Benar bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah kaprah. Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah.
Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah Ta’ala,
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.
Secara bahasa,
الرَّحْمة: الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ
rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisaanul Arab, Ibnul Mandzur). Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
Penafsiran Para Ahli Tafsir
1. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Tafsir Ibnul Qayyim:
“Pendapat yang lebih benar dalam menafsirkan ayat ini adalah bahwa rahmat disini bersifat umum. Dalam masalah ini, terdapat dua penafsiran:
Pertama: Alam semesta secara umum mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus.
Orang kafir yang memerangi beliau, manfaat yang mereka dapatkan adalah disegerakannya pembunuhan dan maut bagi mereka, itu lebih baik bagi mereka. Karena hidup mereka hanya akan menambah kepedihan adzab kelak di akhirat. Kebinasaan telah ditetapkan bagi mereka. Sehingga, dipercepatnya ajal lebih bermanfaat bagi mereka daripada hidup menetap dalam kekafiran.
Orang kafir yang terikat perjanjian dengan beliau, manfaat bagi mereka adalah dibiarkan hidup didunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini lebih sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Orang munafik, yang menampakkan iman secara zhahir saja, mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain.
Dan pada umat manusia setelah beliau diutus, Allah Ta’ala tidak memberikan adzab yang menyeluruh dari umat manusia di bumi. Kesimpulannya, semua manusia mendapat manfaat dari diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Kedua: Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya. Sehingga bagi orang kafir, Islam tetap dikatakan rahmat bagi mereka, namun mereka enggan menerima. Sebagaimana jika dikatakan ‘Ini adalah obat bagi si fulan yang sakit’. Andaikan fulan tidak meminumnya, obat tersebut tetaplah dikatakan obat”
2. Muhammad bin Ali Asy Syaukani dalam Fathul Qadir:
“Makna ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan membawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian’. Dengan kata lain, ‘satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu yang menjadi sebab kebahagiaan di akhirat’ ”
3. Muhammad bin Jarir Ath Thabari dalam Tafsir Ath Thabari:
“Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah seluruh manusia yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh manusia baik mu’min dan kafir? Ataukah hanya manusia mu’min saja? Sebagian ahli tafsir berpendapat, yang dimaksud adalah seluruh manusia baik mu’min maupun kafir. Mereka mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam menafsirkan ayat ini:
من آمن بالله واليوم الآخر كتب له الرحمة في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن بالله ورسوله عوفي مما أصاب الأمم من الخسف والقذف
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar”
dalam riwayat yang lain:
تمت الرحمة لمن آمن به في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن به عوفي مما أصاب الأمم قبل
“Rahmat yang sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu”
Pendapat ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang beriman saja. Mereka membawakan riwayat dari Ibnu Zaid dalam menafsirkan ayat ini:
فهو لهؤلاء فتنة ولهؤلاء رحمة , وقد جاء الأمر مجملا رحمة للعالمين . والعالمون هاهنا : من آمن به وصدقه وأطاعه
“Dengan diutusnya Rasulullah, ada manusia yang mendapat bencana, ada yang mendapat rahmah, walaupun bentuk penyebutan dalam ayat ini sifatnya umum, yaitu sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Seluruh manusia yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang beriman kepada Rasulullah, membenarkannya dan menaatinya”
Pendapat yang benar dari dua pendapat ini adalah pendapat yang pertama, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas. Yaitu Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, baik mu’min maupun kafir. Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah. Sedangkan rahmat bagi orang kafir, berupa tidak disegerakannya bencana yang menimpa umat-umat terdahulu yang mengingkari ajaran Allah” (diterjemahkan secara ringkas).
4. Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi dalam Tafsir Al Qurthubi
“Said bin Jubair berkata: dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
كان محمد صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع الناس فمن آمن به وصدق به سعد , ومن لم يؤمن به سلم مما لحق الأمم من الخسف والغرق
“Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah rahmat bagi seluruh manusia. Bagi yang beriman dan membenarkan ajaran beliau, akan mendapat kebahagiaan. Bagi yang tidak beriman kepada beliau, diselamatkan dari bencana yang menimpa umat terdahulu berupa ditenggelamkan ke dalam bumi atau ditenggelamkan dengan air”
Ibnu Zaid berkata:
أراد بالعالمين المؤمنين خاص
“Yang dimaksud ‘seluruh manusia’ dalam ayat ini adalah hanya orang-orang yang beriman” ”
5. Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafasir
“Maksud ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk’. Sebagaimana dalam sebuah hadits:
إنما أنا رحمة مهداة
“Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)” (HR. Al Bukhari dalam Al ‘Ilal Al Kabir 369, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/596. Hadits ini di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 490, juga dalam Shahih Al Jami’, 2345)
Orang yang menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala tidak mengatakan ‘rahmatan lilmu’minin‘, namun mengatakan ‘rahmatan lil ‘alamin‘ karena Allah Ta’ala ingin memberikan rahmat bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para Nabi, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia. Bahkan orang-orang kafir mendapat manfaat dari rahmat ini, yaitu ditundanya hukuman bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak lagi ditimpa azab berupa diubah menjadi binatang, atau dibenamkan ke bumi, atau ditenggelamkan dengan air”
Pemahaman Yang Salah Kaprah
Permasalahan muncul ketika orang-orang menafsirkan ayat ini secara serampangan, bermodal pemahaman bahasa dan logika yang dangkal. Atau berusaha memaksakan makna ayat agar sesuai dengan hawa nafsunya. Diantaranya pemahaman tersebut adalah:
1. Berkasih sayang dengan orang kafir
Sebagian orang mengajak untuk berkasih sayang kepada orang kafir, tidak perlu membenci mereka, mengikuti acara-acara mereka, enggan menyebut mereka kafir, atau bahkan menyerukan bahwa semua agama sama dan benar, dengan berdalil dengan ayat:
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. Al Anbiya: 107)
Padahal bukan demikian tafsiran dari ayat ini. Allah Ta’ala menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, namun bentuk rahmat bagi orang kafir bukanlah dengan berkasih sayang kepada mereka. Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu. Inilah bentuk kasih sayang Allah terhadap orang kafir, dari penjelasan sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu.
Bahkan konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, serta membenci orang-orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)
Namun perlu dicatat, harus membenci bukan berarti harus membunuh, melukai, atau menyakiti orang kafir yang kita temui. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam tafsir beliau di atas, bahwa ada orang kafir yang wajib diperangi, ada pula yang tidak boleh dilukai.
Menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai dalil pluralisme agama juga merupakan pemahaman yang menyimpang. Karena ayat-ayat Al Qur’an tidak mungkin saling bertentangan. Bukankah Allah Ta’ala sendiri yang berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ
“Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” (QS. Al Imran: 19)
Juga firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al Imran: 85)
Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan ‘Islam’ dalam ayat-ayat ini dengan ‘berserah diri’. Jadi semua agama benar asalkan berserah diri kepada Tuhan, kata mereka. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:
الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا
”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no.8)
Justru surat Al Anbiya ayat 107 ini adlalah bantahan telak terhadap pluralisme agama. Karena ayat ini adalah dalil bahwa semua manusia di muka bumi wajib memeluk agama Islam. Karena Islam itu ‘lil alamin‘, diperuntukkan bagi seluruh manusia di muka bumi. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim di atas: “Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya”.
2. Berkasih sayang dalam kemungkaran
Sebagian kaum muslimin membiarkan orang-orang meninggalkan shalat, membiarkan pelacuran merajalela, membiarkan wanita membuka aurat mereka di depan umum bahkan membiarkan praktek-praktek kemusyrikan dan enggan menasehati mereka karena khawatir para pelaku maksiat tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian berkata : “Islam khan rahmatan lil’alamin, penuh kasih sayang”. Sungguh aneh.
Padahal bukanlah demikian tafsir surat Al Anbiya ayat 107 ini. Islam sebagai rahmat Allah bukanlah bermakna berbelas kasihan kepada pelaku kemungkaran dan membiarkan mereka dalam kemungkarannya. Sebagaiman dijelaskan Ath Thabari dalam tafsirnya di atas, “Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah”.
Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mu’min adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perinta-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah. Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan.
Dan sikap rahmat pun diperlukan dalam mengingkari maksiat. Sepatutnya pengingkaran terhadap maksiat mendahulukan sikap lembut dan penuh kasih sayang, bukan mendahulukan sikap kasar dan keras. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam bersabda:
إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه . ولا ينزع من شيء إلا شانه
“Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasnya. Tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya” (HR. Muslim no. 2594)
3. Berkasih sayang dalam penyimpangan beragama
Adalagi yang menggunakan ayat ini untuk melegalkan berbagai bentuk bid’ah, syirik dan khurafat. Karena mereka menganggap bentuk-bentuk penyimpangan tersebut adalah perbedaan pendapat yang harus ditoleransi sehingga merekapun berkata: “Biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami, bukankah Islam rahmatan lil’alamin?”. Sungguh aneh.
Menafsirkan rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107 dengan kasih sayang dan toleransi terhadap semua pemahaman yang ada pada kaum muslimin, adalah penafsiran yang sangat jauh. Tidak ada ahli tafsir yang menafsirkan demikian.
Perpecahan ditubuh ummat menjadi bermacam golongan adalah fakta, dan sudah diperingatkan sejak dahulu oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan orang yang mengatakan semua golongan tersebut itu benar dan semuanya dapat ditoleransi tidak berbeda dengan orang yang mengatakan semua agama sama. Diantara bermacam golongan tersebut tentu ada yang benar dan ada yang salah. Dan kita wajib mengikuti yang benar, yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Bahkan Ibnul Qayyim mengatakan tentang rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107: “Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus”. Artinya, Islam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada orang yang mengikuti golongan yang benar yaitu yang mau mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
Pernyataan ‘biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami’ hanya berlaku kepada orang kafir. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Kaafirun:
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku‘”
Sedangkan kepada sesama muslim, tidak boleh demikian. Bahkan wajib menasehati bila saudaranya terjerumus dalam kesalahan. Yang dinasehati pun sepatutnya lapang menerima nasehat. Bukankah orang-orang beriman itu saling menasehati dalam kebaikan?
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr: 1 – 3)
Dan menasehati orang yang berbuat menyimpang dalam agama adalah bentuk kasih sayang kepada orang tersebut. Bahkan orang yang mengetahui saudaranya terjerumus ke dalam penyimpangan beragama namun mendiamkan, ia mendapat dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:
إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها كمن غاب عنها . ومن غاب عنها فرضيها ، كان كمن شهدها
“Jika engkau mengetahui adanya sebuah kesalahan (dalam agama) terjadi dimuka bumi, orang yang melihat langsung lalu mengingkarinya, ia sama seperti orang yang tidak melihat langsung (tidak dosa). Orang yang tidak melihat langsung namun ridha terhadap kesalahan tersebut, ia sama seperti orang yang melihat langsung (mendapat dosa)” (HR. Abu Daud no.4345, dihasankan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)
Perselisihan pendapat pun tidak bisa dipukul-rata bahwa semua pendapat bisa ditoleransi. Apakah kita mentoleransi sebagian orang sufi yang berpendapat shalat lima waktu itu tidak wajib bagi orang yang mencapai tingkatan tertentu? Atau sebagian orang kejawen yang menganggap shalat itu yang penting ‘ingat Allah’ tanpa harus melakukan shalat? Apakah kita mentoleransi pendapat Ahmadiyyah yang mengatakan bahwa berhaji tidak harus ke Makkah? Tentu tidak dapat ditoleransi. Jika semua pendapat orang dapat ditoleransi, hancurlah agama ini. Namun pendapat-pendapat yang berdasarkan dalil shahih, cara berdalil yang benar, menggunakan kaidah para ulama, barulah dapat kita toleransi.
4. Menyepelekan permasalahan aqidah
Dengan menggunakan ayat ini, sebagian orang menyepelekan dan enggan mendakwahkan aqidah yang benar. Karena mereka menganggap mendakwahkan aqidah hanya akan memecah-belah ummat dan menimbulkan kebencian sehingga tidak sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
Renungkanlah perkataan Ash Shabuni dalam menafsirkan rahmatan lil ‘alamin: “Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjadi rahmat bagi seluruh manusia karena beliau membawa ajaran tauhid. Karena manusia pada masa sebelum beliau diutus berada dalam kesesatan berupa penyembahan kepada sesembahan selain Allah, walaupun mereka menyembah kepada Allah juga. Dan inilah inti ajaran para Rasul. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut’ ” (QS. An Nahl: 36)
Selain itu, bukankah masalah aqidah ini yang dapat menentukan nasib seseorang apakah ia akan kekal di neraka atau tidak? Allah Ta’ala berfirman:
نَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72)
Oleh karena itu, adakah yang lebih urgen dari masalah ini?
Kesimpulannya, justru dakwah tauhid, seruan untuk beraqidah yang benar adalah bentuk rahmat dari Allah Ta’ala. Karena dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah rahmat Allah, maka bagaimana mungkin menjadi sebab perpecahan ummat? Justru kesyirikanlah yang sebenarnya menjadi sebab perpecahan ummat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Ruum: 31-32)
Pemahaman Yang Benar
Berdasarkan penafsiran para ulama ahli tafsir yang terpercaya, beberapa faedah yang dapat kita ambil dari ayat ini adalah:
- Di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam sebagai Rasul Allah adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
- Seluruh manusia di muka bumi diwajibkan memeluk agama Islam.
- Hukum-hukum syariat dan aturan-aturan dalam Islam adalah bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya.
- Seluruh manusia mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam
- Rahmat yang sempurna hanya didapatkan oleh orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam
- Seluruh manusia mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.
- Orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, membenarkan beliau serta taat kepada beliau, akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
- Orang kafir yang memerangi Islam juga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, yaitu dengan diwajibkannya perang melawan mereka. Karena kehidupan mereka didunia lebih lama hanya akan menambah kepedihan siksa neraka di akhirat kelak.
- Orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum musliminjuga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Yaitu dengan dilarangnya membunuh dan merampas harta mereka.
- Secara umum, orang kafir mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam berupa dihindari dari adzab yang menimpa umat-umat terdahulu yang menentang Allah. Sehingga setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, tidak akan ada kaum kafir yang diazab dengan cara ditenggelamkan seluruhnya atau dibenamkan ke dalam bumi seluruhnya atau diubah menjadi binatang seluruhnya.
- Orang munafik yang mengaku beriman di lisan namun ingkar di dalam hati juga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain. Namun di akhirat kelak Allah akan menempatkan mereka di dasar neraka Jahannam.
- Pengutusan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjadi rahmat karena beliau telah memberikan pencerahan kepada manusia yang awalnya dalam kejahilan dan memberikan hidayah kepada manusia yang awalnya berada dalam kesesatan berupa peribadatan kepada selain Allah.
- Sebagian ulama berpendapat, rahmat dalam ayat ini diberikan juga kepada orang kafir namun mereka menolaknya. Sehingga hanya orang mu’min saja yang mendapatkannya.
- Sebagain ulama berpendapat, rahmat dalam ayat ini hanya diberikan orang mu’min.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, yang dengan sebab rahmat-Nya tersebut kita dikumpulkan di dalam Jannah-Nya.
Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimmush shalihat..
Penulis: Yulian Purnama
Artikel www.muslim.or.id
==========
Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo
==========




catatan febri
13 Jan 2010 [#]
saya mempunyai beberapa pertanyaan mengenai artikel ini.
sebenarnya islam itu rahmatan lil ‘alamin ataukah lil muslimin
banyak umat non muslim yang tidak merasakan bagaimana posisi Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. contohnya dengan adanya aksi terorisme, korupsi yang sebagian besar di lakukan oleh orang yang mengaku beragama Islam, dsb.
mungkin para pengurus blog atau web ini mempunyai jawaban???
abu hanifah alim
13 Jan 2010 [#]
artikelnya bagus.. ana idzin nyontek..
jazakumullahu khairan
djanut
14 Jan 2010 [#]
ass, punten akh numpang ngopy untuk disampaikan kepada saudara2 yang lain.syukran
abu umair al-baganiy
14 Jan 2010 [#]
Bismillah. afwan ana izin meng-copy file ini. mari pelajari Islam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih agar kita selamat dunia dan akhirat. Barokallahufikum
amirulhuda romadhoni
15 Jan 2010 [#]
Hadirilah
Kajian Ilmiah Penggugah Jiwa
Tema: Cukuplah Kematian Sebagai Peringatan Bagimu!
Pemateri: Al Ustadz Abu Umair, Lc. (Ma’had Al Irsyad, Salatiga)
Insya Allah akan diselenggarakan pada:
Hari/ tanggal: Rabu, 20 Januari 2010
Waktu: Pukul 19.30 WIB s.d. Selesai
Tempat: Masjid Al Akhlak, Klentang, Gemolong, Sragen
(100 meter sebelah utara perempatan Klentang, Gemolong)
Gratis, Terbuka Untuk Umum (Khusus Putra)
Informasi:
Joni Widodo 081329933469
Aboe Zaid 08999499464
Diselenggarakan bersama oleh:
Takmir Masjid Al Akhlak, Klentang
FKM (Forum Kajian Masyarakat) Gemolong
ummu azka
15 Jan 2010 [#]
Ya Allah smg bnyk saudaraku membaca tulisan ini. Amin.
abdurrahman
23 Jan 2010 [#]
bismillah..
ana ijin mengkopi artikel dari website ini utk dakwah menuju manhaj ini..
boleh?jazakumullah..
Muslim.Or.Id
23 Jan 2010 [#]
@ Abdurrahman
Silakan, semoga bermanfaat untuk yang lainnya.
di-an
05 Feb 2010 [#]
tidak jauh berbeda dengan saudara febri…saya mohon pengurus blog atw web ini bisa memberikan artikel-artikel yang disertai dengan contoh yang realistis yang teraplikasi dalam kehidupan sehari-sehari, sehingga dapat menjadi pencerahan dan contoh perbuatan yang dipahami secara lebih gamblang dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Islam rahmatan lil’alamin tidak akan terwujud sempurna jika umatnya sendiri tidak dapat memberikan contoh yang baik dalam kehidupannya. Sehingga dengan keislaman yang teraplikasi dalam perilaku dan ucapan dapat menjadikan islam sebagai rahmat bagi penganutnya dan penganut agama lain.
Bagaimana kita dapat mengajak saudara-saudara kita yang belum menemukan jalan Allah untuk bersama-sama mecintai Allah, sementara masih banyak anarkisme yang dipertontonkan oleh sebagian saudara2 kita yang tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan dan ketakutan bagi penganut agama lain tapi juga bagi umat islam itu sendiri.
Ya Allah….
Kneza
09 Feb 2010 [#]
bagus banget artikelnya, afwan q izin menukil ya…
Syukron Katsiron
Yulian Purnama
09 Feb 2010 [#]
#Catatan Febri
“sebenarnya islam itu rahmatan lil ‘alamin ataukah lil muslimin?”
jawabannya ada pada artikel, silakan dibaca dengan cermat.
Mengenai hubungan antara Rahmatan lil alamin dengan adanya terorisme dan muslim yang korupsi, saya mencermati dua hal:
Pertama, jika merujuk pada penjelasan para ahli tafsir ttg ayat ini, maka hal tersebut TIDAK BERHUBUNGAN. Karena Islam sebagai rahmatan lil’alamin artinya semua makhluk mendapat manfaat dengan datangnya Islam, baik mukmin maupun kafir, dan bukan maknanya harus berkasih sayang dengan semua orang secara mutlak.
Silakan baca lagi artikel diatas dengan cermat.
Kedua, teroris dan koruptor itu tidak menjalankan ajaran Islam dengan benar. Maka tentunya mereka tidak bisa jadi orang yang mencerminkan bagaimana sih Islam itu.
Serdadu Salafi
23 Mei 2010 [#]
@ catatan febri Silahkan antum pelajari ajaran islam (Al Quran dan Sunnah) secara kaffah (keseluruhan) jangan secara parsial insya Alloh antum dapati Islam agama yang rohmatan lil’alamin. Jangan lihat perilaku orang islam sebagai tolok ukurnya karena perilakunya beda2 ada yg sholeh ada yg nggak, simak dan pelajari ajaran islam yang baku (Al Quran dan Sunnah). Mohon maaf bila kurang sopan dan berkenan di hati Antum.
imam
02 Agu 2010 [#]
askum
ada amalan2 gag
sugeng prjadi
01 Sep 2010 [#]
Ya Allah Berikanlah kami Rahmat, Taufiq & Hidayah_Mu agar kami termasuk orang-orang yang beruntung di Dunia & Akhirat, Amiiiiiiiiin !
Ya Robbal ‘Alamiin
muhamad nurchoyin
04 Okt 2010 [#]
assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…..
maha suci Allah atas segala kesempurnaannya. memang manusia diciptaan di bumu ini sebagai kholifah, dan islam sebagai payung dan wadah mewujudkannya, sebagai mana misi islam adalah rohmatan al-’alamin. oleh karena itu islam bukanlah dengan mengadakan perang atau kerusakan tetapi islam sebagai tali pemersatu seluruh umat. oleh karena itu Allah memiliki sifat rohman yang akan selalu memberi riski dan kasih sayang baagi seluruh alam, tetapi Allah juga mempunyai sifat rohim, yang hanya akan didapatkan oleh orang mu’min sejati, yang selalu berpegang teguh terhadap syari’at dan norma-norma islam yang bersandarkan pada al-Qur’an dan hadits nabi.agama islam hanya 1 tidak ada perpecahan di dalamnya, karna Allah menyuruh manusia masuk kedalam agama islam secara sempurna, tidak saling menyalahkan atau menganggap ajaran yang ia anut paling benar, karna yang paling benar adalah orang yang selalu berpedoman pada kedua hal tersebut.
Yulian Purnama
05 Okt 2010 [#]
#muhammad nurchoyin
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Saya setuju pada beberapa poin dari komentar anda, tapi tafsiran anda terhadap ‘rahmatan lil alamin’ tidak sejalan dengan tafsiran para ahli tafsir yang saya uraikan di atas. Mohon kembalikan urusan kepada ahlinya.
yochie
14 Okt 2010 [#]
terimakasih ya,…artikel nya bgs,..sangat membantu saya dlm menyelesaikan tugas2 mata kuliah ke agamaan saya,…terimakasih banyak.
bayu
20 Okt 2010 [#]
maaf q ikut ngopy war referensi materi islam rahmatal li’alamin
ari
17 Des 2010 [#]
ass. afwan ust dengan kerendahan hati, maaf saya ingin mengerti tafsiran dari ad-din dan al-islam,dan knapa ayat tentang rahmatal lil’alamiin itu di letakkan di surat al-anbiya’? syukron kastiir
Yulian Purnama
01 Jan 2011 [#]
#ari
Coba anda simak artikel:
http://muslim.or.id/aqidah/islam-anda-sudah-paham.html
Dewi Ariyani
03 Jan 2011 [#]
Islam wajib hukumnya melaksanakan yg wajib, jd pandangan sy tdk ada alasan utk tdk melaksanakan kewajiban kt sbg seorang muslimin, larangan ya dilarang, tergantung amalan kt kpd Allah, mungkin ini yg bs sy tanggapi, klu salah sy mohon dikoreksi,,,,
Kalijogo
09 Feb 2011 [#]
saya setuju dg pendapat sdr Febri & Dian…,
Selama ini mengapa kita lebih banyak mempertontonkan kekerasan. Citra yang timbul di mata khalayak umum adalah Islam (penganut agama Islam) dekat atau senang dengan kekerasan. Ini justru yang sangat merugikan kita sebagai umat Muslim..
Saya juga setuju dengan pendapat dr Sdr Serdadu Salafi, bahwa dalam mempelajari Islam (Al Quran & Sunnah) seharusnya secara utuh. Persoalan & kenyataan di lapangan, masih banyak perilaku dari saudara-saudara kita sesama Muslim yang menunjukkan perilaku sebaliknya. Bahkan beberapa organisasi massa yang mengatasnamakan Islam, justru menggunakan Islam sebagai tameng untuk bertindak anarkis… Ini menjadi keprihatinan kita bersama, dan menodai Islam sebagai agama yang Rahmatan lil’alamin…
Arin
14 Feb 2011 [#]
subhanallah…
syukron ilmu nya manteb banngetttt….
Jank
19 Feb 2011 [#]
Ass…Bismillahirrahmanirrahim, alhamdullah sangat-sangat bagus artikelnya…semoga bermanfaat utk qta semua..amiiiin
Doel
19 Feb 2011 [#]
Islam jelas Rahmatan lil ‘alamin bukan lil mu’minin. Secara syariat Rukun Islam ada 5, namun sayangnya banyak umat islam hanya melaksanakannya sekedar utk menjalankan syariatnya saja, sebab jika mereka memahami hakikatnya, nyatalah bahwa islam akan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Satu contoh yg paling konkrit adalah rukun islam yg ke 2, “mendirikan sholat”. Banyak yg kurang memahami sebenarnya utk apa sholat itu??
Di Alqur’an sebenarnya sudah sangat jelas ditegaskan bahwa Sholat itu untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. So.. kalo kita melihat ada umat islam yg anarkis, korupsi, dan menjadi teroris, sebenarnya kita cukup mengingatkan mereka untuk memahami sholatnya, karena banyak yg mengira sholat itu untuk menegakkan agama, padahal sholat itu untuk mencegah orang yg mendirikannya dari perbuatan keji dan munkar.
Jadi, kalo ini aja bener2 dipahami uleh umat islam, udah pasti akan membawa rahmat bagi seluruh alam.
wassalam
jaya wiguna
02 Mei 2011 [#]
apakah benar smua umat muslim akan masuk surga. saya pernah dengar sbuah hadist” jangalah kamu mati selain dari agama islam”
lalu bagaimana untuk pendosa besar yg seumur hidupnya tidak pernah melakukan kebajikan, tetapi ia beragama islam?
Abu Hanifah
11 Mei 2011 [#]
alhamdulillah artkelnya mumtaz. izin copy ya.
marza
16 Mei 2011 [#]
terikasih…artikel anda bagus,,semoga allah swt memberi pahala yg sesuai dg kerja dan pikiran anda dlm megerjakan artikel ini,dan semoga umat islam yg haus dg ilmu allah swt dapat menambah ilmunya amin..
Yulian Purnama
28 Jun 2011 [#]
#jaya wiguna
kutipan tersebut adalah terjemah dari ayat Qur’an bukan hadits. Jika seseorang tidak pernah melakukan shalat maka ia kafir menurut pendapat yang rajih.
Mudjiono
29 Sep 2011 [#]
Ass wrwb
Alhamdulillah semoga umat Islam dapat membuktikan diri menjadi rahmat bagi alam semesta. Kalau disimak lebih dalam Qur’an surat Al Anbiya’ ayat 107 itu terkait langsung dengan keberadaan alam semesta ini. Ajaran Tauhid adalah kunci penentu keselamatan alam semesta. Risalah Islam yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw pada intinya untuk menghambat kehancuran alam semesta atau kiamat. Semakin banyak orang menyebut tahlil, takbir, tahmid dan asma Allah maka alam semesta ini akan berada dalam keseimbangan dan semakin lambat gerak mengembangnya. Saat ini tampaknya alam semesta dalam kondisi kritis mulai terganggu keseimbangannya, karena kalimat-kalimat Tauhid tidak terpancar dengan murni. Sebagian umat Islam sibuk dalam urusan dunia seperti kekuasaan, politik, dan melakukan teror. Bentangan wilayah berpenduduk muslim dari Merauke Papua di timur sampai Marokko di barat saat ini dalam kekacauan, sehingga alam semesta pun guncang. Amerika Serikat dan Eropa harus memahami azas keseimbangan ini, jangan memaksa globalisasi budaya barat. Agama-agama besar lain diharapkan tidak melakukan gerakan menghambat perkembangan Islam karena senyatanya semua manusia di bumi ini membutuhkan bergemanya kalimat takbir, tahlil dan tahmid demi menjaga kelangsungan alam semesta. Lebih detil saya telah menulis buku Kosmologi yang Sebenarnya, Penciptaan Alam Semesta dalam Enam Masa yang terbit secara self publishing. Semoga bermanfaat.
Wassalam.
Dwijani
09 Des 2011 [#]
Selama ini saya mengira bahwa makna ‘rahmatan lil alami’ ialah bahwa kehadiran seorang Muslim di dunia ini seharusnya menjadi rahmat bagi dunia. Bila ia seorang pimpinan maka ia menjadi pimpinan yang membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi bawahan dan relasinya, jika ia seorang guru/dosen maka ia akan mengajrkan kebaikan yang membawa anak didiknya menjadi pribadi yang baik, sabar, jujur dan kasih sayang jika dia seorang pegawai maka dimanapun dia berada dia akan menyenangkan lingkungannya, membawa kedamaian, membawa kebaikan dengan bekerja keras, jujur, penolong dsb. Muslim dimanapun dia berada dengan memegang teguh ajaran Islam akan menyebarkan kedamaian dengan kasih sayang, ilmu dan ahlaq yang baik.
Andi - Rumbai
31 Jan 2012 [#]
Izin copas ya, pak.
jazakumullah khairan.
suroto
23 Mar 2012 [#]
artikelnya luar biasa…
rumah buku
Saryulis
29 Mar 2012 [#]
terimakasih
Purnomo Betul Herry
26 Apr 2012 [#]
yang saya pahami,rahmatan lilalamin mestinya menjadi rahmat bagi sekalian alam yang berarti juga selain bagi manusia, hewan, tumbuhan dan yang lain. persoalan muncul ialah, siapa yang telah benar2 memeluk dan mengamalkan ajaran islam (muslim), sudahkah mereka menggunakan lisannya, berbuat secara dhahir dan bathin (hati)nya, secara islami ?. Disinilah pangkal persoalannya, karena memang tidak banyak orang yang mampu mencapai tingkatan seperti ini seperti ini.
Disisi lain dikait2kan dengan orang kafir, lantas siapakah orang kafir itu ? apa definisinya, adakah orang kafir (secara mutlak) pada saat/zaman sekarang ini ? yang pasti yang munafik banyak banget !
saya meyakini, bahwa orang yang berilmu (agama),yang fanatik dengan agamanya, yang hatinya bersih (suci), dia justru akan semakin toleran kepada sesama, bahkan kepada semua mahluk.
mari kita terus belajar dan senantiasa bersihkan hati kita masing2, semoga Allah meridhai upaya kita semua, amien.
Yulian Purnama
26 Apr 2012 [#]
#Purnomo
Orang kafir adalah setiap orang di luar Islam. Munafik terkadang tidak sampai kafir. Toleran kepada orang kafir ada batasannya.
nbeys
22 Mei 2012 [#]
sangat luas untuk diartikan,,. belum tentu seorang muslim dapat mencerminkan rahmatan lil alamin,,. memang benar islam adalah agama yg sangat2 indah, dan menurut saya apabila kamu bisa mendamaikan/tentram semua unsur yang ada disekitarmu dengan berpedoman pada ajaran islam mungkin itulah yang dikatakan rahmatan lil alamin, intix tergantung pada indifidual apakah mampu mencapaix? tanya mengapa,,.
nice posting
04 Nov 2012 [#]
makasih penjabarannya
Kaka
08 Nov 2012 [#]
assallamuallaikum wr wb, ijin kopas ya admin buat nambah wawaean ttg tafsir Al Quran, syukron
Hakikat Islam
30 Nov 2012 [#]
KTP saya bertuliskan Islam.
Tetapi saya masih “Kafir”. Saya belum menjalankan islam secara sepenuhnya.
saya belum menjadi muslim yang rahmatan lil alamin, saya belum dapat membunuh sifat setaniyah dalam diri, saya belum bisa menjadi manusia yang total selalu sabar dan pasrah kepada ALLAH seperti yang Nabi umpamakan dengan ibadah Haji.
Bahkan ketika saya komentar pada web2x ini, ada sifat sombong (setaniyah) yang terpancar dalam diri saya yang seharusnya tidak boleh dikeluarkan.
Akan tetapi saya gatal untuk tidak berkomentar.
Nasrani mengajarkan agama kasih,
Hindu-Buda mengajarkan agama budi darma
Islam mengajarkan agama yang pasrah.
Yang paling baik adalah memang Islam yang mengajarkan tentang kepasrahan, rahmatan lil alamin. yaitu agama yang mencakup semua itu, kasih sayang, baik akal dan budi sehingga mencapai kepasrahan total pada Allah SWT.
Semoga kita bisa benar-benar dalam jalan yang lurus.
amin
Khoirul majid
19 Des 2012 [#]
Jadi Islam yang rahmatan lil ‘alamin menghalalkan membenci orang kafir ya tadz,
subhanallah indah sekali…
Yulian Purnama
19 Des 2012 [#]
#Khoirul majid
Ada yang tidak beres dengan iman seseorang jika tidak benci ketika Rabb-nya yang menciptakan dia dan memberi dia nikmat dipersekutukan dan dikatakan ada sesembahan yang lebih layak dari-Nya.
Abu Daffa
11 Apr 2013 [#]
Assalamualaikum
ijinkan ana menyampaikan, Benar Islam itu rahmat ke seluruh alam.
mari kita coba belajar dakwahkan Islam itu rahmatan lil Alamiin..
mulai dari rukun islam…
1. syahadat, harusnya mencegah kita berbuat syirik dan beribadah hanyalah kepada Allah dan beribadah sesuai tuntunan sunnah nabi
2. Shalat kita selain di masjid juga dibawa diluar masjid..tetap ingat dan berdzikir kepada Allah. dengan tidak melakukan kemungkaran seperti korupsi, zina, menyakiti dengan lisan, menepati janji dan banyak lainnya perintah2 dan larangan yang disampaikan Nabi SAW
3.Zakat kita kelola dengan optimal dan amanah. termasuk di dalamnya adalah sedekah. Jangan hanya mengumumkan jumlah saldo rekening waktu shalat jumat..
tapi juga umumkan sudah berapa banyak orang susah yang dibantu dengan dana itu.
Sudah berapa banyak anak yatim yang disekolahkan.
sudah berapa banyak orang yang berhutang dilepaskan hutangnya dengan dana itu.
sudah berapa banyak orang yang tidak mampu berobat, bisa berobat dengan dana itu
sudah berapa banyak orang yang harus memakamkan anak, istri dan ayah bundanya yang kita bantu biaya pemakamannya dengan dana itu
bukan berbangga dengan nominal saldo..tapi bersyukur dengan banyak orang susah yang dibantu menggunakan dana itu.
ana yakin..tiap tiap jiwa yang telah dilepaskan dari kesusahan hidupnya itu, akan merasakan rahmat Allah, bahwa kesusahan mereka telah diobati dengan dana zakat dan infak kaum muslimin.
di moment itulah, bagi setiap insan itu, merasakan bahwa islam rahmatan lil ‘alamiin
(alhamdulillah cara pengelolaan zakat infak tsb telah istiqomah kami laksanakan di masjid kami)
4. Puasa. harusnya mencegah syahwat yang merusak seperti zina, berkata keji, berdusta. setiap orang yang selamat darinya, akan merasakan bahwa agama islam itu rahmat bagi semesta alam..tidak ada orang yang disakiti dengan anak-istri atau ibunya dizinahi, hatinya disakiti, dan janjinya diingkari..
Saat itu terjadi, itulah Islam..rahmatan lil ‘alamiin
5 Naik haji (ana belum) jadi belum bisa komentar :)
intinya ana mau bersaksi, bahwa Islam itu benar rahmat bagi semesta Alam.
dengan menghidupkan setiap ayat yang tertulis semampu kita..
menghidupkan sunnah sunnah yang tertulis di kitab hadist..
perlahan satu persatu semampu kita..
Khotib yang dakwah di mimbar pun berharap..segala ilmu yang dia sampaikan di mimbar akan bermanfaat bagi manusia yg mendengarnya dengan mau diamalkan..
Barakallahu lii walakum fiil Quraanil Adziim
wa nafa’aani wa iyyakum bimaa fiihii al ayaati wa dzikril hakim
wa quuluu qoulii haadza wastagfirullah hal adziim lii walakum