Menggapai Ketentraman Hakiki Dengan Tauhid

Ketentraman, sesuatu yang sangat diinginkan oleh setiap insan. Tanpanya hidup akan terasa tersiksa, sempit dan diliputi kekalutan. Apalagi jika kekalutan itu menyebabkan penderitaan yang tiada akhirnya. Sungguh menakutkan. Lalu ketentraman manakah yang diharapkan oleh seorang hamba selain ketentraman hati di dunia dan selamat dari jilatan api neraka di akhirat kelak. Allah ta’ala yang Maha bijaksana dan Maha mengasihi hamba-hamba-Nya telah menunjukkan bagaimanakah cara supaya ketentraman hakiki bisa diraih oleh seorang hamba. Marilah kita buka lembaran Al Qur’an, niscaya permasalahan ini sudah ada jawabannya.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’aam: 82)

Siapakah Mereka ?

Di dalam ayat ini Allah memberikan janji yang sangat menggiurkan. Setiap insan tentu merasa ingin mendapatkan apa yang dijanjikan-Nya itu. Keamanan dan ketentraman, dan juga karunia petunjuk. Allahu akbar, adakah nikmat yang lebih manis dan lebih lezat daripada keduanya ? Akan tetapi sadarilah nikmat agung ini hanya akan diberikan-Nya kepada hamba-hamba yang memenuhi kriteria yang diberikan oleh-Nya, mereka bukan sembarang hamba. Ingatlah, yang akan meraihnya adalah “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman.”

Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan tidak menodai tauhidnya dengan kesyirikan. Mereka itulah yang mendapatkan keamanan. Sedangkan keamanan itu ada dua macam: Keamanan Mutlak dan Keamanan Muqayyad. Yang pertama itu ialah keamanan dari tertimpa azab. Keamanan ini diperuntukkan bagi orang yang meninggal di atas tauhid dan tidak terus menerus berkubang dalam dosa-dosa besar. Adapun yang kedua berlaku bagi orang yang meninggal di atas tauhid akan tetapi dia masih dalam keadaan berkubang dalam dosa-dosa besar. Maka dia akan memperoleh keamanan dari hukuman kekal di dalam neraka.” (Ibthalu Tandiid, hal. 19).

Dengan demikian, seorang muslim yang mati dalam keadaan bertauhid (ini juga berarti dia tidak melakukan pembatal keislaman, red) dan tidak berkubang dalam dosa-dosa besar niscaya akan meraih keamanan mutlak. Yaitu terbebas dari siksaan. Sedangkan seorang muslim yang mati dalam keadaan bertauhid akan tetapi bergelimang dalam dosa-dosa besar maka nilai keamanan yang akan diperolehnya lebih rendah dari keamanan yang pertama. Kalau yang pertama dia terbebas dari siksa, sedangkan yang kedua ini dia tidak akan disiksa terus-menerus alias akhirnya juga akan masuk surga. Jadi dia tidak akan kekal di dalam neraka, kalau Allah menyiksanya.

Bukankah Ayat Ini Umum ?

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ketika turun ayat, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.’ (QS. Al An’aam: 82). Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, ‘Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya?’ Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka. Tidakkah kalian pernah mendengar perkataan seorang hamba yang shalih, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar.’ (QS. Luqman: 13). Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik.'” (HR. Al Bukhari (32), Muslim (124), Imam Ahmad (6/69/3589) cet. Ar Risalah, dikutip dari Ibthaalu Tandiid, hal. 19-20).

Inilah bukti kedalaman pemahaman para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum terhadap bahasa Arab. Di dalam bahasa Arab, apabila terdapat suatu kata benda yang nakirah (indefinitif, bertanwin) dalam konteks kalimat negatif (pe-nafian) seperti kata zulmin (kezaliman) di dalam ayat alladziina lam yalbisuu iimaanahum bizulmin (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman) ini maka kata tersebut berlaku umum mencakup segala bentuk kezaliman. Baik kezaliman terhadap diri sendiri, kepada orang lain maupun kezaliman terhadap hak Pencipta. Sehingga wajar apabila turunnya ayat itu terasa berat bagi para sahabat, bukan karena mereka tidak mau melaksanakan isi ayat itu. Akan tetapi karena mereka menyangka syarat untuk bisa mendapatkan keamanan dan hidayah adalah harus bersih dari segala bentuk kezaliman. Sehingga merekapun merasa tidak ada seorangpun diantara mereka yang sanggup memenuhi syarat tersebut. Dengan spontan mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya?”

Namun kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan kepada mereka bahwa yang dimaksud kezaliman dalam ayat tersebut adalah syirik. Beliau pun berdalil dengan sebuah ayat yang menceritakan perkataan Luqman kepada puteranya “Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar.” Hal itu beliau lakukan supaya mereka mengerti bahwa bukanlah syarat untuk bisa meraih ketentraman dan hidayah itu seseorang harus membersihkan dirinya dari semua bentuk kezaliman. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimas salaam saja pernah melakukan kezaliman dan berdo’a kepada Allah menyesali kezaliman mereka. Mereka berdua berdo’a “Rabbanaa zalamnaa anfusanaa wa inlam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunannaa minal khaasiriin.” (Wahai Rabb kami. Sesungguhnya kami ini telah berbuat zalim terhadap diri kami. Dan apabila paduka tidak mengampuni dosa kami dan tidak merahmati kami niscaya kami tergolong orang-orang yang merugi). (lihat QS. Al A’raaf: 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hal yang membuat para sahabat merasa berat ialah karena mereka menyangka bahwa kezaliman yang dipersyaratkan harus dihilangkan di sini adalah kezaliman hamba terhadap dirinya sendiri. Mereka mengira bahwa keamanan dan petunjuk tidak akan bisa diraih oleh orang yang menzalimi dirinya sendiri. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerangkan kepada mereka bahwa di dalam Kitabullah syirik juga disebut sebagai kezaliman. Sehingga rasa aman dan petunjuk tidak akan diperoleh orang-orang yang mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman jenis ini. Karena sesungguhnya barangsiapa yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman ini (syirik) maka dia termasuk orang-orang yang berhak memperoleh keamanan dan petunjuk…” (Fathul Majiid, hal. 34).

Sehingga dari sini kita juga bisa memetik sebuah kaidah tafsir “An Nakiratu fi siyaaqi nafyi tufiidul ‘umuum” (kata benda nakirah dalam konteks kalimat negatif memberikan makna umum) (lihat Al Qawa’id Al Hisan karya Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah, hal. 22-23). Bagaimana kaidah ini bisa diambil dari kisah tersebut, bukankah Nabi menolak penafsiran para sahabat?! Benar, Nabi memang menolak penafsiran mereka terhadap maksud zalim di dalam ayat ini. Akan tetapi beliau tidak menolak kaidah mereka (kaidah bahasa Arab). Apa yang beliau lakukan ialah memberikan tambahan informasi bahwa yang dimaksud oleh ayat ini bukanlah keumuman lafaznya sebagaimana lafaz umum lain yang ada di dalam ayat atau hadits, akan tetapi yang dimaksud adalah salah satu kandungannya saja. Beliau tidak mengatakan, “Kaidah kalian itu salah” akan tetapi beliau mengatakan “Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka… Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik.” Lafaz semacam ini di dalam istilah ilmu ushul fiqih disebut dengan al ‘umum urida bihi al khushush (lafazh umum tetapi maksud yang disimpan di baliknya ialah makna yang khusus).

Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah mengatakan, “Di dalam ayat ini, kata zalim dalam keadaan nakirah dan berada di konteks kalimat negatif, yaitu firman Allah ta’ala, ‘Dan mereka tidak mencampuradukkan.’ Ini menunjukkan kepada seluruh macam kezaliman. Akan tetapi apakah lafaz umum di sini yang dimaksud adalah lafaz umum yang mengalami pengkhususan (umum al makhsush) ataukah ia termasuk lafaz umum tetapi makna yang dikehendaki adalah makna khusus (umum uriida bihi al khushush). ….” Kemudian beliau mengatakan bahwa yang dimaksud oleh penulis Kitab Tauhid tatkala membawakan ayat ini adalah umum uriida bihi al khushush. Kemudian beliau berkata, “Memang benar, kata zalim dalam ayat ini adalah nakirah dalam konteks pe-nafian (yaitu dengan adanya kata lam yang artinya tidak), sehingga ia menunjukkan makna umum. Namun ia termasuk lafaz umum yang menyimpan maksud makna khusus. Ia khusus hanya meliputi salah satu macam kezaliman yaitu syirik. Dengan demikian, letak keumumannya beralih kepada seluruh makna yang tercakup dalam macam-macam syirik, bukan pada segala bentuk kezaliman. Sebab kezaliman itu meliputi:

  1. Kezaliman hamba terhadap dirinya dengan berbuat maksiat,
  2. atau kezalimannya terhadap orang lain dengan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hak orang lain,
  3. dan termasuk juga di dalamnya kezaliman hamba terhadap hak Allah jalla wa ‘ala yaitu dengan melakukan syirik terhadap-Nya.

Nah, (syirik) inilah yang dimaksud dengan lafaz umum ini. Oleh karenanya lafaz tersebut bersifat umum mencakup semua jenis kesyirikan… Sehingga makna dari ayat ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka.’ ialah mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik jenis apapun.” (lihat At Tamhiid, hal. 24).

Demikianlah tafsiran yang diberikan oleh para ulama salaf terhadap ayat ini. Imam Ibnu Jarir membawakan sebuah riwayat dari Rabi’ bin Anas bahwa yang dimaksud iman di sini adalah ikhlash (memurnikan ibadah) untuk Allah saja. Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja. Mereka tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. Mereka itulah yang akan merasakan keamanan pada hari kiamat serta memperoleh hidayah di dunia maupun di akhirat.” (lihat Fathul Majiid, hal. 34).

Pentingnya Peranan Rasulullah Dalam Menjelaskan Ayat

Dari sini kita bisa memahami betapa pentingnya kedudukan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penjelas kandungan ayat-ayat Al Qur’an. Seandainya diantara para sahabat tidak ada beliau niscaya ayat ini akan sangat sulit dimengerti oleh orang-orang. Namun inilah bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Allah tidak membiarkan akal-akal mereka bebas (liberal) menafsirkan Al Qur’an menurut pemahaman mereka sendiri-sendiri. Akan tetapi Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka guna menjelaskan ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Adz Dzikra (wahyu) supaya engkau menjelaskan kepada manusia wahyu yang diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl: 44). Inilah salah satu peranan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penafsir ayat Al Qur’an. Dengan demikian batillah dakwaan kaum yang mengaku hanya berpedoman dengan Al Qur’an tanpa Al Hadits, mereka itulah yang disebut Al Qur’aniyyuun atau di dalam negeri lebih kita kenal dengan nama Ingkarus Sunnah. Mereka racuni pemikiran para pemuda dengan tafsiran ala mereka sementara di sisi lain mereka mencampakkan tafsiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, subhaanallah. Adakah tindakan congkak yang melebihi kelakuan mereka ini?! Wallahul musta’aan.

Sempurnakan Tauhid, Niscaya Balasannya Juga Sempurna

Tauhid yang sempurna hanya bisa diraih dengan membersihkan diri dari segala bentuk kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan (lihat Fathul Majiid, hal. 56). Inilah yang disebut dengan tahqiq tauhid (merealisasikan tauhid). Namun bukan berarti orang seperti ini tidak pernah berbuat dosa. Orang yang berhasil mentahqiq tauhid adalah yang apabila terjatuh di dalam dosa dia segera bertaubat dan kembali mentaati Allah subhanahu wa ta’ala. Dia bekerja keras mengikis segala bentuk maksiat, karena baginya kemaksiatan itu akan mengurangi kemurnian tauhidnya. Dia memandang dosa laksana sebuah gunung besar yang akan roboh menimpa dirinya. Demikianlah sifat seorang mukmin sejati. Dia tidak memandang kecilnya dosa. Akan tetapi yang selalu diperhatikannya ialah keagungan dan kebesaran Dzat yang dosa itu tertuju kepadanya. Sehingga pantaslah jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah 70 kali sehari bahkan dalam riwayat lain disebutkan 100 kali. Inilah sosok manusia terbaik di muka bumi, inilah sosok pen-tahqiq tauhid terhebat sepanjang zaman. Lalu bagaimanakah dengan kita yang mengaku sebagai pengikut Nabi, bahkan mengaku salafi? Sudahkah istighfar dan taubat menghiasi lisan dan hati kita? Ataukah hati dan lisan kita justru telah pekat dengan rasa dengki dan kata-kata kotor lagi menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan daripada tindakan melahap bangkai saudaranya? Wahai jiwa, telitilah dirimu sendiri dahulu…

Syaikhul Islam mengatakan, “Barangsiapa bisa menyelamatkan dirinya dari ketiga macam kezaliman: berbuat syirik, menzalimi sesama hamba dan menzalimi diri sendiri selain syirik maka dia berhak memperoleh rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna (al amnu al muthlaq dan al ihtida’ al muthlaq). Sedangkan orang (bertauhid) yang tidak bisa menyelamatkan dirinya dari perbuatan zalim terhadap dirinya sendiri maka dia hanya akan memperoleh rasa aman dan petunjuk sekadarnya (tidak sempurna, disebut juga muthlaqul amn dan muthlaqul ihtida’, red). Dalam artian dia pasti akan masuk surga. Sebagaimana hal itu telah dijanjikan oleh Allah di dalam ayat lain. Dan Allah pun menunjukkan kepadanya jalan yang lurus yang pada akhirnya juga akan mengantarkannya menuju surga. Rasa aman dan petunjuk itu akan berkurang berbanding lurus dengan penurunan iman yang terjadi karena perbuatan zalimnya terhadap dirinya sendiri.”

Beliau melanjutkan, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya (yang dimaksud zalim dalam ayat) itu adalah syirik’ itu bukan berarti barangsiapa yang tidak berbuat syirik akbar pasti akan meraih rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Sebab terdapat banyak sekali hadits serta nash-nash Al Qur’an yang menerangkan bahwa para pelaku dosa besar dihadapkan dengan cekaman rasa takut. Mereka tidak bisa memperoleh keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna; dua karunia yang bisa membuat mereka mendapatkan hidayah menempuh jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang mendapatkan anugerah nikmat Allah, tanpa sedikitpun siksa yang harus mereka terima. Akan tetapi mereka itu memiliki pokok petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus ini. Mereka juga memiliki pokok kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, sehingga mereka juga pasti akan merasakan masuk surga.” (Fathul Majiid, hal. 35).

Kemudian beliau rahimahullah juga menjelaskan, “Apabila yang dimaksud dengan sabda Nabi, ‘Sesungguhnya yang dimaksud di sini adalah syirik’ adalah syirik akbar saja maka maksudnya ialah barangsiapa yang tidak melakukan syirik akbar maka dia kelak akan mendapatkan rasa aman dari siksaan dunia dan akhirat yang dijanjikan Allah untuk orang-orang musyrik (karena dengan terbebas dari syirik akbar dia bukan termasuk golongan orang musyrik, red). Dan apabila yang beliau maksud adalah jenis kesyirikan, maka perbuatan hamba dalam menzolimi dirinya sendiri seperti bersikap kikir karena demikian besar cintanya kepada harta sehingga tidak mau menunaikan kewajiban berinfak juga tergolong syirik ashghar. Begitu pula kecintaannya kepada sesuatu yang dibenci oleh Allah ta’ala sampai-sampai membuatnya lebih mendahulukan kepentingan hawa nafsunya di atas kecintaan kepada Allah juga termasuk syirik ashghar, dan lain sebagainya. Maka golongan orang semacam ini akan semakin kehilangan unsur keamanan dan petunjuk sesuai dengan banyaknya syirik ashghar yang dilakukannya. Berdasarkan sudut pandang inilah para ulama salaf dahulu juga mengkategorikan perbuatan-perbuatan dosa (selain syirik) ke dalam jenis syirik ini.” Demikian kata Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah.” (lihat Fathul Majiid, hal. 35).

Ketika mengomentari jawaban Nabi terhadap kemusykilan yang dilontarkan oleh para sahabat, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menambahkan, “Jawaban ini, demi Allah merupakan jawaban yang sangat memuaskan. Sesungguhnya kezaliman mutlak lagi sempurna adalah kezaliman yang ada pada perbuatan syirik. Sebab kesyirikan merupakan tindakan menempatkan ibadah bukan pada tempat yang semestinya. Sedangkan keamanan dan petunjuk yang mutlak mencakup keamanan di dunia dan akhirat serta petunjuk meniti jalan yang lurus. Maka kezaliman yang mutlak lagi sempurna itulah yang menjadi sebab terangkatnya rasa aman dan petunjuk yang mutlak lagi sempurna. Hal ini tidaklah menafikan adanya kezaliman yang bisa menjadi sebab seorang hamba meraih sekedar rasa aman (muthlaqul amn) dan sekedar petunjuk (muthlaqul huda). Maka cermatilah hal ini. Sekedar balasan (rasa aman dan petunjuk) tetap akan didapatkan oleh orang yang masih memiliki iman (tauhid yang tidak tercampuri syirik). Sedangkan balasan istimewa (yaitu rasa aman dan petunjuk yang sempurna) akan didapatkan oleh orang yang istimewa pula (yaitu yang tauhidnya bersih dari berbagai kezaliman).” Dinukil secara ringkas. Demikian kata Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah. (lihat Fathul Majiid, hal. 36, dengan sedikit penyesuaian redaksional).

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa kata zalim yang dimaksud oleh Nabi tatkala menyebutkan ayat tersebut adalah kesyirikan. Sehingga makna ayat tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Shalih Alusy Syaikh bahwa makna “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka” ialah mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik jenis apapun.” (lihat At Tamhiid, hal. 24). Ketentraman dan hidayah inilah yang disebut dengan al amn al muthlaq dan al ihtida’ al muthlaq (lihat Al Qaul Al Mufid I/35-36). Artinya seorang yang bertauhid dan tidak berbuat syirik pasti memperoleh hidayah dan rasa aman. Hidayah di dunia dengan ditunjuki meniti jalan yang lurus (mendapat taufik untuk memeluk dan mengamalkan Islam sampai mati dan tidak melakukan pembatal keislaman). Sedangkan hidayah di akhirat berupa bimbingan untuk masuk surga. Adapun rasa aman di dunia berupa rasa tentram di dalam hati dan tidak bersedih karena selain Allah. Dan akhirnya adalah rasa aman di akhirat, yaitu diselamatkan dari terus menerus dalam siksaan api neraka (lihat At Tamhiid, hal. 25 dan Al Qaul Al Mufid, hal. 35-36) Inilah balasan yang akan didapatkan oleh semua orang yang bertauhid.

Perbedaan Kadar Rasa Aman dan Petunjuk

Sementara apabila dilihat dari sudut pandang balasan yang didapatkan hamba, maka rasa aman dan petunjuk itu ada dua macam:

Pertama; rasa aman dan petunjuk yang sempurna, atau dengan istilah lain bisa juga disebut memperoleh keamanan dan petunjuk dalam kadar yang maksimal. Balasan ini hanya akan didapatkan orang-orang khusus di kalangan orang-orang yang bertauhid. Keistimewaan mereka dibandingkan sesama muwahhid lainnya adalah karena mereka bisa membersihkan dirinya dari segala bentuk syirik, bid’ah dan maksiat. Karena di dalam bid’ah dan maksiat itu sendiri juga terkandung unsur syirik yaitu ketika pelakunya lebih mendahulukan kepentingan hawa nafsu di atas kecintaan kepada aturan Allah. Maka apabila yang dimaksud rasa aman ialah rasa aman yang sempurna maka makna kezaliman yang tepat ialah yang mencakup segala macam kezaliman, bukan hanya syirik. Sehingga semakin sempurna tauhid dalam diri seorang hamba maka semakin sempurna pulalah ketentraman dan hidayah yang didapatkannya. Sebaliknya, apabila semakin banyak kezaliman yang dilakukannya maka semakin berkuranglah kadar ketentraman dan hidayah yang bisa diraihnya.

Kedua; rasa aman dan petunjuk yang sekadarnya. Atau dengan istilah lain bisa juga disebut memperoleh keamanan dan petunjuk dalam kadar yang minimal. Inilah yang disebut dengan muthlaqul amn dan muthlaqul ihtida’. Balasan ini akan didapatkan oleh setiap hamba yang bertauhid, meskipun dia mati dalam keadaan masih berkubang dengan dosa-dosa besar (selain syirik). Yang demikian itu dikarenakan dia masih memiliki modal dasar keimanan atau tauhid yang lurus, sehingga dia tetap berhak untuk menikmati surga di akhirat kelak. Oleh karena itu apabila yang dimaksud dengan rasa aman adalah terbebas dari kekal di neraka maka makna kezaliman yang tepat ialah kesyirikan dan dosa-dosa lain yang setingkat dengannya. Dan inilah yang dimaksudkan oleh ayat dan diterangkan Nabi kepada para sahabat.

Dengan penjelasan ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa sebenarnya tidak terdapat pertentangan antara mereka yang menafsirkan zalim dalam ayat ini dengan syirik maupun yang tetap membiarkannya berlaku umum meliputi semua macam kezaliman. Tergantung dari sudut pandang mana mereka menafsirkannya. Sebab pada dasarnya mereka semua sepakat semua ahli tauhid pasti masuk surga, dan pelaku dosa-dosa besar mendapatkan ancaman siksa di dalam neraka meskipun mereka juga bertauhid. Seorang muwahhid yang terjerumus dalam syirik kecil juga akan mengalami penurunan kadar rasa aman dan hidayah sebanyak kesyirikan yang dilakukannya. Sebagaimana seorang muwahhid yang berbuat maksiat akan mengalami penurunan kadar rasa aman dan hidayah sebanyak maksiat yang dilakukannya. Sebagaimana seseorang yang mengeluarkan dirinya dari barisan kaum muwahhidin kelak akan merasa menyesal karena telah kehilangan seluruh rasa aman dan petunjuk dari-Nya. Lalu sekarang siapakah yang akan merasa aman dan membusungkan dada seraya berkata “Inilah saya, seorang muwahhid!”

Bahkan tinta sejarah dan pena wahyu telah membuktikan fenomena sebaliknya yang sangat mengagumkan dan luar biasa. Sehingga Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pun menorehkan ayat ini di dalam Bab Al Khauf minasy Syirk (merasa takut terjerumus dalam syirik) dalam Kitab Tauhid beliau. Inilah perkataan seorang pengibar bendera tauhid kelas satu, Ibrahim ‘alaihis salaam, “(Tuhanku) Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan arca-arca. Duhai Tuhanku, sesungguhnya mereka itu telah menyesatkan banyak manusia.” (QS. Ibrahim: 35-36). Lalu bagaimanakah rasa takut yang seharusnya menghinggapi hati orang yang kelasnya jauh di bawah Ibrahim? Sehingga salah seorang tokoh generasi tabi’in Ibrahim At Taimi rahimahullah mengatakan sesudah membaca ayat ini, “Lantas, siapakah orangnya yang merasa aman dari bencana (syirik) setelah Ibrahim?!!” (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim sebagaimana tercantum dalam Ad Durr Al Mantsur 5/46, dinukil dari At tamhiid, hal. 50).

Allahumma inni a’udzu bika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima la a’lam. Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

***

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id