Memahami Takdir Ilahi


Beriman kepada Takdir

Kaum muslimin yang semoga dimuliakan oleh Allah ta’ala, salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah beriman kepada takdir baik maupun buruk.

Perlu diketahui bahwa beriman kepada takdir ada empat tingkatan:

  1. Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada. Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya.
  2. Mengimani bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh.
  3. Mengimani masyi’ah (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya.
  4. Mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Allah adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia.

Dalil dari tingkatan pertama dan kedua di atas adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj [22]: 70). Kemudian dalil dari tingkatan ketiga di atas adalah firman Allah (yang artinya), “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwir [81]: 29). Sedangkan untuk tingkatan keempat, dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), “Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaffaat [37]: 96). Pada ayat ‘Wa ma ta’malun’ (dan apa saja yang kamu perbuat) menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah.

Macam-Macam Takdir

Takdir itu ada 2 macam:

[1] Takdir umum mencakup segala yang ada. Takdir ini dicatat di Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut, “Tulislah”. Kemudian qalam berkata, “Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).

[2] Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum. Takdir ini terdiri dari:

(a) Takdir ‘Umri yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu Mas’ud, di mana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan ditetapkan mengenai 4 hal: (1) rizki, (2) ajal, (3) amal, dan (4) sengsara atau berbahagia.

(b) Takdir Tahunan yaitu takdir yang ditetapkan pada malam lailatul qadar mengenai kejadian dalam setahun. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44]: 4). Ibnu Abbas mengatakan, “Pada malam lailatul qadar, ditulis pada ummul kitab segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang terjadi dalam setahun.” (Lihat Ma’alimut Tanzil, Tafsir Al Baghowi)

Seorang muslim harus beriman dengan takdir yang umum dan terperinci ini. Barangsiapa yang mengingkari sedikit saja dari keduanya, maka dia tidak beriman kepada takdir. Dan berarti dia telah mengingkari salah satu rukun iman yang wajib diimani.

Salah Dalam Menyikapi Takdir

Dalam menyikapi takdir Allah, ada yang mengingkari takdir dan ada pula yang terlalu berlebihan dalam menetapkannya.

Yang pertama ini dikenal dengan Qodariyyah. Dan di dalamnya ada dua kelompok lagi. Kelompok pertama adalah yang paling ekstrem. Mereka mengingkari ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan mengingkari pula apa yang telah Allah tulis di Lauhul Mahfuzh. Mereka mengatakan bahwa Allah memerintah dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang taat dan berbuat maksiat. Perkara ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh ilmu Allah dan takdirnya. Namun kelompok seperti ini sudah musnah dan tidak ada lagi.

Kelompok kedua adalah yang menetapkan ilmu Allah, namun meniadakan masuknya perbuatan hamba pada takdir Allah. Mereka menganggap bahwa perbuatan hamba adalah makhluk yang berdiri sendiri, Allah tidak menciptakannya dan tidak pula menghendakinya. Inilah madzhab mu’tazilah.

Kebalikan dari Qodariyyah adalah kelompok yang berlebihan dalam menetapkan takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan ikhtiyar (usaha) sama sekali. Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu dipaksa untuk menuruti takdir. Oleh karena itu, kelompok ini dikenal dengan Jabariyyah.

Keyakinan dua kelompok di atas adalah keyakinan yang salah sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya), “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwir [81]: 28-29). Ayat ini secara tegas membantah pendapat yang salah dari dua kelompok di atas. Pada ayat, “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” merupakan bantahan untuk jabariyyah karena pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak (pilihan) bagi hamba. Jadi manusia tidaklah dipaksa dan mereka berkehendak sendiri. Kemudian pada ayat selanjutnya, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” merupakan bantahan untuk qodariyyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh dirinya sendiri tanpa tergantung pada kehendak Allah. Ini perkataan yang salah karena pada ayat tersebut, Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.

Keyakinan yang Benar Dalam Mengimani Takdir

Keyakinan yang benar adalah bahwa semua bentuk ketaatan, maksiat, kekufuran dan kerusakan terjadi dengan ketetapan Allah karena tidak ada pencipta selain Dia. Semua perbuatan hamba yang baik maupun yang buruk adalah termasuk makhluk Allah. Dan hamba tidaklah dipaksa dalam setiap yang dia kerjakan, bahkan hambalah yang memilih untuk melakukannya.

As Safariny mengatakan, “Kesimpulannya bahwa mazhab ulama-ulama terdahulu (salaf) dan Ahlus Sunnah yang hakiki adalah meyakini bahwa Allah menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan hamba. Dan hambalah yang menjadi pelaku perbuatan yang dia lakukan secara hakiki. Dan Allah menjadikan hamba sebagai pelakunya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah” (QS. At Takwir [81]: 29). Maka dalam ayat ini Allah menetapkan kehendak hamba dan Allah mengabarkan bahwa kehendak hamba ini tidak terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Inilah dalil yang tegas yang dipilih oleh Ahlus Sunnah.”

Sebagian orang ada yang salah paham dalam memahami takdir. Mereka menyangka bahwa seseorang yang mengimani takdir itu hanya pasrah tanpa melakukan sebab sama sekali. Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan istrinya berhari-hari untuk berdakwah keluar kota. Kemudian dia tidak meninggalkan sedikit pun harta untuk kehidupan istri dan anaknya. Lalu dia mengatakan, “Saya pasrah, biarkan Allah yang akan memberi rizki pada mereka”. Sungguh ini adalah suatu kesalahan dalam memahami takdir.

Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, di samping itu Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita bermalas-malasan. Apabila kita telah mengambil sebab, namun kita mendapatkan hasil yang sebaliknya, maka kita tidak boleh berputus asa dan bersedih karena hal ini sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena ucapan’seandainya’ akan membuka (pintu) setan.” (HR. Muslim)

Buah Beriman Kepada Takdir

Di antara buah dari beriman kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hati menjadi tenang dan tidak pernah risau dalam menjalani hidup ini. Seseorang yang mengetahui bahwa musibah itu adalah takdir Allah, maka dia yakin bahwa hal itu pasti terjadi dan tidak mungkin seseorang pun lari darinya.

Dari Ubadah bin Shomit, beliau pernah mengatakan pada anaknya, “Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu. Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takdir itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka.” (Shohih. Lihat Silsilah Ash Shohihah no. 2439)

Maka apabila seseorang memahami takdir Allah dengan benar, tentu dia akan menyikapi segala musibah yang ada dengan tenang. Hal ini pasti berbeda dengan orang yang tidak beriman pada takdir dengan benar, yang sudah barang tentu akan merasa sedih dan gelisah dalam menghadapi musibah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk sabar dalam menghadapi segala cobaan yang merupakan takdir Allah.

Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga serta perkataan dan amalan yang mendekatkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka serta perkataan dan amalan yang dapat mengantarkan kami kepadanya. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, jadikanlah semua takdir yang Engkau tetapkan bagi kami adalah baik. Amin Ya Mujibbad Da’awat.

Sumber Rujukan Utama:
[1] Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod, Syaikh Fauzan Al Fauzan
[2] Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

  • http://salafiyunpad.wordpress.com amir abu zayd el-posowy

    matur nuwun mas abduh artikelnya… oya sampaikan salam ana buat ust abu ‘isa yach pas dauroh thohawiyah dari ana amir jatinangor..

    oya mas, ni ada link mahad annajiyyah Bandung http://annajiyah.or.id ust abu isa juga rutin ngisi di mahad tsb.
    juga http://cambuk-hati.web.id web ttg tazkiyatun nufus dan ust. abu umar basyir sbg penasihat web-nya
    bisa di link-an di muslim.or.id

  • http://www.almanhaj.or.id abu harun

    assalamu alaikum wr. wb.

    ustazz muslim.or.id yang berbahagia,
    saya mau tanya bagimana hukum menonton, mengkoleksi film anime, kartun, komik manga. diantara penggemar anime, manga, tidak hanya anak kecil, juga dewasa. Menyimak tayangan itu cukup untuk menghilangkan stress, penat setelah bekerja. tayangan anime, gambar manga, banyak yg menampilkan kasih-sayang (Baby and I), kesetiakawanan, loyalitas (Naruto), menampilkan karakter yg tdk mengenal putus asa (Minashigo Haachi), pantang menyerah seperti Naruto, memacu inovasi (Yoichi Ajiyoshi), memperjuangkan nasib dhuafa (Himura Kenshin ), detektif Conan yang mengajarkan kita untuk waspada dari kejahatan, melacaknya.

    Masih banyak sekali sisi positif yang dapat diraih dari tontonan itu. akan tetapi beberapa teman menasehatkan untuk menghindari, ketika ditanya solusi untuk stress, tdk bisa memberikan jawaban yg jelas. mohon kiranya bimbingan ustadz agar lebih mantap. terimakasih.

  • yamtie cla-10/ Giant jgj

    Memang benar, bahwa segala yang terjadi di dunia ini adalah atas ijin-Nya atau kehendak-Nya. Dan tidak ada kata ” kebetulan” di dunia ini.
    Karena semuanya telah di tentukan oleh Yang Maha Mengetahui.
    Dengan adanya artikel semacam ini, aq bersyukur sekali, karna bisa menambah ilmuku tentang Islam yang masih jauh sekali. Makhlumlah saya seorang mualaf. Semoga ini bisa menambah keyakinanku terhadap Islam. amin3x

  • Saya

    Assalamu’alaikum. Qt tau ilmunya, tp kadang lupa mengamalkannya. Saya sering merasa menyesal karena baru mengenal Islam dgn benar. Saya jadi sering b’pikir seandainya dulu saya m0nd0k di pesantren, seandainya hati saya terbuka lebih awal, tentu lebih banyak ilmu yg dpt sy dapatkan, dan andai2 yg lain. Saya iri melihat ikhwan wa akhawat yg lbh muda dr saya tp ilmu agamanya jauh lebih dalam dr saya. Begitulah..
    Afwan ya jadi curhat.
    Jazakumullah khaira

  • http://lukmancute.blogspot.com lukman effendi

    asskum…..
    wahai hamba ALLOH yang mengetahui tentang ilmu takdir tlg kasih tau saya.
    jazz

  • WHY

    assalamu ‘alaikum, sy ingin tanya, apakah ada takdir yg bs dirubah dg doa? dan apakah ada yg tdk bs dirubah dg doa? walaupun kita tidak tahu bgmnkah takdir kita, namun apakah kita diharuskan untuk tetap brusaha agar kita tetap di jln yg lurus? salah satunya dg berdoa agar kita tetap brada di jln yg lurus? jazakillah..

  • http://muslim.or.id abu nawwaf

    wahai saudaraku marilah kita sll berusaha mencari ilmu syar’i,tanyakan kpd org yg berilmu akan ibadah kita apakah ibadah kita adlah ibadah yang berkualitas,ataukah ibadah kita kuantitasnya doang tapi tidak berkualitas,dan tentu ibadah yang berkualitas adalah yang sesuai dengan Al-quran dan sunnah Rosul-NYA.

  • Irman

    Tolong jelaskan takdir yg berhubngan dgn jodoh

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      Takdir yang berhubungan dengan jodoh, sebenarnya sudah dijelaskan dalam artikel di atas. Mungkin diperinci lagi pertanyaannya.

  • ady purwanto

    ,…aslmkm,.kematian seseorang kan sdh di tentukan,.?? kalo ia mati terbunuh,.brati,.disitu ada yang memang ditakdirkan membunuh dan ada yg ditakdikan dibunuh,..?? mohon penjelasannya,.???

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Ady
      Wa’alaikumus salam.
      Semua itu sudah ditakdirkan.

  • muhajirin

    Terima kasih,atas informasinya,benar-benar sangat membantu kami yang masih awam tentang taqdir, mudah-mudahan Allah SWT membalas segala kebaikan yang Bapak lakukan, semuanya karena Rahmat dan Kasih sayang-Nya yang diberikan kepada kita semua sehingga kita dapat mengetahui yang sebenarnya

  • http://www.bajumuslimmurah.com titik

    semua yang terjadi didunia ini adalah atas kehendak ALLah dan atas ijin nya…namun kita juga harus tetap berusaha dan ikhtiar dalam menjalani kehidupan ini…

  • ali

    matur nuwun mas, sebaiknya dikaji juga lbh dlm memaknai “Allah Menghendakinya”. Krn bisa jadi kata ini mengandung maksud “Sesuai dgn aturan Allah yg ada dlm al-Qur’an”. Jika dangkal memaknai kehendak ini justru akan bahaya. Coba pikir masa Allah mentaqdirkan (menghendaki) orang membunuh untuk kasus orang yg meninggal krn dibunuh? Ini gawat mas! Maaf and matur nuwun

  • cah ndesso

    bagaimana mensikapi persoalan: bagaimana jika tuhan mentaqdirkan seseorang menjadi kafir miskin(perumpamaan)…di dunia sengsara…diakhirat sengsara…agar hati menjadi tenang,krn itu terjadi di sekeliling kita,atau kita jg hrs khawatir mgkn itu jg terjadi dgn kita,meski kita jg tidak menginginkan itu terjadi#manusia terlalu egois dgn keselamatan mrk sendiri2,tanpa menyadari kemalangan yg di derita orang lain..yg penting saya baik (sekarang)… yg belum tentu nanti akhirnya…..#kl cmn takdir musibah, sakit , meninggal….itu hal yang biasa, tp kl takdir “iman” tidak ada, dan pada akhirnya nanti kita di siksa selama lamanya…..itu hal yg sangat luar biasa….. bagaimana jika terjadi ke kita, dan bukan orang lain……..meski kita jg harus berbaik sangka kepada tuhan,tp tuhan jg tidak menjadikan semua “kebaikan” di diri manusia, untuk menjelaskan keadilannya….thanks ,smg ada pencerahannya…

  • Azzam

    Bismillah.. Assalaamualaikum maaf mohon saran..
    Hati dan jiwa saya sejak kanak2 smp dewasa slalu condong dan reflex pd brbagai keburukan, dan itu sangat parah bhkan tdk lazim. Ketika saya mulai peduli pd agama dan mengenal manhaj salaf, saya berusaha sekuat mgkn untk merubah kondisi hati, jiwa dan prbuatan saya. Tp slalu gagal. Semua keburukan itu msh ada. Pdhal saya sangat ingin membuangnya dan menjadi baik. Saya malah merasa spt orang munafik yg menipu diri dan menipu Allah. Pdhl saya sangat ingin jd baik dan trs brusaha.
    Saya sering merasa takut dan pts asa kalau2 Allah mentakdirkan saya sbg orang yg buruk dan celaka. Dgn sebab: 1.kondisi hati, jiwa, prilaku yg buruk itu sdh ada sjk kanak2 ketika saya blm berakal dan sangat berbeda dg anak2 yg lain 2.sekuat apapun saya berusaha trnyt ttp gagal.
    Apkh ini yg dmksd “..tdk akan sanggup mnempuh jln kecuali dikehendaki Allah”. “Allah menyesatkn siapa yg dikehendaki..”. “Allah menetapkan baik buruk amal dan bahagia sengsaranya hamba.” ????mohon saran??..trmksh..

    • http://abukarimah.wordpress.com Didik Suyadi

      #Azzam
      Wa’alaikumussalam,
      1. Seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Alloh
      قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

      Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar : 53)

      2. Hendaknya seorang muslim berprasangaka baik kepada Alloh
      إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
      Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Alloh, mereka itu mengharapkan rahmat Alloh, dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah : 218)

      dan diantara tanda seorang yang berbaik sangka kepada Alloh adalah mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan, dan pertolongan dari-Nya

      3. Hidayah dan Kesesatan Hanya Di Tangan Alloh
      Maksudnya siapa yang ditakdirkan oleh Alloh untuk mendapat hidayah maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya sekalipun semua manusia sedunia dan dengan segala cara. Demikian juga sebaliknya, apabila Alloh mentakdirkan seseorang untuk tersesat maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk sekalipun dia seorang Nabi, karena hanya di tangan Alloh-lah segala urusan.

      Jika kita tahu bahwa hidayah dan kesesatan ada ditangan Alloh maka kita akan :
      a. Iman kepada takdir
      b. Banyak berdoa kepada Alloh agar menetapkan kita di atas hidayah dan menjauhkan kita dari kesesatan karena semua itu ada di tangan-Nya saja.
      c. Tidak bersandar pada diri sendiri karena hal itu akan mengantarkan kepada penyakit ujub (bangga diri).

      Dan yang perlu diingat dan diyakini oleh seorang muslim bahwa Alloh tidak akan pernah mendzolimi hamba-Nya

      ولا يظلم ربك أحدا

      Dia mengetahui ketulusan niat dan usaha dari hamba-Nya, jika kita berdo’a dengan sungguh-sungguh untuk terbebas dari segala “perkara gelap” kita di masa lalu dan disertai usaha yang keras maka insyaAlloh Alloh akan berikan yang terbaik bagi kita.

      Wallohua’lam

  • Dani

    Amiin smg tetap dlm iman..

  • ikhsan

    Assalamualaikum.
    ALhamdulillah, jelas juga akhirnya, kemarin sempat ada kesalah pahaman di pengajian, :)

  • http://alhudasindangreret.blogspot.com peni faridah

    Assalamu’alaikum. wr.wb mohon penjelasannya, saya pernah membaca di Al-Qur’an bahwa kebaikan itu datangnya dari Allah sedangkan keburukan itu datangnya dari kita sendiri. Sedangkan di artikel ini dijelaskan bahwa ketaatan dan kemaksiatan adalah ketetapan Allah. Trus apakah yang menikah kemudian bercerai itu takdir Allah atau kesalahan manusia?

  • http://cv.langit2@gmail.com edi eko

    Kalau memang kebaikan dan keburukan itu takdir berarti seseorang menjadi nasrani merupakan takdir??.padahal mereka akan dipersalahkan atau masuk neraka krn tdk beriman pd allah??.mohon dijelaskan.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #edi eko
      Imam Abu Hanifah (Imam mazhab Hanafi) -rahimahullah- memiliki perkataan yang bagus dalam menjelaskan prinsip takdir yang benar:
      “Tidak ada hamba yang oleh takdir Allah dipaksa untuk beriman atau untuk kafir. Namun Allah menciptakan para hamba-Nya dengan memiliki pribadi masing-masing. Iman dan kufur adalah perbuatan hamba. Namun Allah Ta’ala MENGETAHUI (bukan memaksa) siapa saja yang kafir. Dan jika hamba yang kafir tersebut lalu beriman, Allah mencintainya dan sesungguhnya Allah sudah mengetahuinya (bahwa ia akan beriman) tanpa ada perubahan ilmu pada sisi Allah (dari tidak mengetahui menjadi mengetahui)” (Al Fiqhu Al Akbar, hal. 302)

  • Pingback: ” Sudah Takdir, Mas.. “ « learningfromlives

  • Pingback: Memahami Takdir Ilahi « enha – berkarya

  • ugly

    pertanyaan dari azzam belum terjawab . dan saya juga merasakan hal itu .

  • kharisma

    kalau menurut sy takdir itu urusan Allah, dan kita tidak sanggup memahaminya lebih jauh. kita cukup meyakini semua ini takdir Allah. kita mengetahui takdir setelah takdir itu terjadi. Allah menciptakan hukum sebab akibat. yang penting kita berusaha menjadi pribadi yang bertaqwa.

  • Pingback: Pelajaran Dasar Agama Islam — Muslim.Or.Id

  • http://muslim-net-since.blogspot.com/ Netsin

    Assalamualaikum:

    Terima kasih atas artikelnya..

    Mohon ijin untuk me repost di blog saya..

  • Adriyan

    SubnALLAH….

  • Pingback: aditcahyo » Blog Archive » Memahami Takdir Ilahi

  • Pingback: 9 Alasan Mengapa Kita Harus Memperbanyak Beramal Sholih (1) |

  • angeliapulampas

    bila rejeki dan ajal termasuk takdir..kalau jodoh apakah termasuk takdir juga..tapi mengapa banyak yang kawin cerai..apakah itu takdir juga…????

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #angeliapulampas
      Jika cerai artinya dia bukanlah jodohnya

  • maman surahman

    Apakah dosa itu takdir Tadz? soalanya Allah tahu sebelum kita berbuat dosa…mohon penjelasanya…jazakumullah

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.