<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/keluarga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Anakku Kelaparan</title>
		<link>http://muslim.or.id/keluarga/anakku-kelaparan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/keluarga/anakku-kelaparan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 23:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[takut miskin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8292</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang teman bercerita: “Suatu pagi anak-anak saya kebingungan, karena kelaparan, yang satu merengek-rengek meminta dibelikan roti kesukaannya, yang satu sibuk mencari-cari di plastik-plastik mungkin saja ada sisa-sisa makanan tadi malam. Melihat fonemena ini saya<a class="more" href="http://muslim.or.id/keluarga/anakku-kelaparan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Ada seorang teman bercerita: “Suatu pagi anak-anak saya kebingungan, karena kelaparan, yang satu merengek-rengek meminta dibelikan roti kesukaannya, yang satu sibuk mencari-cari di plastik-plastik mungkin saja ada sisa-sisa makanan tadi malam.</p>
<p>Melihat fonemena ini saya langsung mengambil baju dan bergegas pergi ke warung terdekat untuk membelikan beberapa makanan ringan agar anak-anak saya tidak kelaparan.</p>
<p>Di dalam perjalanan ke warung dan pulang kembali ke rumah, saya berfikir beberapa hal; <em>Alhamdulillah Allah Ta’ala </em>telah menjamin rezeki seluruh anak dan orang tuanya bahkan seluruh makhluk, maka jangan takut… tetapi tetaplah berusaha yang halal.&#8221;</p>
<p>****</p>
<p>Perhatikan dua ayat yang mulia ini:</p>
<p dir="RTL" align="center">{وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ } [الأنعام: 151]</p>
<p>Artinya: <em>“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.  Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” </em>(QS. Al An’am: 151).</p>
<p>Tidak boleh membunuh anak-anak baik karena kemiskinan yang benar-benar ada, karena firman Allah : “Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” Dalam ayat di atas menunjukkan bahwa Allah mendahulukan pemberian rezeki kepada orang tua, karena kemiskinan sudah benar-benar terjadi!</p>
<p>Tetapi jika baru ditakutkan miskin, coba perhatikan ayatnya;</p>
<p dir="RTL">{وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا } [الإسراء: 31]</p>
<p>Artinya: <em>“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” </em>(QS. Al Isra: 31).</p>
<p>Tidak boleh membunuh anak-anak baik karena kemiskinan yang baru diperakirakan dan ditakutkan. Dalam ayat di atas menunjukkan bahwa Allah mendahulukan penjaminan rezeki kepada anak-anak, karena kemiskinan baru ditakutkan, belum terjadi!</p>
<p>Semuanya ini karena Allah telah menjamin rezeki baik orang tua atau anaknya, baik ketika baru ditakutkan miskin atau sudah terjadi kemiskinan!!! <em>Subhanallah…</em></p>
<p>Berkata Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em>:</p>
<p>“Firman-Nya: “Karena kemiskinan”, Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma, </em>Qatadah dan As Suddy berkata: “Imlaq artinya adalah kefakiran” maksudnya yaitu: janganlah kalian membunuh mereka karena kefakiran kalian yang terjadi, dan Allah berfirman di dalam surat Al Isra’: “Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin”, maksudnya adalah takut terjadi kefakiran di waktu yang akan datang, oleh sebab inilah disana (di dalam surat Al Isra’: 31) Allah berfirman: “Kami yang akan memberikan rezeki mereka dan kalian”, Allah memulai dengan penjaminan rezeki mereka untuk perhatian mereka, maksudnya adalah janganlah kalian takut kalian miskin gara-gara mereka, karena rezeki mereka di jamin Allah. Adapun di dalam ayat ini, ketika sudah terjadi kefakiran, Allah berfirman: “Kami memberikan rezeki kepada kalian dan mereka, karena pada saat ini mereka (orangtua) lebih penting.” Lihat kitab tafsir Ibnu Katsir.</p>
<p><em>Saudaraku seiman…</em></p>
<p>Tulisan singkat ini saya tujukan kepada:</p>
<p>1. Kepada orangtua yang membunuh, menelantarkan anaknya gara-gara takut anaknya menyusahkan dan menyulitkan hidupnya.</p>
<p>2. Kepada pasangan suami istri yang takut mempunyai anak gara-gara takut tidak bisa memberikan rezeki yang cukup kepada anaknya.</p>
<p>3. Kepada orang yang diluaskan rezekinya, jangan lupa disekitar Anda mungkin ada orangtua yang ketika anak-anak membutuhkan makanan karena kelaparan, tidak ada yang dapat dibeli oleh orangtua tersebut.</p>
<p>Sungguh Allah telah menyatakan hak orang-orang miskin ada pada Anda, wahai orang yang diluaskan rezekinya.</p>
<p align="center">{وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ} [الذاريات: 19]</p>
<p>Artinya: “<em>Dan pada harta-harta mereka (yaitu orang-orang kaya) ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian</em>.” (QS. Adz Dzariyat: 19).</p>
<p>Sungguh cerita yang penuh dengan pelajaran dari seorang teman.</p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p>Dammam KSA, 12 Rabi’ul Awwal 1433H</p>
<p>Penulis: <a href="http://dakwahsunnah.com">Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc<br />
</a>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8292"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Fanakku-kelaparan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Fanakku-kelaparan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Fanakku-kelaparan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/keluarga/anakku-kelaparan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhlak Mulia pada Istri Tercinta</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/akhlak-mulia-pada-istri-tercinta.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/akhlak-mulia-pada-istri-tercinta.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 00:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6295</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillahi wahdah, wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah… Prolog “Masya Allah, akhlak pak anu bagus banget lho!” kata seorang bapak-bapak ‘mempromosikan’ rekan kerjanya. “Buktinya apa pak?” tanya lawan bicaranya. “Kalau di kantor ia ramah banget, apalagi<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/akhlak-mulia-pada-istri-tercinta.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillahi wahdah, wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah…</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Prolog </strong></span></p>
<p>“<em>Masya Allah, </em>akhlak pak anu bagus banget <em>lho</em>!” kata seorang bapak-bapak ‘mempromosikan’ rekan kerjanya.</p>
<p>“Buktinya apa pak?” tanya lawan bicaranya.</p>
<p>“Kalau di kantor ia ramah banget, apalagi kalo sedang berhadapan dengan bosnya!” jawabnya.</p>
<p>“<em>Wuih</em>, bu anu akhlaknya baik banget!” komentar seorang ibu-ibu tatkala membicarakan salah satu tetangganya.</p>
<p>“Darimana ibu tau?” tanya temannya.</p>
<p>“Itu lho <em>jeng</em>, kalau di arisan RT, dia <em>tuh</em> ramah <em>banget</em>!” sahutnya.</p>
<p>Begitulah kira-kira cara kebanyakan kita menilai mulia-tidaknya akhlak seseorang. Sebenarnya,  pola penilaian seperti itu tidaklah mutlak keliru. Hanya saja kurang  jeli. Sebab, sangat memungkinkan sekali seseorang itu memiliki dua  akhlak yang diterapkannya pada dua kesempatan yang berbeda. Berakhlak  mulia di satu tempat, tetapi tidak demikian di tempat yang lain. Itu  tergantung kepentingannya.</p>
<p>Lantas, bagaimanakah Islam membuat  barometer penilaian kemuliaan akhlak seorang itu? Tulisan berikut  berusaha sedikit mengupas permasalahan tersebut.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Islam Agama Akhlak</strong></span></p>
<p>Di antara tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, selain untuk menegakkan tauhid di muka bumi, adalah dalam rangka menyempurnakan <a href="http://tunasilmu.com/category/akhlak" target="_blank"><strong>akhlak</strong></a> umat manusia. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau,</p>
<p style="text-align: center;">“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”</p>
<p><em>“Aku </em><em>diutus</em><em> untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”</em> (H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani).</p>
<p>Sedemikian besar perhatiannya  terhadap perealisasian akhlak, Islam tidak hanya menjelaskan hal ini  secara global, namun juga menerangkannya secara terperinci. Bagaimanakah  akhlak seorang muslim kepada <em>Rabb</em>-nya, keluarganya, tetangganya, bahkan kepada hewan dan tetumbuhan sekalipun!</p>
<p>Di antara hal yang tidak terlepas  dari sorotannya ialah penjelasan tentang barometer akhlak mulia. Yakni,  kapankah seseorang itu berhak dinilai memiliki akhlak mulia. Atau dengan  kata lain: sisi apakah yang bisa dijadikan ‘jaminan’ bahwa seseorang  itu akan berakhlak mulia pada seluruh sisi kehidupannya apabila ia telah  berakhlak mulia pada sisi yang satu itu?</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Barometer Akhlak Mulia</strong></span></p>
<p>Panutan kita Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjelaskan permasalahan di atas dalam sabdanya,</p>
<p style="text-align: center;">“خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي”</p>
<p><em>“Sebaik-baik kalian adalah  yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di  antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” </em>(H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini <em>hasan gharib sahih. </em>Ibnu Hibban dan al-Albani menilai hadits tersebut sahih).</p>
<p>Hadits di atas terdiri dari dua  bagian. Pertama, penjelasan tentang barometer akhlak mulia. Kedua,  tentang siapakah yang pantas dijadikan panutan dalam hal tersebut.</p>
<p>Dalam kaitan dengan hal di atas, penulis berusaha sedikit mengupas dua bagian tersebut di atas semampunya:</p>
<p><strong>Pertama: Mengapa berakhlak  mulia kepada keluarga, terutama terhadap istri dan anak-anak, dijadikan  barometer kemuliaan akhlak seseorang?</strong></p>
<p>Sekurang-kurangnya, <em>wallahu a’lam, </em>ada dua hikmah di balik peletakan barometer tersebut [disarikan dari kitab <em>al-Mau'izhah al-Hasanah fi al-Akhlâq al-Hasanah, </em>karya Syaikh Abdul Malik Ramadhâni (hal. 77-79)]:</p>
<p>a.       Sebagian besar waktu yang  dimiliki seseorang dihabiskan di dalam rumahnya bersama istri dan  anak-anaknya. Andaikata seseorang itu bisa bersandiwara dengan berakhlak  mulia di tempat kerjanya –yang itu hanya memakan waktu beberapa jam  saja- belum tentu ia bisa bertahan untuk terus melakukannya di rumahnya  sendiri. Dikarenakan faktor panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk  ‘bersandiwara’. Justru yang terjadi, saat-saat itulah terlihat akhlak  aslinya.</p>
<p>Ketika bersandiwara, bisa saja dia  membuat mukanya manis, tutur katanya lembut dan suaranya halus. Namun,  jika itu bukanlah watak aslinya, dia akan sangat tersiksa dengan akhlak  palsunya itu jika harus dipertahankan sepanjang harinya.</p>
<p>Kebalikannya, seseorang yang memang pembawaan di rumahnya berakhlak mulia, <em>insya Allah</em> secara otomatis ia akan mempraktekkannya di manapun berada.</p>
<p>b.      Di tempat kerja, ia  hanyalah berposisi sebagai bawahan, yang notabenenya adalah lemah.  Sebaliknya, ketika di rumah ia berada di posisi yang kuat; karena  menjadi kepala rumah tangga. Perbedaan posisi tersebut tentunya  sedikit-banyaknya berimbas pula pada sikapnya di dua alam yang berbeda  itu.</p>
<p>Ketika di kantor, ia musti menjaga  ‘rapor’nya di mata atasan. Hal mana yang membuatnya harus berusaha  melakukan apapun demi meraih tujuannya itu. Meskipun untuk itu ia harus  memoles akhlaknya untuk sementara waktu. Itu tidaklah masalah. Yang  penting karirnya bisa terus menanjak dan gajinya pun bisa ikut melonjak.</p>
<p>Adapun di rumah, di saat posisinya  kuat, dia akan melakukan apapun seenaknya sendiri, tanpa merasa  khawatir akan dipotong gajinya ataupun dipecat.</p>
<p>Demikian itulah kondisi orang yang  berakhlak mulia karena kepentingan duniawi. Lalu, bagaimanakah halnya  dengan orang yang berakhlak mulia karena Allah? Ya, dia akan terus  berusaha merealisasikannya dalam situasi dan kondisi apapun, serta di  manapun ia berada. Sebab ia merasa selalu di bawah pengawasan Dzat Yang  Maha melihat dan Maha mengetahui.</p>
<p><strong>Kedua: Beberapa potret kemuliaan akhlak Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>terhadap keluarganya.</strong></p>
<p>Sebagai teladan umat, amatlah wajar jika praktik keseharian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam bergaul dengan keluarganya kita pelajari. Dan tentu saja lautan  kemuliaan akhlak beliau terhadap keluarganya tidak bisa dikupas dalam  lembaran-lembaran tipis ini. Oleh karena itu, di sini kita hanya akan  menyampaikan beberapa contoh saja. Hal itu hanya sekadar untuk  memberikan gambaran akan permasalahan ini.</p>
<ul>
<li> <strong>Turut      membantu urusan ‘belakang’.</strong></li>
</ul>
<p>Secara hukum asal, urusan dapur dan <em>tetek bengek-</em>nya memang merupakan kewajiban istri. Namun, meskipun demikian, hal ini tidak menghalangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>untuk  ikut turun tangan membantu pekerjaan para istrinya. Dan ini tidak  terjadi melainkan karena sedemikian tingginya kemuliaan akhlak yang  beliau miliki.</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ  عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ  كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟  قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ  نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”</p>
<p>Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, <em>“Beliau  melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika  sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya  dan mengangkat air di ember.”</em> (H.R. Ibnu Hibban).</p>
<p><em>Subhanallah</em>!<em> </em>Di  tengah kesibukannya yang luar biasa padat berdakwah, menjaga stabilitas  keamanan negara, berjihad, mengurusi ekonomi umat dan lain-lain, beliau  masih bisa menyempatkan diri mengerjakan hal-hal yang dipandang rendah  oleh banyak suami di zaman ini! Andaikan saja para suami-suami itu mau  mempraktekkan hal-hal tersebut, <em>insyaAllah </em>keharmonisan rumah tangga mereka akan langgeng.</p>
<ul>
<li> <strong>Berpenampilan      prima di hadapan istri dan keluarga.</strong></li>
</ul>
<p>Berikut Aisyah, salah satu istri Rasul <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>menyampaikan pengamatannya;</p>
<p style="text-align: center;">“أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ”</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> jika masuk ke rumahnya, hal yang pertama kali beliau lakukan adalah bersiwak.” (H.R. Muslim).</p>
<p>Bersiwak ketika pertama kali masuk  rumah??! Suatu hal yang mungkin tidak pernah terbetik di benak kita.  Tetapi, begitulah cara Nabi kita <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> menjaga penampilannya di hadapan istri dan putra beliau. Ini hanya salah satunya <em>lho</em>! Dan beginilah salah satu potret kemuliaan akhlak Rasulullah kepada keluarganya.</p>
<ul>
<li> <strong>Tidak bosan untuk terus      menasehati istri dan keluarga.</strong></li>
</ul>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengingatkan,</p>
<p style="text-align: center;">“أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا”</p>
<p>“<em>Ingatlah, hendaknya kalian berwasiat yang baik kepada para istri.</em>” (H.R. Tirmidzi dan dinyatakan <em>hasan</em> oleh Syaikh al-Albani).</p>
<p>Timbulnya riak-riak dalam  kehidupan rumah tangga merupakan suatu hal yang lumrah. Namun, jika hal  itu sampai mengotori keharmonisan jalinan kasih sayang antara suami dan  istri, atau bahkan menghancurkan bahtera pernikahan, tentulah sangat  berbahaya. Agar mimpi buruk itu tidaklah terjadi, seyogyanya ditumbuhkan  budaya saling memahami dan kebiasaan saling menasehati antara suami dan  istri.</p>
<p>Daripada itu, benih-benih  kesalahan yang ada dalam diri pasangan suami-istri hendaknya tidaklah  didiamkan begitu saja hanya karena dalih menjaga keharmonisan rumah  tangga. Justru sebaliknya, kesalahan-kesalahan itu harus segera  diluruskan. Dan tentunya hal itu harus dilakukan dengan cara yang  elegan: tutur kata yang lembut, raut muka yang manis dan metode yang  tidak menyakiti hati pasangannya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Epilog</strong></span></p>
<p>Semoga tulisan sederhana ini bisa  dijadikan sebagai salah satu sarana instrospeksi diri –terutama bagi  mereka yang menjadi panutan orang banyak, seperti: da’i, guru, ustadz,  pejabat dan yang semisalnya- untuk terus berusaha meningkatkan kualitas  muamalah para panutan itu terhadap keluarga mereka masing-masing. Jika  sudah demikian, berarti mereka telah betul-betul berhasil menjadi <em>qudwah</em> luar maupun dalam. <em>Wallahu a’la wa a’lam.</em></p>
<p>Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awal 1431 / 21 Februari 2010</p>
<p>Penulis: <a href="http://tunasilmu.com" target="_blank">Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a><strong><br />
</strong></p>
<div class="shr-publisher-6295"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fakhlak-mulia-pada-istri-tercinta.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fakhlak-mulia-pada-istri-tercinta.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fakhlak-mulia-pada-istri-tercinta.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/akhlak-mulia-pada-istri-tercinta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faedah Menikah di Usia Muda</title>
		<link>http://muslim.or.id/keluarga/faedah-menikah-di-usia-muda.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/keluarga/faedah-menikah-di-usia-muda.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 00:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[usia muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5547</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam dan satu-satunya layak untuk disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Menunda-nunda menikah bisa<a class="more" href="http://muslim.or.id/keluarga/faedah-menikah-di-usia-muda.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam dan satu-satunya layak untuk disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.</em></p>
<p>Menunda-nunda menikah bisa merugi. Berikut penjelasan yang bagus dari ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin &#8216;Abdillah Al Fauzan -<em>hafizhohullah</em>-  yang kami kutip dari Web Sahab.net (arabic).</p>
<p><span style="color: #ff0000;">[<strong>Faedah pertama</strong>: Hati semakin tenang dan sejuk dengan adanya istri dan anak]</span></p>
<p>Di antara faedah segera menikah adalah lebih mudah menghasilkan anak yang dapat menyejukkan jiwa. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ</p>
<p>“<em>Dan orang orang yang berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. </em>” (QS. Al Furqon: 74)</p>
<p>Istri dan anak adalah penyejuk hati. Oleh karena itu, Allah -subhanahu wa ta&#8217;ala- menjanjikan dan mengabarkan bahwa menikah dapat membuat jiwa semakin tentram. Dengan menikah seorang pemuda akan merasakan ketenangan, oleh karenanya ia pun bersegera untuk menikah.</p>
<p style="text-align: center;">هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ</p>
<p>“<em>Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. </em>” (QS. Al Furqon: 74)</p>
<p>Demikian pula dengan anak. Allah pun mengabarkan bahwa anak adalah separuh dari perhiasan dunia sebagaimana firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;">الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا</p>
<p>“<em>Harta dan anak-anak adalah <span style="text-decoration: underline;">perhiasan kehidupan dunia </span>tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. </em>” (QS. Al Kahfi: 46)</p>
<p>Anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Setiap manusia pasti  menginginkan perhiasan yang menyejukkan pandangan. Sebagaimana manusia pun begitu suka mencari harta, ia pun senang jika mendapatkan anak. Karena anak sama halnya dengan harta dunia, yaitu sebagai perhiasan kehidupan dunia. Inilah faedah memiliki anak dalam kehidupan dunia.</p>
<p>Sedangkan untuk kehidupan akhirat, anak yang sholih akan terus memberikan manfaat kepada kedua orang tuanya, sebagaimana Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : علم ينتفع به ، أو صدقة جارية ، أو ولد صالح يدعو له</p>
<p>“<em>Jika manusia itu mati, maka amalannya akan terputus kecuali tiga perkara: [1] ilmu yang bermanfaat, [2] sedekah jariyah, dan [3] anak sholih yang selalu mendoakannya.”<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa anak  memberikan faedah yang besar dalam kehidupan dunia dan nanti setelah kematian.</p>
<p><span style="color: #ff0000;">[<strong>Faedah kedua</strong>: Bersegera nikah akan mudah memperbanyak umat ini]</span></p>
<p>Faedah lainnya, bersegera menikah juga lebih mudah memperbanyak anak, sehingga umat Islam pun akan bertambah banyak. Oleh karena itu, setiap manusia dituntut untuk bekerjasama dalam nikah membentuk masyarakat Islami. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">تزوجوا فإني مكاثر بكم يوم القيامة</p>
<p>“<em>Menikahlah kalian. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.</em>”<a href="#_ftn2">[2]</a> Atau sebagaimana sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Intinya, bersegera menikah memiliki manfaat dan dampak yang luar biasa. Namun ketika saya memaparkan hal ini kepada para pemuda, ada beberapa rintangan yang muncul di tengah-tengah mereka.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Rintangan pertama:</strong></span></p>
<p>Ada yang mengutarakan bahwa nikah di usia muda akan membuat lalai dari mendapatkan ilmu dan menyulitkan dalam belajar. Ketahuilah, rintangan semacam ini tidak senyatanya benar. Yang ada pada  bahkan sebaliknya. Karena bersegera menikah memiliki keistimewaan sebagaimana yang kami utarakan yaitu orang yang segera menikah akan lebih mudah merasa ketenangan jiwa. Adanya ketenangan semacam ini dan mendapatkan penyejuk jiwa dari anak maupun istri dapat lebih menolong seseorang untuk mendapatkan ilmu. Jika jiwa dan pikirannya telah tenang karena istri dan anaknya di sampingnya, maka ia akan semakin mudah untuk mendapatkan ilmu.</p>
<p>Adapun seseorang yang belum menikah, maka pada hakikatnya dirinya terus terhalangi untuk mendapatkan ilmu. Jika pikiran dan jiwa masih terus merasakan was-was, maka ia pun sulit mendapatkan ilmu. Namun jika ia bersegera menikah, lalu jiwanya tenang,  maka ini akan lebih akan menolongnya. Inilah yang memudahkan seseorang dalam belajar dan tidak seperti yang dinyatakan oleh segelintir orang.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Rintangan kedua:</strong></span></p>
<p>Ada yang mengatakan bahwa nikah di usia muda dapat membebani seorang pemuda dalam mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Rintangan ini pun tidak selamanya bisa diterima. Karena yang namanya pernikahan akan senantiasa membawa keberkahan (bertambahnya kebaikan) dan akan membawa pada  kebaikan. Menjalani nikah berarti melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan seperti ini adalah suatu kebaikan. Seorang pemuda yang menikah berarti telah menjalankan perintah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ia pun mencari janji kebaikan dan membenarkan niatnya, maka inilah yang sebab datangnya kebaikan untuknya. Ingatlah, semua rizki itu di tangan Allah sebagaimana firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;">وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا</p>
<p>“ <em>Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.</em>” (QS. Hud: 6)</p>
<p>Jika engkau menjalani nikah, maka Allah akan memudahkan rizki untuk dirimu dan anak-anakmu. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ</p>
<p>“<em>Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.</em>” (QS. Al An&#8217;am: 151)</p>
<p>Oleh karenanya ,yang namanya menikah tidaklah membebani seorang pemuda sebagaimana anggapan bahwa menikah dapat membebani seorang pemuda di luar kemampuannya. Ini tidaklah benar. Karena dengan menikah akan semakin mudah mendapatkan kebaikan dan keberkahan. Menikah adalah ketetapan Allah untuk manusia yang seharusnya mereka jalani. Ia bukan semata-mata khayalan. Menikah termasuk salah pintu mendatangkan kebaikan bagi siapa yang benar niatnya.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&amp;Show=698">http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&amp;Show=698</a></p>
<p><em>Semoga Allah memudahkan para pemuda untuk mewujudkan hal ini dengan tetap mempertimbangkan maslahat dan mudhorot (bahaya). Jika ingin segera menikah dan sudah merasa mampu dalam menafkahi istri, maka lobilah orang tua dengan cara yang baik. Semoga Allah mudahkan.</em></p>
<p>Diselesaikan di pagi hari, 22 Muharram 1431 H, Panggang-Gunung Kidul.</p>
<p>Penyusun: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Muslim no. 1631, dari Abu Hurairah.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a><em> Shahih</em>: HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasai.</p>
<div class="shr-publisher-5547"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Ffaedah-menikah-di-usia-muda.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Ffaedah-menikah-di-usia-muda.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Ffaedah-menikah-di-usia-muda.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/keluarga/faedah-menikah-di-usia-muda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Layar Telah Berkembang</title>
		<link>http://muslim.or.id/keluarga/ketika-layar-telah-berkembang.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/keluarga/ketika-layar-telah-berkembang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 05:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[cerai]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[talak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5286</guid>
		<description><![CDATA[Islam telah membimbing kita dalam membangun rumah tangga, dimulai dari memilih pasangan hidup. Islam mengikat suami istri dalam ikatan kokoh, menentukan hak dan kewajiban, serta mewajibkan mereka menjaga buah pernikahan ini. Islam juga mengantisipasi segala<a class="more" href="http://muslim.or.id/keluarga/ketika-layar-telah-berkembang.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Islam telah membimbing kita dalam  membangun rumah tangga, dimulai dari memilih pasangan hidup. Islam  mengikat suami istri dalam ikatan kokoh, menentukan hak dan kewajiban,  serta mewajibkan mereka menjaga buah pernikahan ini. Islam juga  mengantisipasi segala problema yang dapat menghadang kehidupan rumah  tangga secara tepat. Itulah kesempurnaan islam yang sangat indah.</p>
<p>Pernikahan! Kata itu sangat indah  didengar tetapi keindahan di dalamnya harus serta-merta dibarengi dengan  persiapan. Pernikahan berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dua  individu dan bukan mempertentangkannya.</p>
<p>Ketika biduk rumah tangga telah  berlayar, apa saja yang bisa Anda lakukan di dalamnya? Hari berlalu,  pekan berlalu, bergantilah bulan. Tiba-tiba suatu hari Anda merasakan  ada sesuatu yang tidak mengenakkan Anda. Anda mengamati sifat dan  pasangan Anda selama beberapa pekan sejak pernikahan, ternyata ada yang  tidak Anda sukai dan yang tidak Anda harapkan. Sejak saat itu, Anda  menemukan bahwa rumah tangga tidak hanya berisi kegembiraan, namun juga  tantangan, bahkan bisa juga ancaman. Seorang suami mungkin  bertanya-tanya siapakah gerangan engkau wahai istriku? Demikian ia  sering bertanya dalam hatinya. Sekian banyak hal-hal aneh dan asing yang  ia temukan pada diri seorang ‘makhluk halus’ bernama istrinya itu.  Demikian pula, pertanyaan itu muncul di benak sang istri. Seperti ia  sedang dihadapkan pada sebuah laboratorium bernyawa, tengah ada banyak  penelitian dan pelajaran yang bisa dieksplorasi di dalamnya. Ia  menghadapi hari-hari yang berharga, pengenalan demi pengenalan,  pengalaman demi pengalaman dan berbagai pertanyaan yang belum  terjawabkan. Dulu waktu masih lajang, seorang muslimah yang belum pernah  bersentuhan kulit dengan lawan jenis, kini tiba-tiba dihadapkan pada  seorang asing yang nantinya akan mengetahui banyak ‘rahasia’ dirinya. Ia  seorang wanita yang ‘clingus’ menurut orang jawa, wanita yang tak  berani ngobrol dan bercanda dengan lawan jenisnya, namun tatkala masuk  ke jenjang pernikahan ia harus berhadapan dengan ‘dunia’ laki-laki.  Kini, ia mencoba menyesuaikan irama kehidupan dirinya dengan sang suami.  Ia mulai mengenal dunia laki-laki secara dekat tanpa jarak. Demikian  pula hal-nya dengan sang suami.</p>
<p>Sebenarnyalah kesulitan yang dihadapi  merupakan sesuatu yang wajar dan manusiawi. Betapa tidak! Pernikahan  telah mempertemukan bukan saja dua individu yang berbeda, laki-laki dan  perempuan, tetapi dua kepribadian, dua selera, dua latar budaya, dua  karakter, dua hati, dua otak dan ruh yang hampir dapat dipastikan banyak  ketidaksamaan yang akan ditemui oleh keduanya. Seorang manusia yang  terkadang bisa saja tak paham akan suasana hatinya, sekarang malah  dituntut untuk memahami hati orang lain?!</p>
<p>Kehidupan rumah tangga tak semuanya bisa  dirasionalkan begitu saja, terkadang memerlukan proses kontemplasi yang  rumit, memahami dunia baru, memahami suasana jiwa, logika, psikologis  dan fisiologis yang bergulir bersama di dalam kehidupan rumah tangga.  Kuliah S1 ternyata tak cukup membekali teori tentang ’siapakah laki-laki  dan perempuan’ dalam tataran teoritis maupun praktis. Tentunya kita  kurang mampu memahami dunia pasangan kita, kecuali menempuh pembelajaran  dan saling membantu untuk terbuka kepada pasangannya tentang apa yang  dirasakan, kepedihan duka, kegembiraan, kecemburuan, kekecewaan,  kebanggaan, keinginan, dan jutaan determinasi perasaan lainnya. Saling  mencintai memerlukan proses pembelajaran. Saling membantu mengajarkan  tentang diri sendiri, bahwa aku adalah makhluk Allah yang punya  keinginan dan mestinya engkau mengerti keinginanku. Akan tetapi bahasan  verbal tak senantiasa berhasil mengungkap hakikat perasaan.</p>
<p>Menikah adalah pilihan sadar setiap  laki-laki dan perempuan dalam islam. Seorang laki-laki berhak menentukan  pasangan hidup sebagaimana perempuan. Jika kemudian sepasang laki-laki  dan perempuan memutuskan untuk saling menerima dan sepakat melangsungkan  pernikahan, atas alasan apakah satu pihak merasa terpaksa berada di  samping pasangan hidupnya setelah resmi berumah tangga??!! Sebelum  terjadinya akad nikah, pilihan masih terbuka lebar, akan tetapi setelah  adanya akad nikah, adalah sebuah pengkhianatan terhadap makna akad itu  sendiri apabila satu pihak senantiasa mencari-cari keburukan dan  kesalahan pasangannya dengan merasa benar dan bersih sendiri. Tentunya  hal tersebut merupakan salah satu bentuk penyucian diri, terlebih lagi  tindakannya tersebut akan menumbuhkan benih-benih kebencian dalam hati  terhadap seseorang yang telah menjadi pilihannya. Allah ta’ala  berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى</p>
<p>“<em>Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.</em>” (QS. An Najm: 32).</p>
<p style="text-align: center;">لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ</p>
<p>“<em>Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, karena walaupun  dirinya membenci salah satu perangainya, tentulah akan ada perangai lain  yang disukainya</em>.” (HR. Muslim nomor 2672)</p>
<p>Imam An Nawawi mengatakan, “Yang benar,  hadits ini merupakan larangan bagi seorang suami agar tidak membenci  istrinya, karena apabila istrinya memiliki perangai yang tidak  disenanginya, tentulah akan ada perangai lain yang disukainya, misalnya  istrinya memiliki akhlak yang jelek, akan tetapi mungkin saja dia  komitmen terhadap agama, memiliki paras yang cantik, mampu menjaga diri,  lembut atau yang semisalnya.” (Syarh Shahih Muslim, 5/209).</p>
<p>Memang ada pilihan lain yang dicontohkan shahabiyah Habibah binti  Sahl ketika menemukan kebuntuan dalam rumah tangga sehingga dirinya  mengajukan khulu’. Nabi pun memberikan jalan keluar.(HR. Malik nomor  1032; Abu Dawud nomor 1900, 1901; An Nasaa’i nomor 3408; Ibnu Majah  nomor 2047; Ahmad nomor 26173; dishahihkan oleh Al ‘Allamah Al Albani  dalam Al Irwa’, 7/102-103, Shahih Sunan Abu Dawud nomor 1929).</p>
<p>Namun, <em><span style="color: #ff0000;">cerai </span></em>bukanlah jalan pertama yang  harus ditempuh, sebab proses belajar menerima dan mencintai harus  terjadi dan ditempuh terlebih dahulu. Karena tujuan kita menikah adalah  ibadah, mengabdi pada Allah dan mencapai keridhoan-Nya. Sedangkan hasil  akhir dari ibadah itu sendiri adalah mencapai tingkat ketakwaan atau  pemeliharaan diri dari segala kemaksiatan, yang akan membawa pemiliknya  merengkuh ridho Allah. Berbagai upaya akan ditempuh oleh orang yang  ingin mencapai derajat ketakwaan, tidak terkecuali melalui pernikahan.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَن</p>
<p>“<em>Bertakwalah kamu di manapun kamu berada, bila kamu berbuat kejahatan,  segera iringi dengan perbuatan baik, sehingga dosamu terhapus, lalu  pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik</em>.” (HR. Tirmidzi nomor 1910;  dihasankan Syaikh Al Albani dalam Al Misykah nomor 5083, Ar Raudlun  Nadhir nomor 855, Shahih wadl Dhaif Sunan At Tirmidzi, 4/487)</p>
<p>Setiap pasangan hendaknya merenungkan  bahwasanya ketika mereka menikah, mereka tinggal menyempurnakan  “setengah ketakwaan”, apakah “setengah ketakwaan” yang telah  dianugerahkan Allah kepada mereka hendak disia-siakan?</p>
<p>Mari kita belajar membentuk bahtera  rumah tangga yang mampu berlayar merengkuh keridhoaan-Nya. Bertakwalah  kepada Allah dalam setiap mengambil keputusan dan bersabarlah menghadapi  kekurangan dan kelemahan pasangan kita, karena tak ada manusia yang  sempurna, teruslah bermuhasabah diri. Mudah-mudahan dengan kesabaran  kita, Allah akan memudahkan dan memberikan kebahagiaan dalam rumah  tangga kita. Teruslah berusaha melaksanakan semua kewajiban yang Allah  bebankan pada kita dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada,  Allah-lah sumber kekuatan kita, dengan mengharap ridha-Nya dan  cinta-Nya. Berjanjilah, mulai hari ini, bahwa keindahan hidup rumah  tangga pada mulanya berasal dari kesadaran anda akan janji besar ini!  Dengan demikian, semoga kita mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.  Semoga Allah mengumpulkan kita dengan pasangan beserta anak-anak kita  dalam jannah-Nya. Amiin.</p>
<p>Penulis: <a href="http://ikhwanmuslim.com">Muhammad Nur Ichwan Muslim</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5286"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Fketika-layar-telah-berkembang.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Fketika-layar-telah-berkembang.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Fketika-layar-telah-berkembang.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/keluarga/ketika-layar-telah-berkembang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Seharusnya Jadi Idola Keluarga Muslim &#8230;</title>
		<link>http://muslim.or.id/keluarga/yang-seharusnya-jadi-idola-keluarga-muslim.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/keluarga/yang-seharusnya-jadi-idola-keluarga-muslim.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 09:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3093</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu watak bawaan manusia sejak diciptakan Allah Ta&#8217;ala adalah kecenderungan untuk selalu meniru dan mengikuti orang lain yang dikaguminya, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;الأرواح جنود مجندة، فما<a class="more" href="http://muslim.or.id/keluarga/yang-seharusnya-jadi-idola-keluarga-muslim.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Salah satu watak bawaan manusia sejak diciptakan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> adalah kecenderungan untuk selalu meniru dan mengikuti orang lain yang dikaguminya, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">&#8220;الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف وما تناكر اختلف&#8221;</p>
<p>“<em>Ruh-ruh manusia adalah kelompok yang selalu bersama, maka yang saling bersesuaian di antara mereka akan saling dekat, dan yang tidak bersesuaian akan saling berselisih</em>”<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Oleh karena itulah, metode pendidikan dengan menampilkan contoh figur untuk diteladani adalah termasuk salah satu metode pendidikan yang sangat efektif dan bermanfaat.</p>
<p>Dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menceritakan kisah-kisah keteladanan para Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk menjadi panutan bagi orang-orang yang beriman dalam meneguhkan keimanan mereka. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ}</p>
<p>“<em>Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman</em>” (QS Huud:120).</p>
<p>Ketika menjelaskan makna ayat ini, syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Yaitu: supaya hatimu tenang dan teguh (dalam keimanan), dan (supaya kamu) bersabar seperti sabarnya para Rasul &#8216;alaihimush sholaatu wa salaam, karena jiwa manusia (cenderung) senang meniru dan mengikuti (orang lain), dan (ini menjadikannya lebih) bersemangat dalam beramal shaleh, serta berlomba dalam mengerjakan kebaikan…”<a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Fenomena Pemilihan Idola dalam Masyarakat</strong></span></p>
<p>Jika kita memperhatikan kondisi mayoritas kaum muslimin, kita akan mendapati suatu kenyataan yang sangat memprihatikan, karena kebanyakan mereka justru mengagumi dan mengidolai orang-orang yang tingkah laku dan gaya hidup mereka sangat bertentangan dengan ajaran Islam, seperti <span style="text-decoration: underline;">para penyanyi, bintang film, pelawak dan bintang olah raga</span>. Bahkan mereka lebih mengenal nama-nama idola mereka tersebut dari pada nama-nama para Nabi &#8216;<em>alaihimush sholaatu wa salaam</em> dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Kenyataan ini tentu saja sangat buruk dan berakibat fatal, karena setiap pengidola, tentu akan membeo segala tingkah laku dan gaya hidup idolanya, tanpa menimbang lagi apakah hal itu bertentangan dengan nilai-nilai agama atau tidak, karena toh memang mereka mengidolakannya bukan karena agama, tapi karena pertimbangan dunia dan hawa nafsu semata-mata.</p>
<p>Lebih fatal lagi, jika pengidolaan ini berakibat mereka mengikuti sang idola meskipun dalam hal-hal yang merusak keimanan dan akidah Islam, dan lambat laun sampai pada tahapan mengikuti keyakinan kafir dan akidah sesat yang dianut sang idola tersebut. Karena merupakan watak bawaan dalam jiwa manusia, bahwa kesamaan dalam hal-hal yang lahir antara seorang manusia dengan manusia lainnya, lambat laun akan mewariskan kesamaan dalam batin antara keduanya, disadari atau tidak. Ini berarti jika seorang muslim suka meniru tingkah laku dan gaya hidup orang kafir, maka lambat laun hatinya akan menerima dan mengikuti keyakinan rusak orang kafir tersebut.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> telah memperingatkan dengan keras bahaya perbuatan ini dalam sabda beliau: “<em>Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka</em>”<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> merahmatinya – berkata, “Sesungguhnya kesamaan dalam (penampilan) lahir (antara dua orang manusia) akan mewariskan kasih sayang, cinta dan loyalitas (antara keduanya) dalam batin/hati, sebagaimana kecintaan dalam hati akan mewariskan kesamaan dalam (penampilan) lahir.</p>
<p>Hal ini dapat dirasakan dan dibuktikan dengan percobaan. Sampai-sampai (misalnya ada) dua orang yang berasal dari satu negeri, kemudian mereka bertemu di negeri asing, maka (akan terjalin) di antara mereka berdua kasih sayang dan cinta yang sangat mendalam, meskipun di negeri asal mereka keduanya tidak saling mengenal atau (bahkan saling memusuhi”<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memilih Teladan dan Idola yang Baik bagi Keluarga</strong></span></p>
<p>Sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tentu kita wajib memilih idola yang baik bagi keluarga kita, yang akan memberi manfaat bagi pembinaan rohani mereka.</p>
<p>Dalam hal ini, idola terbaik bagi seorang muslim adalah Nabi mereka, nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang diutus oleh Allah <em>Ta&#8217;ala </em>untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, </em>“<em>Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia</em>”<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>adalah orang yang paling kuat dan sempurna dalam menjalankan petunjuk Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, mengamalkan isi al-Qur&#8217;an, menegakkan hukum-hukumnya dan menghiasi diri dengan adab-adabnya<a href="#_ftn6">[6]</a>. Oleh karena itulah Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sendiri yang memuji keluhuran budi pekerti beliau dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}</p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung</em>” (QS al-Qalam:4).</p>
<p>Dan ketika Ummul mu&#8217;minin &#8216;Aisyah t ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau menjawab, &#8220;<em>Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah al-Qur&#8217;an</em>&#8220;<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah sosok teladan dan idola yang sempurna bagi orang-orang yang beriman kepada Allah yang menginginkan kebaikan dan keutamaan dalam hidup mereka.</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>&#8221; (QS al-Ahzaab:21).</p>
<p>Dalam ayat yang mulia ini, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai &#8220;<strong>teladan yang baik</strong>&#8220;, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berarti dia telah menempuh <em>ash-shirathal mustaqim</em> (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah Y<a href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Kemudian setelah itu, idola yang utama bagi seorang mukmin adalah orang-orang yang teguh dalam menegakkan tauhid dan keimanan mereka, sehingga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sendiri yang memuji perbuatan mereka sebagai “suri teladan yang baik” dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ}</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri (nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya (yang mengikuti petunjuknya); ketika mereka berkata kepada kaum mereka: &#8220;Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata</em>” (QS al-Mumtahanah:4).</p>
<p>Ketika mengomentari ayat ini, syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Sesungguhnya keimanan dan pengharapan balasan pahala (dalam diri seorang muslim) akan memudahkan dan meringankan semua yang sulit baginya, serta mendorongnya untuk senantiasa meneladani hamba-hamba Allah yang shaleh, (utamanya) para Nabi dan Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena dia memandang dirinya sangat membutuhkan semua itu” <a href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Demikian pula para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah teladan shaleh yang utama bagi orang yang beriman, karena Allah memuji mereka dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا}</p>
<p>“<em>Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia (para sahabat y) adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi penyayang di antara sesama mereka, kamu lihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu&#8217;min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar</em>” (QS al-Fath:29).</p>
<p>Dalam hal ini, Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, “Barangsiapa di antara kamu yang ingin mengambil teladan, maka hendaknya dia berteladan dengan para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di umat ini, paling dalam pemahaman (agamanya), paling jauh dari sikap berlebih-lebihan, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat nabi-Nya, maka kenalilah keutaman mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus”<a href="#_ftn10">[10]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Menjadikan Diri sebagai Teladan dalam keluarga</strong></span></p>
<p>Termasuk teladan yang utama bagi kelurga kita adalah diri kita sendiri, karena tentu saja kita adalah orang yang paling dekat dengan mereka dan paling mudah mempengaruhi akhlak dan tingkah laku mereka. Maka menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anggota keluarga adalah termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa <span style="text-decoration: underline;">pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan</span><a href="#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p>Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang terlihat di hadapannya, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan<a href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p>Dalam hal ini, imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibarahim al-Harbi<a href="#_ftn13">[13]</a>. Dari Muqatil bin Muhammad al-&#8217;Ataki, beliau berkata, Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: &#8220;Mereka ini anak-anakmu?&#8221;. Ayahku menjawab: &#8220;Iya&#8221;. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): &#8220;<span style="text-decoration: underline;">Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka</span>&#8220;<a href="#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p>Syaikh Bakr Abu Zaid, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata, &#8220;Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan <em>mahram</em>nya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktek (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu, inilah yang dinamakan dengan &#8216;pengajaran pada fitrah (manusia)&#8217; &#8220;<a href="#_ftn15">[15]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengaruh Positif Teladan yang Baik bagi Keluarga</strong></span></p>
<p>Di antara pengaruh positif teladan yang baik adalah hikmah yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sebutkan dalam ayat tersebut di atas:</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ}</p>
<p>“<em>Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman</em>” (QS Huud:120).</p>
<p>Dalam ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa kisah-kisah dalam al-Qur’an tentang ketabahan dan kesabaran para Nabi<em> &#8216;alaihimush shalaatu wa salaam</em> dalam memperjuangkan dan mendakwahkan agama Allah sangat berpengaruh besar dalam meneguhkan hati dan keimanan orang-orang yang beriman di jalan Allah <em>Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah Ta&#8217;ala berfirman: semua yang kami ceritakan padama tentang kisah para rasul yang terdahulu bersama umat-umat mereka, ketika mereka berdialog dan beradu argumentasi (dengan umat-umat mereka), ketabahan para Nabi dalam (menghadapi) pengingkaran dan penyiksaan (dari musuh-musuh mereka), serta bagaimana Allah menolong golongan orang-orang yang beriman dan menghinakan musuh-musuh-Nya (yaitu) orang-orang kafir, semua ini adalah termasuk perkara yang (membantu) meneguhkan hatimu, wahai Muhammad, agar engkau bisa mengambil teladan dari saudara-saudaramu para Nabi yang terdahulu”<a href="#_ftn16">[16]</a>.</p>
<p>Imam Abu Hanifah pernah berkata: “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikh, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)” <a href="#_ftn17">[17]</a>.</p>
<p>Demikian pula termasuk manfaat besar teladan yang baik bagi keluarga adalah menumbuh suburkan rasa kagum dan cinta dalam diri mereka kepada orang-orang bertakwa dan mulia di sisi Allah Ta&#8217;ala, yang ini merupakan sebab utama meraih kemuliaan yang agung di sisi Allah Ta&#8217;ala, yaitu dikumpulkan bersama orang-orang shaleh tersebut di surga kelak, karena seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat nanti.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda, “Engkau bersama orang yang kamu cintai (di surga kelak)”. Sahabat yang mulia, Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, berkata: “Kami (para sahabat) tidak pernah merasakan suatu kegembiraan (setelah masuk Islam) seperti kegembiraan kami sewaktu mendengar sabda Rasulullah <em>shallallahu</em> &#8216;<em>alaihi wa sallam</em>: “Engkau bersama orang yang kamu cintai (di surga kelak)”, maka aku mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, Abu Bakr dan Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, dan aku berharap akan (dikumpulkan oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>) bersama mereka (di surga nanti) karena kecintaanku kepada mereka, meskipun aku belum mengerjakan amalan seperti amalan mereka”<a href="#_ftn18">[18]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Penutup</strong></span></p>
<p>Demikianlah, semoga Allah Ta&#8217;ala senantiasa memudahkan kita untuk mengambil teladan dan petunjuk yang baik dari kisah-kisah para Nabi &#8216;<em>alaihimush sholaatu wa salaam</em> dalam al-Qur’an, serta memuliakan kita dengan dikumpulkan di surga kelak bersama para Nabi, para shidiq, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shaleh, Amin.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا}</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan (dikumpulkan) bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya</em>” (QS an-Nisaa’:69).</p>
<p style="text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 26 Shafar 1431 H</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HSR al-Bukhari (no. 3158) dan Muslim (no. 2638).</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 392).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR Ahmad (2/50) dan Abu Dawud (no. 4031), dinyatakan hasan shahih oleh syaikh al-Albani.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Kitab “Iqtidha-ush shiraathal mustaqiim” (hal. 221).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR Ahmad (2/381) dan al-Hakim (no. 4221), dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” (no. 45).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab &#8220;Syarh shahih Muslim&#8221; (6/26).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HSR Muslim (no. 746).</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa&#8217;di dalam tafsir beliau (hal. 481).</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 856).</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi” (no. 1118).</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat &#8220;al-Mu&#8217;in &#8216;ala tahshili adabil &#8216;ilmi&#8221; (hal. 50) dan &#8220;Ma&#8217;alim fi thariqi thalabil &#8216;ilmi&#8221; (hal. 124).</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa&#8217;di dalam tafsir beliau (hal. 271).</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Beliau adalah Imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi (wafat 285 H), biografi beliau dalam &#8220;Siyaru a&#8217;alamin nubala&#8217;&#8221; (13/356).</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Kitab &#8220;Shifatush shafwah&#8221; (2/409).</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Kitab &#8220;Hirasatul fadhiilah&#8221; (hal. 127-128).</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (2/611).</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi” (no. 595).</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> HSR al-Bukhari (no. 3485) dan Muslim (no. 2639).</p>
<div class="shr-publisher-3093"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Fyang-seharusnya-jadi-idola-keluarga-muslim.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Fyang-seharusnya-jadi-idola-keluarga-muslim.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fkeluarga%2Fyang-seharusnya-jadi-idola-keluarga-muslim.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/keluarga/yang-seharusnya-jadi-idola-keluarga-muslim.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

