<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Aqidah</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/aqidah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada Badan</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/memperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/memperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8329</guid>
		<description><![CDATA[Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16)  Rasulullah<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/memperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p style="text-align: center;">Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari an-Nu’man bin Basyir <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu para da’i yang menyerukan tauhid adalah da’i-da’i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (<strong>HR. Muslim </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 109</strong>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang-cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara di akhirat. Demikian pula syirik, dusta dan riya’ seperti sebatang pohon, yang buah-buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 14)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat -di dalam tanah- sedangkan cabangnya menjulang ke langit.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 24</strong>). Yang dimaksud ‘kalimat yang baik’ di dalam ayat ini adalah syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 425)</p>
<p>Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak? Sementara inilah hak Allah Rabb penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul<em> ‘alaihimush sholatu was salam</em>!</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” </em>(<strong>QS. al-An’aam: 162-163</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya; Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(<strong>QS. al-Anbiyaa’: 25</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” </em>(<strong>QS. al-Ma’idah: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri.” </em>(<strong>QS. al-Hasyr: 19</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra’d: 28</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah laa ilaha illallaah niscaya dia akan masuk surga.” </em>(<strong>HR. Abu Dawud </strong>dari Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 17)</p>
<p>Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, <em>“Di mana pun bumi dipijak, maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!”</em>. Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?!</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8329"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmemperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmemperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmemperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/memperbaiki-tauhid-ibarat-memperbaiki-jantung-pada-badan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membalas Salam Non Muslim</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/membalas-salam-non-muslim.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/membalas-salam-non-muslim.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 23:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ahli kitab]]></category>
		<category><![CDATA[non muslim]]></category>
		<category><![CDATA[salam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8135</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Bagaimanakah hukum membalas salam orang kafir (ahli kitab maupun non muslim lainnya)? Dan bolehkah memulai mengucapkan salam pada mereka? Ada pula hadits yang menyebutkan<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/membalas-salam-non-muslim.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Bagaimanakah hukum membalas salam orang kafir (ahli kitab maupun non muslim lainnya)? Dan bolehkah memulai mengucapkan salam pada mereka? Ada pula hadits yang menyebutkan bahwa jika kita berjumpa orang kafir, maka pepetlah mereka ke pinggir. Bagaimana penjelasan hal ini?</p>
<p><em>Thoyyib</em>, ada sebuah riwayat yang menjelaskan masalah di atas. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ</p>
<p>“<em>Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya</em>.” (HR. Muslim no. 2167)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memulai Salam pada Orang Kafir</strong></span></p>
<p>Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum memulai ucapan salam pada orang kafir dan hukum membalas salam mereka. Kebanyakan ulama terdahulu dan belakangan mengharamkan memulai ucapan salam. Imam Nawawi berkata, “<em>Larangan yang disebutkan dalam hadits di atas menunjukkan keharaman, Inilah yang benar bahwa memulai mengucapkan salam pada orang kafir dinilai haram</em>.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 145).</p>
<p>Adapun memulai mengucapkan “selamat pagi” pada orang kafir, tidaklah masalah. Namun lebih baik tetap tidak mengucapkannya kecuali jika ada maslahat atau ingin menghindarkan diri dari mudhorot. (Keterangan dari <strong><a href="http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;lang=A&amp;Id=32758">islamweb</a></strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Membalas Salam Orang Kafir</strong></span></p>
<p>Mayoritas ulama (baca: jumhur) berpendapat bahwa jika orang kafir memberi salam, maka jawablah dengan ucapan “<em>wa ‘alaikum</em>”. Dalilnya adalah hadits <em>muttafaqun ‘alaih</em> dari Anas bin Malik, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ</p>
<p>“<em>Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’</em>.” (HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163)</p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Anas bin Malik berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">مَرَّ يَهُودِىٌّ بِرَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فَقَالَ السَّامُ عَلَيْكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « وَعَلَيْكَ » . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « أَتَدْرُونَ مَا يَقُولُ قَالَ السَّامُ عَلَيْكَ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نَقْتُلُهُ قَالَ « لاَ ، إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ »</p>
<p>“<em>Ada seorang Yahudi melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengucapkan ‘as saamu ‘alaik’ (celaka engkau).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas ‘wa ‘alaik’ (engkau yang celaka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Apakah kalian mengetahui bahwa Yahudi tadi mengucapkan ‘assaamu ‘alaik’ (celaka engkau)?” Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membunuhnya saja?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan. Jika mereka mengucapkan salam pada kalian, maka ucapkanlah ‘wa ‘alaikum’</em>.” (HR. Bukhari no. 6926)</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah </em>berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa ada perbedaan menjawab salam orang muslim dan orang kafir. Ibnu Battol berkata, “Sebagian ulama berpendapat bahwa membalas salam orang kafir adalah wajib berdasarkan keumuman ayat (yaitu surat An Nisa ayat 86, pen). Telah shahih dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika ada yang mengucapkan salam padamu, maka balaslah ucapannya walau ia seorang Majusi.” Demikian pendapat Asy Sya’bi dan Qotadah. Namun Imam Malik dan jumhur (mayoritas ulama) melarang demikian. Atho’ berkata, “Ayat (yaitu surat An Nisa’ ayat 86) hanya khusus bagi kaum muslimin. Jadi tidak boleh menjawab salam orang kafir secara mutlak. Hadits di atas cukup menjadi alasan.” (Fathul Bari, 11: 42)</p>
<p>Surat An Nisa ayat 86 yang dimaksud adalah,</p>
<p dir="RTL" align="center">وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا</p>
<p>“<em>Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)</em>.” (QS. An Nisa’: 86). Inilah dalil yang jadi alasan sebagian ulama (seperti Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em>) bahwa jika orang kafir memberi salam ‘<em>as salaamu ‘alaikum</em>’, maka hendaklah dibalas dengan yang semisal, yaitu ‘<em>wa ‘alaikumus salam</em>’.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keterangan</span>: Orang kafir yang dimaksud di sini adalah setiap non muslim, baik Yahudi, Nashrani, Majusi, Hindu, Budha dan lainnya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketika Bertemu Orang Kafir di Jalan</strong></span></p>
<p>Adapun maksud hadits,</p>
<p dir="RTL" align="center">فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ</p>
<p>“<em>Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya</em>.” Yang dimaksud adalah janganlah membuka jalan pada orang kafir dalam rangka memuliakan atau menghormati mereka. Sehingga <span style="text-decoration: underline;">bukanlah maknanya</span> jika kalian bertemu orang kafir di jalan yang luas, maka paksalah mereka hingga ke lubang sehingga jalan mereka menjadi sempit. Pemahaman seperti ini berarti menyakiti non muslim tanpa ada sebab. Demikian keterangan Al Munawi dalam <em>Faidul Qodir</em> (6: 501) yang menyanggah tafsiran sebagian ulama yang keliru.</p>
<p><em>Wallahu a’lam bish showwab</em>. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 15 Dzulhijjah 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8135"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmembalas-salam-non-muslim.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmembalas-salam-non-muslim.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmembalas-salam-non-muslim.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/membalas-salam-non-muslim.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan  Kau Tolak Bencana dengan Bencana!</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 23:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8084</guid>
		<description><![CDATA[Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat. Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana.<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang berupaya untuk menghindar dan menyelamatkan diri dari bencana. Akan tetapi, yang menjadi masalah -bahkan sumber petaka- adalah ketika sebagian orang justru menolak bencana dengan bencana, bahkan bencana yang lebih dahsyat!</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Musibah adalah Takdir Allah</strong></span></p>
<p>Saudaraku, musibah dan bencana merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Sebagai seorang muslim, kita wajib mengimani takdir. Suatu ketika, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya tentang iman, maka di antara jawaban beliau adalah, <em>“Hendaknya kamu beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Iman kepada takdir adalah harga mati, tidak bisa ditawar-tawar. Sahabat Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu’anhuma</em> berkata tentang orang-orang yang mengingkari takdir di masanya, <em>“Sampaikanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun tidak punya urusan denganku. Demi Allah, yang jiwa Ibnu Umar di tangan-Nya, seandainya mereka punya emas sebesar gunung Uhud kemudian mereka infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir.”</em> (lihat Kitab <em>al-Iman</em>, <em>Shahih Muslim</em>). Ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari takdir bukan termasuk orang beriman.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Berlindunglah Kepada Allah</strong></span></p>
<p>Seorang hamba yang ingin selamat dari berbagai macam musibah dan bencana hendaknya hanya berlindung dan berdoa kepada Allah. Karena hanya Allah yang menguasai segala urusan di langit dan di bumi. Dia lah yang menguasai segala manfaat dan madharat.</p>
<p><em>Isti’adzah</em>/meminta perlindungan merupakan salah satu bentuk doa. Sementara doa adalah ibadah; sehingga tidak boleh ia ditujukan kepada selain Allah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Doa itu adalah [intisari] ibadah.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, hasan sahih). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah saja, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 36</strong>)</p>
<p>Seorang yang berdoa dan memohon perlindungan kepada selain Allah telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya. Allah <em>ta’ala</em> berfirman mengenai sesembahan yang diseru selain-Nya (yang artinya), <em>“Sesembahan-sesembahan yang kalian seru selain-Nya sama sekali tidak menguasai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”</em> (<strong>QS. Fathir: 13</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Janganlah kamu menyeru/berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak kuasa memberikan manfaat dan madharat kepadamu. Kalau kamu tetap melakukannya maka kamu benar-benar kamu termasuk orang yang berbuat zalim.”</em> (<strong>QS. Yunus: 106</strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Syirik Kezaliman Terbesar</strong></span></p>
<p>Menujukan doa dan ibadah kepada selain Allah merupakan kekafiran, kemusyrikan, dan kezaliman. Kekafiran orang yang berdoa kepada selain Allah merupakan ketetapan al-Qur’an. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menyeru/berdoa kepada sesembahan lain selain [berdoa] Allah, yang sama sekali tidak ada dalil yang membenarkannya, maka sesungguhnya perhitungannya ada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>).</p>
<p>Berdoa kepada selain Allah pun termasuk kezaliman, bahkan kezaliman yang terbesar. Karena ibadah adalah hak Allah. Barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah berarti dia telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya, dan itulah kezaliman. Hak Allah adalah hak pertama dan paling agung yang harus dipenuhi, sehingga tidak menunaikan hak Allah merupakan kezaliman yang paling besar. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. Luqman: 13</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dari sini anda bisa mengetahui bahwa slogan-slogan penegakan keadilan yang kerapkali didengungkan oleh sebagian kalangan namun dengan meminggirkan agenda tauhid dan pemberantasan syirik sesungguhnya merupakan seruan yang tidak adil dan tidak proporsional. Bagaimana mereka begitu geram tatkala melihat kezaliman kepada makhluk, sementara kezaliman terhadap hak Sang Khaliq justru dianggap remeh dan biasa-biasa saja?! Sungguh mengherankan…</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Orang Musyrik Pun Berdoa Kepada Allah</strong></span></p>
<p>Jangan Anda kira bahwa orang-orang musyrik tidak pernah berdoa kepada Allah. Bahkan, mereka berdoa kepada Allah siang dan malam. Hanya saja mereka mempersekutukan Allah di dalam doanya. Mereka berdoa kepada Allah, namun mereka juga berdoa kepada selain Allah. Apalagi dalam kondisi genting dan terjepit, mereka mengikhlaskan doanya untuk Allah semata. Walaupun tatkala Allah selamatkan mereka, mereka pun kembali berbuat syirik.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> menceritakan hal itu dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Maka apabila mereka menaiki perahu -di lautan dan diterpa badai- mereka pun berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/doa kepada-Nya. Namun, tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka pun kembali berbuat syirik.”</em> (<strong>QS. al-’Ankabut: 65</strong>).</p>
<p>Hal ini menunjukkan bagaimana keyakinan orang-orang musyrik di kala itu. Mereka meyakini bahwa dalam keadaan terjepit tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan mereka kecuali Allah. Oleh sebab itu mereka berdoa hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang pada masa sekarang ini yang berdoa, memohon perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah, baik ketika lapang maupun sempit. Aduhai, alangkah bodohnya perbuatan mereka itu… Melebihi kebodohan orang-orang musyrik masa silam.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mempersembahkan Sembelihan adalah Ibadah</strong></span></p>
<p>Tidak boleh mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah, karena hal itu merupakan kemusyrikan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya…”</em> (<strong>QS. al-An’aam: 162</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Boleh saja menyembelih untuk selain Allah kalau bukan dalam rangka ritual persembahan. Seperti halnya menyembelih kambing untuk <em>walimah</em>/resepsi, untuk hidangan tamu, untuk makan-makan/pesta dan lain sebagainya. Dalil-dalil tentang hal itu sudah sangat jelas dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Adapun sembelihan dalam rangka <em>taqarrub</em>/pendekatan diri kepada Allah sudah ditentukan bentuk-bentuknya, seperti halnya qurban pada hari raya Iedul Adha.</p>
<p>Hukum asal perkara ibadah/ritual adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, pasti akan tetolak.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga memperingatkan, <em>“Waspadalah dari perkara-perkara yang diada-adakan -dalam urusan agama-. Karena setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Tirmidzi</strong>, Tirmidzi berkata: <em>hasan sahih</em>)</p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa menyembelih binatang -kerbau atau apapun jenisnya- kemudian menanam kepala atau bagian tubuhnya yang lain di tempat tertentu dengan alasan/niat untuk memohon keselamatan kepada Allah jelas termasuk perbuatan yang mengada-ada dan tidak ada tuntunannya. Karena tidak ada satupun dalil yang memerintahkan perbuatan semacam itu, baik di dalam al-Qur’an maupun di dalam as-Sunnah, tidak pula diamalkan oleh para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>. Lantas, ajaran siapakah ini?!</p>
<p>Belum lagi, jika kita telusuri lebih dalam. Ternyata perbuatan semacam ini biasanya dilandasi keyakinan adanya jin atau sosok makhluk gaib tertentu -selain Allah, yang mereka sebut dengan istilah gendruwo, kuntilanak, simbah, dhemit, lelembut, dsb- yang menguasai alam ini -entah itu di laut selatan, gunung tertentu, jembatan yang akan dibangun, sungai tertentu, pohon besar, dsb- yang mereka khawatirkan akan mendatangkan bahaya dan bencana apabila tidak diberikan persembahan (sesaji) kepadanya. Takut kuwalat, takut tertimpa malapetaka, itulah alasan mereka. Kalau seperti ini, jelas syirik hukumnya. Apabila pelakunya meninggal dan belum bertaubat darinya, di akhirat dia kekal tersiksa di dalam neraka, <em>na’udzu billahi min dzalik</em>!</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu.”</em> (<strong>QS. al-Maa’idah: 72</strong>)</p>
<p>Sebagian orang -<em>semoga Allah menunjuki mereka</em>- mungkin akan berdalih bahwa hal itu mereka lakukan semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur dan demi mengekspresikan rasa syukur. Aduhai, apakah ayat dan hadits akan kita tolak dengan tradisi leluhur? Apakah syukur itu diwujudkan dengan mempersekutukan Allah dan berbuat kekafiran kepada-Nya?</p>
<p><em>“Anda terlalu kaku, kita harus mengenal kearifan lokal dan menghargai budaya nenek moyang.”</em> Sebagian orang bisa jadi berkomentar demikian. Siapakah yang kaku sesungguhnya? Orang yang setia kepada bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah ataukah orang yang bersikukuh mempertahankan pendapatnya yang bertentangan dengan agama? Siapkah yang arif? Orang yang mengikuti hawa nafsu dan perasaannya sembari membuang ayat dan hadits, ataukah orang yang menundukkan jiwa dan raganya kepada ajaran agama Allah yang hanif ini? <em>Allahul musta’aan</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="httphttp://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/">Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8084"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yaumul Mizan</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/yaumul-mizan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/yaumul-mizan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[hari kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[mizan]]></category>
		<category><![CDATA[timbangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8079</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/yaumul-mizan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.</p>
<p>Mizan atau timbangan adalah alat untuk mengukur sesuatu berdasarkan berat dan ringan. Adapun mizan di akherat adalah sesuatu yang Allah letakkan pada hari Kiamat untuk menimbang amalan hamba-Nya. (<em>Syarah Lum’atul I’tiqaad, </em>Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hal. 120)</p>
<p>Mizan di hari Kiamat adalah sesuatu yang hakiki dan benar-benar ada. Hanya Allah <em>Ta’ala </em>yang mengetahui seberapa besar ukurannya. Seandainya langit dan bumi diletakkan dalam daun timbangannya, niscaya mizan tersebut akan tetap lapang. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">يُوْضَعُ الْمِيْزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: يَا رَبِّ! لِمَنْ يَزِنُ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: لِمَنْ شِئْتُ مِنْ خَلْقِيْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: سُبْحَانَكَ مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ.</p>
<p><em>“Pada hari Kiamat, mizan akan ditegakkan. Andaikan ia digunakan untuk menimbang langit dan bumi, niscaya ia akan tetap lapang. Maka Malaikat pun berkata, “Wahai Rabb-ku, untuk siapa timbangan ini?” Allah berfirman: “Untuk siapa saja dari hamba-hamba-Ku.” Maka Malaikat berkata, “Maha suci Engkau, tidaklah kami dapat beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.” </em>(Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam <em>Silsilah </em><em>As-Silsilah Ash-Shohihah</em>, no. 941).<em></em></p>
<p>Kaum muslimin <em>rahimakumullah, </em>mizan ini sangat akurat dalam menimbang, tidak lebih dan tidak kurang sedikitpun. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِيْنَ (47)</p>
<p><em>“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”</em> (QS. Al-Anbiya’: 47)</p>
<p>Mizan ini memiliki dua daun timbangan sebagaimana diceritakan dalam hadits tentang kartu (bithoqoh) yang akan kami sampaikan haditsnya nanti. Lalu, apakah yang ditimbang di hari Kiamat kelak? Para ulama kita berbeda pendapat tentang apa yang ditimbang di hari Kiamat. Ada tiga pendapat dalam masalah ini.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pendapat Pertama, Yang Ditimbang Adalah Amal </strong></span></p>
<p>Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>bahwa Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ</p>
<p><em>“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Sub<span style="text-decoration: underline;">h</span>aanallohi wa bi<span style="text-decoration: underline;">h</span>amdihi dan Sub<span style="text-decoration: underline;">h</span>anallohil ‘Azhim.”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).</p>
<p>Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Hajar al-Ashqolani <em>rahimahullah</em>. Beliau berpendapat bahwa yang ditimbang adalah amal, karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَا مِنْ شَيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ</p>
<p><em>“Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika ditimbang (di hari Kiamat) daripada akhlak yang mulia.” </em>(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab <em>al-Adab al-Mufrad</em>, no. 270 dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam <em>Shahiih al-Adab al-Mufrad, </em>no. 204)<em> </em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua, Yang Ditimbang Adalah Orangnya</strong></span></p>
<p>Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah orangnya. Berat atau ringannya timbangan tergantung pada keimanannya, bukan berdasarkan ukuran tubuh, berat badannya, atau banyaknya daging yang ada di tubuh mereka. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ</p>
<p><em>“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.” </em> Lalu Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>”Bacalah..</em></p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">فَلاَ نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105)</p>
<p><em>“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” </em>(QS. Al-Kahfi: 105). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4729 dan Muslim, no. 2785)</p>
<p>‘Abdullah ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu </em>adalah seorang sahabat betisnya kecil. Tatkala ia mengambil ranting pohon untuk siwak, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang dan menyingkap pakaiannya, sehingga terlihatlah kedua telapak kaki dan betisnya yang kecil. Para sahabat yang melihatnya pun tertawa. Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bertanya: <em>“Apa yang sedang kalian tertawakan?” </em>Para sahabat menjawab, “Kedua betisnya yang kecil, wahai Nabiyullah.” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ أُحُدٍ</p>
<p><em>“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu di mizan nanti lebih berat dari pada gunung uhud.”</em> (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya, I/420-421 dan ath-Thabrani dalam <em>al-Kabiir, </em>IX/75. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam <em>As-Silsilah Ash-Shohihah</em>, no. 3192).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pendapat Ketiga, </strong><strong>Yang Ditimbang Adalah </strong><strong>Lembaran Catatan Amal</strong></span></p>
<p>Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda (yang artinya): <em>“Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’ Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat:</em></p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ</p>
<p><em>Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.</em></p>
<p><em>Lalu Allah berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’ Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.”</em> (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2639, Ibnu Majah, no. 4300, Al-Hakim, 1/6, 529, dan Ahmad, no. II/213. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam <em>Silsilah Ahaadiits ash-Shahiihah</em>, no. 135)</p>
<p>Pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh al-Qurthubi. Beliau mengatakan, “Yang benar, mizan menimbang berat atau ringannya buku-buku yang berisikan catatan amal&#8230;” (<em>At-Tadzkirah, </em>hal. 313)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesimpulan</strong></span></p>
<p>Tiga pendapat di atas tidak saling bertentangan satu sama lain. Sebagian orang ada yang ditimbang amalnya, sebagian yang lain ditimbang buku catatannya, dan sebagian yang lain ditimbang dirinya.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin sholih al-&#8217;Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa secara umum yang ditimbang adalah amal perbuatannya, karena kebanyakan dalil-dalil menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah amal perbuatan. Adapun timbangan buku catatan amal dan pelakunya, maka itu khusus untuk sebagian orang saja. (<em>Syarah al-&#8217;Aqidah al-Wasithiyyah</em>, hal. 390)</p>
<p>Apa yang disampaikan oleh syaikh &#8216;Utsaimin inilah yang nampaknya lebih menentramkan hati. <em>Wallahu Ta&#8217;ala a&#8217;lam</em>. Semoga sedikit sajian yang kami sampaikan ini bisa menjadi pendorong bagi kita untuk beramal sholih. Dan sekecil apapun amalan yang kita lakukan, tidak akan disia-siakan walaupun sebesar semut kecil. Dan di hari Kiamat kelak, setiap manusia pasti akan melihat  setiap amal yang telah dia usahakan di dunia ini.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, semoga Allah <em>Ta’ala </em>menutup umur kita dengan kebaikan dan keselamatan. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://attaubah.com/">dr. Muhaimin Ashuri<br />
</a>Muroja’ah: <a href="http://ustadzaris.com">Ustadz Aris Munandar, MA<br />
</a>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8079"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fyaumul-mizan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fyaumul-mizan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fyaumul-mizan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/yaumul-mizan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 04:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[bintang]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan]]></category>
		<category><![CDATA[shio]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[zodiak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7970</guid>
		<description><![CDATA[Ramalan salah satu zodiak di tahun 2012: Kehidupan cinta Anda tidak terlalu menyenangkan tahun ini. Akan sulit sekali berkomunikasi dengan si dia, tapi Anda harus berusaha keras jika ada sesuatu yang ingin Anda luruskan. Hubungan<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Ramalan salah satu zodiak di tahun 2012:</em></p>
<p><em>Kehidupan cinta Anda tidak terlalu menyenangkan tahun ini. Akan sulit sekali berkomunikasi dengan si dia, tapi Anda harus berusaha keras jika ada sesuatu yang ingin Anda luruskan.</em></p>
<p><em>Hubungan Anda mungkin juga akan mengalami perubahan, namun ke arah yang lebih baik. Untuk yang single, pertemuan dengan pria baru akan mengubah hidup Anda.</em></p>
<p>Info-info semacam inilah yang menyebar di tengah-tengah pemuda di awal tahun baru 2012. Untuk menjalani tahun 2012, mereka membaca nasib lewat ramalan bintang atau zodiak tersebut. Mereka ingin mencari tahu bagaimana nasib cinta mereka, bagaimana rizki mereka, dan bagaimana keberuntungan mereka di tahun 2012. Padahal ajaran Islam sangat melarang keras hal ini, namun banyak yang tidak memahaminya karena tidak mau belajar akidah dan mengenal Islam lebih dalam.</p>
<p>Ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah) di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya mengenai hukum membaca ramalan bintang, zodiak dan semisalnya.</p>
<p>Jawaban beliau <em>rahimahullah</em>,</p>
<p>Yang disebut ilmu bintang, horoskop, zodiak dan rasi bintang termasuk di antara amalan jahiliyah. Ketahuilah bahwa Islam datang untuk menghapus ajaran tersebut dan menjelaskan akan kesyirikannya. Karena di dalam ajaran tersebut terdapat ketergantungan pada selain Allah, ada keyakinan bahwa bahaya dan manfaat itu datang dari selain Allah, juga terdapat pembenaran terhadap pernyataan tukang ramal yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib dengan penuh kedustaan, inilah mengapa disebut syirik. Tukang ramal benar-benar telah menempuh cara untuk merampas harta orang lain dengan jalan yang batil dan mereka pun ingin merusak akidah kaum muslimin. Dalil yang menunjukkan perihal tadi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan, maka ia berarti telah mengambil salah satu caba</em><em>ng</em><em> sihir, akan bertambah dan terus bertambah.</em>”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang <em>jayyid</em> dari ‘Imron bin Hushoin, dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ</p>
<p>“<em>Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya</em>.”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara ghaib, maka ia termasuk dalam golongan <em>kaahin</em> (tukang ramal) atau orang yang berserikat di dalamnya. Karena ilmu ghaib hanya menjadi hak prerogatif Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p>“<em>Katakanlah: &#8220;Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah</em>&#8221; (QS. An Naml: 65).</p>
<p>Nasehatku bagi siapa saja yang menggantungkan diri pada berbagai ramalan bintang, hendaklah ia bertaubat dan banyak memohon ampun pada Allah (banyak beristighfar). Hendaklah yang jadi sandaran hatinya dalam segala urusan adalah Allah semata, ditambah dengan melakukan sebab-sebab yang dibolehkan secara syar’i. Hendaklah ia tinggalkan ramalan-ramalan bintang yang termasuk perkara jahiliyah, jauhilah dan berhati-hatilah dengan bertanya pada tukang ramal atau membenarkan perkataan mereka. Lakukan hal ini dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dalam rangka menjaga agama dan akidah.</p>
<p>(Dinukil dengan perubahan redaksi dari <strong><a href="http://islamqa.info/ar/ref/2538">Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 2: 123</a></strong>)</p>
<p>Syaikh Sholih Alu Syaikh -<em>hafizhohullah</em>- mengatakan, “Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.” (Lihat <em>At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid</em> oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh pada Bab “<em>Maa Jaa-a fii Tanjim</em>”, hal. 349)</p>
<p>Intinya, ada dua rincian hukum dalam masalah ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Apabila cuma sekedar membaca zodiak atau ramalan bintang, walaupun tidak mempercayai ramalan tersebut atau tidak membenarkannya, maka itu tetap haram. Akibat perbuatan ini, shalatnya tidak diterima selama 40 hari.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima</em>.” (HR. Muslim no. 2230). Ini akibat dari cuma sekedar membaca.</p>
<p>Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.”  (<em>Syarh Muslim</em>, 14: 227)</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Apabila sampai membenarkan atau meyakini ramalan tersebut, maka dianggap telah mengkufuri Al Qur’an yang menyatakan hanya di sisi Allah pengetahuan ilmu ghoib.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad</em>.” (HR. Ahmad no. 9532, hasan)</p>
<p>Namun jika seseorang membaca ramalan tadi untuk membantah dan membongkar kedustaannya, semacam ini termasuk yang diperintahkan bahkan dapat dinilai wajib. (<em>Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid</em>, 1: 330)</p>
<p>Syaikh Sholih Alu Syaikh memberi nasehat, “Kita wajib mengingkari setiap orang yang membaca ramalan bintang semacam itu dan kita nasehati agar jangan ia sampai terjerumus dalam dosa. Hendaklah kita melarangnya untuk memasukkan majalah-majalah yang berisi ramalan bintang ke dalam rumah karena ini sama saja memasukkan tukang ramal ke dalam rumah. Perbuatan semacam ini termasuk dosa besar (al kabair) –wal ‘iyadzu billah-. …</p>
<p>Oleh karena itu, wajib bagi setiap penuntut ilmu agar mengingatkan manusia mengenai akibat negatif membaca ramalan bintang. Hendaklah ia menyampaikannya dalam setiap perkataannya, ketika selesai shalat lima waktu, dan dalam khutbah jum’at. Karena ini adalah bencana bagi umat. Namun masih sangat sedikit yang mengingkari dan memberi peringatan terhadap kekeliruan semacam ini.” (Lihat <em>At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid</em>, hal. 349)</p>
<p>Dari sini, sudah sepatutnya seorang muslim tidak menyibukkan dirinya dengan membaca ramalan-ramalan bintang melalui majalah, koran, televisi atau lewat pesan singkat via sms. Begitu pula tidak perlu seseorang menyibukkan dirinya ketika berada di dunia maya untuk mengikuti berbagai ramalan-ramalan bintang yang ada. Karena walaupun tidak sampai percaya pada ramalan tersebut, tetap seseorang bisa terkena dosa jika ia bukan bermaksud untuk membantah ramalan tadi. Semoga Allah melindungi kita dan anak-anak kita dari kerusakan semacam ini.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Nasehat</strong><strong></strong></span></p>
<p>Ramalan bukan hanya datang dari tukang ramal dengan bertanya langsung, namun saat ini bisa masuk ke rumah-rumah kaum muslimin dengan begitu mudah, baik lewat media cetak, TV, atau pun internet. Kita berlindung kepada Allah semoga diri kita, anak-anak kita, kerabat-kerabat kita terbebas dari membaca dan mempercayai ramalan bintang, serta dijauhi segala bentuk perbuatan syirik. Jadikanlah satu-satunya sandaran dalam segala urusan adalah Allah <em>Ta’ala</em> semata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ</p>
<p>“<em>Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya</em>.” (QS. Ath Tholaq: 3). Al Qurtubi mengatakan, ”Barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.” (Al Jami’ Liahkamil Qur’an, 18: 161). Jika Allah jadi satu-satunya sandaran, maka rizki, jodoh, dan segala urusan akan dimudahkan oleh Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">إِنْ أُرِ‌يدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّـهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ<strong></strong></p>
<p><em>“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” </em>(QS. Hud: 88)</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 7 Shofar 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<div>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></div>
<div>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></div>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Abu Daud no. 3905, Ibnu Majah no. 3726 dan Ahmad 1: 311. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut <strong><em>hasan</em></strong>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Al Bazzar dalam musnadnya.</p>
<p>Penulis Fathul Majid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Siapa saja yang menerjangi perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits tersebut, berarti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berlepas diri darinya. Bisa saja perkara yang dilakukan adalah kesyirikan seperti beranggapan sial. Bisa pula kekufuran seperti mempercayai tukang ramal dan melakukan sihir. Siapa saja yang ridho dan mengikuti hal-hal tadi, maka ia dihukumi seperti pelakunya karena ia menerima dan mengikuti hal yang batil.” (Fathul Majid, 316)</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7970"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fhukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian Catatan Amal</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pembagian-catatan-amal.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/pembagian-catatan-amal.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 23:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[catatan amal]]></category>
		<category><![CDATA[hari akhir]]></category>
		<category><![CDATA[hari kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[rukun iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7941</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/pembagian-catatan-amal.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.</p>
<p>Diriwayatkan dari ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma, </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">نَحْنُ آخِرُ الأُمَمِ وَأَوَّلُ مَنْ يُحَاسَبُ، يُقَالُ: أَيْنَ الأُمَّةُ الأُمِّيَّةُ وَنَبِيُّهَا؟ فَنَحْنُ الآخِرُوْنَ الأَوَّلُوْنَ</p>
<p><em>“Kita adalah umat yang terakhir (di dunia), tapi yang pertama dihisab (di akhirat).” </em>Seorang sahabat bertanya, “Dimanakah umat-umat yang lainnya dan Nabi mereka?” Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>“Kita adalah yang terakhir dan yang pertama.” </em>(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam <em>Sunan-</em>nya, no. 4280, dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam <em>as-Silsilah ash-Shahiihah, </em>no. 2374)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Malaikat Pencatat Amal</strong></span></p>
<p>Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em>, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> telah menugaskan para Malaikat yang mulia untuk mengawasi dan mencatat perbuatan dan ucapan manusia. Mereka mencatatnya dalam lembaran catatan amal yang akan dibaca oleh manusia pada hari Kiamat kelak. Para Malaikat yang mulia ini benar-benar sangat amanah dan teliti dalam mencatat. Mereka mencatat semua ucapan dan perbuatan manusia, secara detail dan terperinci, baik yang zhohir maupun batin. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَكَبِيْرٍ مُسْتَطَرٌ (53)</p>
<p><em>“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.”</em> (QS. Qomar: 52-53)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>juga berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَ يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)</p>
<p><em>“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.”</em> (QS. Al-Kahfi: 49)</p>
<p>Lalu, apakah hikmah dicatatnya amal perbuatan manusia, padahal Allah Maha Mengetahui segala sesuatu? Salah satu hikmahnya, <em>Wallohu Ta’ala a’lam</em>, pencatat ini dilakukan untuk menampakkan keadilan Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla.</em> Karena di hari Kiamat kelak, manusia akan disuruh membaca catatan amalnya dan menghisab dirinya, sehingga tidak ada alasan lagi bagi orang yang bermaksiat untuk mengingkari dosa-dosanya, karena semua telah tertulis.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketika Catatan Amal Dibagikan</strong></span></p>
<p>Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em>, tatkala lembaran catatan amal dibagikan, setiap umat berlutut di atas lutut mereka dan menanti panggilan untuk menghadap Rabb semesta alam. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (28)</p>
<p><em>“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”</em> (QS. Al-Jaatsiyaat: 28).</p>
<p>Semua berlutut menunggu dipanggil untuk menghadap Rabb semesta alam. Ketika seorang hamba tahu bahwa dirinyalah yang dicari dengan panggilan itu, maka seruan itu akan langsung menggetarkan hatinya. Tubuhnya gemetar dan ketakutan yang besar langsung menyelimutinya. Berubahlah rona wajahnya dan menjadi hampalah pikirannya. Kemudian kitab catatan amalnya dibentangkan dan dibuka di hadapannya. Lalu dikatakan kepadanya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اِقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًا (14)</p>
<p><em>“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”</em> (QS. Al-Isro’: 13-14)</p>
<p>Pada saat itulah semua manusia akan teringat apa yang dulu telah ia lakukan. Semua telah tercatat dengan lengkap dan tiada kekeliruan sedikit pun.</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan, “Sungguh, Allah telah berlaku adil, karena menjadikan dirimu sebagai penghisab atas dirimu sendiri.”<strong> </strong></p>
<p>Sungguh tepat perkataan ini. Adakah kebijaksanaan yang lebih adil selain itu? Dikatakan kepadanya: “Silakan periksa, inilah amal perbuatanmu dan silakan engkau hisab sendiri!” Bukankah ini kebijaksanaan yang paling adil?! Bahkan inilah kebijaksanaan yang paling adil. Pada hari Kiamat kelak, kitab catatan amal akan dibentangkan dan dibuka di hadapan masing-masing hamba tanpa tertutup sedikitpun. Ia akan membacanya dan akan jelas baginyabahwa pada hari ini dan di tempat ini, ia telah melakukan ini dan ini. Semua telah tercatat tanpa penambahan dan pengurangan sedikit pun. Jika ia mengingkari dengan lesannya, maka lesannya akan dikunci dan bangkitlah para saksi yang akan memberikan kesaksian atasnya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ (65)</p>
<p><em>“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” </em>(QS. Yaasiin: 65)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Cara Menerima Kitab</strong></span></p>
<p>Setelah dihisab, setiap hamba akan diberikan bukunya masing-masing yang berisi catatan lengkap seluruh amal perbuatan yang telah ia lakukan dalam kehidupan dunia. Cara penyerahan buku itu berbeda-beda. Ada yang kitab amalnya diterima dengan tangan kanannya. Mereka itulah orang yang bahagia. Ada pula yang menerima kitab dengan tangan kirinya.</p>
<p>Seorang mukmin akan diberikan bukunya dari arah depan dan ia terima dengan tangan kanannya. Ia dihisab dengan mudah dan kembali kepada kaumnya yang sama-sama beriman di Surga dengan gembira. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيْرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوْرًا (9)</p>
<p><em>“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.”</em> (QS. Al-Insyiqaaq: 7-9)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih al-&#8217;Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa setelah dihisab, ia kembali kepada sesama kaum beriman di Surga dengan hati yang gembira. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengabarkan bahwa rombongan pertama yang masuk Surga, wajah mereka seperti bulan purnama. Ini menunjukkan kegembiraan hati mereka. Karena apabila hati gembira, maka wajah akan ceria.” (<em>Tafsiir Juz &#8216;Amma</em>, hal. 114)</p>
<p>Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, mereka akan menerima kitabnya dengan tangan kirinya. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29)</p>
<p><em>“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang pula kekuasaanku daripadaku.”</em> (QS. Al-Haqqoh: 25-29)</p>
<p>Kitab catatan amal mereka diberikan dari arah belakang punggung mereka. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوْرًا (11)</p>
<p><em>“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.”</em> (QS. Al-Insyiqaaq: 10)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih al-&#8217;Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa mereka menerima kitab dengan tangan kiri kemudian tangannya memelintir ke belakang sebagai isyarat bahwa mereka telah dulu di dunia telah mencampakkan aturan-aturan al-Qur’an ke belakang punggung mereka. Mereka telah berpaling dari al-Qur’an, tidak mempedulikannya, tidak mengacuhkannya, dan merasa tidak ada masalah bila menyelisinya. Lalu Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman: <em>“…maka dia akan berteriak: “Celakalah aku&#8230;”</em> yakni ia berteriak menyesali dirinya. Akan tetapi penyesalan tidaklah berguna lagi pada hari itu, karena habis sudah waktu untuk beramal. Waktu untuk beramal adalah di dunia, sedangkan di akherat tidak ada lagi amal, yang ada hanyalah pembalasan. (<em>Tafsiir Juz &#8216;Amma</em>, hal. 114)</p>
<p>Kita memohon kepada Allah <em>Ta’ala</em> agar Allah berkenan memaafkan kesalahan-kesalahan kita dan memberikan ampunan-Nya kepada kita. Aamiin.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://attaubah.com/">dr. Muhaimin Ashuri<br />
</a>Muroja&#8217;ah: <a href="http://ustadzaris.com">Ustadz Aris Munandar, MA<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7941"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fpembagian-catatan-amal.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fpembagian-catatan-amal.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fpembagian-catatan-amal.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/pembagian-catatan-amal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Tanda Tukang Sihir dan Dukun</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/beberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/beberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 23:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[sihir]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[syirik akbar]]></category>
		<category><![CDATA[tanda sihir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7868</guid>
		<description><![CDATA[Sambutan disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin rahimahullah Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang, Wa ba&#8217;du, saya telah menelaah lembaran ini yang berisi peringatan agar menjauhi para dukun dan tukang<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/beberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Sambutan disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin rahimahullah</em></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,</p>
<p>Wa ba&#8217;du, saya telah menelaah lembaran ini yang berisi peringatan agar menjauhi para dukun dan tukang sihir, tanda-tanda dukun, hukum orang yang menanyainya, dan yang semisalnya; dan sungguh telah benarlah orang yang mengambil gambar dan menyusunnya; maka dengan menyebarkan lembaran ini ada manfaat yang besar.  Dan Allah-lah pemberi taufik.</p>
<p>Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, semoga shalawat dan salam tercurah kepada semulia-mulia nabi dan rasul, nabi kita Muhammad, kepada keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikutnya.</p>
<p><em>Sambutan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Ar-Rajihi -hafizhahullah-</em></p>
<p>Amma ba&#8217;du, saya telah menelaah lembaran penyuluhan yang berjudul: (Di antara tanda-tanda tukang sihir dan dukun)  yang diterbitkan oleh markas Al Faruq dan Al Faishaliyyah, saya lihat lembaran ini amat bermanfaat bagi seorang muslim, karena di dalamnya berisi penjelasan tentang tanda-tanda tukang sihir dan dukun, sehingga kita bisa menjauhi mereka. Hal ini bertujuan untuk melindungi akidah seorang muslim, karena tukang sihir yang berhubungan dengan setan telah kafir kepada Allah &#8216;azza wa jalla. Dan wajib bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari tukang sihir, dukun, ahli nujum, dan tukang ramal, dan melindungi diri dengan wirid-wirid yang syar&#8217;i yang berasal dari kitabullah dan sunnah nabi-Nya <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa</em><em> </em><em>sallam</em>, dan mengobati dengan ruqyah yang sesuai syariat. Oleh karena itu, penyebaran lembaran ini di kalangan kaum muslimin sangat bermanfaat, dan merupakan salah satu bentuk tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.</p>
<p>Saya mohon kepada Allah agar semua diberi keikhlasan dalam beramal, benar dalam berucap, serta teguh dan istiqamah dalam agama. Sesungguhnya Allah-lah penolong dalam hal ini dan Maha Kuasa untuk mengabulkannya.</p>
<p>Shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالْحَسَنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. مسند أحمد (رقم الحديث:9171)</p>
<p>Dari sahabat Abu Hurairah dan Al Hasan, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, ”<em>Siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan </em><em>ucapan mereka</em><em>, sungguh </em><em>ia </em><em>telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221; (HR. Imam yang Empat, yaitu Abu Daud, Tirmizi, Nasa&#8217;i, dan Ibnu Majah] dan Al Hakim).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[Beberapa Tanda Tukang Sihir dan Dukun]</strong></span></p>
<ul>
<li>Bertanya kepada orang yang sakit tentang namanya dan nama ibunya.</li>
<li>Meminta hewan untuk disembelih dengan cara tertentu tanpa menyebut nama Allah, dan kadang melumurkan darahnya pada tempat yang sakit pada diri orang yang sakit; atau menyuruhnya untuk melemparkan sembelihan tersebut ke tempat yang sudah tak berpenghuni lagi, atau ke sebuah batu atau pohon-pohon tertentu.</li>
<li>Membaca jampi-jampi, rajah-rajah, dan komat-kamit dengan ucapan yang tidak dapat dipahami.</li>
<li>Meminta sesuatu yang aneh yang bertujuan agar tidak bisa dipenuhi seperti sebelas ekor tikus yang ditangkap pada saat orang tidur siang; atau tikus yang yatim atau kera buta. Jika orang yang sakit tersebut tidak dapat memenuhinya, dia meminta uang yang banyak dan mengesankan kepada orang sakit tersebut bahwa uang ini adalah nilai persembahan untuk raja jin yang diminta mendatangkan permintaan tersebut.</li>
<li>Kadang-kadang tukang sihir atau dukun itu menebak nama orang yang datang kepadanya, atau nama ibunya, atau negeri asalnya, atau permasalahan yang membuat dia datang. Hal ini termasuk bantuan setan kepadanya.</li>
<li>Meminta barang bekas atau sisa seperti baju, atau pakaian dalam, atau sisir, atau kuku-kuku, atau rambut, maupun gambar.</li>
<li>Memberikan kepada orang yang sakit selembar kain berbentuk segitiga atau segiempat yang dibungkus di dalam kulit, atau dalam potongan logam, yang berisi permintaan tolong yang bersifat syirik, angka-angka serta huruf-huruf yang besar maupun kecil kemudian diperintahkan untuk dikalungkan di leher atau di lengan atau meletakannya di bawah bantal.</li>
<li>Memberikan kepada orang yang datang kepadanya – baik orang yang sakit atau yang lainnya – air yang didalamnya terdapat lembaran-lembaran yang bertuliskan rajah-rajah dan permintaan tolong kepada setan; dan memerintahkannya untuk mandi dengan air tersebut di tempat yang sudah tak berpenghuni atau di kuburan yang sudah tak dikunjungi manusia.</li>
<li>Menyuruh untuk mengenakan pakaian yang dipenuhi oleh rajah-rajah dan simbol-simbol pada hari-hari tertentu.</li>
<li>Termasuk tanda-tanda tukang sihir adalah menghinakan dan merendahkan Al-Qur&#8217;anul Karim dengan benda-benda najis, baik berupa menuliskan ayat-ayat dengan najis atau melumurinya dengan benda-benda najis seperti darah haid, sebagai persembahan yang diberikan oleh tukang sihir agar dilayani setan-setan.</li>
<li>Memberikan kepada orang yang sakit lembaran-lembaran kertas yang di dalamnya terdapat dedaunan kering atau benda-benda untuk dibakar dan asapnya dikenakan ke badan.</li>
<li>Memerintahkan membawa kulit serigala atau gigi-giginya atau mengikat ikatan-ikatan hitam di mobilnya.</li>
<li>Memberikan sesuatu yang aneh seperti telor yang ditulisi rajah-rajah; atau gembok yang dibungkus dengan kulit atau rajah-rajahan.</li>
<li>Di antara tanda-tanda dukun adalah membaca telapak tangan atau cangkir.</li>
<li>Di antara tanda-tanda dukun adalah melemparkan kerang ke secarik kain atau kulit binatang buas, atau melemparkan dengan biji kapulaga atau biji kurma.</li>
<li>Menuliskan rajah-rajah atau simbol-simbol atau huruf-huruf yang terpisah [tidak bersambung] atau angka-angka atau segi empat maupun lingkaran-lingkaran.</li>
<li>Memberikan kepada orang yang sakit sesuatu untuk dipendam di bumi.</li>
<li>Menuliskan untuk orang sakit huruf-huruf yang terpisah-pisah pada bejana atau piring porselen atau sepotong kayu menggunakan alat tertentu dengan benda yang bisa dilarutkan atau za&#8217;faran; dan memerintahkan kepada orang yang datang kepadanya untuk melarutkannya dan meminumkannya kepada orang yang dimaksudkan.</li>
<li>Kadang dukun memberikan cincin yang diukiri rajahan.</li>
<li>Di antara tanda-tanda dukun adalah menuangkan cairan timah.</li>
<li>Di antara tanda-tanda dukun adalah menggariskan sesuatu di atas pasir.[]</li>
</ul>
<p>Disusun oleh: Kepala Urusan <em>Amr bil Ma&#8217;ruf aa Nahyi &#8216;anil Munkar </em>(divisi urusan penegakkan kebaikan dan pencegahan kemungkaran) di Kota Riyadh, Pusat Kantor Al Faruq Al Faishaliyah, Kerajaan Arab Saudi.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Alih Bahasa: Islamic Cultural Center (ICC) Dammam, Divisi Indonesia<br />
Artikel <a href="http://www.dakwahsunnah.com/">www.dakwahsunnah.com</a>, dipublish ulang oleh <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7868"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbeberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbeberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fbeberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/beberapa-tanda-tukang-sihir-dan-dukun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Artikel Seputar Natal dan Tahun Baru</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kumpulan-artikel-seputar-natal-dan-tahun-baru.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/kumpulan-artikel-seputar-natal-dan-tahun-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 03:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7878</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini kami rangkumkan beberapa artikel di muslim.or.id yang membahasan mengenai hukum ikut merayakan Natal dan tahun baru masehi, serta bahasan yang berhubungan dengan permasalahan tersebut. Semoga bermanfaat. Selamat Natal, Bolehkah? (Sanggahan untuk al Qardhawi)<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/kumpulan-artikel-seputar-natal-dan-tahun-baru.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Berikut ini kami rangkumkan beberapa artikel di muslim.or.id yang membahasan mengenai hukum ikut merayakan Natal dan tahun baru masehi, serta bahasan yang berhubungan dengan permasalahan tersebut. Semoga bermanfaat.</p>
<ul>
<li><a href="http://muslim.or.id/aqidah/selamat-natal-bolehkah-sanggahan-untuk-al-qardhawi.html">Selamat Natal, Bolehkah? (Sanggahan untuk al Qardhawi)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/aqidah/mengucapkan-selamat-natal-dianggap-amalan-baik.html">Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Amalan Baik</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/selamat-natal.html">Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru.html">10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/ibadur-rahman.html">Ciri Ibadur Rahman</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/larangan-meniru-orang-kafir.html">Larangan Meniru Orang Kafir</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/budaya-mengekor-yang-mengakar.html">Budaya Mengekor yang Mengakar</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-219.html">Dalam Bertasyabbuh (Meniru Orang Kafir) Harus Dengan Niat?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/aqidah/contoh-loyalitas-pada-orang-kafir.html">Contoh Loyalitas pada Orang Kafir</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html">Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html">Tafsir Ayat ‘Laa Ikraha Fiddiin</a></li>
</ul>
<div class="shr-publisher-7878"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkumpulan-artikel-seputar-natal-dan-tahun-baru.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkumpulan-artikel-seputar-natal-dan-tahun-baru.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkumpulan-artikel-seputar-natal-dan-tahun-baru.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/kumpulan-artikel-seputar-natal-dan-tahun-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Agar Telindung dari Sihir</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kiat-agar-telindung-dari-sihir.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/kiat-agar-telindung-dari-sihir.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 23:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya sihir]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi]]></category>
		<category><![CDATA[sihir]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7844</guid>
		<description><![CDATA[Sihir adalah sebuah kata yang kerap akrab di telinga kita. Siapa yang tidak tahu tentang sihir, bahkan sekarang sihir telah menjadi suatu hiburan, wallahul musta’an. Padahal jika kita mau menela’ah lebih dalam apa itu sihir,<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/kiat-agar-telindung-dari-sihir.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sihir adalah sebuah kata yang kerap akrab di telinga kita. Siapa yang tidak tahu tentang sihir, bahkan sekarang sihir telah menjadi suatu hiburan, <em>wallahul musta’an</em>. Padahal jika kita mau menela’ah lebih dalam apa itu sihir, pasti akan kita dapati bahaya yang sangat besar, terutama bahaya terhadap aqidah seorang muslim.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Apa Itu Sihir?</strong></span></p>
<p><strong>Sihir secara bahasa</strong> digunakan untuk segala sesuatu <strong>hal yang sebabnya samar, lembut dan tidak jelas</strong><strong>.</strong> Adapun <strong>secara istilah</strong>, dikarenakan sihir memiliki berbagai macam bentuk dan caranya berbeda-beda, maka tidak ada definisi yang lengkap mencakup makna sihir. Di dalam kitab <em>Adhwa-ul Bayan</em> (4: 444) dijelaskan, “Ketahuilah, sesungguhnya sihir itu secara istilah <strong>tidak mungkin di definisikan dengan satu definisi</strong> yang lengkap mencakup semua jenis sihir dan mencegah yang bukan termasuk bagian sihir untuk masuk ke dalam bagian dari definisi tersebut, dikarenakan jenisnya yang banyak dan berbeda-beda yang masuk ke dalam istilah sihir. Tidak akan terwujud titik kesamaan di antara jenis sihir yang bisa mencakup semua macam jenis dan mencegah hal-hal yang termasuk sihir untuk masuk ke dalam definisi sihir. Dan ‘ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan istilah tersebut, dengan perbedaan yang sangat mencolok.”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bahaya Sihir</strong></span></p>
<p>Sesuatu yang dimiliki oleh setiap muslim di dunia ini lebih mahal dibanding apa pun adalah agamanya. Orang yang berakal pasti menjaga agamanya dan tidak akan pernah ridha dengan perbuatan yang dapat merusak atau melemahkan atau mengotori aqidahnya. Melakukan sihir dan pergi untuk meminta tukang sihir untuk melakukan sihir <strong>dapat membahayakan</strong><strong> </strong><strong>aqidah</strong><strong>,</strong> bahkan meminta tukang sihir untuk melakukan sihir menjadi salah satu penyebab <strong>batalnya Islam</strong> seseorang.</p>
<p>Maka tukang sihir dan orang yang pergi ke tukang sihir untuk minta disihirkan, keduanya dihukumi sama. Dan sihir merupakan suatu keharaman dalam semua ajaran Rasul. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman yang artinya, “<em>Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana pun ia datang.</em>” (QS. Thaha: 69) Barangsiapa yang telah melakukan sihir, maka ia telah terjerumus dalam kesyirikan. Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> </em>bersabda yang artinya, “Dan barangsiapa yang <strong>melakukan sihir, maka ia telah Syirik</strong>.” (Diriwatkan An-Nasa-i). Disebutkan dalam <em>Fathul Majid</em> (231), “Ini adalah dalil tegas bahwa tukang sihir adalah Musyrik.”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kiat Agar Terlindung dari Sihir</strong></span></p>
<p>Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat melindungi dan menjaga kita dari pengaruh sihir<strong></strong></p>
<p><strong>1.      </strong><strong>Menjaga Shalat Shubuh</strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Barangsiapa yang mendirikan shalat shubuh, maka ia berada di dalam jaminan perlindungan Allah</em>” (HR. Muslim). Barangsiapa yang menjaga shalat shubuhnya, maka ia akan mendapat perlindungan dari Allah atas gangguan setan-setan yang ingin melakukan sihir<strong></strong></p>
<p><strong>2.      </strong><strong>Membaca Surah Al-Baqarah di Dalam Rumah</strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Bacalah Surah Al-Baqarah! Karena sesungguhnya mengambilnya (membacanya) adalah barakah dan meninggalkannya adalah penyesalan (kerugian), dan sihir tidak akan mampu menghadapinya</em>” (HR. Muslim)<strong></strong></p>
<p><strong>3.      </strong><strong>Menjaga Bacaan <em>Mu’awwidzatain</em> (Surah Al-Falaq dan An-Nas) pada Waktu Shubuh dan Petang</strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Barangsiapa yang membacanya tiga kali pada waktu shubuh dan pada waktu petang, maka tidak ada yang bisa membahayakannya sesuatu apa pun.</em>” (HR. Abu Dawud)<strong></strong></p>
<p><strong>4.      </strong><strong>Membaca Ayat Kursi</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), <strong>bacalah Ayat Kursi</strong>, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi</em>” (HR. Al-Bukhari)<strong></strong></p>
<p><strong>5.      </strong><strong>Membaca Dua Ayat Terakhir dari Surah Al-Baqarah</strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah di malam hari, maka keduanya telah mencukupinya.</em>” (Muttafaqun ‘alaih)<strong></strong></p>
<p><strong>6.      </strong><strong>Memakan Tujuh Buah Kurma <em>‘Ajwah</em></strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, “<em>Barangsiapa yang memakan tujuh buah kurma ‘Ajwah di pagi hari, maka tidak ada yang bisa membahayakannya pada hari itu, baik racun dan sihir.</em>” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Sungguh begitu besar bahaya sihir bagi seorang muslim. Sihir tidak hanya membahayakan jiwa seseorang, namun dapat merusak aqidah seseorang. Sehingga bisa menjadi salah satu sebab batalnya keislaman seorang muslim. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dari pengaruh buruk sihir dan para tukang sihir</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rujukan: Banyak mengambil faedah dari kitab <em>Ba’i-u Diinihi</em> karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasam</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Wiwit Hardi Priyanto<br />
Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7844"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkiat-agar-telindung-dari-sihir.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkiat-agar-telindung-dari-sihir.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fkiat-agar-telindung-dari-sihir.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/kiat-agar-telindung-dari-sihir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yaumul Hisab</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/yaumul-hisab.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/yaumul-hisab.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 01:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[hari akhir]]></category>
		<category><![CDATA[hari kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[yaumul hisab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7842</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/yaumul-hisab.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.</p>
<p>Diriwayatkan dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p dir="RTL">يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أَبْصَارُهُمْ يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ</p>
<p><em>“Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah.”</em> (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan ath-Thabrani. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam <em>Shahih at-Targhib wat-Tarhib</em>, no.3591).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Syafaat Al-Kubra</strong></span></p>
<p>Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em>, peristiwa di Padang Mahsyar sangatlah dahsyat. Di hari itu, Allah <em>Ta’ala </em>mengumpulkan seluruh makhluk-Nya, yang pertama sampai terakhir di satu tanah luas yang datar. Matahari didekatkan dengan jarak satu mil sehingga manusia benar-benar mengalami kesusahan dan kesedihan.</p>
<p>Ketika kesusahan yang mereka rasakan semakin memuncak, akhirnya mereka mencari orang yang dapat memberikan syafa’at, agar Allah <em>Ta&#8217;ala</em> segera mempercepat keputusan-Nya. Mereka pun akhirnya berusaha mendatangi Nabi Adam, kemudian Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa bin Maryam untuk meminta syafa’at darinya, namun mereka semua menolaknya. Pada akhirnya mereka datang kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, </em>untuk meminta syafaat dari beliau. Dengan izin Allah <em>Ta’ala, </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan syafaat kepada umat manusia, agar mereka diberi keputusan. (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4712 dan Muslim, no. 194 dari sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Yaumul Hisab</strong></span></p>
<p>Yaumul hisab atau hari perhitungan amal adalah hari dimana Allah memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya tentang amal mereka. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman:</p>
<p dir="RTL">إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (26)</p>
<p><em>“Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali. kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.”</em> (QS. Al-Ghasyiyah: 25 – 26).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sering berdoa di dalam sholat dengan mengucapkan:</p>
<p dir="RTL">اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيْرَا</p>
<p><em>Allohumma <span style="text-decoration: underline;">h</span>aasibni <span style="text-decoration: underline;">h</span>isaaban yasiiro (Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.”</em></p>
<p>Kemudian ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>bertanya tentang apa itu hisab yang mudah? Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjawab: <em>“Allah memperlihatkan kitab (hamba)-Nya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, niscaya ia akan binasa.” </em>(Diriwayatkan oleh Ahmad, VI/48, 185, al-Hakim, I/255, dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam <em>Kitaabus Sunnah, </em>no. 885. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi). <em> </em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Apakah Binatang Juga Dihisab?</strong></span></p>
<p>Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diadili oleh <em>Allah Ta’ala </em>adalah binatang, bukan manusia ataupun jin. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَإِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ (5)</p>
<p><em>“Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” </em>(QS. At-Takwir: 5), yakni dikumpulkan di hari Kiamat untuk diadili.</p>
<p dir="RTL">وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ طَائِرٍ يَطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ (38)</p>
<p><em>“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) sepertimu. Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab kemudian kepada Rabb-lah mereka dihimpunkan.” </em>(QS. Al-An’aam: 38)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Pada hari Kiamat kelak, seluruh binatang akan dikumpulkan, sedangkan manusia menyaksikannya. Kemudian binatang-binatang itu diadili, sehingga binatang yang tidak bertanduk akan menuntut balas terhadap binatang bertanduk yang telah menanduknya di dunia. Setelah binatang tersebut diqishosh, Allah akan mengubahnya menjadi tanah. Allah melakukannya untuk menegakkan keadilan di antara makhluk-Nya.” (<em>Tafsiir Juz ‘Amma</em>, hal. 70)</p>
<p>Hisabnya hewan ini disaksikan oleh para Malaikat, orang-orang yang beriman dan juga orang-kafir. Setelah binatang diadili, Allah <em>Ta’ala </em>berfirman: “Jadilah tanah!” Maka binatang-binatang itu berubah menjadi tanah. Tatkala melihat hewan itu diubah menjadi tanah, orang-orang kafir itu mengatakan, “Alangkah baiknya jika aku menjadi tanah.” Inilah salah satu makna firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p dir="RTL">وَيَقُوْلُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا (40)</p>
<p><em>“Dan orang kafir itu berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku menjadi tanah saja.”</em> (QS. An-Naba: 40).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Hisabnya Seorang Mukmin, Kafir dan Munafiq</strong></span></p>
<p>Sesungguhnya Allah mengadili hamba-Nya yang mukmin seorang diri pada hari Kiamat, tidak seorang pun yang melihatnya dan tidak seorang pun yang mendengarnya. Allah <em>Ta’ala </em>benar-benar menutupi aibnya sehingga tidak seorang pun yang mengetahuinya. Allah menunjukkan kesalahan-kesalahannya dan berkata kepadanya: “Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengakui dosa ini?” Maka dia menjawab, “Ya wahai Rabb-ku, aku mengetahuinya.” Tiap kali ditunjukkan dosa-dosanya, ia terus mengakuinya sampai-sampai ia merasa pasti binasa. Lalu Allah <em>Ta’ala</em> berfirman kepadanya:</p>
<p dir="RTL">فَإنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan sekarang Aku mengampuni dosa-dosamu.”</em> Kemudian diberikan kepadanya catatan amal kebaikannya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, VIII/353 –<em>Fat-h, </em>dan Muslim, no. 2768)</p>
<p>Kaum muslimin <em>rahimakumullah,</em> ini adalah karunia besar yang Allah <em>‘Azza wa Jalla </em>berikan kepada seorang mukmin. Allah <em>Ta’ala </em>menutupi aib seorang mukmin dan tidak membongkarnya di depan umum.</p>
<p>Alhamdulillah, Allah <em>Ta’ala </em>telah menutupi dosa-dosa kita yang begitu banyaknya. Oleh karena itu, kita harus banyak bertaubat kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya dari segala dosa. Mudah-mudahan Allah <em>Ta’ala </em>menghapus dosa-dosa tersebut.</p>
<p>Adapun orang-orang kafir dan munafiq, mereka akan dipanggil di hadapan seluruh makhluk. Para saksi akan menyeru mereka di hadapan seluruh makhluk:</p>
<p dir="RTL">هَؤُلآءِ الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلَى رَبِّهِمْ أَلاَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِيْنَ (18)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zholim.”</em> (QS. Huud: 18)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Apakah Bangsa Jin Juga Dihisab?</strong><strong></strong></span></p>
<p>Sesungguhnya jin juga akan dihisab karena mereka juga dibebani syari’at. Mereka akan dihisab dan diberikan balasan atas amal mereka. Oleh karena itu, jin yang kafir juga akan dimasukkan ke dalam Neraka. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p dir="RTL">اُدْخُلُوْا فِيْ أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ فِي النَّارِ (38)</p>
<p><em>“Masuklah kamu sekalian ke dalam Neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu.”</em> (QS. Al-A’raaf: 38)</p>
<p>Demikian pula sebaliknya, bangsa jin yang beriman juga akan masuk ke dalam Surga dan merasakan kenikmatan-kenikmatan yang ada di dalamnya.</p>
<p><strong>Catatan</strong> : Ada perbedaan pendapat di antara para ulama, apakah jin yang sholih juga masuk Surga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: <a href="http://attaubah.com/">dr. Muhaimin Ashuri</a><br />
Muroja&#8217;ah: <a href="http://ustadzaris.com">Ustadz Aris Munandar, MA</a><br />
Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7842"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fyaumul-hisab.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fyaumul-hisab.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fyaumul-hisab.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/yaumul-hisab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

