<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/hadits/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 00:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Fawaaid Hadits Ke-2 Kitab Umdhatul Ahkam</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/fawaaid-hadits-ke-2-kitab-umdhatul-ahkam.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/fawaaid-hadits-ke-2-kitab-umdhatul-ahkam.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 06:37:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8971</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :  لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ “Allah tidak akan menerima shalat salah seorang diantara kalian jika dia berhadats sampai dia wudhu.” (HR. Bukhari<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/fawaaid-hadits-ke-2-kitab-umdhatul-ahkam.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata : Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :<em> </em></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ</p>
<p><em>“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang diantara kalian jika dia berhadats sampai dia wudhu.”</em> <strong>(HR. Bukhari : 6954 dan Muslim : 225)</strong>.</p>
<p>Ketika menjelaskan hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em> menyebutkan beberapa <em>fawaaid</em>, diantaranya:</p>
<p><strong>Pertama</strong> : Sesungguhnya ada shalat yang diterima dan ditolak. Jika ia sesuai dengan syariat maka diterima namun jika tidak sesuai maka tertolak. Demikian pula semua ibadah yang lain, berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alihi wa sallam</em> :</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد</p>
<p><em>“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut raddun.”</em> yaitu <em>marduud</em>/tertolak.</p>
<p><strong>Kedua</strong> : Semua shalat baik yang <em>fardhu</em> maupun yang <em>nafilah</em> sampai shalat jenazah sekalipun tidak akan diterima jika dikerjakan dalam keadaan berhadats, meskipun dia dalam keadaan lupa sampai dia berwudhu. Demikian pula orang yang sedang junub jika dia shalat sebelum mandi.</p>
<p><strong>Ketiga</strong> : Shalat orang yang berhadats hukumnya haram sampai dia berwudhu, karena Allah tidak menerimanya. Mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak diterima berarti merupakan pertentangan dan termasuk jenis mengolok-olok agama <em>(istihzaa</em>).</p>
<p><strong>Keempat</strong> : Sesungguhnya jika seseorang sudah berwudhu untuk shalat, kemudian datang waktu shalat berikutnya dan dia tetap dalam keadaan suci maka tidak wajib baginya wudhu lagi.</p>
<p><strong>Kelima</strong> : Agungnya kedudukan shalat dimana Allah tidak akan menerimanya kecuali dalam keadaan suci.</p>
<p>Sumber : <em>Tanbiihul Afhaam Syarah Umdathul Ahkam</em>, hal : 12</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penyusun: Didik Suyadi<br />
Artikel Muslim.Or.Id</p>
<div class="shr-publisher-8971"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Ffawaaid-hadits-ke-2-kitab-umdhatul-ahkam.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/fawaaid-hadits-ke-2-kitab-umdhatul-ahkam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Ziarah Kubur</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-ziarah-kubur.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-ziarah-kubur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 23:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8610</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-ziarah-kubur.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ « اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ »</p>
<p>Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Muhammad Bin &#8216;Ubaid menuturkan kepada kami: Dari Yaziid bin Kasyaan, ia berkata: Dari Abu Haazim, ia berkata: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “<em>Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian</em>”</p>
<p>(HR. Muslim no.108, 2/671)</p>
<p><strong>Faidah:</strong></p>
<ul>
<li>Haram hukumnya memintakan ampunan bagi orang yang mati dalam keadaan kafir (<em>Nailul Authar</em> [219], <em>Syarh Shahih Muslim</em> <em>Lin Nawawi</em> [3/402]). Sebagaimana juga firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:
<p style="text-align: right; font-size: 18px;"> مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى</p>
<p>“<em>Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya)</em>” (QS. At Taubah: 113)</li>
<li>Berziarah kubur ke makam orang kafir hukumnya boleh (<em>Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi</em>, 3/402). Berziarah kubur ke makam orang kafir ini sekedar untuk perenungan diri, mengingat mati dan mengingat akhirat. Bukan untuk mendoakan atau memintakan ampunan bagi <em>shahibul qubur</em>. (<em>Ahkam Al Janaaiz Lil Albani</em>, 187)</li>
<li>Jika berziarah kepada orang kafir yang sudah mati hukumnya boleh, maka berkunjung menemui orang kafir (yang masih hidup) hukumnya juga boleh (<em>Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi</em>, 3/402).</li>
<li>Hadits ini adalah dalil tegas bahwa ibunda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> mati dalam keadaan kafir dan kekal di neraka (<em>Syarh Musnad Abi Hanifah</em>, 334)</li>
<li>Tujuan berziarah kubur adalah untuk menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian (<em>Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi</em>, 3/402)</li>
<li>An Nawawi, Al &#8216;Abdari, Al Haazimi berkata: “Para ulama bersepakat bahwa ziarah kubur itu boleh bagi laki-laki” (<em>Fathul Baari</em>, 4/325). Bahkan Ibnu Hazm berpendapat wajib hukumnya minimal sekali seumur hidup. Sedangkan bagi wanita diperselisihkan hukumnya. Jumhur ulama berpendapat hukumnya boleh selama terhindar dari fitnah, sebagian ulama menyatakan hukumnya haram mengingat hadits ,
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لَعَنَ اللَّه زَوَّارَات الْقُبُور</p>
<p>“<em>Allah melaknat wanita yang sering berziarah kubur</em>” (HR. At Tirmidzi no.1056, komentar At Tirmidzi: “Hadits ini hasan shahih”)</p>
<p>Dan sebagian ulama berpendapat hukumnya makruh (<em>Fathul Baari</em>, 4/325). Yang <em>rajih insya Allah</em>, hukumnya boleh bagi laki-laki maupun wanita karena tujuan berziarah kubur adalah untuk mengingat kematian dan mengingat akhirat, sedangkan ini dibutuhkan oleh laki-laki maupun perempuan (<em>Ahkam Al Janaaiz Lil Albani,</em> 180).</li>
<li>Ziarah kubur mengingatkan kita akan akhirat. Sebagaimana riwayat lain dari hadits ini:
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">زوروا القبور ؛ فإنها تذكركم الآخرة</p>
<p>“<em>Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkanmu akan akhirat</em>” (HR. Ibnu Maajah no.1569)</li>
<li>Ziarah kubur dapat melembutkan hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا</p>
<p>“<em>Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak </em><em>(qaulul hujr), ketika berziarah</em>” (HR. Al Haakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Al Jaami&#8217;</em>, 7584)</li>
<li>Ziarah kubur dapat membuat hati tidak terpaut kepada dunia dan zuhud terhadap gemerlap dunia. Dalam riwayat lain hadits ini disebutkan:
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروا القبور فإنها تزهد في الدنيا وتذكر الآخرة</p>
<p>“<em>Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat membuat kalian zuhud terhadap dunia dan mengingatkan kalian akan akhirat</em>” (HR. Al Haakim no.1387, didhaifkan Al Albani dalam <em>Dha&#8217;if Al Jaami&#8217;</em>, 4279)</li>
<li>Al Munawi berkata: “Tidak ada obat yang paling bermanfaat bagi hati yang kelam selain berziarah kubur. Dengan berziarah kubur, lalu mengingat kematian, akan menghalangi seseorang dari maksiat, melembutkan hatinya yang kelam, mengusir kesenangan terhadap dunia, membuat musibah yang kita alami terasa ringan. Ziarah kubur itu sangat dahsyat pengaruhnya untuk mencegah hitamnya hati dan mengubur sebab-sebab datangnya dosa. Tidak ada amalan yang sedahsyat ini pengaruhnya” (<em>Faidhul Qaadir</em>, 88/4)</li>
<li>Disyariatkannya ziarah kubur ini dapat mendatangkan manfaat bagi yang berziarah maupun bagi <em>shahibul qubur </em>yang diziarahi (<em>Ahkam Al Janaiz Lil Albani</em>, 188). Bagi yang berziarah sudah kami sebutkan di atas. Adapun bagi  <em>shahibul qubur </em>yang diziarahi (jika muslim), manfaatnya berupa disebutkan salam untuknya, serta doa dan permohonan ampunan baginya dari peziarah. Sebagaimana hadits:
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">كيف أقول لهم يا رسول الله؟ قال: قولي: السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين وإنا إن شاء الله بكم للاحقون</p>
<p>“<em>Aisyah bertanya: Apa yang harus aku ucapkan bagi mereka (shahibul qubur) wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ucapkanlah: <strong>Assalamu &#8216;alaa ahlid diyaar, minal mu&#8217;miniina wal muslimiin, wa yarhamullahul mustaqdimiina wal musta&#8217;khiriina, wa inna insyaa Allaahu bikum lalaahiquun</strong> (Salam untuk kalian wahai kaum muslimin dan mu&#8217;minin penghuni kubur. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului (mati), dan juga orang-orang yang diakhirkan (belum mati). Sungguh, Insya Allah kami pun akan menyusul kalian</em>” (HR. Muslim no.974)</li>
<li>Ziarah kubur yang syar&#8217;i dan sesuai sunnah adalah ziarah kubur yang diniatkan sebagaimana hadits di atas, yaitu menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian. Adapun yang banyak dilakukan orang, berziarah-kubur dalam rangka mencari barokah, berdoa kepada <em>shahibul qubur</em> adalah ziarah kubur yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Selain itu Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> juga melarang <em>qaulul hujr </em>ketika berziarah kubur sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Dalam riwayat lain disebutkan:
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">ولا تقولوا ما يسخط الرب</p>
<p>“<em>Dan janganlah mengatakan perkataan yang membuat Allah murka</em>” (HR. Ahmad 3/38,63,66, Al Haakim, 374-375)</p>
<p>Termasuk dalam perbuatan ini yaitu berdoa dan memohon kepada <em>shahibul qubur</em>, ber-<em>istighatsah </em>kepadanya, memujinya sebagai orang yang pasti suci, memastikan bahwa ia mendapat rahmat, memastikan bahwa ia masuk surga, (<em>Ahkam Al Janaiz Lil Albani</em>, 178-179)</li>
<li>Tidak benar persangkaan sebagian orang bahwa <em>ahlussunnah</em> atau <em>salafiyyin</em> melarang ummat untuk berziarah kubur. Bahkan <em>ahlussunnah</em> mengakui disyariatkannya ziarah kubur berdasarkan banyak dalil-dalil shahih dan menetapkan keutamaannya. Yang terlarang adalah ziarah kubur yang tidak sesuai tuntunan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>yang menjerumuskan kepada perkara bid&#8217;ah dan terkarang mencapai tingkat syirik.</li>
</ul>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8610"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fkeutamaan-ziarah-kubur.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-ziarah-kubur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Wanita Tua Dari Bani Israil</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/kisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 07:04:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8555</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah riwayat dikisahkan: عن أبي موسى قال: أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (وفي واية: نزل رسول الله صلى الله عليه<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/kisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dalam sebuah riwayat dikisahkan:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عن أبي موسى قال: أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (وفي واية: نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بأعرابي فأكرمه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: تعهدنا ائتنا، فأتاه الأعرابي فقال له سول الله صلى الله عليه وسلم:) سل حاجتك، فقال: ناقة برحلها وأعنزا يحلبها أهلي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أعجزتم أن تكونوا مثل عجوز بني إسرائيل؟ فقال أصحابه: يا رسول الله وما عجوز بني إسرائيل؟ قال: إن موسى لما سار ببني إسرائيل من مصر، ضلوا لطريق فقال: ما هذا؟ فقال علماؤهم: نحن نحدثك، إن يوسف لما حضره الموت أخذ علينا موثقا من الله أن لا يخرج من مصر حتى ننقل ظامه معنا، قال: فمن يعلم موضع قبره؟ قالوا: ما ندري أين قبر يوسف إلا عجوز من بني إسرائيل، فبعث إليها فأتته فقال: دلوني لى قبر يوسف، قالت: لا والله لا أفعل حتى تعطيني حكمي، قال: وما حكمك؟ قالت: أكون معك في الجنة، فكره أن يعطيها ذلك فأوحى الله إليه أن أعطها حكمها، فانطلقت بهم إلى بحيرة موضع مستنقع ماء، فقالت: انضبوا هذا الماء فأنضبوا، قالت: احفروا واستخرجوا عظام يوسف فلما أقلوها إلى الأرض إذا الطريق مثل ضوء النهار</p>
<p>Dari Abu Musa ia berkata, seorang badwi datang kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, kemudian beliau memuliakannya dan berkata: ‘<em>kemarilah</em>‘. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>( Dalam riwayat lain, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> turun dari tunggangan beliau lalu memuliakannya. Beliau berkata kepada orang itu: ‘<em>kemarilah bersama kami</em>‘. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: )</p>
<p>“<em>Sebutlah apa yang engkau inginkan</em>“. Orang badwi menjawab: ‘Saya ingin unta dan pelananya serta kambing yang dapat diperah untuk memberi minum keluarga saya’. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> lalu bersabda:</p>
<p><em>“Apakah kalian tidak menginginkan seperti yang diinginkan oleh wanita tua dari Bani Israil?”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah siapa yang dimaksud wanita tua dari Bani Israil itu?”. Beliau berkata: “Musa ketika pergi dari Mesir bersama Bani Israil, mereka tersesat di jalan”. Musa bertanya: “Apa sebabnya menjadi begini?”. Orang-orang berilmu dari Bani Israil menjawab: “Kami beritahukan kepadamu, Nabi Yusuf ketika menjelang wafatnya membuat perjanjian dengan kami yang dipersaksikan oleh Allah, yaitu agar tidak keluar dari Mesir kecuali membawa jasad beliau bersama kami”. Musa berkata: “Kalau begitu siapa yang mengetahui dimana letak kuburnya?”. Mereka berkata: “Diantara kami tidak ada yang tahu letak makam beliau kecuali seorang wanita tua dari Bani Israil”. Lalu Musa mengutus orang untuk memanggilnya hingga wanita tersebut datang kepada Musa. Musa berkata kepada wanita itu: “Tunjukan kami letak makam Nabi Yusuf”. Wanita tersebut berkata: “Demi Allah tidak akan aku lakukan, sampai engkau mentaati ketentuanku”. Musa bertanya: ‘”Apa ketentuanmu itu?”. Wanita tersebut berkata: “Jadikan aku penghuni surga bersamamu”. Nabi Musa pun enggan memenuhinya, hingga Allah mewahyukan kepada Musa agar mentaati ketentuan tersebut. Lalu mereka pergi ke mata air dari sebuah danau. Wanita tersebut berkata: “Keringkan airnya lalu gali dan keluarkanlah jasad Nabi Yusuf”. Ketika jasadnya diangkat, jalan pun seketika menjadi jelas bagaikan terangnya siang.</em></p>
<p>(HR. Abu Ya’la dalam <em>Musnad</em>-nya 1/344, Al Hakim 2/404-405)</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong><br />
Al Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Bukhari dan Muslim”. Penilaian Al Hakim ini disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Albani berkata: “Yang benar, hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Muslim saja. Karena Al Bukhari tidak mengeluarkan riwayat Yunus di dalam <em>Shahih</em>-nya, melainkan di kitabnya yang lain yaitu <em>Juz Al Aqira’ah</em>“. (<em>Silsilah Ahadits Shahihah</em>, 1/623)</p>
<p><strong>Faidah Hadits</strong></p>
<ol>
<li>Betapa mulianya akhlak Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>terhadap orang awam.</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>adalah pemimpin negara yang senantiasa peduli terhadap kebutuhan rakyatnya, terutama orang-orang lemah yang kurang mampu. Tidaklah tersisa harta beliau melainkan sebatas harta untuk memenuhi kewajiban sebagai suami kepada keluarganya dan harta untuk diberikan kepada orang lain. Sebagaimana sabda beliau:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا يحل للخليفة من مال الله إلا قصعتان قصعة يأكلها هو وأهله وقصعة يضعها بين يدي الناس</p>
<p>“<em>Bagi seorang khalifah, tidak halal memiliki harta dari Allah, kecuali dua piring saja. Satu piring untuk kebutuhan makannya bersama keluarganya. Dan satu piring untuk ia berikan kepada rakyatnya</em>” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah </em>no.362)</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>membimbing umat-nya agar senantiasa lebih mendambakan kebaikan akhirat dibanding kebaikan dunia semata. Umar bin Khattab <em>Radhiallahu’anhu </em>berkata:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْـحَصِيرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيمَا هُمَا فِيهِ وَأَنْتَ رَسُولُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَـهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟</p>
<p>“<em>Ketika aku melihat bekas tikar di sisi badan beliau, aku pun menangis. Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku jawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra dan Kaisar berada dalam kemegahannya, padahal engkau adalah utusan Allah” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?</em>” (<em>Muttafaq ‘alaihi</em>)<br />
Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ</p>
<p>“<em>Tiadalah dunia dibanding akhirat melainkan hanyalah seperti air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya di laut.</em>” (HR. Muslim no.2858).</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>mengharapkan para sahabatnya meminta sebagaimana yang diminta oleh wanita tua dari Bani Israil, yaitu: surga. Ini menunjukkan bahwa mengharap surga itu tidaklah tercela, bukan tanda sedikitnya keikhlasan, bukan tanda rendahnya cinta kepada Allah, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang.</li>
<li>Kaum Bani Isra’il ketika itu berada di atas ilmu dan tauhid yang lurus, mereka tidak menyembah atau mengagungkan kuburan para Nabi. Mereka tidak <em>ngalap</em> <em>berkah</em> atau bertawassul dengan mayat para Nabi. Silakan simak  <a href="http://muslim.or.id/aqidah/hukum-tabarruk-kepada-orang-sholih.html">Hukum Ber-tabarruk Kepada Orang Shalih</a>.</li>
<li>Jangankan menyembah kuburan atau <em>ngalap</em> <em>berkah</em>, bahkan tidak terbesit dalam benak mereka untuk mencari tahu letak kuburan para Nabi. Yang tahu pun, ternyata tidak gembar-gembor atau dengan mudah memberi tahu letaknya. Mereka juga tidak membangun dan membuat megah kuburan tersebut. Nabi Musa dan Nabi Muhammad <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> tidak mencela mereka karena demikianlah yang seharusnya. Berbeda dengan orang-orang di zaman ini yang <em>malah</em> mencela orang-orang yang enggan mengagungkan kuburan orang shalih agar tidak dijadikan sarana kesyirikan.</li>
<li>Para Nabi tidak dapat memberi syafa’at kecuali atas izin Allah. Sebagaimana Nabi Musa tidak dapat menjamin wanita tersebut masuk surga kecuali setelah diizinkan oleh Allah. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ</p>
<p>“<em>Katakanlah, hanya milik Allah lah semua syafa’at itu. Ia yang menguasai langit dan bumi dan kepada-Nya lah engkau akan kembali</em>” (QS. Az Zumar: 44)</li>
<li>Jasad para Nabi tidak hancur dimakan tanah.</li>
<li>Bukti adanya mu’jizat bagi para Nabi.</li>
<li>Wajibnya menunaikan janji, terlebih lagi perjanjian dengan para Nabi Allah.</li>
<li>Kata عظام yang artinya ‘tulang-belulang’ kadang bermakna ‘badan seutuhnya’. Jika  عظام dalam hadits di atas kita artikan  ’tulang-belulang’, maka bertentangan dengan hadits:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إن الله تعالى حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء</p>
<p>“<em>Sungguh Allah Ta’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi</em>” (HR. Abu Daud 662, dishahihkan Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em> no.1527).</p>
<p>Namun yang benar, kita maknai  عظام dengan makna  ’badan seutuhnya’ sebgaimana terdapat hadits :</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بدن، قال له تميم الداري: ألا أتخذ لك منبرا يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك؟ قال: بلى فاتخذ له منبرا مرقاتين</p>
<p>“<em>Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sudah berusia senja, Tamim Ad Daari berkata kepada beliau:’Wahai Rasulullah, maukah aku ambilkan mimbar yang dapat membawa badanmu?’. Beliau berkata: ‘Boleh’. Lalu ia mengambil mimbar yang memiliki 2 anak tangga</em>” (HR. Abu Daud 1081, Al Albani berkata: “Sanadnya <em>jayyid</em>sesuai dengan syarat Muslim”).</p>
<p>Demikian penjelasan Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em> (1/624).</li>
</ol>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8555"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/kisah-wanita-tua-dari-bani-israil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Keras Bagi Para Pedagang</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 00:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Jual Beli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8466</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda: عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ ” قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ ” قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: ” بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ فَيَأْثَمُونَ “</p>
<p>Dari ‘Abdurrahman bin Syibel, ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: “<em>Para pedagang adalah tukang maksiat</em>”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “<em>Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu</em>”. (HR. Ahmad 3/428, Ath Thabari dalam <em>Tahdzibul Atsar</em> 1/43, 99, 100, At Thahawi dalam <em>Musykilul Atsar</em> 3/12, Al Hakim 2/6-7)</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong><br />
Al Hakim berkata: “Sanadnya shahih”. Penilaian beliau disetujui oleh Adz Dzahabi, demikian juga Syaikh Al Albani (<em>Silsilah Ahadits Shahihah</em>, 1/707).</p>
<p><strong>Faidah Hadits</strong></p>
<ol>
<li>Larangan keras berdusta dan bersumpah palsu dalam berdagang secara khusus.</li>
<li>Larangan keras berdusta dan bersumpah palsu secara umum karena yang dimaksud <em>fujjar</em> oleh Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>dalam hadits adalah orang yang berbuat demikian.</li>
<li>فُجَّارُ (<em>fujjar</em>) adalah bentuk jamak dari فاجر (<em>fajir</em>) yang artinya ‘orang yang sering melakukan perbuatan dosa dan menunda-nunda taubat’ (lihat <em>Lisanul ‘Arab</em>). Dari sini diketahui sangat kerasnya larangan berdusta dan bersumpah palsu dalam berdagang, sampai-sampai Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> menyebut para pedagang sebagai <em>fujjar </em>atau tukang maksiat secara mutlak.</li>
<li>Dalam <em>Al Mu’tashar (</em>1/334), Imam Jamaludin Al Malathi Al Hanafi (wafat 803 H) berkata: “Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>menyebut pedagang sebagai tukang maksiat secara mutlak karena demikianlah yang paling banyak terjadi, bukan berarti secara umum mereka demikian. Orang arab biasa memutlakan penyebutan pujian atau celaan kepada sekelompok orang, namun yang dimaksud adalah sebagian saja. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ</p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu</em>” (QS. Az Zukhruf: 44)</p>
<p>juga firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ</p>
<p>“<em>Dan kaummu mendustakannya (azab di akhirat)</em>” (Qs. Al An’am: 66)</li>
<li>Tidak salah jika dikatakan bahwa kebanyak para pedagang berbuat demikian karena Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>mengabarkan:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">يا معشر التجار إن الشيطان والإثم يحضران البيع فشوبوا بيعكم بالصدقة</p>
<p>“<em>Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa hadir dalam jual-beli. Maka iringilah jual-belimu dengan banyak bersedekah</em>” (HR. Tirmidzi 1208, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”)</li>
<li>Bukti ke-<em>faqih</em>-an para sahabat Nabi dalam ilmu agama. Mereka segera mengetahui dua dalil yang nampak bertentangan. Hal ini tidak mungkin disadari oleh orang yang tidak faqih dalam ilmu agama.</li>
<li>Jika dua dalil nampak bertentangan, selama ada jalan untuk mengkompromikan keduanya, maka wajib dikompromikan.</li>
<li>Hadits ini bukan demotivator untuk berdagang, melainkan hanya peringatan agar berbuat jujur dan tidak mudah bersumpah ketika berdagang. Buktinya Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>sendiri adalah pedagang. Abu Bakar ASh Shiddiq <em>radhiallahu’anhu </em>adalah pedagang pakaian. Umar <em>radhiallahu’anhu</em> pernah berdagang gandum dan bahan makanan pokok. ‘Abbas bin Abdil Muthallib <em>radhiallahu’anhu </em>adalah pedagang. Abu Sufyan <em>radhiallahu’anhu </em>berjualan <em>udm </em>(camilan yang dimakan bersama roti) (Dikutip dari <em>Al Bayan Fi Madzhab Asy Syafi’i</em>, 5/10).</li>
<li>Hadits ini bukan demotivator untuk berdagang, karena banyak dalil lain yang memotivasi untuk berdagang. Diantaranya:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء</p>
<p>“<em>Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada</em>” (HR. Tirmidzi no.1209, ia berkata: “Hadits hasan, aku tidak mengetahui selain lafadz ini”)</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: «عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ</p>
<p>Dari Rafi’ bin Khadij ia berkata, ada yang bertanya kepada Nabi: ‘Wahai Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?’. Rasulullah menjawab: “<em>Pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan juga setiap perdagangan yang mabrur (baik)</em>”</li>
</ol>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id/hadits/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8466"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fperingatan-keras-bagi-para-pedagang.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits Palsu Huru Hara Akhir Zaman Di Hari Jum&#8217;at Pertengahan Ramadhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 22:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[takhrij]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8018</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Bismillah</em>. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga hari kiamat.</p>
<p>Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan dari beberapa orang seputar derajat hadits huru-hara akhir zaman yang terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan yang bertepatan dengan hari Jumat.</p>
<p>Maka kami katakan, bahwa para ulama hadits terdahulu maupun yang hidup di zaman sekarang telah menerangkan dengan jelas dan gamblang bahwa hadits-hadits yang berbicara tentang masalah tersebut tidak ada satu pun yang shahih dari Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, baik ditinjau dari segi sanad hadits maupun realita yang ada. Bahkan semuanya adalah hadits-hadits munkar dan palsu yang didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Berikut ini akan saya sebutkan teks (lafazh) hadits tersebut dengan sanadnya, serta studi kritis para ulama terhadapnya.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">قَالَ نُعَيْمٌ بْنُ حَمَّادٍ : حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في رمضان فإنه تكون مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ الدِّماءُ في ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا أَنْفُسَكُمْ، وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا للهِ سجدًا، وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ ، ربنا القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ)</p>
<p>Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, beliau bersabda: <em>“Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku, pent) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa”.</em></p>
<p>(Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab <em>Al-Fitan</em> I/228, No.638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam kitab <em>Kanzul ‘Ummal</em>, No.39627).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Derajat Hadits</strong></span></p>
<p>Hadits ini derajatnya <strong>palsu</strong> (m<em>audhu’</em>), karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi hadits yang pendusta dan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadits. Para perawi tersebut ialah sebagaimana berikut ini</p>
<p><strong></strong><strong>1. Nu’aim bin Hammad</strong></p>
<p>Dia seorang perawi yang <em>dha’if</em> (lemah),</p>
<ul>
<li>An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang <em>dha’if</em> (lemah)” (Lihat <em>Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin</em>, karya An-Nasa’i I/101 no.589)</li>
<li>Abu Daud berkata: “Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dua puluh hadits dari Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em> yang tidak mempunyai dasar sanad (sumber asli, pent).”</li>
<li>Imam Al-Azdi mengatakan: “Dia termasuk orang yang memalsukan hadits dalam membela As-Sunnah, dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An-Nu’man (maksudnya, Abu Hanifah, pent), yang semuanya itu adalah kedustaan<strong>”  </strong>(Lihat <em>Mizan Al-I’tidal</em> karya imam Adz-Dzahabi IV/267).</li>
<li>Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah dengannya, dan ia telah menyusun kitab Al-Fitan, dan menyebutkan di dalamnya keanehan-keanehan dan kemungkaran-kemungkaran” (Lihat <em>As-Siyar A’lam An-Nubala</em> X/609).</li>
</ul>
<p><strong>2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah)</strong></p>
<p>Dia seorang perawi yang <em>dha’if</em> (lemah), karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar.</p>
<ul>
<li>An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang <em>dha’if</em> (lemah)” (Lihat <em>Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin</em>, karya An-Nasa’i I/64 no.346)</li>
<li>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Dia mengalami kekacauan di dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar” (Lihat <em>Taqrib At-Tahdzib</em> I/319 no.3563).</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Abdul Wahhab bin Husain</strong></p>
<p>Dia seorang perawi yang <em>majhul</em> (tidak dikenal).</p>
<ul>
<li>Al-Hakim berkata tentangnya: “Dia seorang perawi yang <em>majhul</em> (tidak jelas jati dirinya dan kredibilitasnya)” (Lihat <em>Al-Mustadrak</em> No. 8590)</li>
<li>Imam Adz-Dzahabi berkata di dalam <em>At-Talkhish</em>: “Dia mempunyai riwayat hadits palsu.” (Lihat <em>Lisan Al-Mizan</em>, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani II/139).</li>
</ul>
<p><strong></strong><strong>4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani</strong></p>
<p>Dia seorang perawi yang <em>dha’if</em> (lemah dalam periwayatan hadits) sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Hibban dan An-Nasa’i.</p>
<ul>
<li>An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang <em>dha’if</em> (lemah)”</li>
<li>Yahya bin Ma’in berkata: “Dia seorang perawi yang tidak ada apa-apanya”(Lihat <em>Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal</em>, karya Ibnu ‘Adi VI/136 no.1638).</li>
<li>Ibnu Hibban berkata: “Tidak boleh berhujjah dengannya, dan tidak boleh pula meriwayatkan darinya” (Lihat <em>Al-Majruhin</em>, karya Ibnu Hibban II/252 no.928).</li>
<li>Imam Al-Azdi berkata: “Dia seorang yang gugur riwayatnya” (Lihat <em>Tahdzib At-Tahdzib</em>, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani IX/72 no.104)</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong></strong><strong>5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani.</strong></p>
<p>Dia seorang perawi pendusta, sebagaimana dinyatakan oleh imam Asy-Sya’bi, Abu Hatim dan Ibnu Al-Madini.</p>
<ul>
<li>An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia bukan seorang perawi yang kuat (hafalannya, pent)” (Lihat <em>Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal</em>, karya Ibnu ‘Adi II/186 no.370).</li>
<li>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata tentangnya: “Imam Asy-Sya’bi telah mendustakan pendapat akalnya, dan dia juga dituduh menganut paham/madzhab Rafidhah (syi’ah), dan di dalam haditsnya terdapat suatu kelemahan” (Lihat <em>Taqrib At-Tahdzib</em> I/146 no.1029).</li>
<li>Ali bin Al-Madini berkata: “Dia seorang pendusta”</li>
<li>Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.” (<em>Siyar A’lam An-Nubala’</em>, karya imam Adz-Dzahabi IV/152 no.54)</li>
</ul>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Perkataan Para Ulama Tentang Hadits Ini</strong></span></p>
<p>Al-Uqaily <em>rahimahullah</em> berkata: “Hadits ini tidak memiliki dasar dari hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang <em>tsiqah</em> (terpercaya), atau dari jalan yang <em>tsabit</em> (kuat dan benar adanya).” (Lihat <em>Adh-Dhu’afa Al-Kabir</em> III/52).</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> berkata: “Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>” (Lihat <em>Al-Maudhu’aat</em> III/191).</p>
<p>Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah</em> berkata: “Hadits ini palsu (<em>maudhu’</em>). Dikeluarkan oleh Nu’aim bin Hammad dalam kitab Al-Fitan.” Dan beliau menyebutkan beberapa riwayat dalam masalah ini dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu anhuma</em><strong>. </strong>(Lihat <em>Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah</em> no.6178, 6179).</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata: “Hadits ini tidak mempunyai dasar yang benar, bahkan ini adalah hadits yang batil dan dusta” (Lihat <em>Majmu’ Fatawa Bin Baz</em> XXVI/339-341).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesimpulan</strong></span></p>
<p>Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hadits ini adalah hadits <em>maudhu’</em> (palsu). Tidak boleh diyakini sebagai kebenaran, dan tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu alaihi wasallam</em>. Karena disamping sanad hadits ini tidak ada yg dapat diterima sebagai hujjah, juga realita telah mendustakannya. Sebab telah berlalu tahun-tahun yang banyak dan telah terjadi berulang kali hari Jum&#8217;at yang bertepatan dengan tanggal lima belas (pertengahan) bulan Ramadhan, namun kenyataannya tidak pernah terjadi sebagaimana berita yang terkandung di dalam hadits ini, <em>Alhamdulillah</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, kita dilarang keras menyebarluaskannya kepada orang lain baik melalui media cetak, maupun elektronik, atau dalam obrolan dan khutbah kecuali dalam rangka menjelaskan sisi kelemahan, kepalsuan, dan kebatilannya, serta bertujuan untuk memperingatkan umat darinya.</p>
<p>Jika kita telah melakukan ini, berarti kita telah bebas dan selamat dari ancaman keras Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, yaitu berupa masuk neraka bagi siapa saja yang sengaja berdusta atas nama beliau, baik dengan tujuan menjelekkan Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em> dan ajarannya, atau dalam rangka membela Nabi dan memotivasi kaum muslimin untuk bersemangat dalam beribadah kepada Allah.</p>
<p>Demikian jawaban atas pertanyaan dalam masalah ini yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p>Telah selesai ditulis pada hari Rabu, 04 Januari 2012 di kediamannya, Klaten – Jawa Tengah.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawwaz, Lc.<br />
Artikel <a href="http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/03/">http://abufawaz.wordpress.com</a> dengan pengeditan seperlunya oleh redaksi <a href="http://muslim.or.id">muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8018"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fhadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdzikirlah Sebelum Hubungan Intim</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/berdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/berdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 23:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan intim]]></category>
		<category><![CDATA[jima']]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7664</guid>
		<description><![CDATA[Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/berdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> dia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: “<span style="color: #0000ff;">بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا</span>“، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا</p>
<p>“Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin mengumpuli istrinya, dia membaca doa: [<span style="color: #ff0000;"><em>Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa</em></span>], “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn1">[1]</a> yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca zikir/doa ini sebelum berhubungan suami istri, karena disamping mendapat pahala dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, ini merupakan sebab selamatnya seorang bayi dari bahaya dan keburukan setan<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:</p>
<ul>
<li>Iblis dan bala tentaranya selalu berusaha menanamkan benih-benih keburukan kepada manusia sejak baru dilahirkan ke dunia ini dan sebelum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, apalagi setelah dia mengenal semua godaan tersebut<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn4">[4]</a>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan”<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn5">[5]</a>.</li>
<li>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman: “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan <em>hanif</em> (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (Islam)”<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn6">[6]</a>.</li>
<li>Agungnya petunjuk Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang mensyariatkan zikir dan doa untuk kebaikan agama manusia dan perlindungan dari keburukan tipu daya setan.</li>
<li>Arti sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: “…setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”: setan tidak akan bisa menyesatkan dan mencelakakan anak tersebut dalam diri dan agamanya, tapi bukan berarti ini menunjukkan bahwa anak tersebut terlindungi dan terjaga dari perbuatan dosa<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn7">[7]</a>.</li>
<li>Termasuk keburukan yang terjadi akibat tidak menyebut nama Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> sebelum berhubungan intim adalah ikutsertanya setan dalam hubungan intim tersebut, sebagaimana yang diterangkan oleh imam Ibnu hajar, asy-Syaukani dan as-Sa’di<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn8">[8]</a>, <em>na’uudzu billahi min dzaalik</em>.</li>
<li>Imam Ibnu Hajar dan al-Munawi menjelaskan bahwa zikir/doa ini diucapkan ketika hendak berhubungan suami-istri dan bukan ketika sudah dimulai hubungan intim<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn9">[9]</a>.</li>
<li>Anjuran membaca zikir/doa ini juga berlaku bagi pasangan suami-istri yang diperkirakan secara medis tidak punya keturunan, karena permohonan dalam doa/zikir ini bersifat umum dan tidak terbatas pada keturunan/anak saja<a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftn10">[10]</a>.</li>
</ul>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kota Kendari, 14 Dzulqo’dah 1432 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., M.A.<br />
Artikel <a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/www.manisnyaiman.com" target="_blank">www.manisnyaiman.com</a> , dipublish ulang oleh <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref1">[1]</a> Termasuk anak dan yang lainnya, lihat kitab “<em>Faidhul Qadiir</em>” (5/306).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref2">[2]</a> HSR al-Bukhari (no. 6025) dan Muslim (no. 1434).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref3">[3]</a> Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam “<em>Syarhu shahiihi Muslim</em>” (5/10 dan 13/185).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref4">[4]</a> Lihat kitab “<em>Ahkaamul mauluud fis sunnatil muthahharah</em>” (hal. 23).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref5">[5]</a> HSR Muslim (no. 2367).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref6">[6]</a> HSR Muslim (no. 2865).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref7">[7]</a> Lihat kitab “<em>Fathul Baari</em>” (9/229) dan “<em>Faidhul Qadiir</em>” (5/306).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref8">[8]</a> Lihat kitab “<em>Fathul Baari</em>” (9/229), “<em>Fathul Qadiir</em>” (3/346) dan “<em>Tafsir as-Sa’di</em>” (hal. 461).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref9">[9]</a> Lihat kitab “<em>Fathul Baari</em>” (9/228) dan “<em>Faidhul Qadiir</em>” (5/306).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://manisnyaiman.com/berdoalah-sebelum-berhubungan-suami-istri/#_ftnref10">[10]</a> Lihat kitab “<em>Faidhul Qadiir</em>” (5/306).</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7664"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fberdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/berdzikirlah-sebelum-hubungan-intim.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits-Hadits Lemah Seputar Bulan Dzulhijjah</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 08:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7322</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca yang budiman, kita patut bersyukur kepada Allah atas taufik yang telah Ia limpahkan hingga kita dapat mengisi waktu yang utama di sepuluh hari awal Dzulhijjah dengan amal shalih. Akan tetapi perlu bagi kita untuk<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Pembaca yang budiman, kita patut bersyukur kepada Allah atas taufik yang telah Ia limpahkan hingga kita dapat mengisi waktu yang utama di sepuluh hari awal Dzulhijjah dengan amal shalih. Akan tetapi perlu bagi kita untuk mengetahui beberapa hadits lemah dan palsu, yang sering dijadikan sandaran bagi sebagian kaum muslimin untuk beribadah di waktu yang mulia ini. Diantaranya adalah hadits-hadits sebagai berikut.</p>
<p><strong>Hadits 1</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة يعدل صيام كل يوم منها بصيام سنة، وقيام كل ليلة منها بقيام ليلة القدر</p>
<p>“<em>Tidak ada hari yang paling dicintai Allah untuk diibadahi pada hari itu selain 10 hari di (awal) bulan Dzulhijjah, pahala puasa pada setiap harinya senilai dengan pahala puasa sepanjang tahun, dan sholat pada setiap malamnya senilai dengan sholat pada malam Lailatul Qadar</em>”</p>
<p><em>Dha’if</em> (lemah), Abu ‘Isa (At Tirmidzi) berkata, “Hadits ini gharib tidak diketahui selain dari hadits Mas’ud bin Washil, dari An Nahas, … (dst)”, dan didha’ifkan Syaikh Al Albani dalam <em>Dha’if Sunan Ibnu Majah</em> (1728) no. 377 akan tetapi terdapat perbedaan lafazh dalam hadits ini, lihat <em>Al Misykat</em> (1471), <em>Dha’if Jami’ush Shaghir</em> (5161), dan <em>Dha’if At Targhib</em> no. 123, <em>Silsilah Adh Dha’ifah</em> 5142</p>
<p><strong>Hadits 2</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">من صام العشر فله بكل يوم صوم شهر ، وله بصوم يوم التروية سنة، وله بصوم يوم عرفة سنتان</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang berpuasa di 10 (hari awal Dzulhijjah) baginya tiap hari seperti pahala puasa sebulan penuh, pahala puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) senilai dengan puasa setahun penuh, dan pahala puasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah) senilai pahala puasa selama dua tahun</em>”</p>
<p><em>Maudhu’</em> (palsu), Ibnu Hibban berkata, “Jelas sekali nampak kedustaan di dalamnya hingga tidak perlu lagi dijelaskan derajat haditsnya” lihat <em>Al Maudhu’at</em> karya Ibnul Jauzi (2/112), dan <em>Al Fawa’id Al Majmu’at Kitab Ash Shiyam</em> hadits no. 30, <em>At Tanzih Asy Syari’ah Al Marfu’at</em> (2/187)</p>
<p><strong>Hadits 3</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">صيام أول يوم من العشر يعدل مائة سنة واليوم الثاني يعدل مائتي سنة فإذا كان يوم التروية يعدل ألف عام وصيام يوم عرفة يعدل ألفي عام</p>
<p>“<em>Puasa di 10 hari awal Dzulhijjah pahalanya senilai dengan puasa 100 tahun, hari kedua (Dzulhijjah) senilai puasa 200 tahun, puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) pahalanya senilai 1000 tahun, dan puasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah) senilai 2000 tahun</em>.”</p>
<p>Tidak shahih, lihat <em>Tadzkiratul Maudhu’at</em> (119), <em>Mausu’ah Al Ahadits wa Al Atsar Ad Dha’ifah wa Al Maudhu’at</em> 13434</p>
<p><strong>Hadits 4</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">صوم يوم التروية كفارة سنة، وصوم يوم عرفة كفارة سنتين</p>
<p>“<em>Puasa hari Tarwiyah menjadi kafarah (penghapus dosa –pent) satu tahun, dan puasa hari ‘Arafah menjadi kafarah dua tahun</em>”</p>
<p><em>Maudhu’</em>, lihat <em>Dha’if Al Jami’</em> no. 3501, <em>Irwa’ul Ghalil</em> 4/121</p>
<p><strong>Hadits 5</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان يصوم تسع ذي الحجة ، ويوم عاشوراء ، وثلاثة أيام من كل شهر ؛ أول اثنين من الشهر ، والخميس ، والاثنين من الجمعة الأخرى</p>
<p>“<em>Adalah (Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam) biasa berpuasa pada kesembilan hari di bulan Dzulhijjah, hari Asyura, tiga hari setiap bulannya, hari Senin pada setiap awal bulan, dan hari Kamis dan Senin setelah Jumat kedua</em>”</p>
<p>Dha’if, Az Zaila’i berkata hadist ini <em>dha’if</em>. Lihat <em>Dha’if Al Jami’</em> no. 4570</p>
<p><strong>Hadits 6</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ما من أيام أفضل عند الله ولا العمل فيهن أحب إلى الله عز وجل من هذه الأيام &#8211; يعني من العشر &#8211; ، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير وذكر الله ، والعمل فيهن يضاعف بسبعمائة</p>
<p>“<em>Tidak ada hari yang lebih utama di sisi Allah dan tidak ada amal yang dikerjakan di waktu tersebut yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada hari ini –yaitu 10 hari di awal bulan Dzulhijjah- maka perbanyaklah kalian bertahlil dan bertakbir mengingat Allah di dalamnya. Amal di bulan ini dilipatgandakan 700 kali.</em>”</p>
<p><em>Dha’if</em>, didha’ifkan oleh Al Albani dalam <em>Dha’if At Targhib wa At Tarhib</em> 1/364</p>
<p><strong>Hadits 7</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اختار الله عز وجل الزمان ، فأحب الزمان إلى الله عز وجل ذو الحجة ، وأحب ذي الحجة إلى الله عز وجل العشر الأول</p>
<p>“<em>Allah ‘Azza wa Jalla telah memilih satu waktu, dan waktu yang paling Allah ‘Azza wa Jalla cintai ialah Dzulhijjah, dan waktu yang paling Allah ‘Azza wa Jalla cintai di bulan Dzulhijjah ialah sepuluh hari awal.</em>”</p>
<p>Didha’ifkan oleh Ibnu ‘Adi, dan Ibnu Rajab di <em>Latha’iful Ma’arif</em> 467</p>
<p><strong>Hadits 8</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عن الأوزاعي رحمه الله قال : بلغني أن العمل في اليوم من أيام العشر كقدر غزوة في سبيل الله ، يصام نهارها ويحرس ليلها ، إلا أن يختص امرؤ بشهادة 0 حدثني بهذا الحديث رجل من بني مخزوم عن النبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Dari Al Auza’I <em>rahimahullah</em> beliau berkata, “<em>Telah sampai kepadaku bahwasanya amal di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah pahalanya seperti berperang di jalan Allah, siang harinya diisi dengan puasa dan malam harinya dengan giat (beribadah), kecuali seseorang yang telah dikhususkan dengan syahadah (mati syahid)</em>”. Telah menceritakan kepadaku dengan hadits ini seorang dari Bani Makhzum, dari Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Didha’ifkan Al Albani dalam <em>Dha’if At Targhib</em> dan <em>At Tarhib</em> 1/365 dan makna hadits ini shahih dengan lafadz selain ini (yaitu “<em>berpuasa di siang harinya dan giat beribadah di malam harinya</em>”) lihat <em>Shahih Ibnu Hibban</em> 3853</p>
<p><strong>Hadits 9</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أربع لم يكن يدعهن النبي صلى الله عليه وسلم : صيام عاشوراء ، والعشر ، وثلاثة أيام من كل شهر ، والركعتين قبل الغداة</p>
<p>“<em>Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Puasa hari ‘Asyura (10 Muharram –pent), 10 hari di awal Dzulhijjah, tiga hari di setiap bulan, dan dua raka’at sebelum matahari terbit</em>”</p>
<p>Didha’ifkan oleh Al Albani dalam <em>Al Irwa’</em> (4/111), <em>Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’I</em> (2416</p>
<p><strong>Hadits 10</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان يقال في أيام العشر : لكل يوم ألف يوم ، ويوم عرفة : عشرة أيام يوم ، يعني في الفضل</p>
<p>“<em>Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa mengatakan pada hari-hari di sepuluh awal Dzulhijjah, ’Setiap hari pahalanya seperti 1000 hari’ dan pada hari Arafah, ‘Pahalanya 10 kali lipat dari hari seperti ini.’</em>”</p>
<p>Didha’ifkan oleh Al Albani dalam <em>Dha’if At Targhib wa At Tarhib</em> 1/365</p>
<p><strong>Hadits 11</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أن شاباً كان صاحب سماع فكان إذا هل الهلال ذي الحجة أصبح صائما فأرسل إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال ما يحملك على صيام هذه الأيام؟ قال بأبي وأمي يا رسول الله إنها أيام المشاعر وأيام الحج عسى الله عز وجل أن يشركني في دعائهم، فقال لك بكل يوم عدل مائة رقبة تعتقها، ومائة رقبة تهديها إلى بيت الله، ومائة فرس تحمل عليها في سبيل الله فإذا كان يوم التروية، فذلك عدل ألف رقبة، وألف بدنة، وألف فرس تحمل عليها في سبيل الله إذا كان يوم عرفة، فذلك عدل ألفي رقبة، وألفي بدنة، وألفي تحمل عليها في سبيل الله، وصيام سنتين قبلها، وسنتين بعدها</p>
<p>“<em>Ada seorang pemuda yang biasa memperdengarkan (nyanyian) dan setiap nampak hilal bulan Dzulhijjah ia berpuasa, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuatmu berpuasa pada hari-hari ini?”. Ia menjawab, “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, sesungguhnya inilah hari-hari Masya’ir dan Haji, aku berharap Allah ‘Azza wa Jalla menyertakanku dalam do’a mereka. Kemudian Nabi berkata kepadanya, ‘Setiap harinya (engkau berpuasa –pent) senilai dengan pahala membebaskan 100 budak, kemudian 100 budak tersebut menjadi penunjuk jalan ke Baitullah, dan 100 kuda betina yang mereka kendarai di jalan Allah jika itu hari Tarwiyah, senilai dengan 1000 budak, dan 1000 unta, dan 1000 kuda yang mereka kendarai di jalan Allah jika itu hari Arafah, senilai dengan 2000 budak dan 2000 unta, dan 2000 yang mereka kendarai di jalan Allah, dan puasa dua tahun sebelumnya, dan puasa dua tahun setelahnya&#8221;</em>.</p>
<p><em>Maudhu’</em> (Palsu), sebagaimana dalam “<em>Al Maudhu’at</em>” (2/111), <em>La’ali’</em> (2/107), <em>At Tanzih Asy Syari’ah</em> 2/148, dan <em>Al Fawa’id Al Majmu’ah</em> (95)</p>
<p><strong>Hadits 12</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">في اول يوم من ذي الحجة غفر الله فيه لآدم ومن صام هذا اليوم غفر الله له كل ذنب<br />
و في اليوم الثاني استجاب الله لسيدنا يوسف, ومن صام هذا اليوم كمن عبد الله سنة و لم يعص الله طرفة عين<br />
و في اليوم الثالث استجاب الله دعاء زكريا , ومن صام هذا اليوم استجاب الله لدعاه<br />
و في اليوم الرابع ولد سيدنا عيسى عليه السلام, ومن صام هذا اليوم نفى الله عنه الياس و الفقر و في يوم القيامة يحشر مع السفرة الكرام<br />
و في اليوم الخامس ولد سيدنا موسى عليه السلام, و من صام هذا اليوم برئ من النفاق و عذاب القبر<br />
و في اليوم السادس فتح الله لسيدنا محمد عليه الصلاة و السلام بالخير,و من صامه ينظر الله اليه بالرحمة و لا يعذبه أبدا<br />
و في اليوم السابع تغلق فيه أبواب جهنم, و من صامه أغلق الله له ثلاثون بابا من العسر و فتح الله له ثلا ثين بابا من الخير<br />
و في اليوم الثامن المسمى بيوم التروية و من صامه أعطي له من الأجر ما لا يعلمه إلا الله<br />
و في اليوم التاسع و هو يوم عرفة من صامه يغفر الله له سنة من قبل و سنة من بعد<br />
و في اليوم العاشر يكون عيد الأضحى و فيه قربان و ذبح ذبيحة و عند أول قطرة من دماء الذبيحة يغفر الله ذنوبه وذنوب أولاده. ومن أطعم فيه مؤمنا و تصدق بصدقة بعثه الله يوم القيامة آمنا و يكون ميزانه أثقل من جبل أحد</p>
<p>“<em>Di hari pertama bulan Dzulhijjah Allah mengampuni Adam dan barangsiapa yang berpuasa pada hari tersebut Allah akan mengampuni seluruh dosanya”</em></p>
<p><em>“Di hari kedua Allah mengabulkan doa sayyidina Yusuf, dan barangsiapa yang berpuasa di hari itu pahalanya seperti beribadah kepada Allah setahun penuh dan tidak bermaksiat walau sekejap mata”</em></p>
<p><em>“Di hari ketiga Allah mengabulkan doa Zakaria, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari itu Allah akan mengabulkan doanya”</em></p>
<p><em>“Di hari keempat lahir sayyidina ‘Isa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan menghilangkan kefakiran darinya dan pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama As Safarat Al Kiram (malaikat yang mulia –pent)</em></p>
<p><em>“Di hari kelima lahirlah Musa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu ia akan dibebaskan dari sifat munafik dan adzab kubur”</em></p>
<p><em>“Di hari keenam Allah membukakan sayyidina Muhammad ‘alaihis sholatu wassalam kebaikan, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan melihatnya dengan rahmat-Nya dan ia tidak akan diadzab”</em></p>
<p><em>“Di hari ketujuh ditutup pintu-pintu jahannam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan tutup baginya 30 pintu kesulitan dan Allah bukakan baginya 30 pintu kebaikan”</em></p>
<p><em>“Di hari kedelapan yang disebut juga dengan hari Tarwiyah, barangsiapa berpuasa pada hari itu akan diberi balasan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah”</em></p>
<p><em>“Di hari kesembilan yaitu hari Arafah barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan mengampuni dosanya selama setahun sebelumnya, dan setahun sesudahnya”</em></p>
<p><em>“Di hari kesepuluh yaitu Idul Adha, di dalamnya terdapat qurban, penyembelihan, dan pengaliran darah (hewan qurban), Allah akan mengampuni dosa anak-anaknya (yaitu orang yang berpuasa tadi –pent). Barangsiapa yang member makan orang mukmin dan bershadaqah Allah akan mengutus baginya pada hari kiamat, keamanan dan timbangannya lebih berat dari Gunung Uhud</em>”</p>
<p>Hadits ini tidak ada asalnya, namun banyak tersebar di forum-forum internet</p>
<p><strong>Hadits 13</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">من صام يوم ثمان عشرة من ذي الحجة ؛ كتب له صيام ستين شهراً</p>
<p>”<em>Barangsiapa berpuasa pada hari ke-28 Dzulhijjah, akan dituliskan baginya pahala puasa 60 bulan</em>”</p>
<p>Sanadnya <em>dha’if</em>, lihat <em>Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah</em> 10/594</p>
<p><strong>Hadits 14</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان إذا فاته شيء من رمضان ؛ قضاه في عشر ذي الحجة</p>
<p>“<em>Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam jika beliau terlewat beberapa hari di bulan Ramadhan, beliau mengqadha’nya di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah</em>”</p>
<p><em>Dha’if</em>. <em>Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah</em> 12/989</p>
<p>[Diterjemahkan dari artikel di <a href="http://www.subulassalaam.com/articles/articlea.cfm?article_id=142">http://www.subulassalaam.com/articles/articlea.cfm?article_id=142</a> ]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: Yhouga Ariesta<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-7322"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fhadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-lemah-seputar-bulan-dzulhijjah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majelis Dzikir</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/majelis-dzikir.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/majelis-dzikir.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2011 23:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[majelis dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6875</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/majelis-dzikir.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam kitab <em>Shahih Muslim</em> :</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ</p>
<p>Muhammad bin Hatim bin Maimun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Bahz menuturkan kepada kami. Dia berkata; Wuhaib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Suhail menuturkan kepada kami dari ayahnya dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki para malaikat khusus yang senantiasa berkeliling mencari di mana adanya majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang padanya terdapat dzikir maka mereka pun duduk bersama orang-orang itu dan meliputi mereka satu sama lain dengan sayap-sayapnya sampai-sampai mereka memenuhi jarak antara orang-orang itu dengan langit terendah, kemudian apabila orang-orang itu telah bubar maka mereka pun naik menuju ke atas langit</em>” Nabi berkata, “<em>Maka Allah ‘azza wa jalla pun bertanya kepada mereka sedangkan Dia adalah yang paling mengetahui keadaan mereka, ‘Dari mana kalian datang?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu yang ada di bumi. Mereka mensucikan-Mu (bertasbih), mengagungkan-Mu (bertakbir), mengucapkan tahlil, dan memuji-Mu (bertahmid), serta meminta (berdo’a) kepada-Mu.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang mereka minta kepada-Ku?’. Para malaikat itu menjawab, ‘Mereka meminta kepada-Mu surga-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka telah melihat surga-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum wahai Rabbku.’ Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimana lagi jika mereka benar-benar telah melihat surga-Ku?’. Para malaikat itu berkata, ‘Mereka juga meminta perlindungan kepada-Mu.’ Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka meminta perlindungan-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Mereka berlindung dari neraka-Mu, wahai Rabbku’. Maka Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Belum, wahai Rabbku.’ Lalu Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimanakah lagi jika mereka telah melihat neraka-Ku.’ Mereka mengatakan, ‘Mereka meminta ampunan kepada-Mu.’ Maka Allah mengatakan, ‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka. Dan Aku telah berikan apa yang mereka minta dan Aku lindungi mereka dari apa yang mereka minta untuk berlindung darinya.’.” Nabi bersabda, “Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.” Nabi mengatakan, “Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.</em>” (HR. Muslim dalam Kitab <em>ad-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar</em>, hadits no. 2689, lihat Syarh Muslim [8/284-285] cetakan Dar Ibn al-Haitsam)</p>
<p>Hadits yang mulia ini memberikan banyak pelajaran penting bagi kita, di antaranya adalah :</p>
<ol>
<li>Hadits ini menunjukkan tentang keutamaan dzikir dan majelis dzikir serta duduk bersama orang-orang yang berdzikir (<em>Syarh Nawaw</em>i [8/285])</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan duduk bersama orang-orang soleh (<em>Syarh Nawawi</em> [8/285])</li>
<li>Di dalamnya juga terkandung iman kepada para malaikat dan bahwasanya mereka itu adalah makhluk nyata bukan khayalan, dan malaikat tersebut memiliki sayap. Dan Allah tidak membutuhkan malaikat</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan disyari’atkannya membuat majelis dzikir yang di dalamnya mereka mengingat Allah, memuji, dan mengagungkan-Nya, mensucikan dan memohon ampunan-Nya. Namun ini bukan berarti berdzikir secara berjama’ah yang banyak dikenal oleh orang pada jaman sekarang. Yang dimaksud adalah memperbanyak dzikir tersebut secara sendiri-sendiri di dalam majelis tersebut tanpa perlu dikomando. Hal ini berdasarkan atsar Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em> yang mengingkari perbuatan orang-orang yang melakukan hal semacam itu. Dan hendaknya dzikir itu dengan suara yang pelan, tidak perlu dikeras-keraskan.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bacaan <em>tasbih</em>, <em>tahlil</em>, <em>tahmid</em>, dan <em>takbir</em> dibandingkan bacaan dzikir yang lain.</li>
<li>Penetapan sifat Allah <em>al-Kalam</em>/berbicara demikian juga <em>al-’Ilmu</em>/mengetahui</li>
<li>Disyari’atkannya berdoa kepada Allah agar masuk surga dan selamat dari neraka</li>
<li>Di dalamnya juga terkandung dorongan untuk beramal saleh supaya masuk ke dalam surga</li>
<li>Di dalamnya juga terkandung peringatan dan ancaman agar menjauhi amal-amal buruk aagar tidak terjerumus ke neraka</li>
<li>Surga dipenuhi dengan kenikmatan sedangkan neraka dipenuhi dengan kesengsaraan</li>
<li>Iman kepada surga dan neraka</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan beriman kepada perkara gaib</li>
<li>Penetapan salah satu nama Allah yaitu Rabb</li>
<li>Bolehnya menyeru Allah dengan lafazh <em>Ya Rabbi</em> (wahai Rabbku)</li>
<li>Disyari’atkannya untuk meminta ampunan kepada Allah</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan kemurahan Allah ta’ala</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa Allah itu tinggi berada di atas langit</li>
<li>Duduk di majelis ilmu merupakan sebab terampuninya dosa dan terkabulnya doa</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, <em>wallahu a’lam</em>.</li>
</ol>
<p><em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin</em>.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-6875"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fmajelis-dzikir.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/majelis-dzikir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampaikan Ilmu Dariku Walau Satu Ayat</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jun 2011 00:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6409</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari) Seputar perawi hadits : Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dari Abdullah bin Amr <em>radhiyallahu ta’ala ‘anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً</p>
<p><strong><em>“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”</em> (HR. Bukhari)</strong></p>
<p><strong>Seputar perawi hadits :</strong></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Su’aid bin Sa’ad bin Sahm As Sahmiy. Nama kunyah beliau Abu Muhammad, atau Abu Abdirrahman menurut pendapat lain. Beliau adalah salah satu diantara <em>Al ‘Abaadilah</em> (para shahabat yang bernama Abdullah, seperti ‘Abdullah Ibn Umar, ‘Abdullah ibn Abbas, dan sebagainya –pent) yang pertama kali memeluk Islam, dan seorang di antara fuqaha’ dari kalangan shahabat. Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah pada peperangan Al Harrah, atau menurut pendapat yang lebih kuat, beliau meninggal di Tha’if.</p>
<p><strong>Poin kandungan hadits :</strong></p>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi manusia dan jin (yang artinya), “<em>Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu</em>” (QS. Al Maidah : 3). Tentang sabda beliau, “<em>Sampaikan dariku walau hanya satu ayat</em>”, Al Ma’afi An Nahrawani mengatakan, “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.” Hal ini sebagaimana sabda beliau <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, “<em>Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir</em>”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum <em>fardhu kifayah</em>.<em></em></p>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p><em>Tabligh</em>, atau menyampaikan ilmu dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terbagi dalam dua bentuk :</p>
<ol>
<li>Menyampaikan dalil dari Al Qur’an atau sebagiannya dan dari As Sunnah, baik sunnah yang berupa perkataan (<em>qauliyah</em>), perbuatan (<em>amaliyah</em>), maupun persetujuan (<em>taqririyah</em>), dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, baligh (dewasa) dan memiliki sikap ‘<em>adalah</em> (sholeh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/ muru’ah, ed).</li>
<li>Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh capabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama. Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmu-ilmu lainnya, di antaranya bahasa, ilmu nahwu (tata bahasa Arab), ilmu-ilmu ushul, musthalah, dan membutuhkan penelaahan terhadap perkataan-perkataan ahli ilmu, mengetahui<em> ikhtilaf</em> (perbedaan) maupun kesepakatan yang terjadi di kalangan mereka, hingga ia mengetahui mana pendapat yang paling mendekati dalil dalam suatu masalah khilafiyah. Dengan bekal-bekal ilmu tersebut akhirnya ia tidak terjerumus menganut pendapat yang ‘nyleneh’.</li>
</ol>
<p><strong>Ketiga</strong>:</p>
<p>Sebagian orang yang mengaku sebagai da’i, pemberi wejangan, dan pengisi ta’lim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits “<em>Sampaikan dariku walau hanya satu ayat</em>”. Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut. Menurut mereka, tentu yang memiliki hafalan lebih banyak dari satu ayat atau satu hadits lebih layak jadi pendakwah.</p>
<p>Pernyataan di atas jelas keliru dan termasuk pengelabuan yang tidak samar bagi orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah. Hadits di atas tidaklah menunjukkan apa yang mereka maksudkan, melainkan di dalamnya justru terdapat perintah untuk menyampaikan ilmu dengan pemahaman yang baik, meskipun ia hanya mendapatkan satu hadits saja. Apabila seorang pendakwah hanya memiliki hafalan ilmu yang mantap, maka ia hanya boleh menyampaikan sekadar hafalan yang ia dengar. Adapun apabila ia termasuk <em>ahlul hif</em><em>z</em><em>h wal fahm</em><em> </em>(punya hafalan ilmu dan pemahaman yang bagus), ia dapat menyampaikan dalil yang ia hafal dan pemahaman ilmu yang ia miliki. Demikianlah sabda Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Terkadang orang yang disampaikan ilmu itu lebih paham dari yang mendengar secara langsung. Dan kadang pula orang yang membawa ilmu bukanlah orang yang faqih (bagus dalam pemahaman)”. </em>Bagaimana seseorang bisa mengira bahwa Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan orang yang tidak paham agama untuk mengajarkan berdasarkan pemahaman yang ia buat asal-asalan (padahal ia hanya sekedar hafal dan tidak paham, ed)?! Semoga Allah melindungi kita dari kerusakan semacam ini.</p>
<p>Diterjemahkan dari : <em>“Ta’liqat ‘ala Arba’ina Haditsan fi Manhajis Salaf”</em> Syaikh Ali bin Yahya Al Haddadi  (<a href="http://haddady.com/ra_page_views.php?id=299&amp;page=24&amp;main=7">http://haddady.com/ra_page_views.php?id=299&amp;page=24&amp;main=7</a>)</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://yhougam.wordpress.com/">Yhouga Ariesta</a></p>
<p>Editor: M. A.  Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6409"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fsampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Bisa Ibadah Tapi Dapat Pahala Ibadah</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/tidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/tidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 00:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6326</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah hadits dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا Artinya: “Jika seorang ahli ibadah jatuh sakit<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/tidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sebuah hadits dari Abu Musa Al Asy’ari <em>Radhiallahu’anhu</em>, ia mengatakan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18; text-align: center;">إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا</p>
<p>Artinya: “<em>Jika seorang ahli ibadah jatuh sakit atau safar, ia tetap diberi pahala ibadah sebagaimana ketika ia sehat atau sebagaimana ketika ia tidak dalam safar</em>” [HR. Bukhari]</p>
<p>Ini adalah sebuah nikmat yang besar yang dikaruniakan Allah <em>Ta’ala</em> kepada hamba-Nya yang beriman. Yaitu jika seorang hamba terbiasa melakukan sebuah amal ibadah sunnah secara kontinu, kemudian suatu kala ia terhalang untuk melakukannya dikarenakan sakit atau safar, maka pada saat itu ia mendapat pahala ibadah tersebut secara utuh (!!)</p>
<p>Karena Allah <em>Ta’ala</em> Maha Mengetahui bahwa jika hamba-Nya tersebut tidak memiliki udzur (halangan) ia akan melakukan ibadah tersebut. Dalam hal ini, secara khusus untuk orang sakit, Allah memberi pahala karena niat orang tersebut. Selain itu juga secara umum, orang tersebut bisa mendapatkan pahala karena telah menunaikan kewajibannya untuk bersabar menghadapi sakitnya, bahkan pahalanya lebih sempurna jika ia ridha dan bersyukur dalam menghadapinya serta merendahkan diri terhadap Allah Ta’ala.</p>
<p>Demikian pula seorang musafir, ia mendapatkan pahala atas amal-amal kebaikan yang ia lakukan saat dalam perjalanan. Semisal, memberi pengajian, nasihat, atau bimbingan kepada orang lain dalam hal agama ataupun dalam masalah duniawi. Secara khusus juga, seorang musafir diberi pahala jika perjalanan yang ia tempuh dalam rangka kebaikan. Seperti safar dalam rangka jihad, haji, umroh atau semisalnya.</p>
<p>Hadits ini juga mencakup pembahasan tentang orang yang beribadah namun terhalang untuk melakukannya dengan sempurna karena suatu udzur. Maka Allah <em>Ta’ala</em> akan menyempurnakan pahala bagi orang tersebut dikarenakan niatnya. Karena uzur yang membuatnya terhalang untuk melakukan ibadah dengan sempurna dapat dikatakan sebagai salah satu jenis penyakit dalam hadits ini. <em>Wallahu’alam</em>.</p>
<p>Hadits ini juga mencakup pembahasan tentang orang yang memiliki niat untuk melakukan amalan yang baik, namun ia terhalang untuk melakukannya karena ia melakukan amalan lain yang lebih baik dari amalan pertama. Dan orang tersebut tidak dapat melakukan kedua amalan tersebut semuanya (harus memilih salah satu). Maka dalam kondisi ini, ia lebih patut untuk diberi pahala yang lebih besar oleh Allah Ta’ala. Namun jika kegiatan lain tersebut tingkat kebaikannya setara dengan kegiatan pertama, maka sungguh karunia Allah Ta’ala sangatlah besar.</p>
<p>[Diterjemahkan dari syarah hadits no.30 dari kitab <em>Bahjatul Qulubil Abrar Wa Qurratu A’yunil Akhyaar</em>, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di <em>Rahimahullahuta’ala</em>]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6326"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Ftidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/tidak-bisa-ibadah-tapi-dapat-pahala-ibadah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

