<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Jejak Islam</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/jejak-islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 00:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Islam Di Negeri Jiran</title>
		<link>http://muslim.or.id/jejak-islam/islam-di-negeri-jiran.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/jejak-islam/islam-di-negeri-jiran.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Apr 2011 00:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5950</guid>
		<description><![CDATA[Negara ini merupakan negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia di sebelah barat, tepatnya di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan. Ulasan sekilas ini akan membahas tentang Negeri Jiran, Malaysia. Tepatnya, kehidupan keislaman di negeri Malaysia.<a class="more" href="http://muslim.or.id/jejak-islam/islam-di-negeri-jiran.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Negara ini merupakan negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia di sebelah barat, tepatnya di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan. Ulasan sekilas ini akan membahas tentang Negeri Jiran, Malaysia. Tepatnya, kehidupan keislaman di negeri Malaysia.</p>
<p lang="en-US">Secara akar budaya, mayoritas warga asli Malaysia adalah keturunan Melayu. Warga Malaysia keturunan India dan Cina berjumlah lebih sedikit dibandingkan warga Melayu.</p>
<p lang="en-US"><em><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/04/malaysia.jpg"><img class="alignleft" title="malaysia" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/04/malaysia.jpg" alt="" width="288" height="192" /></a></em></p>
<p lang="en-US"><strong>Peraturan ditegakkan, fasilitas ditambahkan</strong></p>
<p lang="en-US">Semaraknya agama Islam di Malaysia sangat didukung oleh peran serta pemerintah dalam penetapan peraturan dan penyediaan fasilitas-fasilitas ibadah dan keagamaan yang memadai.</p>
<p lang="en-US">Di Malaysia, pembangunan setiap masjid harus memperoleh izin dari pemerintah. Jadi, Anda jangan heran bila dalam sebuah kompleks perumahan hanya ada satu masjid. Walhasil, kegiatan keislaman pun berpusat di masjid tersebut, mulai dari shalat berjamaah, sekolah agama untuk anak-anak sekolah rendah (di Indonesia, “sekolah rendah” disebut dengan “sekolah dasar”), hingga pengajian rutin ibu-ibu.</p>
<p lang="en-US">Sedikit berbicara tentang sekolah agama, di Malaysia, warga negara Malaysia maupun warga negara asing yang beragama Islam boleh memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah kerajaan (sekolah negeri) atau sekolah swasta Islam. <span style="text-decoration: line-through;">Bedanya, di sekolah kerajaan, anak-anak tidak mendapat pelajaran Bahasa Jawi dan Bahasa Arab</span>. Sedikit berbicara tentang sekolah agama, di Malaysia, warga negara Malaysia maupun warga negara asing yang beragama Islam boleh memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah kerajaan (sekolah negeri) atau sekolah swasta Islam. Selain itu, para orang tua biasanya juga akan memasukkan anak-anak mereka ke sekolah agama di sekitar tempat tinggal mereka. Dengan biaya yang sangat terjangkau, sekitar pukul 03.00 hingga pukul 05.30 sore, anak-anak bisa mendapat beragam pelajaran agama, seperti: akidah, fikih, bahasa Arab, dan lain-lain. Sebagaimana sekolah formal, sekolah agama yang berbentuk nonformal ini membuka kelasnya setiap Senin hingga Jumat.</p>
<p lang="en-US"><strong>Mazhab negara dan mufti negeri</strong></p>
<p lang="en-US">Di Malaysia, tidak sembarang orang bisa bebas berbicara dan menetapkan keputusan agama. Untuk agama Islam, pemerintah telah mengatur bahwa <a href="http://muslim.or.id/jejak-islam/islam-di-negeri-jiran.html">Malaysia </a>memiliki seorang mufti (pemberi fatwa). Selain itu, setiap negara bagian juga memiliki mufti. Pemberian fatwa keagamaan Islam hanya berhak dilakukan oleh mufti.</p>
<p lang="en-US">Salah satu contoh peran mufti adalah dalam penetapan tanggal 1 Syawal. Penetapan 1 Syawal hanya berhak dilakukan oleh mufti negeri. Oleh karena itu, di Malaysia, tidak kita jumpai masyarakat yang berhari raya Idul Fitri pada hari yang berbeda-beda. Semuanya berada dalam satu komando pemerintah.</p>
<p lang="en-US"><strong>Sebuah negara bagian yang bernama “Perlis”</strong></p>
<p>Pemerintah Malaysia memiliki sistem kontrol yang baik dalam mengatur kehidupan masyarakatnya. Dengan sebab itulah, alhamdulillah, kaum muslimin di Malaysia dapat menyantap makanan dan minuman dengan tenang, karena pemerintah Malaysia sangat ketat menyortir antara makanan halal dan makanan haram. Di <em>hypermart</em>, misalnya, makanan dan minuman yang haram dikonsumsi bagi umat Islam akan diletakkan dalam satu area tersendiri dan diberi peringatan “TIDAK HALAL”.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/04/Perlis.jpg"><img class="size-full wp-image-5952 alignright" title="Perlis" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/04/Perlis.jpg" alt="" width="416" height="243" /></a></p>
<p>Selain itu, kawasan judi pun terlarang untuk didatangi oleh umat Islam, sebagaimana di sebuah kawasan judi yang cukup besar di daerah wisata <em>Genting Highland</em>. Setiap orang yang ingin memasuki area judi di sana akan diperiksa <em>identity card</em>-nya. Hanya orang nonmuslim yang boleh masuk ke sana. Bahkan, saking ketatnya menjaga kehidupan keislaman di negerinya, pemerintah Malaysia menangkap 100 pasangan muslim yang merayakan <em>Valentine Day</em> pada Februari 2011 lalu. (<em>link</em>: <em><a href="http://www.antaranews.com/berita/246191/malaysia-tahan-muslim-yang-rayakan-valentine">http://www.antaranews.com/berita/246191/malaysia-tahan-muslim-yang-rayakan-valentine</a></em>)</p>
<p>Tak ketinggalan pula sistem negara yang menetapkan raja sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Dalam struktur kenegaraan Malaysia pun, terdapat tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan. Setiap negara bagian juga memiliki raja, menteri besar (pemimpin negara bagian), dan mufti. Hampir seluruh negara bagian menetapkan Mazhab Syafi&#8217;i sebagai mazhab negerinya. Akan tetapi, ada satu negara bagian yang menetapkan “Ahlus Sunnah wal Jamaah As-Salafiyyah” sebagai mazhab negerinya. Dialah negeri Perlis. (<em>link</em>: <em><a href="http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&amp;dt=0613&amp;pub=Utusan_Malaysia&amp;sec=Dalam_Negeri&amp;pg=dn_11.htm">http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&amp;dt=0613&amp;pub=Utusan_Malaysia&amp;sec=Dalam_Negeri&amp;pg=dn_11.htm</a></em>)</p>
<p lang="en-US"><strong>Bagaimana para perantau bisa lebih dekat kepada Islam?</strong></p>
<p lang="en-US">Warga Negara Indonesia (WNI) yang meneruskan studi di Malaysia cukup banyak. Komunitas masyarakat Indonesia pun tumbuh sumbur di berbagai negara bagian. Bukan hanya para mahasiswa, namun juga kumpulan ibu-ibu dan anak-anak. Kota tempat tinggal kami, Tronoh, pun demikian adanya.</p>
<p>Ada sebersit hikmah bagi para perantau yang menjalani hidup di kota ini. Sebagian dari mereka justru menjadi lebih dekat kepada Islam semenjak merantau di Negeri Jiran ini. Kota kecil yang tidak ramai, pusat perbelanjaan yang jauh terletak di pusat kota, dan rutinitas yang terfokus pada kegiatan kampus semata, membuat waktu luang para perantau bisa dimanfaatkan untuk lebih dekat kepada Islam yang murni. Itulah Islam yang diambil dari kemurnian Alquran dan kemuliaan hadis-hadis <em>nabawiyyah</em>, yang disandingkan dengan pemahaman lurus para sahabat <em>radhiallahu &#8216;anhum</em>.</p>
<p>Alhamdulillah, ada salah seorang mahasiswa S3 bidang keteknikan yang juga mumpuni dalam bidang agama Islam. Beliaulah yang membabat alas, sehingga rekan-rekan lain bisa berkumpul dua pekan sekali untuk mengkaji Kitabullah dan Sunnah <em>nabawiyyah</em>. Alhamdulillah, atas hidayah Allah kemudian atas usaha beliau, tak sedikit dari kawan-kawan Indonesia di sini yang malah mengenal manhaj salafi sejak berada di sini. Tak sedikit pula kawan-kawan Malaysia yang mendapat cahaya manhaj salafi dengan adanya kajian-kajian Islam yang disampaikan oleh mahasiswa S3 tersebut.</p>
<p lang="en-US">Meski kini beliau telah kembali ke Tanah Air, Indonesia, tunas dakwah salafiah yang beliau tanam masih tetap berusaha dijaga oleh rekan muslimin Malaysia maupun Indonesia yang masih berada di sini. Tunas dakwah itu pun kini telah menjalar ke lingkungan para ibu-ibu Indonesia dan muslimah-muslimah Malaysia.</p>
<p lang="en-US">Akhirulkalam, semoga keistiqamahan selalu menyertai kita, di mana pun kita berada.</p>
<p lang="en-US">Malaysia, 12 Jumadil Ula 1432 H (16 April 2011),</p>
<p lang="id-ID">&#8212;</p>
<p>Penulis: Abu Asiyah dan Ummu Asiyah</p>
<p>Artikel <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></span></p>
<div class="shr-publisher-5950"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fjejak-islam%2Fislam-di-negeri-jiran.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/jejak-islam/islam-di-negeri-jiran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehidupan Islam di Negeri Gajah Putih</title>
		<link>http://muslim.or.id/jejak-islam/kehidupan-islam-di-negeri-gajah-putih.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/jejak-islam/kehidupan-islam-di-negeri-gajah-putih.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Apr 2011 00:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Thailand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5940</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in Seperti telah kita ketahui bersama, Thailand adalah negara yang sering dikenal sebaga negeri gajah putih. Negara ini juga terkenal sebagai tujuan wisata<a class="more" href="http://muslim.or.id/jejak-islam/kehidupan-islam-di-negeri-gajah-putih.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in</em></p>
<p>Seperti telah kita ketahui bersama,  Thailand adalah negara yang sering dikenal sebaga negeri gajah putih. Negara ini juga terkenal sebagai tujuan wisata para turis dari seluruh dunia.  Bidang pertanian juga merupakan salah satu andalan dari negeri ini. Hampir seluruh hasil pertanian dan perkebunan yang berasal dari Thailand merupakan produk unggulan.</p>
<p>Secara umum, penduduk Thailand beragama Budha.  Menurut sensus penduduk pada tahun 2000, mayoritas warga Negara Thailand beragama Budha (94,6%),  kemudian Islam (4,6%), dan sisanya adalah Kristen dan Katolik [1].  Namun saat ini angka pemeluk agama Islam dipercaya melebihi angka 10%, atau sekitar  7,4 juta dari 67 juta jiwa penduduk Thailand [2]. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pemeluk agama Islam di negeri ini terus meningkat.<br />
<img class="alignleft" title="phuket-thailand" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/04/phuket-thailand.jpg" alt="" width="336" height="210" /></p>
<p><strong>Gambaran Umum Kehidupan Islam</strong></p>
<p>Sebagian besar muslim di negeri ini tinggal di Thailand bagian selatan, yang banyak berada di propinsi Yala, Narattiwat, dan Pattani. Secara budaya dan penampakan fisik, mereka lebih dekat kepada masyarakat Melayu. Jika kita melihat sejarah yang telah berlalu, wilayah-wilayah tersebut tadinya bukan merupakan bagian dari Thailand. Namun sejak tahun 1808, Thailand menjajah wilayah tersebut dan menjadikannya sebagai wilayah kekuasaannya. Tentu saja banyak pertentangan yang terjadi  karena Thailand merupakan negeri Budha yang menganggap raja sebagai keturunan dewa. Sehingga banyak ritual syirik yang bertentangan dengan Islam itu sendiri. Pemberontakan pun pernah terjadi, dan hingga saat ini pun masih ada pertentangan-pertentangan yang terjadi karena perbedaan prinsip tersebut [3].</p>
<p>Walaupun mayoritas muslim ada di bagian selatan Thailand, namun bukan berarti di bagian lain <a href="http://muslim.or.id/jejak-islam/kehidupan-islam-di-negeri-gajah-putih.html">Thailand </a>tidak ada muslim. Katakanlah Bangkok, ibukota Thailand. Di Bangkok,  kita dengan mudah dapat menemui masjid. Walaupun mayoritas muslim di Bangkok adalah pendatang dari bagian selatan Thailand (secara fisik dapat dikenali dengan mudah, karena berdarah melayu), namun cukup banyak juga muslim yang berdarah Thailand asli (biasanya berkulit putih). Hal ini menunjukkan dakwah Islam berjalan dengan baik di Bangkok.</p>
<p>Apabila kita mendatangi masjid-masjid di Thailand, kita akan menyadari bahwa banyak kemiripan kehidupan muslim di Thailand dan Indonesia. Mayoritas muslim di Thailand adalah sunni bermazhab Syafi’i. Dan secara umum, mereka mirip sekali  dengan kaum Nahdliyin yang ada di negeri kita. Dengan mudah kita temui acara dzikir berjama’ah , nasyid, dan berbagai macam shalawat.  Setiap masjid pun biasanya memiliki kyai yang diagungkan di situ.</p>
<p>Namun <em>Alhamdulillah</em>, dari kalangan pemuda (kebanyakan mahasiswa) banyak yang rajin menuntut ilmu di manhaj salaf yang mulia ini. Mereka cukup rajin mengadakan kajian-kajian ilmiah di masjid walaupun terkadang bertentangan dengan pengurus masjid itu sendiri. Meskipun mereka berhadapan dengan terbatasnya pustaka yang dapat mereka akses (karena tidak semua bisa berbahasa Arab), namun mereka sangat bersemangat untuk menegakkan Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para <em>salafus shalih</em>. Mereka pun menampakkan ke-Islam-an mereka dengan terang-terangan. Mereka memelihara jenggot, tidak isbal, bahkan di kampus pun kita terkadang bisa menemui saudari kita yang bercadar. Dan <em>qadarullah</em>, mereka pula-lah yang menjadi salah satu penyebab penulis mendapatkan hidayah untuk istiqomah di manhaj yang mulia ini.</p>
<p><strong>Dukungan Kerajaan Thailand terhadap Islam</strong></p>
<p>Meskipun Thailand merupakan negeri Budha, namun kerajaan cukup mendukung kehidupan Islam para penduduknya.  Tanggungjawab urusan mengenai agama Islam di Thailand diemban oleh seorang mufti yang mendapat gelar Syaikhul Islam (<em>Chularajmontree</em>).  Mufti ini berada di bawah kementerian dalam negeri dan juga kementerian pendidikan dan bertanggungjawab kepada raja. Mufti bertugas untuk mengatur kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan muslim, seperti penentuan awal dan akhir bulan hijriyah.</p>
<p>Mufti membawahi dewan propinsial Islam yang beranggotakan 26 orang dari tiap propinsi. Dan dewan tersebut membawahi sekitar 3494 masjid yang ada di Thailand [2]. Pusat dari kegiatan tersebut berada di Bangkok, yaitu <em>Islamic Center</em> yang terletak di daerah Ramkhamhaeng. Selain itu, di setiap Universitas biasanya terdapat Muslim Student Club. Biasanya kelompok tersebut mendapat tempat khusus yang juga dapat digunakan untuk melaksanakan shalat.</p>
<p>Secara umum, masyarakat Thailand juga sangat toleran terhadap muslim. Mereka cukup peduli dengan makanan yang dapat kita makan, dan mereka juga sangat mudah memberi izin untuk melakukan shalat. Namun karena Thailand merupakan Negara Budha, sehingga hari besar kaum muslimin (Idul Fitri dan Idul Adha) tidak mereka liburkan. Hal ini terkadang menjadi kendala bagi para pelajar atau pegawai yang ingin melaksanakan sholat Ied berjama’ah. Namun biasanya tiap institusi memberikan keringanan untuk “membolos” pada waktu-waktu tersebut.</p>
<p><strong>Makanan</strong></p>
<p>Banyak orang mengira bahwa mencari makanan halal di Thailand merupakan perkara sulit. Namun kenyataannya, makanan halal merupakan hal yang mudah didapatkan di mana saja. Katakanlah jika kita pergi ke kantin kampus. Biasanya di tiap kompleks kantin ada satu kios makanan halal. Jika kita pergi ke pasar, biasanya ada penjual daging halal yang disembelih secara syar’i. Jika kita ingin makan di warung halal sekalipun, kita cukup mencari masjid yang terdekat. Biasanya di dekat masjid ada perkampungan muslim dan juga penjual makanan halal. Di mall-mall sekalipun biasanya kita dapat menemukan rumah makan halal.</p>
<p>Namun salah satu hal yang membuat muslim di Thailand merasa aman akan ketersediaan makanan halal adalah adanya badan sertifikasi halal yang sangat kuat [4]. Dengan mengakses <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.halal.or.th/">www.halal.or.th</a></span> saja kita sudah dapat menemukan list produk dan restoran halal yang ada di Thailand. Bahkan produk-produk kemasan yang ada di supermarket pun sudah banyak yang bersertifikat halal yang dikeluarkan oleh badan tersebut. Sehingga muslim di Thailand dapat dengan leluasa memilih mana yang bisa dimakan dan tidak.</p>
<p>Salah satu orang yang berjasa di bidang sertifikasi halal ini adalah Winai Dahlan, seorang <em>associate professor</em> di Chulalongkorn University. Beliau merupakan cucu dari KHA Dahlan. Beliau saat ini adalah direktur dari Halal Science Center di universitas tersebut. Beliau sangat giat melakukan promosi mengenai makanan halal ke seluruh dunia. Bahkan bisa dikatakan kemajuan mengenai makanan halal di Thailand sudah selangkah lebih maju dibandingkan Indonesia karena promosi gencar yang mereka lakukan.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/04/Thai-Food.jpg"><img class="size-full wp-image-5942 alignright" title="Thai-Food" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/04/Thai-Food.jpg" alt="" width="307" height="221" /></a></p>
<p><strong>Menjadi seorang Muslim di Thailand</strong></p>
<p>Paparan di atas menunjukkan berbagai macam gambaran kehidupan muslim di Thailand. Namun secara umum, hidup menjadi seorang muslim di Thailand penuh dengan perjuangan yang berat.</p>
<p>Seperti kita ketahui bahwa Thailand merupakan negeri yang bebas. Mayoritas penduduknya menyukai kehidupan malam, pergaulan bebas, dan minum minuman keras.  Selain itu dentuman musik dapat kita temui di mana saja. Para pemudi pun berpakaian sangat minim. Bagi seseorang yang sedang lemah imannya, tentu saja serbuan kemaksiatan yang ada di lingkungan merupakan tantangan yang berat.</p>
<p>Secara kepercayaan pun, kita dapat menemui praktik syirik tersebar di mana-mana. Hampir di setiap rumah ada kuil kecil di mana mereka meletakkan sesaji. Bahkan biasanya para pedagang pun meletakkan sesaji itu di toko mereka. Pengagungan mereka pada kerajaan pun sudah melampaui batas. Raja dianggap sebagai keturunan dewa sehingga mereka menjadikannya sesembahan. Biksu pun mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa. Mereka akan memberikan apapun jika bertemu biksu, hanya untuk mendapatkan berkat dari mereka. Tentu saja praktik syirik yang bertebaran di seluruh bumi Thailand ini terus bertentangan dengan hati kaum muslimin.</p>
<p>Karena itu, biasanya kaum muslimin di Thailand hidup berkelompok supaya dapat saling menjaga. Di dekat masjid biasanya ada perkampungan muslim. Selain itu, ada juga beberapa daerah di Bangkok yang memiliki persentase penduduk muslim yang cukup besar. Mereka berusaha membuat lingkungan yang baik supaya dapat hidup di luar gelimang kemaksiatan tadi.</p>
<p>Terkadang kelompok-kelompok yang hidup di beberapa daerah tersebut berkumpul karena kesamaan suku. Ada daerah di Bangkok yang bernama Kampung  Jawa. Di daerah tersebut, penduduknya merupakan keturunan jawa yang sudah turun temurun tinggal di sana. Di kampung tersebut terdapat Masjid Jawa. Selain itu ada juga Masjid Indonesia. Ada cukup banyak warga keturunan yang berasal dari banyak negara dan membentuk komunitas sendiri. Hal itu tidak lain adalah upaya mereka untuk saling menjaga dari kehidupan budaya yang sangat berbeda dengan nilai Islam. Biasanya mereka sudah lupa dengan bahasa dari negeri mereka masing-masing. Seperti Winai Dahlan yang telah disebutkan sebelumnya, juga tidak bisa berbicara Bahasa Indonesia sama sekali.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, demikianlah kehidupan Islam di Negeri Gajah Putih. Barangkali kita tadinya tidak menyangka bahwa kita memiliki saudara-saudara yang terus berjuang hidup sambil mempertahankan aqidahnya di negeri kafir ini. Semoga hal ini membuat kita semua untuk senantiasa bersyukur dan juga semakin bersemangat menuntut ilmu. Mereka dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, masih terus berusaha mencari kebenaran dalam memahami dienul Islam ini. Semoga Allah selalu menjaga saudara-saudara kita ini. Dan semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Penulis: </em><em> Fikri Waskito</em><em> (</em><em>mahasiswa Chulalongkorn University, Thailan</em><em>d)</em></p>
<p>Artikel <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></span></p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Referensi:</em></p>
<ol>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Thailand">http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Thailand</a></span>, 	diakses pada 8 April 2011</li>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Thailand">http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Thailand</a></span>, 	diakses pada 8 April 2011</li>
<li>History 	and Politics of Muslim in Thailand, Thanet Apornsuvan, Thammasat 	University</li>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.halal.or.th/en/main/index.php">http://www.halal.or.th/en/main/index.php</a></span>, 	diakses pada 8 April 2011</li>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://halalscience.org/en/main2010/index.php">http://halalscience.org/en/main2010/index.php</a></span>, 	diakses pada 8 April 2011</li>
</ol>
<div><span style="color: #0000ee; -webkit-text-decorations-in-effect: underline;"><br />
</span></div>
<div class="shr-publisher-5940"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fjejak-islam%2Fkehidupan-islam-di-negeri-gajah-putih.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/jejak-islam/kehidupan-islam-di-negeri-gajah-putih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisahku Di India</title>
		<link>http://muslim.or.id/jejak-islam/kisahku-di-india.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/jejak-islam/kisahku-di-india.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 00:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Islam]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5929</guid>
		<description><![CDATA[Sudah dua bulan saya di India, tapi belum sempat juga menulis untuk Qiblati. Saya sudah sampaikan ke ustadz Agus Hasan Bashori, Lc,,M.Ag bahwa insyaAllah saya akan segera menulis. Hanya saja kesulitan beradaptasi dengan lingkungan mungkin<a class="more" href="http://muslim.or.id/jejak-islam/kisahku-di-india.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sudah dua bulan saya di India, tapi belum sempat juga menulis untuk Qiblati. Saya sudah sampaikan ke ustadz Agus Hasan Bashori, Lc,,M.Ag bahwa insyaAllah saya akan segera menulis. Hanya saja kesulitan beradaptasi dengan lingkungan mungkin menjadi salah satu kendala. Saya masih sibuk dengan pengenalan budaya masyarakat di sini dan kuliah. Sampai kemudian sore ini, ketika membuka email, ustadz kembali menanyakan, mana tulisan kami. Saya pun berusaha untuk segera menulis.</p>
<p><strong>Berangkat Ke India</strong></p>
<p>Setelah meninggalkan Indonesia, muncul perasaan sedih yang luar biasa. Saya harus meninggalkan keluarga. Kepada Allah semata kami berserah dan memohon perlindungan. Apalagi setelah tiba di Bandara Internasional New Delhi pada malam tanggal 7 Juli 2010, saya langsung merasa sangat asing dengan negeri ini. Untuk keluar dari bandara saja, membutuhkan waktu antri lebih dari 2 jam karena harus melapor ke bagian imigrasi terlebih dahulu. Antriannya begitu panjang, sayang  tidak sedikit mereka yang memotong antrian saya. Tidak ada garis, tidak ada satpam atau apapun yang mengatur barisan. Hanya etika saja yang coba saya jaga.</p>
<p>Setelah keluar dari bandara kemacetan di sana sini dan suara klakson mobil yang saling bersahutan memekakkan telinga. Saya langsung berfikir, inikah India?. Kesan kurang baik pun muncul, Alhamdulillah akhirnya pada pukul 00.00 waktu Delhi (jam 01.30 WIB) saya diantar ke hostel oleh sopir dari perwakilan pemerintah India.</p>
<p>Awalnya saya membayangkan begitu nikmat akan tinggal di hostel karena sudah menempuh perjalanan panjang, Sejak jam 8.00 pagi tadi saya sudah berada di bandara Juanda, kemudian menunggu hampir 4 jam di bandara Kuala Lumpur. Waktunya untuk istirahat. Ternyata, hostel yang dimaksud adalah tempat yang tidak lebih dari barak. Di satu ruangan yang luas, saya lihat ada banyak orang yang tidur. Tempat tidurnya bertingkat seperti di pondok pesantren. Barang-barang berhamburan dan baju bergelantungan di mana-mana, bahkan di atas Air Condition (AC) sekali pun. Air pun menggenang di beberapa bagian lantai.</p>
<p>Saya masuk dan membiarkan penghuni sebelum saya tetap terlelap. Tapi saya berfikir keras, bagaimana caranya untuk segera meninggalkan tempat ini. Saya tidak bisa lama-lama di sini. Bersyukur keesokan paginya setelah sholat subuh saya bisa menghubungi mahasiswa Indonesia yang ada di New Delhi dan minta untuk segera dijemput.</p>
<p>Satu hal yang terjadi ketika waktu sholat membuat saya heran. Meskipun banyak orang, para calon-calon penuntut ilmu dari berbagai Negara tadi sholat sendiri-sendiri. Selain itu, banyak yang hanya sholat pakai singlet dan sehabis sholat juga menggerak-gerakkan tangannya. Saya tidak tahu, itu apakah bagian dari doa mereka atau apa.</p>
<p>Bersyukur ada 2 orang yang mau saya ajak sholat berjama’ah. Dan itulah yang membuka keakraban kami untuk saling menyapa. Saya baru tahu, ternyata kebanyakan dari mereka berasal dari Afghanistan dan Negara-negara Asia Tengah seperti Tajikistan dan Kirgiztan. Mereka adalah beberapa mahasiswa asing yang juga mendapatkan beasiswa pemerintah India tetapi belum mendapatkan tempat tinggal.</p>
<p>Dari pembicaraan dengan anak-anak Aghanistan saya tahu bahwa ternyata Amerika sudah sedemikian rupa mempengaruhi negara itu. Dari pembicaraannya, mereka begitu bangga dengan Amerika. Mereka bilang Amerika adalah negara yang hebat dan perlu ditiru, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bahkan dengan gurauan, salah seorang di antara mereka bertanya kepada saya. “Bagaimana dengan jenggot Anda, apa Anda juga tergabung dalam Al-Qaedah?”, ujar mereka.</p>
<p>Saya pura-pura tidak paham dengan Al-Qaedah sambil saya tanya, “Bukankah Al-Qaedah dan Thaliban ingin menerapkan syariat islam di Afghanistan?” Langsung saja mereka bicara panjang, yang intinya menunjukkan bagaimana lemahnya pemahaman Al-Qaedah dan Thaliban terhadap konteks kehidupan masa kini. Demokrasi ala Amerika adalah sesuatu yang harus ditiru Afghanistan dan tentu saja Negara muslim lainnya. Begitu kata mereka.</p>
<p>Saya bergumam dalam hati, “Ternyata orang-orang Afghanistan tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya”. Mereka ternyata tidak begitu membela islam, dan dari mahasiswa yang saya temui, tidak seorang pun yang bisa berbahasa arab walau sedikit saja. Kalau bahasa inggris jangan ditanya. Fasihnya luar biasa. Ternyata mereka belajar dari pasukan Amerika yang menyerbu  negara Aghanistan tahun 2001 lalu dan masih bertahan di sana sampai sekarang.</p>
<p><strong>Berkenalan dengan India</strong></p>
<p>Setelah dijemput oleh seorang teman dari Indonesia yang juga kuliah di kampus yang sama, saya tinggal di kampung muslim, tidak jauh dari kampus. Beberapa kali kalau ke kampus saya jalan kaki, tapi lebih sering naik <em>rekshaw</em> (sejenis becak yang ditarik dengan sepeda ontel, sopirnya di depan, bukan di belakang seperti di Indonesia). Saya sengaja tinggal di sini karena dekat dengan masjid Jami’.</p>
<p><strong>1. Islam 	di kampung muslim</strong></p>
<p>Di masjid ini, awalnya saya begitu kaget. Setiap waktu sholat ribuan jama’ah berbondong-bondong menuju masjid. Orang-orang tua, meskipun mereka tidak lagi sanggup sholat sambil berdiri, mereka tetap berjama’ah lima waktu di sana. Apalagi kalau hari jumat dan bulan ramadhon, 5 lantai masjid yang besar ini penuh sesak dengan jama’ah.</p>
<p>Hanya saja ternyata ada beberapa perbedaan dari cara sholat di sini yang tidak umum di Indonesia. Mereka kalau tidak salah menggunakan mazhab Hanafi. Pada waktu qomat misalnya, semua dibaca dua kali seperti adzan. Setelah membaca Al Fatihah, makmum tidak menjahrkan bacaan Amin. Mereka juga tidak mengangkat tangan ketika takbir dan i’tidal.</p>
<p>Tapi kalau bulan ramadhan, hanya dalam waktu 26 malam, semua Al-quran dibaca khattam waktu shalat tarawih. Setiap malam, lebih dari satu juz. Shalat tarawih dilaksanakan 23 rakaat.</p>
<p>Adapun wanita, di sini tidak pernah ke Masjid. Mereka kebanyakan menggunakan cadar, hanya saja menurut saya tidak seperti di Indonesia. Banyak mereka yang bercadar tetapi tidak menutup hijab lebih rendah dari dadanya, bahkan ada beberapa yang bercadar tapi menggunakan celana jeans. Saya tidak tahu, mungkin mereka melakukan itu bukan karena pemahaman agama, tapi terpengaruh juga dengan alam India yang begitu berdebu di musim panas.</p>
<p>Udara di sini pada bulan Mei, Juni dan Juli begitu panas, suhu selalu di atas 45 derajat celcius, bahkan mencapai 50 derajat celcius. Bisa dibayangkan kalau keluar rumah, keringat selalu bercucuran. Bahkan di dalam kamar pun kipas angin harus selalu dihidupkan. Sayang, di sini listrik sering mati.</p>
<p>Saking panasnya, saya sempat berfikir, kok ada orang yang mau tinggal di <a href="http://muslim.or.id/jejak-islam/kisahku-di-india.html">India</a>. Bahkan muncul keraguan untuk terus disini, sanggupkah saya menghadapi udara yang seperti ini? Belum lagi budaya masyarakat India yang begitu keras. Saya pernah melihat mereka seperti sedang bertengkar, tetapi ternyata tidak lama setelah itu mereka sama-sama tertawa.</p>
<p>Hanya saja, ketika saya melihat ada banyak bayi-bayi kecil, saya merasa kasihan sebenarnya, tapi muncul pertanyaan, bayi kecil saja bisa bertahan di India, kenapa saya tidak? Melihat teman-teman yang sudah bertahun-tahun di India, bahkan beberapa sudah menyelesaikan S-3 mereka, saya juga berusaha menguatkan tekat. Inilah mungkin perjuangan untuk melatih kesabaran. Bukankah azab di akhirat jauh lebih panas dari ini. Satu pelajaran yang kembali mengingatkan saya dengan arti kehidupan. Apalagi saya dikasih tahu teman, insyaAllah nanti bulan November sampai dengan Februari sudah musim dingin (terkadang sampai dibawah 3 derajat celcius)</p>
<p>Hampir setiap habis sholat Shubuh dan Ashar juga diadakan pengajian. Sayang, bahasa urdu yang dipakai, jadi saya tidak paham, kecuali menebak-nebak isi ceramah dari dalil Al-quran dan hadits yang disampaikan. Sempat saya berfikir, kapan di Indonesia bisa juga seperti ini.</p>
<p>Beberapa kali saya juga bertemu dengan orang-orang dari Yaman, Malaysia, bahkan Indonesia yang datang ke sini. Ternyata, Jama’ah Tabligh<sup><a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup> yang markaz-nya di Nizamuddin, tidak lebih 5 km dari tempat saya tinggal, mengirim jama’ah-jama’ahnya hampir ke semua masjid di India. Pernah saya mendengar isi ceramah dari ustadz mereka dari Yaman, dan saya tahu bahwa yang mereka sampaikan begitu sederhana. Mengajak orang shalat ke masjid, bertaqwa dan berda’wah. Hal-hal sangat umum saja tentang islam, tidak mendalam.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/04/india.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-5933" title="india" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/04/india.jpg" alt="" width="480" height="300" /></a></p>
<p><strong>2. Budaya 	Masyarakat di kampung Muslim</strong></p>
<p>Ketika bicara tentang islam di India, tidak berarti kebiasaan pemeluk agama lain lebih baik. Hanya saja ini murni sebagai pengalaman dan renungan saya tentang kondisi umat islam. Saya ingin ada koreksi bahwa seringkali sesuatu kita anggap sebagai islam, tapi ternyata sudah tercampur dengan lingkungan di sekitar kita. Ada beberapa hal yang bukan dari Al-Quran dan sunnah yang dianggap sebagai bagian dari islam.</p>
<p>Lebih dari 80 persen umat islam di India adalah orang yang menjadi mu’alaf dari agama Hindu, terutama mereka yang berasal dari kalangan bawah. Mereka tidak bisa bertahan dengan konsep kasta yang begitu mengikat. Hanya saja ternyata, hal itu memberikan beberapa pengaruh terhadap islam di India, misalnya:</p>
<ol>
<li>Sistem 	kasta tetap ada di kalangan islam meskipun sedikit lebih longgar. 	Misalnya, seorang muslim yang berasal dari kasta rendah, jangan 	pernah berharap bisa menikah dengan mereka yang berasal dari kasta 	yang tinggi.</li>
<li>Budaya 	mereka sebagai masyarakat kelas bawah tetap melekat, misalnya dalam 	hal cara bicara yang keras dan kasar.</li>
</ol>
<p>Pernah suatu hari, sepulang dari sholat maghrib saya melihat orang begitu rame berkumpul di luar masjid yang otomatis membuat jalan di sebelah masjid menjadi macet. Ada dua orang yang sedang berdebat dengan suara keras seperti orang sedang berkelahi.</p>
<p>Saya mendekati seorang pemuda yang menurut saya dari wajahnya seperti seorang mahasiswa. Saya langsung tanya apakah dia berbahasa inggris atau tidak. Ketika dia menjawab, ya, barulah saya tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ternyata dua orang tadi, sedang berdebat tentang ajaran islam, yaitu mengenai masalah keutamaan sholat sunnah di masjid atau rumah.</p>
<p>Urusan lain yang menurut saya juga sangat penting adalah budaya menjaga kebersihan lingkungan. India menurut saya sama sekali tidak bersih, apalagi di musim penghujan. Sebentar saja hujan, banjir akan terjadi di mana-mana. Di sini soalnya tidak ada selokan, kecuali ada lobang di bawah jalan, itu pun lebih sering tersumbat.</p>
<p>Masyarakat di sini juga punya kebiasaan membuang limbah di jalan. Sehingga di mana-mana pada musim tertentu kita bisa menemukan ribuan lalat yang beterbangan. Dan mereka pun membiarkannya begitu saja. Saya awalnya kaget, setelah mencari informasi, ternyata hal itu dikarenakan meskipun mereka muslim  tetapi tetap terpengaruh dengan budaya orang hindu yang tidak membolehkan membunuh binatang.</p>
<p>Selain masalah budaya, hal ini tentu saja dipengaruhi oleh jumlah penduduk India yang sangat banyak, sekitar 1,2 milliar. Delapan puluh persen dari penduduk India hanya berpenghasilan kurang dari $20 per hari. Sebagian besar orang islam juga termasuk kelompok menengah ke bawah. Adapun jika ada pertumbuhan ekonomi India yang pesat, itu dikuasi oleh segelintir orang yang disebut tuan tanah.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak heran jika kita bisa menyaksikan sangat banyak pengemis dengan berbagai kondisi yang memperihatinkan. Ada yang tidak punya kaki, ada yang tidak punya tangan, ada yang berbadan kurus kering, dst. Terkadang, muncul perasaan kasihan terhadap mereka, tetapi mana kala saya melihat mereka tidak pernah sholat, paling tidak setiap waktu sholat mereka tetap duduk pada tempatnya menunggu belas kasihan dari orang lain, saya menjadi sedikit kehilangan simpati. Wallahu a’lam, saya takut jika hati ini menjadi tidak lagi tersentuh melihat orang-orang susah karena sudah menjadi pemandangan harian.</p>
<p>Selain itu, ketika saya mempertanyakan berbagai kondisi tersebut kepada seorang teman dari Kashmir, ia mengatakan bahwa pelayanan pemerintah yang tidak maksimal dan kurang adil terhadap umat islam merupakan sumber berbagai masalah tadi. Konflik Kashmir pun menurut dia, bukanlah urusan sumber daya alam yang selama ini sering diberitakan. Persoalannya, adalah bahwa 100% masyarakat Kashmir, kecuali pejabat-pejabat mereka, ingin bergabung dengan Pakistan sebagai Negara Islam. India yang merasa sakit hati atas pemisahan Pakistan 1947 dari India menjadikan ini sebagai sarana membalas sakit hatinya kepada Pakistan.</p>
<p>Inilah Islam India yang sebenarnya merupakan mayoritas kedua di dunia dengan jumlah tidak kurang 150 juta jiwa, tetapi mereka menjadi minoritas di negerinya sendiri.</p>
<p><strong>Terus Apa yang menarik di India?</strong></p>
<p>Secara sederhana menurut saya yang menarik dari India adalah masalah pendidikannya. Biaya pendidikan di India sangat murah. Untuk level S2 rata-rata hanya 700 ribu rupiah saja per-tahun untuk mahasiswa lokal dan 5 juta rupiah per tahun untuk mahasiswa asing. Bahkan di Aligarh Muslim University, 5 juta rupiah sudah termasuk semua biaya kuliah S3 sampai tamat, bisa 3 s/d 5 tahun. Tidak heran, beberapa teman yang saya kenal, ia masih berusia 24 tahun, sudah akan selesai S3 tahun ini.</p>
<p>Meskipun murah, kualitasnya tidak diragukan. Semua dosen yang mengajar di India minimal sudah lulus S3. Mereka begitu mudah ditemui dan berpenampilan sangat sederhana. Ada yang ke kampus pakai kopiah, ada juga yang hanya pakai sepeda ontel, padahal mereka adalah professor. Jadi di India, nilai kesederhanaan sangat terlihat.</p>
<p>Mahasiswa S2 sering disampaikan oleh dosen <em>“you are just student</em> (Anda hanya seorang siswa), alias seperti belum punya ilmu. Padahal secara teori mereka sudah sangat mumpuni. Sayang memang secara aplikasi masih kurang.</p>
<p>Jika ujian, selama 3 jam, mahasiswa diminta untuk mengerjakan 5 soal dari 7 soal yang diberikan sebanyak 30-an lembar. Jadi 1 jawaban soal  minimal 6 halaman. Fasilitas yang ada pun juga serba terbatas, tetapi mereka benar-benar memanfaatkannya secara maksimal.</p>
<p>Oleh karena itu, budaya mahasiswa di sini sangat berbeda dengan kebanyakan mahasiswa di Indonesia. Kalau tidak segera pulang dan belajar di rumah, biasanya mereka akan segera ke perpustakaan. Jangankah waktu aktif kuliah, masa liburan saja, ruang baca perpustakaan tetap penuh.</p>
<p>Itulah India, negara yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan pernah mengunjunginya, apalagi untuk sekolah. Hanya saja Allah maha tahu mana tempat yang terbaik bagi saya.</p>
<p>Atas saran ustadz Agus untuk kuliah di kampus Islam, saya mulai merasakannya manfaatnya. Minimal ibadah sholat di masjid terjaga dan tidak kesulitan dengan masalah makanan, termasuk masalah lingkungan yang jauh dari maksiat. Wallahu a’lam bishowab</p>
<p>****</p>
<p lang="id-ID">India, 9 September 2010</p>
<p>Memasuki bulan syawal 1431</p>
<p lang="id-ID">&#8212;</p>
<p>Penulis: Muhammad Rusyid</p>
<p>Artikel Majalah Qiblati, dikirim oleh penulis kepada redaksi <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></span></p>
<p><a href="#sdfootnote1anc">1</a> Mengenai kelompok Jama’ah Tabligh ada beberapa 	ajaran mereka yang mendasar yang jauh dari ajaran Islam. Seperti 	seringnya merujuk pada kitab <em>Fadhailul A’mal</em> yang tidak sedikit 	berisi hadits <em>dha’if</em>. Dan kebanyakan mereka pun berdakwah namun 	jauh dari ilmu.</p>
<div class="shr-publisher-5929"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fjejak-islam%2Fkisahku-di-india.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/jejak-islam/kisahku-di-india.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagi Cerita Dari Sydney</title>
		<link>http://muslim.or.id/jejak-islam/berbagi-cerita-dari-sydney.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/jejak-islam/berbagi-cerita-dari-sydney.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 11:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sydney]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4082</guid>
		<description><![CDATA[Saat tiba di Sydney kami langsung berkenalan dengan para pelajar Islam lain yang kebanyakan sedang menempuh studi di University of New South Wales. Ternyata perkumpulan pelajar Islam di Sydney ini mempunyai berbagai macam kegiatan. Perkumpulan<a class="more" href="http://muslim.or.id/jejak-islam/berbagi-cerita-dari-sydney.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://muslim.or.id/jejak-islam/berbagi-cerita-dari-sydney.html"><img class="post-image" title="Islam Di Sydney" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/South-Wales.jpg" alt="Islam Di Sydney" hspace="5" vspace="5" /></a> Saat tiba di Sydney kami langsung berkenalan dengan para pelajar Islam lain yang kebanyakan sedang menempuh studi di University of New South Wales. Ternyata perkumpulan pelajar Islam di Sydney ini mempunyai berbagai macam kegiatan. Perkumpulan yang diberi nama KPII (Keluarga Pelajar Islam Indonesia) ini mengadakan pengajian keluarga setiap akhir bulan yang diadakan di aula kampus UNSW serta pada waktu-waktu tertentu diadakan di Konsulat Jenderal RI. Untuk para ibu-ibu mengadakan pengajian khusus <em>akhowat</em> setiap dua pekan sekali. Sedangkan untuk anak-anak diadakan kegiatan TPA setiap pekan sekali yaitu pada hari Sabtu. Pada bulan Ramadhan kami mengadakan buka bersama di rumah-rumah pelajar muslim yang dilakukan secara bergantian. Selain itu, kami bekerja sama dengan ISOC (<em>Islamic Society</em>) of UNSW juga mengadakan buka bersama di beberapa hari dalam bulan Ramadhan, bergantian dengan komunitas muslim dari negara-negara lain, seperti Libanon dan India. Pada waktu tertentu, komunitas muslim SUMSA (<em>Sydney University Muslim Student Association</em>) juga mengadakan <em>event</em> bertajuk <em>Islamic Awareness Week</em> dengan kegiatan-kegiatan berupa ceramah, isu-isu Islam terkini di dunia, serta juga menampilkan acara <em>multicultural lunch</em> di mana para muslim dari berbagai negara menyajikan makanan khas dari daerah mereka masing-masing kepada para pengunjung.</p>
<p><strong>Mendapatkan Makanan Halal</strong><br />
Di Sydney ini terhitung mudah dalam mendapatkan makanan halal. Daerah di sekitar kami tinggal (Kingsford) terdapat dua buah toko Asia (<em>Asian Market</em>) yang banyak menjual makanan dan <em>snack</em> berlabel halal yang merupakan produk-produk impor dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Tidak hanya itu, untuk mendapatkan lauk seperti ayam dan daging, ada <em>butcher </em>khusus yang hanya menjual daging dan ayam halal. Daftar bahan-bahan makanan dan toko halal sudah dicantumkan dalam list <em>Halal Food around UNSW (and Sydney)</em> di situs <a href="http://www.falamaki.id.au/halal.html">http://www.falamaki.id.au/halal.html</a> . Para student yang ingin catering pun tersedia beberapa jasa catering makanan halal yang langsung dapat diantar ke unit masing-masing.</p>
<p><strong>Pelayanan di Bidang Kesehatan</strong><br />
Ini adalah pengalaman pribadi kami yang sangat penting diketahui oleh para muslimah berkaitan dengan <em>preference</em> ketika melakukan periksa kesehatan. Pengalaman kami ketika melakukan cek kehamilan selama sembilan bulan, kami bisa meminta pihak rumah sakit untuk menyediakan <em>female staff only</em>. Dan sepanjang proses kehamilan hingga melahirkan kami pun hanya diperiksa oleh staf wanita saja, baik itu midwife ataupun dokter. Hal yang sangat kami sukai lagi adalah ketika dokter meminta ijin sebelum melakukan imunisasi pada bayi. Bahkan dokter memberikan referensi tentang bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan vaksin serta menjelaskan apa yang ada di dalam vaksin tersebut sehingga kami berhak menolak ataupun menyatakan setuju untuk dilakukan imunisasi pada bayi kami.</p>
<p><strong>Masjid di Sydney</strong><br />
<a href="http://muslim.or.id/jejak-islam/berbagi-cerita-dari-sydney.html"><img class="post-image" title="Masjid Lakemba" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/masjid-lakemba.jpg" alt="Masjid Lakemba" hspace="5" vspace="5" height="250" /></a> Di Sydney ini terdapat sebuah masjid di pusat kota, selain itu ada masjid di daerah Tempe dan juga di kampung muslim di daerah Lakemba. Lakemba merupakan pusat kegiatan muslim di <a href="http://muslim.or.id/jejak-islam/berbagi-cerita-dari-sydney.html">Sydney</a>. Di sana banyak diadakan kegiatan-kegiatan keislaman seperti pengajian keluarga dan manasik haji. Daerah Lakemba juga terdapat toko-toko buku Islam. Di daerah sekitar UNSW sendiri tidak terdapat masjid. Shalat jamaah biasa dilakukan di <em>Religious Room</em> di salah satu gedung UNSW, serta ada aula khusus untuk melaksanakan shalat Jumat. Yang sangat disayangkan, beberapa sholat Jumat terakhir terpaksa dilakukan di halaman kampus karena kami tidak lagi mendapatkan ijin dari pihak universitas untuk menggunakan ruangan yang biasanya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis:<br />
<a href="http://umisyifa.wordpress.com/">Nur Fitri Fatimah</a> bersama suami, Syarif Hidayat (Mahasiswa Pasca Sarjana <em>Master of Informatics</em>, University of New South Wales)</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-4082"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fjejak-islam%2Fberbagi-cerita-dari-sydney.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/jejak-islam/berbagi-cerita-dari-sydney.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambaran Ringkas Islam di Negeri Gingseng</title>
		<link>http://muslim.or.id/jejak-islam/gambaran-ringkas-islam-di-negeri-gingseng.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/jejak-islam/gambaran-ringkas-islam-di-negeri-gingseng.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 23:48:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Luar Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Korea]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3024</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua hal positif yang sangat kentara di kehidupan masyarakat Korea, yakni kerja keras dan kebersamaan. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/05/korea.jpg"><img class="post-image" title="Islam Di Korea" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/05/korea-300x199.jpg" alt="Islam Di Korea" hspace="5" vspace="5" width="300" height="199" /></a>Telah diketahui bersama oleh dunia bahwa Korea merupakan salah satu negara yang cukup maju di bidang teknologi. Berbagai produk elektronik Korea dengan kualitas yang lux membanjiri berbagai negara. Meski begitu, terdapat satu hal yang sering luput di negeri gingseng ini dari sorotan khayalak, yakni kehidupan beragama di negeri ini. Tulisan ini akan secara ringkat menggambarkan kehidupan Islam di Korea berdasarkan pengalaman penulis.</p>
<p>Sebagaian besar masyarakat di korea tidak beragama (atheis), yang jumlahnya mencapai sekitar 45%. Kemudian, diikuti dengan pemeluk agama Budha (23%), Kristen (18%) dan Katolik (10%) secara berturut-turut [1]. Tidak lupa, terdapat satu masyarakat minoritas yang menganut agama tauhid yang berusaha untuk tetap eksis di tengah-tengah mayoritas masyarakat pada umumnya. Ya, kelompok minoritas tersebut adalah umat Islam. Islam pertama kali mulai dikenal di Korea sejak tahun 1955 dengan datangnya tentara Turki untuk misi perdamaian di bawah PBB. Mereka membangun sebuah tempat sholat sederhana dari tenda dan mengenalkan tentang Islam di Korea. Sejak saat itu, kaum muslimin mulai ada dan jumlahnya terus bertambah [2]. Meski demikian, sangat berbeda dengan di Indonesia, jumlah penduduk asli Korea yang beragama Islam sampai saat ini tidak lebih 0,1% dari sekitar 50 juta jiwa total populasi penduduk [3,4]. Di samping jumlah tersebut, terdapat sekitar 200.000 muslim pendatang dari berbagai negara di dunia, baik untuk bekerja, belajar, ataupun menetap di Korea [3].</p>
<p><strong>Masjid</strong></p>
<p>Masjid pertama yang dibangun di Korea adalah Seoul Central Masjid and Islamic Center yang berada di kota Itaewon. Masjid ini selesai dibangun dan dibuka untuk publik pada tahun 1974 [5]. Tidak hanya sebagai tempat sholat, di kompleks masjid juga dilengkapi dengan kantor, ruang kelas, sekolah, dan aula untuk konferensi. Hal ini dimaksudkan agar masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat sholat saja, namun juga sebagai pusat dakwah dan pendidikan. Sebagai contoh, program pengobatan gratis diadakan secara rutin untuk masyarakat umum di kompleks masjid ini. Segala kegiatan ibadah dan aktivitas dakwah dikoordinasi oleh Korean Muslim Federation (KMF). Mengingat sebagian besar jumlah kaum muslimin yang di Korea adalah pendatang, maka seluruh aktivitas ibadah di masjid meliputi sholat jumat, idul fitri dan yang lainnya, disampaikan dalam 3 bahasa, yakni arab, inggris dan korea.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/05/Masjid02.jpg"><img class="post-image" style="float: right;" title="Masjid Seoul Center" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/05/Masjid02-300x199.jpg" alt="Masjid Seoul Center" width="300" height="199" /></a>Sampai sekarang ada sekitar 21 masjid/islamic center yang tersebar di beberapa pusat kota di Korea, yang seluruhnya dibawah koordinasi oleh KMF [6]. Selain masjid dan islamic center, beberapa universitas/perusahaan menyediakan ruangan untuk tempat sholat bagi mahasiswa maupun karyawannya. Adapun di sebagian besar tempat, tidak pernah dijumpai tempat sholat khusus, sehingga kebanyakan kaum muslimin menjalankan sholat saat datang waktunya di mana saja, asalkan suci.</p>
<p><strong>Makanan</strong></p>
<p>Untuk mendapatkan makanan halal di negeri ini tidak sulit. Hampir di setiap kompleks masjid, terdapat toko muslim yang menyediakan berbagai macam makanan halal dari berbagai negara. Di samping itu, terdapat toko khusus yang menjual daging halal yang disembelih secara islami.</p>
<p>Terkait makanan kemasan produksi Korea, perlu kehati-hatian dalam memilih, karena sebagian besar makanan kemasan mengandung babi atau turunannya. KMF sudah mengeluarkan list makanan-makanan kemasan yang sudah dicek kehalalannya. Terdapat list makanan yang bisa dikonsumsi secara aman dan makanan yang mengandung yang haram. Adapun di luar list tersebut, pembeli harus mengecek sendiri kandungan penyusun makanan tersebut.</p>
<p>Masyarakat korea sangat gemar untuk makan daging. Sehingga sebagian besar restoran memiliki menu utama daging, baik babi, sapi, maupun ayam. Mengingat penyembelihan sapi dan ayam tidak mengikuti syariat Islam, kaum muslimin cenderung memilih menu sayuran dan ikan tatkala mengikuti jamuan makan bersama di restoran korea. Adapun di sekitar kompleks masjid/islamic center, terdapat banyak sekali restoran yang menyajikan makanan halal dari berbagai negara.</p>
<p><strong>Budaya</strong></p>
<p>Ada dua hal positif yang sangat kentara di kehidupan masyarakat Korea, yakni kerja keras dan kebersamaan. Hal ini berlaku untuk setiap komunitas, baik universitas, perusahaan, maupun yang lainnya. Namun begitu, kedua hal tersebut bisa menjadi masalah bagi seorang muslim jika tidak bisa hati-hati dalam bersikap. Terkait yang pertama, bagi sebagian besar orang Korea yang tidak beragama, kehidupan hanya untuk mendapatkan kesenangan hidup. Tidak ada hal khusus lain setelahnya. Oleh karena itu, sebagian waktu mereka hanya untuk mengejar tujuan ini. Tidak aneh jika dijumpai sebagian dari mereka cenderung menerapkan hal tersebut kepada bawahannya, baik karyawan maupun mahasiswa. Sehingga, untuk beberapa kasus, banyak diantara karyawan atau mahasiswa yang bekerja di luar jam wajib kerja untuk mengejar tuntutan hasil maksimal. Hal ini kadang melalaikan kewajiban mendasar untuk urusan akherat. Sehingga, pandai dalam mengatur waktu adalah kunci utama untuk mendapatkan kesuksesan, baik di dunia dan akherat.</p>
<p>Untuk yang kedua, terkait kebersamaan. Dalam beberapa kesempatan, kegiatan bersama sangat sering dilakukan. Hal ini cukup baik untuk meningkatkan keakraban antar anggota dalam komunitas tersebut. Namun begitu, tidak semua kebersamaan bebas dari masalah. Salah satu yang sangat kentara adalah saat kegiatan makan bersama dalam situasi tertentu, misalnya menyambut anggota baru, liburan akhir tahun, atau yang lainnya. Jika sekedar jamuan makan bersama saja, tentu tidak menjadi masalah, karena seorang muslim dapat memilih menu sayuran atau ikan. Namun, sudah menjadi hal yang lumrah, bahwa jamuan makan di negeri ini juga diiringi dengan sajian <em>khomr</em>. Adalah suatu hal yang sudah umum, menurut budaya di Korea, di mana seorang bawahan, termasuk murid dalam hal ini, harus menuangkan <em>khomr</em> ke gelas atasannya. Hal ini tentu tidak patut dilakukan bagi seorang muslim. Ditambah lagi, setelah selesai makan di restoran, biasanya dilanjutkan dengan pergi bersama ke bar untuk menyanyi bersama atau sekedar ngobrol, tentu ditemani dengan <em>khomr</em> lagi. Oleh karena itu, penolakan secara halus dengan menjelaskan secara baik harus dilakukan,</p>
<p><strong>Menjadi Muslim di Korea</strong></p>
<p>Bagaimanakah menjadi seorang muslim di Korea? Menurut hemat penulis, sebagai seorang pendatang, menjadi seorang muslim dan tinggal di Korea tidaklah sulit (meski juga tidak bisa dikatakan mudah). Secara umum, tidak ada hambatan berarti untuk menjalankan segala aktivitas ibadah. Di samping itu, untuk mendapatkan makanan yang halal dan baik, juga tidak sulit. Di sisi lain, masyarakat Korea cenderung tidak terlalu peduli dengan masalah agama, dan menghormati pemeluk agama lain. Sehingga, jika mereka mengetahui ada seorang yang ingin menjalankan ibadah dengan baik, mereka tidak akan ambil pusing dan beberapa diantaranya akan cenderung untuk mendukung (dengan menyediakan tempat dan yang lainnya). Meski demikian, sangat boleh jadi ada beberapa kasus yang berbeda dari hal ini di luar sepengetahuan penulis.</p>
<p>Bagaimana dengan penduduk asli? Hasna Bae, seorang mahasiswa (23 th) menyebutkan bahwa menjadi seorang muslimah di Korea tidak bisa dikatakan mudah. Hal ini dikarenakan jumlah kaum muslimin sangat sedikit, sehingga perbedaan cara hidup, baik dalam pakaian, makanan atau hal lainnya menjadikan mereka sangat kentara dan menjadi pusat perhatian dibandingkan yang lainnya. Yu Hyun Il (22 th), presiden asosiasi mahasiswa muslim di Hankook University of Foreign Studies (HUFS), menyebutkan bahwa hal yang paling sulit bagi dia adalah terkait dengan makanan dan minum <em>khomr</em> di bar. Terkait makanan, dia hanya bisa memilih menu sayuran dan ikan saat makan di restoran. Di samping itu, dia tidak pernah diajak pergi bersama ke bar, karena dia tidak ikut minum <em>khomr</em>. Jika dia ikut, terkadang suasana menjadi aneh dan tidak menyenangkan. Hal laen yang sangat berat dirasakan adalah menghilangkan opini masyarakat tentang Islam. Tatkala ada berita tentang pengeboman yang mengatasnamakan Islam dan jihad, sebagai contoh serangan 11 September di Amerika, masyarakat awam berfikir bahwa Islam mengajarkan kekerasan dan pengeboman untuk jihad. Banyak masyarakat awam Korea yang tidak tahu, menjadi takut dan cenderung menjauhi Islam dan pemeluknya karena hal ini. Oleh karena itu, sebagai penduduk asli yang beragama Islam, mereka berusaha keras menjelaskan kepada masyarakat awam bahwa Islam sangat melarang kekerasan, pengeboman dan hal semacamnya. Dan alhamdulillaah, Lee Ju-hwa, Ketua Dakwah dan Pendidikan KMF, menyebutkan bahwa sebagian besar masyarakat Korea sekarang bisa memahami [2]. Meski hidup sebagai seorang muslim bagi warga asli Korea terlihat berat, merea sangat bangga menjadi seorang muslim. Hasna bae, yang sedang kuliah di bidang <em>metal design</em>, menyebutkan bahwa dia mencari pekerjaan di bidang tersebut tanpa mengenyampingkan agamanya. Saat dia di tanya, “Apakah Anda akan menyembunyikan keyakinan Anda untuk mendapatkan pekerjaan?” Dia menjawab, “<em><strong>Never. I do not want to work for a company that doesn&#8217;t respect its employee&#8217;s religion anyway</strong></em>” [3].</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><em>ditulis oleh Dwi A, mahasiswa Korea Institute of Science and Technology, Korea.</em></p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<ol>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_South_Korea">http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_South_Korea</a></span>, 	diakses tanggal 9 Mei 2010</li>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://islamic-world.net/islamic-state/islam_in_korea.htm">http://islamic-world.net/islamic-state/islam_in_korea.htm</a></span>, 	diakses tanggal 8 Mei 2010</li>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.koreatimes.co.kr/www/news/nation/2007/08/117_8104.html">http://www.koreatimes.co.kr/www/news/nation/2007/08/117_8104.html</a></span>, diakses tanggal 8 Mei 2010</li>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Korea">http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Korea</a></span>, diakses 	tanggal 9 Mei 2010</li>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.islamawareness.net/Asia/KoreaSouth/history.html">http://www.islamawareness.net/Asia/KoreaSouth/history.html</a></span>, diakses 	tanggal 9 Mei 2010</li>
<li><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://sites.google.com/site/islamdikorea/">http://sites.google.com/site/islamdikorea/</a></span>, diakses 	tanggal 9 Mei 2010</li>
</ol>
<p>*Bagi Ikhwan atau Akhwat yang ingin berbagi info-info islam di belahan  dunia, bisa mengirimkannya ke email muslim.or.id@gmail.com. Jazakumullahu khoiron</p>
<div class="shr-publisher-3024"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fjejak-islam%2Fgambaran-ringkas-islam-di-negeri-gingseng.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/jejak-islam/gambaran-ringkas-islam-di-negeri-gingseng.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Muslim di Ningbo, China</title>
		<link>http://muslim.or.id/jejak-islam/kisah-muslim-di-ningbo-china.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/jejak-islam/kisah-muslim-di-ningbo-china.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 16:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2882</guid>
		<description><![CDATA[Ningbo ada di propinsi Zhejiang sekitar tiga jam melalui perjalanan darat ke Shanghai]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh</p>
<p>Alhamdulillah…. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa salam, keluarga, shahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.</p>
<p>Tulisan singkat ini saya buat atas permintaan akhi amrullah -semoga Allah selalu menjaganya-.  Tentang keadaan masyarakat muslim di negeri China, khususnya masyarakat muslim di kota Ningbo.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/04/Ningbo-300x297.jpg"><img class="post-image" title="Img214036584" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/04/Ningbo-300x297.jpg" alt="Jejak Islam Ningbo Cina" hspace="5" vspace="15" width="300" height="297" /></a>Selama keberadaan saya di sini sekitar 1 bulan lebih, saya telah mengunjungi beberapa kota dan propinsi di negeri China, sayangnya dari kota-kota tersebut mayoritas penduduknya bukan muslim. Saya tinggal di kota Ningbo propinsi Zhejiang sekitar tiga jam melalui perjalanan darat ke Shanghai-kota terbesar di China-. Ningbo bukan kota yang mayoritas penduduknya muslim, kebanyakan dari mereka menganut agama Konghucu maupun lainnya, sehingga banyak ditemukan temple.</p>
<p>Berbekal info dari google saya berhasil menemukan alamat masjid satu-satunya di Kota Ningbo, tapi sayangnya setiap orang yang saya tanya, tidak satu pun mengetahui keberadaan alamat tersebut. Proses pencarian masjid di kota Ningbo terpaksa terhenti karena berbagai kesibukan dan perjalanan dinas keluar kota. Hari Jumat pertama di kota Ningbo, saya izin keluar kantor, niatnya ingin mencari masjid dan sholat Jum’at, alangkah senang dan bahagianya ketika itu, karena teman satu kantor ada yang bersedia mengantar dan mencarikan saya masjid (mungkin dia tahu alamat masjid tersebut- pikir saya dalam hati-), tapi sayangnya dia salah pengertian, saya malah diantar ke gereja.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/04/Img214036584.jpg"><img class="post-image" style="float: right;" title="Img214036584" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/04/Img214036584-300x209.jpg" alt="Jejak Islam Ningbo Cina" hspace="15" vspace="5" width="300" height="209" /></a>Restoran dan rumah makan muslim banyak bertebaran di kota ini, dengan ciri khas pelayannya memakai peci putih dan baju koko atau memakai jilbab/kerudung dan ada plang halal dalam tulisan arab maupun mandarin, ada juga yang menempel semacam sertifikasi halal dari instansi yang berwenang. Namun sayangnya karena keterbatasan ilmu dan sarana dalam menuntut ilmu banyak diantara mereka yang belum tahu tentang adab-adab islam, diantaranya masih makan dan minum dengan tangan kiri. Awal pertama kali saya berkenalan dengan pegawai restaurant dan memperkenalkan diri bahwa saya seorang muslim, dia sangat senang dan menjabat tangan saya. Saya bertanya kepadanya di mana masjid kota ini? Dengan senang hati dia berusaha menunjukkannya, namun sayangnya karena saya juga baru belajar bahasa mandarin, saya tidak begitu mengerti apa yang dikatakannya.</p>
<p>Pada tanggal 10/04/10, ba’da Zhuhur saya melanjutkan kembali pencarian masjid di kota ini. Alhamdulillah setelah beberapa kali bertanya, akhirnya saya menemukan masjid satu-satunya di kota ini, di dalamnya ada dua orang yang sedang sholat. Bangunan masjidnya sangat khas dengan bangunan-bangunan cina lainnya, sambil menunggu waktu sholat Ashar, saya melihat-lihat lokasi di sekeliling masjid, sambil sesekali ambil foto, tak lama kemudian dua orang yang tadi sedang sholat keluar masjid, mereka menyapa saya dengan salam yang sangat fasih dan menjabat tangan saya (tidak dapat digambarkan senangnya hati saya ketika itu), lalu saya mengatakan bahwa saya dari Indonesia. Tak lama kemudian, datanglah pengurus masjid dan kembali menyapa saya dengan salam yang sangat fasih, dia sekaligus imam dan ustadz di masjid ini, masjid ini juga memiliki ruang perpustakaan, madrasah dan lain sebagainya. Dia juga fasih berbahasa arab, lalu kami berkenalan: mereka adalah Daud, Sulaeman, dan Harun. Ketika kami sedang berbincang dan berjalan di area masjid, datang juga dua orang muslim dari Yordania, mereka juga sedang berusaha mencari masjid, kemudian kami foto bersama.</p>
<p>Ketika diberi jadwal sholat 5 waktu, saya lihat ada perbedaan yang begitu mencolok untuk waktu Zhuhur dan Ashar, yaitu berbeda sekitar 1-1,5 jam dari jadwal sholat yang saya punya, untuk waktu Zhuhur jam 13.00, sementara di jadwal yang saya punya sekitar jam 11.55. Waktu Ashar sekitar jam 16.50, sementara di jadwal yang saya punya sekitar jam 15.31, namun jika saya lihat tergelincirnya matahari yang lebih mendekati kebenaran -InsyaAllah- adalah jadwal sholat yang saya miliki.</p>
<p>Ketika tiba waktu ashar kami sholat berjamaah, dengan jumlah jamaah ketika itu sekitar 5, setelah itu saya pulang, dan mereka berpesan untuk selalu pergi ke masjid dan berdo’a.</p>
<p>Beberapa fenomena ketika sholat:</p>
<ol>
<li>Imam 	tidak berdiri mendekati sutroh 	(pembatas ketika shalat)<a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a>.</li>
<li>Tidak 	ada jama’ah kedua dalam masjid, untuk orang datang terlambat.</li>
<li>Jika 	sholat sunnah, tidak ada yang mendekati sutroh.</li>
<li>Tidak 	terlihat memberi isyarat ketika tasyahud.</li>
<li>Bersedekap 	tidak di dada.</li>
<li>Duduk 	iftirasy ketika tasyahud akhir pada sholat 4 rakaat.<a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></li>
<li>Kurang 	thuma’ninah 	ketika sujud.<a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></li>
<li>Masih 	menggunakan biji-bijian tasbih ketika berdzikir.</li>
</ol>
<p>Demikianlah tulisan yang dapat saya berikan, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua. Satu hal kenikmatan berada di Negara muslim adalah, nampaknya syiar-syiar islam, seperti kemudahan dalam menuntut ilmu, banyaknya masjid, berkumandangnya adzan, kemudahan dalam mencari makanan halal, yang semua ini sulit didapatkan dan ditemukan di negara yang penduduknya bukan muslim seperti China. Maka bersyukurlah bagi kita yang tinggal dan lahir di negara yang mayoritas penduduknya beragama islam seperti Indonesia.</p>
<p>Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh</p>
<p lang="id-ID">
<p>Penulis: Fathoni A.</p>
<p>Editor: M.A. Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p><a href="#sdfootnote1anc">1</a> 	Sebagian ulama menganggap sutroh wajib 	sebagaimana anggapan penulis, dan sebagian lagi tidak sampai 	mewajibkannya.</p>
<p><a href="#sdfootnote2anc">2</a> 	Ini pendapat dari Imam Abu Hanifah dan yang 	sepaham dengannya.</p>
<p><a href="#sdfootnote3anc">3</a> 	Sebagian ulama mengatakan bahwa thuma’ninah 	adalah sekedar membaca bacaan wajib ketika sujud. Sebenarnya 	thuma’ninah merupakan bagian dari rukun shalat. Jika thuma’ninah 	seperti ini tidak ada, maka shalatnya jadi bermasalah.</p>
<p>*Bagi Ikhwan atau Akhwat yang ingin berbagi info-info islam di belahan dunia, bisa mengirimkannya ke email <span style="text-decoration: underline;">muslim.or.id@gmail.com</span>. Jazakumullahu khoiron</p>
<div class="shr-publisher-2882"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fjejak-islam%2Fkisah-muslim-di-ningbo-china.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/jejak-islam/kisah-muslim-di-ningbo-china.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

