<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Doa dan Wirid</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/doa-dan-wirid/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 00:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Mengenal Jenis Dzikir</title>
		<link>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/mengenal-jenis-dzikir.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/mengenal-jenis-dzikir.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2011 00:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6448</guid>
		<description><![CDATA[Ada pelajaran yang amat menarik dari Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab beliau Al Wabilush Shoyyib, juga kitab beliau lainnya yaitu Madarijus Salikin dan Jala-ul Afham dibahas mengenai berbagai jenis dzikir. Dari situ kita dapat melihat<a class="more" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/mengenal-jenis-dzikir.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Ada pelajaran yang amat menarik dari Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>. Dalam kitab beliau <em>Al Wabilush Shoyyib</em>, juga kitab beliau lainnya yaitu <em>Madarijus Salikin</em> dan <em>Jala-ul Afham</em> dibahas mengenai berbagai jenis dzikir. Dari situ kita dapat melihat bahwa dzikir tidak terbatas pada bacaan dzikir seperti tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah) dan takbir (Allahu akbar) saja. Ternyata dzikir itu lebih luas dari itu. Mengingat-ingat nikmat Allah juga termasuk dzikir. Begitu pula mengingat perintah Allah sehingga seseorang segera menjalankan perintah tersebut, itu juga termasuk dzikir. Selengkapnya silakan simak ulasan berikut yang kami sarikan dari penjelasan beliau <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Dzikir itu ada tiga jenis:</p>
<p><strong>Jenis Pertama:</strong></p>
<p>Dzikir dengan mengingat nama dan sifat Allah serta memuji, mensucikan Allah dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.</p>
<p>Dzikir jenis ini ada dua macam:</p>
<p>Macam pertama: Sekedar menyanjung Allah seperti mengucapkan “subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar”, “subhanallah wa bihamdih”, “laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir”.</p>
<p>Dzikir dari macam pertama ini yang utama adalah apabila dzikir tersebut lebih mencakup banyak sanjungan dan lebih umum seperti ucapan “subhanallah ‘adada kholqih” (Maha suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya). Ucapan dzikir ini lebih afdhol dari ucapan “subhanallah” saja.</p>
<p>Macam kedua: Menyebut konsekuensi dari nama dan sifat Allah atau sekedar menceritakan tentang Allah. Contohnya adalah seperti mengatakan, “Allah Maha Mendengar segala yang diucapkan hamba-Nya”, “Allah Maha Melihat segala gerakan hamba-Nya, “tidak mungkin perbuatan hamba yang samar dari  penglihatan Allah”, “Allah Maha menyayangi hamba-Nya”, “Allah kuasa atas segala sesuatu”, “Allah sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya.”</p>
<p>Dan sebaik-baik dzikir jenis ini adalah dengan memuji Allah sesuai dengan yang Allah puji pada diri-Nya dan memuji Allah sesuai dengan yang Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memuji-Nya, yang di mana ini dilakukan tanpa menyelewengkan, tanpa menolak makna, tanpa menyerupakan atau tanpa memisalkan-Nya dengan makhluk.</p>
<p><strong>Jenis Kedua:</strong></p>
<p>Dzikir dengan mengingat perintah, larangan dan hukum Allah.</p>
<p>Dzikir jenis ini ada dua macam:</p>
<p>Macam pertama: Mengingat perintah dan larangan Allah, apa yang Allah cintai dan apa yang Allah murkai.</p>
<p>Macam kedua: Mengingat perintah Allah lantas segera menjalankannya dan mengingat larangan-Nya lantas segera menjauh darinya.</p>
<p>Jika kedua macam dzikir (pada jenis kedua ini) tergabung, maka itulah sebaik-baik dan semulia-mulianya dzikir. Dzikir seperti ini tentu lebih mendatangkan banyak faedah. Dzikir macam kedua (pada jenis kedua ini), itulah yang disebut <em>fiqih akbar</em>. Sedangkan dzikir macam pertama masih termasuk dzikir yang utama jika benar niatnya.</p>
<p><strong>Jenis ketiga:</strong></p>
<p>Dzikir dengan mengingat berbagai nikmat dan kebaikan yang Allah beri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dzikir dengan Hati dan Lisan</strong></p>
<p>Dzikir bisa jadi dengan hati dan lisan. Dzikir semacam inilah yang merupakan seutama-utamanya dzikir.</p>
<p>Dzikir kadang pula dengan hati saja. Ini termasuk tingkatan dzikir yang kedua.</p>
<p>Dzikir kadang pula dengan lisan saja. Ini termasuk tingkatan dzikir yang ketiga.</p>
<p>Sebaik-baik dzikir adalah dengan hati dan lisan. Jika dzikir dengan hati saja, maka itu lebih baik dari dzikir yang hanya sekedar di lisan. Karena dzikir hati membuahkan ma’rifah, mahabbah (cinta), menimbulkan rasa malu, takut, dan semakin mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan dzikir yang hanya sekedar di lisan tidak membuahkan hal-hal tadi.</p>
<p><strong>Pelajaran</strong></p>
<p>Jika kita perhatikan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim di atas, dapat kita simpulkan bahwa duduk di majelis ilmu yang membahas bagaimana mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya, bagaimana mengetahui secara detail hukum-hukum Allah berupa perintah dan larangan-Nya, itu semua termasuk dzikir. Bahkan jika sampai ilmu itu membuahkan seseorang bersegera taat pada Allah dan menjauhi larangan-Nya, itu bisa menjadi dzikir yang utama sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim sebagai <em>fiqih akbar</em>. Namun jika sekedar mengilmuinya saja, itu pun sudah termasuk dzikir. Itu berarti bukan suatu hal yang sia-sia jika seseorang berlama-lama duduk di majelis ilmu untuk mendengarkan nasehat para ulama yang di mana di dalamnya dibahas hal yang lebih detail tentang Allah, dibahas pula berbagai perintah dan larangan-Nya. Ini sungguh merupakan dzikir yang amat utama.</p>
<p>Semoga Allah menganugerahkan pada kita semangat dan keistiqomahan untuk terus belajar dan tidak lalai dari dzikir pada-Nya.</p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 20 Jumadal Ula 1432 H (23/04/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6448"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdoa-dan-wirid%2Fmengenal-jenis-dzikir.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/mengenal-jenis-dzikir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>51 Keutamaan Dzikir</title>
		<link>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/51-keutamaan-dzikir.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/51-keutamaan-dzikir.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 00:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[fadhilah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6445</guid>
		<description><![CDATA[(1) Dengan dzikir akan mengusir setan. (2) Dzikir mudah mendatangkan ridho Ar Rahman. (3) Dzikir dapat menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana. (4)  Dzikir membuat hati menjadi gembira dan lapang. (5)  Dzikir menguatkan hati<a class="more" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/51-keutamaan-dzikir.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>(1) Dengan dzikir akan mengusir setan.</p>
<p>(2) Dzikir mudah mendatangkan ridho Ar Rahman.</p>
<p>(3) Dzikir dapat menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana.</p>
<p>(4)  Dzikir membuat hati menjadi gembira dan lapang.</p>
<p>(5)  Dzikir menguatkan hati dan badan.</p>
<p>(6)  Dzikir menerangi hati dan wajah pun menjadi bersinar.</p>
<p>(7)  Dzikir mudah mendatangkan rizki.</p>
<p>(8)  Dzikir membuat orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.</p>
<p>(9)  Dzikir akan mendatangkan cinta Ar Rahman yang merupakan ruh Islam.</p>
<p>(10) Dzikir akan mendekatkan diri seseorang pada Allah sehingga memasukkannya pada golongan orang yang berbuat <em>ihsan</em> yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihatnya.</p>
<p>(11)  Dzikir akan mendatangkan <em>inabah</em>, yaitu kembali pada Allah <em>‘azza wa jalla</em>. Semakin seseorang kembali pada Allah dengan banyak berdzikir pada-Nya, maka hatinya pun akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan.</p>
<p>(12)  Dengan berdzikir, seseorang akan semakin dekat  pada Allah sesuai dengan kadar dzikirnya pada Allah<em> ‘azza wa jalla</em>. Semakin ia lalai dari dzikir, ia pun akan semakin jauh dari-Nya.</p>
<p>(13) Dzikir akan semakin menambah <em>ma’rifah</em> (pengenalan pada Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah ma’rifah seseorang pada Allah.</p>
<p>(14) Dzikir mendatangkan rasa takut pada Rabb ‘<em>azza wa jalla </em>dan semakin menundukkan diri pada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah.</p>
<p>(15)  Dzikir akan mudah meraih apa yang Allah sebut dalam ayat,</p>
<p style="text-align: center;">فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ</p>
<p>“<em>Ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian</em>.” (QS. Al Baqarah: 152). Ibnul Qayyim mengatakan,  “Seandainya tidak ada keutamaan dzikir selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang disebut.”</p>
<p>(16) Dengan dzikir, hati akan semakin hidup. Ibnul Qayyim pernah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,</p>
<p style="text-align: center;">الذكر للقلب مثل الماء للسمك فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء ؟</p>
<p>“<em>Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?”</em></p>
<p>(17) Hati dan ruh semakin kuat dengan dzikir. Jika seseorang melupakan dzikir maka kondisinya sebagaimana badan yang hilang kekuatan. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah <em>Ta’ala</em> sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.</p>
<p>(18) Dzikir menjadikan hati semakin kilap yang sebelumnya berkarat. Karatnya hati disebabkan lalai dari dzikir pada Allah. Sedangkan kilapnya hati adalah dengan dzikir, taubat dan istighfar.</p>
<p>(19) Dzikir akan menghapus dosa karena dzikir adalah kebaikan terbesar dan kebaikan akan menghapus kejelekan.</p>
<p>(20) Dzikir pada Allah dapat menghilangkan kerisauan.</p>
<p>(21) Ketika seorang hamba rajin mengingat Allah (berdzikir), maka Allah akan mengingat dirinya di saat ia butuh.</p>
<p>(22) Jika seseorang mengenal Allah -dengan dzikir- dalam  keadaan lapang, Allah akan mengenalnya dalam keadaan sempit.</p>
<p>(23) Dzikir akan menyelematkan seseorang dari adzab neraka.</p>
<p>(24) Dzikir menyebabkan turunnya <em>sakinah</em> (ketenangan), naungan rahmat, dan dikelilingi oleh malaikat.</p>
<p>(25) Dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari <em>ghibah</em> (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil.</p>
<p>(26) Majelis dzikir adalah majelis para malaikat dan majelis orang yang lalai dari dzikir adalah majelis setan.</p>
<p>(27) Orang yang berzikir begitu bahagia, begitu pula ia akan membahagiakan orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>(28) Dzikir akan memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di hari kiamat.</p>
<p>(29) Karena tangisan orang yang berdzikir, Allah akan memberikan naungan ‘Arsy padanya di hari kiamat yang amat panas.</p>
<p>(30) Sibuknya seseorang pada dzikir adalah sebab Allah memberi untuknya lebih dari yang diberikan pada peminta-minta.</p>
<p>(31) Dzikir adalah ibadah yang paling ringan, namun ibadah tersebut amat mulia.</p>
<p>(32) Dzikir adalah tanaman surga.</p>
<p>(33) Pemberian dan keutamaan yang diberikan pada orang yang berdzikir tidak diberikan pada amalan lainnya.</p>
<p>(34) Senantiasa berdzikir pada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik</em>.” (QS. Al Hasyr: 19)</p>
<p>(35) Dzikir adalah cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan hari berbangkit.</p>
<p>(36) Dzikir adalah <em>ro’sul umuur</em> (inti segala perkara). Siapa yang dibukakan kemudahan dzikir, maka ia akan memperoleh berbagai kebaikan. Siapa yang luput dari pintu ini, maka luputlah ia dari berbagai kebaikan.</p>
<p>(37) Dzikir akan memperingatkan hati yang tertidur lelap (yang lalai). Hati bisa jadi sadar dengan dzikir.</p>
<p>(38) Orang yang berdzikir akan semakin dekat dengan Allah dan bersama dengan-Nya. Kebersamaan di sini adalah dengan kebersamaan yang khusus, bukan hanya sekedar Allah itu bersama dalam arti mengetahui atau meliputi hamba-Nya. Namun kebersamaan ini menjadikan lebih dekat, mendapatkan perwalian, cinta, pertolongan dan taufik Allah. Kebersamaan yang dimaksudkan sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan</em>.” (QS. An Nahl: 128)</p>
<p style="text-align: center;">وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ</p>
<p>“<em>Dan Allah beserta orang-orang yang sabar</em>.” (QS. Al Baqarah: 249)</p>
<p style="text-align: center;">وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p>“<em>Dan</em><em> se</em><em>sungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik</em>.” (QS. Al ‘Ankabut: 69)</p>
<p style="text-align: center;">لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا</p>
<p>“<em>Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita</em>.” (QS. At Taubah: 40)</p>
<p>(39) Dzikir dapat menyamai seseorang yang memerdekakan budak, menafkahkan harta, juga dapat menyamai seseorang yang menunggang kuda dan berperang dengan pedang (dalam rangka berjihad) di jalan Allah.</p>
<p>Sebagaimana terdapat dalam hadits,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syain qodiir dalam sehari sebanyak 100 kali, maka itu seperti memerdekakan 10 budak.</em>”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sungguh aku banyak bertasbih pada Allah Ta’ala (mengucapkan subhanallah) lebih aku sukai dari beberapa dinar yang aku infakkan fii sabilillah (di jalan Allah).”</p>
<p>(40) Dzikir adalah inti dari bersyukur. Tidaklah dikatakan bersyukur pada Allah <em>Ta’ala</em> orang yang enggan berdzikir. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda pada Mu’adz,</p>
<p style="text-align: center;">« يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ ». فَقَالَ « أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ »</p>
<p>“<em>Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, aku mencintaimu.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menasehatkan kepadamu –wahai Mu’adz-, janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat bacaan ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir dan bersyukur serta beribadah yang baik pada-Mu).</em>”<a href="#_ftn2">[2]</a> Dalam hadits ini digabungkan antara dzikir dan syukur. Begitu pula Allah <em>Ta’ala</em> menggabungkan antara keduanya dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ</p>
<p>“<em>Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku</em>.” (QS. Al Baqarah: 152). Hal ini menunjukkan bahwa penggabungan dzikir dan syukur merupakan jalan untuk meraih bahagia dan keberuntungan.</p>
<p>(41) Makhluk yang paling mulia adalah yang bertakwa yang lisannya selalu basah dengan dzikir pada Allah. Orang seperti inilah yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ia pun menjadikan dzikir sebagai syi’arnya.</p>
<p>(42) Hati itu ada yang keras. Kerasnya hati dapat dilebut dengan berdzikir pada Allah. Oleh karena itu, siapa yang ingin sembuh dari hati yang keras, maka perbanyaklah dzikir pada Allah.</p>
<p>Ada yang berkata kepada Al Hasan, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan padamu akan kerasnya hatiku.” Al Hasan berkata, “Lembutkanlah dengan dzikir pada Allah.”</p>
<p>Ketika hati semakin lalai, semakin keras hati tersebut. Jika seseorang berdzikir pada Allah, lelehlah kekerasan hati sebagaimana timah itu dapat meleleh dengan api. Kerasnya hati akan meleleh semisal itu, yaitu dengan dzikir pada Allah.</p>
<p>(43) Dzikir adalah obat hati sedangkan lalai dari dzikir adalah penyakit hati.</p>
<p>Mak-huul, seorang tabi’in, berkata, “Dzikir kepada Allah adalah obat (bagi hati). Sedangkan sibuk membicarakan (‘aib) manusia, itu adalah penyakit.”</p>
<p>(44) Tidak ada sesuatu yang membuat seseorang mudah meraih nikmat Allah dan selamat dari murka-Nya selain dzikir pada Allah. Jadi dzikir adalah sebab datangnya nikmat dan tertolaknya murka Allah. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu</em>.” (QS. Ibrahim: 7). Dzikir adalah inti syukur sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Sedangkan syukur akan mendatangkan nikmat dan semakin bersyukur akan membuat nikmat semakin bertambah.</p>
<p>(45) Dzikir menyebabkan datangnya shalawat Allah dan dari malaikat bagi orang yang berdzikir. Dan siapa saja yang mendapat shalawat (pujian) Allah dan malaikat, sungguh ia telah mendapatkan keuntungan yang besar. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43)</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.</em>” (QS. Al Ahzab: 41-43)</p>
<p>(46) Dzikir kepada Allah adalah pertolongan besar agar seseorang mudah melakukan ketaatan. Karena Allah-lah yang menjadikan hamba mencintai amalan taat tersebut, Dia-lah yang memudahkannya dan menjadikan terasa nikmat melakukannya. Begitu pula Allah yang menjadikan amalan tersebut sebagai penyejuk mata, terasa nikmat dan ada rasa gembira. Orang yang rajin berdzikir tidak akan mendapati kesulitan dan rasa berat ketika melakukan amalan taat tersebut, berbeda halnya dengan orang yang lalai dari dzikir. Demikianlah banyak bukti yang menjadi saksi akan hal ini.</p>
<p>(47) Dzikir pada Allah akan menjadikan kesulitan itu menjadi mudah, suatu yang terasa jadi beban berat akan menjadi ringan, kesulitan pun akan mendapatkan jalan keluar. Dzikir pada Allah benar-benar mendatangkan kelapangan setelah sebelumnya tertimpa kesulitan.</p>
<p>(48) Dzikir pada Allah akan menghilangkan rasa takut yang ada pada jiwa dan ketenangan akan mudah diraih. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan selalu merasa takut dan tidak pernah merasakan rasa aman.</p>
<p>(49) Dzikir akan memberikan seseorang kekuatan sampai-sampai ia bisa melakukan hal yang menakjubkan. Contohnya adalah Ibnu Taimiyah yang sangat menakjubkan dalam perkataan, tulisannya, dan kekuatannya. Tulisan Ibnu Taimiyah yang ia susun sehari sama halnya dengan seseorang yang menulis dengan menyalin tulisan selama seminggu atau lebih. Begitu pula di medan peperangan, beliau terkenal sangat kuat. Inilah suatu hal yang menakjubkan dari orang yang rajin berdzikir.</p>
<p>(50) Orang yang senantiasa berdzikir di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, semisal gunung dan tanah, akan menjadi saksi baginya di hari kiamat. Kita dapat melihat hal ini pada firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5)</p>
<p>“<em>Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: &#8220;Mengapa bumi (menjadi begini)?&#8221;, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.</em>” (QS. Az Zalzalah: 1-5)</p>
<p>(51) Jika seseorang menyibukkan diri dengan dzikir, maka ia akan terlalaikan dari perkataan yang batil seperti <em>ghibah</em> (menggunjing), <em>namimah</em> (mengadu domba), perkataan sia-sia, memuji-muji manusia (secara berlebihan), dan mencela manusia. Karena lisan sama sekali tidak bisa diam. Lisan boleh jadi adalah lisan yang rajin berdzikir dan boleh jadi adalah lisan yang lalai. Kondisi lisan adalah salah satu di antara dua kondisi tersebut. Ingatlah bahwa jiwa jika tidak tersibukkan dengan kebenaran, maka pasti akan tersibukkan dengan hal yang sia-sia.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Penyusun: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" />
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a>HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Abu Daud no. 1522, An Nasai no. 1303, dan Ahmad 5/244. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em></p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Disarikan dari <em>Al Wabilush Shoyyib</em>, 94-198.</p>
<div class="shr-publisher-6445"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdoa-dan-wirid%2F51-keutamaan-dzikir.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/51-keutamaan-dzikir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah</title>
		<link>http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 00:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5761</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: &#8220;بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ&#8221; قَالَ: « يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ<a class="more" href="http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong> </strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: &#8220;بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ&#8221; قَالَ: « يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ. فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ</p>
<p>“Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): <strong><em>Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah</em></strong> (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>)?”<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mengucapkan zikir ini ketika keluar rumah, dan bahwa ini merupakan sebab dia diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em><a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Beberapa faidah penting yang dapat kita ambil dari hadits ini:</strong></span></p>
<p>- Keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini akan diberikan kepada orang yang mengucapkan zikir ini dengan benar-benar merealisasikan konsekwensinya, yaitu berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em><a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>- Syaitan tidak memiliki kemampuan untuk mencelakakan orang-orang yang benar-benar beriman dan bersandar sepenuhnya kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em><a href="#_ftn4">[4]</a>, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="text-align: center;">{إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ}</p>
<p>“<em>Sesungguhnya syaitan itu tidak memiliki kekuasaan (untuk mencelakakan) orang-orang yang beriman dan bertawakkal (berserah diri) kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaan syaitan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah</em>” (QS an-Nahl: 99-100).</p>
<p>- Bertawakal (berserah diri dan bersandar sepenuhnya) kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> merupakan sebab utama untuk mendapatkan petunjuk dan perlindungan Allah dalam semua urusan manusia. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ<strong> </strong>إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ}</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya</em>” (QS ath-Thalaaq: 3).</p>
<p>Artinya: Barangsiapa yang berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dalam semua urusan agama dan dunianya, yaitu dengan bersandar kepada-Nya dalam mengusahakan kebaikan bagi dirinya dan menolak keburukan dari dirinya, serta yakin dengan kemudahan yang akan diberikan-Nya, maka Allah <em>Ta&#8217;ala</em> akan memudahkan semua urusannya tersebut<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p style="text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 30 Rabi’ul awal 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Abu Dawud (no. 5095), at-Tirmidzi (no. 3426) dan Ibnu Hibban (no. 822), dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat keterangan imam Ibnu Hibban dalam kitab “Shahih Ibnu Hibban” (3/104).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 157-158).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 449).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 449).</p>
<div class="shr-publisher-5761"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fhadits%2Fkeutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-dzikir-ketika-keluar-rumah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dzikir-Dzikir di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/ramadhan/dzikir-dzikir-di-bulan-ramadhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/ramadhan/dzikir-dzikir-di-bulan-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 09:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1270</guid>
		<description><![CDATA[Dzikir Ketika Melihat Hilal Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika melihat hilal beliau membaca, اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ &#8220;Allahumma ahillahu &#8216;alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal<a class="more" href="http://muslim.or.id/ramadhan/dzikir-dzikir-di-bulan-ramadhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dzikir Ketika Melihat Hilal</strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika melihat hilal beliau membaca,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;">اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ</p>
<p>&#8220;<em>Allahumma ahillahu &#8216;alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Robbii wa Robbukallah</em>. [Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah]&#8221; (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ad Darimi. Syaikh Syu&#8217;aib Al Arnauth mengatakan  bahwa hadits ini hasan karena memiliki penguat dari hadits lainnya)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ucapan Ketika Dicela atau Diganggu (Diusilin) Orang Lain</strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;">فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ</p>
<p>&#8220;Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, &#8220;<em>Inni shoo-imun, inni shoo-imun</em> [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]&#8220;.&#8221; (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). An Nawawi mengatakan, &#8220;Termasuk yang dianjurkan adalah jika seseorang dicela oleh orang lain atau diajak berkelahi ketika dia sedang berpuasa, maka katakanlah &#8220;<em>Inni shoo-imun, inni shoo-imun</em> [<strong>Aku sedang puasa, aku sedang puasa</strong>]&#8220;, sebanyak dua kali atau lebih. (<em>Al Adzkar</em>, 183)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Do&#8217;a Ketika Berbuka</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berbuka membaca,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;">ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ</p>
<p>&#8220;<em>Dzahabazh zhoma-u wabtallatil &#8216;uruqu wa tsabatal ajru insya Allah</em> [Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah]&#8221; (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)</p>
<p>Adapun mengenai <a href="http://muslim.or.id/ramadhan/dzikir-dzikir-di-bulan-ramadhan.html">do&#8217;a</a> berbuka yang biasa tersebar di tengah-tengah kaum muslimin: <em>&#8220;Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa &#8216;ala rizqika afthortu&#8230;.&#8221;</em>, perlu diketahui bahwa ada beberapa riwayat yang membicarakan do&#8217;a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam <em>Sunan Abu Daud</em> no. 2357, Ibnus Sunni dalam <em>&#8216;Amalul Yaum wal Lailah</em> no. 481 dan no. 482. <strong>Namun hadits-hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits-hadits yang lemah</strong>. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta oleh para ulama pakar hadits. (Lihat <em>Dho&#8217;if Abu Daud</em> no. 2011 dan catatan kaki <em>Al Adzkar</em> yang ditakhrij oleh &#8216;Ishomuddin Ash Shobaabtiy)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Do&#8217;a Kepada Orang yang Memberi Makan dan Minum</strong></span></p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;">أَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى</p>
<p><em>&#8220;Allahumma ath&#8217;im man ath&#8217;amanii wa asqi man asqoonii&#8221;</em> [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku] (HR. Muslim no. 2055)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Do&#8217;a Ketika Berbuka Puasa di Rumah Orang Lain</strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika disuguhkan makanan oleh Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah, beliau mengucapkan,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;">أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ</p>
<p>&#8220;<em>Afthoro &#8216;indakumush shoo-imuuna wa akala tho&#8217;amakumul abroor wa shollat &#8216;alaikumul malaa-ikah</em> [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo'akan agar kalian mendapat rahmat].&#8221; (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Do&#8217;a Setelah Shalat Witir</strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> biasa pada saat witir membaca surat <em>&#8220;Sabbihisma Robbikal a&#8217;laa&#8221;</em> (surat Al A&#8217;laa), <em>&#8220;Qul yaa ayyuhal kaafiruun&#8221;</em> (surat Al Kafirun), dan <em>&#8220;Qul huwallahu ahad&#8221;</em> (surat Al Ikhlas). Kemudian setelah salam beliau mengucapkan</p>
<p class="arab" style="text-align: center;">سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ</p>
<p><em>&#8220;Subhaanal malikil qudduus&#8221;</em>, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga. (HR. Abu Daud dan An Nasa-i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga mengucapkan di akhir witirnya,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;">اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ</p>
<p><em>&#8220;Allahumma inni a&#8217;udzu bi ridhooka min sakhotik wa bi mu&#8217;afaatika min &#8216;uqubatik, wa a&#8217;udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an &#8216;alaik, anta kamaa atsnaita &#8216;ala nafsik&#8221;</em> [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Do&#8217;a di Malam Lailatul Qadar</strong></span></p>
<p>Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do&#8217;a pada lailatul qadar, lebih-lebih do&#8217;a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> berkata, <em>&#8220;Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?&#8221;</em> Beliau menjawab, <em>&#8220;Katakanlah:</em></p>
<p class="arab" style="text-align: center;">اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ  تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى</p>
<p><em>&#8216;Allahumma innaka &#8216;afuwwun tuhibbul &#8216;afwa fa&#8217;fu anni&#8217;</em> [Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku].&#8221; (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1270"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fdzikir-dzikir-di-bulan-ramadhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/ramadhan/dzikir-dzikir-di-bulan-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu-Waktu Terkabulnya Do&#8217;a</title>
		<link>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/waktu-waktu-terkabulnya-doa.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/waktu-waktu-terkabulnya-doa.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 07:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[ijabah]]></category>
		<category><![CDATA[mustajab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3853</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh berbeda Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dengan makhluk-Nya. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lihatlah manusia, ketika ada orang meminta sesuatu darinya ia merasa kesal dan berat hati. Sedangkan Allah Ta&#8217;ala mencintai hamba yang meminta<a class="more" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/waktu-waktu-terkabulnya-doa.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sungguh berbeda Allah <em>Subhanahu Wa Ta&#8217;ala </em>dengan makhluk-Nya. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lihatlah manusia, ketika ada orang meminta sesuatu darinya ia merasa kesal dan berat hati. Sedangkan Allah <em>Ta&#8217;ala </em>mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Sebagaimana perkataan seorang penyair:</p>
<p style="text-align: center;">الله يغضب إن تركت سؤاله  وبني آدم حين يسأل يغضب</p>
<p>“<em>Allah murka pada orang yang enggan meminta kepada-Nya, sedangkan manusia ketika diminta ia marah</em>”</p>
<p>Ya, Allah mencintai hamba yang berdoa kepada-Nya, bahkan karena cinta-Nya Allah memberi &#8216;bonus&#8217; berupa ampunan dosa kepada hamba-Nya yang berdoa. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman dalam sebuah hadits <em>qudsi</em>:</p>
<p style="text-align: center;">يا ابن آدم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي</p>
<p>“<em>Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu</em>” (HR. At Tirmidzi, ia berkata: &#8216;Hadits hasan shahih&#8217;)</p>
<p>Sungguh Allah memahami keadaan manusia yang lemah dan senantiasa membutuhkan akan Rahmat-Nya. Manusia tidak pernah lepas dari keinginan, yang baik maupun yang buruk. Bahkan jika seseorang menuliskan segala keinginannya dikertas, entah berapa lembar akan terpakai.</p>
<p>Maka kita tidak perlu heran jika Allah Ta&#8217;ala melaknat orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Orang yang demikian oleh Allah <em>&#8216;Azza Wa Jalla</em> disebut sebagai hamba yang sombong dan diancam dengan neraka Jahannam. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</p>
<p>“<em>Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina</em>” (QS. Ghafir: 60)</p>
<p>Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Maha Pemurah terhadap hamba-Nya, karena hamba-Nya diperintahkan berdoa secara langsung kepada Allah tanpa melalui perantara dan dijamin akan dikabulkan. Sungguh Engkau Maha Pemurah Ya Rabb&#8230;</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Berdoa Di Waktu Yang Tepat</strong></span></p>
<p>Diantara usaha yang bisa kita upayakan agar doa kita dikabulkan oleh Allah <em>Ta&#8217;ala </em>adalah dengan memanfaatkan waktu-waktu tertentu yang dijanjikan oleh Allah bahwa doa ketika waktu-waktu tersebut  dikabulkan. Diantara waktu-waktu tersebut adalah:</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>1. Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir</strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> mencintai hamba-Nya yang berdoa disepertiga malam yang terakhir. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya:</p>
<p style="text-align: center;">وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُون</p>
<p>“<em>Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdoa memohon ampunan</em>” (QS. Adz Dzariyat: 18)</p>
<p>Sepertiga malam yang paling akhir adalah waktu yang penuh berkah, sebab pada saat itu Rabb kita <em>Subhanahu Wa Ta&#8217;ala</em> turun ke langit dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="text-align: center;">ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا ، حين يبقى ثلث الليل الآخر، يقول : من يدعوني فأستجيب له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأغفر له</p>
<p>“<em>Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: &#8216;Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni</em>&#8216;” (HR. Bukhari no.1145, Muslim no. 758)</p>
<p>Namun perlu dicatat, sifat &#8216;turun&#8217; dalam hadits ini jangan sampai membuat kita membayangkan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> turun sebagaimana manusia turun dari suatu tempat ke tempat lain. Karena tentu berbeda. Yang penting kita mengimani bahwa Allah <em>Ta&#8217;ala</em> turun ke langit dunia, karena yang berkata demikian adalah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> diberi julukan <em>Ash shadiqul Mashduq</em> (orang jujur yang diotentikasi kebenarannya oleh Allah), tanpa perlu mempertanyakan dan membayangkan bagaimana caranya.</p>
<p>Dari hadits ini jelas bahwa sepertiga malam yang akhir adalah waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Lebih lagi di bulan Ramadhan, bangun di sepertiga malam akhir bukanlah hal yang berat lagi karena bersamaan dengan waktu makan sahur. Oleh karena itu, manfaatkanlah sebaik-baiknya waktu tersebut untuk berdoa.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>2. Ketika berbuka puasa</strong></span></p>
<p>Waktu berbuka puasa pun merupakan waktu yang penuh keberkahan, karena diwaktu ini manusia merasakan salah satu kebahagiaan ibadah puasa, yaitu diperbolehkannya makan dan minum setelah seharian menahannya, sebagaimana hadits:</p>
<p style="text-align: center;">للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه</p>
<p>“<em>Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak</em>” (HR. Muslim, no.1151)</p>
<p>Keberkahan lain di waktu berbuka puasa adalah dikabulkannya doa orang yang telah berpuasa, sebagaimana sabda  Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam:</em></p>
<p style="text-align: center;">ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم</p>
<p>&#8216;”<em>Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” </em>(HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di <em>Shahih At Tirmidzi</em>)</p>
<p>Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Namun perlu diketahui, terdapat doa yang dianjurkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa, yaitu <strong>doa berbuka puasa</strong>. Sebagaimana hadits</p>
<p style="text-align: center;">كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله</p>
<p>“<em>Biasanya Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:</em></p>
<p>ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله</p>
<p><em>/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil &#8216;uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/</em></p>
<p><em>(&#8216;Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah&#8217;)</em>” (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di <em>Hidayatur Ruwah</em>, 2/232)</p>
<p>Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan lafazh berikut:</p>
<p style="text-align: center;">اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين</p>
<p>adalah <strong>hadits palsu</strong>, atau dengan kata lain, ini bukanlah hadits. Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. </em></p>
<p>Oleh karena itu, doa dengan lafazh ini dihukumi sama seperti ucapan orang biasa seperti saya dan anda. Sama kedudukannya seperti kita berdoa dengan kata-kata sendiri. Sehingga doa ini tidak boleh dipopulerkan apalagi dipatenkan sebagai doa berbuka puasa.</p>
<p>Memang ada hadits tentang doa berbuka puasa dengan lafazh yang mirip dengan doa tersebut, semisal:</p>
<p style="text-align: center;">كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم</p>
<p>“Biasanya Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam ketika berbuka membaca doa: <em>Allahumma laka shumtu wa &#8216;alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii&#8217;ul &#8216;aliim</em>”</p>
<p>Dalam <em>Al Futuhat Ar Rabbaniyyah</em> (4/341), dinukil perkataan Ibnu Hajar Al Asqalani: “Hadits ini <em>gharib</em>, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga di-<em>dhaif</em>-kan oleh Al Albani di <em>Dhaif Al Jami&#8217; </em>(4350). Atau doa-doa yang lafazh-nya semisal hadits ini semuanya berkisar antara hadits <em>dhaif</em> atau <em>munkar</em>.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>3. Ketika malam <em>lailatul qadar</em></strong></span></p>
<p>Malam <em>lailatul qadar</em> adalah malam diturunkannya Al Qur&#8217;an. Malam ini lebih utama dari 1000 bulan. Sebagaimana firmanAllah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: center;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p>“<em>Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan</em>” (QS. Al Qadr: 3)</p>
<p>Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak doa. Sebagaimana yang diceritakan oleh <em>Ummul Mu&#8217;minin</em> Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anha</em>:</p>
<p style="text-align: center;">قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني</p>
<p>“Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda: <em>Berdoalah</em>:</p>
<p style="text-align: center;">اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني</p>
<p>Allahumma innaka &#8216;afuwwun tuhibbul &#8216;afwa fa&#8217;fu &#8216;anni ['<em>Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku</em>'']”(HR. Tirmidzi, 3513, Ibnu Majah, 3119, At Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”)</p>
<p>Pada hadits ini Ummul Mu&#8217;minin &#8216;Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anha</em> meminta diajarkan ucapan yang sebaiknya diamalkan ketika malam Lailatul Qadar. Namun ternyata Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> mengajarkan lafadz doa. Ini menunjukkan bahwa pada malam Lailatul Qadar dianjurkan memperbanyak doa, terutama dengan lafadz yang diajarkan tersebut.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>4. Ketika adzan berkumandang</strong></span></p>
<p>Selain dianjurkan untuk menjawab adzan dengan lafazh yang sama, saat adzan dikumandangkan pun termasuk waktu yang <em>mustajab </em>untuk berdoa.  Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا</p>
<p>“<em>Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang</em>” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Nata-ijul Afkar</em>, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>5. Di antara adzan dan iqamah</strong></span></p>
<p>Waktu jeda antara adzan dan iqamah adalah juga merupakan waktu yang dianjurkan untuk berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="text-align: center;">الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة</p>
<p>“<em>Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak</em>” (HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: “Hasan Shahih”)</p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa amalan yang dianjurkan antara adzan dan iqamah adalah berdoa, bukan <em>shalawatan</em>, atau membaca <em>murattal </em>dengan suara keras, misalnya dengan menggunakan mikrofon. Selain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah  <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam, </em>amalan-amalan tersebut dapat mengganggu orang yang berdzikir atau sedang shalat sunnah. Padahal Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة</p>
<p>“<em>Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur&#8217;an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,</em>” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di <em>Nata-ijul Afkar</em>, 2/16).</p>
<p>Selain itu, orang yang <em>shalawatan </em>atau membaca Al Qur&#8217;an dengan suara keras di waktu jeda ini, telah meninggalkan amalan yang di anjurkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, yaitu berdoa. Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk memohon kepada Allah segala sesuatu yang ia inginkan. Sungguh merugi jika ia melewatkannya.</p>
<p><span style="color: #800000;"> <strong>6. Ketika sedang sujud dalam shalat</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا</p>
<p>“<em>Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu</em>” (HR. Muslim, no.482)</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>7. Ketika sebelum salam pada shalat wajib</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات</p>
<p>“<em>Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: “Diakhir malam dan diakhir shalat wajib</em>” (HR. Tirmidzi, 3499)</p>
<p>Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam <em>Zaadul Ma&#8217;ad </em>(1/305) menjelaskan bahwa yang dimaksud &#8216;akhir shalat wajib&#8217; adalah sebelum salam. Dan tidak terdapat riwayat bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabat merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib. Ahli fiqih masa kini, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>Rahimahullah</em> berkata: “Apakah berdoa setelah shalat itu disyariatkan atau tidak? Jawabannya: <span style="text-decoration: underline;">tidak disyariatkan</span>. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ</p>
<p>“<em>Jika engkau selesai shalat, berdzikirlah</em>” (QS. An Nisa: 103). Allah berfirman &#8216;berdzikirlah&#8217;, bukan &#8216;berdoalah&#8217;. Maka setelah shalat bukanlah waktu untuk berdoa, melainkan sebelum salam” (<em>Fatawa Ibnu Utsaimin</em>, 15/216).</p>
<p>Namun sungguh disayangkan kebanyakan kaum muslimin merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib yang sebenarnya tidak disyariatkan, kemudian justru meninggalkan waktu-waktu mustajab <span style="text-decoration: underline;">yang disyariatkan </span>yaitu diantara adzan dan iqamah, ketika adzan, ketika sujud dan sebelum salam.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>8. Di hari Jum&#8217;at</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر يوم الجمعة ، فقال : فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل الله تعالى شيئا ، إلا أعطاه إياه . وأشار بيده يقللها</p>
<p>“<em>Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari  Jumat kemudian beliau bersabda: &#8216;Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta&#8217;. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut</em>” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Fathul Baari</em> ketika menjelaskan hadits ini beliau menyebutkan 42 pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud. Namun secara umum terdapat 4 pendapat yang kuat. <strong> </strong></p>
<p><strong>Pendapat pertama</strong>, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum&#8217;at, berdasarkan hadits:</p>
<p style="text-align: center;">هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة</p>
<p>“<em>Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum&#8217;at selesai</em>” (HR. Muslim, 853 dari sahabat Abu Musa Al Asy&#8217;ari <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>).</p>
<p>Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al Baihaqi.</p>
<p><strong>Pendapat kedua</strong>, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan hadits:</p>
<p style="text-align: center;">يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر</p>
<p>“<em>Dalam 12 jam hari Jum&#8217;at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar</em>” (HR. Abu Daud, no.1048 dari sahabat Jabir bin Abdillah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>. Dishahihkan Al Albani di <em>Shahih Abi Daud</em>). Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Pendapat ini yang lebih masyhur dikalangan para ulama.</p>
<p><strong>Pendapat ketiga</strong>, yaitu setelah ashar, namun diakhir-akhir hari Jum&#8217;at. Pendapat ini didasari oleh riwayat dari Abi Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi, Ibnul Zamlakani menguatkan pendapat ini.</p>
<p><strong>Pendapat keempat</strong>, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar sendiri, yaitu menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu &#8216;Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”. Dengan demikian seseorang akan lebih memperbanyak doanya di hari Jum&#8217;at tidak pada beberapa waktu tertentu saja. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu &#8216;Abdil Barr.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>9. Ketika turun hujan</strong></span></p>
<p>Hujan adalah nikmat Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Oleh karena itu tidak boleh mencelanya. Sebagian orang merasa jengkel dengan turunnya hujan, padahal yang menurunkan hujan tidak lain adalah Allah Ta&#8217;ala. Oleh karena itu, daripada tenggelam dalam rasa jengkel lebih baik memanfaatkan waktu hujan untuk berdoa memohon apa yang diinginkan kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: center;">ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر</p>
<p>“<em>Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun</em>” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di <em>Shahih Al Jami&#8217;</em>, 3078)</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>10. Hari Rabu antara Dzuhur dan Ashar</strong></span></p>
<p>Sunnah ini belum diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin, yaitu dikabulkannya doa diantara shalat Zhuhur dan Ashar dihari Rabu. Ini diceritakan oleh Jabir bin Abdillah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="text-align: center;">أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد الفتح ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه<br />
قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة</p>
<p>“<em>Nabi </em><em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em><em> berdoa di Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir : &#8216;Tidaklah suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa,dan saya mendapati dikabulkannya doa saya</em>&#8216;”</p>
<p>Dalam riwayat lain:</p>
<p style="text-align: center;">فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر والعصر</p>
<p>“<em>Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Zhuhur dan Ashar</em>” (HR. Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam <em>Majma Az Zawaid</em>, 4/15, berkata: “Semua perawinya <em>tsiqah</em>”, juga dishahihkan Al Albani di <em>Shahih At Targhib</em>, 1185)</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>11. Ketika Hari Arafah</strong></span></p>
<p>Hari Arafah adalah hari ketika para jama&#8217;ah haji melakukan wukuf di Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari tersebut dianjurkan memperbanyak doa, baik bagi jama&#8217;ah haji maupun bagi seluruh kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sebab Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">خير الدعاء دعاء يوم عرفة</p>
<p>“<em>Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah</em>” (HR. At Tirmidzi, 3585. Di shahihkan Al Albani dalam <em>Shahih At Tirmidzi</em>)</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>12. Ketika Perang Berkecamuk</strong></span></p>
<p>Salah satu keutamaan pergi ke medan perang dalam rangka berjihad di jalan Allah adalah doa dari orang yang berperang di jalan Allah ketika perang sedang berkecamuk, diijabah oleh Allah Ta&#8217;ala. Dalilnya adalah hadits yang sudah disebutkan di atas:</p>
<p style="text-align: center;">ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا</p>
<p>“<em>Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang</em>” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Nata-ijul Afkar</em>, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>13. Ketika Meminum Air Zam-zam</strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">ماء زمزم لما شرب له</p>
<p>“<em>Khasiat Air Zam-zam itu sesuai niat peminumnya</em>” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Ibni Majah</em>, 2502)</p>
<p>Demikian uraian mengenai waktu-waktu yang paling dianjurkan untuk berdoa. Mudah-mudahan Allah Ta&#8217;ala mengabulkan doa-doa kita dan menerima amal ibadah kita.</p>
<p><em>Amiin Ya Mujiibas Sa&#8217;iliin</em>.</p>
<p>Penulis: <a href="http://kangaswad.wordpress.com/2009/07/16/sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun/">Yulian Purnama</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-3853"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdoa-dan-wirid%2Fwaktu-waktu-terkabulnya-doa.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/waktu-waktu-terkabulnya-doa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>104</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dzikir Ibadah yang Sangat Agung</title>
		<link>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/dzikir-ibadah-yang-sangat-agung.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/dzikir-ibadah-yang-sangat-agung.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 08:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=644</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun. Dzat yang menetapkan takdir dan mengatur segala urusan. Dzat yang mempergilirkan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/dzikir-ibadah-yang-sangat-agung.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Segala puji bagi Allah, Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun. Dzat yang menetapkan takdir dan mengatur segala urusan. Dzat yang mempergilirkan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang memiliki hati dan pemahaman. Dzat yang menyadarkan sebagian makhluk dan memilihnya di antara orang pilihan-Nya dan kemudian Allah memasukkan dia ke dalam golongan orang-orang yang terbaik. Dzat yang memberikan taufik kepada orang yang Dia pilih di antara hamba-hamba-Nya kemudian Allah jadikan dia termasuk golongan al-Muqarrabin al-Abrar. Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan pencerahan kepada orang yang dicintai-Nya sehingga membuat mereka untuk bersikap zuhud di alam kehidupan dunia ini, sehingga mereka bersungguh-sungguh untuk meraih ridha-Nya serta bersiap-siap untuk menyambut negeri yang kekal. Oleh sebab itu, mereka pun menjauhi perkara yang membuat-Nya murka dan menjauhkan diri dari ancaman siksa neraka. Mereka menundukkan dirinya dengan penuh kesungguhan dalam ketaatan kepada-Nya serta senantiasa berdzikir kepada-Nya pada waktu petang maupun pagi. Dzikir itu senantiasa mereka lakukan walaupun terjadi perubahan keadaan dan di setiap kesempatan; malam maupun siang hari. Oleh sebab itu, bersinarlah hati mereka dengan pancaran cahaya keimanan (lihat <em>Mukadimah Al Adzkar</em>, dalam <em>Shahih Al Adzkar</em>, hal. 11)</p>
<p><span id="more-644"></span><br />
Saudaraku -semoga Allah menyinari hati kita dengan keimanan-, dzikir merupakan ibadah yang sangat agung. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ</p>
<p><em>&#8220;Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku juga akan mengingat kalian.&#8221; </em>(QS. al-Baqarah: 152)</p>
<p>Orang-orang yang hadir dalam <a title="Dzikir ibadah yang sangat agung" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/dzikir-ibadah-yang-sangat-agung.html">majelis dzikir</a> adalah orang-orang yang berbahagia. Bagaimana tidak, sedangkan di dalam majelis itu dibacakan ayat-ayat Allah ta&#8217;ala dan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang itu merupakan sumber ketenangan hati dan kebahagiaan sejati.</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat mereka maka bertambahlah keimanan mereka&#8230;&#8221;</em> (QS. al-Anfal: 2)</p>
<p>Di saat peperangan berkecamuk, Allah pun tetap memerintahkan ibadah yang mulia ini agar mereka menjadi orang-orang yang mendapatkan keberhasilan. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan pasukan musuh maka tegarlah kalian dan ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, mudah-mudahan kalian beruntung.&#8221;</em> (QS. al-Anfal: 45)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala juga berfirman,</p>
<p>أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ</p>
<p><em>&#8220;Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.&#8221;</em> (QS. ar-Ra&#8217;d: 28)</p>
<p>وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ</p>
<p><em>Suatu ketika, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam keluar menjumpai sebuah halaqah yang terdiri dari para sahabat beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya, &#8220;Apa yang membuat kalian duduk di sini?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami duduk untuk mengingat Allah ta&#8217;ala dan memuji-Nya atas petunjuk yang Allah berikan kepada kami sehingga kami bisa memeluk Islam dan nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kami.&#8221; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, &#8220;Demi Allah, apakah tidak ada alasan lain bagi kalian sehingga membuat kalian duduk di sini melaikan itu?&#8221;  Mereka menjawab, &#8220;Demi Allah, tidak ada niat kami selain itu.&#8221; Beliau pun bersabda, &#8220;Adapun aku, sesungguhnya aku sama sekali tidak memiliki persangkaan buruk kepada kalian dengan pertanyaanku. Akan tetapi, Jibril datang kepadaku kemudian dia mengabarkan kepadaku bahwa Allah &#8216;azza wa jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah ada suatu kaum yang duduk untuk berdzikir kepada Allah ta&#8217;ala melainkan malaikat akan meliputi mereka dan rahmat akan menyelimuti mereka, dan akan turun kepada mereka ketenangan, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا قَالُوْا وَمَا رِيَاضُ الجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ</p>
<p><em>&#8220;Apabila kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah.&#8221; Maka para sahabat bertanya, &#8220;Apa yang dimaksud taman-taman surga itu wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Halaqah-halaqah dzikir, karena sesungguhnya Allah ta&#8217;ala memiliki malaikat yang berkeliling untuk mencari halaqah-halaqah dzikir. Apabila mereka datang kepada orang-orang itu, maka mereka pun meliputinya.&#8221;</em> (HR. Abu Nu&#8217;aim dalam <em>Al Hilyah</em> dan dihasankan oleh Syaikh Salim dalam <em>Shahih Al Adzkar</em>, hal. 16)</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Ketahuilah, sesungguhnya keutamaan dzikir itu tidak terbatas kepada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan semacamnya. Akan tetapi, setiap orang yang beramal ikhlas karena Allah ta&#8217;ala dengan melakukan ketaatan maka dia adalah orang yang berdzikir kepada Allah ta&#8217;ala. Demikianlah, yang dikatakan oleh Sa&#8217;id bin Jubair <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> dan para ulama yang lain. Atha&#8217; <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8216;Majelis dzikir adalah majelis halal dan haram, yang membicarakan bagaimana menjual dan membeli, bagaimana shalat, menikah, thalaq, haji, &#8230; dan sebagainya.&#8217;&#8221; (<em>Shahih Al Adzkar</em>, hal. 18)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Sebagian dari kalangan ahli hikmah yang terdahulu dari Syam -dugaan saya adalah Sulaiman Al Khawwash <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8216;Dzikir bagi hati laksana makanan bagi tubuh. Maka sebagaimana tubuh tidak akan merasakan kelezatan makanan ketika menderita sakit. Demikian pula hati tidak akan dapat merasakan kemanisan dzikir apabila hatinya masih jatuh cinta kepada dunia&#8217;. Apabila hati seseorang telah disibukkan dengan mengingat Allah, senantiasa memikirkan kebenaran, dan merenungkan ilmu, maka dia telah diposisikan sebagaimana mestinya&#8230;&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 2/344)</p>
<p>Oleh sebab itu, menjadi orang yang banyak mengingat Allah merupakan cita-cita setiap mukmin. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</p>
<p><em>&#8220;Dan kaum lelaki yang banyak mengingat Allah demikian pula kaum perempuan, maka Allah persiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.&#8221;</em> (QS. Al Ahzab: 35)</p>
<p>Mujahid <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Tidaklah tergolong lelaki dan perempuan yang banyak mengingat Allah kecuali apabila dia membiasakan diri senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.&#8221; (<em>Shahih al-Adzkar</em>, hal. 19)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا فِي الذَّاكِرِينَ وَالذَّاكِرَاتِ</p>
<p><em>&#8220;Apabila seorang suami membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat bersama sebanyak dua raka&#8217;at, maka mereka berdua akan dicatat termasuk dalam golongan lelaki dan perempuan yang banyak mengingat Allah.&#8221;</em> (HR. Abu Dawud, An Nasa&#8217;i dalam <em>Sunan Al Kubra</em>, dan Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Salim dalam <em>Shahih Al Adzkar</em>, hal. 19)</p>
<p>عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ</p>
<p><em>Mu&#8217;adz bin Jabal -radhiyallahu&#8217;anhu- menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memegang tangannya seraya mengucapkan, &#8220;Hai Mu&#8217;adz, demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.&#8221; Lalu beliau bersabda, &#8220;Aku wasiatkan kepadamu hai Mu&#8217;adz, jangan kamu tinggalkan bacaan setiap kali di akhir shalat hendaknya kamu berdoa, &#8216;Allahumma a&#8217;inni &#8216;ala dzikrika wa syukrika wa husni &#8216;ibadatik&#8217; (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).&#8221; </em>(HR. Abu Dawud, disahihkan Al Albani dalam <em>Shahih wa Dha&#8217;if Sunan Abi Dawud</em> no. 1522)</p>
<p>Itulah sebagian keutamaan dzikir yang bisa kami kemukakan di sini, semoga Allah memberikan kepada kita taufik untuk berdzikir kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah dengan baik kepada-Nya. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahibihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. </em></p>
<p>Hamba yang fakir kepada ampunan Rabbnya</p>
<p>Semoga Allah mengampuninya</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Dzikir ibadah yang sangat agung" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/dzikir-ibadah-yang-sangat-agung.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-644"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdoa-dan-wirid%2Fdzikir-ibadah-yang-sangat-agung.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/dzikir-ibadah-yang-sangat-agung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Berdzikir Sendirian</title>
		<link>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/keutamaan-berdzikir-sendirian.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/keutamaan-berdzikir-sendirian.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 04:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya: Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku demikian juga Muhammad bin al-Mutsanna. Mereka semua menuturkan dari Yahya al-Qaththan. Zuhair mengatakan, Yahya bin Sa&#8217;id menuturkan kepada kami dari Ubaidillah. Dia berkata,<a class="more" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/keutamaan-berdzikir-sendirian.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya: Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku demikian  juga Muhammad bin al-Mutsanna. Mereka semua menuturkan dari Yahya al-Qaththan.  Zuhair mengatakan, Yahya bin Sa&#8217;id menuturkan kepada kami dari Ubaidillah. Dia  berkata, Khubaib bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku dari Hafsh bin &#8216;Ashim  dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p><em>&#8220;Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari di  saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (1) Seorang pemimpin yang adil, (2)  Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, (3) Seorang  lelaki yang hatinya selalu bergantung di masjid, (4) Dua orang lelaki yang  saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, (5) Seorang  lelaki yang diajak berzina oleh seorang perempuan cantik lagi berkedudukan  namun mengatakan, &#8216;Aku merasa takut kepada Allah&#8217;, (6) Seorang yang bersedekah  dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kanannya tidak mengerti apa yang  diinfakkan oleh tangan kirinya (terbalik, seharusnya &#8216;sampai-sampai tangan  kirinya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya&#8217;, pent), (7)  Dan juga seorang yang <a title="Keutamaan berzikir sendirian" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/keutamaan-berdzikir-sendirian.html">mengingat Allah</a> di saat sendirian hingga kedua matanya  mengalirkan air mata.&#8221;</em> (Hadits ini juga  diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab az-Zakah dengan judul bab &#8216;Shadaqah  dengan tangan kanan&#8217;. Diterjemahkan secara bebas dari <em>as-Shahih al-Musnad  min Adzkar al-Yaum wa al-Lailah</em>, Syaikh Musthofa al-Adawi, hal. 12-13)</p>
<p><span id="more-585"></span></p>
<p>Hadits ini mengandung  banyak pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Penetapan adanya hari  kiamat.</li>
<li>Penetapan adanya  pembalasan amal.</li>
<li>Dahsyatnya peristiwa di  hari kiamat.</li>
<li>Betapa lemahnya manusia  di hadapan Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</li>
<li>Kecintaan Allah kepada  orang-orang yang taat kepada-Nya.</li>
<li>Yang dimaksud dengan  naungan Allah di sini adalah naungan Arsy-Nya sebagaimana disebutkan dalam  hadits lainnya yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em>.</li>
<li>Allah mencintai  keadilan dan membenci kezaliman.</li>
<li>Perintah untuk  menegakkan keadilan.</li>
<li>Keutamaan pemimpin yang  adil.</li>
<li>Beratnya cobaan dan  godaan yang menimpa seorang pemimpin.</li>
<li>Keutamaan pemuda yang  tekun beribadah kepada Allah.</li>
<li>Beratnya cobaan dan  godaan yang dialami para pemuda, dan perintah kepada para orang tua agar  membina generasi muda untuk gemar taat beribadah kepada Rabbnya.</li>
<li>Keutamaan lelaki yang  hatinya bergantung di masjid.</li>
<li>Keutamaan masjid.</li>
<li>Cinta dan benci karena  Allah.</li>
<li>Beramal karena Allah.</li>
<li>Dahsyatnya godaan  wanita.</li>
<li>Jalan ke Surga diliputi  oleh hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan jalan menuju Neraka diliputi  hal-hal yang disukai oleh hawa nafsu manusia.</li>
<li>Kewajiban menjauhkan  diri dari zina.</li>
<li>Keutamaan rasa takut  kepada Allah dan ia merupakan bukti kekuatan iman.</li>
<li>Keutamaan bersedekah,  terlebih lagi dengan sembunyi-sembunyi.</li>
<li>Bersedekah dengan  tangan kanan.</li>
<li>Keutamaan berdzikir  kepada Allah, terlebih apabila sendirian.</li>
<li>Dorongan untuk ikhlas  dalam beramal.</li>
<li>Keutamaan menangis  karena Allah.</li>
<li>Iman mencakup ucapan,  perbuatan, dan keyakinan, bisa bertambah dan berkurang.</li>
<li>Baiknya amal lahir  tergantung pada amal hati.</li>
<li>Semakin sulit keadaan  seseorang untuk taat kepada Allah namun dia tetap taat kepada-Nya maka balasan  dari sisi Allah juga akan semakin besar.</li>
<li>Penetapan kehendak pada  diri Allah.</li>
<li>Penetapan kehendak pada  diri makhluk, ini adalah bantahan bagi Jabriyah (kelompok yang mengatakan bahwa  seorang hamba dipaksa dalam melakukan perbuatan dan tidak ada hak untuk memilih,  tidak ada kekuatan, serta tidak ada kehendak baginya -ed).</li>
<li>Barangsiapa yang  meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantikannya dengan  sesuatu yang lebih baik. Dan lain sebagainya yang belum kami ketahui, <em>wallahu  a&#8217;lam</em>.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Keutamaan berzikir sendirian" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/keutamaan-berdzikir-sendirian.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-585"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdoa-dan-wirid%2Fkeutamaan-berdzikir-sendirian.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/keutamaan-berdzikir-sendirian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melestarikan Tauhid Dengan Dzikir dan Syukur</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/melestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan-syukur.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/melestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan-syukur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 11:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim) Syaikhul Islam mengatakan,<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/melestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan-syukur.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Nabi shallallahu <em>&#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Perumpamaan  orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah  seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.&#8221;</em> (HR.  Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Syaikhul Islam mengatakan, &#8220;Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan.  Lantas apakah yang akan terjadi pada seekor ikan apabila dia dipisahkan dari  air?&#8221; (Lihat <em>Al Wabil Ash Shayyib</em> oleh Ibnul Qayyim)</p>
<p><span id="more-577"></span></p>
<p><strong>Kaitan  Syukur dengan Tauhid</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan dalam  mukadimah <em>Al Qawa&#8217;id Al Arba&#8217;</em>, &#8220;Aku memohon kepada Allah yang Maha  mulia Rabb pemilik arsy yang agung, semoga Dia senantiasa menolongmu dalam  kehidupan dunia dan akhirat. Semoga Dia menjadikanmu senantiasa diberkahi di  manapun engkau berada dan menjadikanmu bersyukur apabila diberi karunia,  bersabar apabila mendapat coba, dan memohon ampun apabila terjatuh dalam dosa,  karena sesungguhnya ketiga hal itulah lambang kebahagiaan.&#8221;</p>
<p>Syaikh Shalih Alusy Syaikh mengatakan,&#8221;Syukur memiliki kaitan erat  dengan tauhid. Tatkala sang imam (Syaikh Muhammad bin abdul Wahhab) <em>rahimahullah</em> menyebutkan do&#8217;a untuk kita supaya bersyukur atas karunia, bersabar atas  musibah dan istighfar ketika berbuat dosa, seolah-olah beliau sedang  mengarahkan pandangan matanya kepada kondisi yang dialami kaum yang bertauhid.  Beliau berbicara dengan mereka tentang suatu kewajiban yang harus senantiasa  mereka tunaikan. <strong>Sebab seorang yang telah bertauhid  mendapatkan karunia yang sangat besar, tidak  ada lagi nikmat lain yang menandinginya</strong>. Nikmat itu adalah keberadaannya di  atas ajaran Islam yang lurus. Nikmat itulah yang membuatnya bisa tegak di atas  prinsip tauhid yang murni. Tauhid itulah yang menjadi sebab Allah menjanjikan  kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang  merealisasikannya.&#8221; (<em>Syarh Qawa&#8217;id Arba&#8217;</em>)</p>
<p>Syaikh Shalih melengkapi keterangannya, &#8220;Apabila berdosa maka diapun  beristighfar&#8221;. Dalam diri seorang muwahhid juga terdapat unsur  ketidaktaatan. Dia tidaklah terlepas dari perbuatan dosa, yang kecil maupun  yang besar. Sedangkan salah satu Asma&#8217; Allah adalah Al Ghafuur (Maha Pengampun)  maka pengaruh hukum dari Asma itu pasti terwujud pada alam serta kerajaan-Nya.  Karena itulah Allah mencintai hamba-Nya yang bertauhid lagi ikhlash untuk  senantiasa meminta ampunan. Seorang muwahhid pasti mengalami hal  itu.&#8221;</p>
<p><strong>&#8220;Apabila seorang hamba meninggalkan keagungan istighfar ini, niscaya  dia akan tertimpa kesombongan</strong>. Padahal kesombongan  akan menghapuskan banyak  pahala amal  perbuatan. Karena latar belakang itulah beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul  Wahhab rahimahullah) mengatakan di sini,&#8221;Apabila berdosa maka diapun  beristighfar. Karena sesungguhnya ketiga hal itu adalah simbol kebahagiaan sejati&#8221;.  Maka ini artinya hal itu pasti terjadi terhadap setiap muwahhid. Hal itu  mencakup <strong>bersyukur ketika mendapat karunia, bersabar ketika tertimpa coba  dan beristighfar ketika berbuat dosa dan maksiat. Semakin besar pengenalan  seorang hamba terhadap Tuhannya niscaya ketiga hal inipun akan semakin kuat  tertancap di dalam jiwanya</strong>. Dan <strong>semakin besar ruang tauhid dalam hati  seorang hamba niscaya ketiga hal ini pun turut membesar</strong>. Dengan sikap  demikian niscaya akan melahirkan seorang hamba yang tidak lagi memandang selain  keridhaan Allah jalla wa &#8216;ala dalam melaksanakan amal maupun aktifitas  hidupnya, <strong>dia tidak mau mempersembahkan sedikitpun amalnya untuk selain-Nya</strong>.  Apabila dia telah lalai dari hal itu maka istighfar yang diucapkannya bukanlah  istighfar yang sebenarnya.&#8221; (<em>Syarh Qawa&#8217;id Arba&#8217;</em>)</p>
<p><strong>Berdzikir dan Bersyukur</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" align="right">فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ</p>
<p><em>&#8220;Ingatlah  kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku,  janganlah kalian kufur.&#8221;</em> (Qs. Al Baqarah [2]:  152)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan, &#8220;Dzikir  kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang paling utama adalah dengan menyesuaikan isi  hati dengan dzikir yang diucapkan oleh lisan. Itulah dzikir yang dapat  membuahkan pengenalan kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, dan pahala yang  melimpah dari-Nya. Dzikir adalah bagian terpenting dari syukur.</p>
<p>Oleh sebab itu Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya  Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah berfirman yang  artinya, &#8220;Maka <a title="Tauhid dengan zikir dan syukur" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/melestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan-syukur.html">bersyukurlah</a> kepada-Ku.&#8221;</p>
<p>Yaitu bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan  kepada kalian dan atas berbagai macam bencana yang telah Aku singkirkan  sehingga tidak menimpa kalian&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai  macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk  beramal, maka itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat  yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang  lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada.</p>
<p>Sudah selayaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah)  untuk berilmu atau beramal untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Hal  itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap  perasaan <em>ujub</em> (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka  akan terus disibukkan dengan bersyukur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena lawan dari syukur adalah ingkar/kufur, Allah  pun melarang melakukannya. Allah berfirman  (yang artinya), &#8220;Dan janganlah kalian kufur&#8221;. Yang dimaksud dengan  kata &#8216;kufur&#8217; di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka, itu  berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya,  tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada  itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling  besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam  perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan  sampai yang ada di bawah-bawahnya.&#8221; (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 74)</p>
<p>Adh Dhahak bin Qais mengatakan, &#8220;Ingatlah kepada  Allah di saat senang, niscaya Dia akan mengingat kalian di saat sulit.&#8221; (<em>Jami&#8217;ul  &#8216;Ulum</em>, hal. 248) Ada lelaki berkata kepada Abud Darda&#8217;, &#8220;Berilah saya  wasiat.&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ingatlah Allah di waktu senang, niscaya  Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> akan mengingatmu di waktu susah.&#8221; (<em>Jami&#8217;ul  &#8216;Ulum</em>, hal. 248)</p>
<p><strong>Penopang Tegaknya Agama</strong></p>
<p>Al &#8216;Allamah Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan di dalam sebuah  kitabnya yang penuh faedah yaitu <em>Al Fawa&#8217;id</em>, &#8220;Bangunan agama ini  ditopang oleh dua kaidah: Dzikir dan syukur. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang  artinya), <em>&#8220;Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan  bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.&#8221;</em> (QS. Al Baqarah [2] :  152).&#8221;</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada Mu&#8217;adz, &#8220;Demi  Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa  di setiap akhir shalat: <em>&#8216;Allahumma a&#8217;innii &#8216;ala dzikrika wa syukrika, wa  husni &#8216;ibaadatik.&#8217;</em> (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur  kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu).&#8221; (HR. An Nasa&#8217;i  [1303] dalam pembahasan Sujud Sahwi, Abu Dawud [1522] dalam pembahasan Shalat,  dan Ahmad [21614] dari jalan Abdurrahman Al Hubla dari Ash Shonabihi dari Mu&#8217;adz  bin Jabal, disahihkan Al Albani dalam <em>Sahih Sunan Abu Dawud</em>. (<em>Tahqiq Al Fawa&#8217;id</em>))</p>
<p>&#8220;Bukanlah yang dimaksud dengan dzikir di sini sekedar berdzikir dengan  lisan. Namun, dzikir dengan hati sekaligus dengan lisan. Berdzikir/mengingat  Allah mencakup  mengingat nama-nama dan  sifat-sifat-Nya, mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat-Nya dengan  membaca firman-firman-Nya.</p>
<p>Itu semua tentunya akan melahirkan ma&#8217;rifatullah (pengenalan terhadap  Allah), keimanan kepada-Nya, serta keimanan kepada kesempurnaan dan keagungan  sifat-sifat-Nya.</p>
<p>Selain itu, ia akan membuahkan berbagai macam sanjungan yang tertuju  kepada-Nya. Sementara itu semua tidak akan sempurna apabila tidak dilandasi  dengan ketauhidan kepada-Nya. Maka dzikir yang hakiki pasti akan melahirkan itu  semuanya. Dan ia juga akan melahirkan kesadaran mengingat berbagai macam  kenikmatan, anugerah, serta perbuatan baik-Nya kepada makhluk-Nya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Adapun syukur adalah mengabdi kepada Allah dengan menaati-Nya, mendekatkan  diri kepada-Nya dengan hal-hal yang dicintai-Nya, baik yang bersifat lahir  ataupun batin. Dua perkara inilah simpul ajaran agama. Mengingat-Nya akan  melahirkan pengenalan (hamba) kepada-Nya.</p>
<p>Dan dalam bersyukur kepada-Nya terkandung ketaatan kepada-Nya. Kedua  perkara inilah tujuan diciptakannya jin dan manusia, langit dan bumi serta  segala sesuatu yang berada di antara keduanya. Lawan dari tujuan ini adalah  berupa kebatilan (kesia-siaan) dan main-main belaka. Allah Maha tinggi dan Maha  suci dari perbuatan semacam itu. Seperti itulah anggapan buruk yang ada pada  diri musuh-musuh-Nya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya, <em>&#8220;Dan tidaklah  Kami menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya  sia-sia, itulah yang disangka oleh orang-orang kafir itu.&#8221;</em> (Qs. Shad  [38]: 27)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya, <em>&#8220;Dan tidaklah Kami  menciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya sekedar  bermain-main saja. Tidaklah Kami menciptakan keduanya kecuali dengan tujuan  yang benar.&#8221;</em> (Qs. Ad Dukhan [44]: 38-39)</p>
<p>Allah juga berfirman yang artinya, <em>&#8220;Dan tidaklah Kami menciptakan  langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya kecuali dengan tujuan  yang benar, dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang.&#8221;</em> (Qs. Al  Hijr [15]: 85)</p>
<p>Allah berfirman setelah menyebutkan tanda-tanda kebesaran-Nya di awal surat  Yunus yang artinya, <em>&#8220;Tidaklah Allah menciptakan hal itu semua kecuali  dengan maksud yang benar.&#8221;</em> (Qs. Yunus [10]: 5)</p>
<p>Allah berfirman yang artinya, <em>&#8220;Apakah manusia mengira dia  ditinggalkan begitu saja.&#8221;</em> (Qs. Al Qiyamah [75]: 36). Allah berfirman  pula yang artinya, <em>&#8220;Apakah kalian mengira kalau Kami menciptakan kalian  hanya sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?&#8221;</em> (Qs. Al  Mu&#8217;minun [23]: 115)</p>
<p>Allah berfirman yang artinya, <em>&#8220;Dan tidaklah Kami menciptkan jin dan  manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.&#8221;</em> (Qs. Adz  Dzariyat [51]: 56)</p>
<p>Dalam ayat lainnya, <em>&#8220;Allah lah yang menciptakan tujuh lapis langit  dan bumi seperti itu pula. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui  bahwa sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu dan Allah ilmunya  meliputi segala sesuatu.&#8221;</em> (Qs. Ath Thalaq [65]: 12)</p>
<p>Allah berfirman yang artinya, <em>&#8220;Allah menjadikan ka&#8217;bah yaitu baitul  haram sebagai kiblat sholat bagi umat manusia, demikian pula bulan haram, hadyu  dan qalaa&#8217;id. Itu semua agar kalian mengetahui allah mengetahui segala sesuatu  yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, dan bahwasanya Allah Maha  mengetahui segala sesuatu.&#8221;</em> (Qs. Al Maa-idah [5]: 97).&#8221;</p>
<p>&#8220;Maka dengan disebutkannya ayat-ayat tersebut telah terbukti  bahwasanya tujuan penciptaan dan perintah ialah agar Allah diingat dan  disyukuri. Sehingga Dia akan selalu diingat dan tidak dilupakan. Akan selalu  disyukuri dan tidak diingkari. Allah Yang Maha suci akan mengingat siapa saja  yang mengingat diri-Nya. Dan Allah juga akan berterima kasih (membalas  kebaikan) kepada siapa saja yang bersyukur kepada-Nya.</p>
<p>Mengingat Allah adalah sebab Allah mengingat hamba. Dan bersyukur  kepada-Nya adalah sebab Allah menambahkan nikmat-Nya. Maka dzikir lebih  terfokus untuk kebaikan hati dan lisan. Syukur dari hati dalam bentuk rasa  cinta dan taubat yang disertai ketaatan. Adapun di lisan, syukur itu akan  tampak dalam bentuk pujian dan sanjungan. Dan syukur juga akan muncul dalam  bentuk ketaatan dan pengabdian oleh segenap anggota badan.&#8221; (<em>Al Fawa&#8217;id</em>,  hal. 124-125)</p>
<p><em>Wa shallallahu &#8216;ala  nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillaahi  Rabbil &#8216;alamiin.</em></p>
<p align="right">Yogyakarta, 9/1/1429</p>
<p><strong>Abu Mushlih Al Jukjakarti</strong></p>
<p>Semoga Allah mengampuninya, Kedua orang tuanya dan segenap kaum muslimin</p>
<p style="text-align: left;">***</p>
<p style="text-align: left;">Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Al Jukjakarti<br />
Atikel <a title="Tauhid dengan zikir dan syukur" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/melestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan-syukur.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-577"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmelestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan-syukur.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/melestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan-syukur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ringan di Lisan Berat di Timbangan</title>
		<link>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 11:11:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR.<a class="more" href="http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ’anhu</em> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.”</em> (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])</p>
<p>Syaikh al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> menerangkan, “Kedua kalimat ini merupakan penyebab kecintaan Allah kepada seorang hamba.” Beliau juga berpesan, “Wahai hamba Allah, sering-seringlah mengucapkan dua kalimat ini. Ucapkanlah keduanya secara kontinyu, karena kedua kalimat ini berat di dalam timbangan (amal) dan dicintai oleh ar-Rahman, sedangkan keduanya sama sekali tidak merugikanmu sedikitpun sementara keduanya sangat ringan diucapkan oleh lisan, <em>‘Subhanallahi wabihamdih, subhanallahil ‘azhim’</em>. Maka sudah semestinya setiap insan mengucapkan dzikir itu dan memperbanyaknya.” (<em>Syarh Riyadh as-Shalihin</em>, 3/446).</p>
<p><span id="more-534"></span></p>
<p>Di dalam hadits ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebut Allah dengan nama-Nya ar-Rahman –Yang Maha pemurah-. Hikmahnya adalah –<em>wallahu a’lam</em>- karena untuk menunjukkan keluasan kasih sayang Allah <em>ta’ala</em>. Sebagai contohnya, di dalam hadits ini diberitakan bahwa Allah berkenan memberikan balasan pahala yang banyak walaupun amal yang dilakukan hanya sedikit (lihat <em>Taudhih al-Ahkam</em>, 4/883)</p>
<p><strong>Subhanallahi Wabihamdih</strong><br />
Makna ucapan <em>subhanallah</em> –Maha suci Allah- adalah; anda menyucikan Allah <em>ta’ala</em> dari segala aib dan kekurangan dan anda menyatakan bahwa Allah Maha sempurna dari segala sisi. Hal itu diiringi dengan pujian kepada Allah –<em>wabihamdih</em>- yang menunjukkan kesempurnaan karunia dan kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepada makhluk serta kesempurnaan hikmah dan ilmu-Nya (lihat <em>Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin</em>, 3/446)</p>
<p>Apabila telah terpatri dalam diri seorang hamba mengenai pengakuan dan keyakinan terhadap kesucian pada diri Allah dari segala kekurangan dan aib, maka secara otomatis akan terpatri pula di dalam jiwanya bahwa Allah adalah Sang pemilik berbagai kesempurnaan sehingga yakinlah dirinya bahwa Allah adalah Rabb bagi seluruh makhluk-Nya. Sedangkan keesaan Allah dalam hal rububiyah tersebut merupakan hujjah/argumen yang mewajibkan manusia untuk mentauhidkan Allah dalam hal ibadah –tauhid uluhiyah-. Dengan demikian maka kalimat ini mengandung penetapan kedua macam tauhid tersebut –rububiyah dan uluhiyah- (lihat <em>Taudhih al-Ahkam</em>, 4/885)</p>
<p><strong>Makna pujian kepada Allah</strong><br />
<em>Al-Hamdu</em> atau pujian adalah sanjungan kepada Allah dikarenakan sifat-sifat-Nya yang sempurna, nikmat-nikmat-Nya yang melimpah ruah, kedermawanan-Nya kepada hamba-Nya, dan keelokan hikmah-Nya. Allah <em>ta’ala</em> memiliki nama, sifat dan perbuatan yang sempurna. Semua nama Allah adalah nama yang terindah dan mulia, tidak ada nama Allah yang tercela. Demikian pula dalam hal sifat-sifat-Nya tidak ada sifat yang tercela, bahkan sifat-sifat-Nya adalah sifat yang sempurna dari segala sisi. Perbuatan Allah juga senantiasa terpuji, karena perbuatan-Nya berkisar antara menegakkan keadilan dan memberikan keutamaan. Maka bagaimana pun keadaannya Allah senantiasa terpuji (lihat <em>al-Qawa’id al-Fiqhiyah</em> karya Syaikh as-Sa’di, hal. 7)</p>
<p>Syaikh al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, “<em>al-hamdu</em> adalah mensifati sesuatu yang dipuji dengan sifat-sifat sempurna yang diiringi oleh kecintaan dan pengagungan -dari yang memuji-, kesempurnaan dalam hal dzat, sifat, dan perbuatan. Maka Allah itu Maha sempurna dalam hal dzat, sifat, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.” (<em>Tafsir Juz ‘Amma</em>, hal. 10)</p>
<p><strong>Subhanallahil ‘Azhim</strong><br />
Makna ucapan ini adalah tidak ada sesuatu yang lebih agung dan berkuasa melebihi kekuasaan Allah <em>ta’ala</em> dan tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya daripada-Nya, tidak ada yang lebih dalam ilmunya daripada-Nya. Maka Allah ta’ala itu Maha agung dengan dzat dan sifat-sifat-Nya (lihat <em>Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin</em>, 3/446).</p>
<p>Hal itu menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan kekuasaan Allah <em>ta’ala</em>, inilah sifat-sifat yang dimiliki oleh-Nya. Di dalam bacaan dzikir ini tergabung antara pujian dan pengagungan yang mengandung perasaan harap dan takut kepada Allah <em>ta’ala</em> (lihat <em>Taudhih al-Ahkam</em>, 4/884-885).</p>
<div class="shr-publisher-534"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdoa-dan-wirid%2Fringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

