<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Biografi</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/biografi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 00:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Syi’ah Mencela Ummul Mukminin, ‘Aisyah</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/syi%e2%80%99ah-mencela-ummul-mukminin-%e2%80%98aisyah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/syi%e2%80%99ah-mencela-ummul-mukminin-%e2%80%98aisyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 03:30:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[rafidhah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8759</guid>
		<description><![CDATA[Di antara bentuk kesesatan Syi’ah Rofidhoh adalah perbuatannya yang mencela bahkan menghina ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan perkataan atau perbuatan yang sangat keji dan munkar. Padahal ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merupakan Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/syi%e2%80%99ah-mencela-ummul-mukminin-%e2%80%98aisyah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Di antara bentuk kesesatan Syi’ah Rofidhoh adalah perbuatannya yang mencela bahkan menghina ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan perkataan atau perbuatan yang sangat keji dan munkar. Padahal ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merupakan Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan istri yang paling dicintainya. Lantas, apa saja kemuliaan yang dimiliki ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sehingga orang lain tidak berhak untuk mencela atau menghinanya? Mari kita simak pembahasan berikut:</p>
<p><strong>Nama dan keturunan</strong><br />
Nama beliau adalah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdillah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah al-Makkiyyah. (1 mukhtashor al kabir fi sirah rasul, maktabah syamilah)<br />
Ayahnya adalah Abu Bakar Ash Shidiq, Amirul Mukminin yang mempunyai kemuliaan yang agung dalam islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia setelah rasulullah adalah Abu Bakar”. (HR Ibnu Majah, dishohihkan Albani dalam Shohih Ibnu Majah)<br />
Dan ibunya adalah salah satu seorang pemuka shahabiyah yaitu Ummu Ruman binti ‘Amir. Seorang Shahabiyah yang mempersembahkan pengorbanan yang amat banyak bagi kemashalahatan agama islam. (Sirah Shahabiyah Hal 131, Pustaka As-Sunnah)<br />
Beliau lahir dalam masa islam dan dilahirkan oleh orang tua yang mulia dan beriman kepada Allah. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Ketika aku mulai bisa mengenal orang tuaku kudapati mereka telah memeluk islam. (Siyar A’lamin Nubala 2/139, Sirah Shahabiyah Pustaka As-Sunnah)</p>
<p><strong>Celaan Syi’ah kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha</strong><br />
Di antara bentuk makar Syi’ah untuk menjatuhkan islam adalah dengan mencela dan menghina Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Karena dengan mencelanya, hilanglah seperempat syariat islam yang dibawanya, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah berkata, “Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha seperempat syariat”.<br />
Hal inilah yang coba diupayakan oleh Syi’ah untuk menghancurkan islam, ketika seorang muslim tidak memuliakan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, maka semua hadits yang diriwayatkannya akan tertolak dan tidak akan dijadikan pedoman dalam syariat islam.</p>
<p><em>Di antara bentuk celaan syiah kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha</em><br />
1. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mempunyai akhlak dan perangai yang buruk<br />
Hal ini tertulis di bukunya Ali bin Ibrahim Al Qummi di dalam tafsirnya 2/192. Dalam buku itu disebutkan bahwa perangai istri nabi sangatlah buruk dan tidak berakhlak.<br />
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia karena diracuni oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.<br />
Di dalam Tafsirul Iyasy 1/200, karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy disebutkan bahwa yang menyebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal adalah karena diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.<br />
3. Istri-istri nabi adalah para pelacur<br />
Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”<br />
4. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah ibu dari syaithan<br />
Dikatakan oleh Al Bayadhi di dalam kitabnya Ash Shirathal Mustaqim 3/135 dan 161, bahwa Aisyah digelari Ummu Asy-Syurur (ibunya kejelekan) dan Ummu Asy-Syaithan (ibunya syaithan). (Dikutip dari Bulletin Islam Al Ilmu Edisi 30/I/II/1425)<br />
Lihatlah kedustaan kaum Syi’ah, bagaimana keji dan kejamnya Syi’ah dalam mencela ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang merupakan Ummul Mukminin, yang bahkan namanya disucikan oleh Allah dan diabadikan dalam Al Qur’an.<br />
Untuk membantah tuduhan-tuduhan tersebut, lihatlah bagaimana keutamaan-keutamaan dan kemuliaan ‘Aisyah di hadapan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p><strong>Kedudukan ‘Aisyah di hati Rasulullah</strong><br />
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling engkau cintai?” Beliau balik bertanya: “Kenapa engkau tanyakan itu?” Jawabku: “Agar aku mencintai orang yang engkau cintai”. Rasulullah berkata: “’Aisyah”. (lihat kitab Al Majma’ (15309), Sirah Shahabiyah, Pustaka assunnah)<br />
Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah, Rasulullah berkata: “Apakah engkau bersedia untuk menjadi istriku di dunia dan akhirat?” Jawabku: “Tentu bersedia”. Demi Allah. Maka beliau bersabda: “Engkau adalah istriku di dunia dan di akhirat”. (HR Al-hakim 4/10, sirah shahabiyah pustaka assunnah)<br />
Dalam hadits yang lain, Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “’Aisyah” (HR Bukhori no 3462 dan HR Muslim no 6328, maktabah syamilah)<br />
Lihatlah bagaimana kedudukan dan keutamaan ‘Aisyah di hati Rasulullah, beliau adalah istri Rasulullah di dunia dan di akhirat dan wanita yang sangat dicintainya.<br />
Bukankah bentuk ketaatan dan kecintaan kepada rasul adalah dengan mencintai apa yang Rasul cinta dan membenci apa yang Rasul benci? Ketika Rasulullah sangat mencintai ‘Aisyah, maka pantaskah kita membenci dan mencelanya?</p>
<p><strong>Keutamaan dan Kemuliaan ‘Aisyah</strong><br />
Banyak sekali keutamaan yang dimiliki ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahkan Rasulullah menggambarkan keutamaannya layaknya tsarid (bubur daging dan roti) yang merupakan makanan paling utama dan kebanggaan bangsa arab.<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan ‘Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))</p>
<p><em>Di antara keutamaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha lainnya:</em><br />
1. ‘Aisyah adalah wanita satu-satunya yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan masih gadis.<br />
Aisyah mengatakan, “Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para malaikat menaungi rumahku, Al-Quran turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilhairkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengna ampunan dan rezeki yang mulia.” (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah (2/398))</p>
<p>2. Pernikahan Rasulullah dengan ‘Aisyah berdasarkan wahyu Allah<br />
“Engkau ditampakkan padaku dalam mimpi selama tiga malam; seorang malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu’, maka aku menyingkap wajahmu dan ternyata engkau, lalu kukatakan, ‘Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti Dia akan menjalankannya’.” (HR Bukhari no 3682 dan Muslim no 6436, Maktabah Syamilah)</p>
<p>3. Malaikat Jibril menyampaikan salam untuk ‘Aisyah<br />
Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, Abu Salamah berkata: “Sesungguhnya malaikat Jibril mengucapkam salam kepadamu”. Aisyah berkata: Lalu aku menjawab: “wa’alaihissalam wa rahmatullah”. (HR Bukhori 3045, HR Muslim 6454, maktabah syamilah)</p>
<p>4. Keberkahan umat islam dengan sebab ‘Aisyah<br />
Bahwasanya ‘Aisyah pernah meminjam dari Asma’ sebuah kalung yang kemudian kalung tersebut hilang di dalam perjalanan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mencarinya sampai akhirnya masuk waktu sholat sementara mereka tidak ada air. Lalu merekapun sholat, kemudian mereka mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah pun menurunkan ayat tentang tayammum, maka Usaid bin Hudhair berkata kepada ‘Aisyah, “Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan, demi Allah tidaklah menimpamu sesuatu yang engkau benci melainkan Allah menjadikan padanya kebaikan bagimu dan bagi kaum muslimin.” (HR Bukhori no. 329, Maktabah Syamilah)</p>
<p>5. Wahyu turun ketika Rasulullah bersama ‘Aisyah<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak pernah menurunkan wahyu kepadaku ketika aku sedang berada di selimut salah seorang di antara kalian selain ‘Aisyah. (HR Bukhori 3564, maktabah syamilah)</p>
<p>6. ‘Aisyah adalah wanita yang disucikan namanya dari langit ketujuh dan diabadikan dalam Al-Qur’an<br />
Inilah keutamaan terbesar yang diberikan Allah untuk ‘Aisyah. Surat An-Nur ayat 11-26 merupakan ayat yang turun berkenaan dengan berita dusta terhadapnya. Dengan turunnya ayat ini, maka terbantahlah tuduhan-tuduhan keji dan dusta tersebut.<br />
Allah telah mengisyaratkan bahwa ‘Aisyah adalah wanita yang baik, wanita yang menjaga kesuciaannya dan bagi pendusta adalah adzab yang pedih di dunia dan akhirat.<br />
Allah Ta’ala berfirman,<br />
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”. (QS. An Nur: 19)<br />
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la&#8217;nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar”. (QS. An Nur: 23)<br />
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ<br />
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (QS. An Nur: 26)</p>
<p><strong>Kesaksian para sahabat akan keutamaan dan keilmuan‘Aisyah</strong><br />
Az-Zuhri berkata, “Kalau ilmu ‘Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh perempuan, pasti ilmu ‘Aisyah lebih banyak”.<br />
Urwah bin Zubair berkata, “Aku tidak pernah melihat orang lebih mengerti tentang fikih, dunia pengobatan dan tentang syair daripada ‘Aisyah”. (Thabaqat Ibnu Sa’ad 7/39-56, Sirah Shahabiyah Pustaka As-Sunnah)<br />
Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Setiap kali kami para sahabat Rasulullah mendapat kesulitan tentang suatu hadits, kami selalu bertanya kepada ‘Aisyah, maka kami akan mendapatkan pengetahuan darinya”. (HR Tirmidzi 3883, Dia berkata: “Hadits hasan shahih gharib”)<br />
Masruq pernah ditanya, “Apakah ‘Aisyah pandai dalam ilmu waris? Dia menjawab: “Demi Allah, Aku melihat para pemuka Sahabat Rasulullah bertanya kepada ‘Aisyah tentang ilmu waris”. (Min Akhlaqil ‘Ulama, hal 61)</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Hal di atas adalah segelintir dari keutamaan yang dimiliki oleh ‘Aisyah untuk membantah Syi’ah. Masih banyak hal yang perlu kita ketahui dari pribadi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, baik dalam segi akhlak, kezuhudan, kecerdasan, amal ibadah dan yang lainnya. Sehingga semakin sempitlah celah-celah untuk kedustaan padanya dan semakin besarlah kecintaan kita kepadanya.<br />
Semoga dengan tulisan ini, dapat memberi gambaran bagi kita akan kedudukan ‘Aisyah dalam islam, bagaimana kemuliaannya, bagaimana keutamaannya dan memberi bantahan terhadap tuduhan-tuduhan yang diberikan Syi’ah atasnya.</p>
<p>Penulis: Rian Permana<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8759"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fsyi%25e2%2580%2599ah-mencela-ummul-mukminin-%25e2%2580%2598aisyah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/syi%e2%80%99ah-mencela-ummul-mukminin-%e2%80%98aisyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu&#8217;anhu</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Mar 2012 23:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[abu bakr]]></category>
		<category><![CDATA[ash shiddiq]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[khulafaur rosyidin]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8725</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Syaikh &#8216;Abdurrahman bin &#8216;Abdillah As Suhaim hafizhahullah Nama Nama beliau -menurut pendapat yang shahih- adalah Abdullah bin &#8216;Utsman bin &#8216;Amir bin &#8216;Amr bin Ka&#8217;ab bin Sa&#8217;ad bin Taiym bin Murrah bin Ka&#8217;ab bin Lu&#8217;ay<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p style="text-align: left;" align="center">Penulis: Syaikh &#8216;Abdurrahman bin &#8216;Abdillah As Suhaim <em>hafizhahullah</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Nama </strong></span></p>
<p>Nama beliau -menurut pendapat yang shahih- adalah Abdullah bin &#8216;Utsman bin &#8216;Amir bin &#8216;Amr bin Ka&#8217;ab bin Sa&#8217;ad bin Taiym bin Murrah bin Ka&#8217;ab bin Lu&#8217;ay Al Qurasyi At Taimi.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kun-yah</strong></span></p>
<p>Beliau memiliki kun-yah: Abu Bakar</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Laqb (Julukan)</strong></span></p>
<p>Beliau dijuluki dengan <em>&#8216;Atiq</em> (عتيق) dan <em>Ash Shiddiq</em> (الصدِّيق).</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa alasan beliau dijuluki <em>&#8216;Atiq</em> karena beliau tampan. Sebagian mengatakan karena beliau berwajah cerah. Pendapat lain mengatakan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan. Sebagian juga mengatakan bahwa ibu beliau awalnya tidak kunjung hamil, ketika ia hamil maka ibunya berdoa,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اللهم إن هذا عتيقك من الموت ، فهبه لي</p>
<p>“<em>Ya Allah, jika anak ini engkau bebaskan dari maut, maka hadiahkanlah kepadaku</em>”</p>
<p>Dan ada beberapa pendapat lain.</p>
<p>Sedangkan julukan <em>Ash Shiddiq</em> didapatkan karena beliau membenarkan kabar dari Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra Mi&#8217;raj, orang-orang kafir berkata kepadanya: &#8216;Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam&#8217;. Beliau menjawab:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;"> إن كان قال فقد صدق</p>
<p>“<em>Jika ia berkata demikian, maka itu benar</em>”</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala pun menyebut beliau sebagai Ash Shiddiq:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَالَّذِي جَاء بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ</p>
<p>“<em>Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa</em>” (QS. Az Zumar: 33)</p>
<p>Tafsiran para ulama tentang ayat ini, yang dimaksud &#8216;orang yang datang membawa kebenaran&#8217; (جَاء بِالصِّدْقِ) adalah Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan yang dimaksud &#8216;orang yang membenarkannya&#8217; (صَدَّقَ بِهِ) adalah Abu Bakar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>.</p>
<p>Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq karena beliau adalah lelaki pertama yang membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad  <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. </em>Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> telah menamai beliau dengan Ash Shiddiq sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم صعد أُحداً وأبو بكر وعمر وعثمان ، فرجف بهم فقال : اثبت أُحد ، فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان</p>
<p>“Dari Anas bin Malik Radhiallahu&#8217;anhu bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan &#8216;Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: <em>&#8216;Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada&#8217; (‘Umar dan ‘Utsman)</em>”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kelahiran</strong></span></p>
<p>Beliau dilahirkan 2 tahun 6 bulan setelah tahun gajah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ciri Fisik</strong></span></p>
<p>Beliau berkulit putih, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai <em>hinaa </em>dan <em>katm</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jasa-jasa</strong></span></p>
<ul>
<li>Jasanya yang paling besar adalah masuknya ia ke dalam Islam paling pertama.</li>
<li>Hijrahnya beliau bersama Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></li>
<li>Ketegaran beliau ketika hari wafatnya Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></li>
<li>Sebelum terjadi hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, &#8216;Amir bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu&#8217;ammal, Ummu &#8216;Ubais</li>
<li>Salah satu jasanya yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang-orang murtad</li>
</ul>
<p>Abu Bakar adalah lelaki yang lemah lembut, namun dalam hal memerangi orang yang murtad, beliau memiliki pendirian yang kokoh. Bahkan lebih tegas dan keras daripada Umar bin Khattab yang terkenal akan keras dan tegasnya beliau dalam pembelaan terhadap Allah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لما توفى النبي صلى الله عليه وسلم واستُخلف أبو بكر وكفر من كفر من العرب قال عمر : يا أبا بكر كيف تقاتل الناس وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أمِرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله ، فمن قال لا إله إلا الله عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله ؟ قال أبو بكر : والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة ، فإن الزكاة حق المال ، والله لو منعوني عناقا كانوا يؤدونها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لقاتلتهم على منعها . قال عمر : فو الله ما هو إلا أن رأيت أن قد شرح الله صدر أبي بكر للقتال فعرفت أنه الحق</p>
<p>“<em>Ketika Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam wafat, dan Abu Bakar menggantikannya, banyak orang yang kafir dari bangsa Arab. Umar berkata: &#8216;Wahai Abu Bakar, bisa-bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda, aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah, barangsiapa yang mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya, kecuali dengan hak (jalan yang benar). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah?&#8217; Abu Bakar berkata: &#8216;Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam, akan ku perangi dia&#8217;. Umar berkata: &#8216;Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran</em>&#8216;”</p>
<p>Begitu tegas dan kerasnya sikap beliau sampai-sampai para ulama berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">نصر الله الإسلام بأبي بكر يوم الردّة ، وبأحمد يوم الفتنة</p>
<p>“Allah menolong Islam melalui Abu Bakar di hari ketika banyak orang murtad, dan melalui Ahmad (bin Hambal) di hari ketika terjadi fitnah (<em>khalqul Qur&#8217;an</em>)”</p>
<p>Abu Bakar pun memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat ketika itu</p>
<ul>
<li>Musailamah <em>Al Kadzab</em> dibunuh di masa pemerintahan beliau</li>
<li>Beliau mengerahkan pasukan untuk menaklukan Syam, sebagaimana keinginan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Dan akhirnya Syam pun di taklukan, demikian juga Iraq.</li>
<li>Di masa pemerintahan beliau, Al Qur&#8217;an dikumpulkan. Beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya.</li>
<li>Abu Bakar adalah orang yang bijaksana. Ketika ia tidak ridha dengan dilepaskannya Khalid bin Walid, ia berkata:</li>
</ul>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">والله لا أشيم سيفا سله الله على عدوه حتى يكون الله هو يشيمه</p>
<p>“<em>Demi Allah, aku tidak akan menghunus pedang yang Allah tujukan kepada musuhnya sampai Allah yang menghunusnya</em>” (HR. Ahmad dan lainnya)</p>
<p>Ketika masa pemerintahan beliau, terjadi peperangan. Beliau pun bertekad untuk pergi sendiri memimpin perang, namun Ali bin Abi Thalib memegang tali kekangnya dan berkata: &#8216;Mau kemana engkau wahai khalifah? Akan kukatakan kepadamu perkataan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ketika perang Uhud:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">شِـمْ سيفك ولا تفجعنا بنفسك . وارجع إلى المدينة ، فو الله لئن فُجعنا بك لا يكون للإسلام نظام أبدا</p>
<p>&#8216;<em>Simpanlah pedangmu dan janganlah bersedih atas keadaan kami. Kembalilah ke Madinah. Demi Allah, jika keadaan kami membuatmu sedih Islam tidak akan tegak selamanya</em>&#8216;. Lalu Abu Bakar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> pun kembali dan mengutus pasukan.</p>
<ul>
<li>Beliau juga sangat mengetahui nasab-nasab bangsa arab</li>
</ul>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan</strong></span></p>
<p>Tidak ada lelaki yang memiliki keutaman sebanyak keutamaan Abu Bakar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em></p>
<p><strong>1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dari golongan umat beliau</strong></p>
<p>Ibnu &#8216;Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كنا نخيّر بين الناس في زمن النبي صلى الله عليه وسلم ، فنخيّر أبا بكر ، ثم عمر بن الخطاب ، ثم عثمان بن عفان رضي الله عنهم</p>
<p>“<em>Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu &#8216;Utsman bin Affan Radhiallahu&#8217;anhu</em>” (HR. Bukhari)</p>
<p>Dari Abu Darda <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, ia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كنت جالسا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أقبل أبو بكر آخذا بطرف ثوبه حتى أبدى عن ركبته فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أما صاحبكم فقد غامر . وقال : إني كان بيني وبين ابن الخطاب شيء ، فأسرعت إليه ثم ندمت فسألته أن يغفر لي فأبى عليّ ، فأقبلت إليك فقال : يغفر الله لك يا أبا بكر &#8211; ثلاثا &#8211; ثم إن عمر ندم فأتى منزل أبي بكر فسأل : أثَـمّ أبو بكر ؟ فقالوا : لا ، فأتى إلى النبي فجعل وجه النبي صلى الله عليه وسلم يتمعّر ، حتى أشفق أبو بكر فجثا على ركبتيه فقال : يا رسول الله والله أنا كنت أظلم &#8211; مرتين &#8211; فقال النبي صلى الله عليه وسلم : إن الله بعثني إليكم فقلتم : كذبت ، وقال أبو بكر : صَدَق ، وواساني بنفسه وماله ، فهل أنتم تاركو لي صاحبي – مرتين &#8211; فما أوذي بعدها</p>
<p>“Aku pernah duduk di sebelah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam berkata: &#8216;<em>Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah</em>&#8216;. Lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang&#8217;. Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> lalu berkata: &#8216;“<em>Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar</em>&#8216;. Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Sementara wajah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah”, sebanyak dua kali. Maka Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda, &#8216;<em>Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, ”Engkau pendusta wahai Muhammad”, Sementara Abu Bakar berkata, ”Engkau benar wahai Muhammad”. Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku?</em>&#8216; sebanyak dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti” (HR. Bukhari)</p>
<p>Beliau juga orang yang paling pertama beriman kepada Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, menemani Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan membenarkan perkataannya. Hal ini terus berlanjut selama Rasulullah tinggal di Mekkah, walaupun banyak gangguan yang datang. Abu Bakar juga menemani Rasulullah ketika hijrah.</p>
<p><strong>2. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang menemani Nabi Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam di gua ketika dikejar kaum Quraisy</strong></p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا</p>
<p>“<em>Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: &#8220;Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita&#8221;</em>” (QS. At Taubah: 40)</p>
<p>As Suhaili berkata: “Perhatikanlah baik-baik di sini Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>  berkata &#8216;janganlah kamu bersedih&#8217; namun tidak berkata &#8216;janganlah kamu takut&#8217; karena ketika itu rasa sedih Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sangat mendalam sampai-sampai rasa takutnya terkalahkan”.</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, Abu Bakar berkata kepadanya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">نظرت إلى أقدام المشركين على رؤوسنا ونحن في الغار فقلت : يا رسول الله لو أن أحدهم نظر إلى قدميه أبصرنا تحت قدميه . فقال : يا أبا بكر ما ظنك باثنين الله ثالثهما</p>
<p>“<em>Ketika berada di dalam gua, aku melihat kaki orang-orang musyrik berada dekat dengan kepala kami. Aku pun berkata kepada Rasulullah: &#8216;Wahai Rasulullah, kalau di antara mereka ada yang melihat kakinya, mereka akan melihat kita di bawah kaki mereka&#8217;. Rasulullah berkata: &#8216;Wahai Abu Bakar, engkau tidak tahu bahwa bersama kita berdua yang ketiga adalah Allah&#8217;</em>”</p>
<p>Ketika hendak memasuki gua pun, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada hal yang dapat membahayakan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Juga ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar terkadang berjalan di depan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, terkadang di belakangnya, terkadang di kanannya, terkadang di kirinya.</p>
<p>Oleh karena itu ketika masa pemerintahan Umar bin Khattab <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> ada sebagian orang yang menganggap Umar lebih utama dari Abu Bakar, maka Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> pun berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">والله لليلة من أبي بكر خير من آل عمر ، وليوم من أبي بكر خير من آل عمر ، لقد خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم لينطلق إلى الغار ومعه أبو بكر ، فجعل يمشي ساعة بين يديه وساعة خلفه ، حتى فطن له رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا أبا بكر مالك تمشي ساعة بين يدي وساعة خلفي ؟ فقال : يا رسول الله أذكر الطلب فأمشي خلفك ، ثم أذكر الرصد فأمشي بين يديك . فقال :يا أبا بكر لو كان شيء أحببت أن يكون بك دوني ؟ قال : نعم والذي بعثك بالحق ما كانت لتكون من مُلمّة إلا أن تكون بي دونك ، فلما انتهيا إلى الغار قال أبو بكر : مكانك يا رسول الله حتى استبرئ الجحرة ، فدخل واستبرأ ، قم قال : انزل يا رسول الله ، فنزل . فقال عمر : والذي نفسي بيده لتلك الليلة خير من آل عمر</p>
<p>“<em>Demi Allah,  satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar, satu harinya Abu Bakar masih lebih baik dari seharinya keluarga Umar. Abu Bakar bersama Rasulullah pergi ke dalam gua. Ketika berjalan, dia terkadang berada di depan Rasulullah dan terkadang di belakangnya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam heran dan berkata: &#8216;Wahai Abu Bakar mengapa engkau berjalan terkadang di depan dan terkadang di belakang?&#8217;. Abu Bakar berkata: &#8216;Ya Rasulullah, ketika saya sadar kita sedang dikejar, saya berjalan di belakang. Ketika saya sadar bahwa kita sedang mengintai, maka saya berjalan di depan&#8217;. Rasulullah lalu berkata: &#8216;Wahai Abu Bakar, kalau ada sesuatu yang aku suka engkau saja yang melakukannya tanpa aku?&#8217; Abu Bakar berkata: &#8216;Demi Allah, tidak ada yang lebih tepat melainkan hal itu aku saja yang melakukan tanpa dirimu&#8217;. Ketika mereka berdua sampai di gua, Abu Bakar berkata: &#8216;Ya Rasulullah aku akan berada di tempatmu sampai memasuki gua. Kemudian mereka masuk, Abu Bakar berkata: Turunlah wahai Rasulullah. Kemudian mereka turun. Umar berkata: &#8216;Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar&#8217;</em>&#8216;” (HR. Al Hakim, Al Baihaqi dalam <em>Dalail An Nubuwwah</em>)</p>
<p><strong>3. Ketika kaum muslimin hendak berhijrah, Abu Bakar Ash Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya</strong>.  (Dalilnya disebutkan pada poin 8, pent.)</p>
<p><strong>4. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalifah pertama</strong></p>
<p>Dan kita diperintahkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> untuk meneladani <em>khulafa ar rasyidin</em>, sebagaimana sabda beliau:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ</p>
<p>“<em>Hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku. Gigitlah dengan gigi geraham kalian</em>” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan lainnya. Hadits ini shahih dengan seluruh jalannya)</p>
<p><strong>5. Abu Bakar Ash Shiddiq dipilih sebagai khalifah berdasarkan nash</strong></p>
<p>Ketika Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama&#8217;ah. Dalam <em>Shahihain</em>, dari &#8216;Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anha</em> ia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لما مَرِضَ النبيّ صلى الله عليه وسلم مرَضَهُ الذي ماتَ فيه أَتاهُ بلالٌ يُؤْذِنهُ بالصلاةِ فقال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصَلّ . قلتُ : إنّ أبا بكرٍ رجلٌ أَسِيفٌ [ وفي رواية : رجل رقيق ] إن يَقُمْ مَقامَكَ يبكي فلا يقدِرُ عَلَى القِراءَةِ . قال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ . فقلتُ مثلَهُ : فقال في الثالثةِ &#8211; أَوِ الرابعةِ &#8211; : إِنّكنّ صَواحبُ يوسفَ ! مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ ، فصلّى</p>
<p>“<em>Ketika Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta idzin untuk memulai shalat. Rasulullah bersabda: &#8216;Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah&#8217;. &#8216;Aisyah berkata: &#8216;Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an. Nabi tetap berkata: &#8216;Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah&#8217;. &#8216;Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata: &#8216;Sesungguhnya kalian itu orang-orang yang lembut, maka perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah&#8217;</em>”</p>
<p>Oleh karena itu Umar bin Khattab <em>Radhiallahu&#8217;anhu </em>berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أفلا نرضى لدنيانا من رضيه رسول الله صلى الله عليه وسلم لديننا</p>
<p>“<em>Apakah kalian tidak ridha kepada Abu Bakar dalam masalah dunia, padahal Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam telah ridha kepadanya dalam masalah agama?</em>”</p>
<p>Juga diriwayatkan dari &#8216;Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anha</em>, ia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه : ادعي لي أبا بكر وأخاك حتى اكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمنٍّ ويقول قائل : أنا أولى ، ويأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر وجاءت امرأة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فكلمته في شيء فأمرها بأمر ، فقالت : أرأيت يا رسول الله إن لم أجدك ؟ قال : إن لم تجديني فأتي أبا بكر</p>
<p>“<em>Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam berkata kepadaku ketika beliau sakit, panggilah Abu Bakar dan saudaramu agar aku dapat menulis surat. Karena aku khawatir akan ada orang yang berkeinginan lain (dalam masalah khilafah) sehingga ia berkata: &#8216;Aku lebih berhak&#8217;. Padahal Allah dan kaum mu&#8217;minin menginginkan Abu Bakar (yang menjadi khalifah). Kemudian datang seorang perempuan kepada Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam mengatakan sesuatu, lalu Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya. Apa pendapatmu wahai Rasulullah kalau aku tidak menemuimu? Nabi menjawab: &#8216;Kalau kau tidak menemuiku, Abu Bakar akan datang&#8217;</em>” (HR. Bukhari-Muslim)</p>
<p><strong>6. Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar Ash Shiddiq</strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر</p>
<p>“<em>Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar</em>” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih)</p>
<p><strong>7. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah seorang mufti di masa Nabi Muhammad</strong></p>
<p>Oleh karena itu Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menugasi beliau sebagai Amirul Hajj pada haji sebelum haji Wada&#8217;. Diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">بعثني أبو بكر الصديق في الحجة التي أمره عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل حجة الوداع في رهط يؤذنون في الناس يوم النحر : لا يحج بعد العام مشرك ، ولا يطوف بالبيت عريان</p>
<p>“<em>Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusku untuk dalam sebuah ibadah haji yang terjadi sebelum haji Wada&#8217;, dimana beliau ditugaskan oleh Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam untuk menjadi Amirul Hajj. Ia mengutusku untuk mengumumkan kepada sekelompok orang di hari raya idul adha bahwa tidak boleh berhaji setelah tahunnya orang musyrik dan tidak boleh ber-thawaf di baitul &#8216;Uryan”</em></p>
<p>Abu Bakar juga sebagai pemegang bendera Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ketika perang Tabuk.</p>
<p><strong>8. Abu Bakar Ash Shiddiq menginfaqkan seluruh hartanya ketika Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menganjurkan sedekah</strong></p>
<p>Umar bin Khattab <em>Radhiallahu&#8217;anhu </em>berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدق ، فوافق ذلك مالاً فقلت : اليوم أسبق أبا بكر إن سبقته يوما . قال : فجئت بنصف مالي ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما أبقيت لأهلك ؟ قلت : مثله ، وأتى أبو بكر بكل ما عنده فقال : يا أبا بكر ما أبقيت لأهلك ؟ فقال : أبقيت لهم الله ورسوله ! قال عمر قلت : والله لا أسبقه إلى شيء أبدا</p>
<p>“<em>Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: &#8216;Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar&#8217;. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bertanya: &#8216;Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?&#8217;. Kujawab: &#8216;Semisal dengan ini&#8217;. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam lalu bertanya: &#8216;Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?&#8217;. Abu Bakar menjawab: &#8216;Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya&#8217;. Umar berkata: &#8216;Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya&#8217;</em>” (HR. Tirmidzi)</p>
<p><strong>9. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang paling dicintai Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></strong></p>
<p>&#8216;Amr bin Al Ash <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> bertanya kepada Nabi <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أي الناس أحب إليك ؟ قال : عائشة . قال : قلت : من الرجال ؟ قال : أبوها</p>
<p>“<em>Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah menjawab: &#8216;Aisyah&#8217;. Aku bertanya lagi: &#8216;Kalau laki-laki?&#8217;. Beliau menjawab: &#8216;Ayahnya Aisyah&#8217; (yaitu Abu Bakar)</em>” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>10. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah <em>khalil</em> bagi Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></strong></p>
<p>Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Sa&#8217;id Al Khudri <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, ia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">خطب رسول الله صلى الله عليه وسلم الناس وقال : إن الله خير عبدا بين الدنيا وبين ما عنده فاختار ذلك العبد ما عند الله . قال : فبكى أبو بكر ، فعجبنا لبكائه أن يخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم عن عبد خير ، فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو المخير ، وكان أبو بكر أعلمنا . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن مِن أمَنّ الناس عليّ في صحبته وماله أبا بكر ، ولو كنت متخذاً خليلاً غير ربي لاتخذت أبا بكر ، ولكن أخوة الإسلام ومودته ، لا يبقين في المسجد باب إلا سُـدّ إلا باب أبي بكر</p>
<p>“<em>Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam berkhutbah kepada manusia, beliau berkata: &#8216;Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala memilih hamba di antara dunia dan apa yang ada di dalamnya. Namun hamba tersebut hanya dapat memilih apa yang Allah tentukan&#8217;. Lalu Abu Bakar menangis. Kami pun heran dengan tangisan beliau itu, hanya karena Rasulullah mengabarkan tentang hamba pilihan. Padahal Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam lah orangnya, dan Abu Bakar lebih paham dari kami. Lalu Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda: &#8216;Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam kedekatan dan kerelaan mengeluarkan harta, ialah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seorang kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja&#8217;</em>”</p>
<p><strong>11. Allah Ta&#8217;ala mensucikan Abu Bakar Ash Shiddiq</strong></p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَسَيُجَنَّبُهَا الأَتْقَى * الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى * وَمَا لأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَى * إِلا ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِ الأَعْلَى * وَلَسَوْفَ يَرْضَى</p>
<p>“<em>Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan</em>” (QS. Al Lail: 17-21)</p>
<p>Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq. Selain itu beliau juga termasuk <em>as sabiquunal awwalun</em>, dan Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  Itulah kemenangan yang besar.</em>” (QS. At Taubah: 100)</p>
<p><strong>12. Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> memberi <em>tazkiyah</em> kepada Abu Bakar</strong></p>
<p>Ketika Abu Bakar bertanya kepada Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">من جرّ ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة . قال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لست تصنع ذلك خيلاء</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang membiarkan kainnya terjulur karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar berkata: &#8216;Sesungguhnya salah satu sisi sarungku melorot kecuali jika aku ikat dengan baik. Rasulullah lalu berkata: &#8216;Engkau tidak melakukannya karena sombong&#8221;</em>” (HR. Bukhari dalam <em>Fadhail Abu Bakar</em> <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p><strong>13. Abu Bakar Ash Shiddiq didoakan oleh Nabi untuk memasuki semua pintu surga</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">من أنفق زوجين من شيء من الأشياء في سبيل الله دُعي من أبواب الجنة : يا عبد الله هذا خير ؛ فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة ، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد ، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة ، ومن كان من أهل الصيام دُعي من باب الصيام وباب الريان . فقال أبو بكر : ما على هذا الذي يدعى من تلك الأبواب من ضرورة ، فهل يُدعى منها كلها أحد يا رسول الله ؟ قال : نعم ، وأرجو أن تكون منهم يا أبا بكر</p>
<p>“<em>Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah</em>” (HR. Al Bukhari &#8211; Muslim)</p>
<p><strong>14. Abu Bakar Ash Shiddiq melakukan banyak perbuatan agung dalam sehari</strong></p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">: من أصبح منكم اليوم صائما ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن تبع منكم اليوم جنازة ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن أطعم منكم اليوم مسكينا ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن عاد منكم اليوم مريضا ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما اجتمعن في امرىء إلا دخل الجنة</p>
<p><em>“Siapa yang hari ini berpuasa? Abu Bakar menjawab: &#8216;Saya&#8217;”</em></p>
<p><em>“Siapa yang hari ini ikut mengantar jenazah? Abu Bakar menjawab: &#8216;Saya&#8217;”</em></p>
<p><em>“Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab: &#8216;Saya&#8217;”</em></p>
<p><em>“Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab: &#8216;Saya&#8217;”</em></p>
<p><em>“Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam lalu bersabda: &#8216;Tidaklah semua ini dilakukan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga&#8217;</em>”</p>
<p><strong>15. Orang musyrik mensifati Abu Bakar Ash Shiddiq sebagaimana Khadijah mensifati Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></strong></p>
<p>Mereka berkata tentang Abu Bakar:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أَتُخْرِجُونَ رَجُلًا يُكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَيَصِلُ الرَّحِمَ وَيَحْمِلُ الْكَلَّ وَيَقْرِي الضَّيْفَ وَيُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ</p>
<p>“Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>16. Ali <em>Radhiallahu&#8217;anhu </em>mengenal keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq</strong></p>
<p>Muhammad bin Al Hanafiyyah berkata, aku bertanya kepada ayahku, yaitu Ali bin Abi Thalib:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أي الناس خير بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : أبو بكر . قلت : ثم من ؟ قال : ثم عمر ، وخشيت أن يقول عثمان قلت : ثم أنت ؟ قال : ما أنا إلا رجل من المسلمين</p>
<p>“<em>Manusia mana yang terbaik sepeninggal Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam? Ali menjawab: Abu Bakar. Aku berkata: &#8216;Kemudian siapa lagi?&#8217;. Ali berkata: &#8216;Lalu Umar&#8217;. Aku lalu khawatir yang selanjutnya adalah Utsman, maka aku berkata: &#8216;Selanjutnya engkau?&#8217;. Ali berkata: &#8216;Aku ini hanyalah orang muslim biasa&#8217;</em>” (HR. Bukhari)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Sikap Zuhud</strong></span></p>
<p>Abu Bakar Ash Shiddiq <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> meninggal tanpa meninggalkan sepeserpun dirham atau dinar. Diriwayatkan dari Al Hasan bin Ali <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لما احتضر أبو بكر رضي الله عنه قال : يا عائشة أنظري اللقحة التي كنا نشرب من لبنها والجفنة التي كنا نصطبح فيها والقطيفة التي كنا نلبسها فإنا كنا ننتفع بذلك حين كنا في أمر المسلمين ، فإذا مت فاردديه إلى عمر ، فلما مات أبو بكر رضي الله عنه أرسلت به إلى عمر رضي الله عنه فقال عمر رضي الله عنه : رضي الله عنك يا أبا بكر لقد أتعبت من جاء بعدك</p>
<p>“<em>Ketika Al Hasan sedang bersama Abu Bakar Radhiallahu&#8217;anhu, Abu Bakar berkata, wahai &#8216;Aisyah tolong perhatikan unta perahan yang biasa kita ambil susunya, dan mangkuk besar yang sering kita pakai untuk tempat penerangan, dan kain beludru yang biasa kita pakai. Sesungguhnya kita mengambil manfaat dari itu semua saat aku mengurusi urusan kaum muslimin. Jika aku mati, kembalikanlah semuanya kepada Umar. Maka ketika Abu Bakar wafat, &#8216;Aisyah mengirim semua itu kepada Umar Radhiallahu&#8217;anhu. Umar pun berkata: &#8216;Semoga Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, sungguh lelah orang yang datang setelahmu&#8217;</em>”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Sikap Wara&#8217;</strong></span></p>
<p>Abu Bakar Ash Shiddiq <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> adalah orang yang wara&#8217; dan zuhud terhadap dunia sampai-sampai ketika ia menjadi khalifah, ia pun tetap pergi bekerja mencari nafkah. Umar bin Khattab pun <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> melarangnya dan menganjurkan ia untuk mengambil upah dari <em>baitul maal</em>, menimbang betapa beratnya tugas seorang khalifah.</p>
<p>Dikisahkan pula dari &#8216;Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anha, </em>ia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان لأبي بكر غلام يخرج له الخراج ، وكان أبو بكر يأكل من خراجه ، فجاء يوماً بشيء ، فأكل منه أبو بكر ، فقال له الغلام : تدري ما هذا ؟ فقال أبو بكر : وما هو ؟ قال : كنت تكهّنت لإنسان في الجاهلية وما أحسن الكهانة إلا أني خدعته ، فلقيني فأعطاني بذلك فهذا الذي أكلت منه ، فأدخل أبو بكر يده فقاء كل شيء في بطنه . رواه البخاري</p>
<p>“<em>Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya. Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata: &#8216;Apakah anda tahu dari mana makanan ini?&#8217;. Abu Bakar bertanya : &#8216;Dari mana?&#8217; Ia menjawab : &#8216;Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Nah, yang anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan</em>” (HR. Bukhari)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Wafat beliau</strong></span></p>
<p>Beliau wafat pada hari Senin di bulan Jumadil Awwal tahun 30 H ketika beliau berusia 63 tahun.</p>
<p>Semoga Allah meridhainya dan mengumpulkan kita bersamanya di surga kelak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[Diterjemahkan dari <a href="http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/126.htm">http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/126.htm</a> dengan beberapa peringkasan, <em>takhrij</em> dan <em>tash-hih</em> hadits dari penulis]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8725"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Imam Ibnu Mandah</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/biografi-imam-ibnu-mandah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/biografi-imam-ibnu-mandah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2012 23:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wiwit Hardi Priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8511</guid>
		<description><![CDATA[Nasab dan Keluarganya Muhammad bin Ishaq. Beliau adalah al-Imam al-Hafizh, Sang pengembara yang mencari ilmu ke berbagai negara, seorang pakar hadits Islam Abu Abdillah Muhammad, putra seorang ahli hadits yang bernama Abu Ya&#8217;qub Ishaq bin<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/biografi-imam-ibnu-mandah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Nasab dan Keluarganya</strong></p>
<p>Muhammad bin Ishaq. Beliau adalah al-Imam al-Hafizh, Sang pengembara yang mencari ilmu ke berbagai negara, seorang pakar hadits Islam Abu Abdillah Muhammad, putra seorang ahli hadits yang bernama Abu Ya&#8217;qub Ishaq bin al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Yahya bin Mandah. Nama asli Mandah adalah Ibrahim bin al-Walid bin Sandah, berasal dari Ashfahan (disebut juga Isfahan atau Ashbahan, 300km dari Teheran, Iran).</p>
<p>Keturunan keluarga Mandah adalah orang-orang yang sangat perhatian dalam meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Oleh sebab itu muncullah dari keturunan mereka para ulama besar dalam bidang hadits dan pakar dalam memahami kandungannya. Dalam <em>Wafayat al-A&#8217;yan</em>, Ibnu Kholikan memberikan komentar tatkala menjelaskan biografi seorang cucu Ibnu Mandah yang bernama Yahya bin Abdul Wahhab bin Muhammad bin Ishaq bin Mandah. Beliau berkata, <em>“Dia adalah seorang muhaddits, putra seorang muhaddits -Abdul Wahhab- yang juga putra seorang muhaddits -Muhammad bin Ishaq- anak seorang muhaddits -Ishaq bin Mandah- yang juga putra seorang muhaddits -Mandah-.”</em></p>
<p>Dalam usia yang masih belia, Ibnu Mandah sudah mulai mendengar penuturan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Pada waktu itu -tahun 318 H- Ibnu Mandah masih berumur antara 7 hingga 8 tahun. Beliau mendengarkan hadits dari ayahnya -Ishaq- dan juga dari paman ayahnya Abdurrahman bin Yahya bin Mandah, dan juga dari para ulama Ashbahan yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kelahiran dan Tempat Tinggalnya</strong></p>
<p>Beliau dilahirkan pada tahun 310 atau 311 H. Di dalam <em>Lisan al-Mizan</em>, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, <em>“Ibnu Mandah lahir pada tahun 316 H dan mulai mendengar hadits pada tahun 318 H dan sesudahnya.” </em>Namun ucapan Ibnu Hajar ini adalah jelas sebuah kekeliruan, sebagaimana ditegaskan oleh pen-<em>tahqiq</em> Kitab <em>at-Tauhid</em> karya Ibnu Mandah.</p>
<p>Ibnu Mandah dilahirkan di Ashbahan, salah satu kota di wilayah Khurasan. Di kota inilah banyak dilahirkan sosok ulama besar semacam Abu Nu&#8217;aim al-Ashbahani penulis <em>Hilyatul Auliya&#8217;</em>, Dawud azh-Zhahiri, Abul Fadhl al-Ashbahani -yang dijuluki dengan <em>Qowamus Sunnah</em>- dan lain sebagainya. Di kota inilah Ibnu Mandah menimba ilmu, belajar akhlak dan mengejar keutamaan kepada para ulamanya. Pada tahun 330 H -ketika itu umurnya tidak lebih dari 20 tahun- beliau mulai mengadakan perjalanan untuk menimba ilmu ke Naisabur. Beliau pun terus melakukan perjalanan untuk menimba ilmu ini ke berbagai negeri selama 40 tahun lamanya. Setelah itu, beliau pulang ke negeri asalnya dalam keadaan telah menjadi seorang ulama besar yang telah mencatat ilmu dari 1700 orang guru.</p>
<p>Di Ashbahan itulah, ketika umurnya sudah melewati 60 tahun, Ibnu Mandah menikah lalu dikaruniai beberapa orang anak. Salah satu putranya bernama Abdurrahman yang biasa dipanggil dengan <em>kun-yah</em> Abul Qasim. Putranya ini pun tumbuh menjadi ulama besar. Imam adz-Dzahabi memujinya dengan ungkapan, <em>“Beliau adalah al-Hafizh, al-&#8217;Alim, al-Muhaddits&#8230;”</em> Yahya bin Abdul Wahhab berkomentar tentang Abdurraman ini -pamannya-, <em>“Pamanku adalah pedang yang menebas ahli bid&#8217;ah&#8230;”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Gigih Dalam Menimba Ilmu dan Berdakwah</strong></p>
<p>Ibnu Mandah mengadakan perjalanan ke berbagai negeri untuk menimba ilmu. Beliau datang ke Naisabur, Iraq, Damaskus, Beirut, Gaza, Baitul Maqdis (Palestina), Mesir, Mekah, Madinah, dan kota-kota yang lainnya. Ibnu Mandah adalah sosok yang sangat mencintai Sunnah dan membenci bid&#8217;ah. Diriwayatkan dalam kitab <em>Thabaqat al-Hanabilah</em>, bahwa beliau pernah mengatakan, <em>“Aku telah berkeliling ke negeri Timur dan Barat sebanyak dua kali. Aku tidak pernah mau mendekat (belajar) kepada orang yang tidak jelas. Dan aku pun tidak mau mendengar dari para ahli bid&#8217;ah walaupun cuma satu hadits.”</em></p>
<p>Beliau juga menyusun kitab-kitab bantahan untuk ahli bid&#8217;ah. Di antara karyanya adalah <em>ar-Radd &#8216;alal Lafzhiyah </em>dan <em>ar-Radd &#8216;alal Jahmiyah. </em>Beliau juga sangat perhatian dalam masalah akidah, oleh karenanya beliau menulis kitabnya yang sangat terkenal Kitab at-Tauhid. Ibnu Mandah bukan hanya pakar dalam bidang hadits, beliau juga ahli di bidang tafsir dan mumpuni di bidang sejarah dan qiro&#8217;at.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sanjungan Para Ulama</strong></p>
<p>Ahmad bin Ja&#8217;far al-Hafizh berkata, <em>“Aku telah mencatat hadits dari 1000 orang guru lebih, dan tidak ada di antara mereka yang lebih kokoh hafalannya daripada Ibnu Mandah.” </em>Ja&#8217;far bin Muhammad al-Mustaghfiri berkata, <em>“Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih kuat hafalannya daripada Abu Abdillah Ibnu Mandah&#8230;”</em> Abu Isma&#8217;il al-Anshari -guru besar di negeri Harat- berkata, <em>“Abu Abdillah Ibnu Mandah adalah sayyid/pemimpin umat di masanya.” </em>Imam adz-Dzahabi menyebutnya  sebagai da&#8217;i kepada Sunnah dan penjaga atsar.</p>
<p><em>Qowamus Sunnah</em> Abul Fadhl al-Ashbahani mengatakan, <em>“Keutamaan Imam ini sangatlah banyak. Dia adalah pemuka umat di zamannya dalam hafalan, ketekunan beragama, dan pembelaan terhadap Sunnah serta mematikan bid&#8217;ah. Dia berkeliling dunia untuk mencari hadits. Aku mengetahui kedudukannya sejak dia masih muda. Yaitu tatkala Abu Ahmad al-&#8217;Assal &#8211;&#8217;al-&#8217;Assal adalah seorang imam di masanya&#8217;&#8211; mengirim surat kepadanya ketika dia berada di Naisabur, menanyakan kepadanya tentang suatu hadits yang sulit dipahami. Maka Ibnu Mandah menjawabnya dan menerangkan hal itu kepadanya.” </em>Abu Nu&#8217;aim pun memuji Ibnu Mandah dengan mengatakan bahwa beliau adalah <em>Jabalun minal Jibaal</em>; artinya beliau adalah termasuk jajaran ulama penghafal hadits yang sangat handal.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Guru-Guru Ibnu Mandah</strong></p>
<p>Diantara ulama yang menjadi guru Ibnu Mandah dan paling banyak menjadi narasumber riwayatnya adalah: Abu Ahmad al-&#8217;Assal, Abu Ishaq bin Hamzah, Abu Sa&#8217;id bin al-A&#8217;rabi, Abul &#8216;Abbas al-Asham, dan lain-lain. Ibnu Mandah menuturkan, <em>“Aku telah mencatat ilmu dari seribu tujuh ratus guru, dan aku belum pernah melihat ada di antara mereka yang seperti al-&#8217;Assal dan Abu Ishaq bin Hamzah.”</em></p>
<p>Abu Ahmad al-&#8217;Assal adalah salah seorang imam besar dalam ilmu hadits. Abu Nu&#8217;aim pun memujinya, <em>“Abu Ahmad -al-&#8217;Assal- adalah termasuk jajaran ulama besar yang memiliki ilmu yang mendalam, pemahaman yang mapan dan hafalan yang kuat.”</em> Demikian pula Abu Ishaq bin Hamzah -guru Ibnu Mandah yang lain- adalah seorang imam ahli hadits besar. Abu Nu&#8217;aim berkata tentangnya, <em>“Beliau adalah orang yang memiliki hafalan paling kokoh di masanya.”</em> Ibnu Mandah juga berkata, <em>“Aku belum pernah melihat orang yang lebih kuat hafalannya daripada Abu Ishaq bin Hamzah.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Murid-Murid Ibnu Mandah</strong></p>
<p>Diantara murid Ibnu Mandah yang kemudian menjadi ulama besar dan yang paling terkenal di antara mereka adalah: Abu Amr Abdul Wahhab bin Mandah -anaknya-, Hamzah bin Yusuf as-Sahmi, Abu Bakr bin Manjawaih, dan Tammam bin Muhammad ar-Razi. Abu &#8216;Ali al-Ahwazi berkata, <em>“Aku belum pernah melihat orang sehebat Tammam. Beliau adalah seorang ulama yang sangat mengetahui hadits dan mendalami seluk-beluk periwayatnya.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perselisihan Antara Ibnu Mandah dengan Abu Nu&#8217;aim</strong></p>
<p>Para ulama menceritakan bahwasanya antara kedua ulama ini telah terjadi perselisihan dalam sebagian masalah akidah, yaitu tentang persoalan lafaz al-Qur&#8217;an. Bangkitlah Abu Nu&#8217;aim menulis bantahan kepada Ibnu Mandah dengan kitabnya <em>ar-Radd &#8216;alal Hurufiyah wal Hululiyah</em>. Demikian juga sebaliknya, Ibnu Mandah menulis bantahan dengan kitabnya <em>ar-Radd &#8216;alal Lafzhiyah</em>. Keduanya saling men-<em>jarh</em>/mengkritik satu sama lain.</p>
<p>Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa Abu Nu&#8217;aim termasuk penganut paham Asy&#8217;ari. Beliau lebih condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa <em>tilawah</em> atau bacaan al-Qur&#8217;an adalah makhluk. Adapun Imam Ibnu Mandah berpegang kepada akidah salaf. Beliau berpendapat bahwasanya lafaz al-Qur&#8217;an bukanlah makhluk. Peselisihan yang terjadi antara Imam Bukhari dengan Imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli pun muncul akibat permasalahan serupa.</p>
<p>Oleh sebab itu para ulama tidak menerima komentar miring dari salah seorang di antara mereka berdua terhadap lawannya. Tatkala menanggapi komentar miring dari Abu Nu&#8217;aim tentang Ibnu Mandah, Imam adz-Dzahabi berkata, <em>“Kami tidak mau ambil pusing dengan ucapanmu mengenai musuhmu karena permusuhan yang ada. Sebagaimana kami juga tidak mau mendengar komentar darinya mengenai anda&#8230;” </em>Inilah kaidah yang dipegang oleh para ulama. Imam Ahmad bin Hanbal berkata, <em>“Setiap orang yang telah terbukti kredibilitasnya, maka tidak bisa diterima celaan atasnya dari siapa pun kecuali apabila tuduhan itu benar-benar didukung keterangan yang jelas sehingga tidak ada kemungkinan lain kecuali harus mengarahkan jarh/kritikan kepada dirinya.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apakah Melafazkan al-Qur&#8217;an Itu Makhluk? </strong></p>
<p>Untuk menjelaskan hal ini, kami sengaja bawakan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang telah diringkas oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya <em>Fathu Rabbil Bariyyah</em> (hal. 70 cet. Dar Ibnul Jauzi tahun 1424 H).</p>
<p>al-Qur&#8217;an merupakan kalam/ucapan Allah. Ini sudah jelas. Akan tetapi, bolehkah kita katakan bahwa lafaz al-Qur&#8217;an itu makhluk, atau bukan makhluk, atau harus diam dalam persoalan ini?!</p>
<p>Jawaban yang benar, memberikan hukum umum dalam permasalahan ini, yaitu dengan serta merta menolak atau menerima pernyataan &#8216;lafaz al-Qur&#8217;an adalah makhluk&#8217; adalah tidak tepat. Sebab hal ini harus dirinci terlebih dahulu. Jika yang dimaksud dengan lafaz itu adalah perbuatan (<em>fi&#8217;il</em>) mengucapkannya yang hal itu termasuk perbuatan hamba maka jelas ini adalah makhluk. Karena hamba beserta perbuatannya adalah makhluk. Namun, apabila yang dimaksud dengan lafaz itu adalah ucapan yang dilafazkan (<em>maf&#8217;ul</em>) maka itu adalah kalam/ucapan Allah dan bukan makhluk. Karena kalam Allah merupakan salah satu sifat-Nya, sedangkan sifat-Nya bukan makhluk.</p>
<p>Perincian semacam ini telah diisyaratkan oleh Imam Ahmad. Imam Ahmad mengatakan, <em>“Barangsiapa yang berpendapat bahwa lafazku dalam membaca al-Qur&#8217;an adalah makhluk dan yang dia maksud dengannya adalah al-Qur&#8217;an maka dia adalah penganut paham Jahmiyah.” </em>Perkataan Imam Ahmad <em>&#8216;dan yang dia maksud adalah al-Qur&#8217;an&#8217;</em> menunjukkan bahwa apabila yang dia maksudkan bukanlah al-Qur&#8217;an akan tetapi perbuatan melafazkan yang ini merupakan perbuatan manusia, maka orang yang mengucapkannya tidak bisa dicap sebagai penganut paham Jahmiyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Karya-Karya Ibnu Mandah</strong></p>
<p>Dalam bidang akidah, beliau menulis kitab: <em>al-Iman, ar-Radd &#8216;alal Jahmiyah, ar-Ruh wa an-Nafs</em>, dan <em>ar-Radd &#8216;alal Lafzhiyah</em>. Dalam bidang hadits: <em>Ma&#8217;rifatush Shahabah, al-Amali, al-Kuna wal Alqaab, al-Asami wal Kuna</em>, dan lain-lain. Dalam bidang sejarah: <em>Tarikh Ashbahan, at-Tarikh, Dala&#8217;il an-Nubuwah</em>. Dalam bidang ilmu al-Qur&#8217;an: <em>an-Nasikh wal Mansukh</em>. Ibnu Mandah juga memiliki kitab-kitab yang lain seperti <em>as-Sunnah</em>, sebagaimana disinggung oleh Ibnu Taimiyah dan al-Kattani. Namun sayangnya, sebagian kitab-kitab tersebut hilang atau tidak ditemukan seperti kitab <em>al-Fawa&#8217;id, at-Tarikh, Dala&#8217;il an-Nubuwah</em>, dan <em>an-Nasikh wal Mansukh</em>.</p>
<p>Salah satu kitab karyanya yaitu Kitab <em>al-Iman</em>, telah diterbitkan oleh penerbit Universitas Islam Madinah cetakan pertama tahun 1401 H, dengan <em>tahqiq</em> oleh Dr. Ali Nashir al-Faqihi -salah seorang ulama yang sekarang menjadi guru besar di Universitas Islam Madinah, dosen pembimbing Ustadz Ali Musri, pen-. Demikian juga Kitab<em> at-Tauhid</em>, telah dicetak oleh Dar Hadyu Nabawi Mesir dan Dar al-Fadhilah Saudi pada tahun 1428 H, dengan tahqiq oleh Dr. Muhammad bin Abdullah al-Wuhaibi dan Dr. Musa bin Abdul Aziz al-Ghushn. Pada asalnya kitab ini adalah risalah magister (S2) milik mereka berdua yang diajukan kepada Universitas Islam Muhammad bin Su&#8217;ud di bawah pengawasan Syaikh Dr. Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin yang dipresentasikan pada tahun 1406 H. Judul lengkap kitab ini adalah <em>at-Tauhid wa Ma&#8217;rifatu Asma&#8217;illahi &#8216;Azza wa Jalla wa Shifatihi &#8216;alal Ittifaq wat Tafarrud</em>.</p>
<p>Kitab <em>at-Tauhid</em> karya Ibnu Mandah adalah kitab akidah yang dibawakan dengan metode ahli hadits. Di dalamnya beliau menyebutkan hadits-hadits tentang tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma&#8217; wa shifat. Metode ini adalah metode kebanyakan ulama <em>mutaqaddimin</em>/terdahulu dalam karya-karya mereka, seperti kitab <em>al-Iman</em> karya Abu Bakr bin Abi Syaibah, <em>as-Sunnah</em> karya Abdullah putra Imam Ahmad, <em>as-Sunnah</em> karya Ibnu Abi &#8216;Ashim, <em>Khalqu Af&#8217;alil &#8216;Ibad</em> karya Imam Bukhari, <em>Syarh Ushul I&#8217;tiqad Ahlis Sunnah</em> karya Imam al-Lalika&#8217;i, <em>&#8216;Aqidatu Ash-habil Hadits</em> karya ash-Shabuni, dan lain sebagainya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Wafatnya Ibnu Mandah</strong></p>
<p>Ibnu Mandah wafat pada tahun 395 H. Sebagaimana penjelasan Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya; <em>Siyar A&#8217;lam an-Nubala&#8217;</em>, <em>Tadzkiratul Huffazh</em>, dan <em>Mizanul I&#8217;tidal</em>. Demikian pula penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya <em>Lisanul Mizan</em>. Keterangan Ibnu Abi Ya&#8217;la dalam kitabnya <em>Thabaqat al-Hanabilah,</em> Ibnul &#8216;Imad dalam <em>Syadzarat adz-Dzahab</em>. Dan keterangan Ibnu Taghri Bardi dalam <em>an-Nujum az-Zahirah</em>. Dan inilah pendapat Abu Nu&#8217;aim dalam <em>Tarikh Ashbahan</em>.</p>
<p>Sementara para ulama yang lain berpendapat bahwa Ibnu Mandah wafat pada tahun 396 H. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam <em>al-Muntazham</em>, Imam Ibnu Katsir dalam <em>al-Bidayah wa an-Nihayah</em>, Imam Ibnul Atsir dalam <em>al-Kamil</em>, dan ash-Shofadi dalam <em>al-Wafi bil Wafayat</em>. Dan ini adalah pendapat al-Hakim an-Naisaburi. Kedua pendapat ini dibawakan oleh Imam Ibnu &#8216;Asakir dalam kitabnya <em>Tarikh Damaskus</em>.</p>
<p>Pen-<em>tahqiq</em> Kitab <em>at-Tauhid</em> karya Ibnu Mandah menjelaskan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Abu Nu&#8217;aim. Karena Abu Nu&#8217;aim dan Ibnu Mandah tinggal di negeri yang sama. Terlebih lagi antara keduanya telah terjadi permasalahan; suatu sebab yang boleh jadi menjadi pendorong untuk mengikuti berita-berita tentangnya. Selain itu, Abu Nu&#8217;aim juga membawakan tambahan ilmu (<em>ziyadah</em>). Sementara sebagaimana dimaklumi di kalangan para ulama hadits bahwa <em>ziyadatu tsiqah</em> -tambahan keterangan dari perawi yang terpercaya- itu diterima.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Pengantar Kitab <em>at-Tauhid li Ibni Mandah</em>, hal. 1-69</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<div class="shr-publisher-8511"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-imam-ibnu-mandah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/biografi-imam-ibnu-mandah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Syaikh DR. Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/biografi-syaikh-dr-abdul-azhim-bin-badawi-al-khalafi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/biografi-syaikh-dr-abdul-azhim-bin-badawi-al-khalafi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 05:15:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[biografi ulama]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8436</guid>
		<description><![CDATA[Nasab dan Kelahiran Nama beliau adalah Abdul Azhim bin Badawi bin Muhammad Al Khalafi. Beliau dilahirkan di desa Syin, markaz Qatur, provinsi Gharbiyyah di Mesir. Beliau dilahirkan pada tahun  1373 H atau bertepatan dengan 1954 M. Pendidikan<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/biografi-syaikh-dr-abdul-azhim-bin-badawi-al-khalafi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Nasab dan Kelahiran</strong></p>
<p>Nama beliau adalah <span style="text-decoration: underline;">Abdul Azhim bin Badawi bin Muhammad Al Khalafi</span>. Beliau dilahirkan di desa Syin, markaz Qatur, provinsi Gharbiyyah di Mesir. Beliau dilahirkan pada tahun  1373 H atau bertepatan dengan 1954 M.</p>
<p><strong>Pendidikan</strong></p>
<p>Beliau menempuh tahapan pendidikan hingga level perguruan tinggi, dan menamatkan pendidikan S1 bidang <em>Da&#8217;wah Wa Tsaqafah</em> di Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1977 M.</p>
<p>Beliau melanjutkan pendidikan beliau pada universitas yang sama di bidang <em>Ushulud Diin</em> hingga meraih gelar Magister pada tahun 1994 M dengan tesis berjudul <em>Al Harbu Was Salaam Fii Dhau&#8217;i Shurati Muhammad &#8216;Alaihis Shalatu Was Salaam</em>.</p>
<p>Beliau lalu melanjutkan pendidikan pada universitas dan bidang yang sama hingga meraih gelar doktoral pada tahun 1998 M dengan tesis berjudul <em>Syaikhul Azhar Musthafa &#8216;Abdurrazzaq Wa Juhuduhu Fid Da&#8217;wah</em>.</p>
<p><strong>Pekerjaan</strong></p>
<p>Beliau mulanya bertugas sebagai imam dan khatib di kementerian agama di Kairo. Lalu beliau pindah ke Yordania dan bertugas menjadi imam serta khatib di kementerian agama Yordania selama 11 tahun. Namun beliau kembali lagi ke Mesir dan bertugas sebagai imam dan khatib di masjid An Nur milik kementerian agama di desan Syin hingga sekarang.</p>
<p><strong>Hubungan Dengan Syaikh Al Albani</strong></p>
<p>Syaikh Abdul Azhim memiliki hubungan yang erat dengan Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Hal ini diceritakan dalam sebuah wawancara Syaikh Abdul Azhim dengan editor majalah At Tauhid (edisi Safar 1422 H) . Beliau berkata: &#8220;Salah satu nikmat dari Allah adalah bahwa Syaikh Al Albani telah memulai dakwahnya di Amman Yordania sejak 1980 M. Tahun tersebut adalah tahun dimana Allah menakdirkan aku pindah ke Yordania. Sebuah kebanggaan bagiku bisa berkunjung ke rumah beliau. Setelah kunjungan pertama itu, aku semakin sering lagi menemui beliau di rumahnya. Bahkan terkadang beliau keluar dari rumahnya untuk memenuhi undanganku. Terkadang pula, kami bersama-sama berkunjung ke suatu tempat. Syaikh juga biasa shalat Jum&#8217;at di masjid tempat aku ditugasi untuk menjadi khatib. Aku pun secara intens berkomunikasi dengan beliau <em>rahimahullah</em>. Beliau adalah panutan kami dalam ilmu dan fiqih, terutama dalam berlemah lembut serta kesabaran. Beliau juga senantiasa mewanti-wanti untuk tidak terburu-buru dan agar selalu berhati-hati.  Beliau melarang sikap tergesa-gesa sebelum datang waktunya. Beliau senantiasa mengajak kami untuk bersikap tenang dan berkasih sayang. Beliau melarang sikap keras, garang dan kejam. Kami banyak belajar dari beliau dalam masalah akhlak yang sejati. Selebihnya aku juga banyak belajar ilmu-ilmu yang Allah karuniakan kepada beliau. Dan Allah pun menakdirkan beliau menjadi orang yang diakui keilmuannya&#8221;.</p>
<p><strong>Kontribusi Dalam Majalah At Tauhid</strong></p>
<p>Syaik Abdul Azhim memiliki rubrik khusus dalam Majalah At Tauhid, yaitu rubrik tafsir. Beliau juga termasuk dewan redaksi tetap dari majalah ini. Syaikh Abdul Azhim juga merupakan pengurus jama&#8217;ah Ansharus Sunnah di Mesir.</p>
<p><strong>Aktifitas Dakwah</strong></p>
<ol>
<li>Beliau secara rutin berkhutbah Jum&#8217;at di masjid An Nur di desa Syin</li>
<li>Beliau mengisi kajian rutin ilmu tafsir, aqidah, dan fiqih di masjid An Nur setiap hari Rabu dan Sabtu.</li>
<li>Pada hari Ahad, Senin, Selasa beliau mengisi muhadharah di berbagai tempat</li>
</ol>
<p><strong>Syarah Kitab</strong><br />
Syaikh telah mensyarah beberapa kitab, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Tafsir Al Qur&#8217;an, sampai selesai</li>
<li>Syarh <em>Fathul Baari</em> sampai Bab Haji</li>
<li>Syarh <em>Al Aqidah Ath Thahawiyyah</em></li>
<li>Syarh <em>Ma&#8217;arijil Qabul</em></li>
<li>Syarh <em>Matan Ar Rahbiyyah</em></li>
<li>Dll</li>
</ol>
<p><strong>Karya Tulis</strong><br />
Syaikh memiliki banyak karya tulis. Sebagian sudah tercetak dan sebagian lagi dalam proses pencetakan. Diantara karya beliau adalah:</p>
<ol>
<li><a title="buku alwajiz" href="http://toko.radiomuslim.com/software-multimedia/details/173/36/fiqih/pustaka-muslim/al-wajiz-ensiklopedi-fikih-islam.html"><em>Al Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil &#8216;Aziz</em></a><br />
Kitab ini banyak dipuji oleh para ulama dan juga para penuntut ilmu. Diantaranya:</p>
<ul>
<li>Syaikh Muhammad Shafwat Nuruddin</li>
<li>Syaikh Shafwat Syawadifi</li>
<li>Syaikh &#8216;Amr Abdul Mun&#8217;im Salim</li>
</ul>
<p>Kitab ini juga di-syarah oleh sebagian ulama dan penuntut ilmu, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Syaikh Husain bin Audah Al &#8216;Awaisyah (Yordania)</li>
<li>Syaikh Walid bin Saifun Nashr (Bahrain). Syarahnya bisa didapatkan di web http://www.liveislam.com</li>
<li>Syaikh Abu Sa&#8217;id Al Jazairi. Syarahnya bisa didapatkan di web http://ar.islamway.com</li>
<li>Dll</li>
</ul>
</li>
<li><em>Ahbaabullah</em></li>
<li><em>Diinul Fithrah Kama Bayyanatha Suratul Baqarah</em></li>
<li><em>Ithafun Nubala Bi Shahih Sirah Khairil Anbiya</em></li>
<li><em>At Ta&#8217;liq As Sunni &#8216;Ala Shahih Muslim Bi Syarh An Nawawi</em></li>
<li><em>Al Arba&#8217;un Al Mimbariyyah</em></li>
<li><em>Al Washaya Al Mimbariyyah</em></li>
<li><em>Al Washaya An Nabawiyyah</em></li>
<li><em>Ahsanul Qashash</em></li>
<li><em>Jawami&#8217;ul Kalim</em></li>
<li><em>Khairun Naas</em></li>
<li><em>Riyadus Shalihin</em></li>
<li><em>Minhajut Talaqqi Bainas Salaf Wal Khalaf</em></li>
<li><em>Rihaluhu Fir Rihabil Yaumil Akhir</em></li>
<li><em>Ukhtahu Ayna Tadzhabiin? Hadza Huwa Ath Thariq</em></li>
<li><em>Qawaidul Ishlah Wal Bina Kama Bayyanatha Suratun Nisa</em></li>
<li><em>Ma&#8217;alimul Mujtama&#8217; Al Muslim Kama Bayyanatha Suratul Hujuraat</em></li>
<li><em>Shifatul Muttaqin</em></li>
<li><em>Akmaluk Bayan</em></li>
<li><em>Barnamij Amail Yaum Wal Lailah</em></li>
<li><em>Tafsir Suratil Fatihah</em></li>
<li><em>A&#8217;malul Hajj Mundzu Khurujuhu Min Baitihi Hatta Yarji&#8217;</em></li>
</ol>
<p><strong>Website Resmi</strong></p>
<p><a href="http://www.ibnbadawy.com">http://www.ibnbadawy.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.saaid.net/Warathah/1/badaoi.htm">http://www.saaid.net/Warathah/1/badaoi.htm</a></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8436"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-syaikh-dr-abdul-azhim-bin-badawi-al-khalafi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/biografi-syaikh-dr-abdul-azhim-bin-badawi-al-khalafi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/biografi-syaikh-prof-dr-abdurrazzaq-bin-abdil-muhsin-al-abbad-al-badr.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/biografi-syaikh-prof-dr-abdurrazzaq-bin-abdil-muhsin-al-abbad-al-badr.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 07:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8345</guid>
		<description><![CDATA[Nasab dan Kelahiran Nama lengkap beliau Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin &#8216;Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut beliau, Abdullah<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/biografi-syaikh-prof-dr-abdurrazzaq-bin-abdil-muhsin-al-abbad-al-badr.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Nasab dan Kelahiran</strong></p>
<p>Nama lengkap beliau Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin &#8216;Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah <em>laqb</em> dari kakek buyut beliau, Abdullah bin Hamd, beliau ber-<em>intisab</em> kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek beliau adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.</p>
<p>Beliau dilahirkan pada  tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia.  Beliau tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah beliau sendiri. Keluarga beliau adalah keluarga &#8216;alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah beliau, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad <em>hafizhahullah</em>, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.</p>
<p><strong>Pendidikan dan Guru</strong></p>
<p>Beliau menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Beliau juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Ayah beliau, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd <em>hafizhahullâh</em></li>
<li>Al-Allamah Asy Syaikh &#8217;Abdul &#8216;Aziz bin Baaz <em>rahimahullah</em></li>
<li>Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah<br />
</em></li>
<li>Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî <em>hafizhahullâh</em></li>
<li>Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân <em>hafizhahullâh</em></li>
</ol>
<p><strong>Aktivitas</strong></p>
<p>Beliau adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Beliau juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjidil <del>Haram</del> Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana. Beliau pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Beliau juga menjadi pengisi kajian rutin di <a href="http://radiorodja.com">Radio Rodja 756 AM</a> yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.</p>
<p><strong>Karya Tulis</strong></p>
<ol>
<li><em>Fiqhu ad-Da’iyah wal Adzkâr</em></li>
<li><em>Adz Dikru Wad Du&#8217;a</em></li>
<li><em>Adzkar Ashalah Wad Du&#8217;a</em></li>
<li><em>Al-Haj wa Tahdzîbun Nufus</em></li>
<li><em>Tadzkiratul Mu`tasî Syarh ‘Aqîdah al-Hâfizh ‘Abdil Ghanî al-Maqdisî</em></li>
<li><em>Syarh Hâsiyah Abî Dâwud</em></li>
<li><em>Al-Atsar al-Masyhûr ‘anil Imâm Mâlik fî Shifatil Istiwa</em></li>
<li><em>Al-Qaulus Sadîd fîr Raddi ‘ala Man Ankara Taqsîmat Tauhîd</em></li>
<li><em>At-Tuhfatus Sanîyah Syarh Manzhûmah Ibnu Abî Dâwud al-Ha’iyah</em></li>
<li><em>Asbaab Ziyaadatil Imaan wa Nuqsaanihi</em></li>
<li><em>Taammulat Fii Mumatsalah Al Mu&#8217;min Lin Nakhlah</em></li>
<li><em>Dirasat Fi Baqiyyatis Shalihat</em></li>
<li>dll.</li>
</ol>
<p><strong>Ceramah beliau yang direkam</strong></p>
<ol>
<li>Syarah <em>Qawa&#8217;idul Mutslaa</em></li>
<li>Syarah <em>Al Kaliimi ath Thayyibi</em></li>
<li>Syarah <em>Qawa&#8217;id Asma-il Husna libni Qayyim</em></li>
<li>Syarah <em>Al Haasyiyah libni Abi Daud</em></li>
<li><em>Tadzkiratul Mu`tasî Syarh ‘Aqîdah al-Hâfizh ‘Abdil Ghanî al-Maqdisî</em></li>
<li>Syarah <em>Adabul Mufrad</em>, Imam Al Bukhari</li>
<li>Syarah <em>Kitabul Fushul Fii Siratir Rasul</em>, Ibnu Katsir</li>
<li>dll.</li>
</ol>
<div><strong>Website Resmi</strong></div>
<div><a href="http://www.al-badr.net/web/index.php">http://www.al-badr.net/web/index.php</a></div>
<p>[Dari berbagai sumber]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8345"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-syaikh-prof-dr-abdurrazzaq-bin-abdil-muhsin-al-abbad-al-badr.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/biografi-syaikh-prof-dr-abdurrazzaq-bin-abdil-muhsin-al-abbad-al-badr.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temuilah Abu Bakr!</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/temuilah-abu-bakr.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/temuilah-abu-bakr.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 04:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[abu bakr]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5208</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : ‘Abbad bin Musa menuturkan kepada saya. Dia berkata; Ibrahim bin Sa’d menuturkan kepada kami. Dia berkata; Ayahku mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya,<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/temuilah-abu-bakr.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p>‘Abbad bin Musa menuturkan kepada saya. Dia berkata; Ibrahim bin Sa’d  menuturkan kepada kami. Dia berkata; Ayahku mengabarkan kepadaku dari  Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, bahwa ada seorang  perempuan yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tentang suatu perkara. Maka beliau menyuruh agar perempuan itu kembali  lagi untuk menemuinya. Maka perempuan itu mengatakan, “Wahai Rasulullah,  bagaimana jika saya datang tapi tidak bertemu dengan Anda?”. Ayahku  -Jubair bin Muth’im- mengatakan, “Seolah-olah perempuan itu memaksudkan  kematian.” Maka beliau (Nabi) menjawab, “Kalau kamu tidak bisa bertemu  denganku maka temuilah Abu Bakar!”. (HR. Muslim dalam Kitab Fadha’il  as-Shahabah, hadits no. 2386)</p>
<p>Hadits yang agung ini menyimpan banyak pelajaran, di antaranya :</p>
<ol>
<li>Muhammad bin Jubair bin Muth’im meriwayatkan hadits ini dari ayahnya  yaitu Jubair bin Muth’im radhiyallahu’anhu. Hal ini biasa disebut dalam  istilah ilmu hadits dengan ‘riwayatul abna’ ‘anil abaa” yaitu  periwayatan anak dari ayahnya. Dan hal ini juga menunjukkan pentingnya  pendidikan islam bagi anak-anak dan mengajarkan kepada mereka Sunnah  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan kepada kita hendaknya kita mengembalikan  segala urusan kepada ahlinya. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada  kita untuk bertanya kepada ulama jika tidak mengetahui suatu perkara</li>
<li>Hadits  ini juga menunjukkan bahwa  suara perempuan bukanlah aurat.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan betapa pentingnya peran seorang mufti  dan  ahli ilmu yang mendalami ilmu din.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan sopan santun para sahabat ketika  berbicara kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menyebut  beliau tidak dengan memanggil namanya langsung tapi dengan menyebut   sebagai &#8220;Rasulullah&#8221;.</li>
<li>Hadits  ini mengandung isyarat yang sangat kuat  mengenai keberhakan  Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu’anhu untuk diangkat sebagai khalifah  setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam </em>wafat nantinya.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa  Abu Bakar  adalah orang yang paling  dalam ilmunya setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Hadits  ini juga menunjukkan bahwa  hendaknya ilmu itu yang ‘didatangi’ bukan  yang ‘mendatangi’.</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, wallahu a’lam. Wa  shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa  sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</li>
</ol>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5208"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftemuilah-abu-bakr.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/temuilah-abu-bakr.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Seorang Kyai</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/kisah-taubat-seorang-kyai.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/kisah-taubat-seorang-kyai.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 22:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kyai]]></category>
		<category><![CDATA[nahdhatul ulama]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4648</guid>
		<description><![CDATA[“Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/kisah-taubat-seorang-kyai.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>“Terus  terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai  Ahli Bid’ah yang  tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni  kubur, sering juga  bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan  sering dipercaya  untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga  tempat-tempat yang dianggap  keramat sekaligus menjadi imam tahlilan,  ngalap berkah kubur, marhabanan  atau baca barzanji, diba’an, maulidan,  haul dan selamatan yang sudah  berbau kesyirikan” </em></p>
<p><em>“Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” </em>(Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)<em> </em></p>
<p><em>“Kita  biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim  pahala bacaan  kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut  atas dasar  kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya  sendiri di kala  masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah  ngalap berkah dan  kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu  ilmu sama sekali,  yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya  melihat banyak orang  yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang  mengamalkannya. Hingga  saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu  adalah suatu kebenaran.”</em> (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)</p>
<p>Beliau  adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh  pondok  pesantren “Rahmatullah”. Nama beliau tidak hanya dibicarakan  oleh  teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan  oleh  teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.</p>
<p>Keberanian  beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak  sejalan dengan  Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat  berakar dalam  lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau  terhadap arus kyai itu  bukan  berlandaskan apriori belaka, bukan pula  didasari oleh rasa  kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam,  namun merupakan  Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta’ala.</p>
<p>Kyai  Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma’ruf dan mencegah  dari yang  mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah  batil.  namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap  ajaran  Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari  keanggotaan  NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu  kepada  beliau.</p>
<p>Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan  dirinya dari  keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para  tetangga dan  kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak  hanya  mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau   mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan   kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan   permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang   shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat   pada umumnya.</p>
<p>Seandainya para Kyai itu mau mengkaji  kembali ajaran dan tradisi  budaya yang berurat berakar yang telah  dikritisi dan digugat oleh  banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi  sendiri, namun juga dari  para ulama tanah haram juga telah menggugat dan  mengkritisi penyakit  kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar  mengurat kepada para santri  dan masyarakat. Jika mereka itu mau  mendengarkan perkataan para ulama  itu, tentunya penyakit-penyakit kronis  yang ada dalam tubuh NU akan  bisa terobati. Aqidah umatnya akan  terselamatkan dari penyakit TBC  (Tahayul, Bid’ah, Churofat). Sehingga  Kyai-kyai NU, habib, Gus serta  asatidznya lebih dewasa jika ada orang  yang mau dengan ikhlas  menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU  dan yang telah banyak  menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para  sahabatnya. Maka, Insya  Allah, NU khususnya dan para ‘alim NU pada  umumnya akan menjadi  barometer keagamaan dan keilmuan. ‘Alimnya yang  berbasis kepada  Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan  misi NU itu  sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga para ‘alim  serta Kyai  yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat  sebagai  pewaris para Nabi.</p>
<p>Namun sayang, dakwah yang  disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang  sebelah mata  oleh para Kyai NU  setempat. Mereka juga meragukan  keloyalan beliau terhadap ajaran NU.  Dengan demikian, beliau harus  menerima konsekuensi berupa pemecatan dari  kepengurusan keanggotaannya  sebagai a’wan NU Kandangan, Kediri,  sekaligus dikucilkan dari  lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren.  Mereka semua memboikot  aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.</p>
<p>Walaupun  beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap  menyikapinya  dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam  dirinya.</p>
<p>Siapakah  yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh  Kyai  Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin  senasib  dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya  karena  meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan  syari’at  Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan  karena  pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.</p>
<p>Kyai  Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus  orang-orang yang  bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat  banyak para Kyai  yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid’ahan dan  tradisi-tradisi yang  tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat  itulah beliau  tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup  yang penuh  cobaan dan ujian.</p>
<p>Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan  dan penghormatan tersandang,  harta melimpah serta jabatan terpikul,  namun murka Allah dekat  dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di  hari tidak bermanfaat  harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan  keselamatan dengan  meninggalkan tradisi yang selama ini beliau  gandrungi.</p>
<p>Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat  kepada Allah dari  ajaran-ajaran syirik, bid’ah dan kufur. Walaupun Kyai  Afrokhi  ditinggalkan oleh para kyai ahli bid’ah, jama’ah serta santri  beliau,  ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup  begitu  nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu’ serta penuh tawakkal  kepada  Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.</p>
<p>Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:</p>
<p><em>“Untuk  itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas  kekeliruan yang  saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf  saya kepada warga  Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa  saya sesatkan dalam  kebid’ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba’an,  maulidan, haul dan  selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau  kesyirikan dan juga  sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah  senantiasa menerima taubat  dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang  lalu (Amin ya robbal ‘alamin)”</em></p>
<p>(Dinukil  dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku “Buku  Putih Kyai  NU” oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh  Ponpes  Rohmatulloh-Kediri-, mantan A’wan Syuriah MWC NU Kandangan  Kediri)</p>
<p>catatan:  Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan  karena ada  alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok.  Silahkan nukil  dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah  ilalloh.</p>
<p>-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-4648"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/kisah-taubat-seorang-kyai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>91</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Imam Muslim</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 08:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[imam muslim]]></category>
		<category><![CDATA[shahih muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3984</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua tentu mengetahui bahwa sumber hukum utama dalam Islam adalah Al Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam. Tentang Al Qur’an, tentu tidak perlu diragukan lagi kebenaran dan keontetikannya. Namun berkaitan dengan hadits Rasulullah Shallallahu’alahi<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Kita semua tentu mengetahui bahwa sumber hukum utama dalam Islam adalah Al Qur’an dan hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em>. Tentang Al Qur’an, tentu tidak perlu diragukan lagi kebenaran dan keontetikannya. Namun berkaitan dengan hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em>, banyak sekali upaya dari musuh-musuh Islam serta orang-orang munafik yang ingin merancukan ajaran Islam dengan membuat hadits palsu, yaitu hadits yang diklaim sebagai ucapan Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> padahal sebenarnya bukan. Seperti Abdul Karim bin Abi Auja’, ia mengaku perbuatannya sebelum ia dihukum mati dengan berkata: “Demi Allah, aku telah memalsukan hadits sebanyak 4000 hadits. Saya halalkan yang haram dan saya haramkan yang halal”. Namun <em>alhamdulillah</em>, Allah <em>Ta’ala</em> menjaga kemurnian agama-Nya dengan memunculkan para ulama pakar hadits yang berupaya memisahkan hadits shahih dengan hadits lemah dan palsu. Dan upaya ini bukanlah pekerjaan yang mudah dan selesai dalam sekejap. Bahkan memerlukan penelitian yang panjang, ketelitian yang tajam, kecerdasan akal yang tinggi, hafalan yang kokoh, serta pemahaman yang mantap terhadap Al Qur’an dan hadits. Maka seorang muslim yang memahami hal ini sepatutnya ia menghargai dan bahkan kagum atas jasa para pakar hadits umat Islam yang telah memberikan kontribusi besar bagi agama ini.</p>
<p>Dan diantara para ulama pakar hadits yang telah diakui kemampuannya dan sangat besar jasanya, ada satu nama yang sudah cukup dikenal oleh kita semua yaitu Imam Muslim dengan kitab haditsnya yang terkenal yaitu Kitab <em>Shahih Muslim</em>. Kitab <em>Shahih Muslim</em> dikatakan oleh Imam An Nawawi sebagai salah satu kitab yang paling shahih -setelah Al Qur’an- yang pernah ada. Sampai-sampai ketika seseorang menuliskan hadits yang ada di kitab tersebut, atau dengan tanda pada akhir hadits berupa perkataan: “Hadits riwayat Muslim”, orang yang membaca merasa tidak perlu mengecek kembali atau meragukan keshahihan hadits tersebut. <em>Subhanallah</em>. Oleh karena itu, patutlah kita sebagai seorang muslim untuk mengenal lebih dalam sosok mulia di balik kitab tersebut, yaitu Imam Muslim, semoga Allah merahmati beliau.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Nasab dan Kelahiran Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Nama lengkap beliau adalah Abul Hasan Muslim bin Hajjaj bin Muslim bin Warad bin Kausyaz Al Qusyairi An Naisaburi. Al Qusyairi di sini merupakan nisbah terhadap nasab (silsilah keturunan) dan An Naisaburi merupakan nisbah terhadap tempat kelahiran beliau, yaitu kota Naisabur, bagian dari Persia yang sekarang manjadi bagian dari negara Rusia. Tentang Al Qusyairi, seorang pakar sejarah,  ‘Izzuddin Ibnu Atsir, dalam kitab <em>Al Lubab Fi Tahzibil Ansab </em>(37/3) berkata: “Al Qusyairi adalah nisbah terhadap keturunan Qusyair bin Ka’ab bin Rabi’ah bin ‘Amir bin Sha’sha’ah, yang merupakan sebuah kabilah besar. Banyak para ulama yang menisbahkan diri padanya”.</p>
<p>Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat mengenai waktu lahir dan wafat Imam Muslim. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Taqribut Tahdzib </em>(529), Ibnu Katsir dalam <em>Al Bidayah Wan Nihayah </em>(35-34/11), Al Khazraji dalam <em>Khulashoh Tahdzibul Kamal</em> mengatakan bahwa Imam Muslim dilahirkan pada tahun 204 H dan wafat pada tahun 261 H. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa beliau dilahirkan pada tahun 206 H dan wafat pada tahun 261 H di Naisabur, sehingga usia beliau pada saat wafat adalah 55 tahun. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abu Abdillah Al Hakim An Naisaburi dalam kitab <em>Ulama Al Amshar, </em>juga disetujui An Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> (123/1).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Perjalanan Imam Muslim Dalam Belajar Hadits</strong></span></p>
<p>Imam Muslim tumbuh sebagai remaja yang giat belajar agama. Bahkan saat usianya masih sangat muda beliau sudah menekuni ilmu hadits. Dalam kitab <em>Siyar ‘Alamin Nubala</em> (558/12), pakar hadits dan sejarah, Adz Dzahabi, menuturkan bahwa Imam Muslim mulai belajar hadits sejak tahun 218 H. Berarti usia beliau ketika itu adalah 12 tahun. Beliau melanglang buana ke beberapa Negara dalam rangka menuntut ilmu hadits dari mulai Irak, kemudian ke Hijaz, Syam, Mesir dan negara lainnya. Dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em> diceritakan bahwa Imam Muslim paling banyak mendapatkan ilmu tentang hadits dari 10 orang guru yaitu:</p>
<ol>
<li>Abu Bakar bin Abi Syaibah, beliau belajar 1540 hadits.</li>
<li>Abu Khaitsamah Zuhair bin Harab, beliau belajar 1281 hadits.</li>
<li>Muhammad Ibnul Mutsanna yang dijuluki <em>Az Zaman</em>, beliau belajar 772 hadits.</li>
<li>Qutaibah bin Sa’id, beliau belajar 668 hadits.</li>
<li>Muhammad bin Abdillah bin Numair, beliau belajar 573 hadits.</li>
<li>Abu Kuraib Muhammad Ibnul ‘Ila, beliau belajar 556 hadits.</li>
<li>Muhammad bin Basyar Al Muqallab yang dijuluki <em>Bundaar</em>, beliau belajar 460 hadits.</li>
<li>Muhammad bin Raafi’ An Naisaburi, beliau belajar 362 hadits.</li>
<li>Muhammad bin Hatim Al Muqallab yang dijuluki <em>As Samin</em>, beliau belajar 300 hadits.</li>
<li>‘Ali bin Hajar As Sa’di, beliau belajar 188 hadits.</li>
</ol>
<p>Sembilan dari sepuluh nama guru Imam Muslim tersebut, juga merupakan guru Imam Al Bukhari dalam mengambil hadits, karena Muhammad bin Hatim tidak termasuk. Perlu diketahui, Imam Muslim pun sempat berguru ilmu hadits kepada Imam Al Bukhari. Ibnu Shalah dalam kitab <em>Ulumul Hadits</em> berkata: “Imam Muslim memang belajar pada Imam Bukhari dan banyak mendapatkan faedah ilmu darinya. Namun banyak guru dari Imam Muslim yang juga merupakan guru dari Imam Bukhari”. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Al Bukhari.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ada Apa Antara Al Bukhari dan Muslim?</strong></span></p>
<p>Imam Al Bukhari adalah salah satu guru dari Imam Muslim yang paling menonjol. Dari beliau, Imam Muslim mendapatkan banyak pengetahuan tentang ilmu hadits serta metodologi dalam memeriksa keshahihan hadits. Al Hafidz Abu Bakar Al Khatib Al Baghdadi dalam kitabnya <em>Tarikh Al Baghdadi</em> sampai menceritakan: “Muslim telah mengikuti jejak Al Bukhari, mengembangkan ilmunya dan mengikuti metodologinya. Ketika Al Bukhari datang ke Naisabur di masa akhir hidupnya. Imam Muslim belajar dengan intens kepadanya dan selalu membersamainya”. Hubungan beliau berdua pun dijelaskan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam <em>Syarah Nukhbatul Fikr,</em> beliau berkata: “Para ulama bersepakat bahwa Al Bukhari lebih utama dari Muslim, dan Al Bukhari lebih dikenal kemampuannya dalam pembelaan hadits. Karena Muslim adalah murid dan hasil didikan Al Bukhari. Muslim banyak mengambil ilmu dari Al Bukhari dan mengikuti jejaknya, sampai-sampai Ad Daruquthni berkata: ‘Seandainya tidak ada Al Bukhari, niscaya tidak ada Muslim’ ”.</p>
<p>Lalu apa yang menyebabkan Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Bukhari? Sehingga dalam <em>Shahih Muslim</em> tidak ada hadits yang sanadnya dimulai dengan “ <em>‘An Al Bukhari</em>&#8230;(Diriwayatkan dari Al Bukhari)”. Dijawab oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad <em>hafizhahullah</em>, beliau menuturkan: “Walau Imam Muslim merupakan murid dari Imam Al Bukhari dan Imam Muslim mendapatkan banyak ilmu dari beliau, Imam Muslim tidak meriwayatkan satu pun hadits dari Imam Al Bukhari. <em>Wallahu</em> <em>Ta’ala A’lam</em>, ini dikarenakan oleh dua hal:</p>
<ol>
<li>Imam Muslim menginginkan <em>uluwul isnad</em> (sanad yang tinggi derajatnya). Imam Muslim memiliki banyak guru yang sama dengan guru Imam Al Bukhari. Jika Imam Muslim meriwayatkan dari Al Bukhari, maka sanad akan bertambah panjang karena bertambah satu orang <em>rawi</em> yaitu (Al Bukhari). Imam Muslim menginginkan <em>uluwul isnad</em> dan sanad yang dekat jalurnya dengan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> sehingga beliau meriwayatkan langsung dari guru-gurunya yang juga menjadi guru Imam Al Bukhari</li>
<li>Imam Muslim merasa prihatin dengan sebagian ulama yang mencampur-adukkan hadits-hadits lemah dengan hadits-hadits shahih tanpa membedakannya. Maka beliau pun mengerahkan daya upaya untuk memisahkan hadits shahih dengan yang lain, sebagaimana beliau utarakan di <em>Muqaddimah</em> S<em>hahih Muslim</em>. Jika demikian, maka sebagian hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari telah dianggap cukup dan tidak perlu diulang lagi. Karena Al Bukhari juga sangat perhatian dalam mengumpulkan hadits-hadits shahih dengan ketelitian yang tajam dan pengecekan yang berulang-ulang”</li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Murid-Murid Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Banyak ulama besar yang merupakan murid dari <a href="http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html">Imam Muslim</a> dalam ilmu hadits, sebagaimana di ceritakan dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em>. Diantaranya adalah Abu Hatim Ar Razi, Abul Fadhl Ahmad bin Salamah, Ibrahim bin Abi Thalib, Abu ‘Amr Al Khoffaf, Husain bin Muhammad Al Qabani, Abu ‘Amr Ahmad Ibnul Mubarak Al Mustamli, Al Hafidz Shalih bin Muhammad, ‘Ali bin Hasan Al Hilali, Muhammad bin Abdil Wahhab Al Faraa’, Ali Ibnul Husain Ibnul Junaid, Ibnu Khuzaimah, dll.</p>
<p>Selain itu, sebagian ulama memasukkan Abu ‘Isa Muhammad <strong>At Tirmidzi</strong> dalam jajaran murid Imam Muslim, karena terdapat sebuah hadits dalam <em>Sunan At Tirmidzi</em>:</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">حدثنا مسلم بن حجاج حدثنا يحي بن يحي حدثنا أبو معاوية عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:&#8221; أحصوا هلال شعبان لرمضان&#8221;</p>
<p>Muslim bin Hajjaj menuturkan kepada kami: Yahya bin Yahya menuturkan kepada kami: Abu Mu’awiyah menuturkan kepada kami: Dari Muhammad bin ‘Amr: Dari Abu Salamah: Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: “<em>Untuk menentukan datangnya Ramadhan, hitunglah hilal bulan Sya’ban</em>”.</p>
<p>Dalam hadits tersebut nampak bahwa At Tirmidzi meriwayatkan dari Imam Muslim. Terdapat penjelasan Al Iraqi dalam <em>Tuhfatul Ahwadzi Bi Syarhi Jami’ At Tirmidzi</em>: “At Tirmidzi tidak pernah meriwayatkan hadits dari Muslim kecuali hadits ini. Karena mereka berdua memiliki guru-guru yang sama sebagian besarnya”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Karya Tulis Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Imam An Nawawi menceritakan dalam <em>Tahdzibul Asma Wal Lughat</em> bahwa Imam Muslim memiliki banyak karya tulis, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Kitab <em>Shahih Muslim </em>(sudah dicetak)</li>
<li>Kitab <em>Al Musnad Al Kabir ‘Ala Asma Ar Rijal</em></li>
<li>Kitab <em>Jami’ Al Kabir ‘Ala Al Abwab</em></li>
<li><em>4. </em>Kitab <em>Al ‘Ilal</em></li>
<li>Kitab <em>Auhamul Muhadditsin</em></li>
<li>Kitab <em>At Tamyiz </em>(sudah dicetak)</li>
<li>Kitab <em>Man Laisa Lahu Illa Rawin Wahidin</em></li>
<li>Kitab <em>Thabaqat At Tabi’in </em>(sudah dicetak)</li>
<li>Kitab <em>Al Muhadramain</em></li>
</ol>
<p>Kemudian Adz Dzahabi pun menambahkan dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em> bahwa Imam Muslim juga memiliki karya tulis lain yaitu:</p>
<ol>
<li>Kitab <em>Al Asma Wal Kuna </em>(sudah dicetak)</li>
<li>Kitab <em>Al Afrad</em></li>
<li>Kitab <em>Al Aqran</em></li>
<li>Kitab <em>Sualaat Ahmad bin Hambal</em></li>
<li>Kitab <em>Hadits ‘Amr bin Syu’aib</em></li>
<li>Kitab <em>Al Intifa’ bi Uhubis Siba’</em></li>
<li>Kitab <em>Masyaikh Malik</em></li>
<li>Kitab <em>Masyaikh Ats Tsauri</em></li>
<li>Kitab <em>Masyaikh Syu’bah</em></li>
<li>Kitab <em>Aulad Ash Shahabah</em></li>
<li>Kitab <em>Afrad Asy Syamiyyin</em></li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mata Pencaharian Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Imam Muslim termasuk diantara para ulama yang menghidupi diri dengan berdagang. Beliau adalah seorang pedagang pakaian yang sukses. Meski demikian, beliau tetap dikenal sebagai sosok yang dermawan. Beliau juga memiliki sawah-sawah di daerah <em>Ustu</em> yang menjadi sumber penghasilan keduanya. Tentang mata pencaharian beliau diceritakan oleh Al Hakim dalam <em>Siyar ‘Alamin Nubala</em> (570/12): “Tempat Imam Muslim berdagang adalah <em>Khan Mahmasy</em>. Dan mata pencahariannya beliau di dapat dari usahanya di <em>Ustu<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em>”. Dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em> hal ini pula diceritakan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Farra: “Muslim Ibnul Hajjaj adalah salah satu ulama besar…. Dan ia adalah seorang pedagang pakaian”. Dalam kitab <em>Al ‘Ubar fi Khabar min Ghabar</em> (29/2) terdapat penjelasan: “Imam Muslim adalah seorang pedagang. Dan ia terkenal sebagai dermawan di Naisabur. Ia memiliki banyak budak dan harta”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Karakter Fisik Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Terdapat beberapa riwayat yang menceritakan karakter fisik Imam Muslim. Dalam <em>Siyar ‘Alamin Nubala</em> (566/12) terdapat riwayat dari Abu Abdirrahman As Salami, ia berkata: “Aku melihat seorang <em>syaikh</em> yang tampan wajahnya. Ia memakai <em>rida</em><a href="#_ftn2">[2]</a> yang bagus. Ia memakai <em>imamah<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em> yang dijulurkan di kedua pundaknya. Lalu ada orang yang mengatakan: ‘Ini Muslim’ ”. Juga diceritakan dari <em>Siyar ‘Alamin Nubala</em> (570/12), bahwa Al Hakim mendengar ayahnya berkata: “Aku pernah melihat Muslim Ibnul Hajjaj sedang bercakap-cakap di <em>Khan Mahmasy</em>. Ia memiliki perawakan yang sempurna dan kepalanya putih. Janggutnya memanjang ke bawah di sisi <em>imamah</em>-nya yang terjulur di kedua pundaknya”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Aqidah Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Imam Muslim adalah ulama besar yang memiliki aqidah <em>ahlussunnah</em>, sebagaimana aqidah generasi <em>salafus shalih</em>. Dengan kata lain Imam Muslim adalah seorang <em>salafy</em>. Aqidah beliau ini nampak pada beberapa hal:</p>
<ul>
<li>Perkataan Imam Muslim di <em>muqaddimah Shahih Muslim</em> (6/1) : “Ketahuilah wahai pembaca, semoga Allah memberi anda taufik, wajib bagi setiap orang untuk membedakan hadits shahih dengan hadits yang lemah. Juga wajib mengetahui tingkat kejujuran rawi, yang sebagian mereka diragukan kredibilitasnya. Tidak boleh mengambil riwayat kecuali dari orang yang diketahui bagus kredibilitasnya dan hafalannya. Serta patut untuk berhati-hati dari orang-orang yang buruk kredibilitasnya, yang berasal dari tokoh kesesatan dan ahli bid’ah”. Diceritakan pula di dalam <em>Syiar ‘Alamin Nubala</em> (568/12) bahwa Al Makki berkata: “Aku bertanya kepada Muslim tentang Ali bin Ju’d. Muslim berkata: ‘Ia <em>tsiqah</em>, namun ia berpemahaman <em>Jahmiyyah’</em>”. Hal ini menunjukkan Imam Muslim sangat membenci paham sesat dan <em>bid’ah</em> semisal paham <em>Jahmiyyah</em>, serta tidak mengambil riwayat dari tokoh-tokohnya. Dan demikianlah aqidah ahlussunnah.</li>
<li>Imam Muslim memulai kitab Shahih Muslim dengan Bab Iman, dan dalam bab tersebut beliau memasukkan hadits-hadits yang menetapkan aqidah Ahlussunnah dalam banyak permasalahan, seperti hadits-hadits yang membantah <em>Qadariyyah</em>, <em>Murji’ah</em>, <em>Khawarij</em>, <em>Jahmiyyah</em>, dan semacam mereka, beliau juga ber-<em>hujjah</em> dengan <em>hadits ahad</em>, terdapat juga bab khusus yang berisi hadits-hadits tentang takdir.</li>
<li>Judul-judul bab pada <em>Shahih Muslim</em> seluruhnya sejalan dengan manhaj <em>Ahlussunnah</em> dan merupakan bencana bagi <em>ahlul bid’ah</em>.</li>
<li>Abu Utsman Ash Shabuni dalam kitabnya, <em>I’tiqad Ahlissunnah Wa Ash-habil Hadits</em> halaman 121 – 123, yaitu diakhir-akhir kitabnya, beliau menyebutkan nama-nama imam <em>Ahlussunnah Wal Jama’ah</em> dan beliau menyebutkan di antaranya Imam Muslim Ibnul Hajjaj.</li>
<li>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab <em>Dar’u Ta’arudh il ‘Aql Wan Naql</em> (36/7) berkata: “Para tokoh filsafat dan ahli bid’ah, pengetahuan mereka tentang hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> serta atsar para sahabat dan <em>tabi’in</em> sangatlah sedikit. Sebab jika memang diantara mereka ada orang yang memahami sunah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> serta atsar para sahabat dan tabi’in serta tidak berprasangka baik pada hal-hal yang menentang sunah, tentulah ia tidak akan bergabung bersama mereka, seperti sikap yang ditempuh para ahlul hadits. Lebih lagi jika ia mengetahui rusaknya pemahaman filsafat dan bid’ah tersebut, sebagaimana para imam Ahlussunnah mengetahuinya. Dan biasanya kerusakan pemahaman mereka tersebut tidak diketahui selain oleh para imam sunah seperti Malik (kemudian disebutkan nama-nama beberapa imam)&#8230; dan juga Muslim Ibnul Hajjaj An Naisaburi, dan para imam yang lainnya, tidak ada yang dapat menghitung jumlahnya kecuali Allah, merekalah pewaris para nabi dan penerus tugas Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>”</li>
<li>Adz Dzahabi dalam kitab <em>Al ‘Uluw</em> (1184/2) menyebutkan: “Diantara deretan ulama yang berkeyakinan tidak bolehnya menta’wilkan sifat-sifat Allah dan mereka beriman dengan sifat <em>Al ‘Uluw</em> di masa itu adalah (disebutkan nama-nama beberapa ulama)&#8230; dan juga Al Imam Al Hujjah Muslim Ibnul Hajjaj Al Qusyairi yang menulis kitab <em>Shahih Muslim</em>.”</li>
<li>Al ‘Allamah Muhammad As Safarini dalam kitab <em>Lawami’ul Anwaril Bahiyyah Wa Sawati’ul Asrar Al Atsariyyah</em> (22/1) ketika menyebutkan nama-nama para ulama ahlussunnah ia menyebutkan: “&#8230;Muslim, Abu Dawud, &#8230;.”. Kemudian beliau berkata: “dan yang lainnya, mereka semua memiliki aqidah yang sama yaitu aqidah <em>salafiyyah atsariyyah</em>”.</li>
<li>Dalam <em>Majmu’ Fatawa</em> (39/20) diceritakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya seseorang: “Apakah Al Bukhari, Muslim, &#8230; (disebutkan beberapa nama ulama) termasuk ulama mujtahidin yang tidak taklid ataukah mereka termasuk orang-orang yang taklid pada imam tertentu? Apakah diantara mereka ada yang menisbatkan diri kepada mazhab Hanafi?”. Syaikhul Islam menjawab panjang lebar, dan pada akhir jawabannya beliau berkata: “Mereka semua adalah para pengagung sunnah dan pengagung hadits”.</li>
<li>Lebih menegaskan beberapa bukti diatas, bahwa Imam Muslim adalah hasil didikan dari para ulama Ahlussunnah seperti Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Imam Al Bukhari, Abu Zur’ah, dan yang lainnya. Dan telah diketahui bagaimana peran mereka dalam memperjuangkan sunah, dan sikap keras mereka terhadap ahli bid’ah, sampai-sampai ahli bi’dah tidak mendapat tempat di majelis-majelis mereka.</li>
</ul>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mazhab Fiqih Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Jika kita memperhatikan nama-nama kitab yang ditulis oleh Imam Muslim, hampir semuanya membahas seputar ilmu hadits dan cabang-cabangnya. Hal ini juga ditemukan pada kebanyakan ulama ahli hadits yang lain di zaman tersebut. Akibatnya, kita tidak dapat mengetahui dengan jelas mazhab fiqih mana yang mereka adopsi. Padahal kita semua tahu bahwa Imam Muslim dan para ulama hadits di zamannya juga sekaligus merupakan ulama besar dalam bidang fiqih, sebagaimana Al Bukhari dan Imam Ahmad. Dan jika kita memperhatikan kitab <em>Shahih Muslim</em>, bagaimana metode Imam Muslim membela hadits, bagaimana penyusunan urutan pembahasan yang beliau buat, memberikan isyarat bahwa beliau pun seorang ahli fiqih yang memahami perselisihan fiqih diantara para ulama. Oleh karena itulah Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab <em>At Taqrib</em> (529) mengatakan: “Muslim bin Hajjaj adalah ahli fiqih”.</p>
<p>Namun ada beberapa pendapat tentang mazhab fiqih Imam Muslim. Di antaranya sebagaimana diutarakan Haji Khalifah dalam kitab <em>Kasyfuz Zhunun</em> (555/1) ketika menyebut nama Imam Muslim: “Muslim Ibnul Hajjah Al Qusyairi An Naisaburi <strong>Asy Syafi’i</strong>”. Shiddiq Hasan Khan juga mengamini hal tersebut dalam kitabnya <em>Al Hithah</em> (198). Namun pendapat ini perlu diteliti ulang. Karena terdapat beberapa indikasi yang dijadikan dasar oleh sebagian ulama untuk mengatakan bahwa Imam Muslim bermazhab <strong>Hambali</strong>. Diantara, indikasi tersebut misalnya Imam Muslim memiliki kitab yang berjudul <em>Sualaat Ahmad bin Hambal</em><em>. </em>Selain itu Imam Muslim pun berguru pada Imam Ahmad dan mengambil hadits darinya. Diceritakan dalam <em>Thabaqat Al Hanabilah</em> (413/2) bahwa Imam Muslim juga memuji Imam Ahmad dengan mengatakan: “Imam Ahmad adalah salah satu ulama <em>Huffadzul Atsar</em> (punggawa ilmu hadits)”. Namun semua bukti ini juga tidak menunjukkan dengan pasti bahwa beliau berpegang pada mahzab Hambali.</p>
<p>Pendapat yang benar adalah bahwa <strong>Imam Muslim berpegang pada mahzab <em>Ahlul Hadits</em> dan tidak <em>taklid</em> pada salah satu imam mazhab</strong>. Sebagaimana diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di <em>Majmu’ Fat</em><em>awa</em> (39/20): “Adapun Al Bukhari dan Abu Dawud, mereka berdua adalah imam <em>mujtahid</em> dalam fiqih. Sedangkan Muslim, At Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la, Al Bazzar dan yang semisal mereka, semuanya berpegang pada mahzab Ahlul Hadits dan tidak <em>taklid</em> terhadap salah satu imam mahzab. Mereka juga tidak termasuk imam <em>mujtahid</em> dalam fiqih secara mutlak. Namun terkadang dalam fiqih mereka memiliki kecenderungan untuk mengambil pendapat ulama Ahlul Hadits seperti Asy Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu ‘Ubaid, dan yang semisal mereka”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pujian Para Ulama</strong></span></p>
<p>Kedudukan Imam Muslim diantara pada ulama Islam tergambar dari banyaknya pujian yang dilontarkan kepada beliau. Pujian datang dari guru-gurunya, orang-orang terdekatnya, murid-muridnya juga para ulama yang hidup sesudahnya. Dalam <em>Tarikh Dimasyqi</em> (89/58), diceritakan bahwa Muhammad bin Basyar, salah satu guru Imam Muslim, berkata: “Ada empat orang yang hafalan hadits-nya paling hebat di dunia ini: Abu Zur’ah dari Ray, Muslim Ibnul Hajjaj dari Naisabur, Abdullah bin Abdirrahman Ad Darimi dari Samarkand, dan Muhammad bin Ismail dari Bukhara”.</p>
<p>Ahmad bin Salamah dalam <em>Tarikh Baghdad</em> (102-103/13) berkata: “Aku melihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim Ar Razi mengutamakan pendapat Muslim dalam mengenali keshahihan hadits dibanding para <em>masyaikh</em> lain di masa mereka hidup”.</p>
<p>Diceritakan dalam <em>Tarikh Dimasyqi</em> (89/58), Ishaq bin Mansur Al Kausaz berkata kepada Imam Muslim: “Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah masih menghidupkan engkau di kalangan muslimin”.</p>
<p>Dalam <em>Tadzkiratul Huffadz</em>, Adz Dzahabi juga memuji Imam Muslim dengan sebutan: “Muslim Ibnul Hajjaj Al Imam <strong>Al Hafidz Hujjatul Islam</strong>”.</p>
<p>Imam An Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> berkata: “Para ulama sepakat tentang keagungan Imam Muslim, keimamannya, peran besarnya dalam ilmu hadits, kepandaiannya dalam menyusun kitab ini, keutamaannya dan kekuatan <em>hujjah</em>-nya”.</p>
<p><strong>Wafatnya Imam Muslim</strong></p>
<p>Diceritakan oleh Ibnu Shalah dalam kitab <em>Shiyanatu Muslim</em> (1216) bahwa wafatnya Imam Muslim disebabkan hal yang tidak biasa, yaitu dikarenakan kelelahan pikiran dalam menelaah ilmu. Kemudian disebutkan kisah wafatnya dari riwayat Ahmad bin Salamah: “Abul Husain Muslim ketika itu mengadakan majelis untuk mengulang hafalan hadits. Lalu disebutkan kepadanya sebuah hadits yang ia tidak ketahui. Maka beliau pun pergi menuju rumahnya dan langsung menyalakan lampu. Beliau berkata pada orang yang berada di dalam rumah: ‘Sungguh, jangan biarkan orang masuk ke rumah ini’. Kemudian ada yang berkata kepadanya: ‘Maukah engkau kami hadiahkan sekeranjang kurma?’. Beliau menjawab: ‘(Ya) Berikan kurma-kurma itu kepadaku’. Kurma pun diberikan. Saat itu ia sedang mencari sebuah hadits. Beliau pun mengambil kurma satu persatu lalu mengunyahnya. Pagi pun datang dan kurma telah habis, dan beliau menemukan hadits yang dicari”. Al Hakim mengatakan bahwa terdapat tambahan <em>tsiqah</em> pada riwayat ini yaitu: “Sejak itu Imam Muslim sakit kemudian wafat”. Riwayat ini terdapat pada kitab <em>Tarikh Baghdadi</em> (103/13), <em>Tarikh Dimasyqi</em> (94/58), dan <em>Tahdzibul Kamal</em> (506/27). Beliau wafat pada waktu di hari Ahad, dan dimakamkan pada hari Senin, 5 Rajab 261 H.</p>
<p>Semoga Allah senantiasa merahmati beliau. Namanya begitu harum mewangi hingga hari ini, sungguh ini merupakan buah dari perjuangan berat nan mulia. Semoga Allah menerima amal beliau yang mulia dan membalasnya dengan yang lebih baik di hari dimana tidak ada pertolongan kecuali pertolongan Allah.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah agar ditengah-tengah kaum muslimin dimunculkan orang semisal beliau, yang memiliki perhatian besar dan semangat tinggi untuk menjaga agama Allah dan menyebarkannya di tengah kaum muslimin. Mudah-mudahan Allah mengumpulkan kita bersama beliau di <em>Jannah</em>-Nya kelak.</p>
<p>[Disarikan dari kitab <em>At Ta’rif Bil Imam Muslim Wa Kitabihi Ash Shahih</em> karya Syaikh Abdurrahman bin Shalih As Sudais, dan artikel dari Majalah Universitas Islam Madinah yang berjudul <em>Al Imam Muslim Wa Shahihuhu</em>, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad, dengan beberapa tambahan]</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Ustu</em> adalah nama tempat di pinggiran Naisabur (Lihat <em>Mu’jamul Buldan, </em>175/1)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Rida</em> adalah kain selendang yang lebar, yang dipakai untuk menutupi bagian atas tubuh.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Kain yang biasa dipakai laki-laki untuk menutupi kepala, semacam sorban</p>
<div class="shr-publisher-3984"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-imam-muslim.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Para Ulama Pembaharu Dalam Islam</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 12:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[mujaddid]]></category>
		<category><![CDATA[pembaharu islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3942</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, &#8220;إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا&#8221; “Sesungguhnya Allah akan mengutus<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/mengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dalam sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">&#8220;إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا&#8221;</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun</em>”<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Arti “memperbaharui (urusan) agama” adalah menghidupkan kembali dan menyerukan pengamalan ajaran Islam yang bersumber dari petunjuk al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang telah ditinggalkan manusia, yaitu dengan menyebarkan ilmu yang benar, mengajak manusia kepada tauhid dan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, serta memperingatkan mereka untuk menjauhi perbuatan syirik dan bid’ah<a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Perhitungan akhir seratus tahun dalam hadits ini adalah dimulai dari waktu hijrah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari Mekkah ke Madinah<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> “…orang yang akan memperbaharui (urusan) agama…” tidak menunjukkan bahwa <em>mujaddid</em> di setiap akhir seratus tahun hanya satu orang, tapi mungkin saja pada waktu tertentu lebih dari satu orang, sebagaimana yang diterangkan oleh imam Ibnu Hajar dan para ulama lainnya<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Dalam hal ini, imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesunguhnya Allah akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan/memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>”<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>Para ulama telah menyebutkan nama-nama para imam Ahlus sunnah yang memenuhi kriteria untuk disebut sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) dalam Islam, berdasarkan pengamatan mereka terhadap sifat-sifat mulia para imam tersebut.</p>
<p>Dalam tulisan ini kami akan menyebutkan beberapa di antara para imam tersebut beserta sekelumit dari biografi mereka.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>1- ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz bin Marwan bin Hakam al-Qurasyi al-Umawi al-Madani</strong></span></p>
<p>Beliau adalah khalifah yang tersohor dengan keshalihan dan keadilannya, amirul mu’minin, imam <em>tabi’in</em> yang mulia, penghafal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 64 H dan wafat pada tahun 101 H.</p>
<p>Ibunya adalah cucu sahabat yang mulia Umar bin Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, namanya Hafshah bintu ‘Ashim bin Umar bin Khattab<a href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Beliau diserupakan dalam keadilan dan kelurusan akhlak dengan kakek beliau Umar bin Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dalam sifat zuhud dengan Hasan al-Bashri, dan dalam ketinggian ilmu dengan imam az-Zuhri<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Imam asy-Syafi’i memuji beliau dengan mengatakan, “<em>al-Khulafa’ ar-Rasyidun</em> (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk dan bimbingan Allah <em>Ta’ala</em>) ada lima orang: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz”<a href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Para ulama Ahlus sunnah telah bersepakat untuk menobatkan beliau sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) pertama dalam Islam<a href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesunguhnya Allah akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan/memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Kemudian kami melihat (meneliti sejarah), maka (kami dapati pembaharu) pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah) adalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, dan (pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua adalah imam asy-Syafi’i<a href="#_ftn10">[10]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>2- Imam asy-Syafi’i, Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin bin al-‘Abbas bin ‘Utsman al-Muththalibi al-Qurasyi al-Makki.</strong></span></p>
<p>Beliau adalah imam besar dari kalangan <em>atba’ut tabi’in</em> (murid para <em>tabi’in</em>), pembela sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ahli fikih yang ternama, penghafal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H, nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em><a href="#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p>Imam Qutaibah bin Sa’id memuji beliau dengan mengatakan, “Kematian imam Syafi’i berarti kematian sunnah Rasulullah” <a href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal berkata, “(Kedudukan) Imam Syafi’i (di zamannya) adalah seperti matahari bagi bumi dan sebagai penyelamat bagi umat manusia”<a href="#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p>Para ulama Ahlus sunnah juga telah bersepakat untuk menobatkan beliau sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) kedua dalam Islam<a href="#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p>Imam Ahmad berkata, “…(Pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah) adalah imam asy-Syafi’i<a href="#_ftn15">[15]</a>.</p>
<p>Imam Ibnu Hajar berkata: “Beliau adalah <em>mujaddid</em> (pembaharu) urusan agama Islam pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah)”<a href="#_ftn16">[16]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>3- Hasan al-Bashri, Abu Sa’id al-Hasan bin Abil Hasan Yasar al-Bashri</strong></span></p>
<p>Beliau adalah Imam besar dari kalangan <em>tabi’in</em>, syaikhul Islam, sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lahir pada tahun 22 H dan wafat 110 H<a href="#_ftn17">[17]</a>.</p>
<p>Beliau pernah disusukan oleh Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan pernah didoakan kebaikan oleh Umar bin Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> agar diberi pemahaman dalam ilmu agama dan dicintai manusia<a href="#_ftn18">[18]</a>.</p>
<p>Imam Muhammad bin Sa’ad memuji beliau dengan mengatakan, “Beliau adalah seorang yang berilmu (tinggi), menghimpun (berbagai macam ilmu), tinggi (kedudukannya), sangat terpercaya, sandaran dalam periwayatan hadits, dan ahli ibadah”<a href="#_ftn19">[19]</a>.</p>
<p>Beliau termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah)<a href="#_ftn20">[20]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>4- Muhammab bin Sirin, Abu Bakr al-Anshari al-Bashri</strong></span></p>
<p>Beliau adalah imam besar dari kalangan <em>tabi’in</em>, syaikhul Islam, sangat wara’ (berhati-hati dalam masalah halal-haram), sangat luas ilmunya lagi sangat terpercaya dan kokoh dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau wafat pada tahun 110 H<a href="#_ftn21">[21]</a>.</p>
<p>Imam Abu ‘Awanah al-Yasykuri berkata, “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorang pun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah”<a href="#_ftn22">[22]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah)<a href="#_ftn23">[23]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>5- Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin Syihab az-Zuhri al-Qurasyi al-Madani</strong></span></p>
<p>Beliau adalah imam besar dari kalangan <em>tabi’in</em>, penghafal hadits yang utama, yang disepakati kemuliaan dan kecermatan hafalannya. Beliau wafat pada tahun 125 H <a href="#_ftn24">[24]</a>.</p>
<p>Imam ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz memuji beliau dengan mengatakan, “Tidak tersisa seorang pun (di jaman ini) yang lebih memahami sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari pada az-Zuhri”<a href="#_ftn25">[25]</a>.</p>
<p>Imam Ayyub as-Sakhtiyani, “Aku belum pernah melihat (seorang pun) yang lebih berilmu dari pada beliau” <a href="#_ftn26">[26]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah)<a href="#_ftn27">[27]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>6- Yahya bin Ma’in, Abu Zakaria al-Bagdadi</strong></span></p>
<p><strong> </strong>Beliau adalah imam besar dari kalangan <em>atba’ut tabi’in</em> (murid para <em>tabi’in</em>), ahli <em>jarh wa ta’dil</em> (penilaian terhadap para perawi hadits dalam bentuk pujian atau celaan) yang ternama, penghafal hadits yang utama, dan gurunya para ulama Ahli hadits. Lahir pada tahun 158 H dan wafat tahun 233 H<a href="#_ftn28">[28]</a>.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal memuji beliau dengan mengatakan, “Yahya bin Ma’in adalah orang yang Allah <em>Ta’ala</em> ciptakan (khusus) untuk urusan ini (membela sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>), dengan beliau menyingkap kedustaan para pendusta dalam hadits (Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>)”<a href="#_ftn29">[29]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah)<a href="#_ftn30">[30]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>7-</strong> <strong>Imam an-Nasa’i, Abu Abdir Rahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Sinan</strong></span></p>
<p>Beliau adalah imam besar, syaikhul Islam, penghafal dan kritikus hadits kenamaan, serta sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Lahir pada tahun 215 H dan wafat tahun 303 H<a href="#_ftn31">[31]</a>.</p>
<p>Imam Abu Sa’id bin Yunus memuji beliau dengan mengatakan, “Abu ‘Abdirrahman an-Nasa’i adalah seorang imam (panutan), penghafal hadits dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya”<a href="#_ftn32">[32]</a>.</p>
<p>Imam Abul Hasan ad-Daraquthni berkata, “Abu ‘Abdirrahman an-Nasa’i lebih didahulukan (dalam pemahaman ilmu hadits) dibandingkan semua ulama hadits di jaman beliau”<a href="#_ftn33">[33]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun ketiga (hijriyah)<a href="#_ftn34">[34]</a>.</p>
<p><strong>Catatan penting</strong></p>
<p>- Banyak para imam besar Ahlus sunnah yang terkenal dengan ketinggian ilmu dan pemahaman, serta kuat dalam menegakkan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, akan tetapi mereka tidak dinobatkan oleh para ulama sebagai pembaharu dalam Islam di jamannya, padahal mereka sangat pantas untuk itu, seperti imam Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan lain-lain. Hal ini disebabkan masa hidup mereka yang tidak bertepatan dengan waktu yang disebutkan dalam hadits di atas, dan ini sama sekali tidak mengurangi tingginya kedudukan dan kemuliaan mereka<a href="#_ftn35">[35]</a>.</p>
<p>- Termasuk para imam Ahlus sunnah yang dinobatkan oleh sejumlah besar ulama Islam sebagai pembaharu dalam Islam di abad ke-12 Hijriyah adalah imam syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab at-Tamimi (wafat 1206 H)<a href="#_ftn36">[36]</a>. Dalam hal ini syaikh yang Mulia ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata, “Termasuk di antara para imam (Ahlus sunnah) yang mendapatkan petunjuk (dari Allah Ta’ala) dan da’i yang mengusahakan perbaikan (umat ini) adalah imam yang sangat dalam dan luas ilmunya, pembaharu ajaran Islam yang telah ditinggalkan (manusia) di abad ke-12 Hijriyah dan penyeru kepada sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali at-Tamimi al-Hambali, semoga Allah memperindah (menerangi) tempat peristirahannya dan memuliakannya di surga sebagai tempat menetapnya” <a href="#_ftn37">[37]</a>.</p>
<p>- Demikian pula yang disebut-sebut para ulama sebagai pembaharu dalam Islam di abad ini, dua imam Ahlus sunnah yang ternama: syaikh yang mulia Muhammad Nashiruddin al-Albani dan syiakh yang mulia ‘Abdul ‘aziz bin Abdullah bin Baz, semoga Allah merahmati semua ulama ahlus sunnah yang telah wafat dan menjaga mereka yang masih hidup.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p dir="rtl">
<p style="text-align: left;" dir="rtl">Kota Kendari, 24 Rabi’ul Tsani 1431 H</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 6527), Dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267) dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 599).</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/260).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/264).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat kitab “Tahdziibul kamaal” (21/432) dan “Tadzkirotul huffazh (1/118).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/260).</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat kitab “Tahdziibul kamaal” (24/355), “siyaru a’laamin nubalaa’” (10/5) dan “Tadzkirotul huffazh (1/361).</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Dinukil oleh imam al-Mizzi dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (24/372).</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/260).</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 467).</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Lihat kitab “Tadzkiratul huffaz” (1/71) dan “Taqriibut tahdziib” (hal. 160).</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Dinukil oleh imam al-Mizzi dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (6/104).</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Tadzkiratul huffaz (1/71).</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Lihat kitab “siyaru a’laamin nubalaa” (4/606), “Tadzkiratul huffaz” (1/77) dan “Taqriibut tahdziib” (hal.160).</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (4/610). Dalam sebuah hadits shahih Rasululah r bersabda: “Wali (kekasih) Allah adalah orang yang jika (manusia) memandangnya maka mereka akan ingat kepada Allah”. Lihat “Ash Shahihah” (no. 1733).</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Lihat kitab “Tadzkiratul huffaz” (1/108) dan “Taqriibut tahdziib” (hal. 506).</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Tadzkiratul huffaz” (1/109).</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Ibid.</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> Lihat kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (11/71) dan “Taqriibut tahdziib” (hal. 597).</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (11/80).</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> Lihat kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (14/125) dan “Taqriibut tahdziib” (hal. 80).</p>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (14/133).</p>
<p><a href="#_ftnref33">[33]</a> Ibid (14/131).</p>
<p><a href="#_ftnref34">[34]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref35">[35]</a> Ibid (11/263).</p>
<p><a href="#_ftnref36">[36]</a> Lihat kitab “’Aqidatusy syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab as-Salafiyyah” (1/18).</p>
<p><a href="#_ftnref37">[37]</a> Ibid (1/19-20).</p>
<div class="shr-publisher-3942"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Ringkas Imam Nawawi</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 00:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Nawawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=671</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayah beliau yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.</p>
<p><span id="more-671"></span></p>
<p>Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliaupun menjadi semakin besar.</p>
<p>An-Nawawi tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H ia memulai <em>rihlah thalabul ilmi</em>-nya ke Dimasyq dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami&#8217; Al-Umawiy. Jadilah <em>thalabul ilmi</em> sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Ia pun mengungguli teman-temannya yang lain. Ia berkata: <em>&#8220;Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.&#8221;</em> [<em>Syadzaratudz Dzahab</em> 5/355].</p>
<p>Diantara syaikh beliau: Abul Baqa&#8217; An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul &#8216;Aththar Asy-Syafi&#8217;iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi&#8217;iy, Abul &#8216;Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu &#8216;Abdil Hadi.</p>
<p>Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.</p>
<p>Beliau digelari <em>Muhyiddin</em> (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini karena <em>tawadhu&#8217;</em> beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata: <em>&#8220;Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.&#8221;</em></p>
<p>Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara&#8217; dan bertaqwa. Beliau sederhana, <em>qana&#8217;ah</em> dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma&#8217;ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: &#8220;Tandatanganilah fatwa ini!!&#8221; Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: &#8220;Kenapa !?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Karena berisi kedhaliman yang nyata.&#8221; Raja semakin marah dan berkata: &#8220;Pecat ia dari semua jabatannya!&#8221; Para pembantu raja berkata: &#8220;Ia tidak punya jabatan sama sekali.” Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: &#8220;Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?&#8221; Raj apun menjawab: &#8220;Demi Allah, aku sangat segan padanya.&#8221;</p>
<p>Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Dalam bidang hadits: <em>Arba&#8217;in, Riyadhush Shalihin</em>, <em>Al-Minhaj</em> (<em>Syarah Shahih Muslim</em>), <em>At-Taqrib wat Taysir fi Ma&#8217;rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir</em>.</li>
<li>Dalam bidang fiqih: <em>Minhajuth Thalibin</em>, <em>Raudhatuth Thalibin</em>, <em>Al-Majmu&#8217;</em>.</li>
<li>Dalam bidang bahasa: <em>Tahdzibul Asma&#8217; wal Lughat</em>.</li>
<li>Dalam bidang akhlak: <em>At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur&#8217;an</em>, <em>Bustanul Arifin</em>, <em>Al-Adzkar</em>.</li>
</ol>
<p>Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta&#8217;ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.</p>
<p>Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid&#8217;ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak <em>ma&#8217;shum</em> (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada uluma-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanah. Beliau kadang men-<em>ta&#8217;wil</em> dan kadang-kadang <em>tafwidh</em>. Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah <em>muhaqqiq</em> dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan-nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.</p>
<p>Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy&#8217;ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy&#8217;ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti <em>ziyadatul iman</em> dan <em>khalqu af&#8217;alil &#8216;ibad</em>. Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan di dalamnya.</p>
<p>Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: <em>&#8220;Lahu aghlaath fish shifat&#8221;</em> (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).</p>
<p>Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H -<em>rahimahullah wa ghafara lahu</em>-.</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Lihat biografi beliau di <em>Tadzkiratul Huffazh</em> 4/1470, <em>Thabaqat Asy-Syafi&#8217;iyyah Al-Kubra</em> 8/395, dan <em>Syadzaratudz Dzahab</em> 5/354</p>
<p>***</p>
<p>Disusun Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.<br />
Artikel <a title="Imam Nawawi" href="http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-671"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-ringkas-imam-nawawi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

