Menyikapi Naiknya BBM


Kita tahu bahwa semua pasti akan merasakan kesulitan ketika BBM naik. Karena jika BBM naik, semua kebutuhan pokok akan ikut naik. Akan semakin tercekiklah rakyat jelata seperti kita-kita ini. Namun demikianlah kebanyakan orang dalam menghadapi masalah ini keliru. Semua ingin agar suaranya didengar oleh penguasa. Demonstrasilah yang jadi solusi. Tidak ada yang berpikir, kenapa pemimpin kita bisa memilih jalan untuk menaikkan BBM? Tidak ada yang mau merenung, apa betul presiden tercinta kita ingin menyengsarakan bahkan membunuh rakyatnya sendiri? Lalu kenapa tidak mau menyikapi hal ini dengan bersabar?

Taat kepada Penguasa Zholim

Inilah prinsip yang diajarkan oleh salafush sholeh, oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, oleh orang-orang yang meniti jalan para sahabat. Mereka tetap mentaati dan manut pada perintah penguasa selama diperintahkan dalam yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan dalam maksiat. Ketaatan itu tetap ada, meskipun yang memerintah mereka adalah penguasa zholim, yang mungkin sering menyengsarakan rakyatnya. Ketaatan itu tetap ada meskipun penguasa tersebut melakukan kezholiman dengan menaikkan harga BBM misalnya.

Renungkanlah hadits berikut yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan seakan-akan adalah nasehat terakhir beliau. Dari Abu Najih, Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ
Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab, sebagian ulama menyebutkan bahwa penyebutan budak Habasyah dalam hadits di atas adalah cuma permisalan saja, namun sebenarnya tidak mungkin seorang budak menjadi pemimpin (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 120). Artinya, meskipun seorang budak jadi pemimpin, maka kita tetap taat.

Hadits yang menyebutkan penguasa zholim tetap wajib ditaati adalah hadits berikut ini.

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” (HR. Muslim no. 1847).

Lihatlah bukankah yang disebutkan dalam hadits ini adalah pemimpin yang zholim? Sampai ia menyiksa rakyatnya sendiri, sampai memukul dan mengambil harta, ini jelas zholim. Namun lihatlah apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka”.

Subhanallah … Ternyata prinsip yang satu ini sering tidak diindahkan oleh kaum muslimin. Mereka begitu tidak bersabar dengan kenaikan BBM, kalau benar mereka menganggap kenaikan BBM tersebut sebagai suatu kezholiman.

Lihatlah prinsip yang diajarkan oleh Ahlus Sunnah sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ahmad berikut ini,

والسمع والطاعة للأئمة وأمير المؤمنين البر والفاجر

“Mendengar dan taatlah kepada penguasa dan amirul mukminin (pemimpin orang mukmin), baik mereka adalah pemimpin yang baik, maupun pemimpin yang fajir (pelaku maksiat yang zholim)” (Ushulus Sunnah, Imam Ahmad).

Namun ketaatan kepada penguasa tidaklah mutlak, tidak harus taat selamanya. Mentaati mereka bersifat muqoyyad, yaitu hanya taat dalam yang ma’ruf, bukan perkara maksiat (Nasehat berharga yang kami simpulkan dari perkataan Syaikh ‘Ubaid Al Jabiri hafizhohullah dalam dauroh kitab Ushulus Sunnah di Riyadh KSA, 1-5 Jumadal Ula 1433).

Kita dapat memahami hal di atas dari ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. An Nisa’: 59).

Para ulama menerangkan bahwa kata ulil amri (penguasa) dalam ayat ini tidak diulang dengan kata “أَطِيعُوا” (taatilah). Ini menunjukkan bahwa ketaatan pada penguasa itu ada selama bersesuaian dengan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Juga dalam hadits disebutkan,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat)” (HR. Bukhari no. 7257).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat” (HR. Bukhari no. 7144).

‘Ali bin Abi Tholib pernah berkata,

إنَّ الناسَ لا يُصلحهم إلاَّ إمامٌ بَرٌّ أو فاجر ، إنْ كان فاجراً عبدَ المؤمنُ فيه ربَّه ، وحمل الفاجر فيها إلى أجله

Manusia tidaklah akan menjadi baik melainkan di bawah penguasa yang baik maupun fajir (zholim). Jika penguasa tersebut zholim, selama masih beriman, maka kezholimannya adalah urusan dia dengan Rabbnya” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, 15: 328).

Maslahat Taat kepada Penguasa

Banyak maslahat yang kita peroleh ketika kita menaati keputusan penguasa. Al Hasan Al Bashri rahimahullah berbicara mengenai ketaatan pada penguasa, “Mereka (penguasa) mengurusi lima perkara untuk kemaslahatan kita: shalat Jum’at, shalat jama’ah, shalat ‘ied, penjagaan tabal batas dan hukum had. Semua perkara tersebut tidaklah bisa tegak kecuali dengan penegakan dari penguasa meskipun mereka suka melampaui batas dan berbuat zholim. Demii Allah, maslahat ketika taat pada penguasa itu lebih besar dibanding mafsadat yang kita ditimbulkan. Menaati penguasa adalah suatu keselamatan dan berlepas diri dari mereka adalah suatu kekufuran (kebinasaan)” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117).

Ibnu Abil Izz rahimahullah berkata, “Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezholiman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezholiman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita” (Syarh Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 381, terbitan Darul ‘Aqidah).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Mendengar dan mentaati penguasa kaum muslimin mengandung maslahat dunia, mudahnya urusan hamba, dan bisa menolong hamba dalam mentaati Allah” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117).

Taruhlah jika menaikkan BBM itu termasuk kezholiman, bagaimana jika tidak? Dan kami berpikir sendiri, mengapa sampai pemerintah punya niatan demikian? Kami berhusnuzhon bahwa pemerintah sudah menimbang-nimbang adanya maslahat di balik itu semua. Dan kami yakin tidak mungkin Pak SBY punya niatan untuk menyengsarakan rakyatnya sendiri. Itulah husnuzhon kami.

Tidak Berdemonstrasi

Sejak dulu, kami tidak suka berdemonstrasi. Sudah sangat ma’ruf bahwa demonstrasi sering dilakukan oleh mahasiswa. Dan kami pun merupakan bagian dari mereka. Namun kami enggan berdemonstrasi, karena mengingat mudhorotnya itu lebih besar dari manfaatnya. Jalanan macet, terjadi kerusuhan, korban jiwa, luka-luka dan capek menghabiskan tenaga serta tidak pula mendapatkan keuntungan bahkan kerugian masyarakat luas yang diperoleh ketika demo. Jika kerugian yang diperoleh, kenapa kerusakan dibalas dengan kerusakan? Bahkan kerusakan dari demonstrasi lebih besar, dibanding kita mau menerima kenaikan BBM.

Guru kami, Syaikh Dr. Sholeh Al Fauzan berkata, “Adapun demontrasi, agama Islam sama sekali tidak menyetujuinya. Karena yang namanya demontrasi selalu menimbulkan kekacauan, menghilangkan rasa aman, menimbulkan korban jiwa dan harta, serta memandang remeh penguasa muslim. Sedangkan agama ini adalah agama yang terarur dan disiplin, juga selalu ingin menghilangkan bahaya.

Lebih parah lagi jika masjid dijadikan tempat bertolak menuju lokasi demontrasi dan pendudukan fasilitas-fasilitas publik, maka ini akan menambah kerusakan, melecehkan masjid, menghilangkan kemuliaan masjid, menakut-nakuti orang yang shalat dan berdzikir pada Allah di dalamnya. Padahal masjid dibangun untuk tempat berdzikir, beribadah pada Allah, dan mencari ketenangan.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim mengetahui perkara-perkara ini. Janganlah sampai kaum muslimin menyeleweng dari jalan yang benar karena mengikuti tradisi yang datang dari orang-orang kafir, mengikuti seruan sesat, sekedar mengikuti orang kafir dan orang-orang yang suka membuat keonaran” [Fatawa Syaikh Shalih bin 'Abdillah Al Fauzan].

Tidak Menyebarkan ‘Aib Penguasa

Ketika shalat, lalu kita berbuat salah, kemudian, kita ditegur di depan orang banyak, pasti kita sulit menerima nasehat semacam itu. Begitu halnya dengan penguasa, ketika ia dijelek-jelekkan di depan halaman DPR, dikatakan “neolib” dan “menyengsarakan rakyat banyak”, pasti tidak ada penguasa yang mau terima dengan nasehat semacam itu. Begitu pula dalam Islam tidaklah menyukai yang demikian karena nasehat yang terbaik adalah nasehat empat mata, bukan di khalayak ramai. Setiap orang pun akan senang dengan nasehat semacam itu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ

Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati).” (HR. Ahmad 3: 403. Syaikh Syu’aib Al Arnauht mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Sabar dengan Kenaikan BBM

Solusi utama untuk menghadapi kenaikan BBM ini adalah husnuzhon dengan keputusan Presiden dan bersabar. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa melihat sesuatu pada pemimpinnya sesuatu yang tidak ia sukai, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jama’ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah (artinya: ia mati dalam keadaan jelek dan bukan mati kafir, pen)” (HR. Bukhari no. 7054 dan Muslim no. 1849).

Dan bersabar tidaklah ada batasnya. Orang yang katakan sabar itu ada batasnya, itu keliru. Karena pahalanya saja tak hingga, bahkan surga, bagaimana bisa dikatakan sabar itu ada batasnya.

Jika kita tidak bersabar terhadap keputusan penguasa, kita akan kehilangan pahala besar berupa surga bagi orang yang mau bersabar. Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga)” (QS. Az Zumar: 10).

Al Auza’i mengatakan bahwa ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7: 89).

Berpikir Rasional dengan Mencari Solusi

Kami lebih senang dengan solusi yang ditawarkan oleh Pak Menteri Dahlan Iskan, daripada dengan buang-buang tenaga untuk berdemo.

Intinya, untuk melawan kenaikan harga BBM yang pernah, sedang, dan akan terus terjadi itu, tak ada jalan terbaik kecuali kita musuhi BBM. Kita jadikan BBM musuh kita bersama. Kita demo BBM-nya ramai-ramai, bukan mendemo kenaikannya. Kalau setiap kenaikan BBM didemo, kita hanya akan terampil berdemo. Tapi kalau BBM-nya yang kita musuhi, kita akan lebih kreatif mencari jalan keluar bagi bangsa ini ke depan.

Jalan terbaik adalah jangan lagi menggunakan BBM. Kalau kita sudah tidak menggunakan BBM, apa peduli kita pada barang yang juga menjadi penyebab rusaknya lingkungan itu. Kelak, kita bersikap begini: biarkan dia naik terus menggantung sampai setinggi Monas! Kalau kita tidak lagi menggunakannya, mau apa dia!

Tanpa ada gerakan nyata untuk melawan BBM, seumur hidup kita akan ngeri seperti sekarang. Seumur hidup kita harus siap-siap berdemonstrasi. Seumur hidup kita tidak berubah!

Kalau sudah tahu bahwa seumur hidup kita akan terjerat BBM seperti itu mengapa kita tidak mencari jalan lain? Mengapa kita menyerah pada keadaan? “Mengapa? Mengapa?,” … Tidakkah kita harus takut kepada yang menciptakan alam semesta ini? Berapa kali Allah mengatakan “Afalaa ta’qiluuun?”.

Baca ulasan Pak Menteri lebih jauh di sini: Hamil Tua untuk Lahirnya Putera Petir.

Dan kami yakin di balik kesulitan ini, ada kemudahan yang akan segera dan segera menghampiri rakyat kita.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 5).

Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 6).

Sahabat mulia, ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun akan mengikutinya karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari, 24: 496)

Ini berarti di balik kesulitan dengan naiknya BBM, pasti ada kebahagiaan yang semakin dekat. Kenapa kita tidak optimis dengan janji Allah di atas? Kenapa malah pesimis dan banyak khawatir?

Ya Allah, berilah kami kesabaran dalam menghadapi musibah ini. Berilah pula hidayah kepada kami dan saudara-saudara kami agar diberi taufik untuk bersabar menghadapi musibah demi musibah. Dan perbaikilah keadaan kami dan pemimpin-pemimpin kami.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 6 Jumadal Ula 1433 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

  • aji

    ijin sharing ya

  • rio

    saya sangat setuju dengan prinsip untuk taat kepada penguasa ini, meskipun penguasa zholim sekalipun. namun ada yang ingin saya tanyakan

    sampai dimanakah ketaatan dan kesabaran kita jika penguasa sudah sangat zholim misalnya membantai rakyatnya sendiri seperti yang saat ini terjadi di suriah?
    apakah disunnahkan untuk tetap taat dan tidak memberikan perlawanan kepada penguasa tersebut?

    jazakallahu khairan atas jawabannya

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Rio
      Sebagian ulama mengkafirkan pemimpin di Suriah yg dimaksud.

  • http://ersunnah.blogspot.com/ erwin

    ijin copy di blog ana…sangat bermanfaat

  • eeng

    mau tanya ustadz, ada kawan yang bilang kalo pemimpin yang wajib ditaati meskipun dzolim itu pemimpin yang masih menggunakan sistem islam, sistem khilafah. Orang2 shalih jaman dulu taat karena masih menganggap sistem yang digunakan adalah sistem warisan dari rasulullah. Tapi berhubung khilafah udah runtuh pada awal abad 20 M, sekarang tidak ada lagi pemimpin yang perlu untuk ditaati, karena yang ada saat ini pemimpin-pemimpin negara, bukan pemimpin islam. Bagaimana menjawab pertanyaan seperti ini ustadz?

    jazakallah :)

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Eeng
      Haditsya itu umum, pokoknya setiap pemimpin yg zholim, baik yg diangkat dari sistem khilafah, demokrasi, atau cara kudeta sekalipun, jika dia jadi pemimpin, maka ia ditaati. Karena alasan ditaati ialah karena ia pemimpin, bukan karena sistemnya.

      Wallahu waliyyut taufiq.

  • http://ridhomusfa.wordpress.com Ridfannisa

    Assalamualaikum,

    Setuju sekali ustadz! Semoga saja, para mahasiswa dan aktifis demo lainnya menyimak artikel ini dan diberi hidayah oleh Allah, amiin.

    Syukron ilmunya ustadz!

  • http://www.radiorodja.com abu abdillah

    *** Dapatkan SMS Tausiyah GRATIS dari “MUTIARA-sunnah”
    Caranya Ketik: Daftar.Ms1 NoHp Kota Provinsi
    Contoh-1 : Daftar.Ms1 0811111111 Bandung Jawa Barat
    Contoh-2 : Daftar.Ms1 0811111111, 0822222222, 0833333333, Bandung Jawa Barat (MAXIMAL 25 NoHp dalam 1x SMS)
    — KIRIM KE 083-823-9-333-9-3
    — Sebarkan juga INFO SMS ini ke website-website yg lain) -semoga menjadi amal sholeh yg pahalanya terus mengalir sampai hari akhir-
    “SMS ini GRATIS-GRATIS & GRATIS karena Mengharap Wajah ALLAH Yang Mahamulia”
    By: “MUTIARA-sunnah”

  • http://yahoo.com muslim

    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul(-Nya), serta ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebioh baik akibatnya.” (QS:an-Nisaa’:59).

    Siapakah Ulil Amri itu..?
    adapun mengenai ulil amri didalam ayat tersebut dijelaskan bahwa ulil amri dari kalangan orang-orang mukmin sendiri yg telah memenuhi syarat iman dan batasan islam yg dijelaskan dalam ayat itu, yaitu ulil amri yg taat kepada Allah dan Rasul, juga Ulil amri yg menesakan Allah SWT sebagai pemilik kedaulatan hukum dan hak membuat syariat bagi seluruh manusia, menerima hukum-Nya saja, serta mengembalikan segala urusan yg diperselisihkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

    Ayat diatas juga menetapkan bahwa taat kepada Allah merupakan pokok, demikian juga taat kepada Rasul karena beliau diutus oleh Allah. sedangkan taat kepada Ulil amri mingkum hanya mengikuti ketaatan kepada Allah dan Rasul. kerena itu lafal taat tidak diulangi ketika menyebut ulil amri, sebagaimana diulangi ketika menyebut Rasul SAW, untuk menetapkan bahwa taat kepada kpd ulil amri ini meripakan pengembangan dari taat kepada Allah dan Rasul, sesudah menetapkan bahwa ulil amri itu adalah Mingkum (dari kalangan kamu sendiri) dengan catatan dia beriman dan memenuhi syarat-syarat iman…”

    jadi ketaatan kepada ulil amri bukan ketaatan yg buta, tapi taat dalam hal-hal yg makruf….

  • agung

    lalu apakah umat islam di amerika harus mentaati pemimpinya, lalu apakah umat islam di israel harus mentaati pemimpinnya, lalu kenapa umat islam dahulu tidak taat kepada pemimpin-pemimpin Qurais mereka, ada konteks zaman, keadaan sosial dan waktu yang tidak dijelaskan diatas, mengartikan dalil hanya dengan tekstual, akhirnya pemahmannya terlalu sempit, dan bertentangan dengan fakta2 sejarah, dan solusi yang di kemukakan juga akhirnya terlalu kecil untuk negri ini dan untuk Allah.

  • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

    #agung
    Lebih jelas lagi silakan simak: http://muslim.or.id/manhaj/taat-kepada-penguasa.html

  • agung

    #Yulian Purnama
    dari pemahaman penulis atas teks-teks dalilnya saya belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaana saya diatas dan jawaban dari fakta-fakta sejarah, bahkan penggagas muwahid sendiri melakukan pemberontakan kepada penguasa pada waktu itu

  • Muhammad Yusuf

    akhi, mohon informasinya,
    saya coba cari di shahih muslim untuk hadist :
    (HR. Muslim no. 1847 )
    namun isinya bukan tentang kepemimpinan

    referensi;
    - Shahih muslim penerbit darul kutub al ‘ilmiyah cetakan th 2006
    - terjemah shahih muslim jilid 1-4 peberbit Kilang book centre cetakan 2004

    mohon nasehatnya
    apakah sistem penomerannya yang berbeda.
    kalau bisa,
    apakah mungkin di scan kan kutipan hadist tersebut dari kitab aslinya.

    wassalamu ‘alaikum

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Muhammad Yusuf
      Memang penomoran sering berbeda, namun penomoran kami menggunakan penomoran standar yaitu penomoran Muhammad Fuad Abdul Baqi.
      Bisa di cek di web http://dorar.net/enc/hadith

  • sudirman.akil

    assalamu alikum wr wb.

    Ustadz ,sangat berfaat sekali blog ini.smoga blog ini di baca oleh petinggi-petinggi kita di DPR atau rakyat kita di bawah sana,terutama para partai-partai yang menamakan dirinya partai mengusung islam teruma PKS dan simpatisannya yg telah menelanjangi kita sesama muslim untuk berbuat zholim kepada pemimpin negara yang moeslim.Kenaikan BBM yg di lakukan pemerintah adalh wajar dan masuk akal, pembekakan utang negara di akibatkan akibat APBN yg terus digrogoti oleh Subsidi BBM yg besar dan tentunya akan memberatkan Anak-anak cucu kita kelak. Pemerintah sekarang tdk akan bodoh/zholim utk membodohi rakyat karena menaikkan BBM,tetapi mereka justru yelamtkan bangsa dan rakyat dr belitan utang. Marilah kita sebagai muslim berpikir positif dan berprasangka baik kpd pemerinta dan patuh kepadanya selama pemerintah kita tdk membela kemaksiatn.

  • Pingback: Menyikapi Naiknya BBM | Abu Faqih Yusuf Al-Bughury

@muslimindo

  • muslimindoSiapa yg takut terhadap sesuatu ia akan lari darinya. Tetapi, siapa yg takut kpd Allah ia justru lari utk mendekatiNya - Abul Qasim Al-Hakim about 9 hours ago
  • muslimindoSurga adalah tempat di mana tidak ada masalah atau sakit, itu adalah sebuah kenikmatan yang abadi. about 13 hours ago
  • muslimindo[VIDEO] Orang Miskin Yang Sombong http://t.co/ngqf1I0zrz #muslimOrId about 13 hours ago
  • muslimindoI added a video to a @YouTube playlist http://t.co/wqIRpqlaTF Orang Miskin yang Sombong about 17 hours ago
  • muslimindoSobat, SADARILAH! Segala sesuatu dalam hidup kita direkam oleh Allah. http://t.co/UwKRDXXBs5 about 17 hours ago
  • muslimindoSiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. (HR.Muslim) about 19 hours ago
  • muslimindoAllah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudara nya (sesama Muslim). (HR.Muslim) about 22 hours ago
  • muslimindoMemajang Kaligrafi Allah dan Muhammad Sejajar http://t.co/YCXisZ8DSL #muslimOrId about 23 hours ago
  • muslimindo#Sobatmuslim ketahuilah. http://t.co/FSigX66Rzg about a day ago
  • muslimindoKan selalu ada yang dapat kita syukuri dari pada yang kita keluhkan. about a day ago
  • muslimindoSiapa yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutup aib nya didunia dan akhirat. (HR.Muslim) about a day ago
  • muslimindoSiapa yg memberi kemudahan kepada orang yg berada dalam kesulitan, Allah akan memberikan kemudahan baginya didunia dan akhirat. (HR.Muslim) about a day ago
  • muslimindoTransaksi Gadai (Rahn) http://t.co/Xk2nWU8HnK #muslimOrId about a day ago
  • muslimindoJadilah orang baik karena Allah, & janganlah buang waktu tuk mencari pembuktian dari manusia. about a day ago
  • muslimindoSiapa yg membebaskan seorang Mukmin dari suatu kesulitan di Dunia, Allah akan membebaskan nya dari kesulitan pada Hari Kiamat. (HR. Muslim) about a day ago
  • muslimindo#PERMATA AKAL http://t.co/MENz3YjJwR about a day ago
  • muslimindoTujuan Penciptaan Manusia http://t.co/GCJPoNW7QY #muslimOrId about 2 days ago
  • muslimindoHendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah) [Al-Hadits] about 2 days ago
  • muslimindo“hasbunallah wa ni’mal wakiil [cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung] (QS: Ali Imran Ayat: 173) about 3 days ago
  • muslimindoKu bersandar hanya kepada Allah. http://t.co/pR1sKFV9Lu about 3 days ago