Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila anda mengetahui isinya dan menyaksikan adanya kesyirikan secara terang-terangan di dalamnya. Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut:”
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”
Syaikh berkata:
“Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman yang artinya:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).”
Beliau melanjutkan penjelasannya:
“Bagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya:
قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)
Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)
Beliau melanjutkan lagi penjelasannya:
“Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar tanpa perlu memberikan batasan bilangan sebagaimana yang disebutkan tadi. Sehingga bacaannya menjadi seperti ini:
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد التي تحل بها العقد
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Allati tuhillu bihal ‘uqadu (artinya ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)
Hal itu karena membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan. Mengapa kita membaca bacaan shalawat bid’ah ini yang hanya berasal dari ucapan makhluk biasa sebagaimana kita dan justru meninggalkan kebiasaan membaca shalawat Ibrahimiyah (yaitu yang biasa kita baca dalam shalat, pent) yang berasal dari ucapan Rasul yang Ma’shum?”
***
Penulis: Muhammad Jamil Zainu
Diterjemahkan oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

abudaniel
21 Jun 2010 [Permalink]
Sebuah amalan yang dianggap ibadah, hukum asalnya, menurut ushul fiqih, adalah haram. Entah itu shalat, shalawat, dzikir, dsb. Setiap yang haram akan tetap haram kecuali ada dalil yang menghalalkannya.Setiap ritual ibadah, apapun bentuknya, adalah hak preogatif Pembuat Syari’at untuk membuatnya. Baik dari segi bentuk, waktu, tempat dan caranya. Tidak ada yang boleh mengambil hak ini, syahdan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sekalipun. Jadi kalau kita sebagai manusia (biasa)membuat dan melakukan satu bentuk ritual ibadah (atau satu jenis syari’at baru), maka samalah artinya kita mengangkangi hak Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai Pembuat Syari’at.
Kembali kepada shalawat Nariyah, Tafrijiyah atau apapun namanya, mari kita lihat apakah shalawat-shalawat ini ada suruhannya yang disampaikan oleh Pembuat syari’at kepada kita melalui Pesuruhnya (Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam)?. Kalau shahih dari Beliau, silakan lakukan; tetapi kalau tidak, segera tinggalkan. Apalagi kalau shalawat-shalawat dan ritual-ritual tersebut hanya buatan manusia biasa, tidak peduli mereka itu bergelar ulama, kyai, kyai haji, habib, syech, Profesor, Doktor Agama Islam, dsb. Tinggalkan!. Walaupun banyak yang melakukannya. Belum tentu perkara/ritual ibadah yang banyak dilakukan oleh masyarakat adalah benar. Melakukan yang sedikit, tetapi shahih datang dari Allah Subhana wa ta’ala, jauh lebih baik daripada melakukan yang banyak tetapi buatan manusia yang tidak ada suruhannya.
Wassalam,
elmander
25 Jun 2010 [Permalink]
Sesungguhnya yg benar telah nyata, dan yg sesat telah nyata pula…
melihat komen2 di atas, nampak mana yang berilmu dan mana yg jahil & taklid buta
IQBAL
14 Aug 2010 [Permalink]
Assalamu’alaikum.Numpang nanya nih.Bagaimana kalau kita mendengarkan/memutar musik/lagu sholawat dengan tujuan cuma sekedar hiburan tanpa ada tujuan yang lain(beribadah).Mohon pencerahannya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
Abduh Tuasikal
14 Aug 2010 [Permalink]
Wa’alaikumus salam
@ Iqbal
Coba renungkan artikel berikut dg seksama:http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/saatnya-meninggalkan-musik.html
Semoga Allah beri taufik.
erika
22 Aug 2010 [Permalink]
ass… Kita umat muslim yg ingin mencari kebenaran sbaiknya berhati2, krn sedikit kemusyrikan di dalam hati disadari atw tdk, tidak ada ampun kec bertaubatan nasuha.. Jk memang sdh jelas dan nyata itu musyrik, lebih baik hindari, jika ragu, tinggalkan, apalagi rasulullah dalam riwayat tidak mengajarkan, kembalilah hanya kpd quran dan hadist.
Yg sy ketahui, shalawat yg diajarkan rasul ada shalawat ibrahimmiyah, lalu apa ada lagi selain itu? Untuk share dan menambah wawasan…
Lebih baik sedikit tapi benar dr Allah daripada bermacam2 jenis shalawat tp rasulullah tdk ajarkan, astaghfirullah…
Mustafa Adnani
18 Sep 2010 [Permalink]
to dennibtw, 9 June 2010 @5.54pm
Menyerahkan segalanya kepada Allah, tidak sebagaimana tradisi manusia ketika menyerahkan sesuatu kepada seseorang, lantas kita tidak bertanggung-jawab lagi kpd sesuatu itu,namun kita tetap bertanggung jawab thdp apa yg kita serahkan itu. Itulah perlunya ilmu. Allah tidak akan turun ke bumi menemui Anda untuk berserah-terima. Sebagaimana ayat QS41:30; Artinya: Sungguh orang-orang yg berkata (berdo’a): “Ya Allah, ya Tuhan kami”, kemudian mereka beristiqamah (berusaha keras berada pd pendiriannya), maka akan turun para malaikat (mengatakan):”Janganlah engkau takut dan bersedih hati, berbahagialah (kelak)dg kesenangan sebagaimana telah dijanjikan kpd-mu”. Pertanyaannya; Sudahkah/pernahkah Anda kedatangan malaikat yg mengatakan ungkapan seperti itu?. Selamat mengkaji.
Abu Muhammad Naufal Zaki
06 Oct 2010 [Permalink]
cukuplah bagiku sholawat yang diajarkan Nabi sebagai wujud kecintaanku kepada beliau. . . bukankah bukti seseorang mencintai itu adalah dia menyukai dan mengikuti apa yg diucapkan dan dilakukan yg dia cintai tsb????
darwin wafi
12 Oct 2010 [Permalink]
Ueleh-weleh2x sekarang sy baru tahu kalau syalawat nariyah itu bid’ah, kasihan amat sy, niatnya ingin beribadah dgn mengagungkan Rasululloh eh kenyataAnya mlh syirik. semoga Allah mengampuni dosa2sy dan menunjuki jln yg bnr didlm beragama..amiin. Kalaulah diriku ini merasa bth dgn kebodohan, manalah mungkin ku tahu kalau syalawat nariyah itu bid’ah, kalaulah hobyku tetap hanya mau ber taklid [tapi tdk mau ber i'tiba] mana mungkin ku bisa tahu hadis tersebut sohih atau tdk.
Al Balaidhana
24 Oct 2010 [Permalink]
# Antum : Inikan forum bidang agama. Yg disini sesama muslim lg. Muslim dg nasrani aja bs saling menghormati masa sesama muslim gak bisa. Berbeda pendapat itu biasa, namanya juga forum. Mbok ya bahasanya jangan seperti bahasa di pasar kalau ada yang berbeda. Walaupun ini adl dunia maya, tetapi juga ada tata kramanya dalam berbahasa. Bukan begitu mas/akh/mbak/ukh pengelola situs ini ?
Mas Pam
04 Nov 2010 [Permalink]
Asslm… Ustadz, Sebenarnya boleh tidah shalawat itu sambil dilagukan ?
Yoedhie
07 Nov 2010 [Permalink]
tolong jangan saling menyalahkan.
amin udin
07 Nov 2010 [Permalink]
Memang kita di suruh bersolawat kepada nabi Muhamad, tapi adakah hadist yang jelas2 meriwayatkan bahwa sholawat nariyah itu pernah diajarkan Rosul ( nabi muhammad )untuk mendatangkan rejeki / menjauhkan dari bencana ???????? . semoga kita termasuk orang2 yang d beri petunjuk jalan yang benar (seperti jalannya nabi Muhammad SAW)
Derajatm
07 Nov 2010 [Permalink]
Saya ingin bertanya, kalau saya membaca shalawat Nariyah apakah saya berdosa? bagaimana status saya apakah syirik dan menjadi kafir, atau fasik, munafik?
menurut teman-teman, lebih salaf manakah antara Ibnu Taimiyah dengan salah satu dari Imam berikut ini: Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik, Imam Abu Hanifah?
Syukron
Yulian Purnama
07 Nov 2010 [Permalink]
#Derajatm
Bershalawat dengan shalawat Nariyah adalah perbuatan bid’ah dan bid’ah itu terlarang, bahkan beresiko terjerumus dalam kemusyrikan. Namun pelakunya, belum tentu ahlul bid’ah, belum tentu musyrik apalagi kafir. Dalam Islam, vonis ahlul bid’ah, musyrik atau kafir itu tidak sembarang. Walau demikian bershalawat dengan shalawat Nariyah tetap terlarang.
Artikel di atas tidak menyinggung Ibnu Taimiyah, kenapa anda menanyakan demikian? Mereka semua ulama salafushalih. Dan perlu diketahui Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik, Imam Abu Hanifah tidak ada yang mengajarkan shalawat Nariyah.
hara
16 Nov 2010 [Permalink]
assalamu’alaikum ustadz,
sy pnh membaca bbrapa kali tntang shalawat tsb,ya memang bid’ah..alhamdulillah sy tdk pnh mengamalkanya..
Yang sya minta sya pnh mmbaca hadist shohih disitu tdpt shalawat yg diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam namun rupanya saya lupa.mhon dtampilkan shalawat yang shohih menurut hadist..syukron jazakumullah khairan katsiro..
Yulian Purnama
12 Dec 2010 [Permalink]
#hara
Wa’alaikumussalam,
Lafadz shalawat yang shahih adalah sebagaimana yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat. Ada beberapa lafadz, diantaranya dalam hadits berikut:
“Dari Abu Humaid As Sa’idi, bahwasanya para sahabat bertanya kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?’. Rasulullah bersabda: ‘Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
(HR. Bukhari 3369, Muslim 934)
Abu Yazid Nurdin
15 Dec 2010 [Permalink]
#Mas Pam
Wa’alaikumussalaam warahmatullaah. Tidak ada tuntunannya melagukan shalawat. Shalawat itu adalah do’a. Ucapkanlah shalawat sebagaimana mengucapkan do’a. Semoga Allah menerima amal-amal shalih kita.
iwan
10 Jan 2011 [Permalink]
sbenernya boleh ngmalkan sholawat nariyah Nggak sih. . . .
cz sholawat nariyah sering tak buat dzikir. . .
Abduh Tuasikal
12 Jan 2011 [Permalink]
@ Iwan
Silakan baca dengan seksama dan merenungkan kembali tulisan di atas. Moga Allah beri taufik.
Aqil Azizi
18 Jan 2011 [Permalink]
Benarkah Pengarang Shalawat Nariyah adalah seorang sahabat Nabi?
Dalam sebuah tulisan di internet, disebutkan:
Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan syekh nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut sholawat nariyah.
Suatu malam syekh nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti syekh nariyah. Namun nabi mengatakan tidak bisa karena syekh nariyah sudah minta terlebih dahulu.
Mengapa sahabat itu ditolak nabi? dan justru syekh nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh syekh nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabiNya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat. (http://www.indospiritual.com)
Kesimpulan, pengarang Shalawat Nariyah konon seorang bernama Syekh Nariyah, dan dia. termasuk Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin masuk surga oleh beliau.
Sebagai seorang Muslim mestinya tidak begitu saja menerima apa yang disampaikan padanya, tanpa klarifikasi dan penelitian, apalagi jika berkenaan dengan permasalahan agama.
Sekurang-kurangnya ada dua poin yang perlu dicermati dari cerita di atas :
1. Benarkah ada Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Syekh Nariyah ?
2. Dimanakah sumber kisah tentang Sahabat tersebut ? Dan adakah sanad (mata rantai periwayatan) nya ?
Adapun berkenaan dengan poin pertama, perlu diketahui bahwa biografi para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapatkan perhatian ekstra dari para Ulama Islam. Begitu banyak kitab yang mereka tulis untuk mengupas biografi para sahabat. Ada referensi yang ditulis untuk memaparkan biografi para sahabat beserta para Ulama sesudah mereka hingga zaman penulis, adapula referensi yang ditulis khusus untuk menceritakan biografi para sahabat saja. Diantara contoh model pertama : Hilyatul Auliya’ karya al-Hafizh Abu Nu’aim al-Asfahani (336-430 H) dan Tahdzibul Kamal karya al-Hafizh Abul Hajjaj al-Mizzi (654-742 H). Adapun contoh model kedua, seperti : a1-Isti’ab fi Ma’rifati1 Ash-hab karya al-Hafizh Ibn ‘Abdil Bar (368-463 H) dan al-Ishabatu fi Tamyizish Shahabah karya al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (773-852 H).
Setelah meneliti berbagai kitab di atas dan juga referensi biografi lainnya, yang biasa diistilahkan para Ulama dengan kutubut tarajim wa ath-thabaqat, ternyata tidak dijumpai seorang pun di antara Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Nariyah. Bahkan sepengetahuan kami, tidak ada seorang pun Ulama klasik yang memiliki nama tersebut. Lalu, dari manakah orang tersebut berasal ??
Sebenarnya, orang yang sedikit terbiasa membaca kitab Ulama, hanya dengan melihat nama tersebut beserta ‘gelar’ syaikh di depannya, akan langsung ragu bahwa orang tersebut benar-benar Sahabat Nabi. Karena penyematan ‘gelar’ syaikh di depan nama Sahabat -sepengetahuan kami- bukanlah kebiasaan para Ulama dan juga bukan istilah yang lazim mereka pakai, sehingga terasa begitu janggal di telinga.
Kesimpulannya : berdasarkan penelaahan kami, tidak ada sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Syekh Nariyah. Jadi penisbatan shalawat tersebut terhadap, Sahabat sangat perlu untuk dipertanyakan dan amat diragukan keabsahannya.
Adapun poin kedua, amat disayangkan penulis makalah di internet tersebut tidak menyebutkan sanad (mata rantai periwayatan) kisah yang ia bawakan, atau minimal mengisyaratkan rujukannya dalam menukil kisah tersebut. Andaikan ia mau menyebutkan salah satu dari dua hal di atas niscaya kita akan berusaha melacak keabsahan kisah tersebut, dengan meneliti para perawinya, atau merujuk kepada kitab aslinya. Atau barangkali kisah di atas merupakan dongeng buah pena penulis tersebut ? Jika, ya, maka kisah tersebut tidak ada nilainya; karena kisah fiksi, alias kisah yang tidak pernah terjadi !
Amat disayangkan, dalam hal yang berkaitan dengan agama, tidak sedikit kaum Muslimin sering menelan mentah-mentah suatu kisah yang ia temukan di sembarang buku dan internet, atau kisah yang diceritakan oleh tetangga, teman, guru dan kenalan, tanpa merasa perlu untuk mengcrosscek keabsahannya. Seakan-akan kisah itu mutlak benar terjadi! Padahal kenyataannya seringkali tidak demikian.
Untuk memfilter kisah-kisah palsu dan yang lainnya, Islam memiliki sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki agama lain, yaitu : Islam memiliki sanad (mata rantai periwayatan). Demikian keterangan yang disampaikan Ibn Hazm (384-456 H) dalam al-Fishal (Lihat, al-Fishal fi Al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal (2/221).) dan Ibnu Taimiyyah (661-728 H).( Lihat, Majmu’ al-Fatawal (1/9).)
Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak (118-181 H) pernah berkata, “Isnad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada isnad, seseorang akan bebas mengatakan apa yang dikehendakinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah Shahihnya (1/15))
(Dinukil dari majalah As-Sunnah edisi 06/Thn. XIV/Dzulqa’dah 1431H/Oktober 2010)
Maka, barangsiapa yang menyatakan bahwa shalawat Nariyah berasal dari seorang sahabat Nabi yang bernama Syaikh Nariyah, maka hendaklah ia mendatangkan bukti yang bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan agama. Jika tidak, maka janganlah ia berkata tanpa dasar ilmu.
Betapa banyak kaum muslimin yang meyakini demikian, khususnya di kalangan Nahdhiyin. termasuk saia dulu. Akan tetapi kebenaran tetaplah kebenaran. Ia lebih berharga dibandingkan harus ta’ashub kepada NU. Allahua’lam.
wisnu
23 Jan 2011 [Permalink]
Assalamualaikum wr. wb.
Alhamdulillah,
Saya baru menemukan website dan artikel-artikel yang bagus menurut saya dan bisa memberikan pendalaman ilmu tentang Islam. Saya hanyalah moslem awam, meski sudah sejak lahir saya Islam, tp saya merasa masih dangkal pengetahuan tentang Islam dan akhir2 ini saya sedang tertarik untuk mendalaminya, sedikit demi sedikit.
Namun sungguh terenyuh hati ini melihat perdebatan2 yg sering muncul seperti hal-nya diatas. Entah menurut anda sekalian, tapi menurut saya hal2 seperti inilah yg mendasari perpecahan umat Islam.
Perlu kita ingat semua saudaraku,meski kita bukan sedarah, se-ayah atau se-ibu, tp selagi dalam hati kita di ikat oleh kalimat “la ilaaha illallahu”, maka kita adalah saudara.
Sebagai saudara, memang kita disunahkan (bahkan mendekati wajib) saling mendo’akan bila jauh, silaturahmi jika berdekatan, mengingatkan akan hal-hal yg buruk, dan saling mengajak pada kebaikan. tapi semua hal tsb tentunya haruslah menghindari adanya perpecahan. Karena melakukan hal yg sunnah tentu tak boleh melanggar hal yang wajib. Dan sudah kita ketahui bersama Allah mengharamkan surganya untuk orang yang memutus tali silaturahmi, dan tentunya lebih parah kalo kita menyebabkan adanya perpecahan umat yang artinya lebih banyak tali silaturahmi yang terputus.
Untuk itu saya hanya bisa ingatkan, sah-sah saja kita kasih pendapat, boleh saja kita kasih masukan. namun jangan terkesan menyalahkan apalagi memang berniat menyalahkan, jangan pernah merasa paling benar dan apalagi saling memojokkan pihak2 yang tidak sepaham. Sungguh saudaraku, Allah yang maha benar… Allah yang maha suci…
Tentunya didalam agama kita juga mengatur tatacara ber-ijtihad, bagaimana menghadapi perbedaan, bagaimana menyampaikan pendapat dan lain sebagainya tanpa menimbulkan perpecahan. Coba kita sampaikan dengan bahasa sebaik-baiknya dan selembut2nya, karena Islam adalah agama yang penuh kelembutan. Dan Nabi Muhammad sendiri menyebarkan Islam dengan kelembutan bukan peperangan. Dan jika pendapat kita tidak diterima… maka janganlah bersakit hati dan jangan pula memaksakan pendapat. Setiap orang berhak dengan keyakinannya masing2… karena itu adalah hubungan manusia dgn Rabb-nya.
Sungguh mohon maaf, saya tidak bermaksud menggurui, karena tentunya ilmu Islam saya masih dangkal. Meski saya memang meyakini salah satu pihak yang diperdebatkan diatas, tapi tetap saya coba untuk berada pada posisi netral. Saya hanya mencoba mengingatkan saja, mohon maaf jika ada salah kata2.
Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan dari pengajian2 yang saya ikuti. 6.5 milyar penduduk bumi dan masih 1 milyar yang mengenal Islam, tentunya adalah kewajiban kita untuk mengenalkan sisanya. Karena semua manusia berhak untuk mengenalnya. Sudah sering kita promosikan diri kita, teman kita, perusahaan, barang dagangan kita dan lain sebagainya lewat internet. Marilah kita promosikan juga Allah, Agama-Nya, Rosul-Nya, Kitab-Nya dan Aqidah-Nya. Mungkin hal ini lebih penting dari pada kita berdebat yang berujung pada perpecahan. Allahu akbar…
Wassalamu’alaikum
hendroKusriadi
28 Jan 2011 [Permalink]
Hanya dari Allah SWT kebenaran itu datang nya…dan contoh yang baik adalah melihat, mendengar & membaca sunnah Rasulullah SAW
Ibnu Saleh
30 Jan 2011 [Permalink]
Assalaamu’alaykum.
Hukum asal ibadah adalah terlarang sebagaimana yang telah ma’ruf. Oleh karena itu kita membid’ahkan Yasinan, Tahlilan, dll karena salah satu sebabnya adalah ini termasuk bid’ah idhafiyyah. Begitu juga dengan maulid Nabi yang kita katakan sebagai bid’ah Haqiqiyyah walaupun para penggemar maulid berdalil dengan dalil2 umum semisal kecintaan kepada Rasulullah, dll maka diadakanlah maulid.
Nah, Lalu bagaimana dengan kita yang dicap Wahabi oleh mereka yang terus2an menulis lafazh shalawat seperti “shallallahu’alaihiwasallam” setelah penulisan nama Rasulullah dalam karya tulis kita misalnya. Apakah ini bid’ah? Apakah pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat mengenai hal ini? Apakah ada dalil khusus dalam hal ini? Bukankah yang diperintahkan adalah mengucapkan shalawat -bukan menulis- ketika nama Rasulullah disebut -misalnya-? Bukankah Rasulullah ketika mengirim surat ke Heraklius beliau tidak mencantumkan lafazh shalawat di belakang nama beliau?
Mohon dijawab. Ana sangat membutuhkan jawaban atas hal ini. Perlu anda ketahui -kalo anda kebetulan belum tahu- bahwa kalangan Mukhalif ‘berargumentasi’ dengan hal ini untuk melegalkan bid’ah mereka. Mereka berkata -yg intinya- bahwa Wahabi pun melakukan bid’ah semisal penulisan lafazh shalawat setelah nama Rasulullah dalam karya tulis mereka.
Jika antum mampu tolong hilangkan syubhat ini dari ana sebab sebagaimana yang dikatakan oleh Ustadz -yang kucintai/hormati- Abu ‘Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi bahwa menghilangkan syubhat dari seorang muslim sama dengan menghilangkan beban dari dirinya maka semoga Allah mengurangi beban anda di Hari Kiamat kelak.
Yulian Purnama
31 Jan 2011 [Permalink]
#Ibnu Saleh
Wa’alaikumussalam. Silakan anda buka kitab-kitab hadits apa saja, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At Timridzi, dll, anda akan senantiasa menemukan tulisan shalawat setelah penyebutan nama beliau.
Orang-orang yang membenci sunnah pun sebenarnya melakukan hal tersebut namun mereka sering menyingkatnya menjadi SAW, dan ini kurang beradab kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
Abu Hamzah
07 Feb 2011 [Permalink]
Virus taklid buta telah melanda ummat ini, ummat lebih percaya dengan perkataan kyai-nya meskipun telah datang dalil shohih kepadanya.
Na’udzublillah…
effendy
15 Mar 2011 [Permalink]
aku baru tau nih solawat nariyah ternyata enngak boleh yaa,.alhamdulillah aku dapt hidayah dari allah.,oh yaa sobat2 yang tau tentang murninya akidah tolong kirim apapun dech yang berisi topik2 aqidah murni.dan semoga allah memberi pahala buat kalian,dan melancarkan rizki buat kita.amin
alonk
29 Mar 2011 [Permalink]
@elmander: betul….betul….betul….
tanpa hadist-hadist yg shahih dan hasan dan tidak pernah di anjurkan Rasulullahn SWT dan di kerjakan oleh para sahabat, dan generasi setelahnya jgn d lakukan ….
syawal
16 Jun 2011 [Permalink]
Ya Allah…mohon bimbing kami memilih yang benar dan meninggalkan yang batil…amin
Ahmad
04 Jul 2011 [Permalink]
Ustadz Firanda menjawab :
@Ibnu Sholeh :Walaikumsalam
Berikut jawaban ana yang singkat (namun mohon maaf ana belum sempat melihat lebih lanjut perkataan para ulama tentang hal ini, mengingat waktu yang sempit) : Penulisan shallallahu ‘laihi wa sallam bukanlah bid’ah dari beberapa segi :
pertama : Surat yang ditujukan Nabi kepada Heraklius atau raja- raja yang lainnya adalah surat yang ditujukan Nabi kepada orang kafir. dan kita tahu bahwasanya orang kafir tidak disyari’atkan untuk bersholawat kepada Nabi. Nabi menulis surat kepada mereka agar mereka beriman. Oleh karenanya dalam perjanjian Hudaibiyyah bahkan Nabi menghapus kalimat Rasulullah atas permintaan kaum kafir Quraisy, sehingga Nabi hanya menulis Muhammad bin Abdillah.
Kedua : Kita mengikuti sunnah Nabi bisa dengan contoh perbuatan nabi atau dengan perkataan nabi meskipun tidak ada dalil yang shahih tentang praktek Nabi. sebagai contoh, Nabi menyunahkan seseorang untuk sholat isyrooq (yaitu setelah sholat subuh duduk menunggu hingga matahari terbit lalu sholat dua rakaat), hal ini datang dalam perkataan Nabi, namun sepanjang sepengetahuan ana (afwan ana belum sempat mengecek, siapa tahu ana keliru) yaitu tidak ada dalil yang shahih yang menunjukan praktek Nabi tersebut. dan saya rasa contoh untuk hal ini banyak. Nah ini juga cocok dengan pertanyaan antum, dimana taruhlah Nabi pernah menulis surat kepada seorang sahabat muslim, lalu Nabi menulis nama beliau tanpa ada sholawat (meskipun setahu ana inipun tidak pernah terjadi) maka kita katakan meskipun secara praktek tidak dilakukan Nabi akan tetapi dalil yang shorih menunjukan bahwa Nabi menjelaskan orang yang bakhiil (pelit) adalah orang yang tidak bershalawat tatkala disebutkan Namaku.
Ketiga : Demikian pula disyari’atkan untuk bersholawat kepada nabi tatkala berdoa (sebagaimana dalam hadits) akan tetapi tidak didapatkan nabi mempraktekan hal ini. Sebagaimana pula dalam hadits yang shahih nabi mensyari’atkan untuk bersahlawat tatkala dalam halaqoh, akan tetapi tidak ada dalil yang menunjukann praktek Nabi akan hal itu.
Keempat : Para ulama tatkala menulis sholawat maksudnya agar orang yang membaca bersholawat kepada nabi, sebagai pelaksanaan perintah nabi. oleh karenanya tidak mengapa seseorang menulis nama nabi tanpa menulis lafad sholawat jika kemudian sholawat tersebut ia ucapkan dengan lisannya mekipun tanpa ditulis
kelima : Para ulama telah ijmak tentang disunnahkan menuliskan shalawat setelah penulisan nama Nabi. dan ijmak merupakan salah satu sumber dalil, meskipun tidak penah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kesimpulan : Menuliskan sholawat bukanlah perkara bid’ah karena ada dalilnya dan itu adalah praktek para salaf, dan itu merupakan ijmak para ulama. adapun dalil bahwa nabi tidak pernah melakukannya dengan bukti bahwa nabi tatkala menulis surat ke heraklius tanpa bersholawat maka itu merupakan pendalilan yang kurang tepat karena surat tersebut ditujukan kepada orang kafir yang tidak disyariat’kan untuk bersholawat, bahkan mereka tidak tahu bahwasanya Muhammad adalah seorang nabi. Adapun bid’ah-bid’ah yang ada maka sama sekali tidak pernah dipraktekan oleh salaf, dan tidak ada dalil khusus yang menunjukan akan hal itu, dan tidak ada ijmak ulama akan hal itu. semoga bisa dipahami
http://www.firanda.com/index.php/artikel/31/93
Abu Mahmud
20 Aug 2011 [Permalink]
Bismillah
Tertarik dg komentar saudaraku Wisnu (23 Januari 2011) saya ingin mengingatkan bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla telah mensyariatkan adanya amar ma’ruf dan nahi munkar. Bahkan menjadi sebuah kezaliman bila seorang muslim mendiamkan kesalahan saudaranya semuslim. Maka hendaknya semua pihak bersikap bijak dan dewasa dalam proses saling menasihati ini.Dengan adanya dialog, diskusi, saling bertukar pengetahuan berupa dalil-dalil Al Qur’an dan As-Sunnah yang tentu saja harus dilandasi niat IKHLAS dan bertujuan demi mencari KEBENARAN yang paling sesuai/mendekati dalil-dalil dan praktek yang dicontohkan oleh Rosululloh dan para sahabatnya.
Tak mungkin dipungkiri bahwa praktek beragamanya Rosululloh dan para sahabat layak kita teladani dan telah terbukti mendapat barokah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala berupa tersebarnya dakwah Islam hingga luar Jazirah Arab, berwibawanya bendera Islam di mata negeri-negeri non-muslim kala itu. Dan perlu diingat bahwa para sahabat dan Nabi sendiripun senantiasa meluruskan kesalahan-kesalahan yg terjadi di kalangan masyarakat muslim kala itu agar kaum muslimin belajar dan memahami mana yang HAQ dan mana yang BATHIL.Tentu saja timbangan yang dipakai adalah ALQUR’AN dan As-SUNNAH SEBAGAIMANA YANG DIPAHAMI DAN DIPRAKTEKKAN OLEH ROSULULLOH TELADAN TERBAIK DAN PARA SAHABAT BELIAU yang rela mengorbankan segalanya demi tegaknya kalimat ALLOH di muka bumi. Sedikit menyitir perkataan seorang ikhwan : “Jangan kita suka benar sendiri, tapi ajaklah saudaramu agar kita benar bersama-sama” Barokallohu fiikum.
ahed
23 Aug 2011 [Permalink]
حديث: ((من جلس بعد صلاة الصبح يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلّى ركعتين كان له كأجر حجة وعمرة تامة تامة))؟[1]
هذا الحديث له طرق لا بأس بها، فيعتبر بذلك من باب الحسن لغيره، وتستحب هذه الصلاة بعد طلوع الشمس وارتفاعها قيد رمح، أي بعد ثلث أو ربع ساعة تقريباً من طلوعها.
——————————————————————————–
[1] أخرجها الترمذي في كتاب الجمعة، باب ذكر ما يستحب من الجلوس في المسجد بعد صلاة الفجر، برقم 535.
andre
05 Oct 2011 [Permalink]
Assalaamu’alaykum.
saya memberanikan diri untuk bertanya kepada saudara-saudara seiman sekaliayan,
tolong berikanlah kejelasan tentang benar tidaknya atau boleh tidaknya membaca shalawat nariyah sebab secara tidak langsung artikel ini mengusik iman saya
sebelumnya maaf, saya hanyalah seorang mualaf yang mencari kebenaran
terimakasih
Muhammad Nur Ichwan
07 Oct 2011 [Permalink]
@Bapak Andre
Waálaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.
Betapa senang hati kami karena Allah telah memberi hidayah kepada bapak Andre untuk memeluk Islam. Semoga Allah meneguhkan kami dan bapak Andre di atas Islam.
Bapak Andre yang kami hormati, perlu diketahui bahwa salah satu karakteristik agama Islam adalah agama ini merupakan agama yang paripurna (telah sempurna), tidak butuh penambahan apalagi pengurangan [Silahkan lihat surat al Maidah: 3]. Betapa banyak amalan-amalan ibadah yang telah dituntunkan oleh rasulullah shallallahu álaihi wa sallam dalam berbagai hadits yang shahih dan kesemua itu dipraktekkan oleh para sahabat beliau ridwanullah álaihim jamián. Kita sebenarnya tinggal mempraktekkannya.
Berangkat dari hal tersebut, para ulama menegaskan bahwa ibadah dalam islam bersifat tauqifiyah, berdasarkan dalil, baik dalil yang memerintahkan atau menganjurkan ibadah tersebut untuk dilakukan dan juga dalil yang menerangkan bagaimana cara ibadah tersebut dilakukan. Jika suatu ibadah memiliki dalil, baik dalil yang menganjurkan berikut menerangkan tata cara pelaksanaannya, maka dapat diketahui bahwa ibadah tersebut dituntunkan oleh rasulullah. Sebaliknya, jika keadaannya tidak demikian, maka ibadah tersebut dapat kita ketahui tidak dituntunkan rasulullah shallallahu álaihi wa sallam.
Terkait dengan shalawat nariyah, maka sampai saat ini kami belum menemukan shalawat tersebut tercantum dalam kitab-kitab hadits nabi shallallahu álaihi wa sallam, tidakpula kami pernah menemukan riwayat yang menerangkan para sahabat beliau mempraktekkan dengan membaca shalawat tersebut sebagaimana kaum muslimin di negeri kita ini mempraktekkannya. Hal ini belum memperhitungkan makna dari shalawat tersebut.
Walhasil, mengapa kita harus mempraktekkannya sementara nabi dan para sahabat tidak pernah menuntunkannya?
Terkait permasalahan ini, bapak Andre bisa membaca terlebih dahulu dua artikel di bawah ini
Agar Ibadah Diterima di Sisi Alloh
Dua Syarat Diterimanya Ibadah
Muhammad Ivo
19 Oct 2011 [Permalink]
assalamualaikum..
Awalnya, saya senang sekali dgn shalawat ini… tapi skrg saya RAGU, dan berniat meninggalkannya..
Saudara2ku, marilah kita gunakan logika sedrhana ini dlm membahas masalah shalawat ini yg sudah simpang siur :
1. Yg dibahas adalah ISI/BACAAN dlm shalawat, bukan baik-buruknya bershalawat. kesimpulan sederhana: shalawat itu baik, krn Nabi Muhammad membolehkannya
2. Dari perawi hadist2 terkenal spt Bukhari dan Muslim saja, tdk pernah menyebutkan mereka kenal dgn Syeikh Nariyah. Masa sih, selevel Bukhari dan Muslim gk kenal sama seorang Syeikh yg hidup di zaman nabi ??? level Syeikh gitu loh !!?? Kesimpulan sederhana : Diragukan sekali pernah hidup seseorang bernama Nariyah, yg jg seorang syeikh, mewasiatkan Shalawat ini kpd kaum muslimin.
3. Kalaupun benar ada seorang syeikh, bernama Syeikh Nariyah, yg hidup di zaman nabi, tolong jgn disebut dia sahabat nabi ! karena hidup di zaman nabi belum tentu menjadi sahabat nabi!
4. Shalawat ini sudah menjadi bahan perdebatan, alias abu2. kesimpulan sedrhana : didalam islam tidak ada yg ditengah2/abu2.. yg ada adalah yg haq dan yg bathil.. jika sesuatu itu meragukan/tidak jelas benar salahnya, maka lebih baik ditinggalkan
5. Ini khusus utk org yg CINTA BUTA. Nabi saja bilang, kalau kita ingin bershalawat, cukuplah shalawat spt yg kita baca dlm sholat. Kesimpulan sederhana : Sudah jelas2 nabi menganjurkan kita dgn shalawat yg sedrhana itu.. apakah itu msh tidak cukup ??? klu memang mau beramal/bertasbih.. apakah ayat Alquran yg jumlahnya ribuan itu tdk cukup jg utk diamalkan ??? jelas2 itu firman Allah.. Lebih baik baca Alquran daripada baca shalawat yg tidak jls kan ?? masuk akal gk sih ???
6. hal2 yg tdk jls spt ini adalah pintu masuk bagi musuh2 islam utk semakin menyesatkan kita.. berhati2lah.. jgn ikuti sesuatu yg tdk jls riwayatnya.. Cukup Alquran dan Hadist pegangan kita..
mohon maaf, bukan maksud menggurui, saya org bodoh, bukan santri, bukan Dai, apalgi Ustadz..
wassalam..
ardiansyah
24 Dec 2011 [Permalink]
Ingatlah:
“Katakanlah (Muhammad) : “Apakah mau Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya (amalnya) dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Q.S Al-Kahfi :103 – 104)
Allah berfirman:”Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(QS.Al Hasr:7)
“…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26 )
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda
”Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan nya tertolak.” (Hadits Shahih, Riwayat Muslim)
Dari Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Aku telah hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu’.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasâ`i]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).
Semoga kita semua mendapatkan hidayah dan petunjuk agar kita tetap berada dlm al haq