radio muslim

Sejarah Hidup Imam Al Ghazali (1)

Kategori: Biografi

119 Komentar // 10 Mei 2008

Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.

Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau

Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).

Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.

Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193 dan 194).

Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu

Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”

Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”

Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).

Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.

Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).

Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).

Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).

Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya

Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).

Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa 6/54).

Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.

Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa 4/164).

Polemik Kejiwaan Imam Ghazali

Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.

Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.

Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).

Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).

Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.

Masa Akhir Kehidupannya

Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).

-bersambung insya Allah-

***

Sumber: Majalah As Sunnah
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel
cara cepat mudah menghafal alquran

119 Komentar

  1. budi
    07 Mar 2010 [#]

    assalamualaikum, kalau bisa kasih sumber/sanad yg lebih detail sehingga siapa saja yg mempelajari akan faham sehingga dapat di contoh ppfilsafat filsafatnya baik dr Al Qur’an maupun hadits, trim’s. Mohon maaf jika kami dalam berkomentar tidak berkenan. Wassalam

  2. Muslim.Or.Id
    08 Mar 2010 [#]

    Wa’alaikumus salam. Bukankah tulisan di atas sudah diberi rujukan?

  3. Marali
    15 Mar 2010 [#]

    Assalamyualaikum. Subhanallah. Sungguh beliau seorang hamba Allah yang bertaqwa dan ikhlas yang kaya akan ilmu yg bermanfaat tuk kita skarang yg akan membawa taat kpd Allah.Amin.

  4. Alwi hasan
    10 Apr 2010 [#]

    Assalamu’alaikum.syukron katsir ya akh.

  5. abu muhammad
    17 Mei 2010 [#]

    assalamu’alaikum,mohon dibahas tentang apa dan bagaimana filsafat,dan apakah filsafat itu sama dengan ilmu kalam?jazakumullohu khoir

  6. Abu Ifara
    22 Mei 2010 [#]

    Assalamu’alaikum
    Bagaimanapun filsafat dan ilmu kalam tidak lebih baik dari Al’quran dan hadis. Jika ilmu filsafat atau ilmu kalam bertentangan dengan Al’quran maka sikap seorang muslim tetap samina watokna terhadap apa-apa yang telah ditetapkan oleh al’quran dan sunah rusul.Begitu pola akal pikir kita, jika akal pikir kita bertentangan dengan Al’quran dan sunah rusul maka kita sikap kita adalah akal pikir tetap di bawah wahyu Ill
    Wassalamu’alaikum

  7. dewi asriani
    08 Jun 2010 [#]

    mohon izin untuk mengcopynya. baarokallohu fikum

  8. sugeng riyadi
    10 Jun 2010 [#]

    Allahu akbar

  9. Bahjah
    14 Jun 2010 [#]

    Al Imam al ‘allamah al ‘arif billah alhafidz Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghozali Qoddasahullah sirrohu.wa nafa’ani bi ‘ulumihi yaumal akhir.

  10. suhayat
    23 Jun 2010 [#]

    saya kurang setuju dengan ungkapan ibnu taimiyah … yang menganggap imam al-Ghozali kurang mendalami sunnah… dia ahli tasawuf yg hebat

  11. Yulian Purnama
    24 Jun 2010 [#]

    #suhayat
    Bukan hanya Ibnu Taimiyah yang berkata demikian, Adz Dzahabi, Al Iraqi dan banyak para ulama yang mengetahui benar keadaan beliau. Bahkan Al Ghazali sendiri mengaku hal tersebut.
    Mengenai tasawuf silakan simak:
    http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-1.html
    http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-2.html
    http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html

  12. syarif alwi
    13 Jul 2010 [#]

    syukran ya akhi….

  13. alfan
    26 Jul 2010 [#]

    assalamualaikum…..
    salam kenal smua….

  14. bucek
    16 Okt 2010 [#]

    izin copy mas

  15. aria
    05 Nov 2010 [#]

    ilmu apa sich tasauf itu..??

  16. joni
    05 Nov 2010 [#]

    assalamualikum
    tulisan yang bagus..Khoirr…tapi tidak ilmiah, tidak menyertakan rujukan dan bukti-bukti ilmiah,,cuma narasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya..

  17. samidi
    06 Nov 2010 [#]

    masyaallah, luar biasa, seorang pemikir Islam yang cerdas seperti Imam Ghazali ini kapan akan muncul seorang yang sepadan dengan dia di masa yang akan datang…? semoga Allah memberi kita seorang panutan yang baik di masa yang akan datang nanti, amiiin…

  18. Yulian Purnama
    06 Nov 2010 [#]

    #joni
    Wa’alaikumussalam
    Silakan dibaca dengan cermat, anda akan menemukan kitab-kitab rujukan yang dipakai penulis.

  19. Yulian Purnama
    07 Nov 2010 [#]

  20. muhammad ali
    13 Nov 2010 [#]

    TUNTUTLAH ILMU HINGGA LIANG KUBUR. dari ngri terus mncari hingga blajar dan bljar inilah seorang Alim dg segudang ilmu tak henti tuk Belajar.

  21. hasnizah
    13 Nov 2010 [#]

    terimah kasih .

  22. yazheen al ghozalie
    24 Nov 2010 [#]

    tulisan yg bagus u/ memchkan przaudraan neh,…
    Halus sekali,…
    Seperti memuji, pdhal memaki,..

  23. tommi
    24 Nov 2010 [#]

    Org yg menyangka tulisan ini memecahkan persaudaraan pada hakekatnya dia jg sedang memecah belah persaudaraan karena dia lebih mendahulukan suudzon pada saudaranya yg berusaha menasehati saudara2 seagamanya agar tidak terjatuh pada kesalahan spt yg dilakukan Imam Ghazali -rahimahullah-

  24. abdus syukur
    12 Des 2010 [#]

    izin copy ya akhi. syukron sebelumnya

  25. Fendi Tungkal
    18 Jan 2011 [#]

    Ass, trims atas tulisannya, sangat bermanfaat buat saya… semoga begitu juga buat Umslim yang lain.
    Mohon Ijin untuk publikasi di weblog saya.

    salam

  26. Muhammad bin Abdullah.
    24 Jan 2011 [#]

    Sesungguhnya Allah bnar2 membri ptunjuk kpd hamba2Nya yg bsungguh2 berjihad dijalanNya.Imam Al Ghazali adalah trmasuk golongan org2 yg bnar.

  27. Abd. latif Adzim
    01 Feb 2011 [#]

    syukran,, maaf mohon relanya, saya copy……

  28. Ahmad Hasim Mansur
    05 Feb 2011 [#]

    Assalamu alaikum ya akhi, minta izin untuk mengkopinya, Syukron

  29. :)
    15 Feb 2011 [#]

    semoga bermanfaat untuk kita semua, amin.

  30. lyndha
    18 Feb 2011 [#]

    bacaan yang menarik untuk dibaca..
    it’s magic..
    salam kenal smwa akhi wa ukhti

  31. nina
    28 Feb 2011 [#]

    ass.izin copy ya..waslm

  32. Nabilah Bilqis
    07 Mar 2011 [#]

    Subhanallah, informasi di atas menambah pengetahuan saya tentang imam ghazali :)

  33. Hamid
    26 Mar 2011 [#]

    Assalamualikum….

  34. abduh-sangso
    07 Apr 2011 [#]

    Bagaimana pendapat anda tentang fitnah dalam kitab Imam Al Ghazali, katanya banyak cerita bohong.
    Saya baca ringkasan Ihya Uluddin kayaknya mustahil Imam Al Ghazali berbohong, setiap statement dalam ringkasan tersebut sudah di tahqiq, Hal yang paling mungkin hanya dasar haditsnya Dha’if. Untuk pendidikan achlaq, asal tidak bertentangan dengan Syar’i, saya kira tidak menjadi mas alah, Allahu ‘alam.

  35. abdullah
    09 Apr 2011 [#]

    subhanallah..
    Sungguh beliau pemikir hebat,jenius dan ilmu-ilmunya tersebar diseluruh dunia.
    Orang yang baik walaupun dikatakan sebaliknya pasti tetap baik.
    Semoga akan muncul dari kalangan kita orang orang seperti beliau.
    Semoga kita semua terlindung dari fitnah dunia yg semakin merajalela.

  36. Yulian Purnama
    10 Apr 2011 [#]

    #abduh-sangso
    Banyak para ulama yang sudah men-tahqiq dan menyeleksi hadits-haditsnya, maka bisa dibaca yang demikian. Adapun tentang hadits dhaif, silakan simak:
    Soal-149: Bolehkah Berdalil Dengan Hadits Dhaif?
    Soal-150: Walaupun Dhaif Yang Penting Dari Rasulullah?

  37. Poeryono
    29 Apr 2011 [#]

    Alhamdulillah, terimakasih atas infonya.

  38. eiklil
    24 Mei 2011 [#]

    wah ini yang saya carai kawand… minta izin kopas sebagian artikel.. tapi saya modif.. ok? biar bahasanya tidak terlalu formal.. hehehe syukron

  39. harry
    25 Mei 2011 [#]

    asalamualaikum
    ijin copy

  40. dena
    02 Jun 2011 [#]

    alhamdulliah akhir’a saya bsa mengenal lebih bnyak lgi

  41. aziyah
    05 Jun 2011 [#]

    tq dengan info ini… sangat bermakna utk saya menyiapkan tugasan..

  42. zumar mj
    20 Jun 2011 [#]

    assalaamualaikum……salam semua

  43. kangbowo
    03 Jul 2011 [#]

    izin sedot oom!!!

  44. maria
    11 Jul 2011 [#]

    siapakah our next ghazali?

  45. leman toni
    14 Jul 2011 [#]

    tank you .

  46. ferry
    21 Jul 2011 [#]

    ass…KaTa2 Di aTaS MeNaMbAh WaWaSAn sAyA TeNtAnG iMaM aL GhAzAlI….???????
    wAsaLaM……????SUkRoN…

  47. fais
    13 Agu 2011 [#]

    mohon copy
    jazakallah n RAMADHAN ALMUBARAK

  48. ilham othmany
    05 Sep 2011 [#]

    Saya ada kemusykilan.Tolong dijawab.Dikatakan Imam Al Ghazali tidak meninggalkan keturunan kecuali beberapa orang putri.Tapi kok kunyahnya Abu Hamid.Adakah putranya telah meninggal lebih awal?

  49. haidar
    05 Sep 2011 [#]

    tapi kurang sempurna penjelasannya

  50. syaeful bahri
    22 Sep 2011 [#]

    thank’s All, masih perlu dilengkapi.

Tinggalkan Komentar

Biojanna

Kembali ke Atas