Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.
Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193 dan 194).
Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.
Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa 4/164).
Polemik Kejiwaan Imam Ghazali
Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.
Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.
Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.
Masa Akhir Kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).
-bersambung insya Allah-
***
Sumber: Majalah As Sunnah
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id
==========
Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo
==========




Andhy
18 Jun 2008 [#]
Subhanallah…
syaipullah
19 Jul 2008 [#]
Siapa bilang beliau bukan ahli hadits, beliau hapal lebih dari 500ribu hadits lengkap dengan hapal sanad2nya. Nah, apakah yang mengkritik al-ghazali juga punya kemampuan demikian?????
wong dheso
04 Agu 2008 [#]
sejarah diri kita sebenarnya penuh kelam dan dosa tapi tidak merasa mengetahui
evelyn sharlyta
28 Agu 2008 [#]
mumtaz….
dlm bahasa arab artinya luar biasa….
sejarah yang sangat mengesankan …..
tinggal lebih di sempurnakan lagi…
adhwa arif
09 Sep 2008 [#]
Alhamdulillah…seharusnya kita bersyukur kerana masih dapat mengetahui serba sedikit tentang kisah hidup imam al ghazali yg sememangnya mempunyai kedudukan yg mulia di sisi Allah.sumbangan yg beliau telah berikan juga amat berguna bagi kita khususnya umat islam..oleh itu,pelajarilah apa2 yg berguna melalui kisah imam al ghazali dan juga imam2 lain semoga menjadi contoh bg diri kita..insyaAllah..
budhi warok
10 Sep 2008 [#]
ok punya pren
wardah
16 Sep 2008 [#]
thanh u very much for this article. i could finish my assngment very well n completely. n i learn many more about Imam al- ghazali..thankzzzz…
wong dheso
02 Okt 2008 [#]
sebelum menengok sejarah Imam Al-Ghazali tengok terlebih dahulu tentang sejarah diri kita sebelum mengenal salafy. INGAT ALLAH MAHA MENGETAHUI
eric
18 Okt 2008 [#]
kirimin donk bak 2
Muslim.or.id
22 Okt 2008 [#]
Artikel seri kedua sudah diposting. Silakan klik link ini:
Sejarah Hidup Imam Al Ghazali (2)
arif
25 Okt 2008 [#]
klo bisa tolong muat dan kupas buku-buku karangan Imam ghozali. tank’s…………..
wong dheso
28 Okt 2008 [#]
mas eric anda juga harus melihat sejarah sejarah diri anda dan sejauh mana anda mengamalkan agama terutama sholat wajib secara berjamaah tepat waktu di masjid
nurhasan
08 Nov 2008 [#]
agar ditampilkan tentang pendapat imam ghozali secara khusus berkaitan dengan pembinaan akhlak muslim, karena sangat bermanfaat bagi generasi muda islam …….
ziqi fuady
09 Nov 2008 [#]
ini merupakan fenomena yang luar biasa,karena dapat menambah wawasan saya selaku pencari ilmu…
ALLAHU AKBAR
Tb. Lukman Al HAkim
19 Des 2008 [#]
Alhamdullilah bahwasan kita dapat ilmu dan mempelajarinya, ilmu yang telah beliau berikan kepada kaum muslimin pada umumnya dan da0pat diamalkan oleh kaum muslimin yang mempelajarinya. Smoga Allah memberikan hidayah kepada yang mempelajari ilmu. amin
Herdoni Wahyono
04 Feb 2009 [#]
Mnogo blagodarya ! infonya.
sahl
12 Mar 2009 [#]
syukron jaziilan..
vidi eka
05 Apr 2009 [#]
saya berharap ada teman teman yang mau berbagi ilmu kepada saya
Farhan S R
07 Apr 2009 [#]
untung ktemu website-ny soalnya w butuh bgt bwt bikin makalah pelajaran agama ThAnks!!!!!!!
Agus Pranamulia
13 Apr 2009 [#]
Mudah-mudahan intelektual muslim masa kini bisa sekumplit beliau ilmu dan amalnya (Yayasan Dinamis – Caringin, Bogor)
Rio Raziqin
23 Apr 2009 [#]
Setiap yang populer belum tentu benar, setiap yang terkenal belum tentu benar. Niatkanlah untuk mencari kebenaran, semoga Allah mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita semua. Alhamdulillah Al-Ghazali bertaubat dari sebelum meninggal.
UJANG SUCIPTO
03 Mei 2009 [#]
aku mau tanya imam ghazali itu termasuk mujtahid mutlaq apa mujtahid fatwa kemudian adakah dasarnya dari kemungkanan dua jawaban tersebut????
kemudian tolong kirimkan jawabannya ke E-mail ku ujangsucipto@yahoo.com
ujang sucipto
14 Mei 2009 [#]
assalamu alikum
aku mau tanya apakah imam Ghazali itu mujtahid mutlak atau ujtahid fatwa bagi ikhwan yang tau jawabanya tolong kirim ke E-mail ku
afiqah
26 Jun 2009 [#]
saya kurang memahami apa yang ditulis.bolehkah tunjukkan saya dengan lebih jelas lagi mengenai imam al ghazali
Iwan Kurniawan
24 Jul 2009 [#]
Pribadi yang teduh dan selalu menangis melihat atau mendengar kesulitan orang lain… Duhai Rahimullah.. hatiku seakan dekat walau terpisah jarak dan waktu.. wajahmu ada diraut orang2 miskin dan anak2 yatim.. yang selalu ada dihatiku… Semoga Allah senantiasa mencintai mu Amin.
alem
24 Jul 2009 [#]
bertaubatlah kita sementara pintu taubat masih terbuka..
Alma'arif,UIN Sunan Kalijaga
03 Agu 2009 [#]
Di dalam kitab ihya’ ulumuddin terdapat hal-hal yang baik terutama memotifasi untuk bersikap zuhud dan memotifasi untuk beribadah dengan khusyu’ kepada Allah,tetapi ada keburukannya yaitu filsafat-filsafat yang banyak sehingga dapat mengesampingkan alqur’an dan al hadits.dan ini kita maklumi sebab beliau bukan ahli hadits seperti imam Syafi’i.maka bagi orang awam hendaknya jangan membaca kitab ini dulu kecuali sudah menguasai alqu’an dan hadits rasululah sehingga bisa memilah dan memilih mana yang baik dan buruk.wallahu a’lamu bisshowab.
zul-SM Teknik Jasin,Melaka
15 Agu 2009 [#]
thx sbb buat laman nie..
dgn laman nie,zul dpt wat tugasan zul dgn baik..
klu ade rezeki zul akn lawati lg laman ini..
salam…
Ajank
01 Sep 2009 [#]
Semoga Allah menciptakan aku sebagai al-Ghazali ke-2, maka aku akan kuasai hadis Rasul saw dan semua yg brkaitan dgnya. Aku juga akan membuat pesantren dan menulis lebih banyak lagi untuk agama Allah swt. Amin ya Allah, kabulkanlah.
abu nabila
21 Sep 2009 [#]
jazakallah khairon katsiron
adek
20 Okt 2009 [#]
asslkm, bolekah sy posting di blog saya ?
aswan
25 Okt 2009 [#]
ini bagus
rendra
02 Nov 2009 [#]
imam ghozali ra itu adalah imam ahli hadits, bagi yg hafal 100ribu hadits digelari al hafidz, 300rb = al hujjah lebih dari 300rb=al imam berikut sanad dan matannya.. banyak sekali ulama yg sezaman dgn beliau mengatakan bahwa beliau seorang ahli hadits.. tapi orang yang bukan ahli hadits sudah pasti mengira beliau bukan muhadits..
Ferdi
08 Nov 2009 [#]
Ya Allah masih adakah seperti beliau dizaman sekarang ?
wiwi novianti
14 Nov 2009 [#]
subhanallah begitu indah hidup ini jika di dunia ini diisi oleh para salafusolihin.
smith
27 Nov 2009 [#]
Ass…
Afwan, ana mohon izin ngopy/ ngeprint makalah ini untuk da’wah.
syukron wa jazakumullohu khoiran.
Wass..
smith
27 Nov 2009 [#]
Ass…
Afwan,sebenarnya sudah lama ana pingin tahu biografi Imam
ghozali, dan alhamdulillah ana temukan di sini.
dan untuk kepentingan da’wah, maka ana mohon diizinkan mencetaknya..
Syukran wa jazakumullahu khairan katsiran.
Nur lela
28 Des 2009 [#]
Jazakalloh khoin ilmu’y
pak ada hal yg ana cr dlm hal ini
sy p’nah dngr bhw imam ghozali&ibnu taimiyah pernah debat? Dlm hal apa&pd zaman siapa?
2 gelar hujjatul islam&syaikhul islam,adkh sebab hingga 2 ulama ini pny gelar tsb?
Nur lela
28 Des 2009 [#]
Ana kira tiap jwbn t’gantung manhaj yg d’ambil
tp mhn jwbn dlm hal ini
smg b’manfa’at u/qt smua
jazakumulloh khoir.
ratna sari
09 Jan 2010 [#]
minta izin mengcopy ya..mohon halal
cholil
16 Jan 2010 [#]
yang saya tahu dipondok manapun kitab IMAM AL GHOZALI selalu dipelajari utamanya pondok salaf.
Muslim.Or.Id
17 Jan 2010 [#]
@ Cholil
Istilah pondok salaf ada beberapa versi. Pondok salaf apa yg saudara maksudkan?
arief
20 Jan 2010 [#]
alhamdulillah saya telah menemukannya, semoga Allah menjadikan ini sebagai petunjuk menuju ridhonya
eday prdian perdian
22 Jan 2010 [#]
dia salah satu orang cerdas……jenius…..!!!!!!!!
pardiro asslemany
29 Jan 2010 [#]
tokoh seperti imam ghozali adalah sosok yg patut untuk kita tauladani.
rudono
06 Feb 2010 [#]
imam al ghozali adalah orang yang menyelamatkan umat islam ketika terjadi selisih paham antara orang fiqih dan kaum sufi. beliau sangat arif dan luar biasa. dia bertarekat, itulah ia mudah membaca ilmu yang diberikan Allah. itu kunci. belum tampak orang sekaliber dia saat ini yang mau menampakkan. sebab orang sekaliber itu tersembunyi. hanya orang2 yg beruntung bs menemuinya, itupun asal Tuhan menunjukinya bertemu.
mahmudi
08 Feb 2010 [#]
ceritax sangat berkesan
سيف الدين
14 Feb 2010 [#]
اخوة الايمان كان الغزالي رجلا صالحا عالما محبا للعلم والعلماءومخلصا فى العمل لذلك هيا بنا نقراء كتبه ثم نتبع الاحسن منها
sofia
21 Feb 2010 [#]
minta izin nk copy…
hoirul aank
03 Mar 2010 [#]
bagus