<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Al-Quran</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/al-quran/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 00:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Keutamaan-Keutamaan Al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/keutamaan-keutamaan-al-quran.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/keutamaan-keutamaan-al-quran.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 03:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[as sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan al quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9030</guid>
		<description><![CDATA[[1] al-Qur&#8217;an adalah Cahaya Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur&#8217;an dan cahaya iman. Keduanya dipadukan oleh Allah ta&#8217;ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Dahulu kamu -Muhammad-<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/keutamaan-keutamaan-al-quran.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div>
<div>
<p><strong>[1] al-Qur&#8217;an adalah Cahaya</strong></p>
<p>Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur&#8217;an dan cahaya iman. Keduanya dipadukan oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.”</em> (QS. asy-Syura: 52)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“&#8230;Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur&#8217;an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.”</em> (lihat <em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 38)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Wahai umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 174)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.”</em> (QS. al-Baqarah: 257)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”</em> (QS. al-An&#8217;aam: 122)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata mengenai tafsiran ayat ini, <em>“Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.”</em> (lihat <em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 35)</p>
<p><strong>[2] al-Qur&#8217;an adalah Petunjuk</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Alif lam lim. Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”</em> (QS. al-Baqarah: 1-2). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya al-Qur&#8217;an ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.” </em>(QS. al-Israa&#8217;: 9).</p>
<p>Oleh sebab itu merenungkan ayat-ayat al-Qur&#8217;an merupakan pintu gerbang hidayah bagi kaum yang beriman. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” </em>(QS. Shaad: 29).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah mereka tidak merenungi al-Qur&#8217;an, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya?”</em> (QS. Muhammad: 24). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah mereka tidak merenungi al-Qur&#8217;an, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan.” </em>(QS. an-Nisaa&#8217;: 82)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.”</em> (QS. Thaha: 123).</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur&#8217;an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.”</em> Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat <em>Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah </em>karya<em> </em>Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah:</p>
<ol>
<li>Membenarkan berita yang datang dari-Nya,</li>
<li>Tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman,</li>
<li>Mematuhi perintah,</li>
<li>Tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 515 cet. Mu&#8217;assasah ar-Risalah)</li>
</ol>
<p><strong>[3] al-Qur&#8217;an Rahmat dan Obat</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Wahai umat manusia! Sungguh telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian (yaitu al-Qur&#8217;an), obat bagi penyakit yang ada di dalam dada, hidayah, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” </em>(QS. Yunus: 57). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan Kami turunkan dari al-Qur&#8217;an itu obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi ia tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian.” </em>(QS. al-Israa&#8217;: 82)</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya al-Qur&#8217;an itu mengandung ilmu yang sangat meyakinkan yang dengannya akan lenyap segala kerancuan dan kebodohan. Ia juga mengandung nasehat dan peringatan yang dengannya akan lenyap segala keinginan untuk menyelisihi perintah Allah. Ia juga mengandung obat bagi tubuh atas derita dan penyakit yang menimpanya.” </em>(lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 465 cet. Mu&#8217;assasah ar-Risalah)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam salah satu rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan pasti akan turun kepada mereka ketenangan, kasih sayang akan meliputi mereka, para malaikat pun akan mengelilingi mereka, dan Allah pun akan menyebut nama-nama mereka diantara para malaikat yang ada di sisi-Nya.” </em>(HR. Muslim dalam <em>Kitab adz-Dzikr wa ad-Du&#8217;a&#8217; wa at-Taubah wa al-Istighfar</em> [2699])</p>
<p><strong>[4] al-Qur&#8217;an dan Perniagaan Yang Tidak Akan Merugi</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah dan mendirikan sholat serta menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka berharap akan suatu perniagaan yang tidak akan merugi. Supaya Allah sempurnakan balasan untuk mereka dan Allah tambahkan keutamaan-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Berterima kasih.”</em> (QS. Fathir: 29-30)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Wahai orang-orang yang beriman maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang akan menyelamatkan kalian dari siksaan yang sangat pedih. Yaitu kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kalian pun berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Maka niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan tempat tinggal yang baik di surga-surga &#8216;and. Itulah kemenangan yang sangat besar. Dan juga balasan lain yang kalian cintai berupa pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” </em>(QS. ash-Shaff: 10-13)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, jiwa dan harta mereka, bahwasanya mereka kelak akan mendapatkan surga. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka berhasil membunuh (musuh) atau justru dibunuh. Itulah janji atas-Nya yang telah ditetapkan di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur&#8217;an. Dan siapakah yang lebih memenuhi janji selain daripada Allah, maka bergembiralah dengan perjanjian jual-beli yang kalian terikat dengannya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” </em>(QS. at-Taubah: 111)<em> </em></p>
<p><strong>[5] al-Qur&#8217;an dan Kemuliaan Sebuah Umat</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari &#8216;Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi&#8217; bin Abdul Harits bertemu dengan &#8216;Umar di &#8216;Usfan (sebuah wilayah diantara Mekah dan Madinah, pent). Pada waktu itu &#8216;Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka &#8216;Umar pun bertanya kepadanya, <em>“Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?”</em>. Nafi&#8217; menjawab, <em>“Ibnu Abza.”</em> &#8216;Umar kembali bertanya, <em>“Siapa itu Ibnu Abza?”</em>. Dia menjawab, <em>“Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.”</em> &#8216;Umar bertanya, <em>“Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”</em>. Maka Nafi&#8217; menjawab, <em>“Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah &#8216;azza wa jalla dan ahli di bidang fara&#8217;idh/waris.”</em> &#8216;Umar pun berkata, <em>“Adapun Nabi kalian shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memang telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab Sholat al-Musafirin</em> [817])</p>
<p>Dari Utsman bin Affan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab Fadha&#8217;il al-Qur&#8217;an</em> [5027])</p>
<p><strong>[6] al-Qur&#8217;an dan Hasad Yang Diperbolehkan</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: seorang lelaki yang diberikan ilmu oleh Allah tentang al-Qur&#8217;an sehingga dia pun membacanya sepanjang malam dan siang maka ada tetangganya yang mendengar hal itu lalu dia berkata, “Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.” Dan seorang lelaki yang Allah berikan harta kepadanya maka dia pun menghabiskan harta itu di jalan yang benar kemudian ada orang yang berkata, “Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.”.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab Fadha&#8217;il al-Qur&#8217;an</em> [5026])</p>
<p><strong>[7] al-Qur&#8217;an dan Syafa&#8217;at</strong></p>
<p>Dari Abu Umamah al-Bahili <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bacalah al-Qur&#8217;an! Sesungguhnya kelak ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa&#8217;at bagi penganutnya.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab Sholat al-Musafirin</em> [804])</p>
<p><strong>[8] al-Qur&#8217;an dan Pahala Yang Berlipat-Lipat</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam Kitabullah maka dia akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.”</em> (HR. Tirmidzi dalam <em>Kitab Tsawab al-Qur&#8217;an</em> [2910], disahihkan oleh Syaikh al-Albani)</p>
<p><strong>[9] al-Qur&#8217;an Menentramkan Hati</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.”</em> (QS. ar-Ra&#8217;d: 28). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna &#8216;mengingat Allah&#8217; di sini adalah mengingat/merenungkan al-Qur&#8217;an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur&#8217;an (lihat <em>Tafsir al-Qayyim</em>, hal. 324)</p>
<p><strong>[10] al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah Rujukan Umat</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan juga ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 59)</p>
<p>Maimun bin Mihran berkata, <em>“Kembali kepada Allah adalah kembali kepada Kitab-Nya. Adapun kembali kepada rasul adalah kembali kepada beliau di saat beliau masih hidup, atau kembali kepada Sunnahnya setelah beliau wafat.”</em> (lihat <em>ad-Difa&#8217; &#8216;anis Sunnah</em>, hal. 14)</p>
<p><strong>[11] al-Qur&#8217;an Dijelaskan oleh as-Sunnah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr/al-Qur&#8217;an supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka itu, dan mudah-mudahan mereka mau berpikir.”</em> (QS. an-Nahl: 44). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Rasulullah, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir.”</em> (QS. al-Ahzab: 21)</p>
<p>Mak-hul berkata, <em>“al-Qur&#8217;an lebih membutuhkan kepada as-Sunnah dibandingkan kebutuhan as-Sunnah kepada al-Qur&#8217;an.”</em> (lihat <em>ad-Difa&#8217; &#8216;anis Sunnah</em>, hal. 13). Imam Ahmad berkata, <em>“Sesungguhnya as-Sunnah itu menafsirkan al-Qur&#8217;an dan menjelaskannya.”</em> (lihat <em>ad-Difa&#8217; &#8216;anis Sunnah</em>, hal. 13)</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam bish showab. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-9030"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fkeutamaan-keutamaan-al-quran.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/keutamaan-keutamaan-al-quran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaedah Penting dalam Memahami Al Qur&#8217;an dan Hadits</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/kaedah-penting-dalam-memahami-al-quran-dan-hadits.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/kaedah-penting-dalam-memahami-al-quran-dan-hadits.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 23:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[belajar islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6966</guid>
		<description><![CDATA[Umat Islam memiliki modal yang sangat besar untuk bersatu, karena mereka beribadah kepada ilaah (Tuhan) yang satu, mengikuti nabi yang satu, berpedoman kepada kitab suci yang satu, berkiblat kepada kiblat yang satu. Selain itu, ada<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/kaedah-penting-dalam-memahami-al-quran-dan-hadits.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Umat Islam memiliki modal yang sangat besar untuk bersatu, karena mereka beribadah kepada<em> ilaah </em>(Tuhan) yang satu, mengikuti nabi yang satu, berpedoman kepada kitab suci yang satu, berkiblat kepada kiblat yang satu. Selain itu, ada jaminan dari Allah dan Rasul-Nya, bahwa mereka tidak akan sesat selama mengikuti petunjuk Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, berpegang-teguh kepada Alquran dan al Hadits. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى</p>
<p><em>Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.</em> (Q.S Thaha: 123, 124).</p>
<p>Dalam menjelaskan kedua ayat ini, Abdullah bin Abbas berkata, “Allah menjamin kepada siapa saja yang membaca Alquran dan mengikuti apa-apa yang ada di dalamnya, bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” [<em>Tafsir ath Thabari,</em> 16/225].</p>
<p>Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ</p>
<p><em>Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.</em> (Hadits<em> Shahih Lighairihi,</em> H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam <em>At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah</em>, hlm. 12-13).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>KENYATAAN UMAT</strong></span></p>
<p>Inilah yang menimbulkan keprihatinan, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa umat Islam telah berpecah-belah menjadi banyak golongan. Antara satu dengan lainnya memiliki prinsip-prinsip yang berbeda, bahkan kadang-kadang saling bertentangan. Kenyataan seperti ini menjadi bukti kebenaran nubuwwah (kenabian) Rasulullah Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau telah memberitakan iftiraqul ummah (perpecahan umat Islam) ini semenjak hidup beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Walaupun demikian, kita tidak boleh pasrah terhadap kenyataan yang ada, bahkan kita diperintahkan untuk mengikuti syariat dalam keadaan apa saja. Sedangkan syariat telah memerintahkan agar kita bersatu di atas <em>al-haq</em>, di atas Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan sahabatnya <em>radhiallahu ‘anhum</em>.</p>
<p>Salah satu hal terpenting untuk menyatukan umat ini ialah, umat harus mengikuti kaidah yang benar dalam memahami al-Kitab dan as-Sunnah.</p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani<em> rahimahullah</em> berkata, “Pada zaman ini, kita hidup bersama kelompok-kelompok orang yang semua mengaku bergabung dengan Islam. Mereka meyakini bahwa Islam adalah Alquran dan as-Sunnah, tetapi kebanyakan mereka tidak ridha berpegang dengan perkara ketiga yang telah dijelaskan, yaitu <em>sabilul mukminin</em> (jalan kaum mukminin), jalan para sahabat yang dimuliakan dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya dari kalangan tabi’in dan para pengikut mereka, sebagaimana telah kami jelaskan di dalam hadits “Sebaik-baik manusia adalah generasiku”, dan seterusnya.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak merujuk kepada Salafush Shalih dalam pemahaman, pemikiran dan pendapat, merupakan penyebab utama yang menjadikan umat Islam berpecah-belah menuju jalan-jalan yang banyak. Maka, barangsiapa benar-benar menghendaki, kembalilah kepada al-Kitab dan as-Sunnah, yaitu wajib kembali kepada apa yang ada pada para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, para tabi’in dan para pengikut mereka setelah mereka.” [<em>Manhaj as Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin al Albani</em>, hlm. 27, karya Syaikh ‘Amr Abdul Mun’im Saliim].</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>RUJUKAN MEMAHAMI <em>NASH</em></strong></span></p>
<p>Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim al ‘Aql <em>hafizhahullah</em> menjelaskan kaidah-kaidah dan rujukan dalam memahami <em>nash-nash</em> (teks-teks) Alquran dan al-Hadits di kitab kecil beliau, <em>Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah</em>. Beliau menyatakan, rujukan di dalam memahami al-Kitab dan as-Sunnah adalah nash-nash yang menjelaskannya, juga pemahaman Salafush Shalih dan imam-imam yang mengikuti jalan mereka. Dan apa yang telah pasti dari hal itu, tidak dipertentangkan dengan kemungkinan-kemungkinan (makna) bahasa [<em>Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah</em>, hlm. 7, Penerbit Darul Wathan].</p>
<p>Alquran dan as-Sunnah, keduanya merupakan wahyu Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Sehingga, di antara keduanya sama sekali tidak terdapat pertentangan di dalamnya. Oleh karena itul, cara memahami al-Kitab dan as-Sunnah ialah dengan <em>nash-nash</em> al-Kitab dan as-Sunnah itu sendiri. Karena yang paling mengetahui maksud suatu perkataan, hanyalah pemilik perkataan tersebut.</p>
<p>Para ulama menyebutkan kaidah di dalam memahami dan menafsirkan Alquran sebagai berikut:</p>
<p>- Menafsirkan Alquran dengan Alquran.<br />
- Menafsirkan Alquran dengan as-Sunnah.<br />
- Menafsirkan Alquran dengan perkataan-perkataan para sahabat.<br />
- Menafsirkan Alquran dengan perkataan-perkataan para tabi’in.<br />
- Menafsirkan Alquran dengan bahasa Alquran dan as-Sunnah, atau keumumam bahasa Arab.</p>
<p><em>Al-Hafizh</em> Ibnu Katsir menyatakan, jalan yang paling benar dalam menafsirkan Alquran ialah:</p>
<p>- Alquran ditafsirkan dengan Alquran. Karena apa yang disebutkan oleh Alquran secara global di satu tempat, terkadang telah dijelaskan pula dalam Alquran secara luas di tempat yang lain.<br />
- Jika hal itu menyusahkanmu [yakni Anda tidak mendapatkan penjelasan ayat dari ayat lainnya, Pen.], maka engkau wajib me-<em>ruju`</em> kepada as-Sunnah, karena ia merupakan penjelas bagi Alquran.<br />
- Jika tidak mendapatkan tafsir di dalam Alquran dan as-Sunnah, dalam hal ini kita me-<em>ruju</em>` kepada perkataan para sahabat. Mereka lebih mengetahui tentang hal itu, karena mereka menyaksikan alamat-alamat dan keadaan-keadaan yang mereka mendapatkan keistimewaan tentangnya [yaitu hanya generasi sahabat yang menyaksikan turunnya wahyu dan yang menjadi penyebab turunnya. Demikian juga Rasulullah bersama mereka, sehingga para sahabat dapat menanyakan ayat-ayat yang susah difahami. Adapun generasi setelah sahabat tidak mendapatkan hal-hal seperti di atas, Pen.]. Juga karena para sahabat memiliki pemahaman yang sempurna, ilmu yang benar, dan amal yang shalih. Terlebih para ulama sahabat dan para pembesar mereka, seperti imam empat, yaitu <em>khulafaur rasyidin</em>, para imam yang mengikuti petunjuk dan mendapatkan petunjuk, Abdullah bin Mas’ud, juga <em>al-habrul al-bahr</em> (seorang <em>‘alim</em> dan banyak ilmunya) Abdullah bin Abbas.<br />
- Jika engkau tidak mendapatkan tafsir di dalam Alquran dan as-Sunnah, dan engkau tidak mendapatinya dari para sahabat, maka dalam hal ini banyak para imam me-<em>ruju`</em> kepada perkataan-perkataan tabi’in, seperti Mujahid bin Jabr, karena beliau merupakan ayat (tanda kebesaran Allah) dalam bidang tafsir. Juga seperti Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah maula Ibnu Abbas, ‘Atha bin Abi Rabah, al-Hasan al-Bashri, Masruq bin al Ajda’, Sa’id bin al-Musayyib, Abul ‘Aliyah, Rabii’ bin Anas, Qatadah, adh-Dhahhak bin Muzahim, dan lainnya dari kalangan tabi’in (generasi setelah sahabat), dan tabi’ut tabi’in (generasi setelah tabi’in). (Perkataan-perkataan tabi’in bukanlah <em>hujjah</em> jika mereka berselisih), namun jika mereka sepakat terhadap sesuatu, maka tidak diragukan bahwa itu merupakan <em>hujjah</em>.<br />
- Jika mereka berselisih, maka perkataan sebagian mereka bukanlah <em>hujjah</em> terhadap perkataan sebagian yang lain, dan bukan <em>hujjah</em> atas orang-orang setelah mereka. Dalam masalah itu, maka tempat kembali ialah kepada bahasa Alquran dan as-Sunnah, atau keumumam bahasa Arab, atau perkataan para sahabat dalam masalah tersebut. Adapun menafsirkan Alquran semata-mata hanya dengan pikiran (akal), maka (hukumnya) haram.” (<em>Tafsir al-Qur`anul Azhim, Muqaddimah</em>, 4-5).</p>
<p>Adapun kewajiban berpegang sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih, yaitu para sahabat, tabi’in, dan para imam yang mengikuti jalan mereka, maka dalil-dalilnya sangat banyak, antara lain:</p>
<p>Firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا</p>
<p><em>Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.</em> (Q.S an-Nisaa` : 115).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah<em> rahimahullah</em> berkata, “Sesungguhnya, keduanya itu (yaitu menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Pen.) saling berkaitan. Semua orang yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, berarti dia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Dan semua orang yang mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, berarti dia menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 7/38).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ</p>
<p><em>Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’ut tabi’in)</em>. (Hadits <em>mutawatir</em>, Bukhari, no. 2652, 3651, 6429; Muslim, no. 2533; dan lainnya).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي</p>
<p><em>Sesungguhnya, Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam neraka kecuali satu agama. Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Siapa saja yang mengikutiku dan sahabatku.”</em> (H.R Tirmidzi, no. 2565; al-Hakim, Ibnu Wadhdhah; dan lainnya; dari Abdullah bin ’Amr. Dihasankan oleh Syaikh Salim al Hilali di dalam <em>Nash-hul Ummah</em>, hlm. 24).</p>
<p>Berpegang teguh kepada Sunnah (ajaran) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan Sunnah (ajaran) para <em>khulafaur rasyidin</em> dan para sahabat inilah solusi di saat umat menghadapi perselisihan, tidak ada jalan lain!</p>
<p>Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ</p>
<p><em>Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (ia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, ia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah, dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.</em> (H.R Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; ad-Darimi; Ahmad; dan lainnya dari al-‘Irbadh bin Sariyah).</p>
<p>Jika suatu istilah telah jelas maknanya menurut al-Kitab, as-Sunnah, sesuai dengan pemahaman para ulama Salaf, atau telah terjadi <em>ijma</em>`, maka seorang pun tidak boleh menyelisihinya dengan alasan makna bahasa.</p>
<p>Sebagai contoh, istilah rasul, secara bahasa artinya orang yang diutus. Sedangkan menurut istilah <em>syara</em>’ -menurut al-Kitab dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman ulama- rasul adalah seorang manusia, laki-laki, diberi wahyu syariat (yang baru), dan diperintah untuk menyampaikan kepada umatnya (orang-orang kafir). Dan rasul yang terakhir adalah Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> [lihat:<em> ar-Rusul war-Risalat</em>, hlm. 14, 15, Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar; <em>Al-Irsyad ila Shahihil Itiqad</em>, hlm. 203, Syaikh Shalih al Fauzan].</p>
<p>Namun, ada sebagian orang yang menyimpang memiliki anggapan bahwa setiap mubaligh adalah rasul, dan rasul tetap diutus sampai hari Kiamat. Alasan yang dikemukakan ialah, karena secara bahasa, rasul artinya orang yang diutus. Pemahaman seperti ini adalah bid’ah, sesat dan menyesatkan [penulis pernah ikut membantah seorang mubaligh dari Gemolong, Sragen, Jawa Tengah, yang mengaku sebagai <strong>rasul</strong>. Dia beralasan, rasul artinya ialah orang yang diutus. Sedangkan orang ini mengaku sendiri, bila ia tidak mengerti bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya! Lihat juga <em>Aliran dan Paham Sesat di Indonesia</em>, hlm. 32, Hartono Ahmad Jaiz].</p>
<p>Contoh lainnya, seperti istilah <strong>qurban</strong>, secara bahasa artinya mendekat, atau semua yang digunakan untuk mendekatkan kepada Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> [lihat <em>Mu’jamul Wasith</em>, Bab ق ر ب]. Sedangkan menurut istilah <em>syara’,</em> menurut al-Kitab dan as-Sunnah -sesuai dengan pemahaman ulama- qurban adalah binatang ternak yang disembelih pada hari raya qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari <em>tasyrik</em> untuk mendekatkan diri kepada Allah [<em>Al-Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz</em>, hlm. 405, Syaikh Abdul ‘Azhim al Badawi, Penerbit Dar Ibnu Rajab, Cet. 3, Th. 1421H/2001M]. Tetapi, Kelompok al-Zaitun, dengan alasan arti qurban secara bahasa, kemudian mengusulkan dan mempraktekkan qurban dengan bentuk uang untuk membangun sarana pendidikan, dan manganggapnya sebagai qurban yang optimis dan berwawasan masa depan. Pemahaman seperti ini adalah bid’ah, sesat dan menyesatkan [lihat <em>Aliran dan Paham Sesat di Indonesia</em>, hlm. 48, Hartono Ahmad Jaiz].</p>
<p>Ini sebagian contoh kasus tentang kesalahan memahami istilah agama Islam, karena semata-mata me-<em>ruju</em>` kepada arti bahasa. Kasus seperti ini sangat banyak. Semua ini menyadarkan kita tentang perlunya memahami al-Kitab dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih. Tentu pemahaman tersebut melalui para ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah, atau para ustadz yang dikenal kelurusan aqidah dan manhaj mereka, serta amanah mereka dalam menyampaikan <a href="http://ustadzmuslim.com/ilmu-dan-keutamaannya/" target="_blank"><strong>ilmu agama</strong></a>. Hal itu dapat secara langsung berguru kepada mereka, atau lewat tulisan, kaset, dan semacamnya.</p>
<p>Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran.</p>
<p>Penulis: <a href="http://www.ustadzmuslim.com/" target="_blank">Abu Isma’il Muslim al Atsari</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6966"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fkaedah-penting-dalam-memahami-al-quran-dan-hadits.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/kaedah-penting-dalam-memahami-al-quran-dan-hadits.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kita Merayakan Nuzulul Quran?</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/bagaimana-kita-merayakan-nuzulul-quran.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/bagaimana-kita-merayakan-nuzulul-quran.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 21:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Nuzulul Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1307</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/bagaimana-kita-merayakan-nuzulul-quran.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang saya maksudkan?</p>
<p>Kejadian sejarah itu adalah <strong>Nuzul Qur&#8217;an</strong>; diturunkannya Al Qur&#8217;an secara utuh dari <em>Lauhul Mahfuzh</em> di langit ketujuh, ke <em>Baitul Izzah</em> di langit dunia.</p>
<p style="text-align: center;">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. البقرة 185</p>
<p><em>&#8220;Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).&#8221;</em> (Qs. Al Baqarah: 185)</p>
<p>Peringatan terhadap turunnya Al Qur&#8217;an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, <em>anasyid</em> dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.</p>
<p>Pernahkan anda bertanya: bagaimanakah cara Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sahabatnya dan juga ulama&#8217; terdahulu setelah mereka memperingati kejadian ini?</p>
<p>Anda merasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>?</p>
<p>Simaklah penuturan sahabat Abdullah bin Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> tentang apa yang beliau lakukan.</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ . رواه البخاري</p>
<p><em>&#8220;Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur&#8217;an bersamanya.&#8221;</em> (Riwayat Al Bukhari)</p>
<p>Demikianlah, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bermudarasah, membaca Al Qur&#8217;an bersama Malaikat Jibril <em>alaihissalam</em> di luar shalat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur&#8217;an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur&#8217;an dalam shalatnya?</p>
<p>Simaklah penguturan sahabat Huzaifah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</em></p>
<p><em>&#8220;Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:</em></p>
<p style="text-align: center;">الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ</p>
<p><em>Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir. Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa&#8217; hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. &#8230;. Sejak usai dari shalat Isya&#8217; pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.&#8221;</em> (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)</p>
<p>Demikianlah cara Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memperingati turunnya Al Qur&#8217;an pada bulan ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada <em>mudarasah</em>, beliau juga banyak membaca Al Qur&#8217;an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka&#8217;at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa&#8217;, atau sebanyak 5 juz lebih.</p>
<p>Inilah yang dilakukan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati <a href="http://muslim.or.id/al-quran/bagaimana-kita-merayakan-nuzulul-quran.html">turunnya Al Qur&#8217;an</a>. Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.</p>
<p>Bandingkan apa yang beliau lakukan dengan yang anda lakukan. Sudahkah anda mengetahui betapa besar perbedaannya?</p>
<p>Anda juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh para ulama&#8217; terdahulu pada bulan Ramadhan?</p>
<p>Imam As Syafi&#8217;i pada setiap bulan ramadhan menghatamkan bacaan Al Qur&#8217;an sebanyak enam puluh (60) kali.</p>
<p>Anda merasa sebagai pengikut Imam As Syafi&#8217;i? Inilah teladan beliau, tidak ada pentas seni, pesta makan, akan tetapi seluruh waktu beliau diisi dengan membaca dan mentadaburi Al Qur&#8217;an.</p>
<p>Buktikanlah saudaraku bahwa anda adalah benar-benar penganut mazhab Syafi&#8217;i yang sebenarnya.</p>
<p>Al Aswab An Nakha&#8217;i setiap dua malam menghatamkan Al Qur&#8217;an.</p>
<p>Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Qur&#8217;an sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali.</p>
<p>Demikianlah teladan ulama&#8217; terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur&#8217;an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi <em>na&#8217;uzubillah</em> pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.</p>
<p>Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: center;">اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ .  الزمر23</p>
<p><em>&#8220;Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur&#8217;an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.&#8221;</em> (Qs. Az Zumar: 23)</p>
<p>Dan oleh firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفال 2-4</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.&#8221;</em> (Qs. Al Anfaal: 2-4)</p>
<p>Adapun kita, maka hanya kerahmatan Allah-lah yang kita nantikan. Betapa sering kita membaca, mendengar ayat-ayat Al Qur&#8217;an, akan tetapi semua itu seakan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Hati terasa kaku, dan keras, sekeras bebatuan. Iman tak kunjung bertambah, bahkan senantiasa terkikis oleh kemaksiatan. Dan kehidupan kita begitu jauh dari dzikir kepada Allah.</p>
<p>Saudaraku! Akankan kita terus menerus mengabadikan keadaan kita yang demikian ini? Mungkinkah kita akan senantiasa puas dengan sikap mendustai diri sendiri? Kita mengaku mencintai dan beriman kepada Al Qur&#8217;an, dan selanjutnya kecintaan dan keimanan itu diwujudkan dalam bentuk tarian, nyayian, pesta makan-makan?</p>
<p>Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al Qur&#8217;an dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya?</p>
<p>Tidakkah saatnya telah tiba bagi kita untuk merubah peringatan Al Qur&#8217;an dari pentas seni menjadi bacaan dan penerapan kandungannya dalam kehidupan nyata?</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri (lulusan Universitas Islam Madinah)</p>
<p>Artikel <a href="http://www.pengusahamuslim.com">www.pengusahamuslim.com</a>, dipublish ulang oleh <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1307"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fbagaimana-kita-merayakan-nuzulul-quran.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/bagaimana-kita-merayakan-nuzulul-quran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat Al &#8216;Ashr: Membebaskan Diri Dari Kerugian</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-al-ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-al-ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2535</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta’ala berfirman, وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3) ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-al-ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)</p>
<p>”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).</p>
<p>Surat Al ‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah dihafal. Namun sayangnya, sangat sedikit di antara kaum muslimin yang dapat memahaminya. Padahal, meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,</p>
<p>لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ</p>
<p>”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].<br />
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Iman yang Dilandasi dengan Ilmu</strong></span></p>
<p>Dalam surat ini Allah ta’ala  menjelaskan bahwa seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bisa bersifat mutlak, artinya seorang merugi di dunia dan di akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka. Bisa jadi ia hanya mengalami kerugian dari satu sisi saja. Oleh karena itu, dalam surat ini Allah mengeneralisir bahwa kerugian pasti akan dialami oleh manusia kecuali mereka yang memiliki empat kriteria dalam surat tersebut [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].</p>
<p>Kriteria pertama, yaitu beriman kepada Allah. Dan keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu.  Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf dalam berbagai permasalahan agamanya, seperti prinsip keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مَسْلَمٍ</p>
<p>”Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224 dengan sanad shahih).</p>
<p>Imam Ahmad rahimahullah berkata,</p>
<p>يَجِبُ أَنْ يَطْلَبَ مِنَ الْعِلْمِ مَا يَقُوْمُ بِهِ دِيْنَهُ</p>
<p>”Seorang wajib menuntut ilmu yang bisa  membuat dirinya mampu menegakkan agama.”  [Al Furu’ 1/525].</p>
<p>Maka merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari berbagai hal keagamaan yang wajib dia lakukan, misalnya yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Semua itu tidak lain dikarenakan seorang pada dasarnya tidak mengetahui hakikat keimanan sehingga ia perlu meniti tangga ilmu untuk mengetahuinya. Allah ta’ala  berfirman,<br />
مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ  نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا</p>
<p>”Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Quran itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Asy Syuura: 52).</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Mengamalkan Ilmu</strong></span></p>
<p>Seorang tidaklah dikatakan menuntut ilmu kecuali jika dia berniat bersungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya,  seseorang dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya.<br />
Oleh karena itu, betapa indahnya perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah</p>
<p>لاَ يَزَالُ الْعَالِمُ جَاهِلاً حَتىَّ يَعْمَلَ بِعِلْمِهِ فَإِذَا عَمِلَ بِهِ صَارَ عَالِمًا</p>
<p>”Seorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim” (Dikutip dari Hushul al-Ma’mul).</p>
<p>Perkataan ini mengandung makna yang dalam, karena apabila seorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, maka (pada hakikatnya) dia adalah orang yang bodoh, karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh, sebab ia tidak mengamalkan ilmunya.</p>
<p>Oleh karena itu, seorang yang berilmu tapi tidak beramal tergolong dalam kategori yang berada dalam kerugian, karena bisa jadi ilmu itu malah akan berbalik menggugatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يَسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ<br />
,”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu tersebut.” (HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih).</p>
<p><strong>Berdakwah kepada Allah</strong></p>
<p>Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah ta’ala, adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang- orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Allah ta’ala berfirman,<br />
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٠٨)</p>
<p>“Katakanlah, “inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108).<br />
Jangan anda tanya mengenai keutamaan berdakwah ke jalan Allah. Simak firman Allah ta’ala berikut,<br />
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ</p>
<p>“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat : 33).<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,<br />
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ</p>
<p>Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah” (HR. Bukhari nomor 2783).</p>
<p>Oleh karena itu, dengan merenungi firman Allah dan sabda nabi di atas, seyogyanya seorang ketika telah mengetahui kebenaran, hendaklah dia berusaha menyelamatkan para saudaranya dengan mengajak mereka untuk memahami dan melaksanakan agama Allah dengan benar.</p>
<p>Sangat aneh, jika disana terdapat sekelompok orang yang telah mengetahui Islam yang benar, namun mereka hanya sibuk dengan urusan pribadi masing-masing dan “duduk manis” tanpa sedikit pun memikirkan kewajiban dakwah yang besar ini.<br />
Pada hakekatnya orang yang lalai akan kewajiban berdakwah masih berada dalam kerugian meskipun ia termasuk orang yang berilmu dan mengamalkannya. Ia masih berada dalam kerugian dikarenakan ia hanya mementingkan kebaikan diri sendiri (egois) dan tidak mau memikirkan bagaimana cara untuk mengentaskan umat dari jurang kebodohan terhadap agamanya. Ia tidak mau memikirkan bagaimana cara agar orang lain bisa memahami dan melaksanakan ajaran Islam yang benar seperti dirinya. Sehingga orang yang tidak peduli akan dakwah adalah orang yang tidak mampu mengambil pelajaran dari sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,<br />
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ</p>
<p>”Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperoleh sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhari nomor 13).<br />
Jika anda merasa senang dengan hidayah yang Allah berikan berupa kenikmatan mengenal Islam yang benar, maka salah satu ciri kesempurnaan Islam yang anda miliki adalah anda berpartisipasi aktif dalam kegiatan dakwah seberapapun kecilnya sumbangsih yang anda berikan.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Bersabar dalam Dakwah</strong></span></p>
<p>Kriteria keempat adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah ta’ala. Seorang da’i (penyeru) ke jalan Allah mesti menemui rintangan dalam perjalanan dakwah yang ia lakoni. Hal ini dikarenakan para dai’ menyeru manusia untuk mengekang diri dari hawa nafsu (syahwat), kesenangan dan adat istiadat masyarakat yang menyelisihi syari’at [Hushulul ma’mul hal. 20].</p>
<p>Hendaklah seorang da’i mengingat firman Allah ta’ala berikut sebagai pelipur lara ketika berjumpa dengan rintangan. Allah ta’ala berfirman,<br />
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ (٣٤)</p>
<p>”Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka” (QS. Al-An’am : 34).<br />
Seorang da’i wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwahnya. Dia harus bersabar atas segala penghalang dakwahnya dan bersabar terhadap gangguan yang ia temui. Allah ta’ala menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya (yang artinya),</p>
<p>”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman :17).</p>
<p>Pada akhir tafsir surat Al ‘Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,<br />
فَبِالِأَمْرَيْنِ اْلأَوَّلِيْنَ، يُكَمِّلُ اْلإِنْسَانُ نَفْسَهُ، وَبِالْأَمْرَيْنِ اْلأَخِيْرِيْنَ يُكَمِّلُ غَيْرَهُ، وَبِتَكْمِيْلِ اْلأُمُوْرِ اْلأَرْبَعَةِ، يَكُوْنُ اْلإِنْسَانُ قَدْ سَلِمَ تعل مِنَ الْخُسَارِ، وَفَازَ بِالْرِبْحِ [الْعَظِيْمِ]</p>
<p>”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar” [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].</p>
<p>Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini, sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Amiin.</p>
<p>Penulis: <a href="http://ikhwanmuslim.com">Muhammad Nur Ichwan Muslim</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id<br />
</a></p>
</div>
<div class="shr-publisher-2535"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Ftafsir-surat-al-ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-surat-al-ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Surat Al Falaq</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/memahami-surat-al-falaq.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/memahami-surat-al-falaq.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 02:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[surat al falaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2055</guid>
		<description><![CDATA["Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan saya untuk membaca al-Mu'awwidzat tiap selesai shalat." (HR. Abu Dawud, dihukumi shahih oleh al-Albani)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Surat al-Falaq terdiri dari lima ayat dan tergolong <em>makkiyyah</em> (diturunkan sebelum hijrah). Bersama surat an-Nas, ia disebut<em> al-Mu&#8217;awwidzatain</em>. Disebut demikian karena keduanya mengandung <em>ta&#8217;widz</em> (perlindungan).  Keduanya termasuk surat yang utama dalam Al-Qur&#8217;an. Keutamaan surat al-Falaq selalu disebut bersamaan dengan surat an-Nas.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Keutamaan al-Mu&#8217;awwidzatain</strong></span></p>
<p>Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari &#8216;Uqbah bin &#8216;Amir <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">(( أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ؟))</p>
<p>&#8220;Tahukah engkau ayat-ayat yang telah diturunkan malam ini, tidak pernah ada yang menyerupainya sama sekali? Kemudian beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ</p>
<p>Sedangkan at-Tirmidzi, an-Nasa&#8217;i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em> hadits berikut,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ مِنْ عَيْنِ الْجَانِّ وَعَيْنِ الإِنْسِ, فَلَمَّا نَزَلَتْ الْمُعَوِّذَتَانِ أَخَذَ بِهِمَا, وَتَرَكَ مَا سِوَى ذَلِكَ))</p>
<p>&#8220;Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berlindung dari mata jahat jin dan manusia. Ketika turun <em>al</em>-<em>Mu&#8217;awwidzatain</em>, beliau memakainya dan meninggalkan yang lain. (dihukumi shahih oleh al-Albani)</p>
<p>Kedua surat ini disunatkan dibaca setiap selesai shalat wajib. Dalam hadits lain, &#8216;Uqbah bin &#8216;Amir <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meriwayatkan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">(( أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ))</p>
<p>&#8220;Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan saya untuk membaca <em>al</em>-<em>Mu&#8217;awwidzat</em> tiap selesai shalat.&#8221; (HR. Abu Dawud, dihukumi shahih oleh al-Albani)</p>
<p>Disunatkan juga membacanya sebelum dan sesudah tidur, sebagaimana disebutkan dalam hadits &#8216;Uqbah yang lain:</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">(( ياَ عُقْبَةُ ! اِقْرَأْ بِهِمَا كُلَّمَا نِمْتَ وَقُمْتَ، مَا سَأَلَ سَائِلٌ وَلاَ اِسْتَعَاذَ مُسْتَعِيْذٌ بِمِثْلِهِمَا))</p>
<p>&#8220;Wahai &#8216;Uqbah, bacalah keduanya setiap kamu tidur dan bangun. Tidaklah seseorang bisa meminta atau berlindung dengan seperti keduanya.&#8221;  (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah, dihukumi hasan oleh al-Albani)</p>
<p>Hadits-hadits shahih juga menjelaskan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menganjurkan membacanya pada dzikir pagi dan sore. Beliau juga membacanya saat meruqyah diri beliau saat sakit dan disengat kalajengking. Demikian juga malaikat yang meruqyah beliau saat disihir Labid bin al-A&#8217;sham.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Tafsir Surat al-Falaq</strong></span></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Penguasa) waktu Subuh.&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dalam bahasa Arab, al-falaq berarti sesuatu yang terbelah atau terpisah. Yang dimaksud dengan al-falaq dalam ayat ini adalah waktu subuh, karena makna inilah yang pertama kali terdetik dalam benak orang saat mendengar kata al-falaq. Ia disebut demikian karena seolah-olah terbelah dari waktu malam.</p>
<p>Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk berlindung (<em>isti&#8217;adzah</em>) kepada Allah semata. <em>Isti&#8217;adzah</em> termasuk ibadah, karenanya tidak boleh dilakukan kepada selain Allah. Dia yang mampu menghilangkan kegelapan yang pekat dari seluruh alam raya di waktu subuh tentu mampu untuk melindungi para peminta perlindungan dari semua yang ditakutkan.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ</p>
<p><em>&#8220;Dari kejahatan apa-apa yang telah Dia ciptakan.&#8221;</em></p>
<p>Ayat yang pendek ini mengandung <em>isti&#8217;adzah</em> dari kejahatan semua makhluk. Al-Hasan Al-Bashri berkata : &#8220;Jahannam dan iblis beserta keturunannya termasuk apa yang telah Dia ciptakan.&#8221; Kejahatan diri kita sendiri juga termasuk di dalamnya, bahkan ia yang pertama kali masuk dalam keumuman kata ini, sebagaimana dijelaskan  Syaikh al-&#8217;Utsaimin. Hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan dari semua kejahatan, karena semua makhluk di bawah kekuasaanNya.</p>
<p>Setelah memohon perlindungan secara umum dari semua kejahatan, kita berlindung kepada Allah dari beberapa hal secara khusus pada ayat berikut; karena sering terjadi dan kejahatan berlebih yang ada padanya. Di samping itu, ketiga hal yang disebut khusus berikut ini juga merupakan hal-hal yang samar dan tidak tampak, sehingga lebih sulit dihindari.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ</p>
<p><em>&#8220;Dan dari kejahatan malam apabila telah masuk dalam kegelapan.&#8221; </em></p>
<p>Kata <em>ghasiq</em> berarti malam, berasal dari kata <em>ghasaq</em> yang berarti kegelapan. Kata kerja <em>waqaba</em> mengandung makna masuk dan penuh, artinya sudah masuk dalam gelap gulita.</p>
<p>Kita berlindung dari kejahatan malam secara khusus, karena kejahatan lebih banyak terjadi di malam hari. Banyak penjahat yang memilih melakukan aksinya di malam hari. Demikian pula  arwah  jahat  dan binatang-binatang yang berbahaya. Di samping itu, menghindari bahaya juga lebih sulit dilakukan pada waktu malam.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ</p>
<p><em>&#8220;Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada tali-tali ikatan.&#8221;</em></p>
<p>Para tukang sihir biasa membaca mantra dan jampi-jampi, kemudian mereka tiupkan pada tali-tali yang di ikat. Inilah yang di maksud dengan <em>ruqyah syirik</em>. Sihir merupakan salah satu dosa dan kejahatan terbesar, karena disamping syirik, ia juga samara dan bisa mencelakakan manusia di dunia dan akhirat. Karenanya kita berlindung secara khusus kepada Allah dari kejahatan ini.</p>
<p>Penyebutan wanita tukang sihir dalam bentuk muannats (feminin) dikarenakan jenis sihir ini yang paling banyak melakukannya adalah wanita. Dalam riwayat tentang sihir Labid bin al-A&#8217;sham yang ditujukan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga disebutkan bahwa puteri-puteri Labid yang menghembus pada tali-tali.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ</p>
<p><em>&#8220;Dan dari kejahatan orang dengki apabila ia dengki.&#8221;</em></p>
<p>Dengki (<em>hasad</em>) adalah membenci nikmat Allah atas orang lain dan menginginkan hilangnya nikmat itu darinya. Yang dimaksud dengan &#8216;apabila ia dengki&#8217; adalah jika ia menunjukkan kedengkian yang ada di hatinya dan karenanya terbawa untuk membahayakan orang yang lain.  Kondisi yang demikianlah yang membahayakan orang lain. Orang yang hasad akan menempuh cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan keinginannya. Hasad juga bisa menimbulkan mata jahat (<em>&#8216;ain</em>) yang bisa membahayakan sasaran kedengkiannya. Pandangan mata dengkinya bisa mengakibatkan orang sakit, gila, bahkan meninggal. Barang yang dilihatnya juga bisa rusak atau tidak berfungsi. Karenanya, kitapun berlindung kepada Allah dari keburukan ini secara khusus.</p>
<p>Ada juga orang dengki yang hanya menyimpan kedengkiannya dalam hati, sehingga ia sendiri gundah dan sakit hati, tapi tidak membahayakan orang lain, sebagaimana dikatakan Umar bin Abdil Aziz: &#8220;Saya tidak melihat orang zhalim yang lebih mirip dengan orang terzhalimi daripada orang yang dengki.&#8221;</p>
<p>Jadi, untuk melindungi diri dari semua kejahatan kita harus menggantungkan hati kita dan berlindung hanya kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan membiasakan diri membaca dzikir yang telah dicontohkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal ini adalah salah satu wujud kesempurnaan agama Islam. Kejahatan begitu banyak pada zaman kita ini, sementara banyak umat Islam yang tidak tahu bagaimana cara melindungi diri darinya. Adapun yang sudah tahu banyak yang lalai, dan yang membacanya banyak yang tidak menghayati. Semua ini adalah bentuk kekurangan dalam beragama. Andai umat Islam memahami,mengamalkan dan menghayati sunnah ini, niscaya mereka terselamatkan dari berbagai kejahatan.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kesimpulan</strong>:</span></p>
<ol>
<li>Surat      ini adalah surat      yang utama, dan dianjurkan dibaca setelah shalat, sebelum dan sesudah      tidur, dalam dzikir pagi dan sore, juga dalam ruqyah.</li>
<li>Kita      memohon perlindungan hanya kepada Allah dari semua kejahatan secara umum,      dan beberapa hal secara khusus karena lebih sering terjadi, lebih samar      atau karena mengandung bahaya yang lebih.</li>
<li>Mewaspadai      kejahatan malam, tukang sihir dan pendengki.</li>
<li>Sihir      dan &#8216;ain adalah perkara yang hakiki.</li>
<li>Kesempurnaan      agama Islam yang mengajarkan cara melindungi diri dari berbagai kejahatan.</li>
<li>Kekurangan      sebagian umat Islam dalam memahami, mengamalkan dan menghayati ajaran      Islam.</li>
</ol>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Referensi:</strong></span></p>
<ol>
<li>Al-Quran      dan Terjemahnya, Percetakan Mushaf Madinah.</li>
<li>Irsyadul      &#8216;Aqlis Salim Ila Mazayal Kitabil Karim (Tafsir Abu Su&#8217;ud), Maktabah      Syamilah.</li>
<li>Fathul      Qadir, asy-Syaukani, Darul Hadits.</li>
<li>Taysirul      Karimir Rahman,  Muassasah      ar-Risalah.</li>
<li>Riyadhush      Shalihin, an-Nawawi, al-Maktab al-Islami.</li>
<li>Tafsir      Juz &#8216;Amma, Website Syaikh Muhammad bin Shalih al-&#8217;Utsaimin.</li>
</ol>
<p>Penulis: Ustadz Anas Burhanudin, MA</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-2055"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fmemahami-surat-al-falaq.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/memahami-surat-al-falaq.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Ayat &#8216;Laa Ikraha Fiddiin&#8217;</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 22:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1851</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta&#8217;ala berfirman, لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256) Sebagian orang salah dalam memahami ayat<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p>لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ</p>
<p>“<em>Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan</em>” (QS. Al Baqarah: 256)</p>
<p>Sebagian orang salah dalam memahami ayat ini sehingga terjebak dalam pemahaman pluralisme agama. Yaitu bahwa semua agama itu benar, dan Islam bukanlah agama yang paling benar. Paham ini juga mengajarkan bahwa Islam memberi kebebasan kepada manusia untuk memeluk agama apa saja, dan agama apapun dapat mengantarkan pemeluknya kepada Surga Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Dengan demikian, menurut para pluralis, dalam Islam tidak ada konsep mu&#8217;min dan kafir.</p>
<p>Padahal Islam sama sekali tidak mengajarkan pluralisme agama, bahkan Islam mengajarkan tauhid. Dan Allah <em>Subhanahu Wa Ta&#8217;ala</em> sama sekali tidak ridha terhadap agama selain Islam, serta segala bentuk kemusyrikan. Lalu bagaimana dengan ayat di atas? Mari kita simak pembahasannya.</p>
<p><strong>Penafsiran Ahli Tafsir</strong></p>
<p>Islam mengajarkan kepada ummatnya agar mengembalikan setiap permasalahan kepada ahlinya. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu</em>” (QS. An Nahl: 43)</p>
<p>Bahkan, dalam urusan duniawi, harus dikembalikan kepada orang yang ahli dalam urusan tersebut. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda,</p>
<p>أنتم أعلم بأمر دنياكم</p>
<p>“<em>Engkau lebih tahu urusan dunia kalian</em>” (HR Muslim no.2363)</p>
<p>Dan setiap orang berakal tentu akan menerima konsep &#8216;<em>kembalikanlah setiap urusan kepada ahlinya</em>&#8216;. Kita tentu tidak akan menanyakan obat suatu penyakit kepada ahli matematika, melainkan kepada dokter bukan?</p>
<p>Oleh karena itu marilah kita bersikap bijak untuk mengembalikan urusan penafsiran Al Qur&#8217;an kepada ulama ahli tafsir, bukan opini masing-masing atau opini dari orang yang bukan ulama ahli tafsir.</p>
<p>Seorang imam ahli tafsir yang terkemuka, Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:</p>
<p>“Para ulama berbeda pendapat tentang makna ayat ini dalam 6 pendapat:</p>
<ol>
<li>Ada yang berpendapat bahwa ayat ini <em>mansukh </em>(dihapus). Karena Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah memaksa orang arab untuk masuk Islam dan memerangi mereka. Beliau tidak ridha kepada mereka hingga mereka masuk Islam”. Sulaiman bin Musa berkata, &#8216;Ayat ini dinasakh (dihapus) oleh ayat&#8217;</li>
</ol>
<p>يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير</p>
<p>“<em>Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya</em>” (QS. At Taubah: 73). Pendapat pertama ini diriwayatkan pula dari Ibnu Mas&#8217;ud dan dari banyak ahli tafsir.</p>
<ol>
<li>Ayat ini tidak mansukh (tidak dihapus), namun ayat ini ditujukan bagi ahli kitab saja. Sehingga ahli kitab tidak dipaksa masuk Islam selama mereka membayar jizyah. Yang dipaksa adalah kaum kuffar penyembah berhala. Merekalah yang dimaksud oleh surat At Taubah ayat 73. Inilah pendapat Asy Sya&#8217;bi, Qatadah dan Adh Dhahhak.</li>
<li>Berdasarkan yang diriwayatkan Abu Daud dari Ibnu Abbas <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata, “Ayat ini diturunkan kepada kaum Anshar. Ketika itu ada seorang wanita selama hidupnya tidak memiliki anak. Ia berjanji pada dirinya, jika ia memiliki anak, anak tersebut akan dijadikan beragama Yahudi. Sampai suatu ketika datanglah Bani Nadhir yang juga membawa beberapa anak dari kaum Anshar bersama mereka. Kaum Anshar berkata, “Kemudian terjadilah apa yang telah terjadi. Ketika itu kami (kaum Anshar) memandang agama yang mereka bawa (Yahudi) lebih baik. Namun ketika kami masuk Islam, kami ingin memaksa anak-anak kami”. Kemudian turunlah ayat ini. Ini adalah pendapat Sa&#8217;id bin Jubair, Asy Sya&#8217;bi dan Mujahid.</li>
<li>As Sudiy berkata, “Ayat ini turun kepada seorang lelaki kaum Anshar yang bernama Abul Hushain yang memiliki dua orang anak. Ketika itu datang para pedagang dari Syam yang membawa biji-bijian. Ketika mereka hendak pergi dari Madinah, mereka mengajak dua anak Abul Hushain untuk memeluk agama Nashrani. Mereka berdua pun akhirnya menjadi Nashrani dan ikut para pedagang tersebut ke Syam. Maka Abul Hushain pun datang kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sambil menangis dan memohon kepada Rasulullah agar mengutus seseorang untuk mengambil mereka berdua. Lalu turunlah ayat ini”</li>
<li>Makna ayat ini: “Orang yang ber-Islam karena kalah perang tidak boleh mengatakan bahwa ia dipaksa masuk Islam”</li>
<li><strong>6. </strong>Ayat ini turun bagi tawanan yang berasal dari golongan ahli kitab yang sudah tua. Karena tawanan yang berasal dari golongan Majusi dan penyembah berhala, semua dipaksa masuk Islam baik yang tua maupun muda. Ini pendapat Asyhab.” <strong>(Dinukil dari <em>Tafsir Al Qurthubi</em> secara ringkas)</strong></li>
</ol>
<p>Adanya perbedaan pendapat ini juga dipaparkan oleh Ath Thabari dalam <em>Tafsir Ath Thabari</em>, Abu Hatim dalam <em>Tafsir Abi Hatim</em>, Asy Syaukani dalam <em>Fathul Qadhir</em>, dan beberapa ulama ahli tafsir yang lain.</p>
<p>Namun sebagian ulama menafsirkan ayat ini secara <em>mujmal </em>(umum). Sebagaimana Ibnu Katsir dan Ash Shabuni. Ash Shabuni menafsirkan ayat ini, “Tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam karena telah jelas perbedaan antara kebenaran dan kebatilan dan hidayah telah terbedakan dari kesesatan” (<em>Shafwatut Tafasir</em>)</p>
<p>Pendapat yang lebih kuat, <em>wallahu&#8217;alam</em>, sebagaimana yang dikuatkan oleh imam ahli tafsir yang lain, Ibnu Jarir Ath Thabari, setelah memberikan sanggahan terhadap pendapat yang menyatakan ayat ini <em>mansukh </em>(dihapus), beliau menyimpulkan makna ayat, “<em>Sehingga jelas bahwa makna ayat ini adalah: Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam bagi orang kafir yang dikenai jizyah dan telah membayarnya dan mereka ridha terhadap hukum Islam</em>.” (<em>Tafsir Ath Thabari</em>)</p>
<p><strong>Telah Jelas Kebenaran dan Kebatilan</strong></p>
<p>Perbedaan di antara ahli tafsir tersebut masing-masing didasari oleh riwayat-riwayat dari para sahabat, atau dari para ulama tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Sehingga setiap pendapat dapat diterima dan dapat ditoleransi. Jika demikian, andaikan seseorang mengambil pendapat ulama ahli tafsir yang menyatakan bahwa ayat ini tidak <em>mansukh</em> (dihapus) dan menafsirkan ayat ini secara umum, yaitu tidak ada paksaan untuk memeluk Islam bagi siapa pun, sebagaimana Ibnu Katsir dan Ash Shabuni, pendapat ini tetap tidak sejalan dengan konsep pluralisme agama. Sama sekali tidak! Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p>قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ</p>
<p><em>“Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan</em>” (QS. Al Baqarah: 256)</p>
<p>Jelas bahwa pendapat ini menetapkan bahwa telah jelaskan kebenaran Islam dan telah jelaslah kebatilan agama selain Islam. Sehingga orang yang berhati bersih dan memandang dengan jernih tentu akan melihat kebenaran itu dan dengan sendirinya masuk Islam tanpa perlu dipaksa. Sedangkan orang yang enggan masuk Islam seolah-olah ia buta dan tertutup hatinya sehingga tidak dapat melihat kebenaran yang begitu jelas ini.</p>
<p>Ibnu Katsir menyatakan, “Tidak ada yang dipaksa untuk memeluk agama Islam karena telah jelas dan tegas tanda dan bukti kebenaran Islam sehingga tidak perlu lagi memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam. Orang yang diberi hidayah oleh Allah untuk menerima Islam, lapang dadanya dan dicerahkan pandangannya sehingga ia memeluk Islam dengan alasan yang pasti. Namun orang yang hatinya dibutakan oleh Allah dan ditutup hati serta pandangannya, tidak ada manfaatnya memaksa mereka untuk masuk Islam” (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>)</p>
<p>Senada dengan beliau, Ibnu Jarir Ath Thabari juga berkata: “Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kebatilan. Dan telah jelas sudah sisi kebenaran bagi para pencari kebenaran. Dan kebenaran ini telah terbedakan dari kesesatan. Sehingga tidak perlu lagi memaksa para ahli kitab dan orang-orang kafir yang dikenai jizyah untuk memeluk agama Islam, agama yang benar. Dan orang-orang yang berpaling dari kebenaran ini setelah jelas baginya, biarlah Allah yang mengurusnya. <span style="text-decoration: underline;">Sungguh Allahlah yang akan mempersiapkan hukuman bagi mereka di akhirat kelak</span>” (<em>Tafsir Ath Thabari</em>)</p>
<p>Maka jelaslah bahwa tidak memaksa orang kafir untuk memeluk Islam <strong>bukan berarti ridha terhadap kekafiran mereka, bukan membenarkan semua agama yang ada, dan bukan menghilangkan status &#8216;kafir&#8217; dari diri mereka</strong> sebagaimana diklaim oleh para pluralis.</p>
<p><strong>Agama yang Benar Hanya Islam</strong></p>
<p>Satu hal yang wajib dijadikan pegangan setiap muslim, yaitu bahwa ayat-ayat Al Qur&#8217;an tidak ada yang saling bertentangan. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p>أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا</p>
<p>“<em>Apakah kalian tidak mentadabburi Al Qur&#8217;an? Andaikan Al Qu&#8217;an bukan diturunkan dari sisi Allah, tentu akan banyak pertentangan di dalamnya</em>” (QS. An Nisa: 82)</p>
<p>Dan di dalam ayat lain, pemahaman bahwa semua agama sama dan semua agama itu benar telah dibantah oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sendiri. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p>إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ</p>
<p>“<em>Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam</em>” (QS. Al Imran: 19)</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala </em>juga berfirman,</p>
<p>وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi</em>” (QS. Al Imran: 85)</p>
<p>Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan &#8216;Islam&#8217; dalam ayat-ayat ini dengan &#8216;berserah diri&#8217;. Menurut mereka, semua agama itu benar asalkan berserah diri kepada Tuhan. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam,</em></p>
<p>الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا</p>
<p><em>”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no.8)</em></p>
<p><em>Sehingga ber-Islam bukanlah hanya sekedar berserah diri kepada Tuhan, siapapun Tuhan-nya. Namun Islam yang diinginkan oleh Allah </em><em>Ta&#8217;ala </em><em>adalah berserah diri kepada Allah Ta&#8217;ala saja dengan menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan kepada yang lain. Inilah inti ajaran Islam. Rasulullah </em><em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em><em> bersabda,</em></p>
<p>أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله</p>
<p><em>“</em><em>Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah</em><em>” (HR. Bukhari no. 1399, Muslim no. 124)</em></p>
<p><em>Oleh karena itu jelaslah, bahwa tidak memaksa orang kafir untuk masuk Islam bukan berarti tidak mengakui bahwa Islam itu agamanya yang paling benar dan agama yang hanya diridhai oleh Allah </em><em>Ta&#8217;ala</em><em>.</em></p>
<p><em>Dari sini kita pun melihat keanehan dan kelemahan argumen para pluralis, mereka mencomot sebuah dalil namun di sisi lain menginjak-injak dalil yang lain.</em></p>
<p><em><strong>Tidak Memaksa Bukan Tidak Membenci</strong></em></p>
<p>Inti ajaran Islam adalah mengajak umat manusia untuk beribadah kepada Allah <em>Subhanahu Wa Ta&#8217;ala</em> semata. Karena hanya Allah <em>Ta&#8217;ala</em>-lah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah. Allah <em>Ta&#8217;ala</em>-lah Dzat yang paling berhak mendapat kecintaan dan ketundukan terbesar dari setiap manusia. Konsekuensinya, seorang mukmin akan membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah dan kecintaan terhadap sesembahan selain Allah, serta membenci orang-orang yang melakukan demikian. Sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala,</em></p>
<p>لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</p>
<p>&#8220;<em>Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka</em>&#8221; (QS. Al-Mujadalah: 22)</p>
<p>Sebagai bentuk kebencian itu, Allah <em>Ta&#8217;ala </em>juga melarang kaum mu&#8217;minin menjadi teman akrab, merendahkan diri, serta tunduk kepada orang kafir,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, sebagai <span style="text-decoration: underline;">wali</span>. (Yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman</em>” (QS. Al Maidah: 57)</p>
<p>Wali secara bahasa artinya orang yang dicintai, teman akrab, atau penolong (Lihat <em>Qamush Al Muhith</em>). Selain itu, rasa benci terhadap kekufuran ini adalah tuntutan iman dan syarat sempurnanya iman. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>juga bersabda,</p>
<p>من أحب لله ، وأبغض لله ، وأعطى لله ، ومنع لله ، فقد استكمل الإيمان</p>
<p>“<em>Orang yang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna</em>” (HR. Abu Daud no. 4681, di-<em>shahih</em>-kan Al Albani dalam <em>Shahih Sunan Abi Daud</em>)</p>
<p><em>Dengan demikian jelaslah bahwa tidak memaksa orang kafir untuk masuk Islam bukan berarti tidak membenci mereka. Kita tidak memaksa mereka, namun tetap menyimpan rasa benci kepada mereka selama mereka belum mengakui bahwa hanya Allah-lah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah dan memeluk Islam.</em></p>
<p><em>Namun perlu digaris bawahi, rasa benci terhadap kekufuran dan orang kafir wajib ada di hati setiap muslim. Akan tetapi kebencian ini bukan berarti harus menyakiti, menzhalimi atau bahkan membunuh setiap orang kafir yang kita jumpai. Karena dalam aturan Islam, orang kafir dibagi menjadi beberapa jenis, ada yang boleh disakiti dan diperangi, ada pula orang kafir yang haram untuk disakiti dan diperangi. Hal ini telah kami singgung dalam artikel “<strong>Salah Kaprah Memahami Islam Sebagai Rahmatan Lil Alamin</strong>”. Walau demikian tetap tidak boleh memberikan kasih sayang dan loyalitas kepada mereka. </em></p>
<p><em>Demikian penjelasan singkat mengenai tafsir ayat ini. Mudah-mudahan Allah Ta&#8217;ala senantiasa memberikan kita keteguhan hati untuk terus meniti di atas jalan-Nya yang lurus. </em></p>
<p><em>Wabillahi At Taufiq</em><em>.</em></p>
<p><em>Penulis: Yulian Purnama</em></p>
<p><em>Artikel </em><a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1851"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Ftafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-laa-ikraha-fiddiin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam, Rahmatan Lil &#8216;Alamin</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 22:19:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[islam benar]]></category>
		<category><![CDATA[kemudahan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1800</guid>
		<description><![CDATA[Benar bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil &#8216;alamin. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah kaprah. Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Benar bahwa Islam adalah agama yang <em>rahmatan lil &#8216;alamin</em>. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah kaprah. Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah.</p>
<p>Pernyataan  bahwa Islam adalah agamanya yang <em>rahmatan lil &#8216;alamin </em>sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ</p>
<p>“<em>Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia</em>” (QS. Al Anbiya: 107)</p>
<p>Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em> diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah <em>rahmatan lil&#8217;alamin</em>, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.</p>
<p>Secara bahasa,</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">الرَّحْمة: الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ</p>
<p><em>rahmat</em> artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat <em>Lisaanul Arab</em>, Ibnul Mandzur). Atau dengan kata lain <em>rahmat</em> dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em> adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.</p>
<p><strong>Penafsiran Para Ahli Tafsir</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>1. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam <em>Tafsir Ibnul Qayyim</em>:</p>
<p>“Pendapat yang lebih benar dalam menafsirkan ayat ini adalah bahwa rahmat disini bersifat umum. Dalam masalah ini, terdapat dua penafsiran:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Alam semesta secara umum mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>.</p>
<p>Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus.</p>
<p>Orang kafir yang memerangi beliau, manfaat yang mereka dapatkan adalah disegerakannya pembunuhan dan maut bagi mereka, itu lebih baik bagi mereka. Karena hidup mereka hanya akan menambah kepedihan adzab kelak di akhirat. Kebinasaan telah ditetapkan bagi mereka. Sehingga, dipercepatnya ajal lebih bermanfaat bagi mereka daripada hidup menetap dalam kekafiran.</p>
<p>Orang kafir yang terikat perjanjian dengan beliau, manfaat bagi mereka adalah dibiarkan hidup didunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini lebih sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>.</p>
<p>Orang munafik, yang menampakkan iman secara zhahir saja, mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain.</p>
<p>Dan pada umat manusia setelah beliau diutus, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tidak memberikan adzab yang menyeluruh dari umat manusia di bumi. Kesimpulannya, semua manusia mendapat manfaat dari diutusnya Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya. Sehingga bagi orang kafir, Islam tetap dikatakan rahmat bagi mereka, namun mereka enggan menerima. Sebagaimana jika dikatakan &#8216;Ini adalah obat bagi si fulan yang sakit&#8217;. Andaikan fulan tidak meminumnya, obat tersebut tetaplah dikatakan obat”</p>
<p>2. Muhammad bin Ali Asy Syaukani dalam <em>Fathul Qadir</em>:</p>
<p>“Makna ayat ini adalah &#8216;Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan membawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian&#8217;. Dengan kata lain, &#8216;satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu yang menjadi sebab kebahagiaan di akhirat&#8217; ”</p>
<p>3. Muhammad bin Jarir Ath Thabari dalam <em>Tafsir Ath Thabari</em>:</p>
<p>“Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah seluruh manusia yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh manusia baik mu&#8217;min dan kafir? Ataukah hanya manusia mu&#8217;min saja? Sebagian ahli tafsir berpendapat, yang dimaksud adalah seluruh manusia baik mu&#8217;min maupun kafir. Mereka mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas <em>radhiallahu&#8217;anhu </em>dalam menafsirkan ayat ini:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">من آمن بالله واليوم الآخر كتب له الرحمة في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن بالله ورسوله عوفي مما أصاب الأمم من الخسف والقذف</p>
<p>“<em>Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar</em>”</p>
<p>dalam riwayat yang lain:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">تمت الرحمة لمن آمن به في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن به عوفي مما أصاب الأمم قبل</p>
<p>“<em>Rahmat yang sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu</em>”</p>
<p>Pendapat ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang beriman saja. Mereka membawakan riwayat dari Ibnu Zaid dalam menafsirkan ayat ini:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">فهو لهؤلاء فتنة ولهؤلاء رحمة , وقد جاء الأمر مجملا رحمة للعالمين . والعالمون هاهنا : من آمن به وصدقه وأطاعه</p>
<p>“<em>Dengan diutusnya Rasulullah, ada manusia yang mendapat bencana, ada yang mendapat rahmah, walaupun bentuk penyebutan dalam ayat ini sifatnya umum, yaitu sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Seluruh manusia yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang beriman kepada Rasulullah, membenarkannya dan menaatinya</em>”</p>
<p>Pendapat yang benar dari dua pendapat ini adalah pendapat yang pertama, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas. Yaitu Allah mengutus Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em> sebagai rahmat bagi seluruh manusia, baik mu&#8217;min maupun kafir. Rahmat bagi orang mu&#8217;min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>. Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em> memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah. Sedangkan rahmat bagi orang kafir, berupa tidak disegerakannya bencana yang menimpa umat-umat terdahulu yang mengingkari ajaran Allah” (diterjemahkan secara ringkas).</p>
<p>4. Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi dalam <em>Tafsir Al Qurthubi</em></p>
<p>“Said bin Jubair berkata: dari Ibnu Abbas, beliau berkata:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">كان محمد صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع الناس فمن آمن به وصدق به سعد , ومن لم يؤمن به سلم مما لحق الأمم من الخسف والغرق</p>
<p>“<em>Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam adalah rahmat bagi seluruh manusia. Bagi yang beriman dan membenarkan ajaran beliau, akan mendapat kebahagiaan. Bagi yang tidak beriman kepada beliau, diselamatkan dari bencana yang menimpa umat terdahulu berupa ditenggelamkan ke dalam bumi atau ditenggelamkan dengan air</em>”</p>
<p>Ibnu Zaid berkata:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">أراد بالعالمين المؤمنين خاص</p>
<p>“<em>Yang dimaksud &#8216;seluruh manusia&#8217; dalam ayat ini adalah hanya orang-orang yang beriman</em>” ”</p>
<p>5. Ash Shabuni dalam <em>Shafwatut Tafasir</em></p>
<p>“Maksud ayat ini adalah &#8216;Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk&#8217;. Sebagaimana dalam sebuah hadits:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">إنما أنا رحمة مهداة</p>
<p>“<em>Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)</em>” (HR. Al Bukhari dalam <em>Al &#8216;Ilal Al Kabir</em> 369, Al Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;abul Iman</em> 2/596. Hadits ini di-<em>shahih</em>-kan Al Albani dalam <em>Silsilah Ash Shahihah</em>, 490, juga dalam <em>Shahih Al Jami&#8217;</em>, 2345)</p>
<p>Orang yang menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tidak mengatakan &#8216;<em>rahmatan lilmu&#8217;minin</em>&#8216;, namun mengatakan &#8216;<em>rahmatan lil &#8216;alamin</em>&#8216; karena Allah <em>Ta&#8217;ala</em> ingin memberikan <em>rahmat</em> bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para Nabi, Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. <strong>Inilah yang dimaksud <em>rahmat</em> Allah bagi seluruh manusia</strong>. Bahkan orang-orang kafir mendapat manfaat dari <em>rahmat</em> ini, yaitu ditundanya hukuman bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak lagi ditimpa azab berupa diubah menjadi binatang, atau dibenamkan ke bumi, atau ditenggelamkan dengan air”</p>
<p><strong>Pemahaman Yang Salah Kaprah</strong></p>
<p>Permasalahan muncul ketika orang-orang menafsirkan ayat ini secara serampangan, bermodal pemahaman bahasa dan logika yang dangkal. Atau berusaha memaksakan makna ayat agar sesuai dengan hawa nafsunya. Diantaranya pemahaman tersebut adalah:</p>
<p><strong>1. Berkasih sayang dengan orang kafir</strong></p>
<p>Sebagian orang mengajak untuk berkasih sayang kepada orang kafir, tidak perlu membenci mereka, mengikuti acara-acara mereka, enggan menyebut mereka kafir, atau bahkan menyerukan bahwa semua agama sama dan benar, dengan berdalil dengan ayat:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ</p>
<p>“<em>Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta</em>” (QS. Al Anbiya: 107)</p>
<p>Padahal bukan demikian tafsiran dari ayat ini. Allah Ta&#8217;ala menjadikan Islam sebagai <em>rahmat</em> bagi seluruh manusia, namun bentuk <em>rahmat</em> bagi orang kafir bukanlah dengan berkasih sayang kepada mereka. Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk <em>rahmat</em> bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu. Inilah bentuk kasih sayang Allah terhadap orang kafir, dari penjelasan sahabat Ibnu Abbas <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>.</p>
<p>Bahkan konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>, serta membenci orang-orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</p>
<p>&#8220;<em>Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka</em>&#8221; (QS. Al-Mujadalah: 22)</p>
<p>Namun perlu dicatat, harus membenci bukan berarti harus membunuh, melukai, atau menyakiti orang kafir yang kita temui. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam tafsir beliau di atas, bahwa ada orang kafir yang wajib diperangi, ada pula yang tidak boleh dilukai.</p>
<p>Menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai dalil pluralisme agama juga merupakan pemahaman yang menyimpang. Karena ayat-ayat Al Qur&#8217;an tidak mungkin saling bertentangan. Bukankah Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sendiri yang berfirman:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ</p>
<p>“<em>Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam</em>” (QS. Al Imran: 19)</p>
<p>Juga firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi</em>” (QS. Al Imran: 85)</p>
<p>Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan &#8216;Islam&#8217; dalam ayat-ayat ini dengan &#8216;berserah diri&#8217;. Jadi semua agama benar asalkan berserah diri kepada Tuhan, kata mereka. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا</p>
<p><em>”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no.8)</em></p>
<p><em>Justru surat Al Anbiya ayat 107 ini adlalah bantahan telak terhadap pluralisme agama. Karena ayat ini adalah dalil bahwa semua manusia di muka bumi wajib memeluk agama Islam. Karena Islam itu &#8216;</em><em>lil alamin</em><em>&#8216;, diperuntukkan bagi seluruh manusia di muka bumi. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim di atas: “Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya”.</em></p>
<p><strong>2. Berkasih sayang dalam kemungkaran</strong></p>
<p>Sebagian kaum muslimin membiarkan orang-orang meninggalkan shalat, membiarkan pelacuran merajalela, membiarkan wanita membuka aurat mereka di depan umum bahkan membiarkan praktek-praktek kemusyrikan dan enggan menasehati mereka karena khawatir para pelaku maksiat tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian berkata : “Islam <em>khan rahmatan lil&#8217;alamin</em>, penuh kasih sayang”. Sungguh aneh.</p>
<p>Padahal bukanlah demikian tafsir surat Al Anbiya ayat 107 ini. Islam sebagai <em>rahmat</em> Allah bukanlah bermakna berbelas kasihan kepada pelaku kemungkaran dan membiarkan mereka dalam kemungkarannya. Sebagaiman dijelaskan Ath Thabari dalam tafsirnya di atas, “Rahmat bagi orang mu&#8217;min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>. Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam </em>memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah”.</p>
<p>Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mu&#8217;min adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perinta-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai <em>jannah</em>. Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan.</p>
<p>Dan sikap <em>rahmat </em>pun diperlukan dalam mengingkari maksiat. Sepatutnya pengingkaran terhadap maksiat mendahulukan sikap lembut dan penuh kasih sayang, bukan mendahulukan sikap kasar dan keras. Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam </em>bersabda:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه . ولا ينزع من شيء إلا شانه</p>
<p>“<em>Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasnya. Tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya</em>” (HR. Muslim no. 2594)</p>
<p><strong>3. Berkasih sayang dalam penyimpangan beragama</strong></p>
<p>Adalagi yang menggunakan ayat ini untuk melegalkan berbagai bentuk bid&#8217;ah, syirik dan <em>khurafat</em>. Karena mereka menganggap bentuk-bentuk penyimpangan tersebut adalah perbedaan pendapat yang harus ditoleransi sehingga merekapun berkata: “Biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami, bukankah Islam <em>rahmatan lil&#8217;alamin</em>?”. Sungguh aneh.</p>
<p>Menafsirkan rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107 dengan kasih sayang dan toleransi terhadap semua pemahaman yang ada pada kaum muslimin, adalah penafsiran yang sangat jauh. Tidak ada ahli tafsir yang menafsirkan demikian.</p>
<p>Perpecahan ditubuh ummat menjadi bermacam golongan adalah fakta, dan sudah diperingatkan sejak dahulu oleh Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>. Dan orang yang mengatakan semua golongan tersebut itu benar dan semuanya dapat ditoleransi tidak berbeda dengan orang yang mengatakan semua agama sama. Diantara bermacam golongan tersebut tentu ada yang benar dan ada yang salah. Dan kita wajib mengikuti yang benar, yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>. Bahkan Ibnul Qayyim mengatakan tentang <em>rahmat </em>dalam surat Al Anbiya ayat 107: “Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus”. Artinya, Islam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada orang yang mengikuti golongan yang benar yaitu yang mau mengikuti ajaran Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>.</p>
<p>Pernyataan &#8216;biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami&#8217; hanya <strong>berlaku kepada orang kafir</strong>. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Kaafirun:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ</p>
<p>“<em>Katakanlah: &#8216;Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. <strong>Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku</strong></em>&#8216;”</p>
<p>Sedangkan kepada sesama muslim, tidak boleh demikian. Bahkan wajib menasehati bila saudaranya terjerumus dalam kesalahan. Yang dinasehati pun sepatutnya lapang menerima nasehat. Bukankah orang-orang beriman itu saling menasehati dalam kebaikan?</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ</p>
<p>“<em>Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan <strong>nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran</strong> dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran</em>” (QS. Al &#8216;Ashr: 1 – 3)</p>
<p>Dan menasehati orang yang berbuat menyimpang dalam agama adalah bentuk kasih sayang kepada orang tersebut. Bahkan orang yang mengetahui saudaranya terjerumus ke dalam penyimpangan beragama namun mendiamkan, ia mendapat dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها كمن غاب عنها . ومن غاب عنها فرضيها ، كان كمن شهدها</p>
<p>“<em>Jika engkau mengetahui adanya sebuah kesalahan (dalam agama) terjadi dimuka bumi, orang yang melihat langsung lalu mengingkarinya, ia sama seperti orang yang tidak melihat langsung (tidak dosa). Orang yang tidak melihat langsung namun ridha terhadap kesalahan tersebut, ia sama seperti orang yang melihat langsung (mendapat dosa)</em>” (HR. Abu Daud no.4345, dihasankan Al Albani dalam <em>Shahih Sunan Abi Daud</em>)</p>
<p>Perselisihan pendapat pun tidak bisa dipukul-rata bahwa semua pendapat bisa ditoleransi. Apakah kita mentoleransi sebagian orang sufi yang berpendapat shalat lima waktu itu tidak wajib bagi orang yang mencapai tingkatan tertentu? Atau sebagian orang <em>kejawen</em> yang menganggap shalat itu yang penting &#8216;ingat Allah&#8217; tanpa harus melakukan shalat? Apakah kita mentoleransi pendapat Ahmadiyyah yang mengatakan bahwa berhaji tidak harus ke Makkah? Tentu tidak dapat ditoleransi. Jika semua pendapat orang dapat ditoleransi, hancurlah agama ini. Namun pendapat-pendapat yang berdasarkan dalil <em>shahih</em>, cara berdalil yang benar, menggunakan kaidah para ulama, barulah dapat kita toleransi.</p>
<p><strong>4. Menyepelekan permasalahan aqidah</strong></p>
<p>Dengan menggunakan ayat ini, sebagian orang menyepelekan dan enggan mendakwahkan aqidah yang benar. Karena mereka menganggap mendakwahkan aqidah hanya akan memecah-belah ummat dan menimbulkan kebencian sehingga tidak sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah <em>rahmatan lil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>Renungkanlah perkataan Ash Shabuni dalam menafsirkan <em>rahmatan lil &#8216;alamin</em>: “Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em> memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia”. Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em> menjadi <em>rahmat</em> bagi seluruh manusia karena beliau membawa ajaran tauhid. Karena manusia pada masa sebelum beliau diutus berada dalam kesesatan berupa penyembahan kepada sesembahan selain Allah, walaupun mereka menyembah kepada Allah juga. Dan inilah inti ajaran para Rasul. Sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</p>
<p>“<em>Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8216;Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut&#8217;</em> &#8221; (QS. An Nahl: 36)</p>
<p>Selain itu, bukankah masalah aqidah ini yang dapat menentukan nasib seseorang apakah ia akan kekal di neraka atau tidak? Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">نَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun</em>” (QS. Al Maidah: 72)</p>
<p>Oleh karena itu, adakah yang lebih urgen dari masalah ini?</p>
<p>Kesimpulannya, justru dakwah tauhid, seruan untuk beraqidah yang benar adalah bentuk <em>rahmat</em> dari Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Karena dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em> adalah <em>rahmat</em> Allah, maka bagaimana mungkin menjadi sebab perpecahan ummat? Justru kesyirikanlah yang sebenarnya menjadi sebab perpecahan ummat. Sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 22px; text-align: center;">وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ</p>
<p>“<em>Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka</em>” (QS. Ar Ruum: 31-32)</p>
<p><strong>Pemahaman Yang Benar </strong></p>
<p>Berdasarkan penafsiran para ulama ahli tafsir yang terpercaya, beberapa faedah yang dapat kita ambil dari ayat ini adalah:</p>
<ol>
<li>Di utusnya Nabi Muhammad <em>Shallallahu      &#8216;alaihi Wa sallam</em> sebagai Rasul Allah adalah bentuk kasih sayang Allah      kepada seluruh manusia.</li>
</ol>
<ol>
<li>Seluruh manusia di muka bumi      diwajibkan memeluk agama Islam.</li>
</ol>
<ol>
<li>Hukum-hukum syariat dan      aturan-aturan dalam Islam adalah bentuk kasih sayang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> kepada makhluk-Nya.</li>
</ol>
<ol>
<li>Seluruh manusia mendapat manfaat      dengan diutusnya Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em></li>
</ol>
<ol>
<li><em>Rahmat </em>yang sempurna hanya didapatkan oleh orang yang beriman kepada      ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em></li>
</ol>
<ol>
<li>Seluruh manusia mendapat manfaat      dengan diutusnya Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>.</li>
</ol>
<ol>
<li>Orang yang beriman kepada ajaran      yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>,      membenarkan beliau serta taat kepada beliau, akan mendapatkan kebahagiaan      di dunia dan akhirat.</li>
</ol>
<ol>
<li>Orang kafir yang memerangi Islam      juga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi      Wa sallam</em>, yaitu dengan diwajibkannya perang melawan mereka. Karena      kehidupan mereka didunia lebih lama hanya akan menambah kepedihan siksa      neraka di akhirat kelak.</li>
</ol>
<ol>
<li>Orang kafir yang terikat      perjanjian dengan kaum musliminjuga mendapat <em>rahmat</em> dengan      diutusnya Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>. Yaitu dengan      dilarangnya membunuh dan merampas harta mereka.</li>
</ol>
<ol>
<li>Secara umum, orang kafir mendapat      rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em> berupa dihindari dari adzab yang menimpa umat-umat terdahulu yang      menentang Allah. Sehingga setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu      &#8216;alaihi Wa sallam, tidak akan ada kaum kafir yang diazab dengan cara      ditenggelamkan seluruhnya atau dibenamkan ke dalam bumi seluruhnya atau      diubah menjadi binatang seluruhnya.</li>
</ol>
<ol>
<li>Orang munafik yang mengaku beriman      di lisan namun ingkar di dalam hati juga mendapat <em>rahmat</em> dengan      diutusnya Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wa sallam</em>. Mereka      mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan      mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam      hukum waris dan hukum yang lain. Namun di akhirat kelak Allah akan      menempatkan mereka di dasar neraka Jahannam.</li>
</ol>
<ol>
<li>Pengutusan Nabi Muhammad <em>Shallallahu      &#8216;alaihi Wa sallam </em>menjadi <em>rahmat </em>karena beliau telah memberikan      pencerahan kepada manusia yang awalnya dalam kejahilan dan memberikan      hidayah kepada manusia yang awalnya berada dalam kesesatan berupa      peribadatan kepada selain Allah.</li>
</ol>
<ol>
<li>Sebagian ulama berpendapat, rahmat      dalam ayat ini diberikan juga kepada orang kafir namun mereka menolaknya.      Sehingga hanya orang mu&#8217;min saja yang mendapatkannya.</li>
</ol>
<ol>
<li>Sebagain ulama berpendapat, rahmat      dalam ayat ini hanya diberikan orang mu&#8217;min.</li>
</ol>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala senantiasa melimpahkan <em>rahmat</em>-Nya kepada kita semua, yang dengan sebab <em>rahmat</em>-Nya tersebut kita dikumpulkan di dalam Jannah-Nya.</p>
<p><em>Alhamdulillahiladzi bini&#8217;matihi tatimmush shalihat..</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1800"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fislam-rahmatan-lil-alamin.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Ayat Kursi</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-kursi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-kursi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 05:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1303</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan Ayat Kursi Semua surat dalam al-Qur&#8217;an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah ta&#8217;ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-kursi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Keutamaan Ayat Kursi</strong></p>
<p>Semua surat dalam al-Qur&#8217;an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah ta&#8217;ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain. Surat yang paling agung adalah surat al-Fatihah, sedangkan ayat yang paling agung adalah ayat kursi, yaitu di surat Al-Baqarah, ayat 255. Yang akan kita pelajari bersama dalam kesempatan ini adalah ayat kursi.</p>
<p><span id="more-1303"></span></p>
<p>Ubay bin Ka&#8217;b <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Wahai Abul Mundzir (gelar kunyah Ubay), tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?&#8221;</em></p>
<p>Aku menjawab, <em>&#8220;Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.&#8221;</em></p>
<p>Beliau berkata, <em>&#8220;Wahai Abul Mundzir, Tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?&#8221;</em></p>
<p>Aku pun menjawab,</p>
<p>اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ</p>
<p>Maka beliau memukul dadaku dan berkata, <em>&#8220;Demi Allah, selamat atas ilmu (yang diberikan Allah kepadamu) wahai Abul Mundzir.&#8221;</em> (HR. Muslim no. 810)</p>
<p>Dalam kisah Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata,</p>
<p><em>&#8220;Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.&#8221;</em></p>
<p>Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>, beliau berkata,</p>
<p><em>&#8220;Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.&#8221;</em> (HR. al-Bukhari no. 2187)</p>
<p>Dalam kisah lain yang mirip dengan kisah di atas dan diriwayatkan Ubay bin Ka&#8217;b <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, disebutkan bahwa si jin mengatakan:</p>
<p>مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi sampai sore.&#8221;</em> (HR. ath-Thabrani no. 541, dan al-Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus)</p>
<p>Dalam hadits yang lain, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ، إِلا الْمَوْتُ</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian.&#8221;</em> (HR. ath-Thabrani no. 7532, dihukumi shahih oleh al-Albani)</p>
<p>Disunnahkan membaca ayat ini setiap (1) selesai shalat wajib, (2) pada dzikir pagi dan sore, (3) juga sebelum tidur.</p>
<p><a title="tafsir ayat kursi" href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-kursi.html"><strong>Tafsir Ayat Kursi</strong></a></p>
<p>اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ</p>
<p><em>&#8220;Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk).&#8221;</em></p>
<p>Allah adalah nama yang paling agung milik Allah ta&#8217;ala. Allah mengawali ayat ini dengan menegaskan kalimat tauhid yang merupakan intisari ajaran Islam dan seluruh syariat sebelumnya. Maknanya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Konsekuensinya tidak boleh memberikan ibadah apapun kepada selain Allah.</p>
<p><em>Al-Hayyu</em> dan <em>al-Qayyum</em> adalah dua di antara al-Asma&#8217; al-Husna yang Allah miliki. <em>Al-Hayyu</em> artinya Yang hidup dengan sendirinya dan selamanya. <em>Al-Qayyum</em> berarti bahwa semua membutuhkan-Nya dan semua tidak bisa berdiri tanpa Dia. Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman as-Sa&#8217;di mengatakan bahwa kedua nama ini menunjukkan seluruh al-Asma&#8217; al-Husna yang lain.</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa <em>al-Hayyul Qayyum</em> adalah nama yang paling agung. Pendapat ini dan yang sebelumnya adalah yang terkuat dalam masalah apakah nama Allah yang paling agung, dan semua nama ini ada di ayat kursi.</p>
<p>لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ</p>
<p><em>&#8220;Dia Tidak mengantuk dan tidak tidur.&#8221;</em></p>
<p>Maha Suci Allah dari segala kekurangan. Dia selalu menyaksikan dan mengawasi segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi darinya, dan Dia tidak lalai terhadap hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Allah mendahulukan penyebutan kantuk, karena biasanya kantuk terjadi sebelum tidur.</p>
<p>Barangkali ada yang mengatakan, &#8220;Menafikan kantuk saja sudah cukup sehingga tidak perlu menyebut tidak tidur; karena jika mengantuk saja tidak, apalagi tidur.&#8221;</p>
<p>Akan tetapi, Allah menyebut keduanya, karena bisa jadi (1) orang tidur tanpa mengantuk terlebih dahulu, dan (2) orang bisa menahan kantuk, tetapi tidak bisa menahan tidur. Jadi, menafikan kantuk tidak berarti otomatis menafikan tidur.</p>
<p>لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ</p>
<p><em>&#8220;Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.&#8221;</em></p>
<p>Semesta alam ini adalah hamba dan kepunyaan Allah, serta di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bisa menjalankan suatu kehendak kecuali dengan kehendak Allah.</p>
<p>مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ</p>
<p><em>&#8220;Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.&#8221;</em></p>
<p>Memberi syafaat maksudnya menjadi perantara bagi orang lain dalam mendatangkan manfaat atau mencegah bahaya. Inti syafaat di sisi Allah adalah doa. Orang yang mengharapkan syafaat Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> berarti mengharapkan agar Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa salla</em>m mendoakannya di sisi Allah. Ada syafaat yang khusus untuk Nabi Muhammad, seperti syafaat untuk dimulainya hisab di akhirat, dan syafaat bagi penghuni surga agar pintu surga dibukakan untuk mereka. Ada yang tidak khusus untuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>, seperti syafaat bagi orang yang berhak masuk neraka agar tidak dimasukkan ke dalamnya, dan syafaat agar terangkat ke derajat yang lebih tinggi di surga.</p>
<p>Jadi, seorang muslim bisa memberikan syafaat untuk orang tua, anak, saudara atau sahabatnya di akhirat. Akan tetapi, syafaat hanya diberikan kepada orang yang beriman dan meninggal dalam keadaan iman. Disyaratkan dua hal untuk mendapatkannya, yaitu:</p>
<ol>
<li>Izin Allah untuk orang yang memberi syafaat.</li>
<li>Ridha Allah untuk orang yang diberi syafaat.</li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, seseorang tidak boleh meminta syafaat kecuali kepada Allah. Selain berdoa, hendaknya kita mewujudkan syarat mendapat syafaat; dengan meraih ridha Allah. Tentunya dengan menaatiNya menjalankan perintahNya semampu kita, dan meninggalkan semua laranganNya.</p>
<p>يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ</p>
<p><em>&#8220;Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.&#8221;</em></p>
<p>Ini adalah dalil bahwa ilmu Allah meliputi seluruh makhluk, baik yang ada pada masa lampau, sekarang maupun yang akan datang. Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan yang akan terjadi, bahkan hal yang ditakdirkan tidak ada, bagaimana wujudnya seandainya ada. Ilmu Allah sangat sempurna.</p>
<p>وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ</p>
<p><em>&#8220;Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali dengan apa yang dikehendaki-Nya.&#8221;</em></p>
<p>Tidak ada yang mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah ajarkan. Demikian pula ilmu tentang dzat dan sifat-sifat Allah. Kita tidak punya jalan untuk menetapkan suatu nama atau sifat, kecuali yang Dia kehendaki untuk ditetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits.</p>
<p>وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ</p>
<p><em>&#8220;Kursi Allah meliputi langit dan bumi.&#8221;</em></p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> menafsirkan kursi dengan berkata:</p>
<p>الكُرْسيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ</p>
<p><em>&#8220;Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah.&#8221;</em> (HR. al-Hakim no. 3116, di hukumi shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi)</p>
<p>Ahlussunnah menetapkan sifat-sifat seperti ini sebagaimana ditetapkan Allah dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em>, sesuai dengan kegungan dan kemuliaan Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.</p>
<p>Ayat ini menunjukkan besarnya kursi Allah dan besarnya Allah. Dalam sebuah hadits, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْع مَعَ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْض فَلاَةٍ</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang.&#8221;</em> (HR. Ibnu Hibban no.361, dihukumi shahih oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)</p>
<p>وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا</p>
<p><em>&#8220;Dan Allah tidak terberati  pemeliharaan keduanya.&#8221;</em></p>
<p>Seorang ibu, tentu merasakan betapa lelahnya mengurus rumah sendirian. Demikian juga seorang kepala desa, camat, bupati, gubernur atau presiden dalam mengurus wilayah yang mereka pimpin. Namun, tidak demikian dengan Allah yang Maha Kuat. Pemeliharaan langit dan bumi beserta isinya sangat ringan bagi-Nya. Segala sesuatu menjadi kerdil dan sederhana di depan Allah.</p>
<p>وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ</p>
<p><em>&#8220;Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.&#8221;</em></p>
<p>Allah memiliki kedudukan yang tinggi, dan dzat-Nya berada di ketinggian, yaitu di atas langit (di atas singgasana). Dalam sebuah hadits, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bertanya kepada seorang budak perempuan: <em>&#8220;Di mana Allah?&#8221;</em></p>
<p>Ia menjawab, <em>&#8220;Di langit.&#8221;</em></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bertanya, <em>&#8220;Siapa saya?&#8221;</em></p>
<p>Ia menjawab, <em>&#8220;Engkau adalah Rasulullah.&#8221;</em></p>
<p>Maka, Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> berkata kepada majikannya (majikan budak perempuan tersebut -ed), <em>&#8220;Bebaskanlah ia, karena sungguh dia beriman!&#8221;</em> (HR. Muslim no. 537)</p>
<p>Jelaslah bahwa keyakinan sebagian orang bahwa Allah ada dimana-mana bertentangan dengan al-Qur&#8217;an dan al-Hadits.</p>
<p>Demikian pula Allah memiliki kedudukan yang agung dan dzatnya juga agung sebagaimana ditunjukkan oleh keagungan kursiNya dalam ayat ini.</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<ol>
<li>Semua ayat al-Qur&#8217;an agung. Adapun ayat yang paling agung adalah ayat kursi.</li>
<li>Disunnahkan untuk membaca ayat ini setiap selesai shalat wajib, pada dzikir pagi dan sore, dan sebelum tidur.</li>
<li>Penegasan kalimat tauhid.</li>
<li>Arti <em>al-Hayyu</em> dan <em>al-Qayyum</em> yang menunjukkan seluruh nama Allah yang lain.</li>
<li>Semua bentuk  kekurangan harus dinafikan dari Allah.</li>
<li>Arti syafaat dan syarat memperolehnya.</li>
<li>Ilmu Allah sangat sempurna.</li>
<li>Kita hanya menetapkan untuk Allah nama dan sifat  yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya, tanpa menyerupakannya dengan nama dan sifat makhluk.</li>
<li>Arti dan keagungan kursi Allah.</li>
<li>Ketinggian dan keagungan Allah dalam dzat dan kedudukan.</li>
<li>Kesalahan orang yang mengatakan Allah ada di mana-mana.</li>
<li>Penetapan banyak nama dan sifat Allah yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.</li>
</ol>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol>
<li><em>Al-Quran dan  Terjemahnya</em></li>
<li><em>Tafsir Ibnu Katsir</em></li>
<li><em>Fathul Qadir</em>, asy-Syaukani</li>
<li><em>Taysirul Karimir Rahman</em>, Abdurrahman as-Sa&#8217;di</li>
<li><em>Shahih al-Bukhari</em></li>
<li><em>Shahih Muslim</em></li>
<li><em>Al-Mu&#8217;jam al-Kabir</em>, ath-Thabrani</li>
<li><em>al-Mustadrak</em>, al-Hakim.</li>
<li><em>Shahih Ibnu Hibban</em></li>
<li><em>Shahih Targhib wa Tarhib</em>, al-Albani</li>
<li><em>Silsilah Ahadits Shahihah</em>, al-Albani</li>
<li><em>Fathul Majid</em>, Abdurrahman bin Hasan</li>
<li><em>Fiqhul Asma&#8217;il Husna</em>, Abdurrazzaq al-Badr</li>
<li><em>Al-Qamus al-Muhith</em>, al-Fairuzabadi</li>
</ol>
<p>Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi berkata: <em>&#8220;&#8230;tiada kehidupan untuk hati, tidak ada kesenangan dan ketenangan baginya, kecuali dengan mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma&#8217;, Sifat dan Af&#8217;al (perbuatan)-Nya, dan seiring dengan itu mencintai-Nya lebih dari yang lain, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya tanpa yang lain&#8230;&#8221; </em>(<em>Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah</em>)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.<br />
Artikel <a title="tafsir ayat kursi" href="http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-kursi.html" target="_blank">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1303"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Ftafsir-ayat-kursi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-kursi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Keajaiban Khamar</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/di-balik-keajaiban-khamar.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/di-balik-keajaiban-khamar.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 23:50:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=872</guid>
		<description><![CDATA[Brewing. Demikian pembuatan khamar sering disebut, minuman haram yang banyak diminati di dunia bagi orang kafir, dan paling dihindari oleh orang-orang yang takut kepada Allah. Tetapi di dalamnya terdapat dua hal yang berlawanan. Di satu<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/di-balik-keajaiban-khamar.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Brewing</em>. Demikian pembuatan khamar sering disebut, minuman haram yang banyak diminati di dunia bagi orang kafir, dan paling dihindari oleh orang-orang yang takut kepada Allah. Tetapi di dalamnya terdapat dua hal yang berlawanan. Di satu sisi khamar adalah barang yang berbahaya tapi di dalamnya juga terdapat keajaiban Allah seperti disebut dalam Al Qur&#8217;an surat An Nahl ayat 67. Dan ternyata keajaiban di dalamnya ini diakui, baik oleh orang kafir yang mengonsumsi dan membuatnya maupun orang Islam yang berusaha memahami Quran dan tanda-tanda kebesaran Allah di dalam ciptaan-Nya.<br />
<span id="more-872"></span><br />
Pada acara &#8220;What&#8217;s that about?&#8221; dalam Discovery Science membahas tentang bagaimana proses pembuatan bir dalam jumlah jutaan botol setiap tahun, yang dalam proses pembuatan ini harus menghasilkan bir dengan rasa yang sama dan tidak berubah pada setiap botolnya. Untuk pembuatan dalam jumlah sedikit tentu hal ini tidak akan menjadi masalah, tapi bila jumlah jutaan tentunya akan sangat sulit.</p>
<p>Kita bisa mengambil hikmah dari acara ini yang ternyata intinya adalah menjelaskan kebenaran Al Quran surat An Nahl ayat 67.  Allah Ta&#8217;ala berfirman, yang artinya, <em>&#8220;Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.&#8221;</em></p>
<p>Mengapa dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa terdapat tanda kebesaran Allah padahal minuman ini memabukkan dan haram? Diketahui ternyata cara pembuatannya membutuhkan kecanggihan dan teknologi yang tinggi, yang saat ini dibuat oleh orang-orang kafir. Dan hal ini tidak kita temukan dalam pembuatan minuman yang lain seperti teh, kopi, cendol, dll.</p>
<p>Sehingga tidak mengherankan pula bahwa khamar (yang tidak memabukkan)  juga akan menjadi minuman di surga nanti. Subhanallah.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman, yang artinya,  <em>&#8220;Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. (warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.&#8221;</em> (Qs. Ash Shaaffaat 45-47)</p>
<p><em>&#8220;Mereka diberi minum dari &#8216;rohiq&#8217; yang dilak (tempatnya)&#8230;&#8221;</em> (Qs. Al Muthafifin 25). &#8216;Rohiq&#8217; maknanya adalah khamar yang bersih dari kotoran (<em>Tafsir Jalalain</em> halaman 599)</p>
<p>Mari sedikit kita cermati proses pembuatannya.<br />
Dalam proses pembuatan bir atau minuman anggur ternyata memerlukan tahap-tahap yang sangat kritis dan memerlukan peralatan yang benar-benar harus sempurna. Apalagi untuk membuat jutaan botol berisi khamar dengan rasa dan bau yang sama.</p>
<p>Perlu diketahui prinsip <em>brewing</em> adalah yeast akan merubah glukosa menjadi alkohol dan karbondioksida. Kalau kita amati dalam bahasa Arab &#8216;<em>sukkaru</em>&#8216; berarti <em>manis</em> dan &#8216;<em>sukaaraa</em>&#8216; berarti <em>yang memabukkan</em>. Ternyata minuman yang memabukkan tersebut memang berasal dari glukosa/gula yang diubah menjadi alkohol dan karbondioksida oleh yeast/ragi.</p>
<p>Ada 7 tahap pada proses yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. Memerlukan kontrol komputer yang sangat ketat. Kontrol ini meliputi suhu, waktu, buih, tangki, dan pembersihan tangkinya. Bahkan oleh para pembuatnya proses ini dikatakan &#8220;<em>as a magic</em>&#8220;.</p>
<p>Suhu pembuatan, waktu pencampuran, fermentasi harus benar-benar tepat, buihnya pada saat memproses bir ini harus sempurna, tangki serta pipa harus memiliki persyaratan yang sangat ketat. Tangki dan pipa aluminium harus benar-benar halus, rata seperti gelas/kaca, tangki-tangki ini dibuat secara khusus oleh perusahaan tersendiri. Akurasi pemotongan pipa untuk sambungannya adalah 1:1000 mm, dengan pengelasan/<em>welding</em> khusus untuk menghasilkan sambungan yang benar-benar rata dan halus.</p>
<p>Setelah tangki dan pipa selesai masih harus dicek dengan <em>endoscopy</em> untuk memastikan kehalusan permukaan dalam pipa dan tangki tersebut. Kekasaran permukaan tangki dan pipa sangat kecil dengan toleransi 1/10 ketebalan kertas fotocopy. Kekasaran yang lebih dari batas ini ataupun &#8216;<em>microscopic roughness</em>&#8216; bisa menyebabkan tumbuhnya mikroorganisme/bakteri yang akan menganggu proses fermentasi. Di sisi luar tangki, perlu diselubungi dengan jaket (suatu bahan logam lain yg menutupi/melindungi tangki) untuk melindungi suhu tangki dari pengaruh panas/udara luar.  Karena tinggi dan rendahnya temperatur akan menghasilkan rasa dan warna bir yang berbeda.</p>
<p>Selain itu diperlukan ahli kimia khusus untuk membersihkan tangki dan pipa sebelum digunakan. Dengan proses pembersihan yang sangat rumit dan sangat teliti untuk memastikan pipa dan tangki (terutama bagian dalam) benar-benar bersih dan steril. Pembersihan ini sangat diperlukan ntuk menghindari bakteri. Sama halnya dengan kriteria kehalusan dan kelicinan permukaan dalam pipa, tangki dan sambungannya, juga untuk menghindari timbul dan berkembangnya bakteri. Bakteri ini sebenarnya tidak berbahaya bagi peminumnya (mengingat bir ini akhirnya akan mengandung/menghasilkan alkohol) tetapi sangat berpengaruh pada rasa yaitu mengakibatkan rasa bir menjadi hambar (menurut pengkonsumsi bir), karena bakteri dan sinar matahari akan menyebabkan terjadinya pemecahan molekul sehingga rasa bir menjadi tidak enak. Selain itu penambahan nitrogen pada bir kadang diperlukan untuk mengubah tekstur bir, sehingga warna botol penyaji minuman ini pun khusus, biasanya berwarna hijau.</p>
<p>Untuk saran penyajiannya disarankan menggunakan gelas kaca yang benar-benar halus dan harus benar-benar bersih, serta disimpan di tempat yang bebas debu. Botol-botol untuk tempat bir dalam perusahaan pembuatnya, diukur dan diperiksa dengan sangat teliti menggunakan scanning computer yang diproses dengan image prosessing untuk mendeteksi adanya ketidaksempurnaan/kecacatan botol yang walaupun hanya sangat kecil. Botol yang tidak lolos akan di-recycle. Pengukuran dan persyaratan dalam range yang sangat ketat, mendekati exact.  Hanya botol-botol yang sempurna dan lolos persyaratan tinggi itulah yang bisa digunakan. Selain itu warna kaca botol juga akan mempengaruhi rasa dari bir tersebut.</p>
<p>Saudaraku, ternyata Allah Ta&#8217;ala berfirman di dalam Al Qur&#8217;an surat Al Insaan 16, yang artinya, <em>&#8220;(yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya.&#8221;</em></p>
<p>Di surga, minuman tersebut ditempatkan pada gelas kaca yang telah diukur dengan ketepatan yang <em>exact</em>, ketepatan ukuran yang sudah pasti, karena di dunia pun orang kafir sudah tahu bahwa pengukuran yang tidak tepat dari gelas untuk minum alkohol akan mengubah rasa dan teksturnya.</p>
<p>Diungkapkan pula bahwa pembuatan bir-bir tersebut menggunakan resep-resep yang sudah berumur ratusan tahun. Ada banyak resep dengan berbagai macam campuran untuk menghasilkan cita rasa yang berbeda.  Perbedaan waktu fermentasi dan suhu akan menghasilkan khamar yang berbeda, baik dari rasa maupun warna, apalagi berbeda campuran atau bahan-bahan yang dipakai. Campuran yang dipakai misalnya bunga-bunga tertentu, biji-bijian, madu, kopi, kurma dan sebagainya yang biasanya sangat dirahasiakan oleh pabriknya.</p>
<p>Tetapi Allah telah memilihkan minuman bagi orang beriman di surga dengan campuran yang khusus. Sebagai minuman surga, <a title="Keajaiban khamar" href="http://muslim.or.id/al-quran/keajaiban-khamar.html">khamar</a> juga disebutkan mempunyai bermacam-macam campuran yang pastinya lebih nikmat, resep yang tiada tandingannya dan merupakan minuman pilihan. Di dalam Al Qur&#8217;an surat Al Insaan ayat 17-18 campurannya jahe yang diperoleh dari sungai Salsabila di surga, di Al Qur&#8217;an surat Al Muthafifin ayat 27 campuran dari mata air Tasnin, dan di Al Qur&#8217;an surat Al Muthafifin ayat 6 campuran air Kaafur.</p>
<p>Ternyata untuk membuat bir dalam jumlah banyak dengan rasa dan bau yang sama untuk setiap botolnya memerlukan proses yang sangat sulit. Perlu pengontrolan yang ketat, teknik pembuatan yang sangat canggih, teknik pembersihan pipa dan tangki yang sempurna, serta suhu yang tepat, waktu fermentasi yang tepat, dan botol yang sempurna. Jadi, untuk membuat minuman tersebut mempunyai rasa dan bau yang sama tidaklah mudah. Bahkan sangatlah sulit. Oleh karena itu, mengapa di dalam Al Quran Allah menyatakan bahwa minuman di surga tiada berubah rasa dan baunya? Karena salah satu yang kita tahu saat ini, ternyata untuk membuat demikian adalah sangat sulit dan diperlukan teknologi yang canggih.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman, yang artinya, <em>&#8220;(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya.&#8221;</em> (Qs. Muhammad: 15)</p>
<p>Bir ini bisa tahan sampai ratusan tahun, semakin lama botol ini disimpan akan semakin mahal dan katanya semakin lezat, sehingga sebuah perusahaan bir menyimpan bir-bir ini dalam terowongan bawah tanah sepanjang 6 mil dengan sistem pengendalian suhu yang canggih. Bahkan ada botol-botol yang tersimpan dalam kapal kuno yang tenggelam ratusan tahun dan berhasil diangkat oleh manusia rasanya semakin &#8216;enak&#8217;.</p>
<p>Perusahaan bir terbesar di dunia Anheuser-Busch InBev &#8220;Budweiser&#8221; memproduksi ratusan juta barrels per-tahunnya. Belum lagi perusahaan-perusahaan lainnya. Produksi yang sangat besar dan ternyata pengkonsumsinya pun sangat banyak. Padahal Khamar/minuman beralkohol ini sangat sulit proses pembuatannya, perlu ketelitian, faktor ketepatan yang tinggi, perlu teknologi yang canggih, memerlukan waktu yang lama, mahal, tidak menyehatkan dan merusak tubuh, menurut pengalaman peminum rasanya pahit, untuk menyajikannya perlu gelas diukur dengan baik dan bersih&#8230;</p>
<p>Betapa sulitnya untuk mendapatkan dan minum bir ini&#8230; padahal, hal tersebut dilarang oleh Allah. Allah menyatakannya sebagai minuman/makanan yang haram. Tetapi manusia tetap bersusah payah mengusahakannya, walau dengan biaya besar dan memeras otak, hanya untuk menghasilkan dan mengkonsumsi minuman haram&#8230; Sehingga tampaklah bahwa sebenarnya Syaitan berandil di dalamnya, dan tipu daya Syaitan itu sebenarnya lemah. Akan tetapi karena hawa nafsu manusia dan kebodohan manusia, Syaitan berhasil membutakan manusia. Semoga Allah selalu menjaga kita dalam petunjuk dan jalan kebenarannya, serta dalam menjaga ketaatan kepada Allah. <em>Aamiin</em>.</p>
<p>Itulah sekelumit pembuatan bir, yang memerlukan kerjasama ilmuwan-ilmuwan dari berbagai bidang ilmu untuk meneliti dan menghasilkan minuman bir. Dengan penelitian yang cukup canggih, itupun mereka para ahli pembuat bir ini mengatakan bahwa proses fermentasi tersebut masih merupakan misteri bagi mereka dan proses pembuatan bir ini menurut mereka adalah suatu keajaiban. Sayangnya mereka tidak bertakwa kepada Allah, tidak mengingat siapa yang menciptakannya, tidak bersyukur kepada Penciptanya, dan mengkonsumsi yang dilarang Allah.</p>
<p>Sedangkan kita kaum muslim harus bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka lakukan untuk lebih bersyukur dan lebih tunduk hanya kepada Allah karena tanda-tanda kebesaran-Nya semakin nyata. Memang manusia berusaha memberi nama khamar dengan nama yang indah, seperti kata &#8220;<em>bir</em>&#8221; yang dalam bahasa Arab &#8220;<em>al birru</em>&#8221; artinya adalah kebaikan, tapi di dunia ini khamar akan tetap sebagai minuman yang tidak baik dan yang menjadi amalan Syaitan sehingga harus kita jauhi.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman, yang artinya, <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.&#8221;</em> (Qs. al-Maidah: 90)</p>
<p>Akan tetapi, di surga kelak khamar akan menjadi <em>al-birru</em> (kebaikan) yang sesungguhnya. Kebaikan bagi hamba-hamba Allah yang menjauhinya di dunia. <em>Insyaa Allah. Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Hanya karena petunjuk, penerangan dan tuntunan Allah, kebesaran Allah dipahamkan.</p>
<p><em>Kubang Kerian, Kelantan (Malaysia)</em></p>
<p>Referensi:</p>
<ol>
<li>Al-Qur&#8217;anul karim dan terjemahan, Depag RI</li>
<li>Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar, 2007, <em>Pengajian Khudz Aqidataka</em> 1, Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary, Yogyakarta.</li>
<li>Discovery Communication Network, 2007, What&#8217;s that about? Discovery Science, Discovery  channel at Astro Malaysia.</li>
<li>Wikipedia, the free encyclopedia, brewery, brewing, fermentation</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Naufal &amp; Ummu Naufal<br />
Muraja&#8217;ah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar<br />
Artikel <a title="Keajaiban khamar" href="http://muslim.or.id/al-quran/keajaiban-khamar.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-872"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fdi-balik-keajaiban-khamar.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/di-balik-keajaiban-khamar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sembilan Faedah Surat al-Fatihah (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 07:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=648</guid>
		<description><![CDATA[Faedah Keenam: Kewajiban untuk meminta petunjuk kepada-Nya Hal ini terkandung dalam ayat &#8216;Ihdinas shirathal mustaqim&#8217;. Hidayah merupakan anugerah dari Allah ta&#8217;ala kepada hamba yang dipilih-Nya. Sedangkan hidayah itu terdiri dari dua macam; hidayah ilmu dan<a class="more" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Faedah Keenam: Kewajiban untuk meminta petunjuk kepada-Nya</strong></p>
<p>Hal ini terkandung dalam ayat <em>&#8216;Ihdinas shirathal mustaqim&#8217;</em>. Hidayah merupakan anugerah dari Allah ta&#8217;ala kepada hamba yang dipilih-Nya. Sedangkan hidayah itu terdiri dari dua macam; hidayah ilmu dan hidayah amal. Dan hidayah semacam itu dibutuhkan oleh manusia di setiap saat dalam perjalanan hidupnya. Setiap hamba senantiasa membutuhkan hidayah tersebut selama dia masih hidup di alam dunia ini. Oleh karena besarnya kebutuhan setiap hamba untuk memohon hidayah maka Allah pun mewajibkan mereka memintanya dalam sehari dan semalam minimal tujuh belas kali di dalam sholat.</p>
<p><span id="more-648"></span></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;&#8230;Seandainya bukan karena besarnya kebutuhan dirinya untuk mendapatkan hidayah di waktu malam maupun siang niscaya Allah ta&#8217;ala tidak akan membimbingnya untuk melakukan hal itu -meminta hidayah setiap kali sholat-. Sebab seorang hamba itu sesungguhnya di setiap saat dan keadaan senantiasa memerlukan pertolongan dari Allah untuk bisa tegar mengikuti hidayah dan berpijak dengan kokoh padanya, agar terus mendapatkan pencerahan, peningkatan ilmu, dan bisa terus menerus berada di atasnya. Karena setiap hamba tidaklah menguasai kemanfaatan maupun kemudharatan bagi dirinya sendiri kecuali sebatas yang Allah kehendaki. Oleh sebab itulah maka Allah ta&#8217;ala membimbingnya untuk senantiasa meminta hidayah itu di setiap saat agar Allah mencurahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan tafik dari-Nya.&#8221; (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/39])</p>
<p>Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad mengatakan, &#8220;Doa ini mengandung seagung-agung tuntutan seorang hamba yaitu mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus. Dengan meniti jalan itulah seseorang akan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya serta akan menuai keberhasilan dunia dan akhirat. Kebutuhan hamba terhadap petunjuk ini jauh lebih besar daripada kebutuhan dirinya terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanyalah bekal untuk menjalani kehidupannya yang fana. Sedangkan petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan bekal kehidupannya yang kekal dan abadi. Doa ini juga mengandung permintaan untuk diberikan keteguhan di atas petunjuk yang telah diraih dan juga mengandung permintaan untuk mendapatkan tambahan petunjuk.&#8221; (<em>Min Kunuz al-Qur&#8217;an</em>)</p>
<p>Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kita ke jalan Islam. Sebab dengan Islam inilah seorang hamba akan bisa masuk ke dalam surga. Allah ta&#8217;ala berfirman mengenai kegembiraan penduduk surga,</p>
<p>وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ</p>
<p><em>&#8220;Mereka mengatakan; &#8216;Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kepada kami ke surga ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kami. Sesungguhnya rasul-rasul Rabb kami telah datang dengan membawa kebenaran.&#8217;.&#8221;</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 43)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir maka tidak akan pernah diterima dari mereka emas sepenuh bumi walaupun hal itu mereka gunakan untuk menebus siksa, mereka itu memang layak untuk menerima siksa yang sangat menyakitkan dan tidak ada bagi mereka seorang penolongpun.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 91)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p>إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan bagi orang-orang zalim itu tidak ada seorang penolong.&#8221;</em> (QS. al-Maa&#8217;idah: 72)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ</p>
<p><em>&#8220;Tidak akan masuk ke dalam surga melainkan jiwa yang muslim.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Dalam riwayat lainnya, beliau bersabda,</p>
<p>لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ</p>
<p><em>&#8220;Tidak akan masuk surga selain orang-orang yang beriman.&#8221;</em> (HR. Muslim dari Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Hidayah juga bukan yang perkara sepele, namun dia adalah anugerah Allah kepada hamba pilihan-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberikan hidayah (taufik) kepada orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui siapakah orang yang ditakdirkan mendapatkan hidayah.&#8221;</em> (QS. al-Qashash: 56)</p>
<p>al-Musayyab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menuturkan,</p>
<p>لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p><em>&#8220;Di saat kematian akan menghampiri Abu Thalib maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun datang untuk menemuinya dan ternyata di sisinya telah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata; &#8216;Wahai pamanku, ucapkanlah la ilaha illallah, sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk bersaksi untukmu di sisi Allah&#8217;. Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah mengatakan; &#8216;Wahai Abu Thalib, apakah kamu benci kepada agama Abdul Muthallib -bapakmu-?&#8217;. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terus menawarkan dan mengulangi ajakannya itu, sampai akhirnya Abu Thalib mengucapkan perkataan terakhirnya kepada mereka bahwa dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan untuk mengucapkan la ilaha illallah&#8230;&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Faedah Ketujuh: Kewajiban untuk mengikuti Rasul dan para sahabatnya</strong></p>
<p>Hal itu terkandung dalam ayat <em>&#8216;Shirathalladzina an&#8217;amta &#8216;alaihim&#8217;</em>. Jalan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada&#8217; dan orang-orang salih. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul, maka mereka itulah orang-orang yang akan bersama dengan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada&#8217;, dan orang-orang salih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.&#8221;</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 69)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala juga berfirman,</p>
<p>وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia juga mengikuti selain jalan orang-orang beriman maka Kami akan membiarkan dia terlantar di atas kesesatan yang dipilihnya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.&#8221;</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 115)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lainnya dalam menghadapi masalah mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.&#8221;</em> (QS. al-Ahzab: 36)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى</p>
<p><em>&#8220;Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.&#8221; Maka para sahabat bertanya, &#8216;Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?&#8217;. beliau menjawab, &#8220;Barangsiapa yang menaatiku akan masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dialah yang enggan.&#8221;</em> (HR. Bukhari dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga berpesan,</p>
<p>فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk tetap mengikuti Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang berada di atas petunjuk dan terbimbing. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan -di dalam agama-, karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan -dalam agama- itu adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah pasti sesat.&#8221;</em> (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, disahihkan al-Albani dalam <em>Shahih at-Targhib wa at-Tarhib</em> [37])</p>
<p>Inilah jalan lurus itu, yaitu mengikuti pemahaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hal ilmu maupun amalan. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama -membela Islam- dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah sediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah keberuntungan yang sangat besar.&#8221;</em> (QS. at-Taubah: 100)</p>
<p><strong>Faedah Kedelapan: Kewajiban untuk mengamalkan ilmu</strong></p>
<p>Hal ini terkandung dalam potongan ayat <em>&#8216;Ghairil maghdhubi &#8216;alaihim&#8217;.</em> Orang yang dimurkai itu adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi justru tidak mau mengamalkannya. Sebagaimana orang-orang Yahudi dan yang mengikuti mereka. Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;(<em>Shirathal Mustaqim</em>) adalah jalan terang yang akan mengantarkan hamba menuju Allah dan masuk ke dalam Surga-Nya. Hakikat jalan itu adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya&#8230;&#8221; (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 39). Sehingga jalan yang lurus itu menuntut seorang muslim untuk mengamalkan <a title="Faedah surat Al-Fatihah" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html">ilmunya</a>.</p>
<p>Syaikh Abdul Muhsin mengatakan, &#8220;Petunjuk menuju jalan yang lurus itu akan menuntun kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada&#8217;, dan orang-orang salih. Mereka itu adalah orang-orang yang memadukan ilmu dengan amal. Maka seorang hamba memohon kepada Rabbnya untuk melimpahkan hidayah menuju jalan lurus ini yang merupakan sebuah pemuliaan dari Allah kepada para rasul-Nya dan wali-wali-Nya. Dia memohon agar Allah menjauhkan dirinya dari jalan musuh-musuh-Nya yaitu orang-orang yang memiliki ilmu akan tetapi tidak mengamalkannya. Mereka itulah golongan Yahudi yang dimurkai.&#8221; (<em>Min Kunuz al-Qur&#8217;an</em>)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata,<br />
&#8220;Hendaknya diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka ilmunya itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Barzah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda, <em>&#8220;Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah tentang ilmunya, apa yang sudah diamalkannya.&#8221;</em> (HR. Tirmidzi 2341)</p>
<p>Hal ini bukan berlaku bagi para ulama saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua orang yang mengetahui suatu perkara agama maka itu berarti telah tegak padanya hujjah. Apabila seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah pengajian atau khutbah Jum&#8217;at yang di dalamnya dia mendapatkan peringatan dari suatu kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun mengetahui bahwa kemaksiatan yang dilakukannya itu adalah haram maka ini juga ilmu. Sehingga hujjah juga sudah tegak dengan apa yang didengarnya tersebut. Dan terdapat hadits yang sah dari Abu Musa al-Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ</p>
<p><em>&#8220;al-Qur&#8217;an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk menjatuhkan dirimu&#8221; (HR. Muslim)&#8221; </em>(<em>Hushulul Ma&#8217;mul</em>, hal. 18)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Qasim <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang lainnya. Ilmu diibaratkan seperti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah seperti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh. Di dalam hadits disebutkan, <em>&#8220;Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya.&#8221;</em> Orang semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam sebuah sya&#8217;ir dikatakan,</p>
<p><em>Orang alim yang tidak mau<br />
Mengamalkan ilmunya<br />
Mereka akan disiksa sebelum<br />
Disiksanya para penyembah berhala</em><br />
(<em>Hasyiyah Tsalatsatul Ushul</em>, hal. 12)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> di dalam kitab tafsirnya ketika membahas firman Allah ta&#8217;ala (yang artinya), <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan pendeta dan rahib-rahib benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan memalingkan manusia dari jalan Allah.&#8221;</em> (QS. at-Taubah: 34) menukilkan ucapan Sufyan bin Uyainah yang mengatakan, &#8220;Orang-orang yang rusak di antara orang berilmu di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara para ahli ibadah di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Nasrani.&#8221; (<em>Min Kunuz al-Qur&#8217;an</em>)</p>
<p><strong>Faedah Kesembilan: Kewajiban untuk beribadah di atas ilmu</strong></p>
<p>Hal ini terkandung dalam potongan ayat &#8216;wa lad dhaallin&#8217;. Orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah namun dengan cara yang tidak benar, sebagaimana kaum Nasrani. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ</p>
<p><em>&#8220;Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan minta ampunlah bagi dosa-dosamu.&#8221;</em> (QS. Muhammad: 19)</p>
<p>Ilmu merupakan landasan ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat sebuah bab di dalam Kitab Shahihnya dengan judul <em>al-&#8217;Ilmu qablal qaul wal &#8216;amal</em> (Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan). Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti akan diminta pertanggungjawabannya.&#8221;</em> (QS. al-Israa&#8217;: 36)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ</p>
<p><em>&#8220;Barangisapa ang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu&#8217;awiyah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur&#8217;an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…&#8221; (<em>al-&#8217;Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 128). Beliau juga menegaskan, &#8220;Tidaklah diragukan bahwa sesungguhnya kebodohan adalah pokok seluruh kerusakan. Semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan&#8230;&#8221; (<em>al-&#8217;Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 101)</p>
<p>Syaikh Muhammad al-Amin as-Syinqithi mengatakan di dalam kitabnya <em>Adhwa&#8217;ul Bayan</em> (1/53), &#8220;Orang-orang Yahudi dan Nasrani -meskipun sebenarnya mereka sama-sama sesat dan sama-sama dimurkai- hanya saja kemurkaan itu lebih dikhususkan kepada Yahudi -meskipun orang Nasrani juga termasuk di dalamnya- dikarenakan mereka telah mengenal kebenaran namun justru mengingkarinya, dan secara sengaja melakukan kebatilan. Karena itulah kemurkaan lebih condong dilekatkan kepada mereka. Adapun orang-orang Nasrani adalah orang yang bodoh dan tidak mengetahui kebenaran, sehingga kesesatan merupakan ciri mereka yang lebih menonjol. Meskipun begitu Allah menyatakan bahwa <em>&#8216;al magdhubi &#8216;alaihim&#8217;</em> adalah kaum Yahudi melalui firman-Nya ta&#8217;ala tentang mereka (yang artinya), <em>&#8220;Maka mereka pun kembali dengan menuai kemurkaan di atas kemurkaan.&#8221;</em> (QS. al-Baqarah: 90). Demikian pula Allah berfirman mengenai mereka (yang artinya), <em>&#8220;Katakanlah; maukah aku kabarkan kepada kalian tentang golongan orang yang balasannya lebih jelek di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati Allah dan dimurkai oleh-Nya.&#8221;</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 60). Begitu pula firman-Nya (yang artinya), <em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan patung sapi itu sebagai sesembahan niscaya akan mendapatkan kemurkaan.&#8221;</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 152). Sedangkan golongan <em>&#8216;adh dhaalliin&#8217;</em> telah Allah jelaskan bahwa mereka itu adalah kaum Nasrani melalui firman-Nya ta&#8217;ala (yang artinya), <em>&#8220;Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat, dan mereka pun menyesatkan banyak orang, sungguh mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.&#8221;</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 77)&#8221;</p>
<p>Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammad wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
<p>Yogyakarta, Senin 9 Jumadil Ula 1430 H</p>
<p>Hamba yang fakir kepada Rabbnya<br />
Semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya<br />
dan segenap kaum muslimin</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Faedah surat Al-Fatihah" href="http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-648"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fal-quran%2Fsembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/al-quran/sembilan-faedah-surat-al-fatihah-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

