<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Manhaj</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/manhaj/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 00:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>&#8216;Umar &amp; Imam Syafi&#8217;i Berbicara Tentang Bid&#8217;ah Hasanah</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/umar-imam-syafii-berbicara-tentang-bidah-hasanah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/umar-imam-syafii-berbicara-tentang-bidah-hasanah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 May 2012 23:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[umar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9228</guid>
		<description><![CDATA[Kata-kata yang sudah sangat masyhur dan telah dianggap berasal dari Umar bin Khottob dan Imam Asy Syafi’i. Sebagaian orang lantas menyangka selama bid’ah itu baik, maka tidaklah masalah diamalkan. Karena bid’ah menurutnya ada yang baik<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/umar-imam-syafii-berbicara-tentang-bidah-hasanah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Kata-kata yang sudah sangat masyhur dan telah dianggap berasal dari Umar bin Khottob dan Imam Asy Syafi’i. Sebagaian orang lantas menyangka selama bid’ah itu baik, maka tidaklah masalah diamalkan. Karena bid’ah menurutnya ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada bid’ah yan jelek (bid’ah sayyi’ah). Lantas segala amalan pun yang tanpa tuntunan cuma sekedar dibangun atas landasan niat baik menjadi legal.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Khalifah ‘Umar dan Imam Syafi’i Berbicara Mengenai Bid’ah Hasanah</strong></span></p>
<p>‘Umar bin Al Khottob <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ketika menghidupkan shalat tarawih secara berjama’ah, beliau berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">الْبِدْعَةُ هَذِهِ<strong></strong></p>
<p>“<em>Sebaik-baik bid’ah adalah ini</em>”.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">البدعة بدعتان: بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة، فهو محمود، وما خالف السنة، فهو مذموم</p>
<p>“<em>Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela</em>”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memahami Perkataan ‘Umar bin Khottob tentang Shalat Tarawih</strong></span></p>
<p>Mengenai kisah keluarnya ucapan ‘Umar “sebaik-baik bid’ah adalah ini” dapat kita saksikan pada hadits berikut ini.</p>
<p dir="RTL" align="center">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ, وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ, فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. قَالَ: ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ, فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ, وَالَّتِي تَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي تَقُومُونَ, يَعْنِي آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ</p>
<p>Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary katanya; aku keluar bersama Umar bin Khatthab di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana, ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang. Maka Umar berkata: “<em>Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…</em>” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka Umar berkata, “<em><span style="text-decoration: underline;">Sebaik-baik bid’ah adalah ini</span>, akan tetapi saat dimana mereka tidur lebih baik dari pada saat dimana mereka shalat</em>”, maksudnya akhir malam lebih baik untuk shalat karena saat itu mereka shalatnya di awal malam.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Perkataan ‘Umar di atas disikapi oleh Ibnu Rajab dengan pernyataan berikut,</p>
<p>“Adapun perkataan ulama salaf yang menganggap adanya bid’ah yang baik, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah lughowi (bid’ah secara bahasa) dan bukan menurut istilah syar’i. Contoh perkataan yang dimaksud adalah perkataan ‘Umar bin Khottob ketika beliau mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) bersama dengan satu imam di masjid. Lantas ‘Umar keluar dan melihat mereka shalat (dengan satu imam), lalu ia pun berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Diriwayatkan bahwa Ka’ab bin Malik berkata pada ‘Umar, “Ini sebelumnya tidak ada”. “Aku tahu. Akan tetapi perbuatan ini baik (hasan)”, jawab ‘Umar. Yang dimaksudkan oleh ‘Umar bahwa shalat tarawih sebelumnya tidak dilakukan seperti itu sebelumnya. Akan tetapi, ada landasan dalam syari’at mengenai hal ini di mana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mendorong dan memotivasi untuk melaksanakan qiyam Ramadhan. Dahulu di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, orang-orang melaksanakan shalat tarawih secara jama’ah namun terpisah-pisah atau berkelompok-kelompok. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> shalat bersama para sahabat di bulan Ramadhan lebih dari semalam. Kemudian beliau enggan melaksanakannya lagi karena khawatir shalat tarawih itu wajib. Beliau pun tidak merutinkannya setelah itu. Namun setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kekhawatiran tersebut sudah tidak ada. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendirikan shalat tarawih bersama para sahabatnya di malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan”.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Ibnu Rajab setelah itu mengatakan bahwa shalat tarawih yang dihidupkan kembali oleh ‘Umar tetap sah dan bukan bid’ah karena itu adalah bagian dari sunnah<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> (ajaran) khulafaur <em>rosyidin al mahdiyyin</em><a title="" href="#_ftn6"><em>[6]</em></a> yang kita juga diperintahkan untuk mengikutinya. Ibnu Rajab <em>rahimahullah </em>berkata, “Alasan lain bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengikuti sunnah (ajaran) khulafaur rosyidin. Bahkan shalat tarawih telah menjadi sunnah (ajaran) khulafaur rosyidin. Manausia di masa ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali juga menghidupkannya secara berjama’ah.”<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Dalil bahwasanya kita diperintahkan mengikuti ajaran khulafaur rosyidin,</p>
<p dir="RTL" align="center">فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ</p>
<p>“<em>Berpegang teguhlah dengan ajaranku dan ajaran kholifah yang diberi petunjuk dalam ilmu dan amal, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah (kuat-kuat) dengan gigi geraham kalian</em>”.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Ibnu Taimiyah berkata, “Perlu dipahami bahwa istilah bid’ah hasanah yang disebutkan ‘Umar hanyalah penyebutan bid’ah secara bahasa dan bukan istilah syari’at. Karena bid’ah  secara bahasa berarti setiap perbuatan yang diawali tanpa ada contoh sebelumnya.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Ibnu Katsir juga menerangkan, “Bid’ah itu ada dua macam. Kadang yang dimaksud adalah bid’ah syar’iyyah seperti yang disebutkan dalam hadits, “<em>Setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan</em>.” Terkadang pula bid’ah yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa. Seperti perkataan ‘Umar bin Al Khottob <em>radhiyallahu ‘anhu </em>ketika beliau membuat jama’ah shalat tarawih dan dilakukan terus menerus, di mana beliau berkata, “<em>Ni’matul bid’ah hadzihi</em> (sebaik-baik bid’ah adalah ini).”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Perkataan bid’ah dengan artian bahasa -yaitu sesuatu yang baru- dikatakan pula oleh anak ‘Umar bin Khottob, ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma. </em>Yang namanya adzan pertama pada shalat Jum’at baru dilakukan di masa ‘Utsman karena kebutuhan manusia akan hal itu. Dan amalan ini diteruskan pula oleh ‘Ali bin Abi Tholib. Namun Ibnu ‘Umar lantas berkata, “<em>Huwa bid’ah</em> (ini adalah bid’ah)”. Ibnu Rajab menerangkan maksud Ibnu ‘Umar, “Sepertinya Ibnu ‘Umar ingin berkata seperti maksud ayahnya dalam masalah qiyam Ramadhan (shalat tarawih).”<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bagaimana bisa hadits dipertentangkan dengan perkataan sahabat?</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>telah menegaskan bahwa setiap bid’ah adalah sesat sebagaimana sabdanya,</p>
<p dir="RTL" align="center">وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p>“<em>Setiap bid’ah adalah sesat?</em>”<a title="" href="#_ftn12">[12]</a> Asy Syathibi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah hasanah.”<a title="" href="#_ftn13">[13]</a> Artinya setiap bid’ah itu tercela, tidak ada yang hasanah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Lalu bagaimana kita menyikapi perkataan ‘Umar? </strong></span></p>
<p>Taruhlah kita setuju dengan perkataan ‘Umar bahwa ada bid’ah hasanah karena beliau telah berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Maka cukup disanggah seperti kata Ibnu Taimiyah, “Perkataan sahabat bukanlah argumen. Bagaimana perkataan sahabat bisa sebagai alasan di saat bertentangan dengan sabda Rasululah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?”<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p><em>Jika dengan perkataan sahabat saja tidak bisa dipertentangkan dengan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lantas bagaimana lagi dengan perkataan ulama yang berada di bawah sahabat?</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memahami Perkataan Imam Syafi’i</strong></span></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> dalam fatawanya menjelaskan maksud perkataan Imam Asy Syafi’i di atas seraya berkata, “Apa saja yang menyelisihi dalil, maka itu adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin. Dan apa yang tidak diketahui menyelisihi dalil, maka tidak disebut bid’ah. Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> menuturkan, “Bid’ah itu ada dua macam, yaitu bid’ah yang menyelisihi Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ dan atsar dari sebagian sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bid’ah seperti ini termasuk bid’ah dholalah (sesat). Sedangkan jika tidak menyelisihi dalil-dalil tadi, maka ia termasuk bid’ah hasanah.” Karena  ‘Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Perkataan semacam ini dan semisalnya dikeluarkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih”.<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali <em>rahimahullah </em>menjelaskan maksud perkataan Imam Asy Syafi’i mengenai bid’ah hasanah (mahmudah) dan bid’ah madzmumah, “Yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa bid’ah madzmumah (yang tercela) adalah segala amalan yang tidak ada asalnya dalam syari’at yang mendukungnya. Inilah bid’ah yang dimutlakkan dalam syari’at. Sedangkan bid’ah yang terpuji (bid’ah hasanah, pen) adalah bid’ah yang bersesuaian dengan sunnah (ajaran Rasul), yaitu yang memiliki asal dari Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sebagai pendukung. Namun yang dimaksudkan dengan bid’ah hasanah di sini adalah bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah menurut istilah syar’i karena bid’ah kedua ini bersesuaian dengan ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Ibnu Rajab <em>rahimahullah </em>juga menambahkan, “Telah diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i perkataan beliau yang menafsirkan perkataan beliau di atas. Imam Syafi’i berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">والمحدثات ضربان : ما أُحدِثَ مما يُخالف كتاباً ، أو سنةً ، أو أثراً ، أو إجماعاً ، فهذه البدعة الضلال ، وما أُحدِث مِنَ الخير ، لا خِلافَ فيه لواحدٍ مِنْ هذا ، وهذه محدثة غيرُ مذمومة</p>
<p>“Perkara yang muhdats (yang baru) itu ada dua macam, yaitu pertaka yang dibuat-buat dan menyelisihi Al Qur’an, As Sunnah, atsar (sahabat) dan ijma’, maka ini termasuk bid’ah <em>dholalah</em> (yang sesat). Sedangkan perkara yang masih dalam kebaikan yang tidak menyelisihi dalil-dalil tadi, maka itu bukanlah perkara baru (bid’ah) yang tercela”.<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Intinya di sini, sahabat mulia seperti ‘Umar bin Khottob dan Imam Syafi’i bukanlah orang yang begitu mudahnya melegalkan bid’ah. Dengan perkataan mereka berdua, orang-orang beralasan adanya bid’ah yang hasanah sehingga acara bid’ah maulid, selamatan kematian, yasinan, dan tahlilan sah-sah saja untuk dilegalkan. Karena perbuatan-perbuatan tadi jelas baik menurut mereka. Sebagai penutup, kami ulas sanggahan terakhir berikut ini bagi siapa saja yang beralasan dengan dua orang terkemuka di atas.</p>
<p>Pertama: Secara jelas Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat tanpa ada pengecualian. Maka tidak bisa sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ini dipertentangkan dengan perkataan sahabat atau perkataan imam madzhab. Sebagaimana kata Ibnu ‘Abbas dan Mujahid, lalu perkataan ini masyhur diucapkan oleh Imam Malik, juga diucapkan oleh Imam Ahmad,</p>
<p dir="RTL" align="center">ليس أحد إلا ويؤخذ من رأيه ويترك ؛ ما خلا النبي</p>
<p>“<em>Pendapat seseorang bisa diambil atau ditinggalkan selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>”</p>
<p>Kedua: Jika seseorang merenungkan kembali perkataan Imam Syafi’i, “<em>Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela</em>”. Maksud beliau di sini adalah jika suatu amalan tidak menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, maka itulah bid’ah hasanah (mahmudah) karena dalam perkataan beliau dikaitkan dengan demikian. Jika tidak demikian maksudnya, apalah gunanya beliau membuatkan kaitan setelah perkataannya. Setiap bid’ah yang menyelisihi syari’at bertentangan dengan ayat yang menyatakan bahwa Islam telah sempurna,</p>
<p dir="RTL" align="center">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</p>
<p>“<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu</em>” (QS. Al Ma’idah: 3). Begitu pula bid’ah yang tercela bertentangan dengan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“<em>Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak</em>” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718).</p>
<p>Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap bid’ah bukan wajib dan bukan sunnah, maka ia termasuk bid’ah sayyi’ah dan termasuk bid’ah dholalah (yang menyesatkan) menurut sepakat para ulama. Siapa yang menyatakan bahwa sebagian bid’ah dengan bid’ah hasanah, maka itu jika telah ada dalil syar’i yang mendukungnya yang menyatakan bahwa amalan tersebut sunnah (dianjurkan). Jika bukan wajib dan bukan pula sunnah (anjuran), maka tidak ada seorang ulama pun mengatakan amalan tersebut sebagai hasanah (kebaikan) yang mendekatkan diri kepada Allah.”<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Ketiga: Sudah sangat ma’ruf bahwa Imam Syafi’i  adalah orang yang paling semangat dalam ittiba’ atau mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dan beliau juga adalah orang yang sangat keras pada orang yang membantah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Lihat saja perkataan beliau pada orang yang menentang ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.</p>
<p>Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya,</p>
<p dir="RTL" align="center">أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ  وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ</p>
<p>“<em>Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?</em>”<a title="" href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Jika Imam Syafi’i bersikap keras dalam hal semacam ini, bagaimana mungkin kita pahami bahwa perkataan beliau berseberangan dengan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “<em>Kullu bid’atin dholalah</em>” (setiap bid’ah adalah sesat). Seharusnya kita memposisikan dengan benar perkataan Imam Syafi’I, yaitu kita pahami dengan pemahaman yang tidak bertentangan dengan sabda Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Jadinya kita pahami bahwa maksud Imam Syafi’i adalah bid’ah secara bahasa. Hal yang membuat kita seharusnya semakin <em>husnuzhon</em> kepada Imam Syafi’i karena beliau pernah mengeluarkan perkataan-perkataan seperti berikut ini,</p>
<p dir="RTL" align="center">إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ</p>
<p>“<em>Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang</em>.”<a title="" href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p dir="RTL" align="center">كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ</p>
<p>“<em>Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.</em>”<a title="" href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p dir="RTL" align="center">كُلُّ مَا قُلْتُ فَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ   خِلاَفُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ فَحَدِيثُ النَّبِيِّ أَوْلىَ فَلاَ تُقَلِّدُونِي</p>
<p>“<em>Semua yang pernah kukatakan jika ternyata berseberangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hadits Nabi lebih utama untuk diikuti dan janganlah kalian taqlid kepadaku.</em>”<a title="" href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p dir="RTL" align="center">كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي</p>
<p>“<em>Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku</em>.”<a title="" href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p dir="RTL" align="center">إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ</p>
<p>“<em>Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok</em>.”<a title="" href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p dir="RTL" align="center">أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ</p>
<p>“<em>Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun</em>.”<a title="" href="#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Setelah kita mengetahui pernyataan Imam Syafi’i bahwa perkataan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wajib didahulukan dari ucapan beliau, maka semestinya kita berbaik sangka kepada beliau dengan mendudukkan ucapan beliau mengenai bid’ah tadi sebagai bid’ah secara bahasa, –yaitu setiap hal baru– yang tidak ada kaitannya dengan agama. Dengan demikian, antara ucapan Imam Syafi’i; “<em>Bid’ah mahmudah dan madzmumah</em>” dan sabda Rasulullah; “<em>setiap bid’ah sesat</em>” tidak akan bertabrakan.</p>
<div>Wallahu waliyyut taufiq.</div>
<div></div>
<div>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 14 Jumadats Tsaniyah 1433 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
</div>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Bukhari no. 2010.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 9: 113.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Malik dalam Al Muwaththa’ bab: Ma jaa-a fi qiyami Ramadhan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 128.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Sunnah adalah jalan yang ditempuh. Sunnah di sini bukan hanya dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saja, termasuk pula ajaran para kholifah rosyidin berupa i’tiqod, keyakinan, amalan dan perkataan. Inilah pengertian sunnah yang sempurna dan yang dipegang oleh para ulama salaf, mereka tidaklah memaksudkan kecuali demikian. Inilah yang diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri, Al Auza’i dan Al Fudhail bin ‘Iyadh.</p>
<p>Namun kebanyakan ulama belakangan memahami sunnah dengan maksud i’tiqod (keyakinan) karena i&#8217;tiqod itulah yang disebut ushulud diin (pokok ajaran Islam). Sehingga yang menyelisihi sunnah ini, ia berarti telah berada dalam bahaya yang besar (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 120).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Rusydu adalah mengenal kebenaran dan mengikutinya (mengamalkannya). Ghowi adalah mengenal kebenaran tetapi tidak mengikutinya. Sedangkan dholal adalah tidaklah mengenal dan mengamalkan kebenaran. Setiap orang yang rosyid, maka dia disebut muhtad (mendapat petunjuk). Setiap yang mendapati petunjuk secara sempurna dialah rosyid. Yang namanya hidayah adalah dengan mengenal dan mengamalkan kebenaran sekaligus (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 126).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 129.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shahih. Begitu pula hal yang sama dinyatakan oleh Syaikh Al Albani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 2: 95.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 38.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 129.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> HR. Muslim no. 867, Abu Daud no. 4607, An Nasai no. 1578.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Disebutkan oleh Asy Syatibi dalam fatawanya hal. 180-181. Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 2: 95.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Majmu’ Al Fatawa, 20: 163.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 131.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’I (1: 468-469). Riwayat ini shahih sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq beliau terhadap Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 131.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> Majmu’ Al Fatawa, 1: 162.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a> Hilyatul Auliya’, 9: 107.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a> Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a> Tarikh Dimasyq, 51: 389.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a> Tarikh Dimasyq, Ibnu ‘Asakir, 2: 9: 15.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref23">[23]</a> Hilyatul Auliya’, 9: 107.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref24">[24]</a> Siyar A’laamin Nubala’, 3: 3284-3285.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref25">[25]</a> I’lamul Muwaqi’in, 2: 282.</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-9228"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fumar-imam-syafii-berbicara-tentang-bidah-hasanah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/umar-imam-syafii-berbicara-tentang-bidah-hasanah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bid&#8217;ah Dalam Perkara Duniawi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/bidah-dalam-perkara-duniawi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/bidah-dalam-perkara-duniawi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 23:30:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9039</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Wahai Sahamatus Syaikh, saya tahu adanya batasan yang rinci dalam membedakan antara sunnah dan bid&#8217;ah, namun tolong jelaskan kepada kami apa batasan antara bid&#8217;ah dalam agama dengan bid&#8217;ah dalam masalah duniawi. &#160; Syaikh Abdul<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/bidah-dalam-perkara-duniawi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Wahai <em>Sahamatus Syaikh</em>, saya tahu adanya batasan yang rinci dalam membedakan antara sunnah dan bid&#8217;ah, namun tolong jelaskan kepada kami apa batasan antara bid&#8217;ah dalam agama dengan bid&#8217;ah dalam masalah duniawi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Syaikh Abdul &#8216;Aziz bin Baaz <em>rahimahullah</em> menjawab:</strong></p>
<p>Dalam masalah duniawi, tidak ada bid&#8217;ah, walaupun dinamakan bid&#8217;ah (secara bahasa). Manusia membuat mobil, pesawat, komputer, telepon, kabel, atau benda-benda buatan manusia yang lain semua ini tidak dikatakan bid&#8217;ah walaupun memang disebut bid&#8217;ah dari segi bahasa, namun tidak termasuk bid&#8217;ah dalam istilah agama. Karena bid&#8217;ah secara bahasa artinya segala sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya, itu semua disebut bid&#8217;ah. Sebagaimana dalam ayat:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ</p>
<p>“<em>Allah adalah Pencipta langit dan bumi</em>” (QS. Al Baqarah: 117)</p>
<p>maksud ayat ini yaitu Allah Ta&#8217;ala membuat mereka (langit dan bumi) yang sebelumnya tidak ada.</p>
<p>Demikian, secara bahasa memang istilah bid&#8217;ah secara mutlak dimaknai sebagai segala sesuatu yang belum ada sebelumnya. Andai perkara-perkara duniawi yang demikian biasanya tidak disebut sebagai bid&#8217;ah, semua itu tidak tercela walau dikategorikan sebagai bid&#8217;ah secara bahasa. Bahkan tidak diingkari, karena bukan perkara agama dan bukan perkara ibadah. Misalnya, jika kita katakan dibuatnya mobil, komputer, pesawat atau semisalnya adalah bid&#8217;ah, maka bid&#8217;ah di sini dari segi bahasa. Dan semua itu bukanlah kemungkaran dan tidak boleh diingkari. Yang diingkari adalah perkara-perkara baru dalam hal agama semisal shalawat-shalawat bid&#8217;ah, atau ibadah bid&#8217;ah lain yang. Inilah yang diingkari.</p>
<p>Karena syariat Islam harus dibersihkan dari bid&#8217;ah. Yang menjadi syari&#8217;at Islam adalah apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, bukan apa yang diada-adakan oleh manusia baik berupa shalawat, puasa, atau ibadah lain yang tidak disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Karena agama ini telah sempurna, sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</p>
<p>“<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu</em>” (QS. Al Ma&#8217;idah: 3)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Nuurun &#8216;Ala Ad Darb</em> juz 3 halaman 21 <a href="http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;PageID=275&amp;PageNo=1&amp;BookID=5">http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;PageID=275&amp;PageNo=1&amp;BookID=5</a></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9039"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fbidah-dalam-perkara-duniawi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/bidah-dalam-perkara-duniawi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Tertipu Dengan Orang Yang &#8216;Memperjuangkan&#8217; Islam</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/jangan-tertipu-dengan-orang-yang-memperjuangkan-islam.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/jangan-tertipu-dengan-orang-yang-memperjuangkan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 09:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8950</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali kita mendengar seruan saudara kita untuk berjihad, untuk membela Islam melalui parlemen, atau membela Islam melalui penegakan khilafah. Mereka betul-betul semangat dalam hal ini. Namun janganlah tertipu. Tidaklah semua yang mengaku membela dan memperjuangkan Islam itu benar dan menempuh jalan yang benar]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.</em></p>
<p>Seringkali kita mendengar seruan saudara kita untuk berjihad, untuk membela Islam melalui parlemen, atau membela Islam melalui penegakan khilafah. Mereka betul-betul semangat dalam hal ini. Namun janganlah tertipu. Tidaklah semua yang mengaku membela dan memperjuangkan Islam itu benar dan menempuh jalan yang benar. Barangkali mereka adalah orang-orang yang fajir dan bermaksiat pada Allah dengan perjuangan mereka. Barangkali jalan yang mereka tempuh itu keliru.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya tidak akan masuk surga orang kecuali jiwa yang muslim. Namun boleh jadi Allah akan memperjuangkan agama ini melalui orang yang fajir (bermaksiat).</em>” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadits di atas adalah cuplikan dari sebuah hadits dari Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, beliau mengatakan:<br />
“Kami pernah bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Lalu beliau mengatakan pada orang yang mengaku Islam, “<em>Dia termasuk penduduk neraka.</em>” Ketika mengikuti peperangan, orang tersebut begitu semangat. Namun ia terkena luka parah. Kemudian ada yang berkata pada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “Yang engkau katakan bahwa ia termasuk penduduk neraka, ia benar-benar hari itu telah berperang lalu ia mati.” Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap mengatakan, “<em>Ia penghuni neraka.</em>” Sebagian orang pun terheran-heran dan tetap dalam keadaan seperti itu. Ternyata, ada yang menceritakan bahwa orang tersebut sebelum mati, ia memiliki luka yang cukup parah. Ketika di malam hari, ia tidak sabar menahan lukanya yang parah tersebut. Lalu ia pun membunuh dirinya sendiri. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>dikabarkan tentang hal ini. Kemudian beliau pun bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اللَّهُ أَكْبَرُ ، أَشْهَدُ أَنِّى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ</p>
<p dir="&quot;RTL&quot;">“<em>Allahu akbar. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.</em>” Kemudian beliau pun memerintahkan Bilal dan beliau menyeru pada manusia,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ</p>
<p dir="&quot;RTL&quot;">“<em>Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim. Namun boleh jadi Allah akan memperjuangkan agama ini melalui orang yang fajir (bermaksiat).</em>”<sup><sup>1</sup></sup></p>
<p><strong>Faedah dari hadits di atas:</strong></p>
<p dir="&quot;RTL&quot;"><strong>Pertama</strong>: Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “<em>Allah akan menolong agama ini, walaupun melalui orang yang fajir (bermaksiat).</em>”</p>
<p dir="&quot;RTL&quot;"><strong>Kedua</strong>: An Nawawi membawakan hadits ini dalam Bab “<em>Peringatan keras terhadap haramnya bunuh diri. Ingatlah bahwa seseorang yang membunuh dirinya sendiri akan disiksa di neraka dengan cara ia melakukan bunuh diri. Dan tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim.</em>”</p>
<p dir="&quot;RTL&quot;"><strong>Ketiga</strong>: Orang muslim pasti masuk surga. Namun boleh jadi dia masuk surga langsung. Dan boleh jadi ia masuk surga dengan terlebih dahulu mampir di neraka.<sup>2</sup></p>
<p dir="&quot;RTL&quot;"><strong>Keempat</strong>: Bunuh diri termasuk dosa besar karena diancam neraka. Namun pelakunya tidaklah keluar dari Islam -selama tidak melakukan pembatal keislaman yang lain- karena ia masih disebut mukmin sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا , وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا</p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. </em><em>Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu</em><em>. </em><em>Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.</em><em>”</em> (QS. An Nisa’: 29-30)</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Orang yang bunuh diri akan disiksa sebagaimana cara ia melakukan bunuh diri. Hal ini disebutkan dalam hadits lainnya.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَىْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p dir="&quot;RTL&quot;">“<em>Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.</em>”<sup>3</sup><br />
Contohnya adalah orang yang mati bunuh diri karena mencekik lehernya sendiri atau mati karena menusuk dirinya dengan benda tajam.<br />
Dari Abu Hurairah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">الَّذِى يَخْنُقُ نَفْسَهُ يَخْنُقُهَا فِى النَّارِ ، وَالَّذِى يَطْعُنُهَا يَطْعُنُهَا فِى النَّارِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan mencekik lehernya, maka ia akan mencekik lehernya pula di neraka. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara menusuk dirinya dengan benda tajam, maka di neraka dia akan menusuk dirinya pula dengan cara itu.</em>”<span style="vertical-align: super;">4</span></p>
<p><strong>Keenam</strong>: Jangan tertipu dengan orang-orang yang memperjuangkan atau membela Islam, sampai kita ketahui bahwa mereka benar-benar berpegang teguh pada sunnah (ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>).<sup><sup>5</sup></sup> Jadi semata-mata membela Islam dan membuat Islam semakin jaya belum tentu orang tersebut dikatakan berada di atas kebenaran sampai kita tahu bahwa ia memegang ajaran Nabi yang mulia <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Lihatlah orang yang bunuh diri yang disebutkan dalam hadits di atas. Dia memperjuangkan Islam dengan berjihad di jalan Allah, namun ia pun berbuat maksiat dengan bunuh diri.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>: Memperjuangkan Islam semata-mata bukan dengan modal semangat, namun haruslah menempuh jalan yang benar sebagaimana yang ditempuh para salaf yang sholih.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>: Penghafal al Qur&#8217;an boleh jadi ada yang fajir (berbuat maksiat). Begitu pula orang yang berjihad bisa saja orang fajir. Namun kesholihan mereka bukan berarti membenarkan kemaksiatan yang mereka lakukan.<sup><sup>6</sup></sup></p>
<p>Demikian sedikit faedah yang bisa kami ambil dari hadits di atas sesuai keterbatasan ilmu kami. Semoga bermanfaat.<br />
<em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></p>
<p>&#8212;<br />
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel Muslim.Or.Id</p>
<p>&#8212;</p>
<div><strong>Footnote:</strong></div>
<div>1 HR. Bukhari no. 3062 dan Muslim no. 111, dari sahabat Abu Hurairah.</div>
<div id="&quot;sdfootnote2&quot;">2 Faedah dari penjelasan Syaikh Sholih Alu Syaikh -<em>hafizhohullah</em>- ketika menjelaskan hadits Al Arba&#8217;in An Nawawiyah.</div>
<div id="&quot;sdfootnote3&quot;">3 HR. Bukhari no. 6047 dan Muslim no. 110</div>
<div id="&quot;sdfootnote4&quot;">4 HR. Bukhari no. 1365, dari Abu Hurairah.</div>
<div id="&quot;sdfootnote5&quot;">5 Faedah dari <em>Kitab Al &#8216;Arbain fii Madzhab As Salaf</em>, Syaikh &#8216;Ali bin Yahya Al Haddadi, terbitan Ma&#8217;had Al Anshor Yogyakarta, hadits no. 12, hal. 13.</div>
<div id="&quot;sdfootnote6&quot;">6 Faedah pada point ini dari penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al Iqtidho&#8217; ash Shirotil Mustaqim pada Fashl “&#8217;<em>Adamu jawaz saa-iril &#8216;ibadat &#8216;indal qubur</em>”</div>
<div class="shr-publisher-8950"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjangan-tertipu-dengan-orang-yang-memperjuangkan-islam.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/jangan-tertipu-dengan-orang-yang-memperjuangkan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1001 Cara Untuk Taqlid Buta</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/1001-cara-untuk-taqlid-buta.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/1001-cara-untuk-taqlid-buta.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 06:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[taqlid]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8844</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kitab Min Athyabil Minnah Fii Ilmil Mushtalah (1/81-82), karya Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad dan Syaikh ‘Abdul Karim Murad -hafizhahumallah- dinukil pemaparan seorang ulama yang prihatin akan banyaknya ulama di zaman beliau yang taqlid buta terhadap<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/1001-cara-untuk-taqlid-buta.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dalam kitab <em>Min Athyabil Minnah Fii Ilmil Mushtalah </em>(1/81-82), karya Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad dan Syaikh ‘Abdul Karim Murad -<em>hafizhahumallah</em>- dinukil pemaparan seorang ulama yang prihatin akan banyaknya ulama di zaman beliau yang taqlid buta terhadap madzhab. Beliau adalah Syaikh Shalih bin Muhammad Al Fulani Al Madini (wafat tahun 1218 H) -<em>rahimahullah</em>-. Dalam kitabnya, <em>Iqazhul Himam</em>, beliau menceritakan betapa seorang ulama yang terjerumus dalam taqlid buta akan selalu mencari cara untuk membela pendapat madzhab-nya. Beliau berkata:</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">ترى بعض الناس اذا وجد حديثا يوافق مذهبه فرح به وانقاد له و سلم</p>
<p>“Engkau lihat sendiri, sebagian orang ketika mendapatkan hadits yang sesuai dengan pendapat madzhab-nya, ia gembira. Ia pun patuh pada hadits tersebut dan menerima dengan senang hati”.</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">و ان وجد حديثا صحيحا سالما من معارضة والنسخ مؤيدا لمذهب غير امامه فتح له باب الاحتمالات البعيدة وضرب عنه الصفح و العارض و يلتمس لمذهب إمامه أوجها من الترجيح مع مخالفته للصحابة و التابعين والنص الصريح</p>
<p>“Namun ketika ia menemukan hadits shahih, tidak bertentangan dengan dalil lain, tidak <em>mansukh</em>, dan cocok dengan pendapat imam madzhab yang lain, ia pun mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh. Lalu membuat seolah hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain. Kemudian merumuskan poin-poin <em>tarjih</em> yang menguatkan pendapat madzhab-nya walaupun bertolak belakang dengan pendapat sahabat Nabi, pendapat para tabi’in serta nash yang <em>sharih </em>(tegas)”</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">و ان شرح  كتابا من كتب الحديث حرف كل حديث خالف مذهبه وإن عجز عن ذلك ادعى النسخ بلا دليل أو الخصوصية أو عدم العمل به أو غير ذلك مما يحضر ذهنه العليل</p>
<p>“Jika ia men-<em>syarah</em> (menjelaskan) sebuah kitab hadits, ia pun menyimpangkan makna setiap hadits yang bertentangan dengan madzhab-nya. Jika maknanya sulit untuk disimpangkan, ia pun mengklaim bahwa hadits tersebut <em>mansukh</em>, dengan klaim yang tanpa dalil. Atau ia mengklaim bahwa hadits tersebut ada <em>takhshish</em>-nya, atau mengklaim bahwa hadits tersebut tidak perlu diamalkan, atau klaim-klaim yang lain yang muncul dari akalnya yang tidak beres”</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">وإن عجز عن ذلك ادعى أن إمامه اطلع كل مروي أو جله فما ترك هذا الحديث الشريف إلا وقد اطلع على طعن فيه برأيه المنيف فيتخذ علماء مذهبه أربابا و يفتح لمناقبهم و كراماتهم أبوابا ويعتقد أن من خالف ذلك لم يوفق صوابا</p>
<p>“Jika ia tidak mampu melakukan hal itu, ia pun beralasan bahwa imamnya telah menelaah semua atau sebagian besar riwayatnya. Maka bagaimana mungkin imamnya tidak memakai hadits tersebut, menurutnya ini bukti bahwa imamnya mengkritik hadits tersebut dan ia menggaris-bawahi kehandalan imamnya dalam mengkritik hadits. Kemudian ia seakan menjadikan imamnya sebagai Tuhan. Ia menggembar-gemborkan kisah-kisah serta karomah-karomah imamnya dan berkeyakinan bahwa orang yang berbeda pendapat dengan pendapat imamnya adalah orang yang salah.”</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">وإن نصح أحد العلماء السنة اتخذه عدوا ولو كانوا قبل ذالك أحبابا</p>
<p>“Jika ada salah seorang ulama sunnah menasehatinya, ia pun seketika itu menganggap ulama tersebut sebagai musuh, walau sebelumnya mereka adalah teman yang saling mencintai”</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">وإن وجد كتابا من كتب مذهبه المشهورة  يتضمن نصحه و ذم الرأي والتقليد والحث على اتباع الأحاديث نبذه وراء ظهره وأعرض عن امره ونهيه واتخذه حجرا محجورا</p>
<p>“Jika ia menemukan sebuah kitab terkenal dari madzhab-nya, yang berisi nasehat sang ulama sunnah, yaitu mencela berpendapat dengan mengedepankan akal, mencela taqlid, mengajak untuk mengikuti hadits-hadits, ia meletakkan kitab tersebut di belakang punggungnya, berpaling dari perintah dan larangan yang ada di dalamnya, lalu membuat dinding penghalang”</p>
<p>—</p>
<p>Jika demikian yang terjadi di zaman beliau, sungguh di zaman ini perkaranya sudah lebih parah lagi. Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua…</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8844"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2F1001-cara-untuk-taqlid-buta.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/1001-cara-untuk-taqlid-buta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebiadaban Demonstrasi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kebiadaban-demonstrasi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kebiadaban-demonstrasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2012 05:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[demo]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[kenaikan]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8809</guid>
		<description><![CDATA[Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) adalah topik yang sekarang ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh masyarakat di berbagai media. Semua orang pun angkat bicara mengatasnamakan rakyat. Ada yang mengecam, dan mungkin ada juga yang membela<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/kebiadaban-demonstrasi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) adalah topik yang sekarang ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh masyarakat di berbagai media. Semua orang pun angkat bicara mengatasnamakan rakyat. Ada yang mengecam, dan mungkin ada juga yang membela kebijakan ini. <em>&#8216;Ala kulli hal</em>, kebutuhan terhadap bahan bakar yang satu ini memang seolah-olah telah menjadi nafas dan detak jantung perekonomian bangsa kita. Sehingga kenaikan harga padanya pun membangkitkan tanggapan yang sangat luar biasa. Entah dari sudut sosial, ekonomi, politik, ataupun sudut-sudut yang lainnya.</p>
<p><strong>[1] Keprihatinan Kita Bersama</strong></p>
<p>Saudaraku, apabila kita cermati dengan pikiran yang jernih dan hati yang lapang sesungguhnya kenaikan harga barang kebutuhan semacam ini adalah sesuatu yang biasa terjadi -walaupun mungkin tidak menyenangkan- dalam kehidupan kita. Kita tidak sedang berbicara dari sudut ekonomi ataupun politik; akan tetapi kita hanya ingin mengemukakan sebuah realita yang sangat memprihatinkan; sebuah realita yang telah dan sedang bergejolak serta merambah kemana-mana.</p>
<p>Ya, boleh saja kita merasa prihatin dengan kenaikan harga ini. Namun, yang lebih membuat hati kita sedih dan tersayat-sayat adalah tatkala hal ini membuat sebagian orang kehilangan rasa malu dan perikemanusiaannya dengan mencaci-maki pemimpin mereka lalu merusak fasilitas-fasilitas umum ataupun aset milik orang lain yang sebenarnya dibangun juga demi kemaslahatan dan kepentingan mereka. Apakah mereka telah kehilangan hati nurani dan akal sehat?!</p>
<p>Saudaraku, demonstrasi bukanlah solusi! Belum pernahkah anda menyaksikan kebiadaban demonstrasi? Apakah anda belum pernah mendengar seruan untuk menghalalkan darah sesama manusia di tengah kerumunan massa demonstran?! Adakah sebuah kejahatan kemanusiaan yang lebih besar daripada menghalalkan tertumpahnya darah manusia tanpa alasan yang benar?!! Inilah fakta yang tidak bisa dipungkiri akibat orasi membakar massa yang diteriakkan oleh segelintir orang yang disebut-sebut sebagai kaum intelektual dan cendekia [?!]</p>
<p>Berpikirlah matang-matang sebelum bertindak! Apakah anda pernah menimbang demonstrasi dengan akal sehat dan hati nurani serta menyikapinya berdasarkan petunjuk agama? Wahai orang-orang yang gemar meneriakkan penegakan syari&#8217;ah dan khilafah, pernahkah anda dapati generasi terbaik umat ini membakar kemarahan massa dengan mengkritik kebijakan penguasa di mimbar-mimbar dengan mengatasnamakan agama?! Inikah yang diajarkan oleh &#8216;Umar bin Khaththab, &#8216;Utsman bin &#8216;Affan, dan &#8216;Ali bin Abi Thalib radhiyallahu&#8217;anhum kepada kita?!</p>
<p>Marilah bersama-sama kita renungkan barang sejenak&#8230; Bukankah setiap orang punya kesalahan, tidak terkecuali anda dan kita semua! Apakah anda suka dan bangga jika kesalahan dan dosa anda dibeberkan di hadapan massa dan menjadi bahan pembicaraan segenap anggota keluarga, sahabat, sanak famili, tetangga, atau bahkan para pemirsa di segenap penjuru Nusantara?! Oke, boleh saja anda tidak setuju atau menolak pendapat orang. Akan tetapi ingatlah, harga diri dan kehormatan sesama tetap harus dijaga. Apalagi sampai terjadi tindak kekerasan!</p>
<p><strong>[2] Demonstrasi Ditolak oleh Akal Sehat</strong></p>
<p>Cobalah anda bayangkan..! Jika suatu ketika ayah anda sendiri -yang telah merawat anda sejak kecil dan membiayai segala keperluan anda sampai bisa menikmati bangku kuliah, bahkan dia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan anak dan istrinya- ternyata suatu ketika ayah anda itu melakukan sebuah kekeliruan -kalau memang itu sebuah kekeliruan- yang menyangkut kepentingan keluarga; anak dan istrinya, maka apakah layak seorang anak seperti anda -yang kuliahnya mungkin juga tidak beres- kemudian berkoar-koar di depan rumah atau di jalan-jalan -dengan membawa megaphone dan spanduk keprihatinan- mengobral aib keluarga agar publik tahu dan media massa pun meliputnya?! Seolah-olah dia berkata, “Biarlah seluruh dunia tahu apa yang terjadi pada keluarga kita&#8230;!”. Laa haula wa laa quwwata illa billaah! Adakah akal sehat manusia membolehkan perbuatan semacam ini?! Kalau terhadap seorang kepala rumah tangga saja perbuatan semacam ini tidak layak dan tidak sopan, maka bagaimanakah lagi jika yang dijelek-jelekkan di muka umum ini adalah kepala sebuah negara?! Sadarlah, wahai para pemuda&#8230;!!</p>
<p>Sebagian orang mungkin akan mengira bahwa tulisan ini adalah sebuah jilatan untuk penguasa. Oh, sama sekali tidak! Marilah bersama-sama kita lihat bagaimana potret dan konsep gerakan massa dan demonstrasi yang sesungguhnya! Agar anda tidak tertipu dan kecewa setelah semuanya terlambat&#8230;</p>
<p>Dalam bukunya Gerakan Massa, Eric Hoffer berbicara tentang potret para pemimpin gerakan massa, “Bualan besar sampai tingkatan tertentu mutlak diperlukan untuk kepemimpinan yang efektif. Gerakan massa tidak mungkin ada tanpa putar balik kenyataan.” (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 115). Padahal, pemutarbalikan kenyataan tentu saja sebuah tindakan yang tidak bisa dibenarkan!</p>
<p>Mengenai dampak gerakan massa dan cara untuk menghentikannya pun telah dijelaskan olehnya. Dia berkata, “Pikiran bahwa gerakan massa tidak dapat dihentikan dengan kekerasan adalah tidak benar. Kekerasan dapat menghentikan dan melumatkan gerakan massa sekuat apa pun. Tetapi untuk ini, kekerasan itu harus dijalankan tanpa ampun dan tanpa henti.” (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 109).</p>
<p>Kekacauan dan bahkan pertumpahan darah adalah sesuatu yang dianggap wajar dalam sebuah gerakan massa. Eric Hoffer mengatakan, “Keadaan kacau balau, pertumpahan darah, dan kehancuran yang berserakan di jalan-jalan yang dilalui gerakan massa yang sedang menanjak, menimbulkan kesan pada kita bahwa para pengkut gerakan massa tersebut memang kasar dan tidak mengenal tata tertib hukum.” (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 116). Inilah yang telah terjadi dimana-mana; pertumpahan darah akibat demonstrasi adalah kejahatan dalam sejarah umat manusia yang harus dipertanggungjawabkan oleh para provokator dan penggerak demonstrasi berdarah&#8230;</p>
<p>Dia juga mengatakan, “Barangkali lebih baik bagi suatu negara, bila pemerintahannya mulai menunjukkan tanda-tanda tidak mampu lagi menjalankan tugasnya, agar ditumbangkan saja oleh gerakan rakyat raksasa -meski upaya menumbangkan ini meminta korban jiwa dan harta yang besar sekalipun- daripada dibiarkan jatuh dan roboh dengan sendirinya.” (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 164)</p>
<p>Demonstrasi membabi buta kerapkali disulut oleh perasaan kecewa dan tidak puas akibat orasi-orasi dan hasutan para penggeraknya. Eric Hoffer memaparkan, “Orang yang kecewa dan tidak puas menjadi pengikut seorang pemimpin bukan karena ia yakin sang pemimpin sedang membawanya ke suatu dunia impian, melainkan lebih karena ia merasa sang pemimpin tersebut sedang menuntunnya menjauhi dirinya sendiri yang dibencinya. Bagi orang ini, penyerahan diri kepada seorang pemimpin bukan merupakan suatu cara untuk mencapai suatu tujuan melainkan cara untuk mencapai suatu kepuasan. Ke mana sang pemimpin membawa dia, itu soal kedua.” (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 118)</p>
<p>Bukan sesuatu yang aneh jika gerakan massa dijalankan oleh para pemalas yang sebenarnya kecewa terhadap diri mereka sendiri. Kemudian mereka ingin mengobati kekecewaan itu dengan cara menyalahkan orang lain! “Seruan dari gerakan massa untuk mengadakan aksi bersama menggetarkan hati orang yang kecewa dan tidak puas. Bagi mereka ini, aksi bersama merupakan obat bagi semua yang dideritanya. Aksi bersama membuat mereka lupa pada diri sendiri, dan memberi mereka rasa mempunyai tujuan dan harga diri. Bahkan tampaknya, rasa kecewa dan tidak puas itu timbul terutama karena orang tidak dapat bertindak, dan orang yang paling merasa kecewa dan tidak puas ialah orang yang memilki bakat dan kepribadian yang sesuai untuk suatu kehidupan penuh kegiatan, tetapi terbenam dalam kehidupan yang bermalas-malasan.” (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 121)</p>
<p>Gerakan massa merebak berkat hasutan orang yang pandai bersilat lidah dan mengidap kekecewaan terhadap penguasa. Walaupun, mereka sendiri juga tidak mampu mengatasi masalah itu jika dipercaya untuk menyelesaikannya! Eric Hoffer berkata, “Gerakan massa biasanya baru menanjak bila kekuasaan yang ada sudah kehilangan nama. Nama yang memudar bukan akibat kesalahan dan tindak sewenang-wenang mereka yang memegang tampuk kekuasaan, tetapi akibat hasutan orang yang pandai bersilat lidah dan mengidap rasa kecewa.” (lihat <em>Gerakan Massa</em>, hal. 131)</p>
<p>Para pembaca yang dirahmati Allah, inilah identitas sesungguhnya dari gerakan massa dan demonstrasi yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai obat dan solusi bagi persoalan bangsa. Padahal, sesungguhnya demonstrasi itu adalah bagian dari masalah itu sendiri!</p>
<p><strong>[3] Demonstrasi Ditolak Oleh Syari&#8217;at</strong></p>
<p>Tidakkah anda ingat kasus pembunuhan khalifah &#8216;Utsman bin &#8216;Affan radhiyallahu&#8217;anhu yang terjadi akibat demonstrasi yang didalangi oleh kaum Khawarij?! Tidakkah anda ingat &#8216;unjuk rasa&#8217; pertama kali yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishirah -sesepuh kaum Khawarij- di hadapan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan tuduhan perbuatan zalim yang dilemparkannya kepada beliau?!</p>
<p>Tidakkah anda ingat bagaimana kemacetan yang timbul, roda perekonomian yang terhenti, dan kerugian milyaran rupiah yang timbul akibat demonstrasi buruh besar-besaran beberapa waktu yang lalu?! Tidakkah anda melihat kerusuhan yang terjadi dan kerusakan yang timbul akibat demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang baru saja terjadi di sebagian kota di tanah air?!</p>
<p>Sungguh benar ucapan Sahabat Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, akan tetapi dia tidak mendapatkannya.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Sudah seharusnya cara anda beramar ma&#8217;ruf adalah dengan cara yang ma&#8217;ruf, demikian pula cara anda dalam melarang kemungkaran bukan berupa kemungkaran.” (lihat <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wa an-Nahyu &#8216;anil Munkar</em>, hal. 24)</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “<em>Barangsiapa yang menaatiku maka dia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amirku maka dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai amirku maka dia telah durhaka kepadaku</em>.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Ahkam)</p>
<p>Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini terkandung kewajiban untuk taat kepada para penguasa -kaum muslimin- selama itu bukan perintah untuk bermaksiat sebagaimana sudah diterangkan di depan di awal Kitab al-Fitan. Hikmah yang tersimpan dalam perintah untuk taat kepada mereka adalah untuk memelihara kesatuan kalimat (stabilitas masyarakat, pent) karena terjadinya perpecahan akan menimbulkan kerusakan.” (<em>Fath al-Bari</em> [13/131] cet. Dar al-Hadits)</p>
<p>Dari &#8216;Iyadh bin bin Ghunm <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah dia menampak hal itu secara terang-terangan/di muka umum, akan tetapi hendaknya dia memegang tangannya seraya menyendiri bersamanya -lalu menasehatinya secara sembunyi-. Apabila dia menerima nasehatnya maka itulah -yang diharapkan-, dan apabila dia tidak mau maka sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban dirinya</em>.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi &#8216;Ashim dengan sanad sahih, lihat al-Ma&#8217;lum Min Wajib al-&#8217;Alaqah baina al-Hakim wa al-Mahkum, hal. 23)</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Wajib atas setiap individu muslim untuk selalu mendengar dan patuh -kepada penguasa- dalam apa yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya, kecuali apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh patuh</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari Tamim bin Aus ad-Dari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Agama ini adalah nasehat.” Beliau mengucapkannya tiga kali. Maka kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Untuk mengikhlaskan ibadah kepada Allah &#8216;azza wa jalla, beriman kepada Kitab-Nya, taat kepada Rasul-Nya, memberikan nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin serta nasehat bagi orang-orang biasa (rakyat) diantara mereka.</em>” (HR. Muslim)</p>
<p>Imam Ibnu ash-Sholah <em>rahimahullah</em> berkata, “Nasehat bagi para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, mentaati mereka di dalamnya, mengingatkan mereka terhadap kebenaran, memberikan peringatan kepada mereka dengan lembut, menjauhi pemberontakan kepada mereka, mendoakan taufik bagi mereka, dan mendorong orang lain (masyarakat) untuk juga bersikap demikian.” (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 103)</p>
<p>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menerangkan, “Nasehat bagi para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, mentaati mereka di dalamnya, memerintahkan mereka untuk menjalankan kebenaran, memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka dengan lemah lembut dan halus, memberitahukan kepada mereka hal-hal yang mereka lalaikan, menyampaikan kepada mereka hak-hak kaum muslimin yang belum tersampaikan kepada mereka, tidak memberontak kepada mereka, dan menyatukan hati umat manusia (rakyat) supaya tetap mematuhi mereka.” (lihat Syarh Muslim lil Imam an-Nawawi [2/117], lihat juga penjelasan serupa oleh Imam Ibnu Daqiq al-&#8217;Ied rahimahullah dalam Syarh al-Arba&#8217;in, hal. 33-34)</p>
<p>Sahabat Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> pernah ditanya bagaimana cara beramar ma&#8217;ruf dan nahi mungkar kepada penguasa, maka beliau menjawab, “<em>Apabila kamu memang mampu melakukannya, cukuplah antara kamu dengan dia saja</em>.” (lihat Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam, hal. 105)</p>
<p>Dari Abu Wa&#8217;il Syaqiq bin Salamah, dia berkata: Ada orang yang bertanya kepada Usamah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, “Mengapa kamu tidak bertemu dengan &#8216;Utsman untuk berbicara (memberikan nasehat) kepadanya?”. Maka beliau menjawab, “Apakah menurut kalian aku tidak berbicara kepadanya kecuali harus aku perdengarkan kepada kalian? Demi Allah! Sungguh aku telah berbicara empat mata antara aku dan dia saja. Karena aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu timbulnya masalah.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Inilah kiranya mungkin apa yang bisa kami sampaikan di sini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi segenap kaum muslimin di negeri ini. Kalaulah kami dituduh sebagai penjilat penguasa, maka para ulama semacam Ibnu Hajar, Ibnu ash-Sholah, an-Nawawi, Ibnu Daqiq al-&#8217;Ied, Ibnu Abbas dan Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> pun tak akan lepas dari tuduhan mereka! <em>Allahul musta&#8217;aan. Kepada Allah semata, kami memohon pertolongan&#8230;<br />
</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8809"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkebiadaban-demonstrasi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kebiadaban-demonstrasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengusap Khuf Ala Syi’ah</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mengusap-khuf-ala-syi%e2%80%99ah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mengusap-khuf-ala-syi%e2%80%99ah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 04:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ajaran sesat]]></category>
		<category><![CDATA[bahasan utama]]></category>
		<category><![CDATA[mengusap khuf]]></category>
		<category><![CDATA[rafidhah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8797</guid>
		<description><![CDATA[Selain dari sisi akidah yang menyimpang, dalam pengamalan beberapa cabang fikih pun Rafidhah (baca: Syi’ah) menyalahi tuntunan. Semisal dalam masalah mengusap khuf ini. Para ulama Ahlus Sunnah memasukkan bahasan mengusap khuf dalam bahasan akidah untuk<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mengusap-khuf-ala-syi%e2%80%99ah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Selain dari sisi akidah yang menyimpang, dalam pengamalan beberapa cabang fikih pun Rafidhah (baca: Syi’ah) menyalahi tuntunan. Semisal dalam masalah mengusap khuf ini. Para ulama Ahlus Sunnah memasukkan bahasan mengusap khuf dalam bahasan akidah untuk menangkal pemahaman Rafidhah yang keliru.</p>
<p>Sebelumnya ada baiknya lebih dahulu kita bahas apa yang dimaksud dengan <em>khuf </em>dan cara mengusap <em>khuf</em>.</p>
<p><strong>Pengertian Khuf</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,</p>
<p>والخُفَّان: ما يُلبَسُ على الرِّجل من الجلود، ويُلْحَقُ بهما ما يُلبَسُ عليهما من الكِتَّان، والصُّوف، وشبه ذلك من كُلِّ ما يُلبَسُ على الرِّجْل مما تستفيدُ منه بالتسخين</p>
<p>“Khuf adalah sesuatu yang dipakai pada kaki dan terbuat dari kulit, juga ada yang terbuat dari rami dan wol. Begitu pula termasuk khuf adalah segala sesuatu yang dikenakan kaki untuk memberikan kehangatan.”[1]</p>
<p>Jadi <em>khuf </em>adalah sebagaimana yang kita pakai di zaman ini seperti sepatu, kaos kaki, sandal dan penutup kaki dan lainnya.</p>
<p><strong>Mengusap Khuf</strong></p>
<p>Jika seseorang hendak berwudhu dalam keadaan mengenakan khuf, maka ia tidak perlu membuka khuf-nya untuk mencuci kaki namun cukup sebagai gantinya mengusap di atas khuf-nya.</p>
<p>Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhohullah berkata,</p>
<p>فإن الشارع رخص للمتوضئ أن يمسح على هذه الحوائل , ويكتفي بذلك عن نزعها وغسل ما تحتها ; تخفيفا منه سبحانه وتعالى على عباده , ودفعا للحرج عنهم</p>
<p>“Syariat memberikan keringanan/rukshah kepada orang yang berwudhu untuk mengusap khuf pada berbagai keadaan. Khuf yang dikenakan tidak perlu dicopot dan cukup mengusap bagian atasnya saja. Mengusap khuf merupakan keringanan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-Nya untuk menghilangkan kesusahan dari mereka.”[2]</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p>وَامْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ وَأَرجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ</p>
<p>“<em>Dan usaplah kepala-kepala kalian dan kaki-kaki kalian hingga ke mata kaki</em>.” (QS. Al Maidah 6)</p>
<p>Cara membaca/ qira’ah lafazh [وَأَرجُلَكُمْ] pada huruf [ل] bisa dengan dua cara baca yaitu di-kasrah/majrur atau di-fathah/manshub.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu berkata,</p>
<p>أن قراءة النَّصب دلَّت على وجوب غسل الرِّجلين.وأما قراءة الجر؛ فمعناها: اجعلوا غسلكم إِيَّاها كالمسح</p>
<p>“Cara baca nashab/fathah menunjukkan wajibnya membasuh kedua kaki (saat tidak memakai khuf) sedangkan cara baca jarr/ kasrah maknanya jadikanlah membasuhnya sebagaimana mengusap (saat memakai khuf).”[3]</p>
<p><strong>Syi’ah Mengingkari Syari’at Mengusap Khuf</strong></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Shalih Ali Bassam rahimahullah berkata,</p>
<p>شذت الشيعة في إنكار المسح على الخفين &#8230;فهم الذي خالفوا الإجماع, متمسكين بقراءة الجر من {و أرجلكم} لآن الأية ناسخة للأحاديث عندهم</p>
<p>“Syi&#8217;ah memiliki pendapat yang jelas keliru yaitu dalam hal pengingkaran mengusap khuf. Mereka jelas telah menyalahi ijma&#8217; (kesepakatan para ulama) karena mereka berpegang kepada qira&#8217;ah jarr dari lafazh &#8216;wa arjulikum&#8217;, sehingga menurut pendapat mereka, lafazh ayat ini menghapus semua hadits yang menjelaskan mengusap sepatu.”[4]</p>
<p>Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata,</p>
<p>وقد اشتهر جواز المسح على الخفين عند علماء الشريعة حتى عد شعارا لأهل السنة وعد إنكاره شعارا لأهل البدع</p>
<p>“Telah masyhur di kalangan para ulama mengenai kebolehan mengusap khuf, sampai-sampai perkara ini terhitung sebagai syi’ar Ahlus Sunnah dan pengingkaran terhadap hal ini teranggap sebagai syi’ar ahlul bid’ah.”[5]</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,</p>
<p>والمسح على الخفين جائزٌ باتفاق أهل السُّنَّةِ.وخالفَ في ذلك الرَّافضةُ؛ ولهذا ذكره بعضُ العلماءِ في كتب العقيدةِ لمخالفةِ الرافضة فيه حتى صار شعاراً لهم.</p>
<p>“Mengusap khuf dibolehkan berdasarkan kesepakatan Ahlus sunnah. Syi’ah Rafidah menyelisihi hal ini. Oleh karena itu, sebagian ulama menyebutkan hal ini dalam kitab aqidah untuk menyelisihi rafidhah. Sampai-sampai hal ini merupakan syi’ar mereka.”[6]</p>
<p>Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata,</p>
<p>وفيه الحكم الجليل الذي فرق بين أهل السنة وأهل البدع وهو المسح على الخفين لا ينكره إلا مخذول أو مبتدع خارج عن جماعة المسلمين أهل الفقه والأثر لا خلاف بينهم في ذلك بالحجاز والعراق والشام وسائر البلدان</p>
<p>“Dalam masalah hukum ada yang membedakan antara ahlus sunnah dan ahlul bidah, yaitu mengusap khuf. Tidaklah didapati pengingkaran dalam masalah ini kecuali dari orang yang bodoh dan dari kalangan ahlul bid’ah yang keluar dari jamaah kaum muslimin dari kalangan fuqaha dan ahli atsar. Tidak ada perselisihan di antara para ulama baik di negeri Hijaz, Iraq, Syam dan semua negeri.”[7]</p>
<p><strong>Ijma’ Ulama Ahlus Sunnah dan Para Sahabat Mengenai Mengusap Khuf</strong></p>
<p>Imam Ahmad rahimahullah berkata,</p>
<p>لَيْسَ فِيْ قَلْبِيْ مِنَ الْمَسْحِ شَيْءٌ, فِيْهِ أَرْبَعُوْنَ حَدِيْثًا عَنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم , مَا رَفَعُوْا إِلَى النَّبِيِّ وَمَا وَقَفُوْا</p>
<p>“Tidak ada dalam hatiku (keraguan) sedikitpun tentang mengusap (khuf). Ada empat puluh hadits dari para sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang membahas hal ini. Ada yang marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan ada yang mauquf (sampai para sahabat).”[8]</p>
<p>Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,</p>
<p>حَدَّثَنِيْ سَبْعُوْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم, أَنَّهُ مَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ</p>
<p>“Telah menceritakan kepadaku tujuh puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwasanya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengusap kedua khuf.”[9]</p>
<p><strong>Cara Mengusap Khuf Ala Syi’ah</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu berkata,</p>
<p>والرَّافضة يخالفون الحقَّ فيما يتعلَّق بطهارة الرِّجل من وجوه ثلاثة: الأول: أنهم لا يغسلون الرِّجل، بل يمسحونها مسحاً. الثاني: أنهم ينتهون بالتطهير عند العظم الناتئ في ظهر القدم فقط. الثالث: أنهم لا يمسحون على الخُفين، ويرون أنه محرَّم، مع العلم أنَّ ممن روى المسحَ على الخُفين عليَّ بن أبي طالب رضي الله عنه وهو عندهم إمام الأئم</p>
<p>“Rafidhah (baca: Syi’ah) menyelisihi kebenaran yang berkaitan dengan cara bersuci pada kaki dalam tiga hal:</p>
<p>1. Mereka tidak mencuci kaki mereka ketika berwudhu, tetapi mereka mengusapnya.[10]</p>
<p>2. Mereka mengusap kaki mereka ketika wudhu tidak sampai ke kedua mata kaki tetapi hanya sampai ke punggung kaki.</p>
<p>3. Mereka tidak mengusap kedua khuf, mereka memandang bahwa hal itu adalah haram, padahal mereka tahu bahwa salah seorang dari para sahabat yang meriwayatkan masalah mengusap khuf adalah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu. Padahal ‘Ali radhiyallahu &#8216;anhu menurut mereka adalah imamnya para imam.”[11]</p>
<p>Dalil Syi’ah Rafidhah sebagaimana dijelaskan,</p>
<p>متمسكين بقراءة الجر من {و أرجلكم} لآن الأية ناسخة للأحاديث عندهم</p>
<p>“Mereka berpegang kepada qira&#8217;ah jarr dari lafaz &#8216;wa arjulikum&#8217;, sehingga menurut pendapat mereka, lafazh ayat ini menghapus semua hadits yang menjelaskan mengusap sepatu.”[12]</p>
<p>Maka bantahannya bahwa memang bisa dibaca jarr. Akan tetapi hal ini berlaku pada keadaan mengusap khuf bukan saat mencuci kaki. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin sebelumnya.</p>
<p>Jika sekedar mengusap punggung kaki (saat tidak mengenakan khuf, ed), maka tumit tidak terkena air dan hal ini dicela oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dari Abdullah bin Amr berkata,</p>
<p>تَخَلَّفَ عَنَّا رَسُوْلُ اللهِ فِيْ سَفَرٍ سَفَرْنَاهُ، فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقَتْنَا الصَّلاَةُ، صَلاَةُ الْعَصْرِ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ، فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا، فَنَادَاناَ بِأَعْلَى صَوْتِهِ :&#8221; وَيْلُ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ&#8221;</p>
<p>&#8220;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketinggalan dari kami dalam suatu safar yang kami bersafar bersama beliau, lalu (setelah menyusul kami) beliau mendapati kami (dan ketika itu) telah datang waktu sholat yaitu shalat asar- kami sedang berwudhu, maka kami mengusap kaki-kaki kami. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berteriak kepada kami dengan suaranya yang keras &#8220;Celakalah tumit-tumit (yang tidak terkena air wudhu) dengan ancaman neraka&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dan sekedar mengusap punggung kaki bertentangan dengan sunnah menyela-nyela jari ketika berwudhu. Dari Laqith bin Sabrah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>أَسْبِغِ الْوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِيْ الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا</p>
<p>&#8220;Sempurnahkanlah wudhu dan sela-selalah jari-jari dan bersungguh-sungguhlah ketika beristinsyaq (memasukkan air dalam hidung, ed) kecuali jika engkau sedang berpuasa&#8221; (Diriwayatkan oleh lima imam, dishahihkan oleh Tirmidzi).</p>
<p><em>Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walhamdulillahi robbil ‘alamin.</em></p>
<p>Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid</p>
<p>4 Jumadal Ula 1433 H, bertepatan dengan 27 Maret 2012</p>
<p>Penyusun: <a href="http://muslimafiyah.com">Raehanul Bahraen</a></p>
<p>Editor: <a href="http://rumaysho.com">M. Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p>[1] Syarhul Mumti’ 1/113, Maktabah Jundul Afkar, cet. I, Koiro</p>
<p>[2] Mulakkhas Fiqhiyah 1/32, Darul Aqidah, Iskandariyah, cet. I, 1430 H</p>
<p>[3] Syarhul Mumti’ 1/109</p>
<p>[4] Taisirul Allam 1/45, Daru Aqidah, Koiro, cet. I, 1422 H</p>
<p>[5] Ihkamul Ahkam 1/113, Mathba’ah As-sunnah Al-Muhammadiyah, Syamilah</p>
<p>[6] Syarhul Mumti’ 1/113]</p>
<p>[7] At-Tamhid lima fil muwattha’ 11/134, Wizarah Umum Al-Auqaf, Maroko, 1387 H, Syamilah</p>
<p>[8] Al-Mugni 1/361, Darul Fikr, Beirut, cet. I, 1405 H, Syamilah</p>
<p>[9] Al-Ausath 1/433, Dar Thaiyyah, Riyadh, cet. I, 1405 H, Syamilah</p>
<p>[10] Beda mengusap (mash) dan mencuci (ghosl): Mencuci (ghosl) mesti dengan mengalirkan air, sedangkan mengusap (mash) cukup dengan tangan dibasahi lalu diusaplah bagian yang ingin diusap. (ed)</p>
<p>[11] Syarhul Mumti’ 1/97</p>
<p>[12] Taisirul Allam 1/45, Darul Aqidah, Koiro, cet. I, 1422 H</p>
<div class="shr-publisher-8797"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fmengusap-khuf-ala-syi%25e2%2580%2599ah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mengusap-khuf-ala-syi%e2%80%99ah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kafirnya Orang yang Mencela Sahabat Nabi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kafirnya-orang-yang-mencela-sahabat-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kafirnya-orang-yang-mencela-sahabat-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 06:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mencela]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rafidhah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8792</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita melihat tindak tanduk Rafidhah (baca: Syi’ah), mereka tidaklah lepas dari mencela sahabat. Ulama-ulama mereka tidak segan-segan mengatakan bahwa ‘Aisyah –istri tercinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam- itu kafir dan pantas menempati neraka. Banyak<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/kafirnya-orang-yang-mencela-sahabat-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Kalau kita melihat tindak tanduk Rafidhah (baca: Syi’ah), mereka tidaklah lepas dari mencela sahabat. Ulama-ulama mereka tidak segan-segan mengatakan bahwa ‘Aisyah –istri tercinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam- itu kafir dan pantas menempati neraka. Banyak literatur Syi’ah yang menyebutkan ajaran demikian, bukan hanya satu atau dua pernyataan, bahkan sudah menjadi ajaran pokok mereka. Tulisan kali ini akan menunjukkan bagaimana pujian Allah pada mereka, sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Juga akan dijelaskan pula mengenai kafirnya orang yang mencela sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>Merenungkan Sifat Mulia Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</strong></p>
<p>Sifat mulia para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, termaktub dalam ayat berikut setelah Allah memuji Rasul-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</p>
<p>“<em>Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar</em>” (QS. Al Fath: 29).</p>
<p>Mula-mula ayat ini berisi pujian Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak disangsikan lagi adalah benar. Lalu beliau dipuji sebagai utusan Allah, di mana pujian ini mencakup semua sifat yang mulia. Kemudian setelah itu, barulah datang pujian kepada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa saja pujian bagi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Mereka keras terhadap orang kafir namun begitu penyayang terhadap sesama mereka yang beriman sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas,</p>
<p>وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ</p>
<p>“Dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”</p>
<p>Pujian seperti itu terdapat pula dalam ayat lainnya,</p>
<p>فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ</p>
<p>“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir” (QS. Al Maidah: 54).</p>
<p>Inilah sifat yang semestinya dimiliki oleh orang beriman. Mereka keras dan berlepas diri dari orang kafir dan mereka berbuat baik terhadap orang-orang beriman. Mereka bermuka masam di depan orang kafir dan bermuka ceria di hadapan saudara mereka yang beriman. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa” (QS. At Taubah: 123).</p>
<p>Dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى</p>
<p>“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR. Muslim no. 2586).</p>
<p>Dari Abu Musa, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا</p>
<p>“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan satu dan lainnya” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585).</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Para sahabat nabi adalah orang yang gemar beramal sholeh, juga memperbanyak shalat dan shalat adalah sebaik-baik amalan</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Mereka dikenal ikhlas dalam beramal dan selalu mengharapkan pahala di sisi Allah, yaitu balasan surga.</p>
<p>Kedua sifat ini disebutkan dalam ayat di atas,</p>
<p>تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا</p>
<p>“Kamu lihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya”</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Mereka terkenal khusyu’ dan tawadhu’. Itulah yang disebutkan dalam ayat,</p>
<p>سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ</p>
<p>“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”.</p>
<p>Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tanda yang baik. Mujahid dan ulama tafsir lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah khusyu’ dan tawadhu’.</p>
<p>Ulama pakar tafsir lainnya, yaitu As Sudi berkata bahwa yang dimaksud adalah shalat telah membaguskan wajah mereka.</p>
<p>Sebagian salaf berkata,</p>
<p>من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار</p>
<p>“Siapa yang banyak shalatnya di malam hari, maka akan berserilah wajahnya di siang hari.”</p>
<p>Sebagian mereka pula berkata,</p>
<p>إن للحسنة نورا في القلب، وضياء في الوجه، وسعة في الرزق، ومحبة في قلوب الناس.</p>
<p>“Setiap kebaikan akan memancarkan cahaya di hati dan menampakkan sinar di wajah, begitu pula akan melampangkan rizki dan semakin membuat hati manusia tertarik padanya.”</p>
<p>Karena baiknya hati, hal itu akan dibuktikan dalam amalan lahiriyah. Sebagaimana kata ‘Umar bin Al Khottob,</p>
<p>من أصلح سريرته أصلح الله علانيته.</p>
<p>“Siapa yang baik hatinya, maka Allah pun akan memperbaiki lahiriyahnya.”</p>
<p>Para sahabat radhiyallahu ‘anhum, niat mereka dan amal baik mereka adalah murni hanya untuk Allah. Sehingga siapa saja yang memandang mereka, maka akan terheran dengan tanda kebaikan dan jalan hidup mereka. Demikian kata Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya.</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Para sahabat dipuji oleh umat sebelum Islam dan mereka adalah sebaik-baik umat.</p>
<p>Imam Malik rahimahullah berkata bahwa telah sampai pada beliau, jika kaum Nashoro melihat para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menaklukkan Syam, mereka berkata, “Demi Allah, mereka sungguh lebih baik dari Hawariyyin (pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam), sebagaimana yang sampai pada kami.” Kaum Nashrani telah membenarkan hal ini. Ini menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang dalam anggapan umat-umat sebelum Islam sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka. Dan umat Islam yang paling mulia dan utama adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu dalam ayat yang kita bahas di atas disebutkan,</p>
<p>ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ</p>
<p>“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.”</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Demikianlah sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menguatkan, mendukung dan menolong Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga mereka selalu bersamanya sebagaimana tunas yang selalu menyertai tanaman”. Tunas itulah ibarat para sahabat dan tanaman itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panutan mereka.</p>
<p><strong>Kafirnya Orang yang Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</strong></p>
<p>Setelah disebutkan sifat-sifat mulai para sahabat, kemudian Allah menyebutkan sifat mereka yang selalu menolong Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana halnya tunas pada tanaman, lalu disebutkan,</p>
<p>يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ</p>
<p>“Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir”.</p>
<p>Sebagaimana dalam salah satu riwayat dari Imam Malik rahimahullah, beliau mengkafirkan Rafidhah (Syi’ah) di mana mereka menaruh kebencian pada para sahabat. Imam Malik berkata,</p>
<p>لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية</p>
<p><em>“Karena para sahabat membuat hari mereka jengkel. Dan siapa yang jengkel (murka) pada para sahabat, maka ia <strong>kafir </strong>berdasarkan ayat ini.”</em></p>
<p>Sekelompok ulama sependapat dengan Imam Malik dalam hall ini. Juga banyak hadits yang menunjukkan keutamaan para sahabat dan larangan mencela mereka sebagai pendukung. Cukup dengan pujian dan ridho Allah atas mereka sebagaimana terbukti dalam ayat ini.</p>
<p><strong>Bukti dari Literatur Syi’ah Mengenai Celaan pada Para Sahabat</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>Salah satu buku induk ajaran Syi’ah yaitu karangan ulama besar mereka, Al Kulaini menyebutkan riwayat dari Ja’far ‘alaihis salam, “Manusia (para sahabat) telah murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali tiga orang.” Aku berkata, “Siapa saja tiga orang tersebut?” Disebutkan, “Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan Salman Al Farisi”. (Furu’ Al Kaafi, Al Kulaini, hal. 115)</p>
<p>***</p>
<p>Lihatlah bagaimana tujuan keji Syi’ah yang bukan hanya mencela, namun menganggap murtad para sahabat yang mulia kecuali tiga sahabat di atas.</p>
<p><strong>[2] </strong>Al Majlisi menyebutkan dalam kitabnya bahwa bekas budak ‘Ali bin Husain. Di mana ia pernah bersama ‘Ali bin Husain. Lalu bekas budaknya ini berkata pada ‘Ali bin Husain, “Engkau punya kewajiban untuk memberitahukanku mengenai dua orang pria yaitu Abu Bakr dan ‘Umar.” ‘Ali bin Husain berkata, “Mereka berdua itu kafir. Dan siapa saja yang mencintai keduanya, maka ia juga ikut kafir.” (Baharul Anwar, Al Majlisi, 29: 137)</p>
<p>***</p>
<p>Perlu diketahui bahwa sebenarnya ‘Ali bin Husain dan ahlul bait tidaklah seperti yang diceritakan di atas. Mereka sebenarnya berlepas diri dari kebiadaban dan tuduhan keji orang-orang Syi’ah. Dan ini jadi bukti bagaimana bencinya orang Syi’ah pada dua sahabat yang mulia yaitu Abu Bakr dan ‘Umar. Padahal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memuji Abu Bakr dengan julukan shiddiq (orang yang paling membenarkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan menyebut ‘Umar dengan syuhada’.</p>
<p>Dari Anas bin Malik radhiallahu &#8216;anhu bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan &#8216;Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,</p>
<p>اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِىٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ</p>
<p>“Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada&#8217; (‘Umar dan ‘Utsman)” (HR. Bukhari no. 3675).</p>
<p><strong>[3]</strong> Ulama pakar tafsir di kalangan Syi’ah yaitu Al Qummi berkata mengenai firman Allah Ta’ala,</p>
<p>وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ</p>
<p>“Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan” (QS. An Nahl: 90). Namun lihatlah bagaimana tafsiran Al Qummi mengenai ayat ini. Ia berkata, “Fahsya’ adalah Abu Bakr, munkar adalah ‘Umar (bin Khottob), dan baghyu adalah ‘Utsman (bin ‘Affan).” (Tafsir Al Qummi, 1: 390)</p>
<p>***</p>
<p>Jika ulama Syi’ah saja mencela seperti ini, bagaimana lagi dengan pengikutnya?</p>
<p><strong>[4] </strong>Yusuf Al Jaroni dalam kitabnya menyebutkan bahwa ‘Aisyah telah murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana murtadnya sahabat Al Jamm Al Ghofir (Asy Syihab Ats Tsaqib fii Bayani Ma’na An Nashib, Yusuf Al Jaroni, hal. 236).</p>
<p><strong>[5] </strong>Dalam buku Syi’ah, mereka menuduh ‘Aisyah telah berzina. Mengenai firman Allah Ta’ala yang sebenarnya mensucikan ‘Aisyah dari tuduhan zina yaitu pada surat An Nuur,</p>
<p>أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ</p>
<p>“Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)” (QS. An Nuur: 26). Kata mereka, ayat ini yang dimaksud adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada istrinya ‘Aisyah. (Ash Shiroth Al Mustaqim, Zainuddin An Nabathi Al Bayadhi, 3: 165)</p>
<p>***</p>
<p>Bagaimana mungkin ‘Aisyah dituduh berzina, sedangkan dalam surat An Nuur sebelumnya disebutkan,</p>
<p>الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ</p>
<p>“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (QS. An Nuur: 26).</p>
<p>Bagaimana pula ‘Aisyah itu murtad dan berbuat zina, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu menaruh hati pada ‘Aisyah. Lihatlah bagaimana ungkapan cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada istrinya tercinta.</p>
<p>قَالَتْ عَائِشَةُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم كُنْتُ لَكِ كَأِبي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ</p>
<p>‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bagimu seperti sayangnya Abu Zar’ pada Ummu Zar’. (HR. Bukhari no. 5189 dan Muslim no. 2448).</p>
<p>Dalam riwayat lain, A’isyah berkata,</p>
<p>يَا رَسُوْلَ اللهِ بَلْ أَنْتَ خَيْرٌ إِلَيَّ مِنْ أَبِي زَرْعٍ</p>
<p>“Wahai Rasulullah, bahkan engkau lebih baik kepadaku daripada Abu Zar’” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubro 5: 358, no. 9139)</p>
<p><strong>Pujian Tinggi pada Para Sahabat</strong></p>
<p>Di akhir ayat, Allah menyebutkan pujian tinggi pada para sahabat,</p>
<p>وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</p>
<p>“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.</p>
<p>Siapa saja yang mengikuti para sahabat dalam sifat mulia mereka, ia akan mendapatkan keutamaan demikian.</p>
<p><em>Ya Allah, berilah kami petunjuk untuk mengikuti jejak mulia para sahabat dan moga kami menjadi orang-orang yang mencintai mereka.</em></p>
<p>Kami tutup tulisan ini dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p>لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ</p>
<p>“<em>Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka itu tidak bisa menandingi satu mud infak sahabat, bahkan tidak pula separuhnya</em>” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540).</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H, 13: 132-135.<br />
Man Hum Asy Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi, dd-sunnah.net, cetakan pertama, 1428 H.<br />
Min ‘Aqoidi Asy Syi’ah, ‘Abdullah bin Muhammad As Salafi (dengan muqoddimah: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz), dd-sunnah.net, cetakan ketiga, 1428 H.</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 27 Rabi’uts Tsani 1433 H<br />
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8792"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkafirnya-orang-yang-mencela-sahabat-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kafirnya-orang-yang-mencela-sahabat-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ahli Bait, Bukan Sekedar Pengakuan</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/ahli-bait-bukan-sekedar-pengakuan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/ahli-bait-bukan-sekedar-pengakuan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 23:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlul bait]]></category>
		<category><![CDATA[rafidhah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8782</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua sebab yang mendorong kami menulis artikel ringkas mengenai ahli bait. Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan kepada umatnya untuk berlaku baik kepada ahli bait beliau dalam beberapa haditsnya. Kedua, adanya fenomena<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/ahli-bait-bukan-sekedar-pengakuan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Ada dua sebab yang mendorong kami menulis artikel ringkas mengenai ahli bait. Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan kepada umatnya untuk berlaku baik kepada ahli bait beliau dalam beberapa haditsnya. Kedua, adanya fenomena masyarakat yang telah menjurus pada sikap berlebih-lebihan kepada ahli bait. Di satu sisi, terdapat pihak yang mengagungkannya secara berlebihan, melebihi batas-batas yang diperkenankan syari’at. Di sisi lain, terdapat pihak yang tidak menghormati ahli bait dan mengingkari berbagai keutamaan yang mereka miliki.</p>
<p>Oleh karena itu, artikel ini berusaha menjelaskan secara ringkas, poin demi poin, beberapa permasalahan terkait ahli bait sehingga dapat diketahui bersama.</p>
<p><strong>Poin Pertama</strong><br />
Pendapat yang tepat mengenai definisi ahli bait yaitu pendapat yang menyatakan bahwa ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang diharamkan menerima zakat, yaitu para istri beliau dan keturunannya, dan setiap muslim dan muslimah dari keturunan Bani Hasyim bin Abdi Manaf, dari keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga ‘Abbas.</p>
<p>Pendapat ini telah mengompromikan seluruh dalil-dalil yang membicarakan definisi ahli bait. Dalil bagi pendapat ini diantaranya adalah hadits Zaid bin Arqam, dia berkata,<br />
قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فِينَا خَطِيبًا، بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَوَعَظَ وَذَكَّرَ، ثُمَّ قَالَ: &#8221; أَمَّا بَعْدُ، أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ، وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ &#8221; فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: «وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي» فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ: وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ؟ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ؟ قَالَ: نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ، قَالَ: وَمَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ، وَآلُ جَعْفَرٍ، وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ: كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ؟ قَالَ: نَعَمْ<br />
“<em>Pada satu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri dan berkhutbah di sebuah mata air yang disebut Khumm. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan kepada kami : “Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, bahwasannya aku hanyalah seorang manusia sama seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat maut) akan datang dan dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian dua hal yang berat, yaitu : Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur’an itu dan berpegangteguhlah kepadanya – beliau mendorong dan menghimbau pengamalan Al-Qur’an-. ; 2) Dan ahli baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku (beliau mengucapkan tiga kali)”. Husain berkata kepada Zaid : “Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?”. Zaid bin Arqam menjawab : “Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahli bait. Namun, ahli bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau”. Husain berkata : “Siapakah mereka itu ?”. Zaid menjawab : “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas”. Hushain berkata : “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?”. Zaid menjawab : “Ya</em>” [HR. Muslim no. 2408 dan Ibnu Khuzaimah no. 2357].</p>
<p>Disebutkan pula dalam hadits Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata,<br />
أنَّ خالد بنَ سعيد بعث إلى عائشةَ ببقرةٍ من الصَّدقةِ فردَّتْها، وقالت: إنَّا آلَ محمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لا تَحلُّ لنا الصَّدقة<br />
Khalid bin Sa’id pernah diutus untuk memberikan seekor sapi hasil zakat kepada ‘Aisyah, namun ia menolaknya seraya berkata : “<em>Sesungguhnya keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak dihalalkan menerima zakat</em>“ [HR. Ibnu Abi Syaibah 3/214 dengan sanad shahih].</p>
<p><strong>Poin kedua</strong><br />
Ahli bait memiliki keutamaan yang disebutkan dalam al-Quran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam al-Quran, dalam surat al-Ahzab ayat 33 Allah berfirman,<br />
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا<br />
“<em>Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya</em>”</p>
<p>Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu mengartikan ar-rijs dalam ayat tersebut dengan amal perbuatan syaithan yang tidak diridhai Allah. Sedangkan Qatadah menafsirkannya dengan as-suu (keburukan) [<em>Ma’alim at-Tanzil</em> 3/637].</p>
<p>Adapun hadits yang menceritakan keutamaan ahli bait diantaranya adalah hadits Zaid bin Arqam yang telah lalu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat untuk berlaku baik kepada mereka. Selain itu, cukuplah menunjukkan keutamaan mereka adalah disebutkannya lafadz ahli bait dalam shalawat yang senantiasa kita ucapkan di dalam shalat ketika bertasyahhud. Hal ini menunjukkan keutamaan mereka dalam agama ini sehingga syari’at mengkhususkan shalawat kepada mereka di setiap shalat yang kita kerjakan.</p>
<p>Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dalam <em>I’anah ath-Thalibin</em> 1/200 mengatakan,</p>
<p>يـــــا أهل بيت رســول الله حُبكم &#8230;.. فرضٌ من الله في القرآنِ أنزله<br />
يكفيكم من عظيم الفخـــر أنكم &#8230;.. من لم يصل عليكم لا صلاة له<br />
<em>Wahai ahli bait Rasulullah, mencintai kalian<br />
adalah kewajiban yang ditetapkan Allah di dalam al-Quran yang diturunkan-Nya<br />
Cukup bagi kalian dari kebanggaan terbesar yang ada<br />
bahwa orang yang tidak bershalawat kepada kalian (di dalam shalat), maka tidaklah sah shalatnya</em></p>
<p><em></em>Untuk mengetahui berbagai keutamaan yang dimiliki oleh ahli bait, baik yang diterangkan dalam al-Quran dan sunnah, pembaca dapat membaca kitab Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad <em>hafizhahullah</em> yang berjudul <em>Fadl Ahli al-Bait wa ‘Uluwwu Makanatihim ‘inda Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah</em>.</p>
<p><strong>Poin ketiga</strong><br />
Mencintai ahli bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan salah satu prinsip akidah ahlu as-sunnah. Sedangkan membenci ahli bait merupakan salah satu cabang kemunafikan.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman :<br />
ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ<br />
“<em>Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: &#8220;Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan&#8221;. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri</em>” [QS. Asy-Syuuraa : 23].</p>
<p>Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,<br />
وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي لِحُبِّي<br />
“<em>Dan cintailah ahli baitku karena kecintaan kepadaku</em>” [HR. Al-Hakim nomor 4716. Al Hakim mengatakan hadits ini shahih al-isnad dan disepakati oleh adz-Dzahabi].</p>
<p>Dari ‘Ali bin Abi Thalib, dia mengatakan,<br />
وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ، وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيَّ: «أَنْ لَا يُحِبَّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضَنِي إِلَّا مُنَافِقٌ»<br />
Dari ‘Aliy (bin Abi Thaalib) : “<em>Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berjanji kepadaku bahwasannya tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafiq</em>” [HR. Muslim nomor 78].</p>
<p>Imam Abu Bakr al-Ajurri al-Baghdadi mengatakan,<br />
وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ مَحَبَّةُ أَهْلِ بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَنُو هَاشِمٍ , عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ , وَفَاطِمَةُ وَوَلَدُهَا وَذُرِّيَّتُهَا , وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَأَوْلَادُهُمَا وَذُرِّيَّتُهَا , وَجَعْفَرٌ الطَّيَّارُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ , وَحَمْزَةُ وَوَلَدُهُ , وَالْعَبَّاسُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ</p>
<p>“Wajib bagi setiap mukmin dan mukminah mencintai ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah Bani Hasyim, ‘Ali bin Abi Thalib, termasuk anak dan keturunannya; Fathimah, termasuk anak dan keturunannya; al-Hasan dan al-Husain, termasuk anak dan keturunan keduanya; Ja’far ath-Thayyar, termasuk anak dan keturunannya; Hamzah, termasuk anak dan keturunannya; al-‘Abbas, termasuk anak dan keturunannya. Semoga Allah meridhai mereka.” [<em>Asy Syari’ah</em> 5/2276].</p>
<p><strong>Poin keempat</strong><br />
Tidak benar tuduhan bahwa para sahabat, khususnya Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma telah berlaku zhalim terhadap hak-hak ahli bait. Bahkan, kita temukan dalam kitab-kitab ulama yang menorehkan perkataan dan perbuatan mereka yang memuliakan ahli bait. Diantara mereka adalah:</p>
<p>a. Abu Bakr ash-Shiddiq <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Beliau berkata,<br />
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي<br />
“<em>Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.</em>” [HR. Bukhari nomor 3712 dan Muslim nomor 1759].</p>
<p>Beliau <em>radhiallahu ‘anhu</em> juga mengatakan,<br />
«ارْقُبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ»<br />
“<em>Jagalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap ahli baitnya</em>”[HR. Bukhari nomor 3713]. Maksudnya adalah menjaga beliau dengan tidak mencela dan menyakiti ahli bait.</p>
<p>b. Amir al-Mukminin, ‘Umar ibn al-Khaththab berkata kepada al-‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,<br />
وَاللهِ لَإِسْلاَمُكَ يَوْمَ أَسْلَمْتَ كَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ إِسْلاَمِ اْلخَطَّابِ – يَعْنِي وَالِدَهُ – لَوْ أَسْلَمَ ؛ لِأَنَّ إِسْلاَمَكَ كَانَ أَحَبَّ إِلَى رَسُوْلِ الله مِنْ إِسْلاَمِ اْلخَطَّابِ<br />
“Demi Allah, keislamanmu ketika engkau masuk Islam lebih aku sukai daripada Islamnya al-Khaththab- maksudnya adalah ayahnya- seandainya saja ia masuk Islam. Sesungguhnya keislamanmu lebih disukai oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wa salam- daripada keislaman al-Khaththab.” [Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat: 4/22].</p>
<p>c. Zaid ibn Tsabit radhallahu anhu. Dari asy-Sya’bi, dia mengatakan,<br />
صلى زيد بن ثابت رضي الله عنه على جنازة ، ثم قُرّب له بغلته ليركبها ، فجاء ابن عباس رضي الله عنهما فأخذ بركابه ، فقال زيد : خل عنك يا ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال هكذا نفعل بالعلماء ، فقبّل زيد يد ابن عباس وقال ، هكذا أُمِرْنا أن نفعل بأهل بيت نبينا<br />
Zaid ibn Tsabit radhiallahu ‘anhu menyalatkan suatu jenazah, kemudian keledainya didekatkan kepadanya untuk dinaiki. Tiba-tiba datang Ibnu Abbas radhallahu anhu yang langsung memegangi kekangnya (untuk mempersilakan Zaid). Maka Zaid berkata: ‘Biarkan wahai anak paman rasul shalallahu alaihi wa salam.’ Maka Ibnu Abbas berkata, ‘Beginilah kami diperintah untuk bersikap terhadap para ulama’. Maka Zaid mencium Ibnu Abbas dan berkata, ‘Beginilah kami diperintah untuk berbuat kepada ahli bait Nabi kami.’ [Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat 2/360].</p>
<p>d. Mu’awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiallahu ‘anhu</em>.<br />
Dalam al-Bidayah wa an-Nihayah 2/140, Ibnu Katsir membawakan suatu riwayat yang menceritakan bahwa suatu hari al-Hasan bin Ali radiallahu ‘anhu pernah masuk menemui Muawiyah <em>radhiallahu ‘anhu</em> dalam majlisnya. Maka Muawiyah -Radiallahu anhu- berkata kepadanya: “Selamat datang putera Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.” Kemudian Muawiyah -radhiallahu ‘anhu memerintahkan untuk memberi al-Hasan pemberian sebesar 300 ribu.</p>
<p>Dalam kitab yang sama 8/139 diceritakan bahwa al-Hasan dan al-Husain radhiallahu ‘anhuma menemui Muawiyah radhiallahu ‘anhu sebagai utusan. lalu Muawiyah radhiallahu ‘anhu memberi mereka berdua hadiah sebesar 200 ribu. Muawiyah radhiallahu anhu berkata kepada keduanya “Tidak ada yang pernah memberi sebesar itu kepada keduanya sebelumku.” Maka al-Husain berkata: “Dan engkau tidak pernah memberi kepada seseorang yang lebih baik dari kami.”</p>
<p><strong>Poin kelima</strong><br />
Salah satu hak ahli bait adalah hak memperoleh khumus (seperlima) dari harta ghanimah dan fai’ sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya,<br />
مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأغْنِيَاءِ مِنْكُمْ<br />
“<em>Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu</em>” [QS. Al-Hasyr : 7].</p>
<p>Allah ta’ala juga berfirman,<br />
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ<br />
“<em>Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu as-sabil…..</em>” [QS. Al-Anfaal : 41].</p>
<p>Sebagian kalangan menyatakan bahwa selain diambil dari kaum kafir, khumus juga diambil dari harta-harta kaum muslimin, padahal dengan jelas Allah menyatakan bahwa khumus hanya diambil dari ghanimah dan fai’. Imam al-Baghawi mengatakan,<br />
قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَا أَفاءَ اللَّهُ عَلى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرى، يَعْنِي مِنْ أَمْوَالِ كُفَّارِ أَهْلِ الْقُرَى، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هِيَ قُرَيْظَةُ وَالنَّضِيرُ وَفَدَكُ وَخَيْبَرُ وَقُرَى عُرَيْنَةَ<br />
“Firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), ‘Apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota’ maksudnya adalah harta dari kaum kafir yang ada di kota. Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Kota-kota itu adalah Quraizhah, an-Nadhir, Fadak, Khaibar dan ‘Urainah.” [<em>Ma’alim at-Tanzil</em> 5/56].<br />
Tidak jarang umat Islam tertipu dan menyerahkan harta mereka dikarenakan klaim-klaim dusta yang mengatasnamakan ahli bait.</p>
<p><strong>Poin keenam</strong><br />
Pengakuan seseorang bahwa dirinya termasuk keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ada bukti yang jelas merupakan salah satu dosa besar. Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad <em>hafizhahulah</em> dalam <em>Fadhlu Ahli al-Bait</em> hlm. 82-83 mengatakan,<br />
أشرفُ الأنساب نسَبُ نبيِّنا محمد صلى الله عليه وسلم، وأشرف انتسابٍ ما كان إليه صلى الله عليه وسلم وإلى أهل بيتِه إذا كان الانتسابُ صحيحاً، وقد كثُرَ في العرب والعجم الانتماءُ إلى هذا النَّسب، فمَن كان من أهل هذا البيت وهو مؤمنٌ، فقد جمَع الله له بين شرف الإيمان وشرف النَّسب، ومَن ادَّعى هذا النَّسبَ الشريف وهو ليس من أهله فقد ارتكب أمراً محرَّماً، وهو متشبِّعٌ بِما لَم يُعط،<br />
وقد قال النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ((المتشبِّعُ بِما لَم يُعْطَ كلابس ثوبَي زور))، رواه مسلمٌ في صحيحه (2129) من حديث عائشة رضي الله عنها.<br />
وقد جاء في الأحاديث الصحيحة تحريمُ انتساب المرء إلى غير نسبِه، ومِمَّا ورد في ذلك حديثُ أبي ذر رضي الله عنه أنَّه سَمع النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يقول: ((ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري.<br />
“Nasab termulia adalah nasab Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan penisbatan termulia adalah penisbatan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada ahli bait beliau, jika penisbatan tersebut benar adanya. Telah banyak terjadi di negeri Arab dan selainnya, penisbatan kepada nasab yang mulia ini. Barangsiapa yang memang termasuk ahli bait dan dia mukmin, maka sungguh Allah telah mengumpulkan baginya antara kemuliaan iman dan kemuliaan nasab. Namun, barangsiapa yang mengklaim nasab yang mulia ini sedangkan dirinya bukanlah bagian darinya, maka sungguh dia telah melakukan tindakan yang haram dan termasuk orang yang berperilaku dusta terhadap sesuatu yang tidak dimiliki.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang (berpura-pura) berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian palsu (kedustaan)” [HR. Muslim nomor 2129 dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha].</p>
<p>Terdapat dalam berbagai hadits yang shahih haramnya penisbatan diri seseorang kepada selain nasabnya. Diantaranya adalah hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya dia mendengar Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Tidak seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau orang itu bukan ayahnya), melainkan telah kufur kepada Allah. Barangsiapa yang mengaku-ngaku keturunan sebuah kaum, padahal dia tidak bernasab kepada mereka, maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka</em>” [HR. Bukhari nomor 3508 dan Muslim nomor 112. Lafadz hadits tersebut milik Bukhari].</p>
<p>Teramat disayangkan, fenomena ini banyak juga terjadi di negeri kita. <em>Wallahul musta’an</em>.</p>
<p><strong>Poin ketujuh</strong><br />
Suatu tindakan yang baik jika kalangan ahli bait menjaga kemurnian nasab mereka, yaitu dengan hanya menikah dengan sesama keturunan ahli bait. Akan tetapi yang keliru adalah ketika melarang wanita keturunan ahli bait untuk menikah dengan seorang pria yang memiliki agama dan akhlak yang baik, hingga wanita tersebut menjadi ‘perawan tua’ dengan alasan pria itu bukan keturunan ahli bait. Hal ini jelas bertentangan dengan penghulu ahli bait, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,<br />
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ<br />
“<em>Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.</em>” [HR. at-Tirmidzi nomor 1084. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah nomor 1022].</p>
<p>Demikian pula hal ini bertentangan dengan tindakan Amir al-Mukminin, ‘Ali radhiallahu ;anhu yang menikahkan anak perempuannya, Ummu Kultsum dengan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma yang sama sekali bukanlah keturunan ahli bait.</p>
<p><strong>Poin kedelapan</strong><br />
Salah satu akidah ahlu as-sunnah adalah meyakini bahwa ahli bait tidaklah ma’shum. Penghulu para ahli bait, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah keliru hingga ditegur oleh Allah ta’ala. (lihat surat ‘Abasa 1-10). Bahkan secara tegas Nabi menyatakan bahwa setiap manusia tidak terlepas dari kekeliruan. Dalam haditsnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ<br />
“<em>Setiap anak Adam pasti pernah bersalah dan sebaik-baik orang-orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat</em>” [Hasan. HR. Ibnu Majah nomor 4251].</p>
<p>Jika demikian keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka yang kedudukannya di bawah beliau, meski termasuk ahli bait lebih bisa melakukan kesalahan.</p>
<p>Akidah ini tidaklah sejalan dengan klaim sebagian kalangan yang menyatakan kema’shuman ahli bait, itupun dengan pengertian yang ghuluw, yaitu mereka ahli bait terlepas dari segala kesalahan, baik yang besar maupun yang kecil, serta terbebas dari lupa.<br />
Jika kita memperhatikan firman Allah di surat al-Ahzab ayat 33, dimana Allah berfirman, وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا<br />
“dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”, kita dapat bertanya, jika sekiranya mereka ma’shum mengapa Allah mesti mensucikan mereka?!</p>
<p><strong>Poin kesembilan</strong><br />
Salah satu poin yang patut diperhatikan pula adalah kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah ta’ala dan menjamin keselamatannya di akhirat, karena hanya ketakwaanlah yang mampu meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,<br />
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ<br />
“<em>Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu</em>” [QS. Al-Hujuraat : 13].</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<br />
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَباكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بالتَّقْوَى، أَبلَّغْتُ؟ &#8220;، قَالُوا: بلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ<br />
“<em>Wahai sekalian manusia, ingatlah bahwa Rabb kalian itu satu, dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang ‘Arab atas orang ‘Ajam (non-‘Arab), tidak pula orang ‘Ajam atas orang ‘Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketaqwaan. Apakah aku telah menyampaikannya ?”. Mereka menjawab : “Rasulullah telah menyampaikannya…..</em>” [Shahih. HR. Ahmad nomor 23489].</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,<br />
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ<br />
“<em>Barangsiapa yang lambat amalnya maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya</em>”[HR. Muslim nomor 2699].</p>
<p>Bagaimana bisa dibenarkan jika seseorang membangga-banggakan dirinya termasuk keturunan ahli bait sedangkan dirinya bergelimang dalam kemaksiatan, bergelimang dalam kemungkaran, kesyirikan dan kebid’ahan sementara para pendahulu mereka yang shalih jauh dari hal tersebut?! Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<br />
يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ اللَّهِ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ اللَّهِ يَا أُمَّ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ اشْتَرِيَا أَنْفُسَكُمَا مِنْ اللَّهِ لَا أَمْلِكُ لَكُمَا مِنْ اللَّهِ شَيْئًا سَلَانِي مِنْ مَالِي مَا شِئْتُمَا<br />
“<em>Wahai Bani ‘Abdi Manaf, belilah diri-diri kalian dari adzab Allah !. Wahai Bani ‘Abdi al-Muthallib, belilah diri-diri kalian dari adzab Allah !. Wahai Ummu az-Zubair bin al-‘Awwam, bibi Rasulullah, wahai Fathimah bintu Muhammad, belilah diri kalian dari adzab Allah. Aku tidak berkuasa melindungi diri kalian dari murka Allah. Mintalah kepadaku harta sesuka kalian</em>” [HR. Bukhari nomor 3527].</p>
<p><strong>Poin kesepuluh</strong><br />
Kecintaan kepada ahli bait haruslah sesuai dengan batasan-batasan yang ditetapkan syari’at. ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib pernah, salah seorang ulama ahli bait berkata,<br />
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَحِبُّونَا حُبَّ الإِسْلامِ، فَمَا بَرِحَ بِنَا حُبُّكُمْ حَتَّى صَارَ عَلَيْنَا عَارًا &#8221;<br />
“<em>Wahai sekalian manusia, cintailah kami dengan kecintaan Islam. Kecintaan kalian kepada kami senantiasa ada hingga kemudian malah menjadi aib bagi kami</em>” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam <em>ath-Thabaqaat</em>, 5/110].</p>
<p>Al Hasan bin al-Hasan pernah berkata kepada seorang yang berbuat ghuluw kepada ahli bait,<br />
وَيْحَكَ، أَحِبُّونَا لِلَّهِ، فَإِنْ أَطَعْنَا اللَّهَ فَأَحِبُّونَا، وَإِنْ عَصَيْنَا اللَّهَ فَأَبْغِضَونَا، وَلَوْ كَانَ اللَّهُ نَافِعًا أَحَدًا بِقَرَابَةٍ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغَيْرِ طَاعَةٍ لَنَفَعَ بِذَلِكَ أَبَاهُ وَأُمَّهُ، قُولُوا فِينَا الْحَقَّ، فَإِنَّهُ أَبْلَغُ فِيمَا تُرِيدُونَ، وَنَحْنُ نَرْضَى مِنْكُمْ<br />
“Celaka anda. Cintailah kami karena Allah. Jika kami menaati Allah, maka cintailah kami. Jika kami mendurhakai-Nya, maka bencilah kami. Jika sekiranya Allah memberikan manfaat kepada seseorang tanpa dia melakukan ketaatan sama sekali dikarenakan kekerabatannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentulah kekerabatan itu bermanfaat bagi ayah dan ibu beliau. Katakanlah perkataan yang benar mengenai kami, karena sesungguhnya hal itu lebih sesuai dengan yang kalian inginkan dan kamipun akan meridhai kalian akan hal itu.”[<em>Syarh Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah</em> 8/1483].</p>
<p>Oleh karena itu, kecintaan kepada ahli bait tidak serta-merta menjadikan kita mengagung-agungkan ahli bait di luar koridor yang dibenarkan syari’at, atau mengkultuskan meski mereka menyelisihi ajaran syari’at.</p>
<p>Lebih utama dari beliau, adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau merupakan pribadi yang paling jauh dari sifat gemar dipuji, apalagi diagung-agungkan dan dikultuskan.</p>
<p>Dari Mutharrif, ia berkata,<br />
قَالَ أَبِي: &#8221; انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: أَنْتَ سَيِّدُنَا، فَقَالَ: السَّيِّدُ اللَّهُ، قُلْنَا: وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا، فَقَالَ: قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ<br />
Ayahku telah berkata, “Aku pernah pergi menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam rombongan utusan Bani ‘Amir. Kami berkata, “Engkau adalah sayyid kami”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “As Sayyid itu hanyalah Allah”. Kami berkata, “Kami hanyalah ingin mengutamakan dan mengagungkan orang yang memang punya keutamaan”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah dengan ucapan kalian seperti biasa atau sebagian ucapanmu itu. Namun janganlah sampai kalian jadikan syaithan sebagai penolongnya” [Shahih. HR. Abu Daawud nomor 4806].</p>
<p>Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dia berkata,<br />
مَا كَانَ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ رُؤْيَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا إِلَيْهِ، لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ<br />
“Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para shahabat) cintai saat melihatnya daripada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena tahu kebencian beliau atas hal itu” [Shahih. HR. Bukhari dalam Adab al-Mufrad nomor 946].</p>
<p>Inilah contoh praktek kecintaan kepada ahli bait yang dibenarkan oleh Islam, tidak seperti praktek-praktek yang dilakukan sebagian kalangan yang mengaku muslim. Dengan klaim sebagai wujud kecintaan kepada ahli bait, mereka berkabung, meratap, dan menyiksa diri setiap hari ‘Asyura, padahal kesemuanya itu dilarang dalam agama yang mulia ini.</p>
<p><strong>Poin kesebelas</strong><br />
Muncul pertanyaan, bagaimana kita berinteraksi dengan ahli bait yang bermaksiat? Kita berinteraksi dengan mereka sebagaimana kita berinteraksi dengan muslim yang lain. Kita menasehati mereka dan membenci perbuatan mereka yang menyelisihi syari’at.<br />
Imam al-Ajurri mengatakan,<br />
هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَاجِبٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ مَحَبَّتُهُمْ وَإِكْرَامُهُمْ وَاحْتِمَالُهُمْ وَحُسْنُ مُدَارَاتِهِمْ , وَالصَّبْرُ عَلَيْهِمْ , وَالدُّعَاءُ لَهُمْ , فَمَنْ أَحْسَنُ مِنْ أَوْلَادِهِمْ وَذَرَارِيِّهِمْ , فَقَدْ تَخَلَّقَ بِأَخْلَاقِ سَلَفِهِ الْكِرَامِ الْأَخْيَارِ الْأَبْرَارِ , وَمَنْ تَخَلَّقَ مِنْهُمْ بِمَا لَا يُحْسِنُ مِنَ الْأَخْلَاقِ , دُعِيَ لَهُ بِالصَّلَاحِ وَالصِّيَانَةِ وَالسَّلَامَةِ , وَعَاشَرَهُ أَهْلُ الْعَقْلِ وَالْأَدَبِ بِأَحْسَنِ الْمُعَاشَرَةِ وَقِيلَ لَهُ: نَحْنُ نُجِلُّكَ عَنْ أَنْ تَتَخَلَّقَ بِأَخْلَاقِ لَا تُشْبِهُ سَلَفَكَ الْكِرَامَ الْأَبْرَارَ , وَنَغَارُ لِمِثْلِكَ أَنْ يَتَخَلَّقَ بِمَا تَعْلَمُ أَنَّ سَلَفَكَ الْكِرَامَ الْأَبْرَارَ لَا يَرْضَوْنَ بِذَلِكَ , فَمِنْ مَحَبَّتِنَا لَكَ أَنْ نُحِبَّ لَكَ أَنْ تَتَخَلَّقَ بِمَا هُوَ أَشْبَهُ بِكَ , وَهِيَ الْأَخْلَاقُ الشَّرِيفَةُ الْكَرِيمَةُ , وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ لِذَلِكَ<br />
“Mereka itulah ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wajib bagi kaum muslimin mencintai, memuliakan, berbuat baik, bersabar atas mereka dan mendo’akan kebaikan bagi mereka. Barangsiapa diantara mereka, dari anak dan keturunan ahli bait yang bagus agamanya, maka dia telah berakhlak dengan akhlak pendahulunya yang mulia, yang terpilih lagi berbudi. Barangsiapa diantara mereka yang buruk akhlaknya, maka kebaikan, penjagaan dan keselamatan dido’akan baginya. Dan mereka yang berakal dan beradab hendaknya mempergauli mereka dengan baik seraya mengatakan kepadanya (ahli bait yang bermaksiat), “Kami ingin mensucikanmu agar engkau tidak berakhlak dengan akhlak yang tidak dimiliki oleh pendahulumu yang mulia dan berbudi. Kami cemburu kepada semisal dirimu jika berakhlak dengan akhlak yang engkau tahu bahwa pendahulumu yang mulia lagi berbudi tidak meridhainya. Dan termasuk kecintaan kami kepadamu, kami ingin agar engkau berakhlak dengan akhlak yang layak bagimu, yaitu akhlak yang agung dan mulia. Allah-lah yang mampu memberikan taufik.” [<em>Asy Syari’ah</em> 5/2276].</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> mengatakan,<br />
فأهل السنـــة يحبونهم ويحترمونهم ويكرمونهم؛لأن ذلك من احترام النبي صلى الله عليه وسلم وإكرامه ولأن الله ورسولــه أمــر بذلك،قال تعالى: {قل لا أسألُكم عليه أجراً إلا المودَّة في القُرْبى}،وجاءت نصوص من السنة بذلك،منها ما ذكر الشيخ.وذلك إذا كانوا متبعين للسنة مستقيمين على المِلّة،كما كان عليه سلفهم كالعباس وبنيه،وعليٍّ وبنيه.أما من خــالف السنة ولم يَستقِم على الدين فإنه لا تجوز محبته ولو كان من أهل البيت<br />
“Ahlu as-sunnah mencintai, menghormati dan memuliakan mereka (ahli bait), karena hal itu termasuk tindakan menghormati dan memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah dan rasul-Nya pun memerintahkan demikian. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan&#8221;. Berbagai nash dari hadits Nabi menyatakan hal tersebut, diantaranya telah disebutkan Syaikh. Hal ini berlaku jika mereka mengikuti sunnah dan istiqamah di atas agama sebagaimana pendahulu mereka seperti al-‘Abbas dan anaknya, ‘Ali dan anaknya. Adapun jika mereka menyelisihi sunnah dan tidak komitmen terhadap agama, maka tidak boleh mencintai mereka meski mereka ahli bait.” [<em>Syarh Aqidah al-Wasithiyah</em> hlm. 148].</p>
<p>اللهم اغفر لآل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعفوا عنهم وأصلح أحوالهم وسدد خطاهم ووفقهم لما تحب وترضي ونحن معهم وإخواننا المسلمين في كل مكان<br />
Ya Allah, ampunilah para ahli bait Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ampunilah mereka, perbaiki kondisi mereka, teguhkan langkah mereka, berikanlah taufik kepada mereka untuk mengerjakan apa yang Engkau cintai dan ridhai. Dan kami serta saudara kami kaum muslimin akan senantiasa bersama mereka.</p>
<p><strong>Cat: </strong><br />
Artikel ini banyak mengambil manfaat dari blog abuljauzaa.blogspot.com dan artikel Dr. ‘Abbas Rahim yang berjudul <em>Waqafaat Ma’a Ali al-Bait, Maa Lahum wa Maa ‘Alaihim</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://ikhwanmuslim.com">Muhammad Nur Ichwan Muslim</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8782"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fahli-bait-bukan-sekedar-pengakuan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/ahli-bait-bukan-sekedar-pengakuan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kemunculan Syi&#8217;ah</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/sejarah-kemunculan-syi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/sejarah-kemunculan-syi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 06:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[aliran sesat]]></category>
		<category><![CDATA[rafidhah]]></category>
		<category><![CDATA[sekte syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8770</guid>
		<description><![CDATA[Secara fisik, sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam terutama dari sisi akidah, perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan.. Syiah menurut etimologi bahasa<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/sejarah-kemunculan-syi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Secara fisik, sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam terutama dari sisi akidah, perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan..</p>
<p>Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut seseorang, selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul diatas suatu perkara. (<em>Tahdzibul Lughah</em>, 3/61 karya Azhari dan <em>Taajul Arus</em>, 5/405, karya Az-Zabidi)</p>
<p>Adapun menurut terminologi syariat, syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin, begitu pula sepeninggal beliau (<em>Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal</em> karya Ibnu Hazm)</p>
<p>Syiah mulai muncul setelah pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat islam bersatu, tidak ada perselisihan. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahana, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun berpecah-belah.</p>
<p>Pada masa kekhalifahan Ali juga muncul golongan syiah akan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka, mereka tidak menampakkannya kepada Ali dan para pengikutnya.</p>
<p>Saat itu mereka terbagi menjadi tiga golongan.</p>
<ol>
<li>Golongan yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Ketika mengetahui sekte ini Ali membakar mereka dan membuat parit-parit di depan pintu masjid Bani Kandah untuk membakar mereka. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali). Andaikan aku yang melakukannya aku tidak akan membakar mereka karena Nabi pernah melarang penyiksaan sebagaimana siksaan Allah (dibakar), akan tetapi aku pasti akan memenggal batang leher mereka, karena Nabi bersabda:<br />
من بدل دينه فاقتلوه<br />
“<em>Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia</em>“</li>
<li>Golongan <em>Sabbah</em> (pencela). Ali mendengar tentang Abu Sauda (Abdullah bin Saba’) bahwa ia pernah mencela Abu Bakar dan Umar, maka Ali mencarinya. Ada yang mengatakan bahwa Ali mencarinya untuk membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diri</li>
<li>Golongan <em>Mufadhdhilah</em>, yaitu mereka yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Padahal telah diriwayatkan secara <em>mutawatir</em> dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda,
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر</p>
<p>“<em>Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar</em>”.<br />
Riwayat semacam ini dibawakan oleh imam Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Muhammad bin Hanafiyyah bahwa ia bertanya kepada ayahnya, siapakah manusa terbaik setelah Rasulullah, ia menjawab Abu Bakar, kemudian siapa? dijawabnya, Umar.</li>
</ol>
<p>Dalam sejarah syiah mereka terpecah menjadi lima sekte yang utama yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat dan Ismailliyah. Dari kelima sekte tersebut lahir sekian banyak cabang-cabang sekte lainnya.</p>
<p>Dari lima sekte tersebut yang paling penting untuk diangkat adalah sekte imamiyyah atau rafidhah yang sejak dahulu hingga saat ini senantiasa berjuang keras untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, dengan berbagai cara kelompok ini terus berusaha menyebarkan berbagai macam kesesatannya, terlebih setelah berdirinya negara syiah, Iran yang menggulingkan rezim Syah Reza Pahlevi.</p>
<p>Rafidhah menurut bahasa arab bermakna meninggalkan, sedangkah dalam terminologi syariat bermakna mereka yang menolak kepemimpinan abu bakar dan umar, berlepas diri dari keduanya, mencela lagi menghina para sahabat nabi.</p>
<p>Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar.” (<em>ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul</em> hlm. 567, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)</p>
<p>Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (<em>Badzlul Majhud</em>, 1/86)</p>
<p>Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari berkata, “Tatkala Zaid bin ‘Ali muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka beliaupun mengatakan kepada mereka:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">رَفَضْتُمُوْنِي؟</p>
<p>“<em>Kalian tinggalkan aku?</em>”</p>
<p>Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “<em>Rafadhtumuunii</em>.” (<em>Maqalatul Islamiyyin</em>, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam <em>Majmu’ Fatawa</em> (13/36).</p>
<p>Pencetus paham syiah ini adalah seorang yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin saba’ al-himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.</p>
<p>Abdullah bin Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan, ia kemudian menggalang massa, mengumumkan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (menurut persangkaan mereka).</p>
<p>Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bin Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).</p>
<p>Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Ali yang mengetahui sikap berlebihan tersebut kemudian memerangi bahkan membakar mereka yang tidak mau bertaubat, sebagian dari mereka melarikan diri.</p>
<p>Abdullah bin Saba’, sang pendiri agama Syi’ah ini, adalah seorang agen Yahudi yang penuh makar lagi buruk. Ia disusupkan di tengah-tengah umat Islam oleh orang-orang Yahudi untuk merusak tatanan agama dan masyarakat muslim. Awal kemunculannya adalah akhir masa kepemimpinan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Kemudian berlanjut di masa kepemimpinan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah), ia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya aqidah sesat (bahkan kufur) yang ia tebarkan di tengah-tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Akibatnya, sang Khalifah terbunuh dalam keadaan terzalimi. Akibatnya pula, silang pendapat diantara para sahabat pun terjadi. (Lihat <em>Minhajus Sunnah</em> karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 8/479, <em>Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah</em> Ibnu Abil ‘Izz hlm. 490, dan <em>Kitab At-Tauhid</em> karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hlm. 123)</p>
<p>Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah, sekte syiah yang paling ringan kesalahannya.</p>
<p>[Disusun dari dari berbagai sumber, di antaranya kitab <em>Al-Furqon Bainal Haq Wal Batil</em> tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, judul bahasa indonesia “<em>Membedah Firqoh Sesat</em>” penerbit Al-Qowam]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penyusun: Satria Buana<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8770"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsejarah-kemunculan-syi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/sejarah-kemunculan-syi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syi’ah Mencela Ummul Mukminin, ‘Aisyah</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/syi%e2%80%99ah-mencela-ummul-mukminin-%e2%80%98aisyah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/syi%e2%80%99ah-mencela-ummul-mukminin-%e2%80%98aisyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 03:30:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[rafidhah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8759</guid>
		<description><![CDATA[Di antara bentuk kesesatan Syi’ah Rofidhoh adalah perbuatannya yang mencela bahkan menghina ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan perkataan atau perbuatan yang sangat keji dan munkar. Padahal ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merupakan Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/syi%e2%80%99ah-mencela-ummul-mukminin-%e2%80%98aisyah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Di antara bentuk kesesatan Syi’ah Rofidhoh adalah perbuatannya yang mencela bahkan menghina ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan perkataan atau perbuatan yang sangat keji dan munkar. Padahal ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merupakan Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan istri yang paling dicintainya. Lantas, apa saja kemuliaan yang dimiliki ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sehingga orang lain tidak berhak untuk mencela atau menghinanya? Mari kita simak pembahasan berikut:</p>
<p><strong>Nama dan keturunan</strong><br />
Nama beliau adalah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdillah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah al-Makkiyyah. (1 mukhtashor al kabir fi sirah rasul, maktabah syamilah)<br />
Ayahnya adalah Abu Bakar Ash Shidiq, Amirul Mukminin yang mempunyai kemuliaan yang agung dalam islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia setelah rasulullah adalah Abu Bakar”. (HR Ibnu Majah, dishohihkan Albani dalam Shohih Ibnu Majah)<br />
Dan ibunya adalah salah satu seorang pemuka shahabiyah yaitu Ummu Ruman binti ‘Amir. Seorang Shahabiyah yang mempersembahkan pengorbanan yang amat banyak bagi kemashalahatan agama islam. (Sirah Shahabiyah Hal 131, Pustaka As-Sunnah)<br />
Beliau lahir dalam masa islam dan dilahirkan oleh orang tua yang mulia dan beriman kepada Allah. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Ketika aku mulai bisa mengenal orang tuaku kudapati mereka telah memeluk islam. (Siyar A’lamin Nubala 2/139, Sirah Shahabiyah Pustaka As-Sunnah)</p>
<p><strong>Celaan Syi’ah kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha</strong><br />
Di antara bentuk makar Syi’ah untuk menjatuhkan islam adalah dengan mencela dan menghina Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Karena dengan mencelanya, hilanglah seperempat syariat islam yang dibawanya, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah berkata, “Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha seperempat syariat”.<br />
Hal inilah yang coba diupayakan oleh Syi’ah untuk menghancurkan islam, ketika seorang muslim tidak memuliakan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, maka semua hadits yang diriwayatkannya akan tertolak dan tidak akan dijadikan pedoman dalam syariat islam.</p>
<p><em>Di antara bentuk celaan syiah kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha</em><br />
1. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mempunyai akhlak dan perangai yang buruk<br />
Hal ini tertulis di bukunya Ali bin Ibrahim Al Qummi di dalam tafsirnya 2/192. Dalam buku itu disebutkan bahwa perangai istri nabi sangatlah buruk dan tidak berakhlak.<br />
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia karena diracuni oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.<br />
Di dalam Tafsirul Iyasy 1/200, karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy disebutkan bahwa yang menyebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal adalah karena diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.<br />
3. Istri-istri nabi adalah para pelacur<br />
Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”<br />
4. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah ibu dari syaithan<br />
Dikatakan oleh Al Bayadhi di dalam kitabnya Ash Shirathal Mustaqim 3/135 dan 161, bahwa Aisyah digelari Ummu Asy-Syurur (ibunya kejelekan) dan Ummu Asy-Syaithan (ibunya syaithan). (Dikutip dari Bulletin Islam Al Ilmu Edisi 30/I/II/1425)<br />
Lihatlah kedustaan kaum Syi’ah, bagaimana keji dan kejamnya Syi’ah dalam mencela ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang merupakan Ummul Mukminin, yang bahkan namanya disucikan oleh Allah dan diabadikan dalam Al Qur’an.<br />
Untuk membantah tuduhan-tuduhan tersebut, lihatlah bagaimana keutamaan-keutamaan dan kemuliaan ‘Aisyah di hadapan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p><strong>Kedudukan ‘Aisyah di hati Rasulullah</strong><br />
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling engkau cintai?” Beliau balik bertanya: “Kenapa engkau tanyakan itu?” Jawabku: “Agar aku mencintai orang yang engkau cintai”. Rasulullah berkata: “’Aisyah”. (lihat kitab Al Majma’ (15309), Sirah Shahabiyah, Pustaka assunnah)<br />
Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah, Rasulullah berkata: “Apakah engkau bersedia untuk menjadi istriku di dunia dan akhirat?” Jawabku: “Tentu bersedia”. Demi Allah. Maka beliau bersabda: “Engkau adalah istriku di dunia dan di akhirat”. (HR Al-hakim 4/10, sirah shahabiyah pustaka assunnah)<br />
Dalam hadits yang lain, Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “’Aisyah” (HR Bukhori no 3462 dan HR Muslim no 6328, maktabah syamilah)<br />
Lihatlah bagaimana kedudukan dan keutamaan ‘Aisyah di hati Rasulullah, beliau adalah istri Rasulullah di dunia dan di akhirat dan wanita yang sangat dicintainya.<br />
Bukankah bentuk ketaatan dan kecintaan kepada rasul adalah dengan mencintai apa yang Rasul cinta dan membenci apa yang Rasul benci? Ketika Rasulullah sangat mencintai ‘Aisyah, maka pantaskah kita membenci dan mencelanya?</p>
<p><strong>Keutamaan dan Kemuliaan ‘Aisyah</strong><br />
Banyak sekali keutamaan yang dimiliki ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahkan Rasulullah menggambarkan keutamaannya layaknya tsarid (bubur daging dan roti) yang merupakan makanan paling utama dan kebanggaan bangsa arab.<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan ‘Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))</p>
<p><em>Di antara keutamaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha lainnya:</em><br />
1. ‘Aisyah adalah wanita satu-satunya yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan masih gadis.<br />
Aisyah mengatakan, “Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para malaikat menaungi rumahku, Al-Quran turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilhairkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengna ampunan dan rezeki yang mulia.” (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah (2/398))</p>
<p>2. Pernikahan Rasulullah dengan ‘Aisyah berdasarkan wahyu Allah<br />
“Engkau ditampakkan padaku dalam mimpi selama tiga malam; seorang malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu’, maka aku menyingkap wajahmu dan ternyata engkau, lalu kukatakan, ‘Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti Dia akan menjalankannya’.” (HR Bukhari no 3682 dan Muslim no 6436, Maktabah Syamilah)</p>
<p>3. Malaikat Jibril menyampaikan salam untuk ‘Aisyah<br />
Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, Abu Salamah berkata: “Sesungguhnya malaikat Jibril mengucapkam salam kepadamu”. Aisyah berkata: Lalu aku menjawab: “wa’alaihissalam wa rahmatullah”. (HR Bukhori 3045, HR Muslim 6454, maktabah syamilah)</p>
<p>4. Keberkahan umat islam dengan sebab ‘Aisyah<br />
Bahwasanya ‘Aisyah pernah meminjam dari Asma’ sebuah kalung yang kemudian kalung tersebut hilang di dalam perjalanan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mencarinya sampai akhirnya masuk waktu sholat sementara mereka tidak ada air. Lalu merekapun sholat, kemudian mereka mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah pun menurunkan ayat tentang tayammum, maka Usaid bin Hudhair berkata kepada ‘Aisyah, “Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan, demi Allah tidaklah menimpamu sesuatu yang engkau benci melainkan Allah menjadikan padanya kebaikan bagimu dan bagi kaum muslimin.” (HR Bukhori no. 329, Maktabah Syamilah)</p>
<p>5. Wahyu turun ketika Rasulullah bersama ‘Aisyah<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak pernah menurunkan wahyu kepadaku ketika aku sedang berada di selimut salah seorang di antara kalian selain ‘Aisyah. (HR Bukhori 3564, maktabah syamilah)</p>
<p>6. ‘Aisyah adalah wanita yang disucikan namanya dari langit ketujuh dan diabadikan dalam Al-Qur’an<br />
Inilah keutamaan terbesar yang diberikan Allah untuk ‘Aisyah. Surat An-Nur ayat 11-26 merupakan ayat yang turun berkenaan dengan berita dusta terhadapnya. Dengan turunnya ayat ini, maka terbantahlah tuduhan-tuduhan keji dan dusta tersebut.<br />
Allah telah mengisyaratkan bahwa ‘Aisyah adalah wanita yang baik, wanita yang menjaga kesuciaannya dan bagi pendusta adalah adzab yang pedih di dunia dan akhirat.<br />
Allah Ta’ala berfirman,<br />
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”. (QS. An Nur: 19)<br />
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la&#8217;nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar”. (QS. An Nur: 23)<br />
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ<br />
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (QS. An Nur: 26)</p>
<p><strong>Kesaksian para sahabat akan keutamaan dan keilmuan‘Aisyah</strong><br />
Az-Zuhri berkata, “Kalau ilmu ‘Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh perempuan, pasti ilmu ‘Aisyah lebih banyak”.<br />
Urwah bin Zubair berkata, “Aku tidak pernah melihat orang lebih mengerti tentang fikih, dunia pengobatan dan tentang syair daripada ‘Aisyah”. (Thabaqat Ibnu Sa’ad 7/39-56, Sirah Shahabiyah Pustaka As-Sunnah)<br />
Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Setiap kali kami para sahabat Rasulullah mendapat kesulitan tentang suatu hadits, kami selalu bertanya kepada ‘Aisyah, maka kami akan mendapatkan pengetahuan darinya”. (HR Tirmidzi 3883, Dia berkata: “Hadits hasan shahih gharib”)<br />
Masruq pernah ditanya, “Apakah ‘Aisyah pandai dalam ilmu waris? Dia menjawab: “Demi Allah, Aku melihat para pemuka Sahabat Rasulullah bertanya kepada ‘Aisyah tentang ilmu waris”. (Min Akhlaqil ‘Ulama, hal 61)</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Hal di atas adalah segelintir dari keutamaan yang dimiliki oleh ‘Aisyah untuk membantah Syi’ah. Masih banyak hal yang perlu kita ketahui dari pribadi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, baik dalam segi akhlak, kezuhudan, kecerdasan, amal ibadah dan yang lainnya. Sehingga semakin sempitlah celah-celah untuk kedustaan padanya dan semakin besarlah kecintaan kita kepadanya.<br />
Semoga dengan tulisan ini, dapat memberi gambaran bagi kita akan kedudukan ‘Aisyah dalam islam, bagaimana kemuliaannya, bagaimana keutamaannya dan memberi bantahan terhadap tuduhan-tuduhan yang diberikan Syi’ah atasnya.</p>
<p>Penulis: Rian Permana<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8759"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fsyi%25e2%2580%2599ah-mencela-ummul-mukminin-%25e2%2580%2598aisyah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/syi%e2%80%99ah-mencela-ummul-mukminin-%e2%80%98aisyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

