Virus yang Mewabah di Tengah Ummat


Sungguh aneh bin ajaib kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa pada saat ini dakwah yang menyerukan kepada tauhid dan mengingatkan pada syirik adalah sudah tidak relevan. Sebab di zaman yang modern seperti ini sudah banyak orang yang mempercayai adanya Tuhan dan sangat jarang ditemui ada orang yang menyembah patung, bintang, matahari, berhala dan sebagainya. Mereka juga mengatakan bahwa sekarang ini kita harus memfokuskan dan memperhatikan bagaimana kita harus melawan orang-orang kafir dan merebut kekuasaan.

Pandangan seperti ini muncul karena memang dangkalnya ilmu dan pemahaman yang ada pada orang tersebut, tidak faham apa itu pengertian tauhid dan syirik dengan benar, serta tidak faham dengan inti dakwah setiap rosul. Bukan berarti bahwa melawan orang kafir itu tidak penting. Tidak, sekali-kali tidak! Dengan tulisan ini semoga dapat mendudukkan masalah ini secara benar dan dapat menyadarkan kaum muslimin dari keterlenaannya.

Tauhid Bukan Sekedar Percaya Adanya Tuhan

Sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa apabila seorang itu telah mengakui adanya Tuhan, maka dia sudah dikatakan bertauhid. Mereka lupa bahwa ini hanyalah bagian dari tauhid, bahkan hanya bagian kecil darinya. Dan belumlah seseorang itu dianggap bertauhid hanya dengan bagian yang ini saja. Sedangkan bagian tauhid yang lain bahkan yang paling pokok di antaranya justru tidak faham. Setiap orang wajib mengesakan Alloh dalam rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat-Nya. Jika ketinggalan satu saja dari ketiga tauhid tersebut belumlah dia dikatakan sebagai seorang yang bertauhid.

Lihatlah kaum musyrik quroisy, bukankah mereka juga mengakui adanya Alloh, bahkan bukankah mereka juga menyembah Alloh? Kenapa mereka masih diperangi oleh Rosululloh? Alloh berfirman: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak betakwa (kepada-Nya)?” (Yunus: 31)

Syirik Bukan Sekedar Sujud Kepada Patung

Syirik adalah menyamakan selain Alloh dengan Alloh dalam perkara yang menjadi kekhususan atau hak bagi Alloh. Dari definisi ini, maka jelaslah bagi kita syirik itu tidak hanya sebatas menyembah dan sujud kepada berhala, patung, matahari dan lain-lain, namun lebih luas daripada ini.

Kita lihat juga kaum musyrik yang diperangi oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam dulu, apakah mereka murni benar-benar menyembah atau sujud kepada berhala dan yang lainnya hanya karena mereka batu dan pohon? Ternyata tidak, Alloh menceritakan ucapan mereka: “Tidaklah kami menyembah mereka melainkan agar mereka dapat mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3). Mereka menyembah berbagai sesembahan tersebut dengan harapan akan memerantarai pada Alloh.

Syirik juga tidak terhenti di sini, ada juga syirik dalam ketaatan. Tatkala Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam membacakan ayat: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tandingan (tuhan) selain Alloh.” (At-Taubah: 31). Sahabat Adi bin Abi Hatim yang pada waktu itu baru masuk Islam menyanggah: “Tidaklah kami itu menyembah mereka”. Maka Rosululloh menjawab: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh lalu kalian pun ikut mengharamkan, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Alloh lalu kalian pun ikut menghalalkan?” Maka Adi bin Abi Hatim pun menjawab: “Benar”. Rosululloh berkata: “Itulah peribadahan kepada mereka”. Lalu sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang mereka ikut menghalalkan yang semestinya harom dengan landasan hawa nafsu? Na’udzu billah.

Syirik tidak hanya terbatas pada amalan badan, namun juga amalan hati dan lisan. Alloh berfirman: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.” (Al Baqoroh: 165)

Realita yang Ada di Masyarakat Sekarang Ini

Sungguh aneh masyarakat kita sekarang ini, mereka akan begitu sangat marah apabila ada orang non islam yang mempropagandakan agama mereka dan mengajak orang lain kepada agama mereka. Namun pada saat yang sama, dia telah membiarkan dirinya, anak-anaknya dan keluarganya untuk diseret dan dipengaruhi oleh kesyirikan dan dijauhkan dari aqidah yang lurus, yakni dengan membiarkan di rumahnya sebuah televisi yang tiap harinya selalu dijejali dengan acara-cara kesyirikan. Seolah-olah mereka mengatakan: “Mari silakan masuk, ajari dan pengaruhi keluarga kami dengan acara-acara syirik, bid’ah dan maksiat kalian”. Na’udzu billah!! Bukankah ini terjadi karena tidak fahamnya mereka terhadap apa itu syirik, ancaman dan bahayanya? Ataukah merasa juga telah merasa aman dan jauh akan terjatuh di dalamnya?

Anak-anak kita sudah terbiasa disuguhi dengan film tentang peri, hantu, dukun, sihir, jimat-jimat dan film misteri yang penuh kesyirikan. Sementara anak mudanya tenggelam dalam ramalan bintang/zodiak. Sadarlah wahai saudaraku! itu semua adalah termasuk amalan-amalan kesyirikan.

Dengan Dalih Budaya dan Adat Istiadat

Lebih ironi lagi, ternyata kita juga hidup disuatu masyarakat yang diantara adat istiadat dan budaya mereka merupakan amalan-amalan kesyirikan. Ketika kita mengingatkan mereka ternyata mereka malah balik menuduh bahwa kita adalah orang yang kaku dan tidak faham terhadap esensi dan transformasi nilai. Namun sayang ketika mereka berusaha untuk dijelaskan dan diajak untuk “sedikit” berpikir, hati mereka sudah diliputi oleh dua penyakit yaitu taqlid (ikut-ikutan) dan ta’ashshub (fanatik). Kalau begitu, bagaimana kebenaran ini akan sampai?

Alloh berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqoroh: 170)

Kita lihat di sana ada acara nyadran, sekaten, ngelarung, sedekah bumi/laut, suronan dan lain-lain, yang mana acara-acara itu di masyarakat kita sudah mendarah daging, bahkan sudah menjadi komoditi bisnis dan mata pencaharian. Sungguh ironi, mereka beralasan bahwa ini adalah budaya nenek moyang yang harus dilestarikan. Allohu akbar!! Inilah alasan yang menjadi jurus pamungkas kaum musyrikin zaman Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam tatkala mulut mereka tidak mampu lagi menjawab hujjah Alloh, Na’udzu billah.

Mengingat akan parahnya keadaan ini, maka sudah menjadi tugas kita semua untuk saling mengingatkan dan terus untuk mengingatkan. “Dan tetaplah beri peringatan, karena peringatan itu memberikan manfaat terhadap orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)

***

Penulis: Yusuf Abu Hudzaifah
Artikel www.muslim.or.id

  • http://abuburaidah.wordpress.com abuburaidah

    Assalamualaikum
    Dakwah Tauhid adalah merupakan sebab diturunkannya para Nabi dan Rasul dari zaman Nabi Adam sampai kepada Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka alangkah baiknya apabila dalam setiap khutbah jum’at yang disampaikan di tengah masyarakat kita ini difokuskan pada masalah ini saja. Saya yakin, apabila kita menyampaikan pada setiap khutbah jum’at dengan bersumber pada salah satu kitab, kita ambil contoh Kitab Tauhid karya Imam Muhammad At-Tamimi, maka dalam jangka kurang dari dua tahun akan selesai pembahasannya. Wallahu a’lam

  • http://www.ecco.com Galih

    assalamu’alikum,
    ikhwah fillah, artikel ini sangat menarik dan jika ada dari ikhwah yg diberikan kelonggaran waktu, mk akan lebih baik lagi klo ada sebuah kitab tauhid yg bisa diterjemahkan kedalam bhs daerah.
    mengingat banyak dr orang tua kita, sodara yg masih kurang bisa faham dg baik akan bhs indonesia.
    jazaakumullohu khoiron katsiron
    wassalamu’alaikum,
    aba fathima

  • Lukman singaraja Bali

    Betul sungguh amat sulit memberi infrmasi kdp mereka krn sdh menarah mendaging tapi dakwh tetap hrs jalan smg mereka mendpat hidyah

  • http://yahoo.com ali

    subhanallah…smg artikel ni dpt mnjd hujjah dlm memangkas kesyirikan..Allahu akbar!!

  • nengc

    betul…betul…betullll……

  • abu phyton

    Maka alangkah baiknya apabila dalam setiap khutbah jum’at yang disampaikan di tengah masyarakat kita ini difokuskan pada masalah ini saja

  • Sastra

    faas thabiqul khoirat
    Al-Ikhlaash
    1. Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa”. (QS. 112:1)
    2. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. (QS. 112:2)
    3. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, (QS. 112:3)
    4. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (QS. 112:4) Amin Ya Robbi

  • ronym

    That’s right…
    Jika kita tanyakan ke penganut agama Budha…
    Apakah Anda menyembah patung ? ( Budha )
    ( pasti kita akan… ditertawakan mereka )
    .
    Ya… patung… hanyalah “wasilah”… untuk menyembah Sang Hyang Widi
    .
    Seperti halnya…
    Latta… adalah Tugu peringatan… untuk orang soleh… yang “duduk diatas batu”
    yang biasa menjamu makan… muslim muslimah yang akan menuju Baitullah

  • Pingback: Virus yang Mewabah di Tengah Ummat | PCPM Merden

  • Pingback: VIRUS SYIRIK YANG MEWABAH DITENGAH UMMAT | Lembaga Dakwah Adjhis

  • Pingback: Virus Syirik yang Mewabah di Tengah Ummat | Belajar islam

  • Pingback: Virus Yang Menyebar Di Tengah Ummat Islam |

  • Pingback: VIRUS YANG MEWABAH DI TENGAH UMAT | KOMINFO STMIK DIPANEGARA MAKASSAR

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.