Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat?


Urusan klenik, memang sangat sulit dilepaskan dari kehidupan masyarakat kita. Animisme dan aroma perdukunan masih kental terasa, padahal ajaran Islam yang menyerukan tauhid sangat bertentangan dengan hal tersebut. Cobalah tengok salah satunya, tindakan sebagian masyarakat yang mengaku muslim, mereka menggunakan berbagai jimat demi melariskan barang dagangan atau melancarkan rezeki. Kocek pun dirogoh dalam-dalam hanya untuk mendapatkan jimat, yang dipercaya dapat mendatangkan rezeki yang berlebih.

Rezeki, Urusan yang Telah Ditentukan

Rezeki hanyalah berasal dari Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

“Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Faathir [35]: 3)

Abu Muhammad al Baghawi rahimahullah mengemukakan bahwa pertanyaan yang diajukan Allah dalam ayat ini berfungsi untuk menetapkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah yang mampu memberikan rezeki (Ma’alimut Tanzil 1/412). Sebagai satu-satunya Zat yang memberi rezeki, Allah telah menentukan kadar rezeki untuk setiap hamba-Nya, di antara mereka ada yang diberi kelapangan rezeki, sebagian lagi disempitkan rezekinya. Ada yang kaya, dan ada yang papa. Ada yang berlebih dan ada yang pas-pasan. Rezeki yang akan diperoleh seorang hamba di dunia ini, semenjak lahir hingga meninggal dunia telah ditetapkan dan ditentukan sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim bahwa Allah ta’ala telah memerintahkan malaikat-Nya untuk menetapkan empat perkara, dan diantaranya adalah kadar rezeki seseorang.

Ingin Rezeki Lancar? Jangan Ikuti Cara Syaitan!

Allah telah memberikan pedoman agar manusia dapat memperoleh kelapangan dan kelancaran rezeki. Berusaha kemudian bertawakal hanya kepada-Nya merupakan dua kunci sukses bagi pribadi muslim. Patut diperhatikan bahwa ‘berusaha’ yang dimaksud bukanlah dengan melakukan berbagai tindakan yang menyelisihi syariat demi mengejar keuntungan, kesuksesan tidaklah ditempuh dengan mengorbankan diri sehingga menuruti bujuk rayu syaitan.

Syaitan telah ‘menggodok’ berbagai strategi jitu lalu menawarkannya kepada manusia agar mereka tergoda dan terjerumus ke dalam penyimpangan dan dosa. Tidak terkecuali dalam urusan melancarkan rezeki, syaitan turut berperan aktif untuk menggelincirkan manusia dari jalan-Nya. Tidak sedikit manusia terkecoh dan rela diperbudak oleh syaitan, ada yang menempuh jalur penipuan agar bisa sukses, sebagian lagi ada yang merampok, mencuri dan ada yang menempuh jalur perdukunan. Metode terakhir ini sangat banyak yang melakukannya, mulai dari kalangan intelektual hingga mereka yang awam pendidikan terjangkiti ‘penyakit’ cinta perdukunan, anehnya tidak sedikit dari mereka yang berstatus muslim melakukan kesyirikan ini.

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf [12]: 106)

Jimat, Upaya Setan Menggelincirkan Bani Adam

Siapa sih yang tidak ingin sukses dan memperoleh keuntungan dalam bisnis dan profesi yang sedang digeluti? Sebagian besar dari kita tentulah ingin meraihnya. Dalam meraih kesuksesan, manusia terbagi ke dalam dua kategori, ada yang menempuh tangga kesuksesan dengan cara yang halal dan ada yang berkebalikan dengan hal itu, yaitu menempuh cara yang haram.

Seorang yang menggunakan jimat untuk meraih kekayaan termasuk dalam kategori yang diharamkan Islam. Banyak pejabat yang mendatangi ‘orang pintar’ (baca: dukun) untuk membeli jimat agar kekuasaannya langgeng. Di sisi lain, tidak sedikit para artis mendatangi paranormal (baca: para tidak normal) agar diberikan jimat sehingga ordernya tidak sepi dan dirinya tetap ‘laku’. Untuk yang satu ini, salah seorang teman pernah berkomentar, ‘Wah, udah profesinya merugikan masyarakat, pakai cara-cara yang gak benar lagi’. Jimat pun kerap digunakan oleh para pebisnis dan pedagang untuk menarik minat konsumen. Mulai dari ‘wiridan’ (baca: mantra-mantra yang diramu dengan bahasa arab atau dari sebagian ayat al-Qur’an namun prakteknya tidak dituntunkan dalam Islam), amalan-amalan yang tidak jelas asal-usulnya (seperti puasa pati geni, puasa ngebleng, dll) sampai celana dalam pun telah dijajal oleh mereka yang percaya akan keampuhan jimat dalam melariskan dagangan atau mendatangkan keuntungan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang mengalungkan jimat, maka dia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad 4/156, Thabrani dalam al Kabir 17/319 Syaikh Syu’aib al Arnauth dalam komentar beliau terhadap Musnad Ahmad 4/156, mengatakan sanad hadits ini kuat)

Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan bahwa orang yang mempercayai keampuhan jimat telah meyakini bahwa jimat itu mampu menolak ketentuan yang Allah tetapkan dan keyakinan seperti inilah yang menyebabkan seorang terjerumus ke dalam jurang kesyirikan (Faidlul Qadlir 6/180)

Jimat Mencederai Tawakal

Imam ath Thibi rahimahullah menyatakan salah satu keyakinan kaum musyrik jahiliyah adalah meyakini bahwa jimat sangat ampuh untuk menolak takdir yang telah ditetapkan bagi mereka, dan keyakinan yang demikian dapat menghilangkan tawakal dari jiwa seseorang (Faidhul Qadir 2/341)

Tawakal sendiri berarti penyandaran hati secara total kepada Allah ta’ala, baik dalam perkara dunia maupun akhirat (Hushulul Ma’mul hal. 83). Seorang yang bertawakal dengan benar kepada Allah dalam segala urusan akan meyakini bahwa segala perkara berada di bawah kekuasaan-Nya. Jika Allah menghendaki, maka pasti urusan tersebut akan terjadi. Jika Dia tidak menghendaki, maka tentu hal tersebut tidak akan terjadi. Setelah meyakini hal tersebut, maka dalam hatinya akan timbul rasa percaya terhadap Allah, lalu dia akan menempuh usaha yang sejalan dengan syariat dalam berbagai urusannya (Hushulul Ma’mul hal. 84)

Orang yang percaya dengan jimat tidak termasuk ke dalam kategori golongan yang bertawakal kepada Allah ta’ala, karena mereka lebih percaya kepada jimat tersebut ketimbang Allah ta’ala. Mereka lebih ‘pede’ ketika memakai jimat daripada melaksanakan tips yang dituntunkan Allah bagi para hamba-Nya dalam meraih kesuksesan. Oleh karena itu, para penggemar jimat akan diliputi kegelisahan dan kegundahan jika jimat mereka hilang atau telah memasuki ‘masa kadaluwarsa’. Hati mereka justru terpaut dengan jimat tersebut, hati mereka telah berpaling dari Allah ta’ala dan hidup mereka telah disandarkan pada jimat tersebut. Maka benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka dirinya akan sangat bergantung (baca: bertawakal) padanya” (HR. Tirmidzi 2072 dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib 3/192)

Rezeki Tidak Diraih Dengan Jimat

Rezeki hanya diperoleh dengan kerja keras, keuletan dan tawakal kepada Allah ta’ala, bukan dengan jimat. Beberapa fakta justru membuktikan kegagalan-lah yang akan ditemui oleh mereka yang bergantung pada jimat. Ada yang ludes harta bendanya karena telah mengeluarkan duit dalam jumlah yang banyak untuk memperoleh jimat yang ampuh sementara bisnisnya tak kunjung berhasil. Ada yang mendatangi dukun untuk memperoleh jimat, namun kebangkrutan yang dia temui. Bukan dirinya yang kaya, namun dukunlah yang kaya. Kok bisa kesuksesan dan rezeki dapat diperoleh dengan jimat? Kok bisa orang yang menggantungkan harapan kepada jimat bisa meraih kesuksesan?

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa seorang yang menggantungkan hati dan harapannya kepada sesuatu selain Allah justru akan menjadi golongan yang hina dan tidak akan memperoleh kebaikan (Badai’ul Fawaaid, 2/470). Di tempat lain, beliau menyatakan bahwa seorang yang demikian keadaannya, justru akan membuka pintu kehancuran dan kebinasaan bagi dirinya dan menutup pintu kesuksesan dan kebahagiaan (Thariqul Hijratain 1/29)

Oleh karena itu mereka yang percaya dan menggunakan jimat adalah orang yang merugi di dunia dan akhirat. Rugi di dunia, karena rezeki tidak kunjung datang kepada mereka. Kerugian di akhirat pun akan dia temui, karena dirinya termasuk golongan yang hina karena membiarkan hatinya bersandar, percaya dan bergantung pada jimat, sesuatu yang tidak mampu mendatangkan manfaat, tidak pula mudharat. Allah ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu? Atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menolak rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakal.” (QS. Az Zumar [39]: 38)

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat dan orang yang mengikuti mereka. Untaian puji hanyalah milik Allah.

Selesai ditulis pada tanggal 15 Dzulqa’dah 1428 H bertepatan dengan tanggal 24 November 2007.

***

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id

  • ulank

    penjelasanx top bgt, smoga ini bmanfaat bagi kt smua. Amin. . .

  • ramsyah said

    Assalamu ‘ alaikum,

    Rezeki (dalam tanda kutip) “harta kekayaan”, tidak ada hubungannya dengan pintar atau bodoh, rajin atau malas, Islam atau kafir.

    Ada orang yang pintar, rajin, berpendidikan, bekerja sekuat tenaga dari mulai bangun tidur sam menjelang tidur, taat dalam menjalankan ibadah, tapi tetap miskin harta.

    Sementara ada orang yang bodoh, malas, tidak pernah beribadah, sombong, angkuh, dan lain-lain, tapi secara materi terlihat kaya raya.

    Harta kekayaan itu cuma ujian, baik bagi yang bergelimang harta maupun yang miskin.

    Bagi orang kaya, maka harta itu akan mengantarkannya ke surga, jika diperoleh dan dipergunakan sesuai syariat.

    Bagi orang miskin, maka ia akan ke surga jika ia bersabar.

    Wassalamu ‘alaikum.

  • art

    Ass. wr. wb.

    Ada apa antara rejeki dan jimat?
    lho kok bisa begitu?
    ya bisa lah, tentu ada apa-apanya
    sugih tanpo bondo, begitu peribahasa suku jawa yang artinya Kaya tanpa harta
    lho kok bisa begitu?
    ya bisa lah, yang kaya itu hatinya, orangnya tenteram, orang yang dekat dengannya ikut temteram
    lho kok bisa begitu?
    ya biasa lah, kan dia punya jimat
    apa punya jimat ?! (terkejut)
    maaf jangan terkejut, kalau di jawa “jimat” singkatan siJI cerMAT yang artinya satu dicermati terus menerus, jangan asal-asalan
    apa.. yang.. dicermati…. utang? semakin banyak utang kan banyak hartanya
    Huss!!, ini serius, yang dicermati itu “AL QUR’AN”
    lho kok bisa begitu?
    jangan banyak bertanya, seperti umatnya nabi Musa AS, disuruh potong sapi betina, ya potong aja (jangan banyak tanya) sehingga untuk mencari sapi betina yang dimaksud susah didapat
    coba baca al qur’an dan cermati bagaimana caranya cari rejeki, ternyata mudah, orang muslim itu adalah orang yang suka silaturahmi, lihat itu semut kalau ketemu salaman.
    Bagaimana kita bisa punya rejeki kalau tidak punya kerjaan?, bagaimana punya kerjaan kalau kita tidak melamar?, bagaimana lamaran diterima kalau tidak silahturahmi?, … bagaimana dagangan mau laku kalau tidak ada yang datang?, bagaimana orang mau datang kalau tidak silahturahmi? dan seterusnya… gampang toh?
    saya dukung dakwah pak ustad sambung tali silahturahmi
    mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan

    Wassalam. wr. wb

  • afaries

    klo ke kyai trus di kasi rajah itu termasuk jimat jg ga ya…

  • EKo Guritno

    kalau dia rajin Dzikir,cuma kadang dia Sholatnya ada yang bolong.bahkan puasa Ramadhan pun dia bolong,apa itu benar.

  • http://cakfarid.wordpress.com farid g

    Ini artikel yang lagi saya cari2.
    mohon ijin ustad untuk saya copy paste di blog saya.
    Dan saya sebarkan di milist … :)

    Semoga dapat menyambung dan menyebarkan dakwah ustadz.

  • widiya

    apabila kita tawakal dengan menggunakan jimat dan kita menganggap jimat adalah perantara dari Allah. apakah pemikiran tersebut salah?

  • Widji Sri Rahayu

    Ass, Ustad M.Nur saya sangat senang dengan tulisan ustad, tapi ada satu hal yang harus di ingat oleh kita sebagai umat muslim, bahwa setiap orang yg akan mendapat rezeki yang banyak, maka cobaan yang akan di dapatkannya juga pasti banyak. Hanya Keyakinan kita kepada Allah,yang bisa mendampingi kita untuk mendapatkan rezeki sebagaimana yang kita harapkan.Tapi sayangnya banyak saudara-saudara kita yang muslim yang tidak sabar, sehingga memilih jalan setan. Astagfirrullah…,wass.

  • Ayi Rachman

    Assalamu’alaikum!!! bimbing kami mencari rezeki yang banyak dan berkah di jalan Allah SWT untuk bekal hidup di dunia dan akhirat !!!Terimakasih Wassalam

  • subagyo

    bagai mana cara menghilangkan klenik yg dikirim oleh seseorang untuk mematikan usaha secara islami ?

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Subagyo
      1. Rutinlah membaca quran di rumah, agar rumah tdk seperti kuburan.
      2. Rutinkan dzikir pagi sore. Di dalamnya ada dzikir: baca ayat kursi 1x, baca al ikhlas, al falaq, an naas masing2 3x
      3. Seringlah shalat sunnah di rumah.
      4. Banyaklah menyandarkan hati dan memohon pertolongan dari Allah yang akan melepaskan berbagai kesulitan.

  • Pingback: Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat? | MUSHOLLA ASSALAAM

  • Pingback: ADA APA ANTARA REZEKI DAN JIMAT ? | Lembaga Dakwah Adjhis

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.