah membaca kitab-kitab yang bermanfaat, dan berkonsultasilah dengan para ulama. Tanyakanlah kepada mereka tentang hal-hal yang membuatmu bingung, dan temukan jawaban tentang hukum-hukum agamamu. Hal ini bisa dilakukan dengan menghadiri pengajian-pengajian yang diadakan di masjid atau di tempat lain, atau mendengarkan program-program Islami dari siaran radio, atau membaca majalah atau buletin yang membahas permasalahan agama, jika engkau bersemangat terhadap semua media-media yang bermanfaat ini, tentu bersinarlah cahaya ilmu bagimu dan teranglah penglihatanmu.</p>
<p>Dan jangan lupa saudaraku, ilmu itu akan disucikan dengan amal. Jika engkau mengamalkan apa yang telah engkau ilmui, maka Allah Ta’ala akan menambahkan ilmu bagimu. Sebagaimana peribahasa orang arab “<em>Orang yang mengamalkan apa yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang belum ia ilmui</em>”. Peribahasa ini dibenarkan oleh firman Allah Ta’ala yang artinya: “<em>Bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan membuatmu berilmu. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu</em>” [Al Baqarah: 272]</p>
<p>Ilmu adalah kesibukan yang paling layak untuk mengisi waktu, ia juga merupakan hadiah yang paling layak untuk diperlombakan bagi orang-orang yang berakal. Ilmu akan menghidupkan hati dan mensucikan amal.</p>
<p>Allah Ta’ala telah memuji para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mengangkat derajat mereka dalam Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “<em>Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakal saja yang dapat menerima pelajaran</em>” [Az Zumar: 9]. Allah<em> Ta’ala</em> juga berfirman yang artinya, “<em>Allah telah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu dari kalian beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan</em>” [Al Mujaadalah: 11]. Allah <em>Ta’ala</em> telah menjelaskan keistimewaan orang-orang berilmu yang digandengkan dengan iman. Kemudian setelah itu Allah mengabarkan Ia Maha Mengetahui atas apa yang kita kerjakan. Maka di sini terdapat tanda yang menunjukkan bahwa ilmu harus digandengkan dengan amal, dan juga harus bersandar pada iman dan <em>muqorobah</em> kepada Allah <em>Subhanahu Wa Ta’ala</em>.</p>
<p>[Diterjemahkan dari muqoddimah kitab “<em>Al Mulakhos Al Fiqhiy</em>”, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6338"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fbersemangatlah-menuntut-ilmu-agama.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bersemangatlah-menuntut-ilmu-agama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahai Rakyat Mesir</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/wahai-rakyat-mesir.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/wahai-rakyat-mesir.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 02:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[mesir]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5542</guid>
		<description><![CDATA[SERUAN UNTUK RAKYAT MESIR DARI MESJID IMAM AHMAD BIN HANBAL DI ISKANDARIAH MESIR WAHAI RAKYAT MESIR .. TAKUTLAH KALIAN KEPADA FITNAH YANG AKAN MENGHANCURKAN NEGERI KALIAN! Pemuda-pemuda Mesir sang Pahlawan yang gagah berani! Tokoh-tokoh Mesir <a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/wahai-rakyat-mesir.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>SERUAN UNTUK RAKYAT MESIR DARI MESJID IMAM AHMAD BIN HANBAL DI ISKANDARIAH MESIR</p>
<p>WAHAI RAKYAT MESIR .. TAKUTLAH KALIAN KEPADA FITNAH YANG AKAN MENGHANCURKAN NEGERI KALIAN!</p>
<p>Pemuda-pemuda Mesir sang Pahlawan yang gagah berani!</p>
<p>Tokoh-tokoh Mesir  yang kokok laksana gunung menjulang!</p>
<p>Wanita-wanita Mesir yang merdeka!</p>
<p>Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh</p>
<p>Di waktu berjalannya penghancuran negeri kita di tangan sekelompok  orang yang melampui batas, dan pembunuhan yang dilakukan oleh para  pencuri dan pelaku kejahatan yang menumpahkan darah. Tidak ada lagi yang  dapat diperbuat oleh seorang muslim yang bersaksi An Laa Ilaaha  Illallah wa Anna Muhammadur Rasulullah kecuali kembali kepada Kitab  Robbnya dan kepada Sunnah NabiNya shollallahu ‘alaihi wa sallama.  Memetik nasehat dan pelajaran dari keduanya tentang fitnah dan huru-hara  yang sedang melanda kita. Tidak ada yang tahu kecuali Allah kemana  bahtera negeri ini membawa kita, apakah menuju keselamatan atau akan  karam Laa Haw laa wa laa Quwwata Illa billah.</p>
<p>Sesungguhnya penghancuran Mesir adalah cita-cita setiap orang yang  zholim, angan-angan semua orang yang iri dan dengki serta kesempatan  yang dinanti-nanti oleh musuh islam.</p>
<p>Mesirnya Amru bin ‘Ash,</p>
<p>Mesirnya Sholaahuddin Al-Ayyubi,</p>
<p>Mesirnya Saifud Din Quthuz, Azh-Zhohr Baibers dan Najmud Din Ayyub,</p>
<p>Mesirnya Al-Laits bin Sa’ad, Asy-Syafi’I, Ath-Thohawy, Ibnu Hajar,  As-Suyuthi, Ibnu Daqiq Al-‘Id dan lain-lainnya dari para pemimpin kita  yang gagah berani serta ulama-ulama yang mulia.</p>
<p>Wahai rakyat Mesir .. jagalah negeri kalian. Bertakwalah kepada Allah  di rumah-rumah kalian, mesjid-mesjid kalian dan tempat-tempat ibadah  kalian.</p>
<p>Wahai rakyat Mesir .. sesungguhnya musuh-musuh kalian ingin  menghancurkan rumah kalian dengan  tangan kalian sendiri dan membunuh  anak-anak kalian dengan pedang kalian sendiri. mereka tidak menembakkan  satu pelurupun kepada kalian, akan tetapi kalianlah yangmenembakkan  peluru-peluru kepada diri kalian sendiri dan menghancurkan rumah-rumah  kalian dengan tangan kalian sendiri.</p>
<p>Tidakkah orang-orang yang mengajak manusia keluar berdemo mengetahui  bahwasanya akan di antara mereka para pelaku tindak criminal yang  menyusup dan mencuri kesempatan untuk menghancurkan bangunan dan merusak  harta milik manusia sedangkan mereka tidak mampu menangkap, atau  menahan atau menghalangi orang-orang tersebut.</p>
<p>Apakah kalian ingin para tentaran kita meninggalkan tugasnya untuk  menjaga perbatasan negeri kita diluar agar kita berperang melawannya di  dalam sehingga darah mengalir deras di jalanan kita, dan rumah-rumah  dihancurkan serta kehormatan dirusak? Dan kita beralih dari kondisi yang  buruk kepada yang lebih buruh darinya? Wal ‘iyadz billah – inilah dia  ciri-ciri fitnah.</p>
<p>Sesungguhnya para pendemo – sekalipun hari ini mereka sepakat – atas  kepergian fulan, maka mereka tidak akan sepakat esok untuk memilih siapa  yang akan mengatur urusan umat ini. karena mereka adalah kelompok yang  banyak, dan hawa nafsu yang beragam. Sesama mereka ada perselisihan dan  pertentangan yang Allah lebih mengetahui hal itu. Dan setiap mereka  berharap mendapatkan kekuasaan, keburukan mereka tidak lebih sedikit  dari orang-orang yang berkuasa sekarang.</p>
<p>Dan negeri ini akan terus berada dalam kekacauan tidak ada kendalinya  serta tidak ada yang mengetahui kapan akan berakhir kecuali Allah.</p>
<p>Maka janganlah kalian menta’ati mereka wahai penduduk Mesir!</p>
<p>Janganlah keluar bersama mereka! Kembalilah kepada Allah Ta’ala dalam  rangka memperbaiki kondisi kalian, dan Dialah sebaik-baik wali dan  penolong.</p>
<p>Wahai rakyat Mesir .. ingatlah firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;">وإنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئاً إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ</p>
<p>“Dan jika kalian bersabar dan bertakwa tidak akan membahayakan kalian  tipu-daya mereka sedikitpun, sesungguhnya Allah maha meliputi apa yang  mereka perbuat”.</p>
<p>Wahai rakyat Mesir ..ingatlah hadits Nabi kalian di dalam  Ash-Shohihain dari Abu Hurairah beliau berkata : Rasulullah shollallahu  ‘alaihi wa sallama bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">” ستكون فتن ، القاعد فيها خير من القائم ، والقائم فيها خير من الماشي ، الماشي فيها خير من الساعي ، من تشرف لها تستشرفه ”</p>
<p>“Akan terjadi fitnah-fitnah, orang yang duduk padanya lebih baik dari  pada orang yang berdiri. Dan orang yang berdiri padanya lebih baik dari  pada orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan padanya lebih baik  dari pada orang yang berlari barangsiapa  mengikuti atau menginginkannya  fitnah akan membinasakannya”.</p>
<p>Barangsiapa yang menginginkannya dan ikut serta di dalamnya maka fitnah itu akan membinasakannya .. akan membinasakannya.</p>
<p>Maka tetaplah dirumah kalian .. ta’atilah Robb kalian, tahanlah lidah kalian dan laksanakanlah apa yang difardhukan atas kalian.</p>
<p>Alangkah agungnya apa yang ditunjukkan syara’ kepada kita dan  alangkah buruknya ajakan orang-orang jahil dan para demonstran dan  pelaku keonaran. (http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=28349)</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://abuzubair.net/">Ustadz Abuz Zubair Hawaary</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p><strong><strong> </strong></strong><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<div class="shr-publisher-5542"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fwahai-rakyat-mesir.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/wahai-rakyat-mesir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Perbuatan Maksiat</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/akibat-perbuatan-maksiat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/akibat-perbuatan-maksiat.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 00:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5032</guid>
		<description><![CDATA[Khutbah Jum&#8217;at Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin 12 Muharram 1411 Hijriah Khutbah pertama Segala puji bagi Allah yang di tanganNya perbendaharaan langit dan bumi, bagiNyalah kepemilikan dan bagiNyalah segala pujian dan Dia menyaksikan segala sesuatu.<a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/akibat-perbuatan-maksiat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Khutbah Jum&#8217;at Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin</p>
<p>12 Muharram 1411 Hijriah<br />
<strong><br />
<span style="color: #ff0000;">Khutbah pertama</span></strong></p>
<p>Segala  puji bagi Allah yang di tanganNya perbendaharaan langit dan bumi,  bagiNyalah kepemilikan dan bagiNyalah segala pujian dan Dia menyaksikan  segala sesuatu. Dia memiliki hikmah dalam segala keputusannya baik dalam  syari’atNya maupun dalam taqdir yang ditetapkanNya. Dia melakukan apa  saja yang dikehendakiNya dan menghukum dengan yang Dia inginkan. Aku  bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah,  tidak ada syarikat bagiNya, Dzat yang Maha melindungi dan Maha terpuji.  Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya,  penutup para nabi dan merupakan pimpinan para nabi dan merupakan hamba  yang paling mulia. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi dan  kepada keluarganya dan para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia  dengan baik hingga hari kiamat.<br />
Kemudian dari pada itu,</p>
<p>Sesungguhnya Allah telah berfirman seraya menjelaskan kesempurnaan  kekuasaanNya  dan kesempurnaan hikmahNya  dan bahwasanya segala perkara  adalah di bawah kekuasaan-Nya dan Dialah yang mengatur bagi  hamba-hamba-Nya apa yang  dikehendakiNya- berupa keamanan dan  ketenangan, ketakutan, kemakmuran, kesulitan, kemudahan, kesempitan,  sedikit, banyak….dan seterusnya, Allah berfirman</p>
<p style="text-align: center;">(يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ (الرحمن:29<br />
<em><br />
Semua yang ada di langit dan di bumi selalu minta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. 55:29)</em></p>
<p>Allah memutuskan perkara-perkara yang  berlaku pada makhluknya, hukum-hukum-Nya berlaku pada hamba-hambaNya  terkadang seseuai dengan kebijaksanaan-Nya dan karunianya, dan terkadang  sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan keadilan-Nya, Dan Tuhanmu tidak  akan berbuat dzalim kepada siapapun</p>
<p style="text-align: center;">(وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ) (الزخرف:76)</p>
<p><em>Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 43:76) </em></p>
<p>Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…<br />
Kita  beriman kepada Allah dan taqdirNya. Beriman kepada taqdir Allah  merupakan salah satu rukun iman. Kita beriman bahwasanya apa saja yang  kita rasakan berupa kebaikan dan kelapangan semua itu merupakan nikmat  Allah yang Allah karuniakan kepada kita yang mewajibkan kita untuk  bersyukur kepada Dzat sumber karunia dan pemilik karunia tersebut dengan  taat kepadaNya, yaitu dengan menjauhi laranganNya dan menjalankan  perintahNya. Karena jika kita taat kepada Allah maka kita telah  bersyukur atas karunia Allah dan jika demikian maka kita berhak untuk  meraih apa yang dijanjikan Allah kepada kita, yaitu karunia Allah kepada  kita dengan memberi tambahan kenikmatan. Allah berfirman</p>
<p style="text-align: center;">(وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ) (النحل:53)</p>
<p><em>Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), (QS. 16:53)</em></p>
<p>(وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ) (ابراهيم:7)</p>
<p><em>“Dan  (ingatlah juga), takala Rabbmu mema&#8217;lumkan:&#8221;Sesungguhnya jika kamu  bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu  mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih&#8221;. (QS.  14:7)</em></p>
<p>Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…<br />
Kita  di Negara Saudi Arabia ini, alhamdulillah kita berada di atas kehidupan  yang aman, nyaman dan tentram, namun ingatlah bahwa keamanan dan  ketentraman ini tidak akan berkesinambungan selamanya kecuali dengan  ketaatan kepada Allah…tidak akan berkesinambungan selamanya hingga kita  taat kepada Allah…hingga kita menyeru manusia kepada kebaikan dan  mencegah mereka dari melakukan perkara-perkara kemungkaran…hingga kita  menolong mereka para penegak amar ma’ruf nahi mungkar di tengah umat  Islam karena merekalah yang mencegah umat ditimpa dengan sebab-sebab  hukuman dan adzab, oleh karena itu wajib bagi kita untuk menolong  mereka. Wajib bagi kita agar masuk dalam barisan mereka.</p>
<p>Jika  mereka bersalah maka wajib bagi kita untuk mengetahui kesalahan mereka  dan hendaknya kita mengingatkan mereka dari kesalahan tersebut dan  membimbing mereka kepada petunjuk yang benar, bukan malah kita  menjadikan kesalahan-kesalahan mereka alasan untuk menjatuhkan dan  menjauhkan mereka dari tugas yang mulia ini, ini adalah metode yang  tidak baik.</p>
<p>Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…</p>
<p>Sesungguhnya  musibah-musibah yang menimpa kaum muslimin berupa penderitaan,  kesulitan dan kesempitan baik pada harta maupun keamanan, baik yang  menyangkut pribadi ataupun sosial, sesungguhnya disebabkan oleh  maksiat-maksiat yang mereka lakukan dan sikap mereka yang meninggalkan  perintah-perintah Allah serta meninggalkan penegakkan syari’at Allah,  bahkan mereka mencari-cari hukum di antara masyarakat dengan hukum  selain dari syari’at Allah Yang telah menciptakan seluruh makhluk dan  Yang paling sayang terhadap mereka daripada kasih sayang ibu-ibu dan  bapak-bapak mereka dan Yang paling mengetahui kemaslahatan dan kebaikan  bagi mereka daripada diri mereka sendiri</p>
<p>Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…</p>
<p>Seungguhnya  saya mengulangi kalimat saya ini karena urgensinya dan karena banyak  orang yang berpaling darinya. Sesungguhnya saya katakan bahwa musibah  dan malapetaka yang menimpa kaum muslimin berupa penderitaan, kesulitan  dan kesempitan baik pada harta maupun keamanan, baik yang menyangkut  pribadi ataupun sosial, sesungguhnya disebabkan oleh maksiat-maksiat  yang mereka lakukan dan sikap mereka yang meninggalkan perintah-perintah  Allah serta meninggalkan penegakkan syari’at Allah, bahkan mereka  mencari-cari hukum di antara masyarakat dengan hukum selain dari  syari’at Allah Yang telah menciptakan seluruh makhluk dan Yang paling  sayang terhadap mereka daripada kasih saying ibu-ibu dan bapak-bapak  mereka dan Yang paling mengetahui kemaslahatan dan kabaikan bagi mereka  daripada diri mereka sendiri</p>
<p>Allah berfirman</p>
<p style="text-align: center;">(وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ) (الشورى:30)<br />
<em><br />
“Dan  apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh  perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari  kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. 42:30)</em></p>
<p>(مَا أَصَابَكَ مِنْ  حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ  وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً)  (النساء:79)<br />
<em><br />
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari  Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu  sendiri. (QS. 4:79)</em></p>
<p>Kebaikan apa saja yang kita rasakan  baik berupa kenikmatan ataupun keamanan sesungguhnya Allah-lah yang  telah mengaruniakannya kepada kita permulaan dan di penghujung. Dialah  yang telah memberikan kita karunia kepada kita (berupa kemudahan untuk  bisa beribadah kepadaNya-pen) maka kitapun bisa melakukan hal-hal yang  menyebabkan datangnya kebaikan-kebaikan. Dialah yang telah  menyempurnakan kenikmatan bagi kita.</p>
<p>Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…<br />
Sesungguhnya  kebanyakan orang-orang sekarang menyandarkan musibah-musibah yang  mereka alami, apakah musibah yang menyangkut harta dan perekonomian atau  yang menyangkut keamanan dan politik, mereka menyandarkan  musibah-musibah ini hanya kepada sebab-sebab alami, materi, atau kepada  sebab pergolakan politik, atau sebab perekonomian, atau kepada sebab  perselisihan tentang daerah perbatasan antara dua Negara.</p>
<p>Tidak  diragukan lagi hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mereka dan  lemahnya iman mereka dan kelalaian mereka dari mentadabburi Al-Qur’an  dan sunnah-sunnah Rasulullah.</p>
<p>Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…<br />
Sesungguhnya  dibalik semua sebab-sebab material, alami  tersebut adalah sebab  syar’i, yang merupakan sebab timbulnya seluruh musibah dan malapetaka,  yang lebih kuat, lebih besar, dan lebih berpengaruh daripada sebab-sebab  materi di atas. Namun terkadang sebab-sebab materi merupakan sarana  timbulnya musibah dan bencana sesuai dengan konsekwensi dari sebab-sebab  syar’iyah berupa bencana dan hukuman. Allah berfirman;</p>
<p style="text-align: center;">(ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ  وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي  عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ) (الروم:41)<br />
<em><br />
Telah nampak  kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan  manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)  perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30:41)</em></p>
<p style="text-align: left;">Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…, wahai ummat Nabi Muhammad…<br />
Bersyukurlah  atas kenikmatan-kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kalian, yang  kalian telah rasakan dan bersenang-senang dengan kenikmatan-kenikmatan  tersebut. Kalian wahai umat pengikut nabi Muhammad adalah umat yang  paling baik daripada umat-umat nabi yang lain, kalian telah dimuliakan  oleh Allah. Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan hukuman kepada ummat  ini akibat kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan oleh mereka dan  dosa-dosa mereka sebagaimana hukuman yang telah Allah timpakan kepada  umat-umat terdahulu. Allah tidak menimpakan kebinasaan yang menyeluruh  yang menghancurkan seluruh umat sekaligus sebagaimana yang telah Allah  timpakan kepada kaum ‘Aad tatkala mereka dibinasakan dengan angin yang  sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada  mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu  lihat kamu &#8216;Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka  tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).[2] Allah tidak  menimpakan hukuman kepada umat ini sebagaimana hukuman yang Allah  timpakan kepada kaum Tsamud, yang ditimpa suara yang sangat keras dan  mengguntur dan gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang  bergelimpangan ditempat tinggal mereka[3], tidak juga sebagaimana  hukuman yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Luth yang Allah kirimkan  kepada mereka hujan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi  batu dari langit dan Allah menjadikan negeri kaum Luth itu yang di atas  ke bawah (dibalik).[4]</p>
<p>Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…<br />
Sesungguhnya  Allah dengan kebijaksanaan-Nya dan rahmat-Nya kepada ummat ini, Allah  menjadikan hukuman kepada mereka akibat dosa-dosa dan kemaksiatan yang  dikerjakan mereka berupa penguasaan sebagian mereka terhadap yang lain  sesama kaum muslimin. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">(قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ  عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ  يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ  نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ  وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ لِكُلِّ نَبَأٍ  مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ) (الأنعام:67)<br />
<em><br />
“Katakanlah:&#8221;Dia  yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari  bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang  saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian) kamu kepada  keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan  tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). Dan  kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya.  Katakanlah:&#8221;Aku ini bukan orang yang diserahi mengurus urusanmu&#8221;. Untuk  tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya  dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. 6:65-67)</em></p>
<p>Ibnu Katsir menyabutkan dalam buku  tafsir beliau hadits-hadits yang banyak yang berkaitan dengan ayat yang  pertama. Diantaranya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhori  dari Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhoinya-, beliau berkata,  “Tatkala turun firman Allah“Katakanlah:&#8221;Dia yang berkuasa untuk  mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu”, Nabi berkata, أَعُوْذُ  بِوَجْهِكَ “Aku berlindung dengan wajah-Mu ya Allah darinya adzab ini”  “atau dari bawah kaki kalian”, Nabi berkata, Nabi berkata, أَعُوْذُ  بِوَجْهِكَ “Aku berlindung dengan wajah-Mu ya Allah darinya adzab ini”  atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling  bertentangan) dan merasakan kepada sebagian) kamu kepada keganasan  sebagian yang lain”, Nabi berkata هَذِه أَهْوَنُ أَوْ أَيْسَر “Yang ini  lebih ringan atau lebih mudah”.</p>
<p>Dan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqos, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;">أَقْبَلْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله حَتَّى  مَرَرْنَا عَلَى مَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَة فَدَخَلَ رَسُوْلُ الله  فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ فَنَجَى رَبَّهُ طَوِيْلاً  ثُمَّ قَالَ: &#8220;سَأَلْتُ رَبِّي ثَلاَثًا سَأَلْتُهُ أَلاَّ يُهْلِكَ  أُمَّتِي بِالْغَرْقِ  فَأَعْطَانِيْهَا وَسَأَلْتُهُ أَلاَّ يُهْلِكَ  أُمَّتِي بِالسَّنَةِ بِالْغَرْقِ  فَأَعْطَانِيْهَا وَسَأَلْتُهُ أَلاَّ  يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيْهَا</p>
<p>“Kami pergi  bersama Rasulullah hingga kami melewati sebuah mesjid bani Mu’awiyah  maka Rasulullahpun masuk dalam mesjid tersebut kemudian beliau sholat  dua rakaat, maka kamipun sholat bersama beliau. Beliaupun lama  bermunajat kepada Allah, setelah itu beliau berkata (kepada kami), “Aku  meminta kepada Robku tiga perkara. Aku meminta kepadaNya agar Dia tidak  membinasakan umatku dengan menenggelamkan mereka maka Dia mengabulkan  permintaanku. Dan aku meminta kepadaNya agar Dia tidak membinasakan  umatku dengan musim kemarau yang berkepanjangan (yaitu sebagaimana yang  menimpa kaum Fir’aun) maka Dia mengabulkan permintaanku. Dan aku meminta  kepadaNya agar tidak menjadikan mereka saling betentangan (berperang  satu dengan yang lainnya) maka Dia tidak mengabulkan permintaanku”</p>
<p>Dan dari Khobab bin Al-Arth, beliau berkata,</p>
<p>وَافَيْتُ  رَسُوْلَ اللهِ فِيْ لَيْلَةٍ صَلاَّهَا كُلَّهَا حَتَّى كَانَ مَعَ  الْفَجْرِ فَسَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ مِنْ صَلاَتِهِ فَقُلْتُ &#8220;يَا رَسُوْلَ  اللهِ لَقَدْ صَلَّيْتَ اللَّيْلَةَ صَلاَةً مَا رَأَيْتُكَ صَلَّيْتَ  مِثْلَهَا&#8221;، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ:&#8221;أَجَل، إِنَّهَا صَلاَةُ رَغَبٍ  وَرَهَبٍ سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فِيْهَا ثَلاَثَ خِصَالٍ  فَأَعْطَانِيْ اثْنَتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً. سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ  وَجَلَّ أَلاَّ يُهْلِكَنَا بِمَا أَهْلَكَ بِهِ الأُمَمَ قَبْلَنَا.  سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَلاَّ يُظْهِرَ عَلَيْنَا عَدُوًّا مِنْ  غَيْرِنَا فَأَعْطَانِيْهَا. سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَلاَّ شِيَعًا  وَيُذِيْقَ بَعْضَنَا بَأْسَ بَعْضٍ فَمَنَعَنِيْهَا&#8221;<br />
<em><br />
“Aku  mendapati Rasulullah pada suatu malam dimana Rasulullah sholat semalam  penuh hingga menjelang terbit fajar, Rasulullahpun salam (selesai) dari  sholat malamnya. Akupun berkata, “Ya Rasulullah malam ini engkau sholat  yang tidak pernah sebelumnya aku melihat engkau sholat seperti ini”.  Rasulullah berkata, “Benar, ini adalah sholat yang berisi harapan dan  ketakutan. Aku telah meminta Robbku dalam sholatku tiga perkara, lalu  Dia mengabulkan dua permintaanku dan tidak mengabulkan yang satu. Aku  meminta kepada Robbku agar Ia tidak membinasakan kita sebagaimana Dia  telah membinasakan umat-umat sebelum kita maka Allah-pun mengabulkannya.  Dan aku meminta kepada Robbku agar tidak menjadikan musuh dari selain  golongan kita (selain dari kaum muslimin) menguasai kita maka Diapun  mengabulkannya. Dan aku memohon kepada Robku agar tidak Dia menjadikan  kita dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan  kepada sebagian kamu kepada keganasan sebagian yang lain maka Dia tidak  mengabulkannya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasai, dan At-Thirmidzi</em></p>
<p>Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…<br />
<strong>Sesungguhnya  kalian beriman dan mempercayai kebenaran ayat-ayat ini dan kalian  beriman dan membenarkan hadits-hadits yang sohih (benar datangnya) dari  Rasulullah namun kenapakah kalian tidak merenungkannya…??, kenapa kalian  tidak merenungkan kandungannya….??, kenapa kalian tidak menyandarkan  musibah dan malapetaka yang menimpa kalian kepada kekurangan dan  kelemahan agama kalian hingga kalian kembali kepada Robb kalian dan  kalianpun menyelamatkan jiwa kalian dari sebab-sebab kebinasaan dan  kehancuran??</strong></p>
<p>Bertakwalah kepada Allah, takutlah kepada  Allah wahai hamba-hamba Allah, lihatlah kepada kondisi kalian,  bertaubatlah kepada Allah dan luruskanlah jalan kalian menuju kepadaNya.  Ketahuilah bahwasanya seluruh musibah yang menimpa kalian wahai umat  Muhammad dan seluruh fitnah dan bencana yang kalian alami sesungguhnya  berasal dari diri kalian sendiri, berasal karena sebab dosa-dosa kalian.  Maka hendaklah kalian bertaubat dari setiap dosa yang kalian lakukan,  kembalilah kepada jalan Allah dan berlindunglah kalian kepada Allah dari  fitnah, ujian, dan bencana. Bencana dunia yang menyangkut jiwa berupa  pembunuhan dan luka serta terpecah-pecahnya kalian, atau berupa bencana  yang mengenai harta benda seperti kurangnya harta dan porak-prandanya  harta benda. Demikian juga bencana yang berkaitan dengan agama yang  menimpa hati berupa syubhat-syubhat dan syahwat (hawa nafsu) yang telah  merintangi umat ini dari agama Allah dan  menjauhkan umat dari jalan  salaf mereka sehingga menjerumuskan umat ini kedalam jurang api neraka.  Sesungguhnya fitnah (bencana) yang menimpa hati lebih besar dan lebih  bahaya dan lebih buruk akibatnya daripada bencana yang berkaitan dengan  dunia yang jika terjadi maka akibatnya hanyalah kerugian materi  dunia….dan dunia bagaimanapun juga akan musnah cepat atau lambat. Adapun  cobaan yang menimpa agama maka akibatnya adalah kerugian di dunia dan  akhirat. Allah berfirman</p>
<p><em>“Katakanlah:&#8221;Sesungguhnya  orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka  sendiri dan keluarganya pada hari kiamat&#8221;.Ingatlah yang demikian itu  adalah kerugian yang nyata”. (QS. 39:15)</em></p>
<p>Ya Allah kami  memohon kepadaMu dan kami sedang menunggu pelaksanaan kewajiban kami  (yaitu sholat jum’at) agar Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang  yang bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat Engkau dan termasuk  orang-orang yang sadar dan mengambil ibroh tatkala turun hukuman-Mu  (berupa bencana dan musibah).</p>
<p>Ya Allah jadikanlah kami termasuk  orang-orang yang beriman dengan keimanan yang sebenar-benarnya yang  mereka menyandarkan musibah yang melanda mereka kepada sebab yang hakiki  yaitu sebab syar’i yang telah Engkau jelaskan dalam Kitab-Mu dan  melalui lisan Rasul-Mu Muhammad.</p>
<p>Ya Allah karuniakanlah bagi umat  ini dan bagi para pemimpin-pemimpin mereka agar kembali taubat kepada  Engkau dengan taubat yang sebenar-benarnya baik lahir maupun batin, baik  dalam perkataan maupun perbuatan hingga kembali umat ini menjadi baik,  karna kebaikan para pemimpin merupakan kebaikan bagi umat yaitu kebaikan  mereka merupakan sebab kebaikan bagi umat.</p>
<p>Ya Allah kami memohon  kepadaMu agar Engkau meluruskan pemerintah dan para penguasa kaum  muslimin dan menganugerahkan kepada mereka kesadaran dengan apa yang  telah menimpa ummat serta memberikan taufik dan petunjuk kepada mereka  menuju kepada apa yang Engkau cintai dan ridhai.</p>
<p>Ya Allah kami  memohon kepadaMu agar Engkau menjauhkan mereka dari penasehat-penasehat  yang buruk, sesungguh Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah  anugrahkan kepada mereka penasehat-penasehat yang terbaik yang  menunjukkan kepada mereka jalan kebaikan serta mendorong dan  menganjurkan mereka untuk melekukannya.</p>
<p>Ya Allah siapa saja yang  tidak menasehati mereka dan tidak berbuat baik terhadap rakyat mereka  maka jauhkanlah ia dari para penguasa dan gantikanlah bagi mereka  penasehat yang lebih baik. Wahai penguasa alam semesta, wahai Dzat Yang  memiliki kemuliaan dan keagungan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Khutbah yang kedua</strong></span></p>
<p>Segala  puji bagi Allah dengan pujian yang banyak dan baik yang penuh barokah  sebagaimana yang dicintai Rob kami dan diridhaiNya. Saya bersaksi  bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah  saja, tidak ada syarikat bagiNya. Hanya baginyalah segala pujian di  dunia dan di akhirat.</p>
<p>Kemudian daripada itu,</p>
<p>Wahai  hamba-hamba Allah bertakwalah dan takutlah kalian kepada Allah,  waspadalah kalian dari sikap melalaikan syari’at Allah….hati-hatilah  kalian dari sikap lalai terhadap ayat-ayat Allah….hati-hatilah kalian  dari sikap lalai dari mentadabburi kitabullah (Al-Qur’an)…hati-hatilah  kalian terhadap sikap lalai dari mengenal sunnah-sunnah Rasuluullah.  Sesungguhnya pada Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Nabi terdapat sumber  kebahagiaan kalian di dunia dan di akhirat jika kalian memegang teguh  kepada sunnah-sunnah Nabi dengan membenarkan segala berita dari  Rasulullah dan melaksanakan perintah-perintah Rasulullah.</p>
<p>Wahai hamba-hamba Allah…</p>
<p>Sebagian  orang ragu dan meragukan orang lain tentang perkara bahwa  maksiat-maksiat merupakan sebab timbulnya musibah dan bencana, hal ini  dikarenakan kelemahan iman mereka dan kurangnya mereka merenungkan  kandungan isi Al-Qur’an. Saya akan bacakan kepada mereka dan yang  sejenis mereka firman Allah</p>
<p style="text-align: center;">وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا  وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ  وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ أَفَأَمِنَ  أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَائِمُونَ  َأوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحىً وَهُمْ  يَلْعَبُونَ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ  إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (لأعراف:99-96<br />
<em><br />
Jikalau  sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami  akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi  mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka  disebabkan perbuatannya.</p>
<p>Maka apakah penduduk negeri-negeri itu  merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di  waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa  aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari  sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?</p>
<p>Maka apakah  mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiadalah  yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS.Al  A&#8217;raaf 96-99)</em></p>
<p>Sebagian salaf mengatakan, “Jika  engkau melihat Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang sedangkan  engkau melihat orang ini terus melakukan kemaksiatan maka ketahuilah  bahwa ini adalah tipuan Allah kepadanya, dan orang tersebut masuk dalam  kategori firman Allah</p>
<p>(سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ) (القلم:44)<br />
<em><br />
Nanti  Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan)  dari arah yang tidak mereka ketahui. dan Aku memberi tangguh kepada  mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. (QS. 68:44)</em></p>
<p>Wahai kaum muslimin…, wahai hamba-hamba Allah…</p>
<p>Demi  Allah sesungguhnya kemaksiatan sangat mempengaruhi keamanan Negara,  sangat berpengaruh terhadap ketentaraman bangsa dan perekonomiannya,  serta mempengaruhi hati-hati rakyat.</p>
<p>Sesungguhnya kemaksiatan-kemaksiatan benar-benar menyebabkan tercerai-berainya kaum muslimin antara satu dengan yang lain…</p>
<p>Sesungguhnya  kemaksiatan-kemaksiatan menyebabkan seorang muslim memandang saudaranya  sesama  muslim seakan-akan saudaranya tersebut berada di atas agama  yang lain selain agama Islam.</p>
<p>Namun jika kita benar-benar  membenahi dan meluruskan diri kita masing-masing demikian juga membenahi  keluarga kita, tetangga kita, penduduk bangsa yang mampu kita benahi  diantara mereka, kemudian kita saling seru-menyeru kepada kebaikan dan  saling mencegah dari melakukan kemungkaran, kita membantu dan memperkuat  siapa saja yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan bijaksana  dan nasehat yang baik, maka dengan demikian barulah timbul persatuan dan  keselarasan. Allah berfirman</p>
<p style="text-align: center;">(وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ  إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ  الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ  تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ  وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ) (آل عمران:105)<br />
<em><br />
Dan  hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada  kebajikan, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar;  mereka adalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai  orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan  yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa  yang berat, (QS. 3:105)</em></p>
<p>Saya mengajak diri saya sendiri dan  kalian wahai saudara-saudaraku untuk bersatu di jalan Allah dan saling  bergandengan tangan dalam menegakkan syari’at Allah, saling menasehati  satu dengan yang lainnya diantara kita, berdialog dengan siapa saja yang  memang butuh untuk diajak dialog namun dengan metode yang terbaik dan  dengan hujjah (argumentasi) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta dengan  argumentasi akal, tidak membiarkan para pelaku kebatilan tetap dalam  kebatilan mereka karena mereka berhak untuk kita jelaskan kepada mereka  kebenaran yang hakiki kemudian kita memotivasi mereka untuk  melaksanakannya serta kita jelaskan juga kepada mereka kebatilan mereka  dan kita memperingatkan mereka dari kebatilan tersebut.</p>
<p>Adapun  kita adalah umat yang tercerai berai, tidak menengok antara satu kepada  yang lain, tidak memperhatikan antara satu dengan yang lainnya….maka  seseungguhnya barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin  maka sesungguhnya ia bukan termasuk mereka.</p>
<p>Wahai kaum muslimin….<br />
Sungguh  saya ulang sekali lagi, saya katakan sesungguhnya wajib bagi kita –yang  alhamdulillah adalah orang-orang muslim yang beriman kepada Allah- ,  wajib bagi kita untuk melihat musibah-musibah dan bencana dengan  kacamata syari’at yang seiring Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena  sesungguhnya kita kalau kita melihat bencana dan musibah dengan kacamata  materi maka selain kita yaitu orang-orang kafir mereka lebih kuat dari  kita jika ditinjau dari kekuatan materi, mereka lebih besar. Dengan  kekuatan materi tersebutlah mereka menguasai kita dan memperbudak kita.  Namun jika memandang dengan kacamata syari’at dari sudut pandang  Al-Qur’an dan Sunnah Nabi maka kita akan meninggalkan sebab yang  menimbulkan segala bencana dan musibah ini (yaitu kemaksiatan dan dosa).  Dan jika kita kembali keapada Allah, bertaubat kepadaNya dan kita  menolong agama Allah maka sesungguhnya Allah telah berkata dalam  Al-Qur’an dan Dialah yang paling benar perkataannya dan yang paling  mampu;</p>
<p style="text-align: center;">وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ  إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي  الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا  بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ<br />
<em><br />
(Demi Allah) seungguhnya Allah pasti menolong orang yang  menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha  Perkasa. (yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di  muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh  berbuat yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan  kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. Al Hajj 40-41)</em></p>
<p>Allah tidak berkata, “Orang-orang yang  jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi maka mereka mendirikan  tempat-tempat dilaksanakannya kefasikan dan hal-hal yang melalaikan dan  sia-sia”, tetapi Allah berfirman “(yaitu)orang-orang yang jika Kami  teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan  shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari  perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”</p>
<p>Amatilah wahai saudaraku sesama muslim…bagaimana Allah berfirman</p>
<p>وَلَيَنْصُرَنَّ  اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “(Demi Allah)  seungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.  Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. Allah  menta’kid (yaitu memperkuat dan menekankan makna) pertolongan dalam ayat  ini dengan penguat tekstual yaitu sumpah yang dita’dirkan, huruf  lam  yang menunjukan akan penekanan dan huruf nun untuk penekanan. Dan Allah  juga menekankan kebenaran pertolongan Allah juga dengan penguat-penguat  secara maknawi, yaitu firman Allah إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ  “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. Maka  dengan kekuatan-Nya dan keperkasaan-Nya Allah menolong siapa yang  dikehendaki-Nya. Perhatikanlah bagaimana Allah menutup dua ayat di atas  dengan firmanNya وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ “dan kepada Allah-lah  kembali segala urusan ”. Sesungguhnya manusia terkadang berfikir dengan  cara fakir yang keliru dengan berkata “Bagaimana kita bisa menang  menghadapi kaum kafir, padahal mereka lebih kuat dari kita dan lebih  sombong?”, maka Allah menjelasakan bahwasanya seluruh perkara adalah hak  prerogative-Nya semata, tidak ada yang turut campur, dan bahwasanya  Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Kita semua mengetahui akibat yang  ditimbulkan gempa bumi dahsyat yang gempa tersebut terjadi hanya dengan  perkataan Allah كُنْ فَيَكُوْنُ “Jadilah! maka terjadilah”. Kemudian  timbullah kerusakan dan porak-pranda yang sangat besar yang merata, yang  semua itu terjadi hanya dalam waktu sekejap yang tidak bisa dilakukan  oleh kekuatan kaum kafir manapun.</p>
<p>Demi Allah, kalau kita  benar-benar menolong agama Allah maka kita akan selalu menang dan  mengalahkan musuh-musuh kita di dunia ini. Namun sungguh sangat  disayangkan sesungguhnya banyak diantara kita yang menjadi antek-antek  dan pembantu-pembantu musuh-musuh Allah dan musuh-musuh Rasulullah (baik  sadar maupun tidak disadari, secara langsung maupun tidak-pen). Mereka  memperhatikan apa yang dilakukan oleh kaum kafir tersebut dari  perkara-perkara yang menyelisihi dan menentang Allah dan RasulNya lalu  merekapun mengikuti perlakuan orang-orang kafir tersebut. Bahkan  terkadang mereka pergi ke negeri-negeri kaum kafir  lalu mereka membawa  buah hati mereka yaitu putra putri mereka dan keluarga mereka ke  negeri-negeri kaum kafir tersebut yang tidak terdengar di situ kecuali  gaung dan gema lonceng-lonceng gereja&#8230;tidak terdengar di situ  kumandang adzan…tidak terdengar di situ dzikir kepada Allah…dan tidak  nampak di situ kecuali tempat-tempat dilakukannya hal-hal yang sia-sia  dan melalaikan…</p>
<p>Maka kita mohon kepada Allah agar mengembalikan  orang yang sesat dari umat ini kepada jalan yang benar, agar menjadikan  kita saling bergandengan tangan dalam melaksanakan kebenaran, saling  tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan ketakwaan hingga kita  mengembalikan apa-apa yang telah sirna berupa kemuliaan dan  ketinggiannya, sesungguhnya Allah yang Menguasai hal itu dan Maha mampu  mewujudkannya.</p>
<p>Ya Allah terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui</p>
<p>Ya Allah terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui</p>
<p>Ya Allah terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui</p>
<p>Ya  Allah berilah rahmat kepada Nabi dan kepada keluarganya sebagaimana  Engkau telah memberikan rahmat-Mu kepada nabi Ibrahim dan kepada  keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha terpuji dan Maha agung. Ya Allah  berilah barokah kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarganya sebagaimana  Engkau memberikan barokah kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarganya  sesungguhnya Engkau Maha terpuji dan Maha agung.</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://firanda.com">Abu ‘Abdilmuhsin Firanda Andirja, Lc</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>[1]  Diterjemahkan dari khutbah jum’at yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad  bin Sholeh Al-Utsaimin pada tanggal 12 Muharram 1411 Hijriah.</p>
<p>[2] lihat QS. 69:6-7</p>
<p>[3] lihat QS 54:31 dan QS 7: 78</p>
<p>[4] lihat QS 11: 82</p>
<div class="shr-publisher-5032"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fakibat-perbuatan-maksiat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/akibat-perbuatan-maksiat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merapi Meletus Kembali</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/merapi-meletus-kembali.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/merapi-meletus-kembali.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Oct 2010 05:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4827</guid>
		<description><![CDATA[Bencana letusan Gunung Merapi baru saja menimpa sebagian bumi Yogyakarta. Luncuran awan panas telah menelan korban tewas dan luka-luka. Penduduk mengungsi demi menyelamatkan diri. Sementara itu, keadaan rumah, perabot dan ternak mereka sudah tidak jelas<a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/merapi-meletus-kembali.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Bencana letusan Gunung Merapi baru saja menimpa sebagian bumi  Yogyakarta. Luncuran awan panas telah menelan korban tewas dan  luka-luka. Penduduk mengungsi demi menyelamatkan diri. Sementara itu,  keadaan rumah, perabot dan ternak mereka sudah tidak jelas lagi.</p>
<p>Tentu saja musibah semacam ini menuntut  kepedulian kaum muslimin untuk mendoakan kebaikan bagi saudara mereka  yang tertimpa musibah dan berupaya untuk meringankan musibah yang  dialami. Di sisi lain, ada sesuatu yang tidak kalah pentingnya bagi kita  semua yaitu memetik pelajaran dari musibah yang telah melanda.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh  mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah  baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin.  Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu  merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia  bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya  Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah,  sebagaimana –Allah juga harus diibadahi- ketika dia mendapatkan  kenikmatan.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p>Ibnu ‘Atha’ <em>rahimahullah</em> berkata,<em> “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat  sabar adalah tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam  takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk  berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan  kesabaran.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Sabar  adalah menahan diri dari marah kepada Allah, menahan lisan agar tidak  mengeluh dan murka kepada takdir, serta menahan anggota badan agar tidak  melakukan perkara-perkara yang dilarang seperti menampar-nampar pipi,  merobek-robek pakaian, dsb (lihat <em>Hasyiyah Kitab at-Tauhid</em>).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah <em>ta’ala</em>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah  ada suatu musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Allah akan  menghapuskan dosa dengannya sampai pun duri yang menusuk badannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Sesungguhnya  pahala yang besar itu bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan  apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah  kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya.  Dan barangsiapa yang murka maka murka pula yang akan didapatkannya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dihasankan al-Albani dalam <em>as-Shahihah</em> [146]).</p>
<p>Namun, yang menjadi keprihatinan kita sekarang ini adalah tatkala  musibah dunia ini juga dibumbui dengan musibah agama. Bukankah,  kepercayaan mengenai adanya roh/jin penunggu Gunung Merapi yang  menentukan keselamatan dan bahaya masih saja bercokol di tengah-tengah  umat ini? Sehingga berbagai macam sesaji dan persembahan pun diberikan  kepada Sang Penunggu Gunung Merapi agar ancaman bencana menjadi sirna.  Namun, kenyataan telah membuktikan bahwa Gunung Merapi ini –dan alam  semesta ini seluruhnya- memang hanya berada di bawah kekuasaan Allah  Yang Maha Tinggi!</p>
<p>Sementara Allah tidak tidak ridha, bahkan murka sekali apabila diri-Nya dipersekutukan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya  Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan masih akan  mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja  yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 48</strong>). Apabila  kita merasa sedih dengan nyawa dan harta yang pergi, tentunya kita lebih  merasa sedih tatkala aqidah dan keimanan yang suci ini ternodai  kemusyrikan yang akan menyeret pelakunya ke dalam siksa neraka yang  abadi. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya  barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan  atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi  orang-orang yang zalim itu seorang penolong sama sekali.”</em> (<strong>QS. al-Ma’idah: 72</strong>).</p>
<p>Semoga Allah <em>ta’ala</em> melimpahkan kesabaran kepada  saudara-saudara kita yang sertimpa musibah, menambahkan keteguhan iman  kepada mereka agar tidak goyah dan bersandar kepada selain-Nya, dan  semoga Allah mencurahkan pahala dan ampunan atas musibah yang menimpa  mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-4827"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fmerapi-meletus-kembali.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/merapi-meletus-kembali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin: Menjaga Hubungan dengan Pemimpin</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/nasehat-syaikh-%e2%80%98abdullah-al-jibrin-menjaga-hubungan-dengan-pemimpin.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/nasehat-syaikh-%e2%80%98abdullah-al-jibrin-menjaga-hubungan-dengan-pemimpin.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 17:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4038</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah Ta’ala semata, dan kepadaNya kami minta pertolongan. Shalawat kepada Nabi yang diutus, Muhammad bin &#8216;Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kepada keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/nasehat-syaikh-%e2%80%98abdullah-al-jibrin-menjaga-hubungan-dengan-pemimpin.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Segala puji bagi Allah Ta’ala semata, dan kepadaNya kami minta pertolongan. Shalawat kepada Nabi yang diutus, Muhammad bin &#8216;Abdillah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan kepada keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.</p>
<p>Sesungguhnya Islam menjelaskan dengan terang akan perkara &#8220;semangat di atas ikatan keimanan di antara kaum muslimin&#8221;. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah (damaikanlah) hubungan antara kedua saudaramu (yang berselisih), dan bertaqwalah kepada Allah agar kalian diberi rahmat</em>&#8220;. (QS. Al-Hujurat: 10)</p>
<p>Dari sini berarti memutus hubungan (di antara kaum muslimin) adalah dosa besar di antara dosa-dosa besar yang ada. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, <em>&#8220;Dibukakan pintu-pintu surga pada hari senin dan kamis, maka diampuni setiap hamba yang muslim selama tidak berbuat syirik kepada Allah, kecuali seseorang yang terdapat kebencian pada saudaranya, lalu dikatakan</em><em>:</em><em> </em><em>P</em><em>erhatikanlah oleh kalian sampai mereka berdua berdamai</em><em>.</em><em> </em><em>P</em><em>erhatikanlah oleh kalian sampai mereka berdua berdamai</em>.&#8221; (HR.  Muslim).</p>
<p>Sesungguhnya seorang muslim yang <em>muwahhid </em>(bertauhid) lagi jujur ketauhidannya, tidak akan membenci dan hasad (dengki) kepada saudaranya. Jika saudaranya merasakan sakit, maka ia pun merasa hal yang sama. Bahkan ia pun akan merasakan bahagia jika saudaranya bahagia. Ia akan berusaha menjaga dirinya dari sekecil mungkin berbuat salah kepada saudaranya.</p>
<p>Dalam hadits dari &#8216;Aisyah <em>radiyallahu &#8216;anha</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Yang paling dibenci </em><em>oleh </em><em>Allah adalah seseorang yang suka menentang lagi suka membantah.</em>&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Tiada lain yang dimaksud adalah orang yang menjerumuskan dirinya ke dalam dosa dengan permusuhan dan perdebatan.</p>
<p>Dan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;<em>Janganlah kalian saling mencela (yaitu berbicara dengan perkataan jelek), saling bermusuhan, saling memata-matai, </em><em>dan melakukan jual beli najsy (menawar harga tinggi untuk menipu pengunjung lainnya). J</em><em>adilah hamba Allah yang bersaudara</em>.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Dari Abi Ayub Al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Tidaklah halal bagi seseorang mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, jika bertemu maka (yang satu) berpaling ke</em><em> </em><em>sini  dan (yang lain) menghindar ke</em><em> </em><em>sana</em><em>. S</em><em>ebaik-baik </em><em>di antara keduanya </em><em>adalah yang memulai </em><em>mengucapkan </em><em>salam</em>.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dari Abu Khurasy As-Sulamiy <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;<em>Barangsiapa yang mendiamkan saudaranya selama 1 tahun, maka ia seakan-akan telah menumpahkan darahnya.</em>&#8221; (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani). Dalam hadits lain disebutkan, &#8220;<em>Dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau bersahabat dan bersaudara.</em>&#8221; (HR. Ahmad. Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)</p>
<p>Manusia yang memiliki hati dan akal yang sehat lagi menginginkan kebaikan merupakan manusia yang mulia lagi terpuji. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)</p>
<p>&#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepadaNya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berceraiberai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karuniaNya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (pada saat itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya</em>.&#8221; (QS. Ali &#8216;Imran: 102-103)</p>
<p style="text-align: center;">فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ</p>
<p>&#8220;<em>Maka bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di</em><em> </em><em>antara sesamamu</em>.&#8221; (QS. Al-Anfal: 1)</p>
<p style="text-align: center;">وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</p>
<p>&#8220;<em>D</em><em>an hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>.&#8221; (QS. An-Nuur: 22)</p>
<p style="text-align: center;">فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p>&#8220;<em>M</em><em>aka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.</em>&#8221; (QS. Al-Maidah: 13)</p>
<p style="text-align: center;">وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ</p>
<p>&#8220;<em>D</em><em>an janganlah kamu berselisih yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu menjadi hilang.&#8221; </em>(QS. Al-Anfal: 46)</p>
<p style="text-align: center;">وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ</p>
<p>&#8220;<em>D</em><em>an janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas</em>.&#8221; (QS. Ali &#8216;Imran: 105)</p>
<p style="text-align: center;">لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا</p>
<p>&#8220;<em>T</em><em>idak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.</em>&#8221; (QS. An-Nisa&#8217;: 114)</p>
<p><em>Wahai saudaraku yang menginginkan perbaikan</em>. Aku berikan kabar gembira  berupa pahala yang besar lagi terpuji dari Allah Yang Maha Mulia. Asalkan engkau memperbaiki niatmu, mengikhlaskan amalmu kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata, mengikuti petunjuk Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat beliau <em>radhiyallahu ‘anhum</em> serta para salafush sholih. Diwajibkan atas kalian menjadi perantara dalam menyampaikan petunjuk dan perbaikan, serta mencintai kebaikan atas manusia, memerintahkan kepada yang ma&#8217;ruf, melarang dari perkara yang mungkar dengan cara yang baik dan dengan didasari ilmu (bashiroh). Melakukan hal-hal tadi dengan penuh kesabaran, kelembutan, serta berhati-hati dari sikap ekstrim dan terburu-buru. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan saja, adapun hidayah serta perubahan dan perbaikan adalah di Tangan Allah <em>‘azza wa jalla</em>.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.</em>&#8221; (QS. Al-Qashash: 56)</p>
<p>Kita harus ingat bahwa menentang dan memberontak para <a href="http://muslim.or.id/manhaj/nasehat-syaikh-%E2%80%98abdullah-al-jibrin-menjaga-hubungan-dengan-pemimpin.html">pemimpin </a>adalah dosa besar di antara dosa-dosa besar yang ada. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas menggambarkan dengan jelas tentang larangan saling bertikai.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia<em> </em>berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِى فَقَدْ أَطَاعَنِى ، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِى فَقَدْ عَصَانِى</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mentaatiku maka dia telah mentaati Allah</em><em>. B</em><em>arangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati pemimpin maka ia telah mentaatiku</em><em>. B</em><em>arangsiapa yang bermaksiat</em><em> (enggan taat)</em><em> kepada pemimpin maka ia telah bermaksiat kepadaku</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari ‘Auf bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Ketahuilah, barangsiapa yang di bawah seorang pemimpin dan ia melihat padanya ada kemaksiatan kepada Allah, maka hendaklah ia membenci kemaksiatannya. Akan tetapi, janganlah (menjadikannya) melepaskan ketaatan kepada</em><em> pemimpin tersebut</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Adapun semangat di atas sebab yang menghantarkan kepada persatuan dan saling memahami, maka balasannya di dunia dan di akhirat, dan Allah <em>Ta’ala</em> yang Maha Mengetahui.</p>
<p>Dari Ubaidah bin Shamit <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat kepada pemimpinnya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan dari delapan pintu surga</em>.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim dan At-Thobroni)</p>
<p>Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Penyayang agar memberi kepada kita semua petunjuk di atas jalan yang lurus. Semoga Allah memperbaiki niat, amal, perkataan, keyakinan, keadaan, dan akhlaq kita beserta keluarga, keturunan, cucu-cucu kita dengan penuh ampunan. Demikian juga saya memohon kepadaNya agar kita mendapatkan manfaat dan faedah dari apa yang telah kita dengar dan kita bicarakan (nasihat di atas), dan juga memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan memberikan kita rasa saling memaafkan dengan penuh kelembutan, rasa persatuan, tolong menolong, saling bahu-membahu, dan rasa kebersamaan, dan juga menghindarkan kita dari kemarahan dan kebodohan.</p>
<p>Aku memohon kepada Allah <em>Ta’ala</em> agar menjaga ulama-ulama kita dan para pemimpin muslimin kita. Aamiiin.</p>
<p>Segala puji bagi Allah <em>Ta’ala</em> dan shalawat serta salam kepada nabi Muhammad yang tiada nabi sesudahnya, dan kepada keluarganya serta sahabatnya.</p>
<p><strong>Maraji&#8217;</strong>: Nasihat singkat Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al-Jibrin <em>rahimahullah.</em></p>
<p>Penerjemah: Abu Ahmad (Meilana Dharma Putra*) &amp; Ummu Ahmad</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<p>* Beliau adalah lulusan Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta dan sekarang sedang melanjutkan studi di King Saud University, Riyadh.</p>
<div class="shr-publisher-4038"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fnasehat-syaikh-%25e2%2580%2598abdullah-al-jibrin-menjaga-hubungan-dengan-pemimpin.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/nasehat-syaikh-%e2%80%98abdullah-al-jibrin-menjaga-hubungan-dengan-pemimpin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“ Fitnah” dan Penanggulangannya</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/%e2%80%9c-fitnah%e2%80%9d-dan-penanggulangannya.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/%e2%80%9c-fitnah%e2%80%9d-dan-penanggulangannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 17:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1859</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. Kami memujinya. Kami memohon pertolongan kepadaNya. Kami juga memohon ampunan dan bertaubat kepadaNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/%e2%80%9c-fitnah%e2%80%9d-dan-penanggulangannya.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. Kami memujinya. Kami memohon pertolongan kepadaNya. Kami juga memohon ampunan dan bertaubat kepadaNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa kami dan keburukan amal perbuatan kami.</em></p>
<p>Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Demikian pula, barang siapa yang Allah sesatkan maka tiada satupun yang bisa memberi hidayah kepadanya.<br />
Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tanpa ada sekutu bagiNya.<br />
Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.<br />
Semoga Allah memuji dan memberi keselamatan untuknya, keluarganya dan seluruh shahabatnya.<br />
Wahai hamba-hamba Allah yang merupakan orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan yakinilah bahwa takwa adalah asas kebahagiaan dan jalan keberuntungan di dunia dan di akherat.<span id="more-1859"></span><br />
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢)<br />
Yang artinya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS ath Thalaq:2).<br />
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (٤)<br />
Yang artinya, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam semua urusannya.” (QS ath Thalaq:4).</p>
<p>Hasil akhir yang baik itu selalu berpihak kepada orang-orang yang bertakwa.<br />
Ketahuilah bahwa berbagai perkara yang mengerikan dan berbagai peristiwa yang datang silih berganti menimpa manusia itu berfungsi untuk menyingkap watak asli manusia, mengetahui sifat manusia dan memperlihatkan klasifikasi manusia dalam ketaatan kepada-Nya. Ketika ujian tiba manusia terbagi ke dalam berbagai kelompok. Di antaranya adalah sebagaimana yang Allah firmankan,<br />
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ (١١)<br />
Yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di pinggiran. Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS al Hajj: 11).<br />
Kelompok kedua adalah orang yang menyembah Allah dengan dasar ilmu, pengetahuan, iman yang kokoh dan akidah yang bersih. Jika dia mendapatkan musibah maka dia bersabar dan sabar itu yang lebih baik baginya. Setelah itu dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk melakukan berbagai sarana dan cara yang dibenarkan oleh syariat untuk membebaskan diri dari masalah dan melindungi diri dari dampak negatif masalah tersebut.<br />
Lain halnya, jika dia mendapatkan nikmat maka dia bersyukur maka itulah yang lebih baik baginya. Setelah itu dia pergunakan nikmat tersebut untuk mentaati Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sungguh berbahagia seorang yang memiliki sifat semacam ini.</p>
<p>Iman yang benar dan akidah yang lurus itu memiliki pengaruh yang besar dan peran yang sangat vital untuk membantu mengatasi dan menyikapi berbagai kejadian dan musibah serta ujian yang menimpa manusia. Hal itu dikarenakan seorang yang memiliki iman dan akidah yang benar mendapatkan berbagai prinsip dan kaedah penting dari agamanya. Dengan seizin Allah, kaedah tersebut membantu orang tadi untuk bisa tetap tegar menghadapi bencana dan memiliki sikap yang tepat yang bertitik tolak dari akidah yang benar dan keimanan kepada Allah.<br />
Dalam kesempatan kali ini akan kami sebutkan prinsip dan kaedah tersebut dalam rangka saling mengingatkan akan adanya prinsip-prinsip tersebut. Diharapkan setelah mengetahuinya seorang mukmin memiliki ilmu tentang apa yang seharusnya dilakukan ketika mendapatkan ujian. </p>
<p><strong>Pertama</strong>, seorang mukmin meyakini bahwa pencipta alam semesta adalah Allah. Oleh karena itu Dia memiliki hak penuh untuk mengatur makhluk ciptaan-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki. Dia putuskan apa yang Dia inginkan tanpa yang bisa memprotes dan menolak ketetapan-Nya. Apa yang Allah kehendaki itulah yang terjadi dan apa yang tidak Allah kehendaki tentu tidak akan terjadi. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah, zat yang maha tinggi dan maha agung. Allah berfirman<br />
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٢٠ )<br />
Yang artinya, “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya. Dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu” (QS al Maidah:120). </p>
<p><strong>Kedua</strong>, seorang mukmin yakin bahwa Allah telah memberikan jaminan untuk membela orang-orang yang beriman, menjaga agama ini, memuliakan pemeluknya dan meninggikan agama-Nya<br />
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ (٤٧)<br />
Yang artinya, “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (QS ar Ruum:47).<br />
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)<br />
Yang artinya, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad:7).<br />
Agar mendapatkan pertolongan Allah kita harus menolong agama-Nya. Kita harus bisa menundukkan jiwa dan nafsu kita sendiri. Kita harus bisa menundukkan dunia dan gemerlapnya. Kita harus beriman dan percaya kepada Allah serta memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Kita harus rutin melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.<br />
Kita harus berhasil mengalahkan jiwa dan nafsu syahwat kita sendiri. Kita harus berhasil mengalahkan godaan dunia dan glamournya dengan secara tulus memberikan perhatian hati kepada Allah, menerapkan aturan-aturan-Nya pada diri kita, rutin mentaati-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.<br />
Siapa yang beriman dan mentaati Allah maka Allah pasti akan menjaganya, membelanya, meneguhkan dan menjaganya dari segala bentuk keburukan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, sesungguhnya Allah berjanji untuk tidak menolong orang-orang kafir, menghancurkan dan menjadikan mereka sebagai materi pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Allah memberi tempo kepada orang yang zalim namun Allah itu sama sekali tidak akan membiarkan orang yang zalim. Jika Allah menyiksa orang yang zalim maka Dia akan menyiksanya dengan tiba-tiba.<br />
وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ (١٠٢ )<br />
Yang artinya, “Dan Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras” (QS Huud:102). </p>
<p><strong>Keempat</strong>, seorang mukmin itu yakin dengan seyakin-yakinnya tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa seorang itu tidak akan mati sampai ajalnya tiba dan jatah rezekinya habis.<br />
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ (٣٤)<br />
Yang artinya, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS al A’raf:34).<br />
Ajal itu ada batas akhirnya. Waktu hidup itu telah ditakdirkan dan terbatas. Kematian itu tidak bisa dimajukan sebagaimana juga tidak bisa ditunda. Jika seorang mukmin menyadari hal tersebut maka dia akan selalu bersiap-siap untuk mati yang merupakan awal perjumpaan dengan Allah. Seorang mukmin itu tidak akan tergoda dengan dunia bahkan dia yakin bahwa dunia itu fana dan akan meninggalkannya. Seorang itu pasti berjumpa dengan tuhan baik berumur panjang ataupun berumur pendek.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, karena demikian percaya dan bertawakal kepada Allah, seorang mukmin tidak akan terpengaruh dan merasa takut dengan berbagai propaganda. Bahkan seorang mukmin itu jika ditakut-takuti dengan berbagai sesembahan selain Allah maka dia akan semakin beriman, percaya dan yakin kepada Allah sebagaimana para sahabat.<br />
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (١٧٣)فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (١٧٤ )<br />
Yang artinya, “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: &#8220;Sesungguhnya manusia[yaitu orang-orang Quraisy] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka&#8221;, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS Ali Imran:173-174).<br />
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Sahihnya dari Abdullah bin Abbas, “Ucapan hasbunallah wani’mal wakil adalah ucapan Ibrahim, kekasih Allah ketika akan dilemparkan ke dalam api dan ucapan Muhammad ketika ada orang yang berkata kepada beliau, “Sesungguhnya manusia[yaitu orang-orang Quraisy] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka&#8221;, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung” [QS Ali Imran:173].</p>
<p><strong>Keenam</strong>, seorang mukmin itu selalu bertawakal dan menyandarkan hatinya kepada Allah. Dia serahkan semua urusannya kepada Allah<br />
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (٣)<br />
Yang artinya, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS ath Thalaq:3).<br />
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (٢٣)<br />
Yang artinya, “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS al Maidah:23).<br />
Barang siapa yang bertawakal dan menyandarkan hatinya kepada Allah maka Allah akan menjaganya dan melindunginya dari segala keburukan serta segala fitnah meski demikian besar dan demikian hebat.<br />
Dalam sebuah hadits yang hsahih disebutkan ada seorang yang mengambil pedang Nabi saat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sedang tidur beristirahat dalam sebuah perjalanan. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lantas terbangun dan mengarahkan pandangannya ke atas ternyata orang tersebut berdiri tepat di atas kepala Nabi sambil berkata, “Siapa yang akan melindungimu dariku?” sedangkan pedang dalam posisi terhunus di tangannya. Dengan penuh keteguhan hati dan kekuatan iman, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengatakan, “Allah”.<br />
Tiba-tiba pedang tersebut jatuh dari tangan orang tersebut yang segera diambil oleh Nabi. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lantas balik berkata, “Siapa yang akan melindungimu dariku?”.</p>
<p>Siapa saja yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan menjaga dan melindunginya dari berbagai mara bahaya.<br />
Akan tetapi tawakal harus diiringi dengan melakukan usaha dengan benar dan berbagai sarana yang diperbolehkan oleh syariat. Itulah berbagai sarana yang diajarkan oleh syariat Allah agar terjaga dari fitnah dan terhindar dari berbagai keburukan. Usaha yang paling penting adalah menjaga ‘Allah’ dengan berkomitmen untuk mentaati-Nya, menjauhi larangan-Nya dan mentaati segala perintah-Nya.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, seorang muslim itu akan menjauhi segala penyebab timbulnya fitnah dan segala faktor pemicu terjadinya perpecahan serta demikian semangat untuk menjaga persatuan kaum muslimin, kesatuan hati mereka dan utuhnya barisan mereka untuk mentaati Allah dan mengikuti berbagai perintah-Nya.<br />
Di antara doa ma’tsur ada yang bunyinya, “Ya Allah, perbaikilah hubungan di antara kami, satukanlah hati kami dan tunjukkanlah kepada kami jalan-jalan keselamatan”.<br />
Seorang mukmin yang memiliki iman yang benar tentu sangat antusias untuk menjaga persatuan di antara saudara-saudaranya sesama orang yang beriman dan menjauhi sejauh-jauhnya berbagai perkara yang menyebabkan timbulnya perpecahan, percekcokan, perbedaan dan hilangnya satu kata diantara orang-orang yang beriman.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>, tidak menyebarkan semua berita yang didengar, terlebih berita yang bisa menimbulkan kekhawatiran atau rasa aman di tengah-tengah masyarat.<br />
Sebagian orang ketika timbul fitnah (baca: kerusuhan dan perbedaan pendapat) sangat bersemangat untuk menyebarkan berita apa pun keadaannya dan menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar tanpa mengecek berita yang benar dan berita yang salah. Demikian juga tanpa mempertimbangkan dampak yang timbul jika berita tersebut disebarluaskan.<br />
Ada beberapa langkah yang harus dilakukan menyikapi adanya suatu berita.<br />
memastikan keabsahan berita<br />
sumber berita atau penyampai berita merenungkan dan menimbang-nimbang apakah menyebarluaskan berita itu bermanfaat bagi manusia baik dari sisi agama ataupun dunia ataukah malah menimbulkan bahaya berupa masyarakat menjadi ketakutan, merasa resah dan sebagainya.<br />
Oleh karena itu, untuk berita semacam ini Allah berfirman,<br />
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا (٨٣ )<br />
Yang artinya, “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)” (QS an Nisa’:83).</p>
<p>Berdasarkan ayat ini maka jika kita mendapatkan berita yang bisa menimbulkan keresehan atau rasa aman di tengah masyarakat maka kita berkewajiban untuk tidak tergesa-gesa menyebarluaskannya di tengah masyarakat. Kita memiliki kewajiban untuk mengembalikannya kepada rasul yaitu kepada sunah rasul dan mengembalikannya kepada ulil amri yaitu para ulama yang memiliki ilmu, pengetahuan dan pemahaman yang mendalam. Jika memang menyebarkan berita tersebut bermanfaat untuk umat tentu para ulama akan menyarankannya. Jika tidak maka para ulama akan melarang kita untuk memupublikasikannya supaya kita tidak menanggung beban tanggung jawabnya yang berupa menyakiti banyak pihak karena tersebarnya berita tersebut.<br />
Oleh karena itu terdapat riwayat shahih dari amirul mukminin Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan, “Janganlah kalian menjadi orang-orang yang ‘ujulan, madzaayi’ dan budzron. Sesungguhnya di belakang kalian terdapat bencana yang menyakitkan”.</p>
<p>Yang dimaksud dengan ‘ujulan adalah orang yang suka tergesa-gesa dalam berbagai perkara dan tidak mau bersikap tenang.<br />
Sedangkan madzayi’ adalah orang yang suka dan bersemangat besar untuk menyebarkan berita apapun kondisinya.<br />
Adapun budzron adalah orang yang menebar perpecahan dan berbagai sebab perpecahan dan konflik di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>, urgensi berkonsultasi dengan para ulama yang mendalam ilmunya dengan bertanya kepada mereka, sejalan dengan perkataan mereka, memperhatikan wejangan-wejangan mereka dan tidak menentang mereka. Tidak semua orang boleh berbicara tentang masalah agama karena hal itu adalah kewenangan para ulama yang mendalam ilmunya dan benar-benar memahami agama. Merekalah orang-orang yang mengetahui hukum halal dan haram serta mengusai hukum-hukum agama secara umum. Merekalah orang-orang yang menetapkan hukum berdasarkan firman Allah dan sabda rasul-Nya.<br />
Orang yang paling berani dalam memberi fatwa adalah orang yang paling berani untuk masuk neraka.<br />
Karenanya pada saat terjadi fitnah (baca: perselisihan paham yang sengit) kita berkewajiban untuk berkonsultasi dengan para ulama, mengambil manfaat dari ilmu mereka dan sejalan dengan perkataan mereka serta tidak berani berbicara dalam bidang yang tidak dikuasai.<br />
Diantara tanda baik keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna dan tidak membicarakan bidang yang tidak dikuasai dengan baik. Hal ini dilakukan dalam rangka agar tidak membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.<br />
Dalam sebuah hadits disebutkan, “Siapa yang mengarahkan orang lain pada perkara yang tidak benar maka dosanya itu ditanggung oleh yang mengarahkan”.<br />
Kesepuluh, seorang mukmin itu menyakini bahwa Allah itu dekat dengan hamba-hamba-Nya, mendengar seruan dan mengabulkan doa mereka, menolong orang yang kesusahan dan menghilangkan kesulitan.<br />
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ (٦٢)<br />
Yang artinya, “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS an Naml:62).</p>
<p>Seorang mukmin itu yakin bahwa Allah itu dekat dengan-Nya, mendengar doanya, akan mewujudkan harapannya dan memberikan permintaannya. Oleh sebab itu seorang muslim sering mengadu kepada Allah dengan penuh ketulusan dan dengan berulang kali agar kaum muslimin dijauhkan dan dipalingkan dari berbagai fitnah. Serta berdoa agar Allah memberikan untuk negeri kaum muslimin rasa aman, keimanan, keselamatan dan keislaman serta terjaga dari berbagai keburukan dan bencana. Doa adalah kunci segala kebaikan di dunia dan di akherat.<br />
Kami memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur agar Allah meneguhkan hati kita semua untuk selalu mentaatiNya, melindungi kita semua dari berbagai fitnah yang yang nampak ataupun yang tersembunyi, menjaga agama, keamanan dan keimanan kita. Semoga Allah tidak memasrahkan kita kecuali hanya kepada-Nya dan melindungi kita dari berbagai mara bahaya yang ditimbulkan oleh musuh.<br />
Ya Allah, kami menjadikan-Mu di leher-leher mereka dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan mereka.<br />
Terdapat suatu hadits dalam Sunan Abu Daud bahwa Nabi jika merasa takut dengan sekelompok orang maka beliau akan berdoa, “Ya Allah, kami menjadikan-Mu di leher-leher mereka dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan mereka”.<br />
Yang bisa kami sampaikan adalah apa yang telah kalian dengar. Aku memohon ampunan untukku dan kalian serta seluruh kaum muslimin dari seluruh dosa.<br />
Mohonlah ampunan kepada-Nya niscaya Dia akan mengampuni kalian sesungguhnya Dia maha pengampun lagi maha penyayang.</p>
<p><strong>Khutbah Kedua</strong></p>
<p>Segala puji itu milik Allah. Dialah dzat yang memiliki kebaikan yang sangat besar dan anugrah serta kedermawanan yang sangat luas.<br />
Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tanpa ada sekutu baginya.<br />
Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan untuknya, keluarganya dan semua shahabatnya.<br />
Wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kalian kepada Allah. Siapa saja yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan melindunginya dan membimbingnya untuk melakukan yang terbaik dalam masalah agama dan dalam masalah dunia.</p>
<p>Ketahuilah bahwa takwa adalah asas keselamatan dalam menghadapi berbagai fitnah, jalan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akherat.<br />
Ketika terjadi fitnah di zaman tabiin sebagian orang menemui Thalq bin Habib lantas bertanya kepadanya, “Bagaimana cara melindungi diri dari fitnah dan menyelamatkan diri dari keburukan fitnah?”<br />
Thalq mengatakan, “Lindungilah diri kalian dari fitnah ini dengan bertakwa kepada Allah”.<br />
Mereka bertanya, “Tolong jelaskan kepada kami apa itu takwa!”.<br />
Beliau mengatakan, “Bertakwa kepada Allah adalah menjalankan ketaatan kepada Allah dengan dasar iman kepada Allah karena mengharap pahala dari Allah serta meninggalkan berbagai bentuk maksiat kepada Allah dengan dasar iman kepada Allah karena merasa takut dengan siksa-Nya”.</p>
<p>Betapa agungnya jalan takwa. Betapa mulia pengaruhnya. Betapa banyak manfaat takwa bagi pemiliknya di dunia dan di akherat.<br />
Hendaknya kita hadapi berbagai fitnah dengan bertakwa kepada Allah. Caranya kita berkomitmen untuk mentaati-Nya, rutin beribadah kepada-Nya dan kita jauhi berbagai kemaksiatan agar dijaga, dibantu dan ditolong oleh Allah.<br />
Moga Allah menjadikan kita semua sebagai bagian dari orang-orang yang bertakwa dan melindungi kita semua dari segala keburukan dan mala petaka. Sungguh Dia adalah maha mendengar dan maha mengabulkan doa.<br />
Hendaknya kalian mengucapkan sholawat dan salam untuk Muhammad bin Abdillah sebagaimana yang Allah perintahkan dalam kitab-Nya<br />
    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا<br />
Yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS al Ahzab:56).<br />
Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sebanyak sepuluh kali”.</p>
<p>Ya Allah, berikanlah shalawatMu untuk Muhammad dan untuk keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu maha terpuji dan maha agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu maha terpuji dan maha agung.<br />
Ya Allah berikan ridhoMu untuk empat khulafaur rasyidin yang mendapatkan hidayah yaitu Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali. Demikian pula ya Allah berikanlah ridhoMu untuk semua shahabat dan tabiin serta semua orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat nanti. Demikian juga berikanlah ridhoMu untuk kami dengan anugrah, kemurahan dan kebaikanMu, wahai zat yang maha pemurah.<br />
Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin.<br />
Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin.<br />
Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin dan hinakanlah kemusyrikan dan para pelakunya, hancurkanlah para musuh agama dan lindungilah daerah kaum muslimin wahai pemilik semesta alam.<br />
Ya Allah, tolonglah orang yang menolong agama-Mu.<br />
Ya Allah, tolonglah orang yang menolong agama-Mu.<br />
Ya Allah, tolonglah orang yang menolong agama-Mu.<br />
Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami, kaum musliman yang berjihad di jalan-Mu yang berada di semua tempat.<br />
Ya Allah, tolonglah mereka dengan pertolongan yang kuat.<br />
Ya Allah kuatkanlah mereka dengan bantuan-Mu dan jagalah mereka dengan penjagaan-Mu, lindungilah mereka dengan perlindungan dan perhatian-Mu, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.<br />
Ya Allah bereskanlah musuh-musuh agama karena mereka tidak akan mampu mengalahkan-Mu.<br />
Ya Allah cabik-cabiklah mereka sehancur-hancurnya.<br />
Ya Allah, buatlah hati mereka berselisih dan cerai beraikan persatuan di antara mereka dan timbulkanlah rasa takut di hati mereka, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.<br />
Ya Allah, kami menjadikan-Mu di leher-leher mereka dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan mereka.<br />
Ya Allah, berikanlah rasa aman untuk kami di negeri kami sendiri dan perbaikilah para penguasa dan pemimpin kami.<br />
Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami adalah orang yang merasa takut dan bertakwa kepada-Mu serta mengikuti ridho-Mu wahai pemilik alam semesta.<br />
Ya Allah, berilah taufik kepada penguasa kami untuk melakukan apa yang Kau cintai dan Kau ridhoi, bantulah mereka untuk melakukan kebaikan dan ketakwaan, bimbinglah perkataan dan tindak tanduk mereka, berilah mereka kesehatan badan dan afiat, berikanlah untuk mereka para pembisik yang baik dan yang menghendaki kebaikan untuknya, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.<br />
Ya Allah berikan taufik-Mu kepada semua penguasa kaum muslimin agar mengamalkan kitab-Mu dan mengikuti sunah Nabi-Mu, Muhammad – shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dan jadikanlah mereka wujud kasih sayang-Mu untuk hamba-hamba-Mu yang beriman.<br />
Ya Allah, berilah mereka pemikiran yang benar dan perkataan yang tepat yang bermanfaat untuk Islam dan kaum muslimin, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.<br />
Ya Allah, berikanlah kepada jiwa kami ketakwaan. Sucikanlah jiwa kami. Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikan jiwa karena Engkau adalah zat yang mengatur jiwa manusia.<br />
Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan pegangan hidup kami. Perbaikilah dunia kami karena di sanalah kami hidup. Perbaikilah akherat kami karena ke sanalah kami akan kembali. Jadikanlah hidup kami di dunia ini sebagai tambahan kebaikan untuk kami dan jadikanlah kematian sebagai sarana istirahat kami dari berbagai keburukan.<br />
Ya Allah perbaikilah hubungan di antara kami, satukanlah hati kami dan tunjukilah kami jalan-jalan menuju keselamatan, keluarkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya.<br />
Berkahilah pendengaran kami, penglihatan kami, istri-istri kami, harta kami, anak keturunan kami dan jadikanlah kami orang-orang yang diberkahi dimana saja kami berada.<br />
Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami baik yang kecil apalagi yang besar, yang dahulu ataupun belakangan, yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.<br />
Ya Allah, ampunilah apa yang telah kami lakukan dan apa yang belum kami lakukan, apa yang kami lakukan dengan sembunyi-sembunyi maupun yang kami lakukan dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih tahu dari pada kami. Engkaulah yang memajukan dan Engkaulah yang mengundurkan. Tiada sesembahan yang pantas disembah melainkan diri-Mu.<br />
Ya Allah, ampunilah dosa orang yang punya dosa di antara kaum muslimin, terimalah taubat dari orang-orang yang bertaubat.<br />
Ya Allah hilangkanlah kesusahan orang yang susah dan penderitaan orang-orang yang menderita, lunasilah hutang dari orang-orang yang berhutang serta sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami dan semua kaum muslimin yang sakit.<br />
Ya Allah kami memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, terjaganya kehormatan dan kecukupan rizki.<br />
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu hidayah dan tindak tanduk yang benar.<br />
Ya Allah, kami memohon perlindungan dengan ridho-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dengan-Mu dari-Mu. Kami tidak mampu menyanjung-Mu sebagaimana sanjungan yang Kau berikan untuk diri-Mu sendiri.<br />
Ya Allah sesungguhnya kami memohon ampun kepadaMu. Sungguh Engkau adalah maha pengampun. Oleh karena itu turunkanlah hujan yang deras kepada kami.<br />
Ya Allah turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami.<br />
Ya turunkanlah hujan yang manfaat, berlimpah dan penuh kebaikan kepada kami. Janganlah Kau turunkan hujan yang membahayakan kami baik di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang.<br />
Ya Allah suburkan hati kami dengan iman dan suburkanlah negeri kami dengan hujan.<br />
Ya Allah turunkan hujan untuk kami dan janganlah Kau jadikan kami sebagai orang-orang yang berputus asa.<br />
Ya Allah turunkan hujan untuk kami dan janganlah Kau jadikan kami sebagai orang-orang yang berputus asa.<br />
Ya Allah, janganlah Kau hukum kami disebabkan perbuatan orang-orang yang usil di antara kami.<br />
Ya Allah, kabulkanlah doa kami, wujudkanlah harapan kami dan berikanlah apa yang menjadi permintaan kami, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.<br />
Bukankah Engkau telah berfirman,<br />
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (١٨٦)<br />
Yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS al Baqarah:186).<br />
Ya Allah, kami telah beriman dan kami telah memenuhi perintah-Mu.<br />
Ya Allah turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami.<br />
Ya Allah berilah kenikmatan dari kami, janganlah Kau cegah kami dari kenikmatan, tambahilah nikmat untuk kami dan janganlah Kau kurangi, utamakanlah kami dan janganlah Kau utamakan orang lain dari pada kami.<br />
Seruan kami yang terakhir adalah ucapan alhamdu lillahi rabbil ‘alamin.<br />
Moga Allah memuji, memberi keselamatan, keberkahan dan nikmat untuk hamba Allah dan utusanNya yaitu nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh shahabatnya.</p>
<p>Khutbah Jum’at Syaikh &#8216;Abdur Rozaq bin Abdil Muhsin Al Abbad Al Badr, tanggal 18 Muharram 1424 H</p>
<p><strong>Catatan</strong>:<br />
Yang dimaksud dengan istilah fitnah dalam hal ini adalah makna fitnah dalam bahasa Arab yang bisa berarti ujian berupa musibah, kerusuhan dan perselisihan yang tajam di tengah-tengah masyarakat. Ini semua tergantung konteks kalimat yang ada.</p>
<p>Penerjemah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-1859"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2F%25e2%2580%259c-fitnah%25e2%2580%259d-dan-penanggulangannya.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/%e2%80%9c-fitnah%e2%80%9d-dan-penanggulangannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angin, Antara Nikmat dan Adzab</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/angin-antara-nikmat-dan-adzab.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/angin-antara-nikmat-dan-adzab.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 22:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[angin nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1814</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. Kami memujinya. Kami memohon pertolongan kepadaNya. Kami juga memohon ampunan dan bertaubat kepadaNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi<a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/angin-antara-nikmat-dan-adzab.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. Kami memujinya. Kami memohon pertolongan kepadaNya. Kami juga memohon ampunan dan bertaubat kepadaNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa kami dan keburukan amal perbuatan kami.</p>
<p>Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Demikian pula, barangsiapa yang Allah sesatkan maka tiada satu pun yang bisa memberi hidayah kepadanya.</p>
<p>Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tanpa ada sekutu bagiNya. Dialah sesembahan orang-orang di masa silam dan masa datang serta penegak langit dan bumi.</p>
<p>Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya. Beliaulah manusia pilihan Allah, kekasih-Nya dan seorang yang Allah percaya untuk mendapatkan wahyu serta penyampai syariat kepada semua manusia.</p>
<p>Semoga Allah memuji dan memberi keselamatan untuknya, keluarganya dan seluruh shahabatnya.</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman, wahai hamba-hamba Allah bertakwalah kalian kepada Allah. Yakinlah bahwa takwa kepada Allah adalah sebaik-baik bekal menuju hari yang dijanjikan. Takwa adalah sebab yang paling penting untuk mendapatkan ridho Allah. Takwa adalah perkara yang Allah wasiatkan kepada orang-orang di masa silam ataupun orang di masa sekarang.</p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;font-size:22px;text-align:center">وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ</p>
<p>Yang artinya, “<em>Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah</em>” (QS. an Nisa’:131).</p>
<p>Sesungguhnya tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan keesaan Allah dan bahwa Dia adalah pengatur alam semesta itu banyak sekali, tidak bisa dihitung. Sebagaimana perkataan seorang penyair, “<em>Dalam segala sesuatu terdapat bukti bahwa Dia adalah zat yang esa</em>”.</p>
<p>Di antara tanda kekuasaan Allah yang besar, bukti nyata keesaan-Nya yang menunjukkan bahwa Dia itu benar-benar esa dan segala urusan itu ada di genggaman-Nya dan diatur penuh oleh diri-Nya adalah angin yang diatur oleh Allah sebagaimana yang Dia kehendaki. Angin itu bertiup mengikuti perintah-Nya dan setelah mendapatkan izin dari-Nya. Angin adalah makhluk yang diatur dan diperintahkan. Dia tidak bisa datang atau pun pergi baik di waktu pagi atau pun sore kecuali dengan seizin Tuhannya yang merupakan zat yang mengatur dirinya. Semua gerakan angin itu dengan seizin-Nya. Semua tiupan angin itu dengan perintah-Nya. Sekali lagi, angin adalah makhluk yang diatur dan diperintah. Terkadang dia datang dengan membawa kabar gembira dan rahmat Allah. Di waktu yang lain, dia membawa adzab dan hukuman Allah. Segala urusan sepenuhnya ada di tangan Allah.</p>
<p>Angin adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Sepantasnya seorang mukmin mengambil pelajaran dengan keberadaan angin. Dengan angin, seorang hamba mengetahui betapa agungnya Allah, zat yang mengatur angin.</p>
<p>Dalam angin terdapat pelajaran dan nasihat yang sangat berharga serta tanda kekuasaan yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan sang pencipta.</p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;font-size:22px;text-align:center">وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (46)</p>
<p>Yang artinya, “<em>Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur</em>” (QS ar Rum: 46).</p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;font-size:22px;text-align:center">وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)</p>
<p>Yang artinya, “<em>Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.</em>” (QS. al Baqarah: 164).</p>
<p>Memang benar, angin hanya menjadi tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Mereka memutar akal mereka untuk mengambil manfaat dan pelajaran dari berbagai tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan bahwa Dialah sang pengatur alam semesta dan menunjukkan bahwa Dia adalah zat yang agung karena memiliki segala sifat kesempurnaan.</p>
<p>Angin itu terkadang menjadi hukuman dan siksaan, di samping terkadang menjadi nikmat dan rahmat. Itu semua terjadi dengan perintah Allah. Dalam sebuah hadits yang sahih Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>melarang mencaci maki angin dengan alasan bahwa angin itu sekedar makhluk yang diatur dan diperintah.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Janganlah kalian mencaci angin karena angin itu diperintah</em>”.</p>
<p>Hadits yang senada dengan hadits di atas jumlahnya banyak. Sebagiannya nanti juga akan kami sampaikan.</p>
<p>Diaturnya angin oleh Allah adalah sebuah nikmat yang sangat besar bagi manusia. Hendaknya kita merasakan adanya nikmat tersebut dan nilainya serta menyadari manfaat yang kita petik darinya. Seandainya angin itu tidak diatur oleh Allah tentu tidak akan ada kehidupan bagi manusia. Dunia hewan dan tumbuh-tumbuhan pun akan kacau balau. Makanan akan rusak dan busuklah seluruh penjuru bumi.</p>
<p>Pengaruh dan manfaat angin itu sangat banyak, tak terhitung. Seandainya angin itu hanya diam dan tenang tidak bergerak atau bertiup maka seluruh bagian bumi ini terutama tumbuh-tumbuhan akan busuk. Hewan-hewan akan menjadi bangkai.</p>
<p>Jadi bertiupnya angin itu sebuah nikmat. Karenanya ada pergerakan udara. Udara pun menjadi bersih dan jernih. Berbagai penyakit hilang dan berbagai nikmat, kebaikan dan manfaat besar pun datang. Semua itu karena angin yang diatur oleh Allah.</p>
<p>Terkadang Allah mengirim angin yang mendorong mendung yang memuat hujan. Hujan adalah kabar gembira dan pembawa berbagai kebaikan. Masih banyak manfaat dan hasil yang akan dirasakan oleh manusia oleh sebab angin. Oleh karena itu, dalam al Qur’an kita jumpai Allah menyebut angin dalam bentuk jamak. Hal ini mengisyaratkan banyak dan besarnya manfaat yang Allah letakkan pada angin.</p>
<p>Terkadang Allah mengirimkan angin sebagai siksaan dan hukuman. Angin datang membawa adzab yang menjadi sebab mati dan hancurnya manusia, tetumbuhan dan berbagai binatang. Hal ini terjadi sebagai hukuman Allah dan pelajaran yang bisa dipetik oleh orang yang mau mengambil pelajaran.</p>
<p>Di antaranya adalah kisah yang Allah ceritakan dalam al Qur’an tentang hukuman yang Allah berikan kepada kaum &#8216;Aad yang merupakan kaum Nabi Hud. Allah hancurkan mereka dengan angin.</p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;font-size:22px;text-align:center">وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ (41)مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ (42)</p>
<p>Yang artinya, “<em>Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk</em>” (QS adz Dzariyat:41-42).</p>
<p>Dalam kisah yang Allah tuturkan dalam al Qur’an, pada saat angin adzab datang, saat pertama kali mengetahui hal tersebut, kaum ‘Aad beranggapan bahwa angin tersebut membawa awan yang akan menurunkan hujan. Mereka anggap bahwa angin tersebut adalah angin pembawa nikmat dan kabar gembira.</p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;font-size:22px;text-align:center">فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24)تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لا يُرَى إِلا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)</p>
<p>Yang artinya, “<em>Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya. Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa</em>” (QS al Ahqof:24-25).</p>
<p>Yang dimaksud ‘<em>tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka</em>’ adalah tidak ada lagi satu pun orang yang hidup di dalam rumah-rumah mereka. Artinya seluruh mereka hancur dan mati disebabkan angin tersebut cukup dalam sekejap mata saja dengan sekali hembusan.</p>
<p>Sungguh ini adalah tanda dan bukti kekuasaan Allah yang sangat besar. Seyogyanya orang-orang yang beriman mengambil pelajaran darinya.</p>
<p>Di antara hal yang luar biasa dalam angin adalah dia bisa memahami perintah dan mentaati Tuhannya. Dia laksanakan semua perintah-Nya.</p>
<p>Di antara hal yang unik dalam angin adalah setiap hari Jumat angin itu merasa takut. Angin itu paham bahwa hari Kiamat akan terjadi pada hari Jumat. Karenanya setiap hari Jumat angin merasa takut dan khawatir jangan-jangan Kiamat akan terjadi. Hal ini disebabkan Allah memberi kemampuan untuk memahami bagi angin.</p>
<p>Dalam Sunan Ibnu Majah terdapat hadits yang kualitas sanadnya sahih, Nabi bercerita tentang hari Jumat. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>katakan, “<em>Pada hari Jumat Kiamat akan terjadi</em>”.</p>
<p>Nabi  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>lantas bersabda, “<em>Tidak ada satu pun malaikat, langit, bumi, angin, gunung ataupun lautan melainkan merasa takut dan khawatir pada hari Jumat</em>”.</p>
<p>Makhluk-makhluk ini merasa khawatir dengan terjadinya Kiamat pada hari Jumat.</p>
<p>Angin merasa takut dengan terjadinya Kiamat. Langit merasa takut. Bumi merasa takut. Lautan pun merasa takut. Sayangnya, mayoritas manusia lalai dan tidak memikirkan akan terjadinya Kiamat.</p>
<p>Sepatutnya kita mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah ini. Hendaknya hati kita merasa tergerak karena beriman, menghadapkan hati, bertaubat dan kembali kepada Allah.</p>
<p>Terdapat dalam hadits yang sahih dari Nabi kita <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bahwa ketika angin bertiup kencang dan berhembus dengan kuat seorang muslim berkewajiban untuk menghadapkan hatinya kepada Allah dengan memohon, berharap kepada Allah akan kebaikan angin tersebut dan meminta perlindungan kepada Allah akan keburukan angin tersebut.</p>
<p>Dalam sahih Muslim, ketika angin bertiup kencang, Nabi kita <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>berdoa, “<em>Ya Allah sesungguhnya aku meminta kebaikan angin ini dan kebaikan yang dibawanya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini dan keburukan yang dibawanya</em>”.</p>
<p>Inilah petunjuk dan ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>. Tidak sepatutnya kita menyibukkan diri dengan berbagai hal yang sebagian orang saling mengingatkan untuk melakukannya padahal hal tersebut tidak ada dalilnya dari sunah dan bukan bagian dari ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>.</p>
<p>Dalam kondisi angin bertiup kencang, hendaknya hati kita tergerak untuk mengambil pelajaran dari berbagai tanda kekuasaan Allah.</p>
<p>Ya Allah, jadikanlah kami orang yang mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Mu dan tunjukilah kami jalan-Mu yang lurus.</p>
<p>Ini yang bisa kami sampaikan. Aku memohon ampunan untukku dan kalian serta seluruh kaum muslimin dari seluruh dosa.</p>
<p>Mohonlah ampunan kepada-Nya niscaya Dia akan mengampuni kalian sesungguhnya Dia maha pengampun lagi maha penyayang.</p>
<p><strong>Khutbah Kedua</strong></p>
<p>Segala puji itu milik Allah. Dialah dzat yang memiliki kebaikan yang sangat besar dan anugrah serta kedermawanan yang sangat luas.</p>
<p>Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tanpa ada sekutu baginya.</p>
<p>Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan untuknya, keluarganya dan semua shahabatnya.</p>
<p>Beberapa hari yang lewat angin bertiup demikian kencang sehingga menggerakkan segala sesuatu di tempat yang tidak jauh dari tempat kita.</p>
<p>Seiring bergeraknya segala sesuatu, hati pun tergerak karena merasa takut dan ngeri dengan kejadian tersebut.</p>
<p>Tergeraknya hati berbarengan dengan hembusan angin yang sangat kuat adalah suatu hal yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Tergeraknya hati dengan peristiwa ini hendaknya jangan bersifat sementara namun hendaknya hembusan angin kencang ini menjadi pintu awal tergeraknya seorang mukmin untuk benar-benar bertaubat dan memberikan hatinya kepada Allah dengan sebenar-benarnya.</p>
<p>Sesungguhnya yang menggerakkan angin pada hari-hari ini dengan demikian hebat sehingga menyebabkan banyak manusia yang mati atau luka-luka, banyak harta benda yang rusak dan berbagai perkara yang lain itu mampu menggerakkannya pada kesempatan yang lain.</p>
<p>Menjadi kewajiban kita bersama untuk benar-benar tulus menghadapkan hati kepada Allah, merasa takut dan bertaubat. Hendaknya pelajaran ini tidak menggerakkan hati kita sementara waktu, namun seterusnya.</p>
<p>Menjadi kewajiban kita dalam setiap saat dan pada setiap keadaan untuk merasa takut kepada Allah. Barangsiapa yang merasa takut kepada Allah maka segala sesuatu akan merasa takut kepadanya. Siapa yang tidak merasa takut kepada Allah maka Allah akan membuatnya merasa takut dengan segala sesuatu. Merasa takut kepada Allah, kembali dan berlari menuju Allah adalah sifat seorang mukmin di setiap waktu dan setiap kesempatan.</p>
<p>Menjadi kewajiban kita bersama untuk memperbesar rasa takut kita kepada Allah dan pada waktu yang bersamaan rasa harap kita pun semakin besar. Demikian pula pada waktu yang sama perhatian hati kita kepada Allah juga semakin besar.</p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;font-size:22px;text-align:center">أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (57)</p>
<p>Yang artinya, “<em>Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti</em>” (QS al Isra:57).</p>
<p>Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan nafsunya lalu beramal untuk hidup setelah mati. Sedangkan orang yang tidak berdaya adalah orang yang jiwanya menuruti keinginan hawa nafsunya namun memiliki angan-angan sangat besar kepada Allah.</p>
<p>Hendaknya kalian bersholawat dan mendoakan keselamatan kepada Muhammad bin Abdillah sebagaimana yang telah Dia perintahkan dalam kitabNya.</p>
<p style="font-family:Traditional Arabic;font-size:22px;text-align:center">إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</p>
<p>Yang artinya, “<em>Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya</em>” (QS al Ahzab:56).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Barang siapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sebanyak sepuluh kali</em>”.</p>
<p>Ya Allah, berikanlah shalawatMu untuk Muhammad dan untuk keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu Maha Terpuji dan Maha Agung.</p>
<p>Ya Allah, berikan ridhoMu untuk empat khulafaur rasyidin yang merupakan para pemimpin yang mendapatkan hidayah yaitu Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali. Demikian pula ya Allah berikanlah ridhoMu untuk semua shahabat dan tabiin serta semua orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat nanti. Demikian juga berikanlah ridhoMu untuk kami dengan anugrah, kemurahan dan kebaikanMu, wahai zat yang maha pemurah.</p>
<p>Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin dan hinakanlah kemusyrikan dan para pelakunya dan hancurkanlah para musuh agama.</p>
<p>Ya Allah, berikanlah rasa aman untuk kami di negeri kami sendiri dan perbaikilah para penguasa dan pemimpin kami.</p>
<p>Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami adalah orang yang merasa takut dan bertakwa kepada-Mu serta mengikuti ridho-Mu wahai pemilik alam semesta.</p>
<p>Ya Allah, bimbinglah penguasa kami untuk meniti hidayahMu dan jadikanlah amalnya adalah amal yang Kau ridhoi.</p>
<p>Ya Allah, berikanlah kepada jiwa kami ketakwaan. Sucikanlah jiwa kami. Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikan jiwa karena Engkau adalah zat yang mengatur jiwa manusia.</p>
<p>Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar memiliki rasa takut kepada-Mu baik ketika sendiri ataupun saat bersama banyak orang, perkataan yang benar saat gembira ataupun marah.</p>
<p>Ya Allah janganlah kau serahkan diri kami kecuali kepada-Mu.</p>
<p>Ya Allah, kasih sayang-Mu lah yang kami harapkan maka janganlah kau serahkan diri kami kecuali kepada-Mu.</p>
<p>Ya Allah, kasih sayang-Mu lah yang kami harapkan maka janganlah kau serahkan diri kami kecuali kepada-Mu.</p>
<p>Ya Allah, kasihanilah kelemahan kami dan hilangkanlah kesedihan kami.</p>
<p>Ya Allah, berilah kami taufik untuk melakukan apa yang Kau cintai dan Kau ridhoi, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.</p>
<p>Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang terindah dan sifat-sifat-Mu yang agung agar Engkau merasa kasihan dengan kelemahan orang-orang yang mendapatkan musibah karena sebab angin puting beliung dan Kau sayangi orang-orang yang sudah mati di antara kaum muslimin, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.</p>
<p>Ya Allah, hilangkanlah kesedihan orang-orang yang mendapatkan musibah.</p>
<p>Ya Allah, berilah ganti untuk mereka dengan yang lebih baik.</p>
<p>Ya Allah, jadikanlah musibah mereka sebagai penghapus dosa dan rahmat-Mu, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.</p>
<p>Ya Allah, berilah kami taufik untuk mengambil pelajaran dengan ayat-ayat-Mu dan jadikanlah kami orang-orang yang bisa mengambil pelajaran, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.</p>
<p>Ya Allah, tunjukilah kami jalan-Mu yang lurus dan perbaikilah seluruh urusan kami, wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.</p>
<p>Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami dan dosa seluruh kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan dan seluruh orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.</p>
<p>Wahai tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akherat dan jagalah kami dari api neraka.</p>
<p>Wahai hamba-hamba Allah ingatlah Allah niscaya Allah akan mengingat kalian. Bersyukurlah atas nikmat-nikmat-Nya niscaya Dia akan memberi tambahan nikmat. Mengingat Allah itulah yang lebih besar dan Allah itu mengetahui apa yang kalian lakukan.</p>
<p>Khutbah Jumat pada tanggal 22 Jumadil Ula 1428 H, Syeikh &#8216;Abdur Rozaq bin Abdil Muhsin Al Abad Al Badr</p>
<p>Penerjemah: Ustadz Aris Munandar</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1814"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fangin-antara-nikmat-dan-adzab.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/angin-antara-nikmat-dan-adzab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahaya Syirik</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bahaya-syirik.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bahaya-syirik.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 05:39:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1680</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji itu hak Allah zat yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa ilmu yang manfaat serta amal shalih untuk memenangkan agama-Nya atas semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bahaya-syirik.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Segala puji itu hak Allah zat yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa ilmu yang manfaat serta amal shalih untuk memenangkan agama-Nya atas semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.</p>
<p>Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan diri-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya. Hal ini saya ucapkan sebagai ikrar atas keesaan-Nya.</p>
<p><span id="more-1680"></span></p>
<p>Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak manusia untuk menuju ridha-Nya dengan mengesakan-Nya.</p>
<p>Semoga Allah menyanjungnya, keluarganya dan semua sahabatnya serta memberi tambahan keselamatan.</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman, para hamba Allah, bertakwalah kalian kepada Allah. Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjaganya dan membimbingnya untuk melakukan kebaikan dalam semua urusan baik urusan agama ataupun urusan dunia. Ketahuilah bahwa takwa adalah melakukan ketaatan kepada Allah karena beriman kepada Allah dan berharap pahala dari-Nya dan meninggalkan perbuatan maksiat karena beriman kepada Allah dan merasa takut dengan siksaan-Nya.</p>
<p>Menjadi kewajiban setiap muslim untuk hidup di dunia ini dalam keadaan merasa khawatir jika melakukan suatu hal atau suatu dosa yang menyebabkan Allah marah dan murka.</p>
<p>Perkara paling penting yang seorang hamba itu wajib merasa takut dengannya sehingga dia bersemangat untuk menjaga diri darinya dan memaksa jiwanya untuk menjauhinya adalah kemusyrikan. Memang merasa takut untuk melakukan kemusyrikan adalah sebuah tujuan agung yang wajib diwujudkan oleh setiap muslim.</p>
<p>Kemusyrikan adalah dosa yang paling besar, paling berbahaya, merupakan tindakan kezaliman yang paling zalim, kejahatan yang paling besar dan dosa yang tidak bakal terampuni.</p>
<p>Menyekutukan Allah adalah perbuatan menghancurkan rububiyyah dan melecehkan uluhiyyah Allah serta berburuk sangka dengan pencipta alam semesta.</p>
<p>Kemusyrikan adalah menyamakan makhluk dengan Allah yang hal ini berarti menyamakan makhluk yang tidak sempurna dan tidak punya apa-apa dengan zat yang agung serta kaya raya.</p>
<p>Kemusyrikan adalah sebuah dosa yang rasa takut kita dengannya harus lebih besar dibandingkan rasa takut kita dengan hal selainnya.</p>
<p>Terdapat banyak dalil dalam al Qur&#8217;an dan sunah yang jika direnungkan dan ditelaah oleh seorang hamba akan menyebabkan timbulnya rasa takut di dalam hati terhadap kemusyrikan sehingga dia akan mewaspadainya dan menjaga diri jangan sampai terjerumus ke dalamnya.</p>
<p>Renungkanlah firman Allah yang terdapat dalam dua ayat dalam surat an Nisa</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ</p>
<p>Yang artinya, <em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.&#8221;</em> (QS an Nisa: 48)</p>
<p>Dalam ayat ini terdapat penjelasan yang sangat jelas bahwa orang yang berjumpa Allah dalam keadaan musyrik maka tidak ada harapan baginya untuk mendapatkan ampunan Allah karena tempat kembalinya adalah neraka dan dia akan kekal di dalamnya. Di dalamnya dia tidak akan mati tidak pula ada keringanan siksa untuknya. Sebagaimana firman Allah,</p>
<p>وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ (٣٦)وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (٣٧)</p>
<p>Yang artinya, <em>&#8220;Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas Setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: &#8220;Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami kerjakan&#8221;. dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.&#8221;</em> (QS Fathir: 36-37)</p>
<p>Di antara faktor penyebab timbulnya rasa takut di dalam hati orang yang beriman dengan kemusyrikan adalah merenungkan keadaan orang-orang shalih dan para nabi yang merasa demikian takut terhadap dosa yang sangat besar ini.</p>
<p>Cukuplah dalam kesempatan ini kita renungkan bersama doa pemimpin orang-orang yang bertauhid, sang kekasih Allah, Ibrahim. Beliau adalah seorang yang telah Allah angkat sebagai kekasih-Nya. Beliau hancurkan patung-patung berhala dengan tangannya. Beliau berdakwah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan telah melakukan hal yang luar biasa untuk itu. Renungkanlah doa beliau sebagaimana yang terdapat dalam al Qur&#8217;an,</p>
<p>وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ (٣٥)رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣٦)</p>
<p>Yang artinya, &#8220;Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: <em>&#8220;Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia. Maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakai Aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221;</em> (QS Ibrahim 35-36)</p>
<p>Renungkanlah pemimpin orang-orang yang bertauhid berdoa kepada Allah agar dirinya dan anak keturunannya dijauhkan dari penyembahan terhadap berhala. Artinya beliau meminta agar dirinya dan keturunannya diletakkan di posisi yang jauh dan tidak dekat dengan kemusyrikan dengan bahasa lain tidak terjerumus dalam jaring-jaring dan berbagai sarana pengantar menuju kemusyrikan.</p>
<p>Salah seorang ulama salaf, Ibrahim at Taimi namanya, suatu ketika membaca ayat ini lantas berkomentar, &#8220;Siapa berani merasa terjamin selamat dari kemusyrikan setelah Ibrahim?&#8221;</p>
<p>Artinya jika Ibrahim sang kekasih Allah saja merasa khawatir melakukan kemusyrikan dan berdoa kepada Allah agar selamat darinya maka bagaimana mungkin orang selainnya berani merasa aman darinya?</p>
<p>Nabi kita setiap pagi berdoa sebanyak tiga kali. Demikian pula setiap sore. Beliau berdoa, &#8220;Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekafiran dan dari kefakiran dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur.&#8221;</p>
<p>Diantara doa Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim adalah, &#8220;Ya Allah, aku hanya pasrah kepada-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu dan kembali kepada-Mu. Hanya karena-Mu aku mendebat. Aku memohon perlindungan dengan kemuliaan-Mu yang tiada sesembahan yang pantas disembah melainkan diri-Mu agar engkau tidak menyesatkanku. Engkau adalah zat yang hidup dan tidak mati. Sedangkan jin dan manusia mati.&#8221;</p>
<p>Di antara doa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah, <em>&#8220;Ya Allah, aku memohon hidayah dan sikap yang benar kepada-Mu.&#8221;</em></p>
<p>Hadits-hadits seputar hal ini banyak sekali. Bahkan Ummu Salamah mengatakan bahwa mayoritas doa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah <em>&#8220;Wahai zat yang membolak-balikkan hati palingkanlah hati kami untuk tetap mentaatimu.&#8221;</em> Aku yaitu Ummu Salamah bertanya, <em>&#8220;Wahai Nabi, apakah hati itu bisa berubah-ubah?&#8221;</em> Nabi bersabda, <em>&#8220;Memang, semua hati itu diantara dua jemari Allah. Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia kehendaki. Jika Dia mau maka Dia akan mengarahkan hati tersebut pada kebenaran dan jika Dia mau maka Dia akan menyesatkan hati tersebut.&#8221;</em></p>
<p>Di antara dalil dalam permasalahan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al Musnad dan yang lainnya. Suatu hari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada para sahabat, <em>&#8220;Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil.&#8221;</em> Para sahabat lantas bertanya tentang apa yang dimaksud dengan syirik kecil. <em>&#8220;Riya&#8217;&#8221;</em>, jawab Nabi.</p>
<p>Para ulama mengatakan jika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> saja mengkhawatirkan para sahabat terjerumus dalam kemusyrikan kecil padahal mereka adalah mereka dalam masalah ketaatan dan tauhid lantas bagaimana dengan orang yang levelnya sangat jauh di bawah para sahabat bahkan tidak ada sepersepuluh dengan para sahabat dalam masalah tauhid dan ibadah?</p>
<p>Terdapat riwayat dalam kitab <em>al Adab al Mufrod</em> yang kualitas sanadnya adalah hasan mengingat banyaknya riwayat pendukung, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;Sungguh kemusyrikan di tengah-tengah kalian itu lebih samar dari pada langkah semut.&#8221;</p>
<p>Salah seorang sahabat bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, bukankah kemusyrikan adalah mengangkat tandingan untuk Allah padahal Dia adalah sang pencipta?&#8221;</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya sungguh kemusyrikan di tengah-tengah kalian itu lebih samar dibandingkan dengan langkah semut.&#8221;</em> Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Maukah kutunjukkan kepada kalian suatu kalimat yang jika kalian ucapkan maka Allah akan menghilangkan dari kalian dosa kemusyrikan baik sedikit ataupun banyak.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Tentu&#8221;</em>, jawab para sahabat. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Itulah ucapan Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.&#8221;</em></p>
<p>Menjadi kewajiban kita bersama untuk menghafalkan doa ini dan rutin membacanya.</p>
<p>Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.</p>
<p>Di antara hal yang menyebabkan timbulnya rasa khawatir dengan kemusyrikan adalah apa yang Nabi katakan dalam banyak hadits bahwa ada di antara umat beliau akan ada yang kembali menyembah berhala. Hal ini terdapat dalam beberapa hadits diantaranya adalah:</p>
<p>Terdapat dalam Sunan Abu Daud dan yang lainnya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Kiamat tidak akan terjadi sehingga beberapa kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala.&#8221;</em></p>
<p>Dalam hadits yang lain, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Kiamat tidak akan terjadi hingga pantat para wanita dari suku Daud bergoyang di hadapan Dzul Kholashoh.&#8221;</em> Dzul Kholashoh adalah nama berhala.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>&#8220;Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lobang biawak gurun tentu kalian juga akan memasukinya.&#8221;</em></p>
<p>Semua hadits di atas Nabi sampaikan dalam rangka menghendaki kebaikan untuk umatnya dan untuk mengingatkan umatnya dari bahaya dosa yang sangat besar itu dan kejahatan yang sangat ngeri itu.</p>
<p>Semoga Allah melindungi kita semua darinya.</p>
<p>Di antara faktor yang mendorong kita untuk memiliki kekhawatiran dengan kemusyrikan adalah orang musyrik itu dekat dengan neraka. Tidak ada yang menghalangi untuk masuk neraka kecuali karena belum mati saja.</p>
<p>Renungkanlah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang terdapat dalam <em>Sahih Bukhari</em>, <em>&#8220;Barang siapa mati dalam keadaan berdoa kepada selain Allah maka pasti akan masuk neraka.&#8221;</em></p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat dalil bahwa neraka itu dekat dengan orang musyrik. Tidak ada penghalangnya dengan neraka melainkan karena belum mati.</p>
<p>Semua dalil di atas mendorong orang beriman untuk merasa sangat khawatir dengan kemusyrikan. Kemudian rasa khawatir tersebut menggerakkan hati untuk mempelajari dosa besar tersebut supaya bisa mewaspadainya dan menjaga diri darinya dalam hidup ini.</p>
<p>Oleh karena itu, dalam <em>Sahih Bukhari</em> Hudzaifah bin al Yaman mengatakan, &#8220;Para sahabat Nabi suka bertanya kepada Nabi tentang kebaikan sedangkan aku suka bertanya kepada beliau mengenai keburukan karena aku khawatir dengannya.&#8221;</p>
<p><em>Ya Allah, lindungi kami dari kemusyrikan wahai pemilik alam semesta.  Ya Allah, lindungi kami dari kemusyrikan wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.</em></p>
<p><em>Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami</em> mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.</p>
<p><em>Ya Allah, kami memohon kepada-Mu tauhid yang murni dan iman yang membaja.</em></p>
<p><em>Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyesatkan orang lain ataupun disesatkan oleh orang lain wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.</em></p>
<p><em>Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hidayah, takwa, terjaganya kehormatan dan kecukupan rizki</em></p>
<p>Demikianlah yang aku sampaikan. Aku memohon ampunan untukku dan kalian serta seluruh kaum muslimin dari seluruh dosa.</p>
<p>Mohonlah ampunan kepada-Nya niscaya Dia akan mengampuni kalian sesungguhnya Dia maha pengampun lagi maha penyayang</p>
<p><strong>Khutbah Kedua</strong></p>
<p>Segala puji itu milik Allah. Dialah dzat yang memiliki kebaikan yang sangat besar dan anugrah serta kedermawanan yang sangat luas.<br />
Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tanpa ada sekutu baginya.</p>
<p>Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan untuknya, keluarganya dan semua shahabatnya.<br />
Terdapat banyak dalil dari al Qur&#8217;an dan sunah yang menunjukkan bahwa kemusyrikan itu ada dua macam yaitu besar dan kecil. Dua macam kemusyrikan ini berbeda pengertian dan konsekuensinya.</p>
<p>Pengertian syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah baik dalam rububiyyah, nama dan sifat ataupun dalam uluhiyyah.</p>
<p>Siapa saja yang menyamakan selain Allah dengan Allah dalam salah satu hak khusus Allah maka dia telah menyekutukan Allah dengan syirik besar yang mengeluarkan palakunya dari agama Islam.</p>
<p>Sedangkan syirik kecil adalah segala perbuatan yang dicap sebagai kemusyrikan oleh dalil, akan tetapi belum sampai derajat syirik besar. Contohnya adalah bersumpah dengan Allah, ucapan &#8216;sebagaimana kehendak Allah dan kehendakmu&#8217;, &#8216;seandainya tidak demikian tentu yang terjadi adalah demikian dan demikian&#8217; dan ucapan-ucapan semisal yang mengandung kemusyrikan akan tetapi orang yang mengucapkannya tidak memaksudkannya.</p>
<p>Sedangkan konsekuensi hukum dari dua macam kemusyrikan tersebut di Akherat tentu berbeda. Pelaku syirik besar itu kekal di dalam neraka selamanya, tidak mati tidak pula mendapatkan keringanan siksa.</p>
<p>Sedangkan syirik kecil dampaknya tidak sampai seperti itu. Meski pada asalnya syirik kecil itu dosa besar yang paling besar sebagaimana perkataan sahabat, Abdullah bin Mas&#8217;ud. Beliau berkata, &#8220;Sungguh jika aku bersumpah dengan menyebut nama Allah sedangkan isi sumpahku adalah dusta itu lebih aku sukai dari pada aku bersumpah dengan selain nama Allah meskipun isi sumpahku adalah benar.&#8221;</p>
<p>Bersumpah dengan selain nama Allah meski isi sumpahnya benar adalah kemusyrikan. Sedangkan bersumpah dengan nama Allah sedangkan isinya adalah dusta adalah melakukan dosa besar yaitu dusta. Dosa besar tidak bisa dibandingkan dengan kemusyrikan. Ini menunjukkan kepahaman para sahabat dengan agama ini.</p>
<p>Permasalahan kemusyrikan dan mengetahui bentuk-bentuknya adalah permasalahan yang sangat penting untuk diperhatikan mengingat banyak orang yang tidak mengetahui perkara agung ini.</p>
<p>Banyak orang yang melakukan berbagai amalan dan perkara yang merupakan kemusyrikan namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kemusyrikan. Bahkan sebagian orang tertipu dengan nama dan label sehingga tercegah dari ibadah yang murni untuk Allah akhirnya melakukan berbagai hal yang haram bahkan berbagai perbuatan kemusyrikan. Semoga Allah melindungi kita.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah agar memahamkan kita semua dengan agama-Nya dan memberi taufik kepada kita semua untuk mengikuti sunah Nabi-Nya serta memberi hidayah kepada kita semua agar menita jalan-Nya yang lurus.</p>
<p>Hendaknya kalian mengucapkan sholawat dan salam untuk pemimpin orang-orang yang bertauhid dan teladan para sahabat, Muhammad bin Abdillah sebagaimana yang Allah perintahkan dalam kitab-Nya,</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</p>
<p>Yang artinya, <em>&#8220;Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.&#8221;</em> (QS al Ahzab: 56)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;Barang siapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sebanyak sepuluh kali.&#8221;</p>
<p><em>Ya Allah, berikanlah shalawat-Mu untuk Muhammad dan untuk keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu maha terpuji dan maha agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu maha terpuji dan maha agung.</em></p>
<p><em>Ya Allah berikan ridho-Mu untuk empat khulafaur rasyidin yang mendapatkan hidayah yaitu Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali. Demikian pula ya Allah berikanlah ridho-Mu untuk semua shahabat dan tabiin serta semua orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat nanti. Demikian juga berikanlah ridho-Mu untuk kami dengan anugrah, kemurahan dan kebaikan-Mu, wahai zat yang maha pemurah.</em></p>
<p><em>Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin dan hinakanlah kemusyrikan dan orang-orang musyrik serta hancurkanlah semua musuh-musuh agama.</em></p>
<p><em>Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami para mujahid yang berjihad di jalan-Mu di semua tempat.<br />
Ya Allah, jadikanlah diri-Mu sebagai penolong, penguat, pembantu dan penjaga mereka.</em></p>
<p><em>Ya Allah bereskanlah para musuh agama karena sesunguhnya mereka tidak akan mampu mengalahka-Mu.<br />
Ya Allah, kami jadikan diri-Mu di leher-leher mereka dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan mereka.</em></p>
<p><em>Ya Allah, berikanlah rasa aman untuk kami di negeri kami sendiri dan perbaikilah para penguasa dan pemimpin kami.</em></p>
<p><em>Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami adalah orang yang merasa takut dan bertakwa kepada-Mu serta mengikuti ridho-Mu wahai pemilik alam semesta.</em></p>
<p><em>Ya Allah bimbinglah penguasa kami untuk meniti hidayahMu dan jadikanlah amalnya adalah amal yang kau ridhoi.</em></p>
<p><em>Ya Allah, berikanlah kepada jiwa kami ketakwaan. Sucikanlah jiwa kami. Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikan jiwa karena Engkau adalah zat yang mengatur jiwa manusia.</em></p>
<p><em>Ya Allah ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami dan dosa seluruh kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan dan seluruh orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.</em></p>
<p><em>Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami baik yang kecil apalagi yang besar, yang dahulu ataupun belakangan, yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.</em></p>
<p><em>Ya Allah sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sungguh Engkau adalah maha pengampun. Oleh karena itu turunkanlah hujan yang deras kepada kami.</em></p>
<p><em>Ya Allah turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami.<br />
Ya turunkanlah hujan yang manfaat, berlimpah dan penuh kebaikan kepada kami. Janganlah Kau turunkan hujan yang membahayakan kami baik di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang.<br />
Ya Allah suburkan hati kami dengan iman dan suburkanlah negeri kami dengan hujan<br />
Ya Allah, kasih sayang-Mu yang kami harapkan maka janganlah Kau pasrahkan kami melainkan kepada diri-Mu.<br />
Ya Allah, jangan Kau pasrahkan diri kami kepada kami sendiri meski hanya sekejap mata.<br />
Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau.<br />
Seruan kami yang terakhir adalah ucapan alhamdu lillahi rabbil &#8216;alamin.</em></p>
<p>Moga Allah memuji, memberi keselamatan, keberkahan dan nikmat untuk hamba Allah dan utusanNya yaitu nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh shahabatnya.</p>
<p>Khutbah Jumat Syaikh &#8216;Abdur Rozaq bin &#8216;Abdil Muhsin Al Abad Al Badr, pada tanggal 26 Syawal 1427 H.</p>
<p>***</p>
<p>Penerjemah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel <a title="bahaya syirik" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bahaya-syirik.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1680"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fbahaya-syirik.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bahaya-syirik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

