radio muslim

Kisah Taubat Seorang Kyai

Kategori: Biografi, Manhaj

104 Komentar // 21 September 2010

“Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan atau baca barzanji, diba’an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah berbau kesyirikan”

“Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)

“Kita biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali, yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)

Beliau adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren “Rahmatullah”. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.

Keberanian beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat berakar dalam lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau terhadap arus kyai itu bukan  berlandaskan apriori belaka, bukan pula didasari oleh rasa kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam, namun merupakan Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta’ala.

Kyai Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil. namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap ajaran Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari keanggotaan NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu kepada beliau.

Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan dirinya dari keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para tetangga dan kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak hanya mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat pada umumnya.

Seandainya para Kyai itu mau mengkaji kembali ajaran dan tradisi budaya yang berurat berakar yang telah dikritisi dan digugat oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi sendiri, namun juga dari para ulama tanah haram juga telah menggugat dan mengkritisi penyakit kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar mengurat kepada para santri dan masyarakat. Jika mereka itu mau mendengarkan perkataan para ulama itu, tentunya penyakit-penyakit kronis yang ada dalam tubuh NU akan bisa terobati. Aqidah umatnya akan terselamatkan dari penyakit TBC (Tahayul, Bid’ah, Churofat). Sehingga Kyai-kyai NU, habib, Gus serta asatidznya lebih dewasa jika ada orang yang mau dengan ikhlas menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU dan yang telah banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya. Maka, Insya Allah, NU khususnya dan para ‘alim NU pada umumnya akan menjadi barometer keagamaan dan keilmuan. ‘Alimnya yang berbasis kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan misi NU itu sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga para ‘alim serta Kyai yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat sebagai pewaris para Nabi.

Namun sayang, dakwah yang disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang sebelah mata  oleh para Kyai NU setempat. Mereka juga meragukan keloyalan beliau terhadap ajaran NU. Dengan demikian, beliau harus menerima konsekuensi berupa pemecatan dari kepengurusan keanggotaannya sebagai a’wan NU Kandangan, Kediri, sekaligus dikucilkan dari lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren. Mereka semua memboikot aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.

Walaupun beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap menyikapinya dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam dirinya.

Siapakah yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh Kyai Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin senasib dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya karena meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan syari’at Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan karena pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.

Kyai Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus orang-orang yang bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat banyak para Kyai yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid’ahan dan tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat itulah beliau tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup yang penuh cobaan dan ujian.

Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan dan penghormatan tersandang, harta melimpah serta jabatan terpikul, namun murka Allah dekat dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan keselamatan dengan meninggalkan tradisi yang selama ini beliau gandrungi.

Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat kepada Allah dari ajaran-ajaran syirik, bid’ah dan kufur. Walaupun Kyai Afrokhi ditinggalkan oleh para kyai ahli bid’ah, jama’ah serta santri beliau, ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup begitu nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu’ serta penuh tawakkal kepada Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.

Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:

“Untuk itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas kekeliruan yang saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf saya kepada warga Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa saya sesatkan dalam kebid’ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba’an, maulidan, haul dan selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau kesyirikan dan juga sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah senantiasa menerima taubat dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang lalu (Amin ya robbal ‘alamin)”

(Dinukil dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku “Buku Putih Kyai NU” oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh Ponpes Rohmatulloh-Kediri-, mantan A’wan Syuriah MWC NU Kandangan Kediri)

catatan: Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan karena ada alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok. Silahkan nukil dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah ilalloh.

-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan

Artikel www.muslim.or.id

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel
cara cepat mudah menghafal alquran

104 Komentar

  1. zulfa hasanah
    07 Feb 2011 [#]

    smoga akan ada dan ada lagi kyai/tokoh2 NU (atau apalah) yang akan kembali pada tauhid

  2. HADI BIN USAMAN
    31 Mar 2011 [#]

    Jadi pengertian Bid’ah itu sebenernya apa ya koq saya jadi tambah bingung.. bukankah harusnya pengumpulan alquran / hadits itu BId’ah krn nabi Muhammad SAW tdk memerintahkan ? lalu apa hukumnya kita membaca Kitab hadits Shoheh Imam2 HAdits ? berdosakah kah kita dgn membaca kitab hadits ?

  3. muh yasin
    03 Apr 2011 [#]

    Assalamu alaikum,
    Sebelumnya saya mohon maaf,
    Kepada mereka yang masih melakukan kegiatan TBC, yang mengatas nama wali, coba anda cari tulisan para wali yang mengajarkan demikian, jangan2 anda hanya mengikuti perkataan kyai anda, kalau kyai anda mengatakan demikian tanyakan ke kyai anda mana dalil dari alquran dan As sunah, hal ini perlu anda tanyakan supaya anda tidak dianggap bertaqlik buta. Kemudian coba cari/baca buku2 yang ditulis ulama2 ahlus sunnah wal jamaah, TIDAK PERNAH Rasulullah SAW, serta sahabat yang melakukan atau memerintahkan hal demikian (TBC). Semoga kita ditunjukkan jalan yang di ridhoi dan di berkahi ALLAH SWT sampai akhir hayat, dan dikumpulkan bersama Rasulullah SAW, beserta sahabat dalam surga firdaus. Jazakallah khairan.

  4. Abu mohammad
    04 Apr 2011 [#]

    asslamu alaikum pak, kenapa org yg melakukan tawasul, maulidan, haul dan selamatan di anggap org yg sesat,bukankah mereka mempunyai refrensi hadist juga? minta penjelasanya pak, syukron

  5. Yulian Purnama
    12 Apr 2011 [#]

    #HADI
    Aktifitas berikut bukanlah aktifitas ibadah:
    - Mengumpulkan lembaran menjadi kitab
    - Membaca buku
    - Berinternet
    - Menelpon dengan HP
    - Pergi dengan pesawat terbang
    Sedangkan yang dilarang dalam Islam adalah bid’ah dalam aktifitas ibadah.
    Silakan simak:
    http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html
    Kalau memang bapak gemar membaca kitab Shoheh para imam hadits, akan bapak temukan banyak hadits yang melarang bid’ah.

  6. Yulian Purnama
    20 Apr 2011 [#]

    #Abu Mohammad
    wa’alaikumussalam, perlu diketahui bahwa dalil ada yang shahih ada pula yang tidak shahih. Jika dalil telah shahih pun harus tepat pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah. Semoga kita semua ditolong oleh Allah agar lebih bersemangat menuntut ilmu agama agar dapat membedakan dalil yang shahih serta mengetahui cara berdalil yang benar.
    Simak juga:
    http://muslim.or.id/tag/tawassul

  7. Abu Ja'far
    29 Jun 2011 [#]

    Di kalangan masyarakat kita yang berlaku bukan “unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala” tapi “unzhur man qaala wa laa tanzhur maa qaala”.

  8. Domdom
    27 Jul 2011 [#]

    Saya sangat terkesan sekali dengan sikap dan akhlak beliua menurut tulisan tsb., barangkali ada yg bisa bantu saya, mohon info ttg background pendidikannya, khususnya guru2 beliau. Terima kasih sebelumnya.

  9. sophia
    14 Agu 2011 [#]

    Semoga semakin banyak lagi yang mengikuti jejak Kyai Afrokhi Abdul Ghoni hafidhohullah

  10. anshoruddin
    29 Agu 2011 [#]

    Subhanallah, kisah beliau sy dengar langsung saat beliau mengisi taklim di mojokerto.Bahkan kata beliau saat ini mendapat ancaman bunuh oleh sekelpok org . Semoga beliau tetap dibeikan istiqomah dan kesabran oleh Allah

  11. al kulimy
    29 Agu 2011 [#]

    seharusnya seorang yang mengaku muslim itu mempunyai prinsip “kami dengar dan kami taat”. islam adalah agama dalil tentunya dari al qur’an dan hadist.semoga ada kyai2 NU yang lainnya menyusul untuk segera sadar dari kesalahannya dan kembali ke islam kaffah. amiiiiiiiiiiin

  12. Rachmat
    02 Sep 2011 [#]

    Assalamu’alaikum

    Sungguh menyakitkan tuduhan2 mereka hingga menuduh gerakan para salaf sama dengan kristenisasi (saya pernah membaca pada forum diskusi di Facebook). Tapi biarlah asalkan hal yg mereka lakukan tidak sampai meracuni kehidupan kita dan keluarga kita yg sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Hadist yang shahih. Semoga lebih banyak lagi ulama2 yg mau mengkaji dan mendalami tentang hakikat salaf agar terhindar dari pandangan negatif dan segera kembali ke jalan yg diridhai Allah SWT. Amin.

  13. firman
    08 Sep 2011 [#]

    Alhamdulillah sudah ada yg berani menunjukkan yag haq adalah haq dan yag batil adalah batil.
    semoga yang lain mengikutu jejaknya dan kembali pada Isalam yang kaffah sesuai Al Quran dan As Sunnah. amin….

  14. surbanhitam
    13 Sep 2011 [#]

    saudara NU ataupun Muhammadiyah, mari diingat bahwa yang diada-adakan itu bid’ah, bid’ah sesat, sesat tempatnya neraka,bukan cuma berzina dll yang ke neraka, tapi ibadah yang diada2kan pun juga ke neraka, Muhammadiyah pun jg perlu mengkaji, karena faktanya di desa, yg mengaku kader muhammadiyah pun masih banyak yang tahlilan…

  15. agus
    19 Sep 2011 [#]

    ayo maju teruss ustd ….Tugas anda msh banyak tuk nyadarkan pengikut nahdliyin yang memamg tak mudah dan penuh resiko,,nabi dulu jg pernah berdakwah d lempar batu bahkan kotoran,,,semoga kyai afroki istiqomah dan dlm lindungan Allah swt.
    ALLAHUAKBAR3x…..

  16. Taufiq Hidayat Rajajek
    07 Okt 2011 [#]

    mari cari kebenaran, jangan mencari pembenaran. masuklah Islam dgn kaffah

  17. sobarudin
    11 Okt 2011 [#]

    ASSALAMUALAIKUM,.,PAK USTADZ IZIN COPAST Y,.,CERITA INI SANGAT PENTING BAGI MEREKA YG INGIN MENCARI KEBENARAN

  18. muh.zainal
    13 Okt 2011 [#]

    saya sebagai muslim yg masih awam jadi bingung krn di kampung2 masih sangat banyah yg melakukan hal tersebut,padahal mereka adalah orang2 yg berpengaruh.Subkhanalloh….

  19. Abu Shofiyah Aqil Azizi
    14 Okt 2011 [#]

    Bismillaahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillaah ‘alaa kulli ni’matih.

  20. Hadi Satari
    16 Okt 2011 [#]

    Alhamdulillah,,,lanjutkan pak Kyai,,,
    kata ustad Abdul Aziz, meng-Islamkan orang Islam itu lebih sulit daripada meng-Islamkan orang yang belum masuk Islam.

  21. hariyanto aliy fauzan
    20 Okt 2011 [#]

    alhamdulillah keluarga yang tadinya khawatir & menentang sekarang berbalik yaqin & support, terutama ibu dan mbak.
    meski butuh waktu yang tidak sebentar.
    yang perlu diperhatikan wahai teman2ku bahwa dakwah itu harus bertahap, lemah lembut, dan sabar.
    dakwah butuh waktu yang panjang dan tidak bisa seketika mereka langsung menerima.
    1 hari, 1 bulan, 2 tahun. tidak masalah!!
    ingat tugas kita hanya menyampaikan, bukan membagi hidayah. itu yang sering kita lupa.

  22. mohammed
    20 Okt 2011 [#]

    Ass Wr Wb
    KAMI DUKUNG GERAKAN SALAFY!!
    TEGAKKAN SUNNAH DAN HANCURKAN BID’AH
    ALLAHU AKBAR
    Wass Wr Wb

  23. manusia bodoh
    05 Nov 2011 [#]

    bismillahirrohmanirrohim..
    selamatkan hambamu dari golongan ini……

  24. Pemburu ilmu
    07 Nov 2011 [#]

    Tema yang diangkat dari kisah diatas sangat menarik dan sangat menambah pengetahuan Al faqir. Dan Alfaqir berharap, semua pengunjung disini mau mengunjungi alamat link yang al faqir cantumkan dibawah ini, untuk berbagi/ menambah ilmu kita sekalian. mdah2an bermanfaat. (berkaitan dengan kisah diatas)

    http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/03/kisah-ngumpetnya-afrokhi-hasil.html

  25. akbar
    08 Nov 2011 [#]

    muhasabah, dan terus belajar (mengaji), hati-hati dan teliti tidak asal bicara

  26. zul
    25 Nov 2011 [#]

    @Pemburu Ilmu, Saudaraku, sejatinya, Pak Afrokhi hanyalah memberi nasehat pada saudara saudaraku yg masih mengamalkan ajaran-ajaran dalam NU. sama sekali bukan menjelek jelekan.
    Namun yang disorot dalam link yang saudara cantumkan, lebih condong kepada mencari cari kekurangan sisi pribadi beliau.
    kalau memang yang dijabarkan dalam Buku Putih Kyai NU justru bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah, silahkan dijabarkan dalam bantahan ilmiyyah yang bisa dipertanggung jawabkan keilmiyahannya.

  27. Mukhlisin
    03 Des 2011 [#]

    Pak kiai ini mengajak kita utk memahami islam dengan benar sesuai ajaran islam yang murni berdasarkan al-quran dan as-sunnah yg shahih atas pemahaman Salaf. Yang bukan kata kai fulan dg pengambilan dalil yg kurang tepat. Pak kiai bukan menyesatkan tapi justru sebaliknya. Yang saya amati terkadang masih banyak orang yg belum paham/ salah paham ttg pengertian SUNNAH dan BIDAH terutma org yg awam dan mreka yg DIANGGAP ustadz pun terkadang demikian. Sebab gelar ustadznya terkdng asal jadi saja yg diberkan oleh org awam, yg penting bisa menghafal doa ktk jadi imam shalat dan ktk tahlilan.
    Sampai2 sy juga mengalami hal ini yaitu dianggap/dipangil ustadz/kiai pdh saya bukan apa2, hanya krna saya rajin menghafal doa shg bisa mpimpin doa.
    Maaf kalo pdp sy salah.
    Krn sy tinggal di komunitas awam didalam perkampungan Jkarta maka yg sy amati dmk adanya. Tapi sy bukan ahli ilmu shg td bisa berbuat apa2 selain berdoa.
    Adapun yg menanyakan siapa guru pak kiai mnrt sy buat apa, mungkin guru terakhirnya adl Allah yg tlh memberi hidayah melalui al-quran dan sunnah yg shahih atas pemahamn sahabat, jadi bukan kiai fulan.

  28. abu hanif
    14 Feb 2012 [#]

    bismillah
    Tak ada nikmat yg lebih baik lagi seteleh seorang mukmin mengenal sunnah tapi disayangkan mengapa begitu dibencinya mereka dan begitu besar buruk sangka orang yg tidak mengerti sunnah kepada seorang mukmin yg mengamalkan sunnah.
    sabar itu sangatlah berat.

  29. pudjo atmadji
    15 Feb 2012 [#]

    ustad izin copy untuk diperbanyak untuk bacaan di masjid kami yaaaa…….

  30. mencari ridho allah.
    17 Feb 2012 [#]

    asslamualaikum wr wb
    ustadz izin copy

  31. deni sugara
    24 Feb 2012 [#]

    barokallohupik semoga kyai senantiasa diberikan kekuatan dan kesabaran sehingga senantiasa istikomah dijalan yg benar,dan senantiasa Alloh-lah sebagai penolong,dan ini perlu dijadikan motifasi buat para salafiyin agar mengikuti jejak beliu.

    wasalam

  32. muhammad zuhdi bin ahmad
    27 Mar 2012 [#]

    jadi pingin beli bukunya Akh

  33. mas didik
    10 Mei 2012 [#]

    Assalamualaikum Ustadz,

    Bagaimana kita selalu mengatakan saudara saudara kita sesat, bid’ah, padahal mereka juga berpedoman dengan hadist yang ada, contoh tahlilan atau Istighosah, banyak landasan landasan hadist yg digunakan dan bacaannya pun sebagian besar diambil dari hadist. Lalu kenapa kita kok tidak menuduh saudara kita yang membaca Al-ma’surot sesat atau bid’ah? kenapa?…..Somoga kecintaan kita terhadap agama Islam lebih besar dari pada kecintaan kita terhadap Organisasi kita. Semoga Alloh mengampuni kita….Aaamiiinn.

    Saudaraku….silahkan anda berkunjung di daeram pesisir jawa timur; lamongan , Tuban, Gersik dll disana hampir setiap desa mempunyai makam keramat dan setiap tahun diadakan sedekah bumi padahal disana mayoritas “penganut” faham Organisasi (maaf) “Muhammadiyah”….lalu kenapa yang selalu disalahkan organisasi NU saja. Maaf disini saya buka anggota Muhammadiyah maupun NU, tapi saya kasihan pada mereka yang selalu berusaha dipecah belah oleh orang muslim sendiri, semoga Ukhuwah Islamiyah kita tetap terjaga jangan sampai ada yang memecah belah.

    Budaya2 yang menyimpang di masyarakat tidaklah sekedar tanggung jawab NU, Muhammadiyah, atau yang lain saja tapi itu tanggung jawab kita semua bagaimana caranya agar bisa berubah.

    Semoga Alloh mengampuni kita semua…Astaghfirulloh !!

  34. Yulian Purnama
    10 Mei 2012 [#]

    #mas didik
    Al Ma’tsurot Hasan Al Banna banyak memuat hadits-hadits dhaif dan sebaiknya tidak mengamalkan buku tersebut.
    Bid’ah atau tidak landasannya adalah dalil shahih, bukan sekedar klaim dalil. Andai bid’ah dilakukan oleh Muhammadiyyah sekalipun atau oleh orang yang mengaku salafi atau wahabi sekalipun, ya tetap akan dikatakan bid’ah.

  35. mas didik
    11 Mei 2012 [#]

    Assalamualaikum Ustad Yulian Purnama,

    Saya mau bertanya, berarti hadist yang dhoif itu tidak boleh ustadz? atau memang dianggap palsu? trus (amalan yang shahih)apa saja yang harus kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari klo tahlilan, yasinan, Istighosah, Al-ma’surot dan lain2 adalah bid’ah? klo tidak ikut rutinan seperti itu paling2 kita nonton TV, sinetron, nongkrong di warung, kluyuran di mall, padahal ustadz2 dan kyai2 dikampung mengadakan rutinan tersebut untuk menghindari kita menyia-nyiakan waktu dengan banyak terbuang oleh TV, sinetron, main HP (SMS-an), Nongkrong, kluyuran di Mall dan hal hal yang tidak bermanfaat lainnya.

  36. Yulian Purnama
    11 Mei 2012 [#]

    #mas didik
    Wa’alaikumussalam, hadits-hadits dhaif tidak bisa dijadikan landasa suatu amalan ibadah. Amalan shalih yang didasari dalil-dalil shahih dari bangun tidur sampai tidur lagi itu sangat banyak mas, andai kita mau mempelajarinya. Dan hampir tidak mungkin kita mengerjakan semuanya. Tentu saya tidak bisa menyebutkannya semua di sini karena sangat banyaknya. Sebagiannya sudah dibahas di sini:
    http://radiomuslim.com/panduan-amal-sehari-semalam-bag-1
    http://radiomuslim.com/panduan-amal-sehari-semalam-bag-2-terakhir

  37. mas didik
    15 Mei 2012 [#]

    Assalamualaikum

    Ustad jangan bosan ya klo saya sering nanya ya….he…he..
    Maaf ustadz, saya mau tanya di bagian yang mana “banyak hadis dhoif” pada Al’ma’surot ?

    Terimakasih
    Wassalamualaikum,
    (saudara2 muslim semua mari kita jalin terus “Ukuwah Islamiyah”)

  38. Yulian Purnama
    15 Mei 2012 [#]

    #mas didik
    Wa’alaikumussalam, kebetulan belum ada pembahasannya di web ini. Namun alhamdulillah sudah banyak yang menulis:
    http://alqiyamah.wordpress.com/2012/02/06/bidah-dalam-kitab-al-matsurat-karya-hasan-al-banna/

  39. abdul
    28 Mei 2012 [#]

    Assalamualaikum
    menyampaikan ini kepada para orang2 tua yang sudah terlanjur menjadi tradisi memang susah sekali, kadang kita dikucilkan karena dianggap musuh. Semoga Allah memberikan hidayah kepada saudara2 muslim kita diseluruh Indonesia

  40. M.t yatno
    14 Jul 2012 [#]

    Semoga Alloh subhanahuwata’ala menjaga Beliau dan keluarga.

  41. abu sofyan
    19 Jul 2012 [#]

    Afwan akh.. ada yang punya rekamannya Kisah Taubat Seorang Kyai. Klo ada mohon di beri linknya..

  42. Agung
    16 Sep 2012 [#]

    Pada artikel diatas, dikatakan bahwa : “Kita biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar kebodohan kita”
    Jawaban :
    Hadits tentang wasiat Ibnu Umar ra yang tertulis dalam syarah Aqidah Thahawiyah hal. 458:
    “Dari Ibnu Umar ra: “Bahwasanya beliau berwasiat agar di atas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat al-Baqarah dan akhirnya..”.

    Hadits ini menjadi pegangan Muhammad bin Hasan dan Imam Ahmad bin Hanbal padahal Imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang mengingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang telah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang Tazkirah Qurtubi hal. 25).
    Ada hadits yang serupa dalam Sunan Baihaqi dengan isnad Hasan:
    “Bahwasanya Ibnu Umar menyukai agar dibaca di atas pekuburan sesudah pemakaman awal surat Al-Baqarah dan akhirnya”.

    Perbedaan dua hadits terakhir di atas ialah yang pertama adalah wasiat Ibnu Umar sedangkan yang kedua adalah pernyataan bahwa beliau menyukai hal tersebut. Hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw.bersabda: ”Jika mati seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah membawanya kekubur dan bacakanlah Fatihatul Kitab disamping kepalanya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

    Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda:
    “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca ‘Al-Fatihah’, ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Alhaakumut takatsur’, lalu ia berdo’a Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mu’minin dan Mu’minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.

    Hadits-hadits di atas atau hadits-hadits lainnya dijadikan dalil yang kuat oleh para ulama untuk menfatwakan sampainya pahala pembacaan Al-Qur’an bagi orang yang telah wafat. Apa mungkin para sahabat Nabi seperti Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah [ra] mengeluarkan kata-kata yang mengandung ilmu ghaib (yaitu mengenai imbalan pahala) tidak dari Rasulallah saw.? Mungkinkah para sahabat itu meriwayatkan sesuatu amalan yang berbau kesyirikan atau larangan dalam agama Islam? Mereka berdua adalah termasuk salah satu tokoh dari golongan Salaf Sholeh.

  43. Agung
    16 Sep 2012 [#]

    Syekh Muhammad Al-Syarabashi dalam bukunya Yas’alunaka mengutip pendapat Al-Qarafi dalam kitab Al-Furuq bahwa kebaikan yang dilakukan seseorang untuk orang lain yang telah meninggal mencakup tiga kategori:
    a). Disepakati tidak bermanfaat: memberi pahala keimanan kepada orang yang telah wafat.
    b). Disepakati bermanfaat: seperti shodaqah yang pahala- nya diberikan kepada orang telah wafat.
    c) Diperselisihkan apakah bermanfaat atau tidak: seperti menghajikan, berpuasa dan membaca Al-Qur’an untuk orang yang telah meninggal.

    Sementara madzhab Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, berpendapat pahala- nya dapat diterima oleh yang telah mati. Kemudian Imam Al-Qarafi yang bermadzhab Maliki ini menutup keterangannya bahwa persoalan ini (pahala untuk yang wafat), walaupun diperselisihkan, tidak wajar untuk ditinggalkan dalam hal pengamalannya. Sebab, siapa tahu, hal itu benar-benar dapat diterima oleh orang yang telah wafat, karena yang demikian itu berada diluar jangkauan pengetahuan kita.

  44. fitri
    21 Sep 2012 [#]

    sebenarnya saya sangat menantikan jawaban atas komentar pak agung,, tapi ko’ ga ada yaa ??

  45. Yulian Purnama
    22 Sep 2012 [#]

    #Fitri
    Mengirim pahala ibadah kepada orang yang sudah meninggal, memang diperselisihkan oleh ulama ahlussunnah. Silakan simak:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/3779-antara-kirim-pahala-dan-acara-selamatan-kematian.html

  46. Majlis Sholawat
    25 Okt 2012 [#]

    Assalaamu’alaikum Warohmatullooh Wabarokaatuh..
    Sahabat- sahabatku.. seyogyanya kita sesama umat muslim lebih mengedepankan sikap tsamuh/ toleran dalam mengamalakan ibadah yang sifatnya furuiyah,jangan merasa diri haluannya paling benar, karena sesungguhnya kita hanya berusaha berbuat benar. karena sesungguhnya perbedaan itu terdapat dalam dua kategori : 1. Perbedaan yang sifatnya variataif. 2. Perbedaan yang sifatnya kontradiktif. nah jika perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan variatif maka itu adalah khazanah ilmu dalam islam, kemudahan, kekayaan, keaneka ragaman, tidak usahlah saling tuduh itu sesat, ini bid’ah, mari kita untuk saling menghormati perbedaan yang seperti itu. Akan tetapi jika perbedaan yang sifatnya Kontradiktif seperti halnya dalam urusan aqidah seperti Alloh lebih dari satu…dst.
    Sahabatku Ustadz Yulian yang dimulyakan Alloh, masalah tahlilan, bacaan al qur an pada orang yang sudah meninggal sesungguhnya sampai pahalanya kepada al marhum tersebut, bisa di lihat d Majmu Fatawa wa Rasaail [17/220-221] karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin [w. 1421 H]. Tentang hadiah pahala, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barangsiapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa jilid 24 halaman 306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama Islam, dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah, dan ijma’ (konsensus) ulama’. Barang siapa menentang hal tersebut, maka dia termasuk ahli bid’ah”. Ada sebuah hadits “Bacakanlah surat Yasin atas orang mati kalian” (HR.Ahmad, Abu Daud, Ibn majah dll/Hasan). Dan hadits-hadits lainnya.
    Subhanallooh, mungkin dicukupkan sekian dulu, mohon maaf bila ada kekeliruan, semoga Alloh mengampuni hamba dho’if ini, amin..
    Astaghfirullooh lii walakum..
    Salam Ukhuwah..
    Wassalaamu’alaikum Warohmatullooh Wabarokaatuh

  47. Yulian Purnama
    26 Okt 2012 [#]

    #Majlis Sholawat
    Memang benar Ibnu Taimiyah membolehkan menghadiahkan bacaan qur’an untuk mayit dan pahalanya sampai, menurut beliau. Tapi yang beliau maksud bukan ritual Yasinan, melainkan baca Qur’an sendiri tanpa berjama’ah, tanpa dikhususkan waktunya dan tata caranya.
    Walau demikian kita tidak taqlid pada pendapat ulama sekalipun itu Ibnu Taimiyah, dalil-dalil menunjukkan bahwa pendapat beliau dalam hal ini lemah.

  48. SILO SEMEDI
    28 Okt 2012 [#]

    MasyaAllah

  49. Joyoyakti
    02 Nov 2012 [#]

    Pernah sy baca artikel,bhw KH.Wakhid Hasyim pendiri NU pernah menulis kitab yg kalau gak salah berjudul “MUNKAROT MAULID (tentang kemungkaran2 maulid)”. Konon kitab tsb ditulis sbg respon trhadp sahabat sekaligus saudara seperguruannya “Muhammad Darwis/KH Ahmad Dahlan”yg telah mendirikan Muhammadiyah. Mohon translate dari kitab tsb agar ditulis di artikel web ini,semoga bermanfaat bagi kita semua.

  50. juned
    05 Des 2012 [#]

    Semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kaum muslimin yang masih di dalam fitnah subhat.hannya Allah tempat minta pertolongan…

Tinggalkan Komentar

Biojanna

Kembali ke Atas