Nikah Beda Agama


Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Seringkali kita lihat di tengah masyarakat apalagi di kalangan orang berkecukupan dan kalangan selebriti terjadi pernikahan beda agama, entah si pria yang muslim menikah dengan wanita non muslim (nashrani, yahudi, atau agama lainnya) atau barangkali si wanita yang muslim menikah dengan pria non muslim. Namun kadang kita hanya mengikuti pemahaman sebagian orang yang sangat mengagungkan perbedaan agama (pemahaman liberal). Tak sedikit yang terpengaruh dengan pemahaman liberal semacam itu, yang mengagungkan kebebasan, yang pemahamannya benar-benar jauh dari Islam. Paham liberal menganut keyakinan perbedaan agama dalam pernikahan tidaklah jadi masalah.

Namun bagaimana sebenarnya menurut pandangan Islam yang benar mengenai status pernikahan beda agama? Terutama yang nanti akan kami tinjau adalah pernikahan antara wanita muslimah dengan pria non muslim. Karena ini sebenarnya yang jadi masalah besar. Semoga bahasan singkat ini bermanfaat.

Pernikahan Wanita Muslimah dan Pria Non Muslim

Tentang status pernikahan wanita muslimah dan pria non muslim disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. (QS. Al Mumtahanah: 10)

Pendalilan dari ayat ini dapat kita lihat pada dua bagian. Bagian pertama pada ayat,

فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ

Janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada suami mereka yang kafir

Bagian kedua pada ayat,

لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ

Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu

Dari dua sisi ini, sangat jelas bahwa tidak boleh wanita muslim menikah dengan pria non muslim (agama apa pun itu).[1]

Ayat ini sungguh meruntuhkan argumen orang-orang liberal yang menghalalkan pernikahan semacam itu. Firman Allah tentu saja kita mesti junjung tinggi daripada mengikuti pemahaman mereka (kaum liberal) yang dangkal dan jauh dari pemahaman Islam yang benar.

Penjelasan Ulama Islam Tentang Pernikahan Wanita Muslimah dengan Pria Non Muslim

Para ulama telah menjelaskan tidak bolehnya wanita muslimah menikah dengan pria non muslim berdasarkan pemahaman ayat di atas (surat Al Mumtahanah ayat 10), bahkan hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama.

Al Qurthubi rahimahullah mengatakan,

وأجمعت الامة على أن المشرك لا يطأ المؤمنة بوجه، لما في ذلك من الغضاضة على الاسلام.

“Para ulama kaum muslimin telah sepakat tidak bolehnya pria musyrik (non muslim) menikahi (menyetubuhi) wanita muslimah apa pun alasannya. Karena hal ini sama saja merendahkan martabat Islam.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

هذه الآية هي التي حَرّمَت المسلمات على المشركين

“Ayat ini (surat Al Mumtahanah ayat 10) menunjukkan haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki musyrik (non muslim)”.[3]

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan,

وفيه دليل على أن المؤمنة لا تحلّ لكافر ، وأن إسلام المرأة يوجب فرقتها من زوجها لا مجرّد هجرتها

“Ayat ini (surat Al Mumtahanah ayat 10) merupakan dalil bahwa wanita muslimah tidaklah halal bagi orang kafir (non muslim). Keislaman wanita tersebut mengharuskan ia untuk berpisah dari suaminya dan tidak hanya berpindah tempat (hijrah)”.[4]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatkan,

وكما أن المسلمة لا تحل للكافر، فكذلك الكافرة لا تحل للمسلم أن يمسكها ما دامت على كفرها، غير أهل الكتاب،

“Sebagaimana wanita muslimah tidak halal bagi laki-laki kafir, begitu pula wanita kafir tidak halal bagi laki-laki muslim untuk menahannya dalam kekafirannya, kecuali diizinkan wanita ahli kitab (dinikahkan dengan pria muslim).”[5]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Orang kafir (non muslim) tidaklah halal menikahi wanita muslimah. Hal ini berdasarkan nash (dalil tegas) dan ijma’ (kesepakatan ulama). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” Wanita muslimah sama sekali tidak halal bagi orang kafir (non muslim) sebagaimana disebutkan sebelumnya, meskipun kafirnya adalah kafir tulen (bukan orang yang murtad dari Islam). Oleh karena itu, jika ada wanita muslimah menikah dengan pria non muslim, maka nikahnya batil (tidak sah).[6]

Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim hafizhohullah dalam Kitab Adhwaul Bayan (yang di mana beliau menyempurnakan tulisan gurunya , Syaikh Asy Syinqithi), memberi alasan kenapa wanita muslimah tidak dibolehkan menikahi pria non muslim, namun dibolehkan jika pria muslim menikahi wanita ahli kitab. Di antara alasan yang beliau kemukakan: Islam itu tinggi dan tidak mungkin ditundukkan agama yang lain. Sedangkan keluarga tentu saja dipimpin oleh laki-laki. Sehingga suami pun bisa memberi pengaruh agama kepada si istri. Begitu pula anak-anak kelak harus mengikuti ayahnya dalam hal agama.[7] Dengan alasan inilah wanita muslimah tidak boleh menikah dengan pria non muslim.

Pernikahan Pria Muslim dengan Wanita Ahli Kitab

Diperbolehkan pria muslim menikahi wanita ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) selama wanita tersebut adalah wanita yang selalu menjaga kehormatannya serta tidak merusak agama si suami dan anak-anaknya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu.” (QS. Al Maidah: 5). Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Wanita ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) boleh dinikahi oleh laki-laki muslim berdasarkan ayat ini.”[8]

Yang dimaksud di sini, seorang pria muslim dibolehkan menikahi wanita ahli kitab, namun bukan wajib dan bukan sunnah, cuma dibolehkan saja. Dan sebaik-baik wanita yang dinikahi oleh pria muslim tetaplah seorang wanita muslimah. Wanita ahli kitab di sini yang dimaksud adalah wanita Yahudi dan Nashrani. Agama Yahudi dan Nashrani dari dahulu dan sekarang dimaksudkan untuk golongan yang sama dan sama sejak dahulu (di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), yaitu wahyu mereka telah menyimpang.

Catatan penting di sini, jika memang laki-laki muslim boleh menikah dengan wanita ahli kitab, maka pernikahan tentu saja bukan di gereja. Dan juga ketika memiliki anak, anak bukanlah diberi kebebasan memilih agama. Anak harus mengikuti agama ayahnya yaitu Islam. Lihat keterangan dari Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim di atas.

Sedangkan selain ahli kitab (seperti Hindu, Budha, Konghucu) yang disebut wanita musyrik haram untuk dinikahi. Hal ini berdasarkan kesepakatan para fuqoha. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al Baqarah: 221)[9]

Menurut para ulama, laki-laki muslim sama sekali tidak boleh menikahi wanita yang murtad meskipun ia masuk agama Nashrani atau Yahudi kecuali jika wanita tersebut mau masuk kembali pada Islam.[10]

Demikian sajian singkat dari kami. Semoga semakin memberikan pencerahan kepada kekeliruan pemahaman yang selama ini terjadi di kalangan awam dan kaum muslimin secara umum.

Hanya Allah yang beri taufik.

Disusun di Panggang-GK, 20 Sya’ban 1431 H (1 Agustus 2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/2521, index “Ahlu Kitab”, point 15.

[2] Tafsir Al Qurthubi, Muhammad bin Ahmad Al Anshori Al Qurthubi, Mawqi’ Ya’sub, 3/72.

[3] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 13/521.

[4] Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7/207.

[5] Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, 1423 H, hal. 857.

[6] Majmu’ Fatawa Syaikh Ibni ‘Utsaimin, 12/138-140, dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 69752, http://islamqa.com/ar/ref/69752

[7] Adwaul Bayan 8/164-165, dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 6402, http://islamqa.com/ar/ref/6402

[8] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H, 14/91.

[9] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13333, index “Muharromatun Nikah”, point 21

[10] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13334, index “Muharromatun Nikah”, point 22

  • Fahrul

    Assalamu`alaikum
    Ana minta ijin memperbanyakannya.

  • ahmad bakr

    ustadz.. apakah suami istri yang sebelumnya musyrik kemudian masuk islam harus mengulang akad nikah mereka secara islam

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Ahmad Bakr
      Nikah yg dulu ketika musyrik itu sah, jadi tdk perlu diulangi akad. Wallahu a’lam.

  • Bahar

    ana izin copas y…

    sukron

  • ina

    Aslmkmwrwb,, bagaimana kalo s’org wanita muslim menikah dg non muslim tp sudah masuk islam?? Terus setelah punya keturunan,suaminya kembali lg mjd non muslim (nasrani),tp mrk masih tetap menikah dan tidak bercerai,, mohon penjelasannya,kalo tidak keberatan dikirim ke email saya.trimakasih byk,, wassalamualaikumwrwb.

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Ina
      Nikahnya ketika suaminya murtad, jadi nikah fasid (nikah yg rusak), artinya statusnya bukan suami istri lagi. Jadi setelah itu sama sj dg zina. Wallahu a’lam.

  • rahim

    assalamualaikum akh,

    bagaimana kalau ada sepasang suami istri yang non muslim, kemudian istri nya mendapat hidayah untuk memeluk islam, apakah si istri tadi harus meninggalkan suaminya?

    syukron.

    • Ammi Nur Baits

      #rahim
      wa’alaikumussalam. Kisah pernikahan Zainab bintu Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dengan Abil Ash bin Rabi’ bisa menjadi dalil akan hal ini.
      kisah ini mereka berdua bisa dilihat di alamat berikut:
      http://www.sunnah.org/history/Sahaba/Indon/zainab.html

  • rumbayrahmawati

    kenapa orang non muslim dikatakan kafir, pdhal ajaran mereka tidak seperti itu(bermaksud kafir)…
    kebanyakan orang non muslim malah lbh baik dari muslim??
    mohon penjelasannya???trimakasih

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #rumbayrahmawati
      Allah Ta’ala tidak akan mengadzab seseorang jika memang ia sama sekali belum pernah mendengar ajaran Islam.
      - Jika memang ia sama sekali belum pernah mendengar ajaran Islam, simak:
      http://kangaswad.wordpress.com/2009/10/19/orang-yang-belum-pernah-mendengar-islam-apakah-kafir/
      - Jika ia pernah mendengar ajaran Islam, namun tidak ber-Islam, maka ia kafir. Kafir artinya ingkar terhadap Allah, bahwa Allah-lah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah.
      - Di sisi Allah, orang muslim apapun keadaannya, bodoh, buruk tabiatnya, miskin, buruk rupa, cacat, ahli maksiat, selama ia masih beriman, selamanya masih lebih baik dari pada orang kafir. Karena orang kafir telah melakukan kejahatan dan keburukan yang paling fatal dan paling buruk di dunia yaitu menyekutukan Allah Ta’ala.

  • ina

    Kenapa kasus ini dibiarkan saja,apakah di kalimantan tengah tidak ada yg berdakwah,atau mengingatkan?? Kejadian seperti ini,suami istri yg beda agama,byk skali di kalteng,,dan anak2 mrk tentu saja ikut agama non islam?? Menurut sy,islam d kalteng takut dan setengah tunduk dg org nasrani,,apakah qt sepenakut itu?? Bknnya sy mprovokasi,sekedar berharap spya para ulama atau dai islam disana untuk lebih respek lg.

  • fitri.S.

    izin copas ……..terima kasih .

  • http://www.puremoslemblogspot.com Abu adz-Dzahabi

    izin copy artikelnya… Barakallah

  • Pingback: Nikah Beda Agama « Women Island

  • istain hendry

    Numpang tanya penjelasan wanita ahli kitab ( yahudi/nasarini) apakah yg dimaksud dgn ahli kitab itu pada saat sebelumnya datang nya agama Islam? kemudian mrk (ahli kitab) tersebut masuk agama islam?? dan relevansinya dengan kaum nasranijaman sekarang bagaiman tolong pencerahnnya…

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #istain hendry
      Ahli kitab adalah kaum Yahudi dan Nasrani. Disebut sebagai ahli kitab dalam rangka ‘menyindir’ mereka. Mereka memiliki kitab yang diturunkan dari Allah namun mereka dustakan dan mereka ubah-ubah ajarannya.
      Ahli kitab yang masuk Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam maka menjadi muslim atau mu’min. Orang Yahudi dan Nasrani yang hidup semasa dengan Rasulullah juga disebut ahli kitab, karena Rasulullah menyebut mereka demikian. Juga kaum Yahudi dan Nasrani yang ada sekarang. Allahu’alam.

  • Pingback: Nikah Beda Agama « Aku Yang Sedang Belajar Islam

  • que

    saya msih bingung dan belum masuk dalam logika saya..knpa laki-laki muslim diperbolehkan
    sedang wanita muslim tidak,kenapa laki-laki selalu dibedaka-bedakan derajatnya dari wanita…mhon djawab,biar saya yakin..alasannya apa,thankz

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #que
      Jika anda ingin jawaban dengan logika, karena laki-laki adalah pemimpin rumah tangga. Bagaimana mungkin bisa dalam satu rumah tangga ada 2 pemimpin?
      Sedangkan jawaban secara syar’i, karena demikian yang ditentukan oleh Allah dan kita sepatutnya menerimanya dengan penuh keimanan. Baca juga:
      http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/ketika-agama-telah-mengharamkan.html

  • JEMY

    ASS…..SY MENIKAH DGN ORANG YG BERAGAMA BUDHA. TP,SEKARANG SY SUDAH BERPISAH DGN NYA, KARENA DIA MENGUCAPKAN KATA” CERAI”, DIA MENGAJAK SY BALIK SM DIA, TP SY SUDAH TDK MAU LAGI, DGN ALASAN, SY SUDAH TIDAK BISA MEMBOHONGI DIRI SY SENDIRI, BAHWA SY TAKUT DGN AZAB ALLAH SWT. BENARKAH TINDAKAN SY, YG SUDAH TDK MAU LAGI HIDUP DGN NYA?

    • http://ikhwanmuslim.com Muhammad Nur Ichwan

      @Jemy
      Tindakan anda sudah tepat. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.

  • awy

    bagaimana jika sudah terlanjur menikah dengan non muslim ?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #awy
      Mintalah KUA untuk mem-fasakh atau membatalkan pernikahan anda

  • Annie

    Bagaimana dg seseorang yang mengaku muslim tetapi melakukan kesyirikan?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Annie
      Bisa jadi ia keluar dari Islam, bisa jadi tidak sampai keluar dari Islam jika ada penghalangnya.

  • abu qotadah

    Assalamu’alaykum.. afwan ana mau bertanya jika ahlul kitab jaman dahulu dan sekarang dikatakan sama, lalu apa bedanya dg orang musyrik??

    dan bagaimana dg pendapat Ibnu Umar, ia berpendapat bahwa hukum perkawinan pria Muslim dengan wanita ahlul kitab adalah haram. Sama haramnya dengan perempuan musyrik. Ibnu Hazm bahkan mengatakan bahwa tidak ada yang lebih musyrik dari orang yang mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa. Alasannya karena perempuan ahlul kitab juga berlaku syirik dengan menuhankan Isa. [Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Juz II:36]

    mohon penjelasannya, syukron..

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Abu Qotadah

      Kondisi ahlu kitab zaman dahulu dan sekarang adl sama, dan sama2 kitabnya sudah rusak, namun masih disebut ahli kitab.
      Boleh menikahi ahli kitab namun dengan syarat ahli kitabnya bisa menjaga kehormatan, bukan wanita nakal dan anak yang dihasilkan nantinya ikut suami, tidak menyuruh anak menentukan pilihan sendiri dalam masalah agama.

      Wallahu a’lam.

  • Sarah

    Asslm. Laki2 & perempua muslim akan menikah. Org tua si perempuan adalah Nasrani (bapaknya) dan islam (ibunya) yg sampai sekrg masih tinggal bersama dalam ikatan perkawinan. Utk pernikahannya sendiri keluarga calon pengantin pria tdk masalah selama memenuhi rukun nikah. Tapi mereka berkeberatan hadir dlm akad nikah krn melihat kenyataan org tua pengantin perempuan masih hidup bersama yg tdk sesuai dgn syariat (zina). Mereka berprinsip jika mereka hadir berarti mereka menyetujui gaya hidup spt itu. Apakah pemikiran keluarga pengantin pria tsb benar menurut Islam?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Sarah
      Dalam Islam, sikap tersebut dinamakan al hajru, yaitu memboikot seseorang, enggan bertemu, enggan bicara, enggan berinteraksi, dan semacamnya. Al Hajru itu boleh dilakukan jika ada manfaatnya. Maka jika enggan hadirnya orang tua pria kemungkinan besar bisa membuat orang tua wanita sadar akan kesalahannya, maka boleh melakukannya. Jika kira-kira tidak ada pengaruhnya, maka hendaknya kedepankan nasehat, dakwah, ajakan kepada yang benar dengan cara yang baik.

  • Sarah

    Terima kasih atas jawabannya. Bisa diterangkan lebih lanjut mengenai al hajru ? Karena saya coba utk googling hanya menemukan al hajru yg berhubungan dengan mencegah seseorang dalam membelanjakan uang warisnya, tapi tidak ada yang mengenai pengucilan/pemboikotan spt yg tsb diatas.

  • Sarah

    Jazakallahu khoiron katsiro

  • hendra

    Assalamu’alaykum
    Tanya:
    Apa hukumnya bersetubuh dengan Istri yang Murtad ke agama (Yahudi/Nashrani)…??? Jazakallah

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #hendra
      Wa’alaikumussalam, hukumnya haram, pernikahannya batal

  • Pingback: Hukum Muslim / Muslimah Menikah dengan Orang Non Islam | Bumi Islam - Kemuliaan Manusia Di Atas Agama Allah

  • juwariah

    Kalau menurut saya kalau begitu boleh dong kalau laki-laki nasrani/yahudi menikah dengan perempuan Islam, karena kan mereka laki-laki bukan kafir, mereka kan penganut ajaran Nabi Musa dan Nabi Isa (bukan orang kafir). Dalam ayat itu cuma disebutkan laki-laki kafir. Jadi dengan tidak merendahkan martabat Islam, wanita itu tidak menikahi laki-laki kafir, dan laki-laki itu tidak membuatnya menjadi haram.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #juwairiyah
      Bicara agama itu dengan dalil, bukan dengan ‘menurut saya’. Allah Ta’ala dalam Al Qur’an menyatakan Yahudi dan Nasrani itu kafir. Silakan simak:
      http://muslim.or.id/aqidah/wajibnya-mengkafirkan-orang-kafir-dan-musyrik.html

      • juwariah

        Kalau begitu, apakah kafir itu berlaku untuk pria atau berlaku untuk wanita ??
        Mohon petunjuknya. Karena pria muslim halal untuk menikahi wanita yahudi/nasrani, dan pria muslim haram menikahi kaum kafir. Apakah wanita yahudi/nasrani itu kafir ??
        Kemudian apakah laki-laki yahudi/nasrani kafir ??
        Kalau mereka kafir apakah nabi Musa dan nabi Isa mengajarkan ajaran kafir kepada mereka ?? Apakah semua manusia pada zaman nabi2 sebelum Nabi Muhammad SAW semua kafir ??
        Apakah pengertian kafir itu sendiri ??
        Apakah orang yang percaya Tuhan pada zaman nabi Adam, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa itu kafir ??
        Ataukah hanya orang yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah saja yang tidak kafir ??
        Mohon petunjuk

        • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

          #juwariah
          Para Nabi dan Rasul dari yang pertama hingga yang terakhir mendakwahkan tauhid kepada Allah, yaitu hanya beribadah kepada Allah semata. Para pengikut mereka yang beriman kepada mereka adalah Muslim yang beriman. Termasuk juga ahlul kitab. Namun ketika Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam di utus, para ahlul kitab wajib beriman kepada beliau dan mengikuti syariat yang beliau bawa. Rasulullah bersabda:

          وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

          Demi Allah Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, tidak seorangpun dari umat ini baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang mendengar ajaranku kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim)

          Selain itu, kabar mengenai diutusnya Nabi terakhir yang ajarannya berlaku hingga akhir zaman itu sudah dikabarkan oleh Nabi Musa dan Isa serta terdapat dalam Injil dan Taurat yang masih murni.

          Walapun ahlul kitab kafir, namun Allah Ta’ala mengizinkan lelaki muslim menikah dengan wanita ahlul kitab. Namun Allah tidak mengizinkan wanita Muslim menikah dengan lelaki ahlul kitab. Demikian yang Allah Ta’ala tetapkan, sebagaimana sudah dijelaskan di artikel.

          • juwariah

            “Demi Allah Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, tidak seorangpun dari umat ini baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang mendengar ajaranku kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim)
            Kalau demikian wanita ahli kitab itu apakah kafir ??? Sementara laki-laki muslim kan haram untuk menikah dengan wanita kafir ???
            Apakah mereka yang mempercayai Tuhan yg disebut Allahnya Ibrahim, Allahnya Musa, Allah Ilahnya Isa itu Kafir ?? Merekan kan percaya adanya Allah, kenapa masih disebut kafir ??
            Apakah arti kafir yang sebenarnya ??
            Masa Iya orang yg percaya akan Allah itu Kafir ???

          • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

            #juwariah
            Pertama, jangankan kaum Nasrani dan Yahudi, kaum kafir Quraisy Mekkah yang memerangi dan diperangi oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam mereka itu menyembah Allah, bahkan mereka juga shalat, puasa dan berhaji. Tapi selain menyembah Allah, mereka juga menyembah berhala, pohon, batu, dan orang-orang saleh.
            Silakan baca: http://muslim.or.id/aqidah/tauhid-rububiyah-dan-pengakuan-kaum-musyrikin-terhadapnya.html
            Padahal ajaran para Nabi dari yang pertama hingga yang terakhir adalah mengajak untuk menyembah Allah saja. Simak: http://muslim.or.id/aqidah/tauhid-misi-utama-para-nabi-dan-rasul.html
            Kedua, kalau benar percaya kepada Allah maka seharusnya tidak menyembah kepada selain Allah serta taat dan patuh kepada Allah. Dan Allah Ta’ala memerintahkan semua manusia untuk mengikuti ajaran Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Kalau mengaku beriman kepada Allah tapi tidak mau taat, maka ini pengakuan dusta yang sia-sia saja.

            Sekian penjelasan dari kami, insya Allah sudah cukup jelas bagi orang yang mencari kebenaran, dan mungkin tidak akan memuaskan bagi orang yang hanya ingin mencari pembenaran.

  • juwariah

    Terhadap mereka, Rasulullah SAW senantiasa melakukan Dakwah, seperti yang pernah beliau lakukan kepada Raja Najasyi, seorang Raja Nashrani yang tinggal di Ethiopia. Rasulullah SAW pun mengirimi surat kepada Najasyi untuk bertauhid kepada Allah SWT. Berikut adalah pesan surat tersebut,

    “Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi, penguasa Abyssinia (Ethiopia). Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, baik dan terpelihara.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #juwariah
      Jika kita mengatakan Yahudi dan Nasrani kafir, bukanlah artinya mereka itu semua harus dijauhi, disakiti atau dibunuh. Sama sekali bukan demikian. Kita tetap dakwahi mereka dan berakhlak yang baik kepada mereka, dan mengajak mereka untuk berIslam. Namun dalam mendakwahi mereka dan dalam berinteraksi dengan mereka jangan sampai kita mengorbankan aqidah kita dan melanggar ajaran Islam sendiri.

      Kalau anda masih bingung terhadap Islam, maka solusinya adalah: pelajari Islam lebih mendalam lagi, dan mulai dari yang mendasar. Silakan baca beberapa artikel di link ini:
      http://muslim.or.id/aqidah/kumpulan-artikel-seputar-natal-dan-tahun-baru.html
      Semoga ada pencerahan bagi anda seputar interaksi dengan orang kafir.

      Jika ingin mempelajari Islam dari dasar, silakan simak beberapa artikel berikut:
      http://muslim.or.id/dari-redaksi/pelajaran-dasar-agama-islam.html

  • Ilman Muttaqin

    Nice info:))

    (ilmanmuttaqin.student.ipb.ac.id)

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.