<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Aqidah</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/aqidah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 00:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Pertemanan Dengan Non Muslim</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pertemanan-dengan-non-muslim.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/pertemanan-dengan-non-muslim.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 03:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[al wala']]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9216</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya tinggal bersama seorang teman yang beragama Nasrani. Kadang ia berkata kepada saya: “Ya akhi (wahai saudaraku)“, atau berkata “Kita khan saudara“, kami juga makan dan minum bersama, apakah dibolehkan melakukannya? Syaikh Abdul ‘Aziz<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/pertemanan-dengan-non-muslim.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Saya tinggal bersama seorang teman yang beragama Nasrani. Kadang ia berkata kepada saya: “<em>Ya akhi (wahai saudaraku)</em>“, atau berkata “<em>Kita khan saudara</em>“, kami juga makan dan minum bersama, apakah dibolehkan melakukannya?</p>
<p><strong>Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz -<em>rahimahullah</em>- menjawab:</strong><br />
Orang kafir bukanlah saudaranya orang muslim. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ</p>
<p>“<em>Sungguh orang mu’min itu bersaudara</em>” (QS. Al Hujurat: 10)</p>
<p>Dan Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">المسلم أخو المسلم</p>
<p>“<em>Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain</em>“</p>
<p>Maka yang saudara itu adalah sesama muslim, bukan orang kafir, baik dia Nasrani, Yahudi, penyembah berhala, Majusi atau pun Syi’ah. Dan seorang muslim tidak boleh menjadikan mereka sebagai sahabat karib. Namun bila sekedar makan bersama sesekali, atau secara kebetulan kalian bertemu ketika makan, atau kalian makan bersama dalam sebuah acara jamuan yang sifatnya umum, ini semua dibolehkan.</p>
<p>Adapun jika anda menjadikannya teman karib, teman yang sering jalan bersama, sering makan bersama, ini tidak dibolehkan. Karena Allah telah memutuskan tali cinta dan loyalitas antara kita dan mereka. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman dalam Al Qur’an:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja</em>” (QS. Al Mumtahanah: 4)</p>
<p>Allah<em> Ta’ala</em> juga berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يعني يحبون وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</p>
<p>“<em>Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka</em>” (QS. Al Mujaadalah: 22)</p>
<p>Kesimpulannya, seorang muslim wajib untuk berlepas diri dari orang-orang musyrik dan membenci mereka karena Allah. <strong>Namun, tidak boleh mengganggu mereka, meneror mereka, atau berbuat yang melebihi batas padahal anda tidak memiliki hak</strong>. Walau demikian, tetap tidak boleh menjadikan mereka teman karib atau orang yang sangat disayangi.  Adapun jika secara kebetulan anda makan bersama dalam sebuah jamuan, atau secara kebetulan menonton sesuatu bersama, tanpa menganggap dia sebagai teman karib dan tanpa ada rasa loyal terhadapnya, hukumnya boleh.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.binbaz.org.sa/mat/4872">http://www.binbaz.org.sa/mat/4872</a></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9216"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fpertemanan-dengan-non-muslim.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/pertemanan-dengan-non-muslim.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesyirikan Pada Pelet dan Susuk Pemikat Hati</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kesyirikan-pada-pelet-dan-susuk-pemikat-hati.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/kesyirikan-pada-pelet-dan-susuk-pemikat-hati.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 23:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[jimat]]></category>
		<category><![CDATA[kesyirikan]]></category>
		<category><![CDATA[pelet]]></category>
		<category><![CDATA[susuk]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9145</guid>
		<description><![CDATA[Pelet dan susuk adalah solusi yang telah dicoba oleh beberapa orang untuk membuat wanita yang mereka sukai menjadi jatuh cinta kepadanya. Tips cinta ini katanya telah terbukti dan bisa dihandalkan. Ilmu pelet pemikat hati wanita<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/kesyirikan-pada-pelet-dan-susuk-pemikat-hati.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Pelet dan susuk adalah solusi yang telah dicoba oleh beberapa orang untuk membuat wanita yang mereka sukai menjadi jatuh cinta kepadanya. Tips cinta ini katanya telah terbukti dan bisa dihandalkan. Ilmu pelet pemikat hati wanita ini juga bisa dipakai saat ikut casting sinetron dan iklan agar bisa terpilih menjadi bintang di kemudian hari. Lihat bagaimana penuturan orang yang mengenakan pelet dari seorang dukun berikut ini:</p>
<p><em>&#8220;Awalnya saya takut mau pasang susuk,tetapi setelah saya konsultasi panjang lebar problem yang saya alami saat ini dengan pak Supri,saya jadi mantap,karena saya di beri penjelasan tentang kasiat dan manfaat setelah menggunakan susuk.</em></p>
<p><em>Dan alhamdulilah puji tuhan pacar saya yang tadinya sudah berpaling dengan saya,setelah saya pasang susuk di tempat pak supri</em></p>
<p><em>Kurang dari satu bulan pacar saya kembali lagi ke saya.Anehnya dia semakin lengket seperti kena pellet saja,aku jadi heran sendiri sepertinya dia takut kalau kehilangan saya,saya ucapkan trimakasih pada pak supri yang telah berkenan membantu.salam sukses selalu thx&#8230;.&#8221; </em>(<a href="http://www.pasangsusuk.com/">http://www.pasangsusuk.com</a>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesyirikan pada Susuk dan Pelet</strong></span></p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya mantera-mantera, jimat-jimat dan pelet adalah syirik</em>” (HR. Abu Daud no. 3883, Ibnu Majah no. 3530 dan Ahmad 1: 381. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>).</p>
<p>Tiwalah yang dimaksud dalam hadits ini adalah sesuatu yang dibuat dan diklaim bisa membuat perempuan lengket pada suami dan sebaliknya (Lihat <em>Kitab Tauhid</em>, Syaikh Muhammad At Tamimi). Jadi bisa saja tiwalah itu berupa pelet, jimat, susuk, dan bulu perindu. Namun sebagian ulama mengatakan bahwa tiwalah yang dimaksud adalah jika berasal dari sihir (Lihat <em>Syarh Kitab Tauhid</em>, hal. 62). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa tiwalah ini diperoleh dari jalan sihir (<em>Fathul Bari</em>, 10: 196). Sehingga jika pemikat hati atau pemikat cinta berupa susuk, jimat dan bulu perindu, maka termasuk dalam kategori tamimah (jimat-jimat). Dan jimat-jimat itu terlarang sebagaimana telah disebutkan pula dalam hadits di atas.</p>
<p>Memakai pelet termasuk syirik karena di dalamnya ada keyakinan untuk menolak bahaya dan mendatangkan manfaat dari selain Allah Ta’ala (Lihat <em>Fathul Majid</em>, 139). Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berkata, “Tiwalah tergolong syirik karena tiwalah bukanlah sebab syar’i (yang didukung dalil) dan bukan pula sebab qodari (yang dibuktikan melalui eksperimen).”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Cincin Kawin yang Berbuah Petaka</strong></span></p>
<p>Cincin kawin bisa termasuk terlarang jika diyakini bahwa jika cincin tersebut jika dilepas dari pasangan bisa mendatangkan bahaya. Artinya, cincin kawin bisa jadi masalaha besar jika disertai keyakinan keliru. Rumah tangga bisa abadi atau tidak tergantung dikenakannya cincin tersebut, ini keyakinan keliru.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>berkata, “Jika cincin kawin tersebut diyakini bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Jika ada keyakinan bahwa cincin tersebut masih ada di tangan suami, maka ikatan pernikahan akan terus terjalin. Jika tidak dikenakan, maka akan rusak. Jika niat seperti ini yang ada ketika menggunakan cincin kawin, maka termasuk syirik ashgor (kecil).</p>
<p>Jika niat seperti ini tidak ada –dan tidak mungkin ia berniat seperti itu (artinya: cuma sekedar memakai cincin kawin), maka cincin kawin masih tetap terlarang karena termasuk bentuk tasyabuh (meniru-niru adat non muslim).</p>
<p>Jika cincin kawin yang dikenakan berasal dari emas, maka terlarang dikenakan oleh pria. Ini sisi terlarang ketiga dari cincin tersebut.</p>
<p>Intinya cincin kawin bisa berbuah masalah yaitu bisa termasuk syirik, bisa menyerupai adat Nashrani (non muslim), atau bisa terlarang karena berasal dari emas dan digunakan oleh pria. Jika terlepas dari tiga masalah tadi (tidak ada unsur syirik, tidak ada unsur  tasyabbuh, tidak menggunakan cincin dari emas tetapi dari logam lainnya), maka boleh.” (Al Qoulul Mufid, 1: 182).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jodoh Tak Kan Ke Mana</strong></span></p>
<p>Jodoh jelas tidak akan ke mana. Yang Allah telah takdirkan, itulah yang kita peroleh dan tidak akan luput dari kita. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ</p>
<p>“<em>Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi</em>”  (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).</p>
<p>Dalam hadits dalam kitab Sunan disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ</p>
<p>“<em>Apa saja yang ditakdirkan akan menimpamu, maka tidak akan luput darimu. Apa saja yang ditakdirkan akan luput darimu, maka tidak akan menimpamu</em>” (HR. Abu Daud no. 4699. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>).</p>
<p>Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi”</p>
<p>Lantas mengapa mesti memikat pasangan atau jodoh dengan pelet dan susuk? Ini tanda kurang percaya pada takdir ilahi. Cuma kita saja yang berusaha dengan cara yang halal.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bagaimana Memikat Hati Pasangan?</strong></span></p>
<p>Cara ampuh bagi yang sudah memiliki pasangan agar tetap lengket kayak perangko dengan pasangannya tidak ada jalan lain selain melakukan kewajibannya sebagai suami atau istri. Mengapa mesti ke dukunn untuk minta suami dipelet, tetapi di rumah tidak pernah berdandan cantik di hadapan suami dan tidak pernah melakukan kewajiban lainnya. Cobalah jadi istri yang taat, maka ia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.</p>
<p dir="RTL" align="center">إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ</p>
<p>“<em>Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka</em>.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).</p>
<p>Dalam hadits lain disebutkan mengenai perintah bagi wanita untuk selalu berpenampilan cantik di hadapan suaminya,</p>
<p dir="RTL" align="center">قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ</p>
<p>Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “<em>Siapakah wanita yang paling baik?</em>” Jawab beliau, “<em>Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci</em>” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). Cobalah lihat bagaimana jika istri taat pada Allah dengan rajin ibadah dan selalu berpenampilan istimewa di hadapan suami, tentu akan membuat suami semakin lengket.</p>
<p>Sedangkan bagi yang belum dapat jodoh, teruslah perbaiki diri menjadi lebih baik. Dan perbanyaklah do’a, maka jodoh pun tak kan ke mana. Do’a yang bisa dipanjatkan untuk mendapatkan jodoh adalah do’a sapu jagad, karena do’a ini mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Termasuk di dalamnya adalah jodoh. Do’a tersebut adalah,</p>
<p dir="RTL" align="center">رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p>“<em>Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka</em>” (QS. Al Baqarah: 201).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Walau Ampuh, Tidak Bisa Dikatakan Halal</strong></span></p>
<p>Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa (1: 264) memberikan pelajaran bahwa walau tercapainya tujuan dalam sebagian cara, tidak bisa menghalalkan cara tersebut. Begitu pula dalam hal ini, walau pelet dan susuk terlihat ampuh dan terbukti bagi sebagian orang, maka tidak menunjukkan perbuatan tersebut halal. Syirik jelas saja terlarang walaupun tercapai maksud.</p>
<p>Seperti dicontohkan oleh Ibnu Taimiyah mengenai tercapainya tujuan tidak menunjukkan halalnya cara yang dilakukan,</p>
<p dir="RTL" align="center">. وَلَيْسَ مُجَرَّدُ كَوْنِ الدُّعَاءِ حَصَلَ بِهِ الْمَقْصُودُ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ سَائِغٌ فِي الشَّرِيعَةِ فَإِنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ الْكَوَاكِبِ وَالْمَخْلُوقِينَ وَيَحْصُلُ مَا يَحْصُلُ</p>
<p>“Tercapainya do’a yang dimaksud bukan menunjukkan sesuatu itu boleh menurut syari’at. Lihatlah tidak sedikit yang berdo’a pada selain Allah, seperti meminta pada bintang-bintang dan meminta do’a pada makhluk (bukan pada Allah), do’anya terkabul (padahal perbuatannya keliru dan termasuk syirik, pen)”  (Majmu’ Al Fatawa, 1: 264).</p>
<p>Semoga Allah menyelamatkan kita dan keluarga kita dari berbagai macam bentuk penghambaan kepada selain Allah serta menjauhkan kita dari berbagai kesyirikan.</p>
<p><em>Wa billahit taufiq. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol>
<li><em>Al Qoulul Mufid</em>, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, tahun 1424 H.</li>
<li><em>Fathul Majid</em>, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, terbitan Darul Ifta’, cetakan ketujuh, 1431 H.</li>
<li><em>Syarh Kitab Tauhid</em>, Syaikh Hamd bin ‘Abdillah Al Hamd, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, 1431 H.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 2 Jumadats Tsaniyah 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9145"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkesyirikan-pada-pelet-dan-susuk-pemikat-hati.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/kesyirikan-pada-pelet-dan-susuk-pemikat-hati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Kubur Dijadikan Tuhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/jika-kubur-dijadikan-tuhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/jika-kubur-dijadikan-tuhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 23:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[wali]]></category>
		<category><![CDATA[wali songo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8920</guid>
		<description><![CDATA[Apakah ada kubur yang dijadikan tuhan? Begitu mungkin pertanyaan yang muncul dari pembaca ketika membaca judul artikel ini. Karena setiap orang tahu, bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala. Sedangkan menyembah selain Allah merupakan dosa<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/jika-kubur-dijadikan-tuhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Apakah ada kubur yang dijadikan tuhan?</em> Begitu mungkin pertanyaan yang muncul dari pembaca ketika membaca judul artikel ini. Karena setiap orang tahu, bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah <em>Ta’ala</em>. Sedangkan menyembah selain Allah merupakan dosa besar yang paling besar. Semoga pertanyaan ini segera sirna setelah menela’ah apa yang akan kami sampaikan di bawah ini.</p>
<p><strong>ISYARAT NABI ‘alaihi ash-sholatu was salam</strong></p>
<p>Sesungguhnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sudah mengisyaratkan tentang penyembahan terhadap kubur itu di dalam banyak hadits-hadits yang shahih. Antara lain hadits di bawah ini,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</p>
<p>Dari ‘Atho’ bin Yasar, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah berdoa: “<em>Wahai Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), besar murka Allah terhadap orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”</em>. (HR. Malik, di dalam kitab Al-Muwaththo’, no: 376)</p>
<p>Hadits ini <em>mursal </em>(termasuk lemah), namun dikuatkan oleh hadits-hadits yang lain sehingga menjadi <em>shahih</em>. Oleh Karena itu Syaikh Al-Albani menshahihkannya di dalam kitab Tahdzirus Sajid, hlm: 18, 19. Di antara hadits yang menguatakan adalah hadits di bawah ini,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</p>
<p>Dari Abu Hurairah, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (beliau pernah berdoa): “<em>Wahai Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid</em>” (HR. Ahmad, di dalam kitab Musnad, juz: 2, hlm: 246)</p>
<p>Syaikh Dr. Sholih bin Fauzab bin Abdullah Al-Fauzan –ulama anggota Majlis Fatwa Saudi- berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan terjadi di kalangan umatnya apa yang telah terjadi pada orang-orang Yahudi dan Nashoro terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, yaitu yang berupa <em>ghuluw </em>(sikap melewati batas) terhadap kubur-kubur itu sehingga kubur-kubur itu menjadi berhala-berhala. Maka beliau memohon kepada Rabbnya agar tidak menjadikan kubur beliau demikian itu. Kemudian beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengingatkan sebab kemurkaan dan laknat Allah menimpa orang-orang Yahudi dan Nashoro, yaitu apa yang telah mereka lakukan terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, sehingga mereka merubahnya menjadi berhala-berhala yang disembah. Maka mereka terjerumus di dalam syirik yang besar yang bertentangan dengan tauhid”. (Al-Mulakhkhos Fii Syarh Kitab At-Tauhid, hlm: 144-145)</p>
<p><strong>MUSYRIKIN ARAB MENYEMBAH KUBUR</strong></p>
<p>Allah Ta’ala mencela perbuatan orang-orang jahiliyah yang menyembah kepada selain Allah di dalam banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Antara lain di dalam firman-Nya,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أَفَرَءَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى {19} وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ اْلأُخْرَى {20</p>
<p>&#8220;<em>Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang lain itu?</em>&#8221; (QS. An-Najm (53): 19-20)</p>
<p>Makna ayat ini –sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qurthubi-, “Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang berhala-berhala ini, apakah dapat memberikan manfaat atau madhorot, sehingga menjadi sekutu-sekutu Alloh Ta’ala?” (Fathul Majid, hlm: 118, penerbit: Dar Ibni Hazm)</p>
<p>Ketiga nama ini adalah tuhan-tuhan yang disembah oleh orang-orang Arab jahiliyah.</p>
<p><em>Al-Lata</em> adalah batu putih berukir yang padanya terdapat rumah, memiliki tirai-tirai, dan ada penjaganya. Di sekitarnya terdapat lokasi tanah yang diagungkan oleh penduduk kota Thoif. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, surat An-Najm, ayat: 19-20)</p>
<p>Ada juga yang mengatakan bahwa Lata adalah kubur laki-laki yang dahulu dianggap sebagai orang sholih. Imam Bukhori meriwayatkan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ اللَّاتَ وَالْعُزَّى كَانَ اللَّاتُ رَجُلًا يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ</p>
<p>Dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala: “<em>tentang Al-Lata dan Al-Uzza</em>”, (QS. An-Najm (53): 19), beliau mengatakan: “Latta dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk orang yang berhaji”. (HR. Bukhori, no: 4859)</p>
<p>Sa’id bin Manshur meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang menjual tepung dan mentega di dekat sebuah batu besar, dan membuat adonan di atas batu besar itu. Ketika laki-laki itu mati, suku Tsaqif menyembah batu besar itu karena menagungkan terhadap penjual tepung itu (yakni Latta)”. (<em>Fathul Majid</em>, hlm: 117)</p>
<p>Sa’id bin Manshur juga meriwayatkan bahwa Mujahid mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk mereka (orang-orang jahiliyah), tatkala dia telah mati, mereka (orang-orang jahiliyah) semedi (tirakatan) pada kuburnya”.</p>
<p>Pada riwayat lain disebutkan: “Lalu dia (Latta) memberi makan orang-orang yang lewat. Tatkala dia telah mati, mereka menyembahnya. Mereka mengatakan: “Itu adalah Latta”. (<em>Fathul Majid</em>, hlm: 222)</p>
<p>Dari keterangan di atas, ada dua pendapat tentang wujud Latta. Sebagian mengatakan itu adalah sebuah batu, yang lain mengatakan itu wujudnya kubur. Namun pada hakekatnya kedua pendapat itu tidak berlawanan. Oleh karena itulah Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Tidak ada kontradiksi antara dua pendapat itu, karena mereka menyembah batu dan kubur tersebut sebagai perbuatan ibadah dan pengangungan (kepada Latta, orang yang mereka anggap sholih-pen). Dan karena semisal ini, dibangun peninggalan-peninggalan (petilasan-petilasan) dan kubah-kubah di atas kubur-kubur, dan dijadikan sebagai berhala-berhala. Dan padanya terdapat keterangan bahwa orang-orang jahiliyah dahulu menyembah orang-orang sholih, patung-patung, dan berhala-berhala”. (<em>Fathul Majid</em>, hlm: 117)</p>
<p><strong>KENYATAAN DI ZAMAN INI</strong></p>
<p>Barangsiapa mengamati keadaan orang-orang yang mengagungkan kubur orang-orang yang dianggap sebagai wali di zaman ini, akan mendapati berbagai bentuk kemusyrikan pada mereka, dengan ringkas sebagai berikut,</p>
<ol>
<li>Anggapan mereka bahwa wali di kuburnya memiliki tindakan/kekuasaan di alam ini. Seperti: memberi manfaat, menimpakan musibah, menyembuhkan penyakit, melapangkan kesusahan, memenuhi permintaan dan hajat, dan semacamnya yang termasuk syirik rububiyah.</li>
<li>Perbuatan memohon pertolongan, kesembuhan, perlindungan, keberkahan, menyembelih binatang untuknya, berthowaf (mengelilinginya), berhaji (ziarah) kepanya, dan semacamnya yang termasuk syirik uluhiyah.</li>
<li>Anggapan bahwa wali di kuburnya sebagai <em>An-Nafi Adh-Dhoor</em> (Yang mendatangkan manfaat dan Yang menolak musibah), <em>Al-Wahhab</em> (Yang Maha memberi), <em>Ar-Rozzaq</em> (Yang memberi rizqi), dan semacamnya yang termasuk syirik asma’ was sifat. (Diringkas secara bebas dari “<em>Kuburan Agung</em>”, hlm: 42-43, karya Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, penerbit: Darul Haq, Jakarta)</li>
</ol>
<p>Orang-orang yang mengagungkan kubur itu melewati beberapa jenjang sampai mereka menyembahnya. Jenjang-jenjang itu antara lain sebagai berikut: <em>Taqdis </em>(mengkultuskan) orang yang di kubur; Menjadikan penghuni kubur sebagai wasilah (perantara) kepada Alloh; Meyakini keberkahan kubur; Istighotsah dan memohon hajat; Menjadikan kubur sebagai berhala (tuhan yang disembah); Dan menjadikan kubur sebagai tempat yang diziarahi. (Diringkas dari “<em>Kuburan Agung</em>”, hlm: 35-37)</p>
<p>Di sini kami nukilkan sebagian kenyataan pada umat ini yang menunjukkan jauhnya sebagian orang yang mengaku beragama Islam dari ajaran Islam.</p>
<ol>
<li>Di Ma’an, Yordania, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan penyakit wanita!</li>
<li>Di Thontho, Mesir, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan kemandulan, penyakit anak-anak, dan rematik!</li>
<li>Pada waktu negeri Syam diserbu bangsa Tartar, para penyembah kubur keluar meminta tolong kepada kuburan!</li>
<li>Ketika pasukan Rusia menyerbu kota Bukhoro, manusia berhamburan beristighotsah (meminta dihilangkan musibah) kepada kuburan Syah Naqsaband!</li>
<li>Di Fayyum, Mesir, para penyembah kubur mengklaim bahwa yang meneylamatkan kota dari kehancuran selama perang dunia kedua adalah wali Ar-Rubi, berkat pertolongannya arah bom dipindahkan ke laut Yusuf! (Diringkas dari “Kuburan Agung”, hlm: 32-33)</li>
<li>Di Pulau Jawa khususnya, banyak orang yang meminta berkah ke kuburan para wali songo!</li>
</ol>
<p>Selain itu, masih banyak di berbagai tempat orang-orang mengagungkan kubur-kubur secara berlebihan, dan mengangkat kubur-kubur itu sebagai sekutu-sekutu bagi Allah. Maha Suci Allah dari kemusyrikan mereka. Semoga Allah memberikan bimbinganNya kita dan kaum muslimin menuju apa yang Dia cintai dan ridhoi. <em>Aamiin.</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://ustadzmuslim.com/jika-kubur-dijadikan-tuhan/">Ustadz Muslim Atsari</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8920"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fjika-kubur-dijadikan-tuhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/jika-kubur-dijadikan-tuhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat di Masjid yang Ada Kubur</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 03:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[pemakaman]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8926</guid>
		<description><![CDATA[Di beberapa daerah di negeri kita, beberapa masjid nampak bersandingan dengan kuburan. Ada yang kuburnya berada di arah kiblat, di belakang masjid atau di samping masjid. Kubur tersebut bisa berada di dalam masjid, bisa jadi<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Di beberapa daerah di negeri kita, beberapa masjid nampak bersandingan dengan kuburan. Ada yang kuburnya berada di arah kiblat, di belakang masjid atau di samping masjid. Kubur tersebut bisa berada di dalam masjid, bisa jadi untuk diagungkan, bisa jadi pula sebagai wasiat dari pemilik tanah yang mewakafkan tanahnya untuk masjid, di samping ada yang punya tujuan agar si mayit dalam kubur terus didoakan oleh orang-orang yang berkunjung di masjid tersebut. Padahal adanya kuburan di masjid semacam ini adalah wasilah untuk mengagungkan kubur, akan mengarah pada menggantungkan hati pada mayit dan jalan menuju kesyirikan.</p>
<p><strong>Larangan Shalat di Kubur</strong></p>
<p>Seluruh tempat di muka bumi ini bisa dijadikan tempat untuk shalat, itulah asalnya. Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ</p>
<p>“<em>Seluruh bumi dijadikan sebagai tempat shalat dan untuk bersuci. Siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka shalatlah di tempat tersebut</em>” (HR. Bukhari no. 438 dan Muslim no. 521).</p>
<p>Namun ada tempat-tempat terlarang untuk shalat semisal kuburan atau daerah pemakaman. </p>
<p>Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ</p>
<p>“<em>Seluruh bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat) kecuali kuburan dan tempat pemandian</em>” (HR. Tirmidzi no. 317, Ibnu Majah no. 745, Ad Darimi no. 1390, dan Ahmad 3: 83. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). </p>
<p>Dari Abu Martsad Al Ghonawi, beliau berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p>لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا</p>
<p>“<em>Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya</em>” (HR. Muslim no. 972).</p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا</p>
<p>“<em>Jadikanlah shalat (sunnah) kalian di rumah kalian dan jangan menjadikannya seperti kuburan</em>” (HR. Muslim no. 777). Hadits ini, kata Ibnu Hajar menunjukkan bahwa kubur bukanlah tempat untuk ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa shalat di pekuburan adalah terlarang (Lihat Fathul Bari, 1: 529).</p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa dikecualikan dalam masalah shalat di kubur adalah shalat jenazah. </p>
<p><strong>Larangan Bersatunya Kubur dan Masjid</strong></p>
<p>Dari Jundab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ</p>
<p>“<em>Ingatlah bahwa orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kubur nabi dan orang sholeh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah jadikan kubur menjadi masjid. Sungguh aku benar-benar melarang dari yang demikian</em>” (HR. Muslim no. 532).</p>
<p>Ummu Salamah pernah menceritakan pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengenai gereja yang ia lihat di negeri Habaysah yang disebut Mariyah. Ia menceritakan pada beliau apa yang ia lihat yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Lantas Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, </p>
<p>أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ &#8211; أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ &#8211; بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Mereka adalah kaum yang jika hamba atau orang sholeh mati di tengah-tengah mereka, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya. Lantas mereka membuat gambar-gambar (orang sholeh) tersebut. Mereka inilah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah</em>” (HR. Bukhari no. 434).</p>
<p>Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى ، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا</p>
<p>“<em>Allah melaknat orang Yahudi dan Nashrani di mana mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid</em>” (HR. Bukhari no. 1330 dan Muslim no. 529).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>berkata, “Tidak boleh membangun masjid di atas kubur karena seperti itu adalah wasilah (perantara) menuju kesyirikan dan dapat mengantarkan pada ibadah kepada penghuni kubur. Dan tidak boleh pula kubur dijadikan tujuan (maksud) untuk shalat. Perbuatan ini termasuk dalam menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena alasan menjadikan kubur sebagai masjid ada dalam shalat di sisi kubur. Jika seseorang pergi ke pekuburan lalu ia shalat di sisi kubur wali –menurut sangkaannya-, maka ini termasuk menjadikan kubur sebagai masjid. Perbuatan semacam ini terlaknat sebagaimana laknat yang ditimpakan pada Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid” (Al Qoulul Mufid, 1: 404).</p>
<p>Para ulama menerangkan bahwa jika masjid yang dahulu, setelah itu masuklah kubur, maka kubur yang mesti dimusnahkan. Sedangkan jika kubur lebih dahulu, barulah setelah itu dibangun masjid, berarti masjid tersebut yang mesti dimusnahkan. Inilah jalan untuk menutup pintu dari kesyirikan.</p>
<p><strong>Shalat di Masjid yang Ada Kuburan</strong></p>
<p>Mengenai hadits-hadits di atas, Syaikh Muhammad At Tamimi <em>rahimahullah </em>membawakannya dalam Kitab Tauhid dalam Bab “Peringatan keras terhadap siapa yang beribadah kepada Allah di sisi kubur orang sholeh, lebih-lebih jika beribadah kepada orang sholeh tersebut”. Penulis Fathul Majid, Syaikh ‘Abdurrahman Alu Syaikh berkata, “Jika seseorang beribadah pada orang sholeh (yang ada dalam kubur, pen), maka perbuatan tersebut adalah syirik akbar. Sedangkan beribadah kepada Allah di sisi kubur orang sholeh adalah wasilah (perantara) untuk beribadah padanya dan ini adalah termasuk perantara kepada syirik yang diharamkan. Beribadah di sisi kuburan orang sholeh dapat mengantarkan kepada syirik akbar. Dan itu adalah sebesar-besarnya dosa” (Fathul Majid, hal. 243).  </p>
<p>Penjelasan hadits-hadits di atas menunjukkan larangan shalat di masjid yang ada kubur. Apalagi bertambah jelas dengan penjelasan Syaikh Muhammad At Tamimi dan Syaikh ‘Abdurrahman Alu Syaikh -rahimahumallah- mengenai penafsiran hadits-hadits di atas.<br />
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud menjadikan kubur sebagai masjid ada dua makna:<br />
1. Membangun masjid di atas kubur.<br />
2. Menjadikan kubur sebagai tempat untuk shalat, di mana kubur menjadi maksud (tujuan) ibadah. Namun jika seseorang shalat di sisi kubur dan tidak menjadikan kubur sebagai maksud (tujuan), maka ini tetap bermakna menjadikan kubur sebagai masjid dengan makna umum. (Al Qoulul Mufid, 1: 411)</p>
<p>Kami pernah mengajukan pertanyaan pada Syaikh Sholeh Al Fauzan <em>hafizhohullah </em>mengenai kasus suatu masjid, yaitu masjid tersebut terdapat satu kuburan di arah kiblat namun di balik tembok, di mana kuburan tersebut masih masuk halaman masjid, bagaimana hukum shalat di masjid semacam itu?<br />
Jawaban beliau <em>hafizhohullah</em>, “Jika kuburan tersebut masih bersambung (muttashil) dengan masjid (artinya: masih masuk halaman masjid), maka tidak boleh shalat di masjid tersebut. Namun jika kuburan tersebut terpisah (munfashil), yaitu dipisah dengan jalan misalnya dan tidak menunjukkan bersambung dengan masjid (artinya bukan satu halaman dengan masjid), maka boleh shalat di masjid semacam itu”. (Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan, Al Muntaqo).</p>
<p>Al Lajnah Ad Daimah, komis fatwa di Saudi Arabia menjelaskan,</p>
<p>إذا كان المسجد مبنيًا على القبر فلا تجوز الصلاة فيه وكذلك إذا دفن في المسجد أحد بعد بنائه ، ويجب نقل المقبور فيه إلى المقابر العامة إذا أمكن ذلك ؛ لعموم الأحاديث الدالة على تحريم الصلاة في المساجد التي فيها قبور .</p>
<p>“Jika masjid dibangun di atas kubur, maka tidak boleh shalat di masjid seperti  itu. Begitu pula jika di dalam masjid dikubur seseorang setelah masjid dibangun, maka tidak boleh shalat di masjid semacam itu. Wajib memindahkan mayit yang dikubur ke pemakaman umum karena hal ini ditunjukkan oleh hadits yang mengharamkan shalat di masjid yang ada kubur.” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 4335)</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Masjid Nabawi?</strong></p>
<p>Sebagian orang menyampaikan syubhat mengenai masjid Nabawi (di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Madinah). Jika memang shalat di masjid yang ada kubur terlarang, lantas bagaimana dengan keadaan masjid Nabawi itu sendiri? Bukankah di dalamnya ada kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah mengatakan bahwa syubhat ini adalah talbis, yaitu ingin menyamarkan manusia. (Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan, Al Muntaqo).</p>
<p>Cukup, syubhat di atas dijawab dengan penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berikut ini:<br />
1. Masjid Nabawi tidaklah dibangun di atas kubur. Bahkan yang benar, masjid Nabawi dibangun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup.<br />
2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah di kubur di masjid sehingga bisa disebut dengan orang sholeh yang di kubur di masjid. Yang benar, beliau dikubur di rumah beliau.<br />
3. Pelebaran masjid Nabawi hingga sampai pada rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah ‘Aisyah bukanlah hal yang disepakati oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Perluasan itu terjadi ketika sebagian besar sahabat telah meninggal dunia dan hanya tersisa sebagian kecil dari mereka. Perluasan tersebut terjadi sekitar tahun 94 H, di mana hal itu tidak disetujui dan disepakati oleh para sahabat. Bahkan ada sebagian mereka yang mengingkari perluasan tersebut, di antaranya adalah seorang tabi’in, yaitu Sa’id bin Al Musayyib. Beliau sangat tidak ridho dengan hal itu.<br />
4. Kubur Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah di masjid, walaupun sampai dilebarkan. Karena kubur beliau di ruangan tersendiri, terpisah jelas dari masjid. Masjid Nabawi tidaklah dibangun dengan kubur beliau. Oleh karena itu, kubur beliau dijaga dan ditutupi dengan tiga dinding. Dinding tersebut akan memalingkan orang yang shalat di sana menjauh dari kiblat karena bentuknya segitiga dan tiang yang satu berada di sebelah utara (arah berlawanan dari kiblat).  Hal ini membuat seseorang yang shalat di sana akan bergeser dari arah kiblat. (Al Qoulul Mufid, 1: 398-399)</p>
<p>Demikian bahasan kami mengenai hukum shalat di masjid yang ada kubur. Yang nampak dari dalil, bahwa shalat di tempat semacam itu adalah haram. Adapun mengenai kesahan shalat di masjid yang ada kubur, butuh dibahas dalam bahasan lainnya.</p>
<p>Semoga Allah beri hidayah demi hidayah. <em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p><strong>Referensi:</strong><br />
- Al Muntaqo fil Ahkamisy Syari’ah min Kalami Khoiril Bariyyah, Majduddin Abul Barokat ‘Abdussalam bin Taimiyah Al Haroni, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, tahun 1431 H.<br />
- Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, 1424 H.<br />
- Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, terbitan Darul Ifta’, cetakan ketujuh, tahun 1431 H.<br />
- Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan <em>hafizhohullah</em>, kitab Al Muntaqo karya Majduddin Abul Barokat ‘Abdussalam bin Taimiyah Al Haroni, 8 Jumadal Ula 1433 H, di Hay Malaz, Riyadh, KSA.</p>
<p>Disusun @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 8-9 Jumadal Ula 1433 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8926"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fshalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadikan Kubur Sebagai Masjid</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 23:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8918</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya masjid adalah bagian bumi yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Di dalam masjid dilakukan berbagai bentuk ibadah kepadaNya, seperti sholat jama’ah, membaca Al-Qur’an, tholabul ilmi (kajian agama) dan sebagainya yang dituntunkan oleh Allah dan<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sesungguhnya masjid adalah bagian bumi yang paling dicintai oleh Allah <em>Ta’ala</em>. Di dalam masjid dilakukan berbagai bentuk ibadah kepadaNya, seperti sholat jama’ah, membaca Al-Qur’an, tholabul ilmi (kajian agama) dan sebagainya yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> bersabda,</p>
<p>أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا</p>
<p>&#8220;<em>Yang paling Allah cintai dari bagian kota-kota adalah masjid-masjidnya, dan yang paling Allah benci dari bagian kota-kota adalah pasar-pasarnya</em>&#8221; (HR. Muslim, no: 671).</p>
<p>Dan di dalam agama Islam, tidak diperbolehkan menjadikan kubur-kubur sebagai masjid.</p>
<p><strong>DALIL-DALIL LARANGAN</strong></p>
<p>Larangan tentang hal ini sangat banyak sekali. Inilah di antara dalil-dalil larangan tersebut:</p>
<p><strong>1-</strong> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>  telah melarangnya. Dan setiap larangan Nabi, hukum asalnya adalah haram.</p>
<p>Sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini,</p>
<p>عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ</p>
<p>Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “<em>Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen). Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!</em>” (HSR. Muslim no:532)<br />
<strong><br />
2-</strong> Laknat Allah kepada orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid.</p>
<p>Hal ini diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelang wafat.</p>
<p>أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا</p>
<p>Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhoi mereka- mengatakan: “<em>Ketika kematian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau mulai meletakkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam keadaan demikian, lalu beliau mengatakan: “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashoro, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”. Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan.</em> (HSR. Bukhari no: 435, 436; Muslim no:531)</p>
<p>Syaikh Ali Al-Qori mengatakan: “Sebab laknat kepada mereka: kemungkinan karena mereka dahulu sujud kepada kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, karena mengagungkan mereka. Ini adalah syirik yang nyata. Kemungkinan karena mereka dahulu melakukan sholat karena Allah di tempat-tempat dikuburnya para Nabi mereka, dan sujud di atas kubur-kubur mereka, dan menghadap kepada kubur-kubur mereka pada sholat, karena anggapan mereka hal itu merupakan ibadah kepada Allah dan berlebihan di dalam mengagungkan para Nabi. Ini adalah syirik yang samar, karena mengandung pengagungan terhadap makhluk yang tidak diidzinkan baginya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya dari itu, kemungkinan karena perbuatan itu menyerupai jalan orang-orang Yahudi, atau karena mengandung syirik yang samar”. (Mirqootul Mafaatiih Syarh Misykaatul Mashoobiih, juz 1, hlm: 456. Dinukil dari Tahdzirus Sajid, hlm: 32, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)</p>
<p><strong>3-</strong> Para pelakunya adalah seburuk-buruk manusia.</p>
<p>Perkara ini disebutkan di dalam hadits-hadits shohih, antara lain sebagai berikut:</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا اشْتَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَتْ بَعْضُ نِسَائِهِ كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ وَكَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتَتَا أَرْضَ الْحَبَشَةِ فَذَكَرَتَا مِنْ حُسْنِهَا وَتَصَاوِيرَ فِيهَا فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ</p>
<p>Dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhoinya-, dia berkata: “<em>Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sebagian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, yang dinamakan gereja Mariyah. Dahulu Ummu Salamah dan Ummu HAbibah –semoga Allah meridhoikeduanya- pernah mendatangi negeri Habasya. Keduanya menyebutkan tentang keindahannya dan patung-patung/gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengankat kepalanya, lalu bersabda: “Mereka itu, jika ada seorang yang sholih di antara mereka mati, mereka membangun masjid di atas kuburnya, kemudian membuat patung/gambar orang sholih itu di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk manusia di sisi Allah</em>”. (HSR. Bukhari no:1341; Muslim no:528)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini menunjukkan keharoman membangun masjid-masjid di atas kubur-kubur orang-orang sholih, dan menggambar gambar-gambar mereka di dalamnya, sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang Nashoro. Tidak ada keraguan bahwa tiap satu dari keduanya itu diharamkan, membuat gambar-gambar manusia diharamkan, dan membangun masjid-masjid di atas kubur-kubur, perbuatan ini saja juga haram”. (Fathul Bari, dinukil dari Tahdzirus Sajid, halm: 13, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)</p>
<p>Dalam hadits lain disebutkan:</p>
<p>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ</p>
<p>Dari Abdulloh, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah bersabda: “<em>Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang ketika hari kiamat datang mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid</em>”. (HSR. Ahmad 1/432; no: 4132; Ibnu Hibban; Thobaroni di dalam Mu’jamul Kabir. Dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)</p>
<p><strong>MAKSUD LARANGAN</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata: “Telah jelas dari hadits-hadits yang lalu bahaya menjadikan kubur sebagai masjid, dan ancaman keras di sisi Allah ‘Azza wa Jalla terhadap orang yang melakukannya. Maka kita wajib memahami makna menjadikan kubur sebagai masjid itu agar kita mewaspadainya. Aku katakan, yang mungkin difahami dari menjadikan kubur sebagai masjid adalah tiga makna:</p>
<p><strong>1-</strong> Sholat di atas kubur, dengan arti sujud di atasnya.</p>
<p><strong>2-</strong> Sujud menghadap kubur, dan menghadap kubur dengan sholat dan doa.</p>
<p><strong>3-</strong> Membangun masjid di atas kubur, dan menyengaja sholat di kuburan-kuburan.</p>
<p>Dan pada tiap satu dari makna ini telah dikatakan oleh sekelompok ulama, dan telah datang dengannya nash-nash yang nyata dari penghulu para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “. (Tahdzirus Sajid, halm: 21, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)</p>
<p>Kemudian syaikh menyebutkan perkataan para ulama tentang makna-makna di atas di dalam kitab beliau itu. </p>
<p><strong>TAMBAHAN KETERANGAN:</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sholat di semua masjid yang dibangun di atas kubur terlarang secara umum, kecuali masjid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (di kota Madinah), karena shalat di sana pahalanya seribu kali lipat, karena masjid itu dibangun di atas taqwa, dan kemuliaannya ada sejak kehidupan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para kholifah yang lurus sebelum masuknya kamar (kubur) di dalam masjid. Dan  dimasukkannya kamar ke dalam masjid dilakukan setelah habis masa sahabat”. (Dinukil dari Tahdzirus Sajid, hlm: 137, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)</p>
<p><em>Al-Hamdulillah Robbil ‘Alamin.</em></p>
<p>Penulis: <a href="http://ustadzmuslim.com/menjadikan-kubur-sebagai-masjid/">Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8918"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmenjadikan-kubur-sebagai-masjid.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempurnaan di atas Kesempurnaan dalam Nama dan Sifat Allah</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kesempurnaan-di-atas-kesempurnaan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/kesempurnaan-di-atas-kesempurnaan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 23:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[asma' wa shifat]]></category>
		<category><![CDATA[asma' wa sifat]]></category>
		<category><![CDATA[nama]]></category>
		<category><![CDATA[sifat Allah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8874</guid>
		<description><![CDATA[Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati nama-nama-Nya dalam al-Qur’an dengan al-husna (maha indah) yang berarti kemahaindahan yang mencapai puncak kesempurnaan, karena nama-nama tersebut mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada padanya celaan/kekurangan sedikitpun ditinjau dari semua sisi[1].<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/kesempurnaan-di-atas-kesempurnaan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati nama-nama-Nya dalam al-Qur’an dengan al-husna (maha indah) yang berarti kemahaindahan yang mencapai puncak kesempurnaan, karena nama-nama tersebut mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada padanya celaan/kekurangan sedikitpun ditinjau dari semua sisi[1].</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">{وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}</p>
<p>“<em>Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan</em>” (QS al-A’raaf:180).</p>
<p>Demikian pula sifat-sifat-Nya adalah maha sempurna yang mencapai puncak kesempurnaan serta tidak ada padanya celaan dan kekurangan sedikitpun[2].</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">{لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم}</p>
<p>“<em>Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana</em>” (QS an-Nahl :60).</p>
<p>Artinya: Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai sifat kesempurnaan yang mutlak (tidak terbatas) dari semua segi[3].</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “(Sifat-sifat) maha sempurna adalah milik Allah, bahkan Dia memiliki (sifat-sifat) yang kesempurnaannya mencapai puncak yang paling tinggi, sehingga tidak ada satu kesempurnaanpun yang tidak ada padanya celaan/kekurangan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak memilikinya pada diri-Nya yang maha suci”[4].</p>
<p><strong>Kesempurnaan di Atas Kesempurnaan</strong></p>
<p>Kemahasempurnaan yang paling tinggi ini ada pada masing-masing dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara tersendiri/ terpisah, sehingga jika dua dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya digabungkan/ digandengkan, sebagaimana yang banyak terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an, tentu ini menunjukkan kemahasempurnaan lain dari penggandengan dua nama dan dua sifat tersebut. Inilah yang dinamakan oleh sebagian dari para ulama dengan “al-kamaalu fauqal kamaal” (kesempurnaan di atas kesempurnaan)[5].</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa penggandengan dua nama dan dua sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini mengandung hikmah yang agung dan faidah yang besar dalam mengenal kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini menunjukkan kemahasempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disertai dengan sanjungan dan pujian yang agung bagi-Nya. Karena masing-masing dari nama-nama-Nya mengandung sifat kesempurnaan bagi-Nya, maka jika dua nama-Nya digandengkan, ini mengandung pujian dan sanjungan bagi-Nya ditinjau dari masing-masing nama tersebut, serta mengandung pujian dan sanjungan bagi-Nya ditinjau dari penggandengan keduanya[6].</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim berkata: “Demikianlah keumuman sifat-sifat Allah yang digandengkan (satu sama lain) dan nama-nama-Nya yang digabungkan dalam al-Qur’an.</p>
<p>Sesungguhnya (sifat Allah) <em>al-Ginaa</em> (maha kaya) adalah sifat kesempurnaan, demikian pula al-Hamdu (maha terpuji), ketika keduanya digabungkan[7] maka (menunjukkan) kesempurnaan lain. Bagi-Nya sanjungan dalam (sifat) maha kaya-Nya, sanjungan dalam (sifat) maha terpuji-Nya dan sanjungan dalam penggabungan keduanya.</p>
<p>Demikian pula (penggabungan dua nama-Nya) “<em>al-‘Afuw al-Qadiir</em>” (Yang Maha Pemaaf lagi Mahakuasa atas segala sesuatu), “<em>al-Hamiid al-Majii</em>d” (Yang Maha Terpuji lagi Mahamulia), dan “<em>al-‘Aziiz al-Hakiim</em>” (Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana). Renungkanlah semua ini, karena ini termasuk pengetahuan yang paling agung (dalam Islam)”[8].</p>
<p><strong>Contoh-contoh Penggabungan Dua Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an</strong></p>
<p>1. Nama Allah “<em>al-‘Aziiz</em>” (Yang Maha Perkasa) dan “<em>al-Hakiim</em>” (Yang Maha Memiliki hukum dan hikmah[9] yang sempurna).</p>
<p>Kedua nama ini disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an, misalnya: QS al-Baqarah: 129, Ali ‘Imran: 62, al-Maaidah: 38 dan 118.</p>
<p>Masing-masing dari kedua nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahaindah ini menunjukkan kemahasempurnaan dalam sifat yang dikandungnya, yaitu<em> al-‘izzah</em> (maha perkasa) pada nama-Nya “<em>al-‘Aziiz</em>” dan hukum serta hikmah yang sempurna pada nama-Nya “<em>al-Hakiim</em>”.</p>
<p>Penggabungan kedua nama ini menunjukkan kemahasempurnaan lain, yaitu bahwa kemahaperkasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama sifat hikmah-Nya, sehingga kemahaperkasaan-Nya tidak mengandung kezhaliman/ aniaya, ketidakadilan dan keburukan, karena ditempatkan-Nya tepat pada tempatnya. Ini berbeda dengan makhluk, di antara mereka ada yang mungkin memiliki keperkasaan, akan tetapi karena tidak disertai hikmah, sehingga keperkasaan itu justru menjadikannya berbuat aniaya, tidak adil dan berperilaku buruk.</p>
<p>Demikian pula hukum dan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama kemahaperkasaan-Nya yang sempurna, sehingga mampu diberlakukan-Nya pada semua makhluk-Nya tanpa ada satu makhlukpun yang bisa menghalangi. Ini berbeda dengan hukum dan hikmah pada makhluk/ manusia yang penuh dengan kekurangan dan tidak selalu disertai dengan keperkasaan, sehingga sering tidak bisa diberlakukan[10].</p>
<p><strong>2. Nama Allah “<em>al-Ghaniyyu</em>” (Yang Maha Kaya) dan “<em>al-Hamiid</em>” (Yang Maha Terpuji).</strong></p>
<p>Kedua nama ini juga disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an, misalnya: QS Faathir: 15, Luqmaan: 12 dan 26.</p>
<p>Masing-masing dari kedua nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ini menunjukkan kemahasempurnaan dalam sifat yang dikandungnya, yaitu <em>al-ghinaa</em> (Maha Kaya) pada nama-Nya “<em>al-Ganiyyu</em>” dan <em>al-hamdu</em> (Maha Terpuji) pada nama-Nya “<em>al-Hamiid</em>”.</p>
<p>Penggabungan kedua nama ini menunjukkan kemahasempurnaan lain, yaitu bahwa barangsiapa yang memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya maka sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala memang berhak untuk dipuji dan disyukuri atas segala nikmat-Nya, akan tetapi segala pujian dan sanjungan kepada-Nya tidak menambah sedikitpun dari kemuliaan dan kekuasaan-Nya, karena Dia Maha Kaya sehingga Dia <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> tidak butuh kepada pujian dan sanjungan makhluk-Nya, sebagaimana ketaatan makhluk-Nya tidak bermanfaat bagi-Nya dan perbuatan maksiat mereka tidak merugikan dan membahayakan-Nya sedikitpun.</p>
<p>Maka semua ketaatan manusia adalah untuk kebaikan diri mereka sendiri, sebagaimana perbuatan maksiat mereka akan merugikan diri mereka sendiri, sebagaimana makna firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">{وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ}</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji</em>” (QS Luqmaan: 12)[11].</p>
<p>Dalam sebuah hadits qudsi yang shahih, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu memberikan kecelakaan bagi-Ku dan kalian tidak akan mampu memberikan kemanfaatan bagi-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya manusia dan jin dari yang pertama (ada di dunia) sampai yang terakhir semuanya (keadaannya seperti) orang yang paling bertakwa hatinya di antara kalian, maka hal itu tidak menambah sedikitpun dari kekuasaan-Ku, dan (sebaliknya) seandainya manusia dan jin dari yang pertama (ada di dunia) sampai yang terakhir semuanya (keadaannya seperti) orang yang paling buruk hatinya di antara kalian, maka hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari kekuasaan-Ku…”[12].</p>
<p><strong>3. Nama Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> “<em>al-‘Aziiz</em>” (Yang Maha Perkasa) dan <em>ar-Rahiim</em> (Yang Maha Penyayang).</strong></p>
<p>Kedua nama ini disebutkan berulangkali dalam surah asy-Syu’araa’ di akhir ayat-ayat yang menceritakan kisah-kisah para Nabi dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta umat yang mendustakan seruan dakwah mereka. Misalnya dalam ayat ke-9, 68, 104, 122 dan 140 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">{وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ}</p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya Rabb-mu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang</em>”.</p>
<p>Masing-masing dari kedua nama Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> ini menunjukkan kemahasempurnaan dalam sifat yang dikandungnya. Sifat maha perkasa adalah sifat kesempurnaan, sebagaimana sifat maha penyayang adalah sifat kesempurnaan.</p>
<p>Penggabungan kedua nama ini menunjukkan kemahasempurnaan lain, yaitu bahwa semua yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berlakukan kepada para Nabi-Nya ‘alaihimussalam berupa pertolongan dalam menghadapi musuh-musuh mereka, peneguhan iman dari-Nya dan ditinggikannya derajat mereka adalah bukti dari sifat rahmat (maha penyayang) Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang dilimpahkan dan dikhususkan-Nya kepada para Nabi<em> ‘alaihismassalam</em>, maka Dialah yang menjaga, melindungi dan menolong mereka dari tipu daya musuh-musuh mereka. Sebaliknya, semua yang diberlakukan-Nya kepada musuh-musuh para Nabi-Nya ‘alaihimassalam berupa siksaan dan kebinasaan merupakan bukti sifat maha perkasa-Nya. Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala menolong para Rasul-Nya ‘alaihimassalam dengan rahmat-Nya dan membinasakan musuh-musuh mereka dengan keperkasaan-Nya, sehingga penyebutan kedua nama ini di ayat-ayat tersebut di atas sangat sesuai dan tepat[13].</p>
<p><strong>4. Nama Allah dan <em>al-Ghafuur</em> (Yang Maha Pengampun) dan <em>al-Waduud</em> (Yang Maha Mencintai)</strong></p>
<p>Kedua nama ini digandengkan dalam firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">{إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ}</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai hamba-hamba-Nya</em>” (QS al-Buruuj: 13-14).</p>
<p>Masing-masing dari kedua nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ini menunjukkan kemahasempurnaan dalam sifat yang dikandungnya. Sifat maha pengampun adalah sifat kesempurnaan, sebagaimana sifat maha mencintai adalah sifat kesempurnaan.</p>
<p>Penggabungan kedua nama ini menunjukkan kemahasempurnaan lain, yaitu bahwa Allah I mencintai hamba-hamba-Nya yang selalu bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Maka perbuatan dosa yang mereka lakukan tidaklah menghalangi mereka untuk meraih kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala selama mereka bersungguh-sungguh dalam bertaubat dan kembali kepada-Nya.</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim berkata: “Dalam ayat ini terdapat rahasia (hikmah) yang halus, yaitu bahwa Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat (kepada-Nya) dan bahwa Dia mencintai hamba-Nya setelah (mendapat) pengampunan-Nya. Maka Allah mengampuni-Nya kemudian mencintai-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">{إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِين}</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri</em>” (QS al-Baqarah: 222).</p>
<p>Maka orang yang bertaubat adalah kekasih Allah”[14].</p>
<p>Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Dalam ayat ini terdapat rahasia (hikmah) yang halus, di mana Allah menggandengkan (nama-Nya) <em>al-Waduud</em> (Yang Maha Mencintai) dengan (nama-Nya) <em>al-Ghafuur</em> (Yang Maha Pengampun). Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang berbuat dosa, jika mereka (sungguh-sungguh) bertaubat dan kembali kepada Allah, maka Dia akan mengampuni dosa-dosa mereka dan mencintai mereka. Maka tidak (benar jika) dikatakan bahwa dosa-dosa mereka diampuni akan tetapi kecintaan Allah tidak akan mereka dapatkan kembali”[15].</p>
<p><strong>Catatan dan Faidah Penting</strong></p>
<p>Di antara nama-nama Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ada yang selalu disebutkan secara bergandengan satu sama lain, maka kedua nama ini tidak boleh disebutkan secara terpisah, karena kedua nama ini hanya mengandung pujian dan sanjungan bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> jika digandengakan dan tidak dipisahkan. Misalnya: “<em>al-Qaabidh al-Baasith</em>”[16] (Yang Maha Menyempitkan dan Melapangkan rizki bagi hamba-hamba-Nya) dan “<em>al-Muqaddim al-Muakhkhir</em>”[17] (Yang Maha Mendahulukan dan Mengakhirkan).</p>
<p>Oleh karena itu, kedua nama ini meskipun secara makna adalah terdiri dari dua nama, karena masing-masingnya membawa makna yang berbeda dengan yang lain, akan tetapi kedudukannya seperti satu nama, karena tidak boleh disebutkan kecuali bergandengan satu sama lain, agar menunjukkan kesempurnaan dan pujian bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> [18].</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim berkata: “Di antara nama-nama Allah ada yang tidak boleh disebutkan secara tersendiri, tapi (harus) digandengkan dengan (nama Allah lain) yang merupakan kebalikannya, seperti: <em>al-Maani’</em> (yang maha mencegah/tidak memberi), <em>adh-Dhaarr</em> (yang maha mendatangkan bahaya) dan al-Muntaqim (yang maha membalas dendam/memberi siksaan). Nama-nama ini tidak boleh dipisahkan dari (nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang merupakan kebalikannya, karena nama-nama tersebut bergandengan dengan nama-Nya <em>al-Mu’thi</em> (yang maha memberi), <em>an-Naafi’</em> (yang maha memberi manfaat) dan al-‘Afuw (yang maha pemaaf). Maka Dialah “Yang Maha Memberi lagi maha mencegah/tidak memberi”, “Yang Maha Memberi manfaat lagi Maha mendatangkan bahaya”, “Yang Maha Memberi siksaan lagi Maha Pemaaf” dan “Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan”.</p>
<p>Kemahasempurnaan (bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala) adalah dengan menggandengkan nama-nama ini dengan (nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya) yang merupakan kebalikannya, karena ini berarti bahwa Allah Maha Tunggal/Esa dalam sifat rububiyah-Nya, mengatur (urusan) makhluk-Nya dan memberlakukan pada mereka (apa yang dikehendaki-Nya) dalam memberi, mencegah, memberi manfaat, mendatangkan bahaya, memaafkan dan memberi siksaan.</p>
<p>Adapun memuji Allah dengan hanya (menyebutkan) yang maha mencegah/tidak memberi, maha membalas dendam/memberi siksaan dan maha mendatangkan bahaya maka ini tidak diperbolehkan.</p>
<p>Maka inilah nama-nama Allah yang selalu bergandengan satu sama lainnya, kedudukannya seperti satu nama yang tidak boleh dipisahkan huruf-hurufnya satu dari yang lain. Meskipun nama-nama ini lebih dari satu tapi kedudukannya seperti satu nama. Oleh karena itu, nama-nama ini tidak pernah disebutkan dan dimutlakkan kecuali bergandengan (satu sama lainnya), maka pahamilah ini!”[19].</p>
<p><strong>Penutup<br />
</strong><br />
Demikianlah pemaparan ringkas tentang “kesempurnaan di atas kesempurnaan” dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun kita beriman secara pasti bahwa keindahan dan kesempurnaan dalam kandungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya tidak terbatas dan melebihi dari semua keindahan dan kesempurnaan yang mampu digambarkan oleh akal pikiran manusia.</p>
<p>Maka benarlah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang mengungkapkan keindahan dan kesempurnaan yang tanpa batas ini dalam doa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang populer:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَما أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ</p>
<p>“<em>Aku tidak mampu menghitung/membatasi pujian/sanjungan terhadap-Mu, Engkau adalah sebagaimana (pujian dan sanjungan) yang Engkau peruntukkan bagi diri-Mu</em>”[20].</p>
<p>Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia memudahkan kita untuk memahami dengan benar keindahan dan kesempurnaan dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang dengan itu kita bisa mencintainya dan menyempurnakan penghambaan diri kita kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 21 Muharram 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<p>[1] Lihat kitab “<em>al-Qawaa’idul mutsla</em>” (hal. 21).</p>
<p>[2] Ibid (hal. 53).</p>
<p>[3] Lihat “<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>” (2/756).</p>
<p>[4] Kitab “<em>al-Qawa-‘idul mutsla</em>” (6/71).</p>
<p>[5] Lihat penjelasan syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dalam “<em>al-Qawaa’idul mutsla</em>” (hal. 23).</p>
<p>[6] Lihat kitab “<em>Fiqhul asma-il husna</em>” (hal. 41).</p>
<p>[7] Misalnya dalam QS Faathir: 15 dan QS Luqmaan: 26.</p>
<p>[8] Kitab “Bada-i’ul fawa-id” (1/168-169).</p>
<p>[9] Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, yang ini bersumber dari</p>
<p>kesempurnaan ilmu Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, lihat kitab “<em>Taisiirul Kariimir Rahmaan</em>” (hal. 131 dan 946).</p>
<p>[10] Lihat kitab “<em>al-Qawaa’idul mutsla</em>” (hal. 23) dan “<em>Fiqhul asma-il husna</em>” (hal. 41).</p>
<p>[11] Lihat kitab “<em>Fiqhul asma-il husna</em>” (hal. 42).</p>
<p>[12] HSR Muslim (no. 2577).</p>
<p>[13] Lihat kitab “<em>Fiqhul asma-il husna</em>” (hal. 42).</p>
<p>[14] Kitab “<em>Raudhatul muhibbiin</em>” (hal. 47).</p>
<p>[15] Kitab “<em>Taisiirul Kariimir Rahmaan</em>” (hal. 918).</p>
<p>[16] Kedua nama ini disebutkan dalam HR Abu Dawud (no. 3451), at-Tirmidzi (no. 1314) dan Ibnu Majah (no. 2200), dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.</p>
<p>[17] Kedua nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ini disebutkan dalam banyak hadits shahih, di antaranya dalam HSR al-Bukhari (no. 6035) dan Muslim (no. 2719), juga dalam HSR Muslim (no. 771).</p>
<p>[18] Lihat kitab “<em>Fiqhul asma-il husna</em>” (hal. 280) dan “<em>al-Mujalla fi syarhil qawaa‘idil mutsla</em>” (hal. 160)..</p>
<p>[19] Kitab “<em>Bada-i’ul fawaa-id</em>” (1/177).</p>
<p>[20] HSR Muslim (no. 486).</p>
<div class="shr-publisher-8874"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkesempurnaan-di-atas-kesempurnaan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/kesempurnaan-di-atas-kesempurnaan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Orang Mati Bisa Mendengar?</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/apakah-orang-mati-bisa-mendengar.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/apakah-orang-mati-bisa-mendengar.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 23:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[gaib]]></category>
		<category><![CDATA[ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[mayit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8865</guid>
		<description><![CDATA[Pada sebuah kesempatan, Syaikh Prof.Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief *) ditanya: Apakah orang mati dapat mendengarkan hal-hal yang terjadi disekitarnya? Ketika seseorang meninggal, apakah ia dapat merasakan apa yang ada disekitarnya, seperti keberadaan keluarganya, sebelum<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/apakah-orang-mati-bisa-mendengar.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Pada sebuah kesempatan, <strong>Syaikh Prof.Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief</strong> *) ditanya:</p>
<p>Apakah orang mati dapat mendengarkan hal-hal yang terjadi disekitarnya? Ketika seseorang meninggal, apakah ia dapat merasakan apa yang ada disekitarnya, seperti keberadaan keluarganya, sebelum ia dimandikan, dikafankan lalu dikubur? Lalu apakah mayat tersebut dapat mendengarkan suara-suara disekelilingnya? Karena terdapat hadits yang menyatakan bahwa mayat dapat mendengar hentakan sandal orang yang menguburkannya.</p>
<p><strong>Syaikh Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief menjawab:</strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وبعد</p>
<p>Keadaan asalnya, orang mati tidak dapat mendengar, berdasarkan firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى</p>
<p>“<em>Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar</em>” (QS. An Naml: 80)</p>
<p>Allah <em>Subhanahu Wa Ta’ala </em>juga berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى</p>
<p>“<em>Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar</em>” (QS. Ar Ruum: 52)</p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَمَا أَنتَ بِمُسْمِعٍ مَّن فِي الْقُبُورِ</p>
<p>“<em>Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar</em>” (QS. Fathir: 22)</p>
<p>Serta ayat-ayat yang lain. Selain itu, mati itu seperti tidur. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa tidur adalah<em>Al Wafaat Ash Shughra</em> (kematian kecil). Sebagaimana firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ</p>
<p>“<em>Dan Allah-lah yang mewafatkan (menidurkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari</em>” (QS. Al An’am: 60)</p>
<p>Dan kita tahu bersama, bahwa orang yang tidur tidak bisa mendengar orang berbicara padanya. Maka orang mati tentu lebih tidak bisa lagi.</p>
<p>Adapun orang mati dapat mendengar suara hentakan sandal ini merupakan pengecualian khusus dari keadaan asal, pengecualian ini dikarenakan terdapat dalil yang menyebutkannya. Wallahu’alam.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.alabdulltif.net/index.php?option=com_ftawa&amp;task=view&amp;id=28121">http://www.alabdulltif.net/index.php?option=com_ftawa&amp;task=view&amp;id=28121</a></p>
<p>*) Beliau adalah salah satu ulama dari kota Riyadh Saudi Arabia, menjadi dosen di beberapa Universitas, dan beliau pakar dalam masalah Aqidah.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: Yulian Purnama<br />
Artikel Muslim.Or.Id</p>
<div class="shr-publisher-8865"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fapakah-orang-mati-bisa-mendengar.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/apakah-orang-mati-bisa-mendengar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manhaj Salaf dalam Akidah</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/manhaj-salaf-dalam-akidah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/manhaj-salaf-dalam-akidah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 08:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8830</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh ‘Abdussalam bin Salim As Suhaimi Manhaj generasi Salafus Shalih dalam masalah aqidah secara ringkas adalah sebagai berikut: Membatasi sumber rujukan dalam masalah aqidah hanya pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/manhaj-salaf-dalam-akidah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Oleh Syaikh ‘Abdussalam bin Salim As Suhaimi</p>
<p>Manhaj generasi Salafus Shalih dalam masalah aqidah secara ringkas adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Membatasi sumber rujukan dalam masalah aqidah hanya pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> serta memahaminya dengan pemahaman Salafus Shalih</li>
<li>Berhujjah dengan hadits-hadits shahih dalam masalah aqidah, baik hadits-hadits tersebut mutawatir maupun ahad.</li>
<li>Tunduk kepada wahyu serta tidak mempertentangkannya dengan akal. Juga tidak panjang lebar dalam membahas perkara gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal.</li>
<li>Tidak menceburkan diri dalam ilmu kalam dan filsafat</li>
<li>Menolak ta’wil yang batil</li>
<li>Menggabungkan seluruh nash yang ada dalam membahas suatu permasalahan [1]</li>
</ol>
<p>Inilah aqidah yang lurus yang berasal dari sumber yang murni, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, yang jauh dari hawa nafsu dan syubhat. Orang yang berpegang teguh dengan aqidah yang demikian, maka ia telah mengagungkan nash-nash Qur’an dan Sunnah karena ia mengetahui bahwa apa yang ada di dalamnya itu benar.</p>
<p>Imam Al Barbahari <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">واعلم رحمك الله أن الدين إنـما جاء من قبل الله تبارك وتعالى لم يوضع على عقول الرجال وآرائـهم وعلمه عند الله وعند رسوله فلا تتبع شيئاً يهواك فتمرق من الدين فتخرج من الإسلام فإنه لا حجة لك فقد بين رسول الله صلى الله عليه وسلم لأمته السنة وأوضحها لأصحابه وهم الجماعة وهم السواد الأعظم والسواد الأعظم الحق وأهله</p>
<p>“Ketahuilah saudaraku, semoga Allah merahmatimu, bahwa agama Islam itu datang dari Allah <em>Tabaaraka Wa Ta’ala</em>. Tidak disandarkan pada akal atau pendapat-pendapat seseorang. Janganlah engkau mengikuti sesuatu hanya karena hawa nafsumu. Sehingga akibatnya agamamu terkikis dan akhirnya keluar dari Islam. Engkau tidak memiliki hujjah. Karena Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> telah menjelaskan As Sunnah kepada ummatnya, dan juga kepada para sahabatnya. Merekalah (para sahabat) <em>As Sawaadul A’zham</em>. Dan <em>As</em> <em>Sawaadul A’zham</em> itu adalah al haq dan ahlul haq” [2].</p>
<p>Sebelum itu, beliau juga berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">والأساس الذي تبني عليه الجماعة وهم أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم وهم أهل السنة والجماعة فمن لم يأخذ عنهم فقد ضل وابتدع وكل بدعة ضلالة</p>
<p>“Pondasi dari <em>Al Jama’ah</em> adalah para sahabat Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Merekalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Barang siapa yang cara beragamanya tidak mengambil dari mereka, akan tersesat dan berbuat bid’ah. Padahal setiap bid’ah itu kesesatan” [3].</p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : لا عذر لأحد في ضلالة ركبها حسبها هدى ولا في هدى تركه حسبه ضلالة فقد بُينت الأمور وثبتت الحجة وانقطع العذر وذلك أن السنة والجماعة قد أحكما أمر الدين كله وتبين للناس فعلى الناس الإتباع</p>
<p>“Umar bin Al Khattab <em>Radhiallahu’anhu</em> berkata: Tidak ada toleransi bagi seseorang untuk melakukan kesesatan, karena petunjuk telah cukup baginya. Tidaklah seseorang meninggalkan petunjuk agama, kecuali baginya kesesatan. Perkara-perkara agama telah dijelaskan, hujjah sudah ditetapkan, tidak ada lagi toleransi. Karena As Sunnah dan Al Jama’ah telah menetapkan hukum agama seluruhnya serta telah menjelaskannya kepada manusia. Maka bagi manusia hendaknya mengikuti petunjuk mereka” [4].</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: <a href="https://kangaswad.wordpress.com/2012/03/16/manhaj-salaf-dalam-aqidah/">Yulian Purnama</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<p>—</p>
<p>[1] Diringkas oleh syaikh dari kajian kitab <em>Al Minhaj</em> yang diasuh oleh Syaikh Abdullah Al ‘Ubailan. Dan poin-poin ini sudah ma’lum dari pengamatan terhadap manhaj para salafus shalih</p>
<p>[2] Syarhus Sunnah, 1/66.</p>
<p>[3] Syarhus Sunnah, 1/65.</p>
<p>[4] Syarhus Sunnah, 1/66.</p>
<p>Sumber: http://www.almenhaj.net/tawheed/text.php?linkid=7621</p>
<div class="shr-publisher-8830"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmanhaj-salaf-dalam-akidah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/manhaj-salaf-dalam-akidah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahaya Jika Kita Berbuat Syirik</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/bahaya-jika-kita-berbuat-syirik.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/bahaya-jika-kita-berbuat-syirik.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 23:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[syirik akbar]]></category>
		<category><![CDATA[syirik ashgor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8719</guid>
		<description><![CDATA[Syirik bukanlah hanya diartikan dengan seseorang menyembah berhala atau mengakui ada pencipta selain Allah. Hal tadi memang termasuk syirik. Namun kesyrikan sebenarnya lebih luas daripada itu. Dalam masalah ibadah, jika ada satu ibadah dipalingkan kepada<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/bahaya-jika-kita-berbuat-syirik.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Syirik </strong>bukanlah hanya diartikan dengan seseorang menyembah berhala atau mengakui ada pencipta selain Allah. Hal tadi memang termasuk syirik. Namun kesyrikan sebenarnya lebih luas daripada itu. Dalam masalah ibadah, <strong>jika ada satu ibadah dipalingkan kepada selain Allah, itu pun sudah termasuk syirik</strong>.</p>
<p>Meskipun ibadah itu ditujukan kepada malaikat, orang sholeh, seorang nabi, wali, jin atau pada batu berhala, kesemuanya sama-sama syirik. Sehingga jika ada yang menyembelih dengan melakukan tumbal pada jin penjaga jembatan, maka ini pun termasuk kesyirikan karena nusuk (penyembelihan) adalah suatu ibadah. Begitu juga bergantungnya hati atau tawakkal adalah ibadah, sehingga jika seseorang menggantungkan hati pada jimat, penglaris, rajah, wafaq, susuk dan pelet dengan tujuan untuk kesaktian, membuat laris dagangan, atau menarik cinta, ini pun termasuk kesyirikan. Namanya ibadah hanya boleh ditujukan pada Allah semata. Inilah makna syirik yang patut kita pahami dengan baik.</p>
<p>Jika kita telah memahami hal ini, maka perlu diketahui bahwa kesyirikan memiliki bahaya yang amat besar dan pengaruh ini akan dirasakan di dunia dan akhirat kelak. Tulisan berikut ini akan mengupas beberapa bahaya kesyirikan secara global dan ringkas:</p>
<p>1. Segala kejelekan di dunia dan akhirat diakibatkan oleh <strong>syirik</strong>.</p>
<p>2. Sebab utama kesulitan di dunia dan akhirat adalah karena <strong>syirik</strong>.</p>
<p>3. Rasa khawatir dan lepasnya rasa aman di dunia dan akhirat disebabkan karena <strong>syirik</strong>. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.</em>” (QS. Al An’am: 82).</p>
<p>4. Orang yang berbuat <strong>syirik</strong> akan sesat di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya</em>” (QS. An Nisa’: 116).</p>
<p>5. Orang yang berbuat <strong>syirik akbar</strong> (besar) tidak akan diampuni oleh Allah jika mati dan belum bertaubat. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.</em>” (QS. An Nisa’: 48).</p>
<p>6. Jika seseorang berbuat <strong>syirik akbar</strong> (besar), seluruh amalannya bisa terhapus. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p>“<em>Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan</em>.” (QS. Al An’am: 88).</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. &#8220;Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi</em>.” (QS. Az Zumar: 65).</p>
<p>7. Orang yang berbuat <strong>syirik akbar</strong> pantas masuk neraka dan diharamkan surga untuknya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun</em>.” (QS. Al Maidah: 72).</p>
<p>Dari Jabir, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mati dalama keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka</em>” (HR. Muslim no. 93).</p>
<p>8. <strong>Syirik akbar</strong> membuat pelakunya kekal dalam neraka. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk</em>” (QS. Al Bayyinah: 6).</p>
<p>9. <strong>Syirik</strong> adalah sejelek-jelek perbuatan zholim dan sejelek-jeleknya dosa sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ</p>
<p>“<em>Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: &#8220;Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar&#8221;</em>.” (QS. Lukman: 13).</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.</em>” (QS. An Nisa’: 48).</p>
<p>10. Allah dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berlepas diri dari orang yang berbuat <strong>syirik</strong>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ</p>
<p>“<em>Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin</em>” (QS. At Taubah: 3).</p>
<p>11. <strong>Syirik</strong> adalah sebab utama yang mendatangkan murka dan siksa Allah, serta menjauhkan seseorang dari rahmat Allah. Semoga Allah melindungi kita dari segala hal yang mendatangkan murka Allah.</p>
<p>12. <strong>Syirik</strong> menghapuskan cahaya fithroh seorang hamba. Karena seorang hamba pertama kali dijadikan dalam keadaan fithroh yaitu di atas tauhid dan ketaatan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui</em>” (QS. Ar Rum: 30).</p>
<p>Begitu pula sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">« مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ » . ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; ( فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ) الآيَةَ</p>
<p>“<em>Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan di atas fithroh. Ayahnya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi. Sebagaimana binatang ternak melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, apakah kamu melihat ada yang cacat padanya?</em>” Lantas Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- membacakan ayat (yang artinya), “<em>Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu</em>” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658).</p>
<p>Begitu pula dalam hadits qudsi disebutkan,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hunafa’ (islam) semuanya, kemudian syetan memalingkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangannya</em>” (HR. Muslim no. 2865). Yang dimaksud hunafa’ adalah dalam keadaan Islam, sebagaimana keterangan dari Imam Nawawi rahimahullah (Syarh Shahih Muslim, 17: 197).</p>
<p>13. <strong>Syirik</strong> mengantarkan pada pengagungan terhadap jiwa yang hina. Karena orang musyrik merendahkan diri pada setiap thogut di muka bumi. Karena sandaran hatinya hanyalah makhluk yang tidak dapat melihat dan tidak berakal. Yang mereka sembah adalah selain Allah dan menghinakan diri padanya. Ini sungguh adalah bentuk penghinaan pada diri sendiri.</p>
<p>14. <strong>Syirik akbar (besar)</strong> menjadikan halalnya darah dan harta sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ</p>
<p>“<em>Aku memerintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal ini, maka darah dan harta mereka aman kecuali jika ada sebab hukum Islam dan hisab mereka tergantung pada Allah</em>” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21).</p>
<p>15. <strong>Syirik akbar (besar) </strong>menyebabkan permusuhan antara pelakunya dengan orang beriman. Tidak boleh seorang mukmin memiliki loyalitas dengan orang musyrik walau itu kerabat dekat. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</p>
<p>“<em>Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka</em>” (QS. Al Mujadilah: 22).</p>
<p>16. <strong>Syirik ashgor (kecil)</strong> mengurangi keimanan seseorang dan sebagai wasilah (perantara) menuju syirik akbar.</p>
<p>17. <strong>Syirik khofi (yang samar)</strong> seperti syirik dalam riya’ dan beramal dengan tujuan mencapai dunia, syirik seperti ini akan menghapuskan amalan yang terkait dengannya. Dan syirik khofi lebih dikhawatirkan dari Al Masih Dajjal dan lebih dikhawatirkan akan menimpa umat Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al Masih Ad Dajjal?</em> Para sahabat berkata, “<em>Tentu saja</em>”. Beliau bersabda, “<em>Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya</em> “ (HR. Ahmad dalam musnadnya. Dihasankan oleh Syaikh Albani Shahiihul Jami’ 2604)</p>
<p>Semoga dengan mengetahui hal ini semakin membuat kita khawatir dengan kesyirikan. Dan semoga Allah menjauhkan kita dari berbuat syirik, apa pun jenisnya.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi</strong>: <em></em></p>
<p><em>Nurut Tauhid wa Zhulumatusy Syirk</em>, Syaikh Dr. Sa&#8217;id bin Wahf Al Qohthoni, terbitan Maktabah Malik Fahd Al Wathoniyah, cetakan ketiga, 1421 H.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 11 Rabi’uts Tsani 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8719"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbahaya-jika-kita-berbuat-syirik.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/bahaya-jika-kita-berbuat-syirik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelang Penolak Bala</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/gelang-penolak-bala.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/gelang-penolak-bala.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2012 02:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[tolak bala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8699</guid>
		<description><![CDATA[,أَخْبَرَنِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً، أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: «وَيْحَكَ مَا هَذِهِ؟» قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ؟ قَالَ: «أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ؛<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/gelang-penolak-bala.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p style="font-size: 18px; text-align: right;">,أَخْبَرَنِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً، أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: «وَيْحَكَ مَا هَذِهِ؟» قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ؟ قَالَ: «أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ؛ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا»</p>
<p>Diriwayatkan dari Imran bin Hushain, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> suatu ketika melihat seorang lelaki yang di tangannya terdapat gelang dari kuningan, maka beliau bertanya, “<em>Apa ini?</em>”. Dia menjawab, “Untuk menangkal penyakit.” Maka Nabi mengatakan, “<em>Lepaskan saja, karena sesungguhnya gelang itu tidak akan memperbaiki keadaanmu kecuali kamu semakin bertambah lemah. Bahkan kalau kamu meninggal dalam keadaan masih memakai gelang itu tentu kamu tidak akan bahagia selamanya</em>” (HR. Ahmad, sanadnya<em> la ba’sa bih</em>)</p>
<p><strong>Kandungan hadits secara global</strong><br />
Imran bin Hushain <em>radhiyallahu’anhuma</em> menyebutkan kepada kita salah satu sikap yang diambil oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam memerangi syirik dan membebaskan manusia darinya. Sikap beliau itu adalah : ketika beliau melihat ada seorang lelaki yang memakai gelang kuningan maka beliau menanyakan kepadanya maksud perbuatannya itu? Maka lelaki itu menjawab bahwa maksudnya mengenakan itu adalah untuk mencegah dari penyakit, maka beliau pun memerintahkan untuk segera membuangnya. Beliau juga memberitahukan kepadanya bahwa hal itu tidak akan berguna baginya bahkan membahayakan dirinya, dan gelang itu justru akan semakin menambah penyakit yang ingin dia hindari. Dan bahaya yang lebih besar daripada itu adalah jika anda tetap memakainya hingga mati maka keberuntungan di akhirat pun tidak akan anda dapatkan.</p>
<p><strong>Pelajaran yang dapat dipetik dari hadits ini</strong></p>
<ol>
<li>Mengenakan gelang dan yang semacamnya dalam rangka menjaga diri dari serangan penyakit termasuk perbuatan syirik</li>
<li>Larangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan</li>
<li>Mengingkari kemungkaran dan mengajari orang yang bodoh</li>
<li>Bahaya syirik bagi kehidupan dunia dan akhirat</li>
<li>Hendaknya pemberi fatwa menanyakan rincian masalah dan mempertimbangkan maksud perbuatan</li>
<li>Syirik kecil merupakan dosa besar yang terbesar</li>
<li>Tidak ada udzur karena bodoh untuk melakukan syirik</li>
<li>Sikap keras dalam mengingkari orang yang melakukan salah satu perbuatan syirik agar dia meninggalkan dan menjauhinya</li>
</ol>
<p>Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, dari Uqbah bin Amir secara marfu’, (Nabi bersabda)</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً ، فَلا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ ، وَمَنْ عَلَّقَ وَدَعَةً ، فَلا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka Allah tidak akan menyempurnakan urusannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah (kerang) maka Allah tidak akan memberikan ketenangan baginya</em>” (HR. Al Hakim 7582, Ibnu Hibban 6220, sanadnya diperselisihkan, Al Albani mendhaifkannya dalam <em>Silsilah Adh Dha&#8217;ifah</em>, 1266)</p>
<p>Dalam riwayat lainnya,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik</em>” (HR. Ahmad, no. 17092. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Silsilah Ash Shahihah, </em>492)</p>
<p><strong>Kandungan kedua hadits ini secara global</strong><br />
Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendoakan keburukan kepada orang yang menggunakan jimat dengan keyakinan bahwa benda itu dapat menolak madharat agar Allah membalikkan apa yang dia maksudkan dan agar Allah tidak menyempurnakan urusan-urusannya. Sebagaimana beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun mendoakan keburukan bagi orang yang memakai kerang untuk tujuan yang serupa agar Allah tidak membiarkan dia hidup dalam ketenangan, bahkan supaya segala gangguan menggoncangkan dirinya, doa ini dimaksudkan sebagai bentuk peringatan keras terhadap perbuatan itu, sebagaimana beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga memberitakan di dalam hadits yang kedua bahwa perbuatan ini termasuk syirik kepada Allah</p>
<p><strong>Pelajaran yang dapat dipetik dari kedua hadits ini</strong></p>
<ol>
<li>Menggantungkan jimat dan kerang termasuk perbuatan syirik</li>
<li>Barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah maka Allah akan membalasnya dengan kebalikan dari apa yang dia inginkan</li>
<li>Doa keburukan bagi orang yang menggantungkan jimat-jimat dan kerang bahwa dia akan kehilangan apa yang dia harapkan dan justru mendapatkan kebalikan dari keinginannya</li>
</ol>
<p>Sumber : <em>al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab at-Tauhid</em> karya Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8699"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fgelang-penolak-bala.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/gelang-penolak-bala.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

