Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila anda mengetahui isinya dan menyaksikan adanya kesyirikan secara terang-terangan di dalamnya. Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut:”
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”
Syaikh berkata:
“Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman yang artinya:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).”
Beliau melanjutkan penjelasannya:
“Bagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya:
قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)
Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)
Beliau melanjutkan lagi penjelasannya:
“Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar tanpa perlu memberikan batasan bilangan sebagaimana yang disebutkan tadi. Sehingga bacaannya menjadi seperti ini:
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد التي تحل بها العقد
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Allati tuhillu bihal ‘uqadu (artinya ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)
Hal itu karena membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan. Mengapa kita membaca bacaan shalawat bid’ah ini yang hanya berasal dari ucapan makhluk biasa sebagaimana kita dan justru meninggalkan kebiasaan membaca shalawat Ibrahimiyah (yaitu yang biasa kita baca dalam shalat, pent) yang berasal dari ucapan Rasul yang Ma’shum?”
***
Penulis: Muhammad Jamil Zainu
Diterjemahkan oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id


darmo
11 Des 2009 [Permalink]
terimakasih memberitahukan hal yang belum saya mengerti.. sering2lah mengingatkan agar tidak sesat terlalu jauh..
denny
19 Jan 2010 [Permalink]
sy mau tanya,jadi bacaan shalawat nariyah itu salah apa benar? karena selama ini saya selalu membaca amalan tersebut. mohon diberi petunjuk dan jawaban yg benar? terimakasih.Wassalam
Muslim.Or.Id
19 Jan 2010 [Permalink]
@Denny
Kami rasa sudah dijelaskan kekeliruannya di atas dengan lapang dada dan hati yang bersih.
asri
20 Jan 2010 [Permalink]
assalamualaykum,
syukron atas penjelasanya,sangat berarti sekali buat saya,karena memang masih dalam proses belajar,jadi memang ada yang tidak saya mengerti,tolong bisa lebih di jelaskan lagi,kira kira sholawat apa saja yang tidak termasuk bid’ah,biar saya juga tidak terlalu jauh memahami hal hal yang menyesatkan,jazakumullah khoir.
Abu Fida
20 Jan 2010 [Permalink]
@saudaraku asri yg dirahmati Allah Ta’ala
sholawat yg tidak bid’ah alias yg shohih adalah sholawat Ibrahimiyyah yg diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada para sahabatnya -ridhwanullahi ‘alaihi ajma’in- dengan kata lain itulah lafadz sholawat yg biasa kita baca pada saat duduk tahiyat dalam sholat :)
sunu isharsono
24 Jan 2010 [Permalink]
Asalamu’alaikum Wr Wb
Apakah penjelasan artinya memang benar seperti diatas atau cuman menterjemahkan saja. selama ini nga ada perdebadatan. yg pnting niat kita bershalawat….kita harus mencermati semuanya.
Muslim.Or.Id
24 Jan 2010 [Permalink]
@ Sunu
Wa’alaikumus salam.
Kami harap mas Sunu bisa sebutkan arti sebenarnya jika bisa bahasa Arab. Yg penting bukan niat bershalawat saja, namun lihatlah sesuai tuntunan ajaran Islam ataukah tidak! Jika shalawat trdpt kesyirikan, bagaimana mungkin dikatakan shalawat yg syar’i?
Hanya Allah yg beri taufik.
Agus
31 Jan 2010 [Permalink]
Semoga apa yang Anda sampaikan benar..dan semoga kita termasuk orang2 yang dirahmati oleh Allah SWT..Amien!!
Abu Abdillah
01 Feb 2010 [Permalink]
Buat tambahan, semua shalawat yang shahih dari Rasulullah, diajarkan oleh Rasulullah, semuanya bisa dibaca dalam shalat sewaktus tasyahud, nah apakah Shalawat seperti shalawat nariyah ini bisa dipakai dalam shalat waktu tasyahud?
Timbul pertanyaan “Kalau memang shalawat tersebut diajarkan oleh Rasulullah, tentu shalawat tersebut bisa dibaca didalam shalat”,
Nah apakah shalawat nariyah benar dari Nabi?
Silahkan pembaca renungkan dan jawab sendiri,
Mudah-mudahan bagi para pencari kebenaran bisa mengetahui tentang sesatnya shalawat nariyah ini…
ahmad
05 Feb 2010 [Permalink]
sebagai warga NU saya akan selalu membaca sholawat nariyah, walaupun dikatakan salah……qt semua umat muslim adalah saudara, ALLAHU AKBAR…….
Muslim.Or.Id
06 Feb 2010 [Permalink]
@ Ahmad
Inilah sikap orang yang taklid buta. Sudah tahu keliru, tp tetap aja diamalkan.
Hanya ALlah yang beri taufik.
Abu salma
06 Feb 2010 [Permalink]
Mari kita brtanya kmbli tntg amalan kita jk nabi tdk memernthkn jgpr shbt tdk mengamalkn mk kita jg jgn mengamalkan krn pr shbt adlh yg paling smgt dlm beramal
abu hanifah alim
07 Feb 2010 [Permalink]
sungguh benar apa yg dikatakan oleh Sufyan ats-tsauri:
“al-bid’atu ahabbu ila iblis minal ma’syiyah, al-ma’syiyah yutabu minha wal bid’ah la yutabu minha”
bid’ah itu lebih dicintai iblis ketimbang ma’syiyat, sebab pelaku ma’syiyat akan gampang untuk bertaubat, sedangkan orang yg doyan bid’ah sulit bertaubat dari bid’ahnya, krn merasa benar dgn amalan bid’ahnya,
walau seribu dalil disampaikan tetap saja ngeyel dgn perbuatan bid’ahnya,
kecuali org-org yg dirahmati Allah dan menginkan kebenaran,
wahai saudaraku “ahmad” maukah anda membuka hati dan mengikhlaskan niat untuk mengetahui kebenaran,
insya’Allah anda akan memperoleh hidayah.
Daffa
13 Feb 2010 [Permalink]
saya meu bertanya, kalo “Bihi” nya diganti “Biha” berarti artinya benar dan boleh dibaca (tidak mengandung kemusyrikan lagi) mohon penjelasannya
hamba yg dho'if
13 Feb 2010 [Permalink]
@mas ahmad,
Ya memang benar mas, kita semua muslim bersaudara tp walaupun begitu saya tidak akan bersepakat dengan anda untuk mengamalkan sholawat yg tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.
Sesungguhnya apa yg kita amalkan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala nanti.
Faisal anwar
13 Feb 2010 [Permalink]
Ijin share y akh..soalnya banyak temen2 ana yang sering baca shalawat ini…
hamba allah
15 Feb 2010 [Permalink]
Assalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh.
Ustadz, bolehkah ana copy artikel ini kedalam catatan facebook ana, sebagai bahan renungan bagi yang baca..?
maman
27 Feb 2010 [Permalink]
artikel yang bagus dan yaqin bermanfaat, semoga… Amien!
Taufik
27 Feb 2010 [Permalink]
Terima ksih ats sarannya
dana
04 Mar 2010 [Permalink]
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka
pendapat saya :
jikalau saja shalawat ini pernah beliau (rasulullah saw) ajarkan kepada salah seorang sahabat, atau kelauarga beliau tentulah orang sekaliber Imam Bukhari, Imam Muslim atau Imam Abu Dawud dan para ahli hadist lainna akan meriwayatkan shalawat ini. ataukah ini hanya buatan orang-orang yang merasa “allahuma shalli ‘ala Muhammad, wa’ala ali Muhamad” (HR Muslim) kurang sempurna ???
Azdi maula savero
06 Apr 2010 [Permalink]
alhamdulillah dengan ini saya bisa menambah pengetahuan
feliiskandar
30 Apr 2010 [Permalink]
Di dlm al quran ada mengatakan,klu tdk krna engkau ya muhammad,takan ku jadikan langit dan bumi.bukankah nabi kita brgelar rohmatan lil alamin?,di al-quran pun dikatakan bhwa akan dtg suatu nur atau petunjuk,bukankah oleh sebab nur petunjuk(muhamad) itu,kita skg trbebas dr sgla ksulitan dan kegelapan,menurut sy salawat nariah tdk sirik sbb smuanya brjalan mmg atas kehendak allah tp allahpun menjdikan sebab trhdp sgla akibat.sdgkan nabi di sebut sbgai kekasih allah,jgn trlalu cepat memvonis sesuatu hal.krna tdk baik bg keutuhan islam.yg mengamalkan salawat nariah bkn dr kalangan awam saja,bhkan para syaikh2pun mengamalkanya,sebaiknya d bicarakan dlu ke ahlinya baru mevonis.
Abduh Tuasikal
04 Mei 2010 [Permalink]
@ Feliiskandar.
Syaikh pun bisa keliru. Yang jadi patokan itu dalil.
feliiskandar
04 Mei 2010 [Permalink]
@abduh
berarti tidak tertutup kemungkinan,syaikh yg mengatakan salawat nariyah sesat pun salah,bukan syaikh tsb diatas saja yg memekai dalil,tapi yang mengamal kan salawat nariyah pun pakai dalil.jadi bagaimana dgn dalil yg saya ajukan diatas
abu muhammad naufal zaki
04 Mei 2010 [Permalink]
@ Feliiskandar
Kalimat antum ini jelas menunjukkan kejahilan antum lalu antum berani membantah keterangan Kibar ulama Syaikh Muhammad Zainu Jamil????…. di ayat mana di sebutkan kalimat antum tersebut? Sampai kiamatpun antum tidak akan temui. Maka jika ini saja antum sudah keliru besar bgmn bis antum tahu hal itu benar dan salah seangkan kesalahan sendiri antum tidak tahu?
Yang ada adalah petikan antum dari hadits palsu ttg nur muhammad yg berbunyi : ““Jika bukan karena kamu (Muhammad), Kami tidak (akan) menciptakan alam semesta”
Derajat hadits ini Palsu : sebagaimana yang dikatakan oleh Ash-Shaghani dalam Al Ahadits Al Maudhu’ah hal.7, As Suyuthi dalam Al-Laali(1/272); berkata Syaikh Al-Albani rohimahulloh : “Saya tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut lemah.” Dan cukuplah sebagai dalil tentang kelemahananya karena Ad Dailami bersendirian dalam meriwayatkannya.” (Lihat Silsilatu Al Ahadits Ad Dha’ifah wa Al Maudhu’ah 1:282)
Selain itu matan (redaksi) dari pada hadits ini batil/sangat rusak, dikarenakan hadits ini bermakna bahwa Allah Azza Wa Jalla bergantung kepada makhluk-Nya (Rasulullah) padahal Allah azza wa Jalla tidak bergantung dan tidak membutuhkan pertolongan mahluk-Nya karena Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebagaimana Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala yang artinya :
“Dan jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia Sendiri, dan Jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Al An’am :17)
Allah menafikan (meniadakan) sifat-sifat seperti Jabbar (Yang Maha Kuasa) dari Rasulullah shollollohu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman-Nya yg artinya:
“Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. Al-Ghosyiyah:22)
.
Rasulullah shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Janganlah kalian semua melebih-lebihkan aku seperti orang-orang Nasrani melebih-lebihkan Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku ini adalah hamba-Nya maka katakanlah hamba Allah dan utusan-Nya” (HR. Bukhari)
.
Makna hadits tersebut juga bertentangan pula dengan Firman Allah Tabaraka wa ta’ala bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan bukan karena Rasulullah shollollohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala yg artinya :
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.(QS. Adz Dzaariyat:56)
.
Lihat akhi… untuk membedakan itu hadits palsu saja antum tidak tahu bhk menyatakan sebagai ayat al qur’an.. Maka belajarlah dahulu akhi ttg Aqidah yang benar….
Yulian Purnama
04 Mei 2010 [Permalink]
#Feli Iskandar
Semoga Allah merahmati anda, mohon baca artikel berikut:
http://muslim.or.id/tafsir/islam-rahmatan-lil-alamin.html
umai
14 Mei 2010 [Permalink]
Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat nabi.
Abduh Tuasikal
15 Mei 2010 [Permalink]
@ Umai
Datangkan buktinya? Jangan asal berkata saja …
tommi
15 Mei 2010 [Permalink]
@mas Umai…
Benar mas, jgn asal berkata2 saja…coba mas datangkan buktinya kesini kalau syekh Nariyah itu hidup sezaman dengan Rasulullah. Coba mas Umai buka kitab2 tarikh dan kitab2 sirah Nabawiyyah, adakah nama syekh Nariyah disana yg menyebutkan bahwa ia adalah salah satu sahabat Nabi??? Kalau ia adalah salah satu sahabat Nabi, kenapa tidak ada namanya didalam shahih Bukhari, Muslim dan riwayat2 hadits yg lainnya? Kenapa kok sholawat Nariyyah yg digadang2 para pengikut sufi sebagai salah satu sholawat yg wajib dibaca, malah tidak ada didalam kitab2 shahih…?? Tanya kenapa??
Mohon dijawab ya mas, saya harap anda tidak lempar komen sembunyi tangan.
Andri
17 Mei 2010 [Permalink]
Semoga kita semua disatukan dalam aqidah yg murni dari nabi,dan truslah mencari kbenaran,walaupun hanya sedikit yg mau mencarinya,jika setiap orang yg dianggap menyelisihi tradisi itu wahabi,maka akulah wahabi
abu phyton
18 Mei 2010 [Permalink]
wahabi, agama baru…………..?
yang baru itu yang banyak bid`ah….kita mau islam kaffah. jangan takut mas andri meski kita asing dikampung Insya Alloh benar.
sholawat nariyah, tahlilan selamatan itukan barang dagangannya kyai kampung dan moden..
kasihan…jual agama. makanya banyak anaknya yang durhaka kepada Alloh.
Serdadu Salafy
23 Mei 2010 [Permalink]
Viva ahli Qur’an dan Sunnah, ahli bid’ah wal jama’ah semoga dapat hidayah Alloh, amin.
ali
23 Mei 2010 [Permalink]
assalamualaykum
shalawat nariyah itu bukan dari Nabi Shalallahualaihiwasallam… isinya mengandung kesyirikan, jadi jgn diamalkan.
shalawat yg benar, “allahumma sholi ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad…dst.
silahkan baca sifat shalawat nabi shalallahualaihi wasallam.
ady
24 Mei 2010 [Permalink]
Assalamu’alaikum ….,
Aku dah lama hidup di Brunei untuk kerja di sana, rupanya shalawat nariyah pun masyhur di amalkan di sana, ada juga shalawat tafrijiyah dan shalawat2 bid’ah lainnya. Amalan bid,ah lain juga ada yaitu tahlilan selamatan kematian. Tapi alhamdulillah ada sudah ku temukan segelintir orang yang mulai mengenal manhaj salaf dan breusaha mengamalkannya..
Aku rasa sedikit susah untuk menambah ilmu ngaji langsung dari ustadz2 yang bermanhaj salaf di sana karena sedikitnya mereka, alhamdulillah muslim.or.id selalu dapat menambah ilmu saya walaupun via internet..
Ada yang mempunyai website2 ahlus sunnah??
syukron..
Musta'in
26 Mei 2010 [Permalink]
Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Wa Maulaana Muhammad
ahdy
27 Mei 2010 [Permalink]
Sesungguhnya orang2 beriman itu bersaudara, mari benahi dan satukan barisan untuk menghadapi musuh2 Islam Allahu Akbar!!
Cecep
27 Mei 2010 [Permalink]
Assalamu’alaikum.
Bgmn cara mngingatkan sdr2 kita,bahkan org tua,yg msh
Mengamalkan shalawat ini dmesjid tiap malam jumat?
Yulian Purnama
28 Mei 2010 [Permalink]
#Cecep
Wa’alaikumussalam. Jelaskan kepada orang tua dengan bahasa yang mudah dipahami, lebih baik lagi jika bisa menyampaikan dalil dan perkataan para ulama. Sampaikan dengan lemah lembut dan tidak terkesan menggurui. Disamping itu perlahan-lahan kenalkan orang tua dengan amalan-amalan harian yang berasal dari dalil yang shahih. Semoga Allah memberi taufik.
abu muhammad naufal zaki
28 Mei 2010 [Permalink]
Adab saat menasehati orang tua harus lebih baik dibandingkan menasehati orang lain krn sbgmn kitapun dahulu tdk mengenal manhaj ini mk mereka sejak kecil sampai tua telah tertanam kecintaan kpd suatu amalan yg mereka anggap itu baik tentu lebih sulit berubah kecuali atas hidayah Alloh. Ustadz Abdul Hakim pernah menasehati agar kita lebih beradab kpd mereka, penuh kelembutan dan kesabaran yg berlipat. Cari waktu yg luang dan saat mereka sedang senang. Sering bawakan mereka hadiah saat berkunjung atau ajak jalan2 dan belikan apa yg mereka sukai sesuai kemampuan kita. Ambil dahulu hati mereka. Perlihatkan bhw kalian anak yg berbakti dan sangat menghormati mereka saat telah mengenal manhaj salaf. Lalu sedikit demi sedikit jelaskan atau sering diajak membaca kitab2 para ulama sunnah. Jangan terburu-buru atau merasa kesal jk mereka sulit mengerti dan sulit menerima. Jangan pernah tinggalkan mereka krn putus asa. Selalu doakan mereka kpd Alloh dg kebaikan dan diberikan hidayah…
Memamng hal ini sangat sulit namun bukankah kita ingin manusia yg kita muliakan dan cintai itu selamat di dalam Islam dg mengamalkan amalan2 yg benar… Jadi sabar-sabar dan sabar
ibnu syuhada
02 Jun 2010 [Permalink]
hanya allah lah kita menyembah dan kepadanya kita kembali, tiada daya dan upaya kecuali pertolongan darinya. semoga allah selalu melimpahkan rahmat dan karunia kepada setiap mukmin di dunia. ALLAHUAKBAR……..
I'rof Latif
08 Jun 2010 [Permalink]
Sekali Lagi,, untuk membantu Ayahku !!! Apakah Aku tidak Bisa .. KALIAN MELARANGKU UNTUK MEMBACA TAHLIL !!! DIMANA DIDALAMNYA ADA DOA<< ALQURAN> ! KAlau kalaian mUSLIM<< TOLONG DIJAWAB AGAR AKU BISA TAHU APA YANG BISA AKU LAKUKAN UNTUK Alm. AYahku !!1
Yulian Purnama
08 Jun 2010 [Permalink]
#I’rof Latif
Imam Asy Syafi’i melarang kumpul-kumpul di rumah keluarga jenazah setelah pemakaman. Bahkan para sahabat menggolongkan hal tersebut sebagai An Niyahah. Sedangkan An Niyahah dapat memperberat adzab si jenazah di alam kubur.
Hal yang bermanfaat bagi ayah anda:
- Lunasi hutang2nya
- Jadilah anda anak yang shalih, yang meninggalkan larangan agama dan menjalankan yang diperintahkan agama. Selama anda demikian, pahala terus mengalir kepada ayah anda
- Perbanyak mendoakan dia, tidak harus di makamnya, karena Allah Maha Mendengar doa anda.
- Hendaknya anda menyempatkan diri berziarah ke makamnya.
Yadi
09 Jun 2010 [Permalink]
sy telah mengetahui bahaya An Nihayah. dan secara tersiratpun Org tua sy jg mengetahuinya. Tetapi adat kampung sy sangat kental dg tradisi kenduri arwah (kumpul2 bareng lalu membagi2 makanan pd H+3, H+7,40,100,1000,stelah kematian seseorg, dst) tsb.Apakah boleh misalnya pd saat hari2 tsb, sy ganti acaranya dg Majelis Ilmu, lalu sy berikan hadiah semisal buku2 agama pd org2 yg hadir ? Apakah itupun masih termsk An Nihayah jg ? dan apakah ustadz2 “web muslim” ini ada yg mau bersedia mengisi kajian di hr tsb & kontak personnya dg siapa? . Jika sy tinggalkan tradisi tsb, maka saudara2 & tetangga pasti menghukumi sy sbg anak yg tdk berbakti pd Orang Tua. Akan tetapi bila sy lakukan tradisi tsb, maka Orang Tua yg sy tujukan acara tsb akan diadzab di alam kubur. Mohon nasehatnya, krn sy dlm kebimbangan & rasa tdk tenang dlm hal ini.
Jazakumullah Khoiron. Yadi, Kudus.
sufi
09 Jun 2010 [Permalink]
kalau kita lihat arti dari ayat Surat Al-Ahzab (33) ayat 56 (pasti sudah tau semua). pada ayat tersebut kita di minta sebagai orang – orang yang beriman untuk bershalawat kepada Nabi.
disebutkan orang-orang beriman. lalu siapa orang beriman tersebut apakah untuk orang yang pada saat nabi ada saja (manusia2 pada zaman Nabi SAW) atau untuk orang2 yang beriman pada dari zaman nabi sampai dengan sekarang dan sampai hari akhir..
kalau menurut pendapat saya ayat tersebut berlaku sampai hari akhir.
dan salahkah bila aku bershalawat kepada Nabiku yang Penyantun…
apakah tidak malu ke pada Allah Yang MAHA PERKASA lagi MAHA KUAT yang telah bershalawat kepada NABI MUHAMMAD SAW dan Juga Para MALAIKAT yang selalu berbuat kebaikan bershalawat kepada NABI SAW…
apakah anda Cinta kepada Nabi Muhammad SAW?? bila orang telah cinta kepada seseorang pasti menyebut2 nama yang di cintainya…
begitu juga dengan orang yang bershalawat kepada Nabi SAW..karena pada shalawat banyak disebutkan Nama – Nama Beliau….
mungkin anda tidak setuju dengan hal ini…
tapi bagaimana bila Nabi SAW pada AKhirat nanti menolak anda sebagai umatnya karena anda menolak untuk bershalawat padanya…
mohon maaf sebelumnya bila pendapat saya ini menyinggung perasaan saudara….
“Firsan Sufi Lubis”
Yulian Purnama
09 Jun 2010 [Permalink]
#sufi
Bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah amalan mulia. Sedangkan shalawat nariyah adalah bid’ah.
Didik Suyadi
11 Jun 2010 [Permalink]
#Yadi
Adat yang bertentangan dengan syariat agama, tidak diperbolehkan bagi kita untuk ikut. Kecuali keikutsertaan anda untuk menerangkan akan tidak bolehnya acara tersebut dalam agama kita, dengan catatan, tidak menimbulkan fitnah. Demikian juga tidak boleh mengganti pas acara kenduri tersebut dengan kajian atau majlis ilmu lainnya. Karena dikhawatirkan hal ini masuk dalam mengkhususkan waktu tertentu (yang tidak ada dalilnya) untuk ibadah (majlis ilmu), misal anggapan bahwa malam jum’at itu afdhal untuk pengajian, meskipun asalnya majlis ilmu itu boleh.
Maka hendaknya anda tidak ikut acara kenduri tersebut dan memberi penjelasan kepada keluarga dan tetangga anda dengan cara yang baik, bersabar diatasnya dan mendoakan mereka supaya mengetahui islam yang benar sebagaimana yang Nabi dan para sahabat ajarkan. Wallohua’lam
muslimah
12 Jun 2010 [Permalink]
alhamdulillah…. sblmnya aku jg sering mengcpkan shalawat nariyah…skrg udh tahu,jd g ragu2 lg utk tdk melafalkannya
yanti
16 Jun 2010 [Permalink]
izin share
syukron
kangso
17 Jun 2010 [Permalink]
aku org biasa bukan ulama or pinandito…cma bsa ngikut ulama yg arip bijaksana jauh dr iri dengki adu domba
abu muhammad naufal zaki
17 Jun 2010 [Permalink]
@ Sufi
kenapa kita pelit mengucapkan sholawat kepada Nabi shg harus disingkat SAW yg tdk ada artinya? kenapa lengan ini malas menuliskan shollollohu ‘alaihi wa sallam???? padahal kalian mengkaliam mencintai Nabi dg sholawatnya????
Mengapa kita tdk melihat Nabi ketika menafsirkan ayat yg memerintahkan sholawat kpd beliau? Mengapa bukan perbuatan sahabat yg ahli bhs arab dan fasih serta ahli syair yg tiada duanya, ketika turun ayat ini mereka tdk jumawa membuat sholawat sendiri ttp bertanya kepada Nabi Muhammad Shollollohu ‘alaihi wa sallam? Lalu mengapa kita tinggalkan ajaran nabi ttg sholawat kpd beliau sbgmn yg biasa kita ucapkan di dalam sholat? Lalu kita buat sholawat yg maknanya berisi kesyirikan???
Masya Alloh. . mereka ingin meninggikan sesuatu namun tidak tahu caranya shg yg timbul adalah merendahkan Nabi krn menyamakan beliau dg Alloh dalam beberapa keadaan pdhl ini jelas suatu kedustaan yg beliau shollollohu ‘alaihi wa sallam megingkarinya. . .