Donasi Semarak
Ramadhan 1433 H

Tanya Jawab Bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Dimana Allah ?

Kategori: Aqidah

87 Komentar // 9 Juli 2008

Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad ibnu Taimiyyah rohimahulloh pernah ditanya mengenai dua orang yang berselisih tentang masalah akidah/keyakinan. Seorang di antaranya berkata, “Orang yang tidak meyakini Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas langit adalah orang sesat.” Sedangkan yang satunya berkata, “Sesungguhnya Alloh itu tidak dibatasi oleh suatu tempat.” Padahal mereka berdua adalah sama-sama pengikut mazhab Syafi’i. Maka, jelaskanlah kepada kami tentang akidah Imam Syafi’i rodhiallohu ‘anhu yang kami ikuti dan bagaimanakah akidah yang benar?

Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

Segala puji bagi Alloh, keyakinan Asy Syafi’i rohimahulloh dan keyakinan para pendahulu Islam seperti Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan juga menjadi keyakinan para guru yang ditiru seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad Darani, Sahl bin Abdullah At Tusturi dan selain mereka adalah sama. Sesungguhnya di antara ulama tersebut dan yang seperti mereka tidak terdapat perselisihan dalam pokok-pokok agama.

Begitu pula Abu Hanifah rohmatullohi ‘alaihi, sesungguhnya keyakinan beliau dalam masalah tauhid, takdir dan perkara lainnya adalah sesuai dengan keyakinan para ulama di atas. Sedangkan keyakinan yang dipegang oleh para ulama itu adalah keyakinan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, itulah keyakinan yang dikatakan oleh Al Kitab dan As Sunnah. Asy Syafi’i mengatakan di bagian awal Muqoddimah Kitab Ar Risalah:

الحمد لله الَّذِي هُوَ كَمَا وصف بِهِ نفسه، وفوق مَا يصفه بِهِ خلقه.

“Segala puji bagi Alloh yang (terpuji) sebagaimana sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Sifat-sifat yang tidak bisa digambarkan oleh makhluknya.”

Dengan demikian beliau rohimahulloh menerangkan bahwa Alloh itu memiliki sifat sebagaimana yang Dia tegaskan di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula yang dikatakan oleh Ahmad bin Hambal. Beliau mengatakan: Alloh tidak diberi sifat kecuali dengan yang Dia tetapkan sendiri, atau sifat yang diberikan oleh Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam tanpa disertai tahrif (penyelewengan makna), tanpa takyif (memvisualisasikan), tanpa tamsil (menyerupakan dengan makhluk), tetapi mereka menetapkan nama-nama terbaik dan sifat-sifat luhur yang Dia tetapkan bagi diri-Nya. Mereka yakini bahwasanya:

لَيْسَ كمثله شيء وَهُوَ السميع البصير

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” baik dalam sifat-sifatNya, Zat-Nya maupun dalam perbuatan-perbuatanNya. Kemudian beliau berkata: Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arsy; Dialah yang telah benar-benar berbicara dengan Musa; Dialah yang telah menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah karenanya, tidak ada satu makhluk pun yang memiliki sifat sama persis dengan-Nya, ilmu-Nya tidak sama dengan ilmu siapa pun, kemampuan-Nya tidak sama dengan kemampuan siapa pun, dan kasih sayang-Nya juga tidak sama dengan kasih sayang siapa pun, bersemayam-Nya juga tidak sama dengan bersemayamnya siapa pun, pendengaran dan penglihatan-Nya juga tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan siapa pun. Ucapan-Nya tidak sama dengan ucapan siapa pun, penampakan diri-Nya tidak sebagaimana penampakan siapa pun.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menginformasikan kepada kita di surga itu ada daging, susu, madu, air, sutera dan emas. Dan Ibnu Abbas telah berkata,

لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مما فِي الآخرة إِلاَّ الأسماء.

“Tidak ada suatu pun di dunia ini yang ada di akhirat nanti kecuali hanya sama namanya saja.”

Apabila makhluk-makhluk yang gaib ini ternyata tidak sama dengan makhluk-makhluk yang tampak ini -padahal namanya sama- maka Sang Pencipta tentu sangat jauh berbeda dibandingkan dengan makhluk-Nya, inilah perbedaan Pencipta dengan makhluk yang diciptakan, meskipun namanya sama.

Alloh telah menamai diri-Nya Hayyan ‘Aliiman (Maha Hidup, Maha Mengetahui), Samii’an Bashiiran (Maha Mendengar, Maha Melihat), dan nama-Nya yang lain adalah Ra’uuf Rahiim (Maha Lembut, Maha Penyayang); Alloh itu hidup tidak seperti hidup yang dialami oleh makhluk, pengetahuan Alloh tidak seperti pengetahuan makhluk, pendengaran Alloh tidak seperti yang dialami pendengaran makhluk, penglihatan Alloh tidak seperti penglihatan makhluk, kelembutan Alloh tidak seperti kelembutan makhluk, kasih sayang Alloh tidak seperti kasih sayang makhluk.

Nabi bersabda dalam konteks hadits budak perempuan yang cukup populer: “Di mana Alloh?” Budak tersebut menjawab, “(Alloh) di atas langit.” Akan tetapi bukan berarti maknanya Alloh berada di dalam langit, sehingga langit itu membatasi dan meliputi-Nya. Keyakinan seperti ini tidak ada seorang pun ulama salaf dan ulama yang mengatakannya; akan tetapi mereka semuanya bersepakat Alloh berada di atas seluruh langit ciptaan-Nya. Dia bersemayam (tinggi) di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya; tidak terdapat sedikit pun unsur Dzat-Nya di dalam makhluk-Nya, begitu pula, tidak terdapat sedikit pun unsur makhluk-Nya di dalam Dzat-Nya.

Malik bin Anas pernah berkata:

إن الله فَوْقَ السماء، وعلمه فِي كلّ مكان

“Sesungguhnya Alloh berada di atas langit dan ilmu-Nya berada (meliputi) setiap tempat.”

Maka barang siapa yang meyakini Alloh berada di dalam langit dalam artian terbatasi dan terliputi oleh langit dan meyakini Alloh membutuhkan ‘Arsy atau butuh terhadap makhluk lainnya, atau meyakini bersemayamnya Alloh di atas ‘Arsy-Nya sama seperti bersemayamnya makhluk di atas kursinya; maka orang seperti ini adalah sesat, pembuat bid’ah dan jahil (bodoh). Barang siapa yang meyakini kalau di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang disembah, di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang orang-orang sholat dan bersujud kepada-Nya, atau meyakini Muhammad tidak pernah diangkat menghadap Tuhannya, atau meyakini kalau Al Quran tidak diturunkan dari sisi-Nya, maka orang seperti ini adalah Mu’aththil Fir’auni (penolak sifat Alloh dan pengikut Fir’aun), sesat dan pembuat bid’ah.

Ibnu Taimiyah berkata setelah penjelasan yang panjang, Orang yang mengatakan, “Barang siapa tidak meyakini Alloh di atas langit adalah sesat”, jika yang dimaksudkan adalah “barang siapa yang tidak meyakini Alloh itu di dalam lingkup langit sehingga Alloh terbatasi dan diliputi langit” maka perkataannya itu keliru. Sedangkan jika yang dimaksudkan dengan ucapan itu adalah “barang siapa yang tidak meyakini apa yang tercantum di dalam Kitab dan Sunnah serta telah disepakati oleh generasi awal umat ini dan para ulamanya -yaitu Alloh berada di atas langit bersemayam di atas ‘arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya- maka dia benar. Siapa saja yang tidak meyakininya berarti mendustakan Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti selain orang-orang yang beriman. Bahkan sesungguhnya dia telah menolak dan meniadakan Tuhannya; sehingga pada hakikatnya tidak memiliki Tuhan yang disembah, tidak ada Tuhan yang dimintainya, tidak ada Tuhan yang ditujunya.”

Padahal Alloh menciptakan manusia -baik orang Arab maupun non-Arab- yang apabila berdoa maka akan mengarahkan hatinya ke arah atas, bukan ke arah bawah. Oleh karena itu ada orang bijak mengatakan: Tidak pernah ada seorang pun yang menyeru: “Ya Alloh!!” kecuali didapatkan di dalam hatinya -sebelum lisan tergerak- dorongan ke arah atas dan hatinya tidak terdorong ke arah kanan maupun kiri.

Ahlu ta’thil dan ta’wil (penolak dan penyeleweng sifat Alloh) memiliki syubhat dalam hal ini. Mereka benturkan Kitabullah dan Sunnah Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan syubhat ini, mereka tentang kesepakatan salaful ummah dan para ulama. Mereka tentang fitrah yang telah Alloh anugerahkan kepada hamba-hambaNya, mereka tentang sesuatu yang telah terbukti dengan akal sehat. Dalil-dalil ini semua bersepakat bahwa Alloh itu berada di atas makhluk-Nya, tinggi di atasnya. Keyakinan semacam ini Alloh anugerahkan sebagai fitrah yang dimiliki oleh orang-orang tua bahkan anak-anak kecil dan juga diyakini oleh orang badui; sebagaimana Alloh menganugerahkan fitrah berupa pengakuan terhadap adanya (Alloh) Pencipta Yang Maha tinggi. Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

كلّ مولود يولد عَلَى الفطرة؛ فأبواه يهودانه، أَوْ ينصّرانه، أَوْ يمجسانه، كَمَا تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هَلْ تحسّون فِيهَا من جدعاء؟

“Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah; Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana seekor binatang melahirkan anak dengan utuh tanpa ada anggota tubuh yang hilang, apakah menurutmu ada yang hilang telinganya (tanpa sebab sejak dari lahirnya)?”

Kemudian Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu berkata: Jika kalian mau bacalah,

فطرة الله الَّتِي فطر النَّاس عَلَيْهَا، لاَ تبديل لخلق الله

“Itulah fitrah Alloh yang manusia diciptakan berada di atasnya, tidak ada penggantian dalam fitrah Alloh.”

Inilah maksud dari perkataan Umar bin Abdul ‘Aziz: “Ikutilah agama orang-orang badui dan anak-anak kecil yang masih asli, yakinilah fitrah yang telah Alloh berikan kepada mereka, karena Alloh menetapkan bahwa fitrah hamba fitrah dan untuk memperkuat fitrah bukan untuk menyimpangkan dan juga bukan untuk mengubahnya.”

Sedangkan musuh-musuh para rosul seperti kaum Jahmiyah Fir’auniyah dan lain-lain itu bermaksud mengganti dan mengubah fitrah yang Alloh berikan, mereka lontarkan berbagai syubhat/kerancuan dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas sehingga banyak orang itu tidak mengerti maksudnya; dan tidak bisa membantah mereka.

Sumber kesesatan mereka adalah penggunaan istilah-istilah yang bersifat global dan tidak bersumber dari Al Quran dan Sunnah Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah pula dikatakan oleh salah seorang ulama kaum muslimin, seperti istilah tahayyuz, jisim (jasad/raga), jihhah (arah) dan lain sebagainya.

Barang siapa yang mengetahui bantahan syubhat mereka hendaklah dia menjelaskannya, namun barang siapa yang tidak mengetahuinya hendaknya tidak berbicara dengan mereka dan janganlah menerima kecuali yang berasal dari Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana yang difirmankan Alloh,

وَإِذَا رأيت الَّذِينَ يخوضون فِي آياتنا فأعرض عنهم حتّى يخوضوا فِي حديثٍ غيره

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Kami maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mengganti pembicaraan.”

Barang siapa berbicara tentang Alloh, Nama dan Sifat-Nya dengan pendapat yang bertentangan dengan Al Kitab dan As Sunnah maka dia termasuk orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Alloh secara batil.

Kebanyakan dari mereka itu menisbatkan kepada para ulama kaum muslimin pendapat-pendapat yang tidak pernah mereka katakaberbagai hal yang tidak pernah mereka katakan, kemudian mereka katakan kepada para pengikut imam-imam itu: inilah keyakinan Imam Fulan; oleh karena itu apabila mereka dituntut untuk membuktikannya dengan penukilan yang sah dari para imam niscaya akan terbongkar kedustaannya.

Asy Syafi’i mengatakan, “Hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada Ahli ilmu kalam (baca: ahli filsafat) menurutku adalah dipukuli dengan pelepah kurma dan sandal lalu diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan kaum-kaum sambil diumumkan: ‘Inilah balasan/hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan malah menekuni ilmu kalam.’”

Abu Yusuf Al Qadhi berkata, “Barang siapa menuntut ilmu agama dengan belajar ilmu kalam dia akan menjadi zindiq (baca: sesat).”

Ahmad mengatakan “Tidak akan beruntung orang yang menggeluti ilmu kalam.”

Sebagian ulama mengatakan: Kaum mu’aththilah/penolak sifat Alloh itu pada hakikatnya adalah penyembah sesuatu yang tidak ada, sedangkan kaum mumatstsilah/penyerupa sifat Alloh dengan sifat makhluk itu adalah penyembah arca. Mu’aththil itu buta, dan mumatstsil itu rabun; padahal agama Alloh itu berada antara sikap melampaui batas/ghuluw dan sikap meremehkan.

Alloh ta’ala berfirman,

وكذلك جعلناكم أمّة وسطاً

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan.”

Posisi Ahlusunnah di dalam Islam seperti posisi Islam di antara agama-agama.

Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

(Majmu’ Fatawa V/256-261)

***

Dialihbahasakan oleh: Abu Muslih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

buku saku

87 Komentar

  1. hartono
    05 Sep 2010 [#]

    assalaamu’alaikum Wr.Wb..
    ustads …apakah boleh santunan anak yatim kita berikan kpd anak piatu mohon penjelasan dan dalilnya trims

  2. agus sudirman
    14 Sep 2010 [#]

    Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

    saya sdh lama menikah, tp blm dikaruniai anak.ketika saya bertanya pada seseorang katanya untuk mempercepat kehamilan istri saya dianjurkan untuk mencari kelapa muda di jalur pantura.kelapa muda tersebut harus menghadap ke timur dan harus dipetik secara langsung. juga tidak boleh jatuh ke tanah serta tidak boleh dilangkahi.dan ketka membukanya harus di depan istri saya dan harus segera diminum.pertanyaan saya apakah jika saya melakukannya termasuk syirik?mohon penjelasannya

  3. Yulian Purnama
    16 Sep 2010 [#]

    #Agus sudirman
    Wa’alaikumussalam. Tidak ragu lagi hal tersebut adalah khurafat yang bisa menjerumuskan kepada kesyirikan. Hendaknya anda bertaubat. Memohonlah hanya kepada Allah.

  4. andi
    11 Okt 2010 [#]

    Ass wr wb,

    Saya mau bertanya, bagaimana menurut islam istri yang menolak berhubungan badan dengan suami, padahal tidak setiap hari suaminya minta untuk dilayani. Dan terkadang alasannya agak tidak masuk akal, contohnya ” males ah lagi mau nyuci ” padahal ada mesin cuci dan hanya terdapat beberapa potong pakaian. mohon dibantu atas pertanyaan ini. Trm kasih

  5. Yulian Purnama
    12 Okt 2010 [#]

    #andi
    Anda perlu melakukan pendekatan secara psikologis dan secara syar’i. Secara psikologis, mungkin dia sedang ada masalah, mungkin ada yang ingin ia kritisi dari diri anda, mungkin ia sedang ingin sesuatu yang lain, cobalah melakukan ‘awalan’ sebelum mengajaknya, perbaiki komunikasi anda dengan istri, dan sisi psikologis yang lain. Dari segi syar’i, perlahan anda pahamkan ia bahwa wajib hukumnya menaati suami apalagi dalam hal yang satu ini, dimana suami hanya bisa menyalurkan syahwatnya secara halal kepada istrinya. Berikan majalah islami, mp3 ceramah agama atau ajak ia ke majelis ilmu agar bisa paham hal ini.

  6. happy febriyanto
    18 Okt 2010 [#]

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Subahanallah….” sejuk hati saya melihat,mebaca
    kisah dan curhat serta solusi yg baik ini…
    izin share ya Ustadz ”

    apabila sya bertemu dgn hal2 sprti ini,sekiranya ini bsa saya jadikan perenungan atau bukti untuk meluruskan hal2 yg kurang baik dan solusinya ada
    semua di dlm web/blog ini…terimakasih ya Ustadz

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  7. Didik Suyadi
    20 Okt 2010 [#]

    #hartono
    Wa’alaikumussalam. Apa maksud santunan? Kalau maksudnya memberi bantuan/bershodaqoh secara umum maka hukumnya mustahab/dianjurkan. Mustahab diberikan kepada siapa saja yang memerlukan dan berhak mendapat bantuan baik dia yatim ataupun bukan. Karena salah satu keutamaan shodaqoh adalah bisa menghapuskan kesalahan:
    وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ
    Shadaqah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” (HR Ahmad, Shahih)

    Sedangkan memberi santunan atau bahkan mengasuh anak yatim ada keutamaan tersendiri, sebagaimana sabda Nabi
    أنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
    “Aku dan orang yang mengurus anak yatim berada di surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya yaitu telunjuk dan jari tengah.” (HR Bukhari)

    Kemudian yang dimaksud anak yatim adalah anak lelaki atau wanita yang belum baligh yang tidak mempunyai ayah meskipun dia mempunyai ibu (maka jika sudah baligh tidak disebut anak yatim) Hikmah disyariatkannya memberi santunan kepada anak yatim adalah karena kondisi mereka lemah serta kekurangan karena tidak memiliki ayah yang bisa memberi nafkah kepada mereka. Wallohu’alam

  8. adree
    31 Okt 2010 [#]

    Apakah perbedaan kaum sunni dengan syia?
    Apakah para gerilyaan seperti hizbullah, tahher, taliban dll itu murni Islam?
    Benarkah jika sekarang Irak telah dikuasai oleh syia?

  9. Yulian Purnama
    01 Nov 2010 [#]

  10. Ari Setiawan
    13 Nov 2010 [#]

    Assalamualaikum wr.wb
    Apakah benar bagi setiap muslim yang ingin berQURBAN tidak diperbolehkan apabila sewaktu lahir belum diAQIQAHi dan harus aqiqah dulu baru bisa melaksanakan ibadah qurban.
    Mohon penjelasanya dan Hadits/firman Allah yang menjelaskan masalah tersebut.Terima kasih
    Wassalamualikum wr.wb

  11. fikri
    14 Nov 2010 [#]

    ada yang tahu tentang aliran jabariyah nggak?
    klau ada yang tahu,tlong jwab pertanyaan saya !
    pertanyaanya begini,ajaran jabariyah mengatakan bahwa alqur’an adalah makhluk,..! makna dari kata makhluk menurut ajaran di atas seperti apa ya,?atau bagaimana..? tlg djelaskan..?

  12. Yulian Purnama
    14 Nov 2010 [#]

  13. tatang barlian
    18 Nov 2010 [#]

    KALIGRAFI “MUHAMMAD” DI MASJID ITU SYIRIK ?
    Pada dinding masjid di Indonesia banyak dijumpai Kaligrafi “Muhammad” berdampingan dengan Kaligrafi “Allah” di sisi kiri dan kanan Mihrab. Keduanya sama besar seolah-olah sepadan, sehingga seakan yang satu tandingan yang lain. Padahal QS Al-Jinn (72) ayat 18 menegaskan : “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka jangan kalian menyeru seseorang / sesuatu beserta Allah.”
    Pertanyaannya : Apakah hal tersebut di atas adalah suatu bentuk syirik besar (mempersekutukan Allah)? Kemudian bagaimana hukum sholat di masjid seperti ini?

  14. Yulian Purnama
    12 Des 2010 [#]

    #Ari Setiawan
    Wa’alaikumussalam, hal tersebut tidak benar karena tidak ada dalilnya. Justru yang berkeyakinan demikianlah yang dituntut untuk membawakan dalil.

  15. Abduh Tuasikal
    17 Des 2010 [#]

    @Tatang
    Wallahu a’lam. Itu bentuk menandingkan Allah dengan selain Allah. Jadi suatu yg terlarang. Namun tdk sampai syirik besar. Boleh shalat di masjid semacam itu.

  16. FERDIAN MAULANA FAH
    19 Des 2010 [#]

    USRAD:IBU saya berumur 55 tahun , saya mempunyahi 2 kakak yang sekarang ini sudah sukses, tapi usatat ibu saya selama 30 tahun ditipu oleh ayah saya dan tak pernah menafkahi ibu saya selama 30 tahun itu, tapi ayah saya meminta uang kepada ibu saya hanya untuk dirinya sendiri,dan sekarang ibu saya marah krn ibu yang akan naik haji itu dilarang oleh ayah dan uang haji ibu saya sudah habis dan sekarang ibu saya marah dan tak melayani kewajibanya sebagai istri usatat , apakah tindakan yang diambil ibu saya itu salah ustad?????

  17. Hamba Allah
    26 Des 2010 [#]

    Assalamu alaikum,,,
    ap yang harus sy lakukan setelah tahu hasil lab sy mengatakan kalau kualitas sperma sy g bagus dan istri sy belum tahu hasil itu.kami sdh menikah sktr 6 bln lamanya dan blm dkarunia keturunan..jujur sy sedih dan takut ditinggal istri yang tetntunya jadi aib bagi keluarga..mohon bantuan dan doanya

  18. Abduh Tuasikal
    26 Des 2010 [#]

    Wa’alaikumus salam.
    @ Hamba Allah
    Perbanyak terus doa, coba baca kisah dalam artikel berikut: http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3287-sukses-muslim-dengan-doa-1.html

  19. tresna
    16 Jan 2011 [#]

    Assalamu ‘alaikum.
    Saya penduduk kota Malang Jawa Timur. Setahu saya kalau sholat dhuhur harus setelah matahari condong ke barat. Tapi untuk bulan Desember dan Januari adzan dhuhur menurut jadwal kira2 jam 11.40 wib itu, matahari masih belum mencapai titik puncak dan bayangan masih di sebelah barat. Perkiraan saya sholat dhuhur yang tepat setelah jam 12.30 wib. Mohon penjelasan

  20. Aris Munandar
    26 Jan 2011 [#]

    #tresna
    Wa’alaikumussalam. Jangan shalat sampai anda yakin bahwa waktu shalat telah tiba

  21. M.Rachim
    28 Jan 2011 [#]

    As’salamualaikum.wr.wb… Saya memiliki masalah dengan shalat saya, Ketika saya dalam melakukan shalat jum’at… Saya merasa/Perasaan saya buang angin (kentut), entah apakah hanya perasaan saya saja Karna terasa sangat sangat sangat kecil yg berasa di anus saya, Namun yg jelas di situ saya merasa kehilangan kekhusu’an dalam shalat Karna terpikir shalat saya batal, Namun saya tetap melanjutkannya… Apa perkara saya tentang hal ini dan Apa yg harus saya lakukan seandainya itu terjadi lagi di dalam shalat saya, Mohon pemasukannya… Terimakasih… Wasalam.wr.wb

  22. Yandhi
    11 Feb 2011 [#]

    Asalamualaikum….
    1.Saya ingin bertanya apa y hukumnya bila malam bermimpi basah tpi qta baru sadarnya ketika setelah solat subuh??
    2.apabila qta bangun kesiangan hingga pukul 7 pagi apakah masih bsa solat subuh??

  23. Yulian Purnama
    13 Feb 2011 [#]

    #FERDIAN
    Dari sisi ayah anda, tidak menafkahi istri adalah dosa.
    Namun dari sisi ibu anda, wajib baginya untuk tetap bertaqwa kepada Allah, bersabar dan tetap taat kepada suami. Dalam hal ini, ibu anda belum wajib berhaji karena belum ada izin dari suami. Para ulama sepakat bahwa tidak halal bagi seorang istri untuk bersafar tanpa izin suaminya.

  24. Aris Munandar
    14 Feb 2011 [#]

    #Yandhi
    Wa’alaikumussalam ,
    1. Shalat shubuh diulangi setelah mandi junub terlebih dahulu
    2. Jika ketidurannya tidak disengaja maka masih bisa shalat shubuh

  25. salafy lombok
    03 Mar 2011 [#]

    dimana bisa didapatkan buku-buku ibnu taimiyah yang sudah diterjemahkan ke dlm bahasa indonesia? bagi yang tahu minta infonya.. jazakumullahu khair

  26. Yulian Purnama
    05 Mar 2011 [#]

    #M.Rachim
    Wa’alaikumussalam. Pernah ada sahabat Nabi yang mengalami hal yang sama, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    لا تخرج حتى تسمع صوتا أو تجد ريحا
    Jangan engkau batalkan shalat, sampai engkau (yakin) mendengar suaranya atau tercium baunya

  27. Abduh Tuasikal
    07 Mar 2011 [#]

    @ Salafy Lombok
    Coba tanyakan ke toko2 buku Islam yg terpercaya, insya Allah banyak yg sudah diterjemahkan.

  28. jaya wiguna
    01 Mei 2011 [#]

    Apa yang dimaksud dengan arti “Kami” yang terdapat dibeberapa ayat al Qur’an. contoh: “Tidakkah manusia mengetahui bahwa Kami-lah yang menciptakannya dari setets air mani….”.Surat Yasiin ayat 77
    Pertanyaannya adalah bukankah Allah swt. yang menciptakan manusia dan yang mematikan pula? lalu, bukakankah “Kami” berarti bentuk jamak? sedangkan Allah swt adalah tunggal.

    Murtad-kah jika kita menelusuri tentang islam yang kurang kita ketahui/yakin. seperti pertanyaan tersebut?

  29. ardy
    01 Mei 2011 [#]

    Assalamu’alaikum, saya ingin bertanya, ada teman saya mengatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada akhir hidupnya bertaubat dan meyakini aqidah asyariyah, bagaimana kebenaran mengenai kabar ini?

  30. Muhammad Nur Ichwan
    01 Mei 2011 [#]

    @jaya wiguna
    silahkan simak penjelasan hal tersebut oleh Ust. Arismunandar disini

  31. Yulian Purnama
    02 Mei 2011 [#]

    #ardy
    Hal tersebut adalah kedustaan dari para ahli sejarah yang fanatik terhadap aqidah asy’ariyyah.

  32. Muhammad Nur Ichwan
    02 Mei 2011 [#]

    @ardy
    silahkan anda baca disini dan disini

  33. Yudha Nhara
    23 Agu 2011 [#]

    Ijin untuk mengkopy buat belajar,Jazakallohu khoiro

  34. Terry Artha
    05 Des 2011 [#]

    bagaina hukumnya membesarkan alat vital laki” demi menjaga keutuhan rumah tangga, karena istri tidak puas dengan keaddan sekarang karena mgkin alat suami kecil. thanks

  35. Yulian Purnama
    14 Jan 2012 [#]

    #Terry Artha
    Selama tidak menggunakan cara haram, boleh. Cara yang haram diantaranya dengan dipijat oleh orang lain.

  36. Maz Tari
    13 Apr 2012 [#]

    Assalamualiakum…

  37. duva
    20 Apr 2012 [#]

    izin ngeprint

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas