<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Pentingnya Tauhid (1)</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 14:39:11 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<item>
		<title>Oleh: amat</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-60895</link>
		<dc:creator>amat</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Sep 2010 11:30:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-60895</guid>
		<description>Jazakallah
izin membagikan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jazakallah<br />
izin membagikan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ummukhansa</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-53160</link>
		<dc:creator>ummukhansa</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 04:29:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-53160</guid>
		<description>izin copast ya..jzklh khair</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>izin copast ya..jzklh khair</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Junet K</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-50450</link>
		<dc:creator>Junet K</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 03:14:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-50450</guid>
		<description>Tantangan bertaukhid di jaman sekarang memang besar sekali, tapi kita tetap harus bisa mempertahankan ketauhidan kita.
terima kasih artikelnya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tantangan bertaukhid di jaman sekarang memang besar sekali, tapi kita tetap harus bisa mempertahankan ketauhidan kita.<br />
terima kasih artikelnya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: tarkim</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-42080</link>
		<dc:creator>tarkim</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 18:04:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-42080</guid>
		<description>trimakasih artikelna, smoga bermanfaat bagi umat..amiin
mohon izin copy ya..nuhun</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>trimakasih artikelna, smoga bermanfaat bagi umat..amiin<br />
mohon izin copy ya..nuhun</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: abu faisal</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-28388</link>
		<dc:creator>abu faisal</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 07:09:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-28388</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum

Buat akhi armand, sebenarnya tidak hanya majapahit, ada kekaisaran Cina, Mongolia, Inggris Raya, Romawi, Persia, Alexander dll.

Kenapa mereka bisa jaya? Simpel saja pak, karena mereka lebih kuat, lebih hebat strateginya, lebih modern persenjataannya dibanding negeri2 lain pada masa mereka. Dan lawan mereka adalah sesama orang kafir, jadi disini sunnah kauniyah / hukum sebab-akibat berlaku. Siapa yg lebih kuat dia akan menang, jika sama2 kuat siapa yg lebih cerdik dia menang. Maka tidak dikenal dlm sejarah kerajaan2 itu, yang lemah menang melawan yg kuat. (Ingat, majapahit bs mengalahkan kediri dg bantuan tentara China)

Maka jika pertanyaannya bisakah Indonesia berjaya seperti majapahit dimasa lalu? jawabnya bisa, dengan cara sebagaimana yg ditempuh majapahit, dan lawan yg setipe dengan majapahit (sama-sama kafirnya)

Namun jika pertanyaannya bisakah kita mencapai kemenangan sebagaimana badar (300-an dg senjata sederhana vs 1000an senjata lengkap) atau mu&#039;tah (3000an vs 200rb-an dan korban dr muslimin hanya belasan orang) atau semacamnya, dan jikalau kalah hanya seperti perang Uhud, maka tunjukkanlah kepadaku akhi, manakah negeri yg bs seperti itu? Maka adakah sejarah mencatat, seorang super cerdik dr kaum kafirin yg berusaha menyerang 200rb-an orang bersenjata lengkap, dg panglima perang berpengalaman dengan bermodal 3rb orang bersenjata sederhana?

Barangsiapa ingin menggapai kejayaan dunia, maka tidaklah harus dia meraihnya dari Islam ketika kaum muslimin jauh dari agamanya. Siapa yg ingin menggapai kejayaan dunia dan akhirat, maka adakah jalan yg lebih baik dari yang diajarkan Allah? Adakah yg lebih tepat janjinya dibanding Allah Jalla a &#039;Ala?

Maka terserah kitalah semua pilihan. Akan tetapi satu yg pasti, tidak mungkin Islam ini jaya, kecuali dengan cara yg Allah tentukan (yaitu mengikuti manhaj salfusholih). Dan pasti hina umat Islam, ketika meninggalkan manhaj salafusholih sebagaimana yg Allah ancamkan. Maka adakah yg tahu, bagaimana melawan kehinaan yg Allah timpakan? Jika tidak ada yg tahu, taatilah cara yg Allah berikan maka Allah akan mengganti kehinaan ini menjadi kejayaan

Wallahu A&#039;lam

Wassalamu&#039;alaikum</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Buat akhi armand, sebenarnya tidak hanya majapahit, ada kekaisaran Cina, Mongolia, Inggris Raya, Romawi, Persia, Alexander dll.</p>
<p>Kenapa mereka bisa jaya? Simpel saja pak, karena mereka lebih kuat, lebih hebat strateginya, lebih modern persenjataannya dibanding negeri2 lain pada masa mereka. Dan lawan mereka adalah sesama orang kafir, jadi disini sunnah kauniyah / hukum sebab-akibat berlaku. Siapa yg lebih kuat dia akan menang, jika sama2 kuat siapa yg lebih cerdik dia menang. Maka tidak dikenal dlm sejarah kerajaan2 itu, yang lemah menang melawan yg kuat. (Ingat, majapahit bs mengalahkan kediri dg bantuan tentara China)</p>
<p>Maka jika pertanyaannya bisakah Indonesia berjaya seperti majapahit dimasa lalu? jawabnya bisa, dengan cara sebagaimana yg ditempuh majapahit, dan lawan yg setipe dengan majapahit (sama-sama kafirnya)</p>
<p>Namun jika pertanyaannya bisakah kita mencapai kemenangan sebagaimana badar (300-an dg senjata sederhana vs 1000an senjata lengkap) atau mu&#8217;tah (3000an vs 200rb-an dan korban dr muslimin hanya belasan orang) atau semacamnya, dan jikalau kalah hanya seperti perang Uhud, maka tunjukkanlah kepadaku akhi, manakah negeri yg bs seperti itu? Maka adakah sejarah mencatat, seorang super cerdik dr kaum kafirin yg berusaha menyerang 200rb-an orang bersenjata lengkap, dg panglima perang berpengalaman dengan bermodal 3rb orang bersenjata sederhana?</p>
<p>Barangsiapa ingin menggapai kejayaan dunia, maka tidaklah harus dia meraihnya dari Islam ketika kaum muslimin jauh dari agamanya. Siapa yg ingin menggapai kejayaan dunia dan akhirat, maka adakah jalan yg lebih baik dari yang diajarkan Allah? Adakah yg lebih tepat janjinya dibanding Allah Jalla a &#8216;Ala?</p>
<p>Maka terserah kitalah semua pilihan. Akan tetapi satu yg pasti, tidak mungkin Islam ini jaya, kecuali dengan cara yg Allah tentukan (yaitu mengikuti manhaj salfusholih). Dan pasti hina umat Islam, ketika meninggalkan manhaj salafusholih sebagaimana yg Allah ancamkan. Maka adakah yg tahu, bagaimana melawan kehinaan yg Allah timpakan? Jika tidak ada yg tahu, taatilah cara yg Allah berikan maka Allah akan mengganti kehinaan ini menjadi kejayaan</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: abu yusuf</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-28151</link>
		<dc:creator>abu yusuf</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 08:46:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-28151</guid>
		<description>Bismillah,

@Armand Saudaraku

Antum tidak salah ketika mengatakan bahwa Allah memberikan kemenangan terhadap orang kafir atau negara kafir, karena itu sebuah bentuk dari azab Allah kepada kaum muslimin ketika mereka semakin jauh dari Al Qur&#039;an dan As Sunnah.

Coba kita lihat jaman jahiliyyah dulu, sebelum agama tauhid ini masuk, bukankah di berbagai belahan dunia dikuasai oleh orang kafir ?, lalu ketika Nabi Shallallahu &#039;Alaihi wa Salam menyiarkan islam, dan umat berbondong-bondong masuk ke dalam dien ini, maka Allah menimpakan kepada mereka kemenangan, walaupun jumlah mereka sedikit.

Sudah masyhur kisah perang Badr...300an orang melawan ribuan musyrikin...Allah menimpakan kemenangan kepada kaum muslimin, sebab mereka mematuhi Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian pada perang Uhud, Allah menimpakan kekalahan kepada kaum muslimin, sebab sebagian dari mereka tidak mentaati Rasulullah Shallallahu &#039;Alaihi wa Salam. Walaupun setelah itu Allah memberikan kepada mereka kemenangan.

Apabila pada waktu perang Uhud kaum muslimin ditimpa kekalahan karena ada sebagian orang yang tidak mematuhi Allah dan Rasul-Nya (masalah ghanimah), maka bagaimana dengan jaman sekarang ?, 
dimana banyak kaum muslimin yang semakin jauh dari agama, menyelisihi banyak perintah Allah dan Rasul-Nya, meracuni aqidah mereka dengan syirik, bid&#039;ah, khurafat, dsb
Tentu Kemalangan atau kekalahan yang di timpakan kepada kaum muslimin lebih besar lagi...lebih dahsyat lagi.

Ketahuilah bahwa dunia beserta isinya, termasuk didalamnya ciptaan Allah yang berupa kekafiran, kesesatan, dsb adalah cobaan bagi setiap orang-orang mukmin.
Yang menjadi Obyek untuk menerima ujian atau cobaan adalah orang-orang mukmin, sedangkan orang-orang kafir diciptakan sebagai salah satu bahan ujian untuk orang-orang mukmin.

Oleh karena itu jauh dekatnya kaum muslimin dari Al Qur&#039;an dan As Sunnah, menjadi patokan besar kecilnya cobaan yang ditimpakan kepada mereka, semakin jauh mereka dari Al Qur&#039;an dan As Sunnah, semakin kuat kuku-kuku orang kafir mencengkeram mereka.

Sultan Shalahuddin Al Ayyubi -rahimahullah- ketika sedang berjalan pada malam hari di bentengnya mengatakan :

&quot;dari sinilah kemenangan akan datang&quot; (ketika beliau menjumpai sebagian pasukannya sedang menunaikan shalat malam)

lalu beliau menjumpai sebagian pasukannya sedang tertidur lelap. maka beliau berkata &quot;dari sinilah kekalahan akan datang&quot;

Beliau juga pernah berkutbah di depan pasukannya :
&quot;Janganlah kalian bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya kita mengharapkan kemenangan dari Allah atas maksiat yang mereka (musuh) lakukan&quot;

Kita tahu bahwa yang sedang di hadapi oleh Sultan Salahuddin adalah orang-orang kafir (pasukan salib), orang-orang yang melakukan sebesar-besarnya maksiat (menyekutukan Allah), orang-orang yang melampaui batas, orang-orang yang kekal di dalam neraka.

Tapi kenapa Sultan Salahuddin berkutbah seperti itu ?
Bukankah maksiat yang dilakukan kaum muslimin jauh lebih kecil dari yang dilakukan oleh orang kafir (menyekutukan Allah) ?
Kenapa tidak dikatakan kepada kaum muslimin,
&quot;Tenang saja, kita pasti menang melawan mereka, walopun kita mencuri, berzina, judi, dsb...yang penting kita tidak menyekutukan Allah...&quot; ??

Al Qur’an dan As Sunnah diturunkan sebagai pedoman hidup orang-orang yang beriman, perintah dan larangan yang ada di dalamnya ditujukan khusus untuk orang-orang yang beriman, dan dengan itu pula Allah menguji keimanan mereka.. 
Apabila mereka taat maka Allah akan menimpakan kejayaan kepada mereka, sedangkan apabila mereka berbuat maksiat, maka balasannya setimpal dengan maksiat yang mereka lakukan, dan Allah sekali-kali tidak berbuat zhalim, akan tetapi mereka yang menganiaya diri sendiri.

Kejayaan hanya bisa dicapai dengan kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, bukan dengan sebab yang lain, coba tanyakan pada diri kita, apa yang tidak dimiliki oleh para Shahabat r.a. ??
Kejayaan, kemuliaan, keagungan ada dalam genggaman mereka, dunia mengikuti mereka seperti seorang budak yang patuh kepada tuannya, jasad mereka berjalan dibumi, tetapi hati mereka tergantung di langit.

Bandingkan dengan realita yang terjadi sekarang, kaum muslimin semakin jauh dari Al Qur’an dan As Sunnah, semakin meniru kebiasaan-kebiasaan mereka (orang kafir), mulai dari cara berpakaian, perilaku, cara beragama, ibadah..dsb, sungguh benar apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam, bahwa umat ini perlahan-lahan akan mengikuti mereka (orang kafir), sampai-sampai ketika mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun akan kita ikuti. 
Dalam QS. an-Nur : 55, Allah berfirman,
 “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengamalkan amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepadaku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”
Perhatikan baik-baik, ayat diatas merupakan kunci kejayaan umat ini, dan Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.
“Tidak akan menjadi jaya umat islam yang sekarang ini, kecuali dengan segala sesuatu yang menjadikan jaya umat terdahulu”

Wallohu ta’ala a’lam


Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua, agar umat ini kembali berjaya seperti dulu.amin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah,</p>
<p>@Armand Saudaraku</p>
<p>Antum tidak salah ketika mengatakan bahwa Allah memberikan kemenangan terhadap orang kafir atau negara kafir, karena itu sebuah bentuk dari azab Allah kepada kaum muslimin ketika mereka semakin jauh dari Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</p>
<p>Coba kita lihat jaman jahiliyyah dulu, sebelum agama tauhid ini masuk, bukankah di berbagai belahan dunia dikuasai oleh orang kafir ?, lalu ketika Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Salam menyiarkan islam, dan umat berbondong-bondong masuk ke dalam dien ini, maka Allah menimpakan kepada mereka kemenangan, walaupun jumlah mereka sedikit.</p>
<p>Sudah masyhur kisah perang Badr&#8230;300an orang melawan ribuan musyrikin&#8230;Allah menimpakan kemenangan kepada kaum muslimin, sebab mereka mematuhi Allah dan Rasul-Nya.<br />
Kemudian pada perang Uhud, Allah menimpakan kekalahan kepada kaum muslimin, sebab sebagian dari mereka tidak mentaati Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Salam. Walaupun setelah itu Allah memberikan kepada mereka kemenangan.</p>
<p>Apabila pada waktu perang Uhud kaum muslimin ditimpa kekalahan karena ada sebagian orang yang tidak mematuhi Allah dan Rasul-Nya (masalah ghanimah), maka bagaimana dengan jaman sekarang ?,<br />
dimana banyak kaum muslimin yang semakin jauh dari agama, menyelisihi banyak perintah Allah dan Rasul-Nya, meracuni aqidah mereka dengan syirik, bid&#8217;ah, khurafat, dsb<br />
Tentu Kemalangan atau kekalahan yang di timpakan kepada kaum muslimin lebih besar lagi&#8230;lebih dahsyat lagi.</p>
<p>Ketahuilah bahwa dunia beserta isinya, termasuk didalamnya ciptaan Allah yang berupa kekafiran, kesesatan, dsb adalah cobaan bagi setiap orang-orang mukmin.<br />
Yang menjadi Obyek untuk menerima ujian atau cobaan adalah orang-orang mukmin, sedangkan orang-orang kafir diciptakan sebagai salah satu bahan ujian untuk orang-orang mukmin.</p>
<p>Oleh karena itu jauh dekatnya kaum muslimin dari Al Qur&#8217;an dan As Sunnah, menjadi patokan besar kecilnya cobaan yang ditimpakan kepada mereka, semakin jauh mereka dari Al Qur&#8217;an dan As Sunnah, semakin kuat kuku-kuku orang kafir mencengkeram mereka.</p>
<p>Sultan Shalahuddin Al Ayyubi -rahimahullah- ketika sedang berjalan pada malam hari di bentengnya mengatakan :</p>
<p>&#8220;dari sinilah kemenangan akan datang&#8221; (ketika beliau menjumpai sebagian pasukannya sedang menunaikan shalat malam)</p>
<p>lalu beliau menjumpai sebagian pasukannya sedang tertidur lelap. maka beliau berkata &#8220;dari sinilah kekalahan akan datang&#8221;</p>
<p>Beliau juga pernah berkutbah di depan pasukannya :<br />
&#8220;Janganlah kalian bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya kita mengharapkan kemenangan dari Allah atas maksiat yang mereka (musuh) lakukan&#8221;</p>
<p>Kita tahu bahwa yang sedang di hadapi oleh Sultan Salahuddin adalah orang-orang kafir (pasukan salib), orang-orang yang melakukan sebesar-besarnya maksiat (menyekutukan Allah), orang-orang yang melampaui batas, orang-orang yang kekal di dalam neraka.</p>
<p>Tapi kenapa Sultan Salahuddin berkutbah seperti itu ?<br />
Bukankah maksiat yang dilakukan kaum muslimin jauh lebih kecil dari yang dilakukan oleh orang kafir (menyekutukan Allah) ?<br />
Kenapa tidak dikatakan kepada kaum muslimin,<br />
&#8220;Tenang saja, kita pasti menang melawan mereka, walopun kita mencuri, berzina, judi, dsb&#8230;yang penting kita tidak menyekutukan Allah&#8230;&#8221; ??</p>
<p>Al Qur’an dan As Sunnah diturunkan sebagai pedoman hidup orang-orang yang beriman, perintah dan larangan yang ada di dalamnya ditujukan khusus untuk orang-orang yang beriman, dan dengan itu pula Allah menguji keimanan mereka..<br />
Apabila mereka taat maka Allah akan menimpakan kejayaan kepada mereka, sedangkan apabila mereka berbuat maksiat, maka balasannya setimpal dengan maksiat yang mereka lakukan, dan Allah sekali-kali tidak berbuat zhalim, akan tetapi mereka yang menganiaya diri sendiri.</p>
<p>Kejayaan hanya bisa dicapai dengan kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, bukan dengan sebab yang lain, coba tanyakan pada diri kita, apa yang tidak dimiliki oleh para Shahabat r.a. ??<br />
Kejayaan, kemuliaan, keagungan ada dalam genggaman mereka, dunia mengikuti mereka seperti seorang budak yang patuh kepada tuannya, jasad mereka berjalan dibumi, tetapi hati mereka tergantung di langit.</p>
<p>Bandingkan dengan realita yang terjadi sekarang, kaum muslimin semakin jauh dari Al Qur’an dan As Sunnah, semakin meniru kebiasaan-kebiasaan mereka (orang kafir), mulai dari cara berpakaian, perilaku, cara beragama, ibadah..dsb, sungguh benar apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam, bahwa umat ini perlahan-lahan akan mengikuti mereka (orang kafir), sampai-sampai ketika mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun akan kita ikuti.<br />
Dalam QS. an-Nur : 55, Allah berfirman,<br />
 “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengamalkan amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepadaku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”<br />
Perhatikan baik-baik, ayat diatas merupakan kunci kejayaan umat ini, dan Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.<br />
“Tidak akan menjadi jaya umat islam yang sekarang ini, kecuali dengan segala sesuatu yang menjadikan jaya umat terdahulu”</p>
<p>Wallohu ta’ala a’lam</p>
<p>Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua, agar umat ini kembali berjaya seperti dulu.amin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-28127</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 04:15:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-28127</guid>
		<description>Mas Abdul Jabar,
Pemain basket dunia beralih menjadi komentator? :)

Artinya kita mahfum di satu titik, bahwa kerajaan Majapahit yg sy contohkan pernah mengalami masa-masa kejayaannya.  Lama atau tidak relatif dan subjektif bukan?
Fokus yang ingin sy tanyakan adalah mengapa kerajaan Majapahit mampu memenangi banyak pertempuran dan mengalami kejayaan, padahal sementara itu mereka melakukan kesyirikan?  
Jika kemudian Majapahit mengalami kehancuran, alasan tentu bukan karena kesyirikan, karena dengan kesyirikan pun mereka mengalami kejayaan.

Jadi jika kita bandingkan seperti ini;
Islam pernah mengalami kejayaan.  Majapahit pernah mengalami kejayaan.  Apa yg menjadikan keduanya pernah jaya?  Ketidaksyirikankah? Pasti bukan.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Abdul Jabar,<br />
Pemain basket dunia beralih menjadi komentator? :)</p>
<p>Artinya kita mahfum di satu titik, bahwa kerajaan Majapahit yg sy contohkan pernah mengalami masa-masa kejayaannya.  Lama atau tidak relatif dan subjektif bukan?<br />
Fokus yang ingin sy tanyakan adalah mengapa kerajaan Majapahit mampu memenangi banyak pertempuran dan mengalami kejayaan, padahal sementara itu mereka melakukan kesyirikan?<br />
Jika kemudian Majapahit mengalami kehancuran, alasan tentu bukan karena kesyirikan, karena dengan kesyirikan pun mereka mengalami kejayaan.</p>
<p>Jadi jika kita bandingkan seperti ini;<br />
Islam pernah mengalami kejayaan.  Majapahit pernah mengalami kejayaan.  Apa yg menjadikan keduanya pernah jaya?  Ketidaksyirikankah? Pasti bukan.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Abdul Jabbar</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-28079</link>
		<dc:creator>Abdul Jabbar</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 07:31:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-28079</guid>
		<description>Mas Armand, jika Anda baca kisah Majapahit maka Anda akan mendapatkan kenyataan bahwa kejayaan kerajaan tersebut tidak berlangsung lama. Tragedi berdarah dan berbagai huru-hara tidak pernah lepas dari Majapahit. Saya yakin Anda juga membaca kisah pahit tentang berakhirnya kerajaan Majapahit :) 

Sejarah sudah membuktikan bahwa suatu negara yang penuh dengan kesyirikan tidak akan berlangsung lama. Sekian abad Romawi, Yunani dan Persia menjadi negara besar dan jaya, namun sekarang tenggelam dengan akhir yang mengenaskan...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Armand, jika Anda baca kisah Majapahit maka Anda akan mendapatkan kenyataan bahwa kejayaan kerajaan tersebut tidak berlangsung lama. Tragedi berdarah dan berbagai huru-hara tidak pernah lepas dari Majapahit. Saya yakin Anda juga membaca kisah pahit tentang berakhirnya kerajaan Majapahit :) </p>
<p>Sejarah sudah membuktikan bahwa suatu negara yang penuh dengan kesyirikan tidak akan berlangsung lama. Sekian abad Romawi, Yunani dan Persia menjadi negara besar dan jaya, namun sekarang tenggelam dengan akhir yang mengenaskan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-28075</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 06:08:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-28075</guid>
		<description>Maaf, ada yg ingin sy koreksi dari pernyataan Ustadz di atas.  Yakni Ustdaz mengatakan bahwa keberhasilan pemerintahan Islam dahulu di jaman sahabat dan tabi&#039;in adalah dikarenakan ketauhidan (lawan dari syirik) mereka sehingga banyak negeri yg takluk dan bergabung serta menyatakan keislaman mereka.  Benarkah demikian bahwa ketidaksyirikan para sahabat dan tabiin yang menyebabkan kemenangan sehingga Ustadz menyatakan di akhir kalimat:

&quot;Namun sangat disayangkan, kenyataan umat Islam di zaman ini yang diliputi kebodohan bahkan dalam masalah tauhid! Maka pantaslah kalau kekalahan demi kekalahan menimpa pasukan Islam di masa ini. Ini menunjukkan bahwa ada yang salah dalam akidah&quot;

Jika demikian halnya, maka seharusnya kemenangan peperangan dan kebesaran negeri tidak mungkin didapat oleh negeri yang melakukan kesyirikan.  Benar bukan?
Namun ternyata banyak sekali contoh negeri-negeri yg pernah mendapatkan kemakmuran dan berlawanan dengan pernyataan Ustadz di atas.  Di negeri ini saja sebelum Islam dikenal, dimana penyembahan terhadap berhala masih merajai, pernah terdapat pemerintahan yg konon sangat terkenal dan makmur.  Peperangan-peperangan selalu dimenangkan.  Daerah-daerah lain bahkan negeri-negeri tetangga pun ditaklukan.  Salah satunya adalah kerajaan Majapahit.  Apa yang ingin kita tafsirkan dengan kenyataan ini?  Beragama tauhidkah mereka?  Tidak syirikkah mereka?
Selain itu juga banyak contoh-contoh lain sebagaimana maklum.
Jadi menurut saya, kemenangan demi kemenangan yg diperoleh oleh pemerintah Islam jaman dahulu adalah tidak ada kaitannya dengan kesyirikan atau keaqidahan yang lemah.  Banyak faktor yg menyebabkannya dan terlalu sempit jika dihubungkan dengan keaqidahan.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf, ada yg ingin sy koreksi dari pernyataan Ustadz di atas.  Yakni Ustdaz mengatakan bahwa keberhasilan pemerintahan Islam dahulu di jaman sahabat dan tabi&#8217;in adalah dikarenakan ketauhidan (lawan dari syirik) mereka sehingga banyak negeri yg takluk dan bergabung serta menyatakan keislaman mereka.  Benarkah demikian bahwa ketidaksyirikan para sahabat dan tabiin yang menyebabkan kemenangan sehingga Ustadz menyatakan di akhir kalimat:</p>
<p>&#8220;Namun sangat disayangkan, kenyataan umat Islam di zaman ini yang diliputi kebodohan bahkan dalam masalah tauhid! Maka pantaslah kalau kekalahan demi kekalahan menimpa pasukan Islam di masa ini. Ini menunjukkan bahwa ada yang salah dalam akidah&#8221;</p>
<p>Jika demikian halnya, maka seharusnya kemenangan peperangan dan kebesaran negeri tidak mungkin didapat oleh negeri yang melakukan kesyirikan.  Benar bukan?<br />
Namun ternyata banyak sekali contoh negeri-negeri yg pernah mendapatkan kemakmuran dan berlawanan dengan pernyataan Ustadz di atas.  Di negeri ini saja sebelum Islam dikenal, dimana penyembahan terhadap berhala masih merajai, pernah terdapat pemerintahan yg konon sangat terkenal dan makmur.  Peperangan-peperangan selalu dimenangkan.  Daerah-daerah lain bahkan negeri-negeri tetangga pun ditaklukan.  Salah satunya adalah kerajaan Majapahit.  Apa yang ingin kita tafsirkan dengan kenyataan ini?  Beragama tauhidkah mereka?  Tidak syirikkah mereka?<br />
Selain itu juga banyak contoh-contoh lain sebagaimana maklum.<br />
Jadi menurut saya, kemenangan demi kemenangan yg diperoleh oleh pemerintah Islam jaman dahulu adalah tidak ada kaitannya dengan kesyirikan atau keaqidahan yang lemah.  Banyak faktor yg menyebabkannya dan terlalu sempit jika dihubungkan dengan keaqidahan.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: armand</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/pentingnya-tauhid-1.html/comment-page-1#comment-28074</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 05:47:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=469#comment-28074</guid>
		<description>Mohon dapat lebih diperjelas mana yg masukkategori syirik.  Karena jika hanya berdasarkan dalil-dalil umum, maka kita akan sering berbenturan dengan pengetahuan yg kita peroleh.  Seperti jika menyembah kepada selain Allah adalah syirik, maka mengapa malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam ketika Adam diciptakan?  Kemudian, jika menciumi kuburan orang-orang shaleh dikatakan syirik, mengapa batu hitam di Ka&#039;bah dianjurkan untuk dicium ketika Thawaf?  Kemudian jika berharap selain Allah dikatakan syirik, mengapa bertawassul kepada orang-orang shaleh diperkenankan?

Mohon dapat dijelaskan

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon dapat lebih diperjelas mana yg masukkategori syirik.  Karena jika hanya berdasarkan dalil-dalil umum, maka kita akan sering berbenturan dengan pengetahuan yg kita peroleh.  Seperti jika menyembah kepada selain Allah adalah syirik, maka mengapa malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam ketika Adam diciptakan?  Kemudian, jika menciumi kuburan orang-orang shaleh dikatakan syirik, mengapa batu hitam di Ka&#8217;bah dianjurkan untuk dicium ketika Thawaf?  Kemudian jika berharap selain Allah dikatakan syirik, mengapa bertawassul kepada orang-orang shaleh diperkenankan?</p>
<p>Mohon dapat dijelaskan</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

