radio muslim

Hakikat Tasawuf (1)

Kategori: Aqidah

96 Komentar // 23 Oktober 2008

Pendahuluan

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Istilah “sufi” atau “tasawuf” tentu sangat dikenal di kalangan kita, terlebih lagi di kalangan masyarakat awam, istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas orang awam beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat takwa tanpa melalui jalan tasawuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu di tangan dan bibir yang selalu bergerak melafazkan zikir, yang semua ini semakin menambah keyakinan orang-orang awam bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allah ta’ala

Sebelum kami membahas tentang hakikat tasawuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan cuma dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata, akan tetapi yang menjadi barometer adalah sesuai tidaknya pemahaman tersebut dengan Al Quran dan As Sunnah menurut apa yang dipahami salafush shalih. Sebagai bukti akan hal ini kisah khawarij, kelompok yang pertama menyempal dalam islam yang diperangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah pimpinan Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal kalau kita melihat pengakuan lisan dan penampilan lahir kelompok khawarij ini maka tidak akan ada seorang pun yang menduga bahwa mereka menyembunyikan penyimpangan dan kesesatan yang besar dalam batin mereka, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan ciri-ciri kelompok khawarij ini, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…Mereka (orang-orang khawarij) selalu mengucapkan (secara lahir) kata-kata yang baik dan indah, dan mereka selalu membaca Al Quran tapi (bacaan tersebut) tidak melampaui tenggorokan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka)…” (HSR Imam Muslim 7/175, Syarh An Nawawi, cet. Darul Qalam, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu).

Dan dalam riwayat yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “… Bacaan Al Quran kalian (wahai para sahabatku) tidak ada artinya jika dibandingkan dengan bacaan Al Quran mereka, (demikian pula) shalat kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan shalat mereka, (demikian pula) puasa kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan puasa mereka (HSR Imam Muslim 7/175, Syarh An Nawawi, cet. Darul Qalam, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)

Maka pada hadits yang pertama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang ciri-ciri mereka yang selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan indah tapi cuma di mulut saja dan tidak masuk ke dalam hati mereka, dan pada hadits yang ke dua Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang penampilan lahir mereka yang selalu mereka tampakkan untuk memperdaya manusia, yaitu kesungguhan dalam beribadah yang bahkan sampai kelihatannya melebihi kesungguhan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam beribadah (karena memang para Sahabat radhiyallahu ‘anhum berusaha keras untuk menyembunyikan ibadah mereka karena takut tertimpa riya)

Yang kemudian prinsip ini diterapkan dengan benar oleh Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, tatkala kelompok khawarij keluar untuk memberontak dengan satu slogan yang mereka elu-elukan: “Tidak ada hukum selain hukum Allah ‘azza wa jalla“. Maka Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menanggapi slogan tersebut dengan ucapan beliau radhiyallahu ‘anhu yang sangat masyhur -yang seharusnya kita jadikan sebagai pedoman dalam menilai suatu pemahaman- yaitu ucapan beliau radhiyallahu ‘anhu: “(slogan mereka itu ) adalah kalimat (yang nampaknya) benar tetapi dimaksudkan untuk kebatilan.”

Semoga Allah ‘azza wa jalla Merahmati Imam Abu Muhammad Al Barbahari yang mengikrarkan prinsip ini dalam kitabnya Syarhus Sunnah dengan ucapan beliau: “Perhatikan dan cermatilah -semoga Allah ‘azza wa jalla merahmatimu- semua orang yang menyampaikan satu ucapan/pemahaman di hadapanmu, maka jangan sekali-kali kamu terburu-buru untuk membenarkan dan mengikuti ucapan/pemahaman tersebut, sampai kamu tanyakan dan meneliti kembali: Apakah ucapan/pemahaman tersebut pernah disampaikan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamradhiyallahu ‘anhu atau pernah disampaikan oleh ulama Ahlussunnah? Kalau kamu dapati ucapan/pemahaman tersebut sesuai dengan pemahaman mereka radhiyallahu ‘anhum berpegang teguhlah kamu dengan ucapan/pemahaman tersebut, dan janganlah (sekali-kali) kamu meninggalkannya dan memilih pemahaman lain, sehingga (akibatnya) kamu akan terjerumus ke dalam neraka!” (Syarhus Sunnah, tulisan Imam Al Barbahari hal.61, tahqiq Syaikh Khalid Ar Radadi). Setelah prinsip di atas jelas, sekarang kami akan membahas tentang hakikat tasawuf, agar kita bisa melihat dan menilai dengan jelas benar atau tidaknya ajaran tasawuf ini.

Definisi Tasawuf/Sufi

Kata “Shufi” berasal dari bahasa Yunani “Shufiya” yang artinya: hikmah. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata ini merupakan penisbatan kepada pakaian dari kain “Shuf” (kain wol) dan pendapat ini lebih sesuai karena pakaian wol di zaman dulu selalu diidentikkan dengan sifat zuhud, Ada juga yang mengatakan bahwa memakai pakaian wol dimaksudkan untuk bertasyabbuh (menyerupai) Nabi ‘Isa Al Masih ‘alaihi sallam (Lihat kitab kecil “Haqiqat Ash Shufiyyah Fii Dhau’il Kitab was Sunnah” (hal. 13), tulisan Syaikh DR. Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ada perbedaan pendapat dalam penisbatan kata “Shufi”, karena kata ini termasuk nama yang menunjukkan penisbatan, seperti kata “Al Qurasyi” (yang artinya: penisbatan kepada suku Quraisy), dan kata “Al Madani” (artinya: penisbatan kepada kota Madinah) dan yang semisalnya. Ada yang mengatakan: “Shufi” adalah nisbat kepada Ahlush Shuffah (Ash Shuffah adalah semacam teras yang bersambung dengan mesjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dulu dijadikan tempat tinggal sementara oleh beberapa orang sahabat Muhajirin radhiyallahu ‘anhum yang miskin, karena mereka tidak memiliki harta, tempat tinggal dan keluarga di Madinah, maka Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan mereka tinggal sementara di teras tersebut sampai mereka memiliki tempat tinggal tetap dan peng- hidupan yang cukup. Lihat kitab Taqdis Al Asykhash tulisan Syaikh Muhammad Ahmad Lauh 1/34, -pen), tapi pendapat ini (jelas) salah, karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: “Shuffi” (dengan huruf “fa’ “yang didobel). Ada juga yang mengatakan nisbat kepada “Ash Shaff” (barisan) yang terdepan di hadapan Allah ‘azza wa jalla, pendapat ini pun salah, karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah “Shaffi” (dengan harakat fathah pada huruf “shad” dan huruf “fa’ ” yang didobel. Ada juga yang mengatakan nisbat kepada “Ash Shafwah” (orang-orang terpilih) dari semua makhluk Allah ‘azza wa jalla, dan pendapat ini pun salah karena kalau benar demikian maka mestinya pengucapannya adalah: “Shafawi”. Ada juga yang mengatakan nisbat kepada (seorang yang bernama) Shufah bin Bisyr bin Udd bin Bisyr bin Thabikhah, satu suku dari bangsa Arab yang di zaman dulu (zaman jahiliah) pernah bertempat tinggal di dekat Ka’bah di Mekkah, yang kemudian orang-orang yang ahli nusuk (ibadah) setelah mereka dinisbatkan kepada mereka, pendapat ini juga lemah meskipun lafazhnya sesuai jika ditinjau dari segi penisbatan, karena suku ini tidak populer dan tidak dikenal oleh kebanyakan orang-orang ahli ibadah, dan kalau seandainya orang-orang ahli ibadah dinisbatkan kepada mereka maka mestinya penisbatan ini lebih utama di zaman para sahabat, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, dan juga karena mayoritas orang-orang yang berbicara atas nama shufi tidak mengenal qabilah (suku) ini dan tidak ridha dirinya dinisbatkan kepada suatu suku yang ada di zaman jahiliyah yang tidak ada eksistensinya dalam islam. Ada juga yang mengatakan -dan pendapat inilah yang lebih dikenal- nisbat kepada “Ash Shuf” (kain wol)(Majmu’ul Fatawa, 11/5-6).

Lahirnya Ajaran Tasawuf

Tasawuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal di zaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahkan tidak dikenal di zaman tiga generasi yang utama (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Ajaran ini baru muncul sesudah zaman tiga generasi ini. (Lihat Haqiqat Ash Shufiyyah hal. 14).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Adapun lafazh “Shufiyyah”, lafazh ini tidak dikenal di kalangan tiga generasi yang utama. Lafazh ini baru dikenal dan dibicarakan setelah tiga generasi tersebut, dan telah dinukil dari beberapa orang imam dan syaikh yang membicarakan lafazh ini, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad Darani dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri bahwasanya beliau membicarakan lafazh ini, dan ada juga yang meriwayatkan dariHasan Al Bashri” (Majmu’ Al Fatawa 11/5).

Kemudian Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwasanya ajaran ini pertama kali muncul di kota Bashrah, Iraq, yang dimulai dengan timbulnya sikap berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah yang tidak terdapat di kota-kota (islam) lainnya (Majmu’ Al Fatawa, 11/6).

Berkata Imam Ibnu Al Jauzi: “Tasawuf adalah suatu aliran yang lahirnya diawali dengan sifat zuhud secara keseluruhan, kemudian orang-orang yang menisbatkan diri kepada aliran ini mulai mencari kelonggaran dengan mendengarkan nyanyian dan melakukan tari-tarian, sehingga orang-orang awam yang cenderung kepada akhirat tertarik kepada mereka karena mereka menampakkan sifat zuhud, dan orang-orang yang cinta dunia pun tertarik kepada mereka karena melihat gaya hidup yang suka bersenang-senang dan bermain pada diri mereka. (Talbis Iblis hal 161).

Dan berkata DR. Shabir Tha’imah dalam kitabnya Ash Shufiyyah Mu’taqadan Wa Maslakan (hal. 17) “Dan jelas sekali besarnya pengaruh gaya hidup kependetaan Nasrani -yang mereka selalu memakai pakaian wol ketika mereka berada di dalam biara-biara- pada orang-orang yang memusatkan diri pada kegiatan ajaran tasawuf ini di seluruh penjuru dunia, padahal Islam telah membebaskan dunia ini dengan tauhid, yang mana gaya hidup ini dan lainnya memberikan suatu pengaruh yang sangat jelas pada tingkah laku para pendahulu ahli tasawuf.” (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya Haqiqat At Tasawwuf, hal. 13).

Dan berkata Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dalam kitab beliau At Tashawuf, Al Mansya’ wa Al Mashdar hal. 28 “Ketika kita mengamati lebih dalam ajaran-ajaran tasawuf yang dulu maupun yang sekarang dan ucapan-ucapan mereka, yang dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawuf yang dulu maupun sekarang, kita akan melihat suatu perbedaan yang sangat jelas antara ajaran tersebut dengan ajaran Al Quran dan As Sunnah. Dan sama sekali tidak pernah kita dapati bibit dan cikal bakal ajaran tasawuf ini dalam perjalanan sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum yang mulia, orang-orang yang terbaik dan pilihan dari hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla, bahkan justru sebaliknya kita dapati ajaran tasawuf ini diambil dan dipungut dari kependetaan model Nasrani, dari kebrahmanaan model agama Hindu, peribadatan model Yahudi dan kezuhudan model agama Budha” (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya “Haqiqat At Tashawuf” hal. 14).

Dari keterangan yang kami nukilkan di atas, jelaslah bahwa tasawuf adalah ajaran yang menyusup ke dalam Islam, hal ini terlihat jelas pada amalan-amalan yang dilakukan oleh orang-orang ahli tasawuf, amalan-amalan asing dan jauh dari petunjuk islam. Dan yang kami maksudkan di sini adalah orang-orang ahli tasawuf zaman sekarang, yang banyak melakukan kesesatan dan kebohongan dalam agama, adapun ahli tasawuf yang terdahulu keadaan mereka masih lumayan, seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Al Junaid, Ibrahim bin Adham dan lain-lain. (Lihat kitab Haqiqat At Tashawwuf tulisan Syaikh Shalih Al Fauzan hal. 15)

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel
cara cepat mudah menghafal alquran

96 Komentar

  1. abu nurul
    30 Nov 2010 [#]

    izin copy artikelnya …jazakallahu khair

  2. Pencari Ilmu
    02 Des 2010 [#]

    saatnya kita kembali ke sunnah, dan memurnikan islam yang sudah banyak tercemar…

  3. simon
    16 Jan 2011 [#]

    saya banyak kenal dengan para pengikut aliran tasawuf[thorikot], diantara mereka ada yang akhlaknya baik ada juga yang tidak. Demikian juga dengan teman-teman saya yang kelihatannya sangat concern dengan islam yang anti tasawuf, ada yang akhlaknya bagus ada pula yang kurang berakhlak. Padahal kita tahu bahwa Nabi saw diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Jadi intinya menurut saya yang harus kita tunjukkan adalah bukan “siapa kita”? tapi “bagaimana kita”?

  4. Yulian Purnama
    17 Jan 2011 [#]

    #simon
    Demikian juga orang kafir, ada juga yang akhlaknya baik kepada manusia, ada juga yang tidak. Namun itu tidak menjadikan kekafiran itu benar dan bisa kita beri toleransi. Jadi patokan baik-buruk, benar-salah, tidak semata-mata akhlak namun kembali kepada Qur’an dan Sunnah.

  5. Fris
    24 Jan 2011 [#]

    Saya ingin sharring kepada mas Yulian Purnama, apakah anda seorang tasawuf juga..terkadang sy merasa sendiri ditengah keramaian orang banyak ,tiap-tiap orang berbeda paham dan pemikirannya, yang sy pelajari ,sy berusaha memahaminya dan tidak memaksakan kehendak karena setiap orang berbeda dan bahkan untuk pemikiran sesama tasawuf sekalipun, sy sadar hal itu adalah karena karuniaNya yang dapat membeda-bedakan setiap hambanya dan sy menyadari betapa besar kuasa atasnya, semua akhlak yang baik adalah yang bersumber pada Al Quran dan sunnah serta mengikuti syariat.

  6. Yulian Purnama
    25 Jan 2011 [#]

    #Fris
    Perbedaan sifat manusia, perbedaan cara berpikir, perbedaan karakter manusia, perbedaan cepat-lambatnya meneriman hidayah itu semua sunnatullah, terjadi atas kehendak Allah. Namun cara beragama tidak boleh beragam dan berbeda-beda, hanya ada satu pilihan yaitu cara beragamanya Rasulullah dengan pemahaman para sahabatnya. Perbedaan yang ada tetap dianggap masih berada dalam satu jalan selama berada dalam koridor sunnah Rasulullah dan para sahabatnya. Sedangkan tasawuf bertentangan dengan sunnah Rasulullah dan para sahabatnya.

  7. Fris
    25 Jan 2011 [#]

    Sy tidak mendapati ajaran di dalam tasawuf yang tidak mengikuti koridor sunnah Rosulullah dan para sahabatnya, tolong sy minta kejelasan dimana menyimpangnya? Sy selalu diajarkan ajaran yang baik berdasarkan syariat yang ada berdasarkan sunnah Rosulullah dan para sahabatnya

  8. Yulian Purnama
    25 Jan 2011 [#]

  9. Akram
    26 Jan 2011 [#]

    segala sesuatu perolehan manusia berupa rahmat ataupun hidayah dr Allah swt. murni datang dari Allah. jika seseorang mendapat petunjuk (Rahmat atau hidayah murni datangnya dari Allah ttp bukan kehendak manusia/hamba) karana Allah berfirman dalam Al-qur’an nulkarim : aku beri petunjuk kepada siapa yg aku kehendaki, dan kepada yg aku tidakn kehendaki jangan protes.

  10. imn hermansyah
    07 Feb 2011 [#]

    assalamualaikum cara tasawuf yang bener gimana ya

  11. Sudirman
    08 Feb 2011 [#]

    Assalamu alaikum wr wb

    maaf jika ungkapan ini tidak berkenan bagi sebagian Kamu, ini antara diriku dan Allah tuhanku hanya diriNya yang mengerti akan diriku.

    Mangapa kita selalu mencari perbedaan, mencari kebenaran mencari sesuatu yang slalu dibicarakan didalam kehidupan sehari-hari, baik buruk, cantik jelek, kaya miskin dan lainnya. bukankah semua itu ciptaan Allah semata, Allah menciptakan semua dialam semesta ini berpasangan,tanpa ada sesuatu yang terlewatkan, itulah hakikat dari pada kesempurnaan,Allah Maha sempurna, semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah, kepunyaanNya semua yang ada diantara langit dan bumi dan Allah beserta tiap-tiap yang ada diantaranya. Wal Awal wal Akhir Wal Zahir Wal bathin.. kembalikan semua urusan kepadaNya Karena dialah sebaik2 tempat kita kembali. hilangkan pengakuan diri karena pada hakikatnya tiada diri ini hanya milik Allah semata,kenalilah diri ini sesungguhnya jika kita mengenal diri ini maka kita akan mengenal Allah dan niscaya fanalah diri ini saat kita mengenal akan Zat Allah SWT,…. lebih dan kurang, baik dan buruk semata-mata datangnya dari Allah, Astagfirullah Alazim allazilailahailallahual hayyulqoyum waatubu illahi la haula walaquata illahbillahil aliyil azim..

  12. Yulian Purnama
    08 Feb 2011 [#]

    #imn hermansyah
    Wa’alaikumussalam. Jika tasawuf yang anda maksud adalah ilmu tentang akhlak mulia, coba simak artikel-artikel di sini:
    http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat

  13. pranaya
    20 Mar 2011 [#]

    saya mauterimahal baru tntg tasawuf

  14. Riza Eka Yanoura
    20 Apr 2011 [#]

    Maaf saya hanya seorang ibu rmh tangga yg hanya berkeinginan meningkatkan iman dan taqwa jd bagaimana harus menyikapinya…dengan ilmu tasawuf …?

  15. Harum
    20 Apr 2011 [#]

    Assalamualaikum Wr.Wb.
    Menarik sekali tulisan Ustadz..
    ada referensi ga kitab yang menerangkan cara untuk bertauhid yang baik, yang saya tau hanya KItab Al-Hikam karangan Ibnu Atthailah.

  16. Budi H.
    23 Apr 2011 [#]

    Sufi yang sebenarnya adalah Rasulullah SAW. Beliau tetap melakukan sholat 5 waktu, shalat malam, puasa Ramadhan, bekerja mencari nafkah. Jangan bingung menjalani agama… Ikuti saja amalan Nabi Muhammad SAW agar selamat dunia akhirat…

  17. Al Adiyat
    25 Apr 2011 [#]

    Mistisisme dalam Islam diberi nama Tasawuf dan oleh kaun orientalis barat disebut Sufisme.

  18. Yulian Purnama
    25 Apr 2011 [#]

    #Riza Eka Yanoura
    Ilmu tasawuf bukan dari Islam dan sebaiknya jangan dipelajari. Silakan baca artikel di atas.
    Tingkatkan iman dan taqwa dengan memperdalam ilmu agama anda, belajar Al Qur’an beserta tafsirnya, belajar hadits dan cabang-cabang ilmunya.

  19. abdul hadi
    02 Mei 2011 [#]

    alh,thank you

  20. hamba Allah
    23 Jul 2011 [#]

    Sesuatu Perkara yg diada-adakan pdahal tidak ada Sebelumnya Di zaman Rasulullah adalah Bid’ah. dan Bid’ah Itu Adalah Sesat n Menyesatkan. Dan setiap yg sesat itu adalah Neraka tempatx.
    Orang atau golongan yg menamakan islam tp keluar dari konsep Al-Qur’an n As-Sunnah Adalah Sesat n Menyesatkan.

  21. irfangigih
    27 Jul 2011 [#]

    Maaf sepertinya ada yg perlu kembali dicermati. mengenai hadits yg disebut, terkait sejarahnya. Kok disebutkan bahwa hadits tersebut membicarakan tentang khawarij. Padahal antara rasul dan khawarij masanya kan berbeda. Syukron.

  22. Yulian Purnama
    04 Agu 2011 [#]

    #Harum
    Kitab tersebut kental dengan aroma sufi dan memiliki banyak penyimpangan aqidah, diantaranya penulis kitab tersebut berpendapat bahwa berdoa langsung kepada Allah itu perbuatan lancang.
    Insya Allah akan kami sampaikan bagaimana pandangan ulama sunnah terhadap kitab tersebut pada artikel tersendiri.
    Untuk buku yang baik dalam mempelajari tauhid, kami menyarakan anda untuk mencarinya di sini:
    http://toko-muslim.com/category/lihat-semua-buku/aqidah-dan-akhlak/

  23. tommi
    05 Agu 2011 [#]

    @al akh Yulian Purnama,

    Jazakalloh khoir jika memang tim muslim.or.id ingin membahas mengenai pandangan ulama2 sunnah terhadap kitab Al Hikam, ana sangat menunggu2. Ana jg pernah disodori referensi untuk membaca kitab tersebut karena katanya bagus, namun ana ragu2 karena ana pernah baca Syekh Ibnu Atho’illah adalah seorg sufi dari tarekat Syadziliyyah. Wallahu a’lam

  24. made bayu
    08 Agu 2011 [#]

    saya beloommm paham haramnya sufisme dan tasawuf, belum mudeng… T_T

  25. Yulian Purnama
    09 Agu 2011 [#]

    #irfangigih
    Pelopor kaum khawarij telah ada di zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, yaitu Dzul Khuwaishirah. Selain itu, hadits tersebut adalah khabar dari Rasulullah mengenai apa yang akan terjadi di masa mendatang dan khabar dari beliau itu pasti benar.

  26. rina
    03 Nov 2011 [#]

    duh,,jangan jangan ini yang namanya tasawuf ya,,selalu mengedepankan zdikir yang zdikirnya bukan zdikir umum,dan selalu berhubungan dengan wali saat mengadakan pengajian,,mohon balasan secepatnya,,

  27. RONI ANUAR
    13 Nov 2011 [#]

    menurut sy ajran sufi terlalu memikirkan akhrat sedangkan dunia di tinggalkan
    di dalam al qur’an telah di jelas kan bahwa dunia dan akhrit harus balance(seimbang).

  28. agus
    28 Nov 2011 [#]

    yang saya tahu tasawuf salah satunya mengajarkan untuk berzikir(mengingat Allah)setiap saat, karena dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang
    ohya saya ingin membantu Bsant yang komentar pada 16 Dec 2008 dalil zikir dilakukan setiap saat:
    Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, perbanyaklah dzikir!” (33:41).

    Allah berfirman,” Penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah tanda-tanda bagi orang yang mengerti, mereka yang mengingat (dan mengucapkan dan menyebut) Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring “(3:190-191)

    “Tidaklah kalian ketahui bahwa hati hamba-hamba Allah SWT yang beriman itu dibahagiakan oleh Allah dengan banyak berdzikir kepada-Nya” (QS. Al-Hadid:16)

    “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak juga oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari dimana hati dan penglihatan menjadi guncang” (QS An-Nur: 37).

    Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi shalawat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (Al-Ahzab: 41-43).

    “Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu ia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela, maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (QS. Ash-Shaffat (37) : 139 – 144).
    dan masih banyak yang lain…

  29. ekn
    13 Jan 2012 [#]

    tasauf dan syia ibarat pinang di bela dua kesesatannya podowai.

  30. ekn
    13 Jan 2012 [#]

    semoga pengikut tasauf allah swt memberi hidah

  31. Ifan
    19 Jan 2012 [#]

    Renungi doa Nabi Muhammad SAW yaitu “Rabbana attina fiddunya hasannah wa fill akhirati hasannah wa kinna azabannar”maaf kalau ada salah penulisan latinnya.tks

  32. Yahya
    19 Feb 2012 [#]

    Yang belum kesampaian sampai sekarang adalah hati berzikir setiap saat tanpa saya perintah…di coba dari rumah ke kantor zikir Bismillah dalam hati…eehhh…lalai lagi ditengah jalan…ada siti hawa lewat…huahahahaha

  33. ashari ari
    29 Mar 2012 [#]

    kaum sufi awal adalah yang benar adapun para pengikut generasi awal abad 19 udah banyak penyimpangan.

  34. ahmad khudlori
    17 Mei 2012 [#]

    Bagus, untuk lebih bagusnya lagi kalau ada contoh konkret dlm kehidupan masa sekarang dengan contoh yang jelas dari orang2 yang kita kenali di Indonesia.

  35. Toni. S
    29 Mei 2012 [#]

    Ass. Wr. Wb. Menarik sekali menyimak dari tulisan anda, tapi perlu kita ingat pula semuanya itu adalah hanya imformasi dari pendahulu kita, yang ditangkap oleh mata dan telinga kita yang kemudian dicerna oleh akal untuk pemahaman nya, namun kadang kala akal pula lah yang merekayasa sehingga setiap pemahaman kadang berbeda dengan apa yang dimaksud oleh imformasi tersebut. Alquran dan hadist adalah suatu barometer untuk kehidupan kita saat ini, ingat Allah itu ada disetiap gerak dan atas kuasanyalah setiap kejadian itu terjadi.

  36. habib
    04 Jul 2012 [#]

    tasawuf bersaudara kandung dengan syiah

  37. jauhari
    07 Jul 2012 [#]

    buku2 dan ajaran2 tarekoh2 atau sejenis nya,, itu semua adalah ujian bagi manusia ,bagi siapa yg menghendaki tidak sesat dan tetap dijalan yg lurus maka berpegang teguhlah dg kandungan AL_QUR’AN dan AL_HADIST yg shahih, dipelajari dipahami dan di ‘amalkan itulah yg akan menuntun pada jalan kebenaran -kebahagiaan dunia dan ‘ahkerat,, perumpamaan jalan yg sesat dengan jalan yg lurus itu, seperti air dengan buih nya, maka apa bila kita ngambil buihnya tidak memberi kemanfaatan sedikit pun pada diri kita ,tapi kalo kita ngambil air nya itulah yg benar2 bisa bermanfa’at, buat minum buat nyuci buat mandi dan lain sebagai nya, demikianlah ALLAH memberi penjelasan didalam AL_QUR’AN ,juga disebut FURQAN=pembeda antara yg haq dan yg batail,yg baik dan yg buruk nampak dan jelas. somoga kita selalu diberi kepahaman yg benar dan ber’amal sesuai dengan syari’at AL_QUR’AN dan SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW, sampai kita bertemu ALLAH AZZA WAJALLA pada hari yg dijanjikan oleh nya dan diampuni dari segala dosa dan dihindarkan dari azab api neraka, amiin.

  38. Khilmu Airf
    31 Jul 2012 [#]

    Maaf sekedar meluruskan :
    Jika ingin mengetahui apa itu tasawuf dan sifat para Wali/Syehnya tolong baca buku dulu :
    Al Fathu Arrabbani karya Syeh Abdul Qadir Al Jailani.
    Beliau adalah pengikut sunnah Rasul dan pemberantas bid’ah.

  39. bandi
    25 Sep 2012 [#]

    tasauf adalah membersihkan hati

  40. Bambang kis
    06 Nov 2012 [#]

    maaff………. gelar untuk shahabat rasul sekaligus menantunya Ali bin Abi Thalib yang benar itu karomallahu wajhah atau kah sama dengan shahabat yang lain yang menggunakan radliyallahu anhu???? kok saya jadi bingung……

  41. Yulian Purnama
    14 Jan 2013 [#]

    #Bambang kis
    Keduanya tidak mengapa, namun yang banyak dipraktekkan oleh para ulama adalah radhiallahu’anhu

Tinggalkan Komentar

Biojanna

Kembali ke Atas