<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Manhaj</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/manhaj/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Revolusi Timur Tengah (4)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 23:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[timur tengah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8287</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 4 Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus[1] Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong>Pelajaran 4</strong></span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><strong>Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/#_ftn1"><span style="color: #0000ff;"><strong>[1]</strong></span></a></strong></span></p>
<p style="text-align: left;" align="center">Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan monarki Muhammad Amin Bay, dan mengumumkan berdirinya Republik Tunisia.</p>
<p>Bourgiba tak lupa membayar ‘hutang budi’ tadi kepada Prancis dan Barat, dengan merevolusi syariat Islam. Melalui majalah <em>al-Ahwaal asy-Syakhsiyyah</em>, ia membatalkan sejumlah hukum syar’i yang baku. Yang paling terkenal di antaranya ialah larangan berpoligami. Poligami dianggap sebagai tindak kriminal, sedangkan pelacuran dibolehkan dan bahkan dilindungi undang-undang !!</p>
<p>Ketika pemerintah Tunisia menaikkan harga roti tahun 1984, terjadilah ‘revolusi roti’. Bourgiba memanggil pulang dubes-nya di Warsawa-Polandia, yang bernama Zein el-Ebidin Ben Ali. Ben Ali diangkat sebagai Kepala keamanan nasional, lalu menjadi Mendagri, dan kemudian dilantik sebagai Perdana Menteri tahun 1987, hingga akhirnya mengkudeta Bourgiba sebulan kemudian!</p>
<p>Saya masih ingat bahwa di awal kekuasaannya, Ben Ali sering menyiarkan adzan dari Masjidil Haram Mekkah, melalui televisi Tunisia. Orang-orang yang tidak mengenalnya pun menyambut hangat ‘kebijakan’ ini, dan menganggapnya sebagai ‘pengganti baik’ sang diktator Bourgiba.</p>
<p>Ketika itu, kami masih mahasiswa. Ada seorang kyai sepuh yang demikian faham akan muslihat para tiran berkata, “Jangan terpedaya olehnya (Ben Ali), sebab dia ciptaan Prancis. Ia akan menjadi seperti pendahulunya kalau tidak lebih jahat”. Ternyata, dugaan pak Kyai tadi benar.</p>
<p>Sang diktator terus melenggang dengan segala kezhaliman dan kesewenang-wenangannya selama 23 tahun. Ia terus-menerus memerangi Islam, berlaku otoriter, dan mencekik rakyatnya.</p>
<p>Pada hari Jumat 11 Muharram 1432, seorang pemuda bernama Mohamed Bouazizi nekat membakar dirinya. Ia melakukan hal tersebut karena kesal setelah gerobak sayurnya disita aparat. Bouazizi yang menjadi pengangguran dan tak lagi mampu menafkahi keluarga, juga menerima tamparan dari seorang polisi wanita di depan umum. Tak ada seorang pun yang membelanya ketika itu. Tak lama berselang, ia pun wafat akibat luka bakarnya pada tanggal 29 Muharram.</p>
<p>Keesokan harinya, meletuslah sejumlah demonstrasi yang merayap bak api dalam sekam ke seantero Tunisia, yang kemudian menjadi revolusi nasional. Pasukan diturunkan atas perintah Sang Diktator agar memberangus dan membantai para demonstran. Akan tetapi, pasukan justru mengkhianatinya, dan berbalik melindungi rakyat dari oknum-oknum militer pendukung presiden.</p>
<p>Ben Ali pun kabur setelah keadaan semakin kacau dan tak terkendali. Pemerintahan akhirnya dipegang oleh PM Mohamed Ghannouchi, sebagai presiden sementara. Ia mengumumkan kondisi darurat, memberlakukan jam malam sejak pukul 5 sore hingga 7 pagi, dan melarang berkumpulnya tiga orang atau lebih secara mutlak.</p>
<p>Singkat cerita, di penghujung tahun 2011, terpilihlah Moncef Marzouki sebagai presiden Tunisia ke-4. Presiden yang berlatar belakang dokter ini memang terkenal sebagai pejuang HAM. Akan tetapi sayang, dalam pidato kepresidenannya, ia memuji keberhasilan Bourgiba dkk. sebagai peletak asas-asas pemerintahan modern, dan memuji keberhasilannya dalam pemerataan pendidikan, <strong>pembebasan kaum wanita</strong>, dan perbaikan taraf hidup rakyat Tunisia.</p>
<p>Sayang sekali… kepergian Ben Ali ternyata digantikan oleh orang yang berhaluan sekuler seperti ini. <em>Ala kulli haal</em>, takdir Allah pasti terjadi… dan pasti mengandung hikmah dan pelajaran di baliknya.</p>
<p><strong>Rakyat tak bisa dipaksa untuk fakir dan kafir sekaligus</strong></p>
<p>Salah satu pelajaran penting dari peristiwa ini adalah, ketika rakyat dipaksa untuk menjadi kafir dan fakir sekaligus; mereka pasti memberontak kepada penguasa. Rakyat mungkin saja ‘sabar’ untuk dijauhkan dari agama selama dunianya terjamin. Atau dijauhkan dari dunia selama agamanya terpelihara. Namun ketika keduanya dirampas, maka mustahil ia tinggal diam…</p>
<p>Ketika revolusi Prancis berhasil merampas pengaruh agama Nasrani dalam kehidupan warganya, ia mengganti mereka dengan kemakmuran dunia, sehingga rakyat Eropa pun ‘puas’ dan ‘reda’. Andai saja revolusi tersebut tidak menjamin kemakmuran dunia mereka, pastilah mereka memberontak lagi… sebab manusia tidak akan sabar jika kehilangan agama dan dunianya sekaligus.</p>
<p>Akan tetapi, banyak penguasa kaum muslimin yang mempertaruhkan kesejahteraan rakyat demi kepentingan pribadi. Mereka memberi berbagai kemudahan kepada perusahaan asing untuk menggerogoti kekayaan bangsa dan negara. Lihatlah bagaimana para pemimpin menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyatnya… Dengan dalih kerjasama, tak sedikit aset negara yang mereka jual kepada para investor. Tak cukup sampai di situ, pemerintah bahkan membuka perdagangan bebas, sehingga barang-barang impor membanjiri pasar lokal. Akibatnya, produk-produk lokal pun tak laku. Seperti kata pepatah, sudah jatuh terhimpit tangga pula. Para pengrajin yang <em>ngos-ngosan</em> mencari sesuap nasi, kini terancam jadi pengangguran. Mereka merasa terjajah di negeri sendiri, dan ironisnya: oleh bangsa sendiri.</p>
<p>Dalam kondisi seperti ini, umat Islam bisa saja bersabar menghadapi himpitan ekonomi, selama agama mereka tak dinodai. Mereka yakin, bahwa walaupun hidupnya serba susah ketika di dunia, toh Allah menjanjikan surga bagi mereka di akhirat nanti. Namun jika agama mereka dinodai, lalu kekayaan mereka dirampas… maka apa fungsinya keberadaan penguasa? Yang akan muncul hanyalah revolusi dan amuk massa, persis seperti yang terjadi di Tunisia.</p>
<p>Karenanya, gerakan <em>Sepilis</em><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/#_ftn2">[2]</a> yang didukung oleh AS dan Eropa di negara-negara mayoritas muslim, harus diwaspadai. Selama ini, mereka demikian leluasa menyebarkan pemikiran busuknya lewat berbagai media massa. Dan lagi-lagi, pemerintah terkesan mendiamkan, atau bahkan merestui.</p>
<p>Para aktivis <em>Sepilis</em> sedikitpun tidak pernah memikirkan nasib rakyat. Bahkan nasib penguasa pun mereka pertaruhkan demi menyukseskan program jahat sang majikan. Mereka ibarat anjing peliharaan yang menggonggong demi kepentingan tuannya, dan bahkan siap mati demi yang memberi makan. Hal ini terbukti ketika Ben Ali yang selama ini berkhidmat demi kepentingan Prancis, justru ditolak untuk melarikan diri ke Prancis setelah terguling.</p>
<p>Prancis sama sekali tak mau menerima Ben Ali yang selama 23 tahun menjadi tangan kanannya dalam mensekulerkan rakyat Tunisia. Subhaanallaah, alangkah hinanya anjing-anjing tersebut di mata tuannya ! Ben Ali yang selama ini berjuang memberangus semua atribut Islam, mulai dari jenggot, jilbab, poligami, hingga adzan; ternyata tak mendapat tempat aman untuk berlindung dari amukan rakyatnya… tidak di Eropa, tidak pula di Amerika… namun justru di negara yang menerapkan syariat Islam yang selama ini dimusuhinya, dan itu pun dengan syarat-syarat ketat.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Bersambung…</em></p>
<div>Penulis: <a href="http://basweidan.com">Ustadz Sufyan Basweidan, Lc<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></div>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/#_ftnref1">[1]</a> Disadur dari artikel berjudul (سقط طاغوت تونس.. فهل يعتبر كل طاغوت!؟) oleh Ibrahim bin Muhammad Al Haqiel, dengan banyak perombakan. Beberapa pelajaran selanjutnya juga diilhami dari artikel ini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/#_ftnref2">[2]</a> Singkatan dari sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-8287"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fpelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fpelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fpelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-revolusi-timur-tengah-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terimakasih Kepada Bapak Haidar Bagir, Atas Pengakuannya</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/terimakasih-kepada-bapak-haidar-bagir-atas-pengakuannya.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/terimakasih-kepada-bapak-haidar-bagir-atas-pengakuannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8265</guid>
		<description><![CDATA[Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran  saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: Syiah dan Kerukunan Umat. Bapak Haidar<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/terimakasih-kepada-bapak-haidar-bagir-atas-pengakuannya.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran  saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: Syiah dan Kerukunan Umat.</p>
<p>Bapak Haidar Bagir dengan segala daya dan upayanya berusaha menutupi beberapa idiologi Si’ah yang menyeleweng dari kebenaran. Walau demikian, tetap saja ia tidak dapat melakukannya. Bahkan bila anda mencermati dengan seksama, niscaya anda dapatkan tulisannya mengandung pengakuan nyata akan kesesatan sekte Syi’ah Imamiyyah.</p>
<p>Berikut saya ketengahkan ke hadapan anda tiga pengakuan terselubung bapak Haidar Bagir.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengakuan Pertama : </strong><strong></strong></span></p>
<p>Data Syi’ah Imamiyah tentang idiologi adanya Al Qur’an versi Syi’ah begitu melimpah dalam berbagai referensi Syi’ah. Wajar bila Bapak Haidar Bagir tidak menemukan cara untuk mengingkarinya. Fenomena ini mengharuskannya menempuh cara selain menutupinya. Dan ternyata Bapak Haidar Bagir lebih memilih cara mengesankan bahwa data tersebut adalah pendapat pribadi sebagian tokoh syi’ah Imamiyah.</p>
<p>Karenanya, dengan jelas tulisan bapak Haidar Bagir ini mengandung pengakuan tentang kebenaran adanya Al Qur’an versi Syi’ah Imamiyyah. Berdasarkan pengakuannya ini, anda mendapat kepastian tentang adanya idiologi Al Qur’an versi syi’ah Imamiyyah.</p>
<p>Adapun klaim bapak Haidar bahwa idiologi ini adalah idiologi sebagian oknum Syi’ah maka itu menyelisihi fakta yang ada. Sebagai salah satu buktinya, Ayatullah Ali Khamenei, yang mereka anggap sebagai Wali Faqih, dan tokoh terkemuka Syi’ah Imamiyah zaman ini teryata masih mengajarkannya.</p>
<p>Dalam kitabnya Kasyful Asrar hal. 149 Al Khumaini menyatakan: <em>&#8220;Telah kami buktikan pada awal pembahasan ini, bahwa Nabi <strong>menahan diri dari membicarakan masalah al imaamah (kepemimpinan) dalam Al Qur&#8217;an</strong>. Alasannya beliau khawatir Al Qur&#8217;an akan diselewengkan, atau timbul perselisihan yang sengit di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga hal itu berakibat buruk bagi masa depan agama Islam.&#8221;</em></p>
<p>Adapun keberadaan Mushaf Utsmani di tengah-tengah para penganut Syi’ah Imamiyah maka itu belum cukup kuat untuk mengingkati adanya mushaf Fatimah dalam idiologi Syi’ah. Yang demikian itu karena tokoh Syi’ah Imamiyah sejak dahulu mengajarkan agar para pengikut mereka untuk sementara membaca Al Qur’an yang ada, hingga masa bangkitnya Imam ke-12 mereka. Menurut mereka, hanya Imam Mahdi merekalah yang masih menyimpan dan kelak akan mengajarkannya kembali kepada para pengikutnya.</p>
<p>Al Kulaini dalam kitanya Al Kaafi 2/619, meriwayatkan bahwa Abu Hasan Ali bin Musa Ar Ridha, bertanya kepada Imam Syi’ah ke-5, yaitu Abu Ja&#8217;far Muhammad bin Ali bin Al Husain :  Semoga aku menjadi penebusmu, kita mendengar ayat-ayat Al Qur&#8217;an yang tidak ada pada Al Qur&#8217;an kita ini. Sebagaimana kita juga tidak dapat membacanya sebagaimana yang kami dengar dari anda, maka apakah kami berdosa? Beliau menjawab: Tidak, bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari, karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajarkannya kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Adapun klaim bapak Haidar tentang tokoh-tokoh sunni yang menyatakan adanya perubahan pada Al Qur’an, adalah klaim sepihak dan kosong dari bukti. Pernyataan sahabat Umar bin Al Khatthab juga lainnya tentang ayat rajam adalah penjelasan tentang adanya ayat yang dianulir secara bacaan. Walaupun secara hukum, ayat-ayat tersebut masih tetap berlaku.</p>
<p>Sebagaimana ulama’-ulama’ sunni juga menegaskan bahwa dalam Al Qur’an terdapat beberapa ayat-ayat yang kandungan hukumnya telah dihapuskan walau secara bacaan masih tetap ada.  Fakta ini bukanlah hal aneh, karena telah dijelaskan pada ayat 106, surat Al Baqarah.</p>
<p>Namun tentu syari’at nasekh (anulir) suatu ayat menurut sunni menyelisihi idiologi perubahan Al Qur’an dalam doktrin Syi’ah Imamiyah. Nasekh menurut sunni hanya terjadi semasa hidup Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Adapun sepeninggal beliau maka tidak terjadi <em>nasekh. </em></p>
<p>Ditambah lagi<em> </em>menurut syariat sunni, hingga hari qiyamat<em> </em>tidak ada yang mengembalikan ayat-ayat yang semasa Nabi hidup <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mansukh (dianulir).</p>
<p>Sedangkan menurut sekte Syi’ah Imamiyyah Al Qur’an mengalami perubahan sepeninggal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em> Dan kelak ayat-ayat yang dirubah sepeninggal beliau akan dikembalikan lagi oleh imam mereka ke-12. Karena itu, sekte Syi’ah senantiasa menantikan kehadiran sosok tersebut, yang mereka yakini sebagai Imam Mahdi.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengakuan Ke</strong><strong>dua</strong><strong> :</strong></span></p>
<p>Pada awal tulisan, Bapak Haidar mengklaim bahwa celaan syi’ah terhadap sahabat hanyalah sebatas kecenderungan dan bukan ajaran. Menurutnya, syi’ah yang mencela sahabat Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan juga sebagian istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hanyalah minoritas.</p>
<p>Selanjutnya Bapak Haidar berusaha menguatkan klaim ini dengan menyebutkan sekte Syi’ah Zaidiyah. Menurutnya sekte Zaidiyah menerima kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman.</p>
<p>Penuturan ini adalah bukti nyata bahwa Bapak Haidar telah memutar balikkan fakta. Sejatinya Bapak Haidar Bagirlah yang telah menggunakan data syadz (ganjil) guna mendukung kesimpulanya. Karena sekte Zaidiyah adalah sekte minoritas syi’ah, sedangkan meyoritas syi’ah saat ini adalah para pengikut sekte Imamiyyah.</p>
<p>Terlebih lagi, adanya pengakuan terhadap kekhilafahan sahabat Abu Bakar Umar dan Utsman adalah alasan Imamiyah mengucilkan sekte Zaidiyah.</p>
<p>Adapun beberapa tokoh syi’ah Imamiyyah yang disebut oleh bapak Haidar telah mengakui kekhilafahan ketiga sahabat di atas, maka saya tidak ingin banyak mempersoalkannya. Saya hanya ingin bertanya: apakah pengakuan tersebut diamini oleh tokoh Imamiyyah yang lain dan kemudian diterapkan oleh seluruh penganut Imamiyah?</p>
<p>Fakta yang terjadi di lapangan membuktikan bahwa pengikut syi’ah imamiyah tetap saja melaknati ketiganya dan juga lainnya. Kasus sampang dan berbagai kasus serupa di negri kita adalah salah satu buktinya. Karena itu Abu Lukluah Al Majusi aktor pembunuh Khalifah Umar bin Khatthab diagungkan oleh sekte Imamiyah sehingga mereka menjulukinya dengan Baba Suja’uddin. Dan sebagai apresiasi atas jasanya membunuh Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab, mereka membangun kuburannya dengan megah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengakuan Ketiga: </strong></span></p>
<p>Kebesaran jiwa ulama’-ulama’ sunni dan juga seluruh umat sunni untuk menghentikan kemungkaran yang dilakukan oleh dinasti Abbasiyah. Sehingga mereka semua patuh dan mengapresiasi sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menginstruksikan hal tersebut. Dan alhamdulillah hingga kini, hal tersebut sirna dan tidak ada yang melakukannya kembali.</p>
<p>Namun hal serupa hingga saat ini tidak kuasa dilakukan oleh para penganut ajaran syi’ah Imamiyah. Sehingga walaupun para aktor sandiwara <em>taqrib</em> telah menyerukannya, namun tetap saja di lapangan para penganut Syi’ah terus mencaci sahabat-sahabat Nabi. Sikap Yasir Al Habib beserta para pengikutnya dan juga syi’ah di Sampang adalah bukti nyata, bahwa seruan tersebut hanyalah seruan tanpa pembuktian.</p>
<p>Pengakuan bapak Haidar ini, dapat menjadi bukti nyata bahwa hanya dengan mengikuti ajaran sunnilah kedamaian antar komponen umat Islam dapat terwujud. Adapun ajaran syi’ah, terlebih Imamiyyah, hingga saat ini terus menjadi biang terjadinya permusuhan bahkan perang saudara di tengah-tengah umat Islam. Sikap pasukan Al Hutsi di Yaman yang menyerang sunni di daerah Dammaj, dan juga pasukan Al Mahdi di Irak yang membantai sunni adalah bukti nyata akan hal tersebut.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengakuan Keempat :</strong></span></p>
<p>Bapak Haidar Bagir juga mengakui bahwa sekte Syi’ah yang selama ini menjadi biang kericuhan umat Islam adalah Syiah Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah. Karena itu beliau merasa perlu untuk mengutarakan adanya perubahan pandangan tentang keabsahan khilafah sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman.</p>
<p>Walau demikian, ada satu fakta yang mungkin kurang diwaspadai oleh bapak Haidar Bagir. Mengakui adanya perubahan ini sejatinya adalah pengakuan bahwa idiologi Imamah versi Imamiyyah adalah sesat. Andai tidak sesat, buat apa beliau perlu mengutarakan adanya ralat yang dilakukan oleh sebagian tokoh sekte Imamiyah?</p>
<p>Terlebih sejatinya idiologi bahwa imam (penguasa umat) dalam Islam hanya berjumlah 12 orang, adalah idiologi tidak nyata dan tidak masuk akal. Anda pasti telah mengetahui bahwa dari kedua belas imam Syi’ah yang benar-benar pernah mengenyam sebagai khalifah hanyalah sahabat Ali bin Abi Thalib dan putranya Al Hasan.</p>
<p>Adapun Al Husain beserta anak cucunya, maka hingga mereka meninggal dunia, tidak seorangpun yang sempat menjadi pemimpin. Sehingga berbagai dalil yang mereka yakini tentang keimaman mereka benar-benar menyelisihi fakta.</p>
<p>Secara defacto seluruh ahli sejarah sepakat bahwa Al Hasan bin Abi Thalib telah menyerahkan <em>khilafah</em> (kekuasaan) kepada sahabat Mu’awiyah. Dan tahun terjadinya serah terima khilafah ini akhirnya dikenal dan diabadikan oleh umat sunni hingga akhir masa. Sehingga mereka menyebut tahun tersebut dengan sebutan <em>‘aamul jama’ah</em> (tahun persatuan).</p>
<p>Setiap umat sunni bergembira dengan kejadian ini. Umat sunni menganggap sikap Al Hasan ini sebagai jasa terbesar yang beliau lakukan untuk umat Islam. Bahkan umat sunni hingga saat ini meyakini bahwa sikap Al Hasan ini sebagai wujud nyata dari sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentangnya:</p>
<p><em>“Sejatinya putraku ini adalah seorang pemimpin, dan semoga dengannya Allah menyatukan dua kelompok besar dari umat Islam.”</em> (Bukhari)</p>
<p>Namun tahukah anda bahwa umat sunni yang mengapresiasi kebesaran jiwa Al Hasan ini ternyata tidak diteladani oleh penganut Syi’ah. Beberapa referensi Syi’ah malah menukilkan sikap yang berlawan arah. Beberapa tokoh Syi’ah malah menganggap sikap Al Hasan ini sebagai bentuk pengkhianatan.</p>
<p>Pada suatu hari, seorang  tokoh Syi&#8217;ah bernama Sufyan bin Laila berkunjung ke rumah Al Hasan bin Ali. Didapatkan beliau sedang duduk-duduk sambil berselimut di depan rumahnya. Sepontan Sufyan bin Laila mengucapkan salam kepada Al Hasan dengan berkata: <em>&#8220;Semoga keselamatan atasmu, <strong>wahai orang yang telah menghinakan kaum mukminin</strong>! Karena merasa ganjil dengan ucapan selamat yang disampaikan oleh Sufyan, Al Hasan bertanya: Darimana engkau mengetahui hal itu? Ia menjawab: Engkau telah memangku kepemimpinan, lalu engkau melepaskannya dari bahumu. Selanjutnya engkau sematkan kepemimpinan itu di bahu penjahat ini agar ia leluasa menerapkan hukum selain hukum Allah.&#8221;</em></p>
<p>Kisah ini bisa anda temui pada beberapa refensi agama Syi&#8217;ah, semisal: <em>Al Ikhtishash</em> karya As Syeikh Al Mufid wafat thn: 413 H, hal: 82,  <em>Ikhtiyaar Ma&#8217;rifat Ar Rijal</em>, karya As Syeikh At Thusi wafat thn: 460, hal: 1/327 &amp; <em>Bihaarul Anwaar</em> karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn: 1111 H, hal: 44/24.</p>
<p>Sejak serah terima khilafah antara sahabat Al Hasan kepada sahabat Mu’awiyah ini, tidak seorangpun dari keturunan sahabat Ali bin Abi Thalib yang memangku jabatan khalifah. Bahkan Al Husain bin Abi Thalib yang hendak merebut khilafah dari Yazid bin Mu’awiyah, menemui kegagalan dan terbunuh sebelum sempat mendapatkannya. Tak ayal lagi, ia hidup tanpa <em>imamah, </em>hingga akhir hayatnya, demikian pula nasib seluruh anak cucunya. Dengan demikian kesepuluh imam Syi’ah Imamiyyah setelah Al Hasan berstatus <em>The Kings Without A Kingdom.</em></p>
<p>Ini adalah bukti nyata bahwa meyakini keimamahan kesepuluh imam sekte Imamiyah adalah kekeliruan, karena menyelisihi fakta. Sehingga wajar bila seluruh sunni dan juga setiap yang berakal sehat tanpa terkecuali umat Islam di negri kita tercinta ini menolak idiologi Syi’ah Imamiyyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis:</p>
<p>Ustadz Dr. Muhammad Arifin, Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan anggota Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8265"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fterimakasih-kepada-bapak-haidar-bagir-atas-pengakuannya.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fterimakasih-kepada-bapak-haidar-bagir-atas-pengakuannya.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fterimakasih-kepada-bapak-haidar-bagir-atas-pengakuannya.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/terimakasih-kepada-bapak-haidar-bagir-atas-pengakuannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dr Said Aqil Siroj Dulu Dan Kini</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/dr-said-aqil-siroj-dulu-dan-kini.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/dr-said-aqil-siroj-dulu-dan-kini.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 23:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[sunni]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8263</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/dr-said-aqil-siroj-dulu-dan-kini.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Perjalanan hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (<em>istiqamah</em>). Karena itu, dahulu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah: <em>“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku</em> <em>di atas agama-Mu.”</em> Dan ini mungkin salah satu hikmah yang dapat anda petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat shalat. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa menunjuki anda jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran</p>
<p>Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj di berbagai media. Said Aqil Siroj mengatakan bahwa ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.</p>
<p>Untuk menguatkan klaimnya ini, Said Aqil merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi. Menurutnya:  &#8221;Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat.&#8221;</p>
<p>Pernyataan Said Aqil ini menyelisihi fakta dan menyesatkan. Sebagai buktinya, pada Mukaddimah disertasi S3 yang ia tulis semasa ia kuliah di Universitas Umm Al Quro, hal: tha’ (ط) Said Aqil menyatakan: “<em>Telah diketahui bersama bahwa umat Islam di Indonesia secara politik, ekonomi, sosial dan idiologi menghadapi berbagai permasalahan besar. Pada saat yang sama mereka menghadapi musuh yang senantiasa mengancam mereka. Dimulai dari gerakan kristenisasi, paham sekuler, </em><em>kebatinan, dan berbagai sekte sesat, semisal Syi’ah, Qadiyaniyah (Ahmadiyyah), Bahaiyah dan selanjutnya Tasawuf.”</em><em></em></p>
<p>Pernyataan Said Aqil pada awal disertasi S3nya ini cukup menggambarkan bagaimana pemahaman yang diajarkan oleh Universitas Umm Al Quro.</p>
<p>Bukan hanya Syi’ah yang sesat, bahkan lebih jauh Said Aqil dari hasil studinya menyimpulkan bahwa paham tasawuf juga menyimpang dari ajaran Islam. Karena itu pada akhir disertasinya, Said Aqil menyatakan: “<em>Sejatinya</em> ajaran <em>tasawuf dalam hal “al hulul” (menyatunya Tuhan dengan manusia) berasalkan dari orang-orang Syi’ah aliran keras (ekstrim). Aliran ekstrim Syi’ah meyakini bahwa Tuhan atau bagian dari-Nya telah menyatu dengan para imam mereka, atau yang mewakili mereka. Dan idiologi para pengikut Sekte Syi’ah ini berawal dari pengaruh ajaran agama Nasrani.” </em>(Silatullah Bil Kaun Fit Tassawuf Al Falsafy oleh Said Aqil Siroj 2/605-606)</p>
<p>Karena menyadari kesesatan  dan mengetahui  gencarnya  penyebaran Syi’ah di Indonesia, maka Said menabuh genderang peringatan. Itulah yang ia tegaskan pada awal disertasinya, sebagai andilnya dalam upaya melindungi Umat islam dari paham yang sesat dan menyesatkan.</p>
<p>Namun, alangkah mengherankan bila kini Said Aqil menelan kembali ludah dan keringat yang telah ia keluarkan. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kini ia ingkari sendiri dan dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan pembela Syi’ah. Mungkinkah kini Said Aqil telah menjadi korban ancaman besar yang dulu ia kawatirkan mengancam umat Islam di negeri tercinta ini?</p>
<p>Oleh karena itu Said heran dengan pernyataan Menteri Agama yang menilai syiah adalah ajaran sesat. Dalam kurikulum Al Firqoh Al Islamiyah ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. &#8220;Ulama Sunni seperti Ibnu Khazm menilai Syiah itu Islam,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski Syiah dan Sunni berbeda, lanjut Said, umat Islam tidak perlu mempertajam perbedaan. &#8220;Dalam Sunni saja banyak perbedaan yang tajam, misalnya penganut Imam Syafii dan Hanafi, itu saja berbeda tajam, apalagi Syiah,&#8221; katanya. Fatwa NU mengenai Syiah, Said menambahkan, pernah dikeluarkan pada 2006 yang menyebutkan Syiah bukan aliran yang sesat. &#8220;NU tidak pernah keras,&#8221; ujarnya.<br />
Menanggapi pernyataan Suryadarma yang juga kader Nahdlatul Ulama, Said menilai hal itu tidak pantas disampaikan. &#8220;Yang dikedepankan harusnya ukhuwah dan toleransi,&#8221; katanya. Said berharap Suryadarma Ali meminta maaf atas pernyataannya itu. &#8220;Saya setuju dengan permintaan maaf itu,&#8221; katanya. Said menilai permintaan maaf Suryadarma Ali bertujuan untuk menguatkan persatuan bangsa.(IRIBIndonesia/Tempo/PH)</p>
<p><a href="http://indonesian.irib.ir/asia-pasifik/-/asset_publisher/o5ZK/content/said-aqil-syiah-tidak-sesat">http://indonesian.irib.ir/asia-pasifik/-/asset_publisher/o5ZK/content/said-aqil-syiah-tidak-sesat</a></p>
<p dir="RTL"> <strong>قال أبو محمد وما نعلم أهل قرية أشد سعيا في إفساد الاسلام وكيده من </strong><strong>الرافضة</strong><strong> </strong><strong> 4/24</strong></p>
<p dir="RTL"><strong> ومن المعروف أن المسلمين في إندونيسيا يواجهون مشاكل ضخمة، سياسيا واقتصاديا واجتماعيا وعقديا، وأمامهم أعداء متربصون بهم، من حركة التنصير والعلمانية والباطنية والفرق الضالة – الشيعة والقاديانية والبهائية – ثم الصوفية. </strong></p>
<p dir="RTL"><strong>صفحة ط من مقدمة رسالته الماجستير</strong></p>
<p dir="RTL"><strong> وأما قولهم في دعوى الروافض تبديل القراءات فإن الروافض ليسوا من المسلمين إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه و سلم بخمس وعشرين سنة وكان مبدؤها إجابة من خذله الله تعالى لدعوة من كاد الإسلام وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر وهي طوائف أشدهم غلوا يقولون بالهية علي بن أبي طالب والآلهية جماعة معه وأقلهم غلوا يقولون أن الشمس ردت على علي بن أبي طالب مرتين فقوم هذا أقل مراتبهم في الكذب أيستشنع منهم كذب يأتون به وكل من يزجره عن الكذب ديانة أو نزاهة نفس أمكنه أن يكذب ما شاء وكل دعوى بلا برهان فليس يستدل بها عاقل سواء كانت له أو عليه ونحن أن شاء الله تعالى نأتي بالبرهان الواضح الفاضح لكذب الروافض فيما افتعلوه من ذلك  2/65</strong></p>
<p dir="RTL"><strong> ولا ننسى أن غلاة الشيعة كانوا يستخدمون السحر والطلمسات ويظهرون للعوام الزهد والتقشف ولبس الصوف ويدعون الكرامات. 1/47</strong></p>
<p dir="RTL"><strong> إن التصوف أمر طارئ محدث غريب دخيل على المجتمع الإسلامي، ظهر في القرن الثاني الهجري. وأول ما ظهر في مدينة الكوفة، مدينة التقت فيها الأديان الوثنية والثقافات الأجنبية، كما أنها مركز غلاة الشيعة وكانوا يتظاهرون بالتزهد والتقشف ويمارسون السحر والشعوذة والكيمياء والسيمياء والتنجيم وغيرها من العلوم المعروفة عند العجم. 2/603.</strong></p>
<p><strong></strong>Penulis:</p>
<p>Ustadz Dr. Muhammad Arifin, Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan anggota Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8263"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fdr-said-aqil-siroj-dulu-dan-kini.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fdr-said-aqil-siroj-dulu-dan-kini.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fdr-said-aqil-siroj-dulu-dan-kini.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/dr-said-aqil-siroj-dulu-dan-kini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Penjelasan Mengenai Perayaan Maulid Nabi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 02:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5584</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini kami sajikan kumpulan penjelasan mengenai perayaan Maulid Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam. Semoga permasalahan yang selalu menjadi polemik setiap tahunnya ini dapat dipahami secara ilmiah dan juga menyeluruh. Bagi pihak yang kontra, harap menyimak penjelasan-penjelasan berikut dengan seksama, hati yang tenang dan pikiran yang  jernih agar tidak muncul prasangka-prasangka buruk, semisal prasangka bahwa melarang perayaan Maulid adalah mengkafirkan dan menyesatkan setiap orang yang mengikuti perayaan tersebut. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Berikut ini kami sajikan kumpulan penjelasan mengenai perayaan Maulid Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Semoga permasalahan yang selalu menjadi polemik setiap tahunnya ini dapat dipahami secara ilmiah dan juga menyeluruh. Bagi pihak yang kontra, harap menyimak penjelasan-penjelasan berikut dengan seksama, hati yang tenang dan pikiran yang  jernih agar tidak muncul prasangka-prasangka buruk, semisal prasangka bahwa melarang perayaan Maulid adalah mengkafirkan dan menyesatkan setiap orang yang mengikuti perayaan tersebut.</p>
<p>Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua.</p>
<p><strong>Kewajiban Cinta Kepada Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></strong></p>
<ul>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/cinta-sejati-kepada-sang-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html">Cinta Sejati Kepada Sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/mana-bukti-cintamu-pada-nabi.html">Mana Bukti Cintamu pada Nabi?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/hak-dan-kewajiban-umat-terhadap-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-1.html">Hak dan Kewajiban Umat Terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (1)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/hak-dan-kewajiban-umat-terhadap-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-2.html">Hak dan Kewajiban Umat Terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (2)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html">Ensiklopedia Maulid Nabi (1): Cinta Kepada Rasul, Dahulu dan Sekarang</a></li>
</ul>
<p><strong>Antara Cinta Nabi dan Maulid Nabi</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-1.html">Antara Cinta Nabi dan Perayaan Maulid Nabi (1)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html">Antara Cinta Nabi dan Perayaan Maulid Nabi (2)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-3.html">Antara Cinta Nabi dan Perayaan Maulid Nabi (3)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html">Ensiklopedia Maulid Nabi (2): Antara Cinta Rasul &amp; Perayaan Maulid</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/merayakan-maulid-dalam-rangka-mengagungkan-nabi.html">Merayakan Maulid dalam Rangka Mengagungkan Nabi</a></li>
</ul>
<p><strong>Hukum Merayakan Maulid</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html">Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html">Tanggal Kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/hukum-menghadiri-perayaan-maulid-nabi.html">Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a title="1 February 2011" href="http://muslim.or.id/soal-jawab/berbuat-bidah-karena-tidak-tahu.html" rel="bookmark">Soal-151: Berbuat Bid’ah Karena Tidak Tahu</a></li>
</ul>
<p><strong>Maulid Nabi Adalah Bid&#8217;ah Hasanah? </strong></p>
<ul>
<li><a title="14 October 2008" href="http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html" rel="bookmark">Mengenal Seluk Beluk BID’AH (1): Pengertian Bid’ah</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html">Mengenal Seluk Beluk BID’AH (2): Adakah BID’AH HASANAH?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html">Mengenal Seluk Beluk BID’AH (3): Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah</a> (Internet, HP, pesawat terbang, dll apakah  bid&#8217;ah? Silakan baca artikel ini)</li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-4.html">Mengenal Seluk Beluk BID’AH (4): Dampak Buruk BID’AH</a></li>
<li><a title="15 June 2010" href="http://muslim.or.id/manhaj/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah.html" rel="bookmark">Jadilah Perintis Sunnah Hasanah Bukan Bid’ah Hasanah!</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/apakah-anda-tidak-takut-berbuat-bidah.html">Apakah Anda Tidak Takut Berbuat Bid’ah?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/ibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html">Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/tidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html">Tidak Semua Pendapat Dalam Khilafiyah Ditoleransi</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-70-ulama-salaf-membolehkan-perayaan-maulid.html">Soal-70: Ulama Salaf Membolehkan Perayaan Maulid?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-130-hukum-maulidhukum-pemberian-harokat.html">Soal-130: Hukum Maulid=Hukum Pemberian Harokat?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-131-hukum-maulidhukum-kultum-tarawih.html">Soal-131: Hukum Maulid=Hukum Kultum Tarawih?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-132-maulid-nabi-merupakan-adat.html">Soal-132: Maulid Nabi Merupakan Adat?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-133-maulid-nabi-merupakan-sarana-sebagaimana-internet.html">Soal-133: Maulid Nabi Merupakan Sarana Sebagaimana Internet?</a></li>
<li><a href="Soal-145: Maulid Boleh Karena Ijtihad Ulama?">Soal-145: Maulid Boleh Karena Ijtihad Ulama?</a></li>
<li><a title="29 July 2010" href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-146-pengumpulan-al-quranbidah-hasanah.html" rel="bookmark">Soal-146: Pengumpulan Al-qur’an=Bid’ah Hasanah?</a></li>
</ul>
<div class="shr-publisher-5584"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Semua Pendapat Dalam Khilafiyah Ditoleransi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/tidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/tidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 02:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[khilaf]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8216</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali kita dapatkan ketika para da&#8217;i mengoreksi sebuah kesalahan dalam beragama atau memberikan nasehat untuk meninggalkan sesuatu yang salah mereka menghadapi pernyataan-pernyataan seperti “Sudahlah biarkan saja, ini khan khilafiyah” atau “Orang sudah pergi ke bulan<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/tidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Seringkali kita dapatkan ketika para da&#8217;i mengoreksi sebuah kesalahan dalam beragama atau memberikan nasehat untuk meninggalkan sesuatu yang salah mereka menghadapi pernyataan-pernyataan seperti “<em>Sudahlah biarkan saja, ini khan khilafiyah</em>” atau “<em>Orang sudah pergi ke bulan koq masih membahas khilafiyah</em>” atau “<em>Jangan merasa benar sendiri lah, ini khan khilafiyah</em>”. Pada hakikatnya pernyataan-pernyataan tersebut datang dari orang-orang yang enggan menerima nasehat tapi tidak bisa membantah karena tidak memiliki ilmu, akhirnya dalih &#8216;khilafiyah&#8217; pun dipakai.</p>
<p>Pada prakteknya, terkadang yang mereka anggap &#8216;khilafiyah&#8217; itu ternyata bukan <em>khilafiyah</em>, namun terkadang memang <em>khilafiyah</em>. Yang ingin kami bahas di sini adalah jika memang ternyata yang dibahas adalah perkara <em>khilafiyah</em>. Kami akan tunjukkan bahwa tidak semua perkara <em>khilafiyah</em> itu bisa ditoleransi, sehingga semuanya dianggap benar dan boleh dipegang.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jika Terjadi Perselisihan Wajib Berhukum Kepada Dalil Bukan &#8216;Khilafiyah&#8217;</strong></span></p>
<p>Terlalu banyak firman Allah dan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>yang memerintahkan kita untuk berhukum dengan Qur&#8217;an dan Sunnah ketika terjadi perselisihan. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا</p>
<p>“<em>Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur&#8217;an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.</em>” (QS. An Nisa: 59)</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ</p>
<p>“<em>Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah</em>” (QS. Asy Syura: 10)</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian</em>” (HR. Abu Daud 4607, Ibnu Majah 42, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Sunan Abi Daud</em> )</p>
<p>Hadits ini juga memberi faidah bahwa Qur&#8217;an dan Sunnah dipahami dengan pemahaman para salaf. Selain itu, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة ، وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ، قال من هي يا رسول الله ؟ قال : ما أنا عليه وأصحابي</p>
<p>“<em>Bani Israil akan berpecah menjadi 74 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di nereka, kecuali satu golongan”. Para sahabat bertanya: “Siapakah yang satu golongan itu, ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “<span style="text-decoration: underline;">Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku</span></em>” (HR. Tirmidzi no. 2641. Dalam <em>Takhrij Al Ihya </em>(3/284) Al’Iraqi berkata: “Semua sanadnya jayyid”)</p>
<p>Jelas sekali bahwa jika ada perselisihan maka solusinya adalah kembali kepada dalil, dan tentunya dipahami dengan pehamaman generasi terbaik umat Islam yaitu sahabat Nabi, <em>tabi&#8217;in </em>dan <em>tabi&#8217;ut tabi&#8217;in</em>. Maka tidak tepat sebagian orang yang jika ada perselisihan selalu menuntut toleransi terhadap semua pendapat, seolah semua pendapat itu benar semua, dan semuanya halal, hanya dengan dalih &#8216;<em>ini khan khilafiyyah</em>&#8216;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pendapat Ulama Bukan Dalil </strong></span></p>
<p>Para ulama berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أقوال أهل العلم فيحتج لها ولا يحتج بها</p>
<p>“<em>Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia bukanlah dalil</em>”</p>
<p>Imam Abu Hanifah berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا؛ ما لم يعلم من أين أخذناه</p>
<p>“<em>Tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami, selama ia tidak tahu darimana kami mengambilnya (dalilnya)</em>” (Diriwayatkan Ibnu &#8216;Abdil Barr dalam <em>Al Intiqa</em> 145, <em>Hasyiah Ibnu &#8216;Abidin</em> 6/293. Dinukil dari <em>Ashl Sifah Shalatin Nabi</em>, 24)</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا تقلدني، ولا تقلد مالكاً، ولا الشافعي، ولا الأوزاعي، ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا</p>
<p>“<em>Jangan taqlid kepada pendapatku, juga pendapat Malik, Asy Syafi&#8217;i, Al Auza&#8217;i maupun Ats Tsauri. Ambilah darimana mereka mengambil (dalil)</em>” (Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam <em>Al I&#8217;lam</em> 2/302. Dinukil dari <em>Ashl Sifah Shalatin Nabi</em>, 32)</p>
<p>Imam Asy Syafi&#8217;i berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أجمع الناس على أن من استبانت له سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يكن له أن يدعها لقول أحد من الناس</p>
<p>“<em>Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah dijelaskan padanya sunnah Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam tidak boleh ia meninggalkan sunnah demi membela pendapat siapapun</em>” (Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam <em>Al I&#8217;lam</em> 2/361. Dinukil dari <em>Ashl Sifah Shalatin Nabi</em>, 28 )</p>
<p>Para ulama bukan manusia <em>ma&#8217;shum</em> yang selalu benar dan tidak pernah terjatuh dalam kesalahan. Terkadang  masing-masing dari mereka berpendapat dengan pendapat yang salah karena bertentangan dengan dalil. Mereka kadang tergelincir dalam kesalahan. Imam Malik berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة؛ فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة؛ فاتركوه</p>
<p>“<em>Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku, tiap yang sesuai dengan Qur&#8217;an dan Sunnah, ambillah. Dan tiap yang tidak sesuai dengan Qur&#8217;an dan Sunnah, tinggalkanlah..</em>” (Diriwayatkan Ibnu &#8216;Abdil Barr dalam <em>Al Jami</em> 2/32, Ibnu Hazm dalam <em>Ushul Al Ahkam</em> 6/149. Dinukil dari <em>Ashl Sifah Shalatin Nabi</em>, 27)</p>
<p>Orang yang hatinya berpenyakit akan mencari-cari pendapat salah dan aneh dari para ulama demi mengikuti nafsunya menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Sulaiman At Taimi berkata,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ</p>
<p>“<em>Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan</em>” (Diriwayatkan oleh Abu Nu&#8217;aim dalam <em>Hilyatul Auliya, </em>3172)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kapan Khilafiyyah Ditoleransi?</strong></span></p>
<p>Syaikh Musthafa Al Adawi <em>hafizhahullah</em> berkata: “Ada banyak permasalahan yang para ulama berlapang dada dalam menyikapi perselisihan di dalamnya, karena ada beberapa pendapat ulama di sana. <span style="text-decoration: underline;">Setiap pendapat bersandar pada dalil yang shahih atau pada kaidah asal yang umum, atau kepada <em>qiyas jaliy</em></span>. Maka dalam permasalahan yang seperti ini, tidak boleh kita menganggap orang yang berpegang pada pendapat lain sebagai musuh, tidak boleh menggelarinya sebagai ahli bid&#8217;ah, atau menuduhnya berbuat bid&#8217;ah, sesat dan menyimpang. Bahkan selayaknya kita mentoleransi setiap pendapat selama bersandar pada dalil shahih, walaupun kita menganggap pendapat yang kita pegang itu lebih tepat”. (<em>Mafatihul Fiqhi</em>, 1/100)</p>
<p>Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata: “Ucapan sebagian orang bahwa masalah <em>khilafiyah</em> itu tidak boleh diingkari, tidaklah benar. Dan pengingkaran biasanya ditujukan kepada pendapat, fatwa, atau perbuatan. Dalam pengingkaran pendapat, <span style="text-decoration: underline;">jika suatu pendapat menyelisihi sunnah atau ijma’ yang telah dikenal kebenaran nukilannya, maka pendapat tersebut wajib untuk diingkari menurut kesepakatan para ulama</span>. Meskipun tidak secara langsung pengingkarannya, menjelaskan lemahnya pendapat tersebut dan penjelasan bahwa pendapat tersebut bertentangan dengan dalil, ini juga merupakan bentuk pengingkaran. Sedangkan pengingkaran perbuatan, jika perbuatan tersebut menyelisihi sunnah atau ijma’ maka wajib diingkari sesuai dengan kadarnya”.</p>
<p>Beliau melanjutkan: “Bagaimana mungkin seorang ahli fiqih mengatakan bahwa tidak boleh ada pengingkaran pada masalah <em>khilafiyyah</em>, padahal ulama dari semua golongan telah sepakat menyatakan secara tegas bahwa keputusan hakim jika menyelisihi Al-Qur`an atau As-Sunnah menjadi batal. Walaupun keputusan tadi telah sesuai dengan pendapat sebagian ulama. Sedangkan jika dalam suatu permasalahan <span style="text-decoration: underline;">tidak ada dalil tegas dari As-Sunnah atau ijma’ dan memang ada ruang bagi ulama untuk berijtihad</span> dalam masalah ini, maka orang yang mengamalkannya tidak boleh diingkari. Baik dia seorang mujtahid maupun <em>muqallid</em>” (<em>I’lamul Muwaqqi’in</em>, 3/224)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Contoh Perkara Khilafiyah Yang Ditoleransi</strong></span></p>
<p><strong>1. Qunut Subuh</strong></p>
<p><strong>Pendapat pertama: hukumnya sunnah.</strong></p>
<p>Dalil ulama yang berpendapat demikian diantaranya:</p>
<ul>
<li>Hadits Bara&#8217; bin &#8216;Adzib:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ، وَالْمَغْرِبِ</p>
<p>“<em>Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam biasa membaca qunut di waktu subuh dan maghrib</em>” (HR. Muslim 678)</li>
<li>Hadits dari Muhammad bin Sirin:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَقِيلَ لَهُ: أَوَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ؟ قَالَ: «بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا»</p>
<p>“<em>Anas Radhiallahu&#8217;anhu ditanya: apakah Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam membaca Qunut ketika shalat subuh? Ia berkata: Iya. Kemudian ditanya lagi: apakah membacanya sebelum ruku&#8217;? Ia berkata: setelah ruku&#8217; sebentar saja</em>” (HR. Bukhari 1001)</li>
<li>Hadits Anas bin Maalik:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قَنَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ، وَيَقُولُ: عُصَيَّةُ عَصَتِ اللهَ وَرَسُولَهُ</p>
<p>“<em>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut selama sebulan penuh, beliau mendoakan keburukan terhadap Ri’lan dan Dzakwan serta ‘Ushayyah yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya</em>” (HR. Bukhari 1003, Muslim 677)</li>
<li>Atsar Umar bin Khattab <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> dalam <em>Mushannaf Abdirrazzaq</em> (3/109) dengan sanad yang shahih bahwa beliau ketika shalat subuh, selesai membaca surat beliau membaca doa qunut lalu setelah itu takbir kemudian ruku&#8217; (Dinukil dari <em>Mafatihul Fiqh, </em>103)</li>
<li>Atsar Ibnu &#8216;Abbas <em>Radhiallahu&#8217;anhuma</em> dalam <em>Mushannaf Ibnu Abi Syaibah</em> (2/312-313) dengan sanad shahih dari Abi Raja&#8217; ia berkata: “<em>Aku shalat shubuh bersama Ibnu Abbas di Masjid Bashrah. Ia membaca doa Qunut sebelum ruku&#8217;</em>” (Dinukil dari <em>Mafatihul Fiqh, </em>103)</li>
</ul>
<p>Dan beberapa hadits shahih dan atsar lainnya. Pendapat ini dipegang oleh Imam Asy Syafi&#8217;i, Imam Malik, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Abi Ya&#8217;la, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan Daud <em>Rahimahumullah</em>.</p>
<p><strong>Pendapat kedua: hukumnya sunnah ketika ada musibah, dan bid&#8217;ah bila mengkhususkannya pada shalat shubuh</strong><br />
Dalil ulama yang berpendapat demikian diantaranya:</p>
<ul>
<li>Hadits Anas bin Maalik:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قَنَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ، وَيَقُولُ: عُصَيَّةُ عَصَتِ اللهَ وَرَسُولَهُ</p>
<p>“<em>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut selama sebulan penuh, beliau mendoakan keburukan terhadap Ri’lan dan Dzakwan serta ‘Ushayyah yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya</em>” (HR. Bukhari 1003, Muslim 677)</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari diceritakan, ketika itu terjadi pengkhianatan dari suku Ri&#8217;lan, Dzakwan dan Ushayyah. Mereka membantai 70 sahabat Nabi dari kaum Anshar.</li>
<li>Hadits Abu Hurairah:<br />
“Selama sebulan penuh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ pada raka’at terakhir dari shalat Isya beliau membaca doa Qunut:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ</p>
<p><em>Ya Allah, tolonglah ‘Ayyash bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, tolonglah Walid bin Al Walid. Ya Allah, tolonglah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, tolonglah orang-orang lemah dari kaum mu’minin. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang yang durhaka. Ya Allah, jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati seperti tahun-tahun paceklik yang dilewati Yusuf </em>“ (HR. Bukhari 1006, 2932, 3386)</li>
<li>Hadits Abu Malik Al Asyja-&#8217;i
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ أَبِيهِ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ فَلَمْ يَقْنُتْ ، ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إنَّهَا بِدْعَةٌ } رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ</p>
<p>“<em>Dari ayahku, ia berkata: ‘Aku pernah shalat menjadi makmum Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Abu Bakar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Umar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Utsman namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Ali namun ia tidak membaca Qunut. Wahai anakku ketahuilah itu perkara bid’ah</em>‘” (HR. Nasa-i, Ibnu Majah, At Tirmidzi. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”)</li>
<li>Atsar Ibnu Umar dari Abul Sya&#8217;sya&#8217;, dalam <em>Mushannaf Abdirrazzaq</em>(4954) dengan sanad shahih:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">سألت ابن عمر عن القنوت في الفجر فقال : ما شعرت ان احدا يفعله</p>
<p>“<em>Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang qunut di waktu subuh. Ia berkata: Saya rasa tidak ada seorang pun (sahabat) yang melakukannya</em>” (Dinukil dari <em>Mafatihul Fiqh,</em> 106)</li>
<li>Atsar dari Ibnu Mas&#8217;ud dalam <em>Mushannaf Abdirrazzaq</em> (4949) dengan sanad shahih yang menyatakan bahwa beliau tidak pernah membaca qunut ketika shalat subuh (Dinukil dari <em>Mafatihul Fiqh,</em> 106).</li>
<li>Jika ditelaah hadits-hadits praktek Nabi membaca qunut, umumnya berkaitan dengan musibah. Ibnul Qayyim berkata: “Petunjuk Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam berdoa Qunut adalah mengkhususkannya hanya pada saat terjadi musibah dan tidak melakukannya jika tidak ada musibah. Selain itu tidak mengkhususkan pada shalat Shubuh saja, walaupun memang beliau paling sering melakukan pada shalat Shubuh” (<em>Zaadul Ma’ad </em>273/1).</li>
</ul>
<p>Pendapat ini dipegang oleh Sufyan Ats Tsauri, Imam Abu Hanifah, Al Laits, pendapat terakhir Imam Ahmad, Ibnu Syabramah, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.</p>
<p><strong>Pendapat ketiga: melakukannya boleh, meninggalkannya juga boleh</strong><br />
Ulama yang berpendapat mencermati dalil-dalil yang ada dan berkesimpulan bahwa terkadang Nabi membaca doa Qunut dan terkadang beliau meninggalkannya. Yang berpegang pada pendapat ini diantaranya Imam Sufyan Ats Tsauri, Ath Thabari, dan Ibnu Hazm.</p>
<p><strong>Faidah:</strong><br />
Dari ketiga pendapat diatas dapat kita lihat bahwa setiap pendapat berpegang pada dalil yang shahih, didukung dengan pemahaman para salaf (sahabat Nabi, tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in), dan sisi pendalilan yang tidak keluar dari kaidah-kaidah syar&#8217;i. Maka setiap pendapat dalam permasalahan ini selayaknya ditoleransi oleh setiap muslim.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>2. Menyemir Rambut Dengan Warna Hitam</strong></span><br />
<strong>Pendapat pertama: haram</strong></p>
<p>Dalil ulama yang berpendapat demikian adalah 2 hadits:</p>
<ul>
<li>Hadits Jabir bin Abdillah:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ»</p>
<p>“<em>Aku datang bersama Abu Quhafah ketika Fathul Makkah. Rambut dan jenggot beliau putih seperti tsaghamah. Lalu Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda: &#8216;Ubahlah warna rambutmu ini dengan warna lain, namun jangan hitam&#8217;</em>” (HR. Muslim, 2102)</li>
<li>Hadits Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>bersabda:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ، كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ، لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ</p>
<p>“<em>Akan ada sebuah kaum di akhir zaman yang menyemir rambut dengan warna hitam bagaikan tembolok burung dara. Mereka tidak dapat mencium wanginya surga</em>” (HR. Abu Daud 4212, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Abi Daud</em>)</li>
</ul>
<p>Pendapat ini dipegang oleh ulama Syafi&#8217;iyyah.</p>
<p><strong>Pendapat kedua: makruh</strong><br />
Ulama yang berpendapat demikian berargumen dengan:</p>
<ul>
<li>Larangan pada hadits Jabir dimaksudkan untuk Abu Quhafah dan orang-orang yang semisalnya dalam usia. Ini didukung oleh riwayat dari Ibnu Syihab yang dinukil oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari</em> (1/367)</li>
<li>Orang-orang yang dimaksud dalam hadits Ibnu &#8216;Abbas tidak bisa mencium wangi surga bukan karena sebab perbuatan menyemir rambut namun karena perbuatan lain yang termasuk maksiat. Adapun menyemir rambut dengan hitam hanyalah ciri kebanyakan mereka.</li>
<li>Atsar dari Mujahid dalam <em>Mushannaf Ibnu Abi Syaibah</em> (5081) dengan sanad shahih bahwa beliau memakruhkan menyemir rambut dengan warna hitam</li>
<li>Atsar dari Sa&#8217;id bin Jubair dalam <em>Mushannaf Ibnu Abi Syaibah</em> (5082) dengan sanad shahih bahwa beliau memakruhkan  menyemir rambut dengan warna hitam</li>
</ul>
<p>Dan beberapa atsar shahih lain dari para tabi&#8217;in bahwa mereka memakruhkan hal ini. Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik dan Ibnu Abdil Barr.</p>
<p>Namun perlu menjadi catatan, bahwa makruh dalam perkataan salaf sering bermakna haram sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim dalam <em>I&#8217;lam Al Muwaqi&#8217;in</em>.</p>
<p><strong>Faidah:</strong><br />
Dari tiap pendapat diatas dapat kita lihat bahwa setiap pendapat berpegang pada dalil yang shahih, didukung dengan pemahaman para sahabat, tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, dan sisi pendalilan yang tidak keluar dari kaidah-kaidah syar&#8217;i. Maka setiap pendapat dalam permasalahan ini selayaknya ditoleransi oleh setiap muslim.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Contoh Perkara Khilafiyah Yang Tidak Bisa Ditoleransi</strong></span></p>
<p><strong>1. Bolehnya Seorang Wanita Menikah Tanpa Wali</strong><br />
Imam Abu Hanifah memandang bahwa seorang wanita boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa wali (Lihat <em>Mukhtashar Ikhtilaf Ulama</em> 2/247, <em>Ikhtilaf Ulama A-immah</em> 2/122). Pendapat beliau ini sama sekali tidak didukung oleh dalil, tidak juga didukung oleh pemahaman para sahabat, tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Tentunya pendapat ini sangat bertentangan dengan banyak dalil diantaranya:</p>
<ul>
<li>Hadits Abu Musa Al Asy&#8217;ari dan Ibnu Abbas bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>bersabda:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ</p>
<p>“<em>Tidak sah nikah kecuali dengan wali</em>” (HR. Abu Daud 2/568, Ahmad 4/394. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Al Jami</em>&#8216; 7555)</li>
<li>Hadits &#8216;Aisyah bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>bersabda:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَإِنْ دَخَل بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَل مِنْ فَرْجِهَا، فَإِنْ تَشَاجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ</p>
<p>“<em>Wanita mana saja yang menikah tanpa walinya, maka nikahnya batal, nikahnya batal, nikahnya batal! Jika mempelai pria sudah menjima&#8217;i-nya, maka mempelai wanita berhak atas maharnya sebagai kompensasi atas persetubuhan yang telah terjadi. Jika wanita ini tidak memiliki wali, maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali</em>” (HR. Abu Daud 2/568. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Al Irwa</em> 1840)</li>
<li>Hadits &#8216;Aisyah bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>bersabda:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لاَ تُنْكِحُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ، وَلاَ تُنْكِحُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا</p>
<p>“<em>Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lainnya. Seorang wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri</em>” (HR. Ibnu Majah 1/606. Dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam <em>At Talkhis</em> 3/157)</li>
</ul>
<p>Dan dalil-dalil yang lain. Sehingga jelas bahwa pendapat Imam Abu Hanifah adalah pendapat yang bertentangan dengan dalil syar&#8217;i dan tidak boleh ditoleransi. Para ulama mengatakan bahwa kemungkinan besar hadits-hadits di atas tidak sampai kepada Imam Abu Hanifah. Walhasil, kita tidak boleh mentoleransi wanita yang menikah tanpa wali, walaupun ini termasuk perkara <em>khilafiyah</em>.</p>
<p><strong>2. Bid&#8217;ahnya Doa Istiftah</strong><br />
Imam Malik berpendapat bahwa do&#8217;a <em>istiftah</em> tidak disyari&#8217;atkan, atau dengan kata lain: bid&#8217;ah (Lihat <em>Ikhtilaf A-immatil Ulama</em>, 1/107). Pendapat beliau ini sama sekali tidak didukung oleh dalil ataupun pemahaman para salaf, selain kaidah umum bahwa hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalilnya. Dan pendapat ini sangat bertentangan dengan banyak dalil diantaranya:</p>
<ul>
<li>Hadist dari Abu Hurairah:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت وأمي؛ أرأيت سكوتك بين التكبير والقراءة؛ ما تقول؟ قال: &#8221; أقول: &#8230; &#8221; فذكره</p>
<p>“<em>Biasanya Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:&#8230; (beliau menyebutkan doa istiftah)</em>” (<em>Muttafaqun &#8216;alaih</em>)</li>
<li>Hadits Ibnu Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, ia berkata:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">بينما نحن نصلي مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إذ قال رجل من القوم: اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: &#8221; عجبت لها! فتحت لها أبواب السماء &#8220;. قال ابن عمر: فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول ذلك</p>
<p>“<em>Ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam, ada seorang lelaki yang berdoa istiftah: </em><em>اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam lalu bersabda: &#8216;Aku heran, dibukakan baginya pintu-pintu langit&#8217;. Ibnu Umar pun berkata:&#8217;Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian&#8217;</em>”. (HR. Muslim 2/99)</li>
</ul>
<p>Dan masih banyak lagi hadits shahih yang menyebutkan macam-macam doa <em>istiftah</em> yang dipraktekkan oleh Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. </em>Dengan demikian jelaslah bahwa pendapat Imam Malik tersebut sama sekali tidak benar karena bertentangan dengan banyak dalil syar&#8217;i. Para ulama mengatakan bahwa kemungkinan besar dalil-dalil tersebut tidak sampai kepada Imam Malik. Walhasil, kita tidak boleh membiarkan orang yang berkeyakinan bahwa doa istiftah adalah bid&#8217;ah, walaupun ini termasuk perkara <em>khilafiyah</em>.</p>
<p><strong>3. Bolehnya Merayakan Maulid Nabi</strong></p>
<p>As Suyuthi, Ibnu Hajar Al Haitsami, Ibnu Hajar Al Asqalani, adalah beberapa ulama yang memfatwakan bolehnya merayakan Maulid Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Namun pendapat mereka sama sekali tidak didasari oleh dalil shahih atau pemahaman para salaf, kecuali hadits-hadits dha&#8217;if, <em>istihsan </em>atau <em>qiyas</em>. Pendapat ini bertentangan dengan kaidah-kaidah syar&#8217;i yang fundamental, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Ibadah itu <em>tauqifiyyah</em>, hanya bisa disyari&#8217;atkan atau ditetapkan berdasarkan dalil. Mensyariatkan ibadah tanpa dalil akan termasuk yang disebut dalam firman Allah:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p>“<em>Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih</em>” (QS. Asy Syura: 21)</p>
<p>Juga sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak</em>” (<em>Muttafaq ‘alaihi</em>)</li>
<li>Hadist <em>dha&#8217;if</em> tidak bisa menjadi hujjah dalam mensyariatkan sebuah ibadah dan</li>
<li>Para ulama bersepakat atas kaidah:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا قياس ف  إثبات العبادة</p>
<p>“<em>Tidak ada qiyas dalam menetapkan ibadah</em>”.<br />
Sebagaimana juga mereka bersepakat tidak boleh menggunakan qiyas dalam masalah aqidah. Dan masalah pensyariatan sebuah ibadah adalah ranah aqidah.</li>
<li><em>Istihsan </em>(anggapan baik) bukanlah hujjah untuk mensyari&#8217;atkan sebuah ibadah</li>
<li>Para ulama bersepakat tidak ada ijtihad dalam masalah aqidah. Dengan kata lain, ini bukan ranah ijtihad. Dan masalah pensyariatan sebuah ibadah adalah ranah aqidah.</li>
<li>Para sahabat hidup sampai 100 tahun sepeninggal Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam.</em> Namun dalam kurun waktu selama itu tidak ada di antara mereka yang merayakan Maulid Nabi. Andai Maulid Nabi itu baik, maka para sahabatlah yang paling dahulu memulainya. Karena merekalah yang paling bersemangat dalam kebaikan dan paling cinta terhadap Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam.</em></li>
<li>Tidak ada riwayat shahih bahwa para tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in merayakan Maulid Nabi</li>
<li>Tidak ada riwayat shahih bahwa seorang pun dari Imam Madzhab yang empat merayakan Maulid Nabi</li>
</ul>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa pendapat ini adalah pendapat yang tidak bisa ditoleransi walaupun memang <em>khilafiyah</em>.</p>
<p><em>Wabillahi At Taufiq Was Sadaad</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div class="shr-publisher-8216"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/tidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah Islam di Indonesia</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 22:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8178</guid>
		<description><![CDATA[*Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala.<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>*</strong><em>Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan</em></p>
<p>Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala. Dan Islam itulah yang mempersatukan umat manusia sebelum mereka berselisih dan menyempal ke dalam berbagai jalan yang menyimpang.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 213</strong>)</p>
<p>Dalam sebuah riwayat dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya, ketika menjelaskan makna ayat <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat.” </em>Ibnu Abbas berkata, <em>“Mereka semuanya dahulu berada di atas Islam.”</em> Demikian juga al-Bazzar dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, <em>“Rentang waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh kurun/abad. Mereka semuanya berada di atas syari’at yang benar, kemudian mereka pun berselisih. Setelah itu Allah pun mengutus nabi-nabi.”</em> (lihat <em>Nashihah ila Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin</em> oleh Syaikh Abdullah al-Ubailan, hal. 1)</p>
<p>Itulah wajah Islam di awal mula sejarah umat manusia di atas muka bumi ini beribu-ribu tahun yang silam. Demikian pula halnya seluruh para nabi yang Allah utus, mereka sepakat dalam asas ajaran Islam yaitu tauhid; mengesakan Allah dalam beribadah. Meskipun dalam tataran syari’at bisa jadi berlainan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya’: 25</strong>).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagi masing-masing umat Kami jadikan syari’at dan jalan.”</em> (<strong>QS. al-Ma’idah: 48</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kami segenap para nabi adalah anak-anak sebapak -dengan ibu yang berbeda-, sedangkan agama kami ini adalah sama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh nabi adalah sama yaitu tauhid, meskipun syari’atnya berlainan (lihat <em>Nashihah ila Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin</em>, hal. 2)</p>
<p>Orang-orang musyrik pun memahami bahwa maksud dari dakwah para rasul itu adalah supaya masyarakat mengesakan Allah dalam beribadah. Yaitu tidak boleh menujukan ibadah kepada selain Allah, atau mempersekutukan selain-Nya dalam hal ibadah. Allah <em>ta’ala</em> menceritakan tanggapan mereka (yang artinya), <em>“Apakah dia -Muhammad-  hendak menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja?!”</em> (<strong>QS. Shaad: 5</strong>). Demikian pula reaksi kaum ‘Aad terhadap dakwah Nabi Hud<em> ‘alaihis salam</em>. Mereka berkata (yang artinya), <em>“Apakah kamu datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa-apa yang disembah -secara turun temurun- oleh nenek moyang kami?!”</em> (<strong>QS. al-A’raaf: 70</strong>)</p>
<p>Ayat-ayat di atas menggambarkan kepada kita dengan jelas bahwa reaksi masyarakat yang menentang dakwah para rasul adalah realita di dalam sejarah internasional. Di antara alasan yang kerapkali dibawakan adalah demi mempertahankan warisan budaya nenek moyang [!]. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’. Mereka menjawab, ‘(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).’ Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 170</strong>)</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang menggelitik pikiran kita adalah; lalu bagaimana dengan konteks Indonesia? Apakah realita semacam ini juga yang terjadi? Supaya ruang lingkup pembicaraan ini tidak melebar kemana-mana maka marilah kita fokuskan dalam masalah tauhid saja; yang kita semua mengetahui bahwa ini merupakan asas ajaran agama kita.</p>
<p>Adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri bahwa kebudayaan berhala telah berkembang di negeri ini semenjak dahulu kala. Tidak terhitung tempat-tempat yang dianggap keramat, dijadikan sebagai tempat sesaji, demikian pula patung-patung dan candi-candi yang menandai gaya hidup paganisme yang telah mengakar di sebagian masyarakat. Tidak sedikit sosok mistis yang diagung-agungkan dan dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan. Benda-benda ‘sakti’ dan pusaka pun dikeramatkan. Berbagai ritual persembahan pun dilakukan. Entah yang berlokasi di atas gunung, di tengah kota, di pedesaan, sampai pun di pesisir pantai. Tradisi yang erat dengan keyakinan nenek moyang, yang terwarnai oleh kesyirikan (silahkan baca sebuah buku menarik berjudul <em>Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita</em> tulisan H. Willyuddin A.R. Dhani, S.Pd)</p>
<p>Sayangnya, sebagian kalangan yang disebut-sebut sebagai intelektual muslim -sadar ataupun tidak- ‘menutup-nutupi’ realita pahit ini dengan kedok menjaga kebhinekaan bangsa [?!] Dengan cara-cara yang halus dan samar mereka menolak arus pemurnian yang diserukan oleh para da’i -di antaranya dipelopori oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, Tuanku Imam Bonjol, dan tokoh yang lainnya- untuk membersihkan kehidupan masyarakat dari berbagai bentuk takhayul, bid’ah dan churafat (TBC). Yang dalam bahasa kita sekarang bisa diungkapkan dengan slogan <em>‘Memurnikan Aqidah dan Menebarkan Sunnah’</em>… Seolah-olah perjuangan yang dilakukan oleh para kyai dan da’i tersebut adalah gerakan ekstrem yang <strong>agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian</strong> (lihat tuduhan ini dalam kata pengantar KH. Abdurrahman Wahid; <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 20)</p>
<p>Tidak berhenti di situ saja, mereka -kaum liberal- pun menuduh gerakan dakwah tauhid sebagai proyek Wahabisasi global. Yang kita bicarakan di sini, bukanlah gerakan tarbiyah yang diusung oleh kader-kader salah satu partai politik di negeri ini (tidak perlu kami sebutkan karena sudah sangat populer). Bukan pula gerakan politik ala kelompok dakwah yang senantiasa mendengung-dengungkan khilafah sebagai solusi atas segala problematika umat. Bukan pula sekelompok rakyat sipil yang gemar melakukan penggrebekan tempat-tempat maksiat dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Bukan itu yang kita maksudkan. Pembicaraan mengenai ketiga kelompok itu ada tempatnya tersendiri.</p>
<p>Sesungguhnya yang menjadi sasaran utama serangan propaganda ini adalah dakwah tauhid yang mereka gelari dengan sebutan <strong>Wahabi</strong>. Orang awam tentu akan merasa ngeri dengan istilah-istilah menakutkan yang dimunculkan oleh para pengusung pemikiran liberal ini. Di antara istilah yang sering dipakai adalah istilah <strong>kelompok garis keras</strong>. Gus Dur berkata, <em>“…Kami berpedoman pada paham Ahlussunnah wal Jama’ah, sementara mereka -kelompok garis keras- mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 21-22). Di bagian lain dari buku ini pun mereka mengamini penyebutan Wahabi sebagai <strong>reinkarnasi <em>Khawarij</em></strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 100)</p>
<p>Bukan itu saja tuduhan yang mereka lemparkan. Dengan begitu berapi-apinya mereka menjauhkan umat dari dakwah tauhid ini dengan dalih menyelamatkan umat dari cengkeraman <strong>Wahabisasi Global</strong> dan dalam rangka mengembalikan kemuliaan dan kehormatan Islam yang telah ternodai. Gus Dur kembali melemparkan fitnahnya, <em>“… Arus dana Wahabi yang tidak hanya membiayai terorisme tetapi juga penyebaran ideologi dalam usaha wahabisasi global juga nyaris luput dari perhatian publik. Selama ini, arus dana Wahabi ke Indonesia tidak mendapat perhatian publik secara serius, padahal dari sinilah fenomena infiltrasi -penyusupan- paham garis keras memperoleh dukungan dan dorongan yang luar biasa kuat sehingga menjadi bisnis yang menguntungkan banyak agennya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 36)</p>
<p>Di dalam catatan kaki buku tersebut pun disebutkan sebuah ‘berita’ yang terkesan sangat mengerikan dan mengancam umat Islam di berbagai belahan penjuru dunia. Dalam hal ini mereka telah berterus terang bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi itu adalah Arab Saudi. Mereka berkata, <em>“Aktivitas Saudi di Indonesia hanya merupakan bagian kecil dari kampanye senilai US $ 70.000.000.000,- selama kurun waktu antara 1979-2003 untuk menyebarkan sekte fundamentalis Wahabi di seluruh dunia. Usaha-usaha dakwah Wahabi yang terus meningkat ini merupakan “kampanye propaganda terbesar di seluruh dunia yang pernah dilakukan -anggaran propaganda Soviet pada puncak Perang Dingin menjadi sangat kecil dibandingkan belanja propaganda Wahabi ini.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Tidak aneh jika mereka terkesan menyejajarkan ‘bahaya’ Wahabi ini dengan bahaya laten Komunis! Gus Dur menyebut Wahabisasi sebagai gerakan yang merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun, dan mengubah Indonesia sesuai dengan ilusi mereka tentang negara Islam yang di Timur Tengah pun tidak ada [?] (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39).</p>
<p>Gus Dur juga berkata, <em>“Dengan balutan jubah dan jenggot Arab yang ditampilkan, yang oleh beberapa pihak telah dipandang lebih tampak seperti preman berjubah, mereka ingin menunjukkan seolah-olah pandangan ekstrem yang mereka teriakkan dan paksakan memang benar-benar merupakan pesan Islam yang harus diperjuangkan. Padahal, mereka merusak agama Islam dan bertanggung jawab atas banyaknya kekerasan yang mereka lakukan atas nama Islam di Indonesia dan seluruh dunia. Dan kita sebagai umat Islam harus menanggung malu atas perbuatan mereka.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Semakin lengkap sudah gelaran buruk yang disematkan oleh mereka kepada Wahabi agar umat benar-benar menjauhi dakwah mereka…</p>
<p>Para peneliti yang menulis buku tersebut ingin menjelaskan kepada kita apa sesungguhnya yang mereka maksud dengan istilah Wahabi. Coba kita simak propaganda mereka! Dengan fasihnya mereka berkata, <em>“Wahabi adalah sebuah sekte keras dan kaku pengikut Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 62). Di bagian lain buku ini, mereka semakin mempertegas bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi tidak lain adalah <strong>Salafi</strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 95). Apa yang tertanam dalam pikiran orang yang membaca definisi di atas? Ya… Wahabi itu keras dan kaku… Betapa keji tuduhan yang mereka lemparkan! Mereka juga mengatakan, <em>“Islam yang sangat apresiatif dan penuh perasaan dalam merespon permasalahan umat, di tangan Ibn ‘Abdul Wahhab berubah menjadi tak peduli, keras, dan tak berperasaan.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 63)</p>
<p>Demikianlah, kedustaan seolah-olah telah menjadi sedemikian murah-meriah bagi para pengusung pemikiran liberal ini. Dengan entengnya mereka mengatakan tentang Wahabi, <em>“Setiap Muslim yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik ajaran Islam yang persis seperti Wahabi dianggap murtad, karenanya perang dibolehkan, atau bahkan diwajibkan, terhadap mereka…”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 67). <em>Maha suci Allah, sungguh ini adalah kedustaan yang sangat besar!</em></p>
<p>Sudah banyak bantahan ilmiah dan santun untuk tuduhan-tuduhan ‘emosional’ semacam ini. Padahal, dakwah salafiyah beserta para ulamanya -yang dijuluki ‘Wahabi’ dalam rangka membuat orang lari darinya- berlepas diri dari segala tuduhan keji tersebut. Salafiyah itu sendiri adalah ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya. Sebuah ajaran yang menebarkan rahmat bagi semesta alam. Ajaran yang memberikan bimbingan bagi umat manusia dalam segala sudut kehidupan. Ajaran yang sempurna, yang diturunkan oleh Rabb penguasa alam semesta.</p>
<p>Erat kaitannya dengan tema awal tulisan ini, yaitu menyoroti dakwah tauhid sebagai seruan yang mendapatkan penentangan dari umat para rasul, dan apakah fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Maka, perkenankanlah kami untuk menunjukkan kepada segenap pembaca sebuah penafsiran aneh bin ajaib yang dilakukan oleh para penyusun buku <em>Ilusi</em> yang telah berulang kali kita singgung dalam tulisan ini. Sebuah penafsiran yang lebih tepat disebut sebagai pemerkosaan terhadap dalil agama yang suci dan suatu kekeliruan fatal dalam memahami maksud firman Allah dan sabda Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Satu bukti ini saja sudah cukup membuktikan kepada kita seperti apa sebenarnya pemahaman mereka tentang aqidah Islam. <em>Allahul musta’aan</em>…</p>
<p>Mereka -dengan tanpa rasa malu- memberikan penjelasan sebagai berikut: “Dalam hubungannya dengan agama-agama lain, dengan indah Nabi -<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen</em>- menuturkan, <em>“Nahnu abna’u ‘allat, abuna wahid wa ummuna syatta”</em> (Kami [para rasul] adalah anak-anak para istri dari seorang laki-laki, ayah kami satu namun ibu kami banyak). Dalam keluarga umat manusia, para rasul mempunyai ayah (agama) yang sama yakni Islam (dalam arti berserah diri kepada Tuhan), namun mempunyai ibu (<em>syi’rah wa minhaj</em>) yang banyak/berbeda-beda.” Kemudian mereka menyimpulkan hadits itu dengan licik, <em>“Ini adalah pengakuan atas pluralisme, dan inilah yang ditolak oleh kelompok garis keras.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 102-103)</p>
<p>Penjelasan di atas mengandung banyak kontradiksi dan kerancuan, di antaranya:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kerancuan Pertama:</strong></span></p>
<p>Mereka membawakan hadits tersebut dalam konteks hubungan Islam dengan agama-agama lain. Padahal, sebagaimana bisa kita saksikan bersama bahwa sesungguhnya hadits tersebut tidak membicarakan hubungan antara Islam dengan agama-agama lain. Karena sebagaimana disebutkan dalam hadits ini -mungkin mereka enggan untuk menampilkannya secara tegas dan lengkap- bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Agama kami -para rasul- adalah satu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Dari sini kita mengetahui bahwa hadits ini berbicara mengenai agama para nabi itu adalah Islam, walaupun syari’atnya berlainan, namun pokoknya adalah sama yaitu tauhid (silahkan baca juga <strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Jadi, hadits ini bukan berbicara tentang agama selain Islam.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kerancuan Kedua:</strong></span></p>
<p>Penyelewengan penafsiran di atas tidak lain muncul dari kerancuan mereka dalam memahami makna Islam. Oleh sebab itu mereka memberikan penjelasan di dalam tanda kurung tentang Islam yang menjadi agama para rasul itu, dalam pandangan mereka. Islam, dalam arti <strong>berserah diri kepada Tuhan</strong>, demikian penafsiran mereka. Inilah kebiasaan buruk para pemuja pemikiran liberal! Mereka menuduh orang lain kaku dan tekstualis dalam menafsirkan dalil. Sementara dalam kasus-kasus tertentu, mereka justru lebih tekstualis dan lebih kaku dalam memahami dalil.</p>
<p>Lihatlah, dalam memaknai Islam di sini mereka mencukupkan diri dengan makna bahasanya saja. Yaitu Islam dengan pengertian berserah diri kepada Tuhan, sebuah penafsiran yang teramat sempit dan bahkan tidak jelas. Konsekuensi dari penafsiran mereka ini adalah pemeluk agama apa pun adalah muslim, selama mereka berserah diri kepada Tuhan. Padahal, kalau kita mau sedikit saja membuka cakrawala, menelaah ayat-ayat dan hadits-hadits lain, atau kalau sempat <em>ya</em> membaca tafsir para ulama kita terdahulu, akan tampak dengan jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan Islam di sini bukan sekedar berserah diri kepada Tuhan!</p>
<p>Dalam al-Qur’an, ayat semacam itu banyak kita temukan. Di antaranya sudah kami sebutkan di depan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya’: 25</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat, seorang rasul -yang mengajak-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima, dan dia di akhirat akan termasuk orang-orang yang merugi.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>)</p>
<p>Demikian pula di dalam hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, akan kita temukan penjelasan-penjelasan yang gamblang tentang apa hakikat dari Islam yang sekarang ini diwajibkan -bukan dipaksakan- oleh Allah <em>ta’ala</em> kepada umat manusia. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah dia beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaran [Islam] yang aku bawa, kecuali dia pasti termasuk penghuni Neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi kemudian menanyakan tentang makna Islam, Iman, dan Ihsan. Semuanya telah diterangkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan gamblang. Sudah selayaknya para cendekiawan itu kembali merenungi perkataan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan lebih mempercayainya daripada ucapan kaum Orientalis dan para pakar filsafat yang senantiasa dirundung oleh keragu-raguan.</p>
<p>Demikian pula di dalam tafsir para ulama tentang <em>Shirathal Mustaqim</em> (jalan yang lurus). Akan kita dapati bahwa hakikat jalan yang lurus itu -pada zaman kita sekarang ini- hanya ada pada agama Islam yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Di antara penafsiran <em>Shirathul Mustaqim</em> yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir adalah: [1] Mengikuti Allah dan Rasul, [2] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah Kitabullah (al-Qur’an), [3] Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan para sahabat yang lain mengatakan bahwa maksudnya adalah agama Islam, [4] Mujahid menafsirkan jalan yang lurus itu dengan kebenaran, [5] Menurut Abul ‘Aliyah, maksudnya adalah jalan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan kedua sahabatnya -Abu Bakar dan Umar-. Semua penafsiran ini adalah benar dan tidak bertentangan. Bahkan, di dalam hadits yang sahih telah ditegaskan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa Yahudi sebagai golongan yang dimurkai/<em>al-maghdhubi ‘alaihim</em>, sedangkan Nasrani sebagai golongan yang sesat/<em>adh-dhallin</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [1/36-39])</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kerancuan Ketiga:</strong></span></p>
<p>Mereka -setelah terjatuh dalam berbagai kerancuan- akhirnya menarik sebuah kesimpulan yang merupakan komplikasi akibat kerancuan-kerancuan yang mengendap sebelumnya, bahwa hadits tersebut -para nabi itu saudara seayah dan berbeda ibu- menjadi sebuah pengakuan (pembenaran) atas pluralisme yang mereka gembar-gemborkan dengan segala pengorbanan. Sungguh memalukan, sekaligus realita yang teramat pahit dan memilukan! Lalu siapakah sebenarnya orang yang rela menjual agamanya kalau demikian kenyataannya?</p>
<p>Sebagai penutup, ada sedikit pesan untuk para pemuda yang begitu bersemangat membela Islam dan bertekad untuk menerapkannya di segala lini kehidupan namun tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih dalam dakwahnya. Ketahuilah, bahwa kesan negatif yang muncul mengenai dakwah Islam itu -berupa kekerasan dan sikap-sikap yang tidak bijak- adalah realita yang tidak bisa kita pungkiri muncul dari sebagian kaum muslimin yang tidak paham terhadap ajaran agamanya. Padahal, jika kita tulus dan serius mengikuti jalan tauhid ini niscaya kita akan menemukan wajah Islam yang sesungguhnya. Wajah yang mulia dan membuat bangga pemeluknya. <em>Allahul musta’aan</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/">Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.musliml.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8178"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fwajah-islam-di-indonesia.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fwajah-islam-di-indonesia.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fwajah-islam-di-indonesia.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/wajah-islam-di-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Revolusi Timur Tengah (3)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-3.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 13:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8141</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 3 Unjuk Rasa = Awal Kekacauan &#38; Bencana Ketika badai unjuk rasa berhembus, orang-orang berhamburan keluar rumah mengekspresikan keinginannya. Mereka berkumpul dalam aksi longmarch besar-besaran. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya ikut serta. Walaupun awalnya<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-3.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong>Pelajaran 3</strong></span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><strong>Unjuk Rasa = Awal Kekacauan &amp; Bencana</strong></span></p>
<p>Ketika badai unjuk rasa berhembus, orang-orang berhamburan keluar rumah mengekspresikan keinginannya. Mereka berkumpul dalam aksi longmarch besar-besaran. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya ikut serta. Walaupun awalnya sekedar unjuk rasa damai, tetap saja kerusuhan sering kali mewarnai. Mengapa demikian? Simaklah pendapat seorang ‘alim rabbani yang namanya tak asing di telinga kita. Beliau lah ulama yang digelari oleh Syaikh Al Albani -<em>rahimahullah</em>- sebagai <em>faqiehuz zamaan</em>, alias ahli fiqih zaman ini. Beliaulah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -<em>rahimahullah</em>-.</p>
<p>Ada yang bertanya kepada beliau: “Kalau penguasanya tidak berhukum dengan syariat Allah, lalu ia membolehkan sebagian kalangan untuk melakukan unjuk rasa independen berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh si penguasa, kemudian mereka (para demonstran) melakukannya; kemudian bila ada yang mengingkari perbuatan mereka, mereka mengatakan: “Kami tidak melawan penguasa, dan apa yang kami lakukan selaras dengan pendapat penguasa”. Apakah hal tersebut dibolehkan secara syar’i jika mengandung hal-hal yang bertentangan dengan nas (dalil)?</p>
<p>Jawab beliau, “Kamu hendaknya mengikuti para salaf. Kalau memang demonstrasi ada di zaman salaf, berarti baik. Namun jika tidak ada di zaman mereka, berarti jelek. Tidak diragukan sedikitpun bahwa demonstrasi itu jelek, sebab ia menimbulkan kekacauan, baik dari pihak demonstran maupun yang lain. Bahkan terkadang menimbulkan tindak aniaya terhadap kehormatan, harta benda, dan jiwa. Karena mereka yang tenggelam dalam kekacauan tadi, seperti pemabuk yang tidak sadar terhadap ucapan dan perbuatannya. Jadi, demonstrasi itu jelek semua, baik diizinkan oleh penguasa maupun tidak. Adanya sebagian penguasa yang mengizinkan demonstrasi sebenarnya hanyalah basa-basi, sebab jika hati kecilnya ditanya ia pasti sangat membencinya. Namun ia berusaha menampakkan dirinya sebagai orang yang ‘demokrat’, dan memberi kebebasan bagi rakyat… ini semuanya bukanlah sikap para salaf”.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Kalau lah ada yang mengatakan bahwa fatwa ini tidak berlaku bagi demonstrasi damai, maka jawabnya ialah bahwa walaupun demonstrasi itu awalnya damai, namun sering berujung pada kekerasan dan tindak anarkis. Sebab para demonstran belum tentu satu tujuan, dan tidak memiliki satu komando… mereka juga tidak bisa menolak orang lain yang hendak bergabung, dan bahkan mungkin tidak saling mengenal satu sama lain. Dalam kondisi seperti ini, provokator sangat mudah menyusup untuk menyulut fitnah. Apalagi jika mereka keluar dengan emosi lalu mendapat perlakuan dan sikap yang tak sesuai keinginan, maka bukan saja kekacauan yang terjadi, namun perang saudara dan pertumpahan darah.</p>
<p>Revolusi Tunisia awalnya sekedar unjuk rasa akibat meroketnya harga sembako dan solidaritas terhadap Bouazizi yang membakar dirinya. Akan tetapi, unjuk rasa hari itu berujung pada baku hantam antara aparat dan ratusan pengunjuk rasa, penangkapan puluhan demonstran, dan pengrusakan sejumlah fasilitas umum. Kemudian berakhir setelah menyisakan 219 korban tewas.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Revolusi Mesir sampai hari ini belum benar-benar berakhir. Menurut amnesty internasional, jumlah korban tewas sejak meletusnya revolusi tanggal 25 Januari 2011, minimal mencapai 840 orang<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn3">[3]</a>. Dan sampai hari ini aksi demonstrasi masih terus terjadi dan terus menelan korban jiwa.</p>
<p>Yang lebih parah lagi adalah revolusi Libya. Jenderal Abdul Mun’im Al Hauny selaku wakil Majelis Peralihan Nasional Libya di Kairo, pernah menyatakan bahwa revolusi melawan Gaddafi telah menelan korban 35 ribu orang tewas, puluhan ribu orang luka-luka, dan kerugian material atas rusaknya fasilitas dan infrastruktur umum lebih dari 240 milyar Dollar! Hal ini beliau jelaskan dalam wawancara dengan harian <em>Al Masry Al Youm</em> tanggal 11 Agustus 2011. Artinya, saat itu Gaddafi belum benar-benar terguling, sebab ia baru terbunuh tanggal 20 Oktober 2011.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Belum lagi dengan Revolusi Yaman dan Suriah. Semuanya membuktikan bahwa demonstrasi = awal berbagai kekacauan dan bencana. Demonstrasi dan unjuk rasa, termasuk bentuk <em>khuruj</em>, alias pemberontakan terhadap penguasa<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn5">[5]</a>. Kalau penguasa tersebut seorang muslim, maka tindakan ini jelas haram secara syar’i. Simaklah hadits berikut yang sarat dengan pelajaran berharga…</p>
<p>Abdurrahman bin Abdirabbil Ka’bah menceritakan, “Aku pernah masuk ke masjidil haram dan kudapati Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash sedang duduk di balik bayang-bayang Ka’bah, sedangkan orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Aku pun menghampiri mereka dan duduk di dekatnya. Ia lantas bercerita, “Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu safar. Kami singgah di sebuah tempat, lalu di antara kami ada yang membenahi tenda, ada yang bermain panah, dan ada yang mengawasi hewan tunggangannya. Tiba-tiba pesuruh Rasulullah memanggil kami untuk shalat berjama’ah. Maka kami segera mendatangi Rasulullah untuk shalat, lalu selepas shalat beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم، وإن أمتكم هذه جعل عافيتها في أولها وسيصيب آخرها بلاء وأمور تنكرونها، وتجيء فتنة فيرقق بعضها بعضا، وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه مهلكتي ثم تنكشف، وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه هذه؛ فمن أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة، فلتأته منيته وهو يؤمن بالله واليوم الآخر وليأت إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه، ومن بايع إماما فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع، فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر.</p>
<p><em>Tidak ada seorang Nabi pun sebelumku, melainkan ia wajib membimbing umatnya kepada sesuatu yang paling baik bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari sesuatu yang paling buruk untuk mereka. Sesungguhnya keselamatan umat ini dijadikan bagi generasi awalnya, sedangkan generasi akhirnya akan terkena berbagai bala dan perkara yang kalian ingkari. Fitnah pun datang melanda, dan sebagian fitnah seakan meringankan fitnah lainnya. Lalu datanglah fitnah besar, hingga orang beriman mengatakan bahwa inilah kebinasaannya; lalu fitnah tersebut berakhir. Kemudian datang fitnah yang lebih besar lagi, maka si mukmin berkata: “Ini dia… ini dia”. Maka barangsiapa ingin dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan Surga, hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir; dan hendaklah memperlakukan orang-orang dengan perlakuan yang ia sukai bagi dirinya sendiri. <strong>Barangsiapa telah membaiat seorang pemimpin dengan tulus ikhlas, maka hendaklah ia taat kepadanya selagi mampu</strong>. Bila ada orang lain yang hendak merebut kepemimpinannya, maka bunuhlah orang lain tersebut”.</em></p>
<p>Maka kudekati beliau dan kukatakan, “Kusumpah engkau demi Allah. Benarkah ini semua kau dengar dari Rasulullah?” tanya Abdurrahman. Maka ia menunjuk kedua telinga dan dadanya, seraya berkata: “Aku mendengarnya dengan kedua telingaku, dan memahaminya dengan hatiku”. Jawab Abdullah bin ‘Amru.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan sepupumu Mu’awiyah yang menyuruh kami agar memakan harta kami secara batil, dan saling berbunuhan? Padahal Allah berfirman:<em> </em></p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما !</p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian secara batil, kecuali dengan jual-beli atas dasar kerelaan. Jangan pula kalian saling membunuh, sesungguhnya Allah amat pengasih terhadap kalian (An Nisa’: 29).</em></p>
<p>Abdullah bin ‘Amru pun terdiam sejenak, lalu berkata: “<em>Taatilah dia dalam hal yang bersifat taat kepada Allah, dan maksiatilah dia dalam hal yang bersifat maksiat kepada Allah</em>”. (HR. Muslim no 1844).</p>
<p>Dalam hadits lain Rasulullah pernah ditanya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">يا نبي الله أرأيت إن قامت علينا أمراء يسألونا حقهم ويمنعونا حقنا فما تأمرنا فأعرض عنه ثم سأله فأعرض عنه ثم سأله في الثانية أو في الثالثة فجذبه الأشعث بن قيس وقال اسمعوا وأطيعوا فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم</p>
<p>Wahai Nabiyullah, bagaimana menurutmu jika kami dikuasai oleh para pemimpin yang menuntut hak mereka, namun merampas hak kami. Apa yang engkau perintahkan atas kami? Nabi pun berpaling darinya. Lalu beliau ditanya lagi kedua atau ketiga kalinya, maka Asy’ats bin Qais menarik baju si penanya, lalu Nabi menjawab: <em>“Dengarlah dan taatilah para pemimpin kalian, karena mereka bertanggung jawab atas kewajibannya, dan kalian bertanggung jawab atas kewajiban kalian”.</em> (HR. Muslim no 1846).</p>
<p>Dalam perang Hunain, Rasulullah berhasil mengalahkan suku Hawazin dan meraih ghanimah yang demikian besar. Beliau lantas membagi-bagikannya kepada suku Quraisy yang baru masuk Islam dan kebanyakan dari mereka justru lari saat pertempuran. Akan tetapi, kaum Anshar yang begitu berjasa dan membela Rasulullah mati-matian, justru tidak diberi apa-apa. Sebagian dari mereka lantas mengeluhkan sikap Rasulullah tersebut, hingga akhirnya beliau berkhutbah di hadapan mereka dengan sangat mengesankan… lalu menutup khutbahnya dengan kata-kata:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">أفلا ترضون أن يذهب الناس بالأموال وترجعون إلى رحالكم برسول الله؟ فوالله لما تنقلبون به خير مما ينقلبون به. فقالوا: بلى يا رسول الله قد رضينا, قال: فإنكم ستجدون أثرة شديدة فاصبروا حتى تلقوا الله ورسوله فإني على الحوض, قالوا: سنصبر.</p>
<p><em>“Tidakkah kalian ridha bila orang-orang pulang membawa harta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah? Sungguh demi Allah, apa yang kalian bawa pulang lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang”.</em> “Benar wahai Rasulullah, kami ridha”, jawab mereka. <em>“Kalau begitu, nanti <strong>kalian akan melihat sikap mementingkan diri yang luar biasa dari para penguasa</strong>, <strong>maka bersabarlah</strong> hingga kalian menghadap Allah dan Rasul-Nya, sebab aku menanti kalian di telaga”</em>, pesan Rasulullah. “Baiklah, kami akan bersabar”, jawab kaum Anshar. (HR. Muslim no 1059).</p>
<p>Dalam hadits-hadits di atas, Rasulullah telah berwasiat kepada umatnya secara umum, dan kaum Anshar secara khusus; bahwa kelak akan muncul para penguasa yang mementingkan kemaslahatan pribadi mereka, serta melakukan berbagai kezhaliman dan kemunkaran.</p>
<p>Mereka (mayoritas penguasa tadi) mengesampingkan jasa-jasa kaum Anshar yang demikian besar, dan mengedepankan orang-orang yang tidak berjasa dalam Islam untuk memegang tampuk kekuasaan…</p>
<p>Cobalah kita perhatikan sosok Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Siapa dia? Dari mana asal-usulnya? Apa jasa-jasanya terhadap Islam? Sungguh tak layak jika orang model Hajjaj menjadi gubernur Mekkah dan Madinah sejak tahun 73-75 H, padahal di sana banyak para sahabat dan tabi’in mulia …<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Hajjaj lantas dipindah tugaskan ke Irak dan menjadi gubernur di sana selama 20 tahun. Banyak orang yang ‘tak sabar’ melihat kelakuannya. Sebagian dari mereka berpikir untuk melakukan kudeta… namun sebagian lagi menahan diri. Salah satu orang yang paling dibenci oleh Hajjaj adalah Anas bin Malik <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Pembantu setia Rasulullah selama 8 tahun ini pernah kena damprat dan caci maki oleh Hajjaj bin Yusuf !! Seorang tabi’in bernama Ali bin Zaid bin Jud’an menuturkan: Aku pernah berada di istana Hajjaj saat ia menginterogasi para pengikut Ibnul Asy’ats. Ketika Anas berdiri di hadapannya, Hajjaj berkata:</p>
<p>“Hei orang busuk yang tenggelam dalam berbagai fitnah. Sesekali kau di pihak Ali, kemudian di pihak Ibnu Zubeir, lalu di pihak Ibnul Asy’ats<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn7">[7]</a>?”.</p>
<p>“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kamu akan kubunuh dan kukuliti laksana seekor biawak !!” celetuk Hajjaj.</p>
<p>“Siapa yang Anda maksud wahai Amir ?” tanya Anas.</p>
<p>“Kamulah yang kumaksud. Semoga Allah menulikan telingamu !” bentak Hajjaj.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun</em>” kata Anas. Ia pun keluar dari sana lalu mengatakan: “Demi Allah, andai saja aku tak ingat akan anak-anakku, dan khawatir dia (Hajjaj) menganiaya mereka, niscaya akan kuucapkan kepadanya kata-kata yang membuatnya pasti membunuhku” lanjut Anas<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Kendatipun demikian, Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> tidak membalas kekurang ajaran tersebut dengan sikap yang sama, walaupun ia sangat berhak membela diri dari tuduhan ini. Anas lalu menyurati Abdul Malik bin Mirwan selaku khalifah yang mengangkat Hajjaj sebagai gubernur Irak, dan mengeluhkan sikap Hajjaj yang kurang ajar tadi.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Dalam versi lainnya, Imam Al Hakim meriwayatkan kisah ini dari Simak bin Musa, katanya:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">لما دخل أنس رضي الله عنه على الحجاج أمر بوجى ء عنقه ثم قال يا أهل الشام أتعرفون هذا هذا خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال أتدرون لم وجأت عنقه قالوا الأمير أعلم قال إنه كان بين البلاء في الفتنة الأولى وغاش الصدر في الفتنة الآخرة …</p>
<p>“Saat Anas menghadap Hajjaj, ia menyuruh agar lehernya ditonjok! Hajjaj lantas berkata: “Wahai warga Syam, apakah kalian mengenal orang ini? Dia adalah pembantu Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>. Tahukah kalian mengapa kutonjok lehernya?”. Tanya Hajjaj. “Amir-lah yang lebih tahu” jawab mereka. “Itu karena ia berada di antara bencana yang terjadi dalam fitnah pertama, dan berkhianat dalam fitnah yang terakhir”.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Hajjaj konon berkeliling mempertontonkan Anas kepada pasukannya. Anas lantas menyurati Abdul Malik bin Marwan dengan mengatakan: “Bagaimana menurutmu jika pembantu Nabi Musa mendatangi kalian, apakah kalian akan menyakitinya?”. Maka Abdul Malik menyurati Hajjaj dan menyuruhnya agar membiarkan Anas bin Malik untuk tinggal di bumi mana saja yang dia suka. Ia juga menulis surat kepada Anas dan mengatakan “Tidak ada seorang pun yang berkuasa atasmu selainku”.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Meskipun demikian menyakitkan perlakuan Hajjaj terhadap Anas, Anas tetap saja tidak memberontak atau mengajak orang-orang untuk ‘berdemonstrasi’ menuntut agar Hajjaj dicopot dari jabatannya…. Dan jangan lupa, bahwa status beliau adalah pembantu setia Rasulullah dan satu dari segelintir sahabat Nabi yang masih hidup… bahkan umur beliau kala itu telah demikian lanjut, sebab beliau wafat tahun 93 H dalam usia 103 tahun menurut pendapat paling shahih, sedangkan fitnah Ibnul Asy’ats berakhir pada tahun 84 H. Ini berarti bahwa usia beliau saat dicaci-maki oleh Hajjaj adalah 90 tahun atau lebih.</p>
<p>Kendatipun demikian, simaklah bagaimana sikap beliau terhadap warga Basrah yang mengeluhkan perilaku Hajjaj ini. Salah seorang tabi’in murid Anas bin Malik yang bernama Zubeir bin Adiy mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">أتينا أنس بن مالك نشكو إليه ما نلقى من الحجاج، فقال: اصبروا فإنه لا يأتي عليكم عام أو زمان أو يوم إلا والذي بعده شر منه، حتى تلقوا ربكم عزوجل، سمعته من نبيكم صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Kami mendatangi Anas dalam rangka mengeluhkan kezhaliman Hajjaj terhadap kami. Maka kata Anas, “Sabarlah kalian, sebab tidaklah kalian melalui suatu hari atau zaman, melainkan yang datang setelahnya lebih jelek dari itu. (Demikian seterusnya) sampai kalian menghadap Allah (mati)”. Inilah yang kudengar dari Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>”.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Demikian pula sikap Imam Hasan Al Bashri yang merupakan musuh bebuyutan Hajjaj dan berulang kali hendak dihabisinya. Hasan yang notabene adalah murid Anas bin Malik juga bersikap sebagaimana ‘ustadz’-nya yang tidak setuju terhadap khuruj.</p>
<p>Ayyub As Sikhtiyani mengatakan bahwa Hajjaj berulang kali berniat membunuh Hasan Al Basri, akan tetapi Allah melindunginya. Hasan juga beberapa kali terlibat perdebatan dengan Hajjaj. Pun begitu, Hasan tidak termasuk orang yang membolehkan khuruj (pemberontakan) terhadap Hajjaj. Ia bahkan melarang pengikut Ibnul Asy’ats untuk memberontak. Hasan mengatakan bahwa Hajjaj merupakan hukuman, maka janganlah kalian hadapi hukuman Allah dengan pedang. Kalian harus bersabar, tenang, dan merendahkan diri kepada Allah”.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Asy-Sya’bi berkata, “Akan datang suatu masa di mana orang-orang mendoakan kebaikan bagi Hajjaj”. Dalam riwayat lain beliau mengatakan, “Demi Allah, jika kalian berumur panjang; kalian akan mengharapkan kembalinya Hajjaj”.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Oleh karena itu, terjadinya pemberontakan Ibnul Asy’ats yang didukung oleh banyak ulama Irak saat itu, merupakan kesalahan besar yang mengakibatkan malapetaka. Simaklah komentar Ibnu Katsir setelah menyitir tragedi menewaskan sekitar 130 ribu muslim ini. Beliau mengatakan,</p>
<p><em>“Sungguh aneh bin ajaib ketika mereka (para fuqaha’ Irak) membaiatnya (yakni Abdurrahman ibnul Asy’ats) sebagai amirul mukminin, padahal ia bukan berasal dari Quraisy. Ia hanyalah seorang lelaki suku Kindah asal Yaman. Sedangkan para sahabat saat peristiwa saqifah Bani Sa’idah telah sepakat, bahwa yang berhak menjadi amirul mukminin hanyalah suku Quraisy. Abu Bakar Ash Shiddiq bahkan menegaskan hal tersebut dengan menyitir sebuah hadits. Saat kaum Anshar menuntut agar mreka memiliki amir di samping amir kaum Muhajirin, Abu Bakar menolak tuntutan tersebut. Bahkan Abu Bakar sempat mencambuk Sa’ad bin Ubadah yang awalnya menyerukan hal tersebut, namun kemudian rujuk darinya.</em></p>
<p><em>Lantas bagaimana dibenarkan bila mereka -para fuqaha’ Irak- menyikapi seorang khalifah yang telah dibaiat sebagai pemimpin kaum muslimin, lantas mencopotnya; padahal ia berasal dari suku Quraisy asli? Lalu di saat yang sama mereka membaiat seorang lelaki suku Kindah padahal baiat tersebut tidak disepakati oleh ahlul halli wal ‘aqdi? Karena ini merupakan kesalahan dan kekeliruan, maka terjadilah bencana besar yang menewaskan banyak korban…</em> <em>inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”.</em><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn15">[15]</a></p>
<div>Penulis: <a href="http://basweidan.com">Ustadz Sufyan Basweidan, MA</a></div>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref1">[1]</a> Lihat: Liqaa’ al Baabil Maftuh, no 179.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref2">[2]</a> Lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/الثورة_التونسية</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref3">[3]</a> Lihat: http://www.aljazeera.net/NR/EXERES/A3A3FFB0-69C1-40FF-8261-3223AC997B98.htm</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref4">[4]</a> Lihat: http://www.dw-world.de/dw/article/0,,15310470,00.html</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref5">[5]</a> Sebagian kalangan menganggap bahwa pemberontakan yang tidak boleh dilakukan ialah pemberontakan bersenjata. Namun yang benar ialah bahwa pemberontakan (khuruj) bisa terjadi dengan keyakinan maupun perbuatan. Contoh <em>khuruj</em> dengan keyakinan (pemikiran) ialah dengan tidak mau berbaiat, dan meyakini bolehnya atau wajibnya <em>khuruj</em> terhadap penguasa muslim. Para salaf sering mencela orang yang khuruj dengan cara seperti ini dengan istilah ‘kaana yara as-saif’.</p>
<p>Sedangkan jenis kedua, ialah orang yang mengangkat senjata melawan pemimpinnya. Seperti dengan berkumpul di suatu tempat dengan maksud melengserkan pemimpin atau menggantinya, atau dalam rangka membikin kekacauan dan fitnah yang melaluinya si penguasa akan terbunuh atau disingkirkan. Artinya, semua perbuatan yang mengarah kepada pemberontakan, atau berusaha membunuh dan melengserkan penguasa, termasuk kategori khuruj yang kedua.</p>
<p>Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa khuruj juga bisa terjadi lewat ucapan. Yaitu bila ia mengatakan sesuatu yang berakibat pada terjadinya pemberontakan. Namun jika ia mengatakan sesuatu dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar sesuai aturan syar’i tanpa menimbulkan fitnah; maka tidak dianggap sebagai khuruj (lihat: Syarh Aqidah Ath Thahawiyyah oleh Syaikh Shalih Alusy Syaikh).</p>
<p>Contoh orang-orang yang dikritik karena berpemikiran khawarij ialah: Hasan bin Shalih bin Hay, Ali bin Abi Thalhah, ‘Imran bin Dawar Al Qaththan, Muhammad bin Rasyid Al Makhuly, dan Imam Abu Hanifah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref6">[6]</a> Lihat: Tariekhul Islam 2/759-764. Para sahabat yang masih hidup saat Hajjaj berkuasa di Haramain contohnya: Abu Sa’id Al Khudri, Rafi’ bin Khadiej, dan Salamah bin Akwa’ mereka semua wafat th 74 H. Kemudian ‘Irbadh bin Sariyah, dan Abu Tsa’labah Al Khusyani (keduanya wafat th 75 H). Sedangkan yang tetap hidup hingga Hajjaj pindah ke Irak, adalah Jabir bin Abdillah dan Zaid bin Khalid Al Juhani (keduanya wafat th 78 H).  Hajjaj lantas menjadi gubernur Irak selama 20 tahun kemudian, padahal di sana terdapat sahabat terkenal Anas bin Malik Al Anshari, dan sejumlah tokoh Tabi’in seperti Hasan Al Basri, Sa’id bin Jubair, Asy Sya’bi, dll.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref7">[7]</a>  Ali bin Abi Thalib, Ibnu Zubeir, dan Ibnul Asy’ats adalah orang-orang yang pernah berseteru dengan Bani Umayyah, sedangkan Hajjaj adalah kaki tangan Bani Umayyah yang demikian loyal, sehingga memusuhi setiap orang yang dianggap berseberangan dengan ‘majikannya’.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref8">[8]</a> Kisah ini diriwayatkan oleh At Thabrani dlm Al Mu’jamul Kabir (no 704) dan Ibnu Asakir dlm Tarikh Dimasyq (9/372) dengan sanad yang hasan hingga Ali bin Zaid bin Jud’an. Ibn Jud’an adalah orang yang jujur namun lemah hafalannya. Kisah ini juga diriwayatkan oleh Mu’afa bin Zakariya dlm Al Jalis As Shalih (3/151) dari Jalur Hisyam bin Muhammad bin Sa-ib Al Kalbi, dari ‘Awanah bin Hakam Al Kalbi dengan redaksi yang mirip. Semua perawi dalam sanad yang kedua ini tergolong tsiqah kecuali Hisyam Al Kalbi yang dianggap matruk walaupun hafalannya sangat luas dan tergolong ahli sejarah.</p>
<p>Bila diperhatikan, kelemahan yang ada pada Ibnu Jud’an bisa ditoleransi mengingat ia menyaksikan langsung peristiwa tersebut, dan hal ini lebih melekat pada ingatan daripada sekedar mendengar. Apalagi kisah yang senada juga diriwayatkan oleh ahli sejarah terkenal -walaupun dianggap matruk dalam hal hadits-, yaitu Hisyam Al Kalbi. Intinya kisah ini bisa diterima. Al Mizzi juga meriwayatkan kisah ini dari jalur Ibnu Jud’an dengan lafazh <em>jazm</em> (Qaala), yang berarti bahwa sanad kisah ini <em>laa ba’sa bihi</em> (tidak bermasalah) menurut beliau (lihat: Tahdzibul Kamal 3/373).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref9">[9]</a> Lihat kisah selengkapnya dalam Al Jalis Ash Shalih (3/151-153) dan Tarikh Dimasyq</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref10">[10]</a> Al-Mustadrak 3/574, dengan sanad yang hasan. Fitnah yang pertama maksudnya peperangan antara Ali dengan Mu’awiyah, atau antara pasukan Syam yang dipimpin oleh Hajjaj melawan Ibnu Zubeir. Sedangkan fitnah yang terakhir maksudnya adalah pemberontakan Ibnul Asy’ats beserta warga Irak melawan Bani Umayyah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref11">[11]</a> Diriwayatkan oleh Al Hakim dlm Mustadrak-nya dengan sanad yang sama, dari penuturan Muhammad bin Mughirah. Menurut  Hisyam Al Kalbi, surat Anas terhadap Abdul Malik bunyinya adalah: “Bismillahirrahmanirrahiem, untuk Abdul Malik bin Marwan dari Anas bin Malik… Amma ba’du, Hajjaj telah mengucapkan kata-kata keji dan memperdengarkan sesuatu yang munkar kepadaku, padahal aku tidaklah seperti itu. Maka tahanlah dia dariku sebab aku merupakan pembantu serta sahabat Rasulullah. Wassalaam” (Lihat: Al Bidayah wan Nihayah 9/153).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref12">[12]</a> HR. Ahmad (no 12838) sebagaimana lafazh di atas, dan Bukhari (no 6657).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref13">[13]</a> Al Bidayah wan Nihayah 9/155.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref14">[14]</a> Idem.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftnref15">[15]</a> Al Bidayah wan Nihayah 9/66.</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-8141"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Frevolusi-timur-tengah-3.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Frevolusi-timur-tengah-3.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Frevolusi-timur-tengah-3.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Revolusi Timur Tengah (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 23:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[timur tengah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7963</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 2 Bangunlah Rumah dari Bawah Erat kaitannya dengan pelajaran pertama, ibrah yang kedua ini mengajarkan kita bagaimana cara membangun ‘rumah’ yang benar. Setiap rumah pasti memiliki pondasi, dinding, dan atap. Nah, demikian pula suatu<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong>Pelajaran 2</strong></span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><strong>Bangunlah Rumah dari Bawah</strong></span></p>
<p>Erat kaitannya dengan pelajaran pertama, ibrah yang kedua ini mengajarkan kita bagaimana cara membangun ‘rumah’ yang benar. Setiap rumah pasti memiliki pondasi, dinding, dan atap. Nah, demikian pula suatu negara, pasti memiliki elemen-elemen penting yang menyusunnya. Undang-undang ibarat pondasi, sedangkan rakyat adalah dinding, dan pemerintah adalah atapnya.</p>
<p>Bila kita perhatikan berbagai revolusi tadi, ternyata semuanya menginginkan perubahan dari ‘atap’. Mereka tak mempedulikan keadaan pondasi dan dinding rumah yang hendak direnovasi. ‘Pokoknya, gentengnya harus kita ganti baru !’, seru mereka.</p>
<p>Padahal, apa artinya genteng baru yang mengkilap kalau pondasi dan dindingnya rapuh? Apa artinya presiden baru kalau undang-undang dan rakyatnya masih seperti dulu? Perubahan yang terjadi ibarat bunglon yang berganti warna kulit, sedangkan ia tetap bunglon. Kalau pun ada perubahan maka artinya tak seberapa, karena yang berubah hanyalah wajah penguasa, bukan sistem dan perilakunya.</p>
<p>Berikut ini sebuah perbandingan sederhana antara perubahan dari bawah akibat dakwah, dan perubahan dari atas akibat revolusi.</p>
<p>Dalam Sirah-nya, Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, bahwa sejumlah tokoh musyrikin Quraisy pernah berkumpul di samping Ka’bah. Mereka berunding untuk menghentikan laju dakwah Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>. Diutuslah seseorang untuk memanggil beliau. Begitu beliau datang, mereka segera memuntahkan segala uneg-uneg mereka tentang dakwah beliau. Mereka demikian kebakaran jenggot akibat dakwah tauhid yang diserukan Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Menurut mereka, dakwah itu telah memecah belah kesatuan suku Quraisy. Beliau dituduh mencemooh ajaran leluhurnya, mencaci-maki berhala, membodoh-bodohkan keyakinan kaumnya, dan melakukan semua tindakan tercela yang merusak hubungan beliau dengan mereka.</p>
<p>Mereka lantas berkata, “Kalaulah tujuanmu mendakwahkan itu semua adalah demi mencari harta, kami akan kumpulkan separuh harta kami untukmu, sehingga kamu menjadi orang yang paling kaya di antara kita. Tapi bila dakwahmu ini demi mencari status sosial, maka kami angkat kamu menjadi pemimpin kami. Namun <strong>bila engkau</strong> <strong>menghendaki</strong> <strong>kekuasaan</strong>, <strong>kami angkat dirimu menjadi raja</strong>. Sedang bila semua ajakanmu ini akibat gangguan setan (kesurupan), maka kami akan mencarikan tabib dan menanggung biaya pengobatanmu hingga sembuh”.</p>
<p>Alangkah manisnya tawaran-tawaran tersebut. Dr. Ahmad an-Naqieb mengatakan, “Sebenarnya kalau dipikir, mengapa beliau tidak menerima tawaran tadi? Padahal jika beliau menjadi orang paling kaya, maka beliau bisa membeli budak dalam jumlah besar (10 ribu orang misalnya), lalu mempersenjatai mereka dan mengatakan kepada kaum musyrikin, “Pilih mana: kalian masuk Islam, atau mereka kusuruh menghabisi kalian?!” Bukankah dengan begitu beliau dapat menyukseskan misinya dengan mudah?”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Akan tetapi Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> mengatakan, “Aku tak mengerti maksud ucapan kalian. Semua yang kudakwahkan kepada kalian bukanlah dalam rangka mencari kekayaan, status sosial, maupun kekuasaan. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul, menurunkan kitab kepadaku, dan menyuruhku memberi kabar gembira dan peringatan bagi kalian. Maka kusampaikanlah risalah Allah dan kunasehati kalian. Jika kalian menerima ajakanku, maka itulah bagian kalian di dunia dan di akhirat. Namun jika kalian menolaknya, maka aku akan bersabar sampai Allah memutuskan perselisihan kita”.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Beliau menolak semua tawaran tadi karena beliau memiliki misi utama, yaitu membenahi kondisi dan perilaku kaumnya. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (156) الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157)</p>
<p><em> “… dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka kelak akan Ku-tetapkan rahmat tersebut bagi orang-orang bertakwa yang menunaikan zakat, dan beriman kepada ayat-ayat Kami. Yaitu mereka yang mengikuti Rasulullah sebagai Nabi yang ummi (buta huruf); yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam kitab Taurat dan Injil milik mereka. Ia menyuruh mereka berbuat ma’ruf, melarang mereka berbuat munkar, menghalalkan bagi mereka semua yang baik, mengharamkan bagi mereka semua yang buruk, serta mencabut segala belenggu dan beban yang sebelumnya mereka pikul. Maka siapa saja yang beriman kepadanya, mendukungnya, membelanya, dan mengikuti cahaya yang turun kepadanya (Al Qur’an), berarti mereka lah orang-orang yang beruntung”</em> (QS. Al-A’raaf: 156-157).</p>
<p>Beliau menolak dijadikan penguasa atas mereka. Sebab selama mereka belum mau diberesi, maka percuma saja dikuasai.</p>
<p>Namun yang sering kita saksikan adalah sebaliknya. Sebagian orang justru demikian ambisius mencapai kekuasaan. Karenanya, mereka menempuh hampir segala cara demi mewujudkannya. Jalan dakwah terlalu panjang di mata mereka, dan mereka khawatir takkan sempat memetik buah manisnya karena terlalu lama.</p>
<p>Mereka ingin mengadakan perubahan drastis dengan jalan pintas, yaitu merebut kekuasaan. Yang ‘agak sabar’ di antara mereka, menempuhnya lewat politik praktis dan parlemen. Namun yang tak sabar, meraihnya lewat kudeta dan revolusi.</p>
<p>Semua cara tadi telah dicoba di beberapa negara. Mesir, Turki, Sudan, Aljazair, dan Suriah adalah sebagian contohnya. Tak satupun dari negara tersebut yang berhasil dibenahi. Mesir masih identik dengan kerusakan moral dan ratusan kuburan keramatnya. Turki tetap identik dengan undang-undang sekulernya. Sudan kalah negoisasi dengan pihak Nasrani dan kini terpecah menjadi dua. Partai Islam Aljazair (FIS) gagal berkuasa setelah menang suara. Sedangkan 40 ribu warga kota <em>Hamah</em> di Suriah menjadi korban pembantaian setelah gagal melakukan kudeta !<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Bandingkan kondisi negara-negara tersebut dengan penduduk jazirah Arab tiga abad yang lalu. Kondisi mereka jauh lebih mengenaskan dari kaum musyrikin di zaman Nabi <em>shallaahu ‘alaihi wasallam</em>. Kemusyrikan menjadi fenomena sehari-hari. Bid’ah, khurafat, dan takhayyul sudah bukan rahasia lagi. Sedangkan pembunuhan dan perampokan telah menjadi profesi.</p>
<p>Namun melalu dakwah <em>islahiyyah</em> yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kondisi mereka berubah dari hari ke hari. Kemusyrikan dibasmi satu persatu dengan <em>hujjah</em> dan dalil. Kebodohan, bid’ah, khurafat, dan takhayul digantikan oleh ilmu, sunnah, akidah, dan amal. Pembunuhan dan perampokan berganti dengan keamanan; sedangkan kemiskinan berganti dengan kemakmuran.</p>
<p>Simaklah ucapan sejarawan Najed terkenal di masanya yang mengatakan:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">&#8220;ولقد رأينا الدرعية بعد ذلك في زمن سعود بن عبد العزيز بن محمد بن سعود رحمهم الله تعالى، وما في أهلها من الأموال وكثرة الرجال والسلاح المحلى بالذهب والفضة، وعندهم الخيل الجياد والنجايب العمانيات، والملابس الفاخرة والرفاهيات ما يعجز عن عده اللسان، ويكل عن حصره الجنان والبنان. ولقد نظرت إلى موسمها يوماً وأنا في مكان مرتفع، وهو في الموضع المعروف بالباطن، بين منازلها الغربية التي فيها آل سعود والمعروفة بالطريف، وبين منازلها الشرقية، والمعروفة بالبجيري التي فيها أبناء الشيخ. ورأيت موسم الرجال في جانب وموسم النساء في جانب، وما فيه من الذهب والفضة والسلاح والإبل والأغنام، وكثرة ما يتعاطونه من صفقة البيع والشراء، والأخذ والعطاء، وغير ذلك، وهو مد البصر لا تسمع فيه إلا دوي النحل من النجناج، وقول: بعت واشتريت، والدكاكين على جانبيه الشرقي والغربي، وفيها من الهدم والقماش والسلاح ما لا يوصف، فسبحان من لا يزول سلطانه وملكه&#8230;&#8221;</p>
<p> “Sungguh, kami pernah menyaksikan kota <em>Dir&#8217;iyyah</em><a title="" href="#_ftn4">[4]</a> pada zaman Su’ud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud, <em>rahimahumullah</em>. Alangkah banyak harta yang dimiliki warganya, di samping besarnya jumlah pasukan dan persenjataan berlapis emas dan perak. Demikian pula kuda-kuda dan unta-unta istimewa, pakaian-pakaian mewah, dan berbagai kemegahan yang sulit dibayangkan dalam hati maupun dilukiskan lewat kata-kata.</p>
<p>Aku pernah menyaksikan suatu pekan raya di <em>Dir&#8217;iyyah</em> dari sebuah tempat yang tinggi. Pekan tersebut berada di tempat bernama <em>Baathin</em>, yang terletak di antara perumahan keluarga Saud -yang dikenal dengan nama Thuraif- dan perumahan keluarga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -yang dikenal dengan nama Bujairi-. Kulihat bahwa tempat laki-laki terpisah dari tempat perempuan. Kusaksikan betapa banyak emas, perak, senjata, unta, dan kambing. Betapa seringnya transaksi jual beli dan serah terima terjadi di sana. Pekan tersebut terlihat sejauh pandangan mata, dan yang terdengar hanyalah tempik sorak dan gemuruh pasar mirip dengungan lebah. Toko-toko berjejer di sebelah timur dan barat, penuh berisi pakaian, tekstil, dan senjata yang tak terbayangkan. Maha Suci Allah yang selalu abadi kekuasaan-Nya…”.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Inilah sebuah perbandingan sederhana antara perjuangan lewat dakwah yang dibangun atas landasan tauhid dan sunnah Rasulullah <em>shallaahu ‘alaihi wasallam</em>, yang memakan waktu puluhan tahun&#8230; akan tetapi membuahkan hasil manis berupa tegaknya tauhid, runtuhnya symbol-simbol syirik, dan tegaknya syari’at Allah. Bandingkan dengan perjuangan lewat demokrasi dan revolusi yang dilakukan dalam waktu relatif singkat, akan tetapi tak pernah berujung pada tegaknya tauhid atau lenyapnya berbagai kemusyrikan.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Bersambung…</em></p>
<div>Penulis: <a href="http://basweidan.com">Ustadz Sufyan Basweidan, Lc</a></div>
<div>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></div>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Dr. Ahmad an-Naqieb adalah salah seorang Syaikh salafi di Mesir. Hal ini beliau sampaikan dalam salah satu <em>dars</em>-nya saat Mesir sedang rusuh oleh berbagai aksi unjuk rasa dan kerusuhan menjelang lengsernya Presiden Husni Mubarak.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat: As Sierah An Nabawiyyah, oleh Ibnu Hisyam (2/131-133). Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari berbagai jalur, dan semuanya dengan sanad yang terputus (mursal). Akan tetapi, riwayat-riwayat lemah seperti ini dalam sirah nabawiyah masih ditoleransi oleh para ulama. Apalagi Ibnu Ishaq adalah Imam dalam hal <em>maghazi</em> dan sirah nabawiyyah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Peristiwa berdarah ini merupakan operasi militer terbesar yang dilancarkan Presiden Hafizh Assad terhadap Ikhwanul Muslimin di Suriah. Pembantaian kaum muslimin ini terjadi mulai tanggal 2 Februari 1982 di kota Hamah, Suriah. Dan berlangsung hingga 27 hari berikutnya. Warga Hamah dikepung lalu digempur dengan menggunakan senjata berat, artileri, dan mortir hingga puluhan ribu jiwa menjadi korban. Kronologi selengkapnya bisa dibaca di: http://ar.wikipedia.org/wiki/مجزرة_حماة</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Sebuah kota kecil di selatan ibukota Riyadh sekarang, yang dahulu merupakan ibukota Daulah Su’udiyyah I dan II. Daulah Su’udiyyah pernah berdiri dua kali. Periode pertama (1744-1818 M) adalah periode keemasannya. Kemudian disusul dengan periode kedua (1824-1891 M). Dan kemudian berubah menjadi Kerajaan Arab Saudi (1926-Sekarang).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat: <em>‘Unwaanul Majd, fi Tariekhi Najd</em> (1/44), karya Al ‘Allamah Utsman bin Abdillah bin Bisyr. Sebagaimana yang dinukil dalam (الأطلس التاريخي للمملكة العربية السعودية ص 100). Syaikh Utsman bin Abdillah bin Bisyr adalah sejarawan Nejed yang hidup pada masa Daulah Su’udiyyah I.</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7963"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Frevolusi-timur-tengah-2.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Frevolusi-timur-tengah-2.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Frevolusi-timur-tengah-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Revolusi Timur Tengah (1)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-1.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 23:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[timur tengah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7961</guid>
		<description><![CDATA[Mukaddimah Baru-baru ini kita menyaksikan serangkaian peristiwa di Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, dan Suriah. Mulai dari kaburnya Presiden Ben Ali mencari perlindungan, diikuti jatuhnya Rezim Mubarak pasca unjuk rasa besar-besaran dan perang sengit antara<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-1.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><span style="color: #0000ff;"><strong>Mukaddimah</strong></span></p>
<p>Baru-baru ini kita menyaksikan serangkaian peristiwa di Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, dan Suriah. Mulai dari kaburnya Presiden Ben Ali mencari perlindungan, diikuti jatuhnya Rezim Mubarak pasca unjuk rasa besar-besaran dan perang sengit antara Muammar Gaddafi melawan para demonstran. Dari Afrika, gelombang unjuk rasa berputar haluan menuju Bahrain, Yaman, dan Suriah. Wallahu a’lam, negara mana lagi selanjutnya yang mendapat giliran.</p>
<p>Korban jiwa berjatuhan. Puluhan di Tunisia, ratusan di Mesir &amp; Yaman, dan ribuan di Libya dan Suriah. Adapun yang luka-luka, maka tak terkira jumlahnya. Pembunuhan, penjarahan, perusakan, dan pelanggaran kehormatan, nampaknya menjadi harga mati setiap revolusi.</p>
<p>Peristiwa ini mengingatkan penulis terhadap kerusuhan Mei 1998 yang melanda sejumlah kota di Indonesia. Di Jakarta, ribuan mahasiswa berunjuk rasa menuntut lengsernya Pak Harto yang telah berkuasa 32 tahun. Berbagai yel-yel diteriakkan oleh mereka. Mayoritas menuntut perbaikan ekonomi, sebagian menuntut kebebasan hak asasi, sebagian lagi sekedar mencari sensasi, namun sedikit sekali yang berjuang demi ridha ilahi.</p>
<p>Elang Mulya, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie adalah empat mahasiswa Trisakti yang terbunuh tanggal 12 Mei 1998. Nama mereka lantas diabadikan sebagai ‘Pahlawan Reformasi’.</p>
<p>Mirip revolusi <em>yasmin</em> di Tunisia, terbunuhnya keempat mahasiswa tadi memicu kerusuhan besar di Jakarta dan Solo (kota asal saya). Tanggal 14-15 Mei merupakan hari-hari paling kelabu dalam sejarah <em>kota bengawan</em> ini. Kelabu bukan hanya dalam arti ‘menyedihkan’, namun kelabu dalam arti yang sesungguhnya. Pembakaran terjadi di mana-mana. Pertokoan, pusat perbelanjaan, dealer kendaraan, dan sebagian rumah warga adalah sasarannya.</p>
<p>Penjarahan dan pengrusakan oleh massa terjadi di hampir seluruh kota. Gerombolan perusuh berambut gondrong dan bertato terlihat melempari rumah warga dengan batu dan botol. Mereka hendak meluapkan emosi dengan gaya mereka, atau mungkin sekedar <em>iseng</em> dan membikin huru-hara. Tumpukan ban yang dibakar semakin menambah ‘kelabu’ suasana hari itu. Sejumlah aset milik etnis tionghoa menjadi sasaran utama mereka, bahkan banyak dari wanita mereka yang konon diperkosa !</p>
<p>Kaum perusuh memang tak membedakan siapa kawan siapa lawan. Bagi mereka, kerusuhan adalah kesempatan emas untuk beraksi dan mencari kepuasan.</p>
<p>Malamnya, suasana demikian mencekam. Warga memasang barikade di mulut-mulut gang dan melakukan jaga malam. Saya sendiri termasuk yang ikut berjaga beberapa kali. Kota Solo terasa demikian sunyi karena sebagian besar warga memilih tinggal di rumah. Lagi pula, untuk apa keluar rumah? Toh kantor-kantor dan sekolah-sekolah libur total… toko-toko nyaris tak ada yang buka… dan jalan-jalan dipenuhi bangkai kendaraan yang terbakar !</p>
<p>Pun demikian, lengsernya Pak Harto tanggal 21 Mei 1998 tak menghentikan kerusuhan begitu saja. Enam bulan kemudian, tragedi berdarah kembali terulang di Ibukota. Dan lagi-lagi, korbannya adalah pelajar dan mahasiswa.</p>
<p>Agaknya, tumbangnya Pak Harto sebagai simbol rezim orba menumbangkan pula rasa takut rakyat terhadap penguasa. Presiden B.J. Habibie yang jenius ternyata tak punya wibawa… beda jauh dengan pendahulunya. Dan mulai saat itu, unjuk rasa menjadi pemandangan biasa di ibukota.</p>
<p>Wibawa pemerintah pun semakin menurun. Baik periode Habibie, Gus Dur, Megawati, maupun SBY; semuanya diwarnai berbagai unjuk rasa. Kita menginginkan pemimpin yang jujur, adil, dan berpihak kepada Islam. Berbagai sarana ditempuh oleh kaum muslimin untuk memegang tampuk kekuasaan. Partai-partai yang berlabel Islam bermunculan bak cendawan di musim hujan. Umat pun bingung, siapa yang harus dipilih? Semuanya mengatasnamakan Islam dan semuanya menginginkan perubahan. Namun lagi-lagi hasilnya mengecewakan.</p>
<p>Berbagai peristiwa tadi, baik yang terjadi di timur tengah maupun di tanah air, tentu memiliki segudang pelajaran berharga. Sebab Ahlussunnah meyakini bahwa Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu yang bersifat kejelekan seratus persen. Akan tetapi, sejelek apa pun takdir Allah, pasti di baliknya tersimpan sejumlah hikmah dan pelajaran.</p>
<p align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong>Pelajaran 1</strong></span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><strong>Sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian</strong></span></p>
<p>Mengapa kita sering membicarakan kejelekan pemerintah, namun melupakan kejelekan pribadi? Mengapa kita selalu mencela penguasa, dan tak pernah mencela berbagai penyimpangan kita? Sebenarnya, pemerintah adalah cermin rakyatnya. Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah ditanya oleh seseorang: “Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau? Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Jadi, ketika penguasa seenaknya mengeruk kekayaan negara dan memenjarakan rakyat tak berdosa, penyebabnya adalah dosa rakyat yang melalaikan kewajiban dan tenggelam dalam maksiat. Demikian pula ketika rakyat memberontak dan menjatuhkan si penguasa, itupun akibat kesalahan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, loyal kepada orang kafir, tenggelam dalam foya-foya dan menelantarkan urusan negara.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah mengatakan<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>, “Waliyyul amr, baik dari kalangan ulama’ maupun umara’, pasti punya banyak kesalahan. Akan tetapi, dalam sebuah atsar disebutkan <em>kamaa takuunuu, yuwalla ‘alaikum</em> (sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian)<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>.”</p>
<p>Cobalah perhatikan kondisi masyarakat…</p>
<p>Karakter pemimpin yang sesuai dengan rakyatnya adalah salah satu ketentuan Allah yang bijaksana. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</p>
<p><em>“Demikianlah Kami kuasakan orang-orang yang zhalim itu satu sama lain, sebagai akibat dari perbuatan mereka</em><em>”</em> (QS. Al-An’am: 129).</p>
<p>Demikian pula sebaliknya, Allah mengangkat pemimpin shalih bagi rakyat yang shalih. Jika kita perhatikan diri kita sebagai rakyat, ternyata kita pun sering meremehkan kewajiban, tenggelam dalam maksiat, curang dalam jual-beli, melakukan penipuan, pemalsuan, dan banyak lagi.</p>
<p>Siapa yang meneliti kondisi umat Islam hari ini, pasti akan menyaksikan berbagai kekurangan dan kelemahan. Umat Islam adalah umat yang jujur, menepati janji, dan amanah. Akan tetapi semua sifat ini tak lagi dimiliki sekarang, kecuali pada segelintir orang yang masih dirahmati Allah.</p>
<p>Kalaulah kita sendiri menyia-nyiakan amanah yang kita pikul padahal kita bukanlah penguasa besar, lantas bagaimana halnya dengan mereka yang menguasai kita? Boleh jadi lebih menyia-nyiakan lagi daripada kita. Akan tetapi, bersikaplah yang lurus, niscaya Allah menjadikan pemimpin kita bersikap lurus [..].</p>
<p>Ibnul Qayyim (w. 751 H) mengatakan: Cobalah perhatikan hikmah Allah yang menjadikan para penguasa sebanding dengan jenis perbuatan rakyatnya, bahkan tingkah laku rakyat menjadi cerminan penguasa mereka. Jika rakyat itu istiqamah (lurus), maka penguasanya pun lurus. Jika mereka adil, maka penguasa pun adil. Jika mereka zhalim, maka penguasa pun zhalim. Jika mereka terkenal suka menipu dan manipulasi, maka penguasanya pun seperti itu. Jika mereka menahan hak Allah terhadap harta mereka dan pelit dalam membayar zakat; maka penguasa akan menahan hak rakyatnya dan pelit terhadap mereka. Jika golongan lemah dari mereka menindas yang kuat dan mengambil yang bukan miliknya dalam bermuamalah, maka penguasa akan mengambil pula yang bukan miliknya dan mencekik mereka dengan berbagai pajak dan upeti. Semua yang mereka rampas dari pihak yang lemah, akan dirampas dari mereka oleh penguasa … jadi, para pejabat adalah potret perbuatan rakyat! Hikmah ilahi tidak punya ketentuan lain, selain menguasakan orang jahat atas sesamanya.</p>
<p>Berhubung generasi pertama umat Islam adalah generasi terbaik, maka pemimpin mereka pun adalah pemimpin terbaik. Ketika mereka mulai menyimpang, pemimpin mereka pun menyimpang.</p>
<p>Jadi, kebijaksanaan Allah tak mengizinkan kita untuk dipimpin oleh orang-orang seperti Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu dan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, apalagi oleh pemimpin seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Akan tetapi, pemimpin kita adalah sesuai dengan kualitas kita. Dan pemimpin sebelum kita, juga sesuai dengan kualitas rakyatnya [..].<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Bersambung…</em></p>
<div>Penulis: <a href="http://basweidan.com">Ustadz Sufyan Basweidan, Lc</a></div>
<div>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></div>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  Lihat: Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Beliau mengatakannya dalam acara Liqa’ al-baabil maftuh. Yaitu acara pertemuan antara beliau dengan masyarakat umum untuk tanya-jawab, yang diadakan di rumah beliau. Penjelasan ini disampaikan dalam pertemuan ke-50 dari total 236 pertemuan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  Ini adalah atsar Abu Ishaq As Sabi’iy, salah seorang ulama tabi’in asal Kufah yang terkenal sebagai ahli hadits dan ahli ibadah. Beliau lahir dua tahun menjelang berakhirnya kekhalifahan Utsman, dan wafat sekitar tahun 129 H. keluasan ilmu beliau di bidang hadits disejajarkan dengan Imam Ibnu Syihab Az Zuhri.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat: <em>Miftaah Daaris Sa’aadah</em> (2/168-169).</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7961"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Frevolusi-timur-tengah-1.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Frevolusi-timur-tengah-1.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Frevolusi-timur-tengah-1.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/revolusi-timur-tengah-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kau Cela Sahabat Nabimu</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/jangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/jangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 23:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[rafidhah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7704</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Rabbul ‘Alamin. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/jangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya <em>Rabbul ‘Alamin.</em> Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi was sallam.</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Agama adalah Nasihat</strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat Abu Rayyah Tamiim bin Aus Ad Daariy <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ <span style="text-decoration: underline;">وَعَامَّتِهِمْ</span> »</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Agama adalah nasihat. Kami (para sahabat bertanya), “Kepada siapa wahai Rosul?” Beliau menjawab, “Kepada Allah, KitabNya, RasulNya, Penguasa Kaum Muslimin dan <strong><span style="text-decoration: underline;">Kaum Muslimin secara umum</span></strong></em>”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Para ulama menafsirkan tentang yang dimaksud oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>dalam hadits ini. Salah satu penafsirannya adalah mengingikan kebaikan untuk orang yang dinasihati (<strong>إِرَادَةُ الْخَيْرِ لِلْمَنْصُوْحِ لَهُ</strong>)<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>. Maka inilah yang menjadi dasar dan tujuan kami menuliskan tulisan ini, mudah-mudahan Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla </em>menjaga niat kami.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengertian Sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi was sallam</em></strong></span></p>
<p>Al Hafidz Abul Fida’ ‘Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Ad Dimasyqiy Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>(terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir) mengatakan,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">والصَّحَابِيُ: مَنْ رَأَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَالِ إِسْلَامِ الرَّاوِي، وَإِنْ لَمْ تَطُلْ صُحْبَتُهُ لَهُ، وَإِنْ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ شَيْئاً.هَذَا قَوْلُ جُمْهُوِر الْعُلَمَاءِ، خَلَفاً وَسَلَفاً.</p>
<p>“Sahabat adalah orang yang melihat Rosulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi was sallam </em>dan ia dalam keadaan islam, walaupun masa kebersamaannya dengan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi was sallam </em>tidak dalam jangka waktu yang lama, walaupun ia tidak meriwayatkan satu haditspun. Inilah pengertian sahabat menurut mayoritas ulama terdahulu maupun belakangan”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Sedangkan Al Hafizh Abul Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar Al Asqolaniy Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>(terkenal dengan Ibnu Hajar Al Asqalaniy) mengatakan,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَنْ لَقِيَ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنًا بِهِ وَ مَاتَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَلَوْ تَخَلَّلَتْ رِدَّةٌ فِيْ الْأَصَحِّ</p>
<p>“Orang yang bertemu Nabi <em>Shallallahu Ta’ala ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallam </em>dalam keadaan berimman kepadanya dan mati dalam keadaan islam walau diantarai dengan kemurtadan (yaitu diantara bertemu Nabi dan kematiannya dalam islam) menurut pendapat yang paling kuat”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Secara umum inilah pengertian sahabat menurut para ulama’. Allahu a’lam pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat sehingga Abdullah bin Ummi Maktum dan Al Asy’ats bin Qois <em>rodhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Para Sahabat</strong></span></p>
<p>Salah satu gambaran yang dapat memberikan kepada kita tentang keutamaan para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>adalah pertanyaan berikut. Ketika ummat selain islam ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia setelah para Nabi?” Maka kemungkinan besar jawaban mereka adalah para sahabat Nabi atau orang-orang yang menjadi murid Nabi. Maka seandainya hal ini saja kita renungkan maka sudah mencukupi <em>insya Allah</em>.</p>
<p>Namun Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>adalah orang yang paling kasih sayang kepada ummatnya dan orang yang mendapat kabar dari Allah tentang hal yang akan terjadi pun telah mempertegas hal ini. Seakan-akan beliau hendak mengabarkan kepada kita bahwa kelak ada sekelompok orang yang akan membenci para sahabatnya <em>rodhiyallahu ‘anhum.</em> Beliau <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ<strong></strong></p>
<p>“<em>Manusia yang paling baik adalah (manusia pada) kurun waktuku (para sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’un) kemudian orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in)</em>”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>Jika kita menulusuri kitab-kitab hadits maka akan sangat banyak kita temukan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan para sahabat secara umum dan personal mereka secara khusus.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman tentang para sahabat yang menunjukkan betapa kedudukan mereka di sisi Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ <span style="text-decoration: underline;">رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ</span> وَ<span style="text-decoration: underline;">أَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ </span>تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ <span style="text-decoration: underline;">خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا</span> ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor (yaitu para sahabat Perang Badar atau Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam seluruhnya)<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, <strong><span style="text-decoration: underline;">Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah</span></strong> dan <strong><span style="text-decoration: underline;">Allah menyediakan bagi mereka surga-surga</span></strong> yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. <strong><span style="text-decoration: underline;">Mereka kekal di dalamnya</span></strong>. Itulah kemenangan yang besar</em>”. (QS. At Taubah [9] : 100).</p>
<p>Seandainya tidak ada ayat yang lain dan hadits lainnya maka tidak berlebihan jika kita mengatakan cukuplah dalil dari ayat dan hadits di atas yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>di sisi Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em> dan agama ini.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keyakinan Ahlus Sunnah tentang Para Sahabat</strong></span></p>
<p>Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>yang terkenal dengan sebutan Imam Syafi’i (150-204 H) mengatakan,</p>
<p>“Tidaklah aku melihat orang yang tertimpa musibah berupa mencaci para Sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>melainkan Allah akan tambahkan kepada mereka (para sahabat) pahala di saat telah terputusnya amal mereka”. Dalam sebuah riwayat dari Ar Robi’ yang maknanya “Melainkan Allah akan ganjar mereka (para sahabat) dengan kebaikan meskipun mereka telah mati”<a title="" href="#_ftn7">[7]</a>. Beliau juga mengatakan, “Manusia yang paling utama setelah kedudukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>adalah Abu Bakar kemudian ‘Umar kemudian ‘Utsman kemudian ‘Ali <em>ridwanullah ‘alaihim</em>”<a title="" href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah Al Azdiy Ath Thohawiy <em>rahimahullah </em>(239-321 H) mengatakan, “Kami (Ahlus Sunnah) mencintai para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>. Kami tidak berlebih-lebihan salah seorang dari mereka dan tidak membenci salah seorang dari mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan tidak menyebut kebaikan orang-orang yang membenci mereka ketika menyebut nama orang-orang yang membenci mereka. Kami tidaklah menyebut-nyebut sahabat melainkan hanya dengan kebaikan-kebaikan mereka. Mencintai mereka merupakan bagian dari agama, iman dan ihsan sedangkan membenci mereka merupakan bagian dari kekafiran, kemunafikan dan perbuatan melampaui batas yang ditentukan syari’at”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Seorang ulama ahlus sunnah wal jama’ah Imam Abu Utsman Isma’il bin Abdir Rahman Ash Shabuni Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>(373-449 H) mengatakan,</p>
<p>“Para Ashabul Hadits (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) bersaksi dan meyakini bahwasanya sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>yang paling utama adalah Abu Bakar kemudian setelahnya ‘Umar kemudian setelahnya ‘Utsman kemudian setelahnya ‘Ali dan mereka semua adalah khulafaur rosyidun yang Rosulullah<em> shallallahu ‘alaihi was sallam </em>sebutkan tentang kekhalifan mereka sebagaimana yang diriwayatkan Sa’id bin Jamhan dari Safinah (budak Rosulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>) “Khilfah setelahku tiga puluh tahun&#8230;”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a>.</p>
<p>Maka cukuplah perkataan imam-imam di atas menjadi penjelas bagi kita tentang bagaimana aqidah ahlus sunnah terhadap para sahabat.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keyakinan Ahlus Sunnah tentang Kekhalifahan Abu Bakar</strong></span></p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Abu Bakar adalah khalifah (pengganti) Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>dan ‘amil setelah wafatnya beliau”<a title="" href="#_ftn11">[11]</a>. Beliau juga mengatakan, “Kekhalifahan Abu Bakar adalah sebuah kebenaran yang Allah tentukan dari atas langit yang ke tujuh”<a title="" href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p><strong>Hukum Membenci Para Sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em></strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Abu Sa’id Al Khudri <em>rodhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ شَىْءٌ فَسَبَّهُ خَالِدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِى فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ ».</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Dahulu terjadi sesuatu hal antara Kholid bin Walid dan Abdur Rohman bin ‘Auf. Kemudian Khalid bin Walid mencaci Abdur Rahman bin ‘Auf”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci salah seorang dari sahabatku karena seandainya seseorang dari kalian berinfaq dengan emas seukuran Gunung Uhud maka (pahalanya) tidak dapat menyamai infaq para sahabatku dengan ukuran 1 mud (takaran untuk dua gengaman tangan normal) ataupun setengahnya</em>”<a title="" href="#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa kedua orang di atas yaitu Khalid bin Walid dan Abdur Rahman bin ‘Auf adalah dua orang sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>yang mulia. Namun suatu hal yang juga tidak diragukan bahwa Abdur Rahman bin ‘Auf memiliki kemulian yang lebih karena ia lebih dahulu masuk islam daripada Khalid bin Walid <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>. Namun walaupun kedudukan yang mulia yang dimiliki Khalid bin Walid sebagai sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>beliau melarang keras mencaci para sahabat yang lebih dahulu masuk islam padahal mereka berdua adalah orang-orang yang diridhai Allah dan mereka ridho kepada Allah. Maka bagaimanakah lagi kerasnya larangan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>kepada oranng-orang yang jauh berada di bawah Sahabat Khalid bin Walid yang jasanya sangat besar dalam islam dan penyebaran agama ini ?! Selannjutnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>memisalkan jika seandainya Khalid bin Walid berinfaq emas sebesar Uhud maka pahalanya tidak akan melampaui pahala infaq Abdur Rahman bin ‘Auf walaupun dengan satu mud ataupun setengahnya infaq beliau. Para ulama berselisih pendapat infaq 1 mud apa yang dimaksud, ada yang mengatakan emas dan ada yang mengatakan makanan pokok, namun yang lebih kuat adalah makanan pokok karena yang ditakar dengan mud adalah makanan pokok bukan emas<a title="" href="#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p>Berdasarkan hadits di atas dan hadits-hadits lainnya dan ayat-ayat Al Qur&#8217;an para ulama menetapkan hukum mencaci para sahabat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Larangan ini menunjukkan konsekuensi hukum haram. Maka seseorang tidak boleh mencaci sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>secara umum dan secara khusus personal mereka. Jika dia mencaci para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>secara umum maka ia telah kafir bahkan tidaklah diragukan kafirnya orang yang meragukan kekafiran orang yang semisal ini. Adapun jika ia mencaci salah seorang atau para sahabat secara personalnya maka dilihat apa yang menjadi faktor pendorongnya. Jika ia mencacinya karena alasan bentuk tubuhnya, tabiatnya atau agamanya maka masing-masing hal ini memiliki konsekuensi hukum tersendiri”<a title="" href="#_ftn15">[15]</a>.</p>
<p>Dalam kesempatan lain beliau <em>rahimahullah </em>pernah ditanya sebuah pertanyaan apakah kita mengkafirkan orang-orang yang mencela para sahabat, maka beliau memberikan jawaban sebagai berikut,</p>
<p>“Permasalahan pengkafiran mereka ataupun tidak mungkin saja terjadi pada mereka dari sisi yang lain yang jauh lebih besar dari perkara mencela para sahabat. Karena sebagian mereka yang sangat parah kesesatannya mengatakan bahwa para imam mereka adalah yang mengatur alam semesta padahal yang benar Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em> lah yang mengaturnya. Mereka mengatakan para imam mereka mampu mengatur alam semesta. Mereka juga mengklaim bahwa sebagian imam mereka berada pada tingkatan yang tidak mampu dicapai malaikat dan para Nabi. Maka keyakinan semisal ini adalah sebuah hal yang lebih parah daripada sekedar mencela para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a>.</p>
<p>Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhailiy <em>hafidzahullah </em>mengatakan, “Adapun masalah pengkafiran mereka (Syi’ah Rafidhah yang gemar mencaci maki para sahabat terutama Abu Bakar dan ‘Umar –ed.) maka hal ini telah disebutkan Syaikhul Islam bahwa para ulama memiliki dua pendapat yang terkenal seputar pengkafiran mereka dan khowarij. Kemudian Syaikhul Islam mengatakan, “Yang benar bahwa pendapat-pendapat yang mereka katakan yang diketahui bahwa semua itu bertentangan dengan ajaran yang dibawa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>merupakan kekufuran. Demikian juga tindakan-tindakan mereka yang merupakan jenis perbuatan orang-orang kuffar kepada kaum muslimin juga merupakan bentuk kekufuran&#8230;.. Akan tetapi mengkafirkan individu tertentu dari mereka dan memberikan vonis kekal di neraka tergantung pada apakah telah benar-benar tegak pada mereka syarat-syarat pengkafiran dan tidak adanya faktor yang memalingkannya”<a title="" href="#_ftn17">[17]</a>.</p>
<p>Sebagai tambahan agar kita lebih takut dan menjaga lisan kita dari perbuatan mencaci para sahabat kami sampaikan penutup sebagai berikut.</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi was sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا الْلَعَّانِ وَلَا الْفَاحِش وَلَا الْبَذِى</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em><strong>Bukanlah orang yang beriman orang yang suka mencela</strong>, orang yang suka melaknat, orang yang fahisy (sengaja menambah kata-kata keji dan melakukan perbuatan keji) dan orang yang tidak punya malu</em>”<a title="" href="#_ftn18">[18]</a>.</p>
<p>Hadits ini ditujukan umum kepada kaum muslimin yang mencela muslim lainnya. Lalu bagaimana jika yang dicela adalah orang-orang yang senantiasa bersama Rosulullah <em>shollallahu &#8216;alaihi was sallam</em> ?! <em>Laa Hawla wa Laa Quwwata Illabillah</em> !!</p>
<p>Sigambal, Setelah Subuh 07 Muharram 1432 H / 03 Desember 2011</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Aditya Budiman bin Usman<br />
Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Muslim no. 55.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah oleh Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syaikh hal. 125 terbitan Darul Mustaqbal, Mesir.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat Ba’itsul Hatsits oleh Ibnu Katsir dengan tahqiq Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy hal. 491/I terbitan Maktabah Ma’arif Riyadh.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat An Nukat ‘ala Nuzhatun Nadzor oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy dengan tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hal. 149 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhori no. 3651 dalam Bab Keutamaan Para Sahabat Nabi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat Tafsir Jalalain</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat Manaqib Asy Syafi’i oleh Al Baihaqi hal. 331/I.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Idem hal. 433/I.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat Syarh Aqidah Thohawiyah oleh Ibnu Abil ‘Izz dengan tahqiq DR. ‘Abdullah At Turkiy dan Syu’aib Al Arnauth ha. 704/II, terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut Lebanon.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dengan tahqiq DR. Nashir bin ‘Abdur Rohman hal. 289 terbitan Darul ‘Ashimah, Riyadh, KSA.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat Manaqib Asy Syafi’i oleh Al Baihaqi hal. 434/I.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Idem hal. 435/I.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> HR. Bukhori no. 3673 dan Muslim no. 2541 dan redaksi ini milik Muslim.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Disarikan dengan perubahan redaksi dari Syarh Aqidah Wasitiyah oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 460, terbitan Dar Ibnu Jauziy, Riyadh, KSA.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Sumber Idem hal. 461.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Lihat Syarh Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin yang ditakhrij oleh Muhammad Samih hal. 293 terbitan Darul Qudsi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a>Lihat Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ oleh Syaikh Prof. DR. Ibrohim Ar Ruhailiy hal. 147/I terbitan Maktabah al Uluw wal Hikam, Madinah, KSA.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> HR. Ahmad no. 404/I, Tirmidzi dalam Kitab al Bir washilah Bab Maa Ja’a fil La’nah no. 1977, Ibnu Majah no. 192, al Hakim no. 12/I dan Al Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 312 dan dinilai shohih oleh Al Albani.</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7704"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/jangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

