<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Biografi</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/biografi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Temuilah Abu Bakr!</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/temuilah-abu-bakr.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/temuilah-abu-bakr.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 04:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[abu bakr]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5208</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : ‘Abbad bin Musa menuturkan kepada saya. Dia berkata; Ibrahim bin Sa’d menuturkan kepada kami. Dia berkata; Ayahku mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya,<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/temuilah-abu-bakr.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p>‘Abbad bin Musa menuturkan kepada saya. Dia berkata; Ibrahim bin Sa’d  menuturkan kepada kami. Dia berkata; Ayahku mengabarkan kepadaku dari  Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, bahwa ada seorang  perempuan yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tentang suatu perkara. Maka beliau menyuruh agar perempuan itu kembali  lagi untuk menemuinya. Maka perempuan itu mengatakan, “Wahai Rasulullah,  bagaimana jika saya datang tapi tidak bertemu dengan Anda?”. Ayahku  -Jubair bin Muth’im- mengatakan, “Seolah-olah perempuan itu memaksudkan  kematian.” Maka beliau (Nabi) menjawab, “Kalau kamu tidak bisa bertemu  denganku maka temuilah Abu Bakar!”. (HR. Muslim dalam Kitab Fadha’il  as-Shahabah, hadits no. 2386)</p>
<p>Hadits yang agung ini menyimpan banyak pelajaran, di antaranya :</p>
<ol>
<li>Muhammad bin Jubair bin Muth’im meriwayatkan hadits ini dari ayahnya  yaitu Jubair bin Muth’im radhiyallahu’anhu. Hal ini biasa disebut dalam  istilah ilmu hadits dengan ‘riwayatul abna’ ‘anil abaa” yaitu  periwayatan anak dari ayahnya. Dan hal ini juga menunjukkan pentingnya  pendidikan islam bagi anak-anak dan mengajarkan kepada mereka Sunnah  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan kepada kita hendaknya kita mengembalikan  segala urusan kepada ahlinya. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada  kita untuk bertanya kepada ulama jika tidak mengetahui suatu perkara</li>
<li>Hadits  ini juga menunjukkan bahwa  suara perempuan bukanlah aurat.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan betapa pentingnya peran seorang mufti  dan  ahli ilmu yang mendalami ilmu din.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan sopan santun para sahabat ketika  berbicara kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menyebut  beliau tidak dengan memanggil namanya langsung tapi dengan menyebut   sebagai &#8220;Rasulullah&#8221;.</li>
<li>Hadits  ini mengandung isyarat yang sangat kuat  mengenai keberhakan  Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu’anhu untuk diangkat sebagai khalifah  setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam </em>wafat nantinya.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bahwa  Abu Bakar  adalah orang yang paling  dalam ilmunya setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Hadits  ini juga menunjukkan bahwa  hendaknya ilmu itu yang ‘didatangi’ bukan  yang ‘mendatangi’.</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, wallahu a’lam. Wa  shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa  sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</li>
</ol>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5208"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftemuilah-abu-bakr.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftemuilah-abu-bakr.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftemuilah-abu-bakr.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/temuilah-abu-bakr.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Seorang Kyai</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/kisah-taubat-seorang-kyai.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/kisah-taubat-seorang-kyai.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 22:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kyai]]></category>
		<category><![CDATA[nahdhatul ulama]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4648</guid>
		<description><![CDATA[“Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/kisah-taubat-seorang-kyai.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>“Terus  terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai  Ahli Bid’ah yang  tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni  kubur, sering juga  bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan  sering dipercaya  untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga  tempat-tempat yang dianggap  keramat sekaligus menjadi imam tahlilan,  ngalap berkah kubur, marhabanan  atau baca barzanji, diba’an, maulidan,  haul dan selamatan yang sudah  berbau kesyirikan” </em></p>
<p><em>“Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” </em>(Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)<em> </em></p>
<p><em>“Kita  biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim  pahala bacaan  kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut  atas dasar  kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya  sendiri di kala  masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah  ngalap berkah dan  kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu  ilmu sama sekali,  yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya  melihat banyak orang  yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang  mengamalkannya. Hingga  saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu  adalah suatu kebenaran.”</em> (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)</p>
<p>Beliau  adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh  pondok  pesantren “Rahmatullah”. Nama beliau tidak hanya dibicarakan  oleh  teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan  oleh  teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.</p>
<p>Keberanian  beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak  sejalan dengan  Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat  berakar dalam  lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau  terhadap arus kyai itu  bukan  berlandaskan apriori belaka, bukan pula  didasari oleh rasa  kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam,  namun merupakan  Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta’ala.</p>
<p>Kyai  Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma’ruf dan mencegah  dari yang  mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah  batil.  namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap  ajaran  Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari  keanggotaan  NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu  kepada  beliau.</p>
<p>Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan  dirinya dari  keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para  tetangga dan  kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak  hanya  mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau   mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan   kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan   permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang   shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat   pada umumnya.</p>
<p>Seandainya para Kyai itu mau mengkaji  kembali ajaran dan tradisi  budaya yang berurat berakar yang telah  dikritisi dan digugat oleh  banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi  sendiri, namun juga dari  para ulama tanah haram juga telah menggugat dan  mengkritisi penyakit  kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar  mengurat kepada para santri  dan masyarakat. Jika mereka itu mau  mendengarkan perkataan para ulama  itu, tentunya penyakit-penyakit kronis  yang ada dalam tubuh NU akan  bisa terobati. Aqidah umatnya akan  terselamatkan dari penyakit TBC  (Tahayul, Bid’ah, Churofat). Sehingga  Kyai-kyai NU, habib, Gus serta  asatidznya lebih dewasa jika ada orang  yang mau dengan ikhlas  menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU  dan yang telah banyak  menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para  sahabatnya. Maka, Insya  Allah, NU khususnya dan para ‘alim NU pada  umumnya akan menjadi  barometer keagamaan dan keilmuan. ‘Alimnya yang  berbasis kepada  Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan  misi NU itu  sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga para ‘alim  serta Kyai  yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat  sebagai  pewaris para Nabi.</p>
<p>Namun sayang, dakwah yang  disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang  sebelah mata  oleh para Kyai NU  setempat. Mereka juga meragukan  keloyalan beliau terhadap ajaran NU.  Dengan demikian, beliau harus  menerima konsekuensi berupa pemecatan dari  kepengurusan keanggotaannya  sebagai a’wan NU Kandangan, Kediri,  sekaligus dikucilkan dari  lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren.  Mereka semua memboikot  aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.</p>
<p>Walaupun  beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap  menyikapinya  dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam  dirinya.</p>
<p>Siapakah  yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh  Kyai  Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin  senasib  dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya  karena  meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan  syari’at  Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan  karena  pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.</p>
<p>Kyai  Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus  orang-orang yang  bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat  banyak para Kyai  yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid’ahan dan  tradisi-tradisi yang  tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat  itulah beliau  tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup  yang penuh  cobaan dan ujian.</p>
<p>Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan  dan penghormatan tersandang,  harta melimpah serta jabatan terpikul,  namun murka Allah dekat  dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di  hari tidak bermanfaat  harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan  keselamatan dengan  meninggalkan tradisi yang selama ini beliau  gandrungi.</p>
<p>Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat  kepada Allah dari  ajaran-ajaran syirik, bid’ah dan kufur. Walaupun Kyai  Afrokhi  ditinggalkan oleh para kyai ahli bid’ah, jama’ah serta santri  beliau,  ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup  begitu  nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu’ serta penuh tawakkal  kepada  Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.</p>
<p>Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:</p>
<p><em>“Untuk  itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas  kekeliruan yang  saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf  saya kepada warga  Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa  saya sesatkan dalam  kebid’ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba’an,  maulidan, haul dan  selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau  kesyirikan dan juga  sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah  senantiasa menerima taubat  dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang  lalu (Amin ya robbal ‘alamin)”</em></p>
<p>(Dinukil  dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku “Buku  Putih Kyai  NU” oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh  Ponpes  Rohmatulloh-Kediri-, mantan A’wan Syuriah MWC NU Kandangan  Kediri)</p>
<p>catatan:  Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan  karena ada  alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok.  Silahkan nukil  dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah  ilalloh.</p>
<p>-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-4648"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fkisah-taubat-seorang-kyai.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/kisah-taubat-seorang-kyai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>79</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Imam Muslim</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 08:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[imam muslim]]></category>
		<category><![CDATA[shahih muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3984</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua tentu mengetahui bahwa sumber hukum utama dalam Islam adalah Al Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam. Tentang Al Qur’an, tentu tidak perlu diragukan lagi kebenaran dan keontetikannya. Namun berkaitan dengan hadits Rasulullah Shallallahu’alahi<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Kita semua tentu mengetahui bahwa sumber hukum utama dalam Islam adalah Al Qur’an dan hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em>. Tentang Al Qur’an, tentu tidak perlu diragukan lagi kebenaran dan keontetikannya. Namun berkaitan dengan hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em>, banyak sekali upaya dari musuh-musuh Islam serta orang-orang munafik yang ingin merancukan ajaran Islam dengan membuat hadits palsu, yaitu hadits yang diklaim sebagai ucapan Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> padahal sebenarnya bukan. Seperti Abdul Karim bin Abi Auja’, ia mengaku perbuatannya sebelum ia dihukum mati dengan berkata: “Demi Allah, aku telah memalsukan hadits sebanyak 4000 hadits. Saya halalkan yang haram dan saya haramkan yang halal”. Namun <em>alhamdulillah</em>, Allah <em>Ta’ala</em> menjaga kemurnian agama-Nya dengan memunculkan para ulama pakar hadits yang berupaya memisahkan hadits shahih dengan hadits lemah dan palsu. Dan upaya ini bukanlah pekerjaan yang mudah dan selesai dalam sekejap. Bahkan memerlukan penelitian yang panjang, ketelitian yang tajam, kecerdasan akal yang tinggi, hafalan yang kokoh, serta pemahaman yang mantap terhadap Al Qur’an dan hadits. Maka seorang muslim yang memahami hal ini sepatutnya ia menghargai dan bahkan kagum atas jasa para pakar hadits umat Islam yang telah memberikan kontribusi besar bagi agama ini.</p>
<p>Dan diantara para ulama pakar hadits yang telah diakui kemampuannya dan sangat besar jasanya, ada satu nama yang sudah cukup dikenal oleh kita semua yaitu Imam Muslim dengan kitab haditsnya yang terkenal yaitu Kitab <em>Shahih Muslim</em>. Kitab <em>Shahih Muslim</em> dikatakan oleh Imam An Nawawi sebagai salah satu kitab yang paling shahih -setelah Al Qur’an- yang pernah ada. Sampai-sampai ketika seseorang menuliskan hadits yang ada di kitab tersebut, atau dengan tanda pada akhir hadits berupa perkataan: “Hadits riwayat Muslim”, orang yang membaca merasa tidak perlu mengecek kembali atau meragukan keshahihan hadits tersebut. <em>Subhanallah</em>. Oleh karena itu, patutlah kita sebagai seorang muslim untuk mengenal lebih dalam sosok mulia di balik kitab tersebut, yaitu Imam Muslim, semoga Allah merahmati beliau.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Nasab dan Kelahiran Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Nama lengkap beliau adalah Abul Hasan Muslim bin Hajjaj bin Muslim bin Warad bin Kausyaz Al Qusyairi An Naisaburi. Al Qusyairi di sini merupakan nisbah terhadap nasab (silsilah keturunan) dan An Naisaburi merupakan nisbah terhadap tempat kelahiran beliau, yaitu kota Naisabur, bagian dari Persia yang sekarang manjadi bagian dari negara Rusia. Tentang Al Qusyairi, seorang pakar sejarah,  ‘Izzuddin Ibnu Atsir, dalam kitab <em>Al Lubab Fi Tahzibil Ansab </em>(37/3) berkata: “Al Qusyairi adalah nisbah terhadap keturunan Qusyair bin Ka’ab bin Rabi’ah bin ‘Amir bin Sha’sha’ah, yang merupakan sebuah kabilah besar. Banyak para ulama yang menisbahkan diri padanya”.</p>
<p>Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat mengenai waktu lahir dan wafat Imam Muslim. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Taqribut Tahdzib </em>(529), Ibnu Katsir dalam <em>Al Bidayah Wan Nihayah </em>(35-34/11), Al Khazraji dalam <em>Khulashoh Tahdzibul Kamal</em> mengatakan bahwa Imam Muslim dilahirkan pada tahun 204 H dan wafat pada tahun 261 H. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa beliau dilahirkan pada tahun 206 H dan wafat pada tahun 261 H di Naisabur, sehingga usia beliau pada saat wafat adalah 55 tahun. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abu Abdillah Al Hakim An Naisaburi dalam kitab <em>Ulama Al Amshar, </em>juga disetujui An Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> (123/1).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Perjalanan Imam Muslim Dalam Belajar Hadits</strong></span></p>
<p>Imam Muslim tumbuh sebagai remaja yang giat belajar agama. Bahkan saat usianya masih sangat muda beliau sudah menekuni ilmu hadits. Dalam kitab <em>Siyar ‘Alamin Nubala</em> (558/12), pakar hadits dan sejarah, Adz Dzahabi, menuturkan bahwa Imam Muslim mulai belajar hadits sejak tahun 218 H. Berarti usia beliau ketika itu adalah 12 tahun. Beliau melanglang buana ke beberapa Negara dalam rangka menuntut ilmu hadits dari mulai Irak, kemudian ke Hijaz, Syam, Mesir dan negara lainnya. Dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em> diceritakan bahwa Imam Muslim paling banyak mendapatkan ilmu tentang hadits dari 10 orang guru yaitu:</p>
<ol>
<li>Abu Bakar bin Abi Syaibah, beliau belajar 1540 hadits.</li>
<li>Abu Khaitsamah Zuhair bin Harab, beliau belajar 1281 hadits.</li>
<li>Muhammad Ibnul Mutsanna yang dijuluki <em>Az Zaman</em>, beliau belajar 772 hadits.</li>
<li>Qutaibah bin Sa’id, beliau belajar 668 hadits.</li>
<li>Muhammad bin Abdillah bin Numair, beliau belajar 573 hadits.</li>
<li>Abu Kuraib Muhammad Ibnul ‘Ila, beliau belajar 556 hadits.</li>
<li>Muhammad bin Basyar Al Muqallab yang dijuluki <em>Bundaar</em>, beliau belajar 460 hadits.</li>
<li>Muhammad bin Raafi’ An Naisaburi, beliau belajar 362 hadits.</li>
<li>Muhammad bin Hatim Al Muqallab yang dijuluki <em>As Samin</em>, beliau belajar 300 hadits.</li>
<li>‘Ali bin Hajar As Sa’di, beliau belajar 188 hadits.</li>
</ol>
<p>Sembilan dari sepuluh nama guru Imam Muslim tersebut, juga merupakan guru Imam Al Bukhari dalam mengambil hadits, karena Muhammad bin Hatim tidak termasuk. Perlu diketahui, Imam Muslim pun sempat berguru ilmu hadits kepada Imam Al Bukhari. Ibnu Shalah dalam kitab <em>Ulumul Hadits</em> berkata: “Imam Muslim memang belajar pada Imam Bukhari dan banyak mendapatkan faedah ilmu darinya. Namun banyak guru dari Imam Muslim yang juga merupakan guru dari Imam Bukhari”. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Al Bukhari.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ada Apa Antara Al Bukhari dan Muslim?</strong></span></p>
<p>Imam Al Bukhari adalah salah satu guru dari Imam Muslim yang paling menonjol. Dari beliau, Imam Muslim mendapatkan banyak pengetahuan tentang ilmu hadits serta metodologi dalam memeriksa keshahihan hadits. Al Hafidz Abu Bakar Al Khatib Al Baghdadi dalam kitabnya <em>Tarikh Al Baghdadi</em> sampai menceritakan: “Muslim telah mengikuti jejak Al Bukhari, mengembangkan ilmunya dan mengikuti metodologinya. Ketika Al Bukhari datang ke Naisabur di masa akhir hidupnya. Imam Muslim belajar dengan intens kepadanya dan selalu membersamainya”. Hubungan beliau berdua pun dijelaskan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam <em>Syarah Nukhbatul Fikr,</em> beliau berkata: “Para ulama bersepakat bahwa Al Bukhari lebih utama dari Muslim, dan Al Bukhari lebih dikenal kemampuannya dalam pembelaan hadits. Karena Muslim adalah murid dan hasil didikan Al Bukhari. Muslim banyak mengambil ilmu dari Al Bukhari dan mengikuti jejaknya, sampai-sampai Ad Daruquthni berkata: ‘Seandainya tidak ada Al Bukhari, niscaya tidak ada Muslim’ ”.</p>
<p>Lalu apa yang menyebabkan Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Bukhari? Sehingga dalam <em>Shahih Muslim</em> tidak ada hadits yang sanadnya dimulai dengan “ <em>‘An Al Bukhari</em>&#8230;(Diriwayatkan dari Al Bukhari)”. Dijawab oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad <em>hafizhahullah</em>, beliau menuturkan: “Walau Imam Muslim merupakan murid dari Imam Al Bukhari dan Imam Muslim mendapatkan banyak ilmu dari beliau, Imam Muslim tidak meriwayatkan satu pun hadits dari Imam Al Bukhari. <em>Wallahu</em> <em>Ta’ala A’lam</em>, ini dikarenakan oleh dua hal:</p>
<ol>
<li>Imam Muslim menginginkan <em>uluwul isnad</em> (sanad yang tinggi derajatnya). Imam Muslim memiliki banyak guru yang sama dengan guru Imam Al Bukhari. Jika Imam Muslim meriwayatkan dari Al Bukhari, maka sanad akan bertambah panjang karena bertambah satu orang <em>rawi</em> yaitu (Al Bukhari). Imam Muslim menginginkan <em>uluwul isnad</em> dan sanad yang dekat jalurnya dengan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> sehingga beliau meriwayatkan langsung dari guru-gurunya yang juga menjadi guru Imam Al Bukhari</li>
<li>Imam Muslim merasa prihatin dengan sebagian ulama yang mencampur-adukkan hadits-hadits lemah dengan hadits-hadits shahih tanpa membedakannya. Maka beliau pun mengerahkan daya upaya untuk memisahkan hadits shahih dengan yang lain, sebagaimana beliau utarakan di <em>Muqaddimah</em> S<em>hahih Muslim</em>. Jika demikian, maka sebagian hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari telah dianggap cukup dan tidak perlu diulang lagi. Karena Al Bukhari juga sangat perhatian dalam mengumpulkan hadits-hadits shahih dengan ketelitian yang tajam dan pengecekan yang berulang-ulang”</li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Murid-Murid Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Banyak ulama besar yang merupakan murid dari <a href="http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html">Imam Muslim</a> dalam ilmu hadits, sebagaimana di ceritakan dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em>. Diantaranya adalah Abu Hatim Ar Razi, Abul Fadhl Ahmad bin Salamah, Ibrahim bin Abi Thalib, Abu ‘Amr Al Khoffaf, Husain bin Muhammad Al Qabani, Abu ‘Amr Ahmad Ibnul Mubarak Al Mustamli, Al Hafidz Shalih bin Muhammad, ‘Ali bin Hasan Al Hilali, Muhammad bin Abdil Wahhab Al Faraa’, Ali Ibnul Husain Ibnul Junaid, Ibnu Khuzaimah, dll.</p>
<p>Selain itu, sebagian ulama memasukkan Abu ‘Isa Muhammad <strong>At Tirmidzi</strong> dalam jajaran murid Imam Muslim, karena terdapat sebuah hadits dalam <em>Sunan At Tirmidzi</em>:</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">حدثنا مسلم بن حجاج حدثنا يحي بن يحي حدثنا أبو معاوية عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:&#8221; أحصوا هلال شعبان لرمضان&#8221;</p>
<p>Muslim bin Hajjaj menuturkan kepada kami: Yahya bin Yahya menuturkan kepada kami: Abu Mu’awiyah menuturkan kepada kami: Dari Muhammad bin ‘Amr: Dari Abu Salamah: Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: “<em>Untuk menentukan datangnya Ramadhan, hitunglah hilal bulan Sya’ban</em>”.</p>
<p>Dalam hadits tersebut nampak bahwa At Tirmidzi meriwayatkan dari Imam Muslim. Terdapat penjelasan Al Iraqi dalam <em>Tuhfatul Ahwadzi Bi Syarhi Jami’ At Tirmidzi</em>: “At Tirmidzi tidak pernah meriwayatkan hadits dari Muslim kecuali hadits ini. Karena mereka berdua memiliki guru-guru yang sama sebagian besarnya”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Karya Tulis Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Imam An Nawawi menceritakan dalam <em>Tahdzibul Asma Wal Lughat</em> bahwa Imam Muslim memiliki banyak karya tulis, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Kitab <em>Shahih Muslim </em>(sudah dicetak)</li>
<li>Kitab <em>Al Musnad Al Kabir ‘Ala Asma Ar Rijal</em></li>
<li>Kitab <em>Jami’ Al Kabir ‘Ala Al Abwab</em></li>
<li><em>4. </em>Kitab <em>Al ‘Ilal</em></li>
<li>Kitab <em>Auhamul Muhadditsin</em></li>
<li>Kitab <em>At Tamyiz </em>(sudah dicetak)</li>
<li>Kitab <em>Man Laisa Lahu Illa Rawin Wahidin</em></li>
<li>Kitab <em>Thabaqat At Tabi’in </em>(sudah dicetak)</li>
<li>Kitab <em>Al Muhadramain</em></li>
</ol>
<p>Kemudian Adz Dzahabi pun menambahkan dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em> bahwa Imam Muslim juga memiliki karya tulis lain yaitu:</p>
<ol>
<li>Kitab <em>Al Asma Wal Kuna </em>(sudah dicetak)</li>
<li>Kitab <em>Al Afrad</em></li>
<li>Kitab <em>Al Aqran</em></li>
<li>Kitab <em>Sualaat Ahmad bin Hambal</em></li>
<li>Kitab <em>Hadits ‘Amr bin Syu’aib</em></li>
<li>Kitab <em>Al Intifa’ bi Uhubis Siba’</em></li>
<li>Kitab <em>Masyaikh Malik</em></li>
<li>Kitab <em>Masyaikh Ats Tsauri</em></li>
<li>Kitab <em>Masyaikh Syu’bah</em></li>
<li>Kitab <em>Aulad Ash Shahabah</em></li>
<li>Kitab <em>Afrad Asy Syamiyyin</em></li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mata Pencaharian Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Imam Muslim termasuk diantara para ulama yang menghidupi diri dengan berdagang. Beliau adalah seorang pedagang pakaian yang sukses. Meski demikian, beliau tetap dikenal sebagai sosok yang dermawan. Beliau juga memiliki sawah-sawah di daerah <em>Ustu</em> yang menjadi sumber penghasilan keduanya. Tentang mata pencaharian beliau diceritakan oleh Al Hakim dalam <em>Siyar ‘Alamin Nubala</em> (570/12): “Tempat Imam Muslim berdagang adalah <em>Khan Mahmasy</em>. Dan mata pencahariannya beliau di dapat dari usahanya di <em>Ustu<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em>”. Dalam <em>Tahdzibut Tahdzib</em> hal ini pula diceritakan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Farra: “Muslim Ibnul Hajjaj adalah salah satu ulama besar…. Dan ia adalah seorang pedagang pakaian”. Dalam kitab <em>Al ‘Ubar fi Khabar min Ghabar</em> (29/2) terdapat penjelasan: “Imam Muslim adalah seorang pedagang. Dan ia terkenal sebagai dermawan di Naisabur. Ia memiliki banyak budak dan harta”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Karakter Fisik Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Terdapat beberapa riwayat yang menceritakan karakter fisik Imam Muslim. Dalam <em>Siyar ‘Alamin Nubala</em> (566/12) terdapat riwayat dari Abu Abdirrahman As Salami, ia berkata: “Aku melihat seorang <em>syaikh</em> yang tampan wajahnya. Ia memakai <em>rida</em><a href="#_ftn2">[2]</a> yang bagus. Ia memakai <em>imamah<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em> yang dijulurkan di kedua pundaknya. Lalu ada orang yang mengatakan: ‘Ini Muslim’ ”. Juga diceritakan dari <em>Siyar ‘Alamin Nubala</em> (570/12), bahwa Al Hakim mendengar ayahnya berkata: “Aku pernah melihat Muslim Ibnul Hajjaj sedang bercakap-cakap di <em>Khan Mahmasy</em>. Ia memiliki perawakan yang sempurna dan kepalanya putih. Janggutnya memanjang ke bawah di sisi <em>imamah</em>-nya yang terjulur di kedua pundaknya”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Aqidah Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Imam Muslim adalah ulama besar yang memiliki aqidah <em>ahlussunnah</em>, sebagaimana aqidah generasi <em>salafus shalih</em>. Dengan kata lain Imam Muslim adalah seorang <em>salafy</em>. Aqidah beliau ini nampak pada beberapa hal:</p>
<ul>
<li>Perkataan Imam Muslim di <em>muqaddimah Shahih Muslim</em> (6/1) : “Ketahuilah wahai pembaca, semoga Allah memberi anda taufik, wajib bagi setiap orang untuk membedakan hadits shahih dengan hadits yang lemah. Juga wajib mengetahui tingkat kejujuran rawi, yang sebagian mereka diragukan kredibilitasnya. Tidak boleh mengambil riwayat kecuali dari orang yang diketahui bagus kredibilitasnya dan hafalannya. Serta patut untuk berhati-hati dari orang-orang yang buruk kredibilitasnya, yang berasal dari tokoh kesesatan dan ahli bid’ah”. Diceritakan pula di dalam <em>Syiar ‘Alamin Nubala</em> (568/12) bahwa Al Makki berkata: “Aku bertanya kepada Muslim tentang Ali bin Ju’d. Muslim berkata: ‘Ia <em>tsiqah</em>, namun ia berpemahaman <em>Jahmiyyah’</em>”. Hal ini menunjukkan Imam Muslim sangat membenci paham sesat dan <em>bid’ah</em> semisal paham <em>Jahmiyyah</em>, serta tidak mengambil riwayat dari tokoh-tokohnya. Dan demikianlah aqidah ahlussunnah.</li>
<li>Imam Muslim memulai kitab Shahih Muslim dengan Bab Iman, dan dalam bab tersebut beliau memasukkan hadits-hadits yang menetapkan aqidah Ahlussunnah dalam banyak permasalahan, seperti hadits-hadits yang membantah <em>Qadariyyah</em>, <em>Murji’ah</em>, <em>Khawarij</em>, <em>Jahmiyyah</em>, dan semacam mereka, beliau juga ber-<em>hujjah</em> dengan <em>hadits ahad</em>, terdapat juga bab khusus yang berisi hadits-hadits tentang takdir.</li>
<li>Judul-judul bab pada <em>Shahih Muslim</em> seluruhnya sejalan dengan manhaj <em>Ahlussunnah</em> dan merupakan bencana bagi <em>ahlul bid’ah</em>.</li>
<li>Abu Utsman Ash Shabuni dalam kitabnya, <em>I’tiqad Ahlissunnah Wa Ash-habil Hadits</em> halaman 121 – 123, yaitu diakhir-akhir kitabnya, beliau menyebutkan nama-nama imam <em>Ahlussunnah Wal Jama’ah</em> dan beliau menyebutkan di antaranya Imam Muslim Ibnul Hajjaj.</li>
<li>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab <em>Dar’u Ta’arudh il ‘Aql Wan Naql</em> (36/7) berkata: “Para tokoh filsafat dan ahli bid’ah, pengetahuan mereka tentang hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> serta atsar para sahabat dan <em>tabi’in</em> sangatlah sedikit. Sebab jika memang diantara mereka ada orang yang memahami sunah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> serta atsar para sahabat dan tabi’in serta tidak berprasangka baik pada hal-hal yang menentang sunah, tentulah ia tidak akan bergabung bersama mereka, seperti sikap yang ditempuh para ahlul hadits. Lebih lagi jika ia mengetahui rusaknya pemahaman filsafat dan bid’ah tersebut, sebagaimana para imam Ahlussunnah mengetahuinya. Dan biasanya kerusakan pemahaman mereka tersebut tidak diketahui selain oleh para imam sunah seperti Malik (kemudian disebutkan nama-nama beberapa imam)&#8230; dan juga Muslim Ibnul Hajjaj An Naisaburi, dan para imam yang lainnya, tidak ada yang dapat menghitung jumlahnya kecuali Allah, merekalah pewaris para nabi dan penerus tugas Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>”</li>
<li>Adz Dzahabi dalam kitab <em>Al ‘Uluw</em> (1184/2) menyebutkan: “Diantara deretan ulama yang berkeyakinan tidak bolehnya menta’wilkan sifat-sifat Allah dan mereka beriman dengan sifat <em>Al ‘Uluw</em> di masa itu adalah (disebutkan nama-nama beberapa ulama)&#8230; dan juga Al Imam Al Hujjah Muslim Ibnul Hajjaj Al Qusyairi yang menulis kitab <em>Shahih Muslim</em>.”</li>
<li>Al ‘Allamah Muhammad As Safarini dalam kitab <em>Lawami’ul Anwaril Bahiyyah Wa Sawati’ul Asrar Al Atsariyyah</em> (22/1) ketika menyebutkan nama-nama para ulama ahlussunnah ia menyebutkan: “&#8230;Muslim, Abu Dawud, &#8230;.”. Kemudian beliau berkata: “dan yang lainnya, mereka semua memiliki aqidah yang sama yaitu aqidah <em>salafiyyah atsariyyah</em>”.</li>
<li>Dalam <em>Majmu’ Fatawa</em> (39/20) diceritakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya seseorang: “Apakah Al Bukhari, Muslim, &#8230; (disebutkan beberapa nama ulama) termasuk ulama mujtahidin yang tidak taklid ataukah mereka termasuk orang-orang yang taklid pada imam tertentu? Apakah diantara mereka ada yang menisbatkan diri kepada mazhab Hanafi?”. Syaikhul Islam menjawab panjang lebar, dan pada akhir jawabannya beliau berkata: “Mereka semua adalah para pengagung sunnah dan pengagung hadits”.</li>
<li>Lebih menegaskan beberapa bukti diatas, bahwa Imam Muslim adalah hasil didikan dari para ulama Ahlussunnah seperti Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Imam Al Bukhari, Abu Zur’ah, dan yang lainnya. Dan telah diketahui bagaimana peran mereka dalam memperjuangkan sunah, dan sikap keras mereka terhadap ahli bid’ah, sampai-sampai ahli bi’dah tidak mendapat tempat di majelis-majelis mereka.</li>
</ul>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mazhab Fiqih Imam Muslim</strong></span></p>
<p>Jika kita memperhatikan nama-nama kitab yang ditulis oleh Imam Muslim, hampir semuanya membahas seputar ilmu hadits dan cabang-cabangnya. Hal ini juga ditemukan pada kebanyakan ulama ahli hadits yang lain di zaman tersebut. Akibatnya, kita tidak dapat mengetahui dengan jelas mazhab fiqih mana yang mereka adopsi. Padahal kita semua tahu bahwa Imam Muslim dan para ulama hadits di zamannya juga sekaligus merupakan ulama besar dalam bidang fiqih, sebagaimana Al Bukhari dan Imam Ahmad. Dan jika kita memperhatikan kitab <em>Shahih Muslim</em>, bagaimana metode Imam Muslim membela hadits, bagaimana penyusunan urutan pembahasan yang beliau buat, memberikan isyarat bahwa beliau pun seorang ahli fiqih yang memahami perselisihan fiqih diantara para ulama. Oleh karena itulah Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab <em>At Taqrib</em> (529) mengatakan: “Muslim bin Hajjaj adalah ahli fiqih”.</p>
<p>Namun ada beberapa pendapat tentang mazhab fiqih Imam Muslim. Di antaranya sebagaimana diutarakan Haji Khalifah dalam kitab <em>Kasyfuz Zhunun</em> (555/1) ketika menyebut nama Imam Muslim: “Muslim Ibnul Hajjah Al Qusyairi An Naisaburi <strong>Asy Syafi’i</strong>”. Shiddiq Hasan Khan juga mengamini hal tersebut dalam kitabnya <em>Al Hithah</em> (198). Namun pendapat ini perlu diteliti ulang. Karena terdapat beberapa indikasi yang dijadikan dasar oleh sebagian ulama untuk mengatakan bahwa Imam Muslim bermazhab <strong>Hambali</strong>. Diantara, indikasi tersebut misalnya Imam Muslim memiliki kitab yang berjudul <em>Sualaat Ahmad bin Hambal</em><em>. </em>Selain itu Imam Muslim pun berguru pada Imam Ahmad dan mengambil hadits darinya. Diceritakan dalam <em>Thabaqat Al Hanabilah</em> (413/2) bahwa Imam Muslim juga memuji Imam Ahmad dengan mengatakan: “Imam Ahmad adalah salah satu ulama <em>Huffadzul Atsar</em> (punggawa ilmu hadits)”. Namun semua bukti ini juga tidak menunjukkan dengan pasti bahwa beliau berpegang pada mahzab Hambali.</p>
<p>Pendapat yang benar adalah bahwa <strong>Imam Muslim berpegang pada mahzab <em>Ahlul Hadits</em> dan tidak <em>taklid</em> pada salah satu imam mazhab</strong>. Sebagaimana diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di <em>Majmu’ Fat</em><em>awa</em> (39/20): “Adapun Al Bukhari dan Abu Dawud, mereka berdua adalah imam <em>mujtahid</em> dalam fiqih. Sedangkan Muslim, At Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la, Al Bazzar dan yang semisal mereka, semuanya berpegang pada mahzab Ahlul Hadits dan tidak <em>taklid</em> terhadap salah satu imam mahzab. Mereka juga tidak termasuk imam <em>mujtahid</em> dalam fiqih secara mutlak. Namun terkadang dalam fiqih mereka memiliki kecenderungan untuk mengambil pendapat ulama Ahlul Hadits seperti Asy Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu ‘Ubaid, dan yang semisal mereka”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pujian Para Ulama</strong></span></p>
<p>Kedudukan Imam Muslim diantara pada ulama Islam tergambar dari banyaknya pujian yang dilontarkan kepada beliau. Pujian datang dari guru-gurunya, orang-orang terdekatnya, murid-muridnya juga para ulama yang hidup sesudahnya. Dalam <em>Tarikh Dimasyqi</em> (89/58), diceritakan bahwa Muhammad bin Basyar, salah satu guru Imam Muslim, berkata: “Ada empat orang yang hafalan hadits-nya paling hebat di dunia ini: Abu Zur’ah dari Ray, Muslim Ibnul Hajjaj dari Naisabur, Abdullah bin Abdirrahman Ad Darimi dari Samarkand, dan Muhammad bin Ismail dari Bukhara”.</p>
<p>Ahmad bin Salamah dalam <em>Tarikh Baghdad</em> (102-103/13) berkata: “Aku melihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim Ar Razi mengutamakan pendapat Muslim dalam mengenali keshahihan hadits dibanding para <em>masyaikh</em> lain di masa mereka hidup”.</p>
<p>Diceritakan dalam <em>Tarikh Dimasyqi</em> (89/58), Ishaq bin Mansur Al Kausaz berkata kepada Imam Muslim: “Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah masih menghidupkan engkau di kalangan muslimin”.</p>
<p>Dalam <em>Tadzkiratul Huffadz</em>, Adz Dzahabi juga memuji Imam Muslim dengan sebutan: “Muslim Ibnul Hajjaj Al Imam <strong>Al Hafidz Hujjatul Islam</strong>”.</p>
<p>Imam An Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> berkata: “Para ulama sepakat tentang keagungan Imam Muslim, keimamannya, peran besarnya dalam ilmu hadits, kepandaiannya dalam menyusun kitab ini, keutamaannya dan kekuatan <em>hujjah</em>-nya”.</p>
<p><strong>Wafatnya Imam Muslim</strong></p>
<p>Diceritakan oleh Ibnu Shalah dalam kitab <em>Shiyanatu Muslim</em> (1216) bahwa wafatnya Imam Muslim disebabkan hal yang tidak biasa, yaitu dikarenakan kelelahan pikiran dalam menelaah ilmu. Kemudian disebutkan kisah wafatnya dari riwayat Ahmad bin Salamah: “Abul Husain Muslim ketika itu mengadakan majelis untuk mengulang hafalan hadits. Lalu disebutkan kepadanya sebuah hadits yang ia tidak ketahui. Maka beliau pun pergi menuju rumahnya dan langsung menyalakan lampu. Beliau berkata pada orang yang berada di dalam rumah: ‘Sungguh, jangan biarkan orang masuk ke rumah ini’. Kemudian ada yang berkata kepadanya: ‘Maukah engkau kami hadiahkan sekeranjang kurma?’. Beliau menjawab: ‘(Ya) Berikan kurma-kurma itu kepadaku’. Kurma pun diberikan. Saat itu ia sedang mencari sebuah hadits. Beliau pun mengambil kurma satu persatu lalu mengunyahnya. Pagi pun datang dan kurma telah habis, dan beliau menemukan hadits yang dicari”. Al Hakim mengatakan bahwa terdapat tambahan <em>tsiqah</em> pada riwayat ini yaitu: “Sejak itu Imam Muslim sakit kemudian wafat”. Riwayat ini terdapat pada kitab <em>Tarikh Baghdadi</em> (103/13), <em>Tarikh Dimasyqi</em> (94/58), dan <em>Tahdzibul Kamal</em> (506/27). Beliau wafat pada waktu di hari Ahad, dan dimakamkan pada hari Senin, 5 Rajab 261 H.</p>
<p>Semoga Allah senantiasa merahmati beliau. Namanya begitu harum mewangi hingga hari ini, sungguh ini merupakan buah dari perjuangan berat nan mulia. Semoga Allah menerima amal beliau yang mulia dan membalasnya dengan yang lebih baik di hari dimana tidak ada pertolongan kecuali pertolongan Allah.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah agar ditengah-tengah kaum muslimin dimunculkan orang semisal beliau, yang memiliki perhatian besar dan semangat tinggi untuk menjaga agama Allah dan menyebarkannya di tengah kaum muslimin. Mudah-mudahan Allah mengumpulkan kita bersama beliau di <em>Jannah</em>-Nya kelak.</p>
<p>[Disarikan dari kitab <em>At Ta’rif Bil Imam Muslim Wa Kitabihi Ash Shahih</em> karya Syaikh Abdurrahman bin Shalih As Sudais, dan artikel dari Majalah Universitas Islam Madinah yang berjudul <em>Al Imam Muslim Wa Shahihuhu</em>, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad, dengan beberapa tambahan]</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Ustu</em> adalah nama tempat di pinggiran Naisabur (Lihat <em>Mu’jamul Buldan, </em>175/1)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Rida</em> adalah kain selendang yang lebar, yang dipakai untuk menutupi bagian atas tubuh.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Kain yang biasa dipakai laki-laki untuk menutupi kepala, semacam sorban</p>
<div class="shr-publisher-3984"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-imam-muslim.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-imam-muslim.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-imam-muslim.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-muslim.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Para Ulama Pembaharu Dalam Islam</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 12:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[mujaddid]]></category>
		<category><![CDATA[pembaharu islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3942</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, &#8220;إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا&#8221; “Sesungguhnya Allah akan mengutus<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/mengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Dalam sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">&#8220;إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا&#8221;</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun</em>”<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Arti “memperbaharui (urusan) agama” adalah menghidupkan kembali dan menyerukan pengamalan ajaran Islam yang bersumber dari petunjuk al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang telah ditinggalkan manusia, yaitu dengan menyebarkan ilmu yang benar, mengajak manusia kepada tauhid dan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, serta memperingatkan mereka untuk menjauhi perbuatan syirik dan bid’ah<a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Perhitungan akhir seratus tahun dalam hadits ini adalah dimulai dari waktu hijrah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari Mekkah ke Madinah<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> “…orang yang akan memperbaharui (urusan) agama…” tidak menunjukkan bahwa <em>mujaddid</em> di setiap akhir seratus tahun hanya satu orang, tapi mungkin saja pada waktu tertentu lebih dari satu orang, sebagaimana yang diterangkan oleh imam Ibnu Hajar dan para ulama lainnya<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Dalam hal ini, imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesunguhnya Allah akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan/memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>”<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>Para ulama telah menyebutkan nama-nama para imam Ahlus sunnah yang memenuhi kriteria untuk disebut sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) dalam Islam, berdasarkan pengamatan mereka terhadap sifat-sifat mulia para imam tersebut.</p>
<p>Dalam tulisan ini kami akan menyebutkan beberapa di antara para imam tersebut beserta sekelumit dari biografi mereka.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>1- ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz bin Marwan bin Hakam al-Qurasyi al-Umawi al-Madani</strong></span></p>
<p>Beliau adalah khalifah yang tersohor dengan keshalihan dan keadilannya, amirul mu’minin, imam <em>tabi’in</em> yang mulia, penghafal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 64 H dan wafat pada tahun 101 H.</p>
<p>Ibunya adalah cucu sahabat yang mulia Umar bin Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, namanya Hafshah bintu ‘Ashim bin Umar bin Khattab<a href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Beliau diserupakan dalam keadilan dan kelurusan akhlak dengan kakek beliau Umar bin Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dalam sifat zuhud dengan Hasan al-Bashri, dan dalam ketinggian ilmu dengan imam az-Zuhri<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Imam asy-Syafi’i memuji beliau dengan mengatakan, “<em>al-Khulafa’ ar-Rasyidun</em> (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk dan bimbingan Allah <em>Ta’ala</em>) ada lima orang: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz”<a href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Para ulama Ahlus sunnah telah bersepakat untuk menobatkan beliau sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) pertama dalam Islam<a href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesunguhnya Allah akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan/memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Kemudian kami melihat (meneliti sejarah), maka (kami dapati pembaharu) pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah) adalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, dan (pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua adalah imam asy-Syafi’i<a href="#_ftn10">[10]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>2- Imam asy-Syafi’i, Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin bin al-‘Abbas bin ‘Utsman al-Muththalibi al-Qurasyi al-Makki.</strong></span></p>
<p>Beliau adalah imam besar dari kalangan <em>atba’ut tabi’in</em> (murid para <em>tabi’in</em>), pembela sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ahli fikih yang ternama, penghafal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H, nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em><a href="#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p>Imam Qutaibah bin Sa’id memuji beliau dengan mengatakan, “Kematian imam Syafi’i berarti kematian sunnah Rasulullah” <a href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal berkata, “(Kedudukan) Imam Syafi’i (di zamannya) adalah seperti matahari bagi bumi dan sebagai penyelamat bagi umat manusia”<a href="#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p>Para ulama Ahlus sunnah juga telah bersepakat untuk menobatkan beliau sebagai <em>mujaddid</em> (pembaharu) kedua dalam Islam<a href="#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p>Imam Ahmad berkata, “…(Pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah) adalah imam asy-Syafi’i<a href="#_ftn15">[15]</a>.</p>
<p>Imam Ibnu Hajar berkata: “Beliau adalah <em>mujaddid</em> (pembaharu) urusan agama Islam pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah)”<a href="#_ftn16">[16]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>3- Hasan al-Bashri, Abu Sa’id al-Hasan bin Abil Hasan Yasar al-Bashri</strong></span></p>
<p>Beliau adalah Imam besar dari kalangan <em>tabi’in</em>, syaikhul Islam, sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lahir pada tahun 22 H dan wafat 110 H<a href="#_ftn17">[17]</a>.</p>
<p>Beliau pernah disusukan oleh Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan pernah didoakan kebaikan oleh Umar bin Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> agar diberi pemahaman dalam ilmu agama dan dicintai manusia<a href="#_ftn18">[18]</a>.</p>
<p>Imam Muhammad bin Sa’ad memuji beliau dengan mengatakan, “Beliau adalah seorang yang berilmu (tinggi), menghimpun (berbagai macam ilmu), tinggi (kedudukannya), sangat terpercaya, sandaran dalam periwayatan hadits, dan ahli ibadah”<a href="#_ftn19">[19]</a>.</p>
<p>Beliau termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah)<a href="#_ftn20">[20]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>4- Muhammab bin Sirin, Abu Bakr al-Anshari al-Bashri</strong></span></p>
<p>Beliau adalah imam besar dari kalangan <em>tabi’in</em>, syaikhul Islam, sangat wara’ (berhati-hati dalam masalah halal-haram), sangat luas ilmunya lagi sangat terpercaya dan kokoh dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau wafat pada tahun 110 H<a href="#_ftn21">[21]</a>.</p>
<p>Imam Abu ‘Awanah al-Yasykuri berkata, “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorang pun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah”<a href="#_ftn22">[22]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah)<a href="#_ftn23">[23]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>5- Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin Syihab az-Zuhri al-Qurasyi al-Madani</strong></span></p>
<p>Beliau adalah imam besar dari kalangan <em>tabi’in</em>, penghafal hadits yang utama, yang disepakati kemuliaan dan kecermatan hafalannya. Beliau wafat pada tahun 125 H <a href="#_ftn24">[24]</a>.</p>
<p>Imam ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz memuji beliau dengan mengatakan, “Tidak tersisa seorang pun (di jaman ini) yang lebih memahami sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari pada az-Zuhri”<a href="#_ftn25">[25]</a>.</p>
<p>Imam Ayyub as-Sakhtiyani, “Aku belum pernah melihat (seorang pun) yang lebih berilmu dari pada beliau” <a href="#_ftn26">[26]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah)<a href="#_ftn27">[27]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>6- Yahya bin Ma’in, Abu Zakaria al-Bagdadi</strong></span></p>
<p><strong> </strong>Beliau adalah imam besar dari kalangan <em>atba’ut tabi’in</em> (murid para <em>tabi’in</em>), ahli <em>jarh wa ta’dil</em> (penilaian terhadap para perawi hadits dalam bentuk pujian atau celaan) yang ternama, penghafal hadits yang utama, dan gurunya para ulama Ahli hadits. Lahir pada tahun 158 H dan wafat tahun 233 H<a href="#_ftn28">[28]</a>.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal memuji beliau dengan mengatakan, “Yahya bin Ma’in adalah orang yang Allah <em>Ta’ala</em> ciptakan (khusus) untuk urusan ini (membela sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>), dengan beliau menyingkap kedustaan para pendusta dalam hadits (Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>)”<a href="#_ftn29">[29]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah)<a href="#_ftn30">[30]</a>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>7-</strong> <strong>Imam an-Nasa’i, Abu Abdir Rahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Sinan</strong></span></p>
<p>Beliau adalah imam besar, syaikhul Islam, penghafal dan kritikus hadits kenamaan, serta sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Lahir pada tahun 215 H dan wafat tahun 303 H<a href="#_ftn31">[31]</a>.</p>
<p>Imam Abu Sa’id bin Yunus memuji beliau dengan mengatakan, “Abu ‘Abdirrahman an-Nasa’i adalah seorang imam (panutan), penghafal hadits dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya”<a href="#_ftn32">[32]</a>.</p>
<p>Imam Abul Hasan ad-Daraquthni berkata, “Abu ‘Abdirrahman an-Nasa’i lebih didahulukan (dalam pemahaman ilmu hadits) dibandingkan semua ulama hadits di jaman beliau”<a href="#_ftn33">[33]</a>.</p>
<p>Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun ketiga (hijriyah)<a href="#_ftn34">[34]</a>.</p>
<p><strong>Catatan penting</strong></p>
<p>- Banyak para imam besar Ahlus sunnah yang terkenal dengan ketinggian ilmu dan pemahaman, serta kuat dalam menegakkan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, akan tetapi mereka tidak dinobatkan oleh para ulama sebagai pembaharu dalam Islam di jamannya, padahal mereka sangat pantas untuk itu, seperti imam Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan lain-lain. Hal ini disebabkan masa hidup mereka yang tidak bertepatan dengan waktu yang disebutkan dalam hadits di atas, dan ini sama sekali tidak mengurangi tingginya kedudukan dan kemuliaan mereka<a href="#_ftn35">[35]</a>.</p>
<p>- Termasuk para imam Ahlus sunnah yang dinobatkan oleh sejumlah besar ulama Islam sebagai pembaharu dalam Islam di abad ke-12 Hijriyah adalah imam syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab at-Tamimi (wafat 1206 H)<a href="#_ftn36">[36]</a>. Dalam hal ini syaikh yang Mulia ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata, “Termasuk di antara para imam (Ahlus sunnah) yang mendapatkan petunjuk (dari Allah Ta’ala) dan da’i yang mengusahakan perbaikan (umat ini) adalah imam yang sangat dalam dan luas ilmunya, pembaharu ajaran Islam yang telah ditinggalkan (manusia) di abad ke-12 Hijriyah dan penyeru kepada sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali at-Tamimi al-Hambali, semoga Allah memperindah (menerangi) tempat peristirahannya dan memuliakannya di surga sebagai tempat menetapnya” <a href="#_ftn37">[37]</a>.</p>
<p>- Demikian pula yang disebut-sebut para ulama sebagai pembaharu dalam Islam di abad ini, dua imam Ahlus sunnah yang ternama: syaikh yang mulia Muhammad Nashiruddin al-Albani dan syiakh yang mulia ‘Abdul ‘aziz bin Abdullah bin Baz, semoga Allah merahmati semua ulama ahlus sunnah yang telah wafat dan menjaga mereka yang masih hidup.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p dir="rtl">
<p style="text-align: left;" dir="rtl">Kota Kendari, 24 Rabi’ul Tsani 1431 H</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 6527), Dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267) dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 599).</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/260).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/264).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat kitab “Tahdziibul kamaal” (21/432) dan “Tadzkirotul huffazh (1/118).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/260).</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat kitab “Tahdziibul kamaal” (24/355), “siyaru a’laamin nubalaa’” (10/5) dan “Tadzkirotul huffazh (1/361).</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Dinukil oleh imam al-Mizzi dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (24/372).</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/260).</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 467).</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Lihat kitab “Tadzkiratul huffaz” (1/71) dan “Taqriibut tahdziib” (hal. 160).</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Dinukil oleh imam al-Mizzi dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (6/104).</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Tadzkiratul huffaz (1/71).</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Lihat kitab “siyaru a’laamin nubalaa” (4/606), “Tadzkiratul huffaz” (1/77) dan “Taqriibut tahdziib” (hal.160).</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (4/610). Dalam sebuah hadits shahih Rasululah r bersabda: “Wali (kekasih) Allah adalah orang yang jika (manusia) memandangnya maka mereka akan ingat kepada Allah”. Lihat “Ash Shahihah” (no. 1733).</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Lihat kitab “Tadzkiratul huffaz” (1/108) dan “Taqriibut tahdziib” (hal. 506).</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Tadzkiratul huffaz” (1/109).</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Ibid.</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> Lihat kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (11/71) dan “Taqriibut tahdziib” (hal. 597).</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (11/80).</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> Lihat kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (14/125) dan “Taqriibut tahdziib” (hal. 80).</p>
<p><a href="#_ftnref32">[32]</a> Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (14/133).</p>
<p><a href="#_ftnref33">[33]</a> Ibid (14/131).</p>
<p><a href="#_ftnref34">[34]</a> Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/266).</p>
<p><a href="#_ftnref35">[35]</a> Ibid (11/263).</p>
<p><a href="#_ftnref36">[36]</a> Lihat kitab “’Aqidatusy syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab as-Salafiyyah” (1/18).</p>
<p><a href="#_ftnref37">[37]</a> Ibid (1/19-20).</p>
<div class="shr-publisher-3942"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-para-ulama-pembaharu-dalam-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Ringkas Imam Nawawi</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 00:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Nawawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=671</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayah beliau yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.</p>
<p><span id="more-671"></span></p>
<p>Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliaupun menjadi semakin besar.</p>
<p>An-Nawawi tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H ia memulai <em>rihlah thalabul ilmi</em>-nya ke Dimasyq dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami&#8217; Al-Umawiy. Jadilah <em>thalabul ilmi</em> sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Ia pun mengungguli teman-temannya yang lain. Ia berkata: <em>&#8220;Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.&#8221;</em> [<em>Syadzaratudz Dzahab</em> 5/355].</p>
<p>Diantara syaikh beliau: Abul Baqa&#8217; An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul &#8216;Aththar Asy-Syafi&#8217;iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi&#8217;iy, Abul &#8216;Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu &#8216;Abdil Hadi.</p>
<p>Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.</p>
<p>Beliau digelari <em>Muhyiddin</em> (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini karena <em>tawadhu&#8217;</em> beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata: <em>&#8220;Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.&#8221;</em></p>
<p>Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara&#8217; dan bertaqwa. Beliau sederhana, <em>qana&#8217;ah</em> dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma&#8217;ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: &#8220;Tandatanganilah fatwa ini!!&#8221; Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: &#8220;Kenapa !?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Karena berisi kedhaliman yang nyata.&#8221; Raja semakin marah dan berkata: &#8220;Pecat ia dari semua jabatannya!&#8221; Para pembantu raja berkata: &#8220;Ia tidak punya jabatan sama sekali.” Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: &#8220;Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?&#8221; Raj apun menjawab: &#8220;Demi Allah, aku sangat segan padanya.&#8221;</p>
<p>Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Dalam bidang hadits: <em>Arba&#8217;in, Riyadhush Shalihin</em>, <em>Al-Minhaj</em> (<em>Syarah Shahih Muslim</em>), <em>At-Taqrib wat Taysir fi Ma&#8217;rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir</em>.</li>
<li>Dalam bidang fiqih: <em>Minhajuth Thalibin</em>, <em>Raudhatuth Thalibin</em>, <em>Al-Majmu&#8217;</em>.</li>
<li>Dalam bidang bahasa: <em>Tahdzibul Asma&#8217; wal Lughat</em>.</li>
<li>Dalam bidang akhlak: <em>At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur&#8217;an</em>, <em>Bustanul Arifin</em>, <em>Al-Adzkar</em>.</li>
</ol>
<p>Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta&#8217;ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.</p>
<p>Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid&#8217;ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak <em>ma&#8217;shum</em> (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada uluma-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanah. Beliau kadang men-<em>ta&#8217;wil</em> dan kadang-kadang <em>tafwidh</em>. Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah <em>muhaqqiq</em> dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan-nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.</p>
<p>Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy&#8217;ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy&#8217;ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti <em>ziyadatul iman</em> dan <em>khalqu af&#8217;alil &#8216;ibad</em>. Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan di dalamnya.</p>
<p>Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: <em>&#8220;Lahu aghlaath fish shifat&#8221;</em> (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).</p>
<p>Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H -<em>rahimahullah wa ghafara lahu</em>-.</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Lihat biografi beliau di <em>Tadzkiratul Huffazh</em> 4/1470, <em>Thabaqat Asy-Syafi&#8217;iyyah Al-Kubra</em> 8/395, dan <em>Syadzaratudz Dzahab</em> 5/354</p>
<p>***</p>
<p>Disusun Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.<br />
Artikel <a title="Imam Nawawi" href="http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-671"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-ringkas-imam-nawawi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-ringkas-imam-nawawi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-ringkas-imam-nawawi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Imam Bukhari</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-bukhari.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-bukhari.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 16:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Bukhari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=640</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad bin Hatim Warraq Al-Bukhari rahimahullah menceritakan, &#8220;Aku bermimpi melihat Bukhari berjalan di belakang Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Setiap kali Nabi mengangkat telapak kakinya maka Abu Abdillah (Bukhari) pun meletakkan telapak kakinya di situ.&#8221;<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-bukhari.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Muhammad bin Hatim Warraq Al-Bukhari <em>rahimahullah</em> menceritakan, &#8220;Aku bermimpi melihat Bukhari berjalan di belakang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Setiap kali Nabi mengangkat telapak kakinya maka Abu Abdillah (Bukhari) pun meletakkan telapak kakinya di situ.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 656)</p>
<p><span id="more-640"></span><br />
<strong>Nama dan Nasabnya</strong></p>
<p>Beliau bernama Muhammad, putra dari Isma&#8217;il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju&#8217;fi, biasa dipanggil dengan sebutan Abu &#8216;Abdillah. Beliau dilahirkan pada hari Jum&#8217;at setelah shalat Jum&#8217;at 13 Syawwal 194 H di Bukhara (Bukarest). Ketika masih kecil, ayahnya yaitu Isma&#8217;il sudah meninggal sehingga dia pun diasuh oleh sang ibu. Ghinjar dan Al-Lalika&#8217;i menceritakan bahwa ketika kecil kedua mata Bukhari buta. Suatu ketika ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim berkata kepadanya, &#8220;Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.&#8221; Pagi harinya dia dapati penglihatan anaknya telah sembuh (lihat <em>Hadyu Sari</em>, hal. 640)</p>
<p><strong>Sanjungan Para Ulama Kepadanya</strong></p>
<p>Abu Mush&#8217;ab <em>rahimahullah</em> (di dalam cetakan tertulis Abu Mu&#8217;shab, sepertinya ini salah tulis karena dalam kalimat sesudahya ditulis Abu Mush&#8217;ab, pent) Ahmad bin Abi Bakr Az Zuhri mengatakan, &#8220;Muhammad bin Isma&#8217;il (Bukhari) lebih fakih dan lebih mengerti hadits dalam pandangan kami daripada Imam Ahmad bin Hambal.&#8221; Salah seorang teman duduknya berkata kepadanya, &#8220;Kamu terlalu berlebihan.&#8221; Kemudian Abu Mush&#8217;ab justru mengatakan, &#8220;Seandainya aku bertemu dengan Malik (lebih senior daripada Imam Ahmad, pent) dan aku pandang wajahnya dengan wajah Muhammad bin Isma&#8217;il niscaya aku akan mengatakan: Kedua orang ini sama dalam hal hadits dan fiqih.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 646)</p>
<p>Qutaibah bin Sa&#8217;id <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Aku telah duduk bersama para ahli fikih, ahli zuhud, dan ahli ibadah. Aku belum pernah melihat semenjak aku bisa berpikir ada seorang manusia yang seperti Muhammad bin Isma&#8217;il. Dia di masanya seperti halnya Umar di kalangan para sahabat.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 646)</p>
<p>Muhammad bin Yusuf Al Hamdani <em>rahimahullah</em> menceritakan: Suatu saat Qutaibah ditanya tentang kasus &#8220;perceraian dalam keadaan mabuk&#8221;, lalu masuklah Muhammad bin Isma&#8217;il ke ruangan tersebut. Seketika itu pula Qutaibah mengatakan kepada si penanya, &#8220;Inilah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan Ali bin Madini yang telah dihadirkan oleh Allah untuk menjawab pertanyaanmu.&#8221; Seraya mengisyaratkan kepada Bukhari (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 646)</p>
<p>Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Negeri Khurasan belum pernah melahirkan orang yang seperti Muhammad bin Isma&#8217;il.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 647)</p>
<p>Bundar Muhammad bin Basyar <em>rahimahullah</em> mengatakan tentang Bukhari, &#8220;Dia adalah makhluk Allah yang paling fakih di zaman kami.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 647)</p>
<p>Hasyid bin Isma&#8217;il rahimahullah menceritakan: Ketika aku berada di Bashrah aku mendengar kedatangan Muhammad bin Isma&#8217;il. Ketika dia datang, Muhammad bin Basyar pun mengatakan, &#8220;Hari ini telah datang seorang pemimpin para fuqoha&#8217;.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 647)</p>
<p>Muslim bin Hajjaj <em>rahimahullah</em> -penulis Shahih Muslim, murid <a title="Imam Bukhari" href="http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-bukhari.html">Imam Bukhari</a>- mengatakan, &#8220;Aku bersaksi bahwa di dunia ini tidak ada orang yang seperti dirimu (yaitu seperti Bukhari).&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 650)</p>
<p><strong>Kekuatan Hafalan Imam Bukhari dan Kecerdasannya</strong></p>
<p>Muhammad bin Abi Hatim Warraq Al Bukhari menceritakan: Aku mendengar Bukhari mengatakan, &#8220;Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis (kuttab).&#8221; Aku berkata kepadanya, &#8220;Berapakah umurmu ketika itu?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian setelah lulus dari Kuttab, aku pun bolak-balik menghadiri majelis haditsnya Ad-Dakhili dan ulama hadits lainnya. Suatu hari tatkala membacakan hadits di hadapan orang-orang dia (Ad-Dakhili) mengatakan, &#8216;Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.&#8217; Maka aku katakan kepadanya, &#8216;Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.&#8217; Maka dia pun menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, &#8216;Rujuklah kepada sumber aslinya, jika kamu punya.&#8217; Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, &#8216;Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Dia adalah Az Zubair (bukan Abu Zubair, pen). Nama aslinya Ibnu Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.&#8217; Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, &#8216;Kamu benar&#8217;. Menanggapi cerita tersebut, Bukhari ini Warraq berkata, &#8220;Biasa, itulah sifat manusia. Ketika membantahnya umurmu berapa?&#8221; Bukhari menjawab, &#8220;Sebelas tahun.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 640)</p>
<p>Hasyid bin Isma&#8217;il menceritakan: Dahulu Bukhari biasa ikut bersama kami bolak-balik menghadiri pelajaran para masayikh (para ulama) di Bashrah, pada saat itu dia masih kecil. Dia tidak pernah mencatat, sampai-sampai berlalu beberapa hari lamanya. Setelah 6 hari berlalu kami pun mencela kelakuannya. Menanggapi hal itu dia mengatakan, &#8220;Kalian merasa memiliki lebih banyak hadits daripada aku. Cobalah kalian tunjukkan kepadaku hadits-hadits yang telah kalian tulis.&#8221; Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadits tersebut. Lalu ternyata dia menambahkan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dia membacakan hadits-hadits itu semua dengan ingatan (di luar kepala), sampai-sampai kami pun akhirnya harus membetulkan catatan-catatan kami yang salah dengan berpedoman kepada hafalannya (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 641)</p>
<p>Muhammad bin Al Azhar As Sijistani <em>rahimahullah</em> menceritakan: Dahulu aku ikut hadir dalam majelis Sulaiman bin Harb sedangkan Bukhari juga ikut bersama kami. Dia hanya mendengarkan dan tidak mencatat. Ada orang yang bertanya kepada sebagian orang yang hadir ketika itu, &#8220;Mengapa dia tidak mencatat?&#8221; Maka orang itu pun menjawab, &#8220;Dia akan kembali ke Bukhara dan menulisnya berdasarkan hafalannya.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 641)</p>
<p>Suatu ketika Bukhari <em>rahimahullah</em> datang ke Baghdad. Para ulama hadits yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadits yang telah dibolak-balikkan isi hadits dan sanadnya, matan yang satu ditukar dengan matan yang lain, sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian seratus hadits ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadits yang berbeda kepada Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadits yang mereka bawakan, maka Bukhari menjawab dengan jawaban yang sama, &#8220;Aku tidak mengetahuinya.&#8221; Setelah sepuluh orang ini selesai, maka gantian Bukhari yang berkata kepada 10 orang tersebut satu persatu, &#8220;Adapun hadits yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadits yang benar adalah demikian.&#8221; Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang tersebut. Semua sanad dan matan hadits beliau kembalikan kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadits yang telah dibolak-balikkan itu hanya dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Bukhari dan tingginya kedudukan beliau (lihat <em>Hadyu Sari</em>, hal. 652)</p>
<p>Muhammad bin Hamdawaih <em>rahimahullah</em> menceritakan: Aku pernah mendengar Bukhari mengatakan, &#8220;Aku hafal seratus ribu hadits sahih.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 654). Bukhari <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Aku menyusun kitab <em>Al-Jami&#8217;</em> (<em>Shahih Bukhari</em>, pent) ini dari enam ratus ribu hadits yang telah aku dapatkan dalam waktu enam belas tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dengan Allah.&#8221; (<em>Hadyu Sari</em>, hal. 656)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> menuturkan bahwa apabila Bukhari membaca Al-Qur&#8217;an maka hati, pandangan, dan pendengarannya sibuk menikmati bacaannya, dia memikirkan perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di dalamnya, dan mengetahui hukum halal dan haramnya (lihat <em>Hadyu Sari</em>, hal. 650)</p>
<p>Semoga Allah subhanahu wa ta&#8217;ala membalas jasa-jasa beliau dengan sebaik-baik balasan dan memasukkannya ke dalam Surga Firdaus yang tinggi. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dapat melanjutkan perjuangannya dalam membela Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan menyebarkannya kepada umat manusia. Wa <em>shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Imam Bukhari" href="http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-bukhari.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-640"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-imam-bukhari.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-imam-bukhari.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fmengenal-imam-bukhari.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/mengenal-imam-bukhari.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imam Syafi&#8217;i Sang Pembela Sunnah dan Hadits Nabi</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/imam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/imam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 07:20:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Syafi'i]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Nama dan Nasab Beliau bernama Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-&#8217;Abbas bin &#8216;Utsman bin Syafi&#8217; bin as-Saib bin &#8216;Ubayd bin &#8216;Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/imam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Nama dan Nasab</strong></p>
<p>Beliau bernama Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-&#8217;Abbas bin &#8216;Utsman bin Syafi&#8217; bin as-Saib bin &#8216;Ubayd bin &#8216;Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin &#8216;Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri &#8216;Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.</p>
<p><span id="more-61"></span></p>
<p>Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di &#8216;Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi&#8217;, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi&#8217;i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi&#8217;, sendiri termasuk sahabat <em>kibar</em> (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah <em>shollallahu&#8217;alaihiwasallam</em>. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.</p>
<p>Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi&#8217;i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi&#8217;i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala&#8217; saja. Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin &#8216;Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kunyahUmmu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi&#8217;i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan <em>istinbath</em>.</p>
<p><strong>Waktu dan Tempat Kelahirannya</strong></p>
<p>Beliau dilahirkan pada tahun 150. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.</p>
<p>Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.</p>
<p>Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.</p>
<p><strong>Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu</strong></p>
<p>Di Mekkah, Imam Syafi &#8216;i dan ibunya tinggal di dekat Syi&#8217;bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi&#8217;i bercerita, <em>&#8220;Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, ‘Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.’” </em>Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.</p>
<p>Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab <em>Al-Muwaththa&#8217;</em> karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.</p>
<p>Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin &#8216;Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.</p>
<p>Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-&#8217;Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi&#8217; -yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin &#8216;Uyainah -ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa&#8217;id bin Salim, Fudhail bin &#8216;Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan <em>Muwaththa&#8217;</em> Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.</p>
<p>Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun <em>al-Muwaththa&#8217;</em>. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca <em>al-Muwaththa&#8217;</em> yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani <em>mulazamah</em> kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, &#8216;Abdul &#8216;Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma&#8217;il bin Ja&#8217;far, Ibrahim bin Sa&#8217;d dan masih banyak lagi.</p>
<p>Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan -satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenarannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.</p>
<p>Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi&#8217;i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani &#8216;Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani &#8216;Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan &#8216;Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang &#8216;Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi&#8217;i secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang mengenaskan dari penguasa. Maka berbeda dengan sikap ahli fiqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.</p>
<p>Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap <em>tasyayyu&#8217;</em>, padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan <em>tasysyu&#8217;</em> model orang-orang syi&#8217;ah. Bahkan Imam Syafi&#8217;i menolak keras sikap <em>tasysyu&#8217;</em> model mereka itu yang meyakini ketidakabsahan keimaman Abu Bakar, Umar, serta &#8216;Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Al-Quran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai ahli fiqih madzhab mereka.</p>
<p>Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang &#8216;Alawiyah. Beliau bersama orang-orang &#8216;Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi&#8217;i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan &#8216;Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.</p>
<p>Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra&#8217;yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma &#8216;il bin &#8216;Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.</p>
<p>Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi&#8217;i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi <em>khabar-khabar</em> yang <em>maqbul</em>, penjelasan tentang <em>nasikh</em> dan <em>mansukh</em> dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, <em>Ar-Risalah</em>.</p>
<p>Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab <em>Ash-habul Hadits</em> di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok <em>Ash-habul Hadits</em> merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh <em>Ahlu Ra&#8217;yi</em>. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami &#8216; al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah <em>Ahlu Ra &#8216;yu</em>. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.</p>
<p>Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.</p>
<p>Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi&#8217;i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj <em>as-salaf ash-shaleh</em> -yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.</p>
<p>Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai <em>Yaumul Mihnah</em>, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi&#8217;i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya <em>ar-Risalah</em>, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.</p>
<p><strong>Keteguhannya Membela Sunnah</strong></p>
<p>Sebagai seorang yang mengikuti manhaj <em>Ash-habul Hadits</em>, beliau dalam menetapkan suatu masalah terutama masalah aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, <em>&#8220;Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.&#8221;</em> Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar <em>Nashir as-Sunnah wa al-Hadits</em>.</p>
<p>Terdapat banyak atsar tentang ketidaksukaan beliau kepada Ahli Ilmu Kalam, mengingat perbedaan manhaj beliau dengan mereka. Beliau berkata, <em>&#8220;Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Alquran dan sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.&#8221;</em> Imam Ahmad berkata, <em>&#8220;Bagi Syafi&#8217;i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan prilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.&#8221;</em> Imam Syafi &#8216;i berkata, <em>&#8220;Tidak ada yang lebih aku benci daripada ilmu kalam dan ahlinya.&#8221;</em> Al-Mazani berkata, <em>&#8220;Merupakan madzhab Imam Syafi&#8217;i membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.&#8221;</em> Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.</p>
<p><strong>Wafatnya</strong></p>
<p>Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya&#8217; hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.</p>
<p>Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi&#8217;i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, <em>&#8220;Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah?&#8221;</em> Beliau menjawab, <em>&#8220;Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus.&#8221;</em></p>
<p><strong>Karangan-Karangannya</strong></p>
<p>Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam <em>al-Fahrasat</em>. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah <em>al-Umm</em>, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan <em>ar-Risalah al-Jadidah</em> (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.</p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<ol>
<li><em>Al-Umm</em>, bagian muqoddimah hal. 3-33</li>
<li><em>Siyar A&#8217;lam an-Nubala&#8217;</em></li>
<li><em>Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi&#8217;</em>, terjemah kitab <em>Manhaj al-Imam Asy-Syafi &#8216;i fi Itsbat al-&#8217;Aqidah</em> karya DR. Muhammad AW al-Aql terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi &#8216;i, Cirebon</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Sumber: Majalah Fatawa<br />
Penyusun: Ustadz Arif Syarifuddin<br />
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-61"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fimam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fimam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fimam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/imam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Hidup Imam Al Ghazali (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 07:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Al Ghazali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Karya-Karyanya* *Nama karya beliau ini diambil secara ringkas dari kitab Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya&#8217;irah, karya Dr. Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud 2/623-625, Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah 6/203-204 Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Karya-Karyanya*</strong></p>
<p><em>*Nama karya beliau ini diambil secara ringkas dari kitab Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya&#8217;irah, karya Dr. Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud 2/623-625, Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah 6/203-204</em></p>
<p>Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:</p>
<p>Pertama, dalam masalah ushuluddin dan aqidah:</p>
<ol>
<li><em>Arba&#8217;in Fi Ushuliddin</em>. Merupakan juz kedua dari kitab beliau <em>Jawahirul Qur&#8217;an</em>.</li>
<li><em>Qawa&#8217;idul Aqa&#8217;id</em>, yang beliau satukan dengan <em>Ihya&#8217; Ulumuddin</em> pada jilid pertama.</li>
<li><em>Al Iqtishad Fil I&#8217;tiqad</em>.</li>
<li><em>Tahafut Al Falasifah</em>. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy&#8217;ariyah.</li>
<li><em>Faishal At Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah</em>.</li>
</ol>
<p><span id="more-60"></span>Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:</p>
<p>(1) <em>Al Mustashfa Min Ilmil Ushul</em>. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, <em>&#8220;Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fiqih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.&#8221;</em> Tetapi kemudian beliau berkata, <em>&#8220;Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar&#8230;…&#8221;</em> (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis <em>Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya&#8217;irah dari Al Mustashfa</em> hal. 17 dan 18).</p>
<p>Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, <em>&#8220;Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.&#8221;</em> (<em>Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya&#8217;irah dari Al Mustashfa</em> hal. 19).</p>
<p>Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, <em>&#8220;Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu  manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!&#8221;</em> (Adz Dzahabi dalam <em>Siyar A&#8217;lam Nubala</em> 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.</p>
<p>(2) <em>Mahakun Nadzar.</em></p>
<p>(3) <em>Mi&#8217;yarul Ilmi.</em> Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.</p>
<p>(4) <em>Ma&#8217;ariful Aqliyah.</em> Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.</p>
<p>(5) <em>Misykatul Anwar</em>. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.</p>
<p>(6) <em>Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna.</em> Telah dicetak.</p>
<p>(7) <em>Mizanul Amal.</em> Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.</p>
<p>(8) <em>Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi</em>. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, <em>&#8220;Adapun kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.&#8221;</em> (Adz Dzahabi dalam <em>Siyar A&#8217;lam Nubala</em> 19/329).</p>
<p>Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, <em>&#8220;Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.&#8221;</em> (Adz Dzahabi dalam <em>Siyar A&#8217;lam Nubala</em> 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.</p>
<p>(9)  <em>Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.</em></p>
<p>(10) <em>Ma&#8217;arijul Qudsi fi Madariji Ma&#8217;rifati An Nafsi.</em></p>
<p>(11) <em>Qanun At Ta&#8217;wil.</em></p>
<p>(12) <em>Fadhaih Al Bathiniyah</em> dan <em>Al Qisthas Al Mustaqim</em>. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.</p>
<p>(13) <em>Iljamul Awam An Ilmil Kalam</em>. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al Mu&#8217;tashim Billah Al Baghdadi.</p>
<p>(14) <em>Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin</em>, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.</p>
<p>(15) <em>Ar Risalah Alladuniyah.</em></p>
<p>(16) <em>Ihya&#8217; Ulumuddin</em>. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:</p>
<p>Abu Bakar Al Thurthusi berkata, <em>&#8220;Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya&#8217; dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.&#8221;</em> (Dinukil Adz Dzahabi dalam <em>Siyar A&#8217;lam Nubala</em> 19/334).</p>
<p>Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, <em>&#8220;Adapun penjelasan Anda tentang <a href="http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-2.html">Abu Hamid</a>, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al Ihya&#8217; beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits palsu.&#8221;</em> Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, <em>&#8220;Adapun di dalam kitab Ihya&#8217; terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.&#8221;</em> (Adz Dzahabi dalam <em>Siyar A&#8217;lam Nubala</em> 19/339-340).</p>
<p>Imam Subuki dalam <em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> (Lihat 6/287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab <em>Al Ihya&#8217;</em> dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits <em>Al Ihya&#8217;</em> dalam kitabnya, <em>Al Mughni An Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al Ihya Minal Akhbar</em>. Kitab ini dicetak bersama kitab <em>Ihya Ulumuddin</em>. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab <em>Ihya Ulumuddin.</em></p>
<p>(17) <em>Al Munqidz Minad Dhalalah.</em> Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.</p>
<p>(18) <em>Al Wasith.</em></p>
<p>(19) <em>Al Basith.</em></p>
<p>(20) <em>Al Wajiz.</em></p>
<p>(21) <em>Al Khulashah.</em> Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi&#8217;iyah yang beliau tulis. Imam As Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam <em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> 6/224-227.</p>
<p><strong>Aqidah dan Madzhab Beliau</strong></p>
<p>Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi&#8217;i. Nampak dari karyanya <em>Al Wasith, Al Basith</em> dan <em>Al Wajiz</em>. Bahkan kitab beliau <em>Al Wajiz</em> termasuk buku induk dalam mazhab Syafi&#8217;i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi&#8217;iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, <em>&#8220;Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A&#8217;jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi&#8217;i.&#8221; </em></p>
<p>Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy&#8217;ariyah. Banyak membela Asy&#8217;ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul <em>Al Iqtishad Fil I&#8217;tiqad</em>. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy&#8217;ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy&#8217;ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy&#8217;ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy&#8217;ariyah.</p>
<p>Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.</p>
<p>Ketika berbicara dengan Asy&#8217;ariyah tampaklah sebagai seorang Asy&#8217;ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, <em>&#8220;Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy&#8217;ari bersama Asy&#8217;ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.&#8221;</em> (Lihat Mukadimah kitab <em>Bughyatul Murtad</em> hal. 110).</p>
<p>Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti <em>Misykatul Anwar, Al Ma&#8217;arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma&#8217;arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur&#8217;an</em> dan <em>Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi</em>, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:</p>
<p>Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta&#8217;lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii&#8217;tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.</p>
<p>Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (<em>Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah</em> 2/628).</p>
<p>Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat <em>Al Mausu&#8217;ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu&#8217;ashirah</em>, karya Dr. Mani&#8217; bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab <em>Bughyatul Murtad</em> dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, <em>&#8220;Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta&#8217;wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta&#8217;wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).”</em> (Lihat Mukadimah kitab <em>Bughyatul Murtad</em> hal. 111).</p>
<p>Tetapi perlu diketahui, bahwa  pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlusunnah Wal Jama&#8217;ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni <em>Shahih Bukhari</em> dan <em>Muslim</em>. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, <em>&#8220;Penulis Jawahirul Qur&#8217;an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a&#8217;lam.”</em></p>
<p>***</p>
<p>Sumber: Majalah As Sunnah<br />
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Dipublikasikan kembali oleh <a href="http://www.muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-60"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fsejarah-hidup-imam-al-ghazali-2.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fsejarah-hidup-imam-al-ghazali-2.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fsejarah-hidup-imam-al-ghazali-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Hidup Imam Al Ghazali (1)</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-1.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 07:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Al Ghazali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-1.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.</p>
<p><span id="more-59"></span></p>
<p><strong>Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau</strong></p>
<p>Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, <em>Siyar A&#8217;lam Nubala&#8217;</em> 19/323 dan As Subki, <em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).</p>
<p>Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, <em>“Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.”</em> Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, <em>“Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.”</em> Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.</p>
<p>Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab <em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, <em>Siyar A&#8217;lam Nubala&#8217;</em> 19/326 dan As Subki, <em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> 6/193 dan 194).</p>
<p><strong>Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu</strong></p>
<p>Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, <em>“Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh  dihabiskan untuk keduanya.”</em></p>
<p>Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, <em>“Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”</em></p>
<p>Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, <em>“Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.”</em> (Dinukil dari <em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> 6/193-194).</p>
<p>Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.</p>
<p>Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari <em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> 6/194).</p>
<p>Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku <em>At Ta’liqat</em>. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam <em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> 6/195).</p>
<p>Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, <em>Siyar A&#8217;lam Nubala&#8217;</em> 19/323 dan As Subki, <em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> 6/191).</p>
<p>Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah <a href="http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-1.html">Imam Ghazali</a> ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.</p>
<p><strong>Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya</strong></p>
<p>Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab <em>At Tahafut</em> yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab <em>Ikhwanush Shafa</em> dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, <em>“Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.&#8221;</em> (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em> 6/54).</p>
<p>Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya <em>Ihya&#8217; Ulumuddin</em>. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, <em>&#8220;Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.&#8221;</em> (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em> 6/54).</p>
<p>Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul,  tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.</p>
<p>Adz Dzahabi berkata, <em>&#8220;Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.&#8221;</em> (<em>Siyar A&#8217;lam Nubala</em> 19/328).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, <em>&#8220;Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar&#8217;i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, &#8220;Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.&#8221;</em> (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em> 4/164).</p>
<p><strong>Polemik Kejiwaan Imam Ghazali</strong></p>
<p>Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.</p>
<p>Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab <em>Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas</em> dan kitab <em>Mahakkun Nadzar</em>. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.</p>
<p>Ibnu Asakir berkata, <em>&#8220;Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami&#8217; Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.&#8221;</em> (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam <em>Siyar A&#8217;lam Nubala</em> 6/34).</p>
<p>Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, <em>&#8220;An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.&#8221;</em> (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam <em>Siyar A&#8217;lam Nubala</em> 6/34).</p>
<p>Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur&#8217;an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.</p>
<p><strong>Masa Akhir Kehidupannya</strong></p>
<p>Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, <em>&#8220;Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.&#8221;</em></p>
<p>Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, <em>&#8220;Bawa kemari kain kafan saya.&#8221;</em> Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, <em>&#8220;Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.&#8221;</em> Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam <em>Siyar A&#8217;lam Nubala</em> 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir  tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (<em>Thabaqat Asy Syafi&#8217;iyah</em> 6/201).</p>
<p><em>-bersambung insya Allah-</em></p>
<p>***</p>
<p>Sumber: Majalah As Sunnah<br />
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Dipublikasikan kembali oleh <a href="www.muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-59"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fsejarah-hidup-imam-al-ghazali-1.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fsejarah-hidup-imam-al-ghazali-1.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fsejarah-hidup-imam-al-ghazali-1.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>108</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Ringkas Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin</title>
		<link>http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 01:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Ibnu Utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Nasabnya Beliau adalah Abu Abdillah, Muhammad bin Sholih Al Utsamin, Al Wuhaibi, At Tamimi. Kelahirannya Beliau dilahirkan di kota &#8216;Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H. Pertumbuhannya Beliau belajar al-Qur&#8217;an pada kakeknya dari jalur<a class="more" href="http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Nasabnya</strong></p>
<p>Beliau adalah Abu  Abdillah, Muhammad bin Sholih Al Utsamin, Al Wuhaibi, At Tamimi.</p>
<p><strong>Kelahirannya</strong></p>
<p>Beliau dilahirkan di  kota &#8216;Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H.</p>
<p><strong>Pertumbuhannya</strong></p>
<p>Beliau belajar al-Qur&#8217;an  pada kakeknya dari jalur ibunya, Abdurrahman bin Sulaiman Alu Damigh <em>rahimahullah, </em>kemudianmenghafalnya. Setelah itu beliau mulai belajar  khat (menulis), ilmu hitung, dan sebagian cabang ilmu sastra.</p>
<p><span id="more-53"></span></p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin  Naashir As Sa&#8217;di mengangkat dua orang muridnya untuk mengajar penuntut ilmu  yunior yaitu syaikh Ali As Shalihi dan syaikh Muhammad bin Abdul &#8216;Aziz Al  Muthawi&#8217; <em>rahimahullah.</em> Kepadanya syaikh Utsaimin belajar kitab <em>Mukhtashar al Aqidah Al Wasithiyah</em> karya Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;di, kitab  Minhaj as Salikin fil Fiqh karya syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;di, Kitab Al  Ajrumiyah dan al Alfiyah. Beliau belajar faraid (ilmu waris) dan fiqih kepada  Syaikh Abdurrahman bin &#8216;Ali bin &#8216;Audan.</p>
<p>Beliau belajar kepada  Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa&#8217;di yang beliau anggap sebagai syaikh  pertamanya. Beliau bermulazamah kepadanya, belajar ilmu Tauhid, Tafsir, Hadits,  Fiqih, Ushul Fiqih, Faraid, Musthalah al Hadits, Nahwu dan Sharaf.</p>
<p>Beliau memiliki  kedudukan yang khusus di sisi Syaikh As Sa&#8217;di, sehingga ketika orang tua beliau  pindah ke Riyad, orang tuanya menginginkan agar beliau ikut pindah padahal saat  itu adalah awal perkembangannya, maka Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>,  menulis surat kepada orang tuanya yang di antara isinya, &#8220;Hal ini tidak  mungkin, kami ingin agar Muhammad tinggal di sini supaya tetap belajar.&#8221;</p>
<p>Syaikh Muhammad bin  Shalih al Utsaimin mengatakan, &#8220;Sungguh, saya banyak terpengaruh dengan  beliau dalam metode pengajaran, pemaparan ilmu, serta pendekatannya terhadap  penuntut ilmu dengan memberikan contoh-contoh dan makna-makna. Demikian juga  saya terkesan terhadap beliau dari sisi akhlaknya, beliau memiliki akhlak yang  mulia, beliau memiliki kedudukan yang tinggi di dalam hal ilmu dan ibadah,  beliau mencandai anak-anak kecil serta tertawa kepada yang besar. Beliau  termasuk di antara orang yang paling baik akhlaknya yang pernah saya lihat.&#8221;</p>
<p>Syaikh Utsaimin juga  belajar kepada Syaikh Abdul &#8216;Aziz bin Baz yang beliau anggap sebagai syaikhnya  yang kedua. Beliau memulainya dengan belajar Shahih Bukhari, sebagian risalah  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beberapa kitab fikih. Beliau mengatakan, &#8220;Aku  terkesan dengan Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin Baz <em>Hafizhahullah</em> tentang  perhatiannya terhadap hadits, akhlaknya serta kelapangan jiwanya terhadap orang  lain.&#8221;</p>
<p>Pada tahun 1371 H  beliau mengajar di masjid Jami&#8217;. Ketika Ma&#8217;had &#8216;Ilmiyah didirikan di Riyadh  beliau memasukinya pada tahun 1372, beliau mengatakan, &#8220;Saya memasuki ma&#8217;had  &#8216;Ilmi pada tahun kedua, saya memasukinya atas saran dari syaikh &#8216;Ali as Shalihi  setelah saya meminta izin kepada Syaikh &#8216;Abdurrahman As Sa&#8217;di, semoga Allah  merahmatinya. Pada waktu itu ma&#8217;had &#8216;ilmi terbagi menjadi dua bagian yaitu  khusus dan umum, sedangkan saya masuk pada bagian khusus. Pada waktu itu juga  siapa saja yang menginginkan maka bisa &#8216;melompat&#8217;, demikian mereka menyebutnya,  maksudnya seseorang belajar pelajaran kelas tingkat di atasnya pada waktu  liburan kemudian mengikuti ujian pada awal tahun kedua, jika ia lulus ia boleh  pindah ke kelas di atasnya sehingga dengan demikian masa studi bisa lebih  singkat.</p>
<p>Setelah dua tahun  beliau lulus dan ditetapkan sebagai pengajar di Ma&#8217;had  &#8216;Unaizah al &#8216;Ilmi sambil melanjutkan kuliah  jarak jauh pada fakultas syari&#8217;ah serta melanjutkan menuntut ilmu pada Syaikh &#8216;Abdurrahman  As Sa&#8217;di. Ketika Syaikh &#8216;Abdurrahman as Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> meninggal  dunia beliau diangkat menjadi imam Masjid Jami&#8217; al Kabir di &#8216;Unaizah dan  mengajar di Perpustakaan Nasional di samping mengajar di Ma&#8217;had &#8216;al &#8216;Ilmi.  Kemudian beliau pindah untuk mengajar di fakultas syari&#8217;ah dan ushuluddin  Universitas Imam Muhammad bin Su&#8217;ud al islamiyah cabang Qosim. Selain sebagai  anggota Haiah Kibarul &#8216;Ulama di kerajaan Arab Saudi, beliau memiliki semangat  dan aktivitas yang besar dalam berdakwah kepada Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> dan  membimbing para da&#8217;i di berbagai tempat. Beliau juga memiliki perjuangan  yang  berharga pada medan dakwah.</p>
<p>Sehingga sangat layak  untuk disebutkan juga bahwa syaikh Muhammad bin Ibrahim <em>rahimahullah </em>pernah  menawari bahkan mendesak beliau untuk menjadi qodhi(hakim) bahkan telah  mengeluarkan Keputusan dengan menetapkan beliau <em>hafizhahullah</em> sebagai kepala Mahkamah Syari&#8217;ah di Ihsa&#8217;  namun beliau meminta untuk dibebaskan tugaskan dari tugas tersebut. Setelah  adanya pertimbangan-pertimbangan dan pendekatan personal dari Syaikh maka  beliau diizinkan untuk dibebaskan dari jabatan sebagai hakim.</p>
<p><strong>Karya-Karyanya</strong></p>
<p>Beliau memiliki tulisan  yang banyak mencapai 40 berupa kitab dan risalah yang akan dikumpulkan -<em>insya  Allah</em>- dalam <em>Majmu al Fatawa wa ar Rasail</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Syarhu Kasyfu Asy Syubuhat</em>, Penerbit Daarul Kutubil &#8216;Ilmiyah</p>
<p>***</p>
<p>Penerjemah: Sigit  Hariyanto, S.T.<br />
Muraja&#8217;ah: Ust. Abu Mushlih  Ari Wahyudi<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-53"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fbiografi%2Fbiografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

