<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/hadits/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Hadits Palsu Huru Hara Akhir Zaman Di Hari Jum&#8217;at Pertengahan Ramadhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 22:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[takhrij]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8018</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Bismillah</em>. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga hari kiamat.</p>
<p>Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan dari beberapa orang seputar derajat hadits huru-hara akhir zaman yang terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan yang bertepatan dengan hari Jumat.</p>
<p>Maka kami katakan, bahwa para ulama hadits terdahulu maupun yang hidup di zaman sekarang telah menerangkan dengan jelas dan gamblang bahwa hadits-hadits yang berbicara tentang masalah tersebut tidak ada satu pun yang shahih dari Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, baik ditinjau dari segi sanad hadits maupun realita yang ada. Bahkan semuanya adalah hadits-hadits munkar dan palsu yang didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Berikut ini akan saya sebutkan teks (lafazh) hadits tersebut dengan sanadnya, serta studi kritis para ulama terhadapnya.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">قَالَ نُعَيْمٌ بْنُ حَمَّادٍ : حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في رمضان فإنه تكون مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ الدِّماءُ في ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا أَنْفُسَكُمْ، وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا للهِ سجدًا، وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ ، ربنا القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ)</p>
<p>Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, beliau bersabda: <em>“Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku, pent) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa”.</em></p>
<p>(Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab <em>Al-Fitan</em> I/228, No.638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam kitab <em>Kanzul ‘Ummal</em>, No.39627).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Derajat Hadits</strong></span></p>
<p>Hadits ini derajatnya <strong>palsu</strong> (m<em>audhu’</em>), karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi hadits yang pendusta dan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadits. Para perawi tersebut ialah sebagaimana berikut ini</p>
<p><strong></strong><strong>1. Nu’aim bin Hammad</strong></p>
<p>Dia seorang perawi yang <em>dha’if</em> (lemah),</p>
<ul>
<li>An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang <em>dha’if</em> (lemah)” (Lihat <em>Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin</em>, karya An-Nasa’i I/101 no.589)</li>
<li>Abu Daud berkata: “Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dua puluh hadits dari Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em> yang tidak mempunyai dasar sanad (sumber asli, pent).”</li>
<li>Imam Al-Azdi mengatakan: “Dia termasuk orang yang memalsukan hadits dalam membela As-Sunnah, dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An-Nu’man (maksudnya, Abu Hanifah, pent), yang semuanya itu adalah kedustaan<strong>”  </strong>(Lihat <em>Mizan Al-I’tidal</em> karya imam Adz-Dzahabi IV/267).</li>
<li>Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah dengannya, dan ia telah menyusun kitab Al-Fitan, dan menyebutkan di dalamnya keanehan-keanehan dan kemungkaran-kemungkaran” (Lihat <em>As-Siyar A’lam An-Nubala</em> X/609).</li>
</ul>
<p><strong>2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah)</strong></p>
<p>Dia seorang perawi yang <em>dha’if</em> (lemah), karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar.</p>
<ul>
<li>An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang <em>dha’if</em> (lemah)” (Lihat <em>Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin</em>, karya An-Nasa’i I/64 no.346)</li>
<li>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Dia mengalami kekacauan di dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar” (Lihat <em>Taqrib At-Tahdzib</em> I/319 no.3563).</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Abdul Wahhab bin Husain</strong></p>
<p>Dia seorang perawi yang <em>majhul</em> (tidak dikenal).</p>
<ul>
<li>Al-Hakim berkata tentangnya: “Dia seorang perawi yang <em>majhul</em> (tidak jelas jati dirinya dan kredibilitasnya)” (Lihat <em>Al-Mustadrak</em> No. 8590)</li>
<li>Imam Adz-Dzahabi berkata di dalam <em>At-Talkhish</em>: “Dia mempunyai riwayat hadits palsu.” (Lihat <em>Lisan Al-Mizan</em>, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani II/139).</li>
</ul>
<p><strong></strong><strong>4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani</strong></p>
<p>Dia seorang perawi yang <em>dha’if</em> (lemah dalam periwayatan hadits) sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Hibban dan An-Nasa’i.</p>
<ul>
<li>An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang <em>dha’if</em> (lemah)”</li>
<li>Yahya bin Ma’in berkata: “Dia seorang perawi yang tidak ada apa-apanya”(Lihat <em>Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal</em>, karya Ibnu ‘Adi VI/136 no.1638).</li>
<li>Ibnu Hibban berkata: “Tidak boleh berhujjah dengannya, dan tidak boleh pula meriwayatkan darinya” (Lihat <em>Al-Majruhin</em>, karya Ibnu Hibban II/252 no.928).</li>
<li>Imam Al-Azdi berkata: “Dia seorang yang gugur riwayatnya” (Lihat <em>Tahdzib At-Tahdzib</em>, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani IX/72 no.104)</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong></strong><strong>5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani.</strong></p>
<p>Dia seorang perawi pendusta, sebagaimana dinyatakan oleh imam Asy-Sya’bi, Abu Hatim dan Ibnu Al-Madini.</p>
<ul>
<li>An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia bukan seorang perawi yang kuat (hafalannya, pent)” (Lihat <em>Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal</em>, karya Ibnu ‘Adi II/186 no.370).</li>
<li>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata tentangnya: “Imam Asy-Sya’bi telah mendustakan pendapat akalnya, dan dia juga dituduh menganut paham/madzhab Rafidhah (syi’ah), dan di dalam haditsnya terdapat suatu kelemahan” (Lihat <em>Taqrib At-Tahdzib</em> I/146 no.1029).</li>
<li>Ali bin Al-Madini berkata: “Dia seorang pendusta”</li>
<li>Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.” (<em>Siyar A’lam An-Nubala’</em>, karya imam Adz-Dzahabi IV/152 no.54)</li>
</ul>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Perkataan Para Ulama Tentang Hadits Ini</strong></span></p>
<p>Al-Uqaily <em>rahimahullah</em> berkata: “Hadits ini tidak memiliki dasar dari hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang <em>tsiqah</em> (terpercaya), atau dari jalan yang <em>tsabit</em> (kuat dan benar adanya).” (Lihat <em>Adh-Dhu’afa Al-Kabir</em> III/52).</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata: “Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>” (Lihat <em>Al-Maudhu’aat</em> III/191).</p>
<p>Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah</em> berkata: “Hadits ini palsu (<em>maudhu’</em>). Dikeluarkan oleh Nu’aim bin Hammad dalam kitab Al-Fitan.” Dan beliau menyebutkan beberapa riwayat dalam masalah ini dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu anhuma</em><strong>. </strong>(Lihat <em>Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah</em> no.6178, 6179).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata: “Hadits ini tidak mempunyai dasar yang benar, bahkan ini adalah hadits yang batil dan dusta” (Lihat <em>Majmu’ Fatawa Bin Baz</em> XXVI/339-341).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesimpulan</strong></span></p>
<p>Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hadits ini adalah hadits <em>maudhu’</em> (palsu). Tidak boleh diyakini sebagai kebenaran, dan tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu alaihi wasallam</em>. Karena disamping sanad hadits ini tidak ada yg dapat diterima sebagai hujjah, juga realita telah mendustakannya. Sebab telah berlalu tahun-tahun yang banyak dan telah terjadi berulang kali hari Jum&#8217;at yang bertepatan dengan tanggal lima belas (pertengahan) bulan Ramadhan, namun kenyataannya tidak pernah terjadi sebagaimana berita yang terkandung di dalam hadits ini, <em>Alhamdulillah</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, kita dilarang keras menyebarluaskannya kepada orang lain baik melalui media cetak, maupun elektronik, atau dalam obrolan dan khutbah kecuali dalam rangka menjelaskan sisi kelemahan, kepalsuan, dan kebatilannya, serta bertujuan untuk memperingatkan umat darinya.</p>
<p>Jika kita telah melakukan ini, berarti kita telah bebas dan selamat dari ancaman keras Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, yaitu berupa masuk neraka bagi siapa saja yang sengaja berdusta atas nama beliau, baik dengan tujuan menjelekkan Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em> dan ajarannya, atau dalam rangka membela Nabi dan memotivasi kaum muslimin untuk bersemangat dalam beribadah kepada Allah.</p>
<p>Demikian jawaban atas pertanyaan dalam masalah ini yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p>Telah selesai ditulis pada hari Rabu, 04 Januari 2012 di kediamannya, Klaten – Jawa Tengah.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawwaz, Lc.<br />
Artikel <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/03/">http://abufawaz.wordpress.com</a> dengan pengeditan seperlunya oleh redaksi <a href="http://muslim.or.id">muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8018"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fhadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fhadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fhadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdzikirlah Sebelum Hubungan Intim</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/berdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/berdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 23:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan intim]]></category>
		<category><![CDATA[jima']]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7664</guid>
		<description><![CDATA[Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/berdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> dia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: “<span style="color: #0000ff;">بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا</span>“، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا</p>
<p>“Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin mengumpuli istrinya, dia membaca doa: [<span style="color: #ff0000;"><em>Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa</em></span>], “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn1">[1]</a> yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca zikir/doa ini sebelum berhubungan suami istri, karena disamping mendapat pahala dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, ini merupakan sebab selamatnya seorang bayi dari bahaya dan keburukan setan<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:</p>
<ul>
<li>Iblis dan bala tentaranya selalu berusaha menanamkan benih-benih keburukan kepada manusia sejak baru dilahirkan ke dunia ini dan sebelum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, apalagi setelah dia mengenal semua godaan tersebut<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn4">[4]</a>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan”<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn5">[5]</a>.</li>
<li>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman: “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan <em>hanif</em> (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (Islam)”<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn6">[6]</a>.</li>
<li>Agungnya petunjuk Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang mensyariatkan zikir dan doa untuk kebaikan agama manusia dan perlindungan dari keburukan tipu daya setan.</li>
<li>Arti sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: “…setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”: setan tidak akan bisa menyesatkan dan mencelakakan anak tersebut dalam diri dan agamanya, tapi bukan berarti ini menunjukkan bahwa anak tersebut terlindungi dan terjaga dari perbuatan dosa<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn7">[7]</a>.</li>
<li>Termasuk keburukan yang terjadi akibat tidak menyebut nama Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> sebelum berhubungan intim adalah ikutsertanya setan dalam hubungan intim tersebut, sebagaimana yang diterangkan oleh imam Ibnu hajar, asy-Syaukani dan as-Sa’di<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn8">[8]</a>, <em>na’uudzu billahi min dzaalik</em>.</li>
<li>Imam Ibnu Hajar dan al-Munawi menjelaskan bahwa zikir/doa ini diucapkan ketika hendak berhubungan suami-istri dan bukan ketika sudah dimulai hubungan intim<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn9">[9]</a>.</li>
<li>Anjuran membaca zikir/doa ini juga berlaku bagi pasangan suami-istri yang diperkirakan secara medis tidak punya keturunan, karena permohonan dalam doa/zikir ini bersifat umum dan tidak terbatas pada keturunan/anak saja<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn10">[10]</a>.</li>
</ul>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kota Kendari, 14 Dzulqo’dah 1432 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., M.A.<br />
Artikel <a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/www.manisnyaiman.com" target="_blank">www.manisnyaiman.com</a> , dipublish ulang oleh <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref1">[1]</a> Termasuk anak dan yang lainnya, lihat kitab “<em>Faidhul Qadiir</em>” (5/306).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref2">[2]</a> HSR al-Bukhari (no. 6025) dan Muslim (no. 1434).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref3">[3]</a> Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam “<em>Syarhu shahiihi Muslim</em>” (5/10 dan 13/185).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref4">[4]</a> Lihat kitab “<em>Ahkaamul mauluud fis sunnatil muthahharah</em>” (hal. 23).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref5">[5]</a> HSR Muslim (no. 2367).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref6">[6]</a> HSR Muslim (no. 2865).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref7">[7]</a> Lihat kitab “<em>Fathul Baari</em>” (9/229) dan “<em>Faidhul Qadiir</em>” (5/306).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref8">[8]</a> Lihat kitab “<em>Fathul Baari</em>” (9/229), “<em>Fathul Qadiir</em>” (3/346) dan “<em>Tafsir as-Sa’di</em>” (hal. 461).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref9">[9]</a> Lihat kitab “<em>Fathul Baari</em>” (9/228) dan “<em>Faidhul Qadiir</em>” (5/306).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref10">[10]</a> Lihat kitab “<em>Faidhul Qadiir</em>” (5/306).</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7664"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fberdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fberdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fberdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/berdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits-Hadits Lemah Seputar Bulan Dzulhijjah</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 08:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7322</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca yang budiman, kita patut bersyukur kepada Allah atas taufik yang telah Ia limpahkan hingga kita dapat mengisi waktu yang utama di sepuluh hari awal Dzulhijjah dengan amal shalih. Akan tetapi perlu bagi kita untuk<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Pembaca yang budiman, kita patut bersyukur kepada Allah atas taufik yang telah Ia limpahkan hingga kita dapat mengisi waktu yang utama di sepuluh hari awal Dzulhijjah dengan amal shalih. Akan tetapi perlu bagi kita untuk mengetahui beberapa hadits lemah dan palsu, yang sering dijadikan sandaran bagi sebagian kaum muslimin untuk beribadah di waktu yang mulia ini. Diantaranya adalah hadits-hadits sebagai berikut.</p>
<p><strong>Hadits 1</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة يعدل صيام كل يوم منها بصيام سنة، وقيام كل ليلة منها بقيام ليلة القدر</p>
<p>“<em>Tidak ada hari yang paling dicintai Allah untuk diibadahi pada hari itu selain 10 hari di (awal) bulan Dzulhijjah, pahala puasa pada setiap harinya senilai dengan pahala puasa sepanjang tahun, dan sholat pada setiap malamnya senilai dengan sholat pada malam Lailatul Qadar</em>”</p>
<p><em>Dha’if</em> (lemah), Abu ‘Isa (At Tirmidzi) berkata, “Hadits ini gharib tidak diketahui selain dari hadits Mas’ud bin Washil, dari An Nahas, … (dst)”, dan didha’ifkan Syaikh Al Albani dalam <em>Dha’if Sunan Ibnu Majah</em> (1728) no. 377 akan tetapi terdapat perbedaan lafazh dalam hadits ini, lihat <em>Al Misykat</em> (1471), <em>Dha’if Jami’ush Shaghir</em> (5161), dan <em>Dha’if At Targhib</em> no. 123, <em>Silsilah Adh Dha’ifah</em> 5142</p>
<p><strong>Hadits 2</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">من صام العشر فله بكل يوم صوم شهر ، وله بصوم يوم التروية سنة، وله بصوم يوم عرفة سنتان</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang berpuasa di 10 (hari awal Dzulhijjah) baginya tiap hari seperti pahala puasa sebulan penuh, pahala puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) senilai dengan puasa setahun penuh, dan pahala puasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah) senilai pahala puasa selama dua tahun</em>”</p>
<p><em>Maudhu’</em> (palsu), Ibnu Hibban berkata, “Jelas sekali nampak kedustaan di dalamnya hingga tidak perlu lagi dijelaskan derajat haditsnya” lihat <em>Al Maudhu’at</em> karya Ibnul Jauzi (2/112), dan <em>Al Fawa’id Al Majmu’at Kitab Ash Shiyam</em> hadits no. 30, <em>At Tanzih Asy Syari’ah Al Marfu’at</em> (2/187)</p>
<p><strong>Hadits 3</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">صيام أول يوم من العشر يعدل مائة سنة واليوم الثاني يعدل مائتي سنة فإذا كان يوم التروية يعدل ألف عام وصيام يوم عرفة يعدل ألفي عام</p>
<p>“<em>Puasa di 10 hari awal Dzulhijjah pahalanya senilai dengan puasa 100 tahun, hari kedua (Dzulhijjah) senilai puasa 200 tahun, puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) pahalanya senilai 1000 tahun, dan puasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah) senilai 2000 tahun</em>.”</p>
<p>Tidak shahih, lihat <em>Tadzkiratul Maudhu’at</em> (119), <em>Mausu’ah Al Ahadits wa Al Atsar Ad Dha’ifah wa Al Maudhu’at</em> 13434</p>
<p><strong>Hadits 4</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">صوم يوم التروية كفارة سنة، وصوم يوم عرفة كفارة سنتين</p>
<p>“<em>Puasa hari Tarwiyah menjadi kafarah (penghapus dosa –pent) satu tahun, dan puasa hari ‘Arafah menjadi kafarah dua tahun</em>”</p>
<p><em>Maudhu’</em>, lihat <em>Dha’if Al Jami’</em> no. 3501, <em>Irwa’ul Ghalil</em> 4/121</p>
<p><strong>Hadits 5</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان يصوم تسع ذي الحجة ، ويوم عاشوراء ، وثلاثة أيام من كل شهر ؛ أول اثنين من الشهر ، والخميس ، والاثنين من الجمعة الأخرى</p>
<p>“<em>Adalah (Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam) biasa berpuasa pada kesembilan hari di bulan Dzulhijjah, hari Asyura, tiga hari setiap bulannya, hari Senin pada setiap awal bulan, dan hari Kamis dan Senin setelah Jumat kedua</em>”</p>
<p>Dha’if, Az Zaila’i berkata hadist ini <em>dha’if</em>. Lihat <em>Dha’if Al Jami’</em> no. 4570</p>
<p><strong>Hadits 6</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ما من أيام أفضل عند الله ولا العمل فيهن أحب إلى الله عز وجل من هذه الأيام &#8211; يعني من العشر &#8211; ، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير وذكر الله ، والعمل فيهن يضاعف بسبعمائة</p>
<p>“<em>Tidak ada hari yang lebih utama di sisi Allah dan tidak ada amal yang dikerjakan di waktu tersebut yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada hari ini –yaitu 10 hari di awal bulan Dzulhijjah- maka perbanyaklah kalian bertahlil dan bertakbir mengingat Allah di dalamnya. Amal di bulan ini dilipatgandakan 700 kali.</em>”</p>
<p><em>Dha’if</em>, didha’ifkan oleh Al Albani dalam <em>Dha’if At Targhib wa At Tarhib</em> 1/364</p>
<p><strong>Hadits 7</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اختار الله عز وجل الزمان ، فأحب الزمان إلى الله عز وجل ذو الحجة ، وأحب ذي الحجة إلى الله عز وجل العشر الأول</p>
<p>“<em>Allah ‘Azza wa Jalla telah memilih satu waktu, dan waktu yang paling Allah ‘Azza wa Jalla cintai ialah Dzulhijjah, dan waktu yang paling Allah ‘Azza wa Jalla cintai di bulan Dzulhijjah ialah sepuluh hari awal.</em>”</p>
<p>Didha’ifkan oleh Ibnu ‘Adi, dan Ibnu Rajab di <em>Latha’iful Ma’arif</em> 467</p>
<p><strong>Hadits 8</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عن الأوزاعي رحمه الله قال : بلغني أن العمل في اليوم من أيام العشر كقدر غزوة في سبيل الله ، يصام نهارها ويحرس ليلها ، إلا أن يختص امرؤ بشهادة 0 حدثني بهذا الحديث رجل من بني مخزوم عن النبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Dari Al Auza’I <em>rahimahullah</em> beliau berkata, “<em>Telah sampai kepadaku bahwasanya amal di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah pahalanya seperti berperang di jalan Allah, siang harinya diisi dengan puasa dan malam harinya dengan giat (beribadah), kecuali seseorang yang telah dikhususkan dengan syahadah (mati syahid)</em>”. Telah menceritakan kepadaku dengan hadits ini seorang dari Bani Makhzum, dari Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Didha’ifkan Al Albani dalam <em>Dha’if At Targhib</em> dan <em>At Tarhib</em> 1/365 dan makna hadits ini shahih dengan lafadz selain ini (yaitu “<em>berpuasa di siang harinya dan giat beribadah di malam harinya</em>”) lihat <em>Shahih Ibnu Hibban</em> 3853</p>
<p><strong>Hadits 9</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أربع لم يكن يدعهن النبي صلى الله عليه وسلم : صيام عاشوراء ، والعشر ، وثلاثة أيام من كل شهر ، والركعتين قبل الغداة</p>
<p>“<em>Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Puasa hari ‘Asyura (10 Muharram –pent), 10 hari di awal Dzulhijjah, tiga hari di setiap bulan, dan dua raka’at sebelum matahari terbit</em>”</p>
<p>Didha’ifkan oleh Al Albani dalam <em>Al Irwa’</em> (4/111), <em>Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’I</em> (2416</p>
<p><strong>Hadits 10</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان يقال في أيام العشر : لكل يوم ألف يوم ، ويوم عرفة : عشرة أيام يوم ، يعني في الفضل</p>
<p>“<em>Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa mengatakan pada hari-hari di sepuluh awal Dzulhijjah, ’Setiap hari pahalanya seperti 1000 hari’ dan pada hari Arafah, ‘Pahalanya 10 kali lipat dari hari seperti ini.’</em>”</p>
<p>Didha’ifkan oleh Al Albani dalam <em>Dha’if At Targhib wa At Tarhib</em> 1/365</p>
<p><strong>Hadits 11</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أن شاباً كان صاحب سماع فكان إذا هل الهلال ذي الحجة أصبح صائما فأرسل إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال ما يحملك على صيام هذه الأيام؟ قال بأبي وأمي يا رسول الله إنها أيام المشاعر وأيام الحج عسى الله عز وجل أن يشركني في دعائهم، فقال لك بكل يوم عدل مائة رقبة تعتقها، ومائة رقبة تهديها إلى بيت الله، ومائة فرس تحمل عليها في سبيل الله فإذا كان يوم التروية، فذلك عدل ألف رقبة، وألف بدنة، وألف فرس تحمل عليها في سبيل الله إذا كان يوم عرفة، فذلك عدل ألفي رقبة، وألفي بدنة، وألفي تحمل عليها في سبيل الله، وصيام سنتين قبلها، وسنتين بعدها</p>
<p>“<em>Ada seorang pemuda yang biasa memperdengarkan (nyanyian) dan setiap nampak hilal bulan Dzulhijjah ia berpuasa, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuatmu berpuasa pada hari-hari ini?”. Ia menjawab, “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, sesungguhnya inilah hari-hari Masya’ir dan Haji, aku berharap Allah ‘Azza wa Jalla menyertakanku dalam do’a mereka. Kemudian Nabi berkata kepadanya, ‘Setiap harinya (engkau berpuasa –pent) senilai dengan pahala membebaskan 100 budak, kemudian 100 budak tersebut menjadi penunjuk jalan ke Baitullah, dan 100 kuda betina yang mereka kendarai di jalan Allah jika itu hari Tarwiyah, senilai dengan 1000 budak, dan 1000 unta, dan 1000 kuda yang mereka kendarai di jalan Allah jika itu hari Arafah, senilai dengan 2000 budak dan 2000 unta, dan 2000 yang mereka kendarai di jalan Allah, dan puasa dua tahun sebelumnya, dan puasa dua tahun setelahnya&#8221;</em>.</p>
<p><em>Maudhu’</em> (Palsu), sebagaimana dalam “<em>Al Maudhu’at</em>” (2/111), <em>La’ali’</em> (2/107), <em>At Tanzih Asy Syari’ah</em> 2/148, dan <em>Al Fawa’id Al Majmu’ah</em> (95)</p>
<p><strong>Hadits 12</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">في اول يوم من ذي الحجة غفر الله فيه لآدم ومن صام هذا اليوم غفر الله له كل ذنب<br />
و في اليوم الثاني استجاب الله لسيدنا يوسف, ومن صام هذا اليوم كمن عبد الله سنة و لم يعص الله طرفة عين<br />
و في اليوم الثالث استجاب الله دعاء زكريا , ومن صام هذا اليوم استجاب الله لدعاه<br />
و في اليوم الرابع ولد سيدنا عيسى عليه السلام, ومن صام هذا اليوم نفى الله عنه الياس و الفقر و في يوم القيامة يحشر مع السفرة الكرام<br />
و في اليوم الخامس ولد سيدنا موسى عليه السلام, و من صام هذا اليوم برئ من النفاق و عذاب القبر<br />
و في اليوم السادس فتح الله لسيدنا محمد عليه الصلاة و السلام بالخير,و من صامه ينظر الله اليه بالرحمة و لا يعذبه أبدا<br />
و في اليوم السابع تغلق فيه أبواب جهنم, و من صامه أغلق الله له ثلاثون بابا من العسر و فتح الله له ثلا ثين بابا من الخير<br />
و في اليوم الثامن المسمى بيوم التروية و من صامه أعطي له من الأجر ما لا يعلمه إلا الله<br />
و في اليوم التاسع و هو يوم عرفة من صامه يغفر الله له سنة من قبل و سنة من بعد<br />
و في اليوم العاشر يكون عيد الأضحى و فيه قربان و ذبح ذبيحة و عند أول قطرة من دماء الذبيحة يغفر الله ذنوبه وذنوب أولاده. ومن أطعم فيه مؤمنا و تصدق بصدقة بعثه الله يوم القيامة آمنا و يكون ميزانه أثقل من جبل أحد</p>
<p>“<em>Di hari pertama bulan Dzulhijjah Allah mengampuni Adam dan barangsiapa yang berpuasa pada hari tersebut Allah akan mengampuni seluruh dosanya”</em></p>
<p><em>“Di hari kedua Allah mengabulkan doa sayyidina Yusuf, dan barangsiapa yang berpuasa di hari itu pahalanya seperti beribadah kepada Allah setahun penuh dan tidak bermaksiat walau sekejap mata”</em></p>
<p><em>“Di hari ketiga Allah mengabulkan doa Zakaria, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari itu Allah akan mengabulkan doanya”</em></p>
<p><em>“Di hari keempat lahir sayyidina ‘Isa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan menghilangkan kefakiran darinya dan pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama As Safarat Al Kiram (malaikat yang mulia –pent)</em></p>
<p><em>“Di hari kelima lahirlah Musa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu ia akan dibebaskan dari sifat munafik dan adzab kubur”</em></p>
<p><em>“Di hari keenam Allah membukakan sayyidina Muhammad ‘alaihis sholatu wassalam kebaikan, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan melihatnya dengan rahmat-Nya dan ia tidak akan diadzab”</em></p>
<p><em>“Di hari ketujuh ditutup pintu-pintu jahannam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan tutup baginya 30 pintu kesulitan dan Allah bukakan baginya 30 pintu kebaikan”</em></p>
<p><em>“Di hari kedelapan yang disebut juga dengan hari Tarwiyah, barangsiapa berpuasa pada hari itu akan diberi balasan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah”</em></p>
<p><em>“Di hari kesembilan yaitu hari Arafah barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan mengampuni dosanya selama setahun sebelumnya, dan setahun sesudahnya”</em></p>
<p><em>“Di hari kesepuluh yaitu Idul Adha, di dalamnya terdapat qurban, penyembelihan, dan pengaliran darah (hewan qurban), Allah akan mengampuni dosa anak-anaknya (yaitu orang yang berpuasa tadi –pent). Barangsiapa yang member makan orang mukmin dan bershadaqah Allah akan mengutus baginya pada hari kiamat, keamanan dan timbangannya lebih berat dari Gunung Uhud</em>”</p>
<p>Hadits ini tidak ada asalnya, namun banyak tersebar di forum-forum internet</p>
<p><strong>Hadits 13</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">من صام يوم ثمان عشرة من ذي الحجة ؛ كتب له صيام ستين شهراً</p>
<p>”<em>Barangsiapa berpuasa pada hari ke-28 Dzulhijjah, akan dituliskan baginya pahala puasa 60 bulan</em>”</p>
<p>Sanadnya <em>dha’if</em>, lihat <em>Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah</em> 10/594</p>
<p><strong>Hadits 14</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان إذا فاته شيء من رمضان ؛ قضاه في عشر ذي الحجة</p>
<p>“<em>Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam jika beliau terlewat beberapa hari di bulan Ramadhan, beliau mengqadha’nya di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah</em>”</p>
<p><em>Dha’if</em>. <em>Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah</em> 12/989</p>
<p>[Diterjemahkan dari artikel di <a href="http://www.subulassalaam.com/articles/articlea.cfm?article_id=142">http://www.subulassalaam.com/articles/articlea.cfm?article_id=142</a> ]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: Yhouga Ariesta<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-7322"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fhadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fhadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fhadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majelis Dzikir</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/majelis-dzikir.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/majelis-dzikir.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2011 23:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[majelis dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6875</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/majelis-dzikir.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam kitab <em>Shahih Muslim</em> :</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ</p>
<p>Muhammad bin Hatim bin Maimun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Bahz menuturkan kepada kami. Dia berkata; Wuhaib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Suhail menuturkan kepada kami dari ayahnya dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki para malaikat khusus yang senantiasa berkeliling mencari di mana adanya majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang padanya terdapat dzikir maka mereka pun duduk bersama orang-orang itu dan meliputi mereka satu sama lain dengan sayap-sayapnya sampai-sampai mereka memenuhi jarak antara orang-orang itu dengan langit terendah, kemudian apabila orang-orang itu telah bubar maka mereka pun naik menuju ke atas langit</em>” Nabi berkata, “<em>Maka Allah ‘azza wa jalla pun bertanya kepada mereka sedangkan Dia adalah yang paling mengetahui keadaan mereka, ‘Dari mana kalian datang?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu yang ada di bumi. Mereka mensucikan-Mu (bertasbih), mengagungkan-Mu (bertakbir), mengucapkan tahlil, dan memuji-Mu (bertahmid), serta meminta (berdo’a) kepada-Mu.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang mereka minta kepada-Ku?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Mereka meminta kepada-Mu surga-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka telah melihat surga-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum wahai Rabbku.’ Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimana lagi jika mereka benar-benar telah melihat surga-Ku?’. Para malaikat itu berkata, ‘Mereka juga meminta perlindungan kepada-Mu.’ Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka meminta perlindungan-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Mereka berlindung dari neraka-Mu, wahai Rabbku’. Maka Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum, wahai Rabbku.’ Lalu Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimanakah lagi jika mereka telah melihat neraka-Ku.’ Mereka mengatakan, ‘Mereka meminta ampunan kepada-Mu.’ Maka Allah mengatakan, ‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka. Dan Aku telah berikan apa yang mereka minta dan Aku lindungi mereka dari apa yang mereka minta untuk berlindung darinya.’.” Nabi bersabda, “Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.” Nabi mengatakan, “Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.</em>” (HR. Muslim dalam Kitab <em>ad-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar</em>, hadits no. 2689, lihat Syarh Muslim [8/284-285] cetakan Dar Ibn al-Haitsam)</p>
<p>Hadits yang mulia ini memberikan banyak pelajaran penting bagi kita, di antaranya adalah :</p>
<ol>
<li>Hadits ini menunjukkan tentang keutamaan dzikir dan majelis dzikir serta duduk bersama orang-orang yang berdzikir (<em>Syarh Nawaw</em>i [8/285])</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan duduk bersama orang-orang soleh (<em>Syarh Nawawi</em> [8/285])</li>
<li>Di dalamnya juga terkandung iman kepada para malaikat dan bahwasanya mereka itu adalah makhluk nyata bukan khayalan, dan malaikat tersebut memiliki sayap. Dan Allah tidak membutuhkan malaikat</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan disyari’atkannya membuat majelis dzikir yang di dalamnya mereka mengingat Allah, memuji, dan mengagungkan-Nya, mensucikan dan memohon ampunan-Nya. Namun ini bukan berarti berdzikir secara berjama’ah yang banyak dikenal oleh orang pada jaman sekarang. Yang dimaksud adalah memperbanyak dzikir tersebut secara sendiri-sendiri di dalam majelis tersebut tanpa perlu dikomando. Hal ini berdasarkan atsar Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em> yang mengingkari perbuatan orang-orang yang melakukan hal semacam itu. Dan hendaknya dzikir itu dengan suara yang pelan, tidak perlu dikeras-keraskan.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bacaan <em>tasbih</em>, <em>tahlil</em>, <em>tahmid</em>, dan <em>takbir</em> dibandingkan bacaan dzikir yang lain.</li>
<li>Penetapan sifat Allah <em>al-Kalam</em>/berbicara demikian juga <em>al-’Ilmu</em>/mengetahui</li>
<li>Disyari’atkannya berdoa kepada Allah agar masuk surga dan selamat dari neraka</li>
<li>Di dalamnya juga terkandung dorongan untuk beramal saleh supaya masuk ke dalam surga</li>
<li>Di dalamnya juga terkandung peringatan dan ancaman agar menjauhi amal-amal buruk aagar tidak terjerumus ke neraka</li>
<li>Surga dipenuhi dengan kenikmatan sedangkan neraka dipenuhi dengan kesengsaraan</li>
<li>Iman kepada surga dan neraka</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan beriman kepada perkara gaib</li>
<li>Penetapan salah satu nama Allah yaitu Rabb</li>
<li>Bolehnya menyeru Allah dengan lafazh <em>Ya Rabbi</em> (wahai Rabbku)</li>
<li>Disyari’atkannya untuk meminta ampunan kepada Allah</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan kemurahan Allah ta’ala</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa Allah itu tinggi berada di atas langit</li>
<li>Duduk di majelis ilmu merupakan sebab terampuninya dosa dan terkabulnya doa</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, <em>wallahu a’lam</em>.</li>
</ol>
<p><em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin</em>.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-6875"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fmajelis-dzikir.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fmajelis-dzikir.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fmajelis-dzikir.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/majelis-dzikir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampaikan Ilmu Dariku Walau Satu Ayat</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jun 2011 00:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6409</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari) Seputar perawi hadits : Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Dari Abdullah bin Amr <em>radhiyallahu ta’ala ‘anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً</p>
<p><strong><em>“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”</em> (HR. Bukhari)</strong></p>
<p><strong>Seputar perawi hadits :</strong></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Su’aid bin Sa’ad bin Sahm As Sahmiy. Nama kunyah beliau Abu Muhammad, atau Abu Abdirrahman menurut pendapat lain. Beliau adalah salah satu diantara <em>Al ‘Abaadilah</em> (para shahabat yang bernama Abdullah, seperti ‘Abdullah Ibn Umar, ‘Abdullah ibn Abbas, dan sebagainya –pent) yang pertama kali memeluk Islam, dan seorang di antara fuqaha’ dari kalangan shahabat. Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah pada peperangan Al Harrah, atau menurut pendapat yang lebih kuat, beliau meninggal di Tha’if.</p>
<p><strong>Poin kandungan hadits :</strong></p>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi manusia dan jin (yang artinya), “<em>Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu</em>” (QS. Al Maidah : 3). Tentang sabda beliau, “<em>Sampaikan dariku walau hanya satu ayat</em>”, Al Ma’afi An Nahrawani mengatakan, “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.” Hal ini sebagaimana sabda beliau <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, “<em>Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir</em>”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum <em>fardhu kifayah</em>.<em></em></p>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p><em>Tabligh</em>, atau menyampaikan ilmu dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terbagi dalam dua bentuk :</p>
<ol>
<li>Menyampaikan dalil dari Al Qur’an atau sebagiannya dan dari As Sunnah, baik sunnah yang berupa perkataan (<em>qauliyah</em>), perbuatan (<em>amaliyah</em>), maupun persetujuan (<em>taqririyah</em>), dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, baligh (dewasa) dan memiliki sikap ‘<em>adalah</em> (sholeh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/ muru’ah, ed).</li>
<li>Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh capabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama. Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmu-ilmu lainnya, di antaranya bahasa, ilmu nahwu (tata bahasa Arab), ilmu-ilmu ushul, musthalah, dan membutuhkan penelaahan terhadap perkataan-perkataan ahli ilmu, mengetahui<em> ikhtilaf</em> (perbedaan) maupun kesepakatan yang terjadi di kalangan mereka, hingga ia mengetahui mana pendapat yang paling mendekati dalil dalam suatu masalah khilafiyah. Dengan bekal-bekal ilmu tersebut akhirnya ia tidak terjerumus menganut pendapat yang ‘nyleneh’.</li>
</ol>
<p><strong>Ketiga</strong>:</p>
<p>Sebagian orang yang mengaku sebagai da’i, pemberi wejangan, dan pengisi ta’lim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits “<em>Sampaikan dariku walau hanya satu ayat</em>”. Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut. Menurut mereka, tentu yang memiliki hafalan lebih banyak dari satu ayat atau satu hadits lebih layak jadi pendakwah.</p>
<p>Pernyataan di atas jelas keliru dan termasuk pengelabuan yang tidak samar bagi orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah. Hadits di atas tidaklah menunjukkan apa yang mereka maksudkan, melainkan di dalamnya justru terdapat perintah untuk menyampaikan ilmu dengan pemahaman yang baik, meskipun ia hanya mendapatkan satu hadits saja. Apabila seorang pendakwah hanya memiliki hafalan ilmu yang mantap, maka ia hanya boleh menyampaikan sekadar hafalan yang ia dengar. Adapun apabila ia termasuk <em>ahlul hif</em><em>z</em><em>h wal fahm</em><em> </em>(punya hafalan ilmu dan pemahaman yang bagus), ia dapat menyampaikan dalil yang ia hafal dan pemahaman ilmu yang ia miliki. Demikianlah sabda Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Terkadang orang yang disampaikan ilmu itu lebih paham dari yang mendengar secara langsung. Dan kadang pula orang yang membawa ilmu bukanlah orang yang faqih (bagus dalam pemahaman)”. </em>Bagaimana seseorang bisa mengira bahwa Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan orang yang tidak paham agama untuk mengajarkan berdasarkan pemahaman yang ia buat asal-asalan (padahal ia hanya sekedar hafal dan tidak paham, ed)?! Semoga Allah melindungi kita dari kerusakan semacam ini.</p>
<p>Diterjemahkan dari : <em>“Ta’liqat ‘ala Arba’ina Haditsan fi Manhajis Salaf”</em> Syaikh Ali bin Yahya Al Haddadi  (<a href="http://haddady.com/ra_page_views.php?id=299&amp;page=24&amp;main=7">http://haddady.com/ra_page_views.php?id=299&amp;page=24&amp;main=7</a>)</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://yhougam.wordpress.com/">Yhouga Ariesta</a></p>
<p>Editor: M. A.  Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6409"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fsampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fsampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fsampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Bisa Ibadah Tapi Dapat Pahala Ibadah</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/tidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/tidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 00:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6326</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah hadits dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا Artinya: “Jika seorang ahli ibadah jatuh sakit<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/tidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sebuah hadits dari Abu Musa Al Asy’ari <em>Radhiallahu’anhu</em>, ia mengatakan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18; text-align: center;">إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا</p>
<p>Artinya: “<em>Jika seorang ahli ibadah jatuh sakit atau safar, ia tetap diberi pahala ibadah sebagaimana ketika ia sehat atau sebagaimana ketika ia tidak dalam safar</em>” [HR. Bukhari]</p>
<p>Ini adalah sebuah nikmat yang besar yang dikaruniakan Allah <em>Ta’ala</em> kepada hamba-Nya yang beriman. Yaitu jika seorang hamba terbiasa melakukan sebuah amal ibadah sunnah secara kontinu, kemudian suatu kala ia terhalang untuk melakukannya dikarenakan sakit atau safar, maka pada saat itu ia mendapat pahala ibadah tersebut secara utuh (!!)</p>
<p>Karena Allah <em>Ta’ala</em> Maha Mengetahui bahwa jika hamba-Nya tersebut tidak memiliki udzur (halangan) ia akan melakukan ibadah tersebut. Dalam hal ini, secara khusus untuk orang sakit, Allah memberi pahala karena niat orang tersebut. Selain itu juga secara umum, orang tersebut bisa mendapatkan pahala karena telah menunaikan kewajibannya untuk bersabar menghadapi sakitnya, bahkan pahalanya lebih sempurna jika ia ridha dan bersyukur dalam menghadapinya serta merendahkan diri terhadap Allah Ta’ala.</p>
<p>Demikian pula seorang musafir, ia mendapatkan pahala atas amal-amal kebaikan yang ia lakukan saat dalam perjalanan. Semisal, memberi pengajian, nasihat, atau bimbingan kepada orang lain dalam hal agama ataupun dalam masalah duniawi. Secara khusus juga, seorang musafir diberi pahala jika perjalanan yang ia tempuh dalam rangka kebaikan. Seperti safar dalam rangka jihad, haji, umroh atau semisalnya.</p>
<p>Hadits ini juga mencakup pembahasan tentang orang yang beribadah namun terhalang untuk melakukannya dengan sempurna karena suatu udzur. Maka Allah <em>Ta’ala</em> akan menyempurnakan pahala bagi orang tersebut dikarenakan niatnya. Karena uzur yang membuatnya terhalang untuk melakukan ibadah dengan sempurna dapat dikatakan sebagai salah satu jenis penyakit dalam hadits ini. <em>Wallahu’alam</em>.</p>
<p>Hadits ini juga mencakup pembahasan tentang orang yang memiliki niat untuk melakukan amalan yang baik, namun ia terhalang untuk melakukannya karena ia melakukan amalan lain yang lebih baik dari amalan pertama. Dan orang tersebut tidak dapat melakukan kedua amalan tersebut semuanya (harus memilih salah satu). Maka dalam kondisi ini, ia lebih patut untuk diberi pahala yang lebih besar oleh Allah Ta’ala. Namun jika kegiatan lain tersebut tingkat kebaikannya setara dengan kegiatan pertama, maka sungguh karunia Allah Ta’ala sangatlah besar.</p>
<p>[Diterjemahkan dari syarah hadits no.30 dari kitab <em>Bahjatul Qulubil Abrar Wa Qurratu A’yunil Akhyaar</em>, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di <em>Rahimahullahuta’ala</em>]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6326"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Ftidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Ftidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Ftidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/tidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Orang Kaya Yang Bersyukur</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-orang-kaya-yang-bersyukur.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-orang-kaya-yang-bersyukur.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 00:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5945</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: جاء الفقراء إلى النبي فقالوا: يا رسول الله، ذهب أهل الدثور من الأموال بالدرجارت العلا والنعيم المقيم، يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ولهم فضل من أموال يحجون<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-orang-kaya-yang-bersyukur.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">جاء الفقراء إلى النبي  فقالوا: يا رسول الله، ذهب أهل الدثور من الأموال بالدرجارت العلا والنعيم المقيم، يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ولهم فضل من أموال يحجون بها ويعتمرون ويجاهدون ويتصدقون، وليست لنا أموال&#8230;وفي رواية مسلم: فقال رسول الله  في آخر الحديث: &#8220;ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء&#8221; (متفق عليه).</p>
<p lang="id-ID">&#8220;<em>Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em>) pernah datang menemui beliau </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em>, lalu mereka berkata: &#8220;Wahai Rasulullah </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em>, orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi (di sisi Allah </em><em>Ta’ala</em><em>) dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa, tapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta…</em>&#8220;.</p>
<p>Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Itu adalah kerunia (dari) Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya</em>&#8220;<sup><a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang kaya yang memanfaatkan kekayaannya untuk meraih takwa kepada Allah <em>Ta’ala</em>, dengan menginfakkan hartanya di jalan yang diridhai-Nya.</p>
<p>Imam Ibnu Hajar al-&#8217;Asqalani berkata, &#8220;Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) lebih utamanya orang kaya yang menunaikan hak-hak (Allah <em>Ta’ala</em>) pada (harta) kekayaannya dibandingkan orang miskin, karena berinfak di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits di atas) hanya bisa dilakukan oleh orang kaya&#8221;<sup><a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup>.</p>
<p><strong>Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:</strong></p>
<p>- <a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-orang-kaya-yang-bersyukur.html">Mensyukuri </a>nikmat harta yang Allah <em>Ta’ala</em> berikan kepada kita adalah dengan mengakui dan meyakini dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah <em>Ta’ala</em> semata, menyebut-nyebut dan menampakkan nikmat tersebut secara lahir, serta menggunakannya di jalan yang diridhai-Nya<sup><a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup>.</p>
<p>- Allah <em>Ta’ala</em> memuji orang-orang yang memiliki harta tapi tidak membuat mereka lalai dari mengingat Allah <em>Ta’ala</em> dan beribadah kepada-Nya, dalam firman-Nya,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">{رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ}</p>
<p>&#8220;<em>L</em><em>aki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang</em>&#8221; (QS an-Nuur:37).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir berkata, &#8220;Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan/dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli (berbisnis) dan meraih keuntungan (besar) dari mengingat (beribadah) kepada <em>Rabb</em> mereka (Allah <em>Ta’ala</em>) Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezki kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa (balasan kebaikan) di sisi Allah <em>Ta’ala</em> adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis/musnah sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal abadi&#8221;<sup><a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></sup>.</p>
<p>- Imam al-Qurthubi berkata, &#8220;Dianjurkan bagi seorang pedagang (pengusaha) untuk tidak disibukkan/dilalaikan dengan perniagaan (usaha)nya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya, maka ketika tiba waktu shalat fardhu hendaknya dia (segera) meninggalkan perniagaannya (untuk menunaikan shalat), agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang (yang dipuji Allah <em>Ta’ala</em>) dalam ayat (di atas) ini&#8221;<sup><a href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></sup>.</p>
<p>- Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi berkata, &#8220;Dunia (harta) tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena (dikhawatirkan) harta itu menghalangi (manusia) untuk mencapai (ridha) Allah <em>Ta’ala</em>, sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu (umumnya) tidak menghalangi dan menyibukkan (manusia) dari (beribadah kepada) Allah. Barapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari (beribadah kepada) Allah <em>Ta’ala</em>, seperti Nabi Sulaiman ‘<em>alaihis salam</em>, demikian pula (sahabat Nabi <em>Ta’ala</em>) &#8216;Utsman (bin &#8216;Affan) <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dan &#8216;Abdur Rahman bin &#8216;Auf <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Dan berapa banyak orang miskin yang kemiskinannya (justru) melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari kecintaan serta kedekatan kepada-Nya…&#8221;<sup><a href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></sup>.</p>
<p>- Penting untuk diingatkan di sini bahwa mencintai harta dan kedudukan dunia secara berlebihan merupakan fitnah yang bisa menjerumuskan manusia ke dalam jurang kebinasaan, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;"><strong>«</strong>إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ<strong>»</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta</em>”.</p>
<p>Maksudnya: menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">{إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ}</p>
<p>“<em>Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar</em>” (QS at-Tagaabun:15)<sup><a href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></sup>.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 28 Muharram 1432 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</p>
<p>Artikel <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></span></p>
<p lang="id-ID">&#8212;</p>
<p><a href="#sdfootnote1anc">1</a> HSR al-Bukhari (no. 807 dan 5970) dan Muslim (no. 595).</p>
<p><a href="#sdfootnote2anc">2</a> Kitab &#8220;Fathul Baari&#8221; (3/298).</p>
<p><a href="#sdfootnote3anc">3</a> Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab &#8220;al-Waabilush 	shayyib&#8221; (hal. 11).</p>
<p><a href="#sdfootnote4anc">4</a> Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/390).</p>
<p><a href="#sdfootnote5anc">5</a> Kitab “Tafsir al-Qurthubi” (5/156).</p>
<p><a href="#sdfootnote6anc">6</a> Kitab “al-Aadaabusy syar&#8217;iyyah” (3/469).</p>
<p><a href="#sdfootnote7anc">7</a> Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/507).</p>
<div class="shr-publisher-5945"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkeutamaan-orang-kaya-yang-bersyukur.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkeutamaan-orang-kaya-yang-bersyukur.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkeutamaan-orang-kaya-yang-bersyukur.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-orang-kaya-yang-bersyukur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebih Baik daripada Onta Merah</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/lebih-baik-daripada-onta-merah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/lebih-baik-daripada-onta-merah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 00:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5882</guid>
		<description><![CDATA[Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/lebih-baik-daripada-onta-merah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Dari Sahl bin Sa’d <em>radhiyallahu’anhu</em>, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh,  aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua  tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan  rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.”</em> Sahl berkata:  Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira  di antara mereka yang akan diberikan bendera itu. Sahl berkata: Ketika  pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diberikan bendera itu. Kemudian, Nabi bersabda, <em>“Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”</em>. Mereka menjawab, <em>“Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.”</em> Sahl berkata: Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya. Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah  ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali  sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya. Ali  berkata, <em>“Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Berjalanlah  dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah  mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang  wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja  melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki <a href="http://muslim.or.id/aqidah/lebih-baik-daripada-onta-merah.html">onta-onta  merah</a>.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/31])</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Hadits yang agung ini mengandung pelajaran, antara lain:</span></strong></p>
<ol>
<li>Kewajiban untuk berdakwah mengajak musuh (orang kafir) untuk       masuk Islam sebelum dikobarkannya peperangan. Namun, apabila musuh       tersebut sudah pernah didakwahi -tetapi menolak- maka hal itu tidak lagi       wajib, namun dianjurkan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/30], <em>al-Jadid fi      Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 69)</li>
<li>Keislaman seseorang -orang kafir yang bersyahadat- tetap      diterima meskipun dalam keadaan sedang terjadi peperangan (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [8/31])</li>
<li>Hukum di dunia dibangun di atas apa yang tampak secara lahir.      Adapun hukum batinnya diserahkan kepada Allah (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/31])</li>
<li>Syarat sah keislaman adalah harus mengucapkan dua kalimat       syahadat. Apabila dia bisu atau mengalami hambatan lain yang serupa maka       cukup baginya mengisyaratkan terhadap syahadat itu (lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/31])</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan ilmu dan      mendakwahkan petunjuk serta tuntunan-tuntunan yang baik (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [8/30])</li>
<li>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdakwah mengajak      manusia untuk memeluk agama Islam (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab al-Jihad      wa as-Siyar</em>,  hal. 617). Ini merupakan bantahan yang sangat jelas bagi      kaum  Liberal dan Pluralis yang menganggap bahwa Islam yang diserukan       kepada manusia adalah Islam dengan pengertian ‘kepasrahan kepada Tuhan       semata’ tanpa ada kewajiban untuk masuk ke dalam agama yang disebut  Islam.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan orang yang bisa       mengajak kepada Islam kepada orang lain kemudian orang yang didakwahi       tersebut menerimanya (masuk Islam), meskipun jumlahnya hanya satu  orang      (lihat Shahih Bukhari, <em>Kitab al-Jihad wa as-Siyar</em>, hal. 630)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat jelas pada diri      Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em>, karena Rasulullah <em>shallallahu      ‘alaihi wa sallam</em> memujinya dengan kata-kata, <em>“Dia mencintai Allah      dan Rasul-Nya, dan Allah dan rasul-Nya pun mencintainya.”</em> (lihat      Shahih Bukhari, <em>Kitab Fadha’il As-habin Nabi shallallahu ‘alaihi wa      sallam</em>, hal. 775)</li>
<li>Wajibnya mencintai Ali bin Abi Thalib. Karena konsekuensi cinta       kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kita juga harus mencintai apa yang       dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Allah memiliki sifat mencintai (lihat <em>al-Jadid,</em> hal. 69)</li>
<li>Mukjizat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (lihat <em>al-Jadid</em>,      hal. 69)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa besar semangat para sahabat untuk      memperoleh kebaikan agama mereka (lihat <em>al-Jadid</em>,  hal. 69). Karena      mereka sangat ingin menjadi orang yang dicintai  oleh Allah dan Rasul-Nya.      Oleh sebab itu mereka berharap untuk  diberi bendera tersebut, bukan karena      mereka menyimpan ambisi  kekuasaan sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum      Syi’ah!</li>
<li>Semestinya seorang pemimpin memeriksa keadaan rakyat atau orang      yang dipimpinnya (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Wajibnya beriman kepada takdir, tatkala bendera itu ternyata       diberikan bukan kepada orang yang berusaha untuk bisa mendapatkannya       (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Seorang panglima perang hendaknya senantiasa bertindak dengan       tenang, namun bukan berarti bersikap lemah dan tidak menunjukkan wibawa       (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Dua kalimat syahadat yang diucapkan dengan lisan tidak cukup      jika tidak diiringi dengan amalam yang membuktikannya (lihat <em>al-Jadid</em>,      hal. 69)</li>
<li>Bolehnya bersumpah ketika menyampaikan suatu perkara untuk       lebih menekankan atau ada kemaslahatan lainnya, meskipun ia tidak  diminta      bersumpah (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 69)</li>
<li>Hendaknya seorang da’i dalam mengajak kepada objek dakwahnya,       yang pertama kali diserukannya adalah agar mereka memahami dua kalimat       syahadat (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 70)</li>
<li>Diperlukannya bendera dalam peperangan</li>
<li>Seorang pemimpin atau pun pemerintah hendaknya mengirim utusan       orang-orang yang berdakwah kepada agama Allah -yaitu mendakwahkan tauhid       dan Sunnah- sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu      ‘alaihi wa sallam</em> dan para khulafa’ ar-rasyidin (lihat <em>Fath      al-Majid</em>, hal. 90)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan pentingnya pendidikan bagi da’i</li>
<li>Hidayah taufik hanya di tangan Allah</li>
<li>Seorang da’i tidak perlu merasa sempit dan sedih semata-mata       karena pengikutnya sedikit. Namun, semestinya dia bersedih karena  manusia      tidak mau menerima kebenaran, bukan karena jumlah  pengikutnya sedikit</li>
<li>Untuk berperang itu memerlukan strategi dan kehati-hatian</li>
<li>Jihad dengan ilmu (dakwah) itu didahulukan daripada jihad      dengan persenjataan (perang)</li>
<li>Kemenangan berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil      perjuangan pasukan ataupun kelihaian panglimanya</li>
<li>Ajaran Islam adalah ajaran yang penuh dengan kasih sayang       kepada manusia. Islam tidak mengenal aksi pembunuhan membabi buta       sebagaimana yang dilakukan oleh para teroris atau pelaku bom bunuh diri       yang mengklaim tindakkannya sebagai jihad</li>
<li>Dakwah itu harus dilakukan dengan mengikuti skala prioritas,       mendahulukan perkara-perkara yang terpenting sebelum perkara penting       lainnya</li>
<li>Peperangan bukanlah tujuan dalam Islam, namun perang adalah       cara terakhir yang memang harus ditempuh untuk menegakkan kebenaran di       atas muka bumi ini</li>
<li>Islam sangat menghargai nyawa manusia, meskipun itu adalah       nyawa orang-orang kafir. Bahkan, orang kafir yang tinggal di negeri  Islam      dan dilindungi oleh pemerintah ataupun orang kafir yang  tinggal di sebuah      negara yang terikat perjanjian damai dengan kaum  muslimin adalah haram      untuk ditumpahkan darahnya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mulia adalah orang yang       dicintai Allah. Sementara orang yang dicintai Allah adalah orang yang  taat      kepada Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Hadits ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa para sahabat       yang lain selain Ali tidak dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, bahkan       mereka adalah umat terbaik di atas muka bumi ini</li>
<li>Hadits ini menunjukkan semestinya seorang da’i       bertanya/berkonsultasi kepada da’i lain yang lebih senior, terlebih lagi       dalam urusan umat yang memiliki pengaruh luas</li>
</ol>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5882"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Flebih-baik-daripada-onta-merah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Flebih-baik-daripada-onta-merah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Flebih-baik-daripada-onta-merah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/lebih-baik-daripada-onta-merah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 00:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5761</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: &#8220;بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ&#8221; قَالَ: « يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong> </strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: &#8220;بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ&#8221; قَالَ: « يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ. فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ</p>
<p>“Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): <strong><em>Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah</em></strong> (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>)?”<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mengucapkan zikir ini ketika keluar rumah, dan bahwa ini merupakan sebab dia diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em><a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Beberapa faidah penting yang dapat kita ambil dari hadits ini:</strong></span></p>
<p>- Keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini akan diberikan kepada orang yang mengucapkan zikir ini dengan benar-benar merealisasikan konsekwensinya, yaitu berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em><a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>- Syaitan tidak memiliki kemampuan untuk mencelakakan orang-orang yang benar-benar beriman dan bersandar sepenuhnya kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em><a href="#_ftn4">[4]</a>, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="text-align: center;">{إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ}</p>
<p>“<em>Sesungguhnya syaitan itu tidak memiliki kekuasaan (untuk mencelakakan) orang-orang yang beriman dan bertawakkal (berserah diri) kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaan syaitan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah</em>” (QS an-Nahl: 99-100).</p>
<p>- Bertawakal (berserah diri dan bersandar sepenuhnya) kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> merupakan sebab utama untuk mendapatkan petunjuk dan perlindungan Allah dalam semua urusan manusia. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ<strong> </strong>إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ}</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya</em>” (QS ath-Thalaaq: 3).</p>
<p>Artinya: Barangsiapa yang berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dalam semua urusan agama dan dunianya, yaitu dengan bersandar kepada-Nya dalam mengusahakan kebaikan bagi dirinya dan menolak keburukan dari dirinya, serta yakin dengan kemudahan yang akan diberikan-Nya, maka Allah <em>Ta&#8217;ala</em> akan memudahkan semua urusannya tersebut<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p style="text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 30 Rabi’ul awal 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Abu Dawud (no. 5095), at-Tirmidzi (no. 3426) dan Ibnu Hibban (no. 822), dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat keterangan imam Ibnu Hibban dalam kitab “Shahih Ibnu Hibban” (3/104).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 157-158).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 449).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 449).</p>
<div class="shr-publisher-5761"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fkeutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fkeutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fkeutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laksana Pohon yang Tak Berbuah</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 00:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5750</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab Bad’i al-Khalq dalam sahihnya, beliau berkata; حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيلَ لِأُسَامَةَ لَوْ أَتَيْتَ فُلَانًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam <em>Kitab Bad’i al-Khalq </em>dalam sahihnya, beliau berkata;</p>
<p style="text-align: center;">حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ  عَنْ الْأَعْمَشِ  عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيلَ لِأُسَامَةَ لَوْ  أَتَيْتَ فُلَانًا  فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا  أُكَلِّمُهُ إِلَّا  أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ دُونَ  أَنْ أَفْتَحَ بَابًا  لَا أَكُونُ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ وَلَا أَقُولُ  لِرَجُلٍ أَنْ كَانَ  عَلَيَّ أَمِيرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ  شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ  رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالُوا وَمَا  سَمِعْتَهُ يَقُولُ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ يُجَاءُ  بِالرَّجُلِ يَوْمَ  الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ  أَقْتَابُهُ فِي  النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ  فَيَجْتَمِعُ  أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا  شَأْنُكَ  أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ   الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ   وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ   عَنْ الْأَعْمَشِ</p>
<p>Ali menuturkan kepada kami, Sufyan menuturkan kepada kami dari   al-A’masy dari Abu Wa’il dia berkata;ada orang yang berkata kepada  <strong>Usamah</strong>, <em>“Seandainya saja engkau mau mendatangi si fulan dan berbicara  menasihatinya.”</em> Maka dia menjawab, “Apakah menurut kalian aku tidak  berbicara  dengannya melainkan aku harus menceritakannya kepada kalian.  Aku sudah  menasihatinya secara rahasia. Aku tidak ingin membuka pintu  yang  menjadikan aku sebagai orang pertama yang membuka pintu fitnah itu   -menasihati penguasa dengan terang-terangan-. Aku pun tidak akan   mengatakan kepada seseorang sebagai orang yang terbaik -walaupun dia   adalah pemimpinku- setelah aku mendengar sabda Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>.” Mereka bertanya, <em>“Apa yang kamu dengar dari beliau  itu?”</em>. Dia menjawab; Aku mendengar beliau bersabda, <em>“Akan didatangkan  seorang lelaki pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka  dan <strong>terburailah isi perutnya di neraka sebagaimana seekor keledai yang  berputar mengelilingi penggilingan</strong>.  Maka berkumpullah para penduduk  neraka di sekitarnya. Mereka bertanya,  “Wahai fulan, apa yang terjadi  padamu, bukankah dahulu kamu  memerintahkan yang ma’ruf kepada kami dan  melarang kami dari  kemungkaran?”. Lelaki itu menjawab, “<strong>Dahulu aku  memerintahkan  kalian mengerjakan yang ma’ruf sedangkan aku tidak  melakukannya. Dan  aku melarang kalian dari kemungkaran namun aku justru  melakukannya</strong>.”</em> Hadits ini diriwayatkan oleh Ghundar dari Syu’bah dari  al-A’masy (<strong>HR. Bukhari</strong> [3027] , disebutkan pula oleh Bukhari dalam Kitab  <em>al-Fitan</em> [6569] as-Syamilah).</p>
<p>Hasan Al Bashri <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Orang alim  adalah orang  yang merasa takut kepada Ar Rahman walaupun dia tidak  menyaksikan-Nya,  ia sangat menginginkan apa yang Allah iming-imingkan  kepada dirinya, dan  ia bersikap zuhud terhadap sesuatu yang akan  membuat murka Allah.”</em> Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em> bahwa hakikat  orang yang benar-benar mengenal Ar Rahman (Allah) adalah  : [1] orang  yang tidak mempersekutukan apapun dengan Allah, [2]  menghalalkan sesuatu  yang dihalalkan-Nya, [3] mengharamkan sesuatu yang  diharamkan-Nya, [4]  senantiasa menjaga pesan/wasiat-Nya, dan [5]  meyakini dirinya pasti akan  berjumpa dengan-Nya serta amalnya akan  dihisab (<em>Tafsir Al Qur’an Al  ‘Azhim</em>, 6/349).</p>
<p>Sufyan Ats Tsauri menukil dari Abu Hayyan At Tamimi ucapan seorang  lelaki, <em>“Dahulu  dikatakan bahwa ulama itu ada tiga macam; [1] Orang yang  alim terhadap  Allah dan alim tentang aturan Allah, [2] Orang yang alim  tentang Allah  namun tidak alim tentang aturan Allah, [3] Orang yang alim  tentang  aturan Allah namun tidak alim terhadap Allah. Orang yang alim  terhadap  Allah dan alim tentang aturan Allah adalah orang yang takut  kepada  Allah serta mengetahui batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban.   Sedangkan Orang yang alim tentang Allah namun tidak alim tentang aturan   Allah adalah orang yang takut kepada Allah namun tidak mengerti seluk   beluk batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban. Adapun Orang yang alim   tentang aturan Allah namun tidak alim terhadap Allah adalah orang yang   mengerti seluk beluk batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban namun tidak   merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.”</em> (<em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>,  6/350).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Qasim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “<strong>Amal adalah buah  dari ilmu</strong>.  Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang lainnya. Ilmu   diibaratkan seperti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah seperti   buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus   menyertainya dengan amalan. Sebab <strong>orang yang berilmu akan tetapi tidak  beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh</strong>. Di dalam  hadits disebutkan, <em>“Orang yang paling keras siksanya adalah seorang  berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya”</em>.  Orang  semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang  dijadikan  sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam  sebuah  sya’ir dikatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><em>Orang alim yang tidak mau<br />
Mengamalkan ilmunya<br />
Mereka akan disiksa sebelum<br />
Disiksanya para penyembah berhala</em></p>
<p style="text-align: center;">(<em>Hasyiyah Tsalatsatul Ushul</em>, hal. 12)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hendaknya  diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka <strong>ilmunya  itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya</strong>.  Hal ini sebagaimana  terdapat dalam hadits Abu Barzah  radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah bersabda, “Kedua telapak kaki  seorang hamba tidak akan bergeser  pada hari kiamat sampai dia akan  ditanya tentang empat perkara,  diantaranya adalah <strong>tentang ilmunya, apa  yang sudah diamalkannya</strong>” (<strong>HR. Tirmidzi</strong> 2341). Hal ini bukan berlaku bagi  para ulama saja, sebagaimana  anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua  orang yang mengetahui suatu  perkara agama maka itu berarti telah tegak  padanya hujjah. Apabila  seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah  pengajian atau khutbah  Jum’at yang di dalamnya dia mendapatkan  peringatan dari suatu  kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun  mengetahui bahwa  kemaksiatan yang dilakukannya itu adalah haram maka ini  juga ilmu.  Sehingga hujjah juga sudah tegak dengan apa yang didengarnya  tersebut.  Dan terdapat hadits yang sah dari Abu Musa Al Asy’ari  radhiyallahu  ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Al  Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk  menjatuhkan dirimu” (<strong>HR. Muslim</strong>)”</em> (<em>Hushulul Ma’mul</em>, hal. 18)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Allahumma na’udzu bika min ‘ilmin laa yanfa’</em></p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5750"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Flaksana-pohon-yang-tak-berbuah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Flaksana-pohon-yang-tak-berbuah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Flaksana-pohon-yang-tak-berbuah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/laksana-pohon-yang-tak-berbuah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

