<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Akhlaq dan Nasehat</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/category/akhlaq-dan-nasehat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 09:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Risalah dari Hati Agar Berhenti Merokok</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/risalah-dari-hati-agar-berhenti-merokok.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/risalah-dari-hati-agar-berhenti-merokok.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 05:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya rokok]]></category>
		<category><![CDATA[berhenti merokok]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[merokok]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>
		<category><![CDATA[rokok haram]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8321</guid>
		<description><![CDATA[Merokok: 1. Maksiat kepada Allah Ta’ala. 2. Pemborosan 3. Mengganggu orang lain 4. Merusak diri Realita Perusahaan rokok menganggarkan Sebanyak 368 Miliar dollar USD untuk memerangi rokok dan mengganti kerugian yang diderita oleh para perokok<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/risalah-dari-hati-agar-berhenti-merokok.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><span style="color: #ff0000;"><strong>Merokok:</strong></span></p>
<p>1. Maksiat kepada Allah Ta’ala.</p>
<p>2. Pemborosan</p>
<p>3. Mengganggu orang lain</p>
<p>4. Merusak diri</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Realita</span></strong></p>
<p>Perusahaan rokok menganggarkan Sebanyak 368 Miliar dollar USD untuk memerangi rokok dan mengganti kerugian yang diderita oleh para perokok Perusahaan rokok Amerika telah membayar anggaran sebesar 368 milyar dolar untuk menutupi biaya tuduhan yang di arahkan kepadanya dan untuk mengobati mereka yang terkena pengaruh dari pada rokok sebesar 10 milyar dolar pada gelombang pertama yang langsung di bayarkan setelah penandatanganan kesepakatan pada tanggal 15 shafar 1418, bertepatan dengan 20 juni 1998. dan setelah itu perusahaan tersebut membayar 8,5 miliyar dolar setiap tahunnya, dan pada tahun-tahun pertama, dan kemudian meningkat 15 miliyar dolar pada setiap tahunnya.</p>
<p>Demikianlah perusahaan tembakau mengeluarkan anggaran 1 miliar dollar pada setiap tahunnya untuk memperbanyak kegiatan guna menanggulangi rokok di Negara-negara bagian di Amerika Serikat dan usaha untuk meminimalkan persentase pecandu rokok sekitar 10 % selama 10 tahun. Jika hal tersebut gagal maka pabrik perusahaan rokok membayar denda hingga 1 miliar dollar setiap tahunnya. Demikian pula tidak di perkenankan bagi perusahaan rokok untuk menyebarkan propaganda yang ditujukan bagi para pecandu rokok dan bagi usia muda untuk merokok di Amerika. Dan terlaksanalah publikasi batas larangan-larangan yang di tetapkan untuk kemasan rokok dalam presentase 25 % dan mengklasifikasikannya bagi para pecandu dan dari sinilah kita melihat Amerika dan Negara-nagara barat secara umum sangat keras dalam memerangi rokok dan mampu untuk menghasilkan prosentase yang memuaskan dalam meminimalisasi para perokok. Dan diantara tahun 1990 hingga 1995 menurunlah prosentase penjualan rokok di Amerika hingga 4,5 %, dan Amerika latin hingga 11,2 %, dan di eropa barat 1,7 %, adapun di Asia cenderung meningkat hingga 8,8 %. Adapun prosentase yang sangat tinggi semakin bertambah di daerah: ( Timur Tengah ) dan kita termasuk dalam bagian itu. ( Hingga mencapai 17,7 % !!! ini menandakan pemusatan perusahaan tembakau pada pasar-pasar Negara timur tengah dan Negara-nagara berkembang untuk mengganti kerugian mereka setelah peperangan yang dihadapi perusahaan perusahaan tembakau ini di Amerika dan Negara-negara barat) Maka apakah kita memiliki sikap yang kuat yang tidak kurang dari sikap yang di ambil Negara itu, untuk menjaga masyarakat kita dari pada bencana ini.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwah Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin yang Membuahkan Hasil</strong></span></p>
<p>Syaikh Utsaimin rahimahullah mendorong seluruh masyarakat untuk membeli kebutuhan mereka dari toko-toko yang tidak menjual rokok, dan ini adalah suatu ide yang benar dan disepakati, dan kita memandang perlu untuk memotifasi masyarakat agar membeli sesuatu dari mereka yang tidak menjual rokok di tokonya atau dari siapa saja yang meninggalkan rokok karena Allah ta’ala. Karena ia telah mengetahui faedah untuk saling tolong menolong dalam kebenaran dan tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Dan semoga saja apabila orang-orang melihat para penjual rokok, mereka akan lari dari padanya untuk bertobat pada Allah Ta’ala dan mendoakan mereka agar Allah tidak membinasakan harta mereka. Dan sesungguhnya kami amat bersyukur apabila menjelaskan yang demikian itu dan kepada siapa saja ikhwan-ikhwan yang mengadakan perbaikan bagi agama dan  masyarakatnya, serta mendakwahi teman-teman yang disekitarnya dengan ikhlas yang masih saja memperdagangkan rokok dengan bersikap tegas kepada penjualnya dan siapa pun yang melariskan penjualannya. Hal ini kita lakukan dalam rangka menaati firman Allah Ta’ala: “Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa dan janganlah engkau tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksaanNYA. Kita mohon kepada Allah yang maha tinggi lagi maha kuasa untuk memberkati mereka dalam kesehatan mereka dan harta mereka dan agar Allah mengganti dengan yang lebih baik, dan menjadikan perkejaan ini ikhlas karena Allah yang mulia. dan shalawat serta salam kepada nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan kepada keluarganya dan para shahabatnya. Allah Ta’ala. Berfirman dalam Al-qur’an:” Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yan berbuat baik” (Al-Baqarah) Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. bersabda: “barang siapa yang membunuh dirinya dengan racun maka dia akan diazab dengan racun yang digunakannya sampai hari kiamat” Tembakau adalah sesuatu yang mengumpulkan 2000 zat racun yang mematikan, hingga walaupun tidak kelihatan pengaruhnya secara langsung dalam waktu dekat, akan tetapi bahayanya lebih besar dan pengaruhnya secara perlahan-lahan dan lambat laun akan menghancurkan dalam kurun waktu tahun. Dan bagi para pecandunya amat berat untuk melepaskan diri dari rokok dan dari pengaruhnya. Wahai saudaraku!! Jangan kamu terpedaya dengan kesehatanmu yang sekarang, dan bahwa rokok belum mempengaruhi badanmu. karena penyakit cepat atau lambat akan mempengaruhi badanmu, dan adapun terlambatnya gejala penyakit yang timbul dari rokok kembali kepada kekuatan fisik manusia karena adanya perbedaan antara manusia yang timbul dari perebedaan makanan dan kesempurnaannya dan keselamatannya dan sejauh mana seorang perokok tersebut melakukan olahraga dan juga hal terebut kembali kepada jenis dan kuantitas rokok yang mereka konsumsi akan tetapi racun yang ada di dalam rokok yang di hisap oleh perokok pasti memberikan efek walaupun setelah tenggang waktu, dan berhenti merokok sedini mungkin pada waktu muda dapat menjaga dan mengembalikan perokok kepada keadaannya semula, dan kesehatannya akan pulih kembali seperti sedia kala. Dan sebaliknya mereka yang terbuai dan tenggelam didalam kenikmatan rokok sungguh mereka sudah menghilankan kesempatan dan menghentikan dirinya dari kehidupan yang mulia. Tips-tips untuk berhenti merokok:</p>
<p>1. Niat yang ikhlas karena Allah Ta’la dan yakin bahwa Allah akan membantunya dalam meninggalkannya demi untuk mendapatkan ganjaran dan pahala dalam waktu yang bersamaan.</p>
<p>2. Bergaul dengan orang-orang yang selalu menasehati kamu akan bahaya rokok bagi kesehatanmu dan keluargamu dan orang sekitarmu.</p>
<p>3. Mengambil keputusan dan membulatkan tekad serta keinginan untuk berhenti merokok. Siwak sebagai pengganti yang lebih baik: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Bersabda: “Siwak itu membersihkan mulut dan mendapatkan keridhoan dari Allah” (hadist sahih) Wahai saudaraku!!! Dan banyak hadist yang menjelaskan tentang keutamaan siwak dan pensyari’atan sebagaimana sebagaimana survey kesehatan membuktikan bahwasannya siwak menyempurnakan apa yang tidak tersempurnakan oleh segala jenis pasta gigi dan sikat gigi. Gunakanlah siwak sebanyak mungkin sampai menbuahkan hasil yang bersih untuk mulutmu dan merupakan sebab keridhaan Allah.</p>
<p>Bagaimana cara meniggalkan rokok? Banyak dari sebagian pecandu rokok bertanya-tanya bagaimana cara meniggalkan rokok tanpa bersugguh-sungguh dalam berbuat agar lepas dari rokok……. Rokok itu dzat yang dapat menyebabkan urat-urat syaraf menjadi tegang dan yang menyebabkan usaha untuk berhenti dari padanya membutuhkan kesabaran dan kelapangan dada serta ketahanan untuk menghadapi gejala-gejala dan dampak yang ditimbulkan oleh usaha untuk berhenti merokok, seperti ras pusing khususnya pada minggu-minggu pertama, akan tetapi… hal ini tidak berlangsung lama dan akan hilang dalam waktu yang cepat. Hal-hal yang dapat membantu perokok untuk melepaskan diri dari rokok dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla.</p>
<p>1. Hendaklah ia berniat untuk berhenti dari rokok karena rokok merupakan perbuatan yang diharamkan oleh syari’at, dimana tidaklah pantas bagi seorang muslim untuk mengkonsumsi sesuatu yang haram atau melakukan sesuatu yang haram dengan terang-terangan.</p>
<p>2. Hendaklah ia mengetahui bahaya rokok dengan baik dan juga kaitannya dengan kehidupannya yang akan datang begitu juga kehidupan keluarganya serta anak-anaknya dan orang-orang yang berada disekitarnya.</p>
<p>3. Hendaklah ia mempunyai keinginan yang kuat yang dapat membantunya untuk melepaskan dirinya dari rokok dan hendaklah ia menjauhi para perokok.</p>
<p>4. Hendaklah ia menyibukkan dirinya dengan membaca Al-qur’anul karim dengan penuh penghayatan dan Hendaklah ia selalu memakai siwak.</p>
<p>5. memperbanyak perbuatan shaleh.</p>
<p>Akhirnya… hendaknya kita megetahui bahwasanya kembali merokok merupakan musibah yang paling besar dari pada kesabarannya atas rasa pusing ataupun gejala lainnya yang akan hilang dalam waktu yang singkat. Semoga Allah memberikan kita shidqul ‘azimah dan keinginan yang kuat.</p>
<p>[Dinukil dari salah satu artikel <a href="http://basweidan.com/">http://basweidan.com/</a> dgn sedikit perubahan]</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://basweidan.com/">Ustadz Sufyan Basweidan, MA<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8321"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Frisalah-dari-hati-agar-berhenti-merokok.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Frisalah-dari-hati-agar-berhenti-merokok.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Frisalah-dari-hati-agar-berhenti-merokok.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/risalah-dari-hati-agar-berhenti-merokok.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Berdakwah!</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/ayo-berdakwah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/ayo-berdakwah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 03:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8283</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya milik Allah semata Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada para kerabatnya, para shahabat seluruhnya, wa ba&#8217;du: Aku melihat seorang laki-laki warga Negara Filipina, ia dulu<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/ayo-berdakwah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji hanya milik Allah semata Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada para kerabatnya, para shahabat seluruhnya, wa ba&#8217;du:</em></p>
<p>Aku melihat seorang laki-laki warga Negara Filipina, ia dulu adalah seorang pendeta dan misionaris, kemudian Allah <em>Azza wa Jalla</em> memberikan kepadanya hidayah! Lalu mari kita perhatikan apakah yang ia kerjakan setelah Allah membukakan hatinya untuk memeluk agama Islam? Dia mulai mendakwahi anak bangsanya sehingga masuk islam di tangannya 4000 orang! Dan yang demikian itu hanya dalam beberapa tahun saja! Kira-kira berapa banyak orang yang akan memeluk agama Islam di tangan mereka yang 4000 itu, dan akhirnya kebaikan terus melambung naik sampai hari kiamat! Alangkah beruntungnya ia…</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL" align="center">مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata: &#8220;ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, isyarat dan tulisan.&#8221;</p>
<p><em>Saudaraku muslim…</em></p>
<p>Berdakwah kepada agama Allah <em>Azza wa Jalla</em> termasuk keta&#8217;atan yang paling tinggi dan ibadah yang paling agung, ia membutuhkan dari seluruhnya cara-cara yang bermacam-macam, keikhlashan, kesungguhan, kesabaran untuk menyampaikan agama ini, mempertahankan dan memperjuangkannya dari kehancuran:</p>
<p dir="RTL" align="center">{يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)} [المدثر: 1، 2]</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Hai orang yang berkemul (berselimut),  bangunlah, lalu berilah peringatan!</strong></em><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn2"><strong><em>[2]</em></strong></a><em><strong>.&#8221;</strong></em></p>
<p>Jika bukan kita penganut agama Islam yang bekerja untuk agama ini, maka siapakah gerangan yang akan mengerjakannya?!</p>
<p>Allah <em>Azza wa Jalla</em> telah memuliakanmu dengan nikmat Islam dan memudahkan bagimu perkara-perkara dan memudahkan bagimu jalan sehingga kamu berjalan di jalan yang paling agung, Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Berdakwah ke jalan Allah Ta&#8217;ala adalah tugasnya para rasul dan para pengikutnya.&#8221;</p>
<p><em>Saudaraku muslim…</em></p>
<p>Siapa yang memberikan sebuah buku maka ia adalah pendakwah, siapa yang menghadiahkan kaset maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang mengajarkan oang yang bodoh maka ia adalah seoorang pendakwah, dan barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang menyampaikan sepatah kata maka ia adalah seorang pendakwah…pintu-pintu yang luas dan jalan yang mudah dan gampang, segala puji hanya milik Allah, setiap kali berkurang kemauan dan hasrat menjadi lemah, maka ingatlah pahala-pahala dan buah-buah yang agung bagi siapa yang berdakwah ke jalan Allah, di antaranya:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama: mengikuti para nabi dan mencontoh mereka</strong></span></p>
<p dir="RTL" align="center">{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ } [يوسف: 108]</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Katakanlah: &#8220;Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn3"><strong>[3]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p>Al Farra berkata: &#8220;Wajib bagi setiap yang mengikutinya untuk berdakwah kepada apa yang ia dakwah dan menyebutkan Al Quran dan nasehat&#8221;.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kedua: bergegas untuk mendapatkan kebaikan dan kemauan di dalam mendapatkan pahal</span>a</strong><strong>, </strong>karena Allah <em>Azza wa Jalla </em>memuji para pendakwah:</p>
<p dir="RTL" align="center">{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: &#8220;Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn4"><strong>[4]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p>Asy Syaukani berkata: &#8220;Tidak ada yang lebih baik darinya dan yang lebih jelas dari jalannya dan tidak ada yang lebih banyak pahalanya dibanding  amalannya&#8221;.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga: berusaha untuk mendapatkan pahala-pahala yang besar kebaikan-kebaikan yang banyak dengan hanya perbuatan yang sediki</strong><strong>t, </strong></span></p>
<p>Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> telah memberikan kabar gembira dengan sabdanya:</p>
<p dir="RTL" align="center">مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya</strong></em><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn5"><strong><em>[5]</em></strong></a><em><strong>.&#8221;</strong></em></p>
<p>Jika anda menunjukkan seseorang kepada agama Islam maka bagi anda seperti pahala islamnya, amalannya, shalatnya dan puasanya dan tidak mengurangi hal tersebut dari pahalanya sedikitpun, dan pintu ini sangat agung dan luas, siapa yang diberi taufik oleh Allah <em>Azza wa Jalla</em> ia akan masuk ke dalamnya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat: taufik dan pendekatan kepada kebenaran: bahwasanya ia adalah buah yang sangat jelas dari dakwah, </strong></span></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="center">{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} [العنكبوت: 69]</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn6"><strong>[6]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p>Al Baghawi berkata: &#8220;Orang-orang yang berjihad melawan orang-orang musyrik untuk memperjuangkan agama kiat&#8221;.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kelima: Harapan shalihnya keturunan, </strong></span></p>
<p>Karena sesungguhnya di dalam hal tersebut terdapat Qurratu &#8216;ain di dunia dan akhirat, dan Allah tidak menghilangkan pahala orang yang telah berbuat kebaikan. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="center">{وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا } [النساء: 9]</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn7"><strong>[7]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p>dan termasuk dari perkataan yang benar yang paling agung adalah berdakwah kepada Agam Allah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keenam: termasuk dari buah dari berdakwah adalah memberatkan timbangan-timbangan kebaikan kita pada hari ditunjukkannya amal perbuatan, </strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> berasabda:</p>
<p dir="RTL">مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn8"><strong>[8]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketujuh: Melakukan dakwah kepada Allah merupakan sebagian dari sebab-sebab kemenangan dan keberuntungan di dunia dan akhirat, </strong></span></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَالْعَصْرِ(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn9"><strong>[9]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedelapan: Berdakwah kepada agama Allah termasuk dari sebab-sebab yang mendatangkan kemenangan melawan musuh-musuh, </strong></span></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="center">{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} [محمد: 7]</p>
<p>Artinya: <strong>&#8220;</strong><em><strong>Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu</strong></em><strong><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn10">[10]</a>.&#8221;</strong></p>
<p>Karena dengan dakwah maka Allah akan disembah sesuai dengan yang disyri&#8217;atkan-Nya, kemungkaran-kemungkaran akan hilang, dan akan tumbuh di dalam umat ini rasa kejayaan dan kemuliaan sehingga jalan di jalan kemenangan dan kekuasaan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesembilan: dengan berdakwah kepada agama Allah maka akan didapatkan kedudukan-kedudukan yang tinggi, </strong></span></p>
<p>Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;dy <em>rahimahullah</em> berkata: &#8220;Dan kedudukan ini yaitu kedudukan berdakwah adalah kesempurnaan yang bagi orang-orang shiddiq, yang telah menyempurnakan akan diri mereka dan selain mereka, dan mereka akan mendapatkan warisan yang sempurna dari para rasul&#8221;.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesepuluh: dari buah hasil berdakwah adalah shalawat Allah, para malaikat-Nya dan penduduk langit dan bumi atas pengajar manusia kebaikan, </strong></span></p>
<p>karena apa yang ia akan sampaikan hanyalah ilmu yang diwarisi dari firman Allah Ta&#8217;ala dan sabda rasul-Nya yang mulia, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL">إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya dan penghuni bumi dan langit sampai semut yang berada di lubangnya dan bahkan sampai ikan benar-benar bershalwat atas pengajar manusia kebaikan<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn11"><strong>[11]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesebelas: Berdakwah kepada agama Allah mengangkat derajat di dunia dan akhirat, </strong></span></p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Sesungguhnya pangkat makhluq yang paling mulia di sisi Allah adalah pangkat kerasulan dan kenabian, karenanya Allah mengutus dari manusia seorang rasul bergitu pula dari jin&#8221;.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua belas: Termasuk buah hasil berdakwah adalah terus mengalirnya pahala si pendakwah setelah wafatnya, </strong></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p align="center">مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا مَا عَمِلَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ حَتَّى يَتْرُكَ</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala amalan tersebut selama dikerjakan di dalam kehidupannya dan setelah wafatnya sampai ditinggalkan<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn12"><strong>[12]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL" align="center">إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Jika seorang anak keturunan Adam meninggal maka terputus amalnya kecuali dati tiga perkara…&#8221;</strong></em>, dan salah satu diantaranya adalah: <em><strong>&#8220;Ilmu yang bermanfa&#8217;at.&#8221;</strong></em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga belas: Kecintaan Allah </strong><em><strong>Azza wa Jalla</strong></em><strong> bagi siapa yang memperjuangkan agama-Nya dan menyampaikan risalah-Nya, </strong></span></p>
<p>Al Hasan ketika mengomentari firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p dir="RTL" align="center">{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: &#8220;Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn13"><strong>[13]</strong></a>. &#8220;</strong></em></p>
<p>Beliau berkata: &#8220;Dia adalah orang yang beriman, menerima seruan Allah lalu menyeru manusia kepada apa yang ia telah dia terima dari seruan tersebut lalu ia beramal shalih ketika menerimanya, maka orang ini aadalah orang yang dicintai oleh Allah, ia adalah wali Allah&#8221;.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat belas: dari buah hasil berdakwah yang dicintai yang disenangi oleh jiwa dan melapangkan dada dan menolong untuk selalu terus (dalam berdakwah) dan mampu melawan dalam keadaan yang sempit, yaitu doa Nabi Muhammad </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</strong></em><strong> agar terang wajah bagi yang menyampaikan sabda beliau</strong>,</span></p>
<p dir="RTL" align="center">نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِى فَبَلَّغَهَا</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Allah mencerahkan wajah seseorang yang telah mendengar perkataanku lalu ia sampaikan<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn14"><strong>[14]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p>Maka berbahagaialah orang yang merasakan doa ini dan mendapatkan bagian darinya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kelima belas: Doa Nabi Muhammad </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</strong></em><strong> agar mendapatkan rahmat bagi siapa yang menyampaikan sabda beliau</strong></span><strong>,</strong> termasuk hal yang paling agung yang membantu untuk selalu berjalan dengan semangat:</p>
<p dir="RTL" align="center">رحم الله امرأ سمع منى حديثا فحفظه حتى يبلغه غيره</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;Allah merahmati seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits lalu ia menghafalnya  kemudian ia sampaikan kepada orang lain<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn15"><strong>[15]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p>Dan di zaman sekarang terkumpul syarat-syarat untuk menyampaikan, Al Quran, kaset-kaset yang bernuansa islam telah tersedia, agar sampai kepada orang yang di dakwahi dalam keadaan yang sempurna dan baik, saya etringat bahwa seorang laki-laki masuk Islam kemudian ia dating ke Negara ini dan bermukim di sini beberapa tahun kemudian pulang ke negaranya dan tidak ada seorangpun dari manusia yang mengajaknya ke agama Allah, sampai ada kesempatan baginya untuk bekerja yang lain lagi dan setelah setahun ia pulang bersama sebuha perusahaan di bidang perbaikan hotel-hotel. Ia berkata: lalu pada suatu hari aku dapatkan sebuah tulisan singkat diletakkan di atas meja dapur setelah keluarnya orang yang menyewa hotel tersebut, ternyata di dalamnya terdapat pengetahuan-pengetahuan tentang Islam, lalu jadilah inti pencarianku adalah tentang Islam dan bertanya seputarnya, sampai akhirnya akupun masuk Islam dam masuk islam bersamaku bapak dan ibuku serta istriku dan aku berusaha untuk memasukkan sisa dari keluargaku sekarang masuk ke dalam Islam, maka bagaimanakah kesenganan seorang pendakwah yang meletakkan tulisan singkat tersebut kelak paa hari kiamat, jika seluruh kealuarga itu dan yang lainnya menerima dan itu semua akan terdapat di buku amalan dan kebaikan dia?</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keenam belas: berdakwah kepada agama Allah adalah shadaqah dari beberapa cara shadaqah, </strong></span></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ} [البقرة: 3]</p>
<p>Artinya: <em><strong>&#8220;(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka<a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftn16"><strong>[16]</strong></a>.&#8221;</strong></em></p>
<p>Al Hasan berkata: &#8220;Termasuk infaq yang paling afdhal adalah infaq ilmu&#8221;.</p>
<p>Aku memohon kepada Allah <em>Azza wa Jalla</em> menjadikan kita dari para pendakwah kepada agama-Nya dan memberikan kepada kita seluruhnya keikhlashan di dalam perkataan dan perbuatan.</p>
<p><strong>*) Disusun oleh Abdul Malik Al Qasim, </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penerjemah: <a href="http://www.dakwahsunnah.com/">Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc</a></strong></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div align="right">
<hr align="right" size="1" width="33%" />
</div>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref1">[1]</a>Hadits riwayat Muslim</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref2">[2]</a> QS. Al Mudatstsir:1-2</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref3">[3]</a> QS. Yusuf:108</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref4">[4]</a> QS. Fushshilat:33</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref5">[5]</a> Hadits riwayat Muslim</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref6">[6]</a> QS. Al Ankabut:69</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref7">[7]</a> QS. An Nisa-&#8217;:9</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref8">[8]</a> Hadits riwayat Muslim</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref9">[9]</a> QS. Al Ashr:1-3</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref10">[10]</a> QS. Muhammad:10</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref11">[11]</a> Hadits riwayat Tirmidzi</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref12">[12]</a> Hadits riwayat Ath Thabarani</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref13">[13]</a> QS. Fushshilat:33</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref14">[14]</a> Hadits riwayat Ibnu Majah</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref15">[15]</a> Hadits riwayat Ahmad</p>
<p><a title="" href="http://www.facebook.com/editnote.php#_ftnref16">[16]</a> QS. Al Baqarah:3</p>
<p>&nbsp;</p>
<div class="shr-publisher-8283"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fayo-berdakwah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fayo-berdakwah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fayo-berdakwah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/ayo-berdakwah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Anda Termasuk Sebaik-baik Manusia?</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/apakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/apakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 23:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8144</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta&#8217;ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/apakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta&#8217;ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.</p>
<p><strong><em>Pertama, </em>tidak ingkar melunasi hutang</strong></p>
<div style="text-align: center;" dir="rtl"> عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه</div>
<p>Artinya: Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> meriwayatkan: &#8220;Bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda: <em>&#8220;Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.&#8221;</em> Muttafaqun &#8216;alaih</p>
<p><strong><em>Kedua</em>, belajar Al-Quran dan mengajarkannya</strong></p>
<div style="text-align: center;" dir="rtl">عَنْ عُثْمَانَ &#8211; رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري</div>
<p>Artinya: &#8220;Ustman bin Affan<em> radhiyallahu &#8216;anhu </em>berkata: &#8220;Bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda: <em>&#8220;Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.&#8221; </em>Hadits riwayat Bukhari.</p>
<p><strong><em>Ketiga, </em>yang paling diharapkan kebaikannya dan paling jauh keburukannya</strong></p>
<div dir="rtl">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ &#8230;» رواه الترمذى</div>
<p>Artinya: &#8220;Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em>meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>berdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: <em>&#8220;Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?&#8221;</em> Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata: <em>&#8220;Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami,&#8221; </em>beliau bersabda: <em>&#8220;Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan sedangkan keburukannya terjaga…&#8221; </em>Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami&#8217; (no. 2603)</p>
<p><strong><em>Keempat, </em>menjadi suami yang paling baik terhadap keluarganya </strong></p>
<div dir="rtl">عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى</div>
<p>Artinya: &#8220;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha </em>berkata: &#8220;Rasulullah <em>shallallau &#8216;alaihi wasallam </em>berasabda: <em>&#8220;Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.&#8221; </em>Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285).</p>
<p><strong><em>Kelima, </em>yang paling baik akhlaqnya dan menuntut ilmu </strong></p>
<div dir="rtl">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد</div>
<p>Artinya: &#8220;Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em>berkata: &#8220;Rasulullah <em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda:<em> &#8220;Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu.</em>&#8221; Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami&#8217; (no. 3312)<br />
<strong><br />
<em>Keenam</em>, yang memberikan makanan </strong></p>
<div dir="rtl">عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد</div>
<p>Artinya: &#8220;Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em>yang berkata: <em>&#8220;Sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.&#8221; </em> Hadits riwayat Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami&#8217; (no. 3318)</p>
<p><strong><em>Ketujuh, </em>yang panjang umur dan baik perbuatannya </strong></p>
<div dir="rtl">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى</div>
<p>Artinya: &#8220;Abdullah bin Busr <em>radhiyallahu &#8216;anhu </em>meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>: <em>&#8220;Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?&#8221;</em> beliau menjawab: <em>&#8220;Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya.&#8221; </em>Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363).</p>
<p><em><strong>Kedelapan, </strong></em><strong>yang paling bermanfaat bagi manusia</strong></p>
<div dir="rtl">عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ</div>
<p>Artinya: &#8220;Jabir <em>radhiyallau &#8216;anhuma </em>bercerita bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda: <em>&#8220;Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.&#8221; </em>Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami&#8217; (no. 3289).</p>
<p><strong>*) Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zain, Islamic Cultural Center 1430 H, Dammam KSA</strong></p>
<p>Penulis: <a href="http://www.dakwahsunnah.com/2012/01/apakah-anda-termasuk-sebaik-baik.html">Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8144"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fapakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fapakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fapakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/apakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memanfaatkan Fasilitas Kantor untuk Keperluan Pribadi</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/memanfaatkan-fasilitas-kantor-untuk-keperluan-pribadi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/memanfaatkan-fasilitas-kantor-untuk-keperluan-pribadi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 23:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[fasilitas]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[mobil dinas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8133</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian pegawai atau PNS kadang menggunakan fasilitas kantor semisal motor atau mobil dinas untuk kepentingan pribadi, atau ada pula yang menggunakan internet kantor untuk kepentingan pribadi semisal chating, facebook-an atau browsing. Bagaimana pandangan Islam dan<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/memanfaatkan-fasilitas-kantor-untuk-keperluan-pribadi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Sebagian pegawai atau PNS kadang menggunakan fasilitas kantor semisal motor atau mobil dinas untuk kepentingan pribadi, atau ada pula yang menggunakan internet kantor untuk kepentingan pribadi semisal chating, facebook-an atau browsing. Bagaimana pandangan Islam dan nasehat para ulama mengenai hal ini?</em></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin ditanya mengenai hukum memanfaatkan mobil dinas untuk kepentingan pribadi.</p>
<p>Jawaban beliau <em>rahimahullah</em>, “Memanfaatkan mobil dinas milik negara atau pun peralatan lain milik negara, semisal mesin foto kopi, printer, dan lain-lain untuk kepentingan pribadi adalah satu hal yang terlarang karena benda-benda tersebut diperuntukkan untuk kepentingan umum.</p>
<p>Jika ada seorang pegawai yang memanfaatkan barang-barang tersebut untuk kepentingan pribadi maka itu adalah kejahatan terhadap masyarakat. Benda atau peralatan itu, yang diperuntukkan bagi kaum muslimin dan merupakan milik seluruh kaum muslimin (baca: seluruh rakyat), terlarang untuk dimanfaatkan oleh siapa pun, untuk keperluan pribadinya.</p>
<p>Dalilnya adalah bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melarang ghulul. Ghulul adalah tindakan seorang yang memanfaatkan sebagian harta rampasan perang yang masih menjadi milik umum (seluruh tentara yang ikut perang) untuk kepentingan pribadi.</p>
<p>Kewajiban setiap orang yang melihat adanya pegawai yang memanfaatkan peralatan milik negara atau mobil dinas untuk kepentingan pribadinya adalah menasihati pegawai tersebut dan menjelaskan kepadanya bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan haram.</p>
<p>Jika Allah memberikan hidayah kepadanya maka itulah yang diharapkan. Jika yang terjadi adalah kemungkinan yang jelek maka hendaknya tindakan pegawai  tersebut dilaporkan kepada pihak-pihak yang bisa memberikan teguran dan peringatan.</p>
<p>Melaporkan ulah pegawai tersebut adalah bagian dari tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.</p>
<p dir="RTL">عَنْ أَنَسٍ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا » . فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ</p>
<p>Dari Anas <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, ”<em>Tolonglah saudaramu, baik dia berbuat zholim atau dizholimi</em>.” Ada seseorang yang bertanya, “<em>Wahai Rasulullah, menolong orang yang dizholimi itu bisa kami lakukan. Lalu, bagaimana cara menolong orang yang berbuat zhalim?</em>” Jawaban Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “<em>Cegahlah dia dari melakukan tindakan kezholiman. Itulah bentuk pertolongan terhadap orang yang zhalim</em>.” (HR. Bukhari no. 6952)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin ditanya kembali, “Bagaimana jika kepala kantor sudah mengizikan, apakah penggunakan peralatan milik negara tetap terlarang?”</p>
<p>Jawaban beliau, “Tetap terlarang, meski kepala kantor mengizinkannya karena kepala kantor tidak memiliki kewenangan terkait pemanfaatan pribadi atas peralatan milik negara. Oleh karena itu, bagaimana mungkin dia memberi izin kepada orang lain?”</p>
<p><strong>[Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 5, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin]</strong></p>
<p><em>Kasus di atas beda halnya jika sudah diizinkan oleh pemilik perusahaan atau bos. Namun hal ini jauh berbeda dengan PNS, karena atasannya adalah yang paling atas, bukan hanya kepala kantor atau kepala dinas. Semoga bisa dipahami.</em></p>
<p>Semoga yang singkat ini bisa menjadi nasehat berharga bagi penulis –secara pribadi- dan pembaca sekalian. <em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 22 Muharram 1433 H</p>
<p>Penyusun: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8133"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmemanfaatkan-fasilitas-kantor-untuk-keperluan-pribadi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmemanfaatkan-fasilitas-kantor-untuk-keperluan-pribadi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmemanfaatkan-fasilitas-kantor-untuk-keperluan-pribadi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/memanfaatkan-fasilitas-kantor-untuk-keperluan-pribadi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Introspeksi Diri, Akhlak yang Terlupa</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/introspeksi-diri-akhlak-yang-terlupa.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/introspeksi-diri-akhlak-yang-terlupa.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 23:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[introspeksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8067</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan hidup di dunia, tentunya seorang muslim tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang diperturutkan. Selain itu, buah pemikiran yang dihasilkan manusia, yang dibangga-banggakan oleh pemiliknya, tidak jarang yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/introspeksi-diri-akhlak-yang-terlupa.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Dalam perjalanan hidup di dunia, tentunya seorang muslim tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang diperturutkan. Selain itu, buah pemikiran yang dihasilkan manusia, yang dibangga-banggakan oleh pemiliknya, tidak jarang yang menyelisihi kebenaran, tidak sedikit yang bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Oleh karenanya, seiring waktu yang diberikan Allah kepada manusia di dunia, sepatutnya dipergunakan untuk mengintrospeksi segala perilaku dan pemikiran yang dia miliki, sehingga mendorongnya untuk mengoreksi diri ke arah yang lebih baik.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Introspeksi, Pintu untuk Mengoreksi Diri</strong></span></p>
<p>Di dalam kitab <em>Shahih</em>-nya, imam Bukhari membuka salah satu bab kitab <em>ash-Shaum</em> dengan perkataan Abu az-Zinad,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إن السنن ووجوه الحق لتأتي كثيرًا على خلاف الرأي</p>
<p>“<em>Sesungguhnya mayoritas sunnah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi</em>” [HR. Bukhari].</p>
<p>Memang benar apa yang dikatakan beliau, betapa seringnya seseorang enggan menerima kebenaran karena bertentangan dengan pendapat dan tendensi pribadi. Bukankah dakwah tauhid yang ditawarkan nabi kepada kaum musyrikin, ditolak karena bertolak belakang dengan keinginan pribadi mereka, terutama tokoh-tokoh terpandang di kalangan kaum musyrikin?</p>
<p>Tidak jarang seseorang tidak mampu selamat dari hawa nafsu dan terbebas dari kekeliruan pendapat karena bersikukuh meyakini sesuatu dan tidak mau menerima koreksi. Hal ini tentu berbeda dengan kasus seorang mujtahid yang keliru dalam berijtihad. Ketika syari’at menerangkan bahwa seorang mujtahid yang keliru memperoleh pahala atas ijtihad yang dilakukannya, hal ini bukan berarti mendukung dirinya untuk menutup mata dari kesalahan ijtihad dan bersikukuh memegang pendapat jika telah nyata akan kekeliruannya. Betapa banyak ahli fikih yang berfatwa kemudian rujuk setelah meneliti ulang fatwanya dan melihat bahwa kebenaran berada pada pendapat pihak lain.</p>
<p>Kita bisa mengambil pelajaran dari penolakan para malaikat terhadap kalangan yang hendak datang ke <em>al-Haudh</em> (telaga rasulullah di hari kiamat). Mereka tidak bisa mendatangi <em>al-Haudh</em> dikarenakan dahulu di dunia, mereka termasuk kalangan yang bersikukuh untuk berpegang pada kekeliruan, kesalahan dan kesesatan, padahal kebenaran telah jelas di hadapan mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits, ketika para malaikat memberikan alasan kepada nabi,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، وَلَمْ يَزَالُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ، فَأَقُولُ: أَلَا سُحْقًا، سُحْقًا</p>
<p>“<em>Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)</em>” [Shahih. HR. Ibnu Majah].</p>
<p>Kita dapat melihat bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendo’akan kecelakaan kepada mereka, karena enggan untuk melakukan introspeksi, enggan melakukan koreksi dengan menerima kebenaran yang ada di depan mata. Oleh karenanya, evaluasi diri merupakan perantara untuk <em>muhasabah an-nafs</em>, sedangkan koreksi diri merupakan hasil yang pengaruhnya ditandai dengan sikap rujuk dari kemaksiatan dan kekeliruan dalam suatu pendapat dan perbuatan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Sarana-sarana untuk Mengevaluasi Diri</strong></span></p>
<p>Diantara sarana yang dapat membantu seseorang untuk mengevaluasi diri adalah sebagai berikut:<strong></strong><strong></strong></p>
<p><strong></strong><strong>Pertama, tidak menutup diri dari saran pihak lain</strong></p>
<p>Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan bermusyawarah bersama rekan dengan niat untuk mencari kebenaran. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usul Umar kepada Abu Bakr <em>radhiallahu anhuma</em> untuk mengumpulkan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ</p>
<p>“<em>Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar</em>” [HR. Bukhari].</p>
<p>Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda<strong>. </strong></p>
<p><strong></strong><strong>Kedua, bersahabat dengan rekan yang shalih</strong></p>
<p>Salah satu sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar adalah meminta rekan yang shalih untuk menasehati dan mengingatkan kekeliruan kita, meminta masukannya tentang solusi terbaik bagi suatu permasalahan, khususnya ketika orang lain tidak lagi peduli untuk saling mengingatkan. Bukankah selamanya pendapat dan pemikiran kita tidak lebih benar dan terarah daripada rasulullah <em>shallallahu alaihi wa sallam</em>, padahal beliau bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي</p>
<p>“<em>Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa</em>” [HR. Bukhari].</p>
<p>Ketika budaya saling menasehati dan mengingatkan tertanam dalam perilaku kaum mukminin, maka seakan-akan mereka itu adalah cermin bagi diri kita yang akan mendorong kita berlaku konsisten. Oleh karena itu, dalam menentukan jalan dan pendapat yang tepat, anda harus berteman dengan seorang yang shalih. Anda jangan mengalihkan pandangan kepada <em>maddahin</em> (kalangan penjilat) yang justru tidak akan mengingatkan akan kekeliruan saudaranya.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ</p>
<p>“<em>Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat</em>” [Shahih. HR. Abu Dawud].</p>
<p>Contoh nyata akan hal ini disebutkan dalam kisah al-Hur bin Qais, orang kepercayaan Umar bin al-Khaththab <em>radhiallahu anhu</em>. Pada saat itu, Umar murka dan hendak memukul Uyainah bin Husn karena bertindak kurang ajar kepada beliau, maka al-Hur berkata kepada Umar,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199] ، وَإِنَّ هَذَا مِنَ الجَاهِلِينَ، «وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ»</p>
<p>“<em>Wahai amir al-Mukminin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya, “Berikan maaf, perintahkan yang baik dan berpalinglah dari orang bodoh.” Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh”. Perawi hadits ini mengatakan, “Demi Allah Umar tidak menentang ayat itu saat dibacakan karena ia adalah orang yang senantiasa tunduk terhadap al-Quran.</em>” [HR. Bukhari].</p>
<p>Betapa banyak kezhaliman dapat dihilangkan dan betapa banyak tindakan yang keliru dapat dikoreksi ketika rekan yang shalih menjalankan perannya.<strong></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Ketiga, menyendiri untuk melakukan muhasabah</strong></p>
<p>Salah satu bentuk evaluasi diri yang paling berguna adalah menyendiri untuk melakukan muhasabah dan mengoreksi berbagai amalan yang telah dilakukan.</p>
<p>Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ</p>
<p>“<em>Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)</em>” [HR. Tirmidzi].</p>
<p>Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ</p>
<p>“<em>Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya</em>” [HR. Tirmidzi].</p>
<p>Jika hal ini dilakukan, niscaya orang yang melaksanakannya akan beruntung. Bukanlah sebuah aib untuk rujuk kepada kebenaran, karena musibah sebenarnya adalah ketika terus-menerus melakukan kebatilan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Faedah Mengintrospeksi Diri  </strong></span></p>
<p>Mengintrospeksi diri memiliki beberapa faedah, yaitu:<strong></strong></p>
<p><strong>Pertama, m</strong><strong>usibah terangkat dan hisab diringankan</strong></p>
<p>Pada lanjutan atsar Umar di atas disebutkan bahwa sebab terangkatnya musibah dan diringankannya hisab di hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar radhiallahu anhu mengatakan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia</em>” [HR. Tirmidzi].</p>
<p>Ketika berbagai kerusakan telah merata di seluruh lini kehidupan, maka jalan keluar dari hal tersebut adalah dengan kembali (rujuk) kepada ajaran agama sebagaimana yang disabdakan nabi <em>shallallahu alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ</p>
<p>“<em>Apabila kamu berjual beli dengan cara inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (berbuat zhalim), ridha dengan pertanian (mementingkan dunia) dan meninggalkan jihad (membela agama), niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada ajaran agama</em>”</p>
<p>Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">حتى يراجعوا دينهم</p>
<p>“<em>Hingga mereka mengoreksi pelaksanaan ajaran agama mereka</em>” [Shahih. HR. Abu Dawud].</p>
<p>Anda dapat memperhatikan bahwa rujuk dengan mengoreksi diri merupakan langkah awal terangkatnya musibah dan kehinaan.<strong></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kedua, hati lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia</strong></p>
<p>Demikian pula, mengoreksi kondisi jiwa dan amal merupakan sebab dilapangkannya hati untuk menerima kebaikan dan mengutamakan kehidupan yang kekal (akhirat) daripada kehidupan yang fana (dunia). Dalam sebuah hadits yang panjang dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “<em>Suatu ketika seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang raja pun berkata kepadanya, “Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama</em>” [Hasan. HR. Ahmad].</p>
<p>Perhatikan, kemampuan mereka berdua untuk mengoreksi kekeliruan serta keinginan untuk memperbaiki diri setelah dibutakan oleh kekuasaan, timbul setelah merenungkan dan mengintrospeksi hakikat kondisi mereka.<strong></strong></p>
<p><strong>Ketiga, memperbaiki hubungan diantara sesama manusia</strong></p>
<p>Introspeksi dan koreksi diri merupakan kesempatan untuk memperbaiki keretakan yang terjadi diantara manusia. Rasulullah <em>shallallahu alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تُفْتَحُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوهُمَا حَتَّى يَصْطَلِحَا ” مَرَّتَيْنِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, di kedua hari tersebut seluruh hamba diampuni kecuali mereka yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, “Tangguhkan ampunan bagi kedua orang ini hingga mereka berdamai</em>” [Sanadnya shahih. HR. Ahmad].</p>
<p>Menurut anda, bukankah penangguhan ampunan bagi mereka yang bermusuhan, tidak lain disebabkan karena mereka enggan untuk mengoreksi diri sehingga mendorong mereka untuk berdamai?<strong></strong></p>
<p><strong>Keempat, terbebas dari sifat nifak</strong></p>
<p>Sering mengevaluasi diri untuk kemudian mengoreksi amalan yang telah dilakukan merupakan salah satu sebab yang dapat menjauhkan diri dari sifat munafik. Ibrahim at-Taimy mengatakan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا</p>
<p>“<em>Tidaklah diriku membandingkan antara ucapan dan perbuatanku, melainkan saya khawatir jika ternyata diriku adalah seorang pendusta (ucapannya menyelisihi perbuatannya).</em>”</p>
<p>Ibnu Abi Malikah juga berkata,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ</p>
<p>“<em>Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, merasa semua mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa keimanannya seperti keimanan Jibril dan Mikail</em>” [HR. Bukhari].</p>
<p>Ketika mengomentari perkataan Ibnu Abi Malikah, Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Baththal yang menyatakan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إِنَّمَا خَافُوا لِأَنَّهُمْ طَالَتْ أَعْمَارُهُمْ حَتَّى رَأَوْا مِنَ التَّغَيُّرِ مَا لَمْ يَعْهَدُوهُ وَلَمْ يَقْدِرُوا عَلَى إِنْكَارِهِ فَخَافُوا أَنْ يَكُونُوا دَاهَنُوا بِالسُّكُوتِ</p>
<p>“Mereka khawatir karena telah memiliki umur yang panjang hingga mereka melihat berbagai kejadian yang tidak mereka ketahui dan tidak mampu mereka ingkari, sehingga mereka khawatir jika mereka menjadi seorang penjilat dengan sikap diamnya” [<em>Fath al-Baari</em> 1/111].</p>
<p>Kesimpulannya, seorang muslim sepatutnya mengakui bahwa dirinya adalah tempatnya salah dan harus mencamkan bahwa tidak mungkin dia terbebas dari kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu untuk mengoreksi diri tidak tertutup bagi dirinya. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم</p>
<p>“<em>Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri</em>” (Al-Ra`d 11).</p>
<p>Manusia merupakan makhluk yang lemah,  betapa seringnya dia memiliki pendirian dan sikap yang berubah-ubah. Namun, betapa beruntungnya mereka yang dinaungi ajaran agama dengan mengevaluasi diri untuk berbuat yang tepat dan mengoreksi diri sehingga melakukan sesuatu yang diridhai Allah. Sesungguhnya rujuk kepada kebenaran merupakan perilaku orang-orang yang kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.</p>
<p>Disadur dari artikel<em> al-Muraja’ah wa at-Tashhih</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://ikhwanmuslim.com/fikih/introspeksi-diri-akhlak-yang-terlupa">Muhammad Nur Ichwan Muslim<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8067"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fintrospeksi-diri-akhlak-yang-terlupa.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fintrospeksi-diri-akhlak-yang-terlupa.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fintrospeksi-diri-akhlak-yang-terlupa.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/introspeksi-diri-akhlak-yang-terlupa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia yang Hidup Terus Setelah Matinya</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/manusia-yang-hidup-terus-setelah-matinya.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/manusia-yang-hidup-terus-setelah-matinya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 23:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[belajar agama]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7943</guid>
		<description><![CDATA[Kawan… Tulisan ini adalah ajakan untuk saya dan kaum muslim, agar menjadi orang berilmu agama, mengamalkannya kemudian mengajarkan dan menyebarkannya… Kawan… Mari tuntut ilmu agama, niscaya kamu bisa hidup terus setelah matimu … Rasulullah shallallahu<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/manusia-yang-hidup-terus-setelah-matinya.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Kawan…</em></p>
<p>Tulisan ini adalah ajakan untuk saya dan kaum muslim, agar menjadi orang berilmu agama, mengamalkannya kemudian mengajarkan dan menyebarkannya…</p>
<p><em>Kawan…</em></p>
<p><em>Mari tuntut ilmu agama, niscaya kamu bisa hidup terus setelah matimu …</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa</em><em> sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»</p>
<p>“<em>Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “Dan ini adalah bukti yang paling besar akan kemuliaan dan keutamaan ilmu serta keagungan hasilnya, karena sesungguhnya pahalanya akan sampai kepada seseorang (yang mengajarkan ilmu) setelah kematiannya selama ilmu tersebut diambil manfaatnya, seakan-akan dia hidup, tidak terputus amalnya bahkan dibarengi dengan ingatan dan pujian selalu untuknya, mengalirnya pahala kepadanya di saat seluruh manusia terputus dari mereka amalan mereka adalah merupakan KEHIDUPAN KEDUA. (Lihat kitab <em>Miftah Dar As Sa’adah</em>, karya Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">« إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِى صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ ».</p>
<p>“<em>Sesungguhnya yang mendapati seorang mukmin dari amal dan kebaikannya setelah kematiannya adalah; sebuah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, seorang anak shalih yang dia tinggalkan, sebuah mushhaf Al Quran yang dia wariskan atau sebuah masjid yang dia bangun, sebuah rumah untuk para musafir yang kehabisan bekal yang dia bangun, sebuah sungai yang dia alirkan atau sebuah sedekah yang dia keluarkan dari hartanya ketika disaat sehat dan hidupnya, seluruhnya ini adalah amalan yang akan mendapatinya setelah kematiannya</em><em>.</em>” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam <em>shahih Al Jami</em>’)</p>
<p>Mari perhatikan … ternyata semua amalan yang pahalanya akan mengalir kepada seseorang meskipun dia sudah meninggal, kuncinya pada ilmu agama. <em>Subhanallah</em> &#8230;</p>
<p><em>Kawan</em>, saya yakin, kita bisa berbuat untuk perihal ilmu.</p>
<ol>
<li>Belajar ilmu agama</li>
<li>Mengamalkan ilmu agama</li>
<li>Mengajarkan dan menyebarkan ilmu agama, walau hanya menyebarkan kaset, CD, brosur, pengumuman kajian Islam bermanfaat,  dan semisalnya kepada orang lain.</li>
</ol>
<p>Selamat berjuang untuk bisa hidup terus setelah kematian menjemput!</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">يَمُوْتُ الْعَالِمُ وَ يَبْقَى كِتَابُهُ</p>
<p style="text-align: center;"><em>Orang berilmu boleh meninggal tetapi kitabnya tetap akan tertinggal.</em></p>
<p>Rabu, 20 Rajab 1432 H, Dammam-KSA</p>
<p>__</p>
<p>Penulis: <a href="http://dakwahsunnah.com/">Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc</a><br />
Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7943"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmanusia-yang-hidup-terus-setelah-matinya.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmanusia-yang-hidup-terus-setelah-matinya.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmanusia-yang-hidup-terus-setelah-matinya.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/manusia-yang-hidup-terus-setelah-matinya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hiasi Diri dengan Sifat Tawadhu&#8217;</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hiasi-diri-dengan-sifat-tawadhu.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hiasi-diri-dengan-sifat-tawadhu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 23:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[tawadhu']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7870</guid>
		<description><![CDATA[Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, berilmu tinggi, memiliki harta yang mulia, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati, alias tawadhu’. Padahal kita seharusnya<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hiasi-diri-dengan-sifat-tawadhu.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Tawadhu’</em> adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, berilmu tinggi, memiliki harta yang mulia, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati, alias tawadhu’. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “<em>kian berisi, kian merunduk</em>”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memahami Tawadhu’</strong></span></p>
<p><em>Tawadhu’</em> adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sombong dan melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang semestinya. Sedangkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan diri terlalu rendah sehingga sampai pada pelecehan hak (Lihat <em>Adz Dzari’ah ila Makarim Asy Syari’ah</em>, Ar Roghib Al Ash-fahani, 299). Ibnu Hajar berkata, “<em>Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya</em>.” (<em>Fathul Bari</em>, 11: 341)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Sifat Tawadhu’</strong></span></p>
<p><strong>Pertama: Sebab mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ</p>
<p>“<em>Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya</em>.” (HR. Muslim no. 2588). Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat <em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim</em>,  16: 142)</p>
<p><em>Tawadhu’</em> juga merupakan akhlak mulia dari para nabi <em>‘alaihimush sholaatu wa salaam</em>. Lihatlah Nabi Musa <em>‘alaihis salam </em>melakukan pekerjaan rendahan, memantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta. Lihat pula Nabi Daud ‘<em>alaihis salam</em> makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Nabi Zakariya dulunya seorang tukang kayu. Sifat tawadhu’ Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا</p>
<p>“<em>Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka</em>.” (QS. Maryam: 32). Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu’, mereka menjadi mulia di dunia dan di akhirat.</p>
<p><strong>Kedua: Sebab adil, disayangi, dicintai di tengah-tengah manusia.</strong></p>
<p>Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ</p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas  pada yang lain.</em>” (HR. Muslim no. 2865).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mencontoh Sifat Tawadhu’ Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</em>” (QS. Al Ahzab: 21)</p>
<p>Lihatlah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>masih memberi salam pada anak kecil dan yang lebih rendah kedudukan di bawah beliau. Anas berkata,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يزور الأنصار ويسلم على صبيانهم ويمسح رؤوسهم</p>
<p>“<em>Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka</em>.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459. Sanad hadits ini <em>shahih</em> kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth) <em>Subhanallah</em> &#8230; Ini sifat yang sungguh mulia yang jarang kita temukan saat ini. Sangat sedikit orang yang mau memberi salam kepada orang yang lebih rendah derajatnya dari dirinya. Boleh jadi orang tersebut lebih mulia di sisi Allah karena takwa yang ia miliki.</p>
<p>Coba lihat lagi bagaimana keseharian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di rumahnya. Beliau membantu istrinya. Bahkan jika sendalnya putus atau bajunya sobek, beliau menjahit dan memperbaikinya sendiri. Ini beliau lakukan di balik kesibukan beliau untuk berdakwah dan mengurus umat.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”</p>
<p>Urwah bertanya kepada ‘Aisyah, “<em>Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?</em>” Aisyah menjawab, “<em>Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.</em>” (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676. Sanad hadits ini <em>shahih</em> kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Lihatlah beda dengan kita yang lebih senang menunggu istri untuk memperbaiki atau memerintahkan pembantu untuk mengerjakannya.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tanpa rasa malu membantu pekerjaan istrinya. ‘Aisyah pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika berada di rumah. Lalu ‘Aisyah menjawab,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ</p>
<p>“<em>Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat</em>.” (HR. Bukhari no. 676). Beda dengan kita yang mungkin agak sungkan membersihkan popok anak, menemani anak ketika istri sibuk di dapur, atau mungkin membantu mencuci pakaian.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Nasehat Para Ulama Tentang Tawadhu’</strong></span></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال الحسن رحمه الله: هل تدرون ما التواضع؟ التواضع: أن تخرج من منزلك فلا تلقى مسلماً إلا رأيت له عليك فضلاً .</p>
<p>Al Hasan Al Bashri berkata, “Tahukah kalian apa itu <em>tawadhu’</em>? <em>Tawadhu’</em> adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">يقول  الشافعي: « أرفع الناس قدرا : من لا يرى قدره ، وأكبر الناس فضلا : من لا يرى فضله »</p>
<p>Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">يقول بشر بن الحارث: &#8220;ما رأيتُ أحسنَ من غنيّ جالسٍ بين يدَي فقير&#8221;.</p>
<p>Basyr bin Al Harits berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang kaya yang duduk di tengah-tengah orang fakir.” <em>Yang bisa melakukan demikian tentu yang memiliki sifat tawadhu’.</em></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال عبد الله بن المبارك: &#8220;رأسُ التواضعِ أن تضَع نفسَك عند من هو دونك في نعمةِ الله حتى تعلِمَه أن ليس لك بدنياك عليه فضل [أخرجه البيهقي في الشعب (6/298)].</p>
<p>‘Abdullah bin Al Mubarrok berkata, “Puncak dari tawadhu’ adalah engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298)</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال سفيان بن عيينة: من كانت معصيته في شهوة فارج له التوبة فإن آدم عليه السلام عصى مشتهياً فاستغفر فغفر له، فإذا كانت معصيته من كبر فاخش عليه اللعنة. فإن إبليس عصى مستكبراً فلعن.</p>
<p>Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Siapa yang maksiatnya karena syahwat, maka taubat akan membebaskan dirinya. Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya. Namun, jika siapa yang maksiatnya karena sifat sombong (lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya. Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال أبو بكر الصديق: وجدنا الكرم في التقوى ، والغنى في اليقين ، والشرف في التواضع.</p>
<p>Abu Bakr Ash Shiddiq berkata, “Kami dapati kemuliaan itu datang dari sifat <em>takwa</em>, <em>qona’ah</em> (merasa cukup) muncul karena <em>yakin</em> (pada apa yang ada di sisi Allah), kedudukan mulia didapati dari sifat <em>tawadhu’</em>.”</p>
<p dir="RTL" align="center">قال عروة بن الورد :التواضع أحد مصائد الشرف، وكل نعمة محسود عليها إلا التواضع.</p>
<p>‘Urwah bin Al Warid berkata, “Tawadhu’ adalah salah satu jalan menuju kemuliaan. Setiap nikmat pasti ada yang merasa iri kecuali pada sifat tawadhu’.”</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال يحيى بن معين :ما رأيت مثل أحمد بن حنبل!! صحبناه خمسين سنة ما افتخر علينا بشيء مما كان عليه من الصلاح والخير</p>
<p>Yahya bin Ma’in berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang semisal Imam Ahmad! Aku telah bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, namun beliau sama sekali tidak pernah menyombongkan diri terhadap kebaikan yang ia miliki.”</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال زياد النمري :الزاهد بغير تواضع .. كالشجرة التي لا تثمر</p>
<p>Ziyad An Numari berkata, “Orang yang zuhud namun tidak memiliki sifat tawadhu adalah seperti pohon yang tidak berbuah.”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p align="center"><em>Ya Allah, muliakanlah kami dengan sifat tawadhu’ dan jauhkanlah kami dari sifat sombong.</em></p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ</p>
<p align="center">“<em>Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta</em> (Ya Allah, tunjukilah padaku akhlaq yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlaq tersebut kecuali Engkau)” (HR. Muslim no. 771).</p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 19 Dzulhijjah 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Perkataan-perkataan ulama di atas, penulis nukil dari <a href="http://www.saaid.net/mktarat/alalm/30.htm">http://www.saaid.net/mktarat/alalm/30.htm</a> dan <a href="http://www.wejhah.com/vb/showthread.php?t=7375">http://www.wejhah.com/vb/showthread.php?t=7375</a></p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7870"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fhiasi-diri-dengan-sifat-tawadhu.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fhiasi-diri-dengan-sifat-tawadhu.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fhiasi-diri-dengan-sifat-tawadhu.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hiasi-diri-dengan-sifat-tawadhu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Meningkatkan Iman</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-meningkatkan-iman.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-meningkatkan-iman.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 23:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[berkurang]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[meningkat]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7698</guid>
		<description><![CDATA[Bukan sesuatu yang samar bahwa keimanan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, kerena iman adalah kewajiban yang paling pokok dan paling mulia. seluruh kebaikan dan kejelekan yang dirasakan oleh seseorang tergantung dari benar<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-meningkatkan-iman.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><div>
<p>Bukan sesuatu yang samar bahwa keimanan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, kerena iman adalah kewajiban yang paling pokok dan paling mulia. seluruh kebaikan dan kejelekan yang dirasakan oleh seseorang tergantung dari benar dan tidaknya keimanan orang itu.</p>
<p>Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi setiap insan yang beriman berusaha untuk meningkatkan keimanannya, dan menjaganya agar tidak turun atau berkurang.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Diantara sebab-sebab yang meningkatkan keimanan adalah:</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>1. Mempelajari ilmu syar’i</strong></span><br />
Keutamaan mempelajari ilmu syar’i sangatlah banyak diantaranya adalah Allah akan mengangkat derajat seorang mu’min yang berilmu melebihi orang yang tidak memiliki ilmu. Sebagaiman yang Allah firmankan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ</p>
<p>Artinya, <em>“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”</em> ( QS. Al-Mujadilah : 11 )</p>
<p>Apabila seseorang menguasai ilmi syar’I maka dia akan mengetahui hal-hal yang dicintai Allah dan yang dibenci Allah, dan mengetahui hal-hal yang dapat mendekatkan dia kepada Allah serta hal-hal yang dapat menambah keimanannya.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>2. Memperbanyak membaca Alquran dan men-<em>tadabburi</em>-nya.</strong></span><br />
Allah menurunkan Alquran sebagai rahmat dan penerang untuk hamba-Nya. Allah berfirman,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ</p>
<p>Artinya: <em>“Kitab Alquran yang kami turunkan kepadamu yang penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang memiliki akal dapat mengambil pelajaran.”</em> (QS. Shad: 29 )</p>
<p>Barang siapa yang mentadabburi ayat-ayat Allah dia akan mengetahui besarnya kekuasaan dan keagungan Allah sehingga imannya pun akan bertambah.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>3. Memahami nama-nama Allah dan sifat-sifatnya.</strong></span><br />
Jika seseorang memahami dengan benar indahnya nama-nama Allah dan sempurnanya sifat-sifat-Nya maka kecintaannya kepada Allah dan pengharapannya kepada-Nya akan bertambah, sehingga dia akan semakin khusyu’ dalam melaksanakan ibadah.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>4. Menghayati perjalanan hidup Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</strong></span><br />
Dengan menghayati kehidupan Rasulullah kita mengetahui bagaimana semangat beliau dalam menyampaikan risalah Allah walaupun banyaknya rintangan yang dihadapinya, sehingga kitapun dapat mengambil pelajaran darinya untuk meningkatkan iman kita.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>5. Menghayati keagungan-keagungan syari’at islam.</strong></span><br />
Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan syariat-Nya dengan segala kesempurnaan, tidak ada cacat padanya, Jika seorang mu’min manghayati hal ini maka ia akan mengetahu bahwa Allah tidaklah menurunkan syariatNya untuk menyusahkan hamba-Nya sebagai mana yang Allah firmankan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ</p>
<p>Artinya: <em>“Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untuk kalian dalam agama.”</em> ( Q.S Al-hajj: 78)</p>
<p>Maka jika hal ini telah diketahui maka hendaknya bagi setiap muslim bersemangat dalam beramal dengan ikhlas.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>6. Men-<em>tadabburi</em> ciptaan-ciptaan Allah.</strong></span><br />
Jika kita perhatikan makhluk-makhluk ciptaan Allah baik dari yang paling besar sampai yang terkecil, niscaya kita akan mendapatkan hal-hal yang sungguh menakjubkan. Lihatlah matahari, betapa cahayanya begitu terang menyinari alam ini. Tidak berhenti sampai disitu saja, perhatikanlah betapa banyak manfaat dari sinar matahari ini yang kalau kita mau jabarkan maka sungguh tak terhingga jumlahnya. Lalu bagaimana matahari tersebut tidak pernah redup walau sehari saja, tidak seperti lampu yang lama-kelamaan akan berkurang fungsionalitasnya?!! Mataharipun selalu terbit dari tempatnya, dan tidak seharipun terbit dari arah yang berlawanan. Inilah matahari yang merupakan makhluk Allah yang sering kita konsumsi nikmatnya, akan tetapi kita jarang memperhatikannya secara detail. Dan makhluk Allah sungguh banyak tidak terbatas matahari saja, maka banyak pula hal-hal yang mengagumkan dibalik penciptaan-Nya tersebut, yang pada akhirnya kita harus jujur bahwa Sang Pencipta segala makhluk-makhluk itu pasti Maha Agung Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sudah selayaknya ini menjadi sarana kita untuk menambah keimanan kita pada-Nya</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>7. Bersemangat dalam mengamalkan amal-amal shalih dengan ikhlas.</strong></span><br />
Karena sesungguhnya setiap amal shalih yang dikerjakan oleh seorang mu’min dengan ikhlas akan menambah keimanannya, karena iman bertambah dengan banyaknya amal ketaatan yang dilakukan seorang mu’min.</p>
<p>Oleh karena itu, suatu keharusan bagi seorang mu’min untuk berusaha mengikhlaskan niatnya dan bersungguh sungguh dalam beramal.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>8. Bergaul dengan orang-orang shalih.</strong></span><br />
Tidak diragukan lagi bahwa berteman dengan orang-orang yang shalih adalah sebab meningkatnya iman seseorang karena di dalam bergaul dengan mereka seseorang akan sering mendapatkan nasehat dan peringatan yang bermanfaat untuk dirinya.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>9. Menjauhi sebab-sebab yang melemahkan iman.</strong></span><br />
<span style="color: #ff0000;"><strong>Diantara sebab-sebab yang dapat melemahkan keimanan :</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>1. Bodoh terhadap ilmu syar’i</strong></span><br />
Ilmu adalah sumber dari segala kebaikan, maka sebaliknya bahwa kebodohan adalah sumber dari keburukan. Orang yang bodoh akan mudah tejatuh ke dalam jurang kekufuran dan kesesatan.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>2. Mengerjakan amal-amal maksiat</strong></span><br />
Sebagaimana telah disebutkan bahwa iman bertambah dengan melakukan ketaatan, maka iman pun akan berkurang dengan perbuatan maksiat dan dosa, karena dosa adalah kotoran yang akan mengotori hati orang yang beriman.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>3. Mengikuti seruan-seruan setan.</strong></span><br />
Syaithan telah berjanji akan menyesatkan bani adam, maka dia akan berusaha memalingkan mereka dari segala bentuk ketaatan. Allah berfirman menceritakan perkataan iblis,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ</p>
<p>Artinya : <em>“Iblis menjawab: ‘Karena engkau telah menyesatkan aku pasti aku akan menghalangi mereka dari jalanMu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur .’”</em> ( QS. Al-A’raf : 16-17 )</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>4. Bergaul dengan teman-teman yang jelek</strong></span><br />
Merupakan tabiat manusia bahwa dia akan meniru dan mengikuti teman atau kerabat dekatnya, maka apabila yang menjadi tamannya adalah seorang yang buruk perangainya maka niscaya dia akan menjadi sepaerti temannya itu. Oleh karena itu di dalam sebuah bait sya’ir disebutkan,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;"><strong>عن المرء لا تسأل وسل عن قرينه *  فكل قرين بالمقارن مقتدي</strong></p>
<p>Maknanya adalah:</p>
<blockquote><p>“Jika engkau ingin mengetahui tentang keadaan seseorang tanyalah siapa teman yang biasa menemaninya, karena sesungguhnya seseorang akan selalu mengikuti temannya.”</p></blockquote>
<p>Imam Qatadah berkata: “Demi Allah, kami tidak pernah melihat melihat seseorang bersama temannya kecuali mereka akan tampak kompak dan serupa.”</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra, M.A.<br />
Artikel<strong> <a href="http://dzikra.com/" target="_blank">www.dzikra.com</a></strong>, dipublish ulang oleh <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a><strong></strong></p>
</div>
<div class="shr-publisher-7698"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkiat-meningkatkan-iman.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkiat-meningkatkan-iman.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkiat-meningkatkan-iman.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-meningkatkan-iman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panutan Penyesat Umat</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/panutan-penyesat-umat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/panutan-penyesat-umat.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 23:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[dai]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[kyai]]></category>
		<category><![CDATA[panutan]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7373</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi panutan orang banyak… Tulisan ini untuk setiap makhluk yang setiap perkataan dan perbuatannya diikuti orang banyak… Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi trend made orang banyak… Tulisan<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/panutan-penyesat-umat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi panutan orang banyak…</p>
<p>Tulisan ini untuk setiap makhluk yang setiap perkataan dan perbuatannya diikuti orang banyak…</p>
<p>Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi trend made orang banyak…</p>
<p>Tulisan ini tertulis untuk umat Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa</em><em> </em><em>sallam</em> agar tidak menjadikan seorang sebagai panutan yang menyesatkan mereka dari jalan Allah Ta’ala, panutan yang sebenarnya hanyalah pembawa ke jalan syetan, jalan neraka. <em>Nau’dzubillah</em>.</p>
<p>Tulisan ini ditulis ketika saking banyaknya panutan, tapi menyesatkan umat dari Jalan Allah <em>Ta’ala</em>, baik dengan melakukan:</p>
<ul>
<li><strong>Kesyirikan</strong> dengan <em>i</em><em>stigh</em><em>o</em><em>tsah</em> dan tawassulnya kepada orang-orang yang sudah mati.</li>
<li><strong>Kesyirikan </strong>dengan<strong> </strong>mengambil barokah dari dzatnya orang-orang shalih.</li>
<li><strong>Sarana penyebab kesyirikan </strong>dengan mencari-cari hari baik untuk pernikahan atau hajat,…dan lain-lain.</li>
<li><strong>Bid’ah</strong> dengan amalan-amalan dan shalawat-shalawat yang tidak pernah ada di zaman Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa</em><em> </em><em>sallam</em>.</li>
<li><strong>Bid’ah </strong>dengan pembacaan dzikir-dzikir yang dikhususkan tempatnya, waktunya, keadaannya, jumlah bilangannya yang tidak pernah dikhususkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa</em><em> </em><em>sallam</em>.</li>
<li><strong>Maksiat</strong> dengan ta’arufnya padahal itu pacaran.</li>
<li><strong>Maksiat</strong> dengan bersalaman dengan wanita bukan mahram padahal larangan dan keharamannya jelas.</li>
<li><strong>Maksiat</strong> dengan tidak menjaga pandangan, meluaskan pandangan kepada wanita yang setengah telanjang.</li>
<li><strong>Maksiat</strong> dengan berkumpul dengan wanita-wanita bukan mahram tanpa ada penutup, bahkan wanitanya memakai pakaian yang tidak pantas dilihat kecuali oleh suaminya.</li>
<li><strong>Dan </strong><strong>perbuatan dosa lainnya.</strong></li>
</ul>
<p>Takutlah kepada Allah <em>Ta’ala</em> jika Anda menjadi panutan orang banyak dalam dosa dan maksiat, karena Anda akan:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>1)   Menjadi orang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah </strong><em><strong>shallallahu ‘alaihin wa</strong></em><em><strong> </strong></em><em><strong>sallam</strong></em><strong> atas umatnya. </strong><strong></strong></span></p>
<p>Intinya, Anda adalah orang sangat berbahaya bagi umat beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa</em><em> </em><em>sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" align="center">عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عنهم إلى يوم القيامة)</p>
<p> Syaddad bin Aus <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda, <em>“Sesungguhnya aku tidak takut atas umatku kecuali para pemimpin yang menyesatkan, dan jika diletakkan pedang </em><em>pada </em><em>umatk</em><em>u, </em><em>maka tidak akan diangkat dari mereka sampai hari kiamat”.</em> (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab <em>Silsisilah Al Ahadits Ash Shahihah</em>, no. 1582)</p>
<p>Makna pemimpin:</p>
<p>1.  Para pemimpin negara yang sesat dan para ulama yang menyesatkan.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" align="center">والمراد بقوله: &#8220;الأئمة المضلين&#8221;: الذين يقودون الناس باسم الشرع، والذين يأخذون الناس بالقهر والسلطان; فيشمل الحكام الفاسدين، والعلماء المضلين، الذين يدعون أن ما هم عليه شرع الله، وهم أشد الناس عداوة له.</p>
<p>Yang dimaksud “الأئمة المضلين” adalah orang-orang yang menuntun manusia dengan membawa nama syariat, dan orang-orang yang membawa manusia dengan kekuasaan, dan termasuk mereka ini adalah para pemimpin negara yang rusak dan para ulama yang menyesatkan, orang-orang yang mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah syariat Allah padahal mereka adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadapnya (syariat Allah) (Lihat kitab <em>Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid</em>, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).</p>
<p>2.  Para pemimpin kekuasaan, para ulama, para ahli ibadah yang menyesatkan.</p>
<p>“الأئمة”,  <em>a</em><em>immah</em> adalah jamak (bentuk plural) dari imam. Imam berarti panutan yang diikuti baik dalam kebaikan atau keburukan.</p>
<p>Jika panutan dari orang-orang yang sesat maka umat akan tersesat, dan terjadi di tengah-tengah mereka akan muncul keburukan, dan mereka yang dimaksudkan adalah para pemimpin negara yang sesat, para ulama yang sesat, para ahli ibadah yang sesat, dan para ahli dakwah yang sesat. Setiap dari mereka adalah para pemimpin yang sesat, jika umat dituntun oleh mereka maka mereka akan menuntun kepada kebinasaan. Adapun jika yang menuntun umat adalah para penyeru kebenaran maka mereka akan menuntun umat kepada kebaikan dan keselamatan (Lihat kitab<em> I’anat Al Mustafid bi Syarh Kitab At Tauhid</em>, karya Syaikh Shalih Al Fauzan).</p>
<p><span style="color: #0000ff;"> <strong>Mari perhatikan beberapa pernyataan yang sangat bermanfaat di bawah ini:</strong></span></p>
<p>Bahwa para pemimpin itu ada tiga jenis: <em>u</em><em>mara</em> (pemimpin negara), <em>u</em><em>lama</em> (para ahli ilmu agama), <em>‘u</em><em>bbad</em> (para ahli ibadah).  Mereka inilah yang ditakutkan akan mudah menyesatkan orang lain karena mereka adalah orang-orang yang diikuti. Para <em>u</em><em>mara</em>, mereka memiliki kekuasaan dan pelaksanaan. Para ulama mereka memiliki penyuluhan dan pendidikan. Sedangkan para ahli Ibadah mereka kadang menipu dengan keadaan mereka. Merekalah orang-orang yang ditaati dan jadi panutan, maka pengaruh mereka sungguh amat mengkhawatirkan. Karena jika mereka sesat maka mereka akan menyesatkan kebanyakan manusia. Namun, jika mereka mendapat petunjuk pada kebaikan, maka banyak orang akan ikut mendapat petunjuk (Lihat kitab <em>Al Qaul Al Mufid</em>, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).</p>
<p>Seorang yang berilmu yang diikuti dan dipandang dengan mata keshalihan, jika mengerjakannya (shalat-shalat bid’ah), maka jelas akan memberikan kerancuan terhadap orang awam bahwa hal tersebut adalah termasuk sunnah, jadilah dia seorang yang berdusta atas nama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan perbuatannya, yang terkadang bisa jadi penyebab langsung ia berdusta atas nama Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Kebanyakan manusia melakukan bid’ah dengan sebab ini. Mereka mengira orang yang mereka ikuti termasuk orang berilmu dan bertakwa. Padahal dia bukan orang seperti itu. Lalu mereka memperhatikan perkataan dan perbuatannya. Kemudian mereka mengikutinya dalam hal tersebut dan akhirnya rusaklah keadaan mereka.</p>
<p>Di dalam hadits riwayat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya termasuk yang kukhawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan”.</em> (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi dan beliau mengatakan: “Hadits ini adalah hadits yang shahih”)</p>
<p>Dan di dalam kitab Ash Shahih, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu tiba-tiba, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, sampai tidak tersisa seorang berilmu. Akhirnya manusia menjadikan orang-orang bodoh (sebagai ulama), akhirnya mereka (orang-orang bodoh tadi) memberi fatwa tanpa ilmu dan mereka menyesatkan”.</em></p>
<p>Imam Ath Tharthusyi <em>rahimahullah</em> berkata, “Renungkanlah kalian semua hadits ini. Sesungguhnya hadits ini menunjukkan bahwa bid’ah itu tidaklah muncul disebabkan oleh para ulama mereka. Akan tetapi bid’ah muncul ketika wafat ulama-ulama mereka, lalu orang yang tidak berilmu memberi fatwa. Akhirnya muncullah bid’ah dari orang yang tidak berilmu itu.<strong></strong></p>
<p>Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> memindahkan makna ini dengan berkata: “Seorang yang amanah tidak akan pernah berkhianat. Akan tetapi jika diberi amanat, orang yang tidak amanat akan terlihat hidung belangnya (sifat khianatnya)”.  Kita pun dapat mengatakan,“Tidak pernah seorang alim melakukan bid’ah. Akan tetapi orang yang tidak berilmu dimintai fatwa. Lantas dia sesat dan menyesatkan orang lain.”</p>
<p>Dan demikianlah perbuatan Rabi’ah. Imam Malik berkata: “Suatu hari Rabi’ah menangis dengan sekencang-kencangnya ketika ditanya, “Apakah ada musibah yang menimpamu?” Beliau menjawab, “Tidak. Akan tetapi akan ditanya orang yang tidak berilmu maka akhirnya muncul masalah yang amat besar<strong>”</strong><strong> (</strong>Lihat Kitab <em>Al Ba’its ‘Ala Inkar Al Bida’</em>, karya Abu Syamah).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"> <strong>2)   Menanggung dosa seluruh orang </strong><strong>yang </strong><strong>mengikuti Anda dalam dosa dan maksiat.</strong></span></p>
<p>Al Mundzir bin Jarir medapatkan riwayat dari bapaknya, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" align="center">مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mensunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu diamalkan, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”.</em> (HR. Muslim dan Ibnu Majah)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"> <strong>3)   Diadukan kepada Allah Ta’ala oleh orang yang mengikuti Anda di dalam dosa dan maksiat agar Anda mendapat siksa berlipat dan terlaknat, akibat kesesatan yang Anda sebarkan.</strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL" align="center">{إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا (64) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (65) يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)”. “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong”. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul&#8221;. “Dan mereka berkata: &#8220;Ya </em><em>Rabb</em><em> kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”.</em> (QS. Al Ahzab: 64-68).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pesan </strong><strong>T</strong><strong>erakhir</strong><strong></strong></span></p>
<p>Jadilah manusia yang menjadi kunci kebaikan bukan kunci kesesatan. Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;" dir="RTL" align="center">إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya dari manusia ada yang menjadi kunci kebaikan dan penutup keburukan. Juga ada manusia yang menjadi kunci keburukan dan menjadi penutup kebaikan. Bahagialah orang yang telah Allah anugerahkan ia sebagai kunci kebaikan melalui tangannya dan celakalah bagi siapa yang telah Allah jadikan baginya kunci keburukan melalui tangannya”<strong>.</strong></em> (HR. Ibnu Majah dan dihasankan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1332).</p>
<p>Ahad, 17 Dzulhijjah 1432H, Dammam KSA.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://www.dakwahsunnah.com/">Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc (Da&#8217;i di Islamic Cultural Center Dammam, KSA)</a><br />
Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7373"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fpanutan-penyesat-umat.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fpanutan-penyesat-umat.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fpanutan-penyesat-umat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/panutan-penyesat-umat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan di Hari Tasyriq</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/amalan-di-hari-tasyrik.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/amalan-di-hari-tasyrik.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 23:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya (Ied)]]></category>
		<category><![CDATA[hari tasyrik]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[qurban]]></category>
		<category><![CDATA[tasyriq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7287</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman. Hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/amalan-di-hari-tasyrik.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.</em></p>
<p>Hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari penuh kemuliaan, hari di mana jama&#8217;ah haji melaksanakan ritual melempar jumrah dan di negeri lainnya sibuk dengan menyembelih qurban. Berbagai keutamaan hari tasyriq dan amalan mulia yang bisa dilaksanakan saat itu diterangkan dalam tulisan sederhana berikut ini.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Hari ‘Ied Kaum Muslimin</strong></span></p>
<p>Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari Tasyriq termasuk hari ‘ied kaum muslimin. Disebutkan dalam hadits,</p>
<p dir="rtl" align="center">يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ</p>
<p>“<em>Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.</em>”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Hari Idul Adha dan Hari Tasyriq, Hari Yang Paling Mulia</strong></span></p>
<p>Mengenai keutamaan hari Idul Adha dan hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Daud,</p>
<p dir="rtl" align="center">إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ</p>
<p><em>“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (hari tasyriq).”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn2"><strong>[2]</strong></a> </em>Hari tasyriq disebut <em>yaumul qorr </em>karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Hari tasyriq yang terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang berikutnya dan berikutnya lagi.<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Hari Idul Adha dan Hari Tasyriq, Hari Bersenang-senang untuk Menyantap Makanan</strong></span></p>
<p>Begitu pula Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan. Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center">أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ</p>
<p>“<em>Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.</em>”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dalam lafazh lainnya, beliau bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center">وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ</p>
<p>“<em>Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.</em>”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Yang dimaksud dengan hari Mina di sini adalah ayyam ma’dudaat sebagaimana yang disebutkan dalam ayat,</p>
<p dir="rtl" align="center">وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ</p>
<p>“<em>Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.</em>” (QS. Al Baqarah: 203) Yang dimaksud hari yang terbilang adalah hari-hari setelah hari Idul Adha (hari <em>an nahr</em>) yaitu hari-hari tasyriq. Inilah pendapat Ibnu ‘Umar dan pendapat kebanyakan ulama. Namun Ibnu ‘Abbas dan ‘Atho’ mengatakan bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari Tasyriq. Namun pendapat pertama yang menyatakan bahwa hari yang terbilang adalah tiga hari sesudah Idul Adha adalah pendapat yang lebih tepat.<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Hari Tasyriq, Hari Berdzikir</strong></span></p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 203 di atas (yang artinya), “<em>Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.</em>” Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq.</p>
<p>Lalu apa saja dzikir yang dimaksudkan ketika itu? Beberapa dzikir yang diperintahkan oleh Allah di hari-hari tasyriq ada beberapa macam:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. Ini disyariatkan hingga akhir hari tasyriq sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Abbas.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: membaca <em>tasmiyah</em> (bismillah) dan takbir ketika menyembelih qurban. Dan waktu menyembelih qurban adalah sampai akhir hari tasyriq (13 Dzulhijah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih qurban hanya tiga hari yaitu hari Idul Adha dan dua hari tasyriq setelahnya (11 dan 12 Dzulhijah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ulama.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: berdzikir memuji Allah <em>Ta’ala</em> ketika makan dan minum. Yang disyari’atkan ketika memulai makan dan minum adalah membaca basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah.</p>
<p><strong>Keempat</strong>: berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. Dan amalan ini khusus untuk orang yang berhaji.</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq. Sebagaimana ‘Umar ketika itu pernah berdzikir di Mina di kemahnya, lalu manusia mendengar. Mereka pun bertakbir dan Mina akhirnya penuh dengan takbir.<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dianjurkan Memperbanyak Do’a Sapu Jagad </strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" align="center">فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p>“<em>Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: &#8220;Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia&#8221;, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: &#8220;Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka]</em>.” (QS. Al Baqarah: 200-201)</p>
<p>Dari ayat ini kebanyakan ulama salaf menganjurkan membaca do’a “<em>Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar</em>” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.</p>
<p>Do’a sapu jagad ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> paling sering membaca do’a sapu jagad ini.  Anas bin Malik mengatakan,</p>
<p dir="rtl" align="center">كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »</p>
<p>“<em>Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka]</em>.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Di dalam do’a telah terkumpul kebaikan di dunia dan akhirat. Al Hasan Al Bashri  mengatakan, “<em>Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.</em>” Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “<em>Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.</em>”</p>
<p>Dan do’a juga termasuk dzikir, bahkan do’a termasuk dzikir yang paling utama.</p>
<p>Diriwayatkan dari Al Jashshosh, dari Kinanah Al Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al Asy’ariy berkata ketika berkhutbah di hari An Nahr (Idul Adha), “<em>Tiga hari setelah hari An Nahr (yaitu hari-hari tasyriq), itulah yang disebut oleh Allah dengan ayyam ma’dudat (hari yang terbilang). Do’a pada hari tersebut tidak akan tertolak (pasti terkabul), maka segeralah berdo’a dengan berharap pada-Nya</em>.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Banyak Bersyukurlah pada Allah di Hari Tasyriq</strong></span></p>
<p>Pada hari tasyriq terkumpullah berbagai macam nikmat badaniyah dengan makan dan minum, juga terdapat nikmat qolbiyah (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Dan sebaik-baik hati adalah yang sering berdzikir dan bersyukur. Dengan demikian nikmat-nikmat tersebut akan menjadi sempurna.</p>
<p>Jika kita diberi taufik untuk mensyukuri nikmat, maka syukur yang baru itu sendiri adalah nikmat. <em>Sehingga perintah syukur selamanya tidak akan usai.</em></p>
<p>Seorang penyair mengatakan:<strong> </strong></p>
<p align="center"><em>Idza kana syukri ni’matallah ni’matan, ‘alayya lahu fi mitsliha yajibusy syukr</em></p>
<p align="center"><em>Jika mensyukuri nikmat Allah adalah nikmat, maka karena nikmat semisal inilah, kita wajib bersyukur pula.<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn10"><strong>[10]</strong></a></em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Makan dan Minum di Hari Tasyriq untuk Memperkuat Ibadah</strong></span></p>
<p>Hari tasyriq disebut dengan hari makan dan minum, juga dzikir pada Allah. Hal ini pertanda bahwa makan dan minum di hari raya seperti ini dapat menolong kita untuk berdzikir dan melakukan ketaatan pada-Nya. Dengan inilah semakin sempurna rasa syukur terhadap nikmat dapat menolong dalam ketaatan pada Allah. Oleh karena itu, barangsiapa menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat, berarti dia telah kufur pada nikmat.</p>
<p>Maksiat inilah yang nantinya akan menghilangkan nikmat. Sedangkan bersyukur pada Allah itulah nanti yang akan menghilangkan bencana.<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Semoga kita dimudahkan untuk beramal sholeh dan selalu dimudahkan mendapat ilmu yang bermanfaat, juga semoga kita termasuk hamba Allah yang bersyukur atas segala nikmat.</em></p>
<p>***</p>
<p>Diselesaikan di Panggang-GK, pada <em>yaumun nahr</em>, 10 Dzulhijah 1430 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref1">[1]</a> HR. Abu Daud no. 2419, Tirmidzi no. 773, An Nasa-i no. 3004, dari ‘Uqbah bin ‘Amir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Abu Daud no. 1765, dari ‘Abdullah bin Qurth. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 503, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref4">[4]</a> HR. Muslim no. 1141, dari Nubaisyah Al Hudzali.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref5">[5]</a> HR. Muslim no. 1142.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 502-503.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref7">[7]</a> Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 504-505.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref8">[8]</a> HR. Bukhari no. 2389 dan Muslim no. 2690.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref9">[9]</a> Lihat Latho-if Al Ma’arif, 505-506.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref10">[10]</a> Lihat Latho-if Al Ma’arif, 507.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2802-amalan-di-hari-tasyriq.html#_ftnref11">[11]</a> Lihat Latho-if Al Ma’arif, 507.</p>
<div class="shr-publisher-7287"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Famalan-di-hari-tasyrik.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Famalan-di-hari-tasyrik.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Famalan-di-hari-tasyrik.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/amalan-di-hari-tasyrik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

