radio muslim

Sampaikan Ilmu Dariku Walau Satu Ayat

Kategori: Akhlaq dan Nasehat, Hadits

22 Komentar // 19 Juni 2011

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Seputar perawi hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Su’aid bin Sa’ad bin Sahm As Sahmiy. Nama kunyah beliau Abu Muhammad, atau Abu Abdirrahman menurut pendapat lain. Beliau adalah salah satu diantara Al ‘Abaadilah (para shahabat yang bernama Abdullah, seperti ‘Abdullah Ibn Umar, ‘Abdullah ibn Abbas, dan sebagainya –pent) yang pertama kali memeluk Islam, dan seorang di antara fuqaha’ dari kalangan shahabat. Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah pada peperangan Al Harrah, atau menurut pendapat yang lebih kuat, beliau meninggal di Tha’if.

Poin kandungan hadits :

Pertama:

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi manusia dan jin (yang artinya), “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah : 3). Tentang sabda beliau, “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”, Al Ma’afi An Nahrawani mengatakan, “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.” Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum fardhu kifayah.

Kedua:

Tabligh, atau menyampaikan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi dalam dua bentuk :

  1. Menyampaikan dalil dari Al Qur’an atau sebagiannya dan dari As Sunnah, baik sunnah yang berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (amaliyah), maupun persetujuan (taqririyah), dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, baligh (dewasa) dan memiliki sikap ‘adalah (sholeh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/ muru’ah, ed).
  2. Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh capabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama. Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmu-ilmu lainnya, di antaranya bahasa, ilmu nahwu (tata bahasa Arab), ilmu-ilmu ushul, musthalah, dan membutuhkan penelaahan terhadap perkataan-perkataan ahli ilmu, mengetahui ikhtilaf (perbedaan) maupun kesepakatan yang terjadi di kalangan mereka, hingga ia mengetahui mana pendapat yang paling mendekati dalil dalam suatu masalah khilafiyah. Dengan bekal-bekal ilmu tersebut akhirnya ia tidak terjerumus menganut pendapat yang ‘nyleneh’.

Ketiga:

Sebagian orang yang mengaku sebagai da’i, pemberi wejangan, dan pengisi ta’lim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”. Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Menurut mereka, tentu yang memiliki hafalan lebih banyak dari satu ayat atau satu hadits lebih layak jadi pendakwah.

Pernyataan di atas jelas keliru dan termasuk pengelabuan yang tidak samar bagi orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah. Hadits di atas tidaklah menunjukkan apa yang mereka maksudkan, melainkan di dalamnya justru terdapat perintah untuk menyampaikan ilmu dengan pemahaman yang baik, meskipun ia hanya mendapatkan satu hadits saja. Apabila seorang pendakwah hanya memiliki hafalan ilmu yang mantap, maka ia hanya boleh menyampaikan sekadar hafalan yang ia dengar. Adapun apabila ia termasuk ahlul hifzh wal fahm (punya hafalan ilmu dan pemahaman yang bagus), ia dapat menyampaikan dalil yang ia hafal dan pemahaman ilmu yang ia miliki. Demikianlah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Terkadang orang yang disampaikan ilmu itu lebih paham dari yang mendengar secara langsung. Dan kadang pula orang yang membawa ilmu bukanlah orang yang faqih (bagus dalam pemahaman)”. Bagaimana seseorang bisa mengira bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak paham agama untuk mengajarkan berdasarkan pemahaman yang ia buat asal-asalan (padahal ia hanya sekedar hafal dan tidak paham, ed)?! Semoga Allah melindungi kita dari kerusakan semacam ini.

Diterjemahkan dari : “Ta’liqat ‘ala Arba’ina Haditsan fi Manhajis Salaf” Syaikh Ali bin Yahya Al Haddadi  (http://haddady.com/ra_page_views.php?id=299&page=24&main=7)

Penerjemah: Yhouga Ariesta

Editor: M. A.  Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Yhouga Pratama

Latest posts by Yhouga Pratama (see all)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel
tas radio muslim

22 Komentar

  1. Ummu ' Khaulah
    19 Jun 2011 [#]

    Assalamualaikum
    Bagaimana dengan orang2 yang menyebarkan tulisan di berbagai website (yang bermanhaj salaf)ketika ditanya suatu hal ia juga copas di web ?

  2. Andy
    28 Jun 2011 [#]

    alhamdulillah nemu juga web yang bersemangat dalam dakwah :) maju terus dan sukses..

  3. juhri
    05 Jul 2011 [#]

    setiap hal yg baik,,,insya allah di balas dgn kebaikan juga,,,,dan begitu sebalik nya..

  4. Alifah Sallsabillah part II
    24 Jul 2011 [#]

    Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh

    Subhanallah artikel yg sungguh sangat bermanfaat khususnya utk ana pribadi
    syukron utk ilmunya
    Alhamdulillah ana yg faqir akan ilmu bsa bertambah pengetahuannya

    ana mohon izin copas

    semoga Allah slalu melindungi & merahmati qta semua

    aamiin ……………

  5. emriadi
    30 Jul 2011 [#]

    syukron ilmu nya…………..

  6. toko webmaster
    04 Agu 2011 [#]

    Setuju, dan tak perlu menjadi ahli dulu untu berbagi..terima kasih gan

  7. Ngabidin
    13 Agu 2011 [#]

    Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh

    syukron ilmu nya

    ana mohon izin copas

  8. erna nurjanah
    08 Sep 2011 [#]

    assalamualaikum, jazakillah khairan atas ilmunya n mohon izin share :)

  9. Rachmat
    14 Sep 2011 [#]

    Assalamu’alaikum,

    Mohon penjelasan tentang definisi “Hadist Ahad” dan apakah Hadist Ahad dapat digunakan sebagai dasar dalam aqidah. Atas penjelasan Saudara saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

  10. Yulian Purnama
    02 Des 2011 [#]

    #Rachmat
    Wa’alaikumussalam, silakan simak: http://muslim.or.id/aqidah/khabar-ahad-hujjah-dalam-aqidah.html

  11. Cahaya Diela ILahi
    31 Okt 2012 [#]

    alhmdulillah mskipun ana tdk mmpuxai sebuah kitab, akn ttpi krna adax rfrensi ini, ana tdk kesulitan u/ mexelesaikan tugas…..sukron katsir ea, smoga brmanfaat n lbh lengkap dengan azbabul wurudzx….

  12. DSeiryu
    15 Nov 2012 [#]

    Hadist 56 bagian 667, jazakallah ana ijin share akh.

  13. DSeiryu
    19 Nov 2012 [#]

    ane ada sedikit komen untuk untuk bagian kedua paragraph terakhir. Kalau hafalan kta banyak insya Allah pemahaman kita juga banyak dan tentunya lebih layak sebagai seorang da’i dalam bentuk apapun alasannya. Cuman yang masalah itu fitnah semoga kita dijauhin dari fitnah dajjal amin.

  14. Yulian Purnama
    19 Nov 2012 [#]

    #DSeiryu
    Hafalan saja tidak cukup, namun butuh pemahaman yang benar dan pengamalan. Orang kafir pun banyak yang hafal Qur’an.

  15. hidayat
    17 Des 2012 [#]

    kalo artinya mudah dipahaminya sih gak masalah ya…tapi kalo artinya butuh tafsir, harus hati2…

  16. nickofernandosalasa
    29 Apr 2013 [#]

    Baiknya setiap muslim punya guru sebagai rujukan untuk bertanya. Diakhir zaman seperti skrg jangan jauh2 dari ustadz / Ulama deh.. ^^

Tinggalkan Komentar

Biojanna

Kembali ke Atas