Donasi Semarak
Ramadhan 1433 H

Mengapa Hati Ini Masih Merasa Iri?

Kategori: Akhlaq dan Nasehat

31 Komentar // 27 Juni 2010

Pernah mungkin kita mendengar kisah dua orang tetangga dekat bisa saling bunuh. Penyebabnya karena yang satu buka toko dan lainnya pun ikut-ikutan. Akibat yang satu merasa tersaingi, akhirnya ada rasa iri dengan kemajuan saudaranya. Tetangga pun tidak dipandang. Awalnya rasa iri dipendam di hati. Namun karena semakin hangat dan memanas, akhirnya berujung pada pertikaian yang berakibat hilangnya nyawa. Sikap seperti ini pun mungkin pernah terjadi pada kita. Namun belum sampai parah sampai gontok-gontokan. Rasa iri tersebut muncul kadangkala karena persaingan. Sikap iri semacam ini jarang terjadi pada orang yang usahanya berbeda. Jarang tukang bakso iri pada tukang becak. Orang yang saling iri biasanya usahanya sama. Itulah yang biasa terjadi. Tukang bakso, yah iri pada tukang bakso sebelah. Si empunya toko sembako iri pada orang yang punya toko yang semisal, dan seterusnya.

Perlu diketahui bahwa iri, dengki atau hasad –istilah yang hampir sama- adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain. Asal sekedar benci orang lain mendapatkan nikmat, itu sudah dinamakan hasad, itulah iri. Hasad seperti inilah yang tercela. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

ان الحسد هو البغض والكراهة لما يراه من حسن حال المحسود

Hasad adalah sekedar benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat.”[1]

Adapun ingin agar semisal dengan orang lain, namun tidak menginginkan nikmat pada orang lain itu hilang, maka ini tidak mengapa. Hasad model kedua ini disebut ghibthoh. Yang tercela adalah hasad model pertama tadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَحَاسَدُوا ، وَلاَ تَبَاغَضُوا ، وَلاَ تَدَابَرُوا ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Janganlah kalian saling hasad (iri), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi (saling mendiamkan/ menghajr). Jadilah kalian bersaudara, wahai hamba Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hasad Bisa Terjadi Pada Orang Beriman

Hasad bisa saja terjadi pada orang-orang beriman. Hal ini dapat kita lihat dalam kisah Nabi Yusuf dengan suadara-saudaranya. Sampai-sampai ayah Yusuf (Ya’qub) memerintahkan pada Nabi Yusuf agar jangan menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya agar tidak membuat mereka iri. Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)

Lalu lihatlah bagaimana perkataan saudara-saudara Yusuf.

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.”(QS. Yusuf: 8). Lihatlah bagaimana hasad pun bisa terjadi di antara orang beriman, bahkan di antara sesama saudara kandung.

Hasad (Iri) Tidak Ada Untungnya

Patut kita renungkan bersama bahwa rasa iri sebenarnya tidak pernah ada untungnya sama sekali. Yang ada hanya derita di dalam hati. Orang yang hasad pada saudaranya sama saja tidak suka pada ketentuan atau takdir Allah. Karena orang yang hasad tidak suka atas ketentuan Allah pada saudaranya. Padahal Allah yang menakdirkan saudaranya jadi kaya, saudaranya punya kedudukan, saudaranya sukses dalam bisnis, dan lainnya. Orang yang hasad sama saja menentang ketentuan ini. Allah Ta’ala berfirman,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az Zukhruf: 32). Padahal Allah yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk hamba-Nya.

Orang yang hasad sama saja dengan orang yang menzholimi saudaranya. Oleh karena itu, orang yang didengki (dihasad) akan mendapatkan manfaat dari orang yang hasad di akhirat kelak. Kebaikan orang yang hasad akan diberikan pada orang yang didengki (dihasad) dan kejelekan orang yang didengki (dihasad) akan beralih pada orang yang hasad. Bisa terjadi seperti ini karena orang yang hasad layaknya orang yang menzholimi orang lain. Sehingga penyelesaiannya dengan jalan seperti itu. Lebih-lebih lagi jika hasad tadi diteruskan dengan perkataan, perbuatan dan ghibah (menggunjing), tentu akibatnya lebih parah.[2]

Itu tadi adalah akibat di akhirat. Sedangkan di dunia, orang yang hasad pun menderitakan berbagai kerugian. Jika orang yang ia hasad terus mendapatkan nikmat, hatinya akan semakin sedih dan terus seperti itu. Bulan pertama, ia hasad karena omset saudaranya meningkat 50 %, ini kesedihan pertama. Jika bulan kedua meningkat lagi, ia pun akan semakin sedih. Begitu seterusnya, orang yang hasad tidak pernah mendapatkan untung, malah kesedihan yang terpendam dalam hati yang ia peroleh waktu demi waktu.

Cara Mengatasi Penyakit Hasad

Agar kita tidak terjerumus dalam penyakit hati yang satu ini, maka ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan, di antaranya:

Pertama: Pertebal iman dan rasa yakin pada takdir Allah, tentu saja dengan terus menambah ilmu.

Kedua: Mengingat akibat hasad yang berdampak di dunia maupun di akhirat.

Ketiga: Selalu bersyukur dengan yang sedikit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667)

Keempat: Selalu memandang orang yang di bawahnya dalam masalah dunia. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain diberi kelebihan harta dan fisik [atau kenikmatan dunia lainnya], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari no. 6490 dan Muslim no. 2963)

Dalam hadits lain disebutkan,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim no. 2963)

Kelima: Banyak mendoakan orang lain yang mendapatkan nikmat dalam kebaikan karena jika kita mendoakannya, kita akan dapat yang semisalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim no. 2733)

Setelah mengetahui hal ini, masihkah ada iri pada saudara kita? Semoga Allah memberi taufik untuk terhindar dari penyakit yang satu ini. Amin, Yaa  Mujibas Saailin.

Panggang-GK, 29 Jumadil Awwal 1431 H (13/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Amrodhul Qulub wa Syifauha, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 31, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, 1424 H

[2] Lihat penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam kitab Fiqhul Hasad, hal. 47, Darus Sunnah, tahun 1415 H.

buku saku

31 Komentar

  1. rifqi
    27 Jun 2010 [#]

    Memang benar…..

    Mudah-mudahan Allah SWT melindungi diri kita dari perasaan tersebut. Dan semoga menjadikan kita bersyukur atas apa yang ada pada diri kita.

    Amin….

  2. abu umair albagani
    27 Jun 2010 [#]

    bismillah. hati ibarat kain putih, jika ada noda maka kotorlah ia, tapi kotoran itu bisa dibersihkan akhlak mulia sehingga hati tetapi bersih, hati pun bisa tetap kotor jika dibiarkan kotoran itu melekat dan lebih parah lagi jika kotoran padanya ditambah terus sehingga hati itu semakin lama akan mati. naudzubillah. Ya Allah, Ya Hadi…lindungi kami dari hati-hati yang kotor dan amal-amal yang jelek. ya Ghafur…Ampunilah dosa-dosa kami, baik dari lisan, hati dan amalan kami…Amin. Wallahu A’lam bish-showwab. ana izin copas filenya ustadz. jazakumullah khairan. barokallahufika

  3. Hamba Allah
    27 Jun 2010 [#]

    Jazakallah ustadz Abduh…

  4. Al-Mubarak
    27 Jun 2010 [#]

    Jazakumullahukhair, ijin copas untuk note FB kalo boleh…:)

  5. Abduh Tuasikal
    28 Jun 2010 [#]

    @ Al Mubarok
    Silakan. Barakallahu fiikum.

  6. isa
    28 Jun 2010 [#]

    Assalamualaykum,
    (http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2698-hukum-mengerjakan-shalat-dhuha-secara-berjamaah.html).
    ustadz tulisan antum pada web yang kami cantumkan diatas, dijadikan rujukkan oleh takmir di mesjid kantor kami sebagai dasar untuk melakukan sholat dhuha secara berjamaah setiap jum’atnya (dalam setiap bulannya sekitar 2-3 kali dilakukan).
    kami mohon untuk di konfirmasi.
    jazakalloh.

  7. Abduh Tuasikal
    28 Jun 2010 [#]

    Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh.
    @ Isa
    Maaf pengamalannya yg rasa keliru. Bukankah sudah kami tegaskan di kesimpulan sebagaimana berikut: “Shalat sunnah selain itu –seperti shalat Dhuha dan shalat tahajud- lebih utama dilakukan secara munfarid dan boleh dilakukan secara berjama’ah namun tidak rutin atau tidak terus menerus, akan tetapi kadang-kadang.
    Ingat, di sini kami beri kata tegas, tdk rutin dan tdk terus menerus. Jika dirutinkan setiap bulan 2-3 kali apalagi dilaksanakan setiap Jum’at, kami rasa ini salah paham dgn tulisan kami tersebut.
    Mohon bisa disampaikan komentar kami ini.
    Barakallahu fiikum.

  8. tya
    29 Jun 2010 [#]

    kalau misalnya kita merasa sebel, dongkol karena misal temen kita dapat nikmat tapi dia pamer ke sana kemari dengan tujuan di puji-puji orang padahal apa yang dia ucapkan ditambah-tambah (berlebihan/lebay) agar terlihat bahwa nikmatnya itu lebih dari apa yang dia dapat. jadi perasaan hanya sebatas kesal dan dongkol dengan sikap membanggakan diri atau pamernya bukan kepda nikmatnya

    itu gimana?

  9. Abu Syahna
    30 Jun 2010 [#]

    Assalamu’alaikum ustadz, izin share di fb

  10. Ani Septiana
    30 Jun 2010 [#]

    semoga masuk dalam gol orang yg terjaga hatinya…Amin…

  11. fru
    01 Jul 2010 [#]

    ijin share.
    jazakumullaah khairan

  12. Abduh Tuasikal
    01 Jul 2010 [#]

    @ Tya
    Coba lihat kiat2 terakhir yg kami sampaikan.

  13. Yessy
    02 Jul 2010 [#]

    Assalamu’alaikum. Jazakallah khairn. Artkelnya sgt brmnfaat, syukron.

    Izn copas y!

  14. abdullah
    02 Jul 2010 [#]

    barokallahu fiek akhi lanjutkan trus,,,,
    BTW ANA CUMAN MAU MINTA TOLONG BISA ENGGAK KIRA2 TULISAN ARABNYA AGAK DIPERBESAR SOALNYA KURANG KE BACA.
    JAZAKALLAH SEBELUMNYA

  15. khfidl khfidi
    03 Jul 2010 [#]

    assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokaatuh.
    pak afwan sy ijin share di fb ya. jazakallohu khoiro. wassalamu’alaikum warohmatulloh wabarokaatuh.

  16. Arsan
    05 Jul 2010 [#]

    jazakallahu khayran Ustad,sangat bermanfaat bt kami….ijin copas untk d share d fb.

  17. ANDIERO
    06 Jul 2010 [#]

    SYUKRON KHASIRON YA AKHI…ATAS TAUSYIAHNYA.
    AFWAN ANE HANYA BISA BERKUNJUNG DAN TAK BERKOMENTAR BANYAK.

    JAZ.

  18. yasin
    19 Jul 2010 [#]

    assalamu’alaikum,ijin copy smua artikelnya ya ustadz

  19. Ryan
    14 Agu 2010 [#]

    assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
    ane izin share ya ustadz … yar jd brmanfaat bgi yg membacanya ..AMIN

  20. thio dan nurul
    25 Agu 2010 [#]

    moga-moga kita terhindar dari peyakit dengki tsb……………………………………

    AMIN………….!!!

  21. restu
    30 Agu 2010 [#]

    jazakallah ustadz, ana ijin copy paste ya…. semoga catatan di atas bisa menjadi manfaat bagi banyak orang,

  22. bani
    18 Nov 2010 [#]

    hasad biasanya dirasakan oleh orang punya profesi sama spt Ustadz dgn Ustadz, dll

  23. jabir
    20 Nov 2010 [#]

    jazakallah ustad ana ijin copy ya smoga ber manfaat untuk sodara sodari kita amin

  24. abie
    23 Nov 2010 [#]

    Tsukron ya ustadz… tp bisakah kita menghilangkannya? sementara hasadsendiri merupakan bagian dr penyakit hati?

  25. Abduh Tuasikal
    23 Nov 2010 [#]

    @ Abie
    Kata Ibnu Taimiyah, hilangkan dengan takwa dan sabar.

  26. Imae
    23 Nov 2010 [#]

    kalo dari penjelasan di atas, orang yang hasad itu terlihat sekali bahwa dia iri, misal si tetangga dan saudara2 Nabi Yusuf as.
    Bagaimana kalo hasad ini hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan tidak ada niat sedikitpun, insyaAllah, untuk mengambil nikmat Allah atau tidak menyetujui ketentuan Allah yang sdh ada pada oarang yg di hasad. Dan yang paling penting kita tidak ada niat untuk iri, hal ini terjadi begitu alami.
    Tolong cerahkan saya ustadz…

  27. Abduh Tuasikal
    23 Nov 2010 [#]

  28. Imae
    29 Nov 2010 [#]

    trimakasih ustadz..
    hehehe..tapi ima belum lega dg penjelasannya…
    mgkn harus lbh bnyk ilmunya ;)

  29. yantie
    21 Mei 2011 [#]

    syukron ustadz..
    ana minta izin copy paste ya…

  30. Rasyid
    01 Mar 2012 [#]

    Alhamdulillah jadi bahan renungan nich, memang bnr tak hanya Al-Qur’an tapi Hadist pun jadi pendampingnya.

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas