Saat Mantan Pendeta dan Biarawati Menjadi Da’i


الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه و من ولاه

Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah, para sahabat dan pengikutnya.

Ada satu sisi yang tidak terlepas dari pembicaraan tentang Yahudi dan Nashrani: para da’i mereka yang disebut pendeta, pastor, rahib dan biarawati. Yang cukup menjadi fenomena dalam satu-dua dekade terakhir, munculnya du’at (jamak dari da’i) yang menyerukan dakwah Islam, yang dulunya seorang pendeta, pastor, rahib atau biarawati. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, tidak sedikit ummat Yahudi dan Nashrani yang kemudian memeluk Islam, dengan perantaraan dakwah mereka. Sebut saja Yusuf Estes yang mantan penginjil dan ribuan orang Nashrani masuk Islam di bawah bimbingannya.

Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang dengan dakwahnya justru menjadikan ummat Islam terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan –semoga Allah menunjuki mereka dan kita semua–, baik dalam masalah fiqih, adab dan lainnya, maupun dalam masalah aqidah yang berbahaya. Dakwah sebagian da’i mantan pendeta dan biarawati tersebut masih tercampur dengan ajaran kitab-kitab mereka yang sudah dirusak lafazh dan maknanya oleh para paus, pendeta atau pastor pendahulu mereka.

Pada satu kesempatan ceramah subuh Ramadhan 1431 H yang lalu, seorang mantan pendeta –semoga Allah selalu menetapkan hati kami dan hatinya pada Islam– berceramah di satu masjid di kota kami. Kebetulan kala itu kami sedang beri’tikaf disana sehingga dapat mendengar suaranya. Mengawali ceramahnya, beliau memperkenalkan diri. Kami tidak ingat pasti namanya sebelum masuk Islam, mungkin Markus, Petrus dan semacamnya yang identik dengan nama seorang Nashrani. Adapun nama pasca Islamnya adalah Ali. Beliau mengatakan, “Kenapa saya memilih nama “’Ali”? Karena saya terinspirasi oleh dua Ali dalam sejarah Islam. Ali yang pertama merupakan sepupu Nabi, yang ketika kecil menggantikan Nabi di atas ranjangnya, setelah diketahui terjadi percobaan pembunuhan terhadap Beliau oleh kaum kafir Quraisy di malam hari. Adapun Ali yang satu lagi adalah yang menjadi menantu Nabi.

Antara perasaan kaget dan heran, kami malah menjadi khawatir dengan isi ceramah beliau. Bagaimana tidak, kedua orang Ali yang beliau sebut sebagai inspirasi namanya, sebenarnya adalah orang yang sama. Ya, hanya satu Ali. Kisah tentang sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu sebenarnya sudah masyhur di kalangan kaum muslimin.

Berikutnya, kala bercerita bahwa beliau belum lama masuk Islam, dan terdengar masih kesulitan melafazhkan ayat Al-Qur’an, kami berkesimpulan bahwa beliau masih harus belajar Islam dari dasar dan belum saatnya mengajar.

Cerita lain, kita pernah menemukan buku di awal tahun 2000-an, yang ditulis oleh seorang mantan biarawati –semoga Allah selalu menetapkan hati kami dan hatinya pada Islam–. Di dalamnya dia mengatakan (secara makna), “Hendaknya kita menghapuskan keyakinan di dalam Islam bahwa Isa ‘alaihis salam akan turun di akhir zaman, karena itu hanya akan membenarkan keyakinan orang Nashrani.” Ya, sebagaimana yang kita ketahui, orang Nashrani memang meyakini Yesus (Isa) akan turun di akhir zaman.

Akan tetapi, pernyataan tersebut tidaklah benar dan menyimpang dari aqidah Islam yang lurus. Jika dalam ajaran agama Nashrani -yang telah disimpangkan oleh para rahib terdahulu mereka- Isa akan turun sebagai Tuhan atau anak tuhan untuk menghapuskan dosa-dosa, maka dalam aqidah Islam Isa akan turun tetap dengan status seorang manusia biasa sekaligus seorang Nabi, dan bertugas bersama Imam Mahdi dalam memerangi Dajjal, menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah (upeti), menghilangkan agama selain Islam dan memberantas Ya’juj dan Ma’juj, dengan pertolongan Allah ‘azza wa jalla[i].

Keyakinan tentang Isa ‘alaihis salam dalam Islam di atas telah tsabit dari Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak boleh dihilangkan, karena merupakan bagian dari iman kepada hari kiamat. Penyimpangan dalam masalah iman (aqidah) berpotensi membuat seseorang keluar (murtad) dari agama yang mulia ini. Pun keyakinan tersebut tidak sama bahkan jauh sejauh-jauhnya dari keyakinan Nashrani. Bagi ummat Islam Isa adalah Nabi, sementara Nashrani meyakini mereka sebagai Tuhan. Jika dalam Islam dosa akan menjadi faktor penentu apakah seseorang masuk surga atau neraka, maka bagi Nashrani dosa-dosa akan dihapuskan oleh Isa manakala ia turun di akhir zaman. Seakan-akan bisa dikatakan, berdosalah semaumu, Isa nanti yang akan menghapusnya.

Pembaca yang dirahmati Allah,
Kedua cerita di atas adalah contoh sisi lain dari fenomena dakwah mantan Yahudi pun Nashrani. Mereka mengisi kajian Islam dari masjid ke masjid, majelis ke majelis. Memang tidak ada yang salah dalam aktivitas dakwah. Bahkan Allah berfirman:

ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا وقال إنني من المسلمين

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” [ii]

Namun yang kami sayangkan, sebagian dari da’i mantan Yahudi atau Nashrani ini belum lama masuk Islam dan belum banyak membekali diri mereka dengan ilmu-ilmu Islam dasar seperti ilmu aqidah, fiqh, akhlaq dan adab, yang tentu akan mereka butuhkan dalam dakwah[iii]. Tidak sedikit dari mereka yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan benar dan kebanyakan dari mereka belum mempelajari bahasa Arab yang akan dibutuhkan untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an maupun hadits.

Sementara telah menjadi ajaran Nabi dan para pendahulu kita yang shalih, untuk belajar dahulu sebelum mengajar, berilmu dahulu sebelum berkata dan beramal[iv]. Pun orang Arab mengatakan,

فاقد الشيئ لا يعطيه

Orang yang tidak punya sesuatu tidak akan bisa memberikan sesuatu

Orang yang tidak memiliki ilmu agama, tidak akan dapat memberikannya kepada orang lain.

Ikhwah yang dirahmati Allah,
Tidaklah kami bermaksud untuk membatasi dan tidak menghargai jerih payah dari sebagian mantan du’at Yahudi dan Nashrani tersebut dalam dakwah Islamiyyah. (Bisa jadi) tidak mengapa bagi sebagian mantan pendeta atau biarawati berdakwah di kalangan tertentu, seperti di keluarga mereka yang belum masuk Islam, maupun daerah tertentu, seperti daerah yang rawan pemurtadan, dalam rangka mengajak mereka masuk Islam.

Namun, kami tetap men-tasyji’ (menyemangati) mereka yang baru masuk agama ini, dan ingin berkontribusi dalam penyebaran agama Islam, untuk sebelum terjun dalam dakwah terlebih dahulu sekuat tenaga mempelajari dan mengamalkannya apa yang hendak mereka dakwahkan. Tentunya mereka harus dibimbing oleh orang-orang yang mumpuni dalam Islam, agar dapat mempelajarinya lebih mendalam dan menyeluruh.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan introspeksi bagi kita semua umat Islam untuk bisa menyaring sumber-sumber ilmu mereka, serta mencambuk para muslim baru untuk menimba ilmu syar’i yang pasti mereka butuhkan, untuk bisa ikut berpartisipasi dalam dakwah.

Riyadh, Ahad, 25 Muharram 1434 H (9 Desember 2012)

Penulis: Muflih Safitra
Artikel Muslim.Or.Id

 

Catatan kaki

[i] Aqidah Islam seputar Nabi Isa, antara lain:

  1. Isa seorang Nabi, bukan Tuhan.
  2. Beliau masih hidup.
  3. Beliau akan turun di akhir zaman, bersama Imam Mahdi memerangi Dajjal, menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah (upeti), menghilangkan agama selain Islam dan memberantas Ya’juj dan Ma’juj, dengan pertolongan Allah ‘azza wa jalla.
  4. Beliau turun mengikuti syari’at Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak membawa syariat baru.
  5. Beliau turun di sebelah timur Jaami’ Damaskus di menara putih.
  6. Keadaan beliau ketika turun:

    1. Mengenakan dua baju (yang dicelup wars dan za’faran).
    2. Meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat.
    3. Saat menunduk, air menetas dari kepalanya dan saat mengangkat kepalanya air berjatuhan seperti mutiara.
    4. Setiap orang kafir yang mencium baunya pasti mati.
  7. Beliau akan mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd lalu membunuhnya.
  8. Beliau akan tinggal di bumi selama 40 tahun dan menebarkan perdamaian. Setelah meninggal, beliau dimakamkan di bumi.

Lihat ulasan lengkapnya di: http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2870-turunnya-nabi-isa-di-akhir-zaman-.html

[ii] QS. Fushshilat: 33

[iii] Konteks dakwah yang kami maksud disini adalah dakwah di khalayak ramai, seperti ceramah umum, khutbah, dan semacamnya. Adapun dakwah pada person seperti anggota keluarga, ini tidak masuk dalam konteks pembicaraan kami.

[iv] Baca artikel berikut: http://buletin.muslim.or.id/manhaj/pentingnya-ilmu-sebelum-berkata-dan-beramal

  • http://MajelisIlmu.com Abu Athar

    Jazakallahu khaeran ustadz atas nasihatnya.
    Bagi saya ini merupakan suatu nasehat yang baik bagi kita agar bersemangat dalam menuntut ilmu syar’i.

  • http://pikiranewongdeso.blogspot.com Andriyanto

    saya minta izin copy artikel – artikel ustadz… untuk saya baca
    jazakallahukhair

  • syatiyah

    pemimpin agama sekarang banyak yang berbicara tanpa fakta ( asbun ) sehingga menyesatkan umat .

    tidak bisa di buktikan kebenarannya. amin yarob.

  • http://www.pemudasunnah.com Pemuda Sunnah

    jazakallahu khairan…

  • http://www.facebook.com/arfian.megananda Arfian Surya Megananda

    Jazaakallahu khoiron ustadz muflih. Ana banyak belajar dari artikel-artikel antum. Semoga Allah menjaga antum dan keluarga antum.

  • http://www.facebook.com/muflih.safitra?ref=tn_tnmn Muflih Safitra

    assalamu3alaikum.
    Sebatas yang ana ketahui, bahwa artikel-artikel Islam yang ana dan teman-teman tulis di media-media sosial/internet web, adalah dalam rangka dakwah. Semakin banyak orang mengetahuinya, semakin tersebar dakwah tersebut, pun semakin bertambah pahala penulisnya.
    Oleh karena itu, bisa dikatakan secara ‘urf, bahwa kebanyakan penulis pasti menginginkan agar artikel mereka bisa dibaca banyak orang, sehingga mereka pun pasti mengizinkan siapapun untuk membantu menyebarkan artikel mereka untuk kepentingan dakwah tersebut.
    Akhirnya, tidak izin lagi pun tidak mengapa, insya Allah izin ‘urfiy sudah ada dalam penyebaran artikel itu.
    Demikian dan jazakumullah khairan juga.

  • http://www.facebook.com/muflih.safitra?ref=tn_tnmn Muflih Safitra

    Asta’fu, ana sedikit ta’liq komen ana di atas, setelah baru saja membaca tulisan Ust. Raehan ini: http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tidak-menunaikan-amanat-ilmiah-dalam-tulisan.html.

    Setelah membaca artikel tersebut, ana paham bahwa sebagian penulis artikel Islam tetap ada yang mensyaratkan penyebaran tulisan dengan tetap mencantumkan penulis/sumber atau web asal tulisan tersebut.

    Alhamdulillah, ana telah sebutkan beberapa point yang bisa sesuai dengan maksud Ust. Raehan:
    1. “internet web”: berarti tidak mencakup media cetak, karena biasanya share di web adalah menshare linknya, sehingga sumber/web asal tetap masuk disana.
    2. “kebanyakan penulis”: artinya tidak semua.

    Untuk ke depan, insya Allah akan ana tulis: “silakan dishare dengan tetap mencantumkan sumber asalnya” untuk mengakomodir setiap pendapat.

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.