<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Akhlaq dan Nasehat</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/akhlaq-dan-nasehat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 00:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Lenyapnya Keberkahan Ilmu</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 23:26:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9199</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba’du. Seorang penuntut ilmu, tentu tidak menginginkan ilmunya hilang begitu saja tanpa bekas. Terlebih lagi, jika yang hilang itu adalah keberkahan ilmunya. Alias<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba’du</em>.</p>
<p>Seorang penuntut ilmu, tentu tidak menginginkan ilmunya hilang begitu saja tanpa bekas. Terlebih lagi, jika yang hilang itu adalah keberkahan ilmunya. Alias ilmu yang dipelajarinya tidak menambah dekat dengan Allah <em>ta’ala</em>, namun justru sebaliknya, <em>wal ‘iyadzu billah</em>…</p>
<p>Tidak sedikit, kita jumpai para penuntut ilmu syar’i yang berusaha untuk mengkaji kitab para ulama, bahkan bermajelis dengan para ulama dalam rangka menyerap ilmu dan arahan mereka. Tentu saja, perkara ini adalah sesuatu yang sangat-sangat harus kita syukuri. Karena dengan kokohnya ilmu dalam diri setiap pribadi muslim, niscaya agamanya akan tertopang landasan yang kuat. Sering kita dengar, ucapan yang sangat populer dari seorang Imam, Amirul Mukminin dalam bidang hadits, Muhammad bin Isma’il al-Bukhari <em>rahimahullah</em> di dalam Kitab Shahihnya yang menegaskan, <em>“Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”</em></p>
<p>Begitu pula, perkataan Imam Ahlus Sunnah di masanya Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em>yang sangat terkenal, <em>“Umat manusia sangat membutuhkan ilmu jauh lebih banyak daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari cukup sekali atau dua kali. Adapun ilmu, maka ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.” </em>(lihat <em>al-’Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu</em>, tahqiq Syaikh Ali al-Halabi <em>hafizhahullah</em>).</p>
<p>Akan tetapi, tatkala ilmu yang dikaji, dihafalkan, dan didalami itu tidak sampai meresap serta tertancap kuat ke dalam lubuk hati, maka justru musibah dan bencana yang ditemui. Tidakkah kita ingat ungkapan emas para ulama salaf yang menyatakan, <em>“Orang-orang yang rusak di antara ahli ilmu kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan Nasrani.”</em> (lihat <em>Syarh Ba’dhu Fawa’id min Surah al-Fatihah</em>oleh <em>Fadhilatusy Syaikh</em> Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>). Apa yang mereka katakan adalah kenyataan yang amat sering kita jumpai. Itu bukanlah dongeng atau cerita fiksi.</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah menjaga diriku dan dirimu… Masih tersimpan dalam ingatan kita, doa yang sepanjang hari kita panjatkan kepada Allah, <em>“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka, dan bukan jalannya orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula orang-orang yang sesat (Nasrani).” </em>Inilah doa yang sangat ringkas namun penuh dengan arti. Bahkan, Syaikhul Islam Abul Abbas al-Harrani <em>rahimahullah</em> pun menyebutnya sebagai doa yang paling bermanfaat, mengingat kandungannya yang sangat dalam dan berguna bagi setiap pribadi. Kaum Yahudi dimurkai karena mereka berilmu namun tidak beramal. Adapun kaum Nasrani tersesat karena mereka beramal tanpa landasan ilmu. Maka, orang yang berada di atas jalan yang lurus adalah yang memadukan antara ilmu dan amalan.</p>
<p>Dari sinilah, kita mengetahui, bahwa hakekat keilmuan seseorang tidak diukur dengan banyaknya hafalan yang dia miliki, banyaknya buku yang telah dia beli, banyaknya kaset ceramah yang telah dia koleksi, banyaknya ustadz atau bahkan ulama yang telah dia kenali, tidak juga deretan titel akademis yang dibanggakan kesana-kemari. Kita masih ingat, ucapan sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu</em>, <em>“Bukanlah ilmu itu diukur dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi pokok dari ilmu adalah khas-yah/rasa takut -kepada Allah-.”</em> (lihat <em>al-Fawa’id</em> karya Ibnul Qayyim<em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Oleh sebab itulah, kita dapati para ulama salaf sangat keras dalam berjuang menggapai keikhlasan dan menaklukkan hawa nafsu serta ambisi-ambisi duniawi. Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, <em>“Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih berat daripada niatku.” </em>(lihat <em>Hilyah Thalib al-’Ilm</em> oleh Syaikh Bakr Abu Zaid<em>rahimahullahu rahmatan wasi’ah</em>).  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<em>“Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya [tulus] karena Allah dan Rasul-Nya niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang dia inginkan saja.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).</p>
<p>Ikhlas, bukanlah ucapan yang terlontar di lidah, huruf yang tertulis dalam catatan, banyaknya harta yang telah kita sumbangkan untuk kebaikan, lamanya waktu kita berdakwah, atau penampilan fisik yang tampak oleh mata. Ikhlas adalah ‘permata’ yang tersimpan di dalam hati seorang mukmin yang merendahkan hati dan jiwa-raganya kepada Rabb penguasa alam semesta. Inilah kunci keselamatan dan keberhasilan yang akan menjadi sebab terbukanya gerbang ketentraman dan hidayah dari Allah <em>ta’ala</em>. Allah<em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan memperoleh keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An’am: 82</strong>). Allah berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari [kiamat] tidak lagi berguna harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu’ara’: 88-89</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Sementara kita semua mengetahui, bahwa tanpa keikhlasan tak ada amal yang akan diterima, <em>Allahul musta’an</em>.</p>
<p>Kita juga masih ingat, nasehat emas Ahli Hadits kontemporer yang sangat terkenal Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> di dalam kitab-kitabnya supaya kita tidak menjadi orang yang memburu popularitas. Beliau mengutip ungkapan para ulama kita terdahulu, <em>Hubbuzh zhuhur ya</em><em>qtha’uzh zhuhur</em>, <em>“</em><em>Menyukai ‘ketinggian’ </em><em>akan mematahkan punggung.”</em>Maknanya, gila popularitas akan menyebabkan kebinasaan, kurang lebih demikian… Allah berfirman (yang artinya), <em>“Berikanlah peringatan, sesungguhnya peringatan itu akan berguna bagi orang-orang yang beriman.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 55</strong>).</p>
<p>Ikhlas -<em>wahai saudaraku</em>- … adalah rahasia kesuksesan dakwah nabi dan rasul serta para pendahulu kita yang salih. Berapapun jumlah orang yang tunduk mengikuti seruan mereka, mereka tetap dinilai berhasil dan telah menunaikan tugasnya dengan baik. Mereka tidak dikatakan gagal, meskipun ayahnya  sendiri produsen berhala, meskipun anaknya sendiri menolak perintah Rabbnya, meskipun pamannya sendiri tidak mau masuk Islam yang diserukannya, meskipun tidak ada pengikutnya kecuali satu atau dua saja, bahkan ada nabi yang tidak punya pengikut sama sekali…! Mereka, adalah suatu kaum yang mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah karena keikhlasan dan ketaatan mereka kepada Rabbnya, karena ilmu dan amalan yang mereka miliki. Allah <em>ta’ala</em>berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka itulah yang akan bersama dengan kaum yang mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang salih. Mereka itulah sebaik-baik teman.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 69</strong>)</p>
<p>Kalau kita memang ikhlas -<em>wahai saudaraku</em>- niscaya kita akan merasa senang apabila saudara kita mendapatkan hidayah, entah itu melalui tangan kita atau tangan orang lain… Kalau kita memang ikhlas -<em>wahai saudaraku</em>- maka amalan sekecil apapun tidak akan pernah kita sepelekan! Ibnu Mubarak <em>rahimahullah</em> mengingatkan, <em>“Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.”</em> (<em>Jami’ al-’Ulum wal Hikam</em> oleh Ibnu Rajab). <em>Semoga Allah memberikan karunia keikhlasan kepada kita..</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9199"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Flenyapnya-keberkahan-ilmu.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita, Cobaan Atas Kaum Pria</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/wanita-cobaan-atas-kaum-pria.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/wanita-cobaan-atas-kaum-pria.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 23:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[persamaan gender]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9079</guid>
		<description><![CDATA[Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah/cobaan yang lebih membahayakan bagi kaum pria daripada fitnah kaum wanita.” (HR. Muslim [2740]) Dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri radhiyallahu&#8217;anhu,<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/wanita-cobaan-atas-kaum-pria.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dari Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah/cobaan yang lebih membahayakan bagi kaum pria daripada fitnah kaum wanita.”</em> (HR. Muslim [2740])</p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah dunia dan takutlah kalian akan fitnah kaum wanita. Karena sesungguhnya fitnah pertama di kalangan Bani Isra&#8217;il adalah dalam masalah wanita.” </em>(HR. Muslim [2742])</p>
<p>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Termasuk dalam kategori wanita yang dimaksud oleh hadits ini adalah para istri maupun selain mereka. Dan yang paling banyak fitnahnya adalah para istri karena fitnah mereka terus-menerus menyertai dan kebanyakan orang pun telah terfitnah dengannya.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [9/8] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[1] Perintah Menjaga Pandangan    </strong></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah kepada kaum lelaki yang beriman hendaknya mereka menundukkan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Hal itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa saja yang kalian lakukan.”</em> (QS. an-Nuur: 30)</p>
<p>Salah seorang yang salih mengatakan, <em>“Barangsiapa yang memakmurkan penampilan lahirnya dengan ittiba&#8217;/mengikuti sunnah dan menghiasi batinnya dengan senantiasa muroqobah/merasa diawasi Allah, menundukkan pandangannya dari sesuatu yang diharamkan, menahan dirinya dari hal-hal yang syubhat/samar-samar, dan mengkonsumsi makanan yang halal, niscaya firasatnya tidak akan meleset.”</em> (lihat <em>Tazkiyat an-Nufus</em>, hal. 39)</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantikan untuknya yang lebih baik darinya. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya maka Allah akan menjadikan mata hatinya kembali bersinar.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, sebagaimana dalam <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [5/409])</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[2] Perisai Untuk Menghadapi Fitnah</strong></span></p>
<p>Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Fitnah syubhat ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat  ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itu Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan bekal sabar dan keyakinan akan dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-&#8217;Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan penangkal fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah penangkal fitnah syahwat”</em> (Lihat <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir &#8216;ala at-Tafsir</em> [5/134], <em>Ighatsat al-Lahfan</em> hal. 669)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah melakukan amal-amal (ketaatan) sebelum datangnya fitnah-fitnah (cobaan dan godaan) yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada waktu itu,  seseorang di pagi hari masih beriman namun di sore harinya telah menjadi kafir. Atau di sore hari beriman, lalu di pagi harinya menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (HR. Muslim [118])</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak disenangi, sedangkan neraka diliputi dengan hal-hal yang disenangi oleh nafsu.”</em> (HR. Muslim [2822])</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menjaga apa yang ada diantara kedua jenggotnya dan apa yang ada diantara kedua kakinya niscaya dia akan masuk Surga.”</em> (lihat <em>az-Zuhd li Ibni Abi &#8216;Ashim</em>, hal. 22)</p>
<p>Dikisahkan bahwa pada suatu malam ada seorang lelaki yang merayu seorang wanita di tengah padang pasir. Akan tetapi wanita itu enggan memenuhi ajakannya. Maka lelaki itu berkata, <em>“Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang.”</em> Wanita itu pun berkata, <em>“Kalau begitu, dimanakah yang menciptakan bintang-bintang itu?!”</em> (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 33)</p>
<p>Muhammad bin Wasi&#8217; <em>rahimahullah </em>berkata, <em>“Sungguh aku telah bertemu dengan orang-orang, yang mana seorang lelaki di antara mereka kepalanya berada satu bantal dengan kepala istrinya dan basahlah apa yang berada di bawah pipinya karena tangisannya akan tetapi istrinya tidak menyadari hal itu. Dan sungguh aku telah bertemu dengan orang-orang yang salah seorang di antara mereka berdiri di shaf [sholat] hingga air matanya mengaliri pipinya sedangkan orang di sampingnya tidak mengetahui.”</em> (lihat <em>Ta&#8217;thirul Anfas</em>, hal. 249)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berbuat zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 89)</p>
<p>Ibnul Mubarak <em>rahimahullah</em> berkata dalam syairnya,</p>
<p><em>            Kulihat tumpukan dosa mematikan hati</em></p>
<p><em>            Mengidapnya membuat diri bertambah hina</em></p>
<p><em>Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati</em></p>
<p><em>Yang terbaik untukmu tentu mencampakkannya</em></p>
<p>(lihat <em>Tazkiyat an-Nufus</em>, hal. 32)</p>
<p>Hati yang sehat dan sempurna memiliki dua karakter yang melekat padanya. <em></em></p>
<p><em>Karakter pertama</em>; kesempurnaan ilmu, pengetahuan, dan keyakinan yang tertancap di dalam hatinya. <em></em></p>
<p><em>Karakter kedua</em>; kesempurnaan kehendak hatinya terhadap segala perkara yang dicintai dan diridhai Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Dengan kata lain, hatinya senantiasa menginginkan kebaikan apapun yang dikehendaki oleh Allah bagi hamba-Nya. Kedua karakter ini akan berpadu dan melahirkan profil hati yang bersih, yaitu hati yang mengenali kebenaran dan mengikutinya, serta mengenali kebatilan dan meninggalkannya. Orang yang ilmunya dipenuhi dengan syubhat/kerancuan dan keragu-raguan, itu artinya dia telah kehilangan karakter yang pertama. Adapun orang yang keinginan dan cita-citanya selalu mengekor kepada hawa nafsu dan syahwat, maka dia telah kehilangan karakter yang kedua. Seseorang bisa tertimpa salah satu perusak hati ini, atau bahkan -yang lebih mengerikan lagi- adalah keduanya bersama-sama menggerogoti kehidupan hatinya (lihat <em>al-Qawa&#8217;id al-Hisan</em>, hal. 86)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[3] Sumber Kemaksiatan</strong></span></p>
<p>Dalam kitabnya <em>al-Fawa&#8217;id</em>, Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> memaparkan, <em>“Sumber segala bentuk kemaksiatan yang besar ataupun yang kecil ada tiga: ketergantungan hati kepada selain Allah, memperturutkan kekuatan angkara murka, dan mengumbar kekuatan nafsu syahwat. Wujudnya adalah syirik, kezaliman, dan perbuatan keji. Puncak ketergantungan hati kepada selain Allah adalah kemusyrikan dan menyeru sesembahan lain sebagai sekutu bagi Allah. Puncak memperturutkan kekuatan angkara murka adalah terjadinya pembunuhan. Adapun puncak mengumbar kekuatan nafsu syahwat adalah terjadinya perzinaan.” </em></p>
<p>Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memadukan ketiga hal ini dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali apabila ada alasan yang benar, dan mereka juga tidak berzina.”</em> (QS. al-Furqan: 68). Ketiga jenis dosa ini saling menyeret satu dengan yang lainnya. Syirik akan menyeret kepada kezaliman dan perbuatan keji, sebagaimana halnya keikhlasan dan tauhid akan menyingkirkan kedua hal itu dari pemiliknya (ahli tauhid). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demikianlah, Kami palingkan darinya -Yusuf- keburukan dan perbuatan keji, sesungguhnya dia termasuk kalangan hamba pilihan Kami (yang ikhlas).”</em> (QS. Yusuf: 24)</p>
<p>Beliau menjelaskan, <em>“Yang dimaksud dengan &#8216;keburukan&#8217; (as-Suu&#8217;) di dalam ayat tadi adalah mabuk asmara (&#8216;isyq), sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan keji (al-fakhsya&#8217;) adalah perzinaan. Maka demikian pula kezaliman akan bisa menyeret kepada perbuatan syirik dan perbuatan keji. Sesungguhnya syirik itu sendiri merupakan kezaliman yang paling zalim, sebagaimana keadilan yang paling adil adalah tauhid. Keadilan pendamping tauhid, sedangkan kezaliman pendamping syirik.” </em></p>
<p>Oleh sebab itu Allah menyebutkan kedua hal itu secara berdampingan. Adapun yang pertama -keadilan sebagai pendamping tauhid- adalah seperti yang terkandung dalam firman Allah (yang artinya), <em>“Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Allah, demikian juga bersaksi para malaikat dan orang-orang yang berilmu, dalam rangka menegakkan keadilan.”</em> (QS. Ali Imran: 18). Adapun yang kedua -kezalimaan sebagai pendamping syirik- adalah seperti yang terkandung dalam firman Allah (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik merupakan kezaliman yang sungguh-sungguh besar.”</em> (QS. Luqman: 13). Sementara itu, perbuatan keji pun bisa menyeret ke dalam perbuatan syirik dan kezaliman. Terlebih lagi apabila keinginan untuk melakukannya sangat kuat dan hal itu tidak bisa didapatkan selain dengan menempuh tindakan zalim serta meminta bantuan sihir dan setan.</p>
<p>Allah juga menggandengkan antara zina dengan syirik di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Seorang lelaki pezina tidak akan menikah kecuali dengan perempuan pezina pula atau perempuan musyrik. Demikian juga seorang perempuan pezina tidak akan menikah kecuali dengan lelaki pezina atau lelaki musyrik. Dan hal itu diharamkan bagi orang-orang yang beriman.”</em> (QS. an-Nur: 3).</p>
<p>Ibnul Qayyim menegaskan, <em>“Ketiga perkara ini saling menyeret satu dengan yang lainnya dan saling mengajak satu sama lain. Oleh sebab itu, tatkala semakin lemah tauhid dan semakin kuat syirik di dalam hati seseorang maka semakin banyak pula perbuatan keji yang dilakukan, dan semakin besar  ketergantungan hatinya kepada gambar-gambar -yang terlarang- serta semakin kuat pula kerinduan yang menggelayuti hatinya terhadap gambar/rupa tersebut.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 78-79)</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9079"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fwanita-cobaan-atas-kaum-pria.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/wanita-cobaan-atas-kaum-pria.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahapan Dalam Menuntut Ilmu</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tahapan-dalam-menuntut-ilmu.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tahapan-dalam-menuntut-ilmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 23:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[belajar islam]]></category>
		<category><![CDATA[menuntut ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9063</guid>
		<description><![CDATA[Fadhilatus Syaikh Zaid bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah ditanya pertanyaan berikut: “Bagaimana metode yang benar dalam belajar agama secara bertahap? Dan bagaimana metode yang benar dalam belajar ilmu aqidah, tafsir, fiqih dan hadits. Dari mana<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tahapan-dalam-menuntut-ilmu.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Fadhilatus Syaikh</em> <strong>Zaid bin Hadi Al Madkhali</strong> <em>hafizhahullah</em> ditanya pertanyaan berikut:</p>
<p>“<em>Bagaimana metode yang benar dalam belajar agama secara bertahap? Dan bagaimana metode yang benar dalam belajar ilmu aqidah, tafsir, fiqih dan hadits. Dari mana kita memulainya?</em>”</p>
<p>Beliau lalu menjawab:</p>
<p>Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya sedang mencari metode yang benar untuk mendapatkan ilmu agama. Namun yang benar, pertama-tama, seorang penuntut ilmu hendaknya mencari dulu guru yang menguasai ilmu syar&#8217;i yang berjalan di atas manhaj salafus shalih. Karena memilih guru dan memilih kitab yang tepat adalah metode yang benar untuk menuntut ilmu syar&#8217;i.</p>
<p>Memilih mata pelajaran dalam ilmu syar&#8217;i baik aqidah, tafsir, hadits, fiqih, ilmu bahasa, sirah, semuanya ini tidak diragukan lagi butuh tahapan dan butuh pula kebijaksanaan dalam berpindah dari satu tahapan ke tahapan yang lain atau dari satu kitab ke kitab yang lain.</p>
<p>Ketika belajar aqidah dan ingin melalui tahapan yang benar, maka seorang penuntut ilmu hendaknya memulai dengan belajar kitab <strong>Al Ushul Ats Tsalatsah </strong>milik Imam Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab (wafat 1206 H) <em>rahimahullah</em>. Dalam kitab ini terdapat ilmu yang melimpah dalam permasalahan aqidah yang tidak akan membuat penuntut ilmu menyimpang dari manhaj salafus shalih dalam memahami agama.</p>
<p>Setelah itu lanjutkan mempelajari <strong>Al Qawaid Al Arba&#8217;</strong>, <strong>Kasyfus Syubhat </strong>dan <strong>Risalah Ushulil Iman</strong>. Tulisan-tulisan ini merupakan panduan dalam bidang aqidah dan merupakan pelajaran pokok dalam mempelajari ilmu-ilmu syariah yang lain. Ketika seseorang telah mempelajari kitab-kitab ini, ia akan memiliki akidah yang benar dan berjalan di atas manhaj salafiy, serta mendapatkan pencerahan darinya. Kemudian setelah mempelajari kitab-kitab ini, hendaknya berpindah ke tahapan yang lebih tinggi semisal <strong>Kitab At Tauhid</strong>, lalu setelah menyelesaikan kitab ini berpindah lagi ke kitab <strong>Al Aqidah Al Washithiyyah</strong> milik Imam Mujaddin Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728H) <em>rahimahullah</em>. Lalu melanjutkan ke kitab <strong>Al Hamawiyyah</strong> dan <strong>At Tadmuriyyah</strong> lalu <strong>Al Aqidah Ath Thahawiyyah</strong>.</p>
<p>Setelah itu, dapat melanjutkan membaca kitab-kitab <em>Sunan</em> yang berkaitan dengan pembahasan sunnah dan tahdzir terhadap bid&#8217;ah. Yang terkenal diantaranya <strong>Ushul I&#8217;tiqad Ahlis Sunnah</strong> milik Al Laalikaa-i (wafat 418H), <strong>Kitab As Sunnah</strong> milik Al Khallal (wafat 311H), <strong>Kitab As Sunnah</strong> milik Abdullah bin Ahmad bin Hambal (wafat 290H), <strong>Al Ibanah</strong> milik Ibnu Bathah Al&#8217;Akbari (wafat 387H), dan <strong>Kitab At Tauhid</strong> milik Ibnu Khuzaimah (wafat 311H) dan kitab-kitab lain yang termasuk dalam bidang ini.</p>
<p>Adapun yang berkaitan dengan ilmu tafsir, yang aku pilih untuk para penuntut ilmu adalah kitab <strong>Tafsir Ibni Katsir</strong> (774H) <em>rahimahullah</em>, dan <strong>Kitab Tafsir As Sa&#8217;di </strong>(1376H) <em>rahimahullah</em>. Lebih khusus lagi, aku menyarankan <strong>Mukhtashar Tafsir Ibni Katsir </strong>milik Muhammad Nasib Ar Rafi&#8217;i karena -sepengetahuan kami- beliau telah meringkas Tafsir Ibni Katsir hingga sejalan dengan manhaj salaf. Jika mampu menyelesaikan kitab-kitab tadi, maka pelajarilah <strong>Tafsir Al Baghawi</strong> (516H) juga kitab-kitab tafsir selain yang disebutkan yang bila seorang penuntut ilmu membacanya lalu menelaahnya ia bisa menyadari jika menemukan ta&#8217;wil-ta&#8217;wil yang tercela, semisal kitab <strong>Tafsir Al Qurthubi </strong>(wafat 671H). Dan dapat juga mempelajari kitab tafsir lainnya seperti <strong>Tafsir Ibnul Jauzi</strong> (wafat 597H), dan <strong>Tafsir Asy Syaukani</strong> (wafat 1250H).</p>
<p>Namun dengan catatan, dalam sebagian kitab-kitab tafsir yang bagus dan mengandung limpahan ilmu tersebut, penulisnya -<em>rahimahullah &#8216;alaihim</em>- terkadang men-ta&#8217;wil ayat-ayat tentang sifat Allah. Tapi sedikit sekali ta&#8217;wil yang disepakati oleh mereka yang men-ta&#8217;wil nash Qur&#8217;an dan Sunnah dengan ta&#8217;wilan yang tercela. Penyebab terjadinya hal tersebut, -sepengatahuan kami- ada tiga:</p>
<ol>
<li>Pengaruh lingkungan tempat sang <em>mufassir</em> hidup</li>
<li>Pengaruh guru tempat sang <em>mufassir</em> menuntut ilmu</li>
<li>Pengaruh telaah kitab-kitab. Sebagian <em>mufassir</em> menelaah kitab-kitab yang memuat berbagai pemikiran manusia, lalu ia terpengaruh</li>
</ol>
<p>Sedangkan dalam ilmu hadits, seorang penuntut ilmu hendaknya memulai dari <strong>Al Arba&#8217;in An Nawawiyah</strong> untuk dihafal dan dipahami, juga membaca penjelasan yang terkandung di dalamnya. Lalu hendaknya secara bertahap mempelajari <strong>Umdatul Ahkam</strong> kemudian <strong>Bulughul Maram</strong>, juga dengan <em>syarah</em>-nya. Kemudian, setelah itu barulah ia mampu untuk mempelajari <strong>Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) </strong>dan <strong>Kutubus Sittah</strong>. Akal dan keilmuan manusia itu senantiasa berkembang sejalan dengan kelurusan niatnya serta keberlanjutannya dalam menuntut ilmu tanpa terputus.</p>
<p>Begitu juga dalam ilmu fiqih. Andai seorang penuntut ilmu sekedar membaca hadits-hadits saja ia akan mendapat banyak pemahaman dari apa yang ia baca. Namun hendaknya mereka juga mempelajari kitab-kitab fiqih seperti <strong>Umdatul Fiqhi</strong> yang merinci permasalahan-permasalahan <em>furu&#8217;</em> atau juga kitab <strong>Zaadul Mustaqni</strong>. Allah telah memuliakan umat ini dengan adanya banyak kitab <em>syarah</em> dari <em>Zaadul Mustaqni</em>, baik dari ulama terdahulu maupun ulama di masa ini. Di antara <em>syarah</em> yang mudah dipelajari adalah yang ditulis oleh ulama masa ini, Syaikh Al Allamah Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin, dalam kitab <strong>As Syarh</strong> <strong>Al Mumthi&#8217;</strong>. Kitab ini memang benar-benar memuaskan (<em>mumthi&#8217;</em>) karena di dalamnya terdapat bahasan-bahasan yang bermanfaat dan penjelasan-penjelasan yang langka. Semoga Allah memberikan ganjaran kepada beliau, menjadikan manfaat yang besar dari ilmu beliau, dan menambah keutamaan beliau.</p>
<p>Sedangkan dalam Sirah Nabawiyyah, mulailah dengan mempelajari <strong>Mukhtashar Sirah Nabawiyyah</strong> karya Imam Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Kemudian setelah itu mempelajari <strong>Sirah Nabawiyyah</strong> miliki Ibnu Hisyam (wafat 183H). Dan di zaman ini, <em>walhamdulillah</em>, kitab-kitab sirah sudah banyak yang diringkas.</p>
<p>Namun juga, semua ilmu ini dalam mempelajarinya membutuhkan ilmu-ilmu alat seperti ilmu <em>ushul fiqih</em>, qawa&#8217;id, musthalah, serta butuh perhatian terhadap ilmu bahasa arab dan <em>qawaidul fiqhiyyah</em>. Sehingga barulah seseorang memiliki kemampuan untuk mengambil ilmu dari dalil-dalil Qur&#8217;an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.</p>
<p>Semua ini, tidak cukup hanya dengan membaca kitab secara otodidak, bahkan jika perlu seseorang menempuh perjalanan untuk mencari guru ke daerah lain jika memang di daerahnya tidak ada, sebagaimana yang dilakukan para salafus shalih dalam menuntut ilmu. Ini jika memang mampu untuk menempuh perjalanan tersebut. Jika tidak mampu menempuh perjalanan tersebut, maka bacalah kitab-kitab lalu kumpulkan hal-hal yang membingungkanmu, kemudian tempuhlah sekedar perjalanan pendek (untuk menanyakanya kepada ulama, pent). Apalagi di zaman ini berhubungan dengan ulama melalui telepon telah mencukupi kebutuhan tersebut tanpa harus bersusah payah. <em>Walhamdulillah</em>.</p>
<p><em>Wallahu&#8217;alam</em>.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.ajurry.com/taseel.htm">http://www.ajurry.com/taseel.htm</a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span></p>
<p>Urutan dan jenis kitab dalam menuntut ilmu sebagaimana yang disebutkan di atas bukanlah suatu yang <em>saklek</em> harus demikian. Setiap orang memiliki kemampuan dan kecerdasan yang berbeda-beda sehingga sangat mungkin berbeda pula tahapan belajarnya. Dan akan sangat mungkin berbeda jawabannya jika ditanyakan kepada ulama yang lain. Namun yang pasti, seorang penuntut ilmu hendaknya belajar kepada seorang guru yang mapan ilmunya, sehingga sang guru dapat mengarahkan tahapan belajar yang cocok baginya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penyusun: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9063"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftahapan-dalam-menuntut-ilmu.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tahapan-dalam-menuntut-ilmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Sehat dengan Mengamalkan Sunnah</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hidup-sehat-dengan-mengamalkan-sunnah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hidup-sehat-dengan-mengamalkan-sunnah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 23:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup sehat]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9056</guid>
		<description><![CDATA[Amalkan sunnah maka hidup sehat menanti Anda, benarkah? Tidak diragukan, Islam adalah agama yang mengajarkan hidup sehat. Jika selama ini ada slogan yang terkenal &#8220;pencegahan lebih baik dari pengobatan,&#8221;  ternyata sejak empat belas abad yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hidup-sehat-dengan-mengamalkan-sunnah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Amalkan sunnah maka hidup sehat menanti Anda, benarkah? Tidak diragukan, Islam adalah agama yang mengajarkan hidup sehat. Jika selama ini ada slogan yang terkenal &#8220;pencegahan lebih baik dari pengobatan,&#8221;  ternyata sejak empat belas abad yang lalu aplikasi dari slogan itu telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanamkan kepada para shahabatnya. Mari perhatikan hal-hal berikut:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>a)  Menjaga kebersihan dan kesucian:</strong></span></p>
<p>{ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ} [المدثر: 4]</p>
<p>“<em>Dan pakaianmu bersihkanlah</em>.” (QS. Al Mudatstsir: 4).</p>
<p>Muhammad bin Sirin <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>{ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ } أي: اغسلها بالماء.</p>
<p>“Maksud “<em>Dan pakaianmu bersihkanlah</em>” adalah basuhlah dengan air.”</p>
<p>Ibnu Zaid <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>كان المشركون لا يتطهرون، فأمره الله أن يتطهر، وأن يطهر ثيابه.</p>
<p>“Dahulu orang-orang musyrik kebiasaan mereka tidak bersuci, maka Allah memerintahkan agar bersuci dan membersihkan pakaiannya.” (Lihat <em>tafsir Al Quran Al Azhim</em>).</p>
<p>Berkata Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em>: “Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, ayat ini mencakup seluruh perkara itu bersamaan dengan kesucian hati.” Lihat kitab <em>Tafsir Al Quran Al Azhim</em> di dalam ayat ini.</p>
<p>عَنْ أبي مالِكٍ الأشْعَريِّ &#8211; رضي الله عنه &#8211; قالَ :قالَ رسولُ الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; : (( الطُّهورُ شَطْرُ الإيمانِ ،)). رواه مسلم</p>
<p>“Abu Malik Al Asy‘ary <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Bersuci adalah setengah dari keimanan</em>” HR. Muslim</p>
<p>Ibnu Al Atsir <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>لأنَّ الإيمانَ يُطهِّر نجاسةَ الباطن والطَّهورَ يُطهِّر نجاسة الظاهر</p>
<p>“Karena keimanan membersihkan kotorannya batin dan bersuci dengan air membersihkan kotoran lahir.” (Lihat kitab <em>An Nihayah Fi Gharib Al Hadits</em>).</p>
<p>عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: طهروا هذه الأجساد طهركم الله فإنه ليس عبد يبيت طاهرا إلا بات معه ملك في شعاره لا ينقلب ساعة من الليل إلا قال : اللهم اغفر لعبدك فإنه بات طاهرا.</p>
<p>“Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata: “Bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Bersihkanlah jasad-jasad ini semoga Allah membersihkan kalian, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba bermalam suatau malam dalam keadaan suci melainkan seorang malaikat akan bermalam bersamanya di dalam selimutnya, tidaklah dia bergerak pada suatu waktu dari malam melainkan malaikat itu berdoa: “Wahai Allah, ampunilah untuk hamba-Mu sesungguhnya dia tidur malam dalam keadaan suci.</em>” (HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab <em>shahih Al Jami’</em>, no. 3936).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>b) Mandi</strong></span></p>
<p>عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال « حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِى كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا يَغْسِلُ فِيهِ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ»</p>
<p>“<em>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wajib bagi setiap muslim untuk mandi di setiap tujuh hari, sehari dia membasuh kepada dan badannya di dalamnya.</em>” (HR. Ibnu Hibban dan Bukhari).</p>
<p>Maksud hadits adalah: suatu kelaziman dan keharusan bagi setiap muslim minimal dalam seminggu dia harus mandi membersihkan kotoran di tubuhnya dan kepalanya, dan yang dimaksud sehari disini adalah hari Jumat sebagaimana dalam beberapa riwayat seperti riwayat Imam Ahmad dan Ath Thahawy.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>c) Menghilangkan kotoran, bakteri dan kuman dengan memotong kuku, menghabiskan bulu ketiak, bulu kemaluan, berkhitan, menipiskan kumis</strong></span></p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْفِطْرَةُ خَمْسٌ &#8211; أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ &#8211; الْخِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ»</p>
<p>“<em>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Fitrah ada lima atau lima perkara dari fitrah; berkhitan, menghabiskan bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menipiskan kumis.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Makna fitrah di dalam hadits adalah: asli penciptaan, agama, dan sunnah (syariat Islam).</p>
<p>Imam An Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>. قَالَ النَّوَوِيّ وَتَفْسِير الْفِطْرَة هَاهُنَا بِالسُّنَّةِ هُوَ الصَّوَاب؛ لأنَّهُ وَرَدَ فِي رِوَايَة مِنْ السُّنَّة قَصُّ الشَّارِب وَنَتْف الإبِط وَتَقْلِيم الأظْفَار، وَأَصَحُّ مَا فُسِّرَ بِهِ غَرِيب الْحَدِيث تَفْسِيره بِمَا جَاءَ فِي رِوَايَة أُخْرَى اِنْتَهَى.</p>
<p>“Tafsiran Al Fithrah dengan makna As Sunnah adalah pendapat yang benar, karena diriwayatkan dari sunnah bahwa menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak atau memotong kuku-kuku, dan tafsiran yang paling benar di dalam menfsirkan kata-kata yang sing di dalam hadits adalah dengan riwayat lain.” Lihat kitab <em>Hasyiyah As Suyuthi</em> atas kitab Sunan An Nasai.</p>
<p>Maksudnya adalah siapa yang mengerjakan 5 hal ini maka dia dia atas keaslian yang Allah ciptakan atasnya dan perintahkan kepadanya, berkata As Suyuthi <em>rahimahullah</em>:</p>
<p>وَقَالَ أَبُو شَامَة أَصْل الْفِطْرَة الْخِلْقَة الْمُبْتَدَأَة ، وَالْمُرَاد بِهَا هُنَا أَنَّ هَذِهِ الأشْيَاء إِذَا فُعِلَتْ اِتَّصَفَ فَاعِلُهَا بِالْفِطْرَةِ الَّتِي فَطَرَ الله الْعِبَاد عَلَيْهَا وَحَثَّهُمْ عَلَيْهَا وَاسْتَحَبَّهَا لَهُمْ لِيَكُونُوا عَلَى أَكْمَل الصِّفَات وَأَشْرَفهَا صُورَة</p>
<p>“Berkata Abu Syamah: asal kata fithrah adalah ciptaan yang asal, dan maksudnya di dalam hadits ini adalah bahwa perkara ini jika dilakukan maka pelakunya telah bersifat fitrah yang Allah fithrahkan kepada hamba-hamba-Nya, dan perintahkan serta anjurkan untuk itu kepada mereka agar mereka berada dalam sifat yang sempurna dan rupa yang paling mulia.” Lihat kitab <em>Hasyiyah As Suyuthi</em> atas kitab Sunan An Nasai.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>d) Mencuci tangan terutama setelah bangun tidur</strong></span></p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِى الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ».</p>
<p>“Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke bejana sampai dia membasuhnya tiga kali, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui dimanakah tangannya bermalam.</em>” (HR. Muslim).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>e) Pola dan tata cara makan</strong></span></p>
<p><em>Perut sumber penyakit:</em></p>
<p>الْمِقْدَامَ بْنَ مَعْدِيكَرِبَ رضي الله عنه يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «مَا مَلأَ آدَمِىٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الآدَمِىِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتِ الآدَمِىَّ نَفْسُهُ فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ». ابن ماجه</p>
<p>“Al Miqdam bin Ma’dikarib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Tidaklah seorang manusia mengisi sebuah tempat yang lebih buruk daripada perut, cukuplah bagi seorang manusia beberapa suapan yang menegakkan punggungngya, dan jika hawa nafsunya mengalahkan manusia, maka 1/3 untuk makan dan 1/3 untuk minum dan 1/3 untuk bernafas.</em>” HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab <em>Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah</em>, no. 2265.</p>
<p><em>Membagi minuman atau Bernafas ketika minum</em></p>
<p>عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ كَانَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- يَتَنَفَّسُ فِى الشَّرَابِ ثَلاَثًا وَيَقُولُ « إِنَّهُ أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ»</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bernafas ketika minum sebanyak tiga kali, beliau bersabda: “<em>Sesungguhnya ini lebih Arwa (menghilangkan haus), Abra (melepaskan penyakit) , Amra</em>”  (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Bernafas ketika minum artinya adalah: ketika minum beliau bernafas, kemudian minum lagi kemudian bernafas kemudian minum lagi dan bernafasnya dilakukan diluar tempat minumnya.</p>
<p><em>Makna Arwa, Abra, Amra:</em></p>
<p>Berkata Al Mubarakfury <em>rahimahullah</em>:</p>
<p>قَالَ النَّوَوِيُّ مَعْنَى أَبْرَأُ أَيْ أَبْرَأُ مِنْ أَلَمِ الْعَطَشِ وَقِيلَ أَبْرَأُ أَيْ أَسْلَمَ مِنْ مَرَضٍ أَوْ أَذًى يَحْصُلُ بِسَبَبِ الشُّرْبِ فِي نَفْسٍ وَاحِدٍ انْتَهَى</p>
<p>وَقَالَ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ أَبْرَأُ بِالْهَمْزِ مِنَ الْبَرَاءَةِ أو من البرء أي يبرىء مِنَ الْأَذَى وَالْعَطَشِ وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَبِي دَاوُدَ أَهْنَأُ بَدَلَ قَوْلِهِ أَرْوَى مِنَ الْهَنَأِ</p>
<p>قال والمعنى أنه يصير هنيا مريا بريا أَيْ سَالِمًا أَوْ مَبْرِيًّا مِنْ مَرَضٍ أَوْ عَطَشٍ وَيُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ أَقْمَعُ لِلْعَطَشِ وَأَقْوَى عَلَى الْهَضْمِ وَأَقَلُّ أَثَرًا فِي ضَعْفِ الأعْضَاءِ وَبَرْدِ الْمَعِدَةِ.انْتَهَى كَلامُ الْحَافِظِ .</p>
<p>“An Nawawi berkata: “Makna Abra adalah lebih cepat sembuh dari penyakit bersin dan di katakana pendapat lain makna Abra adalah lebih selamat dari penyakit apapun atau gangguan apapun yang terjadi akibat minum dalam satu kali nafas.”</p>
<p>Al Hafizh di dalam kitab Al Fath berkata: “Abra dengan huruf hamzah di depannya berasal dari terlepas dari penyakit, pilek dan terdapat di dalam riwayat Abu Daud Ahnaa sebagai pengganti dari Arwa, yang berarti kenyamanan,”</p>
<p>Beliau juga berkata: “dan maknanya dia menjadi selamat atau terlepas dari penyakit atau pilek dan diambilkan dari itu bahwa dia kebih menghilangkan bersin dan lebih kuat untuk pencernaan dan lebih sedikit memberi pengaruh pada kelemahan anggota tubuh dan dinginnya lambung.” (Lihat kitab <em>Tuhfat Al Ahwadzi)</em>.</p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ وابن عباس- رضى الله عنهم &#8211; نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُشْرَبَ مِنْ فِى السِّقَاءِ.</p>
<p>“<em>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shalallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk minum dari mulut teko.</em>” (HR. Bukhari).</p>
<p>Ditakutkan dari minum dengan cara seperti ini ada sebuah kotoran atau binatang yang keluar dari mulut teko tersebut tanpa diketahui sebelumnya, apalagi jika tekonya berwarna gelap atau tidak bisa dilihat apa yang ada di dalam teko tersebut.</p>
<p>Ayyub <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>فَأُنْبِئْتُ أَنَّ رَجُلاً شَرِبَ مِنْ فِى السِّقَاءِ فَخَرَجَتْ حَيَّةٌ.</p>
<p>“<em>Aku pernah diceritakan bahwa seseorang minum dari mulut teko lalu yang keluar adalah ular.</em>” (HR. Ahmad).</p>
<p>عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِى الشُّرْبِ. فَقَالَ رَجُلٌ الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِى الإِنَاءِ قَالَ «أَهْرِقْهَا». قَالَ فَإِنِّى لاَ أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ « فَأَبِنِ الْقَدَحَ إِذًا عَنْ فِيكَ».</p>
<p>“<em>Abu Said Al Khudry radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk meniup di dalam minuman, maka seseorang berkata: “Ada kotoran yang aku lihat di dalam tempat minuman?”, beliau bersabda: “Tumpahkanlah dia”. Lalu lelaki itu berkata lagi: “Sesungguhnya aku tidak puas minum jika tidak dari satu nafas?”, beliau bersabda:“Kalau begitu, jauhkanlah teko dari mulutmu,</em>”(HR. Tirmidzi).</p>
<p>Di dalam kitab <em>Zaad Al Ma’ad</em> karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah <em>rahimahullah</em> banyak sekali disebut gaya makan Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, seperti:</p>
<ul>
<li>minum madu yang sudah dicampur dengan air dingin</li>
<li>makan manisan dicampur dengan madu</li>
<li>menyukai daging unta, kambing, ayam, keledai liar, kelinci, sea food.</li>
<li>menyukai daging bakar</li>
<li>mencampur antara <em>ruthab</em> (kurma matang yang segar) dengan <em>tamr</em> (kurma kering)</li>
<li>makan kurma dengan roti</li>
<li>minum susu murni atau yang sudah dicampur</li>
<li>makan semangka dicampur dengan kurma ruthab</li>
<li>makan roti dicampur dengan cuka</li>
<li>dan lain-lainnya.</li>
</ul>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>f) Menyikat gigi dan membersihkan mulut</strong></span></p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ».</p>
<p>“Aisyah<em> radhiyallahu ‘anha </em>berkata: ‘Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda<em>: “Siwak membesihkan mulut dan mendatangkan keridhaan untuk Rabb.</em>” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, 3695).</p>
<p>عَنْ أَبَي هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قَالَ «لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ كل صلاة بوضوء ومع كل وضوء بِسِّوَاكِ»</p>
<p>“Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda: “<em>Jikalau aku tidak memberatkan atas umatkau maka aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat dengan wudhu dan setiap kali wudhu.</em>” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab <em>Shahih Al Jami’</em>, no. 200).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>g) Menutup tempat makanan dan minuman yang terisi</strong></span></p>
<p>عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله رضي الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِى السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ ».</p>
<p>“Jabir <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda: “<em>Tutuplah tempat-tempat makanan, tempat-tempat minuman karena sesungguhnya di dalam setahun ada sebuah malam yang turun di dalamnya wabah penyakit tidak dia melewati sebuah tempat makanan atau minuman yang tidak tertutup, atau tidak ada penghalang di atasnya melainkan turun di dalamnya dari wabah penyakit tersebut.</em>” (HR. Muslim).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>h) Menjaga kebersihan lingkungan</strong></span></p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «اتَّقُوا اللاَّعِنَيْنِ» قَالُوا وَمَا اللاَّعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «الَّذِى يَتَخَلَّى فِى طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ»</p>
<p>“Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Jauhilah  dua perkara yang mendatangkan laknat”, para shahabat radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Apakah dua perkara yang mendatangkan laknat, wahai Rasulullah?”, beliau bersabda:“Yang buang hajat di jalan manusia atau di tempat berteduh mereka.</em>” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2348).</p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ».</p>
<p>“Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda</em>: “<em>Janganlah salah seorang dari kalian sekali-kali pernah kencing di air yang menggenang kemudian dia mandi darinya.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>عن سعد رضي الله عنه يقول قال رسول االله صلى الله عليه وسلم (طهروا أفنيتكم فإن اليهود لا تطهر أفنيتها)</p>
<p>“Dari Sa’ad <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Bersihkanlah pekarangan kalian karena sesungguhnya kaum yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka.</em>” (HR. Ath Tahbarani dan dihasankan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 3935).</p>
<p><em>Kawan pembaca …</em> Amalkan sunnah maka hidup sehat menanti Anda, dengan kehendak Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>*) Ditulis Sabtu, 5 Rabi’ul Awwal 1433H Dammam KSA.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://dakwahsunnah.com">Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9056"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fhidup-sehat-dengan-mengamalkan-sunnah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hidup-sehat-dengan-mengamalkan-sunnah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Kata Terlambat untuk Belajar Islam</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tidak-ada-kata-terlambat-untuk-belajar-islam.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tidak-ada-kata-terlambat-untuk-belajar-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 06:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[belajar islam]]></category>
		<category><![CDATA[din]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu diin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9003</guid>
		<description><![CDATA[Menuntut ilmu agama adalah amalan yang amat mulia. Lihatlah keutamaan yang disebutkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,  “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tidak-ada-kata-terlambat-untuk-belajar-islam.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Menuntut ilmu agama adalah amalan yang amat mulia. Lihatlah keutamaan yang disebutkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,  “<em>Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).</em>”</p>
<p>Imam yang telah sangat masyhur di tengah kita, Imam Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>berkata, “<em>Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.</em>”</p>
<p>Namun ada yang merasa bahwa ia sudah terlalu tua, malu jika harus duduk di majelis ilmu untuk mendengar para ulama menyampaikan ilmu yang berharga dan akhirnya enggan untuk belajar. Padahal ulama di masa silam, bahkan sejak masa sahabat tidak pernah malu untuk belajar, mereka tidak pernah putus asa untuk belajar meskipun sudah berada di usia senja. Ada yang sudah berusia 26 tahun baru mengenal Islam, bahkan ada yang sudah berusia senja -80 atau 90 tahun- baru mulai belajar. Namun mereka-mereka inilah yang menjadi ulama besar karena disertai <em>‘uluwwul himmah</em> (semangat yang kuat dalam belajar).</p>
<p>Berikut 10 contoh teladan dari ulama salaf di mana ketika berusia senja, mereka masih semangat dalam mempelajari Islam.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 1 – Dari para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em></strong></span></p>
<p>Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya, “<em>Para sahabat belajar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru ketika usia senja</em>”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 2 – Perkataan Ibnul Mubarok</strong></span></p>
<p>Dari Na’im bin Hammad, ia berkata bahwa ada yang bertanya pada Ibnul Mubarok, “<em>Sampai kapan engkau menuntut ilmu?</em>” “<em>Sampai mati insya Allah</em>”, jawab Ibnul Mubarok.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 3 – Perkataan Abu ‘Amr ibnu Al ‘Alaa’</strong></span></p>
<p>Dari Ibnu Mu’adz, ia berkata bahwa ia bertanya pada Abu ‘Amr ibnu Al ‘Alaa’, “<em>Sampai kapan waktu terbaik untuk belajar bagi seorang muslim?</em>” “<em>Selama hayat masih dikandung badan</em>”, jawab beliau.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 4 – Teladan dari Imam Ibnu ‘Aqil</strong></span></p>
<p>Imam Ibnu ‘Aqil berkata, “Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktuku dalam umurku walau sampai hilang lisanku untuk berbicara atau hilang penglihatanku untuk banyak menelaah. Pikiranku masih saja terus bekerja ketika aku beristirahat. Aku tidaklah bangkit dari tempat dudukku kecuali jika ada yang membahayakanku. Sungguh aku baru mendapati diriku begitu semangat dalam belajar ketika aku berusia 80 tahun. Semangatku ketika itu lebih dahsyat daripada ketika aku berusia 30 tahun”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 5 – Teladan dari Hasan bin Ziyad</strong></span></p>
<p>Az Zarnujiy berkata, “Hasan bin Ziyad pernah masuk di suatu majelis ilmu untuk belajar ketika usianya 80 tahun. Dan selama 40 tahun ia tidak pernah tidur di kasur”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 6 – Teladan dari Ibnul Jauzi</strong></span></p>
<p>Kata Adz Dzahabiy, “Ibnul Jauzi pernah membaca Wasith di hadapan Ibnul Baqilaniy dan kala itu ia berusia 80 tahun.”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 7 – Teladan dari Imam Al Qofal</strong></span></p>
<p>Al Imam Al Qofal menuntut ilmu ketika ia berusia 40 tahun.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 8 – Teladan dari Ibnu Hazm</strong></span></p>
<p>Ketika usia 26 tahun, Ibnu Hazm belum mengetahui bagaimana cara shalat wajib yang benar. Asal dia mulai menimba ilmu diin (agama) adalah ketika ia menghadiri jenazah seorang terpandang dari saudara ayahnya. Ketika itu ia masuk masjid sebelum shalat ‘Ashar, lantas ia langsung duduk tidak mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid. Lalu ada gurunya yang berkata sambil berisyarat, “Ayo berdiri, shalatlah tahiyatul masjid”. Namun Ibnu Hazm tidak paham. Ia lantas diberitahu oleh orang-orang yang bersamanya, “Kamu tidak tahu kalau shalat tahiyatul masjid itu wajib?”(*) Ketika itu Ibnu Hazm berusia 26 tahun. Ia lantas merenung dan baru memahami apa yang dimaksud oleh gurunya.</p>
<p>Kemudian Ibnu Hazm melakukan shalat jenazah di masjid. Lalu ia berjumpa dengan kerabat si mayit. Setelah itu ia kembali memasuki masjid. Ia segera melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Kemudian ada yang berkata pada Ibnu Hazm, “Ayo duduk, ini bukan waktu untuk shalat”(**).</p>
<p>Setelah dinasehati seperti itu, Ibnu Hazm akhirnya mau belajar agama lebih dalam. Ia lantas menanyakan di mana guru tempat ia bisa menimba ilmu. Ia mulai belajar pada Abu ‘Abdillah bin Dahun. Kitab yang ia pelajari adalah mulai dari kitab Al Muwatho’ karya Imam Malik bin Anas.</p>
<p>* Perlu diketahui bahwa hukum shalat tahiyatul masjid menurut jumhur –mayoritas ulama- adalah sunnah. Sedangkan menurut ulama Zhohiriyah, hukumnya wajib.</p>
<p>** Menurut sebagian ulama tidak boleh melakukan shalat tahiyatul masjid di waktu terlarang untuk shalat seperti selepas shalat Ashar. Namun yang tepat, masih boleh shalat tahiyatul masjid meskipun di waktu terlarang shalat karena shalat tersebut adalah shalat yang ada sebab.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 9 – Teladan dari Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam</strong></span></p>
<p>Beliau adalah ulama yang sudah sangat tersohor dan memiliki lautan ilmu. Pada awalnya, Imam Al ‘Izz sangat miskin ilmu dan beliau baru sibuk belajar ketika sudah berada di usia senja.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Teladan 10 – Teladan dari Syaikh Yusuf bin Rozaqullah </strong></span></p>
<p>Beliau diberi umur yang panjang hingga berada pada usia 90 tahun. Ia sudah sulit mendengar kala itu, namun panca indera yang lain masih baik. Beliau masih semangat belajar di usia senja seperti itu dan semangatnya seperti pemuda 30 tahun.</p>
<p>Jika kita telah mengetahui 10 teladan di atas dan masih banyak bukti-bukti lainnya, maka seharusnya kita lebih semangat lagi untuk belajar Islam. Dan belajar itu tidak pandang usia. Mau tua atau pun muda sama-sama punya kewajiban untuk belajar. Inilah yang penulis sendiri saksikan di tengah-tengah belajar di Saudi Arabia, banyak yang sudah ubanan namun masih mau duduk dengan ulama-ulama besar seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan, bahkan mereka-mereka ini yang duduk di shaf terdepan.</p>
<p align="center">Imam Asy Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ</p>
<p align="center">“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.”</p>
<p align="center"><em>Ya Allah berkahilah umur kami dalam ilmu, amal dan dakwah. Wabillahit taufiq.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><em>‘Uluwul Himmah, </em>Muhammad bin Ahmad bin Isma’il Al Muqoddam, terbitan Dar Ibnul Jauzi, hal. 202-206.</p>
<p><em>Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfaazhil Minhaaj</em>, Syamsuddin Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan pertama, 1418 H, 1: 31.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ KSU, Riyadh, KSA, 4 Jumadats Tsani 1433 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9003"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Ftidak-ada-kata-terlambat-untuk-belajar-islam.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tidak-ada-kata-terlambat-untuk-belajar-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 07:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8945</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya. Lawan dari nasehat adalah melakukan penipuan. Sementara menipu merupakan dosa besar yang merusak keimanan seorang hamba. Maka sudah semestinya setiap muslim bersemangat untuk menunaikan nasehat kepada sesama saudaranya demi terjaganya iman di dalam dirinya dan demi kebaikan saudaranya.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ</p>
<p>Dari  Jarir bin Abdillah <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata: <em>“Aku berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan nasehat (menghendaki kebaikan) bagi setiap muslim.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<em>“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” </em>Lalu ada yang bertanya,<em>“Apa itu ya Rasulullah.”</em> Maka beliau menjawab,<em> “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia -dengan bacaan yarhamukallah-, apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْك النَّصِيحَة ، فَعَلَيْك أَنْ تَنْصَحهُ ، وَلَا تُدَاهِنهُ ، وَلَا تَغُشّهُ ، وَلَا تُمْسِك عَنْ بَيَان النَّصِيحَة</p>
<p><em>“Maknanya: -apabila- dia meminta nasehat darimu, maka wajib bagimu untuk menasehatinya, jangan hanya mencari muka di hadapannya, jangan pula menipunya, dan janganlah kamu menahan diri untuk menerangkan nasehat –kepadanya-.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [7/295] asy-Syamilah)</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى الْمُؤْمِنِ سِتُّ خِصَالٍ يَعُودُهُ إِذَا مَرِضَ وَيَشْهَدُهُ إِذَا مَاتَ وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ وَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيَهُ وَيُشَمِّتُهُ إِذَا عَطَسَ وَيَنْصَحُ لَهُ إِذَا غَابَ أَوْ شَهِدَ</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda, <em>“Ada enam kewajiban seorang muslim kepada mukmin yang lain. Apabila saudaranya sakit hendaknya dia jenguk. Apabila dia akan meninggal hendaknya dia ikut menyaksikannya. Apabila bertemu maka hendaknya dia ucapkan salam kepadanya. Apabila dia bersin hendaknya mendoakannya. Dan apabila dia pergi/tidak ada atau sedang hadir -ada di hadapannya- maka hendaknya dia bersikap nasehat kepadanya.”</em>(<strong>HR. Tirmidzi</strong>, beliau berkata hadits hasan sahih)</p>
<p>al-Mubarakfuri <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ يُرِيدُ خَيْرَهُ فِي حُضُورِهِ وَغَيْبَتِهِ ، فَلَا يَتَمَلَّقُ فِي حُضُورِهِ وَيَغْتَابُ فِي غَيْبَتِهِ فَإِنَّ هَذَا صِفَةُ الْمُنَافِقِينَ</p>
<p><em>“Kesimpulannya adalah hendaknya seorang muslim senantiasa menginginkan kebaikan bagi saudaranya, baik ketika dia ada ataupun tidak ada, dan janganlah dia hanya senang mencari muka ketika berada di hadapannya dan menggunjingnya apabila saudaranya itu tidak ada di hadapannya, karena sesungguhnyahal  ini termasuk ciri orang-orang munafik.”</em> (<em>Tuhfat al-Ahwadzi</em> [7/44] asy-Syamilah)<strong></strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> suatu ketika melalui setumpuk makanan -yang dijual- kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalamnya lalu jari beliau menemukan basah-basah di dalamnya. Maka beliau berkata,<em>“Wahai pemilik/penjual makanan, kenapa ini?”</em>. Dia menjawab, <em>“Terkena air hujan ya Rasulullah.”</em> Maka Nabi berkata, <em>“Mengapa kamu tidak meletakkannya di atas tumpukan makanan itu supaya orang-orang bisa melihatnya. Barangsiapa yang menipu maka dia bukan termasuk golongan kami.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>ash-Shan’ani <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَالْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْغِشِّ وَهُوَ مُجْمَعٌ عَلَى تَحْرِيمِهِ شَرْعًا مَذْمُومٌ فَاعِلُهُ عَقْلًا</p>
<p><em>“Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya penipuan, dan hal itu adalah perkara yang telah disepakati keharamannya berdasarkan syari’at dan dicela pelakunya menurut logika.”</em> (<em>as-Subul as-Salam</em> [4/134] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ومن حقوق المسلم على المسلم أن تنصحه إذا استنصحك ، فتشير عليه بما تحبه لنفسك ، فإن من غش فليس منا ، فإذا شاورك في معاملة شخص أو في تزويجه أو غيره ، فإن كنت تعلم منه خيرا فأرشده إليه ، وإن كنت تعلم منه شرا ، فحذره ، وإن كنت لا تدري عنه ، فقل له : لا أدري عنه ، وإن طلب أن تبين له شيئا من الأمور التي تقتضي البعد عنه ، فبينه له</p>
<p><em>“Di antara kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain adalah kamu harus menasehatinya jika dia meminta nasehat kepadamu, sehingga kamu akan menunjukkan kepadanya apa yang kamu senangi untuk dirimu sendiri, karena orang yang menipu bukan termasuk golongan kita. Apabila dia bermusyawarah kepadamu -meminta saran- ketika berhubungan dengan seseorang atau dalam urusan pernikahannya atau urusan yang lain, maka apabila kamu mengetahui kebaikan darinya maka arahkanlah ia kepadanya. Apabila kamu mengetahui keburukan darinya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila kamu tidak mengetahui tentangnya maka katakanlah kepadanya; aku tidak tahu tentangnya. Apabila dia meminta kamu untuk menerangkan sesuatu perkara yang semestinya dia menjauh darinya maka terangkanlah hal itu kepadanya.”</em> (<em>adh-Dhiya’ al-Lami’ min al-Khuthab al-Jawami’</em> [1/233] asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Jarullah berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وإذا استنصحك فانصح له أي إذا استشارك في عمل من الأعمال هل يعمله أم لا ؟ فانصح له بما تحب لنفسك فإن كان العمل نافعا من كل وجه فحثه على فعله وإن كان مضرا فحذره منه وإن احتوى على نفع وضر فاشرح له ذلك ووازن بين المنافع والمضار والمصالح والمفاسد وكذلك إذا شاورك في معاملة أحد من الناس أو التزوج منه أو تزويجه فأظهر له محض نصحك واعمل له من الرأي ما تعمله لنفسك وإياك أن تغشه في شيء من ذلك فمن غش المسلمين فليس منهم وقد ترك واجب النصيحة ، وهذه النصيحة واجبة على كل حال ولكنها تتأكد إذا استنصحك وطلب منك الرأي النافع</p>
<p><em>“Apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, artinya apabila dia meminta masukan kepadamu mengenai suatu pekerjaan apakah dia sebaiknya melakukannya atau tidak? Maka nasehatilah dia dengan sesuatu yang kamu sukai bagi dirimu. Apabila pekerjaan itu bermanfaat dari berbagai sisi maka doronglah dia untuk melakukannya. Apabila hal itu berbahaya maka peringatkanlah dia darinya. Apabila hal itu mengandung manfaat dan madharat maka jelaskanlah kepadanya hal itu, dan bandingkanlah untuknya antara manfaat dan madharat, atau maslahat dan mafsadat yang ada. Demikian juga apabila dia meminta saran kepadamu dalam urusan muamalah dengan seseorang atau hendak menikah dengannya maka tunjukkanlah kepadanya sikap tulusmu dalam memberikan nasehat. Gunakanlah pendapat dalam menasehatinya dengan pendapat yang kamu sukai bagi dirimu. Janganlah kamu menipunya dalam perkara itu. Karena barangsiapa yang menipu kaum muslimin maka dia bukan termasuk golongan mereka dan dia telah meninggalkan kewajiban nasehat. Nasehat ini hukumnya wajib -secara mutlak- dalam kondisi apapun, akan tetapi kewajiban ini semakin ditekankan tatkala dia meminta nasehat kepadamu dan meminta saran yang bermanfaat kepadamu.” (Kamal ad-Din al-Islami wa Haqiqatuhu wa Mazayahu</em>, hal 77. lihat juga <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar</em>, hal 114 asy-Syamilah)  <strong></strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَأَبَا جَهْمٍ خَطَبَانِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ انْكِحِي أُسَامَةَ فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا</p>
<p>Dari Fathimah binti Qais <em>radhiyallahu’anha</em>, dia menuturkan bahwa suatu ketika Mu’waiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm ingin melamarku, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Adapun Abu Jahm, dia itu tidak pernah meletakkan tongkatnya dari  bahunya. Adapun Mu’awiyah adalah orang yang miskin, tak berharta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.”</em> Namun aku tidak menyukainya. Lalu beliau bersabda, <em>“Menikahlah dengan Usamah.” </em>Maka akupun menikah dengannya sehingga Allah menjadikan kebaikan padanya (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَفِيهِ دَلِيل عَلَى جَوَاز ذِكْر الْإِنْسَان بِمَا فِيهِ عِنْد الْمُشَاوَرَة وَطَلَب النَّصِيحَة وَلَا يَكُون هَذَا مِنْ الْغِيبَة الْمُحَرَّمَة بَلْ مِنْ النَّصِيحَة الْوَاجِبَة . وَقَدْ قَالَ الْعُلَمَاء إِنَّ الْغِيبَة تُبَاح فِي سِتَّة مَوَاضِع أَحَدهَا الِاسْتِنْصَاح</p>
<p><em>“Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menyebutkan apa-apa yang terdapat pada diri seseorang ketika bermusyawarah dan meminta nasehat, dan hal ini tidak termasuk dalam perbuatan ghibah/menggunjing yang diharamkan, bahkan hal ini adalah nasehat yang wajib. Para ulama mengatakan bahwa ghibah diperbolehkan pada enam keadaan, salah satunya adalah ketika dimintai nasehat  -pendapat tentang orang lain yang hendak dinikahi atau menjadi rekan bisnis dan semacamnya, pent-.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [5/240] asy-Syamilah)<strong></strong></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وقد سمع أبو تراب النخشبي أحمد بن حنبل وهو يتكلم في بعض الرواة فقال له: أتغتاب العلماء؟! فقال له: ويحك! هذا نصيحة، ليس هذا غيبة.</p>
<p>Abu Turab an-Nakhasyabi pernah mendengar Ahmad bin Hanbal ketika dia sedang membicarakan/mengkritik sebagian periwayat. Maka dia berkata kepadanya, <em>“Apakah kamu menggunjing para ulama?!”</em>. Maka beliau berkata kepadanya, <em>“Celaka kamu! Ini adalah nasehat, ini bukan ghibah.”</em> (disebutkan dalam <em>al-Ba’its al-Hatsits</em>, hal. 36 asy-Syamilah)</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang bisa menunaikan kewajiban yang agung ini dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang saling memberikan nasehat dengan ikhlas karena-Nya. <em>Wallahul muwaffiq. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8945"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fnasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 23:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8883</guid>
		<description><![CDATA[Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dalam mukaddimah kitab <em>Al Waabilush Shayyib</em>, Imam Ibnul Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros: Syukur, Sabar, dan Istighfar. Seseorang takkan lepas dari salah satu dari tiga keadaan:</p>
<p><strong>1-</strong> Ia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur. Syukur memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’. Ketiga rukun tersebut adalah: a- Mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah. b-Mengucapkannya dengan lisan. c-Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah yang memberikannya.</p>
<p>Inilah rukun-rukun syukur yang mesti dipenuhi</p>
<p><strong>2-</strong> Atau, boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar. Definisi sabar itu sendiri meliputi tiga hal: a-Menahan hati dari perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah. b-Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah. c-Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ thd keputusan Allah.</p>
<p>Perlu kita pahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Kalaulah Allah mewajibkan sejumlah peribadatan (yaitu hal-hal yang menjadikan kita sebagai abdi/budak-nya Allah) saat kita dalam kondisi lapang; maka Allah juga mewajibkan sejumlah peribadatan kala kita dalam kondisi sempit.</p>
<p>Banyak orang yang ringan untuk melakukan peribadatan tipe pertama, karena biasanya hal tersebut selaras dengan keinginannya. Akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah peribadatan tipe kedua, yang sering kali tidak selaras dengan keinginan yang bersangkutan.</p>
<p>Ibnul Qayyim lantas mencontohkan bahwa berwudhu di musim panas menggunakan air dingin; mempergauli isteri cantik yang dicintai, memberi nafkah kepada anak-isteri saat banyak duit; adalah ibadah. Demikian pula berwudhu dengan sempurna dengan air dingin di musim dingin dan menafkahi anak-isteri saat kondisi ekonomi terjepit, juga termasuk ibadah; tapi nilainya begitu jauh antara ibadah tipe pertama dengan ibadah tipe kedua. Yang kedua jauh lebih bernilai dibandingkan yang pertama, karena itulah ibadah yang sesungguhnya, yang membuktikan penghambaan seorang hamba kepada Khaliqnya.</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah berjanji akan mencukupi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ</p>
<p>“<em>Bukankah Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhan) hamba-Nya?</em>&#8221; (QS. Az Zumar: 36).</p>
<p>Tingkat kecukupan tersebut tentulah berbanding lurus dengan tingkat penghambaan masing-masing hamba. Makin tinggi ia memperbudak dirinya demi kesenangan Allah yang konsekuensinya harus mengorbankan kesenangan pribadinya, maka makin tinggi pula kadar pencukupan yang Allah berikan kepadanya. Akibatnya, sang hamba akan senantiasa dicukupi oleh Allah dan termasuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا</p>
<p>“<em>(Sesungguhnya, engkau (Iblis) tidak memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil (penolong)</em>” (QS. Al Isra’: 65).</p>
<p>Hamba-hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah hamba yang mendapatkan pencukupan dari Allah dalam ayat sebelumnya, yaitu mereka yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah, baik dalam kondisi menyenangkan maupun menyusahkan. Inilah hamba-hamba yang terjaga dari gangguan syaithan, alias syaithan tidak bisa menguasai mereka dan menyeret mereka kepada makarnya, kecuali saat hamba tersebut lengah saja.</p>
<p>Sebab bagaimana pun juga, setiap manusia tidak akan bebas 100% dari gangguan syaithan selama dia adalah manusia. Ia pasti akan termakan bisikan syaithan suatu ketika. Namun bedanya, orang yang benar-benar merealisasikan ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah hanya akan terganggu oleh syaithan di saat dirinya lengah saja, yakni saat dirinya tidak bisa menolak gangguan tersebut… saat itulah dia termakan hasutan syaithan dan melakukan pelanggaran.</p>
<p>dengan demikian, ia akan beralih ke kondisi berikutnya:</p>
<p><strong>3-</strong> Yaitu begitu ia melakukan dosa, segera lah ia memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini merupakan solusi luar biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia hamba yang bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari. Ibnul Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan: “<em>Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka</em>”. <em>Bagaimana kok begitu? </em>Bila ALlah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih). Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.</p>
<p>Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.</p>
<p>Demikian kurang lebih penuturan beliau dalam mukaddimah kitab tadi, semoga kita terinspirasi dengan tulisan yang bersahaja ini.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://basweidan.com/rahasia-syukur-sabar-istighfar/">Ustadz Sufyan Basweidan, MA</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8883"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Frahasia-syukur-sabar-dan-istighfar.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-syukur-sabar-dan-istighfar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Teman Bergaul</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pengaruh-teman-bergaul.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pengaruh-teman-bergaul.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 05:30:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[bergaul]]></category>
		<category><![CDATA[narkoba]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[shohib]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8879</guid>
		<description><![CDATA[Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang jelek, sebaliknya manfaat yang besar<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pengaruh-teman-bergaul.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang jelek, sebaliknya manfaat yang besar akan didapatkan dengan bergaul dengan orang-orang yang baik.</p>
<p><strong>Pengaruh Teman Bagi Seseorang</strong></p>
<p>Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.</p>
<p>Dalam sebuah hadits Rasululah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :</p>
<p>مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة</p>
<p>“<em>Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap</em>.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)</p>
<p><strong>Perintah Untuk Mencari Teman yang Baik dan Menjauhi Teman yang Jelek</strong></p>
<p>Imam Muslim rahimahullah mencantumkan hadits di atas dalam Bab : Anjuran Untuk Berteman dengan Orang Shalih dan Menjauhi Teman yang Buruk”. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227)</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan : “Hadits di ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”( Fathul Bari 4/324)</p>
<p><strong>Manfaat Berteman dengan Orang yang Baik</strong></p>
<p>Hadits di atas mengandung faedah bahwa bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh kebaikan dari yang dilakukan teman kita.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan pertemanan dengan dua contoh (yakni penjual minyak wangi dan seorang pandai besi). Bergaul bersama dengan teman yang shalih akan mendatangkan banyak kebaikan, seperti penjual minyak wangi yang akan memeberikan manfaat dengan bau harum minyak wangi. Bisa jadi dengan diberi hadiah olehnya, atau membeli darinya, atau minimal dengan duduk bersanding dengannya , engkau akan mendapat ketenangan dari bau harum minyak wangi tersebut. Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih lebih banyak dan lebih utama daripada harumnya aroma minyak wangi. Dia akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan agamamu. Dia juga akan memeberimu nasihat. Dia juga akan mengingatkan dari hal-hal yang membuatmu celaka. Di juga senantiasa memotivasi dirimu untuk mentaati Allah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan bersabar dengan kekurangan dirimu. Dia juga mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun bersikap. Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman dekatnya dalam tabiat dan perilakunya. Keduanya saling terikat satu sama lain, baik dalam kebaikan maupun dalam kondisi sebaliknya.</p>
<p>Jika kita tidak mendapatkan kebaikan-kebaikan di atas, masih ada manfaat lain yang penting jika berteman dengan orang yang shalih. Minimal diri kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatn buruk dan maksiat. Teman yang shalih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun tidak, dia juga akan memberimu manfaat dengan kecintaanya dan doanya kepadamu, baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau tiada. Dia juga akan membantu menghilangkan kesulitanmu karena persahabatannya denganmu dan kecintaanya kepadamu. (Bahjatu Quluubil Abrar148)</p>
<p><strong>Mudharat Berteman dengan Orang yang Jelek</strong></p>
<p>Sebaliknya, bergaul dengan teman yang buruk juga ada dua kemungkinan yang kedua-duanya buruk. Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memeproleh kejelakan yang dilakukan teman kita. Syaikh As Sa’di rahimahulah juga menjelaskan bahwa berteman dengan teman yang buruk memberikan dampak yang sebaliknya. Orang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang yang bergaul bersamanya. Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak. Oleh karena itu, sungguh merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman yaitu Allah memberinya taufik berupa teman yang baik. Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk. (Bahjatu Qulubil Abrar, 185)</p>
<p><strong>Kebaikan Seseorang Bisa Dilihat Dari Temannya</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل</p>
<p>“<em>Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya</em>.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)</p>
<p><strong>Jangan Sampai Menyesal di Akhirat</strong></p>
<p>Memilih teman yang jelek akan menyebakan rusak agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Renungkanlah firman Allah berikut :</p>
<p>وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً</p>
<p>“ <em>Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia</em>” (Al Furqan:27-29)<br />
Lihatlah bagiamana Allah menggambarkan seseorang yang teah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.</p>
<p><strong>Sifat Teman yang Baik </strong></p>
<p>Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :</p>
<p>وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا</p>
<p>“ <em>Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia</em>” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).</p>
<p>Kemudian beliau menjelaskan : “Akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh. Karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justru dia malah mencelakakanmu. Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang memamahai segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau tatkala dia menjelaskan kepada orang ain. Teman yang baik juga harus memiliki akhlak yang mulia. Karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya. Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya dan engkau tidak aman dari tipu dayanya. Sedangkan berteman denagn ahli bid’ah, dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan kejelekan bid’ahnya. (Mukhtashor Minhajul Qashidin, 2/ 36-37)</p>
<p><strong>Hendaknya Orang Tua Memantau Pergaulan Anaknya</strong></p>
<p>Kewajiban bagi orang tua adalah mendidik anak-anaknya. Termasuk dalam hal ini memantau pergaulan anak-anaknya. Betapa banyak anak yang sudah mendapat pendidikan yang bagus dari orang tuanya, namun dirusak oleh pergaulan yang buruk dari teman-temannya. Hendaknya orangtua memeprhatikan lingkungan dan pergaulan anak-anaknya, karena setap orang tua adalah pemimpin bagikeluarganya, dan setiap pemimpin kan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Allah Ta’ala juga berfirman :</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan</em> “ (At Tahrim:6).</p>
<p>Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik. Wallahul musta’an.</p>
<p><em>Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.</em></p>
<p>Penulis: Adika Mianoki<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8879"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fpengaruh-teman-bergaul.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pengaruh-teman-bergaul.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Naiknya BBM</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/menyikapi-naiknya-bbm.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/menyikapi-naiknya-bbm.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 23:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Bahan Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[kenaikan BBM]]></category>
		<category><![CDATA[naik]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa]]></category>
		<category><![CDATA[zhalim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8801</guid>
		<description><![CDATA[Kita tahu bahwa semua pasti akan merasakan kesulitan ketika BBM naik. Karena jika BBM naik, semua kebutuhan pokok akan ikut naik. Akan semakin tercekiklah rakyat jelata seperti kita-kita ini. Namun demikianlah kebanyakan orang dalam menghadapi<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/menyikapi-naiknya-bbm.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Kita tahu bahwa semua pasti akan merasakan kesulitan ketika BBM naik. Karena jika BBM naik, semua kebutuhan pokok akan ikut naik. Akan semakin tercekiklah rakyat jelata seperti kita-kita ini. Namun demikianlah kebanyakan orang dalam menghadapi masalah ini keliru. Semua ingin agar suaranya didengar oleh penguasa. Demonstrasilah yang jadi solusi. Tidak ada yang berpikir, kenapa pemimpin kita bisa memilih jalan untuk menaikkan BBM? Tidak ada yang mau merenung, apa betul presiden tercinta kita ingin menyengsarakan bahkan membunuh rakyatnya sendiri? Lalu kenapa tidak mau menyikapi hal ini dengan bersabar?</p>
<p><strong>Taat kepada Penguasa Zholim</strong><br />
Inilah prinsip yang diajarkan oleh salafush sholeh, oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, oleh orang-orang yang meniti jalan para sahabat. Mereka tetap mentaati dan manut pada perintah penguasa selama diperintahkan dalam yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan dalam maksiat. Ketaatan itu tetap ada, meskipun yang memerintah mereka adalah penguasa zholim, yang mungkin sering menyengsarakan rakyatnya. Ketaatan itu tetap ada meskipun penguasa tersebut melakukan kezholiman dengan menaikkan harga BBM misalnya.</p>
<p>Renungkanlah hadits berikut yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan seakan-akan adalah nasehat terakhir beliau. Dari Abu Najih, Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ<br />
“<em>Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah</em>” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).</p>
<p>Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab, sebagian ulama menyebutkan bahwa penyebutan budak Habasyah dalam hadits di atas adalah cuma permisalan saja, namun sebenarnya tidak mungkin seorang budak menjadi pemimpin (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 120). Artinya, meskipun seorang budak jadi pemimpin, maka kita tetap taat.</p>
<p>Hadits yang menyebutkan penguasa zholim tetap wajib ditaati adalah hadits berikut ini.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».</p>
<p>“<em>Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “</em><br />
<em> Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”</em><br />
<em> Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka</em>” (HR. Muslim no. 1847).</p>
<p>Lihatlah bukankah yang disebutkan dalam hadits ini adalah pemimpin yang zholim? Sampai ia menyiksa rakyatnya sendiri, sampai memukul dan mengambil harta, ini jelas zholim. Namun lihatlah apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka”.</p>
<p><em>Subhanallah </em>&#8230; Ternyata prinsip yang satu ini sering tidak diindahkan oleh kaum muslimin. Mereka begitu tidak bersabar dengan kenaikan BBM, kalau benar mereka menganggap kenaikan BBM tersebut sebagai suatu kezholiman.</p>
<p>Lihatlah prinsip yang diajarkan oleh Ahlus Sunnah sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahmad berikut ini,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">والسمع والطاعة للأئمة وأمير المؤمنين البر والفاجر</p>
<p>“Mendengar dan taatlah kepada penguasa dan amirul mukminin (pemimpin orang mukmin), baik mereka adalah pemimpin yang baik, maupun pemimpin yang fajir (pelaku maksiat yang zholim)” (Ushulus Sunnah, Imam Ahmad).</p>
<p>Namun ketaatan kepada penguasa tidaklah mutlak, tidak harus taat selamanya. Mentaati mereka bersifat muqoyyad, yaitu hanya taat dalam yang ma’ruf, bukan perkara maksiat (Nasehat berharga yang kami simpulkan dari perkataan Syaikh ‘Ubaid Al Jabiri <em>hafizhohullah</em> dalam dauroh kitab <em>Ushulus Sunnah</em> di Riyadh KSA, 1-5 Jumadal Ula 1433).</p>
<p>Kita dapat memahami hal di atas dari ayat,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu</em>” (QS. An Nisa’: 59).</p>
<p>Para ulama menerangkan bahwa kata ulil amri (penguasa) dalam ayat ini tidak diulang dengan kata “أَطِيعُوا” (taatilah). Ini menunjukkan bahwa ketaatan pada penguasa itu ada selama bersesuaian dengan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Juga dalam hadits disebutkan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ</p>
<p>“<em>Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat)</em>” (HR. Bukhari no. 7257).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ</p>
<p>“<em>Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat</em>” (HR. Bukhari no. 7144).</p>
<p>‘Ali bin Abi Tholib pernah berkata,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إنَّ الناسَ لا يُصلحهم إلاَّ إمامٌ بَرٌّ أو فاجر ، إنْ كان فاجراً عبدَ المؤمنُ فيه ربَّه ، وحمل الفاجر فيها إلى أجله</p>
<p>“<em>Manusia tidaklah akan menjadi baik melainkan di bawah penguasa yang baik maupun fajir (zholim). Jika penguasa tersebut zholim, selama masih beriman, maka kezholimannya adalah urusan dia dengan Rabbnya</em>” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>-nya, 15: 328).</p>
<p><strong>Maslahat Taat kepada Penguasa</strong><br />
Banyak maslahat yang kita peroleh ketika kita menaati keputusan penguasa. Al Hasan Al Bashri <em>rahimahullah</em> berbicara mengenai ketaatan pada penguasa, “Mereka (penguasa) mengurusi lima perkara untuk kemaslahatan kita: shalat Jum’at, shalat jama’ah, shalat ‘ied, penjagaan tabal batas dan hukum had. Semua perkara tersebut tidaklah bisa tegak kecuali dengan penegakan dari penguasa meskipun mereka suka melampaui batas dan berbuat zholim. Demii Allah, maslahat ketika taat pada penguasa itu lebih besar dibanding mafsadat yang kita ditimbulkan. Menaati penguasa adalah suatu keselamatan dan berlepas diri dari mereka adalah suatu kekufuran (kebinasaan)” (<em>Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</em>, 2: 117).</p>
<p>Ibnu Abil Izz <em>rahimahullah</em> berkata, “Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezholiman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezholiman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita” (<em>Syarh Aqidah Ath Thohawiyah</em>, hal. 381, terbitan Darul ‘Aqidah).</p>
<p>Ibnu Rajab <em>rahimahullah</em> berkata, “Mendengar dan mentaati penguasa kaum muslimin mengandung maslahat dunia, mudahnya urusan hamba, dan bisa menolong hamba dalam mentaati Allah” (<em>Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</em>, 2: 117).</p>
<p>Taruhlah jika menaikkan BBM itu termasuk kezholiman, bagaimana jika tidak? Dan kami berpikir sendiri, mengapa sampai pemerintah punya niatan demikian? Kami ber<em>husnuzhon</em> bahwa pemerintah sudah menimbang-nimbang adanya maslahat di balik itu semua. Dan kami yakin tidak mungkin Pak SBY punya niatan untuk menyengsarakan rakyatnya sendiri. Itulah <em>husnuzhon</em> kami.</p>
<p><strong>Tidak Berdomenstrasi</strong><br />
Sejak dulu, kami tidak suka berdomenstrasi. Sudah sangat ma’ruf bahwa demonstrasi sering dilakukan oleh mahasiswa. Dan kami pun merupakan bagian dari mereka. Namun kami enggan berdomenstrasi, karena mengingat mudhorotnya itu lebih besar dari manfaatnya. Jalanan macet, terjadi kerusuhan, korban jiwa, luka-luka dan capek menghabiskan tenaga serta tidak pula mendapatkan keuntungan bahkan kerugian masyarakat luas yang diperoleh ketika demo. Jika kerugian yang diperoleh, kenapa kerusakan dibalas dengan kerusakan? Bahkan kerusakan dari demonstrasi lebih besar, dibanding kita mau menerima kenaikan BBM.</p>
<p>Guru kami, Syaikh Dr. Sholeh Al Fauzan berkata, “Adapun demontrasi, agama Islam sama sekali tidak menyetujuinya. Karena yang namanya demontrasi selalu menimbulkan kekacauan, menghilangkan rasa aman, menimbulkan korban jiwa dan harta, serta memandang remeh penguasa muslim. Sedangkan agama ini adalah agama yang terarur dan disiplin, juga selalu ingin menghilangkan bahaya.</p>
<p>Lebih parah lagi jika masjid dijadikan tempat bertolak menuju lokasi demontrasi dan pendudukan fasilitas-fasilitas publik, maka ini akan menambah kerusakan, melecehkan masjid, menghilangkan kemuliaan masjid, menakut-nakuti orang yang shalat dan berdzikir pada Allah di dalamnya. Padahal masjid dibangun untuk tempat berdzikir, beribadah pada Allah, dan mencari ketenangan.</p>
<p>Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim mengetahui perkara-perkara ini. Janganlah sampai kaum muslimin menyeleweng dari jalan yang benar karena mengikuti tradisi yang datang dari orang-orang kafir, mengikuti seruan sesat, sekedar mengikuti orang kafir dan orang-orang yang suka membuat keonaran” [Fatawa Syaikh Shalih bin 'Abdillah Al Fauzan].</p>
<p><strong>Tidak Menyebarkan ‘Aib Penguasa</strong><br />
Ketika shalat, lalu kita berbuat salah, kemudian, kita ditegur di depan orang banyak, pasti kita sulit menerima nasehat semacam itu. Begitu halnya dengan penguasa, ketika ia dijelek-jelekkan di depan halaman DPR, dikatakan “neolib” dan “menyengsarakan rakyat banyak”, pasti tidak ada penguasa yang mau terima dengan nasehat semacam itu. Begitu pula dalam Islam tidaklah menyukai yang demikian karena nasehat yang terbaik adalah nasehat empat mata, bukan di khalayak ramai. Setiap orang pun akan senang dengan nasehat semacam itu.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati).</em>” (HR. Ahmad 3: 403. Syaikh Syu’aib Al Arnauht mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).</p>
<p><strong>Sabar dengan Kenaikan BBM</strong><br />
Solusi utama untuk menghadapi kenaikan BBM ini adalah <em>husnuzhon </em>dengan keputusan Presiden dan bersabar. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً</p>
<p>“<em>Barangsiapa melihat sesuatu pada pemimpinnya sesuatu yang tidak ia sukai, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jama’ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah (artinya: ia mati dalam keadaan jelek dan bukan mati kafir, pen)</em>” (HR. Bukhari no. 7054 dan Muslim no. 1849).</p>
<p>Dan bersabar tidaklah ada batasnya. Orang yang katakan sabar itu ada batasnya, itu keliru. Karena pahalanya saja tak hingga, bahkan surga, bagaimana bisa dikatakan sabar itu ada batasnya.</p>
<p>Jika kita tidak bersabar terhadap keputusan penguasa, kita akan kehilangan pahala besar berupa surga bagi orang yang mau bersabar. Ingatlah janji Allah,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga)</em>” (QS. Az Zumar: 10).</p>
<p>Al Auza’i mengatakan bahwa ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7: 89).</p>
<p><strong>Berpikir Rasional dengan Mencari Solusi</strong><br />
Kami lebih senang dengan solusi yang ditawarkan oleh Pak Menteri Dahlan Iskan, daripada dengan buang-buang tenaga untuk berdemo.</p>
<p><em>Intinya, untuk melawan kenaikan harga BBM yang pernah, sedang, dan akan terus terjadi itu, tak ada jalan terbaik kecuali kita musuhi BBM. Kita jadikan BBM musuh kita bersama. Kita demo BBM-nya ramai-ramai, bukan mendemo kenaikannya. Kalau setiap kenaikan BBM didemo, kita hanya akan terampil berdemo. Tapi kalau BBM-nya yang kita musuhi, kita akan lebih kreatif mencari jalan keluar bagi bangsa ini ke depan.</em></p>
<p><em>Jalan terbaik adalah jangan lagi menggunakan BBM. Kalau kita sudah tidak menggunakan BBM, apa peduli kita pada barang yang juga menjadi penyebab rusaknya lingkungan itu. Kelak, kita bersikap begini: biarkan dia naik terus menggantung sampai setinggi Monas! Kalau kita tidak lagi menggunakannya, mau apa dia!</em></p>
<p><em>Tanpa ada gerakan nyata untuk melawan BBM, seumur hidup kita akan ngeri seperti sekarang. Seumur hidup kita harus siap-siap berdemonstrasi. Seumur hidup kita tidak berubah!</em></p>
<p><em>Kalau sudah tahu bahwa seumur hidup kita akan terjerat BBM seperti itu mengapa kita tidak mencari jalan lain? Mengapa kita menyerah pada keadaan? “Mengapa? Mengapa?,” &#8230; Tidakkah kita harus takut kepada yang menciptakan alam semesta ini? Berapa kali Allah mengatakan “Afalaa ta’qiluuun?”.</em></p>
<p>Baca ulasan Pak Menteri lebih jauh di sini: <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/03/18/hamil-tua-untuk-lahirnya-putra-petir/">Hamil Tua untuk Lahirnya Putera Petir</a>.</p>
<p>Dan kami yakin di balik kesulitan ini, ada kemudahan yang akan segera dan segera menghampiri rakyat kita.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا</p>
<p>“<em>Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan</em>” (QS. Alam Nasyroh: 5).</p>
<p>Ayat ini pun diulang setelah itu,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan</em>” (QS. Alam Nasyroh: 6).</p>
<p>Sahabat mulia, ‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah berkata, “<em>Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun akan mengikutinya karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.</em>” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari, 24: 496)</p>
<p>Ini berarti di balik kesulitan dengan naiknya BBM, pasti ada kebahagiaan yang semakin dekat. Kenapa kita tidak optimis dengan janji Allah di atas? Kenapa malah pesimis dan banyak khawatir?</p>
<p><em>Ya Allah, berilah kami kesabaran dalam menghadapi musibah ini. Berilah pula hidayah kepada kami dan saudara-saudara kami agar diberi taufik untuk bersabar menghadapi musibah demi musibah. Dan perbaikilah keadaan kami dan pemimpin-pemimpin kami.</em></p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 6 Jumadal Ula 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-8801"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmenyikapi-naiknya-bbm.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/menyikapi-naiknya-bbm.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Membaca Al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-membaca-al-quran.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-membaca-al-quran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 23:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8669</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang malas membaca Al Quran padahal di dalam terdapat petunjuk untuk hidup di dunia. Sebagian orang merasa tidak punya waktu untuk membaca Al Quran padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar. Sebagian orang merasa<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-membaca-al-quran.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sebagian orang malas membaca Al Quran padahal di dalam terdapat petunjuk untuk hidup di dunia.</p>
<p>Sebagian orang merasa tidak punya waktu untuk membaca Al Quran padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar.</p>
<p>Sebagian orang merasa tidak sanggup belajar Al Quran karena sulit katanya, padahal membacanya sangat mudah dan sangat mendatangkan kebaikan. Mari perhatikan hal-hal berikut:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi</strong></span></p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">{الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)}</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.</em>” (QS. Fathir: 29-30).</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">قال قتادة  رحمه الله: كان مُطَرف، رحمه الله، إذا قرأ هذه الآية يقول: هذه آية القراء.</p>
<p>“Qatadah (wafat: 118 H) <em>rahimahullah</em> berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran” (Lihat kitab <em>Tafsir Al Quran Al Azhim</em>).</p>
<p>Asy Syaukani (w: 1281H) <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">أي: يستمرّون على تلاوته ، ويداومونها .</p>
<p>“Maksudnya adalah terus menerus membacanya dan menjadi kebiasaannya”(Lihat kitab <em>Tafsir Fath Al Qadir</em>).</p>
<p>Dari manakah sisi tidak meruginya perdagangan dengan membaca Al Quran?</p>
<p>1) Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».</p>
<p>“Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.</em>” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)</p>
<p style="text-align: center;"> عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضى الله عنه قَالَ : تَعَلَّمُوا هَذَا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ بِتِلاَوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ ، أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ بِ الم وَلَكِنْ بِأَلِفٍ وَلاَمٍ وَمِيمٍ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ.</p>
<p>“Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “<em>Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم  , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan.</em>” (Atsar riwayat Ad Darimy dan disebutkan di dalam kitab <em>Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah</em>, no. 660).</p>
<p>Dan hadits ini sangat menunjukan dengan jelas, bahwa muslim siapapun yang membaca Al Quran baik paham atau tidak paham, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan. Dan sesungguhnya kemuliaan Allah <em>Ta’ala</em> itu Maha Luas, meliputi seluruh makhluk, baik orang Arab atau ‘<em>Aja</em>m (yang bukan Arab), baik yang bisa bahasa Arab atau tidak.</p>
<p>2) Kebaikan akan menghapuskan kesalahan.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">{إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ} [هود: 114]</p>
<p>“<em>Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.</em>” (QS. Hud: 114)</p>
<p>3) Setiap kali bertambah kuantitas bacaan, bertambah pula ganjaran pahala dari Allah.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ»</p>
<p>“Tamim Ad Dary <em>radhiyalahu ‘anhu</em> berkata: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.</em>” (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab <em>Shahih Al Jami’</em>, no. 6468).</p>
<p>4) Bacaan Al Quran akan bertambah agung dan mulia jika terjadi di dalam shalat.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ ». قُلْنَا نَعَمْ. قَالَ « فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ ».</p>
<p>“Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Maukah salah seorang dari kalian jika dia kembali ke rumahnya mendapati di dalamnya 3 onta yang hamil, gemuk serta besar?” Kami (para shahabat) menjawab: “Iya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian membaca tiga ayat di dalam shalat lebih baik baginya daripada mendapatkan tiga onta yang hamil, gemuk dan besar.</em>” (HR. Muslim).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Membaca Al Quran bagaimanapun akan mendatangkan kebaikan</strong></span></p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;"> عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ».</p>
<p>“Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala</em>” (HR. Muslim).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Membaca Al Quran akan mendatangkan syafa’at</strong></span></p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ&#8230;</p>
<p>“Abu Umamah Al Bahily <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya</em>” (HR. Muslim).</p>
<p>Masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang memotivasi seseorang untuk memperbanyak bacaan Al Quran terutama di bulan membaca Al Quran.</p>
<p>Dan pada tulisan kali ini hanya menyebutkan sebagian kecil keutamaan dari membaca Al Quran bukan untuk menyebutkan seluruh keutamaannya.</p>
<p>Dan ternyata generasi yang diridhai Allah itu, adalah mereka orang-orang yang giat dan semangat membaca Al Quran bahkan mereka mempunyai jadwal tersendiri untuk baca Al Quran.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنْ أَبِى مُوسَى رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَعْرِفُ أَصْوَاتَ رُفْقَةِ الأَشْعَرِيِّينَ بِالْقُرْآنِ حِينَ يَدْخُلُونَ بِاللَّيْلِ وَأَعْرِفُ مَنَازِلَهُمْ مِنْ أَصْوَاتِهِمْ بِالْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ وَإِنْ كُنْتُ لَمْ أَرَ مَنَازِلَهُمْ حِينَ نَزَلُوا بِالنَّهَارِ&#8230;».</p>
<p>“Abu Musa Al Asy’ary <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suara kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jika mereka memasuki waktu malam dan aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Quran pada waktu malam, meskipun sebenarnya aku belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…</em>” (HR. Muslim).</p>
<p>MasyaAllah, coba kita bandingkan dengan diri kita apakah yang kita pegang ketika malam hari, sebagian ada yang memegang <em>remote</em> televisi menonton program-program yang terkadang bukan hanya tidak bermanfaat tetapi mengandung dosa dan maksiat, apalagi di dalam bulan Ramadhan.</p>
<p>Dan jikalau riwayat di bawah ini shahih tentunya juga akan menjadi dalil penguat, bahwa kebiasan generasi yang diridhai Allah yaitu para shahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> ketika malam hari senantiasa mereka membaca Al Quran. Tetapi riwayat di bawah ini sebagian ulama hadits ada yang melemahkannya.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنْ أَبِى صَالِحٍ رحمه الله قَالَ قَالَ كَعْبٌ رضى الله عنه: نَجِدُ مَكْتُوباً : مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ فَظٌّ وَلاَ غَلِيظٌ ، وَلاَ صَخَّابٌ بِالأَسْوَاقِ ، وَلاَ يَجْزِى بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ ، وَأُمَّتُهُ الْحَمَّادُونَ ، يُكَبِّرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ نَجْدٍ ، وَيَحْمَدُونَهُ فِى كُلِّ مَنْزِلَةٍ ، يَتَأَزَّرُونَ عَلَى أَنْصَافِهِمْ ، وَيَتَوَضَّئُونَ عَلَى أَطْرَافِهِمْ ، مُنَادِيهِمْ يُنَادِى فِى جَوِّ السَّمَاءِ ، صَفُّهُمْ فِى الْقِتَالِ وَصَفُّهُمْ فِى الصَّلاَةِ سَوَاءٌ ، لَهُمْ بِاللَّيْلِ دَوِىٌّ كَدَوِىِّ النَّحْلِ ، مَوْلِدُهُ بِمَكَّةَ ، وَمُهَاجِرُهُ بِطَيْبَةَ ، وَمُلْكُهُ بِالشَّامِ.</p>
<p>“Abu Shalih berkata: “Ka’ab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Kami dapati tertulis (di dalam kitab suci lain): “Muhammad adalah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, tidak kasar, tidak pemarah, tidak berteriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan akan tetapi memaafkan dan mengampuni, dan umat (para shahabat)nya adalah orang-orang yang selalu memuji Allah, membesarkan Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em> atas setiap perkara, memuji-Nya pada setiap kedudukan, batas pakaian mereka pada setengah betis mereka, berwudhu sampai ujung-ujung anggota tubuh mereka, yang mengumandangkan adzan mengumandangkan di tempat atas, shaf mereka di dalam pertempuran dan di dalam shalat sama (ratanya), mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam, tempat kelahiran beliau adalah Mekkah, tempat hijranya adalah Thayyibah (Madinah) dan kerajaannya di Syam.&#8221;</p>
<p>Maksud dari “<em>mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam</em>” adalah:</p>
<p style="text-align: center;">أي صوت خفي بالتسبيح والتهليل وقراءة القرآن كدوي النحل</p>
<p>“Suara yang lirih berupa ucapan tasbih (<em>Subhanallah</em>), tahlil (<em>Laa Ilaaha Illallah</em>), dan bacaan Al Quran seperti dengungannya lebah”. (Lihat kitab <em>Mirqat Al Mafatih Syarh Misykat Al Mashabih).</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Salah satu ibadah paling agung adalah membaca Al Quran</strong></span></p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما : ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنَ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لاَ يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا ، وَلاَ يَشْقَى فِي الآخِرَةِ ، ثُمَّ تَلاَ {فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}.</p>
<p>“Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”, kemudian beliau membaca ayat:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">{فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى}</p>
<p>“Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123) (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab <em>Mushannaf Ibnu Abi Syaibah</em>).</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ رضى الله عنه أَنَّهُ قَالَ: &#8221; تَقَرَّبْ مَا اسْتَطَعْتَ، وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَتَقَرَّبَ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ كَلَامِهِ &#8220;.</p>
<p>“Khabbab bin Al Arat <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Beribadah kepada Allah semampumu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) firman-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab <em>Syu’ab Al Iman</em>, karya Al Baihaqi).</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود رضى الله عنه ، أنه قَالَ: &#8221; مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ &#8220;.</p>
<p>“Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab <em>Syu’ab Al Iman</em>, karya Al Baihaqi).</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وقال وهيب رحمه الله: &#8220;نظرنا في هذه الأحاديث والمواعظ فلم نجد شيئًا أرق للقلوب ولا أشد استجلابًا للحزن من قراءة القرآن وتفهمه وتدبره&#8221;.</p>
<p>“Berkata Wuhaib <em>rahimahullah</em>: “Kami telah memperhatikan di dalam hadits-hadits dan nasehat ini, maka kami tidak mendapati ada sesuatu yang paling melembutkan hati dan mendatangkan kesedihan dibandingkan bacaan Al Quran, memahami dan mentadabburinya”.</p>
<p>*) Rabu, 10 Ramadhan 1432 H, Dammam KSA.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://dakwahsunnah.com">Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc<br />
</a>Artikel <a href="../">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8669"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkeutamaan-membaca-al-quran.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-membaca-al-quran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

