<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Kalimat Syahadat Dalam Sorotan (1)</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/aqidah/kalimat-syahadat-dalam-sorotan-1.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id/aqidah/kalimat-syahadat-dalam-sorotan-1.html</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2012 14:39:11 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Abu Nushoibah Jum'at</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kalimat-syahadat-dalam-sorotan-1.html/comment-page-1#comment-59596</link>
		<dc:creator>Abu Nushoibah Jum'at</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 23:10:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=196#comment-59596</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum. Materinya ana izin baca dan bisa ana copy ya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum. Materinya ana izin baca dan bisa ana copy ya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: luc</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kalimat-syahadat-dalam-sorotan-1.html/comment-page-1#comment-36877</link>
		<dc:creator>luc</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 22:01:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=196#comment-36877</guid>
		<description>thx for ur information</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>thx for ur information</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Muslim.or.id</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kalimat-syahadat-dalam-sorotan-1.html/comment-page-1#comment-2214</link>
		<dc:creator>Muslim.or.id</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 12:47:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=196#comment-2214</guid>
		<description>Untuk tanggapan terhadap komentar Saudara Agus, silakan merujuk artikel &lt;a href=&quot;http://muslim.or.id/aqidah/menyoal-pemaknaan-syahadat.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Menyoal Pemaknaan Syahadat&lt;/a&gt; di website ini. Sebelum memberikan komentar, kami mengharapkan untuk membaca artikel tersebut terlebih dahulu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk tanggapan terhadap komentar Saudara Agus, silakan merujuk artikel <a href="http://muslim.or.id/aqidah/menyoal-pemaknaan-syahadat.html" rel="nofollow">Menyoal Pemaknaan Syahadat</a> di website ini. Sebelum memberikan komentar, kami mengharapkan untuk membaca artikel tersebut terlebih dahulu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Agus</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/kalimat-syahadat-dalam-sorotan-1.html/comment-page-1#comment-1633</link>
		<dc:creator>Agus</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 09:22:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=196#comment-1633</guid>
		<description>Bagaimana kalau kita usulkan terjemahan yang baru yaitu: tiada ilah selain Allah, karena dengan mempertahankan kata ilah sesuai dengan teks aslinya maka tidak ada perbedaan pengertian uluhiyah dengan rububiyah dan sesuai dengan kalimat yang diturunkan oleh Allah. Dan segala sesuatu yang diturunkan Allah pasti tidak ada kesalahan apapun di dalamnya. 
Meskipun saya tidak begitu setuju dengan menyempitkan ilah dengan makna uluhiyah karena kalau kita lihat surat Al Anam:164. Katakanlah: &quot;Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu&quot; Tuhan di ayat ini menggunakan kata robba yang bermakna rububiyah dan kalau lihat redaksi kalimat tersebut hampir sama dengan redaksi kalimat la ilaha illallah yang berarti kita tidak bisa memisahkan makna tauhid rububiyah dan makna tauhid uluhiyah. Dan juga pada ayat 3:80:&quot;dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan&quot;. Karena ayat ini menolak adanya penyembahan kepada yang lain seperti disebut ayat sebelumnya 3:79, tetapi meskipun begitu di ayat 3:80 ini menggunakan kata robba juga meskipun bermaksud dalam penyembahan. Dan juga pada ayat 9:31:” Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” yang masih menggunakan kata robba dalam arti penyembahan kepada Al Masih.
Dan juga pada ayat 23: 91. “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya”” tuhan disini disebut dengan ilah yang bermakna uluhiyah tetapi di ayat ini dimaknai rububiyah dengan kemampuan mencipta. Dalam ayat 21: 22. “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai &#039;Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” Di ayat ini juga menggunakan ilah jadi tidak ada ilah lain di langit dan bumi
Kalau ilah di kalimat tauhid ini hanya dipahami secari uluhiyah maka kita terpaksa meletakkan Allah sejajar dengan ilah2 yang lain, dan dengan tanpa alasan yang jelas kita memilih Allah sebagai ilah kita. Padahal bukan seperti itu yang dikehendaki Allah dalam pemilihan Allah sebagai ilah kita harus memahami dulu makna tauhid rububiyah dengan seksama baru memilih-Nya sebagai sesembahan kita.
Kalau ilah di kalimat tauhid ini hanya dipahami secari uluhiyah maka kita terpaksa meletakkan Allah sejajar dengan ilah2 yang lain dan terpaksa kita menambah kata haq supaya maksud ini tercapai. Padahal Allah telah membuat kalimat ini tanpa kata haq sedikitpun, dan yang pasti kalimat ini adalah kalimat yang sempurna dan tidak pernah berubah sedikitpun sejak jaman dulu sampai sekarang yang dari nabi pertama sampai nabi terakhir diutus untuk kalimat ini. Memang ada ide yang mengatakan Allah menyembunyikan kata haq, tapi saya pikir hal ini tidak mungkin karena kalimat ini seharusnya sudah sempurna mengingat ketinggiannya di atas kalimat lain. Dan penambahan kata haq ini adalah sesuatu tambahan, yang tidak ada keterangan sedikitpun di dalam quran dan hadist. Penambahan ini juga mungkin terjadi setelah ada ilmu nahwu dan shorof yang dibuat setelah jaman nabi. Dengan adanya ilmu ini maka mereka menganganggap bahwa kalimat yang datang dari Allah dan telah disampaikan semua nabi dan termasuk nabi Muhammad saw ini tidak sempurna dan perlu tambahan kata haq sebagai syarat kesempurnaan kalimat ini.
Dan yang pasti orang musyrik jelas tidak paham kalimat tauhid karena mereka masih menyembah tuhan (menganggap ada tuhan lain selain Allah) yang lain dan kalaupun tidak menyembah tuhan yang lain mereka tidak bertaqwa dengan tidak mengikuti agama islam. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat  2: 163, kaum musyrikin kaget dan bertanya-tanya. &quot;Apakah benar Tuhan itu tunggal? Jika benar demikian, berikanlah kepada kami bukti-buktinya!&quot; Maka turunlah ayat berikutnya  2: 164) yang menegaskan adanya bukti-bukti keesaan Tuhan. (Diriwayatkan oleh Sa&#039;id bin Manshur di dalam Sunannya, al-Faryabi di dalam Tafsirnya, dan al-Baihaqi d idalam Kitab Syu&#039;bul Iman yang bersumber dari Abidl-Dluha. As-Sayuthi berpendapat bahwa Hadits ini mu&#039;dlal, tetapi ada syahid (penguatnya).) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa setelah turun ayat ini (S. 2: 163) kepada Nabi SAW di Madinah, kafir Quraisy di Mekah bertanya. &quot;Bagaimana Tuhan Yang Tunggal dapat mendengar manusia yang banyak?&quot; Maka turunlah ayat berikutnya (S. 2: 164) yang menegaskan adanya bukti-bukti keesaan Tuhan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu-Syaikh di dalam kitab al-&#039;Izhmah yang bersumber dari &#039;Atha&#039;.) Dalam riwayat ini sangat jelas bahwa orang musyrik hanya memahami sedikit tauhid rububiyah. Dalam ayat 12: 39. Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” Nabi Yusuf menggunakan kata robba di ayat ini sehingga kita dapat menyimpulkan orang musyrik sebenarnya tidak memahami tauhid rububiyah dengan baik sehingga masih menganggap ada rob yang lain.
Dan sememangnya mereka tidak paham kalimat ini karena untuk memahami mereka harus mempelajarinya dengan seksama dengan ilmu pengetahuan seperti ayat 47: 19. “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah” dan mereka hanya memahami sedikit tauhid rububiyah karena kalau mereka paham tentunya mereka akan meneruskan dengan menyembah Allah saja, hal ini banyak diterangkan di quran seperti ayat 6:102. “(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu” dan 10:3: ” Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas &#039;Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa&#039;at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”. Di banyak ayat ini disebutkan sifat rububiyah dan setelah mereka paham maka tidak ada lain kecuali mereka dengan terpaksa atau sukarela harus menyembah Allah. Karena kita mau menyembah Allah tentunya setelah memahami sifat-sifat rububiyah yang banyak diterangkan oleh Allah dan kitapun harus memikirkan rububiyah Allah baik dalam keadaan berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring sekalipun maka setelah itu tauhid uluhiyah kita akan semakin mantap. 
Dalam ayat 35: 3. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?”
dan juga ayat 27: 64:” Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: &quot;Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.&quot; Pemahaman tauhid rububiyah akan menggiring mereka untuk memahami tauhid uluhiyah. Keterangan yang sangat jelas berasal dari Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah (wafat th. 1376 H): “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Tidak boleh Dia disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.” Jadi setelah pemahaman tauhid rububiyah dengan benar maka tidak ada alasan lain selain menyembah ilah satu2nya yaitu Allah. Karena orang musyrik hanya memahami tauhid rububiyah hanya sebagaian saja sehingga mereka masih menganggap bahwa masih ada berbagai dewa yang menguasai mereka atau minimal mereka memerlukan penghubung/perantara antara dia dengan Allah.
Dan yang pasti tidak ada ilah lain di langit dan di bumi karena sesuai dengan ayat 6: 19. Katakanlah: &quot;Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?&quot; Katakanlah: &quot;Allah.&quot; Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?&quot; Katakanlah: &quot;Aku tidak mengakui.&quot; Katakanlah: &quot;Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).&quot;  Kata mengakui ini menggunakan kata syahada yang juga berarti menyaksikan, yang berarti iman yang benar mestinya tidak menyaksikan adanya ilah lain. Sehingga kalau mengartikan kalimat tauhid dengan maksud uluhiyah semata maka kita (mungkin) secara tidak sadar mengakui ada ilah lain dan harus menambah kata haq dalam kalimat tauhid. Dan dalam ayat 15: 96: “(Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)”. 
Kesimpulan: terjemahan tidak ada tuhan selain Allah sudah tepat dan tidak memerlukan kata haq karena memang tidak ada ilah lain selain Allah. Karena yang mereka sembah selain Allah sesungguhnya hanya berhala yang tidak punya kekuatan apapun dan tidak bisa menunjukkan mereka ke jalan yang benar. Jadi kalau mereka orang musyrik ini memahami kalimat tauhid dengan makna rububiyah yang benar tentunya mereka telah masuk islam dan masuk ke pemahaman tauhid uluhiyah secara benar, seperti peristiwa nabi Ibrahim yang dengan logika sederhana menunjukkan bagaimana memilih tuhan dengan membandingkan potensi-potensi tuhan yang mungkin, dan berakhir dengan kesimpulan bahwa pastilah tuhan adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan dia bukan termasuk orang2 yang mempersekutukan Tuhan, meskipun kita tahu melalui pengetahuan modern sekarang ini bahwa bintang, bulan dan matahari tidak pernah tenggelam di manapun yang hanya ilusi karena perputaran bumi, tapi inilah jalan pikiran mereka yang masih belum sampai pengetahuan modern dan melalui pendekatan tauhid rububiyah ini oleh nabi Ibrahim maka mereka dapat menyimpulkan tauhid uluhiyah. Oleh karena itu nabi Ibrahim digelari “Bapak Tauhid”. Dalam peristiwa ini nabi Ibrahim tidak menyebutkan nama tuhan dengan khusus dan menyebutnya dengan “yang menciptakan langit dan bumi” yang mengisyaratkan adanya tauhid rububiyah dan juga sekaligus tauhid uluhiyah. Dan sebagaian ulama yang mengatakan bahwa kata Allah adalah berasal dari kata sang Tuhan (al ilah) jadi merupakan gelaran dari sang pencipta langit dan bumi dan merupakan salah satu nama dari asma ul husna. Sehingga kalau orang bukan arab jelas menyebut nama Allah dengan kata yang lain misalnya god, dewa atau lainnya, jadi kalau orang musyrik amerika kalau ditanya siapa pencipta langit dan bumi mereka pasti menjawab god bukan Allah karena mereka tidak mengenal kata ini, dan ayat yang menceritakan peristiwa ini tentunya bukan khusus untuk orang arab saja tapi untuk semua bangsa di dunia, yaitu ayat 10:31 yang dalam ayat ini ditambahkan kata sa yang berarti yang akan datang (future tense) yang juga merupakan ramalan bagi orang2 musyrik modern seperti sekarang ini yang tidak mungkin bagi orang2 ini untuk menyebut Allah. Mereka akan menyebut god atau creator atau bahkan smart intelegent. Karena saya pernah bertanya hal seperti ini ke orang yang menamakan dirinya “free thinker” mereka juga menyebut bahwa” I believe god creates everything but I don’t follow any god or any rule of god”. Dan juga saya pernah bertemu dengan orang afrika yang tidak punya agama apapun, juga menyebut dia percaya ada yang menciptakan dan dia menyebut kata god karena dia tidak bisa berbahasa arab dan berkomunikasi bahasa inggris dengan saya. Sehingga kalau kita melihat kata Allah sebagai al Ilah tentunya kita dapat menerapkan ayat ini ke kehidupan modern sekarang ini. Dan juga dapat memahami ayat 5: 3. “Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi;” dengan baik dan ayat 43: 84:”Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. Ayat 5:3 menggunakan kata Allah dan ayat 43:84 menggunakan kata ilah tapi redaksi sama dan sejajar dalam maknanya.
Wallahu a’lam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana kalau kita usulkan terjemahan yang baru yaitu: tiada ilah selain Allah, karena dengan mempertahankan kata ilah sesuai dengan teks aslinya maka tidak ada perbedaan pengertian uluhiyah dengan rububiyah dan sesuai dengan kalimat yang diturunkan oleh Allah. Dan segala sesuatu yang diturunkan Allah pasti tidak ada kesalahan apapun di dalamnya.<br />
Meskipun saya tidak begitu setuju dengan menyempitkan ilah dengan makna uluhiyah karena kalau kita lihat surat Al Anam:164. Katakanlah: &#8220;Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu&#8221; Tuhan di ayat ini menggunakan kata robba yang bermakna rububiyah dan kalau lihat redaksi kalimat tersebut hampir sama dengan redaksi kalimat la ilaha illallah yang berarti kita tidak bisa memisahkan makna tauhid rububiyah dan makna tauhid uluhiyah. Dan juga pada ayat 3:80:&#8221;dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan&#8221;. Karena ayat ini menolak adanya penyembahan kepada yang lain seperti disebut ayat sebelumnya 3:79, tetapi meskipun begitu di ayat 3:80 ini menggunakan kata robba juga meskipun bermaksud dalam penyembahan. Dan juga pada ayat 9:31:” Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” yang masih menggunakan kata robba dalam arti penyembahan kepada Al Masih.<br />
Dan juga pada ayat 23: 91. “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya”” tuhan disini disebut dengan ilah yang bermakna uluhiyah tetapi di ayat ini dimaknai rububiyah dengan kemampuan mencipta. Dalam ayat 21: 22. “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai &#8216;Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” Di ayat ini juga menggunakan ilah jadi tidak ada ilah lain di langit dan bumi<br />
Kalau ilah di kalimat tauhid ini hanya dipahami secari uluhiyah maka kita terpaksa meletakkan Allah sejajar dengan ilah2 yang lain, dan dengan tanpa alasan yang jelas kita memilih Allah sebagai ilah kita. Padahal bukan seperti itu yang dikehendaki Allah dalam pemilihan Allah sebagai ilah kita harus memahami dulu makna tauhid rububiyah dengan seksama baru memilih-Nya sebagai sesembahan kita.<br />
Kalau ilah di kalimat tauhid ini hanya dipahami secari uluhiyah maka kita terpaksa meletakkan Allah sejajar dengan ilah2 yang lain dan terpaksa kita menambah kata haq supaya maksud ini tercapai. Padahal Allah telah membuat kalimat ini tanpa kata haq sedikitpun, dan yang pasti kalimat ini adalah kalimat yang sempurna dan tidak pernah berubah sedikitpun sejak jaman dulu sampai sekarang yang dari nabi pertama sampai nabi terakhir diutus untuk kalimat ini. Memang ada ide yang mengatakan Allah menyembunyikan kata haq, tapi saya pikir hal ini tidak mungkin karena kalimat ini seharusnya sudah sempurna mengingat ketinggiannya di atas kalimat lain. Dan penambahan kata haq ini adalah sesuatu tambahan, yang tidak ada keterangan sedikitpun di dalam quran dan hadist. Penambahan ini juga mungkin terjadi setelah ada ilmu nahwu dan shorof yang dibuat setelah jaman nabi. Dengan adanya ilmu ini maka mereka menganganggap bahwa kalimat yang datang dari Allah dan telah disampaikan semua nabi dan termasuk nabi Muhammad saw ini tidak sempurna dan perlu tambahan kata haq sebagai syarat kesempurnaan kalimat ini.<br />
Dan yang pasti orang musyrik jelas tidak paham kalimat tauhid karena mereka masih menyembah tuhan (menganggap ada tuhan lain selain Allah) yang lain dan kalaupun tidak menyembah tuhan yang lain mereka tidak bertaqwa dengan tidak mengikuti agama islam. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat  2: 163, kaum musyrikin kaget dan bertanya-tanya. &#8220;Apakah benar Tuhan itu tunggal? Jika benar demikian, berikanlah kepada kami bukti-buktinya!&#8221; Maka turunlah ayat berikutnya  2: 164) yang menegaskan adanya bukti-bukti keesaan Tuhan. (Diriwayatkan oleh Sa&#8217;id bin Manshur di dalam Sunannya, al-Faryabi di dalam Tafsirnya, dan al-Baihaqi d idalam Kitab Syu&#8217;bul Iman yang bersumber dari Abidl-Dluha. As-Sayuthi berpendapat bahwa Hadits ini mu&#8217;dlal, tetapi ada syahid (penguatnya).) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa setelah turun ayat ini (S. 2: 163) kepada Nabi SAW di Madinah, kafir Quraisy di Mekah bertanya. &#8220;Bagaimana Tuhan Yang Tunggal dapat mendengar manusia yang banyak?&#8221; Maka turunlah ayat berikutnya (S. 2: 164) yang menegaskan adanya bukti-bukti keesaan Tuhan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu-Syaikh di dalam kitab al-&#8217;Izhmah yang bersumber dari &#8216;Atha&#8217;.) Dalam riwayat ini sangat jelas bahwa orang musyrik hanya memahami sedikit tauhid rububiyah. Dalam ayat 12: 39. Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” Nabi Yusuf menggunakan kata robba di ayat ini sehingga kita dapat menyimpulkan orang musyrik sebenarnya tidak memahami tauhid rububiyah dengan baik sehingga masih menganggap ada rob yang lain.<br />
Dan sememangnya mereka tidak paham kalimat ini karena untuk memahami mereka harus mempelajarinya dengan seksama dengan ilmu pengetahuan seperti ayat 47: 19. “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah” dan mereka hanya memahami sedikit tauhid rububiyah karena kalau mereka paham tentunya mereka akan meneruskan dengan menyembah Allah saja, hal ini banyak diterangkan di quran seperti ayat 6:102. “(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu” dan 10:3: ” Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas &#8216;Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa&#8217;at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”. Di banyak ayat ini disebutkan sifat rububiyah dan setelah mereka paham maka tidak ada lain kecuali mereka dengan terpaksa atau sukarela harus menyembah Allah. Karena kita mau menyembah Allah tentunya setelah memahami sifat-sifat rububiyah yang banyak diterangkan oleh Allah dan kitapun harus memikirkan rububiyah Allah baik dalam keadaan berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring sekalipun maka setelah itu tauhid uluhiyah kita akan semakin mantap.<br />
Dalam ayat 35: 3. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?”<br />
dan juga ayat 27: 64:” Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: &#8220;Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.&#8221; Pemahaman tauhid rububiyah akan menggiring mereka untuk memahami tauhid uluhiyah. Keterangan yang sangat jelas berasal dari Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah (wafat th. 1376 H): “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Tidak boleh Dia disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.” Jadi setelah pemahaman tauhid rububiyah dengan benar maka tidak ada alasan lain selain menyembah ilah satu2nya yaitu Allah. Karena orang musyrik hanya memahami tauhid rububiyah hanya sebagaian saja sehingga mereka masih menganggap bahwa masih ada berbagai dewa yang menguasai mereka atau minimal mereka memerlukan penghubung/perantara antara dia dengan Allah.<br />
Dan yang pasti tidak ada ilah lain di langit dan di bumi karena sesuai dengan ayat 6: 19. Katakanlah: &#8220;Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?&#8221; Katakanlah: &#8220;Allah.&#8221; Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?&#8221; Katakanlah: &#8220;Aku tidak mengakui.&#8221; Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).&#8221;  Kata mengakui ini menggunakan kata syahada yang juga berarti menyaksikan, yang berarti iman yang benar mestinya tidak menyaksikan adanya ilah lain. Sehingga kalau mengartikan kalimat tauhid dengan maksud uluhiyah semata maka kita (mungkin) secara tidak sadar mengakui ada ilah lain dan harus menambah kata haq dalam kalimat tauhid. Dan dalam ayat 15: 96: “(Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)”.<br />
Kesimpulan: terjemahan tidak ada tuhan selain Allah sudah tepat dan tidak memerlukan kata haq karena memang tidak ada ilah lain selain Allah. Karena yang mereka sembah selain Allah sesungguhnya hanya berhala yang tidak punya kekuatan apapun dan tidak bisa menunjukkan mereka ke jalan yang benar. Jadi kalau mereka orang musyrik ini memahami kalimat tauhid dengan makna rububiyah yang benar tentunya mereka telah masuk islam dan masuk ke pemahaman tauhid uluhiyah secara benar, seperti peristiwa nabi Ibrahim yang dengan logika sederhana menunjukkan bagaimana memilih tuhan dengan membandingkan potensi-potensi tuhan yang mungkin, dan berakhir dengan kesimpulan bahwa pastilah tuhan adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan dia bukan termasuk orang2 yang mempersekutukan Tuhan, meskipun kita tahu melalui pengetahuan modern sekarang ini bahwa bintang, bulan dan matahari tidak pernah tenggelam di manapun yang hanya ilusi karena perputaran bumi, tapi inilah jalan pikiran mereka yang masih belum sampai pengetahuan modern dan melalui pendekatan tauhid rububiyah ini oleh nabi Ibrahim maka mereka dapat menyimpulkan tauhid uluhiyah. Oleh karena itu nabi Ibrahim digelari “Bapak Tauhid”. Dalam peristiwa ini nabi Ibrahim tidak menyebutkan nama tuhan dengan khusus dan menyebutnya dengan “yang menciptakan langit dan bumi” yang mengisyaratkan adanya tauhid rububiyah dan juga sekaligus tauhid uluhiyah. Dan sebagaian ulama yang mengatakan bahwa kata Allah adalah berasal dari kata sang Tuhan (al ilah) jadi merupakan gelaran dari sang pencipta langit dan bumi dan merupakan salah satu nama dari asma ul husna. Sehingga kalau orang bukan arab jelas menyebut nama Allah dengan kata yang lain misalnya god, dewa atau lainnya, jadi kalau orang musyrik amerika kalau ditanya siapa pencipta langit dan bumi mereka pasti menjawab god bukan Allah karena mereka tidak mengenal kata ini, dan ayat yang menceritakan peristiwa ini tentunya bukan khusus untuk orang arab saja tapi untuk semua bangsa di dunia, yaitu ayat 10:31 yang dalam ayat ini ditambahkan kata sa yang berarti yang akan datang (future tense) yang juga merupakan ramalan bagi orang2 musyrik modern seperti sekarang ini yang tidak mungkin bagi orang2 ini untuk menyebut Allah. Mereka akan menyebut god atau creator atau bahkan smart intelegent. Karena saya pernah bertanya hal seperti ini ke orang yang menamakan dirinya “free thinker” mereka juga menyebut bahwa” I believe god creates everything but I don’t follow any god or any rule of god”. Dan juga saya pernah bertemu dengan orang afrika yang tidak punya agama apapun, juga menyebut dia percaya ada yang menciptakan dan dia menyebut kata god karena dia tidak bisa berbahasa arab dan berkomunikasi bahasa inggris dengan saya. Sehingga kalau kita melihat kata Allah sebagai al Ilah tentunya kita dapat menerapkan ayat ini ke kehidupan modern sekarang ini. Dan juga dapat memahami ayat 5: 3. “Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi;” dengan baik dan ayat 43: 84:”Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. Ayat 5:3 menggunakan kata Allah dan ayat 43:84 menggunakan kata ilah tapi redaksi sama dan sejajar dalam maknanya.<br />
Wallahu a’lam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

