Sejarah Hidup Imam Al Ghazali (2)
Karya-Karyanya*
*Nama karya beliau ini diambil secara ringkas dari kitab Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah, karya Dr. Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud 2/623-625, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/203-204
Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:
Pertama, dalam masalah ushuluddin dan aqidah:
- Arba’in Fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.
- Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid pertama.
- Al Iqtishad Fil I’tiqad.
- Tahafut Al Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
- Faishal At Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.
Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:
(1) Al Mustashfa Min Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fiqih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar……” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 17 dan 18).
Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 19).
Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.
(2) Mahakun Nadzar.
(3) Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.
(4) Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.
(5) Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.
(6) Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.
(7) Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.
(8) Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329).
Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.
(9) Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
(10) Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.
(11) Qanun At Ta’wil.
(12) Fadhaih Al Bathiniyah dan Al Qisthas Al Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.
(13) Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al Mu’tashim Billah Al Baghdadi.
(14) Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.
(15) Ar Risalah Alladuniyah.
(16) Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:
Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/334).
Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/339-340).
Imam Subuki dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah (Lihat 6/287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al Mughni An Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.
(17) Al Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.
(18) Al Wasith.
(19) Al Basith.
(20) Al Wajiz.
(21) Al Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/224-227.
Aqidah dan Madzhab Beliau
Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”
Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.
Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.
Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 110).
Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur’an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:
Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.
Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).
Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).
Tetapi perlu diketahui, bahwa pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni Shahih Bukhari dan Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penulis Jawahirul Qur’an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a’lam.”
***
Sumber: Majalah As Sunnah
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id
















assalamu’alaikum
afwan
bukankah imam al-ghazali sendiri berkata di kitab beliau yang berjudul Qanun Ta’wil(halaman 16)
“perbendaharaanku dalam ilmu hadits sangat sedikit sekali”
Assalamu’alaykum, ya ikhwan
artikel yang cukup informatif, yang mencoba menimbang dan mengkritisi pandangan seorang hamba Allah yang insya Allah mukhlis.
saya adalah pengagum Al-Ghazali, sehingga wajar bila beliau dikritik banyak pengagumnya yang tidak/kurang bisa menerima, termasuk saya.
hal serupa juga bisa dibalik, bagaimana respon pengagum ulama ’salafi’ seperti Syaikhul Islam ibn Taymiyah jika beliau dikritik?
Karena tidak ada manusia yang ma’shum kecuali rasulullah, beranikah admin menampilkan sosok ulama panutannya sekaligus mengkritiknya?
Wa’alaikumus salam.
@ Dariyatno
Setiap insan selain nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ma’shum. Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Rajab, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikh Al Albani, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Muqbil, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, itu semua tidak lepas dari kritikan dan kesalahan. Coba simaklah artikel dalam web ini, niscaya jika ada pendapat mereka yg keliru itu pun kena kritikan. Kami tidak mungkin menyembunyikannya dan menutupinya jika itu keliru.
Semoga Allah beri taufik pada antum.
Semoga Alloh mengampuni Imam Ghozali atas tergelincirnya dalam filsafat dan semoga demikian pula dg kita yg tdk luput dari kekeliruan meskipun berusaha berada di atas manhaj yg haq. Cukuplah penjelasan para ulama ttg kekeliruan beliau sbg wujud kasih sayang ulama agar kita tdk terjatuh kepada kesalahan beliau yg disebutkan di akhir hayatnya kembali merujuk kpd Ash SHohiain. Dan diakhir hidupnya pula beliau mengakui “Bhw ilmunya terhadap hadits sangatlah miskin.” yakni dg kewaroannya beliau mengakui bhw beliau bukanlah ahli hadits krn tdk membedakan mana hadits shohih, lemah bahkan palsu. . tdk ada kata terlambat utk memohon kepada Alloh ampunan atas semua kekeliruan tsb. Bagi yg fanatik buta kpd beliau mk kenapa kita tdk merujuk kpd ulama yg beliau sendiri menyandarkannya yakni Imam Asy Syafii ulama SUnnah dan pedang Sunnah yg terhunus utk ahli bid’ah? Sungguh seluruh ulama ahlus sunnah adalah pewaris para Nabi yg insya Alloh mengajak kita semua mengikuti Nabi dan Para Sahabatnya.
Subhanallah………. aku kagum……..!!!
mudah-mudahan kita dapat mengambil suri tauladan dari para ulama’ yang mendapat petunjuk dari allah dengan sebaik-baiknya. amin
mari kita sama-sama buka mata hati kita untuk kembali kepada Qur’an dan Sunnah, atas dasar amar ma’ruf nahyi munkar siapapun orangnya setinggi apapun dia kalau tidak sesuai ucapannya dengan yang dua tadi maka selalu kita kembalikan ke sumber aslinya bukan membabi buta membela orangnya tapi lihat apa yang dia lakukan sesuai dengan sunnah atau tdk, kita bela yang bersunnah siapapun orang itu. jangan karena kadong cinta salahpun kita bela padahal itu berarti kita tidak mencintai orang itu, Kita selalu hormat dan akan selalu begitu kepada Al-Imam Al-Ghozali tentu karena ilmu beliau akan tetapi ketika dia memang pernah membuat kesalahan kita doakan semoga beliau diampuni Alloh SWT. Dan kalau memang ada hadist yang lebih bisa kita percaya kita ambil yang memiliki hujjah yang lebih kuat apan Imam Syafei juga pernah berkata kalau memang apa yang saya bawakan bertentangan dgn Alqur’an dan Sunnah lemparkan pendapatku ke tembok kan begitu. Belalah Sunnah walaupun itu bertentangan dengan idola kita. Jd bukan karena dia idola kita mati2an bela padahal tdk sesuai jd kita membela siapa, jgn hawa nafsu yang kita bela tapi Sunnah, Maaf bila ada kata2 yang tdk berkenan, Makasih
Hemmmm… yang mendukung dan yang melemahkan Al-ghozali semoga selalu dalam bimbingan Allah…Semoga sudah menghafal hadits lebih dari Al-ghozali semoga pengetahuannya lebih luas Alghozali…Semoga lebih taqwa dari Alghozali…
aminnn
Setiap orang akan mengalami perjalanan ruhani seperti Imam Ghozali, dalam menuju kebenaran hakiki, kebenaran hakiki akan bermuara kepada Allah yang Al-Haq. Jatuh bangun dalam perjalan ruhani adalah bagian dari kodrat seorang hamba, dinamika makhluk yang bernama MANUSIA yang punya kelebihan sekaligus kekurangan/kelemahan, dari situlah tempat diletakkannya Pahala sebagai bentuk penghargaan Allah kepada hambanya yang telah berusaha dengan kesungguhan mencapai kebenaran walaupun mempunyai kelemahan. Jangankan para Ulama yang paling mulia, para Nabipun juga mengalami hal demikian. Contoh : Nabi Ibrahim jatuh bangun dalam mencari tuhan,ada kekeliruhan pada awalnya dan akhirnya menemukan ALLAH, Nabi Musa juga ada kekeliruan dalam mempersepsi tuhan, ingin melihat dengan mata, akhirnya terkapar pingsan sebelum sempat keinginannya terwujud, dan memang tak akan pernah terwujud karena Allah bukan materi yang dapat dilihat dengan Panca Indera, Nabi Adampun yang sudah makrifat langsung pada Allah masih tergelincir juga, padahal kurang apa Nabi Adam, beliau diciptakan pada awal dari biologis manusia, disaksikan Malaikat, diajak dialog Tuhan bersama malaikat untuk di tes kepintarannya/kelebihannya, hidup disurga yang nikmatnya gak kurang-kurang. Kembali ke Imam Ghozali, beliau seorang manusia biasa, yang gandrung mencari kebenaran yang haq, karena kesungguhan dan perilakunya yang mulia maka di perolehlah gelar dari manusia sebagai Al Hujjatul Islam, walaupun beliau tidak menginginkan gelar itu. Kenapa beliau banyak dikritik, karena perjalanan ruhani beliau ditulis dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca, dianalisa dan disimpulkan oleh orang lain, padahal setiap perjalanan pasti ada jatuh bangunnya. Karena itu, apabila ada kitab beliau ada yang salah dan kekeliruan, adalah wajar dan itu bagian dari perjalanan ruhani yang belum selesai.Bagi saya kritikan itu tetap memberikan manfaat sebagai pencerahan bukan sebagai kecaman yang membuahkan kebencian. Saya tetap kagum dan memuliakan Al-Ghazali dengan segala kekurangan dan kelebihannya, darinya saya memperoleh kekayaan hati dan pencerahan, bagi para pengkritiknya saya sampaikan rasa hormat karena secara tidak langsung telah melengkapi / memperbaiki apa yang jadi kekurangan Al-Ghozali. Semoga apa yang ditinggalkan oleh para Ulama menjadi amal jariyah yang terus mengalir di taman surga, amin.
assalamualaikum..
saya nak tahu..
detik2 kematian imam ghazali boleh??
benar kah ade y mengatakan bhwa beliau sudah tahu bila masa nya detik beliau hampir meninggal dunia??
beliau memandikan dan mengkafan kan diri beliau..
benarkah??
#amalhayati
Cerita tersebut tidak benar.
asyik.. asyik.. seru neh infonya..
tiap manusia ada kurang lebihnya..
menurut kami pribadi
masing2 orang memiliki proses perjalanan yang berbeda
ini bukan tentang salah ato benar.
yang menurut kita salah bisa jadi itu merupakan proses Beliau menyempurnakan pemahamannya tentang ISLAM dan Intisari berketuhanan..
Jadi ga perlu dipermasalahkan kecuali bagaimana diri kita sendirikan??:-)
Yang mati-matian berusaha total belajar seperti Imam Gozali aja masih bisa “nyasar”
apa lagi kita yang cuma hehehe…
wassalam..
assalamualaikum..
sy ingin tahu detik2 kematian beliau..
kerna ade y mengatakan detik itu sungguh mnginsafkan..
harap jika ada maklumat bole dikongsikan di sini.
terima kasih..
Assalamualaikum Wt Wb
Semoga ALLAH TAALA memudahkan kita untuk faham lautan ilmu ALLAH TAALA yang demikian luas dan dalam..hingga mengizinkan kita menjadi insan yang berilmu dan beramal