Hakikat Tasawuf (1)

Kategori: Aqidah

83 Komentar // 23 Oktober 2008

Pendahuluan

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Istilah “sufi” atau “tasawuf” tentu sangat dikenal di kalangan kita, terlebih lagi di kalangan masyarakat awam, istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas orang awam beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat takwa tanpa melalui jalan tasawuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu di tangan dan bibir yang selalu bergerak melafazkan zikir, yang semua ini semakin menambah keyakinan orang-orang awam bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allah ta’ala

Sebelum kami membahas tentang hakikat tasawuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan cuma dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata, akan tetapi yang menjadi barometer adalah sesuai tidaknya pemahaman tersebut dengan Al Quran dan As Sunnah menurut apa yang dipahami salafush shalih. Sebagai bukti akan hal ini kisah khawarij, kelompok yang pertama menyempal dalam islam yang diperangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah pimpinan Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal kalau kita melihat pengakuan lisan dan penampilan lahir kelompok khawarij ini maka tidak akan ada seorang pun yang menduga bahwa mereka menyembunyikan penyimpangan dan kesesatan yang besar dalam batin mereka, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan ciri-ciri kelompok khawarij ini, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…Mereka (orang-orang khawarij) selalu mengucapkan (secara lahir) kata-kata yang baik dan indah, dan mereka selalu membaca Al Quran tapi (bacaan tersebut) tidak melampaui tenggorokan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka)…” (HSR Imam Muslim 7/175, Syarh An Nawawi, cet. Darul Qalam, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu).

Dan dalam riwayat yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “… Bacaan Al Quran kalian (wahai para sahabatku) tidak ada artinya jika dibandingkan dengan bacaan Al Quran mereka, (demikian pula) shalat kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan shalat mereka, (demikian pula) puasa kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan puasa mereka (HSR Imam Muslim 7/175, Syarh An Nawawi, cet. Darul Qalam, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)

Maka pada hadits yang pertama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang ciri-ciri mereka yang selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan indah tapi cuma di mulut saja dan tidak masuk ke dalam hati mereka, dan pada hadits yang ke dua Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang penampilan lahir mereka yang selalu mereka tampakkan untuk memperdaya manusia, yaitu kesungguhan dalam beribadah yang bahkan sampai kelihatannya melebihi kesungguhan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam beribadah (karena memang para Sahabat radhiyallahu ‘anhum berusaha keras untuk menyembunyikan ibadah mereka karena takut tertimpa riya)

Yang kemudian prinsip ini diterapkan dengan benar oleh Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, tatkala kelompok khawarij keluar untuk memberontak dengan satu slogan yang mereka elu-elukan: “Tidak ada hukum selain hukum Allah ‘azza wa jalla“. Maka Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menanggapi slogan tersebut dengan ucapan beliau radhiyallahu ‘anhu yang sangat masyhur -yang seharusnya kita jadikan sebagai pedoman dalam menilai suatu pemahaman- yaitu ucapan beliau radhiyallahu ‘anhu: “(slogan mereka itu ) adalah kalimat (yang nampaknya) benar tetapi dimaksudkan untuk kebatilan.”

Semoga Allah ‘azza wa jalla Merahmati Imam Abu Muhammad Al Barbahari yang mengikrarkan prinsip ini dalam kitabnya Syarhus Sunnah dengan ucapan beliau: “Perhatikan dan cermatilah -semoga Allah ‘azza wa jalla merahmatimu- semua orang yang menyampaikan satu ucapan/pemahaman di hadapanmu, maka jangan sekali-kali kamu terburu-buru untuk membenarkan dan mengikuti ucapan/pemahaman tersebut, sampai kamu tanyakan dan meneliti kembali: Apakah ucapan/pemahaman tersebut pernah disampaikan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamradhiyallahu ‘anhu atau pernah disampaikan oleh ulama Ahlussunnah? Kalau kamu dapati ucapan/pemahaman tersebut sesuai dengan pemahaman mereka radhiyallahu ‘anhum berpegang teguhlah kamu dengan ucapan/pemahaman tersebut, dan janganlah (sekali-kali) kamu meninggalkannya dan memilih pemahaman lain, sehingga (akibatnya) kamu akan terjerumus ke dalam neraka!” (Syarhus Sunnah, tulisan Imam Al Barbahari hal.61, tahqiq Syaikh Khalid Ar Radadi). Setelah prinsip di atas jelas, sekarang kami akan membahas tentang hakikat tasawuf, agar kita bisa melihat dan menilai dengan jelas benar atau tidaknya ajaran tasawuf ini.

Definisi Tasawuf/Sufi

Kata “Shufi” berasal dari bahasa Yunani “Shufiya” yang artinya: hikmah. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata ini merupakan penisbatan kepada pakaian dari kain “Shuf” (kain wol) dan pendapat ini lebih sesuai karena pakaian wol di zaman dulu selalu diidentikkan dengan sifat zuhud, Ada juga yang mengatakan bahwa memakai pakaian wol dimaksudkan untuk bertasyabbuh (menyerupai) Nabi ‘Isa Al Masih ‘alaihi sallam (Lihat kitab kecil “Haqiqat Ash Shufiyyah Fii Dhau’il Kitab was Sunnah” (hal. 13), tulisan Syaikh DR. Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ada perbedaan pendapat dalam penisbatan kata “Shufi”, karena kata ini termasuk nama yang menunjukkan penisbatan, seperti kata “Al Qurasyi” (yang artinya: penisbatan kepada suku Quraisy), dan kata “Al Madani” (artinya: penisbatan kepada kota Madinah) dan yang semisalnya. Ada yang mengatakan: “Shufi” adalah nisbat kepada Ahlush Shuffah (Ash Shuffah adalah semacam teras yang bersambung dengan mesjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dulu dijadikan tempat tinggal sementara oleh beberapa orang sahabat Muhajirin radhiyallahu ‘anhum yang miskin, karena mereka tidak memiliki harta, tempat tinggal dan keluarga di Madinah, maka Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan mereka tinggal sementara di teras tersebut sampai mereka memiliki tempat tinggal tetap dan peng- hidupan yang cukup. Lihat kitab Taqdis Al Asykhash tulisan Syaikh Muhammad Ahmad Lauh 1/34, -pen), tapi pendapat ini (jelas) salah, karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: “Shuffi” (dengan huruf “fa’ “yang didobel). Ada juga yang mengatakan nisbat kepada “Ash Shaff” (barisan) yang terdepan di hadapan Allah ‘azza wa jalla, pendapat ini pun salah, karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah “Shaffi” (dengan harakat fathah pada huruf “shad” dan huruf “fa’ ” yang didobel. Ada juga yang mengatakan nisbat kepada “Ash Shafwah” (orang-orang terpilih) dari semua makhluk Allah ‘azza wa jalla, dan pendapat ini pun salah karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: “Shafawi”. Ada juga yang mengatakan nisbat kepada (seorang yang bernama) Shufah bin Bisyr bin Udd bin Bisyr bin Thabikhah, satu suku dari bangsa Arab yang di zaman dulu (zaman jahiliah) pernah bertempat tinggal di dekat Ka’bah di Mekkah, yang kemudian orang-orang yang ahli nusuk (ibadah) setelah mereka dinisbatkan kepada mereka, pendapat ini juga lemah meskipun lafazhnya sesuai jika ditinjau dari segi penisbatan, karena suku ini tidak populer dan tidak dikenal oleh kebanyakan orang-orang ahli ibadah, dan kalau seandainya orang-orang ahli ibadah dinisbatkan kepada mereka maka mestinya penisbatan ini lebih utama di zaman para sahabat, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, dan juga karena mayoritas orang-orang yang berbicara atas nama shufi tidak mengenal qabilah (suku) ini dan tidak ridha dirinya dinisbatkan kepada suatu suku yang ada di zaman jahiliyah yang tidak ada eksistensinya dalam islam. Ada juga yang mengatakan -dan pendapat inilah yang lebih dikenal- nisbat kepada “Ash Shuf” (kain wol)(Majmu’ul Fatawa, 11/5-6).

Lahirnya Ajaran Tasawuf

Tasawuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal di zaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahkan tidak dikenal di zaman tiga generasi yang utama (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Ajaran ini baru muncul sesudah zaman tiga generasi ini. (Lihat Haqiqat Ash Shufiyyah hal. 14).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Adapun lafazh “Shufiyyah”, lafazh ini tidak dikenal di kalangan tiga generasi yang utama. Lafazh ini baru dikenal dan dibicarakan setelah tiga generasi tersebut, dan telah dinukil dari beberapa orang imam dan syaikh yang membicarakan lafazh ini, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad Darani dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri bahwasanya beliau membicarakan lafazh ini, dan ada juga yang meriwayatkan dariHasan Al Bashri” (Majmu’ Al Fatawa 11/5).

Kemudian Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwasanya ajaran ini pertama kali muncul di kota Bashrah, Iraq, yang dimulai dengan timbulnya sikap berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah yang tidak terdapat di kota-kota (islam) lainnya (Majmu’ Al Fatawa, 11/6).

Berkata Imam Ibnu Al Jauzi: “Tasawuf adalah suatu aliran yang lahirnya diawali dengan sifat zuhud secara keseluruhan, kemudian orang-orang yang menisbatkan diri kepada aliran ini mulai mencari kelonggaran dengan mendengarkan nyanyian dan melakukan tari-tarian, sehingga orang-orang awam yang cenderung kepada akhirat tertarik kepada mereka karena mereka menampakkan sifat zuhud, dan orang-orang yang cinta dunia pun tertarik kepada mereka karena melihat gaya hidup yang suka bersenang-senang dan bermain pada diri mereka. (Talbis Iblis hal 161).

Dan berkata DR. Shabir Tha’imah dalam kitabnya Ash Shufiyyah Mu’taqadan Wa Maslakan (hal. 17) “Dan jelas sekali besarnya pengaruh gaya hidup kependetaan Nasrani -yang mereka selalu memakai pakaian wol ketika mereka berada di dalam biara-biara- pada orang-orang yang memusatkan diri pada kegiatan ajaran tasawuf ini di seluruh penjuru dunia, padahal Islam telah membebaskan dunia ini dengan tauhid, yang mana gaya hidup ini dan lainnya memberikan suatu pengaruh yang sangat jelas pada tingkah laku para pendahulu ahli tasawuf.” (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya Haqiqat At Tasawwuf, hal. 13).

Dan berkata Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dalam kitab beliau At Tashawuf, Al Mansya’ wa Al Mashdar hal. 28 “Ketika kita mengamati lebih dalam ajaran-ajaran tasawuf yang dulu maupun yang sekarang dan ucapan-ucapan mereka, yang dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawuf yang dulu maupun sekarang, kita akan melihat suatu perbedaan yang sangat jelas antara ajaran tersebut dengan ajaran Al Quran dan As Sunnah. Dan sama sekali tidak pernah kita dapati bibit dan cikal bakal ajaran tasawuf ini dalam perjalanan sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum yang mulia, orang-orang yang terbaik dan pilihan dari hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla, bahkan justru sebaliknya kita dapati ajaran tasawuf ini diambil dan dipungut dari kependetaan model Nasrani, dari kebrahmanaan model agama Hindu, peribadatan model Yahudi dan kezuhudan model agama Budha” (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya “Haqiqat At Tashawuf” hal. 14).

Dari keterangan yang kami nukilkan di atas, jelaslah bahwa tasawuf adalah ajaran yang menyusup ke dalam Islam, hal ini terlihat jelas pada amalan-amalan yang dilakukan oleh orang-orang ahli tasawuf, amalan-amalan asing dan jauh dari petunjuk islam. Dan yang kami maksudkan di sini adalah orang-orang ahli tasawuf zaman sekarang, yang banyak melakukan kesesatan dan kebohongan dalam agama, adapun ahli tasawuf yang terdahulu keadaan mereka masih lumayan, seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Al Junaid, Ibrahim bin Adham dan lain-lain. (Lihat kitab Haqiqat At Tashawwuf tulisan Syaikh Shalih Al Fauzan hal. 15)

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

buku saku

83 Komentar

  1. amir
    23 Okt 2008 [Permalink]

    jazakumullahu khoiron katsiro..

    sampekan salam ana untuk sahabatku Jati di masjid Al ashri…

  2. ibnu sholeh
    24 Okt 2008 [Permalink]

    saya mau tanya, apakah fudhail bin iyadh juga seorang shufi?? bukankah ia adalah salah seorang ulama dari kalangan tabiin? mohon penjelasannya…. jazakallah khair

  3. ibnunurdin
    25 Okt 2008 [Permalink]

    Assalammualaikum warahmatullah hita’ala hiwabarakatuh…
    Saudara pengendali situs Muslim.or.id, mohon izin dan kebenaran untuk untuk memaparkan sebahgian artikel2 dari situs ini dalam blog saya seperti diatas.

    Tidak kelihatan di sini bagaimana untuk menghubungi webmaster melalui email.

    Punca dari mana artikel ini diambil dan nama penulis asal artikel akan disiarkan bersama.

    Wassalam semog dirahmati Allah.

  4. wong dheso
    25 Okt 2008 [Permalink]

    Zikir lama-lama setelah sholat wajib apakah juga termasuk sufi karena saya pernah di ganggu dengan bleyeran sepeda montor ketika sedang berzikir lama-lama setelah selesai sholat subuh di masjid

  5. elvan
    24 Nov 2008 [Permalink]

    Mohon jangan mengklaim sebuah ajaran ini dan itu sesat.
    Hanya Allah saja yang berhak mentukan hal itu. Sebelum kita tahu dan menyelami sebuah ajaran harus ditelaah lbh dahulu. Seluruh umat islam mengingankan petunjuk dari Allah. Saya bukan orang sufi atau Ahli tasawuf. Tetapi saya cuma seorang hamba Allah.
    Lalu bagaimana jalan anda supaya mengenal Allah? Bukankah ilmu yang paling utama itu adalah ilmu mengenal Allah?. Justru saya kasihan melihat anda yang menghajar dunia Sufi habis2an… Padahal Rasulullah, para sahabat dan seluruh imam besar, para wali mengajarkan kita untuk mengenal Allah dengan ilmu. Ketika ilmu diperoleh lalu praktekan. Karena orang yang bijak tidak bertindak dg nafsu, terjebak didalam ilmu itu. Marilah kita kembali kepada Allah dg tenang. ikuti ajaran Rasul yang sesungguhnya..
    dan juga peduli kepada umat manusia. Karena syurga dan neraka ialah makhluk Allah, sudah sewajarnya kita tidak boleh berharap dan takut kpd Makhluq.. Cuma Allah saja yang dituju dan berkata dg nasihat yang baik kepada manusia.

  6. Bsant
    25 Nov 2008 [Permalink]

    Ajaran Sufi/tasawuf dibangun atas dasar KEMALASAN.. Menurut mereka, shalat cukup di dalam hati?!!

  7. Abu Tsurayya
    26 Nov 2008 [Permalink]

    kpd elvan….. ilmu seperti apa yg anda maksud? apakah menari muter2 dgn berzikir “Hu…Hu…” itu ilmu? darimana asal zikir seperti itu. Apakah ilmu yg bilang Allah menyatu dgn makhluknya? ketahuilah Allah itu berada di atas Arsy’. tadaburi al-Qur’an dan pelajari hadits2 Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dgn pemahaman SalafusSholih.
    justru anda seharusnya sedih melihat banyak saudara muslim yg terjebak dalam melakukan sesuatu yg mereka anggap sebagai ibadah namun sgt bertentangan dgn Islam itu sendiri. klo itu datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam barulah ambil, walaupun datang dari ulama ataupun syaikh tp klo bertentangan jgn lakukan.

    IMAM ABU HANIFAH
    “Artinya : Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tinggalkanlah pendapatku itu”. [Al-Filani dalam kitab Al-Iqazh hal. 50]

    IMAM MALIK BIN ANAS
    “Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ambillah ; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah”. [Ibnu 'Abdul Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam kitabnya Ushul Al-Ahkam (VI/149)]

    IMAM SYAFI’I
    “Bila suatu masalah ada Haditsnya yang sah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kalangan ahli Hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati” [Au Nu'aim dalam Al-Hilyah (IX/107)]

    IMAM AHMAD BIN HANBAL
    “Barangsiapa yang menolak Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dia berada di jurang kehancuran” [Ibnul Jauzi hal. 142]

  8. ari wahyudi
    28 Nov 2008 [Permalink]

    Ajaib….! Kalau ada orang mengatakan ‘jangan mengklaim ajaran ini dan itu sesat’ Kenapa? Kalau tidak boleh mengklaim ajaran ini dan itu sesat lalu mengapa dia mengatakan ‘jangan mengklaim ajaran ini dan itu sesat’ Bukankah itu berarti dia telah mengklaim bahwa ajaran yang mengajarkan untuk menunjukkan bahwa ajaran ini dan itu sesat juga adalah ajaran yang sesat?! Lalu buat apa anda melarang orang lain? Lalu untuk apa ada amar ma’ruf nahi mungkar? Untuk apa harus ada dakwah ya akhi…. berpikirlah sebelum anda berucap, ilmu… ilmu ya akhi!

  9. hamba allah
    07 Des 2008 [Permalink]

    Assalamualaikum wa.wb…

    maaf saudara saudara ku… yang di rahmati ALLAH…
    Terkadang sebelum kita bercerita tentang sufi dan tasawuf… terlebih dahulu kita harus mengenal apa itu tasawuf. dan tasawuf yang diamalkan dari tariqat apa. di sini belum ada kejelasan pengutipan sumber data diatas dari tariqat apa. mengenai ” mendengarkan nyanyian dan melakukan tari-tarian, sehingga orang-orang awam yang cenderung kepada akhirat tertarik kepada mereka karena mereka menampakkan sifat zuhud, dan orang-orang yang cinta dunia pun tertarik kepada mereka karena melihat gaya hidup yang suka bersenang-senang dan bermain pada diri mereka. (Talbis Iblis hal 161).”
    Subahana Allah, hingga sampai saat ini, detik ini, belum pernah saya mempelajari yang namanya bernyanyi, bernari..
    yang saya pelajari hingga saat ini yaitu : Sholat 5 waktu sehari semalam, zikir kolbi, karena zikir kolbi dapat dilakukan dimanapun berada tidak hanya pada waktu sholat ketika kita sibuk dengan pekerjaan kita pun kita bs mengerjakannya tanpa harus menggunakan tasbih dan membentengi diri dari datangannya akhir zaman. dimana agama islam baru bermunculan. dan mengerjakan amalan amalan sunat. jadi yang saya bingungkan itu, dimana letak ” kata mendengarkan nyanyi nyanyian dan menarinya”. maha suci ALLAH, ALLAH maha tahu untuk itu semua. riset terlebih dahulu, telaah terlebih dahulu, pelajari terlebih dahulu… baru kita bisa berbicara… karena saya takut orang lain salah tanggap dengan ilmu toriqat, karena sebenarnya di Indonesia ini bukan satu aliran saja. banyak aliran toriqat di indonesia ini…
    atas komentar ini hamba homon ampun kepada ALLAH , Mohon maaf kepada saudara saudara ku jikalau kurang mengenak di hati saudara ku.

  10. hamba allah
    07 Des 2008 [Permalink]

    untuk saudaraku… ” Bsant
    25th November 2008 pada waktu 8:57 pm

    Ajaran Sufi/tasawuf dibangun atas dasar KEMALASAN.. Menurut mereka, shalat cukup di dalam hati?!!”.

    yang saya tau.. tidak pernah di ajarkan dalam tasawuf mengenai shalat cukup dalam hati. sholat tetap dilaksanakan 5 kali sehari semalam. namun ketika kondisi tubuh sudah tidak lagi dapat bergerak sholat dalam hati dapat di lakukan. mungkin yang saudaraku maksud, zikir qolbi ( zikir dalam hati ), itu memang di ajarkan… zikir dalam hati digunakan agar kita mengingat Allah dalam situasi apapun. zikir tidak hanya dilakukan ketika habis sholat, diluar waktu sholat pun kita bisa melakukannya.

  11. Bsant
    08 Des 2008 [Permalink]

    @ hamba allah (Allah)

    “Asas tasawwuf adalah kemalasan.”
    ini adalah pendapat Imam Syafi’i yg saya kutip dari As-Sunnah edisi 01/tahun XII.

    Teman saya bercerita,
    bahwa dia ketemu seorang sufi yg ketika ditawari makan siang,
    si sufi menjawab: “saya lagi puasa.”
    Tiba waktunya maghrib, tapi si sufi tsb tidak juga beranjak untuk sholat.
    Dan teman saya bertanya pada si sufi tsb: “Mas, ko ngga sholat-sholat?”
    si sufi menjawab: “Sholat saya lain pak, ngga spt yg biasa dikerjain orang2 pada umumnya.”
    Alhasil, diusirlah sufi tsb dari ruang kerja teman saya. Rupanya si sufi melaporkan pada seniornya (sufi juga) yg ternyata teman kerja teman saya tsb.
    Dan dia (seniornya si sufi) melabrak teman saya. Si senior mengatakan: “..Eh, iman-loh ga ada seujung jarinya dia (si sufi)..!”
    Cukuplah fakta ini buat saya, betapa menyesatkannya ajaran tasawuf.

    Dzikir qolbi (dalam hati)?
    Bukankah dzikir itu harus dilafadzkan lirih (sir)?

    “Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut..”[QS. Al-A'raaf:55].

    “Yaitu ketika ia berdoa kepada Rabb-nya dengan suara lembut.” [QS. Maryam:3]

    Kecuali “Talbiyah” (waktu menunaikan haji) dan “Takbir” (pada malam dan pagi waktu hari raya dan tasyriq). Kedua dzikir ini diucapkan dengan keras.

    Mohon maaf kalau ada kata2 yg tidak berkenan di hati dan kekurangan. Saya masih dalam rangka mencari ilmu..

  12. rahman
    11 Des 2008 [Permalink]

    ibadah terhadap Allah, bisa dilakukan dalam bentuk apa saja, sholat salah satunya..
    aku setuju dengan elvan..

    takut masuk kenerakanya Allah, karena tidak sholat adalah sesat..
    sholat karena ingin masuk surganya Allah, juga sesat..

  13. hamba ALLAH
    13 Des 2008 [Permalink]

    Assalamualikum….. ya… sohib ku Bsant yang dirahmati ALLAH

    kalau saudara menilai bahwa semua sufi itu sama, anda mungkin keliru… mungkin anda benar dengan isi cerita sohib mengenai ” sufi” yang notabeni Tiba waktunya maghrib, tapi si sufi tsb tidak juga beranjak untuk sholat.
    Dan teman saya bertanya pada si sufi tsb: “Mas, ko ngga sholat-sholat?”
    si sufi menjawab: “Sholat saya lain pak, ngga spt yg biasa dikerjain orang2 pada umumnya.”
    adalah salah… itu sangat saya setujui…. karena sebenarnya sholat adalah ibadah yang utama dari segala ibadah.

    zikir yang dilafazkan, zikir yang di ucapkan ketika selesai sholat, ketika tahlilan. namun ketika kita akan melakukan kegiatan sehari hari ( baik berada di kantor, sekolah, di bus, di terminal atau di tempak hak laya ramai… apakah sohib juga berzikir dengan mengeluarkan suara… secara terus menerus ).

    sohib akan bisa berpikir apa yang akan di ucapkan orang lain terhadap kita. dan akibatnya apa yg terjadi pada diri kita. mungkin sifat ria akan datang pada diri kita. coba sohib berzikir dalam hati… siapa yg tahu kalau pada saat itu kita dalam ke adaan beribadah… mendekatkan diri kepada ALLAH. karena amalan itu bukan untuk di pertontonkan. amalan itu antara kita dengan Khaliq pencipta langit dan bumi ini( ALLAH ). jadi garis besarnya zikir qolbi itu zikir yang dilakukan tanpa ada batas ruang waktu dan tempat. dalam kondisi apapun. sampai hingga ingin menghembuskan nafas terakhir pun kita masih bisa berzikir kepada ALLAH. Walau lidah ini sudah tidak dapat lagi di gerakkan. mungkin ini saja yang dapat saya sampaikan…

    kita semua disini masih taraf belajar….
    kurang lebih hamba mohon ampun ke pada ALLAH, kepada sohib hamba mohon maaf kalau ada kata kata hamba yg tidak pada tempatnya.

  14. Bsant
    13 Des 2008 [Permalink]

    @ hamba Allah
    ..zikir yang dilafazkan, zikir yang di ucapkan ketika selesai sholat, ketika tahlilan. namun ketika kita akan melakukan kegiatan sehari hari ( baik berada di kantor, sekolah, di bus, di terminal atau di tempak hak laya ramai… apakah sohib juga berzikir dengan mengeluarkan suara… secara terus menerus ).

    Mohon maaf sebelumnya, karena diskusi kita disini adalah untuk mencari kebenaran BUKANnya untuk mencari pembenaran. Jadi saya SANGAT MENGHARAPKAN apabila ada perkataan saya disini ada yang salah tolong diingatkan..

    “Sesungguhnya tiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan yang dianggap bagi tiap manusia apa yang ia niatkan..” [HR. Bukhari, Muslim]

    Apabila kita berniat untuk melakukan suatu kegiatan, maka lakukanlah dan awali dengan do’a (dzikir)..
    Saya belum menemukan satupun Dalil Shohih yang menyatakan “BEKERJA (melakukan suatu kegiatan) SAMBIL BERDZIKIR”. Bagi yang tahu tolong tunjukkan..

    Justru yang selalu saya temukan adalah do’a atau dzikir sebelum dan sesudah melakukan suatu kegiatan tersebut. Seperti do’a sebelum dan sesudah makan (tidak saya temukan dalil tentang makan sambil dzikir atau sebaliknya), do’a sebelum dan sesudah wudhu (tidak saya temukan dalil tentang wudhu sambil dzikir atau sebaliknya), do’a ketika hendak masuk ke pasar, dll..

    Dalam sebuah hadits,
    Tentang tujuh golongan yang akan dilindungi Allah pada hari kiamat, diantaranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan: “..seorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi (sendiri), lalu mengalirlah air matanya..” [HR. Bukhari dan Muslim]

    Pernah saya dengar tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika bekerja mendirikan Masjid, Beliau dan para sahabatnya sambil melantunkan syair.

    (menurut saya, dzikir adalah salah satu ibadah bukannya sambilan ketika bekerja).

  15. rahman
    14 Des 2008 [Permalink]

    buat Bsant,

    Mengingat Allah sambil bekerja adalah suatu keharusan yang harus kita lakukan sebagai ibadah kita kepada Allah SWT., Sebab mengingat Allah, dalam bekerja , adalah satu kekuatan yang dahsyat dan akan memacu produktivitas kerja kita. Oleh karena itu, sekali lagi, mengingat Allah dalam bekerja akan benar-benar mengandung kekuatan kalau niat kita dalam bekerja itu benar-benar bersih karena Allah SWT., sehingga Allah SWT. yang akan memberikan hasilnya kepada kita. Sebagaimana yang difirmankan-Nya,

    “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat perkerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan”. (QS. At-Taubah (9): 105)

  16. Bsant
    16 Des 2008 [Permalink]

    Assalaamu’alaikum..

    Buat saudaraku Rahman semoga dirahmati Allah..

    Mungkin anda kurang menyimak apa yang saya maksudkan, sekedar untuk mengingatkan:

    Saudara kita (hamba Allah) menyatakan:
    “..zikir yang dilafazkan, zikir yang di ucapkan ketika selesai sholat, ketika tahlilan. namun ketika kita akan melakukan kegiatan sehari hari (baik berada di kantor, sekolah, di bus, di terminal atau di tempak ramai)..
    ..jadi garis besarnya DZIKIR QOLBI itu zikir yang dilakukan tanpa ada batas ruang waktu dan tempat. dalam kondisi apapun..”

    Saya menyatakan:
    “Saya belum menemukan satupun Dalil Shohih yang menyatakan “BEKERJA (melakukan suatu kegiatan) SAMBIL BERDZIKIR” (dizikir qolbi). Bagi yang tahu tolong tunjukkan.. dan seterusnya..” (tolong dibaca lagi, termasuk juga komentar-komentar sebelumnya).

    Selanjutnya, dalil yang anda sebutkan At-Taubah:105 (menurut saya yang bodoh ini) belum bisa dijadikan hujjah tentang “BEKERJA (melakukan kegiatan) SAMBIL BERDZIKIR” baik secara umum maupun khusus.

    Selanjutnya, Bagaimana bisa seorang guru/ulama yang sedang bekerja mengajar/berceramah sementara dalam hatinya sibuk berdzikir?
    Dan lagi-lagi yang saya temukan adalah do’a/dzikir sebelum berceramah yaitu Khotbah Hajat, salah satunya adalah:

    Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud:
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kami tasyahhud dalam sholat dan tasyahhud dalam hajat (dalam riwayat lain, Rasulullah telah mengajarkan kepada kami khotbah Hajat)..” [HR. Abu Dawud,Tirmidzi, dll].

    Dan lagi-lagi tidak saya temukan dalil tentang KHOTBAH SAMBIL BERDZIKIR DALAM HATI atau sebaliknya..

    Saya hanya seorang manusia bodoh yang sangat mungkin melakukan kesalahan, mohon dimaafkan..

  17. abu ja'far
    23 Jan 2009 [Permalink]

    bismillahhirrahmanirrahim. cara mengenal Allah yg benar adalah dgn mempelajari ilmu syar’i, terutama aqidah, karena banyak orang yg terjerumus dalam kekeliruan berawal dari aqidah yg tidak benar, dan inilah yg pertama kali diserukan oleh para Nabi dan Rasul as. bukan dengan tasawuf yg bid’ah. dan ingat, konsep tasawuf adalah suatu konsep di luar islam itu sendiri. imam ibnu taimiyyah mengingatkan bahwa beribadah pada Allah hanya didasari mahabbah (kecintaan) saja adalah zindiq.

  18. zen-azza
    05 Jul 2009 [Permalink]

    Assalamu’alaikum ana belum lama mengenal salaf,dan hampir sblmnya ana ikut thoriqoh,katanya dlm tasawuf klau udah tingkat tinggi bisa kashyaf bisa mlhat hantu, jin bahkan surga neraka dan melihat keadaan orang mati dlm kubur,senang atau susah.ana tertarik skali tapi alhamdulillah Allah kasih petunjuk lewat teman dia knalin manhaj salaf sambil pinjamin ana majalah assyariah skrng hati ana mantap di manhaj salaf tapi untuk belajar lebih jauh susah ya cari ustad salaf(ana di pesawaran lampung)ya cuma lewat internet pakai hP untuk lihat link2 sunah oya akhi usul ya tolong tampilin artikel hadits2 palsu tentang syariat-thoriqot-hakikat trimakasih wassalam dari mahkluk penegak tauhid

  19. aas saepurahman
    14 Jul 2009 [Permalink]

    terima kasih atas artikel yang telah di tulis oleh ustadz semoga bermanfaat dan semoga kita semua bisa mengambil hikamah dari seriap kejadiaan yang kita hadapi. semoga setiap keterangan yang ustad tuliskan di sisni menjadi ilmu bagi kita semuanya.amin salam silaturahim dari saya….!

  20. sofyan
    12 Sep 2009 [Permalink]

    tasawuf memang ajaran baru bahkan bid’ah

  21. iwan
    10 Okt 2009 [Permalink]

    tolong kasih saya email penulis artikel d atas

  22. aferi syamsidar
    23 Nov 2009 [Permalink]

    Lahaulawalakuwata Illah Billah, Assalamu Alakum Wr. Wb.
    Semoga informasi yang kami baca dari artikel di atas menjadi ibadah kami di sisi Allah SWT.

  23. aferi syamsidar
    23 Nov 2009 [Permalink]

    Dari hamba Allah yang ter-bodoh.

    Selanjutnya dengan tidak bermaksud menggurui siapapun kecuali sekedar mengungkapkan kebodohan hamba Allah,

    “bahwa sesungguhnya penciptaan Jin dan Manusia itu adalah dimaksudkan hanya untuk beribadah”

    berdasarkan hal tersebut maka seandainya ada manusia yang melakukan selain apa yang dimaksudkan oleh sang pencipta, maka tentulah orang tersebut mengingkari maksud dan kehendak sang pencipta Nauzu Billahi Min Zalik.

  24. suripto
    30 Des 2009 [Permalink]

    aku hanyalah pedagang kripik yg kurang paham mengenai teori2 agama yg njlimet. bagi saya yg pokok berusaha bertaqwa kpd Allah dgn Ridlo dan Iklas tanpa mengharap apapun dari Allah. itu saja….

  25. fuhlan
    07 Jan 2010 [Permalink]

    @ Pak Suripto
    kalo Bapak adalah seorang pedagang keripik, maka saya adalah seorang gembel..
    mudah2an kita menuju Allah dengan ikhlas..
    he.. he.. he..

  26. ping
    29 Jan 2010 [Permalink]

    hamba allah komentnya bagus
    aa’ setuju

  27. wishnu
    01 Feb 2010 [Permalink]

    dari banyak komentar miring tantang tasawuf di blog ini.. saya merasa prihatin.. karena komentarnya justru menunjukkan kebodohan dan kedangkalan iman mereka.. orang2 seperti ini perlu dikasihani..
    se alim apapun mereka… tidak lebih baik baik dari orang yang mereka bicarakan.. kasihan…

  28. gadingmale
    19 Feb 2010 [Permalink]

    @wishnu: ana berpendapat bahwa situ lebih pintar, jadi tolong ajarkan kepada kami yang beriman dangkal ini darimana ajaran membaca 77x Al-Ikhlas, 77x Al-Falaq, 77x An-Naas, 1000x membaca Laa ilaaha illAllooh, dan lain-lain yang merupakan ajaran tasawwuf. Apakah ada dalam HR Bukhari, Muslim, atau siapa? Bila ada riwayatnya kami ikuti tapi kalo ternyata la aslalahu silahkan situ kasi catatan mengenai Al-Qur’an Al-Maidah ayat 3 bahwa Islam belum sempurna, karena Islam tidak mengajarkan dzikiran2 seperti yang diajarkan tasawwuf.. Bukankah ibadah kecil seperti membaca hamdalah setelah bersin saja ada haditsnya? Mohon penjelasannya Akhi Wishnu..

  29. Anshar
    28 Mar 2010 [Permalink]

    Sufi itu bukan Islam(jalan yg lurus)

  30. at-Thoriq
    30 Mar 2010 [Permalink]

    Assalamu’alaikum
    Syukron ya Akhi jazakillah khoir!!!!!!!!!!!!!!

  31. joko sutikno
    18 Apr 2010 [Permalink]

    assalamu’alaikum
    saya pernah menyuruh adiku memperbanyak istigfar setiap sa’at dan setiap waktu dengan iklas lillahita’ala(istigfar yang jelas bukan bit’ah)alhamdulillah setiap mau ada kejadian dikeluarga terutama diri sendiri dah ada firasat.jadi kami bisa saling mengingatkan tuk jangan sampai lalai.masalah itu tberhubungan dgan tasawuf atau bukan,bodo amat…he..he..he..
    Bagi yang anti tasawuf.. silahkan pertahankan keyakinanny.Bagi ahli zdikir..nikmati buah manisnya,ma’af kalau ndak salah nabi pernah mengajarkan kpd Ali berdzikir lailahailallah dan apa manfaatnya.semoga kita semua dalam rahmatNya.amin…

  32. Yulian Purnama
    20 Apr 2010 [Permalink]

    #Joko Sutikno
    Memperbanyak istighfar dan dzikir LaaIlaaha Ilallah itu memang dianjurkan dan disyariatkan oleh Islam. Silakan baca artikel berikut:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/618-nabi-kita-tidak-pernah-bosan-beristigfar.html
    Kemudian, banyak berdzikir tidak identik dengan tasawuf.
    http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/melestarikan-tauhid-dengan-dzikir-dan-syukur.html

  33. Abu Muhammad Naufal Zaki
    20 Apr 2010 [Permalink]

    @ Joko SUtikno
    Semoga kita menjadi orang yg memperbanyak istighfar krn Nabi memerintahkan kita demikian yg mana beliau sendiri beristighfar minimal 70 sampai 100 perhari. . Dan saling mengingatkan dalam kebaikan adalah perintah Alloh krn siapakah yg tidak butuh akan nasehat dan peringatan dari orang yg berhati ikhlas karena Alloh untuk kebaikan saudaranya. .
    Sesungguhnya kitapun berharap menjadi ahli dzikir. . orang yg selalu mengingat ALloh dikala susah maupun senang dan dikala sendiri maupun bersama-sama. . dan sebaik-baik dzikir adalah Laailaha illalloh. . namun tidak sekedar berdzikir dgnya melainkan kita memahami maknanya shg apa yg kita ucapkan tsb akan berbekas dihati, lisan dan perbuatan kita. .
    Cukuplah amalan-amalan tsb yg dicontohkan Nabi dan para sahabat mengamalkannya. . ANa pernah dengar(maupun membaca risalah mereka) dari Ustadz Abdul hakim juga Ustadz Yazid, Ust Zainal dan ustadz2 lainnya yg maknanya : cukupilah kalian dg dzikir yg diajarkan Nabi krn itu yg paling baik, paling mendapat petunjuk, paling lurus, paling bersih dan paling selamat. . Wallohi jika kalian mau mengamalkan dzikir2 dan amalan2 sunnah sesuai petunjuk Nabi dari Pagi sampai sore dan dari sore sampai pagi mk kalian akan cukup disibukkan bahkan kalian akan tidak sanggup mengamalkan semuanya krn banyaknya. . namun kalian lebih memilih membuat-buat sendiri amalan dan dzikir2 dan merasa khusyu serta lebih mencintainya dan meninggalkan apa yg Nabi ajarkan. . padahal kalian mengaku sbg pecinta Nabi. .
    Terakhir ana suka dengar kutipan ucapan Ibnu Mas’ud yg diulang2 Ustadz kami bhw Sedikit di atas sunnah lebih utama (krn berpahala) daripada bersungguh-sungguh (atau banyak) namun bukan diatas sunnah (krn tidak berpahala bhk berdosa). .

  34. tuti
    21 Apr 2010 [Permalink]

    Assalamualaikum…

    Terimakasih atas penjelasan tentang tasawuf…memang harus diakui tasawauf zaman sekarang sudah disusupi oleh hal2 yang merusak akidah..bila tidak mengenal dasar syariat sebaiknya jangan belajar tasawuf…karena ia akan mudah terjerumus pada hal2 syirik..dimana tasawuf sekarang menitik beratkan pada hal2 yang ghaib yang sebenarnya tasawuf bukan mempelajari hal2 gaib, tapi untuk lebih mendekatkan diri atw taqarub kepada Allah..dalam mempelajari tasawuf memerlukan proses panjang..dan tidak diniatkan mendapatkan keistimewahan atw karamah….tapi kenyataan banyak diantara kita terjebak pada hal2 yg tanpa kita sadari membuat kita syirik kepada Allah..hingga apa yg menjadi kewajiban seorang muslim di tinggalkan..ingatlah Rasulullah yg ma’sum dari dosa saja tak pernah meninggalkan kewajiannya..jadi sebagai seorang muslim..pelajari syariat lebih dulu..

  35. Iwan Abdurahman
    14 Jun 2010 [Permalink]

    Mengapa training ESQ 165 yg isinya tdk lain juga dakwah agama Islam yg berbayar jutaan rupiah,org kantoran profesional(Intelek) banyak tertarik mengikuti dibandingkan dgn yg disampaikan ustadz2 meski gratis-pun banyak yg tdk tertarik.

  36. ABoud
    17 Jun 2010 [Permalink]

    Syukron ustadz atas materinya….saya mau komen buat akhina Iwan abdurrahman aja, hehehe…antum straight to the point aja langsung ya….tp bener juga kalau diliat

  37. eureka
    19 Jun 2010 [Permalink]

    Assalamu’alaikum

    Terima Kasih artikelnya, benar-benar menambah wawasan baru. Saya tidak tahan untuk tidak berkomentar, terus terang saya bukan pengikut tasawuf toriqat manapun, tapi saya sedang meneliti tentang tasawuf.Oleh krn itu, saya dituntut untuk tetap objektif tentang tasawuf. Sejauh pemahaman saya (yang mungkin masih sangat sedikit dibandingkan penulis)tentang esensi dalam tasawuf, sejarah ‘kemunculan istilah’, perkembangan serta kontroversinya, saya maklumi kenapa Anda berpikir demikian.Tapi mungkin, sebaiknya Anda lebih banyak membaca dan berinteraksi langsung baik dengan orang-orang yang merupakan pengikut, ataupun yang bukan, supaya Anda dapat pandangan baru yang mungkin dapat bermanfaat untuk Anda juga pembaca. Dalam tasawuf yang ditekankan bukan praktek ibadahnya, namun pendekatan diri ke Allah dan mencintai Allah lebih dari mencintai kehidupan dunia. Dan kenapa di zaman Rosul istilah ini belum muncul, karena hampir seluruh umat muslim di jaman Rosul memiliki rasa cinta kepada Allah lebih daripada dunia. Apapun yang mereka lakukan di dunia demi mencapai keridhoan Allah, sehingga dalam setiap harinya, setiap detiknya, mereka selalu mengingat Allah. Saat pemerintahan Kholifah Ali, iman dan aqidah umat banyak yang mulai luntur, makanya banyak terjadi perebutan kekuasaan dan saling bunuh antar sesama muslim (bisa di cek di buku Tarikh Kebudayaan Islam untuk kelas6-terbitan Toha Putra),di tengah2 suasana chaos itu muncul istilah sufi. ilmu saya masih sangat sedikit,jadi kalau memang informasi yang saya peroleh sejauh ini masih kurang tepat, mohon maaf, karena tingkat pemahaman orang yang berbeda-beda membentuk persepsi dan sikap yang berbeda.

  38. Yulian Purnama
    20 Jun 2010 [Permalink]

    #eureka
    Wa’alaikumussalam
    Semoga Allah menambahkan anda semangat untuk menggali lebih dalam tentang Islam. Tulisan di atas bukanlah pendapat pribadi dari penulis, namun hanya mengumpulkan perkataan-perkataan para ulama Islam yang terpercaya. Kami juga menyarankan agar anda dalam menelaah ajaran Islam yang mulia ini, hendaknya menelaah dari kitab-kitab para ulama Islam, dan tidak mencukupkan diri dengan buku-buku terjemahan atau buku-buku karangan orang belakangan.
    Semoga Allah memberi taufik.

  39. olih solihin
    25 Jun 2010 [Permalink]

    Bimbing Kami Ya Rob ‘berikanlah pemahaman dan kekuatan tuk mengamalkannya ….

  40. Al-Mubarak
    25 Jun 2010 [Permalink]

    @Iwan Abdurrahman: kalaulah antum menganggap bahwa apa yg diikuti oleh kebanyakan org itu lebih benar, mk sungguh di dunia ini lebih banyak org yg ingkar. Maka silahkan terapkan kaidah tersebut niscaya kerancuan akan bertambah di hatimu..karena secara fakta org kafir itu lebih banyak jumlahnya. jadi scr singkat apa yg dilakukan kebanyakan org bukanlah standar dlm menghukumi dan menentukan kebenaran.
    wallahu a’lam.

  41. Rizky yukari
    08 Jul 2010 [Permalink]

    Silang pendapat dan perbedaan pandangan dalam menyikapi ajaran islam, bukan hal yang baru…karena hal ini adalah satu-satunya doa Rosulullah yang tidak dikabulkan Allah SWT. Tapi islam adalah jalan yang benar…Sebagai hambanya yang bodoh ada prinsip yang ada baiknya kita pegang…Kalau kita merasa benar janganlah kita menyalahkan orang lain, sebab tatkala kita menyalahkan orang lain perlu diragukan kebenaran kita. Karena benar dan salah itu kerjanya akal, sedangkan aqidah kerja hati dan rohani yang berpegang pada keyakinan (simak Surat Al-Kafirun).
    Ajaran agama yang diyakini kebenarannya bila diamalkan akan mendatangan ketenangan jiwa dan melahirkan akhlakulkarima, yakni akhlak yang baik kepada Allah dan Kepada sesama hamba. jadi kalau kita masih bersalah-salahan perlu direnungi bagaimana akhlak kita, karena semua datang dari Allah (Lahulawala kuata allah bila). Stop perdebatan…karena ini cara koloni untuk memecahbelah dengan adu dombanya. Bersatulah Islam, bersatulah saudaraku. Insyaallah jalan kebenaran milik kita semua.

  42. Yulian Purnama
    09 Jul 2010 [Permalink]

    #Rizky Yukari
    Anda benar, silang pendapat dan perbedaan pandangan dalam menyikapi ajaran Islam, bukan hal yang baru. Namun tasawuf bukanlah ajaran Islam.

  43. zainal wathni
    01 Sep 2010 [Permalink]

    #Rizky Yukari
    betul anda sahabat, Imam Al Gazali juga pernah silang pendapat, kemudian beliau sadar perdebatan tidak akan ada habisnya. Marilah kita menghormati pendapat sahabat kita. Ibadah yang sesuai dengan Alquran dan sunnah lah yang di kehendaki oleh ALLAH swt dan Muhammad Saw.

  44. Andi
    20 Sep 2010 [Permalink]

    Sesungguhnya orang yang merasa benar, belum tentu dibenarkan dan sebaliknya orang dan ajarannya serta pengikutnya yang anda hina dan cerca yang anda beranggapan mereka adalah bid’ah mungkin mereka lebih baik dari komunitas Anda disisi Allah, mari kita terima perbedaan ini tanpa mengatakan mereka bid’ah dan sesat. Anda termasuk orang yang iri hati dan perlu belajar dan memahami ilmu tasawuf lebih dekat supaya hilang penyakit hatinya. Hanya Allah yang Maha Tahu siapa yang paling benar. Mohon maaf jika komentar ini berlebihan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, amin.

  45. Yulian Purnama
    20 Sep 2010 [Permalink]

    #Andi
    Orang yang belajar tasawuf di sisi Allah lebih mulia dari pada saya, itu bisa jadi. Lebih mulia daripada penulis artikel ini, itu juga bisa jadi. Urusan dimana tempat kita di sisi Allah itu hak Allah semata. Namun yang jelas orang yang belajar tasawuf tidak lebih mulia dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sehingga bisa semena-mena membuat aturan-aturan ibadah sendiri atau thariqah-thariqah khusus yang tidak pernah diajarkan oleh beliau. Kebenaran hanya milik Allah, oleh karena itu kita ikuti aturan Allah melalui Al Qur’an dan petunjuk Nabi-Nya.

  46. Baem aqbar
    03 Okt 2010 [Permalink]

    Terus tetap istiqoma.

  47. erwandizubir
    13 Okt 2010 [Permalink]

    Semoga Allah melindungi kita semua dari kesalahan dan dosa dan beribadahlah dengan mengutamakan tujuan mendapatkan ridho dari Allah. karna itu jauh lebih utama dari mengutamakan keridhoan kita dalam beribadah kepadanya. Untuk itu menegakkan hukum Allah dengan berpedoman kepada AlQuran dan Sunnah juga kepada Salafush Shalih itu lebih menjaga diri kepada kesalahan (Bid’ah). Maha benar Allah dengan segala Firmannya.

  48. Teguh Untara
    14 Okt 2010 [Permalink]

    Rasuluullah bersabda : “sebaik baik umat adalah generasiku kemudian sesudahnya kemudian sesudahnya”. Berarti sebaik baik umat adalah jamannya nabi dan para sahabat. Mereka sangat giat beribadah guna mendapatkan ridho Allah Ta’alaa. Pertanyaannya, kenapa kita mesti membuat cara2 yg lain dalam mendekatkan diri kepada Allah? Mengapa kita tidak mencontoh mereka yg disebut sebagai generasi terbaik?
    Islam yg dibawa nabi sudah sempurna, tdk perlu ada tambahan2 lagi dan Allah sdh menjamin dlm QS Al Maidah : 3. Bagi sdr2 yg melakukan ibadah dgn cara2 yg baru, apakah sdr masih meragukan jaminan dari Allah ttg kesempurnaan Islam? Apakah sdr menganggap bahwa rasuluullah masih menyembunyikan beberapa ajarannya?
    Kalau saya, dalam melaksanakan ibadah, saya mengambil kaidah “lau kaana khoiron lasabaquuna ilaihi, kalau seandainya itu baik para sahabat pasti sudah mendahului kita melakukannya”

  49. abunurul
    26 Okt 2010 [Permalink]

    ane setuju sekali dg teguh…Kl kita mengikuti ajaran baru tambahan yg kita anggap baik yg tidak ada contohnya dari Nabi,sahabat dan yg mengikutinya sama juga kita menuduh ajaran Muhammad belum sempurna…jazakallahu khair

  50. Syamsul
    29 Nov 2010 [Permalink]

    Benar sobat, Rasulullah sebelum wafat mewariskn 2 perkara 1. Al-Qur’an dan 2.Al-Hadits/sunah Rasul. Jika kita mengamalkn keduanya pastinya kita tidak akan sesat. Dan pasti benarnya..jika amalan dalam istilah tasawuf ada dalam kedua dasar tsb ya silahkan amalkan tetapi jika tidak ada jangan d amalkan. Semoga kita termasuk hamba yg slalu d jalan Allah dan Rasulullah, Amin.

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas