Itsar, Mendahulukan Saudaranya dari Diri Sendiri (2)

Jenis-jenis Itsar dan Hukumnya

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin –rahimahullah- menjelaskan di dalam kitab beliau Syarh Riyadus Shalihin, tentang jenis-jenis itsar ini. Beliau rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa mengutamakan orang lain (itsar) itu terbagi menjadi tiga macam :

Pertama: Yang terlarang 

Yaitu engkau mengutamakan selainmu dalam perkara wajib. Seperti ini tidak dibolehkan.

Misalnya:

Jika kamu mempunyai air yang cukup untuk wudhu seorang saja, dan engkau tidak dalam keadaan telah berwudhu. Dan di sana ada temanmu yang juga belum berwudhu, sedangkan air itu adalah milikmu. Entah temanmu yang berwudhu dengan air sedangkan engkau bertayammum, atau engkau berwudhu sedangkan temanmu bertayammum. Dalam keadaan ini engkau tidak boleh memberikan air kepadanya sedangkan engkau bertayammum, karena engkau yang memperoleh dan memiliki air itu. Dan tidak boleh berpindah dari wudhu dengan air kepada tayammum kecuali bagi orang yang tidak punya air.

Mengutamakan orang lain dalam perkara wajib seperti ini adalah haram, tidak dibolehkan karena hal itu akan menyebabkan pengguguran kewajiban atasmu.

Kedua: Yang makruh (atau mubah menurut sebagian ulama)

Yaitu mengutamakan orang lain dalam perkara-perkara yang hukumnya mustahab (sunnah). Sebagian ulama telah memakruhkannya, sebagian lagi membolehkannya. Namun meninggalkannya adalah lebih utama tanpa diragukan lagi jika terdapat maslahat.

Misalnya:

Engkau mengutamakan orang selainmu dalam shaf pertama yang kamu sudah berada di sana. Misalnya engkau berada di shaf pertama dalam shalat. Kemudian seseorang masuk kemudian engkau pindah dari tempatmu dan memberikan tempatmu padanya. Sebagian ulama memakruhkan hal ini. Mereka mengatakan, “Ini adalah bukti bahwa seseorang membenci kebaikan. Sedangkan membenci kebaikan adalah makruh, karena bagaimana engkau mendahulukan selainmu ke tempat yang utama, padahal engkau lebih berhak dengannya daripada dia?”

Sebagian ulama mengatakan, “Meninggalkan perbuatan itu lebih utama jika terdapat maslahat. Seperti  misalnya, kalau bapakmu (yang datang) dan engkau kawatir dalam hatinya terjadi sesuatu atasmu, kemudian engkau mendahulukan dia di tempatmu yang utama. Maka ini tidaklah mengapa”

Ketiga : Yang mubah dan kadang menjadi mustahab (sunnah)

Yaitu bila engkau mengutamakan selainmu dalam perkara selain ibadah, yaitu engkau mendahulukan dia atas dirimu dalam perkara selain perkara ibadah.

Misalnya:

Engkau mempunyai makanan sedangkan engkau lapar, kemudian temanmu juga lapar seperti kamu. Dalam keadaan ini jika engkau mendahulukan dia, maka engkau terpuji atas pengutamaan ini, karena firman Allah Ta’ala ketika menyebutkan keutamaan kaum Anshor, “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr : 9)

Sisi sikap mereka mendahulukan yang lain daripada diri mereka sendiri bahwa orang-orang Muhajirin ketika datang ke Madinah, orang-orang Anshar menyambut mereka dengan pemuliaan dan penghormatan dan mendahulukan mereka dalam harta benda, sampai sebagian mereka berkata kepada saudaranya orang Muhajirin, “Jika engkau ingin aku mengalah dari salah satu istriku untukmu, aku akan menceraikannya lalu kuberikan padamu.” Maksudnya dia mentalaqnya kemudian orang Muhajirin itu menikahi bekas istrinya setelah habis masa iddahnya. Dan ini termasuk sikap pemuliaan mereka radhiyallahu ‘anhum yang mendahulukan saudara-saudara orang Muhajirin dari diri mereka sendiri.

Dan Allah Ta’ala berfirman,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

 “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan.” (QS. Al-Insan : 8)

Maksudnya, mereka memberi makan orang miskin, anak yatim dan tawanan padahal mereka menyukainya. Mereka meninggalkan diri-diri mereka. Dan ini juga termasuk mengutamakan orang lain”

Kisah-kisah Itsar yang Mengagumkan

Telah terdapat kisah-kisah tentang kuatnya sikap itsar yang sangat mengagumkan dari para generasi terbaik sepanjang zaman, sikap mengagumkan dari para murid-murid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum, betapa mereka benar-benar mempraktekkan di kehidupan sehari-hari mereka sikap mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri.

Kemuliaan mereka para sahabat disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku (sahabat) , kemudian setelah mereka (Tabi’in), kemudian setelah mereka (Tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari no.3651, Muslim no.2533)

Kisah pertama: Kisah tiga orang sahabat nabi yang terluka ketika Perang Yarmuk

Dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit, keduanya menceritakan, “Telah syahid pada perang Yarmuk al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun semuanya saling menolak. Ketika salah satu dari mereka akan diberi minum dia berkata, “Berikan dahulu kepada si fulan”, demikian seterusnya sehingga semuanya meninggal dan mereka belum sempat meminum air itu. Dalam versi lain perawi menceritakan, “Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al Harits)”. Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut (sedikitpun). (HR Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr dalam at Tamhid, namun Ibnu Sa’ad menyebutkan Iyas bin Abi Rabi’ah sebagai ganti Suhail bin Amr)

Kedua: Kisah sahabat Nabi yang kedatangan tamu

Ada salah seorang sahabat yang kedatangan seorang tamu, kemudian sahabat tersebut bertanya kepada istrinya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk menjamu tamu. Istrinya pun menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup untuk anak-anak kita”. Lalu sahabat tersebut berkata, “Sibukkanlah anak-anak kita dengan sesuatu (ajak main), kalau mereka ingin makan malam, ajak mereka tidur. Dan apabila tamu kita masuk (ke ruang makan), maka padamkanlah lampu. Dan tunjukkan kepadanya bahwa kita sedang makan bersamanya. Mereka duduk bersama, tamu tersebut makan, sedangkan mereka tidur dalam keadaan menahan lapar. Tatkala pagi, pergilah mereka berdua (sahabat dan istrinya) menuju Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberitakan (pujian Allah Ta’ala terhadap mereka berdua), “Sungguh Allah merasa heran/kagum dengan perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian). maka Allah menurunkan ayat (QS. Al Hasyr ayat 9)(HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga: Kisah sahabat Nabi yang diberi hadiah

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Salah seorang dari sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diberi hadiah kepala kambing, dia lalu berkata, “Sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kita.” Ibnu Umar mengatakan, “Maka ia kirimkan hadiah tersebut kepada yang lain, dan secara terus menerus hadiah itu dikirimkan dari satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah, dan akhirnya kembali kepada orang yang pertama kali memberikan.” (Riwayat al Baihaqi dalam asy Syu’ab 3/259)

Subhanallah, inilah akhlak generasi terbaik sepanjang masa, inilah teladan yang benar-benar dibutuhkan di masa ini, agar benar-benar terjalin persaudaraan yang kuat, ukhuwah yang erat, serta mendatangkan berkah dan rahmat dari Allah Rabbul ‘alamiin. Mudah-mudahan kita di mudahkan oleh Allah Ta’ala di dalam meneladani Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan di kumpulkan bersama mereka di Jannatin Na’im (surga yang penuh kenikmatan).

Washallallahu ‘ala nabiyina  Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

 

Selesai ditulis dan disusun di Boyolali tercinta 18 agustus 2012


Penulis: Abu Muhammad Nizamul Adli
Muroja’ah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailfacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail